Buku III-01

terimakasih atas perhatiannya.
libur 3 hari ya.. tit.

kitab akan diedar kembali hari minggu.
sambil Senopati mberesi halaman yang belum di unggah ketikan (retype) nya.

matur nuwun.

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 8 April 2009 at 22:34  Comments (291)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-01/trackback/

RSS feed for comments on this post.

291 KomentarTinggalkan komentar

  1. Absen KI Gede….
    digandok Baru…. heheheheheheh

  2. Wah wis meh maghrib, nang pakiwan disik’ … sesuci…..

  3. wah… hari minggu masih panjang…

    apa lagi di tlatah barat….

  4. Ikut keputusan Ki GD saja 57%
    Mutlak tidak boleh 16%
    Boleh, dengan syarat yaitu : .. 27%

    Ternyata banyak yang menyerahkan pada kebijaksanaan KI GD, mudah-mudahan sebelum jam 12.00 malam kitab sudah diwedar ngarep mbanget tuh

    makasih

  5. @ Ki Ismoyo & Ki Jogoboyo

    kalau menurut pendapat saya, imajinasi Ki SHM tentang pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh ya sekarang di kota wates itu.
    logikanya, pedukuhan induk tsb dlm cerita digambarkan sebagai tanah yg subur dgn sawah2 yg luas, ada sungai yg melintas tempat GP membuka pliridan, dll….
    nah kalau bagelen, setahu saya sebagai orang kelahiran wates, letaknya sekitar 25 km arah barat kota wates dilalui jalan arah purworejo, tapi lewat jalur daendels/jalur selatan. Dalam cerita ini, bbrp kali disinggung juga bahwa bagelen dgn TPM (Tanah Perdikan Menoreh) merupakan tempat yg berlainan.
    tempat penyeberangan ke mataram (gethek), kira2 di jembatan kali progo yg sekarang. jadi perjalanan ke Mataram dari pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh akan melalui sentolo-nyebrang kali progo-sedayu-gamping-mataram…….
    maaf, itu angen2 saya Ki…..

  6. lho sekarang hari minggu ya ..lupa neeh
    sepertinya yg lupa bukan saya saja ya!!
    soalnya katanya hari minggu diwedar kitabnya tapi kok????
    lupahari kali!!

  7. Ki termangu mangu….
    wah jan lengkap tenan…..sentolo–nyebrang….lewat sedayu–nggamping–mataram……..jalur selatan itu bener…..
    Maaf ki masalahnya angen angen saya tadinya malah lewat daerah Kentheng–nyebrang jembatan ngapak–pingitan–godean…..
    setelah merenungkan jalurnya ki termangu mangu kok lebih mathuk yg itu….masalahnya kalo yg di angen angen saya daerah itu berbukit bukit je….

  8. iya.. ya… sekarang hari minggu hanya Nyi Senopati tdk menyebut minggu tanggal berapa..?

  9. sabar-sabar…

    hari minggu masih panjang…

    coba tanyakan ke ki manahan…

  10. Sugeng Dalu Ki Sanak Sedoyo,

    Wah… menyaksikan para cantrik di pendopo padepokan ADBM asyik banget.
    Barusan tak lihat buku absen cantrik yang hadir ada yang dari Santa Clara USA, Norwegia, Kuwait, Dubai UEA, Beijing Cina, Malaysia, Singapura, dan cantrik lokal lengkap dari Aceh sampe Manokwari.
    Jan hebat tenan padepokan iki…

    Yang asyik lagi itu ngimtip kegiatan para cantrik nunggu diwedarnya kitab III-1…,
    Ada yang lagi ngrumpi mbahas rute menoreh ke pajang kalo jaman sekarang gimana, ada yang lupa kalo libur sudah berakhir, ada yang nggak sabar berkali-kali nengok pintu gandok kok nggak dibuka-buka sama Nyi Sena, ada yang bengong di pojokan pendapa, ada yang rasan-rasan nanti dapat rapelan nggak ya…

    He.. he.. he…
    Pokoknya asyik banget nglihat padepokan malam ini….

  11. @ Ki Termangu-mangu,

    berdasarkan alur cerita ADBM dari Ki SHM, Tanah Perdikan Menoreh sepertinya lebih mathuk jalur yang digambarkan oleh Ki Termangu-mangu, apalagi beliau priyayi Wates, lebih mengenal daerah tersebut. Kalau purworejo, bagelen jauh memang. Dengan demikian pertanyaan Ki Jogoboyo sudah mendapat pencerahan dari Ki termangu-mangu alias terjawab sudah.

    Nuwun.

  12. Selamat malam semuanya….

    4 jam 20 menit lagi jam 00.00…..mudah2an kitab jadi di-wedar malam ini…..sabarrrr……

  13. On 12 April 2009 at 19:17 ndays Said:
    iya.. ya… sekarang hari minggu hanya Nyi Senopati tdk menyebut minggu tanggal berapa..?

    Lagian juga tidak menyebut libur 3 hari sejak kapan. Siapa tau yang 3 hari kemarin itu mbolos…
    Hehehehe… Aku lagi ngilo lho iki….

  14. @ Ki Jogotirto,

    Ya begitulah Ki, cantrik di ADBM, saya pribadi kalau sehari saja gak nganglang padepokan rasanya gimana githu. Di adbm bayak hal bisa diperolehi, diskusi ngelmu, kawruh, kabudayan, sejarah, pokoke maneko warno bisa didapat di adbm sini. Dan hebatnya nggak ada yang bersifat menggurui, lega ing manah kraosipun maknyus.

  15. Sejarah Yogyakarta yang saya ambil dari :
    http://yogya2.wasantara.net.id/tour/about.htm

    YOGYAKARTA
    Antara tahun 1568 – 1586 di pulau Jawa bagian tengah, berdiri Kerajaan Pajang yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya, di mana semasa mudanya beliau terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Dalam pertikaian dengan Adipati dari Jipang yang bernama Arya Penangsang, beliau berhasil mucul sebagai pemenang atas bantuan dari beberapa orang panglima perangnya, antara lain Ki Ageng Pemanahan dan putera kandungnya yang bernama Bagus Sutawijaya, seorang Hangabehi yang bertempat tinggal di sebelah utara pasar dan oleh karenanya beliau mendapat sebutan : Ngabehi Loring Pasr. Sebagai balas jasa kepada Ki Ageng Pemanahan dan puteranya itu, Sultan Pajang kemudian memberikan anugerah sebidang daerah yang disebut Bumi Menataok, yang masih berupa hutan belantara, dan kemudian dibangun mejadi sebuah “tanah perdikan”. Sesurut Kerajaan Pajang, Bagus Sutawijaya yang juga menjadi putra angkat Sultan Pajang, kemudian mendirikan Kerajaan Mataram di atas Bumi Mentaok dan mengakat diri sebagai Raja dengan gelar Panembahan Senopati.

    Salah seoran putera beliau dari pekawinannya dengan Retno Dumilah, putri Adipati Madiun, memerintah Kerajaan Mataram sebagai Raja ketiga, dan bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo, Beliau adalah seorang patriot sejati dan terkenal dengan perjuangan beliau merebut kota Batavia, yang dekarang disebut Jakarta, dari kekuasaan VOC, suatu organisasi dagang Belanda. Waktu terus berjalan dan peristiwa silih berganti.

    Pada permulaan abad ke-18, Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Paku Buwono ke II. Setelah beliau mangkat, terjadilah pertikaian keluarga, antara salah seorang putra beliau dengan salah seorang adik beliau, yang merupakan pula hasil hasutan dari penjajah Belanda yang berkuasa saat itu. Petikaian itu dapat diselesaikan dengan bik melalui Perjanjian Ginyanti, yang terjadi pada tahun 1755, yang isi pokoknya adalah Palihan Nagari, yang artinya pembagian Kerajaan menjadi dua, yakni Kerajaan Surakata Hadiningrat dibawah pemerintah putera Sunan Paku Buwono ke-III, dan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan adik kandung Sri Sunan Paku Buwono ke-II yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat ini kemudian lazim disebut sebagai Yogyakarta dan sering disingkat menjadi Jogja.

    Pada tahun 1813, Sri Sultan Hamengku Buwono I, menyerahkan sebagian dari wilayah Kerajaannya yang terletak di sebelah Barat sungai Progo, kepada salah seorang puteranya yang bernama Pangeran Notokusumo untuk memerintah di daerah itu secara bebas, dengan kedaulatan yang penuh. Pangeran Notokusumo selanjutnya bergelar sebagai Sri Paku Alam I, sedang daerah kekuasaan beliau disebut Adikarto. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, beliau menyatakan sepenuhnya berdiri di belakang Negara Republik Indonesia, sebagai bagian dari negara persatuan Republik Indonesia, yang selanjutnya bersatatus Daerah Istimewa Yogyakarta (setingkat dengan Propinsi), sampai sekarang.

  16. Apa mungkin nyi Seno nonton GP dulu ya?
    kitab diwedhar nunggu kalo Valentino Rossi menempati pole position?

  17. Absen..
    @ki widura, turut bduka cita ki..
    @ki banu, kok dah bgn to ki, mimpine jadi gak bar iku. Ndang sare maneh ben mimpine lanjut. 😉
    @nyi seno & bebahu, met msk kerja lagi. Heh..aku ngeri arus balik iki. Trus piye? Balik gak ya?

  18. Uaaaahhhhhheeeemmmmmmmmm
    Bangun tidur …….. akhirnya saya masuk ke hari Minggu ….. jam 6: 19Am. Kitab belum diwedar ??

    Nyi Senopati ….. masih punya waktu 18 jam kok …….
    Sak sekecani nyi ….

    Monggo sarapan Ki sanak

  19. @Nyi Seno,
    Beberapa Rumah Sakit telah menyiapkan bangsal khusus bagi para Caleg yang stress gara2 gak mendapatkan suara dalam Pemilu Legislatif 9 April lalu.
    Nah kalo untuk para ADBM-ers yang menunggu wedaran rontal yang dijanjikan pada hari ini, ternyata belum disediakan bangsal khususnya Nyi. Bagaimana nanti kalo ternyata Nyi Seno ada halangan sehingga tidak bisa medar rontal III-1 hari ini, akan ditampung dimana kira2 para ADBM-ers yang sutris?
    Nuhun,
    Ki Truno Podang

  20. @Ki Jogoboyo, Ki Termangu-mangu
    Di bawah ini saya sadap dari Wisata ADBM

    Menoreh :
    Bukit Menoreh adalah daerah perbukitan yang membentang di wilayah utara Kabupaten Kulon Progo, sebagai batas antara kabupaten tersebut dengan Kabupaten Purworejo di sebelah barat dan Kabupaten Magelang di sebelah utara. Bukit Menoreh adalah basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam berperang melawan Belanda.

  21. jam segini belum keluar juga

    kalau boleh saya sedikit gelo gak papa ya

  22. Ki Puput monggo kalau mau gelo… asal tensi jangan naik….
    Sakaw sudah biasa, ini salah salah satu latihan untuk para cantrik dari Nyimas Senopati dan Ki GD…
    yang penting nyebar godhong koro sebanyak-banyaknya.

    @ Ki Ismoyo
    ‘Njenengan betul, kalau ndak salah di gandok halaman lain ada peta yang menunjukkan tempat-tempat tersebut, sayang rupanya gandoknya lagi di renovasi jadi tidak bisa dimasuki…
    :mrgreen:

  23. @nyi nunik

    sepertinya kegelisahan seperti itu juga yang sedang dialami oleh nyi seno sehingga kitabnya agak terlambat diwedar 🙂

    balik… nggak… balik… nggak… ngitung kancing… whe lha dhalah kancinge protol kabeh 😀

  24. sakaw temenan iki…..

    ampunnnnnnnnnnn………wes soko jam 12 bengi nganti jam 10 bengi kok tetep durung metu….

    ampunnnnn nyiiiiiiiii…………

  25. Masih menunggu…tapi hari minggu belum berlalu kok….masih 3 jam kalau menggunakan patokan pergantian hari berdasarkan jam …., tapi kalau berdasarkan terbitnya matahari ya sekitar 8 – 9 jam lagi….

    Ditunggu diajeng….

  26. kok belum di wedar juga ya …. sepertinya ini hari minggu malam kan hikz… covernya pun lom mncul hikz..

  27. mungkin harus nunggu hari setelah minggu yaitu
    hari…tit?

  28. On Sunday evening, I am comeback again.

    We..lah durung metu to kitabe? Piye ta mbokayu Seno ki? Katanya hari minggu arep diwedar. Coba saya tak menghadap mbokayu Seno..apa dia masih sibuk liburan ya, mudah-mudahan sudah ngantor di padepokan lagi.

    Apa nunggu para cantrik pada kesel, atau sedang menguji kegigihan dan keteguhan hati?

  29. Ki Pembarep…
    Saya dulu juga pernah bilang ‘nyebar godhong koro…’ tapi malah dimarahin cantrik, siapa tuh, lupa. Katanya, latare dadi reged, tiwas angel le nyaponi latar mundur kok malah disebari godhong koro…., gitu Ki….

  30. Ki sanak semua,
    Sambil menunggu wedarnya kitab yang belum juga wedar, saya kutipkan sekelumit mengenai kisah Raden Rangga putra pertama Panembahan Senopati.
    Kiranya dapat menjadi perbandingan dengan Rangga di ADBM nya Ki SHM :

    Panembahan Senopati mempunyai putra bernama Raden Rangga yang memiliki tombak pusaka bernama sama dengannya, yaitu tombak Kanjeng Kyai Rangga.
    Raden Rangga adalah seorang tamtama yang mahir olah keprajuritan, terutama dalam menggunakan senjata tombak. Banyak jurus tombak yang diciptakannya, antara lain jurus tombak landeyan sehasta, jurus tombak landeyan towok, dan jurus tombak landeyan pegon untuk perang terbuka atau perang berkuda. Metode belajar untuk pemula dibuat menarik dan tidak membosankan, yaitu dengan cara menarikan tarian tombak tameng. Tarian ini menggunakan tombak di tangan kanan dan tameng di tangan kiri. Makin pandai, makin pendek tombak yang dipakai dan makin kecil pula tameng yang dipergunakan.

    Alkisah Sultan Hadiwijaya di Pajang mendapat laporan dari Patih Mancanegara bahwa Panembahan Senopati benar-benar akan berontak. Para abdi dilatih olah keprajuritan. Rakyat dikerahkan untuk membuat bataguna membangun benteng dan sungai yang mengelilingi benteng diperdalam. Mendengar berita tersebut, Sultan Hadiwijaya mengutus putranya, yaitu Adipati Benowo, Patih Mancanegara, dan Adipati Tuban.
    Keesokan harinya ketiga utusan itu berangkat. Tetapi, malam sebelumnya Panembahan Senopati telah mendengar kabar tentang utusan itu dari saudara seperguruannya yang tinggal di Pajang, maka sambutan yang meriah dipersiapkan dengan perjamuan dan pertunjukkan.

    Dalam perjamuan, Panembahan Senopati meyakinkan Adipati benowo bahwa ia tak akan melawan Sultan Pajang. Dalam pertunjukkan penyambutan tamu-tamu agung itu Adipati Tuban memamerkan penari-penari tombak tameng yang sakti dari Tuban. Setelah dipaksa, akhirnya Panembahan Senopati mengizinkan putranya, yaitu Raden Rangga untuk menari tombak tameng. Dalam tariannya itu Raden Rangga memperlihatkan kesaktiannya. Dua penari tombak tameng dari Tuban tidak dapat melukainya dengan senjata apapun, tetapi ketika dipaksa untuk membalas, dengan pukulan tangan kosong kedua penari dari Tuban itu mati terbunuh.

    Setelah kembali ke Pajang, terjadi pertentangan mengenai kebenaran adanya pemberontakan oleh Panembahan Senopati, Adipati Benowo melaporkan bahwa tidak akan ada pemberotakan, tetapi Patih Mancanegara dan Bupati Tuban berpendapat lain. Mereka beranggapan bahwa Panembahan Senopati mempersiapkan kekuatan yang masih terpendam, yaitu melatih olah keparjuritan dengan kedok melatih tari tombak tameng. Dalam tarian tersebut tersembunyi seni olah keprajuritan yang sangat ampuh.
    Di kemudian hari terbukti bahwa pasukan darat maupun pasukan berkuda Mataram yang bersenjatakan tombak merupakan pasukan andalan yang tak terkalahkan. Pasukan itu berada di bawah pimpinan Raden Rangga dengan tombak pusaka Kanjeng Kyai Rangga.

    Nuwun

  31. Para cantrik seperti saya tampaknya harus mulai sadar bahwa Ki GD dan Nyi Seno mulai menurunkan ilmunya yang paling pamungkas, yaitu ajian ikhlas dan sabar.

    Niat ingsun matek aji ikhlas lan sabar, nyuwun karo sing gawe urip, moga-moga diparingi ati sing sabar lan ikhlas, hupss …. ciaat …..

  32. nengok lagi……

    gak ada lagi………….

    alamat apalagi…………..?????????

  33. Ki Sanak semua,

    Sebagaimana biasanya, ada cover ada harapan kitab diwedar. Belum ada cover belum ada harapan untuk kitab diwedar. Jadi ?????
    Ya menunggu terus hingga kitab diwedar, mestinya dengan sabaaaarrr !

  34. wah disini dah ganti hari ni….belom di wedar juga…..

    sabar lah nak…..

  35. belum yach, youwis tak kemulan lagi tit.

  36. Terima kasih, Nyi Seno
    Pengunduh nomer satu!

  37. Matur nuwun….

  38. Matur nuwun Kang mbokayu Ati…..

  39. Akhirnya ngunduh juga,
    Matur nuwun Nyi Seno.

  40. Tanpa sampul yang penting muncul …… namanya saja tiwul …. cocok dinikmati sambil mlungker di bawah kemul …..

    Bangun ….. bangun …….. tong tong tooonggg …..

  41. ora sido gelo

  42. Saderek.
    Ada lagi kisah ragen rangga menurut dongeng. Konon matinya adalah setelah bertempur dengan ular naga wujud ingon2 nyi rara kidul. Sengaja emang disuruh bertempur, biar raden rangga bisa kembali ke negri lautannya nyi rara, bhb panembahan udah ga kuku lagi dgn nakalnya raden rangga.(konon juga raden rangga ini sebetulnya hasil buah karya perkawinan nyi rara ratu jin laut kidul dengan panembahan senopati)
    di adbm mulai disinggung adanya ular besar…, mungkinkah sang ular ini yang akan bertempur dengan raden rangga??..

    nyi seno mungkin terhambat di bandara thai…, kena demo…, tercecer dari rombongan sby…(surabaya).

  43. kalo membaca firasat, mimpi, dan bayangan mimpi sang ibu ratu kidul memanggil manggil den rangga, nampaknya usia raden rangga tidak panjang ya… hiks…, kasian kalo mesti mati muda..
    tapi andaikan umurnya ga panjang, ikhlaskanlah kalo raden rangga meninggalkan para cantrik adbm lebih cepat.
    peninggalannya berupa batu bulat buat maenannya saat masih kecil yang beratnya minta ampun.., masih tersimpan dengan rapi di kotagede…

  44. Ki Widura pengunduh number one, lha waktunya siang hari, sementara kita di wib nunggunya disambi ngantuk liyeping aluyup, tapi ya nggak apa asal betah melek ngunduh cepet kaya Ki Agung Raharja, pengunduh nomor tiga pun oke juga, yang penting ngunduh.
    matur nuwun Nyi.

  45. matur nuwun nyi…………..
    kalo saya selain tiwul yang udah jarang bisa makan….ada satu lagi yang favorit saya….Gatot….[dibikin dari ketela juga…warnanya agak item item gitu…gak tau kalo di lokasi lain namanya apa…]…
    gatot di campur kelapa…dikasih gula tebu dikit….wah nyam nyam….
    ngeces deh nyi….

  46. alhamdulillah, akhirnya setelah 3 hari berpuasa tibalah saatnya berbuka.

    matur nuwun nyi seno

  47. Akhirnya……terima kasih…hidangan berbuka puasa sudah di-unduh…..

  48. maturnuwun sing sanget…mpun kulo unduh

  49. 30 menit setelah jam 12 malam. Wayahe sepi uwong, aku iso ngunduh. Sebuah penantian yang tidak sia-sia. Terimakasih Ki Gd.

  50. adbm-jilid-201.doc

    trims…, masih capek udah disuruh wedar kitab ya…, teungteuingeun nya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: