Buku III-01

terimakasih atas perhatiannya.
libur 3 hari ya.. tit.

kitab akan diedar kembali hari minggu.
sambil Senopati mberesi halaman yang belum di unggah ketikan (retype) nya.

matur nuwun.

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 8 April 2009 at 22:34  Comments (291)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-iii-01/trackback/

RSS feed for comments on this post.

291 KomentarTinggalkan komentar

  1. lagi2 ma…acihhh

  2. Wah..habis hunting tanaman…pulang…mbuka internet, kitab sudah tersedia, tinggal diunduh….
    Teng yu Ki GeDe…
    Teng yu Dinda Senopati…

  3. terima kasih Nyi Seno

  4. Nuwun

  5. Matur nuwun Nyi Seno ….

  6. Lama gak absen…

    Matur nuwun nyi Seno………

  7. absen kok langsung disuguhi kitab

  8. siipo, maca maneh….suwun Ki & Nyi….

  9. siip, maca maneh….suwun Ki & Nyi….

  10. Selamat pagi Ki GD, Nyi Senopati dan poro kadang padepokan. Semoga semua dalam keadaan sejahtera.

    Matur nuwun Ki GD, Nyi Senopati, kita sampun diunduh.
    Monggo,

  11. Kitab 201 ini sampai ada 3 tempat di halaman ini ya Nyi? Mungkinkah rencananya utk 202 & 203 ?

  12. Matur thankyou Nyimas, Ki GD ….

  13. Nyimas Senopati huruf A di KLIK TERTINGGI ternyata bertautan pula ke lontar 201, apa ini maksudnya buat bonus (202) cuma salah taruh ??? 😀

  14. Tiwul-le mak nyuuuussss

    matur nuwun

  15. Tararenkyu… Nyi Mas..
    ada dua kitab… tapi isinya sama ya….kitab 201

  16. setelah libur panjang, sekarang sowan lagi ke pendhapa
    matur nuwun Nyai kitab 201-nya … (takkiro dirapel …)

  17. Selamat pagi Ki sanak semua,

    Belum ada gandok 202, ngantri di gandok sini dulu
    ngisi daftar absen.

    matur nuwun

  18. he..he..he..

    pengunduh urutan ke……

    terima kasih saya haturkan kepada nyi seno dan para bebahu yang ternyata telah melawan arus balik dengan gigihnya.. 🙂

  19. terimakasih atas kitabnya, Nyi Seno

  20. ..sudah ngunduh kitab,
    ..sudah ngeklik vote,
    ..sekarang giliran ‘nyontreng’ koment.

    thanks Ki GD dan bulik Seno ..

  21. para kadang,
    berhubung gandok III2 belum dibukak, monggo nek sami badhe ngobrol2 tetep wonten gandok mriki mawon……

    ada satu yg mengherankan saya, bahwa pada jaman ADBM ternyata lalu lintas perjalanan para pelaku cerita sudah demikian sibuk, wira-wiri melalui jalan raya antara Menoreh-Mataram-Sangkal Putung PP…..wah, rasa2nya saat ini kita2 saja tidak sesering mereka bolak-balik antara 1 kota dgn kota lainnya (kecuali bagi kita2 yg nduduk/lajo kerjanya)…..
    he2X…pripun pendapat ki Sanak??…

  22. matur nuwun Ki Gede, kitab 201 sudah saya unduh, untuk selanjutnya masih adakah gondhok untuk kitab-kitab berikut ?

    mudah-mudahan Ki Gede masih menyediakan gandhok seperti yang lalu

  23. Ki Termangu-mangu
    Lha wong ‘mbien itu belum ada telpon sama fax, jadi ya kalau ada saat genting seperti itu ya mondar-mandir jadinya.
    Mau pake aji pameling kejauhan tur ngga ada repeaternya
    gitu lho…

  24. matur suwun wlaupun kurang wareg (soale ngimpi di rapel je,,,)

  25. matur nuwun Bulek Seno………

  26. Sambil nunggu dibukanya gandok 202

    Ki Termangu-mangu
    Wira-wiri itu tentu ada tujuannya. Orang tua saya dulu wira-wiri Madiun-Caruban (hanya 20 km) berjalan kaki, paling tidak 5 hari sekali (di hari pasaran).
    Kalau tidak ada perlu, ngapain berjalan sejauh itu.

    Betul juga kata Ki Pembarep.
    Seandainya jaman dulu sudah ada HP, ceritanya tidak seru lagi. Tidak ada ceritanya GP harus ke Jatianom memanggil KG untuk menjadi saksi perang tanding AS dengan bajak laut, tinggal sms saja. selesai.

    Apalagi sudah ada TV, penghubung tidak harus lari pontang panting melaporkan kondisi peperangan dan menyampaikan perintah dari senapati ke bawahannya. Reporter bisa melaporkan pandangan mata kejadian perang. Senapati tinggal duduk menghadap TV dan memberi peruntah melalui HP. Dimana asyiknya?

  27. ki Arema,
    kok cerita kita agak sama ya? almarhum bapak saya ya dulu wira-wiri caruban-madiun, krn memang kami domisili di caruban. Sampeyan jugakah?

  28. Buat para cantrik dan para “gegedhug” padepokan..masih kenalkah dengan yg namanya Mbak Retma? punggawa padepokan lama yg sdh ga pernah ngeblog ini kok ngangeni yah..
    Mungkin aku yg salah, justru gak pernah ngikuti blog ini dng telaten..
    Ki Warsono

    S masih kok Ki.. pasti dibaca oleh beliau.

  29. Matur nuwun Nyai Seno….ada dua kitab ya; satu versi docx satunya pptx?

  30. @mas_Oko

    Almarhum orang tua saya tinggal di Madiun, di Kaki sebelah barat Gunung Wilis. Urusan pekerjaan menyebabkan harus ke Caruban, paling tidak sepekan sekali.

    Menurut cerita lho Ki, wong waktu itu saya masih kecil sekali. Setelah saya agak besar sudah tidak lagi, sudah mulai menggunakan sepeda ontel.

  31. Mari nyontreng…
    Saiki gilirane ngeklik ngunduh kitab…
    Antri maleh Nyai senopati…

  32. Absen mawon.
    Gak ikut ronda. Ngantuk, br nyampe sby subuh, gak kebagian bis. Arus balike wuih, ngalahne demo thailand.
    Wis ah, monggo, ngko bengi nek kuat arep jumpa mas rossi.

  33. lho????

  34. SEBENARNYALAH Glagah Putih memang melakukannya untuk membiasakan diri dengan kuda barunya. Setiap hari meskipun hanya sebentar ia menelusuri bulak-bulak panjang. Diluar sadarnya Glagah Putih yang sedang berusaha mengenali watak kudanya itu ternyata selalu diawasi oleh beberapa orang yang ingin merampas kuda itu. Namun dalam pada itu, suatu pikiran baru telah berkembang lagi diantara orang-orang yang menginginkan kuda Glagah Putih itu. Mereka ternyata tidak saja ingin mengambil kudanya, tetapi mereka ingin membawa Glagah Putih bersama mereka. “Ia anak seorang yang kaya-raya.“ berkata orang tertua diantara mereka berempat. “Siapa yang mengatakannya?“ bertanya kawannya. “Tukang satang di Kali Praga tahu benar. Tetapi ia memang sederhana sehingga sama sekali tidak berkesan bahwa ia anak seorang saudagar kaya.“ jawab orang tertua diantara mereka. “Tetapi kita tidak melihat kesan itu sama sekali. Di padukuhan induk itupun tidak ada seorang yang kaya raya. Ki Gede Menorehpun bukan seorang yang kaya raya sebagaimana kita gambarkan.“ desis salah seorang diantara mereka. “Tetapi ia anak seorang yang kaya. Mungkin ia tidak ingin menunjukkan kekayaannya melampaui Ki Gede Menoreh.“ jawab orang tertua, “namun bagaimanapun juga keadaannya, kita dapat membawanya serta. Kita minta tebusan dari keluarganya itu. Disamping seekor kuda yang sangat baik, kita akan mendapatkan uang tebusan entah darimana didapatkannya. Tetapi aku percaya bahwa ia termasuk keluarga orang berada.“ Kawan-kawannya tidak membantah lagi. Bagi mereka, melakukan tugas yang dibebankan oleh orang tertua diantara mereka memang merupakan satu kewajiban. Namun jika benar anak itu dapat ditukar dengan uang tebusan, ada juga keuntungannya mereka terbelenggu waktu di Tanah Perdikan itu. Demikianlah, maka keempat orang itu sampai pada satu kesimpulan, bahwa saatnya sudah tiba. Mereka harus membawa Glagah Putih bersama kudanya keluar dari Tanah Perdikan. Mudah sekali. Mereka berkuda berlawanan arah dengan Glagah Putih. Mencegatnya, kemudian mengajaknya pergi. Dua diantara mereka didepan dan dua di belakang sehingga Glagah Putih tidak dapat lolos dari tangan mereka. Jika anak muda itu memaksa berusaha melarikan diri karena kudanya lebih kuat, maka mereka terpaksa mengambil tindakan kekerasan. Ketika perhitungan mereka telah masak, maka merekapun telah menetapkan waktu untuk melakukannya. Sebagaimana kebiasaannya, maka keempat orang itu berharap bahwa Glagah Putih akan melewati jalan bulak itu dengan kudanya yang tegar. Dengan perhitungan itulah, maka pada suatu pagi, ke¬empat orang itu berkuda menyusuri jalan bulak Tanah Per¬dikan Menoreh. Dua orang didepan, dan dua orang lagi ber¬ada dibelakang, berjarak beberapa puluh langkah, sehingga dengan demikian, mereka seolah-olah tidak sedang dalam perjalanan bersama. Ternyata bahwa yang mereka perhitungkan itu tepat. Seperti kebiasaan Glagah Putih, maka mereka akan berpapasan dengan Glagah Putih itu ditengah-tengah bulak panjang. Dua orang yang berada didepan sama sekali tidak menyapanya. Mereka justru menepi dan memberikan jalan kepada Glagah Putih. Glagah Putihpun semula tidak menghiraukan kedua orang yang berkuda itu. Namun ketika ia melihat dua lagi orang berkuda dan nampaknya keduanya justru dengan sengaja menghalangi jalan, maka Glagah Putih itupun berpaling. Ia mulai curiga terhadap kedua orang berkuda yang lebih dahulu telah berpapasan itu. Karena keduanyapun ter¬nyata telah berhenti dan bahkan kuda merekapun telah berbalik arah. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia menebarkan penglihatannya kesekitarnya, jalan dan sawah nampaknya sepi saja. Namun justru karena itu, maka Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Jika terjadi sesuatu, maka agaknya tidak akan ada seorangpun yang dapat men¬jadi saksi. Tetapi Glagah Putih tidak sempat berpikir terlalu lama. Kedua orang berkuda yang semula di belakang itupun telah mendekatinya. Dengan wajah yang garang penunggang kuda itu yang seorang menggeram, “ikut aku. Jangan membantah atau melakukan sesuatu yang akan dapat mencelakakanmu sendiri.“ Glagah Putih menjadi tegang. Dengan nada datar ia bertanya, “apa yang sebenarnya telah terjadi? Dan siapakah kalian berempat sebenarnya?“ “Jangan bertanya sekarang.“ jawab salah seorang dari mereka, “ikuti kami jika kau ingin selamat.“ Glagah Putih terdiam. Namun keempat orang itupun kemudian telah memerintahkannya untuk mengikuti dua orang berkuda yang semula berada di belakang, namun yang kemudian berada di depan. Sementara dua orang lainnya berada di belakang, beberapa puluh langkah. Glagah Putih terpaksa mengikuti perintah itu. Dua ekor kuda yang berjalan di depannya benar-benar telah menutup jalan, sehingga seandainya Glagah Putih ingin memacu kudanya melampaui keduanya, agaknya ia akan mengalami kesulitan. Jika ia berpacu kembali, maka di bela¬kang ada dua orang yang lain yang mengawasinya pula. “Apa yang sebenarnya mereka kehendaki“ berkata Glagah Putih di dalam hatinya. Namun ketika ia sadar, bahwa ia telah mempergunakan seekor kuda yang besar dan tegar, maka iapun sudah menduga bahwa orang-orang itu tertarik kepada kudanya dan ingin memilikinya. Namun ternyata bahwa ingatan Glagah Putih cukup tajam meskipun tidak setajam ingatan Agung Sedayu. Tiba-tiba saja ia bertanya kepada salah seorang diantara kedua penunggang kuda di hadapannya, “Bukankah kau orang yang aku temui di Kali Praga itu?“ Orang itu berpaling. Namun iapun tidak ingkar. Katanya sambil tersenyum. “Ya anak muda. Aku adalah orang yang kau temui di pinggir Kali Praga itu.“ “Sekarang, apakah yang kalian kehendaki dari aku?“ bertanya Glagah Putih. “Aku tidak sempat berkata sekarang. Kita akan mempercepat perjalanan kita keluar dari Tanah Perdikan ini.“ jawab orang itu. “Aku akan menarik perhatian anak anak muda dan orang-orang di padukuhan-padukuhan yang kita lewati.“ berkata Glagah Putih. “Itu sudah kami perhitungkan, anak muda. Kami telah mengatur perjalanan ini, sehingga kita tidak akan menerobos satu pedukuhanpun. Kita akan selalu lewat bulak-bulak panjang dan pendek. Memang dengan terpaksa kami akan melewati jalan dipinggir padukuhan. Ada dua padukuhan yang akan kita singgung sedikit. Tetapi kami sudah menentukan satu sikap. Jika kau berusaha untuk menarik perhatian orang-orang padukuhan itu, maka umurmu tidak akan panjang, sementara kami akan sempat ber¬pacu meninggalkan mayatmu dihadapan orang-orang padu¬kuhan yang mungkin akan menyesali kematianmu.“ jawab orang yang dijumpainya di pinggir Kali Praga. “Tetapi apa sebenarnya kepentingan kalian dengan aku?“ desak Glagah Putih. “Tutup mulutmu. Kami bukan orang-orang yang berhati lembut, yang mengenal belas kasihan dan dapat berbuat baik kepada seseorang yang memelas seperti kau.“ bentak orang itu. Glagah Putih ternyata mulai tersinggung. Tetapi ia berusaha untuk mengekang diri. Ia tahu, apa saja yang akan dilakukan orang-orang itu terhadapnya. “Tetapi aku tidak mengetahui tingkat kemampuan mereka.“ berkata Glagah Putih. Namun dalam keadaan yang memaksa maka Glagah Putih akan menghadapi siapapun, ia memang menghindari permusuhan, tetapi ia bukan seorang yang akan membiarkan lehernya dipatahkan orang tanpa perlawanan. Dengan demikian maka Glagah Putih menjadi terdiam. Ia mengikuti saja segala perintah dari keempat orang itu, terutama orang yang dijumpainya di Kali Praga ketika ia membawa kudanya itu kembali ke Tanah Perdikan Menoreh dari Mataram. Ketika mereka melewati jalan di pinggir padukuhan, Glagah Putih memang tidak berusaha untuk menarik perhatian orang-orang padukuhan itu. Ia tidak ingin melepaskan diri dari tangan keempat orang itu, karena ia justru ingin mengikuti mereka. Satu dua orang yang melihat Glagah Putih lewatpun tidak berbuat sesuatu. Mereka memang bertanya di dalam hati, siapa saja yang lewat bersama Glagah Putih. Tetapi mereka membiarkannya saja Glagah Putih lewat tanpa ber¬tanya apapun juga. Justru karena Glagah Putih sengaja membantu perjalanan itu, maka tidak seorangpun yang telah mengganggunya. Beberapa saat kemudian, mereka telah mendekati perbatasan Tanah Perdikan Menoreh justru di tengah-tengah bulak persawahan. “Kita akan keluar dari Tanah Perdikan dan menuju ke bukit kecil itu.“ berkata orang yang bertemu di pinggir Kah Praga itu. “Untuk apa?“ bertanya Glagah Putih pula. Orang itu tidak menjawab. Tetapi kuda-kuda itupun berpacu semakin cepat. Dengan demikian maka perbatasanpun menjadi semakin dekat. “Terima kasih atas bantuanmu.“ berkata orang itu kepada Glagah Putih ketika mencapai perbatasan. Glagah Putih termangu-mangu. Tetapi ia masih saja mengikuti dua orang penunggang kuda yang di depan, sementara dua orang lagi yang di belakang justru menjadi semakin rapat. Jarak mereka dari GLagah Putihpun tidak lagi lebih dari sepuluh langkah. “Kita akan pergi ke bukit kecil itu.“ berkata orang yang pernah dijumpainya di pinggir Kali Praga. “Untuk apa pergi ke bukit itu. Bukankah bukit itu bukit yang liar dan ditumbuhi semak-semak dan gerumbul-gerumbul lebat?.“ bertanya Glagah Putih. “Aku akan menjawabnya setelah kita berada dibe¬lakang bukit itu.“ jawab orang yang pernah dikenalnya itu. Glagah Putih tidak bertanya lagi. Kuda-kuda itupun kemudian menyimpang melalui jalan sempit, menuju ke bukit kecil yang liar dan jarang sekali dijamah tangan seseorang. Ketika mereka sampai ke bukit itu, maka merekapun telah melingkarinya dan mereka baru berhenti setelah me¬reka merasa aman karena terlindung oleh bukit itu dan gerumbul-gerumbul yang tumbuh diatas dan disekitarnya. “Turunlah.“ berkata orang yang dijumpainya di Kali Praga. “Apa maksud kalian sebenarnya?“ Glagah Putih ber¬tanya pula. “Turunlah.“ ulang orang itu. Sementara itu keempat orang itupun telah turun pula dari kuda mereka. Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Namun sekali lagi orang itu membentaknya cukup keras, “Cepat, turun.” Glagah Putihpun segera meloncat turun pula. Wajahnya menjadi tegang. Namun ia masih berusaha untuk mengekang diri menghadapi keempat orang yang tidak dikenalnya itu, selain salah seorang daripadanya pernah dijumpainya di pinggir Kali Praga, karena mereka bersama-sama menyeberang. “Nah anak muda.“ berkata orang itu, “aku masih memerlukan bantuanmu sebagaimana kau berikan kepada kami pada saat kita meninggalkan Tanah Perdikanmu.“ “Apa yang dapat aku lakukan?“ bertanya Glagah Putih. “Berikan bajumu.“ berkata orang itu. “Untuk apa?“ bertanya Glagah Putih pula. Orang itu tertawa. Katanya, “Anak muda. Bukankah kau anak seorang saudagar yang kaya raya? Kau selalu membayar lebih dan bahkan berlipat jika kau menyeberangi Kali Praga kepada tukang satang.“ Glagah Putih mengerutkan keningnya. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Sekarang berikan bajumu. Salah seorang diantara kami akan pergi kerumah ayahmu untuk minta uang tebusan bagi keselamatanmu. Dengan demikian maka kami akan mendapatkan kuda dan sekaligus uang, justru karena kau adalah anak saudagar yang kaya raya.“ Wajah Glagah Putih menegang. Masih saja ada ekornya. Permainan Raden Rangga itu telah menyeretnya ke dalam beberapa kesulitan dan memaksanya berurusan dengan orang-orang yang garang. “Berikan bajumu!” berkata orang itu. “Untuk apa?” ber¬tanya Glagah Putih pula. Orang itu tertawa. Katanya: “Anak muda, bukankah kau anak seorang saudagar yang kaya raya? Kau selalu membayar lebih dan bahkan berlipat….. Karena Glagah Putih tidak segera menjawab, maka orang itupun membentaknya, “Cepat, lepas bajumu.“ “Ki Sanak.“ berkata Glagah Putih dengan nada datar, “aku di Tanah Perdikan ini sama sekali tidak bersama de¬ngan orang tuaku. Aku disini justru ikut kakak sepupuku. Apalagi kaya raya, untuk hidup sehari-haripun agaknya tidak ada tersisa.“ “Jangan mengigau.“ orang yang ditemuinya diping¬gir Kali Praga itu membentaknya, “kau kira aku tidak tahu bahwa kau memang benar-benar anak seorang yang kaya raya.“ “Ki Sanak.“ berkata Glagah Putih kemudian, “jika kau tidak percaya, marilah. Aku temukan kau dengan keluargaku.“ “Kami bukan orang-orang gila yang dapat mempercayai ceriteramu itu. Aku tahu bahwa kau adalah seorang yang mempunyai keluarga yang juga kaya raya di Mataram, sehingga dari keluargamu di Mataram itulah kau mengambil kuda yang besar dan tegar itu.“ berkata orang yang dijumpainya dipinggir Kali Praga itu. Glagah Putih hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Meskipun demikian ia masih mencoba un¬tuk memperingatkan orang itu. “Jika kau ingin menemui keluargaku, cobalah. Temuilah kakang sepupuku yang tinggal di padukuhan induk itu. Namanya Agung Sedayu.“ Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bergumam, “Nama itu rasa-rasanya pernah aku dengar.” “Banyak orang yang telah mendengar nama kakang Agung Sedayu.“ berkata Glagah Putih, “ia adalah salah se¬orang pemimpin anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh.” Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Namanya memang sudah didengar oleh banyak orang. Tetapi hal itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Agung Sedayu selain namanya banyak dikenal, ia tentu seorang yang memiliki banyak harta benda. Setidak-tidaknya ia tentu mempunyai simpanan yang berharga. Mungkin pendok dari emas, mungkin kamus dari emas yang di tretes inten berlian atau jenis perhiasan-perhiasan yang lain dapat dipergunakannya untuk menebusmu.“ “Kakang tidak akan melakukannya. Ia akan membiarkan aku berusaha untuk menyelamatkan diriku sendiri.“ berkata Glagah Putih kemudian. Tetapi orang itu tertawa. Katanya, “Jangan berusaha memperbodoh kami. Lepaskan bajumu, seseorang akan datang ketempat kakak sepupumu. Kakak sepupumu itu tentu tidak akan berani mengganggu orang yang datang kepadanya, karena nyawamu menjadi tanggungan. Jika orang itu tidak kembali pada saatnya, maka kau akan dicekik sampai mati disini.“ Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemu¬dian iapun bertanya, “tetapi apakah jika kakakku mau menebus aku, maka aku akan dibebaskan?“ “Agaknya demikian.“ berkata orang itu, “mudah-mudahan tebusan itu cukup memadai bagi tebusan keselamatanmu.“ “Jika kurang?“ bertanya Glagah Putih kemudian. Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeram sambil bergeser selangkah maju, “Jika orang tuamu, atau siapapun di padukuhan induk itu memberi tebusan kurang dari yang kami kehendaki, maka lehermu akan kami patahkan disini. Mayatmu akan menjadi makanan burung gagak, karena tidak akan ada seorangpun yang pernah menemukannya.“ Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam pada itu orang yang pernah dijumpainya di Kali Praga itu membentak lagi, “Cepat. Berikan bajumu.“ Glagah Putih tidak membantah. Iapun kemudian melepaskan bajunya dan memberikannya kepada orang itu. Orang itu tertawa. Katanya, “Nah, baju ini akan dibawa ke rumahmu dan tergantung kepada tebusan yang akan diberikan“ Glagah Putih tidak menyahut. Sementara itu orang yang dijumpainya di Kali Praga itu berkata kepada seorang kawannya, “Pergilah ke padukuhan induk itu. Seandainya benar kau akan bertemu dengan orang yang bernama Agung Sedayu, kau tidak usah takut. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa karena anak ini akan menjadi tanggungan. Jika kau tidak kembali dalam waktu yang kami anggap cukup, maka anak ini akan kami bunuh disini.“ Kawannya itu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian bertanya, “Bagaimana jika aku harus menunggu orang itu mengumpulkan uang yang diperlukan.“ “Tidak. Kau harus kembali kemari. Jika orang tua belum mempunyai uang, maka ia harus berjanji selambat-lambatnya sampai esok. Esok kau akan mengambil uang dari tangannya. Dan membawanya kepada kami. Jika ter¬jadi sesuatu atasmu, dengan cara apapun juga, maka anak ini akan mati. Ia akan berada ditempat yang tidak diketahui selain oleh kami jika kau tidak berhasil membawa uang hari ini.“ jawab orang itu. Orang itu mengangguk-angguk. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Karena itu, maka iapun segera meloncat keatas punggung kudanya dan dengan lantang bertanya kepada Glagah Putih ancar-ancar jalan yang harus ditempuhnya. “Setelah aku memasuki padukuhan induk, aku harus kemana?“ bertanya orang itu. Glagah Putihpun memberikan petunjuk tentang jalan yang menuju kerumahnya. Lalu katanya, “Jika kau agak bingung bertanyalah rumah Agung Sedayu.“ Nama itu memang membuat tengkuk orang itu meremang. Tetapi ia tidak usah takut. Jika ia tidak kembali pada waktu yang diperkirakan, maka tebusannya akan terlalu mahal. Anak muda itu akan mati. Demikianlah maka orang itupun kemudian telah berpacu meninggalkan tempat yang tersembunyi itu menuju kepadukuhan induk. Sepeninggal orang itu Glagah Putih termangu-mangu. Ia agak ragu untuk berbuat sesuatu. Mungkin dengan menunggu ia akan mendapatkan sedikit keterangan tentang keempat orang itu. Tetapi jika ia menunggu, maka lawannya akan bertambah dengan seorang. “Mungkin dengan berkurang seorang itu akan ada artinya.“ berkata Glagah Putih didalam hatinya. Tetapi Glagah Putih tidak tergesa-gesa. Orang yang pergi ke padukuhan induk itu memerlukan waktu yang cukup sehingga masih mempunyai waktu untuk berbincang barang sejenak. Karena itu, maka Glagah Putihpun kemudian melakukan saja perintah orang yang dijumpainya di Kali Praga itu. “Duduklah.“ berkata orang itu, “tetapi kumpulkan kudamu menjadi satu disini.“ Glagah Putih tidak membantah. Iapun mengikatkan kudanya berkelompok dengan kuda ketiga orang yang menjaganya. Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam ketika ia sadar, bahwa ketiga orang itu telah menempatkan dirinya dalam putaran yang melingkarinya. Agaknya ketiganya benar-benar tidak mau kehilangan. Glagah Putih yang kemudian menemukan sebongkah batu yang besar telah berbaring diatasnya tanpa menghiraukan ketiga orang yang mengawasinya, sehingga tingkah lakunya itu justru menarik perhatian ketiga orang itu. “He, kenapa kau berbaring disitu?“ bertanya salah seorang diantara ketiga orang itu. “Aku mengantuk.“ jawab Glagah Putih, “mungkin aku akan mempunyai waktu untuk tidur barang sejenak.” “Persetan.“ geram orang yang dijumpainya di Kali Praga, “apakah kau tidak membayangkan bahwa kau akan dapat mati kami bunuh sekarang ini?“ “Bukankah jika orang yang kau perintah untuk mengambil uang kembali dengan membawa tebusan maka aku akan kau ijinkan pulang?“ jawab Glagah Putih tanpa bangkit. “Persetan.“ teriak orang yang dijumpainya di Kali Praga itu lagi, “jika kau mengabaikan kami, maka mung-kin kami akan mengambil satu keputusan lain. Kami akan menerima uang tebusannya, tetapi kami akan tetap membunuhmu.“ “Ah, jangan main-main.“ Glagah Putih justru tertawa, “jika aku kau biarkan hidup, mungkin aku akan dapat mencarikan sumber uang yang lebih banyak dari yang kau perkirakan.“ Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Ja¬ngan mencoba mengelabuhi kami dengan cara yang bodoh itu. Yang penting bagi kami adalah uang tebusan itu. Baru kemudian kami akan mempertimbangkan yang lain-lain. Bahkan mungkin aku memang akan membunuhmu.“ “Jangan berceloteh tentang membunuh.“ sahut Glagah Putih, “setiap orang tidak akan membiarkan dirinya dibunuh.“ Tiba-tiba orang itu meloncat bangkit sambil berteriak, “Apakah kau dapat berbuat demikian?“ “Ya. Bukankah aku berjanji untuk mendapatkan uang yang lebih banyak.“ jawab Glagah Putih tanpa menghiraukan sikap orang itu. Orang-orang itupun saling berpandangan sejenak. Orang yang pernah bertemu dengan Glagah Putih di ping¬gir Kali Praga itupun kemudian berkata, “Aku ingin memaksamu untuk membawa kami mendapatkan uang lebih banyak setelah kami melihat uang tebusan yang akan dibawa oleh kawanku itu. Tetapi segala sesuatunya tergantung kepada keadaan dan sikap orang tua atau kakak sepupumu dan sikapmu sendiri. Jika kau merendahkan kami dengan caramu itu, maka kami benar-benar akan membunuhmu. Bahkan mungkin kami tidak akan menunggu kawan kami yang membawa uang tebusan itu dating.“ “Jangan begitu.“ sahut Glagah Putih, “kalian tidak boleh ingkar.“ “Ingkar tentang apa?“ bertanya orang yang ditemuinya di Kali Praga itu. “Bukankah kalian berjanji untuk membiarkan aku hidup jika tebusannya mencukupi.“ jawab Glagah Putih. “Aku tidak pernah merasa terikat oleh janji apapun juga.“ jawab orang itu, “kalau aku ingin membunuh, maka aku akan membunuh.“ “Bukankah itu sikap sepihak? Mungkin kau ingin membunuh dan benar-benar akan membunuh. Tetapi kau harus memperhatikan sikap pihak lain. Orang yang ingin dan akan kau bunuh itupun mempunyai sikap sendiri. Mungkin orang itu tidak ingin dan tidak mau kau bunuh, bahkan ingin dan benar-benar akan membunuhmu.“ jawab Glagah Putih. “Tutup mulutmu.“ orang itu membentak, “menurut pendengaranku suaramu benar-benar menyakitkan hati. Tentu bukannya tidak kau sengaja. Kau anggap bahwa kau akan mampu berbuat seperti yang kau katakan? Karena itulah agaknya kau sama sekali tidak nampak gentar dan ketakutan. Bahkan kau masih sempat untuk berbaring di atas batu itu.“ Glagah Putihpun kemudian berdiri sambil berkata, “Sebenarnya aku ingin menunggu kawan kalian itu kembali. Tetapi ternyata aku tidak tahan mendengar dan melihat suara serta sikapmu. Karena itu maka apaboleh buat. Aku akan membunuh kalian.“ Wajah orang-orang itupun menjadi tegang. Mereka memang sudah menyangka bahwa Glagah Putih mem-punyai sandaran untuk bersikap seenaknya. Tetapi mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja anak itu mengatakan bahwa ia akan membunuh mereka. Tetapi raemlik sikap Glagah Putih, maka anak muda itu benar-benar telah bersiap untuk melakukan seperti yang dikatakannya. Tetapi orang yang ditemuinya di Kali Praga itupun ber¬kata, “Kau jangan menjadi gila anak muda. Seandainya kau benar-benar akan melawan, apakah kau menganggap kami bertiga tikus-tikus tanah yang tidak berharga? Kau tidak membawa senjata apapun, sementara kami membawa senjata yang akan dapat memenggal lehermu. Apaiagi kami bertiga adalah orang-orang yang memang terbiasa dengan pekerjaan kami seperti ini. Membunuh bagi kami sama se¬kali tidak mengerutkan kulit tengkuk kami.“ “Siapapun, kalian dan apapun yang pernah kalian lakukan, namun aku tidak akan menarik kata-kataku. Akulah yang akan membunuh kalian jika memang kalian kerjakan membunuhku.“ “Kau benar-benar menjadi gila anak muda? Mungkin ketakutan yang kau tahankan telah mempengaruhi kejernihan otakmu.“ berkata orang yang pernah dijumpainya di Kali Praga itu, “tetapi keadaanmu tidak akan dapat menumbuhkan belas kasihan kami atasmu. Kami tetap pada sikap kami. Jika perlu kami akan membunuhmu meskipun kami akan menerima uang tebusan itu. Bahkan jika kau benar-benar menjadi gila, kami akan segera membunuhmu, tanpa menunggu kawanku yang mengambil uang tebusan itu.“ Glagah Putih maju setapak. Dengan nada tinggi ia ber¬kata, “Baiklah. Marilah kita tidak lagi berpura-pura. Kalian telah menyatakan diri dan niat kalian. Sekarang biarlah aku menyatakan diriku. Aku adalah Glagah Putih, adik sepupu Agung Sedayu yang menjadi salah seorang pembina para pengawal Tanah Perdikan Menoreh Karena itu, maka aku tidak akan merasa kecil berhadapan dengan kalian, meskipun kalian menyebut diri kalian sebagai orang-orang yang paling garang serta bertiga, karena tidak ada orang yang manapun juga yang dapat menggetarkan jantungku. Karena itu, maka aku dapat menawarkan dua kemungkinan yang paling mungkin bagi kalian. Menyerah dan akan aku serahkan kepada Ki Gede Menoreh atau melawan tetapi kalian akan mati.“ Wajah-wajah ketiga orang itu menjadi tegang. Namun orang yang pernah dijumpainya di Kali Praga itu kemudian berkata, “Agaknya kau sudah benar-benar gila. Kau membanggakan dirimu karena kau adalah salah seorang pembina para pengawal Tanah Perdikan. Kau kira kedudukan itu dapat mempengaruhi sikap kami terhadapmu? Apa kau kira bahwa seorang pembina pengawal Tanah Perdikan itu cukup memiliki kemampuan untuk melawan kami, seorang melawan seorang? Apalagi kami bertiga seperti sekarang ini?“ “Sudahlah.“ berkata Glagah Putih, “aku sudah siap untuk menangkap kalian. Melawan atau tidak melawan. Kalian akan aku ikat dan aku giring ke padukuhan induk Tanah Perdikan. Bahkan jika kalian melawan, mungkin salah seorang atau kalian bertiga akan mati.“ “Tutup mulutmu.“ geram orang yang ditemuinya di Kali Praga itu. Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi iapun telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun telah melangkah maju mendekati orang yang dijumpainya di pinggir Kali Praga itu. Namun sementara itu, kedua orang kawannya yang lainpun telah bergeser pula mendekat. Namun mereka masih tetap berada diarah yang berbeda-beda, sehingga ketiga orang itu telah memberikan kesan bahwa mereka telah mengepung Glagah Putih. Glagah Putih menyadari kedudukannya. Namun ia sama sekali tidak menjadi gelisah. Ia sudah mapan dan benar-benar telah mempersiapkan diri untuk melawan ketiga orang itu. Karena itulah maka sejenak kemudian telah terjadi ben-turan. Kekuatan telapak tangan Glagah Putih yang terbuka telah membentur tangan lawannya yang bersilang didepan dadanya. Yang dianggap orang terpenting dari ketiga orang itu, adalah orang yang ditemuinya di Kali Praga itu, sehingga perhatian Glagah Putih terbesar tertuju kepadanya. Sebenarnyalah bahwa orang itupun telah benar-benar menjadi marah. Bukan saja kata-kata Glagah Putih yang menyakiti hati mereka, tetapi sikap Glagah Putihpun seolah-olah telah merendahkan martabat orang-orang yang mengepungnya itu. Karena itu, maka orang yang pernah bertemu di pinggir Kali Praga itupun menggeram, “Kau memang harus dicincang. Aku tidak akan membunuhmu dengan segera. Tetapi melihat kematianmu yang sulit, akan dapat menumbuhkan kegembiraan tersendiri.“ “Jika demikian maka akupun akan bersikap serupa.“ berkata Glagah Putih, “kalian bertiga akan mengalami saat-saat terakhir yang tidak menyenangkan.“ Orang yang pernah ditemui di pinggir Kali Praga itu benar-benar tidak dapat mengekang dirinya lagi. Dengan serta merta iapun telah meloncat menyerang dengan garangnya. Namun Glagah Putih sudah memperhitungkannya. Karena itu, maka iapun dengan cepat pula mengelakkan serangan itu, sehingga serangan itupun sama sekali tidak menyentuhnya. Tetapi Gla¬gah Putih terkejut mengalami serangan yang kedua. Ternyata kawan orang yang gagal mengenainya itu cepat pula bertindak. Selagi Glagah Putih menghindari serangan pertama itu, maka seorang diantara kedua kawannya telah menyerangnya pula. Namun Glagah Putih memang memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa. Meskipun serangan itu datang begitu cepatnya, tetapi Glagah Putih sempat mengelak. Namun dengan demikian, Glagah Putih harus memperhitungkan lawannya yang seorang lagi. Jika langkahnya sejalan dengan kawannya, maka iapun akan dengan cepat menyusul serangan pula. Sebenarnyalah perhitungan Glagah Putih itu tepat. Pada saat ia dengan susah payah menggeliat menghindari serangan orang kedua itu, maka orang yang ketigapun telah meloncat menyerangnya pula. Kakinya terjulur lurus menyamping, sedangkan tubuhnya miring searah dengan julur kakinya. Glagah Putih tidak terlalu terkejut mendapat serangan itu. Tetapi ia harus dengan cepat memperhitungkan langkah yang akan diambilnya, justru serangan itu merupakan yang berbahaya baginya. Namun ketika kaki itu hampir menyentuh tubuh Glagah Putih, maka Glagah Putih itu telah berguling ditanah Demikian cepat dengan perhitungan bahwa serangan akan segera menyusul pula. Itulah agaknya yang mendorongnya Untuk dengan cepat melenting berdiri sambil bersiap menghadapi serangan yang bakal datang. Pada saat Glagah Putih mempersiapkan diri, maka orang yang pertamalah yang sudah siap untuk menyerang. Tetapi Gla¬gah Putih tidak membiarkan dirinya menjadi sasaran. Ia justru ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kecepatan bergerak melampaui kecepatan gerak ketiga orang itu. Karena itu, sebelum orang itu meloncat menyerangnya, justru Glagah Putihlah yang telah mendahuluinya. Sambil meloncat tangannya terjulur lurus mengarah kepada orang yang pertama, yang pernah ditemuinya di pinggir! Kali Praga. Tetapi Glagah Putih yang belum mengetahui kemampuan lawan-lawannya, tidak mempergunakan seluruh kekuatannya. Bahkan ia tidak mempergunakan ujung jarinya yang merapat yang akan dapat mematahkan iga-iga lawannya, apalagi dengan kepalan tangannya. Tetapi Glagah Putih justru memperguna¬kan telapak tangannya yang terbuka. Melihat kecepatan gerak Glagah Putih yang justru mendahuluinya menyerang, orang itu terkejut bukan buatan. Ia tidak sempat mengelakkan diri karena serangan yang tiba-tiba itu Namun ia telah berusaha untuk melindungi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya. Karena itulah, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan kekuatan telapak tangan Glagah Putih yang terbuka telah membentur tangan lawannya yang bersilang didepan dadanya. Ternyata kedua-duanya telah terkejut pula. Kekuatan Gla¬gah Putih telah mampu melontarkan lawannya beberapa langkah surut. Bahkan tekanan tangannya sendiri yang menyilang didada karena dorongan serangan Glagah Putih rasa-rasanya telah menghimpit dadanya itu dan nafasnyapun rasa-ra-sanya menjadi sesak. Sementara itu, Glagah Putih yang tidak mempergunakan kemampuan puncaknya, telah tertahan dan bahkan terdorong selangkah surut untuk menghindarkan diri dari tekanan balik didalam tubuhnya sendiri. Tetapi Glagah Putih tidak sempat menilai keadaan lawan¬nya. Iapun tidak dapat memburu lawannya yang terlempar surut itu. Tetapi sudah didalam rangka perhitungannya, bahwa serangan dari kedua lawannya yang lainpun tentu akan segera dating. Sebenarnyalah, serangan dari kedua lawannya yang lainpun telah meloncat menyerang. Dengan tangkas Glagah Putih menghindar. Justru ketempat yang mapan untuk mendapat serangan dari orang yang ketiga. Glagah Putih memang menunggu serangan itu. Karena itu, ketika orang ketiga itu benar-benar menyerangnya, maka Glagah Putih sama sekali tidak menghindar. Ialah yang kemudian menangkis serangan itu, setelah dalam pertempuran itu ia berhasil menjajagi kekuatan lawan-lawannya. Sekali lagi telah terjadi benturan. Glagah Putih telah meloncat surut untuk mengimbangi tekanan yang diakibatkan oleh benturan yang terjadi. Namun dalam pada itu, lawannya yang justru menyerangnya telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan hampir saja ia telah kehilangan keseimbangannya. Glagah Putihpun kemudian telah bersiap. Tetapi ketiga lawannya agaknya tidak tergesa-gesa menyerangnya. Mere¬ka telah melihat satu kenyataan bahwa anak muda itu ter¬nyata memang memiliki kemampuan yang tinggi. “Jangan berbangga dengan kejutan-kejutan kecil yang mampu kau lakukan.“ geram orang yang ditemuinya di pinggir Kali Praga. Glagah Putih memandanginya dengan tajamnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Sementara itu, orang yang pernah ditemuinya di ping¬gir Kali Praga itupun bergeser mendekati sambil berkata, “Aku akui, bahwa aku tidak menyangka kau memiliki ilmu yang tinggi. Aku kira bahwa aku akan dengan mudah meringkusmu dan mengikatmu sebelum kau aku bunuh dengan caraku. Ternyata bahwa kau mempunyai kemam¬puan untuk melawan. Agaknya kemampuanmu yang tidak berarti itulah yang membuatmu menjadi sombong dan sengaja membiarkan dirimu kami bawa ketempat ini, karena kau mengira bahwa kau akan dapat melawan kami bertiga.“ Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dipandanginya ketiga orang itu berganti-ganti. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Ki Sanak. Kalian masih mempunyai kesempatan. Jika kalian menyerah dan mengikuti aku ke Tanah Perdikan dan menghadap Ki Gede, maka aku tidak akan mengambil langkah kekerasan.“ “Kau memang terlalu sombong.“ berkata orang itu, “baiklah. Kau akan segera mengetahui bahwa kesombonganmu itu harus diakhiri.“ “Sejak semula kau hanya berbicara saja. Mengancam, menakut-nakuti dan apalagi. Tetapi kau tidak mampu ber¬buat apa-apa untuk membuktikan kata-katamu itu.“ jawab Glagah Putih. Orang itu meggeretakkan giginya. Ia benar-benar merasa direndahkan oleh Glagah Putih. Karena itu, maka iapun tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali benar-benar melakukan sebagaimana dikatakannya. Karena itu, maka orang itupun segera bersiap. Kedua orang kawannyapun telah melakukan hal yang sama. Ketika Glagah Putih memandangi sorot mata orang itu serta sikap mereka, maka Glagah Putihpun menyadari bahwa orang-orang itu tentu sudah sampai kepada tingkat ilmu mereka yang tertinggi. Dengan demikian maka Glagah Putihpun harus ber-hati-hati. Ia tidak boleh lengah. Jika ia membenturkan ilmunya, maka ia harus mengerahkan kekuatan yang lebih besar dalam lambaran ilmunya, agar bukan dirinyalah yang terlempar dan bahkan terbanting jatuh. Sejenak kemudian maka ketiga orang itupun telah benar-benar bersiap. Pada saat Glagah Putih bergeser, maka salah seorang diantara ketiga lawannya itupun maju selangkah. Glagah Putihpun segera mempersiapkan diri. Namun yang tiba-tiba meloncat menyerang adalah justru orang yang lain. Glagah Putih memang agak terkejut. Tetapi ia memiliki kemampuan untuk bergerak cepat. Karena itu, maka ia sem¬pat mengelakkan serangan itu. Kecepatan gerak anak muda itu memang menggelisahkan lawan-lawannya. Mereka seakan-akan tidak mem¬punyai kesempatan untuk dapat menyentuhnya. Namun dengan mengerahkan segenap kemampuan dalam puncak ilmu mereka, maka mereka bertiga berharap untuk dapat mengimbangi kecepatan gerak Glagah Putih. Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Ketiga orang lawan Glagah Putih benar-benar tidak dapat mengekang diri lagi. Mereka bergerak semakin lama semakin rapat dalam lingkaran yang mengelilingi Glagah Putih. Dengan tata gerak yang khusus mereka mulai berputar disekeliling lawannya yang berada ditengah-tengah. Glagah Putih menjadi semakin berhati-hati. Ia mulai merasakan satu tekanan ilmu yang terasa semakin lama semakin keras. Dengan demikian maka Glagah Putihpun telah meningkatkan ilmunya pula. Ia mulai dengan kekuatan yang se¬makin meningkat, menyerang orang-orang yang berputaran itu. Tetapi orang-orang yang berputaran itu, seakan-akan telah terikat dalam satu otak yang menggerakkan mereka. Setiap kali Glagah Putih menyerang salah seorang yang berada didalam lingkaran itu, maka ia telah mendapat serangan pula dari orang yang lain, sementara orang yang mendapat serangannya hanya sekedar menghindar. Dengan demikian maka Glagah Putih mulai dipengaruhi oleh permainan yang membuatnya pening. Putaran itu sendiri terasa sangat mengganggunya. Apalagi semakin lama putaran itu menjadi semakin cepat. Bahkan pada saat-saat tertentu, seorang diantara mereka meloncat dari lingkaran, menusukkan serangannya kearah Glagah Putih. “Gila.“ geram Glagah Putih didalam hatinya, “putaran itu membuat kepalaku menjadi pening.“ Dengan demikian, maka Glagah Putih tidak lagi terpancang pada tingkat ilmunya. Iapun kemudian telah meningkatkan kemampuannya untuk memecahkan kepungan itu. Karena itu, maka untuk sesaat ia memperhatikan putaran itu sendiri sambil sekali-sekali menghindari serang¬an yang datang berurutan, kadang-kadang justru dua orang menyerangnya berbareng. Ketika ia mulai mengenali bentuk permainan lawannya, maka Glagah Putihpun telah mempersiapkan satu serangan yang diperhitungkannya baik-baik. Pada saat yang tepat, maka Glagah Putihpun telah me¬loncat kearah salah seorang yang melingkarinya itu. Seperti yang diperhitungkan maka orang itu meloncat mengelak, sementara orang yang berada di belakangnya justru telah menyerangnya pula dengan cepat. Glagah Putih sudah bersiap-siap menghadapi kemung¬kinan itu. Dengan tangkasnya Glagah Putih mengelak. Ia sama sekali tidak melayani orang yang menyerangnya itu. Tetapi ia justru meloncat menyerang orang yang lain. Langkah Glagah Putih itupun tidak terduga pula oleh lawan-lawannya. Karena itu, maka putaran merekapun agak terganggu karenanya. Glagah Putih tidak membiarkan kesempatan itu. Justru pada saat yang demikian, maka iapun telah mempergunakan kemampuannya bergerak cepat, untuk menekan lawannya yang sedang agak bingung menghadapi tata geraknya. Serangannya yang kemudian ternyata telah berhasil mendorong salah seorang diantara ketiga lawannya itu surut, sehingga dengan demikian maka kepungan itupun telah pecah. Dengan tangkasnya Glagah Putihpun kemudian meloncat keluar dari kepungan. Sejenak ia berdiri tegak. Namun kemudian iapun bertolak pinggang sambii menengadahkan dadanya. Katanya dengan suara lantang, “Ayo, usahakan dapat mengepung aku kembali.“ Ketiga orang itu mengumpat hampir berbareng. Mere¬ka benar-benar tidak menyangka bahwa anak muda yang memiliki kuda yang besar dan tegar itu memiliki ilmu yang tinggi. Namun justru karena itu, maka ketiga orang itu benar-benar kehilangan pengendalian diri. Orang yang pernah ditemui Glagah Putih di pinggir Kali Praga itupun kemu¬dian menggeram, “Kau benar anak muda. Jika kami tidak membunuhmu tanpa ragu-ragu, kau memang dapat mem¬bunuh kami. Ternyata kau benar-benar memiliki ilmu yang pantas untuk melawan kami bertiga. Kami tidak dapat mengelakkan kenyataan, bahwa kau berhasil memecahkan kepungan kami, sehingga dengan demikian maka kau benar-benar seorang yang memang harus diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Tetapi jangan menyesal bahwa dengan demikian, kami berniat untuk dengan sungguh-sungguh pula ingin membunuhmu.“ “Katakan apakah semula kau tidak ingin membunuhku dengan bersungguh-sungguh? Apakah semula kau hanya ingin menakut-nakuti saja?“ bertanya Glagah Putih. “Kami masih ingin membuat pertimbangan-pertimbangan. Tetapi sekarang tidak.“ geram orang itu. Glagah Putih itupun menggeram pula. Katanya, “Ka¬lian ternyata telah menghina aku. Kau kira aku sebangsa kecoak yang dapat kau takut-takuti he? Tetapi baiklah. Aku akan mengambil langkah sebagaimana kau ambil. Sejak semula aku menempatkan diriku sebagaimana kalian bersikap terhadapku. Akupun benar-benar akan membu¬nuhmu sekarang jika semula aku hanya ingin menakut-nakutimu.“ “Uh, kau memang gila.“ teriak salah seorang dari ke¬tiga orang itu, “aku menjadi muak.“ “Tepat.“ sahut Glagah Putih, “kalian memang memuakkan.“ Orang-orang itu tidak lagi mampu menahan diri. Tiba-tiba saja seorang diantara mereka telah menarik senjatanya. Sekejap kemudian yang lain-lainpun telah melakukannya pula. Glagah Putih bergeser setapak mundur. Dipandanginya ketiga orang yang mulai menggerakkan ketiga ujung senjata mereka. “Kau mulai menyesali kesombonganmu.“ geram salah seorang diantara ketiga orang itu, “tetapi sekarang sudah terlambat.“ “Aku tidak menyesalinya.“ jawab Glagah Putih, “yang aku sesali adalah, bahwa aku harus membunuh kalian bertiga. Semula aku ingin menangkap kalian hidup-hidup.” Glagah Putih tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba saja orang-orang itu telah berloncatan menyerang dengan senjata teracu. Glagah Putih harus meloncat surut untuk menghindar. Namun ketiga orang itu tidak memberinya kesempatan. Mereka bertiga telah memburunya dengan senjata yang terayun-ayun mengerikan. “Orang-orang ini menjadi gila.“ berkata Glagah Putih didalam hatinya. Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih tidak banyak men¬dapat kesempatan. Dengan senjatanya ketiga lawannya menjadi sangat berbahaya. Mereka berpencar dan berusaha untuk mengepung. Glagah Putih berloncatan dengan cepat. Ia menyadari, bahwa jika ketiga orang lawannya berhasil mengepungnya, maka ia akan berada dalam kedudukan yang sulit, karena tiga ujung senjata akan menggapainya dari tiga jurusan. Apalagi ketiga orang yang memegang senjata itu adalah orang-orang berilmu yang sedang marah. Tetapi ruang gerak Glagah Putih memang terbatas. Tempat dibelakang bukit kecil itu tidak cukup luas, karena gerumbul-gerumbul perdu yang bertebaran dan bebatuan yang berserakan. Meskipun kadang-kadang gerumbul-gerumbul itu memberinya kesempatan untuk menghindari usaha ketiga orang itu untuk mengepungnya, namun kadang-kadang ia men¬dapat kesulitan juga karena gerumbul-gerumbul yang seolah-olah sangat menyempitkan medan. Karena itulah, maka Glagah Putih tidak mau mengalami kesulitan yang mungkin akan dapat menentukan. Karena ketiga orang lawannya telah mempergunakan sen¬jata, maka Glagah Putihpun kemudian telah meloncat surut, mengambil jarak dari lawan-lawannya untuk mempersiapkan senjatanya. “Jangan lari.“ teriak orang yang dijumpainya di Kali Praga itu, “tidak ada gunanya. Kami akan memburumu dan membunuhmu.“ Glagah Putih menggeram. Tangannyapun kemudian telah meraba ikat pinggangnya sambil berkata, “Sekali lagi aku katakan. Akulah yang akan membunuh kalian.“ Ketiga orang lawannya tidak menjawab. Merekapun telah berloncatan memburu dengan senjata teracu. Namun mereka terkejut dan tertegun ketika mereka melihat anak muda itu mengurai ikat pinggang kulitnya. “Apa kau menjadi gila?“ bertanya orang yang per¬nah dijumpainya di pinggir Kali Praga itu, “kau akan me-lawan ketiga ujung senjata kami hanya dengan ikat ping¬gang kulit itu?“ “Aku tidak membawa senjata lainnya.” berkata Glagah Putih, “kakang Agung Sedayu melawan musuh-musuhnya hanya dengan sehelai cambuk. Sekarang aku memiliki ikat pinggang kulit yang lebih kuat dari seutas tali diujung cam¬buk kakang Agung Sedayu. Nah, kalian mau apa?“ “Persetan.“ geram salah seorang lawannya, “kau masih saja menghina kami dalam keadaan seperti ini. Kau telah mempersulit jalan kematianmu sendiri.“ “Ya“ jawab Glagah Putih, “bukan hanya mempersulit. Tetapi aku telah berusaha mengurungkan kematianku sendiri meskipun segala sesuatunya tergantung kepada keputusan-Nya.“ Ketiga orang itu tidak membuang waktu lebih lama lagi. Merekapun kemudian telah melangkah mendekat. Sen¬jata mereka mulai terayun-ayun kembali, sementara itu Glagah Putih telah memutar ikat pinggang kulitnya. Sejenak kemudian maka ketiga orang lawan Glagah Putih itupun telah mulai menyerang lagi. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan. Glagah Putih menyadari betapa besarnya kekuatan ayunan senjata lawannya dari desing yang menggaung susul menyusul. “Mereka memiliki ilmu yang mapan dalam olah sen¬jata.“ berkata Glagah Putih didalam hatinya. Karena itulah maka Glagah Putihpun harus memper¬gunakan segenap kemampuannya pula. Ia harus berlon¬catan menghindar. Namun iapun harus meloncat pula menyerang. Dalam putaran pertama, Glagah Putih masih merasa ragu untuk membenturkan senjata secara langsung. Meski¬pun ia mampu memecahkan batu dengan senjatanya yang berhiaskan besi baja itu, namun apakah senjatanya tidak akan terluka jika membentur tajamnya senjata lawan. Namun dalam keragu-raguan itu, Glagah Putih menjadi semakin terdesak. Bahkan ketika keadaan menjadi semakin sulit, sementara itu ia masih saja ragu-ragu, maka tiba-tiba saja terasa sesuatu menyengat lengannya. Glagah Putih meloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak. Ketika ia sempat mengamatinya, maka ternyata bahwa lengannya telah tergores ujung senjata lawannya. “Licik“ teriak salah seorang diantara ketiga lawan¬nya, “kau baru tergores seujung rambut, kau sudah men-cari jalan untuk melarikan diri.” Glagah Putih menggeretakkan giginya. Luka di lengan¬nya telah membuat hatinya benar-benar menjadi panas. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan, kemam¬puan lawannya mempermainkan senjata mereka, benar-benar mendebarkan. Apalagi selama ia masih dicengkam oleh keragu-raguan. Sejenak kemudian maka ketiga orang yang telah ber¬hasil melukai Glagah Putih itupun menjadi semakin garang. Mereka menganggap, bahwa dengan demikian, jalan kemenangan telah mulai terbuka. Dengan demikian maka dengan teriakan-teriakan nyaring mereka menyerang susul menyusul seperti benturan ombak dilautan berturutan menghantam pantai berbatu karang. Dengan demikian Glagah Putih harus berloncatan semakin cepat. Ujung senjata lawannya rasa-rasanya mengerumuninya dari segala arah. Sementara itu, seorang diantara mereka yang telah mengambil Glagah Putih telah memasuki padukuhan in¬duk. Dengan ancar-ancar yang diberikan oleh Glagah Putih, maka iapun telah mencari rumah Agung Sedayu. Untuk meyakinkan petunjuk Glagah Putih, maka orang itupun telah bertanya kepada seseorang yang baru saja keluar dari regol halaman rumahnya. “Apakah kau akan bertemu dengan Agung Sedayu?“ bertanya orang itu. “Ya. Aku adalah salah seorang kawannya.“ jawab orang yang mencari Agung Sedayu itu. Orang yang ditanya itu memang merasa heran. Ia belum pernah melihat orang itu. Dan menurut ujud dan tingkah lakunya, maka agaknya ia tidak sejalan dengan sikap Agung Sedayu. Meskipun demikian, orang itu telah menunjukkan pula arah rumah Agung Sedayu. Ia yakin bahwa tidak seorangpun yang seorang diri dapat berbuat jahat atas Agung Se¬dayu, apalagi dirumah itu selain ada Agung Sedayu, juga terdapat Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga. Demikianlah, maka akhirnya orang itupun telah mema¬suki halaman rumah Agung Sedayu. Ketika ia meloncat dari punggung kudanya, maka dilihatnya seseorang yang masih terhitung muda berdiri diatas tangga pendapa rumahnya yang tidak begitu besar. “Kaukah yang bernama Agung Sedayu?“ bertanya orang itu dengan kasar. “Ya“ jawab orang yang berdiri ditangga itu. “Kebetulan sekali.“ berkata orang yang datang kerumah Agung Sedayu itu, “aku ingin berbicara denganmu.” Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian iapun melangkah mendekat. Dengan nada datar ia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting?“ “Aku ingin berbicara didalam rumahmu.“ berkata orang itu. Agung Sedayu menjadi semakin heran melihat sikap orang itu. Tetapi iapun mempersilahkannya naik kependapa. “Tidak dipendapa. Tetapi di dalam rumah.“ orang itu mulai membentak. Agung Sedayu memandang orang itu sejenak. Menilik pandangan matanya orang itu bukan orang gila. Namun debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat. “Baiklah.“ berkata Agung Sedayu, “marilah, silahkan masuk keruang dalam.“ Agung Sedayupun kemudian membawa orang itu masuk keruang dalam. Sementara itu kehadirannya telah menarik perhatian Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga. “Silahkan duduk.“ berkata Agung Sedayu. “Aku tidak perlu duduk.“ berkata orang itu, “aku tergesa-gesa. Kebetulan kau ada dirumah.” “Baru saja aku datang dari bendungan.“ berkata Agung Sedayu, “sekedar melihat-lihat, apakah tidak ada yang perlu diperbaiki.“ “Aku tidak peduli.“ jawab orang itu. Kemudian sam¬bil membuka baju Glagah Putih itu bertanya, “Kau mengenal baju ini?“ Agung Sedayu menjadi tegang. Namun sebelum ia menjawab, Sekar Mirah yang menjawab, “Baju Glagah Putih.” “Tepat.“ jawab orang itu, “anak itu sekarang ada dibawah kekuasaan kami. Kami memerlukan tebusan. Bu¬kankah kalian termasuk orang yang kaya raya sebagaimana dikatakan oleh Glagah Putih itu sendiri?“ Debar di jantung Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga terasa menjadi semakin cepat. Baju itu memang baju Glagah Putih. Namun Agung Sedayu berusaha untuk tetap tenang. Karena itu, maka iapun bertanya, “Dimana Glagah Putih sekarang?“ Orang yang datang dengan membawa baju Glagah Putih itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya. Kemudian dengan nada kasar ia berkata, “Jangan banyak bicara. Serahkan uang tebusan atau barang kali sebilah keris dengan wrangka berpendok emas, timang emas tretes berlian atau barang-barang berharga lainnya. Jika kau tidak segera memenuhinya, maka kau akan menyesal.” Wajah Agung Sedayu menjadi semakin tegang. Dengan susah payah ia berusaha menahan diri. “Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.“ berkata Agung Sedayu. “Jangan dungu.“ bentak orang itu, “jika pada saat yang ditentukan aku tidak kembali, maka Glagah Putih akan dibunuh.“ “Aku ingin persoalannya menjadi lebih jelas. Tentu saja aku tidak akan keberatan untuk menebus Glagah Putih.“ jawab Agung Sedayu. “Apa yang kau punya?“ bertanya orang itu. “Aku mempunyai pendok emas. Meskipun aku tidak mempunyai timang emas tretes berlian, tetapi aku mem¬punyai beberapa buah cincin dan isteriku mempunyai perhiasan emas lainnya,“ jawab Agung Sedayu, “Tetapi katakan, dimana anak itu sekarang.“ “Kau tidak perlu tahu. Berikan barang-barang itu kepadaku. Nanti pada saatnya anak itu akan kembali dengan sendirinya.“ jawab orang itu. “Tetapi aku memerlukan atau kepastian bahwa anak itu akan kembali.“ jawab Agung Sedayu, “aku tidak mau diperas sampai dua tiga kali. Jika aku sekarang menyerahkan yang kau minta, itu berarti bahwa anak itu harus sudah kembali kepadaku. Jika tidak, maka masih akan ada persoalan-persoalan yang dapat timbul kemudian.“ “Persetan.“ geram orang itu, “berikan barang-barang itu.“ “Ki Sanak.“ berkata Agung Sedayu, “marilah. Aku ikut bersamamu sambil membawa barang-barang itu. Kemudian jika kalian menyerahkan anak itu, maka akupun akan menyerahkan barang-barangku.“ “Aku tidak peduli.“ jawab orang itu, “berikan barang-barangmu atau kau biarkan anakmu mati dalam keadaan yang paling pahit.“ “Glagah Putih adalah adik sepupuku.“ jawab Agung Sedayu, “tetapi ingat. Jika kau menolak, maka akupun dapat memanggil seisi padukuhan ini untuk menangkap mu.“ “Gila. Kau tidak akan berani berbuat seperti itu.“ bentak orang itu, “jika aku terlambat kembali, maka anak itu akan kau dapati tidak bernyawa lagi.“ “Aku tidak peduli.“ jawab Agung Sedayu mengejutkan, “aku bersukur bahwa ada orang yang mau menyingkirkan anak itu dari rumah ini. Aku sudah merasa terlalu letih mengurusinya. Anak itu sama sekali bukan anak penurut. Ia berbuat sesukanya saja. Bahkan ia telah mengambil kuda pamannya, sehingga pamannya telah mengancam aku dan keluargaku yang lain.“ Wajah orang itu menegang sejenak. Namun iapun masih bertanya, “Kenapa kau bersedia menebusnya?“ “Aku masih ingin menghindari perselisihan dengan orang tuanya. Tetapi jika aku harus mengorbankan terlalu banyak barang-barangku, biar saja anak itu kau ambil.“ jawab Agung Sedayu. Namun katanya kemudian, “tetapi yang kemudian aku pikirkan adalah sikap kalian. Orang-orang seperti kalian memang harus ditangkap. Jangan mengancam lagi, bahwa anak yang kalian kuasai itu akan mati. Biar saja ia mati. Tetapi kaupun akan mati.“ Wajah orang itu menjadi semakin tegang. Apalagi Agung Sedayu kemudian berkata, “Kau tidak akan men-dapat keuntungan apa-apa jika anak itu dibunuh. Tetapi justru kau akan mengalami satu keadaan yang mungkin tidak akan pernah kau bayangkan. Jika kau jatuh ketangan orang banyak, maka kau dapat membayangkan sendiri apa yang akan terjadi.“ “Gila.“ geram orang itu. Namun tiba-tiba pula ia menjadi garang, “jangan berpura-pura. Jika anak itu benar-benar mati sepekan kau tangisi mayatnya.“ “Aku tidak akan menangis.“ jawab Agung Sedayu, “bahkan aku akan lebih memperhatikan mayatmu yang dicincang di halaman banjar.” “Jangan menjadi semakin dungu.“ berkata orang itu, “jika ada yang berani mencoba menangkapku, maka orang itu akan mati lebih dahulu.“ “Jangan berangan-angan terlalu jauh. Tanah Perdikan ini bukan sarang pengecut dan orang-orang cengeng. Nah, sekarang bersiaplah untuk mati.“ berkata Agung Sedayu. Wajah orang itu menjadi bertambah tegang. Jantung-nya bergejolak tidak menentu. Kegelisahan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Dalam kebingungan itu, tiba-tiba saja ia telah menarik senjatanya. Namun sekali lagi ia terkejut. Demikian ia menarik senjatanya itu, maka tiba-tiba pula terasa pergelangan tangannya bagaikan menjadi patah. Senjata telah terlempar jatuh selangkah dari kakinya. Orang itu menjadi bingung. Apalagi ketika ia menya¬dari, bahwa yang memukul pergelangan tangannya itu bukan seorang laki-laki, tetapi satu-satunya perempuan yang ada diruang itu. Namun sejenak kemudian ia menyadari keadaan sepenuhnya. Karena itu maka iapun dengan tangkasnya telah berusaha meraih senjatanya kembali. Tetapi sekali lagi ia terkejut. Ternyata ia tidak berhasil memungut senjatanya, karena senjatanya itu telah terinjak oleh kaki Agung Sedayu. “Jangan berbuat yang aneh-aneh disini Ki Sanak.“ berkata Sekar Mirah yang ternyata hampir kehilangan kesabaran, “Kami dapat berbuat jauh lebih keras dari apa yang sekedar kami ragakan ini. Bahkan aku dapat benar-benar mematahkan pergelangan tanganmu atau malahan lehermu.“ Orang itu termangu-mangu. Namun wajahnyapun kemudian menyala. Dipandanginya Sekar Mirah dengan sorot mata yang bagaikan membara. Dengan nada geram ia berkata, “Perempuan tidak tahu diri. Kau jangan mencoba menggertak aku dengan kasar he? Anak-anak ingusanpun dapat berbuat seperti yang kau lakukan itu. Tetapi kau tidak akan mampu ber¬buat apa-apa jika aku mengetahui bahwa kau akan berlaku kasar seperti itu.“ “Tutup mulutmu.“ Sekar Mirah benar-benar telah kehilangan kesabaran, “kau harus membawa kami ketem¬pat anak itu kau sembunyikan. Jika tidak maka kau akan mengalami nasib yang sangat buruk disini.“ “Jangan berlagak seperti itu. Akulah yang akan mem¬bunuh kalian bertiga jika kalian tidak mau mendengarkan perintahku.“ geram orang itu, “karena itu, cepat sediakan barang-barang itu. Aku akan segera pergi sebelum anak itu dibunuh karena keterlambatanku.“ “Kami akan pergi bersamamu.“ berkata Agung Se¬dayu. “Kau tidak mempunyai pilihan. Kau telah kehilangan senjatamu.“ Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kekuatanku yang sebenarnya tidak terletak pada senjataku, tetapi pada ilmuku.“ “Baik.“ berkata Sekar Mirah, “sekarang kau mau apa?“ Orang itu menjadi semakin tegang. Bahkan debar jantungnyapun seakan-akan berdegup semakin cepat. Sementara itu Sekar Mirah yang benar-benar telah kehi¬langan kesabarannya berdiri bertolak pinggang dihadapan orang itu. Dalam pada itu Agung Sedayupun kemudian berkata, “Sekar Mirah. Bersiaplah. Kita akan mengikuti orang ini ketempat Glagah Putih.“ “Anak Setan.“ orang yang datang untuk mengambil tebusan itu hampir berteriak. Namun sekali lagi ia terkejut. Sekar Mirah ternyata telah memukul orang itu dipipinya dengan telapak tangannya, sehingga rasa-rasanya pipihya telah tersentuh bara. “Jangan membuat kami semakin kehilangan kesa¬baran.“ desis Sekar Mirah. Orang itu bergeser surut. Namun yang terjadi kemu¬dian benar-benar telah menentukan sikapnya kemudian, ketika tangan Agung Sedayu tiba-tiba saja telah menggenggam lengannya. “Sudahlah.“ berkata Agung Sedayu, “jangan banyak bicara. Bawa kami ketempat Glagah Putih.“ Orang itu masih akan menjawab. Tetapi tubuhnya tiba-tiba saja terasa seperti dipanggang diatas api. Rasa-rasa¬nya dari tangan Agung Sedayu itu mengalir udara panas menembus kulitnya dan mengalir lewat urat darahnya. Tubuh orang itu menjadi gemetar. Dalam kebingungan ia mendengar Agung Sedayu bertanya, “Apakah kau ber-sedia membawa kami?“ Karena orang itu ragu-ragu, maka udara panas itu seakan-akan semakin tinggi menelusuri tubuhnya sehingga jantungnya bagaikan menjadi hangus. “Jawablah.“ desak Agung Sedayu. Orang itu tidak dapat bertahan oleh panasnya udara yang seakan-akan mengalir dari tangan Agung Sedayu yang menggenggam lengannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia mencoba menghentakkan diri. Dengan tangannya yang lain ia :;telah memukul pergelangan tangan Agung Se¬dayu, sementara itu, iapun telah berusaha melepaskan genggamanfc, tangan itu. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan orang itu. Ta¬ngan Agung Sedayu justru bagaikan melekat ditangannya. Sedangkan pergelangan tangan Agung Sedayu itu rasa-rasanya justru sekeras besi baja. Sehingga dengan demi¬kian maka tangan Agung Sedayu itu sama sekali tidak ber¬geser. Bahkan tangannya yang memukul pergelangan tangan Agung Sedayu itu terasa menjadi sakit sekali. Namun orang itu masih belum menyerah. Dengan sekuat tenaganya orang itu telah menyerang Agung Sedayu dengan lututnya. Ia justru berusaha untuk bergeser melekatkan tubuhnya pada tubuh Agung Sedayu, sementara itu lututnya dengan sekuat tenaga telah menyerang perut Agung Sedayu itu. Tetapi sekali lagi orang itu menjadi sangat heran. Agung Sedayu seakan-akan tidak merasakan serangan itu. Bahkan tangannya justru semakin kuat mencengkam lengannya sambil menjulurkan arus panas kedalam tubuh¬nya. Dengan nada berat ia bertanya, “Kau melawan?“ Tekanan perasaan sakit yang tidak terlawan, akhirnya membuat orang itu tidak dapat mengingkari kenyataan. Ketika Agung Sedayu menekan tangan orang itu semakin keras maka orang itupun menggeram. “Jangan.“ “Kau mau mengantarkan kami atau tidak?“ ber¬tanya Agung Sedayu, “jangan mencoba menakut-nakuti kami dengan anak yang kau tangkap itu. Aku tidak peduli. Jika aku tergesa-gesa justru karena aku cemas bahwa anak itu telah membunuh kawan-kawanmu.“ Orang itu memandang Agung Sedayu dengan tegang. Sementara Agung Sedayu berkata, “Anak itu memiliki kemampuan sepuluh kali lipat dari kemampuanmu. Jika kawanmu kurang dari sepuluh, maka umur mereka akan berada dalam bahaya. Jika kawanmu lebih dari sepuluh, anak itu mungkin akan melepaskan diri dari tangan mereka. Namun mungkin pula ia mampu menyelesaikan lawan-lawannya jika lawan-lawannya lengah. Karena itu jangan mencoba memeras kami dengan alasan anak itu. Jika kami akan pergi bersamamu, justru kami akan mencegah anak itu melakukan pembunuhan. Dengar, aku berkata sebe¬narnya kali ini.“ Wajah orang itu menjadi merah. Sementara Agung Se¬dayu berkata kepada Sekar Mirah, “Berbenahlah.“ Lalu Agung Sedayupun bertanya kepada Kiai Jayaraga, “Apakah Kiai bersedia untuk pergi bersama kami.“ “Baiklah.“ berkata Kiai Jayaraga, “kita akan me¬lihat bersama-sama, apa yang terjadi dengan Glagah Putih.“ Sementara itu, maka Sekar Mirahpun kemudian telah membenahi diri. Ia mempergunakan pakaiannya yang khusus, karena ia akan mengikuti orang itu dengan ber¬kuda. Pada saat Sekar Mirah berpakaian maka Agung Se¬dayupun berkata kepada orang yang datang kepadanya itu, “Duduklah. Kau akan dikawani oleh Kiai Jayaraga. Aku akan menyiapkan tiga ekor kuda.“ Orang itu tidak menjawab. Namun ketika tangan Agung Sedayu tidak lagi menekan lengannya, maka terasa darahnya menjadi dingin lagi. Dengan demikian maka tubuhnya terasa seolah-olah menjadi pulih kembali. Ketika Agung Sedayu kemudian meninggalkan ruang itu, yang nampak oleh orang yang datang untuk mendapatkan tebusan itu tidak lebih dari seorang tua yang nampak¬nya selalu terkantuk-kantuk. Dengan jantung yang berdebaran ia memandang senjatanya yang masih tergolek dilantai. Pada saat yang tepat, maka orang itupun tiba-tiba saja telah meloncat menggapai senjatanya. Dengan garangnya ia kemudian mengacukan senjatanya kepada Kiai Jayaraga sambil berdesis perlahan-lahan, “Jangan melakukan se¬suatu yang dapat membunuh dirimu sendiri.“ Kiai Jayaraga tertegun sejenak. Namun ia sama sekali tidak bergerak. “Ikuti aku.“ geram orang itu, “aku akan keluar dari tempat terkutuk ini.“ Ketika orang itu melangkah mundur, maka Kiai Jayaragapun mengikutinya. Selangkah demi selangkah. Akhir¬nya orang itupun sampai ke pintu. Orang itu menarik nafas dalam-dalam ketika melihat kudanya masih berada ditempatnya. Jika ia bergerak cepat, maka ia akan dapat mencapai kudanya dan berpacu meninggalkan tempat itu, justru sebelum Agung Sedayu siap dengan kudanya. Karena itu, maka tiba-tiba saja orang itupun telah me¬loncat keluar dari ruang dalam dan berlari menyeberangi pringgitan yang tidak begitu luas. “Jangan lari.“ panggil Kiai Jayaraga. Tetapi orang itu tidak mempedulikannya. Ia memperhitungkan kemungkinan untuk melarikan diri dan mem¬bunuh anak yang telah ditangkapnya bersama dengan ke¬tiga orang kawannya. Tetapi orang itu ternyata telah salah hitung. Ketika ia berada dihalaman, maka tiba-tiba seakan-akan angin yang kencang telah meniupnya tanpa diketahuinya sangkan parannya. Bahkan kemudian angin itu telah berputar sekencang angin prahara yang kemudian membangun cleret-tahun yang dahsyat. Orang itu ternyata tidak mampu bertahan. Tubuhnya telah ikut terputar semakin lama semakin kencang. Sehing¬ga akhirnya, tubuh itu telah terlempar dan orang itupun terkapar ditanah. Kepalanya menjadi pening dan perutnya menjadi mual. Ia membuka matanya yang terpejam ketika terasa sese¬orang membangunkannya. Bahkan dengan nada yang lunak terdengar orang itu berkata, “Berhati-hati Ki Sanak. Ja¬ngan terlalu tergesa-gesa. Agaknya kedua kakimu sudah saling terantuk, sehingga kau telah jatuh.“ Orang itu perlahan-lahan memandang keadaan disekitarnya. Ia tidak melihat debu berhamburan. Ia tidak me¬lihat dedaunan yang bergetar dan bahkan ia tidak melihat sesuatu yang dapat menjadi pertanda bahwa baru saja ada angin pusaran yang besar yang telah memutar tubuhnya tanpa dapat dilawannya. “Ambillah, senjatamu telah terjatuh.“ berkata orang itu. Orang yang terjatuh itu mengumpat didalam hatinya. Orang yang menolongnya itu adalah orang tua yang dianggapnya sekedar terkantuk-kantuk. “Ternyata aku telah terperosok kedalam rumah hantu.“ berkata orang itu kepada diri sendiri. Namun orang itu telah memungut senjatanya pula, de¬ngan kesadaran sepenuhnya bahwa tentu orang tua itulah yang telah menyerangnya dengan sejenis ilmu yang tidak diketahuinya. Namun yang terjadi tentu satu peristiwa semu. Ketika orang itu menyarungkan senjatanya, maka Kiai Jayaragapun berkata, “Hati-hatilah Ki Sanak. Halaman ini memang licin. Apalagi diwaktu hujan.“ Sekali lagi orang itu mengumpat didalam hati. Ia tidak melihat selapis lumutpun dihalaman itu betapa tipisnya. Seandainya ia harus berloncatan dihalaman itu, bahkan anak-anak sekalipun, tidak akan dapat tergelincir karenanya. Pada saat orang itu kebingungan, Sekar Mirah telah muncul pula di halaman sambil bertanya, “Apa yang ter¬jadi?” Kiai Jayaragalah yang menjawab, “Tidak apa-apa. Orang ini akan pergi ke kudanya. Tetapi agaknya ia terlalu tergesa-gesa, sehingga iapun telah terjatuh.“ “O.“ Sekar Mirah mendekatinya, “kita memang ter¬gesa-gesa. Tetapi tidak perlu barlari-lari sehingga jatuh bangun seperti itu. Pakaianmu menjadi kotor dan barangkali kakimu akan dapat terkilir.“ Telinga orang itu terasa menjadi panas. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian, terasa tengkuknya meremang ketika ia melihat Agung Sedayu membawa tiga ekor kuda memasuki halaman lewat halaman samping. “Rumah ini ternyata telah dihuni oleh iblis-iblis yang mengerikan.“ berkata orang itu didalam hatinya. Lengan¬nya yang dicengkam Agung Sedayu masih terasa sakit, sementara darahnya bagaikan telah mendidih oleh arus panas yang mengalir ketubuhnya. Pergelangan tangannyapun masih pula nyeri dipukul oleh seorang perempuan. Se¬mentara itu ia telah terputar dan terbanting dihalaman, karena ilmu orang tua itu. Dalam pada itu, terdengar Agung Sedayu berkata, “Marilah. Kita mencari anak itu sebelum ia membunuh sepu¬luh orang sekaligus.“ Orang yang datang untuk minta tebusan itupun men¬jadi berdebar-debar. Menilik tiga orang yang tinggal dirumah itu, maka memang mungkin Glagah Putih dapat berbuat sebagaimana dikatakan oleh Agung Sedayu itu. Dengan demikian, maka orang itupun tidak akan dapat berbuat lain kecuali menurut segala perintah Agung Sedayu dan orang-orang lain dirumah itu. Sejenak kemudian maka ketiga orang itupun telah bersiap dengan kuda masing-masing. Kepada pembantu di rumahnya Agung Sedayu berkata, “Jangan kau tinggal rumah ini. Aku akan menjemput Glagah Putih.“ Anak itu tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga telah berkuda mengikuti orang yang datang dengan membawa baju Glagah Putih itu. Mereka berpacu dengan cepat, karena sebenarnyalah Agung Se¬dayu, Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga merasa gelisah pula. Meskipun mereka yakin bahwa Glagah Putih tentu akan berusaha untuk melindungi dirinya sendiri dengan ilmunya yang telah meningkat semakin tinggi, namun Agung Se¬dayu tidak dapat membayangkan siapakah yang dihadapinya. Meskipun seorang diantara mereka yang telah mengambil Glagah Putih itu telah diketahui kemampuannya. Orang yang berusaha untuk mengambil tebusan itu sama sekali tidak mampu lagi berpikir, apakah yang akan terjadi nanti. Kegelisahan dan kecemasan benar-benar telah mencengkam jantungnya. Dalam pada itu, dibalik sebuah bukit kecil yang jauh dari kesibukan orang-orang yang bekerja disawah, Glagah Putih sedang bertempur melawan tiga orang lawannya. Dalam keragu-raguan ternyata beberapa gores luka telah menitikkan darah dari tubuhnya. Tidak hanya dilengannya. Tetapi juga dari pundaknya. Meskipun luka itu tidak dalam, namun sakitnya justru terasa di dasar hatinya, bukan pada kulitnya yang menganga. Karena itu, maka Glagah Putihpun kemudian telah menghentakkan kemampuannya bermain senjata. Ia tidak lagi ragu-ragu. Ia yakinkan dirinya sendiri, bahwa ikat pinggang pemberian Ki Patih Mandaraka itu tentu bukan ikat pinggang kebanyakan. Ia sudah membuktikannya dengan memecahkan batu tanpa merusakkan ikat pinggang itu. Meskipun senjata lawannya cukup tajam, tetapi benang-benang baja pada pinggiran ikat pinggang itu tentu akan melindungi kerusakan yang mungkin terjadi. Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah melepaskan keragu-raguannya. Bahkan ia justru ingin mencoba, seberapa jauh kemampuan ikat pinggang pemberian Ki Patih Mandaraka itu. Namun pada saat-saa
  35. Kula badhe sowan kakang senapati

  36. sambungan di atas, biar nggak nggantung..

    Dengan demikian, maka Glagah Putihpun telah melepaskan keragu-raguannya. Bahkan ia justru ingin mencoba, seberapa jauh kemampuan ikat pinggang pemberian Ki Patih Mandaraka itu.

    Namun pada saat-saat ia menemukan keyakinannya, justru

    ketika Glagah Putih siap untuk meloncat dan memutar ikat

    pinggangnya, sebuah serangan yang tiba-tiba telah

    mengejutkannya. Tetapi pada saat ia meloncat surut, terasa

    sentuhan angin dipunggungnya. Glagah Putih sempat

    bergeser. Namun ujung senjata lawannya masih juga tergores

    dipunggungnya itu.

    Kemarahan didada Glagah Putih bagaikan

    menggelegaknya lahar gunung berapi yang sedang meledak.

    Betapapun tinggi tanggul yang membendungnya, namun

    agaknya tidak ada kekuatan yang dapat menahannya.

    Karena itulah, maka ikat pinggang ditangan Glagah Putih

    itupun berputar dengan cepatnya. Angin yang terputar pula

    karenanya, telah menimbulkan suara mengaung semakin

    keras. Bahkan rasa-rasanya udarapun ikut berputar bagaikan

    angin pusaran.

    Ketiga orang lawan Glagah Putih terkejut mengalami

    perubahan itu. Ketika Glagah Putih kemudian mulai meloncat,

    maka tata geraknyapun telah berubah pula. Tidak ada lagi

    keragu-raguan yang mengekangnya, sehingga dengan

    demikian maka ayunan ikat pinggang ditangannyapun menjadi

    semakin lama semakin cepat.

    Namun betapapun kemarahan menggelegak didada

    Glagah Putih, ia masih sempat juga berpikir untuk menguji

    kemampuan ikat pinggang itu serta kemampuannya

    mempergunakannya. Ia masih belum memasuki kemampuan

    ilmunya, baik yang diterima dari Agung Sedayu, maupun dari

    Kiai Jayaraga.

    Tetapi ketrampilannya mempermainkan ikat pinggang,

    serta kekuatan wadag serta tenaga cadangan didalam dirinya,

    ternyata telah mampu menggetarkan jantung ketiga orang

    lawannya. Gerakanyapun menjadi semakin cepat dan garang.

    Ranting-ranting dan dahan-dahan yang tersentuh putaran

    ikat pinggangnya bagaikan dibabat dengan parang yang

    tajamnya melampaui senjata lawan-lawannya. Sementara

    kekayuanpun berpatahan sebagaimana dilanda oleh badai

    raksasa.

    Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama

    menjadi semakin keras. Glagah Putih yang telah menitikkan

    darah itu benar-benar bagaikan banteng yang ter-luka.

    Mengamuk dengan kemampuan dan tenaga yang tidak

    terlawan.

    Namun ketiga orang lawan Glagah Putih itupun adalah tiga

    orang yang terbiasa menjelajahi kehidupan yang keras dan

    garang. Karena itu, betapapun jantung mereka berde-baran,

    namun mereka justru telah mengerahkan kemampuan

    mereka. Apalagi ketika mereka melihat bahwa luka ditubuh

    Glagah Putih yang muda itu, telah memerah oleh darah,

    sementara Glagah Putih memang sudah tidak mengenakan

    baju, karena bajunya telah diminta oleh orang-orang yang

    mengambilnya itu. Maka luka-lukanyapun menjadi semakin

    jelas nampak membujur lintang di tubuhnya.

    Demikian ia menarik senjatanya, maka tiba-tiba pula terasa

    pergelangan tangannya bagaikan menjadi patah. Senjatanya

    telah terlempar jatuh selangkah dari kakinya.

    Apalagi ketika keringat mengalir semakin banyak

    dipermukaan kulit Glagah Putih, maka luka itupun menjadi

    semakin putih, sehingga dengan demikian maka kemarahan

    Glagah Putihpun seakan-akan tidak tertahan lagi.

    Itulah sebabnya, maka Glagah Putih tidak memberi

    kesempatan kepada ketiga lawannya untuk bertahan lagi.

    Semakin keras Glagah Putih mendesak lawannya, maka

    ruang gerak merekapun menjadi semakin sempit. Gerumbulgerumbul

    liar yang membatasi arena, kadang-kadang justru

    dapat memberikan perlindungan kepada lawannya yang harus

    berlari-larian menghindari serangan Glagah Putih, yang

    membadai.

    Pada saat-saat yang demikian, justru dalam pertempuran

    yang semakin keras, Glagah Putih dapat meyakinkan dirinya,

    bahwa ikat pinggangnya memang merupakan sebuah senjata

    yang luar biasa. Benturan-benturan yang kemudian terjadi,

    sama sekali tidak merusakkan ikat pinggangnya. Tajam

    senjata lawannya sama sekali tidak melukai senjatanya yang

    tidak banyak dipergunakan orang.

    Namun Glagah Putihpun kemudian tidak mempergunakan

    senjatanya secara wantah. Dengan mengetrapkan ilmunya

    yang menggetarkan telapak tangannya, seakan-akan tersalur

    kedalam senjatanya yang khusus itu, maka Glagah Putih

    mampu mengatasi ketiga ujung senjata dari ketiga lawannya.

    Ikat pinggangnyapun mampu menebas gerumbul-gerumbul

    liar, ranting dan dahan pepohonan dan yang kemudian

    menggetarkan jantung lawan-lawannya adalah pada saat-saat

    senjata yang aneh itu menyentuh batu-batu padas, maka batubatu

    padas itupun berguguran dan pecah berserakan.

    Ternyata ketiga orang lawan Glagah Putih itu terlalu sulit

    untuk dapat melawannya. Tetapi mereka sudah^ter-lanjur

    melukai anak muda itu dan bahkan dengan sungguh-sungguh

    berusaha untuk membunuhnya. Karena itulah agaknya maka

    seakan-akan Glagah Putih tidak lagi memberikan jalan keluar

    bagi mereka dari pertempuran itu.

    Sebenarnyalah luka-luka ditubuh anak muda yang menjadi

    semakin pedih itu ialah membuatnya semakin marah. Ketika

    Glagah Putih sampai kepuncak permainannya dengan ikat

    pinggangnya; maka benturan-benturanpun menjadi semakin

    sering terjadi. Ketika orang yang ditemuinya di pinggir Kali

    Praga itu dengan mengerahkan kemampuan dan kecepatan

    geraknya mengayunkan senjatanya mengarah ke leher

    Glagah Putih, maka anak muda itupun telah mempergunakan

    senjatanya dilambari dengan kekuatan dan kemampuan yang

    ada didalam dirinya untuk membenturnya.

    Benturan yang keraspun telah terjadi. Namun Glagah Putih

    telah benar-benar siap. Karena itu, maka iapun telah

    mengetrapkan kemampuan ilmunya yang seakan-akan

    mengalir menyusuri ikat pinggangnya sebagaimana saat-saat

    ia membenturkan ikat pinggangnya dan kemudian

    memecahkan batu hitam.

    Lawannya benar-benar terkejut. Meskipun beberapa kali

    senjatanya telah menyentuh senjata lawannya yang aneh itu,

    tetapi pada saat Glagah Putih mengerahkan kemampuan

    ilmunya, rasa-rasanya senjata orang yang pernah ditemuinya

    di Kali Praga itu bagaikan membentur wesi gligen. Bahkan

    terasa satu hentakan yang sangat kuat yang telah merenggut

    senjatanya itu sehingga terlempar jatuh beberapa langkah

    daripadanya.

    Orang itu memang terkejut bukan kepalang. Dengan serta

    merta iapun telah meloncat menjauhi Glagah Putih.

    Namun Glagah Putih tidak dapat memburunya. Dua orang

    lawannya yang lain bersama-sama telah menyerangnya dari

    jurusan yang berbeda.

    Dengan cepat Glagah Putih menghindar. Namun pada saat

    yang sama, terdengar orang yang dijumpainya di Kali Praga

    dan yang telah kehilangan senjatanya itu memberikan isyarat.

    Sebuah suitan nyaring telah menggetarkan udara.

    Glagah Putih tertegun sejenak. Namun iapun kemudian

    menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka iapun segera

    bersiap.

    Tetapi Glagah Putih telah kehilangan waktu sekejap. Ia

    melihat ketiga orang itu berloncatan kearah yang berbeda.

    Karena itu, ia harus dengan cepat mengambil keputusan.

    Tanpa disadarinya, ia justru telah meloncat kearah orang

    yang paling dikenalinya. Orang yang pernah ditemuinya di

    pinggir Kali Praga. Karena itu, maka justru orang itulah yang

    seakan-akan telah menariknya untuk mengejarnya.

    Dengan menghentakkan kekuatannya Glagah Putih

    meloncat menyusul. Tetapi orang itu berlari cukup cepat.

    Bahkan sekali-sekali orang itu mampu mempergunakan

    gerumbul-gerumbul liar untuk menghindari kejaran Glagah

    Putih.

    Glagah Putih yang marah itu menjadi semakin marah. Tibatiba

    saja ia tidak sempat berpikir ketika ia berada selangkah

    dibelakang orang itu. Sebelum orang itu mampu mengambil

    jarak putaran-putaran pada pepohonan dan gerumbulgerumbul

    liar, Glagah Putih telah mengayunkan ikat

    pinggangnya.

    Ternyata Glagah Putih tidak mampu menguasai ayunan

    ikat pinggang sambil berlari kencang. Itulah sebabnya, maka

    ikat pinggangnya itu telah menghantam punggung lawannya,

    terlalu keras. Melampaui batas daya tahan orang itu.

    Yang terdengar adalah teriakan kesakitan. Namun suara

    itupun segera terputus. Orang itu dengan kerasnya telah

    terbanting jatuh berguling ditanah berbatu-batu padas.

    Glagah Putih dengan serta merta pula telah menghentikan

    langkahnya. Sejenak iapun termangu-mangu. Namun

    disadarinya bahwa dua orang yang lain agaknya telah berlari

    jauh kearah yang berbeda.

    Karena itu, maka Glagah Putihpun perlahan-lahan telah

    mendekati orang yang terbaring diam itu. Ketika ia meraba

    tubuhnya, Glagah Putih itupun menjadi berdebar-debar.

    Perlahan-lahan dilekatkannya telinganya didada orang itu.

    Ternyata jantungnya tidak lagi terdengar berdetak.

    Glagah Putihlah yang kemudian menjadi gelisah. Ketika ia

    menggerakkan orang itu, sama sekali tidak terdapat lagi

    tanda-tanda bahwa orang itu masih hidup.

    “ Apakah orang ini mati? “ bertanya Glagah Putih didaiam

    hatinya yang gelisah.

    Untuk beberapa saat Glagah Putih merenungi orang itu.

    Namun agaknya orang itu memang sudah tidak bernyawa lagi.

    Dengan jantung yang berdebaran, Glagah Putihpun

    kemudian bangkit berdiri. Ia tidak dapat meninggalkan mayat

    itu begitu saja, atau bahkan mungkin akan menjadi makanan

    binatang-binatang liar atau burung-burung pemakan bangkai.

    Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian

    dengan jantung yang berdebaran, dibawanya tubuh orang itu

    ketempat semula ia mulai bertempur melawan ketiga orang

    lawannya itu. Ia berharap bahwa seorang kawan dari ketiga

    orang itu akan datang lagi. Mungkin sendiri, tetapi mungkin

    dengan kakak sepupunya Agung Sedayu.

    Demikianlah, Glagah Putihpun kemudian telah meletakkan

    orang itu diatas sebuah batu yang besar. Sementara itu, iapun

    merenunginya dengan berbagai pertanyaan didaiam dirinya.

    Diluar sadarnya, Glagah Putih telah mengamat-amati ikat

    pinggang yang diterimanya dari Ki Mandaraka. Memang ikat

    pinggang itu ternyata memiliki kemampuan sebagai senjata

    yang jarang dimiliki oleh orang lain.

    “ Ki Waskita juga mempergunakan ikat pinggangnya “

    berkata Glagah Putih didaiam hatinya.

    Sejenak kemudian, maka iapun telah mengenakan ikat

    pinggangnya. Kemudian dengan obat yang ada padanya,

    iapun berusaha untuk mengobati luka-lukanya. Tetapi tidak

    semua luka ditubuhnya dapat digapai dengan tangannya,

    sehingga karena itu, maka yang diobatinya hanyalah luka-luka

    yang dapat dicapainya.

    Namun dalam pada itu, Glagah Putihpun telah mendengar

    suara kaki-kaki kuda yang berderap. Sejenak kemudian iapun

    melihat beberapa orang berkuda memasuki lingkungan yang

    jarang disentuh kaki itu.

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat

    kakak sepupunya, Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga telah datang

    bersama dengan salah seorang diantara ampat orang yang

    akan merampok kudanya dan sekaligus memerasnya.

    Agung Sedayulah yang kemudian dengan tergesa-gesa

    meloncat turun dari kudanya Ketika ia melihat sesosok mayat

    terbaring membeku, maka iapun menjadi berdebar-debar.

    Glagah Putihpun menjadi tegang pula. Sebelum Agung

    Sedayu menanyakan sesuatu, Glagah Putih telah

    mendahuluinya memberikan keterangan dengan kata-kata

    yang patah “ Aku tidak sengaja membunuhnya kakang.

    Maksudku, salah seorang diantara mereka harus tertangkap,

    tetapi ternyata bahwa aku menyentuhnya terlalu keras. “

    “ Kau pergunakan ikat pinggangmu? “ bertanya Agung

    Sedayu dengan nada datar.

    “ Ya. Ya. Aku memang tidak membawa senjata yang lain. “

    jawab Glagah Putih.

    “ Apakah kau tidak dapat melawannya tanpa senjata? Kau

    dapat melindungi dirimu dengan ilmu yang ada padamu “

    berkata Agung Sedayu kemudian.

    Glagah Putih tergagap. Tetapi ketika Agung Sedayu

    melihat goresan-goresan senjata ditubuh Glagah Putih

    meskipun tidak dalam, maka iapun menarik nafas dalamdalam.

    Agaknya memang telah terjadi pertempuran yang

    sengit. Namun Agung Sedayupun telah menduga, bahwa

    Glagah Putih memang tidak mempergunakan lambaran

    ilmunya yang dapat membakar lawan-lawannya. Tetapi

    agaknya Glagah Putih ingin mencoba mempergunakan ikat

    pinggangnya dalam pertempuran yang sebenarnya.

    “ Seandainya ia mempergunakan ilmunya, tentu hanya

    dipergunakannya untuk memberikan dukungan kepada

    senjatanya yang baru itu. “ berkata Agung Sedayu didalam

    dirinya. Karena itu, maka iapun tidak bertanya lagi tentang

    pertempuran yang sudah berlangsung. Namun kemudian

    iapun bertanya “ Berapa orang yang telah kau bunuh?”

    “ Seorang. Hanya seorang. Yang lain melarikan diri “

    berkata Glagah Putih dengan gelisah.

    “ Berapa orang yang telah melarikan diri itu? “ bertanya

    Agung Sedayu.

    “ Dua orang “ jawab Glagah Putih.

    Agung Sedayu berpaling kearah orang yang dibawanya

    serta. Orang yang datang kepadanya membawa baju Glagah

    Putih dan berusaha memerasnya.

    “ Seorang kawanmu yang terbunuh “ desis Agung Sedayu.

    Orang itu sama sekali tidak menjawab. Namun

    jantungnyalah yang berdegupan semakin cepat. Ia sudah

    membayangkan, bahwa dirinya akan menjadi tawanan di

    Tanah Perdikan Menoreh. Mungkin ia akan dapat mengalami

    nasib yang lebih buruk dari kawannya yang mati itu.

    Kawannya mati dalam pertempuran. Tetapi mungkin ia

    akan mati ditiang gantungan atau mengalami penderitaan

    yang sangat berat jika harus menjalani hukuman picis.

    Sejenak ia termangu-mangu. Memang ada niatnya untuk

    melarikan diri. Tetapi ketika ia berpaling dilihatnya orang tua

    yang telah memutarnya dihalaman itu masih berdiri tegak

    beberapa langkah daripadanya.

    “ Tidak akan ada gunanya “ berkata orang itu. Dengan

    demikian maka iapun menjadi pasrah. Apapun yang terjadi

    atasnya harus dijalaninya.

    Dalam pada itu, Agung Sedayupun kemudian bertanya “

    Bagaimana dengan luka-lukamu? “

    “ Sebagian dapat aku obati sendiri kakang. Tetapi sebagian

    yang lain tidak. “ jawabnya.

    Sekar Mirahlah yang kemudian melangkah mendekat.

    Katanya “ Berikan bumbung obat itu kepadaku. “

    Sekar Mirahlah yang kemudian mengobati luka-luka Glagah

    Putih yang melintang dipunggungnya. Namun demikian

    pakaiannya telah menjadi merah oleh titik-titik darahnya.

    “ Kita harus menguburkan orang itu “ desis Glagah Putih

    kemudian.

    “ Ya. Kita harus menguburkannya “ sahut Agung Sedayu

    sambil memandangi orang yang datang kepadanya dengan

    membawa baju Glagah Putih. Katanya kemudian kepada

    orang itu “ Apakah kau sampai hati meninggalkan kawanmu

    terbaring disitu? “

    Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus

    menggali lubang untuk kawannya itu dengan alat yang ada

    pada waktu itu.

    Tetapi ternyata bahwa ia tidak harus melakukannya sendiri.

    Agung Sedayu dan Glagah Putih yang meskipun sudah

    terluka, namun ia berusaha juga untuk membantu, meskipun

    Sekar Mirah memperingatkan agar ia tidak bekerja terlalu

    keras, agar darahnya yang sudah mampat itu tidak menitik lagi

    dari lukanya.

    Dengan demikian maka yang mereka lakukan itupun

    segera selesai. Sehingga dengan demikian maka merekapun

    segera bersiap-siap untuk kembali ke padukuhan induk Tanah

    Perdikan Menoreh.

    “ Kau ikut dengan kami “ perintah Agung Sedayu kepada

    orang yang datang kepadanya untuk mendapatkan tebusan.

    Orang itu termangu-mangu. Namun nampaknya

    kecemasan yang sangat mencengkam jantungnya.

    “ Marilah “ berkata Agung Sedayu.

    Orang itu memandang Agung Sedayu dengan tajamnya.

    Kemudian dengan suara gemetar ia berkata “ Apakah aku

    akan kalian bawa menghadap Ki Gede Menoreh? “

    “ Ya. Kau harus dihadapkan kepada Ki Gede, karena kau

    telah mencoba untuk melakukan kejahatan atas Glagah Putih

    “ jawab Agung Sedayu.

    “ Tetapi kami melakukannya diluar Tanah Perdikan “ jawab

    orang itu.

    “ Apa bedanya? Kau telah menculik adik sepupuku. Ia

    adalah anak muda dari Tanah Perdikan. Karena itu maka kau

    harus aku bawa menghadap Ki Gede di Tanah Perdikan

    Menoreh “ jawab Agung Sedayu.

    “ Ki Sanak “ berkata orang itu dengan nada dalam “ jika

    oleh Ki Gede aku ternyata hanya akan dihukum mati,

    digantung atau dengan cara apapun, kenapa kau tidak

    membunuhku sekarang saja dan menguburkan aku disini? “

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “

    Siapa yang mengatakan bahwa kau akan dihukum mati? “

    “ Tetapi itu adalah kemungkinan yang terbesar “ berkata

    orang itu.

    “ Aku tidak tahu “ jawab Agung Sedayu pula “ sekarang kita

    pergi ke padukuhan induk, menghadap Ki Gede. Kau tidak

    mempunyai pilihan lain. “

    Orang itu memang tidak mempunyai pilihan lain.

    Sementara itu Kiai Jayaragapun berkata “ Marilah. Sebelum

    persoalan yang lain timbul karena mungkin orang-orang yang

    melarikan diri itu datang kembali dengan kawan-kawannya. “

    “ Bagaimana jika mereka datang dengan kawan-kawan

    kami? “ bertanya orang yang akan dibawa menghadap itu.

    “ Aku menjadi cemas “ jawab Kiai Jayaraga “ bukan karena

    kami menjadi ketakutan. Tetapi kami sebenarnya segan untuk

    terlibat dalam satu persoalan yang memungkinkan kami

    membunuh lagi. “

    Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia percaya

    bahwa kemungkinan itu tentu akan terjadi. Berapapun kedua

    kawannya membawa kawan, namun mereka tidak akan

    mampu melawan keluarga Glagah Putih yang memiliki

    berjenis-jenis ilmu yang tidak masuk diakalnya.

    Dengan demikian maka orang itu tidak mempunyai pilihan

    lain daripada harus mengikuti perintah Agung Sedayu untuk

    dibawa ke padukuhan induk menghadap Ki Gede Menoreh.

    Sejenak kemudian, maka merekapun telah bersiap untuk

    meninggalkan tempat itu. Dengan terbunuhnya seorang

    lawannya, sementara dua orang yang lain melarikan diri, maka

    Glagah Putih tidak jadi kehilangan\ kudanya, tetapi mereka

    justru membawa tiga ekor kuda tanpa penunggangnya.

    Iring-iringan kecil dengan tiga ekor kuda tanpa penunggang

    serta Glagah Putih “yang tidak berbaju itu memang menarik

    perhatian. Tetapi setiap kali Agung Sedayu yang berkuda

    dipaling depan hanya tersenyum saja menjawab pertanyaanpertanyaan

    yang dilontarkan oleh orang-orang yang

    berpapasan di jalan.

    Kadang-kadang jika terpaksa, Agung Sedayupun

    menjawab “-Kami memang sedang menawar ketiga ekor kuda

    itu. “

    Orang-orang yang mendengar jawaban itu merasakan

    kejanggalan jawaban Agung Sedayu, tetapi mereka- sama

    sekali tidak sempat bertanya lagi, karena Agung Sedayu dan

    iring-iringannya segera meninggalkannya. Juga tentang

    keadaan Glagah Putih.

    Sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu telah membawa

    orang itu langsung ke rumah Ki Gede Menoreh. Namun

    sebelum mereka memasuki padukuhan-padukuhan lebih jauh

    di Tanah Perdikan Menoreh, Glagah Putih telah bertanya

    kepada orang yang dibawa serta bersama iring-iringan “

    Dimana bajuku? “

    Orang itu tergagap. Jawabnya kemudian “ Tertinggal

    dirumahmu. Ketika aku pergi dari rumahmu, bajumu tidak

    teringat lagi olehku. “

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya

    kemudian kepada Agung Sedayu “ Aku akan singgah sebentar

    kerumah untuk mengambil bajuku. “

    Agung Sedayu tersenyum sambil mengangguk. Sementara

    Glagah Putih berkata “ Tidak pantas menghadap Ki Gede

    tanpa mengenakan baju. Apalagi tubuhku nampaknya begitu

    kotor oleh darah yang mengering meskipun sudah diusahakan

    untuk mengusapnya dengan kain panjangku. “

    Karena itulah, maka ketika iring-iringan itu kemudian

    melewati rumah Glagah Putih maka hanya Glagah Putih

    sajalah yang singgah untuk mengambil bajunya.

    Namun dengan tergesa-gesa Glagah Putih telah pergi juga

    ke paki wan untuk sekedar membersihkan dirinya meskipun ia

    tidak mandi. Sementara itu, iapun telah berganti kain panjang

    yang kotor dan berbekas darah, serta mengenakan baju yang

    bersih. Ia tidak sempat mencari bajunya yang ditinggalkan

    oleh salah seorang penculiknya.

    Baru kemudian, ia telah siap untuk menyusul Agung

    Sedayu, Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga yang membawa salah

    seorang yang menculiknya ke rumah Ki Gede.

    Itulah sebabnya, maka ikat pinggangnya itu telah

    menghantam punggung lawannya terlalu keras. Melampaui

    batas daya tahan orang itu. Yang terdengar adalah teriakan

    kesakitan. Namun suara itu segera terputus.

    Ketika Glagah Putih sampai dirumah Ki Gede, maka Ki

    Gede telah berada dipendapa, dihadap oleh Agung Sedayu,

    Sekar Mirah, Kiai Jayaraga, Ki Jagabaya dan beberapa orang

    bebahu. Diantara mereka terdapat orang yang telah dibawa

    oleh Agung Sedayu, karena mencoba untuk memeras dan

    merampok kuda Glagah Putih.

    Agaknya kedatangan Glagah Putih memang ditunggu.

    Karena itu, ketika ia menuntun kudanya melintasi halaman,

    maka Ki Jagabayapun telah turun dari pendapa untuk

    menyongsongnya.

    “ Semua sudah lengkap “ berkata Ki Jagabaya “ hanya

    menunggu kau. “

    Glagah Putihpun dengan tergesa-gesa menambatkan

    kudanya, kemudian iapun telah naik pula kependapa.

    “ Kau adalah saksi utama “ berkata Agung Sedayu. Glagah

    Putih menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia

    sempat berpaling kearah orang yang telah dibawa oleh

    Agung Sedayu, maka dilihatnya orang itu menjadi sangat

    pucat dan gemetar.

    “ Baiklah “ berkata Ki Gede kemudian “ sebelum kau

    datang, Glagah Putih, kami sudah mengajukan beberapa

    pertanyaan kepada orang itu. Karena itu, kami ingin

    menyesuaikan dengan keteranganmu. Apakah orang itu

    berkata sebenarnya. “

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun

    kemudian menjawab “ Yang aku ketahui adalah pada saatsaat

    orang itu masih bersama dengan kawan-kawannya

    membawa aku ke tempat yang tersembunyi. Seterusnya ia

    telah meninggalkan kawan-kawannya sambil membawa

    kudaku. “

    “ Katakan yang kau ketahui “ berkata Ki Gede. Glagah

    Putih mengangguk kecil. Iapun kemudian mulai

    menceriterakan apa yang dialaminya. Bahkan diceriterakannya

    bahwa ia pernah bertemu dengan orang yang

    diluar kehendaknya, justru telah terbunuh.

    Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya “ Ternyata orang itu

    mengatakan sebagaimana adanya. Tidak ada yang berbeda

    dari apa yang dikatakannya. Sementara itu, apa yang

    dilakukannya dirumah Agung Sedayupun dikatakan

    sebagaimana adanya.

    Glagah Putihpun mengangguk pula. Sementara itu Sekar

    Mirahpun berkata “ Ia tidak akan mungkin ing kar. “

    “ Ya. Ia tidak akan dapat ingkar “ sahut Ki Gede “ yang

    sekarang kita perlukan adalah, latar belakang dari

    gerombolannya. Apakah gerombolannya memang hanya

    ampat orang itu saja. “

    Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh orang itu.

    Meskipun ia sudah menduga bahwa ia akan diperas untuk

    memberikan keterangan apapun yang diperlukan, namun

    ketika ia berhadapan dengan Ki Gede dan orang-orangnya

    yang diketahuinya berilmu diluar jangkauan nalarnya, maka

    rasa-rasanya tubuhnya akan diremas sampai kering.

    “ Ki Sanak “ berkata Ki Gede kemudian “ ternyata

    pembicaraan kita masih cukup panjang. Karena itu, biarlah

    kita beristirahat dahulu. Kau dapat duduk di tempatmu sambil

    menunggu minuman yang akan disajikan, sementara itu aku

    akan berbicara dengan Agung Sedayu dan Glagah Putih. “

    Jantung orang itupun berdetak semakin cepat. Ia

    menyadari bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih tentu akan

    dimintai pertimbangan hukuman apa yang akan dija: tuhkan

    kepadanya.

    Namun nalurinya mengatakan, bahwa justru Agung Sedayu

    akan dapat meringankan hukuman atasnya. Sikapnya pada

    saat ia menemui Glagah Putih ditempat yang terpencil itu

    menunjukkan, bahwa Agung Sedayu bukan seorang yang

    garang dan apalagi buas.

    Meskipun demikian ia tidak dapat terlalu berharap. Segala

    sesuatu akan dapat terjadi. Juga hukuman yang paling berat.

    Sementara Agung Sedayu dan Glagah Putih mengikuti Ki

    Gede masuk keruang dalam, maka Sekar Mirah, Kiai

    Jayaraga, Ki Jagabaya dan beberapa orang’bebahu masih

    berada di pendapa bersama orang yang sedang diperiksa itu.

    Ketika kemudian minuman dan makanan benar-benar

    dihidangkan, maka Sekar Mirahpun berkata “ Marilah Ki

    Sanak. Minumlah. Apapun yang akan terjadi, sebaiknya kau

    minum barang beberapa teguk dan makan makanan beberapa

    potong. “

    Terasa seluruh kulitnya meremang. Orang itu seakan-akan

    tengah dibawa ke halaman dan diikat pada sebatang tiang

    untuk menjalani hukuman picis.

    Namun ketika Sekar Mirah sekali lagi mempersilahkannya

    maka orang itupun telah mengangkat mangkuknya.

    Seteguk minuman hangat telah melewati

    kerongkongannya. Bahkan kemudian iapun telah memungut

    sepotong makanan dan mencoba mengunyahnya.

    Bagaimanapun juga minuman hangat dan makanan yang

    sepotong itu memberikan sedikit kesegaran pada tubuh orang

    yang menjadi sangat pucat itu.

    Sementara itu diruang dalam, Ki Gede duduk bersama

    Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sebagaimana diduga oleh

    orang yang tertangkap itu, Ki Gede memang sedang

    berbincang dengan Agung Sedayu apa yang sebaiknya

    dilakukan atas orang itu.

    “ Kita memang sebaiknya mengetahui, apakah ada

    kekuatan yang pantas diperhitungkan dibelakang keempat

    orang itu. “ berkata Agung Sedayu “ seorang diantara mereka

    telah terbunuh. Jika keempat orang itu merupakan

    sekelompok orang dari satu perguruan, mungkin

    perguruannya akan ikut campur. “

    Ki Gede mengangguk-angguk. Lalu katanya “ Jadi apakah

    yang sebaiknya kita lakukan agar dikemudian hari tidak timbul

    persoalan yang mungkin akan dapat mengganggu ketenangan

    Tanah Perdikan ini? “

    “ Namun bagaimanapun juga orang itu harus dihukum “

    berkata Agung Sedayu “ sementara itu, kita akan menanyakan

    kepadanya, beberapa hal tentang dirinya, tentang kawankawannya

    dan mungkin perguruannya. Dengan demikian kita

    akan dapat mengetahui kemungkinan yang akan dapat terjadi.

    “ Aku sependapat. “ berkata Ki Gede. “ Tetapi hukuman apa

    yang pantas aku berikan? “

    Agung Sedayu memandang Glagah Putih sekilas. Ternyata

    Glagah Putih hanya menundukkan kepalanya saja.

    “ Glagah Putih “ desis Agung Sedayu kemudian “ hukuman

    apakah yang pantas diberikan kepada orang itu? Orang itu

    telah menculikmu, mengancammu untuk membunuh dan

    bahkan usaha untuk membunuh itu sudah dilakukan oleh

    kawan-kawannya.”

    Glagah Putih mengangkat wajahnya. Dipandanginya Agung

    Sedayu dan Ki Gede berganti-ganti. Katanya kemudian

    dengan nada yang sendat “ Aku tidak tahu kakang. Hukuman

    apakah yang pantas dilakukan atasnya. Orang itu, atau

    katakan kawan-kawannya memang telah mencoba

    membunuhku. Tetapi ternyata justru akulah yang telah

    membunuh salah seorang diantara mereka. “

    “ Mungkin kau berniat untuk menghukumnya dan ingin kau

    lakukan sendiri? “ bertanya Agung Sedayu pula.

    Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ia justru agak heran

    mendengar pertanyaan Agung Sedayu. Namun ia menggeleng

    sambil berkata “ Aku tidak akun menghukumnya. Terserahlah

    kepada kakang. “

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah

    ia mengharap Glagah Putih bersikap demikian. Namun Agung

    Sedayu tidak dengan serta merta menunjukkan bahwa ia

    sedang menjajagi sikap anak muda itu. Karena itu, maka

    katanya “ Hukuman bukan berarti pembalasan dendam

    semata-mata. Bahkan hukuman lebih condong sebagai satu

    cara untuk membuat seseorang menyadari kesalahannya.

    Karena itu hukuman mempunyai nilai tersendiri bagi

    kepentingan orang yang harus menjalaninya jika hukuman itu

    dapat ditrapkan dengan tepat. Sehingga pada saatnya ia akan

    menemukan jalan yang lebih baik yang pantas ditempuhnya. “

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak

    menjawab sama sekali.

    Karena Glagah Putih tidak menjawab, maka Agung Sedayupun

    kemudian berkata kepada Ki Gede “ Ki Gede.

    Nampaknya Glagah Putih tidak mempunyai rencana apapun

    atas orang itu, biarlah orang itu mendapatkan hukuman

    sebagaimana yang harus dijalaninya sesuai dengan paugeran

    Tanah Perdikan. “

    KI Gede mengangguk-angguk. Namun demikian ia masih

    juga bertanya “ Bagaimana menurut pendapatmu? “

    “ Biarlah ia berada diantara orang-orang yang sedang

    menjalani hukumannya. Biarlah ia ikut dipekerjakan bersama

    kawan-kawannya, meskipun karena keadaannya, orang itu

    harus mendapat pengawasan khusus. Tetapi ia masih belum

    termasuk orang yang sangat berbahaya karena ilmunya. “

    berkata Agung Sedayu.

    Ki Gede mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “

    Tetapi beberapa pihak tertentu akan bertanya, apakah

    hukuman itu tidak terlalu ringan bagi seseorang yang sudah

    dengan sengaja berusaha untuk membunuh? “

    “ Kita akan dapat melihat perkembangannya selama ia

    menjalani hukumannya “ berkata Agung Sedayu.

    Ki Gede mengangguk-angguk. Lalu iapun berkata “ Aku

    akan menyebut hukuman itu. Nah, apakah pembicaraan ini

    sudah cukup. “

    Agung Sedayu mengangguk. Namun iapun berkata “ Kita

    akan secara khusus berbicara dengan orang itu setelah Ki

    Gede mengatakan keputusan hukuman yang harus

    dijalaninya. Kita memerlukan keterangan tentang

    gerombolannya. “

    Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya “ Baiklah. Mungkin

    hal itu dapat kita lakukan tanpa hadirnya para bebahu. “

    Agung Sedayu mengiakannya. Sementara itu, maka Ki

    Gedepun mengajaknya untuk kembali kependapa.

    Sebenarnyalah bahwa dengan demikian Agung Sedayu

    telah mendapatkan satu pertanda lagi, bahwa Glagah Putih

    masih tidak berubah. Meskipun mungkin Glagah Putih

    bersikap lebih tegas dan sikapnya sendiri yang selalu

    dibayangi oleh berbagai pertimbangan yang kadang-kadang

    membayangkan keragu-raguan, namun langkah-langkah yang

    ditempuh anak muda itu masih berada dijalan yang sesuai

    dengan yang diinginkannya. Ia tidak dengan tanpa

    perhitungan berbuat kenakalan sebagaimana dilakukan oleh

    Raden Rangga, tetapi iapun tidak menjadi pendendam yang

    keras dan bahkan kasar. Jika Glagah Putih harus membunuh,

    maka agaknya ia sudah tidak dapat berbuat yang lain atau

    sebagaimana dikatakannya, ia tidak dapat mengendalikan

    kekuatannya pada saat-saat yang gawat.

    Demikianlah Ki Gedepun telah berada di pendapa.

    Demikian pula Agung Sedayu dan Glagah Putih. Sementara

    orang yang merasa bersalah itu telah menjadi semakin pucat.

    Bahkan tubuhnya menjadi gemetar. Apalagi jika ia melihat

    dengan sekilas, sikap orang-orang yang ada dipen-dapa itu

    yang memandanginya dengan sorot mata penuh kebencian.

    Namun ternyata yang didengarnya dari mulut Ki Gede

    sama sekali tidak diduganya. Ki Gede tidak menyebut tiang

    gantungan atau hukuman lain yang lebih mengerikan. Tetapi

    Ki Gede itu hanya mengatakan “ Kau harus menjalani

    hukuman. Kau akan dikurung dan dipekerjakan di Tanah

    Perdikan ini tanpa batas waktu. Segalanya akan ditentukan

    kemudian menilik tingkah lakumu. Jika kau menunjukkan sikap

    yang baik, maka kau akan lebih cepat keluar dari hukuman.

    Tetapi jika kau menunjukkan sikap yang buruk dan

    meragukan, maka hukumanmu akan menjadi semakin berat.

    Juga tergantung kepada kesediaanmu memberikan

    keterangan jika kami perlukan. Setiap kata yang kau ucapkan

    dengan jujur akan memperpendek masa hukumanmu. Tetapi

    setiap kata dusta akan menambah hukumanmu menjadi

    sepuluh kali lipat. “

    Orang iatu termangu-mangu sejenak. Diluar sadarnya ia

    berpaling kearah Agung Sedayu. Kemudian iapun

    mengedarkan pandangan matanya kepada beberapa orang

    be-bahu yang nampaknya tidak memberikan kesan apapun

    juga atas hukuman yang dijatuhkan oleh Ki Gede itu. Pada

    umumnya para bebahu sudah mengenal sikap dan cara Ki

    Gede menghukum seseorang yang dianggapnya bersalah.

    Merekapun mengerti bahwa pendapat dan pikiran Agung

    Sedayu banyak mempengaruhi keputusan Ki Gede itu.

    Dengan demikian maka pertemuan itupun dianggap sudah

    cukup oleh Ki Gede. Namun ketika para bebahu minta diri, Ki

    Gede memerintahkan agar orang yang dihukum itu untuk tetap

    tinggal.

    Orang itu menjadi semakin berdebar-debar ketika Ki Gede

    kemudian berkata “ Kita akan berbicara di serambi samping.

    Mungkin kita akan mendapat kesempatan yang lebih baik

    dalam suasana yang lebih memungkinkan. “

    Orang itu tidak berkata apapun juga. Namun ia justru telah

    mengumpati dirinya sendiri “ Betapa dungunya aku yang

    merasa mendapat hukuman yang terlalu ringan. Ternyata

    segala sesuatunya baru akan dimulai. Yang terjadi dipendapa

    itu barulah sekedar upacara untuk menunjukkan kebesaran

    jiwa Agung Sedayu dan Glagah Putih serta Ki Gede sendiri

    yang nampaknya mengampuni sebagian besar dari kesalahan

    yang pernah aku perbuat. Namun sebenarnyalah bahwa yang

    akan terjadi itulah yang sesungguhnya akan aku alami.

    Tekanan yang mungkin tidak akan dapat aku tahankan.”

    Dengan jantung yang berdebaran sehingga terasa isi

    dadanya menjadi sakit, orang itu telah dibawa keserambi

    samping. Serambi dibelakang seketeng yang tidak dapat

    dilihat dari halaman rumah Ki Gede, sehingga kesan orang itu,

    bahwa ia telah dibawa ketempat yang tertutup.

    “ Duduklah Ki Sanak “ berkata Ki Gede.

    Orang itu menjadi gemetar. Sikap Ki Gede, Agung Sedayu,

    Glagah Putih, Sekar Mirah dan Kiai Jayaraga merupakan tekateki

    yang sangat menggelisahkan.

    “ Nah “ berkata Ki Gede kemudian “ sekarang kau

    mendapat kesempatan untuk berbicara tentang dirimu sendiri.

    Tentang gerombolanmu dan tentang pekerjaanmu tanpa

    diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak berarti dari

    para bebahu. “

    Wajah orang itu yang semula agak menjadi merah, telah

    menjadi pucat kembali.

    “ Aku kira lebih baik kau berbicara dengan jujur “ berkata Ki

    Gede “ tidak ada gunanya mau menipu kami. Segala yang kau

    katakan akan kami selidiki kebenarannya. Dan kau dapat

    membayangkan apa yang dapat terjadi atasmu jika ternyata

    kau berbohong. Tetapi jika kau berkata sebenarnya, maka kau

    akan mendapat keringanan yang mungkin melampaui yang

    pernah kau duga sebelumnya. “

    Orang itu hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara

    itu Ki Gede telah bertanya “ Dimana rumahmu, Ki Sanak?

    Apakah kau berasal dari satu padepokan tersendiri? Kami

    ingin mendengar jawabmu sebelum kami membuktikan

    kebenarannya serta memperhitungkan kemungkinan yang

    dapat terjadi. “

    Orang itu menjadi bingung. Ternyata bahwa ia memang

    harus bersedia mengalami perlakuan yang betapapun

    beratnya, karena ia tidak akan mungkin mengatakan sesuatu

    tentang dirinya, tentang gerombolannya dan tentang

    lingkungannya.

    “ Katakan Ki Sanak “ desis Agung Sedayu yang duduk

    disebelahnya.

    Kulit orang itu meremang. Ia sadar, bahwa Agung Sedayu

    akan dapat memegang tangannya dan mengalirkan udara

    panas kedalam tubuhnya sehingga darahnya terasa mendidih

    dan jantungnya menjadi bara.

    Tetapi ia juga tidak akan mempunyai keberanian untuk

    mengatakan tentang gerombolannya, kawan-kawannya dan

    apalagi seluruh lingkungannya.

    “ Baiklah Ki Sanak “ berkata Ki Gede “ agaknya untuk

    mendengar keteranganmu memang diperlukan waktu.

    Mungkin kita harus beristirahat lagi. Mungkin hanya sebentar,

    tetapi mungkin agak lama. Atau mungkin kau memang

    memerlukan satu usaha untuk mempercepat, agar kau

    bersedia memberikan keterangan segera. “

    Wajah orang itu menjadi semakin pucat. Sementara Agung

    Sedayupun berkata “ Apakah kau sengaja menyembunyikan

    satu rahasia? “

    Pertanyaan itu semakin menggelisahkan orang itu. Bahkan

    karena ia tidak segera menjawab, dan tiba-tiba saja Agung

    Sedayu menyentuh punggungnya, orang itu terkejut bukan

    kepalang, sehingga ia telah terhenyak setapak kesamping.

    “ He kenapa kau? “ bertanya Agung Sedayu. Nafas orang

    itu terengah-engah oleh debar jantungnya yang semakin

    keras.

    “ Bukankah aku tidak berbuat apa-apa? “ bertanya Agung

    Sedayu “ bukankah aku hanya menyentuhmu. “

    “Ya. Aku terkejut sekali. “ jawab orang itu gagap.

    Glagah Putih tidak dapat menahan senyumnya. Ketika

    sekilas ia berpaling kearah Sekar Mirah, maka Sekar Mirahpun

    telah menyembunyikan senyumnya pula sambil

    menunduk.

    “ Ki Sanak “ berkata Agung Sedayu “ aku mengerti bahwa

    kau berada didaiam ketegangan yang luar biasa. Kau sedang

    bergelut dengan dirimu sendiri, apakah kau dapat mengatakan

    sesuatu tentang hngkunganmu atau tidak. Tetapi sebenarnya

    kau tidak akan mempunyai pilihan. Kau harus

    mengatakannya, lambat atau cepat. Mungkin kau ingin

    menunggu, apakah kami akan memaksamu atau tidak.

    Bukankah dengan demikian kau hanya akan melakukan

    sesuatu dalam kesia-siaan belaka. “

    Orang itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba iapun telah

    mengatupkan giginya rapat-rapat. Dengan menghentakkan

    segenap kekuatan didaiam dirinya ia berkata didaiam hati “

    Aku adalah bagian dari satu kekuatan yang tidak tergoyahkan.

    Karena itu, aku harus membuktikannya. Tidak ada orang yang

    dapat memaksaku berbicara dengan cara apa pun juga. “

    Karena orang itu tidak mau segera menjawab, maka Agung

    Sedayupun mendesaknya “ Bagaimana Ki Sanak? “

    Orang itu seakan-akan telah menghentakkan pula satu

    jawaban “ Aku tidak akan mengatakan apa-apa. “

    “ O “ Agung Sedayu mengerutkan keningnya “ apakah

    benar demikian? “

    “ Ya. Sampai matipun tidak akan ada yang aku ucapkan

    tentang lingkunganku. “ jawab orang itu.

    “ Bagus “ tiba-tiba Ki Jayaraga menyahut “ Kami

    berhadapan dengan seorang laki-laki sejati. “

    Orang itu tiba-tiba berpaling dengan tatapan mata yang

    tegang kearah Ki Jayaraga. Ternyata kata-kata Kiai Jayaraga

    itu merupakan ancaman yang membuat jantungnya semakin

    berdebar-debar. Kata-kata Kiai Jayaraga itu dapat diurai

    menjadi beberapa pengertian. Namun yang semuanya bagi

    orang itu merupakan bayangan yang mendirikan bulu-bulunya.

    Dalam pada itu Agung Sedayupun mengangguk-angguk

    Katanya “ Kiai Jayaraga benar. Kita memang berhadapan

    dengan laki-laki sejati. Ia tahu yang mana yang boleh

    dikatakannya, dan yang mana yang tidak. Ia mengatakan

    dengan jujur apa yang telah dilakukannya bersama kawankawannya

    terhadap Glagah Putih. Tetapi ia sama sekali tidak

    mau menyebut sama sekali tentang lingkungannya, tentang

    gerombolannya dan tentang pimpinannya yang lebih tinggi

    daripada orang yang terbunuh itu. “

    Bagaimanapun juga orang itu menggeretakkan giginya,

    namun wajahnyapun telah memucat lagi. Pakaiannya benarbenar

    telah menjadi basah kuyup oleh keringatnya yang

    bagaikan diperas dari tubuhnya.

    Namun tiba-tiba saja hampir berteriak ia berkata “ Kami

    adalah segerombolan perampok. Tidak lebih dan tidak kurang.

    Ampat orang. Kami merampok apa saja yang dapat

    memberikan uang dan barang-barang berharga buat kami. “

    “ O “ Agung Sedayu mengangguk-angguk “ akhirnya kau

    mau juga menyebutnya. Kenapa kau mengatakan bahwa

    sampai matipun kau tidak akan mengucapkan sesuatu tentang

    lingkunganmu? “

    Orang itu menjadi bingung. Wajahnya menjadi semakin

    pucat. Apalagi ketika Sekar Mirah kemudian tertawa sambil

    berkata “ Kau terperosok kedalam satu sikap yang justru harus

    kau hindari. Dengan pengalamanmu itu, dan sikapmu

    sebelumnya memberikan kesimpulan kepada kami, bahwa

    yang kau katakan itu sama sekali tidak berarti kau ucapkan

    sejak mula-mula, mungkin kami justru akan mempercayainya,

    apalagi sejak semula kau telah berkata dengan jujur. “

    “ Gila “ orang itu tiba-tiba mengumpat. Gejolak didalam

    dadanya rasa-rasanya akan meledakkan jantungnya.

    “ Baiklah “ berkata Agung Sedayu “ jika kau masih belum

    bersedia mengatakannya sekarang, maka biarlah kau

    beristirahat. Mungkin nanti, mungkin besok, atau mungkin jika

    kau sudah kehilangan segenap nalar dan perasaanmu. “

    Orang itu menggeram. Sementara itu Agung Sedayu-pun

    berkata “ Bukankah kita tidak tergesa-gesa Ki Gede? “

    Namun ia menggeleng sambil berkata : “Aku tidak akan

    menghukumnya. Terserah kepada kakang” Agung Sedayu

    menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah ia mengharap

    Glagah Putih bersikap demikian. Namun……………………………

    “ Tidak “ jawab Ki Gede “ kita tidak tergesa-gesa. Kapan

    saja orang itu memilih waktu. Kita sebagian tergantung

    kepada kesediaannya. “

    Jantung orang itu benar-benar bagaikan dihentakhentakkan

    tanpa kekangan. IMembentur batu-batu padas

    yang tajam runcing. Betapa sakitnya. Meskipun tubuhnya

    belum disentuh, tetapi dadanya bagaikan telah retak.

    Namun agaknya Agung Sedayu benar-benar mengusulkan

    agar pemeriksaan terhadap orang itu ditunda. Dengan nada

    dalam ia berkata “ Ki Gede. Bagaimanakah pendapat Ki Gede,

    jika kita menunda pemeriksaan ini sampai pada kesempatan

    lain? Aku berharap bahwa orang itu sempat merenungi katakata

    kita semuanya. Mungkin ia akan bersikap lain. Sementara

    itu, kita sudah mendapat satu keyakinan apakah orang itu

    akan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan kita atau

    tidak, sehingga dengan demikian kita akan dapat menentukan,

    apakah yang akan kita lakukan atas mereka. “

    Ki Gede mengangguk-angguk. Bagi Ki Gede pendapat

    Agung Sedayu pada umumnya memberikan jalan yang paling

    baik untuk memecahkan setiap persoalan. Karena itu, maka Ki

    Gede itupun kemudian berkata “ Yang mana saja yang baik

    menurut pertimbanganmu, Agung Sedayu. “

    Agung Sedayu memandang orang itu sekilas. Lalu katanya

    “ Baiklah Ki Sanak. Kami akan menyimpanmu untuk hari ini.

    Besok pagi-pagi mungkin kami ingin berbicara lagi denganmu.

    “ Persetan “ geram orang itu “ kalian hanya akan

    membuang waktu saja. Kenapa kalian tidak membunuhku

    sekarang saja? “

    “ Membunuh? “ sahut Agung Sedayu “ kami memerlukanmu.

    Kami tidak akan membunuhmu. “

    “ Kau tidak akan dapat memeras keteranganku. Aku adalah

    orang yang sudah dipersiapkan untuk mengalami perlakuan

    apapun juga “ berkata orang itu.

    Agung Sedayu tersenyum. Katanya “ Kau bersedia

    mengantar aku kepada kawan-kawanmu. “

    Orang itu mengumpat meskipun hanya didengarnya sendiri.

    Terasa tangan Agung Sedayu itu seakan-akan telah

    merabanya lagi dan udara panas mengalir kedalam tubuhnya

    melalui urat darahnya, sehingga jantungnya serasa menjadi

    terbakar hangus.

    “ Anak iblis “ terlontar pula dari bibirnya.

    Agung Sedayu memang mendengarnya. Tetapi ia tidak

    menghiraukannya. Bahkan kemudian katanya kepada Ki Gede

    “ Ki Gede, biarlah orang ini aku bawa ketempat yang akan

    dipergunakan untuk mengurungnya. Biarlah ia beristirahat

    malam nanti dan tidur dengan nyenyak. “

    Ki Gede tidak berkeberatan, sehingga dengan demikian,

    maka Agung Sedayupun telah memerintahkan Glagah Putih

    untuk membawa orang itu turun dari serambi. Sementara

    ketika Agung Sedayu meninggalkan tempat itu ia sempat

    berkata kepada Ki Gede “ nampaknya ada sesuatu yang akan

    menarik pada keterangannya kelak.

    “ Ya. Karena itu, kita akan memeriksanya dengan saksama

    “ jawab Ki Gede.

    Sementara itu Glagah Putih telah membawa orang itu

    ketempat yang khusus sebagaimana petunjuk Agung Sedayu

    kemudian. Ia dimasukkan kedalam ruang tersendiri untuk

    menghindarkannya dari persoalan yang dapat timbul dengan

    orang-orang yang telah lebih dahulu mendapat hukuman

    karena kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan.

    Namun seperti yang pernah dikatakan oleh Agung Sedayu,

    orang itu memang harus mendapat pengamatan khusus.

    Justru karena orang itu agaknya mempunyai sangkut paut

    dengan satu lingkungan yang dirahasiakannya.

    Disamping para pengawal khusus, maka Agung Sedayupun

    telah mengatur diri bersama Glagah Putih untuk bergantian

    setiap kali menengok tempat itu untuk menjaga kemungkinankemungkinan

    yang dapat terjadi.

    Pada saat yang demikian, selagi Glagah Putih

    menempatkan orang itu ditempat yang khusus bersama ampat

    orang pengawal yang akan bertugas mengamatinya, jauh dari

    Tanah Perdikan, dua orang berada dalam kebingungan.

    “ Apakah kita akan melaporkan apa yang telah terjadi? “

    bertanya yang seorang.

    “ Apakah hal itu ada gunanya bagi kita, atau justru

    sebaliknya akan merupakan mala petaka? “ sahut kawannya.

    Yang lain terdiam. Sejenak mereka merenung.

    “ Upah itu sudah kau terima sebagian “ desis salah seorang

    diantara keduanya.

    “ Salah kakang lurah “ jpwab yang lain “ jika ia tidak

    menginginkan kuda yang besar dan tegar itu serta kemudian

    uang tebusan, mungkin kita tidak terjerat kedalam persoalan

    yang rumit ini. Apalagi setelah kakang lurah agaknya tidak

    berhasil melarikan diri dan dibunuh oleh anak iblis itu. “

    “ Kita memang sulit untuk meninggalkan kebiasaan kita “

    jawab orang pertama “ demikian pula agaknya kakang lurah. “

    “ Tetapi bukankah kita sedang melakukan satu

    kesanggupan yang berat yang juga menghasilkan uang yang

    cukup banyak “ sahut kawannya “ bukankah dengan demikian

    berarti kita akan mengalami malapetaka jika kita harus

    mempertanggung jawabkan tugas kita, sementara uang itu

    sebagian telah kita terima. “

    “ Sebaiknya kita tidak melaporkan diri “ berkata orang yang

    pertama “ kita akan pergi saja menjauhi mereka. –

    “ Apakah hal itu mungkin kita lakukan? “ Orang itu atau

    para pengikutnya akan memburu kita sampai keujung bumi “

    sahut kawannya.

    “ Jangan terlalu ketakutan menghadapi orang-orang itu “

    berkata orang pertama “ jika kita harus mati, biarlah kita

    menunda kematian. Tetapi) jika kita melaporkan diri, maka kita

    akan lebih cepat mati, karena mereka tentu akan membunuh

    kita. “

    Kawannya termangu-mangu. Namun tiba-tiba ia berdesis “

    Bagaimana dengan kawan kita yang pergi kerumah anak iblis

    itu untuk mendapatkan tebusan? “

    “ Jika anak itu sudah mampu mengalahkan kita bertiga,

    maka nasib kawan kita itupun tidak akan lebih baik dari kita “

    jawab orang yang pertama. Tetapi iapun kemudian bergumam

    “ Apakah itu berarti bahwa ia akan membukakan rahasia

    seandainya ia tidak terbunuh? “

    Kawannya bergumam “ Aku tidak tahu. Tetapi kita adalah

    orang-orang yang pernah menyatakan janji, bahwa kita akan

    mempertanggungjawabkan diri kita serta kelompok ini. Kita

    akan saling memegang rahasia dan kita akan mengorbankan

    apa saja bagi kita bersama-sama. Disam-ping itu, kita akan

    ketakutan untuk membuka rahasia yang menyangkut orang

    yang mengupah kita. Karena itu, menurut perhitunganku, ia

    tidak akan mengatakan tentang kita berdasarkan atas janji

    diantara kita serta keteguhan hati kita, dan tidak pula akan

    berani membuka rahasia orang yang mengupah kita karena

    jika demikian, maka ia tidak akan memiliki kehidupan lagi

    seandainya ia tidak dibunuh. Ia akan selalu diburu oleh

    ketakutan dan kegelisahan. Bahkan mungkin ia akan

    membunuh diri. “

    “ Apakah pada suatu saat kita juga. mungkin membunuh

    diri jika kita sadari bahwa kita selalu diburu? “ bertanya orang

    yang pertama.

    “ Seperti aku katakan, kita sudah meletakkan dasar bahwa

    kita sekedar memperpanjang umur. Kenapa kita takut diburu

    dan seandainya dibunuh sekalipun “ bertanya kawannya.

    “ Apakah kawan kita tidak juga berpikir demikian sehingga

    ia akan berani membuka rahasia kita dan rahasia orang yang

    mengupah kita? Mungkin ia mengalami tekanan yang tidak

    teratasi sehingga ia terpaksa melakukannya “ jawab yang

    pertama.

    “ Memang mungkin. Tetapi kesediaan kita untuk saling

    melindungi adalah janji jantan. Bukan karena saling ketakutan.

    Berbeda dengan persoalan orang yang mengupah kita. “

    berkata kawannya. Namun kemudian katanya pula “ Tetapi

    bukankah rahasia kita sudah tidak perlu lagi dilindungi? Kita

    berdua akan pergi ketempat yang kita sendiri tidak tahu. Apa

    artinya bahwa kawan kita harus merahasiakan kita lagi? “

    Yang pertama mengangguk-angguk. Lalu katanya “

    Baiklah. Kita akan pergi ketempat yang tidak ditentukan. Jika

    kita mendapatkan tempat yang baik maka sanak keluarga kita

    akan dapat kita jemput kemudian dengan diam-diam. Karena

    itu, kita tidak lagi berkepentingan dengan kawan kita yang satu

    itu. Apakah ia tertangkap atau terbunuh atau diperas

    keterangannya atau apapun juga. “ Ya. Kita tidak mempunyai

    kesempatan yang lain. Kesalahannya terletak kepada kakang

    lurah. Tetapi ia sudah menerima hukumannya. Untunglah

    bahwa kitalah yang membawa uang itu, sehingga kita dapat

    mempergunakannya “ sahut kawannya.

    “ Sebagian dari upah itu dapat kita pergunakan untuk bekal.

    Sementara tdisepanjang jalan kita akan dapat mencari lagi

    sesuai dengan keadaan “ desis orang yang pertama.

    Kedua orang itupun kemudian telah mulai dengan satu

    pengembaraan tanpa tujuan, mereka sama sekali tidak

    melakukan pekerjaan yang sudah mereka sanggupi dan

    bahkan sebagian dari upahnya telah mereka terima, karena

    mereka justru terjerat pada satu keinginan untuk memiliki

    seekor kuda yang besar dan tegar, dan bahkan untuk

    mendapatkan uang tebusan.

    Namun yang terjadi itu sama sekali tidak diketahui oleh

    kawannya yang terkurung di Tanah Perdikan Menoreh.

    Tidak sedikitpun yang diketahuinya apa yang telah terjadi

    dengan kelompoknya, selain bahwa seorang yang tertua, yang

    disebutnya Ki Lurah itu telah meninggal dan dikuburkannya.

    Tetapi yang ingin diketahui oleh orang-orang Tanah

    Perdikan Menoreh adalah latar belakang dari perbuatannya

    serta lingkungan disekitarnya.

    Demikianlah, dihari berikutnya, maka orang itupun telah

    dibawa kembali menghadap Ki Gede Menoreh, Agung

    Sedayu, Sekar Mirah, Kiai Jayaraga dan Glagah Putih. Tetapi

    tidak diserambi, namun justru lebih mendebarkan lagi Orang

    itu ternyata telah dibawa kedalam sanggar Ki Gede. Sanggar

    yang tertutup rapat. Namun yang pada dindingnya tergantung

    berbagai macam senjata. Disudut sanggar itu terletak tali

    temali yang bergayutan dari atap ke dinding-dinding, seperti

    anyaman sarang laba-laba. –

    “ Ki Sanak “ berkata Ki Gede “ aku hari ini tidak akan terlalu

    banyak mencampuri persoalan kalian dengan anak muda

    yang telah kalian culik bersama kawan-kawanmu serta

    keluarganya. Aku hanya sekedar akan menjadi saksi.

    Sedangkan jika kau terlanjur mati didalam sanggar ini, biarlah

    aku memerintahkan orang-orangku untuk menyeret mayatmu

    dan barangkah membuang ke kali jika rasa-rasanya aku

    segan melihat mayatmu itu dikuburkan. Karena hanya mayat

    orang baik-baik sajalah yang pantas diserahkan kembah

    kepada bumi. Bagi seorang penjahat, maka biarlah tubuhnya

    dikoyak-koyak oleh burung pemakan bangkai. “

    Tengkuk orang itu meremang. Sementara itu, ia melihat

    sorot mata Agung Sedayu yang menusuk tajam menghunjam

    sampai kepusat jantung.

    “ Nah Agung Sedayu “ berkata Ki Gede “ segala

    sesuatunya terserah kepadamu. Apa yang ada didalam

    sanggar ini dapat kau pergunakan untuk kepentinganmu,

    mendapat keterangan dari orang yang keras kepala ini. “

    “ Terima kasih Ki Gede “ jawab Agung Sedayu. Tiba-tiba

    saja ia pun telah bangkit berdiri sambil mengurai cambuknya.

    Orang yang telah dibawa ke sanggar untuk diperiksa itu tibatiba

    pula telah terkejut bukan kepalang, sehingga ia terloncat

    kesamping ketika cambuk Agung Sedayu melekat

    disampingnya. Ledakan yang sangat dahsyat sehingga rasarasanya

    telinganya telah terkoyak karenanya.

    Orang itu hampir saja mengumpat. Untunglah cepat ia

    menyadari keadaannya, sehingga suaranya bagaikan tertahan

    dikerongkongan

    Sementara itu Agung Sedayupun tersenyum sambil

    bertanya “ Apakah kau terkejut?”

    Orang itu tergagap. Hampir diluar sadarnya ia menjawab “

    Ya. Aku terkejut sekali. “

    “ Maaf. Aku tidak ingin merontokkan jantungmu “ jawab

    Agung Sedayu “ aku hanya ingin mencoba, apakah aku masih

    mampu bermain cambuk sebagaimana anak-anak yang

    bermain kuda-kudaan. “

    Jantung orang itupun berdegup semakin keras. Suara

    cambuk itu telah mengguncang isi dadanya. Sementara itu

    sikap Agung Sedayu sangat menggelisahkan pula.

    Dalam pada itu. Sekar Mirahpun telah berkata pula “ Aku

    sama sekali sudah tidak terkejut lagi Ki Sanak. Setiap kali aku

    mendengar kakang Agung Sedayu bermain-main dengan

    cambuknya. Tetapi mungkin timbul pertanyaan didaiam

    hatimu, jika ujung cambuk itu menyentuh kulitmu, apa yang

    terjadi? “

    Orang itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi wajahnya

    telah menjadi sangat pucat, dan keringatnya membasahi

    seluruh tubuhnya.

    “ Jangan takut “ tiba-tiba Kiai Jayaragalah yang menyahut “

    Agung Sedayu tidak akan benar-benar mencambuknya. Ia

    hanya sekedar menakut-nakuti saja. Kecuali jika kau tidak

    mau menjawab pertanyaan-pertanyaan Agung Sedayu. “

    Jantung orang itu rasa-rasanya bagaikan akan meledak

    oleh kecemasan yang semakin mencengkam.

    Apalagi ketika ia mendengar Kiai Jayaraga tertawa sambil

    berkata “ Kenapa kau menjadi semakin ketakutan? “

    Orang itu mulai menjadi gemetar. Sementara itu, Ki Gede

    telah bangkit berdiri pula dan beranjak beberapa langkah

    menepi. Dengan nada dalam ia berkata “ Sayang, bahwa

    sesuatu harus terjadi. Seandainya orang itu tidak mempersulit

    dirinya sendiri, maka tidak akan pernah terjadi malapetaka

    bagi dirinya. “

    Kata-kata Ki Gede itu membuat jantung orang itu semakin

    terguncang. Bayangan-bayangan yang menakutkan dan

    mengerikan rasa-rasanya mulai berterbangan di-sekitarnya.

    Sebentar lagi bayangan-bayangan itu akan menjadi

    kenyataan.

    Sementara itu. Agung Sedayu masih berdiri dengan

    cambuk ditangan. Ketika Agung Sedayu kemudian memutari

    cambuknya, maka orang itu telah memejamkan matanya.

    Putaran cambuk Agung Sedayu yang semakin lama

    semakin cepat terdengar berdesing semakin keras, sehingga

    kemudian bagaikan auman yang menggetarkan udara didalam

    sanggar itu.

    tamat 201, lanjut ke 202..

  37. Sudah lengkap, lanjuuuuutttttt……..

  38. Siap, lanjuutttt…..!!!!

  39. bukanabsen di sini ah, habisnya gandok 397 belum juga dibuka……

    On 8 April 2009 at 22:34 Nyi Seno Said: Apakah Kisanak pernah merasakan yang dulu Senopati alami?
    Makan nasi tiwul plus parutan kelapa dengan lauk kering tempe ditutup dengan buah jagung rebus 😀

    Wuih.. Wareg tenan.

    Semuanya berat tanpa sayur.
    Seperti kitab tanpa sampul.

    Semoga berkenan.

    Nb : Matur nuwun Ki Truno atas kiriman sayurnya.
    Silakan lho jika ingin makan dengan sayur.

  40. Sugeng dalu soho matur nuwun poro kadang sedoyo ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: