Buku III-47

. . . . .247-00
. . . . .

Iklan

Laman: 1 2

Telah Terbit on 24 Mei 2009 at 01:28  Comments (112)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-47/trackback/

RSS feed for comments on this post.

112 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dalam pada itu, Agung Sedayupun tiba-tiba menyadari, kenapa gurunya telah memerintahkannya untuk menguasai ilmu sampai ketataran tertinggi meskipun ia tidak berniat mempergunakannya, karena kitab itu akan berada di tangan Swandaru yang meskipun untuk waktu yang lama, tetapi jika dikehendaki akan dapat mencapai tingkat itu pula.
    Sementara itu Agung Sedayupun seakan-akan telah menjadi saksi, bahwa sepanjang ia menjadi murid Orang Bercambuk itu, ia belum pernah melihat gurunya mempergunakan puncak ilmu cambuknya itu, meskipun ia pernah menyaksikan dalam satu pertempuran gurunya telah terluka.
    “Ilmu itu terlalu dahsyat.“ berkata Agung Sedayu didalam hatinya.
    “Nah, Agung Sedayu.“ berkata Kiai Gringsing, “kau sudah melihat kedahsyatan ilmu itu. Kuasailah, tetapi dengan tekad untuk tidak mempergunakannya sama sekali.”
    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Segalanya sudah jelas baginya, apa yang harus dilakukan. Tetapi Agung Sedayu masih bertanya kepada gurunya, “Guru. Kenapa Guru tidak memerintahkan saja agar adi Swandaru tidak perlu mempelajari ilmu cambuk itu sampai tataran yang terakhir? Ia cukup meningkatkan ilmu cambuknya satu tataran saja lagi, sehingga ilmunya akan berada pada tataran yang sama dengan ilmuku. Namun jika Guru sependapat, ilmuku mudah-mudahan lebih matang dari ilmunya.”
    Tetapi Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Jika aku mencoba melarangnya, maka pada suatu saat. dimana aku tidak lagi mampu melarangnya, maka ia justru akan berusaha dengan diam-diam mempelajarinya. Akupun tidak mungkin menutup bagian tertinggi dari ilmu itu atau menghapusnya dari kitab itu, karena dengan demikian aku sudah menyusut ilmu itu. Karena itu, satu-satunya jalan bagiku adalah memaksamu untuk selalu berada di tingkat tertinggi dari segala macam ilmu yang dapat dipelajari dari kitab itu. Tetapi akupun tidak akan menutup kenyataan bahwa kau sebagai manusia biasa tentu dibatasi oleh keterbatasanmu. Sebenarnyalah, aku lebih percaya kepadamu daripada Swandaru. Mungkin sekali lagi aku harus mengaku bahwa aku bukan seorang guru yang baik, karena ternyata aku tidak adil berbuat terhadap murid-muridku. Tetapi aku mempunyai landasan yang aku anggap dapat dipertanggung jawabkan.“
    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada Guru, bahwa Guru masih mempercayaiku sebagai murid betapapun mungkin aku kurang memenuhi keinginan Guru.“
    “Sebenarnya bagiku kau sudah lebih dari cukup. Apalagi kau mampu menyerap ilmu dari luar dinding perguruan kita serta membuatnya luluh menyatu dengan ilmu kita. Itu satu keuntungan yang dapat memperkaya perguruan kita, karena jika kau sempat menurunkan ilmu kepada orang lain, maka ilmu itu tingkatnya tentu lebih tinggi dari apa yang dapat aku berikan kepadamu. Atas dasar itu pula maka aku percaya kepadamu, bahwa kau akan dapat menjaga nama perguruan kita dengan sebaik-baiknya.“
    Agung Sedayu menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
    Karena itu, maka Kiai Gringsingpun kemudian berkata, “Marilah. Kita pergi kerumah Ki Gede.“
    “Mari Guru.“ jawab Agung Sedayu yang tiba-tiba saja merasa bebannya menjadi semakin berat.
    Sambil berjalan ke padukuhan induk Kiai Gringsing masih sempat bertanya, “Bukankah kitab itu ada padamu sekarang?“
    “Ya Guru.“ jawab Agung Sedayu, “tetapi adi Swandaru telah mengatakan bahwa kitab itu akan dibawanya ke Sangkal Putung nanti, jika ia kembali bersama Guru.“
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia bertanya, “Bukankah kau tidak memerlukannya?“
    “Kenapa?“ bertanya Agung Sedayu.
    “Maksudku, bukankah kau telah mampu memahatkan pengertian, bahkan kata demi kata yang tertulis pada kitab itu pada ingatanmu?“ bertanya gurunya.
    “Ya Guru.“ Jawab Agung Sedayu.
    “Bailah. Jika demikian biarlah kitab itu ada pada Swandaru selagi ia berniat untuk meningkatkan ilmunya yang ketinggalan.“ berkata Kiai Gringsing, “menurut perhitunganku, maka ia akan terhenti pada tataran berikutnya. Tetapi sekali lagi aku pesan kepadamu, kau harus mencapai puncak kemampuan ilmu cambuk itu.“
    Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi sambil melangkah, kepalanya justru telah menunduk.
    Beberapa saat kemudian, maka mereka telah berada di rumah Ki Gede. Dengan singkat, Kiai Gringsing menyatakan bahwa siang nanti, setelah matahari turun, ia akan kembali ke Jati Anom.
    “Aku mohon maaf Ki Waskita, bahwa aku tidak dapat tinggal disini lebih lama lagi. Sebenarnya kita masih dapat bersama-sama mengawani Ki Gede beberapa saat lagi. Tetapi Swandaru tidak dapat tinggal terlalu lama disini.“ berkata Kiai Gringsing.
    Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Rumahku tidak sejauh rumah Kiai Gringsing. Setiap saat aku dapat datang dan pergi, hilir mudik dari rumahku ke rumah ini. Tetapi akupun telah merencanakan untuk mohon diri besok.“
    “Begitu tergesa-gesa?“ Kiai Gringsinglah yang kemudian bertanya.
    “Seperti yang aku katakan. Aku dapat hilir mudik kapan saja aku ingini.“ jawab Ki Waskita.
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia berkata, “Bukankah aku juga dapat berbuat seperti itu? Asal saja Ki Gede memberikan bekal untuk upah menyeberangi Kali Praga.“
    Ki Gedepun tertawa.
    Sementara itu, mereka masih berbincang beberapa saat sementara Sekar Mirah telah berada di rumah itu pula. Sekar Mirah pulalah yang kemudian telah menyediakan hidangan bagi Kiai Gringsing serta tamu-tamu yang lain. Sekar Mirah pulalah yang telah menyiapkan dan kemudian mengirimkan makan bagi para pengawal Swandaru yang ada di rumahnya.
    Dalam pada itu, setelah makan dan minum, serta matahari menjadi semakin tinggi, Kiai Gringsing telah minta diri untuk pergi kerumah Agung Sedayu.
    “Nanti, pada saatnya, kami, maksudku aku dan Swandaru akan singgah lagi kemari untuk minta diri.“ berkata Kiai Gringsing.
    “Kenapa Kiai tidak menunggu disini saja?“ bertanya Ki Gede.
    Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian iapun menjawab, “Biarlah aku meninggalkan Tanah Perdikan ini dari rumah muridku.“
    Ki Gede tersenyum. Katanya, “Jika demikian silahkan. Agaknya memang ada alasannya, kenapa Kiai Gringsing harus mondar mandir.“
    Kiai Gringsingpun tertawa. Ia memang merasakan sikapnya sendiri yang agakgelisah. Tetapi iapun menyadari, bahwa hal itu disebabkan oleh tanggung jawabnya terhadap kedua muridnya. Tanggung jawab atas sikap lahir dan batin mereka.
    Demikianlah, maka sejenak kemudian Kiai Gringsingpun telah meninggalkan rumah Ki Gede untuk kembali ke rumah Agung Sedayu. Dirumah Agung Sedayu, Kiai Gringsing berbenah sebentar. Demikian pula Swandaru dan para pengawalnya.
    Dalam waktu yang singkat itu, Kiai Gringsing masih sempat memberikan beberapa pesan kepada muridnya selagi mereka ada bersama-sama.
    Seperti yang direncanakan oleh Swandaru, maka kitab Gurunya itupun telah disimpan didalam sebuah kantong kain dan dibawa ke Sangkal Putung. Dengan sangat sangat gurunya berpesan, agar kitab perguruan dari Orang Bercambuk itu disimpan baik-baik. Kitab itu tidak boleh jatuh ketangan siapapun juga selain para murid dari perguruan Orang Bercambuk.
    “Aku akan menjaganya dengan baik. Guru.“ janji Swandaru.
    “Kalian juga harus merahasiakan bahwa kalian telah menyimpan kitab tentang ilmu yang termasuk dalam tataran yang tinggi. Karena jika ada orang yang berniat buruk, tentu akan berusaha untuk mengambilnya. Meskipun di dunia ini ada beberapa kitab yang tidak kalah pentingnya dari kitab perguruan Orang Bercambuk, termasuk Kitab yang disimpan oleh Ki Waskita, yang memuat antara lain ilmu yang dapat menumbuhkan bayangan didalam angan-angan orang lain sehingga seakan-akan telah hadir satu ujud yang disebut ujud semu, tetapi ada kekhususan yang terdapat didalam kitab itu. Yaitu ilmu pengobatan yang jarang sekali ada duanya. Penguasaan terhadap berbagai macam racun dan bisa beserta penangkalnya serta jenis-jenis tumbuh-tumbuhan yang dapat menjadi obat dari berbagai macam penyakit dan luka.“ berkata Kiai Gringsing.
    Kedua murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari, betapa pentingnya kitab itu, sehingga karena itu, maka apapun yang terjadi, kitab itu tidak boleh terlepas dari tangan mereka.
    “Guru.“ berkata Swandaru, “untuk beberapa lama kitab ini akan berada di Sangkal Putung. Aku berjanji bahwa kitab itu akan terlindung dengan baik di Sangkal Putung. Mudah-mudahan kakang Agung Sedayupun akan dapat berbuat demikian pula.“
    Kiai Gringsingpun berpaling kepada Agung Sedayu dan bertanya, “Bukankah kau juga berjanji?“
    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian menjawab, “Aku berjanji, Guru.“
    “Nah.“ berkata Kiai Gringsing, “aku merasa tenang. Agaknya segala sesuatunya telah siap. Matahari telah hampir mencapai puncak. Kita akan segera berangkat. Jika kita singgah barang sebentar dirumah Ki Gede, maka pada saat matahari turun, kita akan berjalan kearah yang berlawanan dengan arah sinar matahari.“
    Demikianlah, maka sejenak kemudian Kiai Gringsingpun telah meninggalkan rumah itu. Agung Sedayu, Ki Jayaraga dan Glagah Putih mengantar mereka sampai kerumah Ki Gede, sementara Sekar Mirah telah berada dirumah Ki Gede pula.
    Ternyata Kiai Gringsing tidak dapat menolak ketika Sekar Mirah kemudian menghidangkan makan dan minum untuk mereka yang akan berangkat menempuh perjalanan ke Jati Anom.
    Ketika Swandaru sempat berbincang dengan Ki Gede, maka Ki Gede mendengarkan dengan gembira tentang Pandan Wangi yang sudah hampir melahirkan. Dengan demikian Ki Gede akan segera memunyai cucu.
    “Bukankah Pandan Wangi mengerti, bahwa ia harus menghentikan segala kegiatannya dalam olah kanuragan?“ bertanya Ki Gede.
    “Ya Ki Gede.“ jawab Swandaru. ”Pandan Wangi berusaha untuk menjaga dirinya sendiri dan anaknya yang bakal lahir itu.“
    “Syukutlah. Apakah anak itu laki-laki atau perempuan, mudah-mudahan ia akan menjadi anak yang baik.“ berkata Ki Gede.
    Demikianlah, mereka sempat berbincang-bincang sejenak. Setelah makan dan minum, serta matahari mulai nampak condong, maka Kiai Gringsingpun telah minta diri untuk kembali ke Jati Anom.
    “Apakah Kiai tidak akan kemalaman di perjalanan?“ bertanya Ki Gede.
    “Justru perjalanan kami akan menjadi sejuk.“ sahut Kiai Gringsing. Namun kemudian katanya, “Mudah-mudahan kami sampai ditujuan sebelum malam.“
    Demikianlah, sejenak kemudian Kiai Gringsing telah benar-benar meninggalkan rumah Ki Gede. Beberapa orang telah mengantarnya sampai keregol. Demikian pula Sekar Mirah yang berdesis, “Hati-hati kakang. Sungkemku kepada ayah dan seluruh keluarga di Sangkal Putung. Mudah-mudahan mbokayu Pandan Wangi akan melahirkan dengan selamat. Jika saja kami tahu sebelumnya, kami akan berusaha untuk dapat mengunjunginya saat ia melahirkan.“
    “Jaraknya terlalu jauh Mirah.“ jawab Swandaru, “tetapi aku akan berusaha.“
    Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing, Swandaru dan beberapa orang pengawalnya telah meninggalkan padukuhan induk. Mereka menyusuri jalan menuju ke Kali Praga. Swandaru telah minta kepada Kiai Gringsing, agar mereka menempuh jalan yang jauh dari Mataram.
    “Mataram sedang dalam kesiagaan penuh, Guru. Kita lebih baik menjauhi kemungkinan bertemu dengan pasukan peronda yang barangkali belum kita kenal, sehingga dapat terjadi salah paham.“ desis Swandaru.
    Kiai Gringsing dapat mengerti alasan Swandaru. Meskipun sebenarnya ia ingin bertemu dan berbicara dengan Panembahan Senapati setelah terjadi usaha untuk membunuh Ki Patih Mandaraka. Tetapi niat itupun telah ditundanya. Karena itu, maka merekapun telah memilih jalan Utara. Mereka menyeberang di penyeberangan sebelah utara pula. Penyeberangan yang tidak sebesar penyeberangan yang berada di tengah. Bahkan masih lebih sepi dibandingkan dengan penyeberangan disebelah selatan.
    Meskipun demikian, ketika mereka sampai ketepi Kali Praga, mereka masih harus menunggu, karena rakit penyeberangan yang sedang membawa orang baru saja berangkat, sementara rakit yang lain, yang menuju ke sisi Barat, masih berada di tengah.
    Beberapa saat mereka menunggu. Namun kemudian rakit itupun telah menepi. Tetapi rakit yang tidak begitu besar itu tidak dapat membawa Kiai Gringsing, Swandaru dan para pengawalnya sekaligus, sehingga karena itu, maka mereka memerlukan dua buah rakit untuk membawa mereka beserta kuda mereka.
    Namun bagaimanapun juga, sekelompok orang-orang berkuda itu memang menarik perhatian. Beberapa orang tahkan telah menduga-duga.
    Dua orang yang mengaku pedagang dengan pedang dilambung telah mendekati Kiai Gringsing yang sedang menunggu rakit yang sebuah lagi sambil bertanya, “Ki Sanak? Darimana Ki Sanak datang atau kemana Ki Sanak akan pergi dengan pengawalan yang kuat itu? Apakah Ki Sanak Saudagar yang membawa dagangan yang mahal atau sedang dalam perjalanan untuk menyampaikan peningset pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan yang bernilai sangat tinggi atau karena perang yang terjadi di Tanah Perdikan baru-baru ini?“
    Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku memang penakut. Pengawal itu memberikan ketenangan dihatiku dalam perjalananku, meskipun aku tidak membawa apa-apa. Perang di Tanah Perdikan itu merupakan desakan utama agar aku melindungi diriku dengan para pengawal itu.“
    Orang yang mengaku pedagang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.
    Demikianlah, maka Kiai Gringsing telah melanjutkan perjalanannya langsung ke Jati Anom. Orang tua itu tidak singgah di Sangkal Putung. Swandarulah yang mengantarnya ke Jati Anom, baru kemudian kembali ke Sangkal Putung.
    Perjalanan mereka memang merupakan perjalanan panjang. Apalagi mereka tidak melalui jalan yang biasa dilalui iring-iringan para pedagang dan orang-orang yang menempuh perjalanan jauh. Mereka telah menempuh jalan yang lebih sepi. Tetapi jalan itu lebih banyak melalui lereng Gunung Merapi sehingga kadang-kadang mereka harus sedikit naik turun.
    Ternyata perjalanan mereka tidak secepat yang mereka perhitungkan. Bagaimanapun juga Kiai Gringsing yang tua itu harus mengingat kekuatan dan ketahanan kuda-kuda mereka.
    Mereka memasuki Jati Anom setelah hari menjadi gelap. Sekelompok prajurit peronda yang melihat iring-iringan lewat di bulak panjang telah bergegas menyu-sulnya. Tetapi Kiai Gringsing dan Swandaru mengerti, bahwa orang-orang berkuda itu adalah prajurit Pajang di Jati Anom yang sebagian besar telah mengenal mereka. Karena itu, maka kuda-kuda mereka berderap dengan tenang tanpa merubah kecepatan.
    Sebenarnyalah ketika para prajurit itu menyusul iring-iringan dari Tanah Perdikan Menoreh itu, pimpinannya yang telah mengenal Kiai Gringsing segera rhenemuinya dan bertanya, “Darimana Kiai?“
    “Kami dari Tanah Perdikan.“ jawab Kiai Gringsing.
    “O. Demikian Kiai mendengar berita tentang keributan yang terjadi di Tanah Perdikan, Kiai langsung menengok murid Kiai.“ desis pemimpin prajurit itu.
    “Tidak. Ketika terjadi keributan justru aku sedang berada disana. Swandarulah yang kemudian menyusul untuk melihat keadaanku dan keadaan kakak seperguruannya. Karena itu, ia membawa pengawal.“ jawab Kiai Gringsing.
    “O“ pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk, “lalu bagaimana keadaan Tanah Perdikan sekarang?“
    “Semuanya sudah dapat diatasi. Prajurit Mataram datang tepat pada waktunya.“ jawab Kiai Gringsing.
    “Kami sudah mendengar laporannya disini. Syukutlan bahwa semuanya selamat.“ berkata pemimpin prajurit itu.
    Namun kemudian pemimpin prajurit itu berkata, “Nah, selamat jalan Kiai. Jaraknya tinggal sejengkal lagi. Kami akan melanjutkan tugas kami.“ kemudian sambil berpaling kepada Swandaru ia berkata, “Apakah kau akan singgah menemui Ki Untara?“
    Swandaru menggeleng sambil menjawab, “Tidak sekarang. Besok lain kali akan menemuninya.“
    Demikianlah, maka iring-iringan prajurit yang sedang meronda itu telah memisahkan diri. Kemudian melanjutkan tugas mereka mengelilingi daerah yang bukan saja termasuk Kademangan Jati Anom. Tetapi jangkauan prajurit-prajurit itu jauh lebih luas lagi.
    Sebenarnyalah jarak yang harus ditempuh oleh Kiai Gringsing tinggal beberapa bulak lagi. Mereka telah melampaui Tanah Cengkar yang sering disebut-sebut ditunggui oleh seekor harimau Putih. Kemudian menuju ke sebuah padepokan kecil. Di padukuhan terakhir, mereka lewat disebuah barak kecil di sudut padukuhan. Di barak itu Untara telah meletakkan sekelompok prajuritnya yang bertugas mengawasi keadaan dan dalam keadaan memaksa dapat dengan cepat mendekati padepoan kecil yang dititipkan oleh adiknya kepadanya. Meskipun di padepokan itu ada Kiai Gringsing, namun jika Kiai Gringsing itu sedang pergi, maka padepokan itu memang memerlukan sandaran kekuatan. Apalagi jika sekelompok orang datang dan berniat buruk di padepokan kecil itu sementara para pemimpinnya tidak ada.
    Ketika Kiai Gringsing lewat di muka barak itu, maka ia telah menghentikan kudanya. Berbincang sejenak dengan prajurit yang bertugas jaga diregol. Kemudian melanjutkan perjalanan.

  2. Lanjuuuttt.. :))

    * Pake gaya Ki Arema.

  3. sudah beraa generasi yang membaca kisah ini? bila kubaca api di bukit menoreh,aku ingat orang-orang terdekatku….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: