Buku III-09

209-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 18 April 2009 at 18:10  Comments (174)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

174 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ikut nemani para peronda, tp sambil nggarap anyaman bambu sing gak selesai2.
    Ini ada sedikit kacang klici sisa arisan bu demang. Lumayan buat kletikan. Monggo 😉

  2. Bu Nunik masih kerja wayah gini??..
    duh… sama dong..,
    sambil ngeronda.., sambil baca kitab
    sambil kerja juga nih…, maklum kejar setoran hahahahahaha..
    jenang arisan masih nyisa??.. biasanya ibu2 suka bawa kantong kresek buat bekel…, sampe ludes… hihi

  3. Inggih ki dewo, cari tambahan. Hasil panen kmrn dah ludes buat beli pupuk. Hehehe..jenengan kok ngertos kbiasaan tiyang estri nggih? Dadi isin. Niki jenang-e masih ada 5 biji. Jgn rebutan ya..hehehe..

  4. Nyi Nuniek,
    Untu-ku wis podo kropos ….. apa nggak camilan sing empuk-empuk tho?
    Ongkos mbayar tukang gigi kan mahal sekuaalliii. Apalagi musim paceklik seperti ini?

    Dalem mbokyo digawekno bubur kacang ijo. Por Favor!

  5. ki widura….

    rengginan kerso mboten ??? rengginan ala tiongkok….hehehehehe

  6. cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan solomon, yang letaknya di pasifik selatan.

    nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. untuk apa? kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

    inilah yang mereka lakukan, dengan tujuan supaya pohon itu mati. caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.

    lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. dan apa yang terjadi sungguh menakjubkan. pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.

    kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.

    akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. nah, sekarang apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan solomon ini? o, sangat berharga sekali! yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali ki sanak berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti ki sanak sedang mematikan rohnya.

    pernahkah kita berteriak pada anak kita?
    ayo cepat!
    dasar lelet!
    bego banget sih..!
    gini aja gak bisa..!
    ayo, jangan main-main disini.!
    berisik!
    bising!

    atau, pernahkah kita berteriak kepada orang tua kita karena merasa mereka membuat kita jengkel?
    kenapa sih makan aja berceceran?
    kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu?
    kenapa sih jarak dekat aja minta diantar?
    mama nggak usah cerewet!

    atau, mungkin kitapun berteriak balik kepada pasangan hidup kita karena kita merasa sakit hati?
    cuih! saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak?!
    bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa!
    aduh.. perempuan kampungan banget sih?!

    atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya.
    eh tolol, soal mudah begitu aja nggak bisa. kapan kamu mulai akan jadi pinter?

    ingatlah, setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka. ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan solomon ini. mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai.

    kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

    jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang ki sanak harapkan. coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan?!

    nah, tahukah ki sanak mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan, padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.

    mudah menjelaskannya. pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya . itulah sebabnya mereka harus saling berteriak.

    selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

    jadi mulai sekarang ingatlah selalu. jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. tapi, sebaliknya apabila kita ingin segera membunuh roh pada orang lain ataupun roh pada hubungan kita, selalulah berteriak 🙂 .

    hanya ada 2 kemungkinan balasan yang ki sanak akan terima. ki sanak akan semakin dijauhi, ataupun ki sanak akan mendapatkan teriakan balik sebagai balasannya.

    saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.

    sebuah renungan, semoga berguna…

    • Leres Ki Banuaji, mungkin itu sebabnya saya ngga suka nonton sinetron-sinetron kita, karena banyak sekali orang berteriak disitu…
      Kalau dipikir-pikir yo bener, lha wong kalau orang pacaran itu ya banyak bisik-bisiknya je :simile: (kecuali yang pacaran itu ABG/Angkatan Babe Gue, soalnya udah pada mesti pake alat bantu dengar semua)
      nah.. kalau sdh kawin baru teriak-teriak 😀
      eh ngga juga ya…

  7. salah ding, lagi pada bagi makanan ya…. malah bagi renungan…

    nggih kula nyuwun setunggal, kagem ngerencangi wedang kopi…

    • Balas

      Kata ini sepertinya baru ya.

      Perasaan selama ini tidak ada, apa saya yang kurang perhatian ya.

    • Maaf ki

      Saya bermaksud menulis seerti biasanya, ternyata masuk koment kw Ki Banyaji

  8. Wah

    Jeng Nunik kok melu ronda iki opo gak di srengenni garwane to.

    Meniko lho keng garwo mlungker piyambak ngekep guling, mesakaken.

    Wis rodo lengkap iki.

    Ki Kimin sepertinya belum datang ya.

    Wayang kulit lakon Dewa Ruci (bukan Bimo suci seperti yang saya sebutkan tadi)di JTV (TV nya Jawa Timur). Sekarang pas goro-goro.

    Sebentar lagi pamit ah, sampun ngantuk.

  9. Ki Jogoboyo,
    Matur nuwun untuk rengginane. Nanging radi aneh, Njeh?
    Punope didamel saking bubur sing di-garing-aken, lajeng digoreng ngangge jlantah sing uwis uuuiiireeengg?

    Rasane ya, OK, lumayan kangge lek-lek-an ….

    He hee ehee

  10. @ki arema, kulo taksih single and very happy (kata opie :-)) dados sing ngrantosi nggih namung guling..hehehe..
    @ki banu, boten nopo2 ki nek bade bagi2 renungan malih. Suka kok, biar tambah padhang otaknya, padhang hatinya dan moga padhang jalannya 😉

  11. @nyi nunik,

    nggih matur suwun camilannya nyi…

    memelasmen niku gulingipun, katisen….

  12. Maestro ki panganan opo tho?

  13. @lo joko brondong

    maestro:

    bahan,
    tepung beras 50kg,tepung ketan 50kg,gula merahkelapa 1 kw,air 30-40lt,kelapa 50butir,kelapa yang diiris 40-50butir,rebusan airdaun pandan 1 lt.

    pembuatan,
    santan kelapa dibagi 2bagian santan kental (perasan I)dan encer (perasan II). tepung beras dan tepung ketan dicampur dengan santan encer dan dimasak sampai setengah matang / agak mengental,lalu masukkan santan kental. lalu masukkan gula kelapa,setelah agak kental masukkan kelapa yang telah diiris tipis. adonan diaduk terus hingga matang dan kalis,lalu angkat dan dinginkan dansiap dipotong-potong sesuai selera.

    selamat menikmati…

    • dodol namanya tuh Ki banuji,..dodol,..hehe

  14. eh nuwun sewu, ki joko brondong maksudnya… 🙂

    • matur nuwun resepipun, sik mbales Gusti Allah.

  15. hwah,, sepi tenan iki…..

    timbangane dikancani nyi kunti kaya ki goenas, tak mapan ndisik…

    pareng, pareng…

  16. tak nganglang rumiyin nggih………..

    muteri padepokan……….

  17. Maestro atau bukan Maestro itu tidak penting buat saya, yg jelas saya membaca karya2 SHM sejak saya masih SD, lebih 30 tahun yg silam. Dimulai dgn baca buku2 koleksi bapak, kemudian waktu KR menerbitkan NSSI edisi baru (satu jilid berisi dua jilid edisi lama dijadikan satu) saya dan adik saya rela utk mengurangi uang jajan guna membeli NSSI yg terbit waktu itu 2 minggu sekali!!! Sampai sekarang saya masih gemar membaca kisah2 silat karangan SHM.

  18. maestro: membuat orang sakaw menunggu cerita kelanjutannya..

  19. Dia datang … tak pernah diundang …
    Dia pergi …. tak pernah bilang …
    Dipaksapun … tak pernah mau …
    Diusirpun ….. tak pernah berlalu …

    Itulah perasaanku ….
    hanya padamu …….
    Yang selalu menemaniku …
    tak mengenal waktu ….

    (Sambil menunggu di wedarnya kitab ….)

  20. Wah,renungan dari ki banuaji benar-benar mantap. Chicken soup for the soul-roti kehidupan-santapan rohani yang sangat bijak. Trims ki.

  21. Setidaknya ada 3 fungsi kaca mata yg saya tahu. Pertama sbg alat bantu utk melihat. Kedua utk perhiasan/aksesoris. Ketiga utk menyembunyikan kesan/ekspresi. Mata ibarat jendela sebuah rumah. Keluar ia memandang dunia lahiriah dan ke dalam ia mencerminkan dunia batin. Masalahnya adl utk apa kita menggunakan kaca mata dan kaca mata apa yg kita pilih? Kaca mata plus,minus,rangkap,berwarna atau BENING? Monggo ki sanak semua memilih! Mumpung gratis alias ratu (ora tuku) bin randhu (ora ndhuwit) he…he…he…

  22. wah, kapan nih kitabnya diear ? udah gak sabar lihat swandaru klepek-klepek …….

  23. wah, kapan nih kitabnya diedar ? udah gak sabar lihat swandaru klepek-klepek …….

  24. maestro buat SHM karena karya beliau sangat digemari para cantrik kalau cepat beredarnya atau lambat sama2 dapat mempengaruhi perasaan penggemarnya.

  25. Di 208 Raden Rangga berbincang dengan Glagah Putih soal kesaktian Joko Tingkir yang membunuh 40 buaya, Dadung Awuk, dan Kebo Ndanu alias kerbau ngamuk.

    Saya jadi teringat kuliah Pak Suripan Sadi Hutomo (waktu itu masih dijuluki Doktor Kentrung). Beliau menjelaskan mengenai bahasa perlambang dalam sejarah raja-raja Jawa, khususnya Mataram.

    Cerita yang kemudian melegenda itu adalah versi lain dari peristiwa yang sebenarnya. Bahasa perlambang yang digunakan sangat halus dan sekaligus canggih, sehingga cerita yang tersaji kemudian menjadi ‘pantas’ bagi sejarah perjalanan hidup seorang Sultan Hadiwijaya.

    Alur cerita yang sebenarnya sangat logis dan mudah dipahami. Kurang lebih menurut Pak Suripan seperti ini:

    Setelah mendapatkan kepercayaan dari Sultan Trenggana (dengan cara yang ngedab-edabi di NSII),Joko Tingkir kemudian masuk di lingkungan istana (kekuasaan). Dasar TukMis (batuk klimis alias mata keranjang) dia terlibat asmara dengan putri Sultan (Dadung Awuk bermakna “sengkeraning kedaton”) maka dengan alasan dia telah membunuh Dadung Awuk itu Joko Tingkir lalu diusir dari istana.

    Dalam petualangannya, Joko Tingkir kemudian sekali lagi berasmara ria dengan seorang gadis di sebuah desa. Penduduk desa itu marah, tapi dengan kemampuan politiknya, Joko Tingkir justru mampu membelokkan kemarahan masyarakat di desa itu sebagai jalan kembali ke keraton. Peristiwa ini terlukiskan dengan perlambang Joko Tingkir berhasil mengalahkan 40 buaya yang kemudian mendorong rakitnya (sang getek sinangga bajul, kawan doso cacahipun…?)

    Bagaimana caranya kembali ke istana? Maka dia lalu memasukkan sesuatu ke dalam telinga seekor kerbau (apalagi kalau tidak menghasut rakyat?) sehingga kerbau itu lalu mengamuk. Tentu saja hanya Joko Tingkir yang mampu meredakan amukan kerbau itu dengan memukul kepalanya setelah terlebh dulu mengeluarkan sesuatu dari telinga kerbau itu. Maka Joko Tingkir pun melenggang lagi memasuki jalur kekuasaan yang kemudian menempatkannya menjadi seorang Sultan.

    Sebenarnya NSII lebih dekat dengan versi aslinya. Ontran-ontran di Banyu Biru telah menghadapkan rakyat Banyu Biru dengan pasukan Demak. Ketika membaca NSIi, saya langsung berasumsi bahwa rakyat Banyu Biru-lah kerbau ndanu versi Ki S.H. Mintardja.

    Demikian,
    saya menyadari terbatasnya ingatan saya. Maka jika tulisan saya kurang bisa diterima pastilah itu karena kebodohan saya pribadi, bukan sumbernya (Pak Suripan).

    Salam.

    • Kalau menurut saya Kebo Ndanu itu kalau dalam NSSI adalah Arya Salaka:
      1. Kebo Ndanu yang mengamuk = Arya Salaka yang marah.
      2. Tidak ada yang bisa menenangkan Kebo Ndanu itu karena telinganya tersumbat oleh sesuatu oleh Karebet = tidak ada yang dapat meredakan kemarahan Arya Salaka karena Karebet sengaja memberi kesan Endang Widuri diculik olehnya.
      3. Karebet bertempur melawan Kebo Ndanu = Karebet bertempur melawan Arya Salaka.
      4. Kebo Ndanu reda kemarahannya setelah sumbatan di telinganya dibuka = Arya Salaka reda kemarahannya setelah Karebet memberitahu kondisi sebenarnya tentang hilangnya Endang Widuri.
      5. Karebet dapat menghancurkan kepala Kebo Ndanu = Karebet dapat mengendalikan sepenuhnya Arya Salaka.

      • Hebat.
        Ki Anggara masuk ke detil NSII dan menguraikan dengan tepat Arya Salaka sebagai Kebo Ndanu versi Ki SHM.

        Saya sengaja tidak masuk ke detil cerita karena NSII pun adalah rekaan, (Arya Salaka, Mahesa Jenar, Endang Widuri..) sementara Mas Karebet adalah tokoh nyata yang kelak menjadi Sultan Hadiwijaya.

        • Betul Ki, itulah hebatnya Ki SH Mintardja dalam menterjemahkan ceritera mengenai Kebo Ndanu dalam NSSI berdasarkan daya nalar yang masuk diakal meskipun tokoh2nya adalah tokoh rekaan. Kalau pengarang lainnya umumnya begitu saja menceriterakan Kebo Ndanu apa adanya seperti yang dikisahkan orang2 terdahulu. Itulah sebabnya saya setuju kalau Ki SH Mintardja disebut sebagai seorang Maestro.

          • Satu lagi, Ki Anggara..
            Naga Sasra Sabuk Inten sebenarnya juga bahasa perlambang. Naga Sasra = naga seribu = ular seribu = rakyat petani.
            Sabuk Inten = kekayaan.

            Tentu saja yang bisa menguasai rakyat dan memiliki kemampuan finansial untuk membangun pemerintahan pasti akan berkuasa.

            (yang saya tidak tahu, keris NSII itu memang ada atau sekedar rekaan Ki SHM saja karena pemahamannya terhadap bahasa perlambang?)

            • Memang sebenarnya ada Keris dengan dapur Nagasasra dan dapur Sabukinten.

              • Terima kasih infonya.

  26. Siiipppp Nyi

    Tampilannya lebih menarik.

    Nanti perlu ada doorprice bagi cantrik yang mendapat komen paling banyak.

    • setuju…..door pricenya mobil ya Ki Arema

  27. Walah ternyata Ki Balas banyak banget kirim koment ya,,,

  28. mak estrone wis rampung rung?

    nek ora rampung2..kitabe ora bakal diwedar lho ..

    (sing bener MA ESTRO opo PA ESTRO tho???)

  29. tampilan baru…,tiap yg komen dpt bonus “balas”…
    jadi inget jaman dulu.. 4 x 4 = 16,, sempat tidak sempat kudu di balas…,
    tentang SHM..hmmm..sepertinya beliau bisa membuat orang percaya bahwa ceritanya adalah tru stori…,,

  30. Seseorang disebut Maestro karena DIKENAL Piawai di bidang yg ditekuninya.
    Kita tau Idris Sardi Maestro Biola Indonesia
    Kita tau Soeharto Maestro & Ahli Strategi Ulung.

    SH. Mintardja ???

    PASTI DONK…

    SHM memang Maestro Cersil Indonesia.

    Menurut saya. Hanya dua orang Maestro Cersil Indonesia, yaitu SHM & KPH (Kho Ping Hoo).
    Ganesh TH & JAN Mintaraga untuk Komik Silat.

    Mengapa SHM Maestro ?
    Dia termasuk pelopor,
    Dia piawai dalam bercerita.
    Lihat kembali penjabaran ceritanya saat Si Seruling Gading Wirasaba (NSSI) meniup seruling (mengutip ulasan para pakar lho…)

    and last but not least…Tahun 70 – 80an, terbitan buku cersilnya selalu ditunggu-tunggu tiap bulan.

    Itulah MAESTRO CERSIL INDONESIA – SH. Mintardja

    Saluut….

  31. Kalau Maestro Cersil tahun 2000’an siapa ya?

  32. Waah sekarang untuk komen ada fasilitas “balas”. Ada kemajuan nih jeng seno…
    Senyummu kebahagiaan para cantrik

  33. 4 X 4 = 16
    Sempat tak sempat
    mesti dibalas….

  34. Ki SH Mintardja sangat pantas mendapat julukan sebagai Maestro cerita Silat Indonesia, karena karyanya yang begitu fenomenal, dan prestasi atau hasil karyanya jarang ada tandingannya.

    Beliau seperti
    Rudy Hartono di Bulu Tangkis.
    Affandy di bidang Seni Lukis.
    Utut Adianto di Catur.

    Banyak orang yang jago Bulu Tangkis, tapi jarang ada yang prestasinya menyamai Rudi Hartono.
    Banyak orang yang jago melukis, tapi yang bisa seperti Affandy bisa di hitung dengan jari.
    Banyak pemain catur yang kita miliki, tapi yang bisa menyamai Utut masih sulit untuk di jumpai.
    Indonesia pun tidak kurang banyak memiliki penulis, utamanya Cerita Silat, tapi sangat jarang yang karyanya se fenomenal NSSI, ADBM atau Pelangi di Langit Singosari.
    Kelihaian beliau dalam meramu cerita, juga menjaga karakter tokoh utamanya seperti Agung Sedayu, Swandaru dan Untara sejak episode awal sampai jilid terakhir yang tidak sempat diselesaikan adalah salah satu kehebatan beliau, padahal kalau kita hitung, rentang waktu antara jilid pertama sampai jilid terakhir sekitar 30 tahun !!! (1967 – 1999).

    Jadi tidak ada keraguan bagi saya untuk menjuluki Ki SHM sebagai Maestro Cerita Silat Indonesia.

  35. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia maestro adalah orang yang ahli dibidang seni, terutama bidang musik, seperti komponis, konduktor, empu.
    (maes·tro /maéstro/ n orang yg ahli dl bidang seni, terutama bidang musik, spt komponis, konduktor; empu)
    http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

    Sedangkan menurut Terjemahan Inggris -Indonesia on line
    maestro : n. pemimpin orkes simfoni. ahli musik

    Jadi?. jangan terperangkap dengan arti yang salah. udah sampe ujung eh malah arti yang sebenarnyapun kita ga tau.
    ga udah dianggap serius ah.., ntar diketawain anak2 lagi hehe.

    • ki dewo….

      banyak kok bahasa ‘gaul’ indonesia yg sering kadang menggunakan bahasa yg artinya justru lain….kayak maestro ini…..

      tapi yo uwis…..gak usah digagas….hehehehheeh

    • Secara kebahasaan, penggunaan kata Maestro memang sudah salah kaprah, tak kurang dari Harian KOMPAS yang sangat teliti dalam pemilihan kata pun mempergunakan istilah ini (Maestro) sebagai sebutan untuk orang yang sangat ahli dan meiliki prestasi fenomenal di bidangnya.

      Jadi saya kira tidak ada yang salah dengan penggunaan kata tersebut, karena menurut saya, penggunaan bahasa tidak semata-mata hanya berdasarkan arti kata perkata saja.

      Misalnya kata ‘mbah’ yang artinya secara harafiah adalah kakek, tapi sering dipergunakan sebagai sebutan untuk sesuatu yang dijuluki sebagai induk dari segala induk :). Contohnya dulu waktu wacana negara federal muncul dan kita lantas menganut otonomi daerah, maka ada yang ngomong bahwa Otonomi Daerah adalah ‘mbahnya’ Federal.

      Jadi menurut saya gak masalah kita mempergunakan kata Maestro di luar pengertian sebenarnya yang hanya sebagai sebutan untuk mereka yang memimpin orkes 🙂

      • kosa kata itu kan cuma masalah kesepakatan, kalau kita sepakat dan paham bahwa yang dimaksud itu adalah ya itu, ya itu lah yang kita ikuti, gitu aja koq repot

    • http://www.thefreedictionary.com/maestro
      Thesaurus:
      Noun 1. maestro – an artist of consummate skill (seorang seniman yang mempunyai kepiawaian sempurna)

    • Maestro
      Kamus Bahasa Inggris-Indonesia mengartikan maestro secara sederhana, yakni ’pemimpin musik simponi’ dan ’ahli musik.’
      Kamus Bahasa Indonesia juga memaknainya sebagai : orang yang ahli dalam bidang seni, terutama bidang musik, seperti komponis, konduktor.
      Di sisi lain, Bahasa Indonesia meletakkan kata ’empu’ sebagai padanan dari kata maestro itu, yang artinya adalah orang yang sangat ahli, terutama dalam pembuatan keris.

      Tentu saja bukan arti seperti yang terdapat pada kamus-kamus ini yang diterapkan dan dimaksudkan untuk menyebut sejumlah pelaku seni di Indonesia belakangan ini.
      Jika yang pertama terbatas mengacu pada musik, maka yang kedua merujuk pada kecanggihan membuat keris.

      Nampaknya, yang menjadi kata kunci di sana adalah ahli dalam bidang seni.

  36. SHM saya rasa bukan cuma maestro tapi mbahnya maestro, bukan cuma guru dalam sastra silat yang berhasil mengajak kita untuk ngintip bagaimana budaya jawa, bahkan beliau adalah mahaguru, walaupun ADBM ini terasa terlalu mataram sentris (ADBM memang bukan buku sejarah ya………….). kalau pada kisah-kisah SHM pada ADBM ada terasa lubang-lubangnya ya memang benul, seluruh penakhlukan mataram diceritakan oleh SHM dengan tutur yang mengagumkan, tapi sayang sampai beliau meninggal ada cerita yang tercecer yaitu penakhlukan kerajaan parahyangan

  37. Nyi Seno Ysh,
    Nunggu berapa balas hingga nyi Seno membalas dengan wedaran kitab 209?
    Nuhun pisan Nyi untuk balasannya.

  38. Tentang Maestro:
    Belakangan ini saya baru memperhatikan cara SHM menggambarkan sebuah perkelahian yang dasyat dan mendebarkan.
    Kehebatan SHM bukan saja terletak pada sisi-2 yang sudah dikemukakan oleh Kiai Ismaya, Ki Banuaji, Ki Truno Podang, dan sederetan nama yang telah menulis dibaris atas.
    Kehebatan SHM ternyata juga terletak pada PESONA bahasa yang membuat semua pembaca masuk dalam alam IMAJINASI / “MIMPI” (seperti Raden Rangga?) yang khusuk sekali.

    Coba Kisanak simak ………,
    bukankah SHM jarang sekali melukiskan DENGAN JELAS gerakan tangan, kaki, kepala, badan, yang benar-2 sesuai dengan tata gerak bela diri yang kita kenal sekarang (seperti karate, pencak silat, kuntau / kungfu, taekwondo, dll)? Namun kenapa kita bisa TERBAWA begitu jauh ke dalam alam yang ‘diciptakannya?

    Disinilah salah satu dari sekian banyak alasan yang membuat SHM pantas disebut MAESTRO pengarang silat jawa.

    Secara pribadi, saya tidak mau terlalu pusing terhadap ketidak-tepatan dengan fakta sejarah, sebab saya tidak sedang belajar sejarah.

    Komentar lain yang menggelitik adalah:
    Mengenai cerita yang berlatar belakangkan sejarah Pajang – Mataram, mengapa tokoh-2 dalam cerita ADBM tidak ketemu dengan tokoh-2 dalam Sayap-sayap yang terkembang? Inipun sebuah PERTANYAAN YANG LUCU SEKALI. Atau dengan perkataan lain kenapa Agung Sedayu, Glagah Putih yang berpihak pada Mataram – tidak ketemu dengan KASANDA (Puguh) yang sedang berada di Barak, karena tidak mau terlibat dalam perang SAUDARA tersebut. Atau mana yang lebih kuat antara Tanah Perdikan Menoreh (ADBM) dengan Tanah Perdikan Semboyan (SST)?

    Kalau kita baca tulisan Kho Ping Hoo, coba hitung …. berapa banyak cerita yang berlatar belakangkan Kekaisaran Mancu dibawah Kaisar Kian Liong? Paling tidak ada 6 judul (Baca sendiri Kisah Si Bangau Merah dan cerita seri maupun lepas lainnya).

    Namanya juga cerita fiksi …. mau pakai latar belakang yang cuma itu-itu saja untuk seribu jenis kisah … kan nggak apa-apa? (Wong ora gawe laporan ke Koramil, kok?)

    Wah ….. kalau mau diteruskan … kekaguman saya terhadap alm. SHM tidak akan bisa tertuangkan semuanya. Bahkan seandainya air di Kali Opak jadi tintanya, Hutan Perdikan Menoreh jadi penanya, dan tanah Mataram jadi kertasnya ….. tak akan sanggup memuat ungkapan kekaguman saya dan kekaguman para pembaca ADBM kepada SHM.

    Sorry kepanjangan ….. dalem langsung nyuwun pamit, kedah Tilem.

    Nuwun.

    • Setuju Ki Widura….
      yg penting …. dapat dinikmati….
      walaupun ada yg tidak sesuai dengan sejarah ya tidak masalah…. namanya juga cerita fiksi…

      cerita hayalan…. silahkan di khayalkan… sendiri
      dengan akal pemikiran si pembaca…. mau digambarkan seperti..apa. kehebatan tokoh yg dibawakan silahkan..

      nah yang membuat hebat tokoh…..yg dimaksud…. seperti agung sedayu…. ya sipembaca….ini lah yg hebat dari Ki SHM, dia bisa membuat sipembaca menggunakan otak… daya kahayalnya…. dan mengambarkan tokoh tersebut… hebat seperti Superman… atau seperti Rambo…

      bravooooo KI SHM..

  39. walah belum di wedar toch
    kitabnya….
    Nyi… Seno… Sudah Siang….
    kok… para cantrik belum di kasih Sarapan Kitab 209
    kasian Nyi….
    Pada kelaparan….
    menunggu Ransuman…

  40. SIAPA Dapat MENJELASKAN Makna Dari KATA KATA Berikut Ini : GEMBROBYOS… KLOMOH… NGECEPOH… NYAK MIT… SEMRINTHIL… MAK BEDUNDUK… MAK BEDENGUS…. NYAMLENG… SEMREPET… METHUTHUK… (Bahasa JAWA Memang KAYA Dan INDAH…. )

    • GEMBROBYOS : Basah kuyup karena keringat.
      KLOMOH : Basah karena di emut (misalnya rokok).
      SEMRINTHIL : mengikuti dengan penuh antusias
      MAK BEDUNDUK : Menggunung (contohnya Tumpeng)
      MAK BEDENGUS : Muncul secara tiba-tiba
      SEMREPET : Pandangan yang tiba2 gelap
      METHUTHUK : Menggunung tapi lebih kecil dari Mak bedundhuk
      Kalau Nyak Mit dan Ngecepoh saya juga ngerti maksudnya, tapi susah untuk menuangkan dalam Bahasa Indonesia.
      Penjelasan saya di atas barangkali juga kurang tepat banget, sebab Bahasa Indonesia memang ‘miskin’ akan rasa bahasa, berbeda dengan bahasa Jawa (dan mungkin Sunda) yang sangat kaya Rasa Bahasa.
      Satu atau dua kata dalam Bahasa Jawa seringkali harus diterjemahkan denagn serangkaian kalimat dalam Bahasa Indonesia, contoh yang sering dikemukakan adalah KUNDURAN TRUK yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ‘Tertabrak Truk yang sedang berjalan mundur karena kita berdiri dibelakang truk tersebut’…..hehehehe….

  41. Ini BOCORAN untuk semua yang menunggu kitab 209.

    Nyi Senopati akan titip rontalnya kepada Ki Mala.
    He hee heeeeee, ‘Tul kan Nyi?

    WORO-WORO:
    Harap semua pasukan ADBM bersiap sedia …. siapa pengunduh pertama kitab 209.

    Kalau seorang pria yang belum menikah akan saya kenalkan dengan Diajeng Nuniek.

    Kalau seorang wanita yang belum menikah saya akan kenalkan dengan Ki Lateung.

    Kalau mau-sama mau lho!

    • Ki Widura,

      Saya Nyi Mala mohon menghadap :)..hi…hi

      • Maaf Nyi,

        Soalnya mata saya sudah agak rabun ….
        Lain kali tidk akan keliru deh …. supaya sering dibawain rengginan untuk rondha malam.

        Nuwun

    • Jangan2 yg lainnya disebut disitu juga salah ya? 🙂

      • Just wana make sure …
        Meniko Ki Anggara atau Nyi Anggari …
        He hee heee …

        Kocomotolu kena dedet .. eg dodol ,,
        dadine blereng …..

        Ngapunten Kisanak dan Nyisanak sedoyo

        • Lho kepriye tho iki, manawi Anggar yo mesthine wujude dowo lan lempeng tho? 🙂

    • ki wi dura katanya kitab mau di wedar kok belum kapan dhong ? Nyi Mala udah tak kilik bola bali kasian kalau bisa kaku kegelian lho

      • Ki Hernowo,

        nJenengan bisa disawat jagung bakar lho :)karo garwane …. Ngomong-2 Nyi Mala masih available atau sudah double (atau ganda campuran)?

        Mohon response

        • Kan katanya waktu mbalas Ki Widura ngakunya Nyi Mala gitu lho, kalau masih Ni ya jadikan aja Nyi Hernowo piye to gitu aja repot

          • nJenengan LERES! Gus Her! Cepek persen.

  42. Ki Widura sensasional, bukannya Nyi Mala ki?

  43. Ada yang tahu nggak ya bedanya sebutan Ni, Nyi, dan Nyai? Mohon pencerahannya.

    • Kalau Ni …. biasanya dipakai orang Bali … contohnya Ni Made Sedani, Ni Nyoman Parwati

      Kalau Nyi …. biasanya dipakai Nyi Senopati dari padepokan ADBM

      Kalau Nyai sering dipakai penguasa laut selatan, contoh Nyai Rara Kidul ….

      Ini response salplak (bahasa German) yang artinya Asal jePlak 🙂

      Widuri

      • Ini Ki Widura, apa Kiai Widura, apa Ni Widuri, apa Nyi Widuri, ataukah Nyai Widuri? 🙂 Nyuwun sewu nggih …

        • Tergantung pesanan …. waka kaaka kaak kaakk

          Ki Anggara sudah jam 2: 18 pagi … mau molor dulu ….. Nanti telat ngunduh…

  44. matur Nuwun Nyi….

    • :)Matur nuwun Ki Patih LI!

  45. Wayang Suket itu sebetulnya dolanan anak-anak ini di desa. Wayang suket yang dimainkan terbuat dari rumput atau dalam bahasa Jawa disebut suket. Rumput memang dengan mudah bisa ditemukan di mana saja. Tetapi biasanya rumput yang dirangkai dan dijadikan wayang adalah rumput teki, rumput gajah, atau mendong, alang-alang yang biasa dianyam menjadi tikar. Kesemuanya memiliki tekstur kuat dan bentuk yang panjang-panjang. Wayang suket tak mempunyai bentuk yang baku, seperti halnya tokoh dalam wayang kulit atau golek. Sekilas rumput-rumput tersebut memang dibentuk laksana wayang kulit, yang dapat dimainkan dengan tangan. Namun untuk membedakan tokoh yang satu dengan lainnya sangat sulit. Sebab bentuknya yang hampir serupa. Pementasan wayang suket berbeda dengan pertunjukan wayang lainnya. Dan Slamet Gundonolah adalah pencetus pementasan wayang suket dan cukup terkenal tidak hanya di nusantara tetapi sudah sampai ke Jepang dan Amerika, bahkan ke Eropa. Pementasan ini mulai dirintis oleh Ki Dalang Slamet Gundono 1999.

    Akan tetapi dibalik kesuksesan Gundono, ternyata ada seorang “maestro” yang tidak dikenal yang sebenarnya telah merintis pembuatan wayang suket. Sayang, wayang-wayang suket karyanya tidak pernah dipentaskan dan hanya dipamerkan. Siapakah dia? Pak Gepuk namanya. Nama Pak Gepuk mulai mencuat ketika hasil karyanya dipamerkan di Gedung Bentara Budaya Yogyakarta 1-8 September 1995 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan Indonesia Belanda Karta Pustaka dan Bentara Budaya Yogyakarta. Dari situlah pamor wayang suket mulai diperhitungksn dalam kancah perwayangan Indonesia.

    Setelah Pak Gepuk hilang dari peredaran dunia perwayangan sampai akhir hayatnya, tiba-tiba di Tahun 2007 kembali muncul ketika banyak seniman-seniman Yogya menanyakan keberadaan Pak Gepuk. Hal ini terungkap ketika Museum Prof.Dr.Soegarda Purbalingga mengadakan pameran di Beteng Vredenberg Yogya.dan menampilkan wayang suket karya Pak Gepuk. Banyak sekali pertanyaan, kesan dan tanggapan yang begitu simpatik yang ditujukan kepada Pak Gepuk “Sang Maestro yang tidak terkenal”. Demikian julukan dari salah seorang seniman senior Yogyakarta dan mereka tidak menyangka bahwa Pak Gepuk sudah tiada.

    Source : http://www.purbalinggakab.go.id/

    Seperti Pak Gepuk, apakah Pak SH Mintardja seorang Maestro ?

    Banyak penulis cerita silat (KPH, GAN KL dll)yang umumnya mengenai persilatan dinegeri seberang (Cina), sedangkan cersil Pak Mintardja karena banyak hasil karyanya yang begitu fenomenal, hasil karya yang memperkenalkan istilah2 dalam budaya Jawa. Dari situlah pamor cerita silat budaya Jawa mulai diperhitungkan dalam kancah penulis cerita silat Indonesia yang selama ini lebih di dominasi oleh cersil Cina. Pak SH Mintardja boleh mendapat julukan sebagai “Sang Maestro” cersil Indonesia.

  46. sekarang …
    cantriknya bertambah lagi… ya
    selain Ki said yg selalu ada pada setiap comment
    ada lagi yg namanya Ki Balas…jika ingin menjawab coment yg lain
    hehehehe
    Ki gede dan Nyi Seno….selamat ya
    atas kehadiran Ki Balas

  47. Masih belum wedar ?……

  48. Jam 17.00 — 1,887,751 cantrik ?
    Jam 20.00 ? ………? cantrik

    Nunggu berapa balas hingga nyi Seno membalas dengan wedaran kitab 209?

    • ditunggu aja mas….

      nyi seno pasti ada maksudnya dengan ini semua….

      kalo gak ya, beliau lagi sibuk…..

      [kok kita kesannya malah selalu ngoyak ngoyak ya…..andai saya bisa membantu nyi seno….]

      • Jam 17.00 — 1,887,751 cantrik
        Jam 17.30 – 1,888,004 cantrik
        Jam 18.00 — …….. cantrik
        Jam 19.00 — …….. cantrik
        Jam 20.00 — …….. cantrik
        1 hari 1 kitab
        1 cantrik 1 balas

        2.000.000 cantrik, dicapai hari apa ???
        bulan apa ???
        kitab ke berapa ?????
        ilmu semu siapa yang bisa bantu !!!!!!!

        • saya punya ilmu semu tapi semu mumet amargi kitab tidak cepat diwedar tapi gimana lagi, mbayar ngak, tinggal nompo wae yo rawani protes, isane ndepis no pojok, ning yem bejo ketibak kitab sing diwedar lho

      • Di Bekasi langit sudah mulai kelam. Terdengar bunyi geludug lamat2 dikejauhan.
        Meskipun waktu baru pukul 17.29 namun jarak pandang sudah bagaikan pukul 18.00.
        Sebaiknyalah hujan akan turun lagi malam ini. Pantas udara tadi siang bukan main panasnya. Sampai jarang sekali orang yang berada dijalanan sesiang tadi. Suasana begitu sepii dan ngelangut, hanya bunyi desiran angin yang terdengar.
        Mudah2an hujan nanti sore tidak menghalangi Nyi Seno yang akan medar kitab 209.
        Hapunten abdi Nyi Seno!!!

  49. Jam 17.00 — 1,887,751 cantrik
    Jam 17.30 – 1,888,004 cantrik
    Jam 18.00 — 1,888,431 cantrik

    2.000.000 cantrik, dicapai hari apa ??? bulan apa ???
    kitab ke berapa ?????

    • Menurut penerawangan saya, klik 2000000 akan terjadi pada hari Selasa 28 April 2009.

      Berdasarkan data yang saya cob himpun, setiap hari jumlah klik antara 10000-15000, pada hari minggu antara 7500-10000. kalau dirata-rata sehari 12500, maka klik 2 juta akan jatuh pada hari Selasa 28 April 2009.

  50. Kayaknya yang mbaurekse saat ini bukan nyi seno ya, tapi Ki GD

    • Ki GD apane ki/Nyi/Nyai, Kyai Ubaid


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: