Buku III-06

206-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 16 April 2009 at 04:57  Comments (123)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-06/trackback/

RSS feed for comments on this post.

123 KomentarTinggalkan komentar

  1. @Ki Dalam Pada itu,
    enaknya SG itu dibikin mati saja, tapi bukan oleh AS. Misalnya, dia kalah dalam suatu perang tanding dan diselamatkan AS. Lawannya dibunuh AS, tapi SG sendiri tidak terselamatkan. Jadi dia mati puas, sudah lihat kehebatan AS.

    Lalu sebelum matinya PW diserahkan ke AS dan dipek bojo. Nanti anaknya dengan AS menggantikan Ki Gede Menoreh. Hepi ending, dong .. (Nggak seru, ya?)

  2. @ki mahesa murti

    mungkin akan lebih seru jika terjadi suatu pertentangan antara sangkal putung dengan mataram. kemudian panembahan senopati menugaskan as untuk memimpin laskar mataram menyerbu ke sangkal putung, dibantu oleh untara yang menghimpit dari jati anom.

    kemudian as mendapat kesempatan untuk berperang tanding melawan sg di tengah-tengah peperangan. ketika sg terdesak, maka datanglah pw untuk melerai, tetapi disalahartikan oleh sg, bahwa pw menyukai as.

    hal ini terdengar pula oleh sm, yang kemudian, karena bagaimanapun juga sm adalah adik dari sg, maka sm percaya kepada sg, apalagi as yang dituduh demikian hanya diam saja.

    akhirnya dendam atas pertarungan yang terputus di tanah perdikan antara sm dan pw meletus di sangkal putung. hal ini membuat ki demang menjadi emosi karena as tidak mencoba melerai atau menjelaskan duduk permasalahannya kepada sm.

    akhirnya ki demang menyerang as bersama dengan sg, meskipun sebenarnya sg masih berpendapat bahwa ia akan dapat mengalahkan as sendirian. kemudian untara yang melihat hal itu, maka untara mulai ikut emosi juga, akhirnya untara ikut pula dalam pertarungan itu.

    namun ketika kg yang merasa sedih karena pertempuran antar saudara, yang meskipun bukan sedarah tapi seperguruan dan setanah air, datang, pertempuran itu terhenti akibat kabut yang dibuat oleh kg.

    ki waskita yang diundang oleh kg untuk melerai pertempuran itupun membantu dengan ilmu semunya yang mendatangkan hujan lebat dan kabut yang amat tebal.

    akhirnya pertempuran itu selesai tanpa ada korban di kedua belah pihak….

    dan semuanya masih tetap menyimpan penilaian atas masing-masing seperti dahulu….. :mrgreen:

    gariiiiing….

  3. Sebagai manusia, SHM ngga luput dari kelemahan termasuk dlm hal bikin cerita, terkadang terjadi pengulangan seperti ktk menceritakan jati dirinya Kiai Gringsing di hadapat Ki Gd Pemanahan pada saat menunggu detik2 “penantian”, knp pad event lain terjadi Ki Waskita “memaksa” lagi utk menanyakan siapa sbenarnya Kiai Gringsing itu..
    Di sisi lain, cerita ini dibuat pada zaman kekuasaan “mutlak” pemerintahan negeri ini, hingga terbawa-bawa bahwa Ki Argojoyo sebagai adik Ki Argapati (Menoreh) terpaksa kena blacklist tidak lagi bisa tampil di kancah “politik” Menoreh, bahkan di hiruk-pikuknya gelanggang persilatan pun terpaksa dicekal..!
    Tentang sikap Swandaru pada AS atas pengakuan kekelahannya, tentunya (untuk tidak spoiler) akan mesu diri mencari guru kanuragan lain utk kemudian menantang lagi..biar seru dan cerita ADBMnya tambah laku. Bahkan kalau guru kanuragannya sudah gak ada lagi, diciptakan lagi guru yg sepadan dng Kiai Gringsing..kl perlu, ketika Swandaru sdh merasa linuwih, bisa menantang Kiai Gringsing..Seru kan?
    mohon komentar lanjutan..
    Salam
    Wongso

  4. @ ki Waskita konon buka lapak lagi jadi dukun kayak dulu, bhb selama ini pemasukan kurang, tekor terus gak dapat imbalan apapun dari senopati mataram. Nah sifat Panembahan ini menurun sampai raja2 jawa masa kini – konon tapi bener…

    @ Ki Pandanalas maunya emang dua dua nya jadi garwanya, bhb beliau masih ada gen dari Pnemmbahan senopati. Suka ga tegaan ngeliat wanita yang cintanya tidak terbalas…, hehehehe.

    @ Swandaru memang bahaya, bisa suatu saat bermimpi duduk di atas tahta mataram, melihat sikap dan ilmunya bukan hal yang tidak mungkin kelak swandaru merupakan duri juga.

    @ kitab rapelan memang ditunggu oleh para cantrik, buat membaca selingan kisah raden rangga yang menurut hikayat konon bertempur melawan ular dan tewas sebagai . pahlawan, dan konon juga bukan tewas betulan, tapi dipanggil oleh sang ibu raja jin laut kidul.
    Nah disinilah “hebatnya” sang panembahan…, ga orang ga jin.., kalo emang jidat licin…, embat aja…

    S waduh.. tidak takut kualat ya Ki …

  5. dimana saya bisa dapat versi djvu utk seri 1 – 94 ADBM?

  6. @ADBMers,
    Sebel banget. Udah nulis banyak, eeh salah pencet ilang semua. Mau ngulang jadi males, tapi akan kucoba, walau sudah pasti berbeda, namun dah-mudahan lebih baik.

    Agung Sedayu vs Swandaru Geni (versi Ki Truno Podang).
    Akhirnya Agung Sedayu menerima kebahagiaan dengan lahirnya anak laki2 dari guha garba Sekar Mirah. Anaknya sehat dan tampan seperti Bapaknya. Berhubung Glagah Putih sedang menemani Raden Rangga menunaikan tugas dari Panembahan Senapati, maka untuk memberitahukan kebahagiaan ini ke Sangkal Putung, Agung Sedayu berangkat sendiri.
    KiDemang dan keluarga Sangkal Putung bukan main girangnya. Maka diputuskannyalah Ki Demang, Swandaru, dan Pandan Wangi untuk pergi ke Menoreh. Kebetulan sekali Pandan Wangi yang juga sudah mempunyai anak berumur lebih kurang 2 tahun sudah lama pengin ketemu ayahnya. Sementara Kiai Gringsing diceriterakan sedang bepergian ke suatu tempat tertentu dan belum kembali.
    Di perjalanan diceriterakan mereka dicegat oleh 2 orang yang menyatakan mendendam kepada Agung Sedayu. Seorang pencegat yang sudah cukup umur kita sebut saja Ki Sakti, menyatakan sebagai guru si anu yang dibunuh oleh Agung Sedayu. Sedangkan satunya lagi adalah murid dari Ki Sakti itu.
    Dalam perbincangan, antara si pencegat dan yang dicegat, rombongan Sangkal Putung diwakili oleh Swandaru yang merasa lebih mapan dibanding Agung Sedayu. Malah dalam pertempuran, Swandaru memaksa melawan Ki Sakti, dan Agung Sedayu melawan muridnya.
    Pertempuran berlangsung seru, tetapi karena lawan Agung Sedayu ilmunya masih ece-ece, maka dalam waktu singkat sudah menyerah. Sedangkan lawan Swandaru, walaupun menurut penilaian Agung Sedayu masih biasa2 saja, namun mampu memberikan tekanan kepada Swandaru. Cambuk Swandaru yang bunyinya bagai halilintar menggelegar, tidak berpengaruh apa2 terhadap Ki Sakti. Dalam tingkat puncak kemampuan Swandaru, maka belum separuh tingkat kemampuan Ki Sakti dikeluarkan. Agung Sedayu yang melihat kondisi ini menawarkan kepada Swandaru untuk menggantikan posisinya. Namun Swandaru yang merasa lebih perkasa ketimbang Agung Sedayu malah bersesorah untuk tidak mengganggu konsetrasinya. Demikian juga permintaan Pandan Wangi yang akan membantunya, malah dianggap merendahkan dirinya.
    Maka akhirnya sebuah serangan tenaga cadangan Ki Sakti berhasil menghantam Swandaru hingga terpelanting. Beruntung serangan itu belum full capacity tenaga cadangan Ki Sakti, sehingga hanya mengakibatkan Swandaru terkapar tanpa kerusakan organ dalamnya. Swandaru berusaha sekuat daya untuk bangkit, namun sudah tidak bisa lagi. Hampir saja Ki Sakti melancarkan serangan mautnya, untung dapat dicegah oleh Agung Sedayu.
    Pertempuran dilanjutkan dengan perang tanding antara Agung Sedayu dengan Ki Sakti. Dengan sengaja Agung Sedayu memperlambat penaklukan terhadap Ki Sakti dengan memperagakan jenis2 ilmu yang dimilikinya, dari ilmu kebal, ilmu melenting tinggi, ilmu udara panas, dan terakhir ilmu sorot mata. Namun karena watak kemanusiaan yang tinggi dariAgung Sedayu, maka ilmu sorot mata tidak sampai membunuh KiSakti, tetapi dilemparkan untuk menghancurkan batu sebesar gajah ditepi jalan itu.
    Dengan mata melotot tanpa mampu mengejapkannya, Swandaru melihat ilmu saudara seperguruannya itu dengan mulut menganga. Baru kali inti matanya terbuka menyaksikan Saudara seperguruannnya. Baru kali ini ia mau mengakui bahwa saudara tuanya ternyata lebih mumpuni ketimbang dirinya. Namun dalam hati kecilnya timbul prasangka bahwa gurunya ternyata telah bertindak tidak adil. Swandaru berencana untuk menuntut gurunya yang telah pilih kasih kepada Agung Sedayu kelak jika Kiai Gringsing telah pulang dari kepergiannya.
    Ki Sakti akhirnya menyerah dan sadar dengan siapa ia berhadapan. Kemudian oleh Agung Sedayu diberikan nasehat dan pengertian bahwa murid2nya yang telah terbunuh itu telah sesat dan menyalahgunakan kesaktiannya. Ki Sakti sadar dan berjanji akan menjadi guru yang baik bagi muridnya yang tersisa.

    Beberapa waktu berselang maka ketika Kiai Gringsing telah kembali dari lawatnnya, Swandaru telah menghadap kepadanya. Swandaru menceriterakan peristiwa pencegatan dirinya oleh Ki Sakti, yang hampir saja merenggut nyawanya. Kemudian disampaikan juga uneg2nya bahwa dia merasa dibedakan dalam penurunan ilmu Kiai Gringsing dengan Agung Sedayu.
    Kiai Gringsing tersenyum, dan kemudian dijelaskannya keadaan yang sebenarnya. Bahwa ilmu Kiai Gringsing yang diberikan kepada Agung Sedayu dan kepada Swandaru Geni adlah sama, tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang dilebihi. Perbedaan yang ada pada Agung Sedayu adalah karena :
    1. Agung Sedayu telah memiliki dasar berpijak yang kokoh dari Ki Sadewa dan Untara, sebelum menghisap ilmu dari Kiai Gringsing. Sementara ilmu Swandaru kala itu baru berupa ilmu dasar berkelahi yang diajarkan oleh para Prajurit Pajang kepada anak2 muda Sangkal Putung.
    2. Agung Sedayu memilih pendekatan tenaga cadangan (tenaga dalam) sedangkan Swandaru Geni lebih kepada tenaga Wantah (tenaga fisik).
    3. Untuk memperoleh kekuatan tenaga cadangan maka diperlukan laku mesu diri oleh Agung Sedayu, yang tidak pernah dilakukan oleh Swandaru.
    4. Agung Sedayu menguasai ilmu Ki Sadewa, kitab Ki Waskita, dan kitab Kiai Gringsing.
    5. Dari hasil menyadap dari beberapa buku tersebut, maka portofolio ilmu Agung Sedayu sangat terdiversifikasi, mulai dari ilmu kebal, ilmu udara panas, ilmu pandulu, ilmu kebal racun, dan yang paling ngedab-edabi adalah ilmu sorot mata. (Kiai Gringsing menjlentrehkan sumber2 dari ilmu2 itu).
    Baju Swandaru Geni basah kuyup selama mendengarkan uraian dan wejangan dari gurunya. Akhirnya dia sadar bahwa memang pilihannyalah selama ini yang salah, yaitu dia terlalu mengagungkan tenaga wantah ketimbang tenaga cadangan. Oleh sebab itu Swandaru berjanji kepada gurunya untuk akan mulai berfokus kepada latihan tenaga cadngannya.
    Kiai Gringsing memberikan motivasi, bahwa apabila digabungkan antara tenaga wantah Swandaru yang nggegirisi dengan kekuatan tenaga dalamnya, maka ilmu Swandaru akan meniongkat berpuluh kali, walaupun setinggi-tinggi ilmu yang dapat dicapai manusia belum seberapa dengan kuasa Yang Maha Agung.
    Tancep Kayon.
    Ki Truno Podang

  7. @Nyi Untari….

    Sudah mencoba dicari di tlatah fesbuk Nyi???? di padepokan Ki Zacky?

  8. ki dewo….

    bikin senyum aja siang ini koment nya sampean……
    “gak jin gak manusia asal jidat licin embat aja…..”…..asli ini bikin ketawa…..kekekekekekek

  9. udan-udan enake ngombe wedang sere anget karo telo goreng.
    miraaah…cepetan ndhuukk wedangee.

  10. @Ki Mahisa Murti,
    Gimana dong sayembaranya? Siapa yang menang?
    Ngasih sayembara kok terus kabur, he he he!.

  11. Uraian Ki Truno mirip2 yg ada di Wikipedia, jadi menurut saya yg memang belom pernah mbaca ADBM sampe tuntas kayaknya masuk akal….karena walo bagaimanapun Swandaru itu perlu disadarkan, entah resmi melalui perang tanding antar murid atau kesempatan yg tiba-tiba

  12. para kadang ADBMers
    Raden Rangga adalah sosok sejarah yang digabungkan dengan sosok fiktif GP. Tapi adakah sejarah mencatat pada umur berapa RR meninggal dan sebab kematiannya?
    Matur suwun kalau ada yang berkenan memberi pencerahan.

  13. Ki Truno podang….

    kalo saya karena udah baca jadi gak bisa ikutan sayembara nya deh….

    cuman kalo gak ada peran swandaru geni yg kayak gini kok kayak kurang ya…..justru dengan swandaru yang sok hebat itu kan kelihatan ‘nganyelke’ …. bikin yg baca jadi malah marah2 sendiri….heheheh…
    malah seru itu…..

  14. Rasa-rasanya shm hanya sekedar mengisi durasi yg masih begitu panjang dengan menyisipkan petualangan rdn rangga dan gp, sehingga perkembangan ilmu as sepertinya sengaja distop dulu, ataukah shm merasa “pekiwuh” untuk menjadikan as sebagai pendekar yang “super sakti” sehingga yang kita rasakan as hanya menjadi bayang-bayang panembahan senapati & p. Benawa saja

  15. Kalau aku yg jadi shm, cukup glagah putih saja yg mengalahkan swandaru, dan ternyata swandaru bukan apa-apa, melawan pandan wangi dan sm saja gak berdaya, apalagi as, jauu…..hlah ya

  16. ki dewo ngerti wae klangenanku sing siji kuwi

  17. @Ki Selo Enom,
    Ini lho yang ada di Wiki Pedia barangkali. Aku jadi baru teringat kalo aku pernah menyimpannya. Begini bunyinya :

    Agung Sedayu – Tokoh Sentral Api di Bukit Menoreh

    Diceritakan sebagai adik dari Untara, tokoh utama Pasukan Pajang yang berjuang melawan sisa pengikut Arya Penangsang yang bergerilya. Ayahnya adalah salah seorang Tokoh Olah Kanuragan yang sepuh, masih dikenal baik Gurunya Kiai Gringsing dan dari aliran baik-baik. Ilmu ayahnya diwarisi tidak matang oleh Pamannya Widura (Adik ibunya) dan oleh Untara, dan Ilmu lengkap ayahnya justru ditemukannya secara tidak sengaja ketika untuk pertama kalinya Pati Geni memperdalam ilmunya di gua dekat kampungnya, Jati Anom.

    Agung Sedayu … digambarkan sebagai seorang pemuda yang sangat penakut, bukannya pengecut. Karena bahkan melewati sebuah pohon raksasa di malam haripun dia tidak berani. Karena terlalu dimanjakan ibunya, Sedayu berubah menjadi penakut, apalagi dia selalu berlindung di bawah ketiak kakaknya yang sangat kuat dan jantan serta berilmu. Kepenakutan Sedayu diceritakan hampir selama 30 jilid pertama. Boleh dikata, pembaca jadi sangat mengenal bahkan dari dekat tokoh bernama Agung Sedayu ini, karena moment kepenakutannya diceritakan detail lengkap dengan persaingannya dengan Sidanti, baik dalam Olah Kanuragan (terminologi lokal yang cocok pengganti ilmu silat) maupun kelak dalam cinta. Meskipun penakut, Agung Sedayu memiliki kemampuan lain yang diatas rata-rata: Membidik tepat, baik melalui lemparan maupun memanah yang tidak pernah gagal, serta mampu mengukirkan apa yang dia baca dalam hatinya hingga tidak terlupakannya.

    Saking detailnya, dibutuhkan puluhan jilid yang mengalir bersama rentetan sejarah dari Demak-Pajang dan berdirinya Mataram. Proses Agung Sedayu menemukan dirinya, mengatasi kepenakutannya diceritakan sangat detail dan lama, sehingga terkesan bertele-tele. Demikian juga prosesnya menempa diri, dari mulai diambil sebagai guru oleh Kiai Gringsing, tokoh utama lain cerita ini, sampai memasuki penempaan mendalam, membutuhkan panjang hingga 100 jilid pertama. Bahkan, dibutuhkan lebih dari 200 jilid baru Kiai Gringsing mempercayakan Kitab Rahasianya untuk didalami oleh Agung Sedayu dan Swandaru adik seperguruannya. Itupun setelah Agung Sedayu memperdalam diri dengan menyempurnakan ilmu ayahnya dan mendalami Kitab Rahasia gurunya yang kedua (Jilid 100-200).

    Dari hanya mampu memainkan ilmu gerak yang biasa (nyaris sepanjang 50 jilid pertama), hingga kemudian mampu memainkan cambuk sebagai senjata utama (51-100), sungguh banyak episode yang dilewati dengan menggunakan ilmu-ilmu itu. dALAM mana, penjahat-penjahat sakti semacam Tambak Wedi menjadi lawan guru mereka. Baru pada jilid 100-200, nampaknya Kiai Gringsing mulai memberi kesempatan Agung Sedayu untuk mulai menggantikan tempatnya, dan puncaknya ketika dalam akhir jilid 200, bentrok dengan sesama tokoh sepuh yang sudah dinyatakan punah melalui benturan ilmu-ilmu ampuh yang dinyatakan lenyap, milik Eyang Windunata yang merupakan garis vertikal keturunan prabu terakhir Majapahit. Eyang tersebut adalah kakek langsung Kiai Gringsing yang bersahaja, bahkan salah satu gurunya yang mewariskan ilmu-ilmu ampuh dan menyeramkan.
    [sunting]
    Agung Sedayu: Ilmu Kesaktian – Kanuragan

    SH Mintardja dengan cerdik menggunakan terminologi “Olah Kanuragan” atau Ilmu Kanuragan sebagai ganti Ilmu SIlat. Bahkan dia tidak menyebutnya Pencak atau Pencak SIlat. Tenaga dalampun dinamainya TENAGA CADANGAN, dan semedi dinamakannya MESU DIRI atau PATI GENI. Dalam proses ini, Agung Sedayu memulai Olah Kanuragan dengan diajak dan dipermainkan gurunya. Dia dilatih untuk menghilangkan rasa penakutnya yang meskipun hilang akhirnya, tetapi kelembutannya dan ketidaktegasannya menghadapi dan menghukum orang jahat tidak pernah lepas hingga akhir cerita di jilid 390-an.

    Tetapi, kehebatan dan bakatnya melalui kemampuan mengingat dan menanamkan dalam hati, membuatnya meski tidak banyak berlatih, ternyata menyerap semua ilmu yang juga dikuasai Untara kakaknya. Mengapa? karena ilmu ayahnya ternyata di catatnya di daun lontar, dan ketika Kiai Gringsing dan Widura melatihnya, tidak lama waktu yang dibutuhkannya untuk mematangkan dirinya. Selama 70 jilid, Agung Sedayu dan Swandaru mengikuti gurunya Kiai Gringsing untuk memperdalam ilmu dengan mengembara hingga ke Menoreh dan bahkan singgah ke Mataram yang mulai dibuka di akhir jilih 100-an. Ilmu Kanuragan Agung Sedayu masih sederhana dan belum mendalam, perbedaannya dengan Swandaru juga maih belum seberapa.

    Tetapi, ketika konflik mulai memuncak, pertarungan Mataram dan Pajang mulai terjadi, Kiai Gringsing menuntun Agung Sedayu dan Swandaru untuk meningkatkan Ilmu Kanuragan mereka. Agung Sedayu memilih jalur dalam sementara Swandaru memilih jalur keras atau kulit dengan mengandalkan fisik. Agung Sedayu melakukan Mesu Diri untuk mematangkan ilmunya dan memperdalam kemampuan membidiknya serta menemukan Ilmu yang bisa memusnahkan orang dan benda melalui sinar matanya. Perbedaan kemampuan Swandaru dan AGung Sedayu mulai melebar. Uniknya, Swandaru tidak menyadarinya dan selalu merasa sudah melampaui kemampuan kanuragan kakak seperguruannya, Agung Sedayu.

    Episode paling menarik dari kedua tokoh seperguruan ini dikisahkan dalam episode kedua, JALAN SIMPANG. Swandaru selalu menilai diri terlalu tinggi karena Agung Sedayu selalu terluka melawan tokoh-tokoh sakti yang mulai rajin bermunculan di atas jilid 100. Padahal, melawan tokoh-tokoh ini justru semakin mematangkan Agung Sedayu. Ilmunya meningkat pesat, dan memperoleh pengasihan dari Guru keduanya yang meminjamkan kitabnya dan juga petunjuk Pangeran Benawa dan Raden Sutawidjaya dalam meningkatkan Ilmu.

    Dari Guru keduanya, Agung Sedayu mampu mengolah dan memperoleh Ilmu Kebal yang luar biasa, mampu mengeluarkan panas membakar dalam puncak Ilmu Kebalnya itu. Mampu bergerak cepat dan melayang-layang secara tidak masuk akal (ini mungkin ginkang) dan mampu menghadapi ilmu sihir atau santet, bahkan belakangan mampu menemukan ilmu Kakang Pembarep Adi Wuragil dengan memecah diri menjadi 3 seperti Kiai Juru Mentani. Selebihnya, diapun melatih ilmu-ilmu mendengar dari jarak jauh, menyerap bunyi dan mempertajam panggraita atau intuisi dan perasaan. Dari Kiai Gringsing, dia memperoleh ilmu Cambuk yang luar biasa yang mampu menembus Ilmu Kebal dengan lecutan-lecutannya. Bahkan meski tidak diceritakan, sebagai murid terkasih Kiai Gringsing dia juga mewarisi Ilmu Ilmu yang nyaris punah, yakni Ilmu Melepas Awan Pekat, Gelap Ngampar dan Mempengaruhi Indra lawan melalui penciuman, Ilmu yang dimiliki Sesepuh Majapahit. Selain itu, dia juga kebal racun setelah diberi petunjuk oleh Pangeran Benawa, tokoh muda sakti selain Sutawidjaya. Keduanya, Sutawidjaya dan Benawa dianggap tokoh muda tersakti pada masa cerita ini, meskipun perkembangan Agung Sedayu juga dipantau keduanya dengan cermat.

    Puncak cerita dan menariknya cerita ini, ketika Swandaru yang suka meledak-ledak, emosional dan merasa dari kalangan atas, merasa sudah melampaui kehebatan kakak seperguruannya. Dalam pertarungan yang mengakhiri episode jalan simpang, Agung Sedayu mengajarkan bagaimana kematangan dan kedalaman mengalahkan Swandaru yang mengandalkan Tenaga Fisiknya. Dalam perkelahian yang disadari betul oleh adik Swandaru, Sekar Mirah dan Istri Swandaru ,Pandanwangi, bahwa Swandaru kalah jauh oleh Agung Sedayu karena berkali-kali mereka menyaksikan bagaimana Agung Sedayu berkembang menjadi raksasa Olah Kanuragan, Swandaru telak dikalahkan. Bahkan Sekar Mirah, yang akhirnya menjadi istri Agung Sedayupun, baru menyadari betapa suaminya jauh meninggalkannya dengan swandaru, ketika melihat Suaminya nyaris mati menandingi dan mengalahkan Panglima Sakti dari Pajang dalam sebuah perang tanding yang disaksikan banyak tokoh utama.

    Untuk membuka mata Swandaru, Agung Sedayu mempergunakan semua Ilmunya, baik Kakang Pembarep Adi Wuragil, Ilmu Kebal, Ilmu Pandang Mata, dan Lecutan Berat yang tidak terdengar telinga biasa tapi telinga batin yang menyakitkan. Semua ilmu kanuragan andalannya dikeluarkan dan membuat Swandaru akhirnya sadar dan terperangah.

    Episode seudahnya adalah episode pengembaraan Glagah Putih, adik sepupu AGung Sedayu sekaligus muridnya. Sementara Agung Sedayu menempah istrinya dan juga menmpa dirinya dengan kitab gurunya, Kiai Gringsing.
    [sunting]
    Kanuragan Jawa

    Olah Kanuragan, demikian bahasa Mintardja menggambarkan silat Jawa. Sungguh diambil dari sari dan budaya Jawa sendiri. baik penamaan maupun maknanya. Hal yang menunjukkan betapa Silat Lokal, tidak kalah mutu dibandingkan silat Cina. Measkipun kisah cinta di serial ini kurang menggigit atau malah kering, tetapi kontribusi bagi Ilmu Kanuragan dan rentetan budaya jawa sungguh luar biasa.

    Layak dibaca dan juga layak dilanjutkan. Karena cerita ini menggantung pada bagian paling akhir.

    Regards,
    Ki Truno Podang

  18. Barangkali Swandaru akan semakin menjadi-jadi kelakuannya sehingga Agung Sedayu memandang perlu untuk memberikan pelajaran secara keras terhadapnya dengan harapan Swandaru akan menjadi terbuka hatinya dan menyadari semua kesalahan-kesalahannya selama ini.

    Peristiwa apakah yang menyebabkan Agung Sedayu merasa perlu untuk memberikan pelajaran secara keras itu?

    Ikuti terus kelanjutannya …. sabar … sabar … 😀

  19. sabar tenan,… kitab 206 durung kawedar je

  20. absen nyi….

  21. beberapa cantrik menanyakan kenapa Ki SHM tidak pernah menceritakan adegan romantis (umpamanya pas AS & SM atao SG & PW pacaran) atau menggambarkan fisik wanita secara lebih detail.
    menurut saya, hal ini karena pengaruh budaya jawa khususnya dan timur umumnya saat itu (th 70-an) yang menganggap hal-hal tsb sebagai tabu dan tidak layak diceritakan.
    jadi bukan karena Ki SHM tidak romantis.
    begitulah …

  22. Sip masuk urutan 80 besar…. 😀 , hadir !!!

  23. Senopati Yth

    Koper 206 sudah saya kirim, bisa dipirsani.

    Salam
    TG

  24. antrian no 74 … asik ….

  25. kapan ya ………… wedarnya he..he..

  26. Solo bagian Barat Hujan deres banget,
    alangkah nikmatnya bila sinambi baca
    adbm,sambil minum kopi panas, hmmmm

  27. absen juga ach
    biar afdol

  28. Siip……

    Ki Truno Glathik sudah memberi baju kitab 206.

  29. Akhirnya Swandaru Geni menantang Agung Sedayu untuk beradu ilmu. Tantangan ini dilontarkan Swandaru Geni karena ia merasa agung Sedayu telah mensia-siakan karunia yang diberikan melalui Kiai Gringsing.
    Karena cintanya dia kepada Agung Sedayu, Swandaru nekat mengajukan tantangan ini.
    Dia berharap apabila Agung Sedayu kalah maka ia akan termotivasi untuk lebih mendalami kita warisan itu dengan serius.

    Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan akhirnya Swandaru Geni pun tiba dirumah Agung Sedayu, sehari sebelum pertandingan.
    Setelah bermalam, menjelang fajar, ia memasuki sanggar Agung Sedayu untuk melakukan sekedar pemanasan. Agung Sedayu sendiri telah memberikan izin Swandaru Geni untuk menggunakan sanggarnya.

    Betapa terkejut hati Swandaru Geni ketika memasuki sanggara tersebut, disanggar yang berukuran 20 X 20 m itu disalah satu dindingnya ternyata dipenuhi dengan piagam-piagam penghargaan. Piagam-piagam itu berasal dari Pemerintah Mataram, Perdikan Menoreh dan berpuluh-puluh padepokan perguruan kanuragan besar di dalam dan luar jawadwipa

    Bahkan terlihat beberapa piagam berasal dari mancanagari seperti piagam penghargaan dari Bu Tong Pay, Kay Pang, Shaolin, dari dojo-dojo negara matahari terbit dan negeri ginseng, bahkan ada piagam penghargaan dari salah satu master capoeira
    yang mengakui ke”masteran” Agung Sedayu.

    Melihat piagam-piagam tersebut swandaru menjadi termangu-mangu, hatinya mendadak berdebar-debar…
    “Hmmmm kapan kakang Agung Sedayu mendapatkan piagam-piagam ini ? kenapa Guru tidak bercerita padaku ??”

    Dalam pada itu, suara-suara orang didapur sudah mulai terdengar, suara senggot yang digerakkan untuk mengisi pakiwan terdengar berulang-ulang, agaknya Glagah Putih telah mulai dengan kegiatan rutinnya.

    Swandaru yang termangu-mangu itupun tersadar. didekatinya seperangkat alat pemutar CD yang terdapat dibawah piagam-piagan tersebut, dipandanginya tumpukan CD disebelahnya.

    Matanya terbelalak, dibacanya CD tersebut satu persatu, ternyata CD itu berisi dokumentasi pertempuran Agung Sedayu melawan tokoh-tokoh kanuragan dari segala penjuru.

    Tanpa pikir panjang Swandaru segera memasukkan CD dokumentasi itu kedalam alat pemutar yang ada. Selama dua jam penuh matanya terbelalak memandangi dokumentasi pertempuran itu. Isi CD tersebut ternyata adalah pertempuran Agung Sedayu menjelang dan saat perang besar Mataram VS Pajang yang diambil oleh Ki Gede.

    Dari dokumentasi itu Swandaru lambat laun mengerti kesaktian-kesaktian Agung Sedayu dan sebab-sebab luka-luka parah yang dideritanya.
    Kini ia sadar Agung Sedayu luka bukan karena ilmunya yang rendah, tetapi karena ilmu lawannya yang ‘ngedab-edabi.

    Sekujur tubuhnya mendadak teras dialiri hawa dingin, dengan sedikit menggigil ia bergumam “Huh.. ternyata aku yang bodoh, kalau aku jadi bertempur saat ini pasti aku tidak akan keluar dari gelanggang dengan tubuh yang utuh…., untunglah aku sempat melihat CD-CD ini”

    “Krieeeeet…..” mendadak terdengar derit pintu dibuka. Swandaru melompat berdiri. Diambang pintu berdiri sesosok tubuh yang sudah tidak asing baginya. Agung Sedayu berdiri dipintu dengan sorot mata yang tajam. “Swandaru…” ujarnya “aku sudah siap….”

    “kakang…” suara Swandaru lirih, sambil berjalan kearah Agung Sedayu dengan sedikit membungkuk.
    “Maafkan aku… aku tidak dapat melihat gunung diatas gunung, langit diatas langit. Pangapuramu kakang, adikmu yang bodoh ini telah berbuat deksura dan sombong” kata Swandaru Geni dengan terbata-bata.
    Ia melangkah mendekat dengan mengulurkan tangannya.

    Agung Sedayu yang mendengar kata-kata itu segera melompat kearah Swandaru Geni dengan tangan terayun dan berteriak keras.
    “Yeah… Swandaru, give me five !!!!!”

    Tiba-tiba dia terdiam, dilihatnya Swandaru terkulai lemas dan jatuh kelantai.
    Ternyata Swandaru yang mendengar teriakan dan gerakan Agung Sedayu itu menyangka ia telah diserang sehingga jatuh pingsan.

    “Weleh-weleh Swandaru, sudah besar ternyata penyakit kagetannya belum hilang” gumam Agung Sedayu.
    Dengan ilmu pamelingnya ia segera memanggil, Kiai Jayaraga, Glagah Putih dan Sekar Mirah untuk membantunya mengangkat Swandaru Geni ke amben untuk diobati.

    Pertarungan hari itu akhirnya dibatalkan.
    Tancep Kayon

    S boleh.. boleh… mantap banget.. ditunggu versi yang lain.. Ki Pandanalas mau coba?

  30. Tinggal Nyi Seno memandikan kitab 206 dan memberi baju.

    Setelah itu, tunggu jam tayangnya.

  31. waduh jam tadi pagi aku sudah absent, ternyata sekarang covernya belum muncul, mungkinkan hari ini kitab diwedar ya ?. moga-moga aja, walaupun dulu sudah pernah baca, tapi masih juga kepingin baca lagi. Kali candu ya ?, sederek-sederek para cantrik ADBM sugeng sonten, sumonggo kita antri kanti tertib supades kitab enggal dipun wedar, matur nuwun !!!! kulo tak pamit rumiyin

  32. Kakang Pembareb…..

    ceritanya kok jan asik temenan…….
    wakakakakaka………
    itu kalo di buat komik mantab banget itu…..
    pake give me five segala…..wakakakakaka

  33. ada gak ya yang kepikiran untuk membuat versi komik nya Api di Bukit Menoreh tu….
    secara skenario nya gak kalah ama cerita komik nya jepang lho….tinggal yg nggambar aja…..
    kan di indonesia banyak komikus juga…..

    [dahulu pas ayah masih langganan buku ini….yg pertama kali tak liat adalah gambar kulit nya…sama gambar di dalam nya….kalo menarik ya dibaca kalo gak dilewati deh…..hehehehe]

  34. On 16 April 2009 at 17:59 ki kisruh Said:

    Solo bagian Barat Hujan deres banget,

    ====
    Kalo boleh tau, Solonya dimana ya Ki Kisruh???

  35. Ki sI_ToIe
    Pabelan kisanak,
    sebelah utara UMS, apa sampeyan juga
    domisili Solo Mataram Hadiningrat?

  36. wah deket padepokan modern assalaam dong!

  37. Ki kisruh

    jenengan solonya di utara UMS ( Universitas Meh Solo )
    khan Gonilan Tho ?

  38. Ki kisruh

    jenengan solonya di utara UMS ( Universitas Meh Solo )
    khan Gonilan Tho ?

  39. mudah2an kitab di wedar sebelum jam 22:00

  40. walah kopernya jg belum ada…,,hmmm mungkin tengah mlm nanti biar pas mlm jumat kliwon…

  41. .

  42. matursuwun nyi sampun kulo unduh

  43. kasinggihan ki goenas,
    saya nyantrik di sana,
    kalau pas nganglang kulo
    aturi pinarak ki

  44. yang penting absen dulu.selamat malam JENG SENO and para cantrik adbm semuanya salam sejahtera semoga menyertai kita semua AMIN.

  45. terima kasih nyi

  46. wah baru ngisi absen langsung dapat kitabnya MAKASIH JENG SENO

  47. Ki kisruh…. Aku dulu taun ’85-87 … Pernah nyantrik di situ, jadi cantriknya ki dalhari nuryanto & ki jamaluddin

    • Lha kok podho…
      Kalau aku dr tahun 89 s.d 91.

  48. trima kaih nyi

  49. suwun nyi seno

  50. ma kacih

    simpen dulu dibaca besok saja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: