Buku III-12

212-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 20 April 2009 at 16:18  Comments (133)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

133 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nomor siji
    rong ono opo2

    • Nomer kalih

      • nomor tiga…

        • Ngene ae yo iso

          Nomer papat. He he..

          • Soal antri aku selalu kalah karo KI Banuaji, Ki Gonas dan Ki Arema …..

            Pulang kerja …… bisa leyeh-2 sambil menikmati kitab 211. Sementara Cantrik yang lain baru mau kerja sambil menggerutu … he he heeeee “What a beautiful Monday.”

            • iki kiro-kiro yen comment di balas-balas terus isoh tekan ngendi yo….???
              tumut antri nyai…suwe ora jamu…

              • nek dibales terus iso tekan mbangkok … suwe ora njemur

                • coba ah

                  • K
                    e
                    j
                    e
                    p
                    i
                    t
                    !

                    • wah ora iso ambekan aku..kepepet..iki

      • iki lak ki mbeling bakal melu-melu…

        • aku ra mbeling…
          aku ra melu-melu…

          nomer sekawan…gangsal…genep…

          • Selamat pagi…..Ikut ngantri disini …

          • lha rak tenan tho….

          • three mas kenthir-e wis kumplit

            • melu mbeling ah

        • Saya termasuk mbeling gak ya

          • termasuk ki arema,..dadi ketua cantrik mbeling

            • wah…..

              he he….

              siap……

    • nomor 2

  2. nang kene iyo baru dibuka alas’e…

  3. nomer telu

  4. Disini Buka juga……
    Antri Lagi….

    • Nomor ampek……

  5. nyi untari senengane bales2an dewe

    • shadow boxing… ajarane ki pandan ➡

  6. taksih sepen

  7. Mending urut kacang neng kene we mumpung isah sepi….

  8. wah ..bener kih Ki Pandanalas….jurkune ketinggalan bae….ketinggalan bae……isin…hihihi…

  9. nderek antri….

  10. pergeseran nilai dalam masyarakat…

    malam pengantin wanita

    jaman dulu, mempelai wanita memasuki kamar pengantinnya masih mengenakan gaun pengantinnya lengkap, dan menuju ranjang pengantin kemudian tiduran telungkup dengan perasaan harap-harap cemas, was-was, deg-degan dan tubuh panas-dingin, tanpa suara menunggu mempelai prianya berbuat sesuatu.

    kemudian terjadilah pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sehingga pada jaman berikutnya…
    mempelai wanita memasuki kamar pengantinnya sudah dengan gaun tidur lumayan tipis dengan bagian dada rendah serta lumayan pendek sebatas pangkal paha lalu menuju ranjang pengantin kemudian tiduran miring membelakangi mempelai prianya sambil berkata lirih: “f*** me if you can.”

    kemudian terjadi lagi pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sehingga pada jaman berikutnya…
    mempelai wanita memasuki kamar pengantinnya sudah tanpa sehelai benangpun lalu menuju ranjang pengantin, kemudian tiduran telentang sambil berkata lantang: “mas…, jangan seperti yang sudah-sudah ya, cuma tahan 10 menitan, gw baru aja on, kamu sudah selesai, beda banget sama mantan pacar gw dulu yang sanggup dari bedug magrib sampai azan subuh”.

    malam pengantin pria

    jaman dulu, mempelai pria memasuki kamar pengantin masih mengenakan gaun pengantinnya lengkap, dan menuju ranjang pengantin, dimana sudah tergolek mempelai wanita yang tidak kalah lengkap gaun pengantinnya, kemudian pria tersebut mulai satu persatu melucuti pakaiannya sendiri, dan pada saat melepaskan bagian terakhir dari busana mempelai wanita, terdengar adzan subuh berkumandang.

    kemudian terjadilah pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sehingga pada jaman berikutnya…
    mempelai pria memasuki kamar pengantinnya hanya dengan kaus singlet dan celana pendek lalu menuju ranjang pengantin yang sudah tergolek mempelai wanita dengan gaun tidur lumayan tipis, sambil bibirnya terus menghisap rokok, butuh waktu satu-dua jam untuk untuk terus merokok dan merokok sampai akhirnya baru bisa memulai tanpa foreplay, selesai dalam 10 menitan.

    kemudian terjadi lagi pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sehingga pada jaman berikutnya…
    mempelai pria memasuki kamar pengantinnya sudah tanpa sehelai benangpun lalu menuju ranjang pengantin yang sudah tergolek mempelai wanita, sambil menggengam dompet yang kemudian dilemparkannya kearah mempelai wanita seraya berkata lantang: “kamu boleh ambil semua isi dompet itu, gw cuma pengen telentang… kamu yang ‘kerja’ diatas.

    maaf kalau agak penuh penjaga… (fulgar) 🙂

    • guru kencing berdiri, murid kencing di lancingan:

      Di kamar pengantin Pandan Wangi:

      “Wangi, sekarang kita sudah resmi berkeluarga. Tidak seharusnya ada diantara kita ada rahasia. Kita harus saling terbuka” kata Swandaru.
      “Iya kakang. Aku menurut saja”, jawab Pandan Wangi yang kemudian mengambil kain dan membuka pintu kamar.
      “Mau kemana Wangi?”
      “Mandi dulu kakang”, jawab Pandan Wangi sembari menutup kembali pintu kamar.
      Sementara menunggu isterinya, Swandaru memilih-2 kain untuk ganti setelah mandi nanti.

      Sejenak kemudian Pandan Wangi masuk kembali ke kamar hanya dengan kain yang dibebatkan melilit tubuhnya. Sambil menyelarak pintu kamar, tangan kirinya membuka lilitan kainnya dan berkata:
      “Kakang, aku sudah terbuka sekarang…”.
      “Bukan main!” seru Sandaru dengan mata menjelajahi tubuh isterinya.
      Dengan air liur yang masih menetes Swandaru segera menyambar kain yang disiapkan dan melangkah keluar sambil berbisik: “Tunggu abang ya sayang!”
      …..
      Dengan bersenadung Swandaru masuk kekamar, dan..,
      “Tha thaaaa…, lihatlah aku Wangi!”, seru Swandaru sambil melepaskan seluruh kainnya.
      Tanpa malu malu Pandan Wangi melihat suaminya yang berdiri dengan gagahnya. Saat pandangannya berhenti di bawah perut Swandaru, tiba tiba — “ Aaaw!” Pandan Wangi berteriak kecil sambil menutup mulutnya.

      “Gimana, Wangi?”, dengan bangga Swandaru bertanya kepada istrinya.
      Sambil menghela napas, Pandan Wangi menjawab: “Duh kakang…, Aku bingung gimana aku harus ngegedein yang ITU?”

      • Mohon maaf, bukankah pembaca ADBM boleh semua umur?
        Mohon pembaca yang di bawah 17th ngacuungg!!

        • Maaf Ki Sanak ….. tulisan di atas membuat saya malu ……..
          Maksud saya …… “saya ingin nambahi tapi merasa sedikit malu ….”

          Karena saya belum 17 tahun ……
          (Maksud saya ketika Pak Harto jadi Presiden untuk ke lima kalinya 🙂

          Saya takut kalau Nyi Mala, Jeng Nuniek (sing single) nggak bisa tidur ….. 🙂

          • Hua wkwk wkwk
            senengane ngomong saru

      • ternyata sg masih melilitkan cambuk di pinggangnya…

        • ADBM tidak untuk untuk semua umur Ki, tapi 15 tahun keatas.
          Dan sementara PW berharap kakang SG menguraikan cambuknya.

          Selamat pagi semua,
          berangkat kerja sinambi maca rontal 211
          Nuwun Nyi.

      • Ooops…., seribu ma’af. Rupanya tulisan saya di atas menciderai budi luhur beberapa cantrik.

        Nyi Seno, mohon kalau bisa dihapus saja tulisan itu untuk menjaga kenyamanan membaca di padepokan ini.
        Suwun…

    • Jaman dulu…..
      Malam pertama tidak terjadi apa-apa, bahkan malam kedua, kadang-kadang sampai seminggu tidak terjadi apa-apa, karena pengantin wanita masih malu dan takut sama “manuk cucak rowo” (pengantin baru kenal dan dijodohkan)

      kemudian terjadilah pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sehingga pada jaman berikutnya….
      Malam pertama tidak terjadi apa-apa, karena mereka telah kehabisan tenaga akibat “pertempuran” yang telah dilakukan pada malam sebelumnya, dan sebelumnya, dan kira-kira 6 bulan sebelumnya.

      kemudian terjadilah pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sehingga pada jaman berikutnya….
      Malam pertama tidak terjadi apa-apa, malah sang istri siap-siap pergi dan bilang “mas, tidur aja sendiri, om tono sudah nunggu di depan”.
      Sambil jalan kemudian berkata “ingat mas, kontrakmu hanya sampai bayi ini lahir dan jangan nuntut apa-apa sebagai suami, dan tutup mulutmu kalau masih ingin mendapat sisa pembayarannya”
      Kemudian pengantin wanita keluar kamar dan menutup pintunya.

      kemudian terjadilah pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat, sehingga pada jaman berikutnya….
      Yang pasti malam pertama tidak terjadi apa-apa, tetapi berhubung jaman ini belum terjadi, jadi saya tidak bisa cerita apa-apa….!

      He… He… He…

    • kudu jujur njawabe … ki banu termasuk pengantin laki2 sing type mana?

    • Wah…. Kalau tentang pengalaman pribadinya ki banuaji ini, aku ndak ikutan lho ki

  11. Terima kasih Ki Gede dan Yi Seno
    Akhirnya Tuntas juga mempelajari kitab ADBM walaupun agak terbalik, dari pertengahan ke akhir kemudian dari awal ke pertengahan.
    Di bilik Ayahanda, jilid awalnya suah menghilang entah kemana, hingga sebelum ada adbmcadangan saya kesulitan menuntaskan kitab ADBM

  12. yang mengherankan adalah pasangan AS SM dan SG PW kok bisa barengan belon punya momongan ya…, pasti ada sesuatu yang salah dalam hubungan suami istri di antara mereka.
    atau mereka pake kontap- (kontrasepsi cukup dengan menatap?)
    …..
    sementara itu panembahan senopati anaknya udah bececeran di tiap simpangan…

    • Lha kan ini pertanyaanku kemaren sepertinya sdh ada yg jawab

      • pertanyaan ini berhubungan dengan pengalaman malam pertama ki banu, sapa tau ada benang merahnya gitu..

        • Sebenarnya jawabannya ada didepan mata, selama ini agung sedayu dan swandaru masih memerlukannya sebagai senjata saktinya yaitu cemetinya, jadi jangan heran kalau guru mereka kyai gringsing memilih untuk tidak menikah. Sebagaimana uwak guru mereka yaitu ki pandan alas

          • rasanya cucu ki pandan alas yang jadi istri mahesa jenar

  13. Sugeng enjing Nyi Seno , Ki GD

    abdi mah bade ngiringan ngantri .

  14. Absen…
    Nunut ngangsu lan nunut ngantri…

  15. antri
    sambil sarapan pagi 211

  16. hiks.. keliatannya mulai sakaw nih..
    gak sabar nunggu kitabnya diwedar 🙂

  17. IKUTAN ANTRI..SAMBIL ABSEN….

  18. selamat pagi…..aku ikut antri ah.

    kelihatannya udah masuk dikitab Wiro Sableng ya ( 212 )

  19. Sugeng enjang

  20. melu absen……sekalian ngisi daftar hadir

  21. langsung itut antli disini lagi

  22. ikut ngantri
    mudah-mudahan ngga sampe makan siang kitab udah di wedar

  23. ikut antri ya …. sambil tersenyum tentunya…

  24. tumut ngantri, mugi saderenge wayah rolasan sampun kawedar.

  25. Antri malih nggeh….

  26. ikut antri ah..

  27. Waktu saya masih kecil dulu, di jaman “taman bacaan” yang dibanjiri komik-komik silat menjadi alternatif bagi anak-anak mengisi liburan, ibu saya menerapkan sensor terhadap bacaan yang saya sewa bersama teman-teman. Saringan yang terketat, tentu saja, adalah po*nografi. Maklum, namanya juga komik, jadi srempetan po*no sedikit saja sudah membuat kebat-kebit deg-deg plas remaja-remaja kencur kelas 6 SD atau SMP, karena ada visualisasi.
    Untunglah, waktu itu ada seorang penulis yang meringankan kami berdua. Ibu tidak begitu repot membaca semua buku yang akan saya baca, saya juga tidak perlu bingung bertanya-tanya, apakah bacaan yang saya pilih dan terlanjur dibayar dengan uang saku yang tidak seberapa besar itu bisa lolos dari sensor ibu. Penulis itu adalah, siapa lagi kalau bukan SH Mintardja. Di rumah kami, karya-karyanya bukannya disensor, tetapi dinikmati bersama, jadi bahan obrolan, diskusi, sampai pertengkaran (dengan kakak, bukan dengan ibu). Bukan hanya mungkin, nilai-nilai yang terbaca oleh benak kecil saya waktu itu pasti ikut andil membentuk kepribadian saya sekarang ini.
    Mungkin itu yang membuat saya merasa sedikit terganggu ketika membaca komen yang “nggak SHM banget” di edisi ini. Rasanya seperti ada yang menodai kenangan masa kecil saya.
    Weleh, kok malah jadi sentimentil begini. Sudahlah, ma’afkan saya. Ini cuma ngudarasa. Bukan meksa-meksa.

    nb (nambah): jujur saja, saya senang juga menikmati guyon seperti itu. Saya cuma kaget menjumpainya di sini. Sekali lagi, ma’af. 🙂

    • nek jujur : klangenane prio2 sing wis aqil baliq mesthi seneng mbahas comment2 edisi Wiro Sableng iki … terutama sing gek semangat-semangate mbahas perjuangan..

      Yo iku bedane perjuangan jaman ndisik karo jaman saiki .. (cuman beda darah setitik saja koq)

      • jaman saiki malah wis angel dibedake… lha perkoro darah setithik wis ono ahli reparasine… hehehe…

    • kan dulu banget suka ter kaget kagetnya nyi…
      sekarang… bikin kaget suami malah… hehe

    • Ki Mahisa Murti, mungkin ingat nyanyian ini ya :

      Syalala la la la la la la,…………
      Betapa hati gembira, …………
      Kini hari ulang tahunku, ………..
      Bertambah dewasalah aku,……..

      Diam-diam kukunci kamar,…………
      Ku berkaca, berputar-putar,……..
      Ku berkhayal seperti putra raja, …..
      Setelah sadar ku tertawa,………

      He he he he, …….

      • maaf Ki..
        saya bener-bener gak tau lagu itu… lagu siapa ya ?

        (sayayangtidakpernahberputardidepankaca)

        • walah tentunya nyai ga ngalamin masanya tety kadi, erni johan, lilis suryani.., kalo ga salah itu lagunya salah seorang dari angkatan mereka itu – lilis suryani -pencipta lagunya titik puspa -lagu riang mirip langu “gang kelinci”

          kalo angkatan nyai mungkin akrabnya sama iis sugianto cs…???..atau jamannya rinto harahap?… sayang saya ga suka lagu2 mereka, hehehehe,

  28. Sekar Mirah itu semakin hari semakin kesengsem kepada Agung Sedayu suaminya…., lha akhir2 ini pada malam2 berdua mereka AS selalu mateg aji kakang kawah adi ari2….

    • maksude opo ki? opo aji kuwi iso dienggo menggandakan sebagian2 ?

      • Kalo begitu threesom* dong
        wah jadi ngomong ‘saru’

        • jangan saru ki, 4 some namanya

          • Gak beda disini: “antriii…..i”

    • enak tenan jadi sekar mirah, bisa poliandri tanpa merusak suasana….., makanya makin cinta sama kakang nya..

  29. Nderek saru… eh antri…!!!!!
    Kesetrum kulo.. 😀

  30. wonten kabar menopo niki ???
    taksih bade saru saru an utawi vulgar vulgar an ???

    wau ndalu kawulo makaryo ngantos subuh je…..
    nganglang deso….

    • triple xxx ki…….nyai PD ra wani nerusno takut sama aji2 ne AS

      • triplex kuwi opo meh nggawe gandok anyar ki yudha

  31. coba ikutan bisa masuk ndak ya..?

  32. Blaiikkkk….
    Maaf poro sesepuh…
    saya pinginnya ikutan jadi cantrik, cuma ndak tau caranya..
    tunal tunul kok kluarnya begitu, mbok saya diajari..

    S diajari apa ya Ki Iban ?

    • Lhadalah…
      ternyata Nyi Senopati sendiri yang turun tangan.
      Maaf..saya lancang selama ini sudah ikut ngangsu kawruh diem2…
      mau ikutan kok kayanya ilmunya masih jauh..maklum dari padesan jd masih nol puthul..mau ikutan urun rembug sama cantrik dan bebahu laen kok kemarin keluar woro woro apa gitu(lupa)..EE..hari ini dah dibuka sudah langsung diadepin Nyi Senopati..
      Terimakasih buat semua..
      Semoga padepokan ini tetap berlanjut apapun yang nanti disuguhkan Nyi Senopati dan bebahu laennya..

      S semoga krasan ya Ki.. jangan sungkan bertanya pada cantrik lama

  33. nunut tekan nggodean..nunggoni muncule si kapak maut 212

  34. ketok-e agung sedayu ora sak angkatan karo WS-212, kuwi miturut Kakek Segala Tahu

  35. Wah..ilmu pasemone wis nggegirisi kabeh..arep ngguyu ndadak mikir disik..aji2 wae diplesetke, kakang kawah adi ari2 tegese poliandri; perjuangan dan pengorbanan darah yg setithik tegese (tidak perlu mengorbankan darah yg banyak..lho?), beda lagi Ki Jogoboyo lehe makaryo sampai subuh..kuat tenan!

    • lha lagi ngejar setoran sih ki…..

      [masih berpikir…nama ini kayake kenal di kantor deh….]

    • ki herry niku rak bebahu padepokan ingkang tugase ngintipi kitab …

  36. Menanti, menyambut datangnya cantrik ke 2 juta, siapakah gerangan? mari kita tunggu tanggal wedarnya,..

  37. Para cantrik sekarang wis jago elmu cerita nya … dari cerita berasarkan cover yg ada, sampai ke cerita XXX ..
    Klo dimanfaatkan dengan sayembara melanjutkan cerita ADBM yg belum tuntas di IV-96 .. pastinya mantap ..
    suwon

  38. ~ SELAMAT BER-HARI KARTINI NYI SENO ~
    Tak lupa juga untuk semua cantrik putri yang lain (Mbak Nunik, Jeng Mala dan liya liyanya…)

    • KARTINI…….habis gelap terbitlah terang nuwun Nyi Seno

      • Nyi Seno bener2 mewakili KARTINI jaman saiki…

        Matur sembah nuwun….

        • lha yo kok pas covere gambare kartini jaman mataram

    • matursuwun ki,
      semoga kartini2 indonesia benar2 membawa terang benderang dibumi pertiwi tercinta ini..amien…:)
      monggo nyi seno, kita buktikan kalo kita bisa…kekekkekekk..thx anyway..

  39. ngunduh kitab nang gandok 211 angel banget…….mulai pagi pedhot2 terus leyeh2 dulu sambil nunggu wedaran 212……..rapel ae

  40. matur suwun nyi seno….

    sampun kulo unduh kitabipun

    • Ki Jogoboyo

      nJenengan gugah Ki Widura. Mesakaken. Kancane wis pada ngempit kitab, Ki Widura isih mlungker kemulan sarung.

      • Ki Jogoboyo, Ki Arema

        Nek Gugah aku jangan di hoyog-hoyog, mmalah pingin merem.
        Cukup digawakne sego pecel ….. karo empal. Ambujne wae wis iso gawe aku tangi.

        Mataku, harus tak UCEK-UCEK, supaya bisa membedakan strip coklat muda di bajunya mbah KARTINI.

        Matur nuwun Nyi Seno.
        Adus disik dan sarapan nyambi moco.

  41. senopati tibak-e nunggu cantrik sing ngucapno selamat hari kartini…

    suwun nyi

  42. selamat hari KARTINI bukan KARTNI

    S ampun juragan… sudah diperbaiki 🙂

  43. yang pertama mengucapkan “selamat hari KARTINI” pasti langsung naik pangkat jadi putut 😀

  44. Wah…

    Ki Eteng hayeng lama tidak muncul.

    Muncul-muncul mendapat sampur untuk membagi kitab. Selamat Ki.

    Jangan ada cantrik yang tidak mendapat ya Ki.

    Yang nyrobot, tidak mau antri jangan diberi, supaya belajar antri dengan tertib.

    (he.he.., aku dewe senengane yo nyrobot)

  45. balapan moco kitab yo ki….

    maturnuwun nyai senopati

    • aku wis rampung

      • aku wis rong wulan kepungkur.

        • lho berarti positif ki ?

          • Ooooooo

            test positif – negatif to ki.

            seperti orang hamil saja….

        • aku durung rampung……loro2 ne ki

  46. tekan ngomah terus ngunduh kitab, mandi terus nikmati kitabe …..

    wah matur nuwun nyai Seno

  47. matur nuwun Nyi seno.

    • piye ngunduhe to ki Amir kita 312

      • cari aja di comment
        selamat berhari kartni eh kartini

  48. Terima kasih Nyai.
    Kitab 11 dan 12 sampun dipun unduh. Nenggo kitab 13.

  49. Thanks ………..

    Selamat Hari Kartini Nyi Seno

  50. Terimakasih Nyi Ngatini….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: