Buku II-90

190-00

Laman: 1 2

Telah Terbit on 26 Maret 2009 at 08:09  Comments (96)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-90/trackback/

RSS feed for comments on this post.

96 KomentarTinggalkan komentar

  1. met..pagi semuaaaa

  2. Hadir

  3. Kulo antri maning …

  4. Salah Eja Sastra Jendra

    YA, barangkali Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebuah bentuk kekalahan para dewa. Konon, ketika Dewi Sukesi menceritakan mimpinya tentang ajaran (?) itu, tiba-tiba bumi berguncang. Kayangan, dunia para dewa itu, seolah runtuh. Dewa-dewa marah, cemas.

    Di depan putrinya, Prabu Sumali bahkan bersimpuh agar Sukesi mengurungkan keinginan menjadikan ajaran itu sebagai prasyarat pernikahan. Tapi putri Alengka itu bergeming. ”Aku tak akan pernah menikah sampai ada orang yang mengupas ajaran itu,” jawabnya.

    Negeri Alengka bergetar. Hujan tangis seolah turun dari kayangan. Sindhunata, dalam Anak Bajang Menggiring Angin, menggambarkan betapa gelap menutupi negeri leluhur Rahwana.

    Apa sebenarnya Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sehingga ketika keberadaannya yang baru dalam tataran mimpi sudah begitu menggelisahkan Prabu Sumali, juga para dewa?

    Sarasehan Rebo Legen di Sanggar Paramesthi, ”Sastra Jendra: Sastra (Ora) Cetha”, Selasa (1/10) malam lalu, pun tak memberikan penjelasan yang selesai, selain menawarkan banyak penafsiran tentang babak yang menjadi cikal bakal kelahiran Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana itu.

    Ya, semuanya masih dalam bentuk penafsiran. Sudiyatmono, misalnya, menduga Sastra Jendra berasal dari Sastra Kajita Indera yang tertulis dalam Serat Sumawur, yakni sebuah ajaran tentang penguasaan pancaindera.

    ”Jadi, hidup itu pada akhirnya bagaimana manusia mengendalikan hawa nafsu yang dianalogikan lewat pancaindera.”

    Melewati Tahap

    Adapun Prof Soedjarwo memandang Sastra Jendra merupakan satu dari pengajaran dalam Lokapala (Sindusastra). Dua yang lain adalah Sastra Cetha dan Hasta Brata.

    Dia justru mempertanyakan, kenapa Dewi Sukesi hanya berhasil meruwat Gunawan Wibisana, bukan tiga saudaranya yang lain.

    Sayuti Anggoro berpendapat, sebenarnya Dewi Sukesi tak meruwat anak-anaknya karena keburu mati. Empat anak Wisrawa-Sukesi menjadi simbol sifat dasar manusia, yakni angkara (Rahwana), penyesalan (Kumbakarna), nafsu seks (Sarpakenaka), dan kebijaksanaan serta cinta (Gunawan Wibisana).

    Lantas kenapa jika Sastra Jendra sebagai ajaran kasunyatan, ilmu kesempurnaan, sangkan paran, dan pembebas petaka, justru Bathara Guru dan seisi kayangan gempar?

    Menurut pendapat Gunawan Budi Susanto, bisa jadi Sastra Jendra menyimpan rahasia ”kebobrokan” para dewa. Dia juga melihat ”kitab” itu memuat ajaran tentang bagaimana menjadi manusia sempurna.

    Jika hal itu terjadi, maka kewibawaan para dewa akan terongrong. Mereka barangkali akan bertanya, jika derajat manusia naik setingkat dewa, lalu apa arti dewa-dewa?

    Gunawan melihat komposisi yang sama dalam Syekh Siti Jenar yang mengabarkan ajaran manunggaling kawula Gusti. Maka Sastra Jendra menjadi sesuatu yang mencemaskan karena sebelum mencapai kesempurnaan, manusia harus melewati tahap syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

    ”Dalam pandangan para wali, Siti Jenar harus disingkirkan. Sama seperti ketika akhirnya Danaraja mengusir ayahnya sendiri, Wisrawa, dan Dewi Sukesi.”

    Tapi, tentu saja itu hanya satu dari banyak penafsiran. Jadi sah-sah saja ketika Sucipto Hadi Purnomo melihat bahwa Sastra Jendra sebagai kesalahan Yasadipura dalam mengeja dan menafsir.

  5. sepi…pi…
    po karo ng bali ya…
    sepi,aku sendiri…. lagune spo yo…

  6. itut antli lagi

  7. weleh wes booking kabeh

  8. Wah Ki Amat dalem banget lho, apa artinya Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ? yang saya tahu waktu dulu saya suka baca buku wayang, begawan Wisrawa menerangkan ajaran itu pada dewi Sukesi, cuma ajaran yang baik itu tampaknya diajarkan tanpa dilandasi dengan landasan jiwani yang kuat sehingga akhirnya terjadi “Skandal”, karena skandal jepit itu mereka berdua akhirnya diusir dan buah dari proses belajar mengajar yang salah kedaden itu adalah munculnya master angkara murka (Rahwana) yang menyebarkan bibit-bibit angkara murka hingga akhir dunia. Kesimpulannya BW dan DS itu secara bersama-sama telah membuka kotak pandora.
    Ngaten nggih ? muhun maaf, niku nggih kula namung ngawur sedaya, wong saya ya ga’ ngerti kentang kimpulnya… 😀 😀 😀

  9. Meluuuu

  10. Nderek…..

  11. to mouth ….

  12. Ikut bkin rame…..

  13. Lha iyo tho … ra ono sopo-sopo

  14. melu hadir nang bilik 190 Ki GD & Nyi Seno

  15. Masih ngganjal di otakku
    Peristiwa sewaktu Ki Tambak Wedi & Sidanti ingin menguasahi Menoreh, Ki Waskita yg masih saudara dg Ki Gede Menoreh (Argapati), kok nggak muncul dimunculin sama Pak Singgih yach dalam cerita ini.
    Jelas rumahnya Ki Waskita nggak jauh amat dg rumah Ki Gede Menoreh. Mosok nggak denger Menoreh perang saudara. Apa Ki Waskita masih dalam rantauan kali yach?

  16. Ngantri…. lagi….. ah……

  17. Ikut antri Nyi Seno

    @ Ki Lurah Basman
    Memang betul Ki bahwa SHM ini sering lompat2, memang logikanya agak kurang pas saat Ki Tambak Wedi merajalela Ki Waskita malah ga keliatan batang hidungnya.
    Contoh lain adalah nama Ajar Jatisrana, ini tokoh yang menjadi “bos” dri Kyai Damar, dan saat perang prambanan pun sebenarnya hadir disaat saat terakhir, tetapi trus hilang blas gitu saja, sudah mati atau lari dari palagan, demikian halnya Ki Pringgajaya juga langsung hilang begitu saja….
    Ada hal lain yang kurang pas juga soal Ki Lurah Branjangan dan Ki Untara, setelah mataram berdiri jadi kerajaan kenapa Ki lurah branjangan masih di menoreh, bukannya secara hirarki dia adalah senapati mataram yang paling tinggi, kenapa tidak dijadikan Ki Lurah Wiratamtama seperi Ki GD Pemanahan saat pajang dulu, lalu juga Ki Untara, dengan jasanya yang besar kenapa kedudukannya masih tetap sebagai senapati di jatianom ? ada lagi yang lain, apa imbalan yang diperoleh Sangkl putung dan Menoreh setelah mataram berdiri ? semua kurang jelas…

  18. *{‘-‘}* *(^-^)* *[^¿^]* :mrgreen:

  19. @ Kakang Pandji

    Rupanya yg masih mengganjal di otak tidak hanya aku saja …….

    Mungkin bisa jadi saking banyaknya jilid, Pak Singgih sampai lupa (memorinya terbatas) he..he…
    Bukankah beliau kalau ngerjain suatu cerita tidak hanya 1 cerita, tetapi beberapa cerita dalam sehari

    bener kan Kakang Panji yo….

  20. @ki lurah dan kakang pandji

    sebenarnya pada saat ki tambak wedi dan sidanti memecah belah tanah perdikan menoreh, ki waskita belum lahir.

    sejenak sebelum ki sumangkar wafat, barulah ki waskita lahir 🙂

    meskipun saat itu ki waskita sudah lahir, tapi kalau melihat batang hidungnya ki tambak wedi yang seperti paruh betet, pasti ia langsung ngacir…..

    ki ajar jatisrana jelas-jelas telah terbunuh, sementara pembunuhnya masih dalam penyidikan pihak kepolisian.

    ki pringgajaya jelas hilang begitu saja, wong tersapu air bah…

    imbalan,
    ki lurah branjangan diangkat menjadi panglima kopassus

    ki untara dihadiahkan seorang anak laki-laki

    sangkal putung boleh merubah namanya menjadi klaten

    menoreh diberi hadiah berupa perbukitan :mrgreen:

    wong sakaw nunggu kitab…

  21. woooooooooooooow no berapa yaaaaaaaaaaaaa

  22. absen….sepiiii

  23. Sugeng dalu para sadherek…

    Kalau saya,
    memebaca adbm, ya, seperti nonton film.
    Tidak perlu direnungkan dan difikir dalam.
    Yang penting saat itu, seru, dan menegangkan.
    Dan memang, biasanya masih logis saat kita baca.
    Namun jika difikir secara dalam, wah, banyak yang belotan.
    Film-film thriller, juga sama, tidak berbeda, termasuk misalnya Jurasic Park, 007, atau karya Steve Spielberg…

    Jadi ora susah dipenggalih jero,
    sing penting seru lan gawe ketagihan….

    Monggo sami rondha,
    nyamikane dikedhapi malih….

  24. rupanya bukan hanya clark (superman) saja yg punya sorot mata yg mematikan.
    Agung Sedayu juga punya 🙂

  25. Ayo antri duyu ……

  26. ayo absen duyu……….
    kalihan antri kitab

  27. Pada saat Ki Tambak Wedi & Sidanti ingin menguasahi Menoreh, ki waskita sedang melanglang Buana ke Tanah pertikan Banyubiru, ketemu dengan Ki Gede Banyu Biru (Arya Salaka. bukankah masih ada tanda tanya, siapakah ki Waskita itu?jangan-jangan ada hubungannya dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka….

  28. Cerita Api Di Bukit Menoreh jelas2 ada keterkaitan dengan Cerita Nogo Sosro Sabuk Inten, tapi pak Singgih (Alm) tidak secara gamblang menjelaskan bahwa ADBM sambungan Nogo Sosro Sabuk Inten.

    Kalau emang sambungannya, pastilah tokoh Maheso Jenar, Arya Saloko, atau anak2 dari Maheso Jenar muncul lagi di cerita ini 🙂 nggak habis2
    Dan pastilah Maheso Jenar membela mati-matian sahabatnya Joko Tingkir (Raja Pajang)

    Ora entek2 cerine 🙂

  29. Absen lagi………

  30. Kalau ngga salah inget, pas ki waskita nyusul kiai gringsing cs ke mataram, datang malam – malam memanggil kiai gringsing dengan isyarat khas dari padepokan windujati, disitu ada di singgung sedikit soal asal perguruan ki waskita, kalau ga salah inget lagi, ki waskita disitu disinggung sebagai murit perguruan pangrantunan,jadi muritnya KSDA ya 😀 .. kalau ngga salah loh he..he..

  31. nyaeee….
    kalo mo nyari aku…. aku dah disini yoo…
    nanti tak tanggapne wayang kulit maneh…
    nggo ngancani malem mungguan….
    sakiki lagi ngrampungne masang gebere…..

  32. Matur nuwun,

    Kitab sudah diunduh, ngisi daftar hadir dulu.

    susah Nyi, tapi saya akan coba terjemahkan.

    Nuwun.

  33. Ikut setor muka neh….

  34. ikutan ronda sore

  35. Wah, jangan2 kawruh serat sastra jendra,tirta perwitasari,sastra cetho,tirta nirmaya,ma’ul hayat,dsbnya itu adalah software yg sdh dimeteraikan oleh tuhan di dlm diri kita yg krn satu dan lain maka kawruh itu ‘terlupakan’. Jadi begitu kawruh itu diwedhar kembali oleh mereka yg sudah tercerahkan,maka dg terangguk-angguk dan termangu-mangu kita akan berkata : O

  36. hadir nyi,
    lagi unduh kitab 188-189 diwarnet nih, tak kira sekalian sama kitab 190. ternyata belum yach…hehehehehe..
    matur suwun lo nyi seno.

    setuju sama ki padmonobo, gak usah terlalu dipikirin banyaknya cerita yang miss dari ADBM. namanya juga cerita bikinan manusia, pasti ada aja lemahnya. dinikmati saja, walau kadang kalo iseng ngitung2 umur dan tanggal kejadian jadi ketauan kalo gak masuk akal. anggep aja waktu berjalan sesuai dengan umur yang dikehendaki ama ki SHM, jangan disamakan dengan masa sejarah aslinya.
    jangan dibandingkan ama LOTR yang JRR benar2 ngitung umur dan peristiwa yang terjadi pada tiap tokohnya.

    yach gitu-lah… 🙂
    eh nyi, sama perlu nunggu diwarnet gak ini? lagian sebentar lagi kan diminta mati-in listrik selama 1 jam demi global warming kan ???

    S lho nungguin kitab tho.. kirain pengen ngobrol dengan cantrik yang lain 🙂

  37. makasih Nyi seno…..

  38. hehehe..iya nyi..
    ngobrol sama nungguin kitab..boleh to…

    lho ki wisnu kok wis bilang makasih..
    memang udah diwedar to ki..
    dimana lo??
    kok aku gak liat..
    wah, blaen iki..

  39. Ki wisnu apa kitabnya sudah diwedar kok bilang terima kasih kalau sudah dimana kasih tau ya

  40. sugeng dalu sedaya mawon.., tumut ngantri

  41. wis ah..
    dah malem.. pulang dulu.. nanti dipantau dari hp..
    la aku dadi bingung 190 udah diwedar ato belum jee.. ora ketok..
    jadi yo gak unduh 190.

    monggo nyi, wangsul rumiyin..
    sugeng dalu…

  42. ke prilidan dulu ah…, bantuin pembantu rumah AS
    (sebenarnyalah Ki SHM lupa nama pembantu rumah tangganya AS .. )
    🙂

  43. ngronda …. genk ndalu sedoyo

  44. SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT

    Uraian singkat tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ini berdasarkan Buku Tripama Watak Satrio dan Sastra Jendra karya Ir. Sri Mulyono.

    Secara harfiah Sastra Jendra berasal dari kata sastra yang berarti tulis, ilmu atau kitab. Sedangkan jendra berarti milik raja atau Gusti Hayuningrat berarti keselamatan umat dan dunia semesta. Sastra jendra dalam dunia pewayangan dikenal diajarkan oleh begawan Wisrawa dan juga diajarkan oleh Bima dalam lakon Bima Suci atau Nawaruci atau Sena Rodra juga dikenal dengan lakon Bima Paksa.

    Sastra jendra ini tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang dan cara mengajarkannya harus pada tempat yang khusus, tidak boleh dihadiri oleh wanita dan bahkan tidak boleh didengar oleh seekor binatang pun (kutu-kutu, walang, ataga), karena sifatnya sangat rahasia. Orang harus mencarinya sendiri dan jika tidak waspada atau super hati-hati akan berakibat sangat fatal, kalau manusia yang mendengarkan dapat menjadi raksasa dan bersifat sangat angkara murka, kalau binatang yang mendengar dan mengerti sastra jendra dapat berinkarnasi menjadi manusia dalam kehidupan yang akan datang.

    Ketika Batara Guru mendengar bahwa Begawan Wisrawa akan mengajarkan dan menyebarluaskan Ilmu Sastra Jendra Layuningrat itu dan mengingat sifat kerahasiaannya itu, Batara Guru sangat marah dan segera mengeluarkan surat kuasa/surat perjalanan ke Arcapada kepada isterinya, Betari Durga. Tugas utama Betari Durga adalah untuk menyusup (manjing) keraga Dewi Sukesi untuk menggagalkan rencana Wisrawa sehingga Resi Wisrawa runtuh imannya sewaktu melihat kecantikan Dewi Sukesi justru calon menantunya sehingga ia berbalik haluan sangat Kasmaran dan mengawininya sendiri. Dengan tidak tahu malu Resi Wisrawa melampiaskan nafsu angkara dan birahinya yang berakibat Dewi Sukesi hanggarbini (hamil). Di kemudian hari lahirlah anak-anaknya yaitu Rahwana, Kumbakarna, Sarpakanaka dan si bungsu rupawan Gunawan Wibisana.

    Yang menjadi tanda tanya mengapa Batara Guru dan para dewa mengajarkan dan menyebarluaskan ilmu sastra jendra itu. Hal ini karena para dewa takut kalau ada manusia dan binatang tahu dan memahami ilmu tersebut dikhawatirkan tidak akan mempercayai dan mengakui lagi dewa-dewa tersebut. Para dewa dalam sidang paripurna secara bulat sepakat untuk merintangi dan melarang usaha penyebarluasan ilmu sastra jendra tersebut.

    Dari uraian tersebut tersirat makna bahwa terdapat suatu usaha melalui wayang untuk menolak ajaran atau ilmu lain kecuali ilmu yang diajarkan oleh dewa-dewa. Menurut para ahli Barat ada yang berpendapat bahwa sastra jendra itu adalah Al Quran dan Injil atau kitab suci dari agama atau kepercayaan lain.

    Sementara orang beranggapan bahwa Resi Wisrawa sebenarnya belum menguasai betul tilmu Sastra Jendra itu. Tingkatannya masih dalam perjalanan atau proses dalam meraih ilmu sehingga dalam kenyataannya ia tergelincir dalam nafsu yang dilambangkan dengan Dewi Sukesi. Konon syarat utama yang mutlak harus ditempuh bagi manusia yang ingin mencapai ilmu sastra jendra harus mampu menahan diri, atau mampu mengendalikan hawa nafsu, yaitu haru mampu menahan atau menyingkirkan nafsu angkata, nafsu perut, dan nafsu kelamin (cegah dahar lan guling) dengan jalan berpuasa.

    Nafsu angkara dalam pewayangan dilambangkan dengan Raksasa, sedangkan nafsu guling dilambangkan dengan wanita. Resi Wisrawa pada waktu itu baru berhasil menyingkirkan nafsu perut (aluamah) dan nafsu amarah yang dilambangkan bahwa Resi Wisrawa berhasil membunuh secara sadis dan memotong-motong badan Raksasa Jambumangil, yaitu saudara misan Dewi Sukesi. Karena tindakan Resi Wisrawa itu maka hukum karma menimpa anaknya Kumbakarna. Kematian Kumbakarna dalam keadaan mengenaskan/mengerikan dalam perang Kera dan Ceritera Ramayana. Kematiannya dimulai dari telinga putus, tangan putus, kaki satu-persatu putus dan akhirnya lehernya terpisah dari badannya (gembung). Ini hukum karma tetapi sekaligus melambangkan keberhasilan Resi Wisrawa dalam menumpas/membunuh nafsu angkaranya, biarpun akhirnya ia tergelincir dalam nafsu kelamin dan dalam lembah kenistaan (ia melahirkan Rahwana atau Dasamuka yang melambangkan sepuluh nafsu angkara berasal dari lima nafsu Wusrawa dan lima Sukesi, yaitu amarah, mutmainah, supiah, aluaman dah mulhimah.

    Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu menurut para ahli tidak pernah dimuat dalam Kepusatakaan Jawa Kuna, tetapi dikenal pada abad IXI (1820) pada karya Kiyai Yasadipura dan Kiyai Sindusastra dalam Lakon Arjuna Wijaya atau Lokapala (dikutip dalam Kitab Arjuna Wijaya) dalam pupuh Sinom yang menyatakan:

    Kejawi saking punika ngungun kawula dene ta boten kadasa putra tuan nini putri, sinten ta sing marahi. Penedahanira pinku. Sastra Jendra Yu ningrat menangka wadining bumi pan sinengker dening hyang Jagat Pratingkah.
    Tan kening singa ngucapa siniku ing bataradi senagyan para pandita, kang samya mandireng wukir awis ingkang ngarawuhi yen dede pandita pinunjul, kuala matur prasaja mring paduka yayi aji, kang tineda ing nini punika.

    Sastra Jendra Yu Ningrat, pangruwating barang sakalir ingkang kawruh tan wonten malih wus kawengku sastradi pungkas pungkasaning kawruh ditya diyu rakseksa myong sato siningwanadri lamun weruh artine kang Sastra Jendra. Rinuwai dening Batara sampurna patine reki atmane wor lan manungsa, manungsa kang wis linuwih yen manungsa udani, wong lan dewa patinipun jawata kang minulya.

    Terjemahan bebas kurang lebih sebagai berikut:
    Selain dari itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak wanita saya ini, yaitu barang siapa dapat memenuhi permintaannya untuk menjabarkan Sastra Jendra Yu Ningrat sebagai rahasia dunia (esoteris) yang dirahasiakan oleh Sanghyang Jagat Pratingkah.

    Dimana tidak boleh seorang pun mengucapkannya, karena akan mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pendita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pendita yang mempuni. Saya akan berkata terus terang kepada dinda Prabu apa yang terjadai permintaan putri paduka.
    Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pengruwat segala sesuatu yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup dalam suatu kitab suci (ilmu luhur)= sastradi. Sastra Jendra itu juga merupakan akhir dari segala pengetahuan, segala pengetahuan Raksasa dan Diyu bahkan juga binatang yang berada di hutan belantara sekalipun, kalau mengetahui arti dar Sastra Jendra.

    Akan diruwat oleh Batara matinya (nanti) akan menjadi sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang linuwih (mumpuni), sedangkan kalau yang mengetahui Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan Dewata yang mulia.

    Jelaslah kiranya bahwa arti Sastra Jendra itu adalah suatu ujung dari segala akhir ilmu atau pepuntoning laku, atau akhir dari penjelmaan hidup. Sedangkan menurut Wedatama, Sastra Jendra merupakan ilmu Kasampurnaan atau Ilmu Luhur. Sastradi Ilmu Rahasia, Ilmu Mukswa, Ilmu Kasunyatan, Ilmu sejati ma’rifat, Nawaruci, Tatwa Jnana, yaitu suatu ilmu tentang esensi daripada wujud atau ilmu kalam dan disebut juga Ilmu Theologi.

  45. Ngiler lagi cepeeek deeeh

  46. Uraian dari ki amat benar2 sgt menarik. Masih banyak bagian yg blm terkupas tuntas.
    Saya tunggu kelanjutannya ki,yg lbh halus-lembut-tak terucapkan. Bukankah sastra jendra itu memang tdk bisa dan tdk boleh diucapkan? Tapi bisa ditamsilkan. Tul nggak ki?

  47. Klik pertama dihari ini..;-)
    Kok sepi ya? Pada gak ngeronda yo.. Walah, pasukan jaga malam pada ilang nih.
    Wis ah, ikut meluk guling sisan. Monggo.

  48. nderek wungon mas

  49. absen….

  50. Cublak cublak suweng (tembang dolanan masa lalu)

    Cublak cublak suweng,………
    Suwenge tinggelenter….
    mambu ketundung gudhel…………….
    Pak empong lera lere…………
    Sopo ngunyu ndelek ake……………….
    sir, sirpong dele kopong…………..
    sir, sirpong dele kopong………
    sopo nguyu ndelek ake………………..”

    mungkin arti lagu tersebut adalah seperti ini :

    cublak cublak suweng……
    kata “cublak” adalah sebuah kata kebiasan atau idium yang digunakan untuk sebuah permainan saling tebak, sedang kata suweng artinya adalah hiasan telinga (bukan anting anting atau giwang) suweng adalah hiasan telinga yang di cantelkan di daun telinga…. Mungkin artinya kata dari idium tersebuat adalah sebuah informasi yang penting. Jadi ditemukan kata artinya seperti ini : “ (ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting”

    Suwenge tinggelenter………..
    Seperti diatas suweng artinya adalah sebuah informasi yang penting, tinggelenter artinya adalah banyak tersebar berserakan… jadi kalo digabungkan kedua kata tersebut ditemukan arti : “informasi penting (ini) (sebenarnya) tersebar disegala tempat.”

    mambu ketundung gudhel……….
    Mambu artinya adala tercium atau terdeteksi, ketundung artinya adalah diusir/dihilangkan, gudhel artinya adalah anak sapi, cuman saya merasa kata “gudhel” adalah sebuah kata kata idium yang mengartikan orang bodhoh atau orang yang sok tau akan tetapi tidak tau…. Kenapa koq artinya begitu….. gudhel adalah anak sapi, sapi adalah hewan yang sangat bermanpaat khusus nya masyarakat pertanian, disamping manfaat susunya daging dan tenaga nya biasanya juga dimanfaat kan. akan tetapi “gudhel” memang benar adalah anak sapi (hewan yang sangat bermanfaat) akan tetapi ketika masih “gudhel” (ketika sapi masih kecil) sapi kecil tersebut taunya cuman makan dan bermain (masih belum bisa dimanfaatkan… belum keluar susunya, tenaganya masih kecil, dagingnya masih sedikit). Jadi arti kata “mambu ketundung gudhel” artinya adalah “kalo ketahuan bakalan diusir/dihilangkan/dirusak oleh orang orang yang tidak mengerti (bodoh)”

    Pak empong lera lere………
    Pak empong adalah idium kata dari dewasa/kedewasaan… sebab artinya empong adalah ompong untuk penyebutan prang yang sudah berumur,…….. sedang disebut pak adalah artinya tua yang memiliki arti juga sudah menjadi dewasa …. Jadi kata “pak empong” adalah merujuk pada kata “orang yang dewasa dikrenakan mempunyai banyak pengalaman” kemudian lera lere artiya adalah menoleh kanan kiri atau memilih milih. Jadi kata “pak empong lera lere” adalah “orang dewasa yang sudah banyak pengalaman (mencari dengan) memilah milih (secara cermat)”.

    sopo ngunyu ndelek ake…..
    artinya… “siapa yang tertawa (pasti) menyembunyikan”, memiliki persamaan arti sama seperti “siapa yang tertawa/menertawakan pasti mengetahui (kebohongan) yang ada” atau kalo lebih dipermudah kalo dibaca akan ketemu kata seperti ini “siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”

    sir, sirpong dele kopong…
    kalo kata “sir pong dele kopong” kurang lebih artinya emmm … pong adalah sesuatu hal seperti bola yang kosong didalam nya, sedang dele (kedelai) kopong adalah kedelai yang mengambang diatas air…..kalau ga salah sih artinya menjadi seperti ini…. “(sesuatu) yang dianggap besar tersebut sebenarnya tidak ada isinya” atau memiliki persamaan arti dengan ini (biar nyambung sama kalimat kalimat terdahulunya, sebab ini adalah rangkaian sebuah tembang) “informasi yang dianggap benar sekarang ini, sebenarnya adalah kebohongan”

    jadi kalo digabungkan semua katanya dan disusun sesuai susunan “tembang Cublak Cublak suweng” membentuk kalimat seperti ini :

    “(ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting.”
    “(sebenarnya) informasi penting (ini) (sudah) tersebar disegala tempat.”
    “(tetapi ketahuilah) kalo ketahuan (informasi penting ini) bakalan diusir/dihilangkan/dirusak oleh orang orang yang tidak mengerti (bodoh)”
    “orang dewasa yang sudah banyak pengalaman/”ilmu” (mencari dengan) memilah milih (secara cermat)”.
    “siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”
    “informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan”
    “informasi yang dianggap benar (secara umum) sekarang ini sebenarnya adalah kebohongan”
    “siapa yang (mengetahui pasti akan) tertawa/menertawakan (ketika) mengetahui (kebohongan) yang ada”

    Kalo memang benar seperti itu arti dari Tembang “Cublak Cublak Suweng”……. wuih keren ya permainan kata dari bahasa jawa…….

    Mohon koreksi dan masukan dari semuanya…………….

    He…eh satu tembang saja sudah mumet dan ngelu je.

    S makasih ya Ki .. bener bikin ngelu. enak langsung dimainkan 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: