Buku III-34

234-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 13 Mei 2009 at 23:59  Comments (32)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-34/trackback/

RSS feed for comments on this post.

32 KomentarTinggalkan komentar

  1. Monggo Ki Probondayu

    • Aku ndesel ndik kene ae…

      • ini appetizer untuk makan siang nanti…

        trims nyai…

        • Pundi ki..pete ne…
          kok durung ono mambu-mambune…

          • wah…ternyata pakai sambel goreng “a”ti…
            Suwun…maneh
            Sido ora mergawe diono iki…

            • lha wong sawahe lagi dipalangi, ya gak sida nyangkuli… 🙂

              • ngikut absen di kapling #1..

      • Isih iso ndesol ora yo…
        Tak cobane..

  2. Aku maneh Ki, nomer loro!

    • Wis tak klumpukne dewe, kitabe! Suwun Nyi!

  3. Hahaha…kedisikan ki Widura

  4. Nomer telu oi, suwun Nyai

  5. Alhamdulillah matur nuwun Gusti Allah
    Matur nuwun ugi kagem Nyai Seno
    Mbenjing mbok menawi kantor libur fakultatif kagem sedanten cantrik/mentrik nggih ???

  6. Numpang liwat ngunduh eneh iki…
    Terima kasih banyak Nyi Senopati n her gang…

  7. Gelege’an temenan iki,..

  8. nambah maneh suwun Nyi

  9. Nuwun sewu …..
    Numpang ngunduh ….
    Trims … Nyi Seno …

  10. Melu Nyai

  11. holleee telima kasih

  12. a….nyi Seno baik hati. makasih

  13. Kisanak Jumpa Lagi……Nuwun

  14. Hatur nuhun pisan pisan pisan pisan .. karena sdh 4 kitab …

  15. lagi ah…
    matur thank gracias… 🙂 🙂

  16. wis glegean tenan….

    Matur nuwun bangettttt

  17. terima kasih buannnyaakkk para sesepuh padepokan

    semog akebaikkannya dibalas Yang Maha Esa..

    Amin

  18. walah … bar takkomen neng gandok 33 supaya kitab 34 diwedar … lha kok ternyata memang sudah diwedar … jadi malu neh sama Nyai Snpt … matur nuwun lagi Nyai Snpt & Ki Gede …
    ke gandok 35 ahhh … sapa tau juga udah diwedar … (ngarep)
    … matur nuwun yang ketiga Nyai Snpt & Ki Gede … komen saya di gandok 33 saya copy aja ke sini …

  19. Bener2 banjir kitab…
    Banjiiiir…
    Suwun Nyi

  20. Biyuh2 ternyata masih nambah to Nyi….Maturnuwun maneh

  21. KI LURAH menarik nafas dalam-dalam. “Biarlah me¬reka mengenal kenyataan yang keras dari kehidupan ini.“ katanya. Lalu, “kalian jangan terlalu berendah hati. Sekali-sekali kalian menunjukkan kenyataan-kenyataan itu. Jika tidak demikian maka gagallah usahaku membawa mereka kemari. Terutama Teja Prabawa. Ayahnya, yang memang seorang Tumenggung, terlalu memanjakan mereka dan mendidiknya menjadi seorang bangsawan yang sombong dan keras kepala. Tetapi keduanya kurang mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.“ Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Biarlah semuanya terjadi dengan perlahan-lahan Ki Lurah.“ “Aku sependapat. Tetapi bukannya tidak sama sekali.“ berkata Ki Lurah. “Tanah Perdikan yang keras ini menunjukkan kenya¬taan itu.“ berkata Agung Sedayu pula. “Ya. Namun nampaknya kedua cucuku memang mengagumi seorang perwira muda dari Pasukan Khusus itu, yang kebetulan adalah adik dari Nagageni yang baru dalam beberapa bulan memimpin pasukan di barak itu.“ berkata Ki Lurah. Agung Sedayu masih saja tersenyum. Katanya, “Lebih baik bukan kita yang merusakkan citra perwira muda itu. Biarlah semuanya berlangsung. Adalah lebih baik jika per¬wira muda itu dapat menunjukkan kenyataan-kenyataan,yang keras itu kepada Teja Prabawa.“ Ki Lurah mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Kita menunggu saja perkembangannya. Tetapi sebenarnya aku lebih senang jika angger Glagah Putih yang membawa cucu-cucuku berjalan-jalan.“ “Mereka nampaknya tidak begitu tertarik kepadaku Ki Lurah.“ berkata Glagah Putih, “mereka telah mengusirku di barak Pasukan Khusus.“ “Kau telah kejangkitan penyakit kakak sepupumu.“ desis Ki Lurah. Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Bukankah kita memang wajib menjadi tuan yang baik?“ Ki Lurahpun akhirnya tertawa pula. Tetapi ia berkata, “Bagaimanapun juga aku akan meyakinkan cucu-cucuku. Kalau perlu aku akan menyuruhnya menantang Glagah Putih berkelahi. Aku minta Glagah Putih membuat wajahnya sedikit merah dan panas agar ia menyadari, siapakah sebenarnya dirinya itu.“ “Jangan terlalu keras mendidik anak-anak muda Ki Lurah.“ berkata Agung Sedayu, “aku usulkan agar Ki Lurah tidak mempergunakan cara itu. Cara yang terbaik adalah membiarkannya mengalami pada saatnya.“ Ki Lurah mengangguk-angguk. Tetapi ia kemudian ber¬kata, “Aku tidak terlalu lama disini. Mudah-mudahan akan berarti bagi kedua cucuku itu.“ Agung Sedayu menyahut, “Tentu Ki Lurah. Mereka akan mendapatkan pengalaman yang menarik di Tanah Perdikan ini.“ Ki Lurahpun kemudian berkata, “Baiklah. Aku ingin mereka berceritera pengalaman mereka dihari pertama.“ Demikianlah Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah mohon diri. Mungkin Ki Lurah akan dapat berbicara dengan cucu-cucunya tentang keadaan yang telah mereka alami dihari pertama perkenalan mereka dengan Tanah Per¬dikan ini. Dari serambi gandok kedua orang itu masih memasuki seketheng untuk minta diri kepada Ki Gede yang sedang beristirahat di ruang dalam. Sementara Ki Lurahpun telah masuk pula kedalam bilik cucu-cucunya. Di perjalanan pulang, Glagah Putih dan Agung Sedayu masih membicarakan kedua cucu Ki Lurah. Seperti yang pernah dikatakannya, maka sekali lagi Agung Sedayu ber¬kata, “Mudah-mudahan perwira muda itu dapat memberikan kesempatan kepada kedua cucu Ki Lurah itu. Aku harap kedua cucu Ki Lurah mendapatkan pengalaman seperti yang dikehendaki oleh kakeknya.” Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi kata hatinya memang agak berbeda. Meskipun demikian ia tidak berani mengatakannya kepada kakak sepupunya itu. Di gandok rumah Ki Gede, Teja Prabawa memang sempat pula berceritera tentang perwira muda yang mengagumkan itu. Teja Prabawa juga berceritera bahwa ia sempat melihat perwira itu berlatih didalam sanggar. “Ilmu yang sangat tinggi yang belum pernah aku saksikan sebelumnya.“ berkata Teja Prabawa. Ki Lurah hanya mengangguk-angguk saja. Ternyata iapun tidak sampai hati membuat cucunya itu kecewa. Namun demikian Ki Lurah masih berharap bahwa dihari-hari berikutnya, terjadi sesuatu yang berharga bagi kedua cucu¬nya itu. Dimalam harinya, ternyata Glagah Putih bahkan telah merasa terganggu ketenangannya. Rasa-rasanya kedua cucu Ki Lurah itu telah menimbulkan masalah didalam dirinya. Justru karena ia harus mengekang diri sebagaimana dikehendaki oleh Agung Sedayu. Karena kegelisahannya itulah, maka Glagah Putih telah keluar dari biliknya justru pada saat pembantu di¬rumah itu mulai terbangun dan bersiap-siap untuk pergi ke sungai. “Aku hampir membangunkanmu.“ berkata pembantu rumah itu. “Kenapa?“ bertanya Glagah Putih. “Aku kira kau akan malas lagi. Beberapa hari ini aku mendapat ikan lebih banyak dari biasanya.“ berkata anak itu. “Bukankah kemarin dulu aku juga turun.“ desis Gla¬gah Putih. Anak itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Glagah Putih berkata, “Tunggu. Aku akan kerumah Ki Gede.“ “Untuk apa?“ bertanya anak itu. Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Hampir diluar sadarnya ditengadahkannya wajahnya kelangit. Rasa-rasanya malam belum terlalu dalam. “Kalau saja cucu-cucu Ki Lurah itu belum tidur, mereka dapat diajak turun ke sungai,“ berkata Glagah Putih didalam dirinya. Namun ia memang ragu-ragu. Waktunya memang sudah sampai saat sirep uwong, sehingga kebanyakan orang tentu sudah tidur, kecuali orang-orang yang bertugas. Meskipun demikian rasa-rasanya ada sesuatu yang mendorongnya untuk pergi ke rumah Ki Gede, sehingga karena itu, maka sekali lagi ia berkata kepada pembantunya itu, “Tunggu aku. Kita akan turun bersama-sama.“ “Tetapi jangan terlalu lama. Kita sudah terlambat membuka dan menutup kembali pliridan yang pertama malam ini.“ gumam anak itu. Tetapi Glagah Putih tidak menjawab lagi. Dengan tergesa-gesa iapun telah pergi ke rumah Ki Gede. Ia masih saja berharap bahwa Ki Lurah dan cucu-cucunya masih be¬lum tidur. Ketika ia sampai ke regol halaman rumah Ki Gede, anak-anak muda yang bertugas ronda sama sekali tidak heran melihat kedatangannya. Glagah Putih kadang-kadang memang begitu saja muncul di gardu-gardu perondan sebagaimana dilakukan oleh Agung Sedayu beberapa tahun yang lalu. Namun kini Agung Sedayu sudah jarang sekali melakukannya setelah ada Glagah Putih yang seakan-akan menggantikannya. Glagah Putih yang langsung pergi ke gardu telah ber¬tanya kepada seorang anak muda yang meronda, “Apakah Ki Lurah sudah tidur?“ “Tentu belum. Baru saja ia berada di pendapa.“ jawab anak muda yang meronda itu. “O, sekarang?“ bertanya Glagah Putih. “Mungkin sudah ada di gandok.“ jawab anak muda itu. Glagah Putihpun kemudian telah berjalan bergegas ke serambi gandok. Tetapi ternyata pintu bilik Ki Lurah telah tertutup. Karena itu, maka dengan kecewa Glagah Putih telah menjatuhkan diri duduk di amben bambu di serambi. Namun ternyata derit amben itu terdengar oleh Ki Lurah yang memang belum tidur. Iapun kemudian telah melangkah kepintu dan membukanya. Ketika ia menjenguk, maka dilihatnya Glagah Putih ada di serambi gan¬dok. “Kau Glagah Putih.“ desis Ki Lurah. “Ki Lurah belum tidur?“ bertanya Glagah Putih sambil berdiri. “Baru saja aku duduk-duduk di pendapa bersama Ki Gede dan cucu-cucuku.“ berkata Ki Lurah, “sebenarnya cucu-cucuku memang ingin melihat suasana malam di Tanah Perdikan ini.“ Ki Lurah berhenti sejenak. Sambil memandang kearah bilik cucu-cucunya Ki Lurah berkata perlahan-lahan sambil tersenyum, “Tetapi ketika mereka berada di jalan didepan rumah ini dan melihat suasana yang sangat sepi, maka keduanya menjadi ketakutan. Meskipun alasannya berbeda, namun aku tahu hal itu.“ “Apakah mereka sudah tidur?“ bertanya Glagah Putih. “Agaknya belum. Tetapi mereka lebih senang berada di tempat yang terang daripada berada di gelapnya jalan-jalan pedukuhan. Sedangkan diterangnya lampu minyak, Rara Wulan tidak berani tidur didalam bilik sendiri. Terpaksa ia berada didalam biliknya ditungguioleh kakaknya yang juga tidak berani sendiri. Tetapi bersama adiknyaTeja Prabawa masih juga menjaga harga dirinya.“ jawab Ki Lurah. “O“ Glagah Putih mengangguk-angguk, “sebenar¬nya aku ingin mengajak mereka berdua atau setidak-tidaknya Raden Teja Prabawa untuk melihat-lihat daerah ini di malam hari.” Ki Lurah tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ka¬tanya, “Baiklah. Aku akan mengatakan kepadanya.“ “Tetapi nampaknya ia tidak begitu senang kepadaku Ki Lurah. Kalau ia keberatan, jangan dipaksa.“ berkata Glagah Putih. Ki Lurah tidak menjawab. Namun sambil tertawa ia bangkit dan melangkah ke bilik kedua cucunya. Perlahan-lahan Ki Lurah mengetuk pintu bilik itu. Ter¬nyata cucu-cucunya memang belum tidur. Nampaknya sua¬sana sepi sangat mencengkam mereka. Suara ketukan pintu itu membuat Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan menjadi berdebar-debar. Namun kemudian terdengar suara kakeknya lembut, “Teja Prabawa, apakah kau belum tidur?“ “Kakek diluar?“ bertanya Teja Prabawa. “Ya.“ jawab Ki Lurah. Raden Teja Prabawapun kemudian telah membuka pin¬tu biliknya. “Ada apa kek?“ bertanya cucu Ki Lurah itu. Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah kau masih ingin melihat-lihat Tanah Perdikan ini di malam hari?“ “Ah.“ desah Teja Prabawa. “Jika kau masih ingin berjalan-jalan, maka Glagah Putih siap mengantarkanmu. Ia sekarang ada disini.“ ber¬kata Ki Lurah. “Untuk apa ia datang kemari?“ bertanya Teja Pra¬bawa. “Anak itu terbiasa datang ke gardu-gardu dimalam hari. Kadang-kadang ke gardu didepan, tetapi pada kesempatan lain kegardu di padukuhan sebelah. Kemudian di gar¬du yang lain lagi. Malam ini ia datang kemari.“ berkata Ki Lurah. Lalu, “Marilah. Temui anak itu. Aku sudah terlanjur berkata bahwa kau ingin melihat-lihat Tanah Per¬dikan ini di malam hari.“ “Aku tidak senang pada anak itu.“ berkata Teja Pra¬bawa, “terlalu sombong dan tinggi hati. Seharusnya ia menyadari bahwa ia tidak lebih dari anak padukuhan yang bodoh dan dungu. Bagaimana mungkin ia dapat menyamai se¬orang perwira muda dari Pasukan Khusus.“ “Tetapi justru karena itu, maka ia akan dapat menjadi seorang pengantar yang baik. Agak berbeda dengan per¬wira dari Pasukan Khusus. Kau benar-benar harus tunduk kepada kehendaknya.“ berkata Ki Lurah. “Sudah larut malam kakek.“ akhirnya Teja Prabawa memotong. “Marilah. Temui anak itu. Kau dapat berbicara dengannya.“ ajak Ki Lurah. Teja Prabawa masih saja termangu-mangu. Ki Lurah yang tidak sabar lagi telah menarik tangannya sambil ber¬kata, “Marilah.“ Anak muda itu tidak dapat membantah. Namun Rara Wulanlah yang memanggil, “Kakek. Jangan tinggal aku sendiri.“ “Marilah ikut ke serambi.“ ajak Ki Lurah. Rara Wulanpun telah berlari-lari pula mengikuti kakek dan kakaknya keserambi. Glagah Putih bangkit berdiri ketika Ki Lurah kemudian datang bersama Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan. Bahkan kemudian ia telah mengangguk hormat. “Duduklah.“ berkata Ki Lurah. Lalu katanya kepada Teja Prabawa, “Nah, pergilah melihat-lihat suasana malam disini. Jangan takut. Disini cukup aman. Kau tidak akan bertemu dengan perampok atau penyamun atau penjahat lainnya.“ “Kakek, apakah aku pernah mengatakan bahwa aku takut?“ bertanya Teja Prabawa. Ki Lurah mengerutkan keningnya. Namun iapun menarik nafas sambil berkata, “Ya. Kau memang tidak pernah mengenal takut. Karena itu, pergilah.“ Ki Lurah berhenti sejenak. Lalu iapun berkata kepada Glagah Putih, “sebenarnya kau akan pergi kemana.“ “Aku akan pergi ke sungai Ki Lurah.“ jawab Glagah Putih. “Untuk apa malam-malam begini pergi ke sungai?“ bertanya Ki Lurah. “Aku mempunyai pliridan di sungai. Sore tadi aku telah membuka pliridan itu. Pada saat-saat menjelang tengah malam, pliridan itu dapat ditutup untuk pertama kalinya. Memang ada yang hanya menutup satu kali menje¬lang dini hari. Tetapi dapat dilakukan dua kali. Jika kebetulan banyak ikan yang berkeliaran maka menutup pliridan dua kali lebih menguntungkan. Namun biasanya kita malas melakukannya, sehingga hanya dilakukan sekali saja di dini hari.“ jawab Glagah Putih. “Menarik sekali.“ Rara Wulanlah yang menyahut, “apakah aku boleh ikut?“ Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia menjawab, “Tetapi kita akan menuruni tebing. Jalan memang agak rumpil. Bagaimana jika Rara besok siang saja melihat pliridan itu.“ “Tetapi bukankah saat menangkap ikan malam-malam begini?“ bertanya Rara Wulan. “Ya.“ jawab Glagah Putih. “Nah, lebih baik aku ikut sekarang.“ berkata Rara Wulan. “Aku sudah mengantuk.“ berkata Teja Prabawa, “besok saja kita pergi bersama perwira itu.“ “Besok kita juga pergi.“ jawab Rara Wulan, “tetapi tentu tidak memungut ikan seperti malam ini. Besok kita pergi ke belumbang itu.“ “Aku tidak mau.“ berkata Teja Prabawa. “Kakek, aku akan pergi sendiri.“ berkata Rara Wulan kemudian. Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata kepada cucunya, “Pergilah. Antarkan adikmu yang ingin melihat cara memunguti ikan dari pliridan. Dimasa remaja aku juga sering melakukannya.” Teja Prabawa tidak dapat membantah lagi, Ia tidak mau dikatakan ketakutan memasuki gelapnya malam dan turun tebing sungai yang rumpil. Apalagi takut bertemu dengan perampok atau penyamun. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah. Aku membenahi pakaianku dahulu.“ Glagah Putih masih harus menunggu sejenak. Ternyata justru Rara Wulan yang tidak mau dicegah. Bukan saja oleh Glagah Putih, tetapi juga oleh kakeknya. Seperti kakaknya, maka Rara Wulanpun telah membenahi pakaiannya pula. Sejenak kemudian maka merekapun telah bersiap. Betapapun segannya, Teja Prabawa terpaksa ikut bersama Glagah Putih keluar regol halaman rumah Ki Gede untuk menuju ke sungai. Tetapi Glagah Putih masih akan singgah dahulu kerumah untuk mengajak pembantu rumahnya ber-sama-sama membuka pliridan. Ternyata pembantu rumahnya hampir tidak sabar lagi. Ketika Glagah Putih mengajaknya, maka iapun telah bergeremang panjang lebar. “Aku membawa dua orang kawan.“ berkata Glagah Putih, “dua orang kawan dari Kotaraja yang tidak terbiasa berjalan digelapnya malam. Ketika mereka berjalan dari rumah Ki Gede sampai kemari, ternyata mereka telah mengalami kesulitan, padahal diregol-regol halaman rumah pada umumnya terdapat obor atau lampu minyak atau obor biji jarak.“ “Buat apa kau bawa mereka?“ bertanya pembantunya, “bukankah hanya merepotkan kita saja?“ “Mereka ingin tahu, cara membuka pliridan” jawab Glagah Putih. Keduanyapun kemudian telah menuju ke halaman depan sambil membawa alat-alat yang diperlukan, terutama cangkul dan kepis. “Kenapa kau terlalu lama.“ bentak Raden Teja Pra¬bawa. “Kami mengambil alat-alat dibelakang, Raden.“ jawab Glagah Putih. “Kita akan berjalan kemana?“ bertanya Raden Teja Prabawa. “Ke Sungai.“ jawab Glagah Putih. “Maksudku, ke Barat, ke Timur atau ke Utara.“ geram Raden Teja Prabawa. “O“ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. “Kita akan berjalan ke Barat. Menyusuri jalan induk, kemu-dian keluar ke bulak persawahan. Kita akan berjalan terus, mengambil jalan pintas dan kemudian mengikuti pematang sawah sampai ketebing.” “Kita tidak menelusuri jalan induk Tanah Perdikanmu?“ bertanya Raden Teja Prabawa, “Bukankah lewat jalan induk kita akan sampai juga ke sungai seperti kau katakan kemarin?“ “Tetapi pliridan kami terletak agak jauh dari jalan ini.“ jawab Glagah Putih. Raden Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemu¬dian Glagah Putih berkata, “Kita membawa obor meskipun tidak terlalu besar. Kita akan membawa obor biji jarak kepyar kering. Kami mempunyai beberapa.“ “Kau kira aku takut gelap?“ bertanya Teja Prabawa marah. Namun Rara Wulanlah yang menyahut, “Biarlah me¬reka membawa obor, kakang. Barangkali lebih baik berjalan dalam cahaya obor daripada gelap sama sekali.“ Glagah Putihpun kemudian telah mengambil beberapa batang obor biji jarak kepyar yang dirangkai dengan rautan bambu. Setiap tiga rangkai telah diikat menjadi satu, sehingga obor biji jarak itu menjadi cukup terang untuk berjalan dimalam hari. Beberapa saat kemudian, maka dengan batu thithikan dan empat batang aren Glagah Putih telah membuat api, yang kemudian dinyalakan pada dimik-dimik belerang untuk menyalakan obor itu. “Siapa anak itu?“ bertanya Raden Teja Prabawa ketika dilihatnya pembantu rumah Agung Sedayu itu bersama mereka. “Pembantu rumah kakang Agung Sedayu. Aku memang terbiasa pergi bersamanya.“ jawab Glagah Putih. Raden Teja Prabawa tidak bertanya lagi tentang anak itu. Tetapi iapun kemudian berkata kepada Glagah Putih. “Kau yang membawa obor berjalan didepan.“ “Baik Raden.“ jawab Glagah Putih. Namun ketika pembantu rumahnya akan mengikuti pula berjalan didepan. Raden Teja Prabawa menarik pundaknya sambil membentak, “Siapa yang memerintahkanmu berjalan didepan? Kau berjalan dibelakangku.“ Anak itu terkejut. Ia tidak biasa diperlakukan begitu kasar. Tetapi anak itu diam saja, karena menurut Glagah Putih kedua orang itu adalah anak muda dari Kotaraja. Apalagi ketika kemudian Glagah Putihpun berkata, “Kau berjalan dibelakang.“ Demikianlah, maka iring-iringan itu lewat jalan induk menuju ke gerbang untuk keluar melintasi bulak. Digardu, dimulut jalan beberapa orang anak muda yang meronda memang agak heran melihat Glagah Putih berjalan sambil membawa obor. Ia tidak terbiasa berbuat demikian. Namun ketika mereka melihat kedua cucu Ki Lurah yang berada dirumah Ki Gede, maka merekapun mengerti, bahwa keduanyalah yang memerlukan obor. Tetapi agaknya mereka tidak mau membawa sendiri, sehingga Glagah Putihlah yang harus membawanya. Anak-anak muda digardu itu sempat juga menyapa Glagah Putih. Namun mereka tidak berminat untuk berbicara dengan kedua cucu Ki Lurah yang menurut pendengaran mereka, keduanya adalah anak-anak muda yang tinggi hati. Sejenak kemudian, mereka berempatpun telah berjalan dibulak yang luas. Cucu-cucu Ki Lurah tidak melihat lebih jauh dari cahaya obor jarak. Agak berbeda dengan Glagah Putih dan pembantu rumahnya yang sudah terbiasa berjalan dalam gelapnya malam. Ternyata kedua cucu Ki Lurah itu merasa ngeri juga berjalan digelapnya malam. Mereka memang tidak melihat apa-apa selain bintang diatas mereka. Tanaman disebelah menyebelah jalan yang mereka lalui yang tersentuh oleh cahaya obor. Dan tanah yang berdebu dibawah kaki mereka. Rasa-rasanya dunia disekitar mereka hanya berwarna hitam semata-mata. Rara Wulan berjalan dekat dibelakang Glagah Putih. Raden Teja Prabawa disebelahnya agak belakang. Sementara itu pembantu dirumah Glagah Putih itu berjalan beberapa langlah di belakang mereka. Ketika mereka berbelok memasuki jalan kecil, rasa-rasanya malam menjadi semakin gelap. Apalagi ketika mereka kemudian melangkah diatas pematang. “Jangan terlalu cepat.“ minta Rara Wulan. “Salahmu.“ bentak Teja Prabawa, “sudah aku katakan, kita tidak perlu keluar malam ini.“ Rara Wulan tidak menyahut. Meskipun hatinya men¬jadi bergetar, tetapi ia tidak mengeluh lagi. Ia memang menyesal bahwa ia telah keluar malam itu. Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ketanggul sungai. Mereka harus menuruni tebing yang agak curam. Karena itu, maka Glagah Putih telah mendahului mereka dan dari bawah tebing ia telah mengangkat obornya untuk menerangi jalan setapak yang memang agak sulit itu. Rara Wulan dan Teja Prabawa memang harus merangkak turun. Namun akhirnya mereka telah berada di pasir tepian. Gemericik air sungai rasa-rasanya bagaikan berirama. Karena pancaran obor yang dibawa oleh Glagah Putih maka batu-batu sungai yang hitam nampak bagaikai bermunculan dari dalam air. Rara Wulan memang menjadi ketakutan. Tetap Glagah Putih berkata, “Marilah. Kita berjalan diatas pasir tepian menyusur naik. Kita akan sampai sebuah bendungan. Pliridan itu berada di bawah bendungan.“ Mereka berempat kemudian telah menyusuri pasir tepian. Ketika mereka melewati bayangan pohon benda yang besar, rasa-rasanya kaki kedua cucu Ki Lurah itu tidak mai bergerak. Demikian takutnya Rara Wulan, sehingga ia benar-benar berjalan hampir melekat dibelakang Glagah Putil yang membawa obor. Namun kedua cucu Ki Lurah itu sedikit merasa tenang ketika mereka melihat pembantu Glagal Putih berjalan biasa saja dibelakang mereka. Ketika mereka harus melangkahi akar-akar raksass pohon benda yang menjulur sampai ketepian itu, Ran Wulan tidak dapat menahan diri lagi. Sehingga hampi diluar sadarnya ia berdesis, “Aku takut.“ Raden Teja Prabawa tidak membentak adiknya karem ia sendiri juga menjadi ketakutan, sehingga kedua orang cucu Ki Lurah itu telah saling berpegangan. Pembantu dirumah Glagah Putih itu memandang keduanya dengan heran. Ia memang dapat menduga bahwj keduanya menjadi ketakutan. Yang tidak diketahuinya apakah yang mereka takutkan. Padahal pada hari-hari yang lain ia kadang-kadang pergi sendiri tanpa membawa obor sama sekali tanpa merasa takut. Tetapi anak itu berkata didalam hatinya, “Mungkin karena aku sudah terbiasa berjalan sendiri di tepian ini. Agaknya jika aku dilepaskan di Kotaraja, dalam ramainya orang-orang berlalulalang, akupun akan menjadi ketakutan pula.” Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah mendekati bendungan yang terbuat dari brunjung bambu yang diisi dengan batu-batu dan disisipi dengan dedaunan yang diikat kuat-kuat serta ditimbuni dengan tanah ditompang dengan patok-patok bambu yang kuat pula. “Nah“ berkata Glagah Putih, “ini adalah pliridan itu.“ Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan memperhatikan bagian dari sungai itu yang dibatasi semacam pematang yang membelah sungai itu membujur panjang. Dibagian atas pliridan itu terbuka, bahkan pematang yang lain mem¬bujur menyilang sungai itu hampir keseberang yang lain. Dengan demikian maka air sungai itu hampir seluruhnya telah mengalir melalui pliridan itu. Sementara bagian bahan telah ditutup rapat. Namun diberi sedikit bagian yang lebih rendah untuk memberikan jalan bagi air yang meluap. Dengan demikian maka dibagian dalam pliridan itu seakan-akan telah menjadi sebuah kolam yang tidak begitu dalam. “Tunggulah ditepian.“ berkata Glagah Putih, “kami akan membuka pliridan ini.“ Raden Teja Prabawa dan Rara Wulan tidak menjawab. “Bawalah obor ini Raden.“ minta Glagah Putih. “Kau yang membawanya. Kau tidak berhak memerintah aku.“ bentak Raden Teja Prabawa. “Kami berdua akan membuka pliridan ini, sehingga kami tidak akan dapat sambil memegang obor ini.“ berkata Glagah Putih kemudian. “Itu terserah kepadamu.“ jawab Teja Prabawa. “Baiklah. Jika demikian obor ini akan aku buang saja.“ desis Glagah Putih. “Jangan.“ kedua cucu Ki Lurah itu hampir berbareng mencegahnya. “Lalu bagaimana?“ bertanya Glagah Putih. “Berikan kepadaku.“ minta Rara Wulan. Glagah Putihpun kemudian telah memberikan obor biji jarak kepyar itu kepada Rara Wulan. Namun agaknya Raden Teja Prabawa merasa tidak enak, bahwa adik perempuannyalah yang membawa obor itu. Karena itu, maka obor itupun telah dimintanya. Tetapi Rara Wulan menjawab, “Biarlah kakang. Aku justru merasa lebih tenang membawa obor ini ditanganku. Aku dapat menerangi tempat-tempat yang aku inginkan.“ Raden Teja Prabawa tidak memaksa. Tetapi ternyata bahwa Rara Wulan memang membawa obor itu sambil ber¬jalan mendekati Glagah Putih dan pembantunya yang kemudian sibuk menutup pintu air pada pliridannya. Sementara pembantunya sibuk menutup pintu air dan membuka bendungan yang menyilang sungai itu, sehingga air dapat mengalir, maka Glagah Putih telah memasang wuwu dibagian bawah pliridan itu. Beberapa saat kemudian, maka airpun telah tertutup, sementara di bagian bawah, air mengalir keluar melalui wuwu. Namun ikan yang semula ada didalam pliridan itu justru telah masuk kedalam wuwu. Ketika air menjadi semakin sedikit, maka seakan-akan air itu telah berkumpul dibagian tengah pliridan yang men¬jadi semakin dangkal. Dengan segulung kelopak-kelopak batang pisang kering yang diikat, maka Glagah Putih dan pembantunya telah mendorong ikan yang ada di dalam air yang semakin dangkal itu dari ujung pliridan menuju ke ba¬gian bawah yang telah dipasang wuwu. Rara Wulan ternyata menjadi senang melihatnya. Dengan obornya ia melihat ikan yang terperangkap ke-dalam pliridan yang airnya sudah menjadi hampir mengering itu. Beberapa ekor ikan wader dan sepat berloncatan diair yang tinggal sedikit. Beberapa ekor ikan yang berwarna kehitaman bergejolak menghempas-hempaskan diri. Tiba-tiba saja Rara Wulan melihat seekor ikan yang berwarna kemerah-merahan terkapar di pasir yang tidak lagi berair. Dengan serta merta ia memungut ikan itu. Na¬mun ternyata ikan itu terlalu licin sehingga terlepas lagi dan bahkan masuk kedalam air ditengah-tengah pliridan itu. “O, ikan itu terlepas.“ berkata Rara Wulan. “Tidak apa-apa.“ sahut Glagah Putih, “ikan itu tidak akan dapat keluar dari pliridan.” Namun ketika seekor ikan yang berwarna kehitaman meloncat kepasir, maka dengan cepat Glagah Putih mencegah ketika Rara Wulan akan menangkapnya, “Jangan. Itu ikan lele.“ “Kenapa?“ bertanya Rara Wulan. “Senjatanya berbahaya sekali. Disebelah-menyebelah kepalanya terdapat sepasang patil yang sangat tajam dan beracun. Jika kita terkena patilnya, maka bagi yang kurang mempunyai daya tahan akan dapat menjadi demam.“ “Omong kosong.“ geram Raden Teja Prabawa. Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab, pembantu rumahnya telah berkata, “Apakah Raden akan mencoba memegangnya?“ Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Namun Glagah Putih cepat-cepat berkata, “Aku minta maaf untuk anak dungu itu Raden.“ Anak itu memandang Glagah Putih dengan tajamnya. Tetapi ia tidak merasa bersalah. Meskipun demikian ia tidak mengatakan sesuatu. Sesaat kemudian maka Glagah Putih dan pembantunya telah melanjutkan kerja mereka setelah melemparkan ikan-ikan yang berloncatan keluar dari air yang sedikit itu kembali kedalam air dan menggiringnya kedalam wuwu. Ketika seikat kelopak-kelopak batang pisang kering itu sampai didepan wuwu, maka dalam genangan air yang ting¬gal sedikit sekelompok ikan dari berbagai macam jenis telah berloncatan. Namun sedikit demi sedikit ikan-ikan itupun telah masuk kedalam wuwu yang agak besar. Demikianlah, maka sejenak kemudian wuwu itupun telah diangkat dari dalam air dan dibawa ketepian. “Tentu banyak ikannya.“ Rara Wulan hampir berteriak. Namun tiba-tiba saja obor ditangannya menjadi semakin redup. Agaknya biji-biji jarak itu sudak hampir habis. “Obornya akan padam.“ berkata Rara Wulan. Namun Glagah Putih menyahut, “Aku masih mem¬bawa yang lain. Itu terletak di atas batu dekat baju anak itu.“ Rara Wulan termangu-mangu. Namun Glagah Putihpun berkata, “Tolong Raden. Ambilkan obor diatas batu itu.“ “Kau ambil sendiri.“ bentak Raden Teja Prabawa. “Seperti Raden lihat, aku baru sibuk bersama pembantuku.“ jawab Glagah Putih, “aku mohon maaf. Tolong barangkali adik Raden memerlukannya.“ Raden Teja Prabawa menjadi marah. Tetapi ternyata bahwa Rara Wulanlah yang memintanya, “Tolong kakang. Sebelum obor ini mati.“ “Anak cengeng.“ bentak kakaknya, “kenapa kau ikut?“ Rara Wulan yang mengenal kakaknya dengan baik itu¬pun akhirnya berkata, “Baiklah. Jika kau tidak mau mengambil obor itu. Aku akan membiasakan melihat dalam gelap.“ “Kenapa kau tidak mendengar kata-kataku tadi?“ kakaknya masih saja membentak. Tetapi sebenarnyalah Raden Teja Prabawa sendiri tidak ingin mereka kegelapan. Mesipun kemudian Rara Wulan berdiam diri, namun Raden Teja Prabawa itu telah melangkah ke sebuah batu ditepian. “Kau bawa obor itu kemari.“ Raden Teja Prabawa hampir berteriak. Rara Wulan memang mendekat, sementara Teja Pra¬bawa telah mengambil obor yang terletak diatas batu dite¬pian didekat baju pembantu Glagah Putih itu. “Berikan obor itu kakang. Aku akan menyalakannya.“ berkata Rara Wulan. Raden Teja Prabawa tidak membantah. Iapun kemu¬dian memberikan obor itu dan membiarkan Rara Wulan menyalakannya dengan sisa obor yang terdahulu. “Hampir terlambat.“ katanya, “untung masih tetap menyala.“ Dengan obor itu, maka Rara Wulan telah berjongkok di sebelah Glagah Putih dan pembantunya disaat mereka menuang ikan dari dalam wuwu kedalam sebuah irig bambu yang agak besar. Sumbat pada pangkal wuwu itupun dicabut dan wuwu itupun telah dihentak-hentakkan diatas irig itu sehingga ikan yang terakhir telah jatuh kedalam irig itu. “He, kau mendapat banyak ikan hari ini.“ berkata Rara Wulan yang nampak gembira sekali melihat ikan-ikan dari berbagai jenis yang bergelepak di dalam irig yang besar itu. Satu hal yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. “Kau heran melihat ikan-ikan sekecil lalat itu?“ ber¬tanya Teja Prabawa, “bukankah kau dapat membeli dipasar ikan apapun jenisnya dan seberapapun kau butuhkan. Bahkan ikan-ikan yang jauh lebih besar dari ikan-ikan kerdil di sungai yang kotor itu.“ “Tetapi lain kakang. Kita memang dapat membeli. Tetapi mendapatkan ikan sendiri rasa-rasanya tentu lebih puas. Meskipun ikannya kecil-kecil. Tetapi diantaranya ada juga yang besar.“ jawab Rara Wulan. Raden Teja Prabawa tidak berbicara lagi. Ia menjadi marah kepada adiknya. Tetapi ia harus menahan kemarahannya itu. Ia menyadari jika ia benar-benar marah kepada Rara Wulan, maka gadis nakal itu tentu akan berani membantah setiap kata-katanya. Sementara itu, orang terpenting bahkan termasuk golongan orang-orang yang berderajat tidak pantas untuk bertengkar dihadapan orang lain. Dengan demikian akan dapat menurunkan penghargaan orang kepada mereka. Sejenak kemudian, Glagah Putih telah mencuci ikan yang didapatkannya didalam irignya yang besar itu. Kemu¬dian memasukkannya kedalam kepis yang telah disiapkan untuk membawa ikan itu kembali. Demikianlah setelah berbenah diri, maka merekapun mulai melangkah meninggalkan tempat itu. Namun pem¬bantu Glagah Putih itu sempat menggerutu, “Malam ini kita hanya membuka pliridan ini sekali pada waktu yang tanggung.“ “Kenapa?“ bertanya Glagah Putih. “Jangan pura-pura. Apakah setelah lewat jauh tengah malam begini kita akan dapat membuka pliridan ini sekali lagi?“ bertanya pembantunya. “Tetapi bukankah kadang-kadang kita memang hanya membuka sekali saja dalam satu malam?“ Glagah Putih ganti bertanya. “Tetapi tidak pada waktu seperti ini. Tetapi besok menjelang dini sehingga ikan yang ada didalam pliridar menjadi lebih banyak dari yang kita dapatkan.“ jawat pembantu rumahnya itu. “Ah“ desis Glagah Putih, “bedanya tidak akan seberapa.“ Pembantu rumahnya itu tidak menjawab. Tetapi iapui segera menempatkan diri di urutan paling belakang, sebagaimana mereka berangkat. Perjalanan kembali itupun sama mendebarkannya sebagaimana saat mereka berangkat. Pohon benda itu masih tetap membuat bulu tengkuk cucu Ki Lurah itu meremang. Beberapa saat kemudian, maka merekapun telah merangkak naik tebing yang agak curam. Setelah itu, mereka berjalan melalui jalan sempit menuju ke padukuhan induk. Baru beberapa saat kemudian mereka memasuki jalan induk yang langsung menuju kegerbang padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu. Demikian mereka memasuki padukuhan induk, maka Raden Teja Prabawa itu telah menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya mereka terlepas dari kesulitan yang mencengkam didalam satu masa hidupnya. Rara Wulanpun pun merasa terlepas dari ketakutan yang mencengkam. Namun berbeda dengan Raden Teja Prabawa yang marah, Rara Wulan merasa mendapat satu pengalaman yang menarik dalam hidupnya. Di Tanah Per¬dikan itu ia telah berhasil dengan selamat melakukan satu kerja yang sangat berbahaya menurut pendapatnya, serta melihat bagaimana mendapatkan sekepis ikan di sebuah sungai dengan membuat pliridan. Ketika mereka lewat dimuka rumah Agung Sedayu, maka Glagah Putih telah bertanya kepada kedua cucu Ki Lurah, “Apakah kalian ingin membawa ikan itu kepada kakek kalian, Ki Lurah Branjangan?“ “Untuk apa?“ bentak Raden Teja Prabawa, “bukankah kau tahu, bahwa kakek menjadi tamu dirumah Ki Gede? Kau tentu tahu, bahwa kami tidak akan dapat berbuat apa-apa dengan ikan itu. Apalagi kami memang tidak terbiasa makan ikan-ikan wader cethul seperti itu. Kami ter¬biasa membeli ikan sungai yang bersih dan besar-besar.” Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang tahu. Tetapi aku kira bahwa sebaiknya aku menanyakannya sebagai sekedar basa-basi. Tetapi jika itu tidak menyenangkanmu, aku minta maaf.“ “Persetan.“ geram Raden Teja Prabawa. Glagah Putih hanya tersenyum saja. Tetapi iapun ke¬mudian bertanya, “Raden, apakah Raden berdua dengan adik Raden dapat kembali tanpa kami ke rumah Ki Gede?“ “Maksudmu?“ bertanya Raden Teja Prabawa. “Jika Raden berdua dapat kembali tanpa kami, maka kami akan langsung pulang. Hari sudah terlalu malam.“ jawab Glagah Putih. Wajah Raden Teja Prabawa menjadi merah. Untunglah bahwa dimalam hari, kemarahannya tidak nampak terlalu jelas. Namun dengan geram ia berkata, “Kau harus mengikuti aku. Meskipun aku tidak takut pulang tanpa kau, te¬tapi kau harus ikut aku sampai kerumah Ki Gede. Aku tidakpeduli apakah malam telah larut atau bahkan sudah pagi sekalipun. Bahkan seadainya siang hari. Kau memang tidak perlu mengantar kami. Tetapi kau memang harus mengikuti kami.“ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Lalu kata¬nya kepada pembantunya, “Bawa ikan dan alat-alat ini masuk. Aku akan pergi ke rumah Ki Gede mengikuti Raden Teja Prabawa dan adiknya.“ Pembantu dirumah Glagah Putih itu tidak menjawab. Tetapi ia sama sekali tidak senang melihat sikap kedua cucu Ki Lurah Branjangan itu. Demikianlah Glagah Putih harus membawa keduanya kembali dan menyerahkannya kepada Ki Lurah. Sambil ter¬senyum Ki Lurah yang terbangun karena ketukan pada pin¬tu biliknya menerima kedua cucunya sambil tersenyum. “Apa yang kalian lihat?“ bertanya Ki Lurah. “Tidak ada apa-apa kecuali gelap.“ jawab Raden Teja Prabawa. Tetapi Rara Wulan menjawab, “Kami melihat bagaimana caranya seseorang mencari ikan dengan pliridan. Anak itu mendapat ikan sepenuh tempat ikannya.“ “Ikan-ikan sebesar cebong katak yang baru menetas. Wader cethul dan jenis-jenis ikan yang tidak berharga, yang hanya pantas untuk memberi makan seekor kucing.“ sahut Raden Teja Prabawa. “Tidak.“ sahut Rara Wulan, “beberapa ekor ikan lele yang besar, sepat, wader merah dan beberapa jenis ikan yang lain.“ Ki Lurah tertawa. Katanya, “Nilainya tidak terletak pada jenis ikannya, atau barangkali pada harga ikan yang didapatnya, tetapi keberhasilan satu usaha memberikan kepuasan tersendiri.“ “Apakah kakek dapat mengatakan usaha itu berhasil?“ bertanya Raden Teja Prabawa. “Ya. Itu adalah hasil usahanya.“ jawab Ki Lurah Branjangan, “dalam keadaan yang khusus, orang-orang yang demikian akan dapat memenuhi keperluan mereka sendiri. Mungkin seseorang yang merasa dirinya mempunyai uang cukup untuk membeli apa saja yang diinginkan, pada satu saat akan kehilangan kesempatan untuk mempergunakan uangnya. Mungkin ia akan terdampar di satu tem¬pat dimana tidak ada seorangpun yang berjualan apapun atau barangkali uang yang pernah dimilikinya itu habis karena satu sebab. Orang yang demikian biasanya akan menjadi bingung dan tidak tahu apa yang dilakukannya.” “Kakek terlalu cemas menghadapi keadaan.“ berkata Raden Teja Prabawa, “jika kita memiliki kemampuan un¬tuk mengumpulkan kekayaan, maka kita tidak akan kekeringan.“ “Meskipun tidak selalu demikian, tetapi aku dapat mengerti, bahwa kemungkinan untuk tetap mempertahan¬kan tingkat kehidupan akan dapat dilakukan. Tetapi oleh orang yang berkepentingan. Anak cucu mereka tidak akan dapat ikut menepuk dada. karena apa yang terjadi kemu¬dian mungkin jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada orang-orang tuanya.“ jawab Ki Lurah Branjangan. Telinga Raden Teja Prabawa menjadi panas. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Iapun menyadari bahwa kakeknya bukan saja seorang yang sabar, tetapi juga seorang yang kuat pada keyakinannya. Sebagai seorang Senapati, maka Ki Lurah Branjangan memang mempunyai sifat seorang prajurit. Karena itu, maka Raden Teja Prabawa itupun melangkah menuju ke biliknya. Namun Ki Lurah telah berkata, “Kau harus membersihkan kaki dan tanganmu di pakiwan.” Raden Teja Prabawa tertegun. Sementara Ki Lurah ber¬kata, “Ajak adikmu bersamamu.” Keduanya memang harus pergi ke pakiwan untuk mem¬bersihkan kaki dan tangan mereka. Sementara mereka berdua pergi ke pakiwan, maka Ki Lurah berkata, “di setiap kesempatan, bawa mereka ketempat yang memberikan kesan tersendiri kepada me¬reka. Ternyata adiknya memiliki tanggapan yang lebih baik atas pengalamannya.“ Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan mereka akhirnya akan terbiasa dengan keadaan Tanah Perdikan ini.“ Ki Lurah tersenyum. Sementara itu Glagah Putihpun telah mohon diri untuk pulang kerumahnya. Didalam biliknya Raden Teja Prabawa tidak habis-habisnya menggeremang. Bahkan marah-marah, karena apa yang harus dilakukannya sama sekali tidak menarik minatnya. “Anak itu memang gila.“ geramnya. Rara Wulan tidak menjawab. Ia memang mempunyai kesan tersendiri meskipun ia mengakui didalam dirinya, bahwa ia menjadi sangat ketakutan ketika mereka berjalan dibawah pohon benda raksasa ditepian itu. “Tetapi itu sudah lewat. Dan aku selamat.“ berkata Rara Wulan didalam hatinya. Meskipun Raden Teja Prabawa itu masih saja marah didalam hatinya namun akhirnya iapun telah tertidur pula. Tetapi Rara Wulan ternyata dapat lebih cepat tidur dari kakaknya. Dirumahnya, pembantu Glagah Putih itu ternyata juga menggeremang. Sambil membersihkan alat-alat yang dibawanya ia berkata, “Kenapa ikan itu kau tawarkan kepa¬da anak-anak cengeng itu?“ “Aku tahu mereka tidak akan mau menerima.” jawab Glagah Putih. “Kalau saja mereka mau, kau harus mengganti. Aku tidak peduli darimana saja kau mendapatkannya.“ geram anak itu. Glagah Putih tertawa. Katanya, “Aku akan menukarmu dua kali lipat.“ Anak itu tidak menjawab. Tetapi tangannya sajalah yang sibuk menghimpun alat-alatnya. “Tidurlah.“ berkata Glagah Putih, “besok kau terlambat bangun.” Anak itu masih tetap berdiam diri. Namun iapun telah pergi ke biliknya. Sementara Glagah Putih telah berbaring pula di pembaringannya. Seperti biasanya, maka Glagah Putih tidak terlambat bangun. Demikian pula seisi rumah yang lain, termasuk pembantunya. Ketika matahari terbit mereka sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dalam pada itu, ternyata perwira muda dari Pasukan Khusus itu pagi-pagi telah berada di padukuhan induk Tanah Perdikan. Demikian matahari terbit, Wirastama, per¬wira muda itu, telah memasuki gerbang halaman rumah Ki Gede. “Selamat pagi Ki Lurah.“ Wirastama mengangguk hormat ketika ia melihat Ki Lurah duduk di serambi gan-dok. “Marilah anakmas.“ Ki Lurah itu mempersilahkan, “masih sangat pagi anakmas sudah sampai disini. Apakah anakmas tidak bertugas?“ “Hari ini aku telah dibebaskan dari tugas-tugasku Ki Lurah. Tetapi aku mendapat tugas khusus untuk membantu Ki Lurah dan cucu-cucu Ki Lurah disini.“ jawab per¬wira muda itu. Tetapi Ki Lurah tersenyum sambil menjawab, “Me¬reka belum bangun.“ “He?“ perwira itu memang agak terkejut. Matahari sudah terbit, tetapi mereka belum bangun. Kemudian perwira muda itupun berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu. Barangkali ketenangan di tempat ini membuat mereka tidur terlalu nyenyak.” “Mereka semalam pergi ke sungai.“ berkata Ki Lurah. “Kesungai?“ bertanya Wirastama, “untuk apa?“ “Menutup pliridan bersama Glagah Putih.“ jawab K Lurah. Wajah Wirastama berkerut. Hampir diluar sadarnya is bertanya, “Apakah Rara Wulan juga terlambat bangun?“ “Ya“ jawab Ki Lurah, “keduanya memang pergi ke sungai semalam.” “Rara Wulan juga turun ke sungai yang curam itu.” desak Wirastama. “Ya. Tetapi sungai itu tidak begitu curam. Memang agak rumpil. Tetapi seandainya seseorang terjatuh dari atas tanggul ke pasir tepian tidak akan merasa sakit.“ jawab Ki Lurah. “Tetapi bagi seorang gadis perjalanan di malam hari turun ke sungai itu tentu berbahaya.“ sahut perwira muda itu, “apakah mereka pergi bersama Ki Lurah?“ “Tidak. Hanya bersama Glagah Putih.“ jawab Ki Lu¬rah. Perwira muda itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata perlahan. “Sebaiknya hal itu tidak dilakukan. Mungkin mereka tergelincir. Mungkin seokor ular mematuk kaki mereka atau mungkin mereka bertemu seorang penjahat di jalan.“ Ki Lurah tertawa. Katanya, “Tidak ada yang perlu dicemaskan. Meskipun disungai itu kadang-kadang ada ular, tetapi Glagah Putih sudah sangat berpengalaman turun ke sungai itu. Setiap malam ia membuka pliridannya. Bahkan jika ia tidak malas, semalam dilakukannya dua kali.” “Orang-orang kekurangan harus bekerja keras. Ikan yang didapatkannya akan dapat memperingan beban mereka, karena mereka tidak perlu pergi ke pasar membelanjakan uangnya yang memang hanya sedikit. Tetapi pergi ke sungai tetap berbahaya bagi orang lain.“ berkata Wirastama. Ki Lurah menggeleng. Katanya, “Aku tinggal cukup lama disini saat aku membentuk Pasukan Khusus itu. Aku tahu bahwa disini jarang sekali terdapat tempat-tempat berbahaya. Meskipun alam nampaknya keras, tetapi rasa-rasanya cukup akrab dengan para penghuninya.“ “Tetapi cucu Ki Lurah bukan penghuni Tanah Perdikan ini.“ sahut Wirastama. “Aku ingin mereka belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan yang keras ini. agar mereka mendapatkan pengalaman yang berharga bagi hidup mereka. Agar mereka tidak menyangka bahwa hidup di Mataram ini sebagaimana dilihatnya di Kotaraja. Itupun hanya bebe¬rapa bagian tertentu. Rumah-rumah yang besar. Halaman yang luas. Pelayan yang siap melakukan perintahnya apapun yang harus dilakukan. Tercukupi semua kebutuhannya dan selebihnya tidur mendengkur.“ berkata Ki Lurah, “disini mereka melihat kehidupan yang lain. Kerja keras. Keakraban dengan alam dan dengan sesama justru untuk saling membantu. Nafas kehidupan yang menyatu dengan Kuasa Sumber Hidup mereka.” Perwira dari Pasukan Khusus itu termangu-mangu se¬jenak. Agahnya Ki Lurah sendirilah yang mendorong cucu-cucunya untuk melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dan bukan saja berbahaya, tetapi kenapa harus bersama anak Tanah Perdikan itu, sementara ia sudah menyatakan kesanggupannya untuk mengantarkan mereka melihat-lihat Tanah Perdikan ini. Tetapi Wirastama itu merasa masih belum terlambat. Ia masih mempunyai banyak kesempatan. Dalam pada itu, maka Ki Lurahpun berkata, “Tunggulah sebentar. Biarlah aku membangunkan mereka.“ “Biar saja Ki Lurah. Agaknya mereka memang letih. Aku akan menunggu.“ jawab perwira muda itu. Tetapi Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Biarlah, agar mereka tidak terbiasa bangun terlalu siang. Semua orang sudah ada pada tugas masing-masing, sementara mereka masih tidur nyenyak.“ Perwira itu tidak mencegahnya lagi. Sebenarnya ia me¬mang ingin cucu-cucu Ki Lurah itu segera bangun, mandi dan berjalan-jalan bersama. Sejenak kemudian, maka Ki Lurahpun telah memba¬ngunkan kedua cucunya. Meskipun beberapa kali mereka menggeliat dan memejamkan matanya lagi. Namun Ki Lurah tidak henti-hentinya membangunkan mereka. “Aku masih mengantuk, kek.“ gumam Teja Prabawa. “Bangun. Wirastama telah sampai disini, kalian masih saja tidur mengdengkur. Bangun, cepat benahi dirimu.“ berkata Ki Lurah. Teja Prabawa memang segera bangkit. Sambil mengusap matanya ia bertanya, “Jadi perwira muda itu telah berada disini sepagi ini?“ “Lihatlah dila serambi, sudah menunggu beberapa lama.“ jawab Ki Lurah. Teja Prabawapun segera bersiap-siap untuk mandi. Se¬mentara itu Rara Wulan masih saja berbaring di pembaringan. “Cepat, bangun.“ bentak kakaknya. Lalu, “Kau saja dahulu yang mandi. Kau memerlukan waktu lebih lama dari aku untuk berpakaian dan berbenah diri.“ “Tidak.“ jawab Rara Wulan, “jika kita mulai bersama-sama, maka tentu lebih cepat. Kau berhias melampaui perempuan. Untuk mengatur rambutmu, kau memerlukan waktu dua kali lipat dari aku.” “Aku memakai ikat kepala. Waktu yang lebih lamaku pergunakan untuk mengenakan ikat kepala itu.” jawab Teja Prabawa. “Nah, karena itu, kau sajalah yang mandi lebih dahuli.“ jawab Rara Wulan sambil menggeliat. “Jangan terlalu malas Wulan.“ desis Ki Lurah Brar jangan, “seharusnya kau bangun sebelum matahari terbit, membantu di dapur dan menyediakan minuman bagi kakek.” Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi perlahan-lahan i bangkit dan duduk dibibir pembaringannya. “Cepatlah.“ desak kakaknya. “Kau saja dahulu.“ sahut Wulan. Ki Lurahlah yang kemudian menengahi, “Kau sajalah yang pergi ke pakiwan Teja. Kau dapat segera menemui Wiratama yang sudah terlalu lama menunggu.“ Teja Prabawa tidak membantah lagi. Iapun kemudian pergi ke pakiwan untuk mandi. Perwira muda dari Pasukan Khusus itu memang men¬jadi gelisah. Ia sudah cukup lama menunggu. Namun yang kemudian keluar menemuinya adalah Ki Lurah lagi. “Mereka baru mandi.“ berkata Ki Lurah. Perwira muda itu menyembunyikan kegelisahannya. Katanya, “Biar saja Ki Lurah. Aku tidak tergesa-gesa.“ Beberapa saat kemudian Teja Prabawa telah selesai berbenah diri. Iapun telah keluar ke serambi gandok mene¬mui Wirastama yang sudah menunggunya. “Nah.“ berkata Ki Lurah, “cucuku sudah selesai. Silahkan duduk bersamanya, aku akan menemui Ki Gede yang barangkali sudah ada di ruang dalam itu.“ “Silahkan, silahkan Ki Lurah.“ jawab Wirastama. Ki Lurahpun kemudian meninggalkan kedua anak muda yang duduk diserambi itu. Tetapi ia singgah ke bilik Rara Wulan, yang nampaknya masih saja seenaknya ber¬benah diri, meskipun ia sudah mandi. “Cepat sedikit.“ berkata Ki Lurah, “jika kau ingin berjalan-jalan bersama kakakmu dan barangkali bersama Wirastama, jangan berangkat terlalu siang.“ “Aku masih lelah, kek.“ berkata Wulan. “Katakan kepada kakakmu. Tetapi sebaiknya kau selesaikan berbenah diri dan ikut menemui Wirastama dise¬rambi.“ berkata Ki Lurah pula. Lalu katanya, “Aku akan ke ruang dalam.“ Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian telah menyisir rambutnya. Ketika Ki Lurah masuk keruang dalam, Ki Gede memang sudah duduk sambil menghadapi minuman hangat. Ketika ia melihat Ki Lurah, maka iapun kemudian mempersilahkannya duduk. Katanya, “Aku kira Ki Lurah masih sibuk dengan cucu-cucu Ki Lurah.“ “Itulah.“ sahut Ki Lurah, “sebenarnya mereka sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri. Teta¬pi mereka terlalu terbiasa dilayani, sehingga kadang-kadang mereka tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukan.“ Ki Gede tersenyum. Katanya, “Mereka memang memerlukan pengalaman. Tetapi Ki Lurah tidak akan dapat mengharapkan perubahan yang tiba-tiba terjadi atas me¬reka.“ Ki Lurahpun tersenyum pula. Katanya, “Memang me¬reka tidak akan berubah dengan serta merta Ki Gede. Te¬tapi pengalaman yang mereka peroleh disini akan memberikan pengetahuan kepada mereka sehingga untuk selanjutnya mereka akan memperhitungkannya disaat-saat me¬reka harus mengambil sikap, khususnya yang menyangkut lingkungannya.“ Ki Gedepun mengangguk-angguk. Katanya, “Aku kira pengaruh itu tentu akan ada pada saat-saat mendatang, Meskipuh demikian masih dipertanyakan sebesar manakar pengaruh itu mewarnai sikapnya.“ Ki Lurah tertawa. Katanya, “Mudah-mudahan usaha ku tidak sia-sia.“ Dalam pada itu, maka seorang pembantu dirumah K Gedepun telah menghidangkan minuman dan makanan pula. Sementara Ki Gede berkata kepada pembantu itu, “Jangan lupa. Digandok ada dua orang cucu Ki Lurah. Dan bahkan seorang tamu, seorang perwira dari Pasukai Khusus.” Di gandok, Teja Prabawa telah dengan penuh minat mendengarkan pembicaraan perwira muda ini. Meskipu perwira muda itu baru beberapa lama berada di Tanah Perdikan, tetapi rasa-rasanya ia sudah mengenal semua sudut Tanah Perdikan itu. “Aku mengenal Tanah Perdikan ini melampaui orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri.“ berkata Wirastama. Teja Prabawa mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa Wirastama mengenal Tanah Perdikan itu dengan baik. Ka¬rena itu maka katanya, “Apa yang pantas untuk dilihat di Tanah Perdikan ini? Glagah Putih pernah menyebutkan sebuah telaga kecil yang biasa dipergunakan sebagai tempat mandi. Atau daerah hutan lebat di lereng pebukitan di sebelah Barat. Atau barangkali ada tempat lain yang mena¬rik.“ Wirastama tersenyum. Katanya “ Yang ada itu bukan sebuah telaga meskipun kecil. Hanya sebuah belumbang yang oleh orang-orang disekitarnya dipergunakan untuk mandi dan mencuci pakaian. Tetapi jika kalian ingin me¬lihat dan barangkali mandi di belumbang itu, aku akan mengantar kalian kesana.“ “Apakah belumbang itu dalam?“ bertanya Teja Prabawa. “Ada bagian yang dalam, tetapi ada bagian yang tidak terlalu dalam. Apakah kau pandai berenang?“ bertanya Wirastama. “Sedikit.“ jawab Teja Prabawa. “Adikmu?“ bertanya Wirastama hampir diluar sadarnya. “Juga sedikit-sedikit.“ jawab Teja prabawa pula. “Nah, jika demikian, marilah. Kita pergi ke belum¬bang.“ ajak Wirastama. “Baiklah. Aku akan berbicara dengan Wulan.“ sahut Teja Prabawa. Teja Prabawapun kemudian menemui Rara Wulan yang masih berada didalam biliknya meskipun ia sudah selesai berbenah diri. Dengan agak mendesak ia berkata, “Cepatlah sedikit. Kita akan pergi ke belumbang. Kita dapat man¬di di belumbang itu.“ “Kita baru saja mandi.“ jawab Rara Wulan. “Tetapi tentu lain dengan mandi di belumbang. Yang penting bukan mandi membersihkan diri. Tetapi kita dapat berenang-renang sambil berendam.“ gumam Teja Pra¬bawa. “Apakah kau dapat berenang tanpa berendam di air?“ bertanya Rara Wulan. “Ah, sudahlah. Cepatlah sedikit. Wirastama sudah menunggu terlalu lama.“ ajak Teja Prabawa. Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian bangkit dan melangkah keluar. Sebenarnyalah ia memang ingin melihat belumbang itu. Ketika mereka sampai diserambi, maka ternyata hidangan telah disuguhkan oleh pembantu dirumah Ki Gede itu. Karena itu, maka sebelum mereka berangkat, me¬reka sempat meneguk minuman hangat dan makan bebe¬rapa potong makanan, kecuali Rara Wulan yang agaknya segan makan-makanan dihadapan perwira muda itu. “Marilah.“ ajak Wirastama, “selagi matahari belum tinggi.“ “Aku minta diri pada kakek dan Ki Gede.“ berkata Teja Prabawa. “Aku juga.“ desis Rara Wulan. “Kau disini saja.“ minta kakaknya, “aku saja yang minta diri.“ Tetapi Rara Wulan tidak mau. Iapun justru telah mendahului kakaknya menuju ke ruang dalam. Kakeknya berpaling. Lalu katanya, “Kemarilah. K Gede duduk disini. Duduklah dan kau akan berbicar apa?“ Rara Wulanpun mendekat. Sambil menunduk iapui duduk disisi kakeknya, sementara Teja Prabawapun telah menyusulnya pula dan duduk pula disebelahnya. “Kek.“ berkata Raden Teja Prabawa kemudian, “kami akan berjalan-jalan.“ “Dengan siapa?“ bertanya Ki Lurah. “Dengan Wirastama.“ jawab Teja Prabawa. “Glagah Putih sebentar lagi tentu datang kemari. Apakah kau tidak menunggunya? Barangkali kalian dapat pergi bersama-sama?“ bertanya kakeknya. “Buat apa menunggu anak sombong itu.“ desis Teja Prabawa. Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Gede berkata, “Glagah Putih tentu lebih mengenali Tanah Perdikan ini daripada Wirastama.“ “Tidak.“ jawab Teja Prabawa, “Wirastama jauh lebih banyak mengenali Tanah Perdikan ini dari anak dungu itu.“ Ki Gede tersenyum. Katanya, “Glagah Putih mengenal isi Tanah Perdikan ini seperti mengenali isi rumahnya yang kecil itu. Glagah Putih mengenal semua orang yang tinggal di Tanah Perdikan ini seperti mengenal orang-orang seisi rumahnya pula.“ Tetapi Teja Prabawa seakan-akan tidak percaya kepada keterahgan Ki Gede itu. Karena itu, maka ia masih menja¬wab, “Tetapi apa yang diceriterakan oleh Wirastama itu le¬bih beraneka tentang isi Tanah Perdikan ini daripada yang dikatakan oleh anak itu.“ Ki Gede masih saja tersenyum. Jawabnya, “Kadang-kadang seseorang nampak lebih kaya dari seorang yang sebenarnya jauh lebih kaya hanya karena pakaiannya.“ Teja Prabawa mengerutkan keningnya. Sementara itu Ki Lurah pun berkata, “Ki Gede adalah orang yang paling mengetahui di Tanah Perdikan ini, karena itu maka apa yang dikatakannya tentu bukan sekedar dibuat-buat.“ Cucu Ki Lurah itu memang tidak menjawab. Tetapi ia tetap tidak percaya. Adalah wajar jika Ki Gede menganggap orangnya lebih baik dari seorang perwira Pasukan Khusus sekalipun. Sedangkan menurut Teja Prabawa, Gla¬gah Putih belum sehitamnya kuku perwira muda yang bernama Wirastama itu. Dalam pada itu, Ki Gedepun kemudian berkata, “Baiklah. Tetapi berhati-hatilah.” “Jangan terlalu lama.“ pesan Ki Lurah. “Baik Ki Gede. Kami mohon diri kek.“ desis Teja Prabawa. “Aku juga minta diri kek.“ desis Rara Wulan. “Kau juga ikut?“ bertanya kakeknya. “Aku ingin melihat belumbang itu.“ jawab Rara Wu¬lan, “katanya kita dapat mandi di belumbang itu.“ “Tetapi kau harus memilih. Belumbang itu dibagi menjadi dua bagian. Yang sebagian memang dapat dipergunakan untuk mandi. Tetapi di bagian yang lain, belum¬bang itu sangat dalam. Nampaknya memang menyenangkan untuk berenang. Namun kadang-kadang terdapat pusaran air yang berbahaya yang dapat menyeret seseorang ke dalam lubang batu padas yang tidak diketahui arahnya. Sedangkan tidak seorangpun dapat memperkirakan, kapan pusaran itu datang. Karena begitu tiba-tiba dan tidak disangka-sangka.“ pesan Ki Gede. “Nah, kau dengar.“ Ki Lurah menyambung, “kau tentu menyadari apa yang akan terjadi jika seseorang terhisap oleh pusaran air masuk ke lubang batu padas.“ “Hal itu memang pernah terjadi Ki Lurah.“ berkata Ki Gede. Lalu, “Agaknya dibawah belumbang itu terdapat sebuah ruang yang besar, Setiap kali ruang itu berkurang isinya karena melalui arus dibawah tanah mengalir. Setiap saat tertentu, maka kekurangan itu harus diisi jika keseimbangan udara didalamnya telah tercapai. Dengan demi¬kian maka diatasnya akan timbul pusaran air disaat air itu masuk mengisi ruang dibawah tanah itu.“ Ki Lurah mengangguk-angguk. Sambil menepuk bahu cucu perempuannya ia berkata, “Berhati-hatilah. Kau dengar pesan Ki Gede. Karena itu, jika kau mandi juga, jangan terpisah dari orang-orang lain, terutama orang-orang disekitar tempat itu yang sudah mengenali tabiat belumbang itu dengan baik.“ “Ya kakek.“ jawab Rara Wulan. Namun dalam pada itu Teja Prabawa berkata, “Wiras¬tama tentu mengetahui hal itu.” K i Lurah dan Ki Gede hanya dapat saling berpandangan. Agaknya Teja Prabawa memang terlalu mengagumi per¬wira muda dari Pasukan Khusus itu. Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka bertigapun telah berangkat. Matahari memang sudah mulai memanjat langit. Tetapi belum terlalu tinggi. “Apakah kau pernah melihat pasar di Tanah Perdikan ini?“ bertanya Wirastama. “Belum.“ jawab Teja Prabawa. “Marilah. Kita melihat pasar. Tentu menarik. Berbeda dengan pasar di Kotaraja. Ketika aku ditugaskan di tempat ini setelah untuk waktu yang agak lama di Kotaraja, maka akupun tertarik melihat pasar disini. Memang tidak seramai di Kotaraja. Tetapi kita akan melihat orang-orang yang menurut kalian tentu aneh. Pertama kali aku melihat, aku juga merasa aneh. Begitu sederhana dan pada umumnya nampak dungu.“ berkata Wirastama. Teja Prabawa mengangguk. Lalu katanya kepada Rara Wulan, “Kita singgah dipasar sebentar.“ Rara Wulan hanya mengangguk saja. Ia memang ingin melihat apa saja di Tanah Perdikan itu. Karena itulah, maka mereka bertigapun telah singgah di pasar yang terletak di padukuhan induk Tanah Perdikan. Teja Prabawa dan Rara Wulan memang pernah lewat pasar itu pula. Tetapi mereka belum pernah masuk sampai keda¬lamnya dan melihat apa saja yang diperjualbelikan dipasar itu. “Seperti kuburan.“ berkata Teja Prabawa. “Kenapa?“ bertanya Wirastama. “Gubug-gubugnya terlalu rendah. Yang terbuat dari kayu justru mirip cungkup di kuburana. Apalagi disaat pasar ini kosong lewat tengah hari. Lebih-lebih lagi menjelang senja.” “Tetapi orang-orang disekitar tempat ini tahu, bahwa disini terdapat sebuah pasar, bukan kuburan.“ sahut Rara Wulan. “Ya.“ Wirastama mengangguk-angguk. Lalu, “disini juga tidak terdapat pohon semboja.“ Teja Prabawa hanya mengangguk-angguk saja, semen¬tara Rara Wulan tiba-tiba saja bertanya, “Apakah yang dijual itu?” Karena Teja Prabawa juga tidak tahu, maka iapun berpaling kepada Wirastama yang menjawabnya, “Ampo. Makanan yang dibuat dari tanah liat.“ “Tanah liat? Bagaimana mungkin?“ bertanya Rara Wulan pula. “Ya. Tanah liat.“ jawab Wirastama. “benar-benar tanah liat yang digores tipis-tipis. Mula-mula tanah liat itu dibuat bulatan seperti roda pedati yang besar tebal dan tanpa lubang di tengah selain porosnya.“ Rara Wulan mengerutkan keningnya. Ia agak kurang dapat memahami keterangan Wirastama. Namun disebelahnya ternyata terdapat apa yang dikatakan Wirastama itu. Seperti roda yang terbuat dari tanah liat. Dikesrik dengan welat bambu, sehingga berjatuhan lapisan-lapisan tipis yang bergulung. Kemudian tanah liat itu dipanasi diatas kuali yang juga terbuat dari tanah liat tanpa minyak. Rara Wulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Bagaimana jika kualinya itu saja yang dimakan?“ Wirastama tertawa. Katanya, “Sudahlah. Marilah kita lanjutkan perjalanan. Bukankah kita akan pergi ke belum¬bang?“ Kedua cucu Ki Lurah itu tidak menjawab. Namun me¬reka bertiga telah melangkah meninggalkan pasar itu tanpa menyadari, bahwa beberapa orang tengah memandangi me¬reka dengan mulut ternganga. Namun beberapa orang telah mengetahui bahwa kedua orang yang dikawani oleh seorang prajurit dari Pasukan Khusus itu adalah tamu Ki Gede dari Kotaraja. “Menilik pakaian dan tanda-tanda yang ada pada pakaiannya, prajurit itu tentu seorang perwira.“ berkata seorang anak muda yang kebetulan ada di pasar itu. Namun diantara mereka yang memperhatikan ketiga orang itu adalah seorang perempuan yang menjinjing sebuah keranjang yang berisi beberapa jenis sayur-sayuran. Perempuan yang habis berbelanja untuk kepentingan sehari-hari. Perempuan itu adalah Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah tidak memperhatikan mereka lebih lama. Iapun kemudian meninggalkan pasar itu pula, karena ia sudah cukup berbelanja buat hari itu, sementara dirumah telah ada ikan hampir sekepis penuh. Namun dirumah, Sekar Mirah sempat berceritera bahwa ia telah bertemu dengan kedua cucu Ki Lurah. “Aku belum pernah melihat dengan jelas keduanya. Tetapi aku yakin, bahwa keduanya itulah yang dikawani oleh seorang perwira dari Pasukan Khusus.“ berkata Sekar Mirah. Glagah Putih mengangguk-angguk sambil menyahut, “mBokayu benar. Perwira itu bernama Wirastama. Dari Pasukan Khusus?“ Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Lalu iapun bertanya, “Jadi kau tidak lagi menemaninya?“ “Cucu Ki Lurah itu tidak senang kepadaku. Aku takut bahwa pada suatu saat aku kehilangan kendali sehingga aku menyakiti hatinya.“ berkata Glagah Putih. Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Kau bukan kanak-kanak lagi. Glagah Putih. Pengalamanmu cukup luas. Kau telah menjelajahi banyak daerah. Kau telah mengalami banyak sekali peristiwa. Kau harus yakin akan dirimu sendiri, sehingga kau tidak akan mudah merasa rendah diri.“ “Aku tidak merasa rendah diri kakang. Tetapi sudah tentu aku justru harus mempertahankan harga diri.“ jawab Glagah Putih. Agung Sedayu menepuk bahu sepupunya itu sambil berkata, “Kau harus yakin akan kelebihanmu. Karena itu, maka jangan hiraukan tingkah lakunya.“ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sementara Agung Sedayu berkata pula, “Lihatlah, kemana mereka pergi.“ “Wirastama sudah mengantar mereka.“ berkata Glagah Putih. “Anak muda itu belum mengenal semua rahasia yang ada di Tanah Perdikan ini. Berbeda dengan kau atau aku.“ berkata Agung Sedayu pula. “Tetapi aku tidak tahu kemana mereka pergi.“ jawab Glagah Putih. “Bertanyalah kepada Ki Lurah.“ minta Agung Sedayu. Glagah Putih tidak dapat menolak. Iapun kemudian berbenah diri dan dengan langkah segan pergi ke rumah Ki Gede setelah makan pagi. “Marilah.“ Ki Lurah yang telah berada diserambi mempersilahkan. Glagah Putihpun kemudian duduk bersama Ki Lurah diserambi. “Ki Gede sedang bersiap-siap untuk pergi ke padu¬kuhan yang sedang mempersiapkan pembongkaran banjarnya yang lama dan akan menggantikannya dengan yang baru.“ berkata Ki Lurah. “O“ Glagah Putih mengangguk-angguk, “kakang Agung Sedayu juga akan pergi kesana. Sebenarnya aku juga akan pergi ke banjar itu. Tetapi kakang menyuruhku datang kemari.“ Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Aku tahu, kau tentu merasa segan menyertai Teja Prabawa melihat-lihat Tanah Perdikan ini.“ “Bukan maksudku Ki Lurah. Tetapi keduanya nampaknya memang tidak menyenangi aku. Mereka lebih senang diantar oleh Wirastama.“ jawab Glagah Putih berterus terang. Ki Lurah tertawa. Katanya, “Teja Prabawa memang mengagumi Wirastama. Agaknya Wirastama memang pandai menunjukkan sesuatu yang menarik. Kelebihannya dan pengakuannya bahwa ia telah mengenal Tanah Perdikan ini melampaui orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri.“ “Mungkin ia memang mengenali Tanah Perdikan ini dengan baik Ki Lurah.“ jawab Glagah Putih. Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi aku yakin bahwa kau tentu lebih mengenali Tanah Perdikan ini sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede. Semen¬tara itu, aku memang agak cemas, karena mereka bertiga telah pergi ke belumbang yang menurut Ki Gede mempunyai rahasia yang menggetarkan. Bagian , yang dalam kadang-kadang telah digoncang oleh pusaran air yang besar, yang mengisap masuk kedalam lubang yang besar di batu padas didasar belumbang itu.“ Glagah Putih mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Tetapi orang-orang di sekitar belumbang itu sudah mengetahui. Ada beberapa tanda yang dibuat, agar mereka yang mandi dan berenang di tempat itu tidak memasuki daerah yang berbahaya. Pusaran air itu datang sewaktu-waktu. Kadang-kadang dua hari dua malam tidak timbul pusaran air itu. Namun kadang-kadang sehari semalam dapat terjadi dua kali.“ Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku jadi tertarik pula untuk melihatnya. Mari kita pergi.“ Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia merasa tidak mapan dihatinya. Karena itu maka katanya, “Aku akan pergi Ki Lurah. Bukan maksudku untuk berkeberatan menyusul mereka.“ Ki Lurah tersenyum. Katanya, “Aku tidak apa-apa. Aku memang ingin melihat belumbang itu. Aku sudah pernah tinggal di Tanah Perdikan ini untuk waktu yang lama. Akupun tahu bahwa ditempat itu ada belumbang. Tetapi aku belum pernah mendengar tentang pusaran air itu sebelumnya.“ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya perhatian Ki Lurah pada waktu itu sepenuhnya tertuju pada pembentukan Pasukan Khusus itu, sehingga Ki Lurah tidak sempat memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi di Tanah Perdikan ini.“ Ki Lurah justru tertawa. Katanya, “Aku akan minta diri kepada Ki Gede yang agaknya sudah siap untuk pergi ke banjar itu.“ Demikianlah sejenak kemudian, Glagah Putih dan Ki Lurah telah menyusul kedua cucu Ki Lurah itu ke belum¬bang yang oleh orang-orang disekitarnya memang sering disebut telaga kecil atas yang lain menyebutnya sendang. Tetapi mereka berdua telah menempuh jalan pintas. Mereka tidak melalui jalan yang banyak dilalui orang. Mereka telah melewati jalan-jalan sempit yang memang agak lebih sulit. Sementara itu, kedua cucu Ki Lurah bersama Wirasta¬ma memang telah pergi ke sendang yang terbelah dua itu. Ketika mereka mendekati belumbang itu, maka Rara Wulan justru telah mendahului kakaknya dan Wirastama. Meskipun ia merasa lelah, tetapi ia memang segera ingin ta¬hu belumbang yang memang cukup luas yang sebagian dipergunakan untuk mandi dan mencuci pakaian. Sendang itu letaknya disebelah dataran yang sedikit lebih tinggi dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya, sehingga seakan-akan sendang itu terletak dipuncak sebuah dataran tinggi. Disekitar sendang itu terdapat pohon-pohon raksasa. Namun karena tempat itu setiap hari didatangi banyak orang, maka tempat itu menjadi bersih. Batu-batu besarpun menjadi mengkilap karena hampir setiap hari batu-batu itu disentuh tangan. Beberapa orang yang tidak tergesa-gesa mandi telah duduk-duduk di atas batu-batu itu. Ternyata tempat itu memang menarik bagi Rara Wu¬lan. ia melihat beberapa orang gadis sebayanya berada di-pinggir belumbang itu. Bahkan sebagian diantara mereka sedang berendam. Disisi yang lain nampak beberapa orang perempuan sedang mencuci pakaian. Sementara disebelah yang lain lagi agaknya diperuntukkan bagi laki-laki. Rara Wulan nampaknya menjadi kecewa. Ketika kakaknya dan Wirastama mendekatinya maka iapun berta¬nya, “Jadi laki-laki juga diperkenankan mandi di belum¬bang ini.“ “Belumbang ini kepunyaan orang-orang disekitar tem¬pat ini.“ berkata Wirastama, “jadi semua orang berhak mempergunakannya.“ Rara Wulan tidak bertanya lagi. Sementara itu Teja Prabawalah yang bertanya, “Di bagian mana belumbang ini tidak boleh dipergunakan untuk mandi, yang menurut
    • dilanjutkan ……..

      Rara Wulan tidak bertanya lagi. Sementara itu Teja Prabawalah yang bertanya — Di bagian mana belumbang ini tidak boleh dipergunakan untuk mandi, yang menurut Ki Gede sering terjadi pusaran air? —
      Wirastama tertawa. Katanya — Memang orang-orang disekitar tempat ini tidak berani memasuki bagian yang
      dibatasi oleh tiang-tiang bambu itu. Mereka berpendapat bahwa dibagian yang dibatasi tiang-tiang itu sampai ketepi seberang adalah daerah yang berbahaya. —

      Teja Prabawa mengangguk-angguk. Namun Wirastama berkata — Agaknya kepercayaan itu timbul setelah pernah terjadi seorang yang hilang dibagian yang dianggap berbahaya itu. Namun agaknya orang itu tidak terlalu pandai berenang, sementara bagian itu adalah bagian yang sangat dalam, sehingga diperlukan ketrampilan tersendiri. —
      — Tetapi menurut Ki Gede, di bagian itu kadang-kadang telah timbul pusaran yang seakan-akan menghisap air kedalam tanah lewat lubang-lubang di batu padas di dasar belumbang itu. — berkata Teja Prabawa.
      Tetapi Wirastama tersenyum sambil menjawab — Nampaknya Ki Gede malas untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Ia percaya saja kepada ceritera banyak orang. Dan barangkali orang-orang setua Ki Gede berpikir, apa salahnya mengambil langkah-langkah pengamanan.
      Teja Prabawa mengangguk-angguk. Kepada adiknya ia bertanya — Apakah kau ingin mandi? —
      Rara Wulan termangu-mangu sejenak. Katanya — Terlalu banyak orang. —
      — Sudah menjadi kebiasaan disini — berkata Wirastama.
      — Airnya jernih — desis Rara Wulan. Namun ketika ia menengadahkan wajahnya dilihatnya rimbunnya dedaunan dari pohon-pohon raksasa.
      Tiba-tiba saja ia berdesis — Aku tidak mandi saja. Jika kakang ingin mandi, mandilah. —
      Raden Teja Prabawapun rasa-rasanya ngeri juga melihat lingkungan disekitarnya meskipun ia melihat beberapa orang telah berendam didalam air.
      Wirastama yang melihat kedua cucu Ki Lurah itu ragu-
      ragu berkata — Marilah. Aku sudah akan mandi. — — Tetapi Rara Wulan menjawab — Terlalu banyak orang. Lebih baik aku tidak mandi. —
      — Wirastama termangu-mangu. Iapun kemudian memandangi beberapa orang laki-laki yang sedang mandi setelah kembali dari sawah.
      — Apakah aku harus mengusir mereka? — bertanya Wirastama.
      — Tidak. Jangan — cepat-cepat Rara Wulan menjawab — bukankah hak mereka untuk mandi di sendang itu? —
      Wirastama mengangguk-angguk. Sementara itu iapun bertanya kepada Teja Prabawa — Bagaimana dengan kau? —
      Teja Prabawa termangu-mangu. Sementara itu Rara Wulan justru menjadi segan mendekati gadis-gadis dan perempuan-perempuan yang sedang mandi dan mencuci. Nampaknya mereka justru sedang memperhatikannya dengan terheran-heran.
      — Apakah aku menjadi tontonan disini? — desis Rara Wulan.
      — Bukan tontonan — sahut Wirastama — mereka adalah orang-orang padukuhan yang jarang melihat orang luar. Bagi mereka orang-orang Kotaraja adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka tidak terbiasa memakai pakaian sebagaimana kalian pakai sekarang. Dan kebetulan pula aku juga memakai pakaian seorang perwira dari Pasukan Khusus. Agaknya mereka tertarik untuk memperhatikan kita. —
      Rara Wulan tidak menjawab. Iapun tahu, bahwa orang-orang aitu memperhatikan mereka karena orang-orang itu jarang sekali melihat orang-orang dari Kotaraja yang datang ke tempat yang sepi itu.
      Namun dalam pada itu Wirastamapun berkata — Marilah. Kita mandi. Airnya bening sekali. Mata air dari belum-
      bang ini terdapat dibawah akar pohon-pohon raksasa itu. Sementara dibagian lain airnya mengalir keluar melimpah ke sebuah parit yang memang sudah disiapkan yang dapat mengairi sawah yang cukup luas. Bahkan disegala musim, karena dimusim kemarau pun air belumpung ini sama sekali tidak berkurang. —
      Teja Prabawa memang ragu-ragu. Tetapi nampaknya memang segan sekali mandi dibelumbang yang airnya bening sekali. Tidak terlalu dalam sementara iapun dapat berenang,
      Akhirnya Raden Teja Prabawa itupun berkata — Baiklah. Aku akan mandi. —
      — Bagus — berkata Wirastama. Tetapi ia masih berpaling kepada Rara Wulan sambil berkata — Marilah. Kau tentu juga ingin mandi. —
      Tetapi Rara Wulan menggeleng. Katanya — Aku disini saja. —
      Wirastama tidak memaksa meskipun ia agak kecewa. Sebenarnya ia ingin juga Rara Wulan itu mandi bersama mereka dibelumbang itu.
      Demikian sejenak kemudian Wirastama dan Teja Prabawa telah mencebur kedalam sendang yang airnya terasa sangat sejuk. Matahari yang memanjat semakin tinggi dila-ngit, memanasi air belumbang itu sehingga nampak berkilat-kilat. Jika terasa kulit menjadi gatal oleh sinar matahari, maka mereka dapat berenang menepi sehingga terlindung oleh dedaunan dari pohon-pohon raksasa yang tumbuh dipinggir sendang itu.
      Ternyata kedua anak muda itu memang pandai berenang. Keduanya meluncur kesana kemari. Anak-anak muda padukuhan yang lebih dahulu mandi di sendang itu, tanpa mereka sadari telah menepi. Seakan-akan mereka memberikan tempat di sendang itu hanya untuk berdua saja. Seorang dari Kotaraja, seorang lagi perwira Pasukan Khusus.
      Rara Wulan yang duduk dipinggir sambil menunggui pakaian kedua anak muda itu melihat keduanya dengan ter-senyum-senyum. Sebenarnya ada keinginannya untuk ikut mandi. Tetapi selaina pohon-pohon raksasa yang akar-akarnya seakan-akan telah mencengkam belumbang itu, iapun agak malu karena di belumbang itu terdapat beberapa orang laki-laki. Namun iapun merasa segan pula untuk mandi bersama Wirastama.
      Gadis-gadis dan perempuan-perempuan yang sedang mandi dan mencuci itupun telah berusaha mempercepat pekerjaan mereka. Rasa-rasanya mereka tidak pantas untuk mandi bersama-sama dengan orang-orang yang terhormat itu. Namun demikian ternyata mereka tidak segera keluar dari air. Mereka memang menepi. Tetapi ternyata mereka tanpa sadar menonton kedua anak muda yang berenang dengan ketrampilan yang tinggi itu.
      — Kau ternyata sangat pandai berenang — puji Wirastama.
      — Ah, tidak terlalu baik — jawab Teja Prabawa — Kaupun pandai pula. Bahkan kau mampu berenang sangat cepat dan dengan berbagai macam gaya. —
      Wirastama tertawa. Ia berenang semakin ketengah, sehingga semakin dekat dengan tiang-tiang bambu yang dipakai sebagai batas antara bagian yang tidak terlalu dalam dan bagian yang lebih dalam. Bahkan lebih dari itu, dibe-lakang patok-patok bambu itu, adalah bagian yang dipengaruhi oleh pusaran yang kadang-kadang timbul di sendang itu. Bahkan pusaran itu kadang-kadang nampak begitu besar dan kuat, sehingga mampu menyeret seseorang kedalam lubang yang terdapat didasar sendang itu.
      Ketika tiba-tiba saja Wirastama menyentuh salah satu diantara tiang-tiang itu, beberapa orang yang berada ditepi sendang itu berdesah.
      Teja Prabawapun menjadi gelisah melihat sikap Wirastama yang sambil tertawa-tawa mengitari salah satu dari
      tiang bambu itu.
      Ketika ia kemudian berenang memasuki bagian yang dalam itu semakin jauh, beberapa orang telah berteriak.
      — Jangan — Teja Prabawapun berteriak pula.
      Wirastama memang berpaling. Tetapi ia tidak kembali. Bahkan iapun telah melambaikan tangannya sambil berenang.
      — Kembalilah tuan — beberapa orang berteriak mencegahnya. Sementara Teja Prabawa yang berenang sampai kebataspun berteriak pula — Kembalilah. —
      Tetapi Wirastama justru berteriak pula — Marilah. Disini terasa belumbang ini menjadi lapang. Tidak ada apa-apa. —
      Teja Prabawa menjadi sangat gelisah. Sambil berpegangan tiang batas itu ia masih saja mencegah — Cepat, kembalilah. —
      Wirastama yang berenang dibagian dalam itu, berputar sekali. Kemudian menyelam dan ketika ia muncul lagi diper-mukaan iapun berteriak — Kemarilah. —
      Tetapi Teja Prabawa tidak berani mendekat. Sementara orang-orang yang berada ditepi sendang itu masih saja ada yang berteriak — Jangan tuan. Jangan kesana. —
      Wirastama berenang terus. Bahkan ia telah meluncur sampai ketepi seberang yang agak jauh. Sambil berpegangan akar pepohonan ia melambaikan tangannya lagi. Dan sejenak kemudian ia telah meluncur kembali kearah Teja Prabawa.
      Wirastama tidak menyadari bahwa dua pasang mata memperhatikannya selain orang-orang yang memang sudah diketahuinya ada di pinggir belumbang itu. Bahkan sekali-sekali Wirastama berusaha untuk melambaikan tangannya, kepada Rara Wulan yang menjadi pucat.
      Dua orang itu justru berdiri dibalik pohon-pohon raksasa disisi yang lain dari tempat Rara Wulan menunggu
      dengan gemetar karena tingkah laku Wirastama.
      — Ki Lurah — desis Glagah Putih yang sudah ada ditempat itu bersama Ki Lurah Branjangan — Wirastama telah melakukan satu permainan yang sangat berbahaya. —
      — Ia ingin mendapat pujian — berkata Ki Lurah.
      — Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu — desis Glagah Putih.
      Orang-orang yang menyaksikan Wirastama itu berenang mendekati Teja Prabawa telah menahan nafas. Bahkan merekapun kemudian menarik nafas dalam-dalam ketika Wirastama hampir mencapai tiang-tiang bambu itu. Karena sesaat lagi, Wirastama akan berada ditempat yang aman.
      Tetapi Wirastama tiba-tiba telah berputar lagi sambil berkata — Marilah. Disini menyenangkan. Bukankah kau lihat tidak ada apa-apa dibagian yang dalam itu? — — Jangan — cegah Teja Prabawa.
      Namun Wirastama justru berputar terus. Ia menuju ketengah-tengah lagi dari bagian yang dalam itu.
      — Cukup, cukup — teriak Teja Prabawa. Sedangkan orang-orang lainpun berteriak — Jangan.
      Jangan kembali ketengah. —
      Tetapi Wirastama hanya tertawa-tawa saja sambil berenang.
      Orang-orang yang menyaksikan memang menjadi bingung. Diluar sadar, mereka masih saja mencoba mencegahnya. Sementara Teja Prabawapun masih juga berteriak-teriak. Tetapi Wirastama tidak menghiraukannya.
      Rara Wulan menjadi semakin pucat. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.
      Dalam pada itu, air belumbang itu memang nampak tenang. Namun tiba-tiba yang ditakutkan itupun datanglah. Perlahan-lahan air dibagian yang dalam itu mulai ber-
      gerak. Sebuah pusaran nampak memutar air yang semula tenang itu.
      Semua orang yang melihatnya berteriak lagi. Wirastamapun terkejut. Ia merasa tubuhnya mulai ditarik oleh sebuah pusaran air. Meskipun pusaran yang terjadi itu tidak tepat dibawahnya. Namun rasa-rasanya tarikan air itu demikian kuatnya.
      Wirastama memang memiliki ketrampilan berenang. Dengan sekuat tenaga ia melawan hisapan air itu. Beberapa jengkal ia berhasil maju menjauhi pusaran yang menjadi semakin besar itu. Namun kemudian tenaganya ternyata tidak mampu melawan lagi. Meskipun Wirastama masih berusaha, tetapi perlahan-lahan ia mulai terhisap kearah pusat dari pusaran itu.
      — Ki Lurah — wajah Glagah Putihpun menjadi tegang — Ia memerlukan pertolongan. —
      — Jangan turun — cegah Ki Lurah — jika kau turun, maka kaupun akan terhisap. Betapapun besar tenagamu dan tenaga cadangan didalam dirimu, tetapi kau tidak akan mampu melawan pusaran air itu, karena air itu berputar dengan cepat dan menghisap dengan kuat. Air itu dengan derasnya masuk melalui lubang dibawah dasar belumbang ini kedalam celah yang besar dibawah tanah. Karena itu, kekuatannya tentu sangat besar. —
      — Tetapi Wirastama itu akan terhisap — sahut Glagah Putih dengan gelisah.
      Ki Lurahpun menjadi tegang. Sementara itu Glagah Putih berkata — Tapi. Dimana ada tali? —
      Ki Lurah memandang sulur-sulur pepohonan yang bergayutan di pinggir belumbang itu. Namun sulur-sulur itu tentu tidak cukup panjang untuk dapat menggapai Wirastama yang semakin lemah dan mulai hanyut kedalam pusaran.
      — Jika tidak terputar semakin cepat, maka ia akan
      memasuki pusat pusaran itu dan kemudian terhisap masuk — berkata Glagah Putih dengan gelisah.
      — Ya. Kita harus berusaha menolongnya. Tetapi jangan justru menambah korban — jawab Ki Lurah yang masih mencoba memperhatikan sulur-sulur pepohonan.
      Glagah Putih mengerti maksud Ki Lurah. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia telah menarik sehelai sulur. Kemudian dengan kekuatan cadangan yang dikerahkannya, maka ia telah menghentakkan sulur itu. Tetapi sulur itu ternyata putus pada tempat yang tidak dikehendaki. Terlalu pendek.
      Glagah Putih menjadi semakin gelisah. Ki Lurahpun menjadi bingung. Ia tidak melihat kesempatan yang dapat dipergunakan untuk menolong Wirastama. Sementara itu, ia sangat berkeberatan jika Glagah Putih meloncat terjun kedalam pusaran air. Jika demikian, maka kedua-duanya tentu akan terhisap kedalam lubang batu padas didasar sendang itu.
      Ketika semua orang kehilangan harapan atas keselamatan Wirastama, maka Glagah Putih telah mengambil satu keputusan. Ia akan berbuat sesuatu meskipun agak untung-untungan. Tanpa berusaha apapun juga, Wirastama tentu akan terhisap. Sementara jika ia berusaha, masih ada kemungkinan lain betapapun kecilnya.
      Pada saat yang mendesak itu Glagah Putih telah memusatkan nalar budinya. Ia adalah murid Ki Jayaraga yang mampu melontarkan kekuatan ilmunya yang bersumber pada kekuatan air, api, udara dan bumi. Karena itu, maka dengan menghentakkan ilmunya, Glagah Putih telah menyerap kekuatan udara dan melalui ilmunya melontarkannya kearah pusaran yang semakin cepat itu. Sementara Wirastama yang berjuang untuk berenang menjauh benar-benar telah kehilangan kekuatannya.
      Dari sela-sela pohon besar, Glagah Putih kemudian menghentak ilmunya, melontarkannya menghantam
      pusaran yang hampir menghisap Wirastama. Namun Glagah Putih sadar, bahwa kekuatan ilmunya itu tidak boleh mengenai perwira muda itu.
      Ternyata sesuatu yang dahsyat telah terjadi. Pusaran air itu telah dihempas oleh kekuatan yang sangat besar. Seakan-akan justru dari pusat pusaran itu telah terlontar gelombang yang sangat besar.
      Semua orang yang ada dipinggir belumbang itu terkejut bukan buatan. Mereka tidak melihat Glagah Putih dan Ki Lurah yang berada diantara pohon-pohon besar. Yang mereka ketahui adalah bahwa tiba-tiba saja hempasan yang kuat itu seakan-akan telah melemparkan Wirastama yang hampir saja terhisap sampai kepusat pusaran, sampai ketepi sendang.
      Demikian Wirastama jatuh lagi kedalam air, dibagian tepi sendang, maka beberapa orang laki-laki telah berlari-lari dan terjun kearahnya. Dengan serta merta mereka telah menarik Wirastama yang lemah itu. Pantulan gelombang yang membentur pinggir belumbang itu akan menyeretnya, jika beberapa orang tidak menolongnya. Bahkan orang-orang yang menolong itupun harus berjuang melawan arus air yang memantul itu.
      Ketika orang-orang itu mengangkat Wirastama dari dalam air, maka orang-orang itupun telah menarik nafas lega.
      Namun dalam pada itu, hempasan air telah mengguncang bagian yang dibatasi oleh patok-patok bambu itu pula, sehingga Teja Prabawapun harus berusaha untuk melawannya dan mencapai tepi sendang itu.
      Demikian ia naik, maka iapun telah berlari-lari mendekati Wirastama yang terbaring dengan nafas yang terengah-engah. Perwira muda itu tidak pingsan. Tapi tenaganya seakan telah terkuras habis, sehingga rasa-rasanya ia tidak mampu lagi untuk bangkit.
      — Satu keajaiban telah terjadi — berkata seorang laki-
      laki yang menolongnya.
      Teja Prabawa mengangguk. Tetapi ia tidak menyahut.
      Sementara itu, Rara Wulan benar-benar menjadi gemetar di tempatnya. Hampir saja justru Rara Wulanlah yang pingsan seandainya Ki Lurah tidak mendekatinya.
      Rara Wulan justru terkejut ketika ia mendengar suara dibelakangnya — Apa yang terjadi? —
      Ketika Rara Wulan berpaling, dilihatnya Ki Lurah dan Glagah putih berdiri termangu-mangu.
      — Kakek — Rara Wulan yang ketakutan itupun telah meloncat memeluk Ki Lurah.
      — Kau tidak apa-apa? — bertanya Ki Lurah.
      — Wirastama — jawab Rara Wulan dengan suara bergetar.
      Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Glagah Putih telah mohon kepada Ki Lurah agar tidak mengatakan apa yang terjadi.
      Ki Lurahpun kemudian berkata kepada Rara Wulan — Tinggallah disini. Aku akan melihat anak muda itu.
      Rara Wulan mengangguk. Ketika ia berpaling ke belumbang, maka dilihatnya gelombang yang tiba-tiba saja melonjak dan melemparkan Wirastama itu telah hampir tidak berbekas lagi. Yang nampak kemudian adalah pusaran air yang semakin cepat, menukik kedasar belumbang.
      Darah Rara Wulan berdesir. Ia membayangkan, apa yang terjadi. seandainya Wirastama itu terhisap oleh pusaran itu dan tubuhnya akan membentur batu-batu padas didasar belumbang.
      Ketika Ki Lurah kemudian mendekati Wirastama, maka anak muda itu telah berusaha untuk dapat duduk. Ia harus berusaha dengan sisa tenaga yang ada padanya, untuk mengatur pernafasannya sehingga dengan demikian, ia
      akan dapat mencapai ketenangan.
      Ki Lurah membiarkan anak muda itu mencapai keseimbangan pernafasan. Kepada orang-orang yang ada diseki-tarnya ia berkata — Kami, atas nama keluarga dan pimpinan Pasukan Khusus mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian. —
      — Bukan kami — jawab seorang yang paling tua dian-tara mereka — satu keajaiban telah terjadi. Seumurku, belum pernah melihat hal seperti ini. Pusaran itu memang sering timbul dengan tiba-tiba tanpa diketahui waktunya. Tetapi hempasan gelombang yang menyelamatkan perwira muda ini belum pernah terjadi sebelumnya. —
      Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya — Satu lantaran, bahwa Tuhan masih menghendaki perwira muda itu berumur panjang. —
      Orang-orang yang mengangkatnya dari dalam air itu menganguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata — Satu pertanda, bahwa pada anak muda ini terdapat sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sehingga karena itu, maka pusaran air itupun dapat dihalaunya meskipun keadaannya sendiri nampaknya menjadi gawat. —
      Tetapi Ki Lurah menggeleng. Katanya — Nampaknya ia tidak mengalami kesulitan pada dirinya. Ia hanya terlalu letih dan barangkali kegelisahan. Tetapi setelah ia berhasil mengatur pernafasannya, maka ia tentu akan menjadi baik kembali.
      Ketika orang-orang yang menolongnya mengangguk maka Teja Prabawapun berkata — Ia memang seorang yang luar biasa. Seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. —
      Diluar sadarnya Ki Lurah berpaling kepada Glagah Putih yang berdiri saja mematung.
      Sejenak kemudian, maka keadaan Wirastamapun menjadi berangsur baik. Nafasnya menjadi teratur, dan kekuatannya sedikit demi sedikit telah tumbuh kembali.
      Jantungnya yang semula bagaikan menghentak-hentak telah berdetak dengan teratur.
      — Berpakaianlah. Lepaskan pakaian kalian yang basah. — berkata Ki Lurah.
      Tetapi Teja Prabawa berkata — Kami harus berjemur sampai pakaian basah ini kering. Kami tidak membawa ganti pakaian.
      Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya — Baiklah. Biarlah aku kembali bersama Rara Wulan. Tetapi ingat, jangan diulangi. Kali ini nyawa angger Wirastama dapat diselamatkan oleh satu keajaiban. Tetapi apakah hal seperti itu akan terjadi lagi jika kalian masih juga mencobanya. —
      Teja Prabawa mengangguk. Sementara Wirastama yang keadaannya menjadi semakin baik mencoba untuk bangkit dibantu oleh beberapa orang.
      — Aku sudah dapat berdiri sendiri — berkata Wirastama sambil mengibaskan tangan orang-orang yang membantunya berdiri.
      Orang-orang itupun kemudian melepaskannya. Ternyata seperti yang dikatakannya, maka Wirastama itupun memang telah mampu berdiri tegak.
      — Nah, berbenah dirilah — berkata Ki Lurah.
      — Aku tidak apa-apa Ki Lurah. — berkata Wirasama memang satu permainan yang berbahaya. Tetapi aku berhasil mengatasinya.
      Ki Lurah mengangguk-angguk. Namun katanya Meskipun demikian keadaanmu menjadi sangat buruk. Kau hampir menjadi pingsan. Jika keadaan itu tidak teratasi, maka kau sudah terhisap ke lubang didasar belumbang. —
      — Tetapi aku berhasil Ki Lurah — berkata Wirastama.
      — Jika sekali lagi terjadi, mungkin keadaannya akan berbeda — sahut Ki Lurah.
      Wirastama termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab.
      Kepada Teja Prabawa Ki Lurah itu berkata — Aku bawa adikmu pulang.
      Teja Prabawa termangu-mangu. Namun Wirastama itupun berkata — Ki Lurah, kami berangkat bersama-sama. Biarlah kami pulang bersama-sama. —
      — Dalam keadaan yang wajar, tidak apa-apa. Tetapi anak itu nampaknya telah terpengaruh oleh keadaan, sehingga ia menjadi sangat terkejut. Biarlah aku membawanya kembali mendahului kalian yang masih akan berjemur untuk mengeringkan pakaian kalian. Tanpa Rara Wu-lan, kalian akan dapat lebih bebas untuk berbuat apa saja yang pantas dilakukan oleh seorang laki-laki. — berkata Ki Lurah.
      Wirastama tidak dapat menahan Rara Wulan untuk tinggal. Sebenarnya ia menjadi tidak senang melihat Rara Wulan kembali bersama kakeknya dan Glagah Putih.
      Tetapi Glagah Putih memang tidak minta diri. Baik Raden Teja Prabawa maupun Wirastama sama sekali tidak menghiraukannya. Seakan-akan keduanya berpalingpun tidak kepada anak muda itu.
      Sejenak kemudian, maka Ki Lurahpun telah meninggalkan belumbang itu bersama dengan Rara Wulan. Sementara itu Glagah Putih berjalan di belakangnya.
      Wirastama dan Teja Prabawa memandanginya dari ke jauhan. Dengan geram Wirastama berkata — Sekali-sekali penjilat itu perlu mendapat pelajaran. —
      — Ya — desis Teja Prabawa — anak itu memang sombong meskipun sangat dungu. Tetapi nampaknya Ki Gede terlalu percaya kepadanya. Dengan demikian maka kakek-pun ikut mengagumi anak itu. —
      — Pada saatnya ia akan menjadi jera — geram Wiras-
      tama.
      Teja Prabawa mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya — Kita harus menjemur di panasnya matahari. —
      Keduanyapun kemudian melangkah ketempat yang disinari oleh matahari. Sementara itu Wirastama masih juga sempat berkata kepada orang-orang yang menolongnya meskipun hanya sepatah — Terima kasih. —
      Sambil berbaring diatas sebuah batu yang besar di panasnya matahari yang masih belum menyengat, Wirastama berkata — Ternyata sendang ini sangat menarik. Aku ingin mencoba lagi apakah pusaran itu memang berbahaya.
      — Jangan — berkata Teja Prabawa — jika kau tidak yakin, maka hal itu akan sangat berbahaya bagimu. —
      Wirastama tersenyum. Katanya — Tentu tidak sekarang. Kekuatanku belum pulih seluruhnya. Aku memang harus beristirahat dan berusaha memulihkan kekuatanku kembali. Tetapi pada kesempatan yang lain, barangkali aku dapat mencobanya lagi. —
      — Kau jangan berbuat untung-untungan — berkata Teja Prabawa.
      — Kau tidak yakin akan kemampuanku? — bertanya Wirastama.
      — Aku percaya — Jawab Teja Prabawa — tetapi aku ngeri melihatnya. —
      Wirastama tertawa. Katanya tanpa beranjak dari tempatnya — Aku, yang mengalaminya tidak merasa ngeri sama sekali. —
      — Aku tidak mempunyai ketahanan jiwani sebagaimana kau. — sahut Teja Prabawa.
      Wirastama justru tertawa semakin keras.
      Dalam pada itu, maka orang-orang yang mandi dan mencuci disendang itu telah pergi seorang demi seorang,
      sehingga akhirnya tepi sendang itu menjadi sepi. Orang-orang yang pulang ke padukuhan masing-masing telah sempat berceritera, tentang apa yang telah terjadi. Seorang anak muda yang hanyut kedalam arus putaran ditempat yang memang sudah diberi bertanda itu. Namun tiba-tiba saja gelombang yang menghentak telah melemparkannya jauh ketepi, sehingga anak muda itu jatuh keluar jangkauan pusaran yang menjadi semakin sempit, tetapi semakin cepat dan kuat menghisap air kedalam lubang dibawah dasar sendang itu.
      — Luar biasa — desis beberapa orang.
      — Mungkin anak muda itu termasuk orang yang sakti — berkata salah seorang diantara mereka.
      — Mungkin saja atau oleh sebab-sebab lain yang tidak dapat kita jangkau dengan penalaran kita yang bodoh ini — berkata seorang yang usianya sudah separo baya. Katanya selanjutnya — Satu peristiwa yang bukan saja seumurku, tetapi orang-orang tua di padukuhan ini tentu belum pernah melihat dan mengalaminya. Sungguh satu keajaiban. —
      Peristiwa yang terjadi di sendang itupun kemudian telah tersebar dari mulut kemulut. Bukan saja satu dua padukuhan, tetapi telah menjalar hampir keseluruh Tanah Per-dikan. Bahkan ke padukuhan-padukuhan di luar Tanah Per-dikan. Begitu cepatnya. Justru karena seorang diantara orang-orang yang menyaksikan itu telah pergi ke sebuah pasar kecil yang menjadi ramai setiap sepekan sekali. Disa-nalah ceritera itu mula-mula tersebar. Orang-orang yang sudah waktunya pulang itupun telah membawa berita itu ke rumah masing-masing. Ketetangga masing-masing dan semakin lama menjalar semakin jauh.
      Wirastama dan Teja Prabawapun telah meninggalkan sendang itu pula. Pakaian mereka telah menjadi kering sehingga merekapun kemudian telah mengenakan kain panjang mereka, baju dan kelengkapan pakaian yang lain.
      Meskipun mereka telah berjalan semakin jauh, namun
      sekali-sekali Teja Prabawa masih juga berpaling. Rambutnya masih meremang jika ia mengingat apa yang baru saja terjadi disendang itu.
      — Kita tidak langsung kembali — berkata Wirastama.
      — Kemana? — bertanya Teja Prabawa.
      — Setelah mandi dan berenang, aku menjadi lapar. Apakah kau tidak merasa lapar? — bertanya Wirastama.
      Teja Prabawa termangu-mangu. Namun kemudian katanya — Baiklah. Terserah kepadamu. —
      — Kita akan kembali ke pasar. Tetapi aku kira, kedai yang paling baik hanya terdapat di padukuhan induk. Karena itu, kita akan pergi ke padukuhan induk. — berkata
      Diluar sadarnya Teja Prabawa menengadahkan wajahnya memandangi matahari yang semakin tinggi. Wirastama agaknya mengetahui apa yang dipikirkan oleh Teja Prabawa. Karena itu, maka iapun berkata — Kedai-kedai didekat pasar di padukuhan induk itu kebanyakan dibuka sampai lewat tengah hari. Bahkan ada yang sampai senja, karena lalu lintas dagangan, terutama hasil bumi berlangsung sampai malam. Beberapa buah kedai justru mempunyai ruangan-ruangan yang agak besar yang dipergunakan oleh para pedagang yang kemalaman sebagai penginapan. —
      Teja Prabawa mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi tentang kedai itu. Ia mengikuti saja Wirastama yang ternyata telah berjalan semakin cepat.
      Dalam pada itu, Ki Lurah Branjangan yang mendahului kembali ke padukuhan induk bersama Rara Wulan dan Glagah Putih telah menjadi semakin dekat. Mereka berjalan perlahan-lahan sambil memandangi hijaunya tanaman di sawah.
      Ternyata Ki Lurah Branjangan banyak bertanya ten-
      Wirastama.
      tang berbagai hal kepada Glagah Putih. Bahkan pertanyaan Ki Lurah bukan saja menyangkut pengetahuan orang-orang Tanah Perdikan dalam bercocok tanam, berternak dan pekerjaan-pekerjaan lainnya, tetapi Ki Lurah telah bertanya tentang berbagai pengalaman yang pernah dihayati oleh Glagah Putih.
      Tanpa berprasangka apapun juga, Glagah Putih telah menjawab pertanyaan-pertanyaan Ki Lurah Branjangan. Bahkan diluar sadarnya, Glagah Putih telah sekali-sekali menyebutkan, bahwa ia memang pernah menghadap Panembahan Senapati.
      — Kau pernah pergi ke Kotaraja — tiba-tiba saja Rara Wulan bertanya.
      Glagah Putih tergagap sejenak. Namun iapun kemudian menjawab — Tidak secara khusus pergi ke Kotaraja. Ketika aku datang ke Tanah Perdikan ini dari padukuhan asalku, maka dalam perjalanan itulah, aku sempat lewat Kotaraja.
      Hara Wulan mengangguk-angguk. Namun Ki Lurah Branjangan yang telah mendengar beberapa hal tentang Glagah Putih dari Agung Sedayu maupun Ki Gede itupun bertanya — He, ikat pinggangmu sangat menarik. Dimana kau membeli? Nampaknya kulit yang dipakai sebagai bahan adalah kulit pilihan? Kulit lembu, kulit buaya atau kulit ular? —
      Glagah Putih memang menjadi kesulitan untuk menjawab. Tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berdiam diri saja. Karena itu, maka jawabnya kemudian — Entahlah. Kakang Agung Sedayu yang memberiku ikut pinggang ini.
      Ki Lurah tertawa. Ditepuknya bahu Glagah Putih sambil berkata — Ternyata pengaruh sikap kakak sepupumu itu tampak jelas padamu. —
      Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia meraba ikat pinggangnya yang diterima dari Ki Man-
      daraka.
      Sementara itu Rara Wulan bertanya kepada kakeknya
      — Siapa yang telah menghadap Panembahan Senapati kek? Bukankah tadi disebut-sebut tentang pesan Panembahan Senapati? —
      Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dipandanginya Glagah Putih sekilas. Namun dengan cepat Glagah Putih menyahut — Tentu Ki Lurah yang telah menghadap Panembahan Senapati. —
      — Tetapi apakah benar kakek yang tadi disebut-sebut?
      — bertanya Rara Wulan yang tidak begitu jelas mendengar pembicaraan kakeknya dengan Glagah Putih justru karena ia sedang memperhatikan batang batang padi yang hampir berbunga.
      — Ya Rara — jawab Glagah Putih — memang Ki Lurah yang tadi kami sebut-sebut. —
      Rara Wulan memandang kakeknya yang hanya ter-senyum-senyum saja. Bahkan Ki Lurah itupun kemudian berkata — Sudahlah. Marilah kita melihat keramaian pasar meskipun sudah agak siang. —
      — Aku tadi sudah singgah dipasar — berkata Rara Wulan.
      — O — Ki Lurah mengangguk-angguk — tetapi baiklah. Apa salahnya kita melihat pasar lagi. —
      Rara Wulan tidak membantah. Ketiganyapun kemudian telah pergi ke pasar di padukuhan induk. Meskipun orangnya sudah mulai berkurang, namun pasar itu masih cukup ramai. Ternyata perhatian Ki Lurah terutama tertuju pada beberapa orang pande besi yang berada di pinggir pasar itu.
      — Agaknya mereka mendapat banyak pekerjaan hari ini — berkata Ki Lurah.
      — Apakah Ki Lurah memerlukan sesuatu? — bertanya
      Glagah Putih.
      Ki Lurah tersenyum sambil menggeleng. Katanya — Tidak. Tetapi aku selalu tertarik pada pande besi. Aku senang melihat bagaimana mereka membuat alat-alat pertanian. Mereka bekerja keras dan penuh kesungguhan. —
      Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun mengikut saja Ki Lurah dan Rara Wulan yang melihat-lihat pada pande besi yang sedang bekerja didepan perapian yang panas, sehingga keringat mereka membasahi seluruh tubuh bagaikan mereka baru saja mandi.
      Namn agaknya Rara Wulan tidak begitu telaten sebagaimana kakeknya. Meskipun nampaknya Ki Lurah masih asyik memperhatikan salah seorang diantara para pande besi itu, Rara Wulan menggamitnya sambil berkata — Marilah kek.
      Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam. Katanya — Kau tahu, orang itu sedang membuat apa? — Rara Wulan menggeleng.
      Karena itu lihatlah, apa yang akan dibuatnya — berkata Ki Lurah.
      Rara Wulan mengerutkan keningnya. Tetapi ia mulai jemu. Karena itu maka katanya — Kakek akan menunggu sampai orang itu selesai? —
      — Tidak. Aku hanya akan menunggu sampai kita melihat bentuk dari benda yang dibuatnya itu — jawab Ki Lurah.
      Rara Wulan tidak menjawab. Tetapi wajahnya mulai menjadi gelap.
      Ketika Ki Lurah dan Glagah Putih sedang memperhatikan benda yang sedang dibuat oleh pande besi itu, tiba-tiba saja Rara Wulan menjerit kecil sambil meloncat. Sementara itu, beberapa orang anak muda tertawa berbareng sambil memandanginya.
      — Kau tentu bukan anak Tanah Perdikan ini — berkata salah seorang diantara anak muda itu. Nampaknya ia anak seorang yang kecukupan menilik pada pakaiannya. — kau datang dari Kademangan mana anak manis?
      Wajah Rara Wulan menjadi merah. Sementara itu Glagah Putih telah berdiri dihadapan anak muda itu. Iapun telah bertanya pula — Nampaknya kau juga bukan anak linah Perdikan ini anak anak muda. Apakah kau datang dari Kademangan sebelah, atau datang dari mana saja? Se-lama ini rasa-rasanya aku belum pernah melihat kalian. —
      Anak-anak muda itu memandang Glagah Putih sejenak. Namun merekapun kemudian tertawa berkepanjangan.
      Tetapi suara tertawa mereka berhenti. Seorang anak muda tiba-tiba telah berdiri di sebelah Glagah Putih. Anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang sudah mengenal Glagah Putih dengan baik.
      – Glagah Putih — katanya — anak-anak ini tentu sekelompok anak muda yang menjadi tamu keluarga orang-orang kaya diluar Tanah Perdikan ini. Agaknya pasar di Tanah Perdikan ini telah menarik perhatian mereka. Tetapi mereka tentu belum mengenalmu. Karena itu, ada baiknya kau memperkenalkan dirimu dengan mereka. —
      Glagah Putih termangu-mangu. Diluar sadarnya ia berpaling kepada Rara Wulan. Sementara Ki Lurah telah berdiri dekat disisi cucunya.
      Anak muda Tanah Perdikan itu yakin, bahwa anak-anak muda itu tidak akan mampu berbuat sesuatu terhadap Glagah Putih. Bahkan jika Glagah Putih menghendaki, maka mereka akan mengalami nasib yang sangat buruk.
      Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja dua orang anak muda telah menyibak mereka. Dengan garang Wirastama bertanya — Apa yang terjadi? —
      Diluar sadarnya, Rara Wulan menjawab — Anak-anak
      itu mengganggu aku. —
      Wirastama menggeram. Selangkah demi selangkah didekatinya anak anak muda itu sambil berkata — Siapa yang telah melakukannya? —
      Adalah diluar dugaannya, bahwa beberapa orang anak muda itu hampir berbarengan menjawab — Aku yang melakukannya. —
      Wajah Wirastama menjadi merah. Ternyata anak-anak muda itu sama sekali tidak merasa segan melihat pakaian Wirastama. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian seorang perwira dari Pasukan Khusus. —
      — Bagus — geram Wirastama kemudian — ternyata kalian adalah anak-anak muda yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ternyata anak gadis yang kau ganggu itu tidak mau menerima begitu saja perlakuan kalian. —
      — Lalu, gadis itu mau apa? — bertanya salah seorang diantara anak-anak muda itu.
      Wajah Wirastama memang menjadi panas. Dengan suara yang bergetar ia berkata — Aku adalah keluarganya. Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat tidak sewajarnya itu. —
      Anak-anak muda itu berpandangan sekilas. Kemudian tiba-tiba saja mereka tertawa. Katanya — Kau marah? Sayang kau memakai pakaian seorang prajurit. Jika aku tidak mau melawanmu, karena kau adalah seorang prajurit. Aku tidak mau bertengkar dengan seorang prajurit. —
      Wirastama benar-benar marah mendengar jawaban itu. Tiba-tiba saja ia berkata — Baik. Kita akan berhadapan sebagai anak-anak muda. Kau telah mengganggu seorang gadis yang kebetulan adalah keluargaku. Kita akan keluar dari pasar ini dan aku akan menanggalkan pakaian keprajuritanku. —
      — Bagus — anak muda itu tertawa pula.
      Demikianlah, maka Wirastamapun kemudian berkata kepada Ki Lurah — Serahkan persoalan mereka kepadaku. –
      Wirastama yang diikuti oleh Teja Prabawapun kemudian telah keluar daripasar itu. Glagah Putih, Ki Lurah dan Rara Wulanpun mengikuti mereka pula. Sementara itu beberapa orang anak muda telah beramai-ramai berjalan beriringan di belakang mereka. Seorang diantara mereka sempat berteriak — Gadis itu akan menjadi taruhan. —
      — Setan — geram Wirastama.
      Ternyata Wirastama telah pergi ke sebuah tempat yang agak lapang di belakang sederet kedai. Beberapa orang yang melihat menjadi berdebar-debar. Mereka mengerti, bahwa tentu terjadi sesuatu dengan anak muda itu.
      Sejenak kemudian, mereka memang telah berkumpul di tempat yang lapang itu. Wirastama dengan geram telah membuka bajunya yang diberi pertanda keprajuritan.
      — Mari, siapa yang merasa bertanggung jawab atas perlakuan yang tidak sewajarnya itu. — bertanya Wirastama.
      Tetapi sekali lagi terdengar beberapa orang anak itu menjawab bersama-sama — Aku. —
      Wirastama termangu-mangu sejenak. Ia mengerti maksud anak-anak muda itu. Agaknya mereka akan berkelahi bersama-sama.
      Wirastama masih sempat menghitung anak-anak muda itu. Dengan lantang ia berkata — Bagus. Agaknya kalian berlima ingin bertanggung jawab bersama-sama, he? Pada langkah pertama kalian telah dapat aku baca, bahwa kalian adalah pengecut. —
      Tetapi kelima anak muda itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata — Alangkah nikmatnya mendapat julukan itu. Aku sudah lama ingin mendapat pengakuan tentang
      sebutan yang aku inginkan sejak bertahun-tahun itu.
      Kemarahan Wirastama benar-benar tidak tertahankan lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil mengayunkan tangannya.
      Wirastama adalah seorang perwira dari Pasukan Khusus. Karena itu, ia memiliki kemampuan yang tinggi dalam olah kanuragan. Ditambah dengan ketekunannya berlatih dan menyadap ilmu dari kakaknya yang menyebut dirinya Ki Nagageni.
      Karena itu, maka ayunan tangan Wirastama benar-benar telah mengejutkan anak muda itu. Bahkan demikian kerasnya sehingga anak muda telah terdorong beberapa langkah, kemudian terhuyung-huyung. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling. Namun ternyata bahwa ia masih mampu untuk dapat tetap tegak berdiri betapapun perasaan sakit menyengat pipinya. Bahkan ternyata bahwa mulutnya telah berdarah karena sebuah giginya telah patah.
      — Setan — geram anak muda itu — kau benar-benar ingin mati. —
      Anak muda yang bernama Wirastama itu tidak menghiraukannya. Sebagai seorang prajurit, maka ia tidak menunggu. Dengan mempergunakan segenap kekuatannya Wirastama telah mempergunakan kesempatan yang ada. Baginya lebih baik menyerang lebih dahulu daripada ia harus bertahan. Apalagi lawannya ternyata jauh lebih banyak
      Karena itu, selagi kawan-kawan anak muda itu masih termangu-mangu, Wirastama telah meloncat sekali lagi. Kakinya berputar menyambar seorang diantara lawan-lawannya. Namun demikian kakinya berjejak ditanah, maka tangannya yang telah menyambar dada anak muda yang lain.
      Kedua orang anak muda itu terdorong surut beberapa langkah. Tetapi Wirastama tidak terhenti. Dengan sigap-
      nya ia telah menyerang kedua anak muda yang lain sebelum mereka sadar sepenuhnya, apa yang telah terjadi atas mereka.
      Anak-anak muda itu memang mengumpat-umpat. Tetapi Wirastama sudah berhasil menyakiti mereka semuanya. Bahkan tanpa menunggu lagi iapun telah berloncatan menyambar-nyambar. Kakinya melenting melontarkan tubuhnya yang seakan-akan tidak berbobot itu. Dengan cepat ia telah berhasil mengenai lagi tubuh lawan-lawannya.
      Kelima orang anak muda itu tiba-tiba telah terbangun dari keterkejutan mereka. Dengan sigapnya mereka telah bersiap menghadapi Wirastama. Namun mereka telah terlanjur kesakitan. Seorang diantara mereka nafasnya bagaikan telah menyumbat dadanya. Seorang lagi yang dikenai pundaknya, tangannya seakan-akan menjadi lumpuh. Yang terbesar diantara mereka, bertubuh tinggi tegap, perutnya menjadi sangat mual. Seakan-akan usus-ususnya telah menjadi kusut.
      Dengan demikian, betapa kemarahan menghentak-hentak dada anak-anak muda itu, namun mereka tidak mampu lagi bertempur dengan kemampuan mereka sepenuhnya. Apalagi Wirastama yang memiliki bukan saja ilmu, tetapi kecerdasan menguasai medan, sebagaimana seorang perwira dari Pasukan Khusus.
      Sejenak kemudian, maka pertempuran diantara mereka menjadi semakin sengit. Namun Wirastama yang tangkas itu nampak semakin garang. Lawan-lawannya tidak banyak mendapat kesempatan menyerangnya, meskipun mereka berlima. Bahkan setiap kali, kaki dan tangan Wirastama yang telah mengenai mereka seorang demi seorang.
      Dengan demikian, maka kelima orang anak muda itu mulai menjadi cemas. Mereka tidak menyangka bahwa prajurit muda itu memiliki ilmu yang tinggi dan kemampuan mengambil sikap yang cepat dan tepat.
      Dalam pada itu Wirastama yang marah itupun telah bertempur dengan segenap kekuatan yang ada. Sentuhan tangan dan kakinya memang mampu melemparkan lawan-lawannya. Seorang diantara mereka telah terpelanting jatuh. Ketika ia berusaha bangkit maka tiba-tiba kawannya yang lain telah jatuh menimpanya, sehingga kedua-duanya telah berguling-guling beberapa kali.
      Untuk beberapa lama Wirastama masih saja bertempur dengan segenap kekuatan dan kemampuannya. Didorong oleh kemarahan yang membakar jantungnya, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia telah berhasil mengalahkan kelima orang lawannya. Kelima orang anak muda itu telah tidak berdaya lagi, ketika kemudian Wirastama berdiri diantara mereka sambil bertolak pinggang.
      — Nah, jika kalian ingin tertawa, tertawalah — geram Wirastama.
      Anak-anak muda itu tidak dapat tertawa lagi. Tetapi yang terdengar adalah keluhan kesakitan.
      — Ayo, cepat bangkit. Jika kalian memang laki-laki yang bertanggung jawab, yang telah berani mengganggu seorang gadis, maka kalian tidak akan takut mempertaruhkan nyawa kalian. Ayo, siapa diantara kalian seorang laki-laki. Aku telah menanggalkan pertanda keprajuritanku. Tidak seorangpun akan menyalahkan kalian, karena kalian melawan seorang perwira dari Pasukan Khusus. — geram Wirastama.
      Kelima orang itu masih saja mengeluh. Tidak seorangpun yang bangkit, apalagi bersiap untuk melawan.
      Karena kelima anak muda itu tidak melawannya, maka Wirastama telah menarik baju anak yang paling besar diantara mereka sambil membentak — Ayo, bangun. Jawab pertanyaanku. —
      Anak muda itu menjadi semakin ketakutan. Sebelah matanya telah membiru sementara perutnya yang mual
      menjadi semakin mual. Mulutnya berdarah dan nafasnya menjadi tersendat-sendat.
      — Siapakah kalian sebenarnya he? — bertanya Wirastama. Anak muda itu termangu-mangu. Karena itu, Wirastama telah mengguncang bajunya sambil berteriak — Siapakah kalian sebenarnya? —
      — Aku, eh, kami berlima adalah saudara seperguruan — jawab anak muda itu.
      — Seperguruan? Kepada siapa kalian berguru he? Kalian sama sekali tidak menunjukkan kemampuan olah kanu-ragan sama sekali. Jika kalian berguru, seperti apa kira-kira rupa gurumu itu? — bentak Wirastama pula.
      Kelima orang itu memang merasa tersinggung atas penghinaan terhadap gurunya itu. Tetapi mereka tidak berani berbuat apa-apa.
      — Siapa gurumu he? Dan sudah berapa lama kalian berguru? — bertanya Wirastama.
      Anak muda itu menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi Wirastama telah mengguncangnya lagi dengan kasar sambil membentak — Cepat, jawab.
      Karena anak itu tidak segera menjawab, maka Wirastama tiba-tiba telah memilin tangannya sambil mendesaknya — cepat jawab, atau tanganmu akan patah. —
      — Jangan, jangan — anak muda itu merintih.
      — Katakan siapa gurumu — geram Wirastama.
      Anak muda itu masih ragu-ragu. Tetapi karena Wirastama memilin tangannya semakin keras, maka anak muda itupun menjawab dengan kata-kata yang terbata-bata
      Guruku adalah Kiai Sangkan dan Kiai Paran.
      Wirastama termangu-mangu. Ia belum pernah mendengar nama itu. Namun seorang pengawal yang menunggui perkelahian itu mendekati Glagah Putih sambil berkata — Memang, dipesisir Selatan, di sebuah Kademangan ada
      seorang yang mengaku sakti dan membuka sebuah perguruan. Belum lama, baru beberapa bulan. Tetapi kedua orang itu hanya menerima murid dari antara orang-orang yang kaya raya dan memungut bayaran yang tinggi. —
      Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian — Yang aku dengar agaknya namanya bukan Kiai Sangkan dan Kiai Paran. —
      — Siapapun namanya. Tetapi perguruan itu memang ada. Tetapi letaknya memang agak jauh dari Tanah Perdikan ini. — jawab pengawal itu.
      Glagah Putih termangu-mangu. Sebenarnyalah bahwa ia memang kurang tahu nama orang-orang yang mendirikan perguruan itu. Tetapi menurut pendengarannya nama-nama itu adalah nama-nama yang menyeramkan.
      Tiba-tiba saja pengawal Tanah Perdikan itu berbisik — Ya. Aku ingat. Mereka mempergunakan nama yang tidak sewajarnya. Seorang bernama Brajasaketi dan seorang bernama Brajasayuta. —
      Glagah Putih termangu-mangu. Namun iapun kemudian mendekati anak muda yang masih dipilin tangannya oleh Wirastama. Dengan nada rendah ia bertanya — Apakah hubungannya Kiai Sangkan dan Kiai Paran dengan orang yang menyebut dirinya Brajasaketi dan Brajasayuta? —
      Wajah anak muda itu menjadi sangat tegang. Namun kemudian jawabnya — Nama itu adalah nama guruku. Kiai Sangkan adalah Kiai Brajasaketi sedangkan Kiai Paran juga menyebut dirinya Kiai Brajasayuta. —
      Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya — Jadi kalian murid-murid dari perguruan itu. Jika demikian maka kalian tentu anak orang-orang kaya, karena hanya orang-orang kaya yang dapat membayar banyak sajalah yang diterima menjadi murid perguruan itu. —
      Anak-anak muda itu tidak menjawab. Tetapi Glagah
      Putih berkata pula — Bahkan kalian adalah anak orang-orang kaya yang menganggap bahwa uang adalah segala-galanya dapat terbaca pula pada sikap kalian.
      Anak-anak muda itu tidak menjawab. Sementara itu Wirastamapun berkata lantang — Katakan, apakah kalian merasa jera atau tidak? —
      — Baik-baik. Kami tidak akan melakukannya lagi jawab anak yang terbesar itu. Yang bertubuh tinggi tegap.
      — Semua diantara mereka harus mengatakannya — geram Wirastama. —
      Karena yang lain tidak segera mengucapkannya, maka Wirastama telah menguatkan pilinannya sambil membentak — Cepat ucapkan bersama-sama atau tangan ini akan patah. Bahkan juga tangan-tangan kalian yang lain. —
      Anak-anak muda itu menjadi ketakutan. Hampir berbareng mereka berkata — Baiklah. Kami menjadi jera. —
      Namun nampaknya Wirastama masih menginginkan mereka berteriak — Katakan sekali lagi. Lebih keras. —
      Tetapi yang terdengar adalah suara yang lain, yang seakan akan menggetarkan jantung — Cukup. Aku kira sudah cukup. —
      Semua orang berpaling kearah suara itu. Wajah-wajah-pun menjadi tegang ketika mereka melihat dua orang yang sudah setengah baya melangkah mendekati Wirastama.
      — Aku setuju kau menghukum keduanya. Tetapi hukuman itu sudah cukup. Jangan memaksa lagi, agar kami tidak usah ikut campur — berkata salah seorang diantara mereka.
      — Guru — tiba-tiba kelima orang itu hampir berbareng berdesis.
      Wirastama memandang kedua orang itu dengan wajah yang tegang. Namun hampir diluar sadarnya ia sudah melepaskan tangan anak muda yang dipilinnya itu.
      — Anak muda — berkata orang yang baru datang itu selanjutnya Aku kira hukuman yang kau berikan sudah cukup berat bagi kesalahan yang mereka lakukan. Aku tahu, apa yang telah dilakukan oleh murid-muridku. Memang satu kesalahan yang tidak pantas dilakukan oleh anak-anak muda sejaman dengan aku. Tetapi sebenarnya bagi anak-anak muda sekarang, tentu tidak begitu bersalah. — Tetapi bukan maksudku mengatakan bahwa mereka tidak bersalah. — orang itu berhenti sejenak, lalu katanya — Akupun harus menganggukkan kepala untuk menghormati sikap jantanmu, karena kau telah menanggalkan pakaian keprajuritanmu dan berhadapan dengan murid-murid sebagaimana seorang anak muda. —
      Wirastama memandang kedua orang itu berganti-ganti. Lalu katanya kemudian kepada keduanya — Kalian harus lebih banyak mengajari murid-muridmu untuk bertindak lebih sopan dan mengenal unggah-ungguh. —
      Kedua orang itu tertawa. Seorang diantara mereka berkata. Kau tidak usah mengajari aku. Bagiku sudah cukup jika murid-muridku merasa bersalah, dan apalagi sudah berjanji untuk tidak mengulanginya. —

      ***

      lanjut kitab 235

  22. :))

  23. Mas-mbak pengelola webste ADBM, kapan ADBM jilid 234 dan seterusnya ada di website ini, saya sdh lama nunggu mau lanjutkan baca cergam itu.
    Matur nuwun…

    salam,
    Wasisto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: