Buku III-23

223-00

.

Telah Terbit on 30 April 2009 at 16:08  Comments (136)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-23/trackback/

RSS feed for comments on this post.

136 KomentarTinggalkan komentar

  1. tapi ki, anak2ku sing nyobo2 moco kok njur melu2 ketagihan

    • sing sabar ya ki
      ra usah oyok2…
      sg enom kudu ngalah

    • Bagus tuh….

      Kecuali istri saya, anak-2 saya juga kecanduan.

      Saking kecanduannya, saat ke belakang hampir selalu sambil membaca ADBM, tak peduli jilid berapa yang ditemukan.

      Contoh paling baru, pada jilid 221 kemarin (yang diberi ilustrasi lontarpun berdarah). Itu karena kitabnya kecemplung bak mandi. Kalau Ki Probo perhatikan, banyak kitab-kitab saya yang gak keruan karena tertinggal di kamar mandi, jatuh dilantai dan.atau kesiram air. Saya dan anak-anak saya juga bergantian membacanya. Dari dulu, sampai sekarang, tidak tahu kok tidak pernah ada bosannya.

      • Sebelum ditinggal di kamar mandi, dikirim ke tlatah kulo, Ki Arema. Jilid 223 hampir tamat bin tuntas. Kalau bisa 1/2 losin juga bisa habis dalam dua hari.

        Kulo tenggo nggih, Ki? Mangke kulo titipi bothok tempe kangge nJenengan se keluargo.

        🙂

        • Ki lebih nikmat membacanya di Padepokan ADBM “Two Million” klik (bonusnya bayar listrik nambah).

          Jaman bahela nunggunya setiap bulan, itu kalau tidak terlambat wedarnya.

          Menunggu dan menunggu, sakaw itu ada seninya ya Ki.

      • KI Arema….,

        kalo nggak punya skener gimana caranya ki ? apa di paket kan saja y..?

        • Monggo, Nyi Seno yang menjawab.

          komen dari saya
          Salah satu repotnya itu Ki. Punya buku, tidak punya scanner. Punya buku, punya scanner tetapi tidak punya waktu. Punya buku, punya scanner, punya waktu, tetapi malas.

          Ki Suluh teplok tinggal dimana? barangkali ada cantrik di sekitar Ki Suluh teplok yang punya scanner, bisa membantunya.

          Sebenarnya, saya juga punya jilid-jilid yang itu Ki. Masalahnya, dengan kecepatan scanning saya saat ini yang hanya 2 buku per minggu (dulu bisa 4-5 buku/minggu, saat ini pekerjaan utama semakin padat), maka saya perkirakan awal Juli (mulai jilid 280)akan mulai kedodoran kalau tidak ada yang membantu scanning sampai jilid 300. Jilid >300 sudah ada yang menanganinya.

      • wah hebat ki keluarga njenengan, tak contone, ben anak2ku yo semono ugo bapak ibune iso entuk pitutur sing becik seko adbm iki

      • mungkin sekarang mah PDA atau laptop yang bisa kecebur di bak mandi ya…
        tapi mungkin juga majalah lain??…ikut2an basah….

  2. gandok sebelah isih digaweke kunci
    kuncine durung ono g cocok ngih nyi

    • Hehehe … ada 4 cantrik yang sudah antri di depan pintu gandok 224.
      Pingin rebutan mlebu dhisik-dhisikan.
      :mrgreen:

  3. Nuwun ki..

  4. PADEPOKAN INI MEMANG LLUAR BIASA.

    Apresiasi yang tinggi patut diberikan pada para cantrik yang terus setia mengunjungi padepokan ini, wiwit mula buka sampai sekarang bahkan semakin bertambah dengan banyaknya cantrik baru yang bergabung.

    Sehingga tanpa terasa sudah lebih dari 2 juta klik. rasanya itulah sebabnya ki GD dan Nyi Seno membanjiri dengan banyak kitab. Sebuah penghargaan kepada para cantrik yang tetap setia meramaikan padepokan ini.

    Sebaliknya para cantrikpun harus memberikan penghargaan kepada bebahu padepokan seluruhnya yang sudah TAPA NGRAME demi kita semua

    Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan diberi kesehatan selalu

  5. Sambil nunggu pintu gandok 224 di buka…., iseng2 lah…, moga2 ada manfaatnya..

    Ada dua pilihan dalam hidup:

    Melajang dan hidup amburadul, atau Menikah dan
    akhirnya ingin bunuh diri

    Pernikahan bagaikan rame-rame ke restoran: anda pesan makanan kesukaan anda,

    tetapi ketika pesanan datang dan anda melihat makanan pesanan teman anda,anda justru ingin makan yang itu.

    Pada suatu pesta perkawinan, seorang nyonya bertanya kepada nyonya yang lain: “Kok kamu pakai cincin kawinmu di jari yang salah?”.

    Jawabnya: “Biarin aja, aku juga kawin dengan laki-laki yang salah, kok!”

    Seorang wanita memasang iklan: “Dibutuhkan seorang suami”.

    Keesokan harinya ia menerima ratusan surat . Isinya semua sama: “Ambil saja suami saya”.

    Kalau suamimu diambil wanita lain, tidak ada cara lain yang lebih sadis untuk membalas dendam: biarkan dia memilikinya.

    80% pria yang menikah, berselingkuh di Jakarta .
    Yang 20% berselingkuh di Puncak.

    Laki-laki belum lengkap jika ia belum menikah. Setelah itu .. Habislah riwayatnya.

    Anak laki-laki: “Ayah, katanya di desa laki-laki tidak mengenal isterinya sebelum malam perkawinan?”.

    Ayah: “Itu sih di mana-mana, bukan hanya di desa”

    Seorang isteri berkata pada kawannya: “Sayalah yang membuat suami saya milyuner”.

    Kawannya beranya: “Memangnya sebelumnya dia apa?”

    Jawab: “Trilyuner”.

    Perkawinan adalah keunggulan khayalan atas akal sehat. Perkawinan kedua adalah keunggulan harapan atas pengalaman.

    Kalau anda ingin pasangan anda mendengarkan dan memperhatikan setiap kata-kata anda, berbicaralah ketika tidur.

    Setelah betengkar tentang masalah anggaran rumah tangga, suami berkata:

    “Makanya, kalau kamu bisa masak, kan kita bisa PHK tukang masak kita”.

    Isteri: “Oh, ya? Coba kalau kamu pandai main seks, kita bisa PHK supir dan tukang kebun kita!”

    Hasil survey: ketika sedang ML, kebanyakan suami berkhayal bahwa isterinya tidak sedang berkhayal.

    Definisi perkawinan menurut para suami: Suatu cara yang paling mahal untuk mendapatkan cucian gratis.

    Suami I :”Isteriku benar-benar seorang bidadari”.

    Suami II: “Kamu beruntung, isteriku masih hidup!”

    Mengapa wanita telah kawin lebih berat daripada wanita single ?

    -Wanita single pulang rumah, menengok apa yang ada di lemari es dan pergi ke tempat tidur.

    -Wanita telah kawin pulang rumah, menengok apa yang ada di tempat tidur dan pergi ke lemari es.

    Seorang anak laki membuka celananya dan dengan bangga bertanya kepada seorang anak perempuan : “Apakah kamu punya ini ?”

    Anak perempuan itu membuka roknya dan menjawab:” Ibu saya bilang, Kalau kamu punya ini, kamu bisa mendapatkan banyak yang seperti itu.”

    “Jangan sombong !” Protes si anak laki, “tanpa yang seperti ini, punya Kamu itu tidak mungkin bisa mendapatkan yang seperti ini.”

    10 HUKUM PERNIKAHAN BAHAGIA

    1. Jangan marah pada waktu yang sama.
    2. Jangan berteriak pada waktu yang sama, kecuali
    rumah kebakaran.
    3. Kalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang.
    4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih.
    5. Lupakanlah kesalahan masa lalu.
    6. Boleh lupakan yang lain, tetapi jangan pasangan
    Anda.
    7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam.
    8. Seringlah memberikan pujian kepada pasangan Anda.
    9. Bersedia mengakui kesalahan.
    10.Dalam pertengkaran, yang paling banyak bicara
    dialah yang salah

    Semoga bermanfaat..

    • nmakasih ki suluh.. apresiasi khusus juga untuk iklan-iklan teh celup dengan “mari bicara” nya.

    • dengan demikian, sebenarnyalah para cantrik sekarang makin kreatif memuat bahan bacaan.
      beruntunglah saya, karena istri2 tetangga seperti bidadari.. hehehehe.

    • Pernikahan itu menyenangkan lho kalau sama-sama bertujuan untuk “ibadah”, bukan karena “nafsu” semata.

      Suami/istri itu dalam bahasa Jawa disebut “GARWO” yang dapat diartikan sebagai “siGARaning nyoWO” atau “belahan jiwa”.
      Jika yang satu gembira, maka pasangannya juga akan ikut merasakan kegembiraannya itu.
      Jika yang satu sedih, maka pasangannya juga akan ikut merasakan kesedihannya itu.

      Pria dan Wanita dikodratkan punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan pernikahan maka masing-masing akan saling menutup kekurangan-kekurangan yang ada dengan kelebihan-kelebihannya (saling melengkapi).

      Daripada terlalu sering menilai kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh suami/istri kita, lebih baik syukurilah kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Perbaiki diri sendiri terlebih dahulu sebelum menuntut suami/istri kita memperbaiki dirinya.

      Bagi yang belum menikah, jangan takut untuk menikah ya?
      Bagi yang sudah menikah, semoga berbahagia.

  6. dok…dok…dok…kulonuwun (ndeprok maneh neng ngarep gandok 224)

  7. hari ini ada bonus lagi gak budhe ?
    kan hari buruh.. (mekso)

    • hari ini dah gajian, masih minta bonus juga… buat mbakso lagi….

  8. Leyeh2 karo moco kitab sing wingi
    sopo ngerti kitabe teko

  9. maksih ki seno dan ki gd
    kirain 6 kitab, ternyata 7 kitab, ada bonus yaaa ??
    makasih nyi seno
    sudah 24 kitab yang tersimpan rapi belum dipelajari, sedang agak malas
    oh yaa, selamat atas 2 juta klik-nya
    Jika 1 cantrik per kitab rata-rata klik 5 kali
    maka rata-rata cantrik telah klik +/- 200x 5 = 1000 klik

    berarti jumlah cantrik +/- 2000 cantrik
    Cukup banyak….yaaaa

  10. Woro-woro, gandok sebelah wis dibukak

  11. punteeeeeeeeeeeeeeeeen
    tulungaaaaaaaaaaaaaaan
    di sembunyikan di manaaaaa
    kitab 323 nya mohon tulung

  12. cobi dipun pirsani pituturipun ki anggara jam 17.29

  13. Kesimpulane Siklus hidup laki-laki meliputi beberapa tahap :
    0: Hayalan Hidup, baru menghayal sudah Hidup
    I : Pandangan hidup, baru memandang sudah Hidup
    II : Pegangan hidup, kalau dipegang baru bisa Hidup
    III: Perjuangan hidup, setelah berjuang baru mau Hidup
    IV: Mensyukuri hidup, dengan memanfaatkan sebaik-baiknya tatkala Hidup
    V: Susah hidup, susah hidup walaupun ada setitik harapan untuk Hidup
    VI: Perjuangan hidup, sudah berjuang keras gak bisa hidup2
    VII: wafat – tidak hidup, tancep kayon, MOU => malah ora urip….
    VIII: Kenangan Hidup, bahwa kita pernah hidup karena pandangan, pegangan & perjuangan dan sekarang sudah tinggal kenangan …..

    • Wah aku baru sampai tahapan ke2, berarti masih ada 6 tahapan lagi….he….he….he…..masih lama dong…..

  14. DEMIKIANLAH, maka serangan yang satu telah disusul dengan serangan berikutnya. Bahkan kadang-kadang datang beruntun dengan cepatnya. Glagah Putih berloncatan menghindari setiap serangan. Namun pada satu saat ia memang tidak dapat menghindar lagi. Serangan itu menyusul demikian cepatnya, sekejap setelah ia menghindari serangan sebelumnya. Karena itu, maka Glagah Putih harus menangkis serangan lawannya yang tubuhnya menjadi panas bagaikan bara. Terutama di telapak tangannya. Demikianlah, sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras. Lawan Glagah Putih itu bersorak di dalam hati, bahwa pada satu saat ternyata anak yang masih terlalu muda itu tanpa mengetahui bahayanya, telah menangkis serangan telapak tangannya. Serangan itu sendiri memang cukup kuat. Tetapi itu tidak penting bagi lawan Glagah Putih. Ia hanya memerlukan sentuhan. Apakah serangannya mengenai lawannya, atau lawannya itu menangkis serangannya atau bahkan justru lawannya itu yang menyerang dan mengenainya. Yang penting bagi lawan Glagah Putih itu, terjadi sen¬tuhan wadag yang akan berarti membakar kulit daging lawan pada sentuhan itu. Tetapi ketika benturan dengan Glagah Putih itu ter¬jadi, maka orang yang disebut Ki Lurah itu ternyata telah terkejut bukan kepalang. Ia sama sekali tidak melihat Glagah Putih itu terlempar sambil berteriak kepanasan. Tubuhnyapun sama sekali tidak terluka sebagaimana tersentuh bara. Bahkan ketika tangan Ki Lurah itu mengenai tubuh Glagah Putih, terasa udara dingin mengalir menusuk kedalam urat darahnya lewat sentuhan itu. Orang yang menjadi pemimpin dari keempat orang itu meloncat mundur. Dengan dahi yang berkerut ia memperhatikan Glagah Putih yang masih tegak dan justru telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. “Anak iblis.“ geram orang itu, “kau tidak terbakar panas apiku?“ Glagah Putih berdiri tegak. Sambil tersenyum ia berkata, “Sebagaimana kau lihat Ki Sanak. Aku tidak merasa apa-apa.“ Orang itu mengumpat kasar. Yang terasa justru arus dingin merambat didalam dirinya, seakan-akan justru menghisap kekuatan panasnya. Orang itu menggeram sambil menghentakkan ilmunya. Baru kemudian perlahan-lahan ia mampu melawan udara dingin yang menyusup kedalam tubuhnya itu, sehingga sejenak kemudian, urat-uratnya telah menggetarkan ilmunya kembali keseluruh tubuhnya. Namun dengan demikian orang itu sempat mengurai peristiwa yang baru saja terjadi. Ketajaman pengamatannya telah memperingatkannya, bahwa lawannya yang masih sangat muda itu mampu mengungkapkan kekuatan inti air yang dapat membuat udara bagaikan membeku kedinginan. Orang itu memang menjadi heran. Lawannya itu masih sangat muda. Tetapi ternyata ia telah memiliki ilmu yang sangat dahsyat, yang jarang dimiliki oleh orang lain, bahkan mereka yang telah berpuluh-puluh tahun berguru. Tetapi orang itu tidak boleh mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Anak yang masih sangat muda itu benar-benar telah memiliki ilmu yang sangat tinggi. Bagaimanapun juga ia adalah seorang yang telah mengemban tugas yang dipikulnya diatas pundaknya. Ia ada¬lah pemimpin dari sekelompok kecil orang-orang yang bertugas di Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, maka apapun yang dihadapinya, maka ia harus sanggup mengatasinya. Demikianlah, maka ketika ia merasa telah berhasil mengatasi udara dingin di dalam tubuhnya yang hampir membekukan darahnya yang semula bagaikan mendidih itu, iapun bersiap pula. Ia sadar, bahwa panas didalam diri¬nya telah bertemu dengan lawan yang mempunyai tingkat setidak-tidaknya sama tinggi, bahkan mungkin selapis diatasnya. Karena itu, maka ia harus berhati-hati. Sejenak kemudian, keduanya telah berhadap-hadapan lagi. Ketika sekilas pemimpin dari sekelompok kecil petugas yang datang dari Bang Wetan itu sempat melihat kedua orang kawannya yang bertempur melawan Agung Sedayu dan Sabungsari, hatinya memang menjadi semakin kecut. Tiba-tiba saja ia berteriak kepada kawannya yang agak gemuk itu, “He, apa yang kau lakukan disitu he? Kenapa kau tidak ikut melibatkan diri? Atau aku harus mencekikmu sampai mati?“ Orang bertubuh agak gemuk itu terkejut. Dengan serta merta iapun telah bersiap. Tetapi ia tidak segera tahu apa yang akan dilakukannya. Sebenarnyalah, bahwa kedua orang yang harus ber¬tempur melawan Agung Sedayu dan Sabungsari itupun tidak banyak mendapat kesempatan. Bahkan semakin lama mereka menjadi semakin terdesak betapapun mereka me¬ngerahkan kekuatan dan kemampuan mereka. Baik Agung Sedayu maupun Sabungsari tidak terlalu banyak mengalami kesulitan untuk mendesak kedua orang lawan mereka itu. Ketika Sabungsari melihat Agung Sedayu agaknya tidak tergesa-gesa menyelesaikan lawannya, maka Sabungsaripun telah memperpanjang pertempuran. Ia mengerti, bahwa Agung Sedayu membiarkan lawannya dengan sendirinya karena kehabisan tenaga. Berbeda dengan Glagah Putih yang harus bertempur dengan orang terbaik dari keempat orang itu. Demikianlah, maka pemimpin dari orang-orang yang datang dari Timur itu dengan jantung berdebaran telah menghadapi lawannya yang memiliki ilmu yang tinggi itu. Kebekuan dan mungkin kemampuan lain yang belum terungkapkan. Sebenarnyalah Glagah Putih memang memiliki kemam¬puan yang sangat dahsyat. Ia tidak saja mampu mengungkapkan inti kekuatan air dalam kebekuan. Tetapi bergabung dengan kekuatan api, maka Glagah akan dapat menyemburkan udara yang mengandung uap yang panasnya melampaui air yang mendidih. Anak muda itu dapat menggabungkan kemampuannya menyadap kekuatan air dan api sekaligus bahkan dengan kekuatan-kekuatan yang dapat disadapnya dari alam disekelilingnya. Tetapi Glagah Putih tidak ingin dengan sombong membinasakan lawannya. Ia masih berusaha untuk mengatasi lawannya dengan bagian-bagian dari kemampuannya. Bahkan ketika ia berhasil mendesak lawannya kedinding batu padas ia berkata, “Menyerahlah. Kita akan dapat berbicara.“ Tetapi lawannya benar-benar sudah kehilangan nalar. Ia tidak lagi mau mendengar kata-kata Glagah Putih. Kecuali harga dirinya yang telah terinjak-injak oleh anak yang masih sangat. muda itu, maka orang itupun tidak mau diri¬nya akan menjadi tawanan yang dibawa ke Mataram untuk diperas keterangannya. Apalagi jika benar di Mataram memang terdapat Ki Lurah Singaluwih. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain dari orang itu selain bertempur sampai batas kemungkinan yang terakhir. Bahkan ia tidak lagi menghiraukan kawan-kawannya yang terdesak, dan tidak pula melihat seorang diantara kawan¬nya yang agak gemuk itu masih saja berdiri termangu-mangu. Sebenarnyalah orang yang agak gemuk itu tidak me¬ngerti apa yang sedang disaksikannya. Ia merasa dengan mudah mampu menguasai anak muda itu dan membawanya kepada pemimpinnya karena ia segan membunuh anak yang masih sangat muda itu. Namun tiba-tiba anak muda itu menjadi demikian perkasa, sehingga pemimpinnya sama se¬kali tidak berhasil mengalahkannya. Bahkan semakin lama orang yang dikaguminya itu menjadi semakin terdesak. Dalam saat-saat terakhir itu, maka orang yang disebut Ki Lurah itupun telah mengerahkan segenap kemampuan¬nya. Tanpa menghiraukan keadaan dirinya dan kemung¬kinan yang ada pada lawannya, maka ia telah menyerang Glagah Putih sejadi-jadinya. Ketika kemudian benturan terjadi, orang itu masih merasakan arus udara yang beku bagaikan merambat di¬dalam dirinya. Namun ia masih juga berhasil menghentakkannya dengan panas api didalam dirinya. Demikianlah, maka pertempuran diantara keduanya menjadi semakin seru. Glagah Putih ternyata tidak mendapat kesempatan untuk bersikap agak lunak. Orang itu bagaikan telah kehilangan penalarannya, sehingga yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang keras. Pada saat-saat yang demikian, memang sulit bagi Glagah Putih untuk menguasai tataran ilmunya. Karena itu, maka adalah diluar kemampuannya untuk mempergunakannya pada tataran yang tepat, sementara ia sendiri sedang berusaha untuk menilai kemampuannya. Karena itulah, maka pada benturan-benturan yang semakin sering terjadi, maka tiba-tiba saja keadaan lawannya menjadi semakin parah. Ketika lawannya itu berusaha untuk mengerahkan sisa-sisa kemampuannya untuk menyerang, maka tiba-tiba orang itupun telah kehilangan kekuatannya. Rasa-rasanya darahnya telah membeku sampai kejantung. Sejenak orang itu terhuyung-huyung. Ia masih ber¬usaha untuk mengatasinya dengan kekuatan panas didalam dirinya. Namun ternyata ilmu anak muda itu lebih kuat daripada ilmunya, sehingga sejenak kemudian, orang itu tidak lagi mampu bertahan untuk tegak. Glagah Putih tertegun ketika melihat orang itu kemu¬dian terjatuh. Bahkan untuk seterusnya tidak bergerak lagi. Orang yang agak gemuk yang semula melawan Glagah Putih itupun kemudian berlari-larian mendekati pemimpinnya yang terkapar di tanah. Ketika ia meraba tubuh itu, maka tubuh itu telah benar-benar membeku. Tidak ada lagi tarikan nafasnya dan sebenarnyalah orang itu telah meninggal. Orang bertubuh gemuk itu berpaling kearah Glagah Putih yang berdiri tegak. Dengan nada rendah Glagah Putih berkata, “Aku sudah berusaha memperingatkannya.“ Orang yang bertubuh agak gemuk itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau telah mengetahui aku. Kenapa kau tidak membunuhku saja?“ “Aku masih melihat kemungkinan yang lain padamu. Karena itu aku memang tidak berniat membunuhmu, seba¬gaimana kau merasa segan membunuhku, meskipun kau memang seorang yang mempunyai pengalaman yang luas dalam permusuhan seperti ini.“ Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Glagah Putih sendiri kemudian termangu-mangu. Ia telah bertempur melawan seorang yang berilmu tinggi. Ter¬nyata bahwa ia berhasil mengalahkannya. Baru kemudian Glagah Putih sempat menilai dirinya sendiri. Ternyata Glagah Putihpun telah mengerahkan kekuatannya pula untuk mengatasi panasnya api pada setiap sentuhan. Bukan saja lawannya yang harus menghentakkan ilmunya untuk mendesak udara beku yang seakan-akan merambat didalam urat darahnya. Namun Glagah Putihpun harus mengerahkan kemampuan ilmunya untuk menguasai perasaan panas pada setiap sentuhan. Karena itu, ketika lawannya sudah tidak berdaya lagi, maka baru terasa, bahwa tubuhnya memang merasa letih. Namun Glagah Putih sendiri masih juga merasa heran, bahwa keletihan itu sama sekali belum terasa mengganggu. Meskipun ia mengakui bahwa lawannyapun memiliki ilmu yang tinggi, namun ia telah berhasil mengalahkannya dengan tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Namun Glagah Putih selalu ingat pesan yang pernah diterimanya dari beberapa orang yang pernah membimbingnya. Ia tidak boleh menjadi sombong dan kehilangan keseimbangan. Karena itu, maka ia memang tidak menganggap bahwa lawannya yang berilmu tinggi itu sudah sampai pada satu tataran yang mantap. Mungkin lawannya yang sudah mendapat kepercayaan untuk datang ke Tanah Perdikan Menoreh dan mengamati keadaan pasukan khusus Mataram yang ada di Tanah Perdikan itu baru berada pada tataran pertama dari ilmunya yang tinggi itu. “Jika aku bertemu dengan orang yang memiliki tataran yang lebih tinggi, mungkin aku harus bekerja jauh lebih keras dari apa yang telah terjadi.“ berkata Glagah Putih didalam dirinya sendiri. Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Sabungsari me¬mang tidak tergesa-gesa. Mereka tidak segera berusaha untuk mengalahkan lawan-lawan mereka, meskipun mereka mampu. Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa Glagah Putih telah membunuh lawannya. Kedua orang itu menganggap perlu untuk menangkap lawannya hidup-hidup, meskipun seorang yang tubuhnya agak gemuk itu nampaknya sama sekali tidak ingin berusaha untuk melarikan diri. Tetapi semakin banyak orang yang dapat mereka tangkap hidup-hidup, maka mereka akan semakin banyak pula mendapat keterangan. Glagah Putih yang kemudian memperhatikan pertem¬puran itu melihat betapa lawan-lawan Agung Sedayu dan Sabungsari telah menjadi keletihan. Namun Sabungsari dan Agung Sedayu masih juga membiarkan mereka me¬lawan. Sekali-sekali Sabungsari memang menyentuh tubuh lawannya untuk memancing perlawanan jika lawannya tidak lagi bertempur dengan segenap kekuatan dan kemampuannya. Dengan demikian maka lawannya harus mengerahkan tenaganya lagi untuk melindungi dirinya. Dengan demikian maka baik Sabungsari maupun Agung Sedayu telah berhasil menguras tenaga lawan-lawan mereka. Semakin lama kedua orang pendatang itu semakin tidak berdaya. Bahkan pada saat-saat mereka menyerang namun tanpa mengenai sasaran, mereka justru telah terseret oleh tenaga mereka sendiri, sehingga mereka terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian, maka baik Agung Se¬dayu maupun Sabungsari tinggal menyentuh saja tubuh lawan mereka masing-masing sehingga mereka terdorong dan jatuh terjerambab. Sabungsari yang melihat lawannya tersuruk-suruk mencoba bangun, telah berdiri di sebelahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Bangunlah. Kita belum selesai.“ Orang itupun kemudian berhasil berdiri tegak. Tetapi ketika tangannya siap menarik senjatanya, Sabungsaripun berkata, “Sudah aku peringatkan. Jangan menarik senjatamu, karena senjatamu akan membahayakan jiwamu.“ Orang itu tidak menghiraukannya. Ia sudah bertekad untuk bertempur dengan senjata. Tetapi sekali lagi tangannya bagaikan disengat api. Sehingga dengan demikian, maka dengan serta merta ia telah melepaskan hulu pedangnya. “Kau dengar perintahku.“ berkata Sabungsari. Lawannya menggeram. Ia tidak tahu sama sekali apa yang telah dilakukan oleh Sabungsari. Orang itu tidak mengerti bahwa dengan kekuatan ilmunya yang diperlemah, Sabungsari telah menusuk tangan orang itu dengan sorot matanya. Berbeda dengan Agung Sedayu. Disaat lawannya menarik pedangnya, maka dengan serta merta Agung Se¬dayu telah menyerang pergelangan tangan lawannya dengan kakinya, sehingga senjatanya itu terlempar. Dengan demikian maka lawan Agung Sedayu itupun harus bertempur dengan tangannya dan kemampuan ilmu yang dimilikinya. Namun ternyata ilmu itu sama sekali tidak berarti dihadapkan kepada ilmu Agung Sedayu. Demikianlah, akhirnya kedua orang yang bertempur melawan Sabungsari dan Agung Sedayu itu telah benar-benar kehilangan tenaga. Nafas mereka terengah-engah dan bahkan mereka tidak lagi mampu menguasai keseimbangan mereka. Ketika lawan Agung Sedayu dalam keadaan yang rapuh berusaha memperbaiki keadaannya, justru Agung Sedayu telah menyentuh pundaknya sehingga orang itupun telah jatuh terduduk. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit, tetapi karena kemudian Agung Sedayu berdiri dihadapannya, maka iapun telah mengurungkan niatnya. “Sekarang kau boleh memilih.“ berkata Agung Sedayu, “menyerah atau membiarkan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh menyeretmu ke banjar dan beramaji-ramai memukulimu. Aku akan berceritera kepada mereka apa yang sudah kalian lakukan disini. Usaha kalian menculik adikku. Namun sayang bahwa seorang diantara kalian justru telah terbunuh.” Kedua orang yang memang sudah tidak berdaya itu tidak mempunyai pilihan lain. Merekapun sadar, bahwa tawaran itu sebenarnya sudah tidak berarti apa-apa lagi, karena orang-orang Tanah Perdikan itu dapat menentukan apapun yang ingin mereka lakukan atas diri kedua orang itu. “Jawablah.“ desak Agung Sedayu. “Ki Sanak.“ jawab lawan Agung Sedayu itu, “aku sudah tidak berdaya. Seorang kawanku, yang justru pemimpinku telah terbunuh. Karena itu, apapun yang akan kau lakukan atasku, lakukanlah.“ “Katakan bahwa kau menyerah atau tidak.“ bertanya Agung Sedayu pula. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku menyerah.“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Nah, kalian telah menyerah pula. Jika demikian, persoalan kita disini sudah selesai. Tetapi kita akan segera mulai dengan persoalan baru. Kalian adalah tawanan kami.“ Orang itu tidak menjawab. Apapun yang akan terjadi, harus diterimanya sebagai akibat dari tugas yang dibebankan kepadanya. Namun yang membuat orang-orang itu heran, bahwa mereka ternyata telah bertemu dengan orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi di Tanah Perdikan Menoreh. Seorang anak yang masih sangat muda itupun mampu mengalahkan dan bahkan membunuh pemimpin mereka. Orang yang dianggap memiliki ilmu yang sangat tinggi. Yang mampu menjadikan dirinya sepanas bara api. Lawan Sabungsaripun kemudian telah duduk pula di sebelah lawan Agung Sedayu. Bahkan orang yang bertubuh agak gemuk, yang semula merasa dirinya mampu menangkap Glagah Putih itupun telah duduk pula bersama mereka. Glagah Putih bersama Agung Sedayupun kemudian mengamati orang yang terbunuh, sementara Sabungsari menunggui ketiga orang yang telah menjadi tawanan itu. Dengan melihat pemimpin dari orang-orang yang datang ke Tanah Perdikan itu, maka Agung Sedayu dapat menilai betapa tingginya ilmu Glagah Putih. Sejak sebelumnya, ia memang telah mendapat warisan ilmu dari Ki Jayaraga, untuk menyadap inti kekuatan air, api, udara dan bumi. Namun ternyata dengan lambaran ilmu yang diteri¬manya langsung dari Raden Rangga, maka segala-galanya telah meningkat dengan cepat. Demikian pula kekuatan puncak ilmu yang diwarisinya dari Ki Sadewa. Kekuatan yang didalam diri Glagah Putih mampu dilontarkannya dari jarak tertentu dengan kekuatan yang justru lebih besar. Namun Agung Sedayu masih belum dapat mengukur tataran tertinggi dari ilmu Glagah Putih itu. Apakah ilmu Glagah Putih sudah mendekati kemampuan ilmunya sen¬diri. Meskipun demikian namun pengalaman seseorang akan ikut menemukan sikap yang akan diambilnya menghadapi keadaan tertentu yang terjadi, apalagi dengan tiba-tiba. Demikianlah, maka setelah dianggap cukup, maka Agung Sedayu telah memerintahkan ketiga orang itu untuk mengikutinya ke padukuhan induk. Sementara itu, pemim¬pin mereka yang terbunuh itu, telah dinaikkan ke punggung kuda untuk dibawa pula bersama dengan mereka. Ternyata bahwa disepanjang jalan, orang-orang itu, apalagi yang terbunuh diantara mereka, telah sangat me¬narik perhatian. Namun Agung Sedayu masih belum bersedia memberikan keterangan. “Kami akan menghadap Ki Gede.“ berkata Agun Sedayu, “pada saatnya kalian akan mengetahui apa yang telah terjadi.“ Orang-orang itu tidak dapat memaksanya. Namun bagaimanapun juga hal itu menjadi bahan pembicaraan di¬antara orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Agung Sedayu memang membawa ketiga orang itu ber¬sama pemimpinnya yang sudah terbunuh ke rumah Ki Gede. Dengan singkat Agung Sedayu telah melaporkan, apa yang telah terjadi dengan mereka. Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada ketiga orang itu, “Kalian telah membuat goncangan di Tanah Perdikan yang mulai terasa damai ini.“ Ketiga orang itu menundukkan kepalanya. Tidak seorangpun yang berani menatap wajah Ki Gede yang men¬jadi semakin berkeriput oleh umurnya, sebagaimana juga Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga. “Baiklah.“ berkata Ki Gede, “besok kita akan berbicara panjang. Mungkin sekarang kalian merasa letih. Beristirahatlah.“ Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun beberapa orang pengawalpun kemudian telah membawa mereka ke sebuah bilik yang kokoh. Bilik yang memang dipergunakan untuk menempatkan orang-orang yang perlu dipisahkan dari orang lain. Ketika ketiganya sudah berada didalam, maka pintu yang tebalpun kemudian telah diselarak dari luar. Ketiga orang itu termangu-mangu. Seakan-akan diluar sadar, mereka telah memeriksa dinding bilik itu. Namun ternyata bahwa setiap jengkal dari dinding bilik itu terbuat dari bahan yang kuat dan tebal. Ketika mereka memandang ke bagian atas dari dinding itu, terdapat sebuah lubang memanjang tepat dibawah belandar. Namun lubang itu terlalu sempit untuk sebuah kepala bayi sekalipun. Tetapi dari lubang itu udara yang segar telah masuk kedalam bilik. Sedangkan rusuk-rusuk atappun dibuat demikian rupa-nya, sehingga mereka tidak akan dapat meloloskan diri dengan membuka atap. Akhirnya ketiga orang itu terduduk disebuah amben bambu yang cukup besar bagi mereka bertiga. Namun untuk beberapa saat mereka hanya saling berdiam diri saja merenungi keadaan mereka. Sementara itu, orang yang agak gemuk itu tidak habis-habisnya merasa heran atas kemampuan anak muda yang telah membunuh pemimpin¬nya yang dianggapnya berilmu tinggi itu. Di pendapa rumah Ki Gede, Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putihpun kemudian telah minta diri. Besok me¬reka akan datang untuk ikut mendengarkan, keterangan dari orang-orang yang telah mereka tangkap itu. “Jika terjadi sesuatu, kami akan memanggil kalian.“ berkata Ki Gede. “Kami selalu siap Ki Gede.“ jawab Agung Sedayu. Sepeninggal Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih, maka Ki Gedepun telah mengatur penjagaan sebaik-baiknya. Bukan saja karena mereka adalah orang-orang ber¬ilmu, tetapi kemungkinan lain memang dapat terjadi. Sementara itu, telah diperintahkan pula untuk mengubur korban yang telah jatuh. Beberapa orang tidak saja bertugas diserambi bilik itu. Tetapi penjagaan di sekitar rumah Ki Gede itupun telah ditingkatkan pula. Ketika kemudian Agung Sedayu, Sabungsari dan Glagah Putih sampai kerumah, maka orang-orang yang ada dirumah itupun segera telah berkumpul. Agung Sedayu, Sa¬bungsari, Glagah Putih, Kiai Gringsing, Ki Jayaraga dan Sekar Mirah. Mereka telah membicarakan peristiwa yang telah terjadi di lereng pebukitan sehingga telah minta korban seorang diantara pendatang itu meninggal. Glagah Putih tertegun ketika melihat orang itu kemudian terjatuh, bahkan untuk seterusnya tidak bergerak lagi. “Ternyata Madiun sudah mulai.“ berkata Ki Jaya¬raga. “Diluar pengetahuan dan sudah barang tentu tanggung jawab Panembahan Madiun. Panembahan Madiun sendiri tentu tidak ingin berselisih dengan Panembahan Senapati, karena Panembahan Madiun tahu benar siapakah panembahan Senapati itu. Meskipun ia bukan putera sen¬diri, tetapi memang tidak ada bedanya antara Panembahan Senapati yang dimasa kecilnya bernama Sutawijaya dan kemudian bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar dengan Pangeran Benawa yang kemudian memerintah di Pajang.“ desis Kiai Gringsing. “Itulah bahayanya.“ berkata Ki Jayaraga, “apalagi agaknya Panembahan Madiun terlalu percaya kepada orang-orang yang ingin memancing kekeruhan, sehingga perselisihan antara Madiun dan Mataram akan mendatangkan keuntungan bagi mereka.“ Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sementara itu Agung Sedayu berkata, “Salah satu tugas keempat orang itu tentu untuk mengacaukan hubungan antara Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Jika daerah-daerah diluar Mataram menjadi renggang dan bahkan menentang Ma¬taram, maka Madiunpun telah mengambil cara sebagai¬mana diiakukan oleh Mataram. Sebelum menebang pokok batangnya, maka lebih dahulu ditebas cabang-cabang dan ranting-rantingnya.“ Kiai Gringsing dan Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Sementara itu Sekar Mirahpun berkata, “Jika demikian, agaknya persoalan bagi Tanah Perdikan Menoreh tidak hanya terhenti sampai sekian. Mungkin masih akan ada perkembangan lebih lanjut.“ “Kemungkinan itu memang ada. Apalagi jika orang-orang Madiun tidak tahu kemana hilangnya mereka.“ sahut Sabungsari, “Dengan demikian mereka tentu mengirim orang untuk menyelidikinya.“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Orang-orang itu akan menelusuri tugas yang diberikan kepada orang yang hilang itu. Agaknya merekapun akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, sementara orang-orang Tanah Perdikan akan dapat berceritera tentang orang-orang yang kita tangkap dan orang yang telah terbunuh itu.“ “Apaboleh buat.“ berkata Sekar Mirah, “bukan niat kita untuk memancing persoalan.“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya kepada Glagah Putih, “Glagah Putih, apakah kau memang dengan sengaja membunuhnya?“ “Tidak kakang.“ jawab Glagah Putih, “tetapi aku belum pasti benar dengan tataran ilmuku, sehingga ternyata orang itu telah membeku. Aku sudah menghindari ke¬mungkinan membunuhnya dengan tidak mempergunakan panasnya api sebagaimana merupakan bagian dari ilmu yang aku terima guru Ki Jayaraga. Maksudku agar aku tidak membunuhnya. Namun ternyata bahwa orang itu telah terbunuh pula.“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sudah menduga, bahwa kau tidak sengaja membu¬nuhnya. Tetapi orang itu akhirnya terbunuh juga.” Glagah Putih tidak menyahut. Ia hanya menundukkan kepalanya saja. “Baiklah.“ berkata Agung Sedayu, “meskipun kita tidak perlu mengatakan keadaan seutuhnya kepada para pengawal untuk menghindari keresahan di Tanah Perdikan ini, namun kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kita harus meningkatkan kesiagaan para pengawal, sehingga jika benar datang kemudian orang-orang yang mengamati keadaan, maka kita semuanya tidak akan terkejut. Bahkan mungkin kita akan mampu menangkapnya.“ “Hal ini harus didengar oleh Jati Anom.“ berkata Sa¬bungsari, “perintah Panembahan Senapati itu harus segera sampai.“ “Aku sependapat dengan angger Sabungsari.“ ber¬kata Kiai Gringsing, “bahkan aku telah mengingat pula Sangkal Putung. Meskipun Sangkal Putung tidak lebih dari sebuah Kademangan, tetapi kebesaran Kademangan itu telah diakui.“ “Kiai benar.“ sahut Sabungsari. “Sementara itu, kita mengenal watak dan sifat Swandaru yang agak tergesa-gesa.“ berkata Kiai Gringsing. Lalu, “Karena itu, maka agaknya tidak bijaksana jika kami terlalu lama berada di Tanah Perdikan ini.“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti benar niat Kiai Gringsing dan Sabungsari. Apalagi mereka memang mengemban pesan dari Panembahan Senapati setelah Ki Lurah Singaluwih tertangkap. Apalagi ada peristiwa seperti yang terjadi di Tanah Perdikan itu. Karena itulah, maka Kiai Gringsingpun kemudian ber¬kata, “Agaknya kami harus segera sampai ke Jati Anom dan Sangkal Putung.“ Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Ia memang se¬pendapat, bahwa pasukan Mataram di Jati Anom dan Sang¬kal Putung harus mengetahui peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Namun Agung Sedayupun ber¬kata, “Guru. Aku mohon guru tinggal sehari lagi untuk mendengar keterangan orang-orang yang telah kami tangkap itu. Mungkin keterangan mereka akan dapat melengkapi bahan yang akan dapat guru sampaikan kepada kakang Untara dan Swandaru.“ Kiai Gringsing berpaling kepada Sabungsari. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Bukankah kita ingin juga mendengar ngger?“ “Ya. Kiai.“ jawab Sabungsari, “besok siang kita dapat meninggalkan Menoreh. Jika tidak ada percobaan baru yang menyusul, kita memang tidak terlalu tergesa-gesa meskipun harus segera menyampaikan pesan Panem¬bahan Senapati kepada Ki Untara. Namun agaknya peristiwa yang terakhir itu membuat persoalannya menjadi bertambah gawat.“ Kiai Gringsing agaknya sependapat. Katanya, “Ya. Kita akan mohon diri setelah kita mendengarkan keterangan orang itu.“ “Malam ini aku akan pergi ke barak pasukan khusus itu.“ berkata Agung Sedayu, “mereka harus tahu apa yang telah terjadi. Dengan demikian mereka akan bersiap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi.“ “Baiklah.“ berkata Kiai Gringsing kemudian, “te¬tapi apakah mereka juga harus mengambil langkah-langkah di Tanah Perdikan ini?“ “Tidak guru.“ berkata Agung Sedayu, “mereka hanya akan mengambil sikap didalam barak mereka. Tanah Perdikan menoreh akan dijaga oleh para pengawalnya. Hanya dalam keadaan yang sangat khusus kami di Tanah Perdikan akan melibatkan para prajurit dari pasukan khusus itu.“ “Agaknya semuanya memang perlu berhati-hati. Mungkin dengan cara yang licik dan rumit, hasil yang akan dicapai oleh orang-orang itu akan dapat melampaui kekerasan. Karena itu, kesiagaan bukannya sekedar kesiagaan kewadagan, tetapi juga harus kesiagaan batin.“ berkata Kiai Gringsing kemudian. Demikianlah, ketika kemudian senja turun, Agung Se¬dayu dan Glagah Putih telah pergi ke barak pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan. Mereka menjelaskan apa yang telah terjadi, serta usaha untuk membenturkan kekuatan Mataram di Tanah Perdikan dengan kekuatan Tanah Perdikan sendiri. “Usaha itu baru mereka mulai. Kali ini mereka sempat kami gagalkan, tetapi kami tidak tahu, apakah ada usaha yang lain atau tidak.“ berkata Agung Sedayu. Para pemimpin di barak pasukan khusus itu menyatakan terimakasih mereka atas pemberitahuan itu. Sementara itu, Senapati yang telah menggantikan Ki Lurah Branjangan yang telah bertugas kembali di Mataram berjanji untuk berbuat sebaik-baiknya bersama-sama dengan kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. “Kita akan selalu berhubungan.“ berkata Senapati itu. Setelah mereka sempat berbicara tentang banyak hal, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah minta diri. Sebenarnyalah sejak malam itu, di Tanah Perdikan Menoreh memang telah terjadi beberapa peningkatan penjagaan. Terutama di rumah Ki Gede yang menyimpan tiga orang tawanan. Namun selain itu, maka para pengawal di padukuhan indukpun telah meningkatkan kewaspadaan me¬reka. Sementara itu, lewat penghubung yang tumimbal dari padukuhan ke padukuhan lain, para pengawal yang ber¬tugas meronda dimalam itu, agar lebih berhati-hati. Belum ada kejelasan tentang peristiwa yang terjadi disiang hari sebelumnya bagi para pengawal. Namun yang terjadi itu telah memberikan peringatan kepada mereka, agar mereka menjadi semakin berhati-hati. Namun disertai pesan dari Agung Sedayau, agar kesiagaan itu tidak menimbulkan keresahan orang-orang Tanah Perdikan yang mulai merasa hidup tenang itu. Malam itu, pembantu dirumah Agung Sedayu telah menemui Glagah Putih. Dengan nada tinggi ia berkata, “Apalagi alasanmu malam ini untuk tidak turun ke sungai he?” Glagah Putih tersenyum. Namun malam itu ia memang tidak ingin membiarkan anak itu pergi sendiri ke sungai. Ada beberapa kemungkinan dapat terjadi. Karena itu,maka Glagah Putihpun berkata, “Aku akan ikut turun kesungai. Tetapi janji, kita singgah di gardu.“ “Untuk apa?“ bertanya anak itu. “Bukankah aku juga mempunyai tugas ronda? Nah, malam ini aku harus ronda.“ berkata Glagah Putih. “Begini.“ anak itu menjelaskan rencananya, “kita pergi ke sungai. Kau tidak usah pulang. Kau langsung pergi ke gardu dan meronda. Besok pagi-pagi jika aku akan membuka pliridan, aku akan singgah di gardu. Kita bersama-sama turun ke sungai.“ Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan beristirahat dahulu.“ “Tidak usah. Jika kau pergi ke bilikmu, kau tentu akan tidur bersama tamu-tamu itu, karena kau tahu, aku tidak akan membangunkanmu justru karena aku tidak mau mengganggu tamu-tamumu.“ berkata anak itu. Glagah Putih tertawa. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan tidur. Tamu-tamu kita juga belum tidur. Mereka masih berada di serambi.“ Anak itu tidak menjawab. Namun iapun kemudian meninggalkan Glagah Putih untuk mempersiapkan alat-alat mereka yang akan dibawa turun kesungai. “Anak itu tidak menjadi jemu.“ berkata Glagah Putih sambil memandangi anak itu yang sejenak kemudian hilang dibalik pintu. Glagah Putih memang untuk beberapa saat masih berbincang dengan para tamu itu serta Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Namun pada saatnya Glagah Putih telah meninggalkan mereka dan menemui pembantu dirumah itu. “Kau sudah siap? “ bertanya Glagah Putih. “Aku kira kau membohongi aku lagi “ berkata anak itu. Glagah Putih tertawa. Katanya, “Marilah. Tetapi dari sungai aku akan terus pergi ke gardu.“ “Terserah saja kepadamu. Nanti menjelang pagi aku akan singgah di gardu itu.“ berkata anak itu. Demikianlah keduanya telah turun kesungai. Namun ternyata yang dicemaskan oleh Glagah Putih tidak terjadi. Bahkan mereka telah bertemu dengan Tanu yang sudah turun ke sungai pula. Malam itu Glagah Putih berada di gardu di padukuhan induk. Tetapi iapun masih belum memberikan keterangan tentang orang-orang yang tertangkap di Tanah Perdikan itu. Bahkan seorang diantara mereka telah terbunuh. Yang dapat dikatakan oleh Glagah Putih hanya sekedar peristiwanya. Tetapi Glagah Putih sama sekali tidak menyinggung tentang kekuasaan di Bang Wetan yang mulai bergejolak. “Mungkin Ki Gede sendiri akan memberikan kete¬rangan setelah orang-orang itu dimintai keterangan.“ ber-kata Glagah Putih. Anak-anak muda itu memang merasa kecewa. Tetapi merekapun tidak dapat memaksa Glagah Putih untuk berbicara lebih banyak. Yang kemudian mereka bicarakan adalah peningkatan kewaspadaan. Hal-hal yang tidak diharapkan akan mungkin dapat terjadi lagi di saat-saat berikutnya. Namun ketika malam menjadi semakin dalam, maka anak-anak muda itu mulai mengisi waktu mereka dengan berkelakar. Berteka-teki dan permainan-permainan yang dapat menahan kantuk. Hampir semalam suntuk Glagah Putih berada di gardu itu bersama-sama dengan anak-anak muda. Bahkan bukan saja yang kebetulan bertugas. Tetapi beberapa orang anak muda yang lain telah ikut pula berada di gardu. Mereka me¬rasa mendapat banyak kawan dari pada dirumah mereka yang sepi setelah keluarga yang lain tertidur nyenyak. Menjelang pagi, maka pembantu dirumah Agung Se¬dayu telah berada di gardu itu pula. Glagah Putih yang melihatnya segera minta diri kepada kawan-kawannya un¬tuk turun kesungai membuka pliridan. “Kau masih juga telaten?“ bertanya seorang anak muda yang gemuk. “Tentu.“ jawab Glagah Putih, “meskipun tidak setiap malam aku sempat turun. Tetapi anak itu hampir tidak pernah lowong.“ “Aku hanya betah setengah tahun.“ sahut anak muda yang gemuk itu. “Syukurlah “ jawab Glagah Putih. Anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa?“ “Semakin sedikit pliridan di sungai itu, saingankupun menjadi semakin berkurang pula.“ desis Glagah Putih. Anak muda yang gemuk itu tertawa. Seorang yang lainnyapun kemudian berkata pula, “Tanu yang masih tetap turun kesungai, selain kau.“ “Aku tadi ketika membuka pliridan juga bertemu de¬ngan Tanu.“ berkata Glagah Putih. “Nampaknya ia ingin bertahan juga sepertiaku. Siapakah yang lebih betah setiap malam turun ke sungai.“ Anak-anak muda itu tertawa, sementara Glagah Putihpun kemudian meninggalkan gardu itu. Tetapi di jalan anak muda pembantu rumah Agung Se¬dayu itu berkata, “Kau kira kau yang setiap malam turun kesungai dan dengan rajin memelihara pliridan itu? Akulah yang melakukannya. Kemarin siang aku telah membenahinya dan membuat tanggulnya semakin tinggi.“ Glagah Putih tertawa. Katanya, “Ya. Kaulah yang dengan rajin memelihara pliridan itu.“ Sementara itu udara dini hari memang sudah mulai terasa. Udara seakan-akan telah mulai bergerak, sementara di langit cahaya yang semburat merah mulai nampak. “Kita kesiangan.“ desis anak itu. “Bukan salahku. Aku berada di gardu semalam suntuk.“ jawab Glagah Putih. Anak itu memang tidak mengatakan tentang kelambat-an itu lagi. Namun merekapun melangkah semakin cepat. Ketika mereka kemudian pulang, maka langit ternyata masih belum terang. Glagah Putih masih sempat berbaring diserambi dan tertidur beberapa saat, sementara anak itu membawa kepisnya ke dapur dan menyimpannya dengan baik, agar tidak dicuri kucing. Hari ini ia telah mendapat ikan dan udang cukup banyak. Disaat cahaya matahari mulai membayang, maka seisi rumah itu telah terbangun. Glagah Putihpun telah terbangun pula ketika Agung Sedayu menyapanya, “Kenapa kau tidur disitu?“ Glagah Putih mengusap matanya. Katanya, “Semalam aku berada di gardu kakang. Ketika aku pulang, aku tidak mau mengejutkan kakang Sabungsari.“ Sabungsari yang telah terbangun menyahut pula, “Begitu nyenyaknya aku tidur, sehingga aku memang tidak mendengar Glagah Putih pulang.“ Glagah Putih hanya tersenyum saja. Namun kemudian iapun telah bangkit dan mengerjakan pekerjaannya sehari-hari. Menimba air untuk mengisi jambangan dan kemudian membersihkan kebun di belakang. Demikianlah, mereka akan pergi bersama-sama dengan Agung Sedayu menghadap Ki Gede untuk ikut mendengarkan keterangan orang-orang yang tertawan itu. Ki Gede yang memang sudah menunggu, telah memper¬siapkan mereka naik ke pendapa. Kemudian memerintahkan para pengawal untuk mengambil ketiga orang yang ter¬tawan. Glagah Putih nampaknya tidak membiarkan ketiga orang itu hanya diawasi oleh para pengawal saja karena ketiga orang itu memang memiliki beberapa kelebihan. Ka¬rena itu, maka Glagah Putih telah ikut dengan para penga¬wal mengambil ketiga orang tawanan itu. Sejenak kemudian, maka ketiga orang itupun telah berada di pendapa pula. Dengan kepala tunduk ketiganya duduk diantara para tamu Ki Gede. Sejenak kemudian, maka Ki Gedepun telah mengajukan beberapa pertanyaan. Mulai dari keterangan tentang diri mereka sendiri, jabatan mereka dan tugas mereka ke Tanah Perdikan Menoreh. Namun ternyata bahwa batas pengetahuan orang itu tentang diri mereka dalam hubungannya dengan Madiun terlampau sempit. Mereka hanya tahu, bahwa mereka telah dibawa oleh orang yang disebutnya Ki Lurah untuk melakukan tugas ke Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan Ki Lu¬rah itu sendiri ternyata telah terbunuh. Kiai Gringsing hanya dapat mengangguk-angguk saja. Ia tidak dapat memaksa orang-orang itu berbicara lebih banyak dari yang mereka ketahui. Namun dari yang sedikit itu, Kiai Gringsing mencoba untuk mengambil kesimpulan. “Jadi kau tidak tahu, siapakah yang memerintahkan Ki Lurah itu untuk pergi ke Tanah Perdikan?“ bertanya Ki Gede. “Benar Ki Gede.“ jawab yang tertua diantara ketiga orang itu. “Ki Lurah hanya mengatakan, bahwa ia mendapat kepercayaan dari seorang Tumenggung di Madiun untuk pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Untuk mengetahui kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini termasuk para prajurit dari pasukan khusus Mataram yang ada disini itu. Kemudian kami harus dapat menimbulkan persoalan diantara para bebahu di Tanah Perdikan ini sebagaimana yang kami coba melakukannya. Tetapi kami telah gagal.“ berkata orang itu. “Kau tidak tahu, Tumenggung itu Tumenggung siapa?“ desak Ki Gede. “Benar Ki Gede. Kami tidak tahu.“ jawab orang itu. “Dan kau telah mencoba melakukannya dengan sebaik-baiknya. Kau telah melihat barak pasukan khusus, dan kau telah mencoba membangkitkan persoalan itu disini.“ berkata Ki Gede. “Ya Ki Gede.“ jawab orang itu, “persoalan yang timbul di Tanah Perdikan ini, apalagi jika kami berhasil membuat Tanah Perdikan ini menentang Mataram, maka tugas kami berhasil dengan gemilang.“ “Tetapi kalian gagal di Tanah Perdikan ini.“ berkata Ki Gede. Namun dilanjutkannya, “Ki Sanak, Apakah tugas kalian hanya di Tanah Perdikan ini atau juga ketem¬pat tempat lain?“ Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Namun dengan ragu-ragu orang tertua itu berkata, “Kami hanya bertugas di tanah Perdikan ini.“ Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya aku mulai mempercayai kalian. Tetapi jawaban kalian yang terakhir membuat kami, membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Kalian tidak berhasil meyakinkan kami, bahwa kalian memang berkata dengan jujur.“ Wajah ketiga orang itu menjadi pucat. Sementara Ki Gede berkata, “Ada banyak cara untuk mempersilahkan kalian berbicara. Kamipun mempunyai sentuhan-sentuhan perasaan, apakah kalian berbicara dengan jujur atau tidak.” “Ampun Ki Gede.“ berkata orang tertua itu, “kami akan mengatakan apa yang kami ketahui.“ “Jika demikian, jawab pertanyaanku. Apakah kau hanya bertugas untuk mengacaukan Tanah Perdikan ini atau juga tempat lain?“ bertanya Ki Gede. Orang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi agaknya ia tidak akan dapat berbohong di hadapan orang-orang yang memiliki ketajaman panggraita itu. Karena itu, maka orang itupun menjawab, “Ki Gede, sebenarnyalah kami memang mendapat tugas untuk membangkitkan kegelisahan dan permusuhan di Tanah Perdikan Menoreh dan daerah-daerah yang dapat kami jangkau. Terutama daerah-derah di sekitar kota Mataram itu sendiri.” Ki Gede mengangguk-angguk. Dengan nada datar Ki Gede itu kemudian berkata, “Apakah kalian memang hanya berempat saja sejak kalian berangkat?“ Orang itu menjadi ragu-ragu lagi. Namun kemudian jawabnya, “Ki Gede. Kami memang tidak akan dapat ber¬bohong lagi. Daripada Ki Gede harus memaksa kami untuk berbicara, biarlah kami mengatakan sejauh dapat kami ketahui.“ “Katakan.“ desis Ki Gede. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ki Gede. Kami berenam saat kami berangkat. Dua orang di¬antara kami berada di Mataram. Kami akan bertemu dengan mereka di hari yang sudah ditentukan.“ “Kapan?“ desak Ki Gede, “Dan dimana?“ Orang itu termangu-mangu. “Aku tahu Ki Sanak.“ berkata Ki Gede, “jika kau mengatakannya, maka kau akan dapat disebut sebagai pengkhianat. Tetapi aku memerlukan jawaban itu. Jawaban yang benar. Bukan satu jebakan atau tipuan macam apapun juga.” Orang itu memang menjadi bingung. Sekilas dipandanginya kedua orang kawannya. Tetapi keduanyapun hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Untuk beberapa saat, pendapa itu memang menjadi hening. Ki Gede nampaknya memang memberikan kesem-patan kepada ketiga orang itu merenungi apa yang dapat terjadi atas diri mereka. Namun karena mereka tidak juga segera mengatakan sesuatu, maka Ki Gede itupun kemudian berkata, “Ki Sanak. Kami telah memperlakukan kalian sebagai tamu-tamu kami. Kami menerima kalian di pendapa, duduk dalam satu lingkaran dengan kami. Tetapi jika tempat ini tidak menyenangkan bagi kalian, maka kami berniat untuk berbicara dengan kalian tidak di pendapa ini, tetapi di dalam sanggar.“ “Jangan Ki Gede.“ desis orang tertua diantara mereka, “jangan perlakukan kami dengan keras. Kami sudah mengatakan apa yang kami ketahui.“ “Ada satu yang belum kau jawab. Dimana kalian akan bertemu dengan kedua orang kawan kalian itu dan kapan? Kalian memang dapat memilih, apakah kalian menyadari arti dari langkah-langkah yang akan kami ambil bagi ketenangan Mataram dalam keseluruhan, atau kalian berpegang pada satu ajaran, bahwa lebih baik mati dari pada berkhianat. Atau lebih jantan lagi, kalian akan menerima perlakuan apapun juga asal kalian tidak berkhianat.“ berkata Ki Gede. “Usaha itu baru mereka mulai. Kali ini mereka sempat kami gagalkan, tetapi kami tidak tahu, apakah ada usaha yang lain atau tidak “, berkata Agung Sedayu. “Sebenarnyalah memang demikian Ki Gede.“ jawab orang itu, “bukan sebaiknya kami berkhianat. Kita sama-sama mengerti, betapa rendahnya harga diri seorang pengkhianat.” “Tetapi Ki Sanak.“ jawab Ki Gede, “sebaiknya kalian tidak berkhianat. Tetapi berkhianat kepada siapa? Jika seorang Tumenggung memberikan perintah kepada ka¬lian tanpa persetujuan Panembahan Madiun, apakah kau dapat menilai itu suatu langkah yang wajib kalian peluk sampai akhir hayat kalian? Justru untuk berkhianat kepada pemimpin tertinggi di Mataram. Atau katakanlah, bahwa kalian berkhianat kepada kepemimpinan Panembahan Ma¬diun itu, apa kata kalian jika Panembahan Madiun justru mengutuk langkah-langkah yang dilakukan oleh Tumeng¬gung yang tidak kau ketahui namanya itu? Kau harus tahu Ki Sanak. Tumenggung itu akan dapat memanfaatkan kea¬daan yang buruk untuk kepentingannya sendiri. Bukan un¬tuk kepentingan Madiun dan bukan pula untuk kepentingan Tanah ini dalam keseluruhan. Dan kau tentu tahu juga, bahwa Panembahan Madiun bukan seorang yang sekasar Tumenggung yang memerintahkan kalian pergi ke Menoreh itu.“ Ketiga orang itu menjadi semakin tunduk. “Renungkan Ki Sanak.“ berkata Ki Gede, “apakah keuntungan kalian dengan pertentangan antara Madiun dan Mataram?“ “Kami hanya sekedar menerima perintah Ki Gede.“ berkata orang itu, “karena itu, kami tidak sempat menilai langkah-langkah yang harus kami lakukan.“ “Aku minta kalian mempertimbangkan pengertian pengkhianatan itu.“ berkata Ki Gede, “kalian bukan alat mati. Tetapi kalian adalah orang-orang yang mempunyai kurnia perasaan dan penalaran yang lengkap sebagaimana Ki Tumenggung itu. Karena itu, maka kalian berhak me¬nilai, langkah-langkah yang manakah yang pantas kalian ambil. Sekali lagi kalian harus bertanya kepada diri sendiri. Jika kalian harus berkhianat, maka renungkan tingkat pengkhianatanmu. Kepada Mataram, kepada Madiun atau sekedar kepada Ki Lurah yang menerima tugas dari Ki Tu¬menggung yang tidak kau kenal itu. Jika kau tersesat dan kemudian berusaha mencari jalan kembali, apakah itu juga dapat kau artikan sebagai satu pengkhianatan terhadap kesesatanmu?“ Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun agaknya mereka mencoba untuk mengerti arti dari kata-kata Ki Gede. “Kau memang mempunyai beberapa pilihan.“ ber¬kata Ki Gede, “tetapi kaupun harus menyadari, pilihan itu akan mempunyai akibat yang berbeda atas diri kalian.“ Orang tertua diantara ketiga orang itupun kemudian berkata dengan suara gemetar, “Ki Gede telah membuat aku menjadi bingung. Jika aku berusaha untuk tidak ber¬khianat kepada salah satu pihak, berarti aku telah ber¬khianat kepada pihak yang lain.“ “Jika kau merasa demikian, maka kau seharusnya me¬nilai tingkat pengkhianatanmu itu sebagaimana sudah aku katakan.“ kata Ki Gede. Orang yang tertua itu mengangguk-angguk. Tetapi suaranya masih saja gemetar, “Ki Gede. Aku tidak tahu, apakah langkah yang aku ambil sudah benar. Tetapi aku tidak dapat menolak permintaan Ki Gede untuk berterus terang tentang kedua orang kawanku yang masih berada di Mataram.“ “Ternyata kau cukup bijaksana.“ berkata Ki Gede, “tetapi kau dapat juga menilai pujianku sebagai satu desakan agar kau benar-benar mengatakan tentang kedua orang kawanmu itu.“ “Aku mengerti Ki Gede.“ jawab yang tertua diantara mereka. “Jika demikian, katakanlah “ desis Ki Gede. Ternyata orang itu tidak dapat ingkar lagi. Banyak persoalan yang telah menindih keberatan hati mereka. Disatu sisi pertanyaan Ki Gede tentang tingkat-tingkat pengkhianatannya itu, sedang dilain pihak ancaman Ki Gede untuk memeras keterangannya tidak dipendapa, tetapi di sanggar. Sehingga kemudian katanya didalam hati, “Agaknya Ki Gede benar. Jika aku kembali menuju kejalan yang benar dari kesesatan, maka aku tidak dapat disebut berkhianat kepada kesesatan itu sendiri.“ Dengan demikian maka orang yang tertua itupun telah menceritakan tentang kedua orang kawannya yang ada di Mataram. Sementara kedua orang kawannya yang lain, sama sekali tidak dapat menyalahkannya. Bahkan keduanya dapat mengerti, bahwa orang tertua diantara mereka itu tidak mempunyai pilihan lain daripada mengatakan yang sebenarnya dari tugas serta kawan-kawan mereka, termasuk dua orang yang masih di Mataram. Betapapun beratnya namun akhirnya orang itupun ber¬kata, “Dua orang prajurit dari Madiun itu masih ada di Mataram. Tetapi keduanya juga tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi di istana Panembahan Madiun. Mereka menerima perintah sebagaimana aku menerima perintah. Kedua orang itu juga berada dibawah perintah Ki Lurah yang terbunuh itu.“ “Apa tugas mereka di Mataram?“ bertanya Ki Gede. “Mereka harus menghubungi seseorang.“ jawab orang tertua diantara mereka itu. “Siapakah orang itu?“ bertanya Ki Gede. Orang itu menjadi ragu-ragu. Namun ia memang tidak ada pilihan lain. Karena itu, maka katanya, “Kedua orang itu harus berada dirumah Kiai Patra yang juga disebut Kiai Sasak.“ Ki Gede termangu-mangu. Namun kemudian iapun ber¬tanya, “Siapakah Kiai Patra itu? Maksudku kedudukannya di Mataram?“ “Aku tidak tahu Ki Gede.“ jawab orang itu, “aku hanya mendengar namanya disebut. Kemudian kami berjanji untuk menemui mereka dirumah itu pula pada akhir pekan ini.“ “Jadi kalian yang seharusnya berempat akan singgah ke rumah itu setelah kalian pergi ke Tanah Perdikan ini?“ “Ya.“ jawab orang itu, “baru kemudian kami akan pergi ke Madiun.“ “Apakah menurut tangkapanmu, Kiai Patra atau yang juga disebut Kiai Sasak itu memang petugas dari Ma-diun yang diletakkan di Mataram, atau memang orang Ma¬taram yang sudah dapat dipengaruhi oleh orang-orang Ma¬diun?“ bertanya Ki Gede pula. Orang itu menggeleng lemah. Katanya, “Ampun Ki Gede. Aku benar-benar tidak mengetahuinya.“ “Tetapi kau tentu tahu, dimana letak rumahnya.“ berkata Ki Gede kemudian. Orang itu menarik nafas dalam-dalam Kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Ya Ki Gede. Aku tahu.“ “Nah, kau harus memberikan ancar-ancar tentang rumah itu.“ berkata Ki Gede, “Pada saatnya kau akan kami bawa kerumah itu. Sekaligus kami akan membuktikan, apakah yang kau katakan itu benar atau sekedar omong kosong.“ Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mencoba untuk mengatakan yang sebenarnya. Tetapi jika terjadi perubahan aku tidak tahu. Apalagi jika kedua orang itu atau barangkali orang-orang Kiai Sasak mengetahui, bahwa kami telah tertangkap dan Ki Lurah justru terbunuh.“ Ki Gede mengangguk-angguk. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya kepada Kiai Gringsing dan orang-orang lain dipendapa itu. Namun agaknya masih disimpannya saja di¬dalam dadanya. Karena itu, maka sejenak kemudian, Ki Gede itupun berkata “ Baiklah. Pertanyaanku sudah cukup. Kalian boleh kembali ke bilik kalian. Mungkin nanti, mungkin besok, aku memerlukan kalian lagi. “ Ketiga orang itu tidak menjawab. Glagah Putihlah yang kemudian mengantarnya kembali ke bilik mereka. Para pengawal yang melihat mereka segera mendekatinya dan menerima ketiga orang itu untuk dimasukkan kedalam bilik yang memang diperuntukkan bagi mereka. Ketika Glagah Putih telah kembali ke pendapa, maka Ki Gedepun kemudian berkata, “Ada beberapa hal yang menarik.“ Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Bagiku, yang harus mendapat perhatian adalah kemungkinan orang-orang yang berada di Mataram itu mengetahui, bahwa ketiga orang itu sudah tertangkap bahkan pemimpin mereka telah terbunuh.“ “Ya.“ jawab Ki Gede, “jika mereka mendengar hal itu, maka kedua orang itu tentu akan segera meninggalkan rumah Kiai Sasak.“ “Kita harus bergerak cepat.“ berkata Agung Sedayu, “kita harus segera ke Mataram. Melaporkan hal ini dan kemudian mengawasi rumah Kiai Sasak.“ “Aku sependapat.“ berkata Ki Jayaraga, “kita tidak mempunyai pilihan lain. Seandainya kedua orang itu tidak jadi pergi ke rumah Kiai Sasak karena yang terjadi di Tanah Perdikan ini sudah mereka ketahui, maka Kiai Sasaklah yang harus menjadi sasaran kemudian.“ Ternyata orang-orang yang berada di rumah Ki Gede itu sepakat untuk segera menyampaikan persoalan itu kepada Panembahan Senapati serta mohon untuk diperkenankan mengambil langkah-langkah tertentu. Namun dalam pada itu Kiai Gringsing berkata, “Tetapi sayang sekali bahwa aku dan angger Sabungsari tidak akan dapat singgah. Jika terjadi kelambatan perintah Panembahan Senapati kepada Untara, karena aku singgah disini, kami akan terus ke Jati Anom menemui angger Un¬tara untuk menyampaikan perintah Panembahan Senapati, sebelum aku kembali ke padepokan.“ “Apakah Swandaru tidak sebaiknya mendengar juga tentang hal ini apa ia menjadi berhati-hati?“ bertanya Agung Sedayu. “Baiklah. Aku memang harus memberitahukannya.“ jawab Kiai Gringsing. Dengan demikian, maka telah diputuskan, bahwa Kiai Gringsing dan Sabungsari segera kembali langsung ke Jati Anom, sementara Agung Sedayu dan Glagah Putih akan pergi ke Mataram. “Tanah Perdikan ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja.“ berkata Ki Gede, “karena itu aku minta Ki Jaya-raga dan Sekar Mirah akan selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan.“ Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebenarnya menarik untuk ikut pergi ke Mataram.“ “Tetapi kita memerlukan Ki Jayaraga untuk ikut mengamankan Tanah ini jika terjadi sesuatu. Katakanlah, sekelompok orang mencari ketiga orang itu. Tentu seke¬lompok. orang yang mempunyai ilmu yang tinggi sehingga mendapat kepercayaan untuk menelusuri petugas-petugas yang terdahulu.“ Ki Jayaraga menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya seperti seorang kanak-kanak yang akan ditinggalkan ibunya pergi ke pasar. Keinginan untuk ikut memang men¬desak. Tetapi akhirnya Ki Jayaraga itu berkata, “Baiklah Ki Gede. Aku akan tinggal di Tanah Perdikan. Selain disini aku dapat membantu Ki Gede jika diperlukan, namun rasa-rasanya perjalanan ke Mataram itu tidak akan banyak me¬narik perhatian jika hanya dilakukan oleh dua orang saja.“ Ki Gede tersenyum. Kiai Gringsingpun tersenyum pula. Bahkan katanya, “Jangan merajuk begitu.“ Ki Jayaragapun tertawa. Katanya, “Aku sudah berputus asa untuk dapat ikut serta ke Mataram.“ Namun merekapun kemudian telah memutuskan bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih akan pergi ke Mataram, sementara Kiai Gringsing dan Sabungsari akan kembali ke Jati Anom hari itu juga, agar mereka tidak terlambat karenanya. Jika orang-orang sebagaimana mereka yang datang ke Tanah Perdikan itu berada di Sangkal Putung sebelum Swandaru mendapat penjelasan dari Kiai Gringsing, maka orang tua itu mencemaskan bahwa betapapun tipisnya, hal itu akan membekas dihati muridnya yang muda itu. Demikianlah, maka setelah semua rencana diterapkan, maka semuanyapun telah mempersiapkan diri. Agung Seda¬yu telah menemui ketiga orang itu sekali lagi untuk men¬dapat ancar-ancar rumah Kiai Sasak yang akan menjadi tempat pertemuan antara para petugas dari Madiun itu. “Kali ini kami masih belum membawa kalian atau salah seorang diantara kalian.“ berkata Agung Sedayu kepada ketiga orang itu, “tetapi lain kali, jika persiapan sudah matang, kalian tentu akan kami bawa ke Mataram.“ Ketiga orang itu tidak menjawab. Mereka tidak dapat menentukan apapun juga selain menerima perlakuan yang manapun juga bagi mereka. Setelah semua pembicaraan selesai di rumah Ki Gede itu, maka para tamu itupun telah minta diri. Merekapun akan segera melakukan tugas mereka masing-masing. Agung Sedayu dan Glagah Putih mungkin baru akan kem¬bali setelah lewat akhir pekan. “Hati-hatilah.“ berkata Ki Gede, “menurut pangraitaku, orang-orang yang tersangkut dalam tugas ini, apalagi orang yang bernama Kiai Sasak itu tentu orang yang berilmu tinggi.“ “Ya Ki Gede.“ Kiai Gringsinglah yang menyahut, “diantara mereka yang pernah datang ke Mataram dan yang kemudian telah disingkirkan oleh Mataram adalah orang-orang padepokan Nagaraga yang berilmu tinggi.“ “Karena itu, maka kalian harus benar-benar bersiap menghadapi mereka.“ berkata Ki Gede selanjutnya kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih. Demikianlah, maka sejenak kemudian, merekapun telah meninggalkan rumah Ki Gede kembali kerumah Agung Se¬dayu. Beberapa saat mereka masih mempersiapkan diri. Me¬reka membenahi bekal yang akan mereka bawa masing-masing. Baru kemudian. menjelang matahari sampai kepuncak langit. Sabungsari dan Kiai Gringsing telah mening¬galkan rumah itu lebih dahulu. Glagah Putih dan Agung Sedayu memang akan berang¬kat sore hari. Mereka akan memasuki Mataram sesudah gelap, agar tidak ada, setidak-tidaknya tidak terlalu banyak orang yang melihatnya, agar jika persoalan di Tanah Per¬dikan sudah didengar oleh kawan-kawan mereka, kehadiran keduanya tidak segera diketahui. Dalam kesempatan itu, maka Agung Sedayu sempat memberikan beberapa pesan kepada Glagah Putih. Ia harus lebih banyak memperhatikan tataran ilmunya. Namun Agung Sedayupun telah memperingatkan pula, bahwa pekerjaan mereka adalah tugas yang berat. “Kita tidak tahu apa yang akan diperintahkan oleh Panembahan Senapati.“ berkata Agung Sedayu, “karena itu, maka kita harus bersiap untuk melakukan tugas yang paling rumit sekalipun.“ Demikianlah, ketika matahari mulai turun, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih segera bersiap-siap untuk berangkat. Jika jalan-jalan sudah diteduhi pohon-pohon perindang yang tumbuh disebelah menyebelah, maka me¬reka akan berangkat. Ketika Glagah Putih tengah mempersiapkan kudanya, maka pembantu dirumah itupun mendekatinya sambil ber¬kata, “Aku ingin menjadi seperti kau.“ “Kenapa?“ bertanya Glagah Putih. “Kau tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali bepergian kemana-mana. Apa sebenarnya yang kau lakukan?“ bertanya anak itu. “Bukankah aku hanya ikut kakang Agung Sedayu? Aku tidak tahu apa yang akan dikerjakannya. Mungkin ia memerlukan bantuan disepanjang jalan. Maksudku, jika kakang ingin membeli makanan atau minuman.“ jawab Glagah Putih. “Aku kira kau sudah menjadi semakin pandai berke¬lahi sekarang. Kenapa kau tidak mau mengajari aku lagi? Jika pada suatu saat aku justru lebih pandai berkelahi dari kau, itu bukan salahku.“ berkata anak itu. Glagah Putih tertawa. Iapun kemudian bertanya, “Dari siapa kau belajar berkelahi?“ “Itu rahasia.“ jawab anak itu, “Tetapi aku akan dengan cepat menyusul kemampuanmu.“ Glagah Putih tertawa semakin keras. Katanya “Bagus. Pada saatnya akulah yang akan belajar darimu.“ “Aku tidak main-main.“ desis anak itu sambil melangkah pergi. Glagah Putih masih saja tertawa. Namun kemudian tangannya mulai bekerja lagi, membenahi kudanya yang akan dipergunakannya ke Mataram bersama Agung Se¬dayu. Setelah kudanya bersiap, Glagah Putihpun telah mempersiapkan kuda Agung Sedayu pula, sehingga kuda-kudanya itupun telah siap dipergunakan. Menjelang sore hari, maka Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah bersiap. Sekar Mirah yang mengantar mere¬ka sampai ke regol halaman bersama Ki Jayaraga telah berpesan, “Berhati-hatilah kakang dan kau juga Glagah Putih.“ Keduanya mengangguk. Sementara pada wajah Sekar Mirah nampak kecemasan. Ia tahu benar bahwa suaminya dan Glagah Putih akan menempuh satu tugas yang sangat berat. Sedangkan Ki Jayaragapun berkata, “Jika kau perlukan, panggil aku.“ “Terimakasih.“ jawab Agung Sedayu, “doakan kami segera kembali dengan selamat.“ Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah meninggalkan regol rumah itu. Memang terasa bahwa yang akan mereka lakukan adalah satu tugas yang penting bagi Mataram dalam hubungannya dengan Madiun. Bagaimanapun juga setiap orang berpengharapan, bahwa tidak akan terjadi lagi peperangan. Mataram harus mendapat kesempatan untuk membangun diri agar dapat menjadi negeri yang kuat. Tetapi jika masih saja timbul perselisihan dida¬lam apapun sebabnya, maka sulit bagi Mataram untuk membangun dirinya. “Semua orang menganggap bahwa sikapnyalah yang paling benar.“ berkata Agung Sedayu di dalam dirinya, “namun kadang kadang tanpa menghiraukan sikap orang lain. Kebenaran terlalu ditentukan menurut kepentingan sendiri. Sementara itu ada pula orang-orang yang memanfaatkan keadaan bagi kepentingan sendiri.“ Glagah Putih yang berkuda disebelah Agung Sedayu mengerti, bahwa kakak sepupunya itu sedang melihat ke¬adaan yang dihadapi oleh Mataram dan mereka berdua. Karena itu, maka Glagah Putihpun tidak terlalu banyak berbicara pula. Ketika mereka menyeberang Kali Praga, suasana sudah tidak terlalu ramai lagi. Meskipun ada juga beberapa orang yang menyeberang. Perjalanan Agung Sedayu dan Glagah Putih memang tidak ada hambatan. Mereka memasuki gerbang kota disaat matahari terbenam. Meskipun mengalami sedikit kesulitan, namun ternyata bahwa Agung Sedayu sudah cukup banyak dikenal oleh para perwira di Mataram, sehingga akhirnya kedatangannya telah disampaikan pula kepada Panembah¬an Senapati meskipun pada waktu yang tidak semestinya. Ternyata Panembahan Senapatipun tanggap akan kehadiran Agung Sedayu. Meskipun ia bukan seorang pemimpin yang penting di Mataram, namun telah banyak yang telah dilakukan bagi Mataram. Karena itu, Panem¬bahan telah memperlakukan Agung Sedayu sebagaimana para pemimpin dan bahkan sebagaimana orang-orang terdekat lainnya. Panembahan Senapati memang mempercayai sepenuhnya kepada Agung Sedayu yang telah dikenalnya sejak masa muda mereka. Karena itu maka Agung Sedayu tidak memerlukan waktu yang lama untuk menunggu. Iapun segera diterima di ruangan khusus bersama Glagah Putih. Dengan singkat Agung Sedayupun kemudian menguraikan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Dihubungkannya peristiwa itu dengan langkah-langkah yang pernah diambil oleh Ki Lurah Singaluwih ketika Raden Rangga yang terluka dibawa kembali dari Perguruan Nagaraga. Panembahan Senapati ternyata memang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap laporan itu. Karena itu, maka iapun kemudian bertanya, “Jadi kau sudah mempunyai ancar-ancar tentang rumah orang yang bernama Kiai Sasak itu?“ “Ya Panembahan.“ jawab Agung Sedayu, “hamba berpegangan pada keterangan orang-orang yang kini masih berada di Tanah Perdikan itu. Diakhir pekan ini orang-orang yang datang ke Tanah Perdikan akan bertemu dengan dua orang kawannya dirumah itu.“ “Kita memang memerlukan orang-orang itu.“ ber¬kata Panembahan Senapati, “meskipun keduanya bukan pemimpin dari kelompok itu, namun setidak-tidaknya me¬reka akan dapat memberikan keterangan untuk apa mereka berada di Mataram.“ “Hamba Panembahan. Kami berdua menunggu perintah Panembahan dalam hubungannya dengan kehadiran kedua orang itu.“ berkata Agung Sedayu kemudian. Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Ia sedang merenungi kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan. Jika yang ditugaskan untuk melakukan pengawasan terhadap rumah itu Agung Sedayu dan Glagah Putih, mes¬kipun akan dapat menyelesaikan tugas itu dengan baik jika tidak diganggu dan dicampuri oleh persoalan-persoalan diluar persoalan itu sendiri, namun kemungkinan lain dapat terjadi. Mungkin akan dapat terjadi salah paham antara Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan para petugas sandi dari Mataram itu sendiri. Namun jika yang bertugas para petugas sandi, maka Panembahan Senapati masih belum yakin akan kemampuan mereka menghadapi orang-orang penting seperti Kiai Sasak itu. Dalam pertimbangannya yang terakhir Panembahan Senapati justru bertanya kepada Agung Sedayu, “Bagaimana menurut pendapatmu tentang pengawasan terhadap rumah itu dengan segala macam pertimbangan dan keberatannya?“ “Kami menunggu kebijaksanaan Panembahan.“ jawab Agung Sedayu. “Baiklah.“ berkata Panembahan Senapati, “aku akan menggabungkan kedua unsur itu. Kalian berdua dan dua orang petugas sandi agar tidak timbul salah paham dengan mereka.“ “Kami akan melakukannya.“ desis Agung Sedayu. Malam itu juga Panembahan Senapati telah memanggil dua orang petugas sandi yang dianggapnya terpercaya serta Ki Mandaraka untuk diajak berbincang-bincang tentang laporan Agung Sedayu itu. “Sambil menunggu mereka, kalian dapat beristirahat.“ berkata Panembahan Senapati kemudian. Seorang pelayan dalam telah diperintahkan untuk menyiapkan tempat untuk Agung Sedayu dan Glagah Putih yang akan bermalam di Mataram. Agung Sedayu dan Glagah Putih memang bukan orang asing di istana itu. Karena itu, maka merekapun tahu, ke pakiwan yang sebelah mana mereka harus membersihkan diri. Namun dalam pada itu, Glagah Putihpun telah tergetar hatinya, karena tiba-tiba saja ia telah dilewatkan dengan Raden Rangga itu telah lampau. Semakin lama akan men¬jadi semakin jauh dan tidak akan pernah kembali lagi. Justru hampir tengah malam, keduanya telah dipanggil oleh Panembahan Senapati. Untunglah bahwa mereka ber¬dua masih belum tidur. Mereka memang sudah menduga, bahwa mereka tentu akan dipanggil kemari jika dua orang petugas sandi dan Ki Mandaraka sudah datang. Sebenarnyalah bahwa yang menghadap Panembahan Senapati kemudian adalah kedua orang petugas sandi yang dipanggil oleh panembahan Senapati itu bersama Ki Mandaraka. Ki Mandaraka yang telah mendengar laporan Agung Sedayu dari Panembahan Senapati, ternyata pendapatnya tidak jauh berbeda. Mataram memang harus berhati-hati menanggapi persoalan itu. Panembahan Senapati di Mata¬ram tidak dapat dengan serta merta membebankan tanggung jawab kepada Panembahan Madiun. Seperti dikatakan oleh Ki Lurah Singaluwih, bahwa sedemikian jauh, langkah-langkah yang telah diambil terhadap Mataram, baik oleh orang-orang tertentu sebagaimana dilakukan oleh perguruan Nagaraga atau oleh sekelompok prajurit Madiun sendiri, ternyata ada perintahkan oleh Panembahan Ma¬diun. Bahkan mungkin sama sekali tidak diketahuinya ka¬rena tidak pernah dilaporkan kepada Panembahan Madiun itu. Demikianlah, maka atas persetujuan Ki Mandaraka, maka Panembahan Senapati sejak malam itu telah memerintahkan untuk mengawasi lingkungan disekian rumah orang yang disebut Kiai Sasak itu atas keterangan yang diberikan oleh Agung Sedayu. “Kalian tidak perlu mengawasi regol rumahnya.“ ber¬kata Panembahan Senapati, “malam ini kalian hanya bertugas untuk mengawasi seluruh lingkungan dalam pengamatan suatu yang tidak wajar, maka kalian harus segera melaporkan kepada Agung Sedayu. Malam itu biarlah me¬reka beristirahat lebih dahulu. Besok kalian akan bekerja bersama untuk tugas itu.“ Demikianlah, maka setelah memberikan beberapa pesan maka kedua petugas sandi itu terbaik di Mataram itu telah meninggalkan pertemuan itu, sementara Agung Se¬dayu dan Glagah Putih diperkenankan kembali ke bilik me¬reka. Yang tinggal kemudian adalah Ki Mandaraka. Kepada orang yang dianggapnya sebagai tempat untuk menimba petunjuk dan pertimbangan itu. Panembahan Senapati sudah menyampaikan segala persoalan yang dihadapinya dengan Madiun. “Bagaimana pendapat paman?“ bertanya Panem¬bahan Senapati. “Kita harus mendapat kejelasan. Apakah yang sebe¬narnya dikehendaki oleh Panembahan Madiun itu. Mungkin sesuatu yang dengan mudah dapat kita penuhi sehingga tidak terjadi jarak antara Madiun dan Mataram. Karena dengan demikian maka pihak tertentu akan dapat memanfaatkan jarak ini untuk kepentingan mereka masing-masing. “ berkata Ki Mandaraka. “Jika yang dikehendaki oleh Panembahan Madiun itu tidak mungkin kita penuhi?“ bertanya Panembahan Sena¬pati. Ki Mandaraka menarik nafas dalam-dala
    • dilanjutkan …….

      Ki Mandaraka menarik nafas dalam-dalam. Katanya — Jangan berprasangka buruk terhadap Panembahan Madiun. Mungkin Panembahan Madiun justru tidak mempunyai keinginan apa-apa. —
      Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya
      — baiklah paman. Aku akan mempergunakan dua jalur. Jalur sandi dan aku akan minta Adimas Adipati Pajang, Pangeran Benawa untuk menghadap langsung Panembahan Madiun. Aliran darah yang masih sangat dekat mendekatkan pengertian antara Madiun dan Mataram. —
      — Aku sependapat — berkata Ki Mandaraka. Namun kemudian — Tetapi bukankah Pangeran Benawa yang sedang sakit? —
      — Mudah-mudahan keadaannya sudah berangsur baik. Pangeran Benawa memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa — berkata Panembahan Senapati kemudian.
      — Tetapi ketahanan tubuh adalah ilmu yang betapapun rumitnya, adalah ilmu kadonyan. Betapapun tinggi ilmu seseorang, namun jika dikehendaki oleh Yang Maha Agung, maka tidak seorangpun yang akan dapat mengelak. — berkata Ki Mandaraka.
      Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya — Paman benar. —
      — Mudah-mudahan Pangeran Benawa masih mendapat kesempatan untuk sebuah dan melakukan tugas-tugasnya kembali — berkata Ki Mandaraka kemudian. — Terutama dalam hubungan dengan Madiun. —
      Demikianlah, keduanya masih berbincang beberapa lama. Namun akhirnya Ki Mandaraka dipersilahkan oleh Panembahan Senapati.
      Namun menjelang pagi, ternyata Mataram telah dikejutkan oleh utusan dari Pajang yang memberitahukan bahwa sakit Pangeran Benawa justru menjadi semakin parah.
      Panembahan Senapati memang menjadi cemas. Pada saat-saat Mataram sedang dibayangi oleh orang-orang yang masih belum jelas kedudukannya, ia mendapat berita yang menggelisahkan dari Pangeran Benawa.
      Sekali lagi Panembahan Senapati memanggil Ki Mandaraka serta Agung Sedayu dan Glagah Putih.
      — Akhir pekan itu masih akan datang dua hari lagi — berkata Panembahan Senapati.
      Ki Mandaraka mengangguk-angguk. Ia mengerti kegelisahan hati Panembahan Senapati. Disaat ia menghadapi persoalan di Mataram sendiri, maka ia mendapat berita bahwa keadaan Pangeran Benawa menjadi parah.
      Namun sambil mengangguk-angguk Ki Mandaraka berkata — Hamba mengerti kegelisahan angger Panembahan. Namun agaknya angger Panembahan ingin mengatakan bahwa karena akhir pekan masih akan datang dua hari lagi,
      angger dapat pergi ke Pajang hari ini? —
      — Ya paman — jawab Panembahan Senapati — aku akan mengajak paman pergi ke Pajang. Bagaimanapun juga, aku harus datang menengok adimas Pangeran Benawa. —
      — Baiklah angger Panembahan — berkata Ki Mandaraka — kita dapat minta tolong angger Agung Sedayu dan Glagah Putih untuk mengamati rumah itu bersama orang petugas sandi itu. —
      Panembahan Senapatipun kemudian telah mengambil keputusan. Hari itu juga ia ingin pergi ke Pajang untuk menengok Pangeran Benawa yang sakit.
      — Mohon hormat hamba bagi Pangeran Benawa disam-paikan Panembahan — berkata Agung Sedayu kemudian. Lalu — Sebenarnya hamba juga ingin sekali menghadap. Tetapi hamba mengerti, bahwa pada saat seperti ini sebaiknya hamba berada di Mataram. —
      — Terima kasih Agung Sedayu — berkata Panembahan Senapati — nanti aku sampaikan salammu kepada adimas Benawa. Ia tentu ingin bertemu denganmu. —
      Demikianlah, dalam waktu singkat Panembahan Senapati telah memanggil beberapa orang Senapati. Dengan tertib Panembahan Senapati telah mengatur tugas. Namun tidak seorangpun diantara para Senapati itu yang tahu untuk apa Agung Sedayu berada di Mataram selain kedua orang petugas sandi itu. Kepada kedua petugas sandi itu-pun secara khusus Panembahan Senapati telah memberikan pesan-pesannya tanpa didengar oleh orang lain.
      Kepada Panglima pasukan berkuda, Panembahan Senapati memerintahkan untuk menyiapkan perjalanan serta pengawalnya.
      — Aku dan paman Mandaraka akan berangkat hari ini. — berkata Panembahan Senapati — jika keadaannya tidak terlalu gawat, aku dapat kembali sebelum malam larut. —
      Panglima dari pasukan berkuda itupun bergerak cepat. Dalam waktu dekat, maka segalanya sudah siap. Sementara itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah mempersiapkan diri pula untuk melakukan tugas mereka bersama kedua orang petugas sandi yang telah ditunjuk langsung oleh Panembahan Senapati sendiri.
      Dalam pada itu, ketika matahari memanjat semakin tinggi, maka Panembahan Senapati beserta Ki Mandaraka bersama sekelompok pengawal telah meninggalkan pintu gerbang Mataram menuju ke Pajang. Sementara itu, Agung Sedayu dan Glagah Putihpun telah keluar pula dari pintu butulan halaman samping istana bersama kedua petugas sandi itu.
      Tetapi mereka tidak berjalan bersama berempat. Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berpisah. Masing-masing disertai seorang petugas sandi.
      Namun petugas sandi yang mengawani Glagah Putih ternyata merasa ragu didalam hatinya. Apakah anak muda itu akan berarti untuk melakukan tugas yang penting itu.
      Ternyata bahwa petugas sandi itu tidak mendapat kesempatan untuk mengetahui, bahwa Glagah Putih telah pernah menjalankan tugas bersama Raden Rangga ke daerah Timur sebagai hukuman atas langkah Raden Rangga yang dianggap terlalu jauh kedepan.
      Agung Sedayu dan Glagah Putih masing-masing akan menuju ke jalan yang lewat dimuka rumah Kiai Sanak menurut keterangan orang yang terawan di Tanah Perdikan Menoreh. Mereka akan melalui jalan didepan rumah itu dari arah yang berlawanan.
      Karena itu, maka masing-masing telah menempuh jalan yang berbeda. Agung Sedayu dan seorang diantara petugas sandi itu, telah menelusuri jalan-jalan yang lebih kecil didalam padukuhan. Sementara Glagah Putih telah dibawa melalui jalan yang lebih besar, yang banyak dilalui orang hilir mudik untuk melakukan tugas berdasarkan kepenting-
      an mereka masing-masing.
      Memang keduanya tidak menarik perhatian. Dua orang yang lewat adalah hal yang sangat wajar.
      Ternyata bahwa Agung Sedayulah yang lebih dahulu melewati jalan didepan rumah yang disebut oleh orang yang tertawan di Tanah Perdikan Menoreh dengan ciri-ciri yang sesuai. Rumah itu memang rumah yang cukup besar. Halamannya luas dan dinding halamannyapun agak tinggi. Beberapa jenis pohon buah-buahan tumbuh di halaman. Sebagai ciri yang agak jelas, adalah bahwa disudut halaman rumah itu terdapat sebatang pohon kemiri yang tinggi. Pohon yang jarang ditanam di halaman. Sedangkan diluar regol, dipinggir jalan didepan rumah itu tumbuh beberapa batang pohon gayam yang menaungi jalan itu dari teriknya matahari disiang hari. Sebuah genthong yang berisi air telah disediakan di regol dengan sebuah gayung tempurung kelapa yang tergantung disebelahnya. Air jernih didalam genthong itu disediakan bagi mereka yang kehausan, diper-jalananan.
      — Siapakah yang tinggal dirumah itu? — desis Agung Sedayu.
      — Masih belum kami ketahui — jawab petugas sandi itu — tetapi besok aku tentu sudah mengetahuinya. —
      — Sekarang kita akan mengetahuinya — berkata Agung Sedayu.
      — Kau akan memasuki halaman itu? — petugas itu bertanya dengan ragu-ragu.
      — Kita singgah di kedai itu — berkata Agung Sedayu yang melihat sebuah kedai dipinggir jalan berseberangan dengan rumah-rumah yang mereka amati. —
      Petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum sambil berkata — Bagaimana dengan Glagah Putih. —
      Agung Sedayu memandang ke kejauhan. Namun mereka belum melihat Glagah Putih mendekati rumah yang sedang mereka amati itu. Karena itu, maka Agung Sedayu-pun berkata — Biarlah ia lewat. Sebaiknya ia tidak melihat kita di kedai itu. —
      Petugas sandi itu mengangguk-angguk. Katanya — Baiklah. Agaknya menyenangkan juga singgah barang seje-nak di kedai itu. —
      Keduanyapun kemudian telah singgah di kedai yang berada diseberang jalan berhadapan dengan rumah dise-belah rumah yang sedang mereka amati. Nampaknya kedai itu memang tidak terlalu ramai. Namun sudah ada dua orang yang telah lebih dahulu berada didalam.
      — Kita masuk saja ke dalam — desis Agung Sedayu.
      Keduanyapun sejenak kemudian telah berada didalam kedai itu. Mereka telah memesan minuman dan makanan bagi mereka berdua.
      Beberapa saat kemudian Glagah Putih memang lewat pula dijalan yang banyak dilalui orang itu. Agung Sedayu telah melihatnya berjalan bersama petugas sandi yang seorang lagi. Namun Glagah Putih dan petugas itu memang tidak melihat Agung Sedayu yang berada didalam kedai.
      Sambil menikmati minuman hangat dan makanan, keduanya menunggu kedai itu menjadi sepi. Baru setelah dua orang itu meninggalkan kedai, maka Agung Sedayu dan petugas sandi yang menyertainya telah berbicara serba sedikit dan sambil lalu tentang rumah-rumah disekitar tempat itu.
      Ternyata bahwa rumah itu memang rumah seorang yang bernama Kiai Sasak.
      Beberapa saat mereka berada didalam kedai itu. Setelah mereka merasa cukup, maka merekapun segera bersiap-siap meninggalkan tempat itu.
      Ternyata bahwa Agung Sedayu dan petugas sandi itu
      telah cukup banyak mengetahui tentang orang yang bernama Kiai Sasak itu. Cukup banyak bagi satu keterangan yang memang hanya mengetahui tentang kehidupan Kiai Sasak itu. Namun menurut keterangan yang mereka dengar bahwa isteri Kiai Sasak itu memang berasal dari daerah Timur. Beberapa hari yang lalu, isteri Kiai Sasak itu telah meninggalkan suaminya. Selebihnya, orang yang memiliki kedai itu tidak mengetahuinya.
      — Kenapa kalian tertarik kepada kehidupan Kiai Sasak? — bertanya pemilik kedai itu.
      Agung Sedayulah yang menjawab — Tidak. Aku belum pernah mengenalnya. Aku hanya melihat sebuah rumah yang nampaknya demikian terawat baik. Pepohonan buah-buahan yang tumbuh di halaman, sangat menarik perhatian. Tetapi yang aneh bahwa ia menanam pohon kemiri di-sudut halaman itu. Betapa baik hati orang itu, sehingga ia telah menyediakan air bersih bagi para pejalan yang kehausan. —
      — Bukankah banyak orang yang berbuat demikian? — bertanya pemilik kedai itu.
      Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya — Ya. Aku memang sering melihat gentong berisi air bersih seperti itu. Dan itu adalah pertanda bahwa keluarga kita masih juga banyak yang baik hati. Yang masih mau memikirkan kepentingan orang lain. —
      — Jadi bukan hanya Kiai Sasak saja — berkata pemilik kedai itu.
      — Ya. Tetapi karena yang kita lihat disini adalah rumah Kiai Sasak, maka yang kita bicarakan adalah Kiai Sasak. — berkata Agung Sedayu.
      Pemilik kedai itu mengangguk-angguk, tetapi ia tidak bertanya lagi. Apalagi ketika kemudian datang lagi dua orang yang singgah didalam kedainya.
      Agung Sedayu dan petugas sandi itupun kemudian
      telah menempuh perjalanan mereka kearah yang berlawanan dari jalan yang telah ditempuh oleh Glagah Putih. Namun mereka tidak sempat melihat Glagah Putih yang sempat singgah untuk minum air jernih dari dalam gentong didepan regol.
      Ternyata Glagah Putih sempat melihat dari sela-sela pintu regol yang terbuka, halaman dan pendapa rumah yang sedang mereka amati itu. Memang agak aneh, bahwa dalam rumah orang kebanyakan, meskipun rumah itu besar dan terawat baik, mereka melihat dua orang yang berdiri di sebelah pendapa dengan sikap yang menarik perhatian. Keduanya memang berdiri saja sambil menyilangkan tangan didada. Namun bagi mata Glagah Putih dan petugas sandi itu, keduanya nampaknya memang sedang berjaga-jaga.
      Bahkan Glagah Putih sempat berpikir — Apakah kedua orang itu yang dimaksud oleh tawanan di Tanah Perdik-an? —
      Ternyata salah seorang dari kedua orang itu sempat memandanginya pula. Tetapi orang itu memang tidak menaruh perhatian ketika ia melihat seorang anak muda yang meneguk air dari gentong yang memang disediakan bagi pejalan itu.
      Langit memang terasa bagaikan terbakar oleh matahari yang telah mencapai puncaknya. Sehingga wajar sekali jika seseorang menjadi kehausan.
      Demikianlah, maka beberapa saat kemudian, ketika mereka telah kembali ke istana, maka mereka telah menyesuaikan pengamatan mereka. Agung Sedayu menceriterakan apa yang telah didengarnya, sementara Glagah Putih mengatakan apa yang telah dilihatnya.
      Ternyata mereka mengambil kesimpulan, bahwa rumah itu memang harus diawasi dengan hati-hati. Agaknya rumah itu memang telah dijaga oleh orang-orang tertentu.
      Atau memang dua orang yang berjanji untuk bertemu dengan orang-orang yang tertawan di Tanah Perdikan itu sudah berada di rumah itu.
      Namun dengan demikian, maka mereka masih harus mengetahui lebih banyak tentang rumah itu, sehingga mereka memutuskan, bahwa dimalam hari, mereka akan mengadakan pengamatan yang lebih dekat. Memang satu pekerjaan yang berbahaya. Tetapi mereka merasa perlu untuk melakukannya.
      Demikianlah, maka mereka telah membagi tugas. Kedua petugas sandi itu diminta untuk mengamati rumah itu disiang hari dari tempat yang tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka akan berada di dua arah jalan yang melewati rumah Kiai Sasak itu. Mereka harus memperhatikan orang-orang yang mungkin dapat mereka curigai mempunyai hubungan dengan isi rumah itu. Sedangkan malam hari, Agung Sedayu dan Glagah Putih akan melakukannya. Mereka akan melihat rumah itu dari jarak yang lebih dekat.
      Demikianlah, setelah beristirahat sejenak, maka kedua orang petugas sandi itupun telah melakukan tugas mereka. Dengan cara yang tidak menarik perhatian, maka keduanya telah berada di tempat yang berlawanan namun diluar pedu-kuhan. Seorang diantara mereka telah menemukan tempat yang baik, diantara gerumbul perdu yang tidak mudah dilihat dari jalan yang sedang diawasinya. Sedangkan yang lain melakukannya dengan cara yang berbeda Karena disisi yang lain dari pedukuhan itu tidak terdapat pepohonan perdu yang rimbun, maka petugas itu telah melakukannya dengan duduk dipinggir sebuah sungai yang tidak begitu besar. Air sungai kecil itu telah sedikit berpusar di tikungan, sehingga terdapat satu genangan yang sedikit dalam. Agaknya petugas itu telah dengan cepat menemukan satu cara. Iapun kemudian telah duduk sambil memegangi dahan bambu yang diikat dengan benang serat pada ujung-
      nya, sehingga seakan-akan petugas itu sedang duduk memancing.
      Memang jarang orang yang memancing ditempat itu. Namun ternyata bahwa tidak ada orang yang menaruh perhatian kepada seseorang yang berpakaian lusuh, bercaping lebar, duduk terkantuk-kantuk dengan pancing yang tertancap disebelahnya.
      Sampai sore hari, ternyata keduanya tidak melihat seseorang yang pantas mendapat perhatian mereka. Orang-orang yang lewat di jalan itu, menurut penglihatan mereka, adalah orang-orang padukuhan-padukuhan di sebelah me-nyebelah atau bahkan orang-orang padukuhan itu sendiri
      Namun tiba-tiba orang yang sedang memancing itu terkejut. Mereka melihat dua orang yang memang pantas dicurigai. Dua orang yang kebetulan dilihatnya bersama Glagah Putih berada di halaman rumah Kiai Sasak.
      Orang yang sedang memancing itupun kemudian telah menempatkan dirinya sebaik-baiknya. Orang-orang itu memang tidak berjalan lewat jalan yang memang mulai menjadi lengang di sore hari. Tetapi keduanya telah meloncati parit dan berjalan sepanjang pematang, justru kearah orang yang sedang memancing ikan itu.
      Petugas sandi itu memang menjadi berdebar-debar. Tetapi sebagai seorang prajurit dalam tugas sandi, maka iapun telah bersiaga sepenuhnya bila terjadi sesuatu atas dirinya.
      Tetapi agaknya keduanya hanya lewat saja beberapa langkah dari padanya. Sementara keduanya lewat, petugas itu mendengar seorang diantara mereka berkata — Masih ada waktu sehari besok sebelum hari yang ditentukan. —
      — Ya — sahut yang lain — bahkan mungkin yang dari Tanah Perdikan, besok akan datang. —
      — Mungkin. Tetapi anak-anak setan yang bertugas di Kota Mataram ini justru belum membuat hubungan sama
      sekali — berkata orang yang pertama.
      — Mereka tidak menganggap penting — sahut yang lain pula.
      Petugas sandi itu masih mendengar mereka berbicara. Tetapi ia tidak lagi dapat menangkap isi pembicaraan itu.
      Ketika kedua orang itu menjadi semakin jauh, maka iapun kemudian telah mengangkat pancingnya dan menggulung benangnya. Mungkin nanti masih diperlukannya lagi. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan tempatnya mumpung matahari masih nampak meskipun sudah menjadi terlalu rendah di sore hari.
      Petugas sandi itupun kemudian justru telah memasuki padukuhan. Dengan capingnya yang lebar ia berjalan menunduk.
      Ketika ia sampai dimuka regol rumah Kiai Sasak, maka iapun berhenti sejenak. Agaknya masih pantas bagi seorang pejalan menjadi kehausan. Karena itu, maka iapun telah mengambil gayung tempurung kelapa dan minum beberapa teguk.
      Namun dari celah-celah regol yang terbuka tidak terlalu lebar, ia memang melihat kehalaman. Ia melihat dua orang lagi duduk di serambi. Dua orang yang nampaknya sekelompok dengan kedua orang yang dilihatnya dipinggir sungai kecil itu.
      Karena itulah, maka petugas itupun segera meninggalkan tempat itu dan langsung kembali ke istana lewat pintu butulan di halaman samping. Seorang penjaga segera mengenalinya ketika orang bercaping lebar itu telah mengucapkan kata-kata sandinya.
      Menjelang senja, kawannya yang berada diantara pohon-pohon perdu baru datang. Namun ia tidak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
      Ketika mereka kemudian makan malam, setelah
      masing-masing membenahi dirinya, maka petugas yang melihat kedua orang yang berjalan disebelah sungai dan dua orang dihalaman itu telah memberitahukannya kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih.
      — Jadi mereka tidak hanya berenam — desis Glagah Putih.
      — Kenapa orang-orang itu telah berbohong kakang?_ Apakah mereka memang ingin menjebak kita? — bertanya Glagah Putih.
      — Mereka tidak berbohong. Mereka memang hanya berenam. Sedangkan yang lain adalah para penghuni rumah Kiai Sasak — jawab Agung Sedayu.
      — Tetapi apakah penjual di kedai itu memang mengatakan demikian kepada kakang? — desak Glagah Putih.
      — Tidak — jawab Agung Sedayu — tukang kedai itu tentu tidak tahu apa yang ada didalam rumah itu. Bahkan ia sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikannya, karena ia memang tidak berkepentingan apa-apa. Sedangkan orang-orang dirumah itupun sama sekali tidak mengganggu lingkungannya. —
      Glagah Putih mengangguk-angguk. Agaknya kehadiran orang-orang yang mencurigakan itu tidak banyak diketahui dan tidak pula menarik perhatian orang-orang di-sekitar rumah Kiai Sasak yang seakan-akan memang tertutup itu. Dinding yang agak tinggi yang memutari halaman rumahnya, telah membantai perhatian orang-orang dise-kitarnya atas isi rumah itu. Agaknya orang-orang di rumah itu memang tidak banyak berhubungan dengan orang-orang disekitarnya.
      Menurut pengamatan petugas sandi yang melakukan tugasnya dengan berpura-pura mengenal itu, ternyata ia telah melihat empat orang dirumah Kiai Sasak. Seandainya dua diantara mereka adalah dua orang yang memang berjanji untuk bertemu dengan kawan-kawan mereka yang ber-
      ada di Tanah Perdikan Menoreh, maka dua orang yang lewat didekat sungai itu tidak akan mengeluh, bahwa petugas mereka yang justru berada di Mataram tidak pernah membuat hubungan dengan mereka.
      Karena itu, maka mereka memang harus lebih berhati-hati. Disamping enam orang itu ternyata masih ada beberapa orang lagi yang perlu diperhatikan.
      Sebagaimana telah mereka rencanakan, maka di malam hari, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah bertekad untuk memasuki halaman rumah itu sejauh dapat mereka lakukan. Waktu mereka tinggal sehari menjelang saat pertemuan orang-orang yang telah dikirim oleh seorang Tumenggung dari Madiun itu.
      Para petugas sandi yang atas kemauan Agung Sedayu tidak perlu menyertainya itu telah memerlukan beberapa istirahat itu telah memberikan beberapa isyarat sandi, sehingga jika Agung Sedayu kemudian mendapat kesulitan dengan para petugas Mataram, ia dapat mempergunakan isyarat sandi itu.
      Demikianlah, ketika malam kemudian mendekati pertengahannya, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah meninggalkan halaman istana. Atas persetujuan para petugas sandi, maka mereka tidak melalui pintu yang manapun juga. Tetapi mereka telah meloncati dinding istana.
      Namun mereka tertegun ketika mereka berada di luar dinding, tidak terlalu jauh dari jalan induk yang menuju ke pintu gerbang istana, mereka telah mendengar sekelompok orang berkuda berpacu menuju kepintu gerbang samping.
      Agung Sedayu dan Glagah Putihpun kemudian dengan sangat berhati-hati telah mendekati ke jalan induk yang bercabang sepanjang dinding halaman menuju kepintu gerbang samping.
      Ternyata mereka adalah Panembahan Senapati dengan para pengawalnya yang telah kembali dari Pajang.
      Ada keinginan Agung Sedayu untuk mengetahui keadaan Pangeran Benawa, namun Agung Sedayu telah menerima diri untuk menanyakannya di keesokan harinya. Ia sudah terlanjur melangkah untuk mengetahui keadaan rumah Kiai Sasak itu lebih jauh, sehingga lebih baik langkah itu dilanjutkan lebih dahulu.
      Demikianlah maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah melanjutkan rencananya pergi kerumah Kiai Sasak dan melihat lebih kedalam untuk mengetahui lebih banyak isi rumah itu.
      Meskipun Agung Sedayu dan Glagah Putih bukan orang yang tinggal di kota pusat pemerintahan itu, namun mereka telah mengenal jalan-jalan penting di Mataram. Karena itu, maka merekapun tidak terlalu sulit untuk menemukan arah rumah Kiai Sasak meskipun di malam hari. Yang perlu mereka lakukan adalah menghindari gardu-gardu penjagaan. Baik oleh para prajurit Mataram, maupun oleh para peronda padukuhan-padukuhan.
      Tanpa banyak menemui kesulitan-kesulitan keduanya telah mencapai rumah Kiai Sasak.
      Beberapa saat mereka mengamati Keadaan diluar rumah itu. Disebelah menyebelah malam terasa terlalu dingin. Lampu-lampu sudah menjadi redup dan bahkan tidak lagi terdengar suara seorangpun lagi. Agaknya semua orang sudah tertidur nyenyak.
      Namun Agung Sedayu dan Glagah Putih memperhitungkan, bahwa tidak demikian dengan rumah Kiai Sasak itu.
      Dengan demikian maka keduanya menjadi sangat berhati-hati. Ketika mereka kemudian meloncat ke atas dinding dibagian belakang halaman rumah Kiai Sasak, maka mereka masih belum melihat sesuatu.
      Beberapa saat keduanya berada diatas dinding. Mereka menelungkup sudah melekat bibir dinding yang cukup
      tinggi itu sambil memperhatikan keadaan. Ketika keduanya yakin bahwa tidak ada seorangpun yang melihat mereka, maka merekapun telah meloncat masuk ke halaman.
      Dengan kemampuan ilmu yang tinggi, maka mereka telah menyusup diantara pepohonan mendekati rumah Kiai Sasak.
      Tetapi mereka tidak dapat menemukan sesuatu ketika mereka mendekati rumah itu dari bagian belakang. Karena itu, maka merekapun telah bergerak kesamping. Ternyata mereka telah berada di sebelah gandok kanan dari luar Kiai Sasak.
      Agaknya gandok itu ditempati oleh dua atau tiga orang. Agung Sedayu dan Glagah Putih hanya dapat mendengar tarikan nafas mereka yang teratur. Namun dengan demikian tidak ada sesuatu kesimpulan yang dapat mereka ambil dari sekedar mengetahui orang-orang yang sedang tidur di gandok.
      Beberapa saat kemudian, keduanya telah bergeser lagi. Ketika mereka sampai disudut gandok bagian depan, maka mereka sempat melihat bagian dalam regol melihat sesuatu yang menarik perhatian. Halaman itu kosong. Tidak seorangpun yang berjaga-jaga nampak di halaman itu. Bahkan ketika mereka sempat melihat pendapa, pringgitan dan serambi-serambi di dalam longkangan, mereka tidak menemukan seorangpun.
      Agung Sedayu dan Glagah Putih memang menjadi heran. Apa artinya orang-orang yang mengadakan pengawasan justru didiang hari, jika dimalam hari mereka semuanya tertidur nyenyak.
      Namun Agung Sedayu tidak segera meninggalkan tempat itu. Bersama Glagah Putih mereka berkisar mendekati seketheng. Tetapi mereka tidak segera memasuki seketheng dan berada di longkangan.
      Ketika Agung Sedayu melekat pada dinding disudut sekat halaman samping itu, maka ia memang mendengar pembicaraan diruang dalam.
      Dengan isyarat Agung Sedayu memanggil Glagah Putih untuk mendekat.
      Glagah Putihpun kemudian mengangguk-angguk. Iapun mendengar pembicaraan diruang dalam rumah Kiai Sasak itu.
      Yang terdengar adalah suara yang kasar meskipun tidak terlalu keras — Jangan menolak orang dungu. Umurmu tinggal tidak lebih dari umur jagung semusim. Kalau kau terlalu banyak tingkah, maka yang seumur jagung itupun akan kami renggut darimu. —
      — Tetapi kalian tidak dapat memaksa aku seperti itu — terdengar jawaban. Suara seorang yang sudah berusia tua. —
      — Kiai Sasak — terdengar lagi suara kasar itu — sekali lagi aku peringatkan, bahwa kau akan mati jika kau tidak merubah sikapmu. —
      — Aku sudah tua — jawab suara yang lain. Suara orang tua — Apa artinya mati bagiku? —
      — Baik. Jika kau tidak takut mati, maka kau menyaksikan bagaimana kami membunuh istri dan anak perempuanmu itu. Kau akan kami bawa ketempat kami menyimpan istri dan anakmu. Kemudian memperlihatkan kepadamu, bagaimana aku membunuhnya. Tetapi sebenarnya anakmu terlalu cantik untuk mati tanpa arti bagi kami. Karena itu, mungkin aku mempunyai kepentingan lain dengan anak perempuanmu itu. —
      — Bangsat kau — orang tua itu tidak dapat menahan diri. Namun yang terdengar adalah suara yang kasar — kau tidak mempunyai pilihan Kiai. Kau harus memberikan tempatmu untuk keperluan kami selama kami masih memerlukan. —
      — Kembalikan anak dan isteriku. Mungkin aku mem-
      punyai pertimbangan yang menguntungkanmu. Tetapi selama anak dan isteriku masih kalian sembunyikan, aku tidak akan bersedia berbuat apapun bagi kalian. — berkata orang tua itu.
      Tetapi orang kasar itu tertawa. Bahkan terdengar suara lain — Kau jangan keras kepala Kiai. Kau tidak mempunyai pilihan lain. Jika kau tetap berkeras hati, maka isterimu yang jauh lebih muda dari umurmu sendiri itu serta anakmu yang cantik yang sudah menginjak usia perawan itu, akan mengalami kesulitan dan bahkan akan dapat menjadi korban kekerasan hatimu yang bodoh itu. —
      — Aku tidak mengira bahwa di dunia ini ada orang selicik kalian. Kenapa kau tidak berbuat jantan dan berpijak pada harga diri, — terdengar suara orang tua itu.
      Tetapi yang terdengar adalah suara-suara tertawa. Dua atau tiga orang.
      — Sudahlah Kiai — berkata salah seorang diantara mereka yang tertawa itu — Kami tahu bahwa kau adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ilmumu yang tinggi itu tidak akan berarti apa-apa bagi penyelamatan isteri dan anakmu cantik itu. —
      — Pengecut yang licik — geram orang tua itu.
      — Kau masih mempunyai kesempatan untuk memikirkannya. Besok orang-orang yang datang dari Madiun, sejumlah enam orang akan berkumpul disini. Mereka akan mengurai dan kemudian mengambil kesimpulan hasil dari perjalanan mereka di Tanah Perdikan dan pengamatan mereka atas Mataram. Pada kesempatan lain, mereka akan menghubungi daerah-daerah lain disekitar Mataram ini. Mungkin Mangir dan daerah pesisir, mungkin Jati Anom dan Sangkal Putung, mungkin Cangkring dan daerah lereng Gunung Merapi yang lain. Bahkan mungkin akan menyentuh daerah Pangrantunan — berkata orang yang bersuara kasar.
      — Satu rencana gila — jawab orang tua yang terjepit oleh keadaan — suatu ketika aku akan membunuh kalian
      dengan cara seorang laki-laki jika kalian berani bersikap seperti laki-laki. Meskipun aku sudah tua, tetapi membunuh kalian berempat sekaligus, bukan pekerjaan yang sulit bagiku. —
      Suara tertawa itu bagaikan meledak lagi. Salah seorang diantara mereka yang tertawa itu berkata — Apakah kau tidak mencintai isteri yang limabelas tahun lebih muda dari-mu itu serta anak gadismu yang cantik. —
      — Persetan — orang tua itu hampir berteriak.
      — Jangan berteriak. Sekarang ini malam hari. Nanti suara Kiai akan dapat mengejutkan para tetangga — berkata orang yang bersuara kasar itu.
      Sesaat ternyata semua terdiam. Agaknya orang tua itu sedang merenungi keadaannya yang sulit. Meskipun barangkali kematian itu sendiri tidak menakutkannya, namun apa yang akan terjadi dengan anak dan isterinya itulah yang harus dipertimbangkannya masak-masak.
      Agung Sedayu dan Glagah Putih ternyata sudah mendapat gambaran apa yang sesungguhnya terjadi. Ternyata Kiai Sasak bukan sasaran yang sebenarnya. Iapun telah menjadi korban kelicikan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka tentu juga tidak melakukannya atas nama perintah Panembahan Madiun yang sebenarnya. Karena agaknya yang mereka lakukan semata-mata untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mempergunakan saat-saat yang buram untuk memancing kekerasan.
      Dengan isyarat Agung Sedayupun kemudian telah mengajak Glagah Putih bergeser. Apalagi ketika mereka mendengar suara kasar — Tidurlah. Aku akan berada di pendapa. —
      Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun kemudian telah meninggalkan tempatnya. Mereka menyempatkan diri untuk mendengarkan tarikan nafas didalam bilik gandok.
      Ternyata orang yang tidur nyenyak itu masih juga tidur dan bahkan mulai mendengkur.
      Agung Sedayu berusaha untuk dapat melihat, siapakah yang berada di gandok itu. Dengan hati-hati ia berusaha untuk memanjat dan mengintip dari bawah blandar.
      Ternyata tiga orang laki-laki yang nampaknya seperti laki-laki yang berbicara dengan Kiai Sasak itu, yang dengan licik telah berusaha untuk menguasai Kiai Sasak.
      Demikianlah, dengan hasil pengamatannya atas rumah yang akan menjadi ajang pertempuran dari orang-orang yang bertugas di Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh, yang dikirim oleh seorang perwira dari Madiun itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah kembali ke istana.
      Sebagaimana mereka keluar maka merekapun telah memasuki istana tidak melalui pintu butulan. Tetapi mereka telah memanjat dan meloncat masuk ke halaman dalam. Dengan mengetuk pintu sesuai dengan pesan petugas sandi yang menunggu di serambi, maka pintu serambi itupun telah dibuka.
      Sesaat kemudian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih itupun telah duduk di ruang samping, ruang yang memang diperuntukkan bagi mereka. Karena menurut pengenalan Agung Sedayu dan Glagah Putih terhadap kedua orang petugas sandi itu adalah bahwa keduanya mendapat kepercayaan dari Panembahan Senapati, maka yang mereka lihat itupun telah mereka katakan kepada kedua petugas sandi itu.
      Ternyata kedua petugas itu menanggapi keterangan Agung Sedayu dan Glagah Putih dengan sungguh-sungguh. Mereka memang sangat tertarik kepada keterangan itu.
      — Besok kita akan melaporkannya kepada Panembahan Senapati — berkata salah seorang dari petugas sandi itu. — Agaknya persoalan ini bukannya persoalan yang tanpa
      kaitan dengan persoalan yang besar yang nampaknya memang sedang mengeruhkan hubungan Mataram dan Madiun. —
      — Kami melihat Panembahan sudah kembali — berkata Agung Sedayu.
      — Ya. Kami sudah dipanggilnya — jawab seorang dian-tara para petugas sandi itu.
      — O, apa yang kalian sampaikan kepada Panembahan?
      — Kami juga melaporkan apa yang sedang kalian lakukan — jawab petugas sandi itu.
      — Apakah Panembahan menyebut tentang Pangeran Benawa? — bertanya Agung Sedayu.
      — Agaknya itulah yang membuat tentang Pangeran Benawa? — bertanya Agung Sedayu.
      — Agaknya itulah yang membuat Panembahan prihatin. Sakit Pangeran Benawa agak parah. Bahkan belum nampak tanda-tanda bahwa penderitaannya itu berkurang, meskipun segala macam obat sudah dicobanya, — jawab petugas sandi itu.
      Semula terbersit ingatan untuk berhubungan dengan Kiai Gringsing. Namun Agung Sedayu telah mengurungkannya. Di Pajang tentu sudah banyak ahli-ahli dalam masalah pengobatan. Meskipun demikian pada saat yang khusus, mungkin Agung Sedayu akan dapat menyampaikannya kepada Panembahan apabila diperlukan.
      Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putihpun kemudian masih sempat beristirahat setelah mereka membenahi diri di Pakiwan. Meskipun malam sudah menjelang dini hari, namun mereka masih dapat tidur beberapa saat.
      Pagi-pagi benar, baru saja mereka selesai mandi, ternyata Panembahan Senapati telah memanggil mereka berempat. Agaknya Panembahan Senapati segera ingin men-
      dengar laporan, hasil pengamatan Agung Sedayu dan Glagah Putih.
      Dengan cermat Agung Sedayu telah melaporkannya sehingga Panembahan Senapati mendapat gambaran yang jelas tentang rumah yang menjadi tempat pertemuan orang-orang yang sedang dalam tugas di Mataram dan sekitarnya itu.
      — Baiklah — berkata Panembahan Senapati — persoalan ini kami serahkan kepada kalian berempat. Kalian, kami beri wewenang untuk menggerakkan pasukan yang kalian perlukan untuk menyelesaikan persoalan ini. Semua perintah dapat disalurkan lewat Panglima pasukan berkuda yang dapat bergerak secara khusus. Perintah kepada Panglima itu akan segera kami berikan. —
      — Hamba Panembahan — sahut Agung Sedayu — hamba akan melakukan segala perintah dengan sebaik-baiknya.
      Ternyata Panembahan Senapati memang bergerak cepat. Dipanggilnya Panglima pasukan berkuda yang malam itu mengawalnya kembali dari Pajang.
      Agaknya Panglima itu masih tertidur ketika perintah untuk memanggilnya datang.
      Dengan singkat Panembahan Senapati memberitahukan apa yang terjadi. Panembahan Senapatipun telah memerintahkan kepada Panglima pasukan berkuda itu untuk memenuhi kebutuhan pasukan jika diperlukan.
      — Aku sudah menetapkan keempat orang ini untuk menangani persoalan yang gawat itu. Meskipun Agung -Sedayu dan Glagah Putih bukan prajurit Mataram, tetapi kalian tahu, siapakah mereka itu — berkata Panembahan Senapati.
      Panglima pasukan berkuda yang memang sudah mengenal Agung Sedayu dengan baik itu mengangguk hor-
      mat. Katanya — Hamba akan melakukan segala perintah.
      — Segala keperluan akan disampaikan kepadamu — berkata Panembahan Senapati — karena itu dalam dua hari ini, kami berusaha selalu berada di tempatmu. Meskipun tidak perlu dinyatakan, tetapi bagi kita, Mataram memang sedang dalam keadaan gawat. Jika kita biarkan api yang kecil ini membakar sekam, maka akibatnya seluruh lumbung kita akan terbakar. —
      Demikianlah, Panglima itupun telah menyiapkan jalur perintah yang akan melakukan tugas jika Agung Sedayu memerlukan. Panglima itupun telah menyiapkan pasukan kecil, sedangkan kelompok yang lebih besar, setiap saat kelompok-kelompok itu akan dapat digerakkan.
      Namun dalam pada itu Panembahan Senapatipun telah memperingatkan agar Agung Sedayu memperhatikan keluarga Kiai Sasak yang berada di tangan orang-orang yang telah memaksanya untuk memberikan tempatnya kepada mereka.
      Sejauh mungkin mereka jangan dikorbankan — berkata Panembahan Senapati.
      — Hamba Panembahan — berkata Agung Sedayu — kami akan mencari cara yang paling baik untuk itu. Namun masih belum tahu, dimana keluarga Kiai Sasak itu disimpan. —
      — Usahakanlah — desis Panembahan Senapati kemudian — Bagi Kiai Sasak, keluarganya itu merupakan tumpuan gairah hidupnya yang sudah dijalaninya hampir setengah abad. Jika keluarganya itu tidak dapat diketemukan, maka aku kira, ia akan kehilangan keinginan untuk hidup terus. —
      — Hamba Panembahan — jawab Agung Sedayu — kami akan berusaha sebaik-baiknya. —
      Sementara itu Panembahan Senapati masih pula sem-
      pat berbicara tentang Pangeran Benawa yang menjadi semakin sulit keadaannya. Bahkan tubuhnyapun menjadi semakin lemah. Semua ilmu dan kemampuan di dalam dirinya tidak dapat menolongnya.
      — Namun satu hal yang dapat meringankan semua penderitaannya— berkata Panembahan Senapati — adimas Benawa telah menjadi pasrah. Dengan demikian semua menjadi ringan baginya. Ia sama sekali tidak lagi membawa beban yang memberatinya. Agaknya adimas Pangeran Benawa telah berhasil memisahkan dirinya dari kepentingan duniawi. Rasa-rasanya demikian dekatnya ia dengan Sumber Hidupnya. Namun demikian bukan berarti semua usaha dihentikan, meskipun akhirnya perkembangannya dalam penglihatan masa kewadagan, keadaannya memang sudah menjadi demikian sulitnya. Hari ini adalah hari terakhir dari waktu yang sudah ditentukan menurut keterangan orang-orang yang tertawan di Tanah Perdikan itu. Besok, jika kita sudah mendapatkan sedikit keterangan tentang orang-orang ini, aku akan kembali lagi ke Pajang. Mudah-mudahan orang-orang itu tidak terlepas dari tangan kita. —
      Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa dibebabi tanggung jawab oleh Panembahan Senapati.
      Tetapi Agung Sedayu memang tidak akan ingkar. Karena itu, ia harus berusaha sebaik-baiknya, agar orang-orang itu benar-benar tidak lolos dari tangannya.
      .Dengan demikian maka Agung Sedayu telah bertekad untuk melakukan tugas itu sebaik-baiknya, karena persoalannya akan menyangkut masalah yang luas.
      Karena itulah, maka Agung Sedayu harus membicarakan semua rencana dengan sebaik-baiknya. Bersama dua orang petugas sandi yang diperbantukan kepadanya maka Agung Sedayu telah menyusun rencana pengamatan. Sementara itu, bersama Panglima pasukan berkuda Agung Sedayupun telah menyusun garis hubungan yang sebaik-baiknya.
      — Kami berusaha untuk tidak membuat kota ini gelisah dan resah — berkata Agung Sedayu — karena itu gerakan pasukan akan diusahakan sekecil-kecilnya. —
      — Tetapi jangan karena itu, justru pasukan kita menjadi korban. Jika kita terpancang kepada gerakan pasukan yang kecil, namun tidak seimbang dengan kekuatan lawan, maka hal itu justru akan sangat merugikan kita sendiri. Lebih baik timbul kegelisahan sesaat, tetapi tugas kita dapat diselesaikan dengan baik. Kemudian kita akan dapat memberikan penjelasan kepada penduduk kota ini apa yang telah terjadi. Dengan demikian maka ketenangan akan segera pulih kembali. Sementara itu kita tidak melakukan satu tindakan yang sia-sia dan menaburkan korban tanpa arti. —
      Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti sikap Panglima pasukan berkuda itu. Ia tidak mau terjebak dalam kesulitan hanya karena terlalu perasa dan pertimbangan yang tidak berkesudahan.
      Karena itu, maka katanya — Baiklah. Aku akan selalu memperhitungkan kekuatan yang pantas untuk mengatasi jika timbul kesulitan. —
      — Kita harus menyediakan pasukan dua kali lipat dari kekuatan yang kita perkirakan pada lawan. Dengan demikian maka kecil sekali kemungkinan, bahwa kita akan terjebak — berkata Panglima itu. Lalu — karena itu, aku sudah menyiapkan pasukan kecil, pasukan sedang dan pasukan yang besar. Memang kita tidak perlu berlebih-lebihan mengerahkan pasukan. Tetapi dengan satu keyakinan untuk tidak akan gagal. —
      — Aku mengerti — sahut Agung Sedayu — aku akan mengingat semua persetujuan diantara kita serta jalur yang harus dilewati. Di barak pimpinan pasukan berkuda semua laporan akan kami sampaikan terutama dalam hubungan dengan pasukan. —
      — Aku atau wakilku akan selalu berada ditempat dalam
      waktu-waktu yang gawat ini — berkata Panglima itu.
      Demikianlah, maka Agung Sedayupun sudah memahami jalur yang harus ditelusurinya sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang dihadapinya. Namun Agung Sedayu memang tidak ingin menggerakkan pasukan yang berlebihan.
      Hari itu pengamatan atas rumah Kiai Sasak dilakukan oleh Agung Sedayu, Glagah Putih dan kedua petugas sandi itu. Tetapi mereka tidak bergerak berpasangan. Tetapi mereka telah bergerak sendiri-sendiri. Namun ternyata hari itu mereka sama sekali tidak menjumpai sesuatu yang pantas mereka anggap penting.
      — Jika demikian, semuanya akan berlangsung dihari terakhir — berkata Agung Sedayu didalam hatinya.
      Ternyata Glagah Putihpun sependapat, sehingga tugas mereka dihari berikutnya tentu akan menjadi cukup berat.
      Namun yang paling pelik bagi Agung Sedayu, Glagah Putih dan para petugas sandi adalah perintah Panembahan Senapati untuk berusaha menyelamatkan keluarga Kiai Sasak. Mereka belum tahu dimana keluarga itu disembunyikan -. Jika mereka bertindak atas orang-orang yang besok akan berkumpul di rumah Kiai Sasak, maka ada kemungkinan bahwa keluarga Kiai Sasak itu akan menjadi korban. Namun sudah barang tentu, mereka tidak akan melepaskan orang-orang itu seandainya orang-orang itu telah berkumpul di rumah itu.
      Usaha terakhir yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu untuk mengetahui serba sedikit tentang keluarga Kiai Sasak adalah tugas yang terpenting harus mereka lakukan. Menangkap dua orang yang bertugas di Mataram itu sendiri.
      — Malam nanti, kita harus mempunyai bahan yang lebih lengkap — berkata Agung Sedayu. —
      — Apa yang dapat kita lakukan? — bertanya salah seorang petugas sandi itu.
      — Aku dan Glagah Putih sekali lagi akan pergi ke rumah Kiai Sasak. Mudah-mudahan terbuka satu jalan untuk dapat mengetahui dimana keluarganya disembunyikan — berkata Agung Sedayu.
      Kedua petugas sandi itu mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka berkata — Bagaimanapun juga kedua orang itu tidak boleh lolos. —
      Agung Sedayu menarik nafas panjang. Yang dihadapi adalah tugas ganda yang berat. Ia harus berusaha untuk tidak mengorbankan pihak yang manapun juga.
      Sebagaimana direncanakan, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih malam itu telah pergi ke rumah Kiai Sasak. Para petugas sandi yang diperbantukan kepada mereka, melepas keduanya dengan perasaan yang tegang. Namun para petugas sandi itu kemudian telah mendengar kemampuan tentang keduanya, sehingga memang keduanya pantas untuk mengemban tugas yang berat itu.
      Agung Sedayu dan Glagah Putih sengaja memasuki halaman rumah Kiai Sasak pada saat yang masih belum terlalu malam. Dengan ketajaman penglihatan dan pendengaran mereka, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih mampu menyelinap mendekati ruang tengah.
      Namun mereka memang harus berhati-hati sekali. Di-serambi gandok masih ada dua orang yang duduk diamben panjang. Agaknya keduanya memang bertugas mengamati keadaan. Tetapi karena mereka merasa bahwa tempat dan kerja mereka tidak diketahui oleh orang lain, maka mereka tidak merasa perlu untuk terlalu tegang dalam tugas mereka.
      — Kita harus dapat menemukan Kiai Sasak — desis Agung Sedayu.
      Glagah Putih mengangguk-angguk keciL Dengan sangat berhati-hati mereka telah bergeser memasuki longkangan. Dengan kemampuan yang mereka miliki, keduanya
      berhasil melekat dinding ruang samping.
      Beberapa saat mereka menunggu. Namun mereka tidak mendengar sesuatu.
      — Apakah mereka berada diruang tengah? — desis Glagah Putih.
      — Tetapi kita sudah mencoba mendengarkan. Ruang tengah itupun rasa-rasanya sepi. Kita tidak mendengar tarikan nafas sama sekali — sahut Agung Sedayu.
      Glagah Putih tidak menjawab lagi. Namun ia masih saja duduk melekat dinding.
      Namun dalam pada itu, terdengar suara agak jauh. Namun mereka mengerti maksudnya.
      — Tidurlah Kiai — terdengar suara yang berat — kau tidak usah berpikir apa-apa lagi. Kau tidak mempunyai pilihan. —
      — Jika kalian menyakiti anak isteriku, aku akan membunuh kalian semua — berkata Kiai Sasak — meskipun aku menjadi semakin tua, sudah aku katakan, ilmuku akan sanggup membunuh kalian dalam waktu sekejap. —
      — Kami percaya kemampuan Kiai — terdengar suara yang berat itu — tetapi bagi kami, kemampuan Kiai itu tidak berarti apa-apa. —
      — Anak iblis — geram Kiai Sasak.
      Terdengar suara tertawa. Dengan nada datar orang itu berkata — Besok. Kiai akan bertemu dengan orang yang berhak memberikan penjelasan kepada Kiai. Tetapi yang akan dikatakannya tidak akan berbeda dengan yang aku katakan sekarang ini. Kiai hanya diminta untuk memberikan tempat ini bagi kegiatan kami disini. —
      — Kenapa kau tidak memilih tempat lain? — geram Kiai Sasak.
      — Kiai kami anggap keluarga sendiri. Disini Kiai tidak
      berarti apa-apa. kenapa Kiai tidak berpaling kepada sanak kadang di Madiun saja? Isteri Kiaipun berasal dari Madiun. Nah, apa lagi yang kurang dari pilihan kami? Sayang, bahwa perhitungan kami tentang Kiai agak keliru. Terutama sikap Kiai, sehingga kami harus membawa isteri dan anak gadis Kiai itu — terdengar jawaban yang agak lamat-lamat.
      — Disini aku menemukan kedamaian. Aku tidak lagi diganggu oleh ilmuku sendiri karena aku tidak pernah mempergunakannya lagi. Tidak ada orang bahkan tetangga-tetanggaku yang pernah menyebut tentang ilmuku. Namun kalian iblis jahat. — geram Kiai Sasak.
      — Sudahlah Kiai. Tidurlah. — jawab suara yang berat
      itu.
      Suasana menjadi hening. Namun Agung Sedayu tiba-tiba saja mendengar langkah mendekat. Pintu berderit dan kemudian selarak yang dipasang.
      Sementara itu, terdengar suara lebih mendekat dari yang didengarnya sebelumnya — Jangan mencoba untuk lari Kiai. Karena jika Kiai melarikan diri, akibat bagi keluarga Kiai akan sama saja dengan jika Kiai menolak tawaran kami seluruhnya. —
      — Persetan — geram suara yang lebih dekat lagi. Merekapun kemudian mendengar desah perlahan — Semoga Yang Maha Agung melindungi anak isteriku. —
      Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi semakin yakin, bahwa yang ada didalam bilik itu adalah Kiai Sasak. Karena itu, maka Agung Sedayupun kemudian bergeser melekat didinding sambil berbisik perlahan — Kiai Kiai Sasak. —
      Tidak terdengar jawaban. Namun Agung Sedayu dan Glagah Putih yakin bahwa suara itu didengar.
      — Kiai — sekali lagi Agung Sedayu mengulang.
      Kiai Sasak memang mendengar suara itu. Karena itu,
      maka iapun bergeser mendekat dinding. Dengan hati-hati ia berdesis — Aku mendengar namaku dipanggil. —
      — Ya. Aku memanggil namamu Kiai — jawab Agung Sedayu.
      — Siapa kau? — bertanya Kiai Sasak hampir berbisik.
      — Aku seorang petugas sandi dari Mataram. Aku tahu kesulitanmu. Dan aku tahu bahwa dirumah ini hadir orang-orang yang tidak kau kehendaki, — jawab Agung Sedayu.
      — Pergilah ke pakiwan. Kita dapat berbicara lebih baik. Bukankah kau tidak perlu dikawal oleh orang-orang itu ka- , rena mereka tidak akan takut kau melarikan diri? — bertanya Agung Sedayu.
      — Baik. Aku akan pergi ke pakiwan. — jawab Kiai Sasak.
      — Aku mendahuluimu — desis Agung Sedayu pula.
      Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih-pun telah pergi ke pakiwan. Sementara itu Kiai Sasakpun telah keluar pula dari biliknya.
      — Kenapa kau bangun lagi Kiai? — bertanya orang-orang yang ada dirumahnya, yang masih duduk di ruang dalam selain yang berada diserambi.
      — Aku akan ke pakiwan, — jawab Kiai Sasak.
      — O — Orang itu mengangguk-angguk. Katanya pula — semakin tua orang memang semakin sering ke pakiwan — lalu katanya kepada seorang kawannya — antar Kiai Sasak ke pakiwan. —
      — Kau kira aku takut pergi sendiri? Persetan. Aku tidak akan lari. Jika aku mau lari dari bilikku itupun aku dapat melarikan diri. —
      Orang itu tertawa. Katanya — Baiklah. Pergilah sendiri. —
      Kiai Sasak menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian, maka iapun telah berada di dalam pakiwan.
      Diluar dinding pakiwan Agung Sedayu sudah menunggu. Glagah Putih bertugas untuk mengawasi keadaan.
      — Apa yang akan kau katakan? — bertanya Kiai Sasak.
      — Pancinglah agar orang-orang itu mau membawa isterimu kemari meskipun hanya sebentar. — berkata Agung Sedayu.
      — Bagaimana mungkin — jawab Kiai Sasak — jika iste-riku dibawa kemari, aku dapat membunuh mereka semuanya untuk membebaskan isteriku itu. —
      — Tetapi anakmu? — bertanya Agung Sedayu. Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya —
      Beri aku jalan untuk melakukannya. —
      — Kiai. Bukankah Kiai dapat mengatakan kepada mereka, bahwa Kiai akan bersedia melakukan apa saja, tetapi Kiai harus yakin bahwa anak isteri Kiai masih selamat. Kita ingin melihat mereka meskipun berganti-ganti seandainya mereka tidak mau membawanya bersama-sama karena mereka takut Kiai akan ingkar, — berkata Agung Sedayu. — bahkan barangkali akan lebih baik jika mereka membawa anak dan isteri Kiai bergantian. Dengan demikian memberi waktu yang lebih luas kepada kami untuk mengetahui, dimana mereka disembunyikan. —
      Kiai Sasak nampaknya masih juga ragu-ragu. Sekali lagi ia bertanya — Siapakah kau sebenarnya? —
      — Sudah aku katakan, aku petugas sandi dari Mataram — jawab Agung Sedayu — aku ingin menolong Kiai membebaskan anak dan isteri Kiai, karena kami tahu bahwa Kiai tidak tersangkut dalam gerakan orang-orang yang mengaku dari Madiun itu. Aku yakin, mereka bukan pengikut Panembahan Madiun yang baik. Tetapi mereka ingin mendapat keuntungan bagi diri mereka sendiri. —
      — Baiklah Ki Sanak — berkata Kiai Sasak — aku akan minta mereka untuk membawa anak dan isteriku. —
      Ternyata Kiai Sasak tidak ingin terlalu lama berada di
      pakiwan agar tidak membuat orang-orang itu curiga. Sejenak kemudian setelah membasahi kaki dan tangannya, bahkan wajahnya, Kiai Sasakpun kembali ke ruang dalam.
      — Nah, sekarang silahkan tidur — berkata orang yang mengawasinya.
      — Tidak. Aku sedang mempertimbangkan satu langkah yang agaknya memang tidak dapat aku hindari — berkata Kiai Sasak.
      Kiai Sasak yang kemudian duduk diantara mereka yang mengawasinya itu kemudian berkata — Aku memang tidak mempunyai pilihan lain. —
      — Apa yang Kiai maksud? — bertanya orang yang mengawasinya itu.
      — Baiklah. Aku akan menerima kedatangan orang yang aku sebut-sebut itu besok dan bersedia bekerja bersama, asal isteri dan anakku selamat — berkata Kiai Sasak.
      — Bagus — berkata orang yang mengawasinya — aku menjamin bahwa isteri dan anakmu selamat. —

      ***

      Sumber djvu Koleksi Arema

      lanjut ke kitab 224 (III-024)

  15. dimana di taruh downloadnya kitab III-23? tulung mas, paklik, pakdhe, mbah? aq ora nemokake!

  16. Monggo di unduh Ki sanak
    https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2009/04/adbm-jilid-223.pptx

  17. Nganglang tengah wengi Pakdhe… :))

  18. sangat keern penggambaranya .. mengingatkan [ada jaman dulu .. gue suka banget asama tempooe dulu ./. 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: