Buku II-7

Ki Lurah Branjangan adalah orang yang memiliki kelebihan dari para pengawal yang lain. Namun ia merasa, betapa dahsyatnya kekuatan orang bertubuh raksasa itu, sehingga ia memerlukan beberapa orang untuk membantunya.

Tetapi kehadiran pasukan Sangkal Putung memberi kan sedikit kesempatan untuk bernafas. Meskipun pasukan Sangkal Putung tidak terlampau menekankan kekuatan di bagian sayapnya, karena semua kekuatan puncaknya berada di induk pasukan, namun kehadiran mereka terasa juga akibatnya, seakan-akan tugas pasukan pengawal dari Mataram itu menjadi agak ringan, meskipun seolah-olah maut masih tetap mengintai setiap orang disetiap saat.

Dalam pada itu. Empu Pinang Aring sendiri segera terbentur pada kekuatan yang tidak dapat ditembusnya. Ketika pertempuran mulai menjadi seru diantara kedua orang yang memiliki ilmu diluar jangkauan para pengawal yang lain itu. maka mereka masing-masing telah mempergunakan senjata yang paling mereka percaya.

Empu Pinang Aring telah menerima senjata khususnya dari seorang pengawalnya yang selalu mengikutinya. Senjata yang jarang-jarang sekali dipergunakan, kecuali dalam kesempatan-kesempatan yang paling berbahaya bagi dirinya.

Kiai Gringsing memperhatikan senjata yang agak aneh itu. Ia sadar bahwa senjata Empu Pinang Aring itu tentu didapatkannya dari orang-orang asing yang pernah berada di tlatah Pajang, atau masa-masa pemerintahan sebelumnya.

Senjata yang bertangkai sepanjang tangkai tombak pendek itu, mempunyai tiga mata seperti trisula. Tetapi kedua mata tombaknya yang berada dibagian luar, mempunyai mata yang tajamnya menghadap kearah yang berlawanan, seperti ujung eri pandan, sedangkan mata tombak trisula yang berada ditengah, agak lebih panjang sedikit dari kedua ujung yang lain.

“Jangan takut menghadapi senjataku ini,“ desis Empu Pinang Aring ketika ia melihat wajah Kiai Gringsing menegang.

Kiai Gringsing yang menyadari keadaannya, tiba-tiba saja tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak menjadi ketakutan. Tetapi aku menjadi heran. Jika saja kita tidak sedang bertempur, aku akan meminjam senjata itu barang sejenak.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kau tidak saja akan meminjamnya, tetapi kau akan merasakan, bahwa trisulaku itu mempunyai kemampuan untuk berbuat apa saja dimedan. Aku dapat menyobek perutmu dengan tusukan. Tetapi aku dapat memecahkan kepalamu dengan ayunan, karena mata trisulaku mempunyai tajam seperti kapak disisi-sisinya.”

“O,“ desis Kiai Gringsing yang telah menggenggam cambuknya, “aku akan mencoba melawan senjatamu yang aneh itu.”

Empu Pinang Aring tidak menjawab lagi. Dengan serta merta ia telah menyerang. Senjata menusuk seperti sebatang tombak. Namun ketika ujungnya gagal menyentuh Kiai Gringsing, maka senjata itupun segera terayun seperti kapak yang bertangkai panjang.

Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Senjata itu memang berbahaya. Dalam setiap geraknya senjata itu memungkinkan untuk melukainya, atau bahkan melumpuhkannya.

Karena itulah, maka untuk selanjutnya Kiai Gringsing harus benar-benar berhati-hati. Bahkan ia harus memperlihatkan kemampuannya bergerak dengan kecepatan yang hampir tidak dapat diikuti dengan tatapan mata.

Sejenak kemudian pertempuran antara kedua orang itupun semakin menjadi dahsyat. Beberapa orang yang ada diseputarnya menjadi berdebar-debar. Senjata Empu Pinang Aring menyambar dari segala arah. Kemudian mematuk seperti seekor ular bandotan yang menerkam lawannya.

Namun dalam pada itu, setiap kali Empu Pinang Aring terkejut mendengar ledakan cambuk Kiai Gringsing. Suara cambuk yang tidak begitu keras menurut pendengaran telinga wadag. Tetapi ternyata bagi telinga Empu Pinang Aring dapat mengetahui bahwa bunyi cambuk itu bagaikan panggilan baginya dari daerah maut.

Dengan demikian maka kedua orang yang bertempur dengan kemampuan yang luar biasa itu telah menumbuhkan keadaan yang khusus didalam arena itu. Sementara para pengawal yang lain bertempur dengan sengitnya melawan orang kasar yang bersembunyi dilembah itu. Setiap kali mereka bersorak-sorak dan berteriak-teriak memekakkan telinga, sehingga kadang-kadang suara itu berhasil mempengaruhi ketahanan hati orang-orang Mataram dan Sangkal Putung.

Ki Lurah Branjangan yang memiliki pengalaman yang luas dimedan yang betapapun sulitnya, meskipun ia tidak dapat mengimbangi kekuatan lawannya seorang diri, telah berusaha mengurangi tekanan perasaan pada para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung. Lewat pengawal-pengawalnya ia memerintahkan agar para pengawal Mataram dan Sangkal Putung ikut pula meneriakkan kemenangan-kemenangan yang dapat mereka capai dipertempuran itu.

Sambil menjauhi lawannya sejenak, dan membiarkan para pengawalnya yang lain bertempur, ia berkata kepada seorang penghubung, “Lakukanlah seperti yang mereka lakukan. Dengan demikian maka kalian tidak akan mendengar apa yang mereka teriakkan, karena kalian telah berteriak pula.”

Perintah itupun kemudian menjalar kepada setiap orang di sayap gelar orang-orang Mataram dan Sangkal Putung itu. Sehingga dengan demikian maka sayap gelar itupun menjadi sangat riuh dan ramai.

Tetapi seperti yang diperhitungkan oleh Ki Lurah Branjangan, maka para pengawal Mataram dan Sangkal Putung tidak lagi terpengaruh oleh kata-kata yang dilontarkan lawannya, karena mereka tidak mendengar teriakan-teriakan itu lagi dengan jelas.

Sayap gelar pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu benar-benar bagaikan arena benturan guruh dan guntur. Suaranya bagaikan menggugurkan lereng Merapi dan Merbabu. Setiap orang bertempur sambil berteriak. Tetapi teriakan mereka itupun hanyalah dapat mereka dengar sendiri. Karena setiap orang telah berteriak pula.

Orang dilembah itupun menjadi marah pula karena sikap para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung. Mereka tidak lagi dapat memperolok-olokkan mereka. Tidak lagi dapat mengumpati dan menyebut kematian demi kematian. Bahkan tidak lagi dapat berbohong untuk mempengaruhi perasaan para pengawal dari Mataram dan Sangkal Putung, karena mereka sendiripun telah berteriak-teriak tidak menentu.

“Gila,“ geram Kiai Jagarana ketika Ki Lurah Branjangan telah kembali melawannya, “kau ajari para pengawal Mataram itu berbuat seperti perampok-perampok dan penyamun.”

“Aneh,“ desis Ki Lurah Branjangan, “orang-orang-mupun melakukannya.”

“Mereka sebagian memang perompak dan penyamun. Tetapi sebagian lagi adalah prajurit-prajurit Pajang.”

“Biar sajalah para pengawal dari Mataram berusaha menyumbat telinga mereka dengan mulutnya sendiri. Kata-kata yang dilontarkan oleh orang-orangmu, terutama oleh para perampok dan penyamun itu telah berhasil mempengaruhi jiwa para pengawal. Kata-kata kasar dan kotor itu memang memalukan sekali. Tetapi kini lontaran kata-kata mereka itu sudah tidak didengar lagi.”

Orang bertubuh raksasa itu tidak menjawab lagi. Dengan serta merta ia menyerang Ki Lurah Branjangan dengan senjata yang paling digemari. Sebuah bindi yang besar dan panjang bergerigi berlapis besi baja.

Ki Lurah Branjanganpun harus berhati-hati menghadapi lawannya. Tetapi pedangnya cukup lincah menyusup ayunan bindi Kiai Jagarana. Beberapa orang pengawal yang membantunyapun cukup lincah, sehingga untuk beberapa saat lamanya, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya.

Di sayap yang lain Ki Sumangkar berada dalam pasukan yang dipimpin oleh Ki Lurah Dipajaya. Sesuai dengan pesan Raden Sutawijaya, maka Ki Dipajayapun telah bertempur bersama beberapa orang pengawalnya seperti yang dilakukan oleh Ki Lurah Branjangan menghadapi orang yang bernama Samparsada. Seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa, sejajar dengan kawan-kawannya dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, sementara Ki Sumangkar telah bertemu dengan Kiai Kalasa Sawit yang pernah tinggal di padepokan Tambak Wedi. Ternyata bahwa Kiai Kelasa Sawit masih tetap garang dan kasar.

Tetapi luka-luka ditubuh Ki Sumangkar sudah tidak berpengaruh lagi. Ia sudah dapat memutar trisulanya dengan dahsyatnya. Sekali-sekali trisulanya itu bagaikan terjulur menyambar kepala lawannya. Namun kemudian berputar seperti baling-baling.

Kiai Kalasa Sawit menghadapi lawannya dengan hati-hati. Ia sadar, bahwa sambaran trisula itu akan dapat melubangi keningnya. Sehingga karena itu, maka ia harus berusaha untuk menghindarinya.

Ternyata sayap gelar pasukan Mataram itu telah tertahan oleh kekuatan yang agak lebih besar. Meskipun pasukan Sangkal Putung telah bergabung bersama mereka, tetapi rasa rasanya tekanan orang orang yang berada dilembah itu masih terasa sangat berat.

Di Pusat gelar pasukan Mataram yang bergabung dengan pasukan Sangkal Putung itu, pertempuranpun telah berkobar dengan dahsyatnya. Raden Sutawijaya telah menunjukkan kemampuannya sebagai seorang Senopati muda. Ia mampu menguasai seluruh keadaan medan yang panjang dengan penglihatannya, keterangan-keterangan yang didengarnya dan perhitungan-perhitungannya, seolah-olah ia telah melihat medan itu dalam keseluruhan.

Namun ketika Tumenggung Wanakerti sengaja menyongsongnya, maka Raden Sutawijayapun mulai terikat oleh pemusatan kemampuannya kepada Tumenggung yang memang sudah dikenalnya itu.

“Anak muda,“ berkata Tumenggung Wanakerti, “jika kau kemudian disebut Senopati Ing Ngalaga itu sama sekali bukan karena kemampuanmu dimedan perang. Tapi gelar Senopati Ing Ngalaga itu kau dapatkan sebagai sebuah kurnia dari ayahanda angkatmu yang kasihan melihat anaknya sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun juga. Akhirnya kau terpaksa disingkirkan ke Mataram, karena kau hanya akan menghambat perkembangan prajurit Pajang.”

Senopati Ing Ngalaga menggeram. Tetapi ia selalu ingat pesan Ki Juru Martani. Bahwa sebagai seorang pemimpin dari satu gelar yang besar ia tidak boleh terlalu terpengaruh oleh perasaannya. Jika ia kehilangan akal dan pengekangan diri, maka ia tidak akan dapat menguasai seluruh keadaan medan. Karena itulah maka ia menganggap kata-kata Tumenggung Wanakerti itu sebagai pancingan untuk membangkitkan kemarahannya.

Dalam pada itu, medanpun menjadi semakin dikuasai oleh nafsu membunuh. Setiap orang yang telah menjadi basah oleh keringat, seakan-akan telah menjadi wuru. Apalagi mereka yang telah mulai menitikkan darah dari goresan-goresan senjata.

“Kau masih harus berlatih dua tiga tahun lagi Senopati muda,” berkata Tumenggung Wanakerti yang bertempur melawan Raden Sutawijaya.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ketika tombak pendeknya hampir saja meyambar hidung Tumenggung Wanakerti sehingga Tumenggung itu meloncat mundur. Raden Sutawijaya berkata, “Jika aku berguru dua tiga tahun lagi, maka alangkah ngerinya wajahmu sekarang.”

Tetapi Tumenggung Wanakerti masih dapat tertawa. Katanya, “Bagus. Aku akan melihat, apakah yang dapat kau lakukan sekarang.”

Namun sebenarnyalah hati Raden Sutawijaya menjadi semakin mapan, ia tidak lagi meronta dan memaksa diri untuk bersabar. Tetapi ia benar-benar tidak banyak terpengaruh lagi oleh kata-kata Ki Tumenggung Wanakerti yang memancing kemarahannya itu.

Tetapi dalam pada itu, ternyata bahwa di pusat gelar lawan, kekuatannya benar-benar menakjubkan. Beberapa Senopati dari Pajang telah terlibat pula didalamnya. Jika pasukan Mataram disertai dengan sekelompok prajurit Pajang, maka mereka telah berhadapan dengan beberapa orang Senopati yang memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajurit kebanyakan.

Namun di pusat gelar itupun kemudian hadir Swandaru, Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Kedatangan mereka telah mengejutkan lawan. Apalagi ketika cambuk Swandaru mulai meledak. Suaranya bagaikan guruh yang seolah-olah memecahkan selaput telinga wadag.

Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Sambil bertempur ia mencoba memperhatikan bunyi cambuk itu. Tetapi telinganya ternyata dapat membedakan, bahwa bunyi cambuk itu adalah bunyi kekerasan wadag. Namun demikian ia menjadi berdebar-debar juga, karena di pusat gelar itu telah hadir seorang yang memiliki kekuatan raksasa.

Ki Juru Martanilah yang kemudian mengatur, dimana Swandaru harus bertempur. Ia tiba-tiba saja telah berada tidak jauh dari Raden Sutawijaya, sehingga kehadirannya langsung mempengaruhi medan. Para Senopati yang bertempur melawan dua atau tiga orang yang berpasangan, karena kemampuan mereka yang berbeda, telah terkejut pula.

Swandaru memang memiliki kelebihan. Seorang Senopati Pajang yang berada di dalam lingkungan orang-orang dilembah itu mencoba untuk menahannya. Namun kemudian ia harus mengakui, bahwa Swandaru bukannya seorang gembala yang hanya pandai meledakkan cambuknya keras-keras tanpa lantaran tenaga sama sekali.

Ketika cambuk Swandaru meledak dihadapan Senopati itu, maka langsung terasa, betapa sambaran angin telah menyapu tubuh lawannya sehingga dengan demikian lawannya mengetahui, bahwa cambuk itu benar-benar memiliki kekuatan untuk merobek kulitnya.

Selagi orang-orang dilembah itu masih dikuasai oleh kejutan hadirnya orang gemuk bersenjata cambuk itu, maka sekali lagi mereka terkejut. Disisi lain dari Raden Sutawijaya telah terjadi kegelisahan, karena dimedan itu telah muncul dua orang perempuan dengan senjata mereka yang menggemparkan. Pandan Wangi dengan pedang rangkapnya, sementara Sekar Mirah telah mempergunakan senjata yang diberikan oleh gurunya kepadanya. Sebatang tongkat baja yang berkepala tengkorak berwarna kekuning-kuningan.

“Tongkat itu,“ seorang Senopati yang lain berdesis.

Beberapa orang prajurit Pajangpun menjadi berdebar-debar pula. Sebagian dari mereka telah mengenal tongkat baja putih itu. Tongkat yang pernah menggemparkan Pajang saat Pajang masih harus bertempur melawan Jipang.

Sebenarnyalah Sekar Mirah menguasai tongkatnya sebaik-baiknya. Tidak kalah dari yang dapat dilakukan oleh Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

“Gila,“ geram seorang Senopati muda, seolah-olah aku telah menyaksikan sesuatu yang tidak mungkin. Dari wajah yang cantik itu telah memancar sorot mata penuh kebencian dan dendam.”

Namun ia tidak dapat sekedar memandang dengan heran. Sejenak kemudian Senopati muda itu telah terlibat dalam pertempuran yang sengit melawan Sekar Mirah.

“Luar biasa,“ desis prajurit itu, selelah senjatanya membentur tongkat Sekar Mirah.

Sekar Mirah tidak menyahut. Sekilas ia memandang Senopati itu. Meskipun Senopati itu tidak lagi memakai pakaian keprajuritannya, namun ada beberapa ciri yang dapat memperkenalkan dirinya sebagai seorang prajurit.

Agung Sedayu tidak sempat menyahut lagi. Serangan Ki Gede Telengan telah datang bagaikan angin prahara. Tangannya yang mengandung kekuatan yang tidak terduga menyambar kening Agung Sedayu. Untunglah bahwa Agung Sedayu masih sempat bergeser sambil menarik kepalanya kesamping, sehingga yang terasa olehnya hanyalah sambaran angin yang mendebarkan jantung.

Namun Agung Sedayu tidak sempat merenungi kekuatan lawannya, karena Ki Gede Telengan lelah menyambar larnbungnya dengan kaki kanannya.

Sekali lagi Agung Sedayu terpaksa mengelak. Sebuah loncatan kecil kesamping telah melepaskannya dari sambaran kaki Ki Gede Telengan.

Tetapi gerak Ki Gede Telengan itu beruntun bagaikan deburan ombak dilautan. Demikian sebelah kakinya menjejak tanah, maka tubuhnya telah terputar seperti pusaran air. Kaki yang lain seakan-akan telah terlempar menyambar lawannya mendatar.

Agung Sedayu tidak sempat mengelak. Tetapi ia tidak mau dikenai tumit lawannya, karena ia sadar, bahwa perutnya tentu akan menjadi muak, dan bahkan mungkin terluka didalam, sehingga ia tidak akan mendapat kesempatan lebih banyak lagi untuk bertempur.

Karena itu, maka Agung Sedayupun segera merendahkan dirinya. Ia sadar, bahwa kekuatan lawannya adalah kekuatan raksasa. Karena itulah, maka iapun menghimpun segenap kekuatannya pada kedua tangannya yang bersilang di hadapan dadanya, sementara kedua kakinya merendah pada lututnya.

Benturan kekuatanpun tidak dapat dihindarkan lagi Kaki Ki Gede Telengan telah membentur siku tangan AgungSedayu.

Ternyata bahwa keduanya telah terperanjat. Bentaran kekuatan itu benar-benar merupakan benturan kekuatan raksasa yang sulit dicari imbangannya.

Agung Sedayu ternyata telah terdorong surut, setelah kedua kakinya yang merendah pada lututnya gemetar beberapa saat. Ia tidak dapat bertahan berdiri ditempatnya, sehingga sebelah kakinya telah bergeser dan kaki yang lain harus melangkah surut.

Namun sementara itu, kaki Ki Gede Telengan bagaikan telah dilontarkan oleh sebuah kekuatan yang tidak diperhitungkannya sama sekali. Sehingga iapun telah kehilangan keseimbangannya.

Sekejap ia mencoba bertahan, namun kemudian ia terpaksa jatuh pada lutut kaki kanannya.

Tetapi ia masih dapat meloncat dengan sigapnya. Ketika Agung Sedayu siap untuk menyerang, ternyata bahwa Ki Gede Telenganpun telah berdiri tegak pula menghadapi segala macam kemungkinan.

Namun demikian Ki Gede Telengan itu masih sempat mengumpat, “Anak Iblis. Kau benar-benar telah kerasukan. Kau mempunyai kekuatan yang tidak sewajarnya bagi anak-anak sebesar kau. Tetapi jika iblis ditubuhmu itu oncat, maka kau tidak lebih dari seonggok jerami yang tidak berdaya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia siap untuk bertempur lebih dahsyat lagi.

Sejenak kemudian maka Senopati muda itu tidak lagi dapat memandang wajah Sekar Mirah yang cantik. Yang nampak olehnya kemudian adalah segumpal awan putih yang bagaikan ingin melihat dirinya. Kilatan cahaya kekuning-kuningan diantara gumpalan putih itu bagaikan cahaya tatit ditengah-tengah mendung yang kelabu.

Pertempuran dilembah itupun semakin lama menjadi semakin seru. Pedang rangkap Pandan Wangi pun telah berputar dengan dahsyatnya. Sekali-sekali menyambar, namun kemudian mematuk mengerikan. Seperti Sekar Mirah, maka Pandan Wangipun telah mendebarkan jantung lawannya, seorang Senopati Pajang yang berada dipihak orang-orang yang berkumpul dilembah itu.

Namun dalam pada itu, jumlah orang-orang yang berada dilembah itu memang lebih banyak. Meskipun pada dasarnya, setiap pemimpin mereka telah berhasil ditahan oleh para pemimpin kelompok dari Mataram dan Sangkal Putung. namun orang orang dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang lebih banyak jumlahnya itu, masih juga berhasil menekan sehingga setapak demi setapak, pertempuran itu telah bergeser dari garis semula. Karena tidak disadari, pasukan Mataram dan Sangkal Putung meskipun hanya sejengkal demi sejengkal telah terdesak mundur.

Sementara itu, dibagian lain dari lembah itu, Ki Gede Telengan masih bertempur melawan Agung Sedayu. Ternyata bahwa Ki Gede Telengan telah bertemu dengan lawan yang tidak diduganya sama sekali. Agung Sedayu bukannya sekedar seorang anak petani yang kebetulan bermain-main dimedan pertempuran. Tetapi anak muda itu ternyata mampu mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan.

Karena Ki Gede Telengan tidak bersenjata, maka Agung Sedayupun merasa lebih mantap bertempur tanpa senjata. Namun untuk mengimbangi ilmu Ki Gede Telengan, Agung Sedayupun telah mempergunakan ilmunya selengkapnya.

Ki Gede Telengan benar-benar heran melihat kemampuan lawannya yang masih sangat muda itu. Setiap kali Agung Sedayu selalu dapat membebaskan diri dari libatan serangannya. Betapapun ia memburu setiap gerak menghindar, namun pada suatu saat ia sendirilah yang harus berloncatan menghindari serangan anak muda itu yang membadai.

“He anak muda,“ tiba-tiba saja Ki Gede Telengan berteriak, “dimana kau berguru he? Sehingga kau mampu mengimbangi ilmuku pada usiamu yang masih sangat muda itu?”

Agung Sedayu terrnangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Ki Sanak. Setiap orang yang menengadahkan permohonannya kepada Sumber Hidupnya, ia akan memiliki sesuatu yang berharga. Cobalah mengerti tentang dirimu sendiri. Mungkin kau dapat memungut ilmu itu di daerah gelap dan hitam. Tetapi pada saatnya, maka yang hitam itu akan terhapus. Seandainya bukan aku, tentu ada orang lain yang akan datang dalam perjalanan hidupmu.”

“Persetan,“ geram Ki Gede Telengan yang menyerang semakin dahsyat, “kau sempat menggurui aku. Baiklah. Terima kasih. Tetapi sebentar lagi kau akan mati.”

Ki Gede Telengan yang menjadi semakin gelisah itu-pun tidak mau memperpanjang waktu lagi. Jika kepergiannya diketahui, maka ia akan semakin dalam terbenam kedalam kesulitan, karena baik Tumenggung Wanakerti maupun para pemimpin gerombolan yang lain, tentu tidak akan melepaskan pusaka-pusaka yang harus dijaganya itu dibawa pergi.

Karena itulah maka Ki Gede Telenganpun kemudian telah mengarahkan segenap kemampuannya untuk segera dapat membunuh lawannya, sementara pengikutnya telah bertempur mati-matian melawan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, tekanan dimedan disebelah Timur dari lembah itupun semakin lama terasa menjadi semakin berat bagi pasukan pengawal Mataram dan Sangkal Putung. Namun Sutawijaya masih berharap, bahwa pada suatu saat, pasukan Tanah Perdikan Menoreh akan datang dan melihat lawan mereka dari belakang.

Namun ternyata pasukan Tanah Perdikan Menoreh datang terlalu lambat dari yang diperhitungkan. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung sudah terdesak semakin jauh. Namun pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh sama sekali belum mempengaruhi medan.

Raden Sutawijaya tidak mengetahui, bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah tertahan. Meskipun hanya bagian sayapnya saja yang bertempur dengan sengitnya melawan pasukan pengawal pusaka yang disembunyikan oleh orang-orang yang berkumpul dilembah itu, namun seluruh pasukanpun telah terhenti kerenanya.

Tetapi dalam pada itu, ternyata Prastawa telah menempuh kebijaksanaan lain. Sepeninggal Ki Gede Menoreh dari induk pasukannya, maka Prastawa telah dikecewakannya. Ia ingin datang dan menunjukkan kelebihannya atas Agung Sedayu, dengan membebaskannya dari tekanan lawannya. Tetapi Ki Gede Menoreh tidak memperkenankannya.

Oleh kejengkelannya itulah maka ia telah menentukan sikap yang dianggapnya paling baik. Sesuai dengan pesan para penghubung dari medan disebelah Timur, pasukan Tanah Perdikan Menoreh harus menyerang dari Barat, karena jumlah lawan ternyata terlalu banyak.

“Biarlah sayap itu bertempur. Aku harus bergerak maju untuk membantu pasukan Mataram. Terutama sayap yang lain dan induk pasukan.” katanya kepada seorang pengawalnya.

Tetapi sayap yang sedang bertempur itu akan terbuka. Jika maksud kita menahan setiap kemungkinan untuk melarikan diri, maka keterbukaan sayap sebelah itu akan memungkinkan orang-orang yang terkurung itu menerobos dan hilang didalam hutan yang lebat.

Prastawa termangu-mangu. Namun katanya, ”Tetapi perintah dari Mataram telah kita dengar bersama.”

“Mataram tentu tidak memperhitungkan peristiwa yang telah terjadi, sehingga pasukan ini telah tertahan.”

“Tidak. Tidak ada seorangpun yang akan sempat menerobos.” geram Prastawa.

“Tetapi induk pasukan ini jangan maju terlebih dahulu. Mungkin sebagian dari sayap yang lain dan sebagian dari induk pasukan ini. Namun kita masih harus tetap menutup kemungkinan merembesnya lawan digelar yang panjang ini.

Prastawa berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan meninggalkan sebagian dari induk pasukan dan pasukan disayap yang lain agar mereka dapat mengawasi keadaan. Yang lain harus segera memasuki medan dari arah belakang, karena dengan demikian akan mengurangi beban pada pasukan Mataram dan Sangkal Putung.”

“Tetapi berhati-hatilah. Mungkin lawan akan membuat gelar yang tidak dapat dimengerti. Mereka dapat saja mengerahkan sebagian besar kekuatannya justru untuk menghancurkan pasukan kecil ini, sementara yang lain hanya sekedar menahan pasukan Mataram dan Sangkal Putung saja.”

“Aku sudah memperhitungkan. Jika demikian, aku harus bergerak mundur. Dan pasukan yang tinggal ini harus bersiap-siap memberikan dukungan kepada pasukan kecilku.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Prastawa. Dan iapun menganggap bahwa anak muda itu dapat berpikir cepat dan cermat, meskipun masih terlalu didorong oleh perasaannya.

Dengan demikian maka Prastawa telah membawa sebagian dari pasukannya dan memerintahkan sebagian dari sayap yang tidak sedang mengalami gangguan itu untuk tetap maju memberian tekanan betapapun kecilnya dari arah Barat. Dengan demikian, maka perhatian pasukan yang ada dilembah itu akan terbagi, meskipun Prastawa mengetahui bahaya yang mungkin justru akan mengarah kepada pasukannya.

Tetapi medan yang penuh dengan pepohonan itu agaknya memberikan keuntungan padanya jika pasukannya mengalami tekanan yang tidak tertahankan. Pasukannya akan mundur dan bersandar pada kekuatan yang ditinggalkannya.

Diengan hati-hati maka sebagian dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu telah maju mendekaki arena pertempuran. Mereka menemukan bagian dari barak yang kosong, karena Ki Gede Telengan telah meninggalkan barak itu dan bertempur melawan sayap pasukan Ki Gede Menoreh yang disertai dengan Agung Sedayu dan kemudian disusul oleh Ki Gede Menoreh sendiri.

Ki Waskita yang ada disayap yang lain mendapat beberapa keterangan dari seorang penghubung tentang niat Prastawa untuk hadir dimedan. Agaknya Ki Waskitapun tidak berkeberatan atas rencana itu, sehingga iapun kemudian ikut serta maju bersama sebagian dari pasukan yang ada disayap itu

… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …

disekitarnya. Tetapi persoalan pusaka itu benar-benar telah mencengkam jantungnya.

Tiba-tiba saja tangannya telah menyambar baju orang itu. Sambil mengguncangkannya ia bertanya, “Apakah Ki Gede Telengan tidak berhasil mempertahankannya? Apakah kau dapat menyebut, siapa vang telah mengambil pusaka itu? Ki Gede Menoreh? Atau siapa?”

Orang itu menjadi semakin pucat. Nafasnya yang mulai teratur telah menyesak lagi didadanya.

“Bukan, bukan orang lain yang mengambilnya.”

“Jadi siapa? He, berkatalah dengan jelas.“ Ki Tumenggung Wanakerti berteriak. Tetapi suaranya bagaikan lenyap dalam riuhnya suara pertempuran.

“Ki Gede Telengan sendiri.”

“Ki Gede Telengan. He. apakah kau sudah gila?”

“Benar Ki Tumenggung. Ki Gede Telengan telah melarikan pusaka itu. Beberapa orang telah mencoba mencegahnya. Tetapi mereka telah terbunuh. Mungkin hanya aku atau barangkali satu dua orang lain yang berhasil lolos dari maut.”

“Gila. Apak kau berkata sebenarnya? Apakah kau memang sudah gila, sehingga kau tidak tahu apa yang kau lihat dan tidak sadar, apa yang kau katakan?”

“Aku sadar sepenuhnya Ki Tumenggung. Aku melihat Ki Gede Telengan memerintahkan pengikutnya membawa pusaka-pusaka itu ke arah Barat.”

“Gila. Benar-benar gila.”

“Meskipun di sebelah Barat ada pasukan yang diduga adalah pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang berpihak pada Mataram, namun Ki Gede Telengan tentu sudah mempunyai perhitungan tersendiri.”

Wajah Ki Tumenggung menjadi merah padam. Dadanya bagaikan retak oleh kemarahan yang tidak tertahankan.

Sejenak Ki Tumenggung berdiri dengan tubuh gemetar. Ia sedang dibingungkan oleh keadaan. Ia tidak akan dapat membiarkan pusaka-pusaka itu hilang begitu saja dibawa oleh Ki Gede Telengan. Tetapi ia juga tidak akan dapat begitu saja meninggalkan medan yang menjadi tanggung jawabnya. Apalagi orang-orang terpenting dari pasukannya berada disayap sebelah menyebelah. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat langsung berbincang dengan mereka.

Dalam pada itu, pertempuran bagaikan membakar seluruh lembah. Sementara itu, pasukan Ki Tumenggung Wanakerti masih tetap berhasil menekan lawannya, sehingga medanpun masih tetap bergeser meski pun lambat sekali.

Kemenangan-kemenangan kecil itulah yang ikut memberikan keputusan pada Ki Tumenggung Wanakerti, iapun kemudian memberikan wewenang kepada seorang Senopati prajurit Paiang yang ada didalam pasukannya untuk sementara memegang pimpinan.

“Kita akan memenangkan pertempuran ini dalam waktu yang tidak terlalu lama. Aku mempunyai tugas yang lebih penting, dan yang masih belum jelas keadaannya,“ berkata Ki Tumenggung Wanakerti.

Senopati itu termangu-mangu sejenak. Ia merasa agak segan untuk menerima pimpinan itu, karena didalam pasukannya terdapat orang-orang seperti Empu Pinang Aring, Kiai Kalasa Sawit, Samparsada, Jagaraga dan pengikut-pengikutnya yang memiliki cara tersendiri untuk mematuhi perintah Panglimanya.

Tetapi ia sependapat dengan Ki Tumenggung Wanakerti, bahwa pertempuran itu agaknya tidak akan berlangsung terlalu lama lagi. Iapun yakin bahwa pasukan Mataram akan segera dapat didesak dan dihancurkan, meskipun ternyata ia tidak dapat menutup penglihatannya atas suatu kenyataan hadirnya seorang anak muda bertubuh gemuk bersenjata cambuk, seorang perempuan bersenjata rangkap dan seorang lagi bersenjata tongkat baja putih dengan kepala tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan.

… … … … …… … … … …… … … … …… … … … …… … … … …… … … … ……

Karena itulah, maka Ki Gede Telengan mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertempuran yang berkepanjangan itu. Betapapun ia berusaha mempergunakan segenap kemampuannya dalam oleh kanuragan ternyata bahwa ia tidak berhasil mengalahkan Agung Sedayu yang dapat bergerak selincah burung sikatan dan memiliki tenaga sebesar tenaganya sendiri.

“Aku harus mengajarinya tunduk kepada perintahku,“ berkata Ki Gede Telengan kepada diri sendiri.

Iapun kemudian memberikan isyarat kepada pengawalnya yang khusus membawa kedua pusaka itu untuk agak menjauh dan mengamati pusaka-pusaka itu dengan saksama. Ki Gede Telengan sendiri akan mengatur diri dan menyelesaikan pertempuran yang baginya sudah terlalu lama berlangsung itu.

Agung Sedayu yang melihat sikap dan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Ki Gede Telengan menjadi bertambah tegang. Ia dapat menangkap isyarat itu, bahwa Ki Gede Telengan akan sampai kepada ilmunya yang terakhir.

Sejenak kemudian. Agung Sedayu yang berusaha menekan Ki Gede itu dengan serangan-serangan yang semakin cepat, melihat Ki Gede Telengan justru meloncat menjauhinya. Ketika Agung Sedayu berusaha memburunya, ternyata tiga buah pisau belati telah menyambarnya.

Agung Sedayu terpaksa berloncatan menghindari serangan itu. Namun agaknya saat-saat itulah Ki Gede Telengan telah menentukan serangannya yang terakhir. Serangan yang tidak mempergunakan kekuatan wadagnya.

 

***

Oleh Ki Sugita dan Ki Sarip Tambak Oso
Belum di proofing oleh Ki GD.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:19  Comments (86)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-7/trackback/

RSS feed for comments on this post.

86 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ki GD, saya lagi jalan-jalan di Malioboro sambil nyeruput kitab-107..
    Tengkiu sanget..he..he..

  2. matur nuwun Ki GD,

    bener2 tambah lihay aji2 Ki GD ini, bagai Sedayu yang sudah memper sama gurunya dalam menggenapi ilmu cambuknya, sampaipun swandaru menyalah artikan kediaman dan andap asornya sedayu.

    terpaksa, ngerogoh sukma harus dikeluarken untuk dapat menyelami ilmu Ki GD di pedalaman mentaok sana.

    kitab wingkingipun peta sampun kulo pendhet Ki GD.

  3. Matur nuwun Ki GD, atas petanya

  4. Weh ndhelik neng kono tibane…..
    Matur nuwun Ki GD

  5. Saya malah dapetnya di gunung Merapi

  6. Peta yang di maksud Ki GD apa yang digunakan untuk panduan “Wisata ABDM” ya…

    Mungkin Ki GD takut nanti cantriknya kesasar …. jadi dibekali peta.

  7. Berbekal peta yang diberikan Ki GD, akhirnya sampailah daku ke Laut Selatan.

    Dengan meminta ijin pada yang menjaga disana, berhasillah kudapatkan rontal pusaka tersebut.

    Pulanglah daku dengan riang hati, ingin segera meyakinkan isi rontal pusaka.

    Terimakasih Ki GD

  8. Matur suwun Ki GD, lontar mpun kulo pendhet, berbekal peta pusaka yang diwariskan Ki GD

  9. kapan rilis ?

  10. Untung kitab jilid 107 ditaruh Ki GeDe di Malioboro, jadi dengan bekal peta dari Ki GeDe jadi mudah mendapatkannya.
    Matur suwun Ki GeDe.

  11. Matur nuwun sanget Ki GD …. dalan2 nang Mataram (Yogya) pancen oye …

  12. maaf Ki Gede ada laporan, menurut telik sandi file djvu 107 halaman nya kurang, dari halaman 1 – 7 tidak ada, apa para cantrik yang lain ada yang mencuri, wah pencopetnya kembali lagi, cuman gak semua yang berhasil dibawa, ato para cantrik yang lain ada yang tau solusinya.

  13. kitab ii-7 hal 1-7 akan disusulkan di kitab ii-9…SEGERA …

  14. pakai speedy maknyosssss
    makasih ki GD

  15. baguslah kalo memang hal 1-7 nya mau di susulkan,

  16. Sedulur aku kelangan lacak 107 piye iki jan lagi dedel tenan. Nuwun

  17. sampun sampun kepanggih matur nuwun

  18. ampun DJ……
    108 & 109 dalam genggaman 107 malah kehilangan
    ada yang bisa kasih bantuan???
    plis dong ahh…

  19. Maaf ki Gede, rasa rasanya lontar nomor seratus tujuh, ada satu halaman yang tercecer yaitu halaman 7…
    bagaimanakah gerangan cara mendapatkannya?

    Apakah harus mengikuti pendadaran ulang secara teori dan praktek untuk mendapatkan sertifikat lontar 107 halaman 7?

  20. Kalo mau gak kesasar memang harus bertanya kepada siapa? (kata Dora) : “aku peta, aku peta, aku peta aku peta ……… yuhu”

    matur nuwun

  21. Wah, jika melihat ilustrasi lontar 107 halaman 63 yang menggambarkan Agung Sedayu melenting tinggi, se akan akan melihat Film MATRIX.

    Jangan jangan gerakan Keanu Reeves dalam film Matrix (1999) buatan Wachowski bersaudara, menyontek Api di Bukit Menoreh…..

  22. Maaf Ki Gede, ternyata dari prajurit penghubung terdapat laporan bahwa lontar 107 halaman 73 -74 disembunyikan Ki Gede Telengan sehingga lontar 107 kurang lengkap halamannya….

    Jangan jangan halaman 73 -74 dipakai untuk membungkus pusaka….

  23. Laporan susulan dari prajurit penghubung sebelah barat, halaman 78 dan 79 ternyata juga digembol Ki Kalasa Sawit…

    Maaf nih mungkin cantrik yang lain sudah menyelesaikan materi teori dan praktek lontar lontar yang lebi advance… cantrik J3b3ng baru menyelesaikan lontar 107 meskipun ceriteranya meloncat loncat tetapi bisa diikuti dengan mata wadag….

  24. @Ki Joko Brondong

    sebelum dapat clue dari njenengan saya udah search “peta” sana sini tapi kok ya ra nemu2 perasaan dulu sempat mbaca tapi dimana ya? maklum lagi cupet pikire
    bisa diperjelas ki jalan masuk ke petanya…

  25. akhirnya dengan susah payah dan dg bantuan tombak kesayangan ini ketemu jg kitab 107..
    ternyata jauh2 mencari susah payah mikir cuma lompat 2 pagar

    nuwun

  26. Ki Gede pernahjanji kitab ini akan ditukar dengan rontal yg baru…soalnya banyak halaman yg hilang…
    kok belum dituker2 ya ?

  27. Jadi 107 ini masih mbetet…koyo Kho Ping Ho…ibarate pendekar compang-camping…Bu Kek Siansu…halamane dedel duwel…

    Ki gede yg baek…
    kalau 107 dah direvisi..matur nuwun yo..kalau belum..
    ya tetep maturnuwun..

  28. 107 ?

  29. revisi 107 belum ada yah??? serasa ada yang hilang di hati gitu loh….

    ditunggu revisinya. matur tengkyu

  30. ada yang bisa bantu nich buat nyari kitab 107 ato petanya.
    Tks.

    # dah dicoba pake menu “Search” mas ?

  31. Mas udah pake menu Search masih gak ketemu, kenapa ya ?
    Tks.

  32. Ki Gedhe, maklum orang udik mau nanya gimana cara downloadnya

  33. Poro sesepuh, nyuwun pitulungan, kulo tiang enggal. Dimana 107 berada??? Kalo yang dimangsud gambar peta bukanya itu gambar yang ngelink ke halman lain????
    Tapi ….dimana 107 nya? hik…hik

  34. @dodolibert
    Kitab di umpetno di Halaman lain, terus mlebu ae nang WISATA ADBM…nah di tempat wisata itu ada kamar2…kamar 1 buat pengumuman, kamar 2 buat nyimpen Peta…, Katab 107 nempel di Peta itu..
    Monggo di cari, semoga ketemu..

  35. Retype 107 (part 1)

    jurit prajurit Pajang yang berpengalaman
    Perintah itupun segera menjalar kepada setiap pemimpin kelompok dan prajurit, mcskipun mereka tidak mengetahui alasannya dengan pasti. Namun perintah itupun disusul oleh perintah Swandaru kepada pasukannya, bahwa mereka tidak hanya sekedar menunggu di mulut lembah. Mereka akan mengikuti gerak pasukan Mataram Jika benar-benar diperlukan, maka mereka akan langsung terlibat dalam pertempuran.
    ……

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.

  36. Retype 107 (Part 2 ) selesai

    Tetapi kawannya tiba-tiba membentak, “Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan. Tidak sekedar berbicara tentang Ki Gede Telengan itu.”
    Para pengawas itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya menuju kebarak tempat penyimpanan pusaka. Tidak ada pilihan lain daripada melaporkan kepada Ki Gede Telengan bahwa pasukan yang diduga dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati barak.
    ………………

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: