Buku II-7

Kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa yang mengatakannya?”

“Aku adalah salah seorang pengawalnya. Aku mengetahui apa yang pernah dilakukan dimedan yang beraneka ragam. Dan Ki Gede Telengan benar-benar tidak dapat disentuh oleh maut karena ilmunya yang tidak ada duanya. Selama kakinya atau bagian-bagian tubuhnya masih tersentuh tanah.”

“Pancasona,“ desis kawannya.

Yang lain mengangguk sambil berdesis, “Begitulah.”

Tetapi kawannya tiba tiba membentak, “Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan. Tidak sekedar berbicara tentang K i Gede Telengan itu.”

Para pengawas itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya menuju kebarak tempat penyimpanan pusaka. Tidak ada pilihan lain daripada melaporkan kepada Ki Gede Telengan bahwa pasukan yang diduga dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati barak.

Tetapi para pengawas itu menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka tidak melihat seorangpun yang berjaga-jaga didepan barak khusus tempat penyimpanan pusaka itu. Namun justru karena itu, maka merekapun kemudian berlari memasuki pintu barak yang sudah terbuka.

“Ki Gede,“ pengawas itu tidak sabar.

Tetapi tidak ada jawaban apapun. Bahkan tidak seorangpun yang mereka jumpai didalam barak itu.

“Ki Gede,” pengawas-pengawas itu berlari-lari mengelilingi barak itu. Namun mereka tidak menjumpai seorangpun.

“Kita lihat kedalam bilik tempat penyimpanan pusaka itu. Mungkin mereka berkumpul didalam bilik itu.” desis yang seorang.

“Mana mungkin. Bilik itu terlalu sempit untuk bersembunyi sekelompok pengawal pusaka itu.”

Kedua pengawas itu menjadi ragu-ragu. Namun perlahan-lahan mereka mencoba mendorong pintu bilik tempat penyimpanan pusaka itu.

Ketika pintu itu terbuka, maka kedua pengawas itu telah terkejut. Yang mereka lihat adalah sebuah ruangan yang kosong. Pusaka-pusaka yang mereka simpan didalam barak itu untuk waktu yang cukup lama, kini telah lenyap, seperti lenyapnya asap ditiup angin.

“Dimana pusaka-pusaka itu,” desis yang seorang. “Hilang. Atau Ki Gede telah membawanya menyusul induk pasukan ?”

Para pengawas itu termangu-mangu. Namun ketika mereka memasuki bilik itu, darah mereka serasa terhenti mengalir. Disudut bilik, disisi amben mereka melihat dua sosok mayat yang tergolek saling menindih.

“Mayat,“ desis seorang dari pengawas itu.

Yang lain tidak menjawab. Dengan sekali loncat ia meraih mayat itu dan membalikkan wajahnya yang tersembunyi.

“Sura,“ desisnya, “ia adalah salah seorang pengawal pusaka ini.”

Yang lain menjadi tegang. Ketika yang seorang itu dibalikkannya pula, maka keduanya menjadi yakin, bahwa kedua orang pengawal pusaka itu telah terbunuh.

“Siapa yang telah membunuhnya? “ geram yang seorang.

Yang seorang memandang kawannya dengan sorot mata yang membara. Katanya, “Kau tentu mengetahuinya. Lihat, kedua orang pengawal ini bukan termasuk orang-orang Ki Gede Telengan.”

“Apa maksudmu?”

Pengawal yang seorang menjadi tegang. Namun demikian iapun dengan tergesa-gesa keluar dari bilik itu diikuti oleh yang seorang lagi langsung pergi kebelakang. Dengan sekali hentak, sebuah pintu dari sebuah bilik dibagian belakang barak itupun telah terbuka.

“Lihat,“ ia hampir berteriak, “dua sosok mayat lagi.”

Ketika mereka memperhatikan kedua mayat itu, maka ternyata keduanyapun telah terbunuh dengan luka didada.

Sekali lagi salah seorang pengawas itu menggeram, “Keduanya juga bukan anak buah Ki Gede Telengan.”

“Jadi apakah yang terjadi menurut dugaaumu?”

“Ki Gede Telengan telah melarikan pusaka itu dan membunuh para pengawal yang bukan anak buahnya. Mungkin para pengawal itu mencoba menghalanginya.” suaranya gemetar menahan marah, “ he. kau adalah anak buah Ki Gede Telengan. Tetapi aku bukan. Apa yang akan kaulakukan?”

Kawannya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku memang anak buahnya. Tetapi aku sudah ditinggalkannya jika dugaanmu benar.”

“Kau akan membunuh aku juga, atau aku harus membunuhmu?”

“Tidak ada gunanya. Aku telah terpisah daripadanya. Sebaiknya kita mencoba meyakinkan dugaan itu, kemudian melaporkan kepada Ki Tumenggung Wanakerti.”

Kedua orang itu dengan tergesa-gesa menyusuri dinding bagian belakang dari halaman sempit dibelakang barak itu. Ternyata mereka menemukan dua sosok mayat lagi, dan beberapa langkah dari kedua sosok mayat itu, sesosok yang lain terbujur pula disudut.

“Ki Prancak,“ desis salah seorang pengawas itu. ”sekarang aku yakin. Ki Gede Telenganlah yang telah melakukannya. Dan ia telah melarikan pusaka itu bagi kepentingan dirinya sendiri. Sekarang terserah kepadamu. Aku akan melaporkan pengkhianatan ini.”

“Aku tidak akan menentang. Aku sudah tidak berinduk lagi sekarang, sehingga aku menyerahkan persoalannya kepadamu.”

“Baiklah. Marilah, kita akan menyusul kemedan. Mudah-mudahan kita tidak terlalu terlambat.”

Keduanyapun kemudian dengan tergesa-gesa berlari-lari kemedan disebelah Timur dari lembah itu. Ternyata seorang diantara mereka telah berkhianat, justru dalam keadaan yang gawat.

Dalam pada itu, sebenarnyalah Ki Gede Telengan telah meninggalkan barak penyimpanan pusaka bersama pengikut-pengikutnya yang mengawal pusaka itu. Beberapa orang diantara para pengawal yang bukan pengikutnya telah dibinasakannya. Beberapa orang diantara mereka telah dibunuh didalam barak itu.Yang lain diluar barak dan bahkan disepanjang jalan kecil didalam hutan, setelah orang-orang itu dipaksa ikut beberapa puluh langkah.

Namun Ki Gede Telengan tidak mau selalu terganggu oleh orang-orang yang tidak diketahui kesetiaannya kepadanya. Itulah sebabnya, akhirnya semuanya telah dibunuhnya tanpa ampun.

Beberapa orang pengikut Ki Gede Telengan sendiri yang berada di medan sama sekali tidak dihitungkannya. Ki Gede Telengan sadar, bahwa mereka akan dapat menjadi sasaran balas dendam. Tetapi ia tidak peduli. Baginya orang-orang itu tidak akan banyak berarti untuk seterusnya. Yang penting baginya kedua pusaka itu sudah dimilikinya.

“Pasukan ini harus disembunyikan dahulu.“ katanya kepada seorang kepercayaannya, “kitapun harus bersembunyi sambil mempersiapkan diri. Semua kekuatan yang yakin akan mendukung kita, diam-diam akan kita hubungi.”

Kepercayaannya itu mengangguk-angguk. Nampaknya kesempatan untuk melarikan pusaka itu tidak akan terulang lagi dikesempatan lain.

“Kita akan menjauhi barak itu. Kemudian dekat dimulut lembah, kita akan memanjat naik menghindari orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh yang menurut para pengawas berada dimulut lembah itu. Aku kira mereka tidak menebar sampai lambung gunung. Baik Gunung Merapi maupun Gunung Merbabu, karena dengan demikian mereka memerlukan gelar pasukan yang panjang.”

Pengikut-pengikutnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun merekapun berpengharapan. Jika Ki Gede Telengan kelak berhasil mamanfaatkan pusaka-pusaka itu untuk menyerap wahyu keraton, maka akan datang saatnya bagi mereka untuk menikmati kemukten.”

Tetapi ternyata ada satu hal yang tidak diketahui oleh Ki Gede Telengan. Ia tidak menyadari bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah jauh maju dari tempatnya. Bahkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh sudah berada dihadapan hidungnya.

Ki Gede Telengan yang melarikan pusaka itu berjalan tidak dijalur kecil yang memang menjadi jalan induk di lembah itu. Untuk menghindari segala kemungkinan, ia berjalan agak menepi, sehingga justru karena itu, ia tidak terantuk pada induk pasukan, tetapi pada sayapnya.

Seorang pengawas yang mendahulu pasukan Tanah Perdikan Menoreh melihat iring-iringan yang dipimpin oleh Ki Gede Telengan itu. Dengan tergesa-gesa ia melaporkan kepada pemimpin sayap gelar pasukannya, yang kebetulan didampingi oleh Agung Sedayu.

“Sepasukan kecil berada dihadapan kita,” berkata pengawas itu.

“Siapa yang berada dipimpinannya?”

“Kami tidak mengetahuinya, tetapi mereka agaknya membawa pusaka yang sangat mereka hormati.”

Agung Sedayu yang mendengar laporan itu terkejut. Dengan dada yang berdebar-debar ia bertanya, “Kau lihat pusaka-pusaka itu?”

“Ya. Aku melihatnya. Mereka berada beberapa langkah saja dihadapan kita.”

“Siapkan seluruh pasukan didalam sayap ini,“ berkata pemimpin sayap gelar itu kepada seorang pengawal yang membantunya didalam setiap gerakan.

Pengawal itupun kemudian membunyikan isyarat. Sebuah kentungan kecil dengan irama lima ganda berturut-turut beberapa kali.

Suara kentongan itu terdengar tidak saja didalam lingkungan sayapnya, tetapi terdengar sampai keinduk pasukannya.

Agung Sedayu yang berada disayap itupun segera mempersiapkan diri pula. Jika benar yang nampak oleh pengawas itu pusaka-pusaka yang sedang dicari oleh Mataram, maka yang mengawal pusaka itu tentu bukannya orang kebanyakan.

Ki Gede Menoreh diinduk pasukan yang mendengar isyarat di bagian sayap gelarnya itupun segera mengirimkan penghubung unuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Sementara pimpinan sayap gelar itu sibuk memberikan keterangan kepada penghubung yang datang dengan tergesa-gesa, Agung Sedayu beserta beberapa orang pengawal telah maju leibh jauh. Menurut perhitungan Agung Sedayu, isyarat itu dapat menghentikan kelompok yang ada dihadapannya, dan bahkan mungkin mereka akan mencari jalan lain.

Tetapi Ki Gede Telengan tidak sempat melakukannya. Ia memang mendengar isyarat itu. Sejenak ia berhenti bersama pasukannya.

“Isyarat itu tentu dari seorang pengawas pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang melihat gerakan pasukan kita,” berkata Ki Gede Telengan.

“Tetapi isyarat itu terdengar dekat sekali.”

“Mereka hanya terdiri dari dua atau tiga orang pengawas. Namun mungkin sekali, isyarat itu mengundang pasukan yang lebih besar, atau sekedar memberitahukan agar mereka bersiap ditempatnya.“

“Kita berbelok,“ berkata salah seorang pengikut Ki Gede Telengan.

“Kita akan maju beberapa langkah. Mungkin kita menemukan pengawas itu atau sekelompok kecil. Kita akan mendapat gambaran yang jelas dimana orang-orang Tanah Perdikan Menoreh bertahan.”

“Jadi?”

“Tiga orang dari antara kita akan melingkar dan menyergap pengawas itu. Tetapi jika dihadapan kita terdapat pasukan yang kuat, maka pengawas itu harus memberikan isyarat, agar kita dapat mencari jalan lain.”

Namun mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa isyarat itu telah dibunyikan didalam gerakan pasukan di sayap gelar itu sendiri, sehingga mereka tidak menyadari, bahwa Agung Sedayu telah berada beberapa langkah saja dihadapan mereka, diantara pepohonan didalam hutan yang cukup lebat.

Agung Sedayu yang merapat maju diantara pepohonan pun akhirnya dapat melihat pasukan dihadapannya. Itulah sebabnya, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi.

KI GEDE Telengan terkejut melihat kehadiran Agung Sedayu dengan sepasukan pengawal dari tanah perdikan Menoreh yang merupakan sayap dari gelar seluruh pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Tiga orang pengawas yang dikirim oleh Ki Gede Telengan masih belum hilang dari tatapan matanya, sehingga ketiganyapun segera melangkah kembali.

Agung Sedayu melihat kelompok yang terkejut itu. Diantara mereka memang terdapat dua buah pusaka yang berkerudung kain putih. Menurut pengamatan sekilas Agung Sedayu, kedua pusaka itu tentu sebatang tombak dan sebuah songsong.

Karena itu, maka dengan serta merta Agung Sedayupun kemudian meloncat kehadapan orang yang dianggapnya menjadi pemimpin kelompok itu sambil berkata, ”Berhentilah sebentar Ki Sanak.”

Ki Gede Telengan menjadi berdebar-debar. Tetapi yang nampak dihadapannya adalah sekelompok kecil saja pengawal-pengawal anak muda yang menghentikannya.

“Siapa kau,” geram Ki Gede Telengan.

“Aku Agung Sedayu,” jawab anak muda itu. “aku ingin mengetahui kemanakah pusaka-pusaka itu akan kau bawa.”

Dada Ki Gede Telengan menjadi berdebar-debar. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Pusaka yang mana ?”

Agung Sedayu yang sebenarnya masih meragukan kedua pusaka itu berusaha untuk langsung mempengaruhi sikap Ki Gede Telengan. Karena itu jawabnya tegas, seolah-olah ia memang sudah mengetahuinya, “Kedua pusaka yang kau bawa itu. Kangjeng Kiai Pleret dan Kangjeng Kiai Mendung.”

Ternata jawaban itu benar-benar telah menyentuh-hati Ki Gede Telengan. Ia menganggap bahwa Agung Sedayu telah benar-benar mengetahuinya, sehingga karena itu, tidak dapat ingkar. Jawabannya, ”Ya. Aku memang membawa kedua pusaka itu. Aku akan membawanya ketempatku yang tidak seorangpun mengetahuinya.”

“Siapa kau sebenarnya ?” bertanya Agung Sedayu.

“Orang menyebutnya Ki Gede Telengan. Tetapi itu tidak penting bagimu. Pergilah. Aku masih mempunyai belas kasihan kepadamu, karena barangkali kau tidak akan menggangguku. Dan aku yakin, kau bingung dan gelisah.”

“Kau tentu tidak akan dapat mengabaikan aku dan menyuruh aku pergi begitu saja. Aku sudah tahu bahwa kau membawa pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram, dan aku sebenarnya memang sedang mencari pusaka-pusaka itu.”

“Gila,” Ki Gede Telengan menggeram, “jangan menggigau. Pergi atau aku akan membunuhmu.”

“Pikirkan baik-baik Ki Gede Telengan. Jika aku pergi maka jejakmu sudah aku ketahui. Bahkan dengan demikian aku akan sempat melaporkan kepada Senopati Ing Ngalaga di Mataram tentang kedua pusaka itu.”

“Persetan,” geram Ki Gede Telengan, ”memang kau harus dibunuh.”

Agung Sedayu melihat sorot mata yang gelisah tetapi penuh dengan nafsu untuk menyebarkan maut. Karena itu, Agung Sedayu selalu berwaspada menghadapi segala kemungkinan yang akan segera melibatnya. Apalagi menilik sikap dan geraknya. Ki Gede Telengan benar-benar bukan orang bebanyakan.

Ki Gede Telengan kemudian menyadari bahwa orang-orang yang berada di hadapannya tentu sebagian dari orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, yang dengan sengaja telah menyumbat mulut lembah dibagian Barat. Itulah sebabnya maka ia tidak akan banyak berbicara lagi.

Sejenak Ki Gede Telengan memandang para pengawalnya pilihan yang dianggapnya memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Apalagi ketika ia melihat jumlah pengawal yang datang bersama Agung Sedayu, maka katanya, ”Bersiaplah untuk mati. Aku akan menumpas kau dan orang-orangmu yang tidak tahu diri. Dihadapanmu adalah Ki Gede Telengan yang mampu memecahkan punggung lawannya dengan tangannya.”

“Ki Gede Telengan,” sahut Agung Sedayu, ”kenapa kau tidak bersikap lebih baik dan menyerahkan saja pusaka itu kepadaku. Aku tidak sendiri. Aku membawa pasukan segelar sepapan.”

“Aku tahu. Kau tentu anak Tanah Perdikan Menoreh yang dikabarkan telah menyumbat mulut lembah. Tetapi jika kau masih belum mampu menggenggam guruh dan prahara ditanganmu, jangan mencoba menangkap aku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika ia melihat Ki Gede Telengan bergeser setapak maju, maka iapur bergeser pula kesamping sambil mempersiapkan dirinya.

Dengan isyarat Ki Gede Telenganpun memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk maju mendekat. Mereka telah menggenggam senjata ditangan mereka.

“Bunuh mereka semuanya,” perintah Ki Gede Telengan.

“Kau akan menyesal Ki Gede,” suara Agung Sedayu lantang, ”kita akan bertempur dengan segenap pasukan yang ada.”

Sesaat kemudian, seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, pemimpin sayap yang telah selesai memberikan keterangan kepada penghubung yang datang dari induk pasukar itupun telah tiba dengan pasukannya, meskipun pemimpin sayap gelar itu tidak menghirup semua kekuatan. Ia masih tetap membagi orang-orangnya sehingga pengawasan di sekitarnya tetap dapat dilakukan.

Kehadiran mereka sama sekali tidak mempengaruhi sikap Ki Gede Telengan. Sejenak kemudian, pengawal-pengawal-nyapun segera berlari-lari menyerang diantara pepohonan hutan.

“Hati-hatilah,” teriak Agung Sedayu terhadap orang-orang yang baru datang, ”mereka mulai menyerang.”

Permimpin sayap gelar pasukan Tanah Perdikan Menoreh itupun segera bersiap melawan orang-orang yang menyerangnya. Demikian pula para pengawal yang lain. Mereka pun segera menyebar diantara pepohonan dengan senjata ditangan.

Teryata bahwa pasukan yang mengawal pusaka-pusaka yang akan dilarikan itu benar-benar orang-orang yang bukan saja memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan apapun selain membunuh. Itulah sebabnya, maka merekapun segera bertempur dengan kasar dan bahkan seperti binatang buas yang kelaparan.

Agung Sedayu pemimpin sayap itu dan juga para pengawal Daerah Perdikan Menoreh yang lain terkejut melihat sikap orang-orang itu. Meskipun sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah pernah mengalami pertempuran yang dahsyat, namun serangan yang kasar dan buas itu telah menggetarkan hatinya.

Namun Agung Sedayu tidak begitu mencemaskan pasukan pengawal Daerah Perdikan Menoreh, karena jumlahnya lebih banyak. Dengan suara lantang Agung Sedayu memikirkan keselamatan anak-anak muda yang baru mengalami pertempuran yang sebenarnya untuk yang pertama kali, dan langsung menjumpai lawan yang kuat dan liar, berkata, “Bertempurlah berpasangan. Jumlah kita jauh lebih banyak.”

“Pengecut yang licik,“ teriak Ki Gele Telengan, “jika kalian seorang jantan, ajarilah anak buahmu bertempur seorang melawan seorang.”

Agung Sedayu bergeser surut. Ki Gede Telengan telah menyerang dengan dahsyatnya. Namun Agung Sedayu masih sempat menjawab, “Kita berada dipeperangan. Bukan diperang tanding. Jika jumlah kita memang lebih banyak, kenapa kita harus mempersulit diri?”

“Pengecut, kau akan mampus lebih dahulu.“ Serangan Ki Gede Telenganpun kemudian datang membadai. Ternyata bahwa orang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Pada serangan-serangan pertama Ki Gede Telengan yang terlalu percaya akan kemampuan sendiri itu sama sekali tidak mempergunakan senjata. Tetapi ayunan tangannya telah menimbulkan desir angin yang dapat mendebarkan jantung. Apalagi tangkapan perasaan Agung Sedayu yang masak terhadap ilmu. seseorang, sehingga dengan demikian ia menyadari, bahwa lawannya bukannya orang yang dapat diabaikan.

Ki Gede Telengan menganggap bahwa lawannya tidak lebih dari anak muda Tanah Perdikan Menoreh itupun terkejut. Ketika ia melompat sambil mengayunkan sisi telapak tangannya pada tengkuk Agung Sedayu dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan tatapan mata wadag, maka Agung Sedayu masih sempat mengelak dengan kecepatan yang sama.

“Anak gila, kau dapat mengelakkan seranganku he,“ teriak Ki Gede Telengan.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi sangat berhati-hati. Desir angin yang ditimbulkan oleh ayunan tangan Ki Gede Telengan, merupakan peringatan yang sungguh-sungguh bagi Agung Sedayu.

Dalam pada itu, pertempuran di sayap itupun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Seperti yang diperingatkan oleh Agung Sedayu, maka para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah bertempur berpasangan. Hanya mereka yang sudah cukup berpengalaman dan memiliki kemampuan yang cukup berusaha untuk mempertahankan dirinya sendiri, karena mereka menganggap bahwa anak-anak muda yang baru itulah yang lebih memerlukan bantuan diantara mereka.

Sebenarnyalah anak-anak muda yang baru untuk pertama kali mengalami pertempuran yang sebenarnya, mula-mula menjadi bingung. Mereka tidak menyangka, bahwa seseorang akan dapat bertempur dengan cara yang kasar dan buas tanpa memperhatikan martabat mereka sebagai seseorang yang berilmu. Mereka bukan saja bertempur dengan senjata mereka, tetapi kadang-kadang mereka menggunakan apa saja yang ada disekitar mereka. Bahkan dalam kesulitan, seseorang dari mereka telah melontarkan segenggam debu kepada lawannya.

Berita tentang pertempuran yang terjadi disayap itupun telah diberitahukan oleh seorang penghubung kepada sayap yang lain. Ki Waskita yang berada disayap yang lain menjadi berdebar-debar. Meskipun ia sadar, bahwa Agung Sedayu telah memiliki ilmu yang hampir sempurna, serta luka-lukanya sama sekali sudah tidak berarti lagi, namun betapapun juga Agung Sedayu masih terlalu muda.

Namun ia tidak dapat meninggalkan tempatnya. Setiap saat sayap itupun akan dapat berjumpa dengan orang orang berilmu yang akan dapat mengacaukan gelar para pengawal Tanah Perdikan Menoreh jika orang-orang berilmu itu tidak menemukan lawan yang dapat mengikatnya dalam suatu pemusatan ilmu.

Di induk pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Ki Gede Menoreh pun menjadi gelisah. Tiba-tiba saja ia ingin melihat, apa yang telah terjadi sebenarnya atas pasukan di sayap gelarnya.

Karena itu, maka iapun kemudian berkata kepada Prastawa, “Pimpinlah induk pasukan ini. Jangan maju lagi sebelum aku datang dan memberikan perintah. Di sayap telah terjadi persoalan yang memerlukan perhitungan lebih jauh.”

“Paman akan pergi melihat pertempuran itu?”

“Ya. Mereka tentu berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, jika benar seperti yang dikatakan oleh penghubung itu, bahwa pusaka-pusaka yang hilang itu ada diantara mereka.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Paman, biarlah aku saja yang pergi. Memang mungkin kakang Agung Sedayu memerlukan bantuan.”

Ki Gede memandang wajah Prastawa yang sungguh-sungguh. Tetapi iapun kemudian menggeleng sambil menjawab, “Jangan Prastawa. Kau tetap berada di induk pasukan. Kau harus mengatur seluruh gelar. Jika terjadi keadaan yang memaksa, kau harus segera mengambil keputusan.

Prastawa nampak kecewa. Ada niatnya untuk membantu Agung Sedayu. Tetapi ada juga keinginannya untuk menunjukkan kepada Agung Sedayu. bahwa ilmunya telah berkembang dengan pesatnya. Ia ingin hadir diarena untuk melihat Agung Sedayu dalam kesulitan. Kemudian ia datang untuk menyelamatkannya.

Tetapi ternyata pamannya tidak mengijinkannya.

Dalam pada itu, Ki Gede Menorehpun kemudian bersama empat orang pengawalnya menyusup dibelakang garis pasukannya menuju ke sayap gelarnya yang telah terlibat dalam pertempuran itu. Ditangannya tergenggam sebuah tombak pendek. Sementara para pengawalnya membawa pedang dan perisai ditangannya.

Sementara itu, di bagian Timur dari lembah itupun telah terjadi pertempuran yang sengit pula. Pasukan Mataram telah terlibat dalam pertempuran yang sengit pula. Pasukan Mataram telah terlibat dalam pertempuran yang seru. Namun dengan demikian, segera terasa tekanan yang berat dari pasukan lawan yang jumlahnya lebih besar itu.

Di sayap, pasukan Mataram, Ki Lurah Branjangan dan Ki Dipajaya yang menjadi Senopati pengapit sebelah menyebelah, harus menghadapi kenyataan, bahwa lawan mereka benar-benar orang yang tidak dapat dicari bandingnya diantara para pengawal Mataram, sehingga karena itu, maka pengawal Mataram yang jumlahnya lebih sedikit itu masih harus bertempur dalam kelompok-kelompok kecil untuk melawan orang-orang seperti Empu Pinang Aring, Kiai Kalasa Sawit, Kiai Jagaraga dan Kiai Samparsada.

Tetapi untunglah, bahwa diantara pasukan Mataram itu terdapat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berada di sayap gelar itu pula sebelah menyebelah.

Pada saat-saat terakhir, dari permulaan perang yang sengit itu, maka Kiai Gringsing tidak dapat sekedar memperhatikan perkembangan keadaan saja. Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat orang yang menyebut dirinya bernama Empu Pinang Aring bertempur seperti seekor harimau lapar.

Ketika ia mendengar seseorang meneriakkan nama orang itu, barulah Kiai Gringsing tahu. bahwa orang yang garang itulah orang yang disebut Empu Pinang Aring. Nama yang pernah didengarnya dan pernah disebut-sebut pula oleh satu dua orang yang tertangkap saat segerombolan perampok berusaha menyamun iring-iringan pengantin Swandaru.

“Aku tidak dapat membiarkannya mengacaukan pertahanan orang-orang Mataram,“ berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Namun disayap kanan lawan itupun terdapat orang lain yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Dengan kerut merut dikening, Kiai Gringsing memperhatikan orang yang bertempur melawan sekelompok kecil pengawal Mataram yang dipimpin sendiri oleh Ki Lurah Branjangan, sementara sekelompok yang lain sedang berusaha menahan Empu Pinang Aring.

“Siapa orang itu,“ bertanya Kiai Gringsing didalam hatinya.

Tetapi ia tidak dapat sekedar bertanya-tanya. Ki Lurah Branjangan telah bertempar dengan sekuat tenaga dibantu oleh dua orang pengawal terpilih melawan seorang yang bertubuh raksasa. Karena ujud orang itu lebih menarik dari Empu Pinang Aring, maka Ki Lurah Branjangan telah mencoba menahannya.

Tetapi ternyata Empu Pinang Aring itupun merupakan hantu dimedan itu. Meskipun empat orang berusaha melawannya, tetapi keempat orang itu seakan-akan tidak berdaya menghadapinya. Mereka setiap kali harus berloncatan menjauh apabila Empu Pinang Aring mengayunkan senjatanya berputaran.

Bahkan sekali-sekali Empu Pinang masih sempat tertawa sambil berkata. “Marilah anak-anak. Kita bermain kejar-kejaran. Tetapi kita tidak sekedar bertaruh gandu atau kecik sawo. Taruhan kita sekarang adalah nyawa kita.”

Kata-kata Empu Pinang Aring itu memang dapat menggetarkan hati lawan-lawannya. Apalagi setelah mereka merasakan, betapa sambaran angin yang mengerikan mengikuti ayunan senjata orang yang oleh pengikutnya disebut Empu Pinang Aring.

Tetapi Empu Pinang Aring terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar jawaban disebelah, “Baiklah Empu. Aku pun ingin ikut serta dalam taruhan ini. Bukan kemiri, bukan pula gayam, tetapi taruhannya adalah umur kita masing masing.”

Empu Pinang Aring memandang orang yang sudah menjelang hari-hari tuanya itu. Beberapa langkah ia meloncat mundur menghindari lawan-lawannya. Dengan tajam ia menatap wajah Kiai Gringsing sambil bertanya, “Siapa kau?”

“Aku salah seorang dari pengawal Mataram,“ jawab Kiai Gringsing sambil berdiri menghadapi Empu Pinang Aring.

Empu Pinang Aring termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Baiklah. Bergabunglah dengan lawan-lawanku. Mungkin kau masih dapat membawa satu dua orang kawan lagi yang akan aku bantai bersama sama.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dari sorot matanya. Empu Pinang Aring memancarkan kepercayaan yang teguh kepada kemampuan diri sendiri, sehingga ia sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap Kiai Gringsing.

Tetapi Kiai Gringsingpun adalah orang yang memiliki beberapa kelebihan. Karena itu dengan tenang ia berkata kepada para pengawal Mataram yang termangu-mangu. “Tinggalkan aku. Jumlah kalian terlalu sedikit untuk melawan orang-orang yang bersembunyi dilembah ini. Biarlah Enpu Pinang Aring bermain-main bersamaku.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya. Yang satu ini tentu akan lain dari keempat orang yang telah mengeroyoknya. Karena itu Empu Pinang Aring mulai tertarik kepada lawannya yang tua ini.

“Siapa kau sebenarnya ?“ bertanya Empu Pinang Aring.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ia masih memberi isyarat kepada para pengawal Mataram untuk meninggalkannya dan bertempur dalam arena yang kemudian telah menjadi perang brubuh.

“Siapa? “ Empu Pinang Aring mengulanginya.

“Namaku tidak banyak disebut orang Empu. Tetapi orang memanggilku Kiai Gringsing.”

“Kiai Gringsing,“ Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Jadi kaukah orang bercambuk itu?”

“Empu sudah pernah mendengar namaku?”

Empu Pinang Aring memandang Kiai Gringsing dari ujung kakinya sampai keujung rambutnya. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku percaya bahwa orang inilah yang disebut orang bercambuk. Baiklah. Kau sudah berhasil mendapatkan lawan. Dan dengan demikian kau sudah mengurangi tekanan pada pasukan pengawal Mataram, karena kau seorang diri dapat mewakili empat orang lawanku.”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Dipandanginya medan yang semakin lama menjadi semakin seru. Namun terasa bahwa pasukan pengawal Mataram memang sudah terdesak.

“Kenapa Raden Sutawijaya masih belum memberikan isyarat kepada pasukan Sangkal Putung yang sudah siap,“ bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri.

Namun ternyata ia tidak menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian terdengar suara sangkakala menggema di lembah itu.

Swandaru yang berada dibelakang garis pertempuran menjadi gelisah ketika ia harus menunggu terlalu lama. Ia sadar, bahwa Raden Sutawijaya tentu ingin menjajagi kekuatan lawannya lebih dahulu dengan pasukannya.

Namun akhirnya suara sangkakala itu telah terdengar. Dengan demikian maka Swandarupun segera memberikan isyarat kepada pasukannya untuk segera bergerak.

Seperti keterangan yang telah diterimanya dari para penghubung, bahwa pasukan lawan cukup kuat, maka ia pun telah memberikan pesan-pesan terakhir kepada pasukannya. Kepada anak-anak muda yang sama sekali belum berpengalaman. Swandaru memberitahukan, bahwa mereka kini tidak sedang bermain-main. Kebetulan lawan mereka yang pertama adalah orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab, bukan saja terhadap sesama, tetapi juga kepada Sumber Hidup mereka.

“Berhati-hatilah. Mungkin kalian akan dikejutkan oleh peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak pernah kalian bayangkan. Tetapi inilah yang disebut pertempuran yang sebenarnya.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah oleh Swandaru tidak diletakkannya disayap gelarnya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia telah memasang kedua perempuan itu justru diinduk pasukan bersamanya. Agaknya ada semacam kecemasan bahwa kedua perempuan itu akan menghadapi kesulitan, jika keduanya terpisah daripadanya.

Sebenarnya Pandan Wangi dan Sekar Mirah sendiri menyatakan keinginannya untuk berada disayap sebelah menyebelah. Tetapi Swandaru menggeleng sambil berkata, ”Kalian bersamaku.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah tidak membantah. Kecuali hubungan pribadi diantara mereka, maka Swandaru adalah pimpinan pasukan Sangkal Putung yang berada di lembah itu.

Demikianlah, maka pasukan Sangkal Putung itu maju menyatu dengan garis pertempuran yang seru. Mereka langsung mengambil bagian diantara pasukan Mataram yang sudah terlebih dahulu terlibat dalam perang.

Kehadiran pasukan Sangkal Putung tidak mengejut kan pasukan yang berada dilembah itu. Sejak semula mereka menyadari, bahwa lawan mereka terdiri dari dua lapis.

Meskipun demikian, kehadiran pasukan Sangkal Putung yang cukup kuat itu langsung mempengaruhi keseimbangan. Namun demikian, jumlah pasukan yang berada dilembah itu masih cukup banyak untuk menekan kedua pasukan gabungan, karena jumlah mereka memang terlalu banyak.

Namun pasukan gabungan yang ada dilembah itu mulai merasa, bahwa pasukan Mataram dan pasukan Sangkal Putung bukannya pasukan-pasukan yang lemah. Apalagi diantara pasukan Mataram memang terdapat prajurit-prajurit Pajang.

Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin sengit. Pasukan dari lembah itu tidak lagi mendesak lawannya. Mereka mulai merasakan, bahwa lawan mereka adalah kekuatan yang justru semakin berkembang.

Tetapi di sayap kedua pasukan yang berbenturan itu, tekanan pasukan lawan masih terasa berat. Kiai Gringsing yang bertempur melawan Empu Pinang Aring, kadang-kadang masih berdebar-debar melihat seorang yang bertubuh raksasa yang mengamuk bagaikan angin prahara diantara batang-batang ilalang.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:19  Comments (86)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-7/trackback/

RSS feed for comments on this post.

86 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ki GD, saya lagi jalan-jalan di Malioboro sambil nyeruput kitab-107..
    Tengkiu sanget..he..he..

  2. matur nuwun Ki GD,

    bener2 tambah lihay aji2 Ki GD ini, bagai Sedayu yang sudah memper sama gurunya dalam menggenapi ilmu cambuknya, sampaipun swandaru menyalah artikan kediaman dan andap asornya sedayu.

    terpaksa, ngerogoh sukma harus dikeluarken untuk dapat menyelami ilmu Ki GD di pedalaman mentaok sana.

    kitab wingkingipun peta sampun kulo pendhet Ki GD.

  3. Matur nuwun Ki GD, atas petanya

  4. Weh ndhelik neng kono tibane…..
    Matur nuwun Ki GD

  5. Saya malah dapetnya di gunung Merapi

  6. Peta yang di maksud Ki GD apa yang digunakan untuk panduan “Wisata ABDM” ya…

    Mungkin Ki GD takut nanti cantriknya kesasar …. jadi dibekali peta.

  7. Berbekal peta yang diberikan Ki GD, akhirnya sampailah daku ke Laut Selatan.

    Dengan meminta ijin pada yang menjaga disana, berhasillah kudapatkan rontal pusaka tersebut.

    Pulanglah daku dengan riang hati, ingin segera meyakinkan isi rontal pusaka.

    Terimakasih Ki GD

  8. Matur suwun Ki GD, lontar mpun kulo pendhet, berbekal peta pusaka yang diwariskan Ki GD

  9. kapan rilis ?

  10. Untung kitab jilid 107 ditaruh Ki GeDe di Malioboro, jadi dengan bekal peta dari Ki GeDe jadi mudah mendapatkannya.
    Matur suwun Ki GeDe.

  11. Matur nuwun sanget Ki GD …. dalan2 nang Mataram (Yogya) pancen oye …

  12. maaf Ki Gede ada laporan, menurut telik sandi file djvu 107 halaman nya kurang, dari halaman 1 – 7 tidak ada, apa para cantrik yang lain ada yang mencuri, wah pencopetnya kembali lagi, cuman gak semua yang berhasil dibawa, ato para cantrik yang lain ada yang tau solusinya.

  13. kitab ii-7 hal 1-7 akan disusulkan di kitab ii-9…SEGERA …

  14. pakai speedy maknyosssss
    makasih ki GD

  15. baguslah kalo memang hal 1-7 nya mau di susulkan,

  16. Sedulur aku kelangan lacak 107 piye iki jan lagi dedel tenan. Nuwun

  17. sampun sampun kepanggih matur nuwun

  18. ampun DJ……
    108 & 109 dalam genggaman 107 malah kehilangan
    ada yang bisa kasih bantuan???
    plis dong ahh…

  19. Maaf ki Gede, rasa rasanya lontar nomor seratus tujuh, ada satu halaman yang tercecer yaitu halaman 7…
    bagaimanakah gerangan cara mendapatkannya?

    Apakah harus mengikuti pendadaran ulang secara teori dan praktek untuk mendapatkan sertifikat lontar 107 halaman 7?

  20. Kalo mau gak kesasar memang harus bertanya kepada siapa? (kata Dora) : “aku peta, aku peta, aku peta aku peta ……… yuhu”

    matur nuwun

  21. Wah, jika melihat ilustrasi lontar 107 halaman 63 yang menggambarkan Agung Sedayu melenting tinggi, se akan akan melihat Film MATRIX.

    Jangan jangan gerakan Keanu Reeves dalam film Matrix (1999) buatan Wachowski bersaudara, menyontek Api di Bukit Menoreh…..

  22. Maaf Ki Gede, ternyata dari prajurit penghubung terdapat laporan bahwa lontar 107 halaman 73 -74 disembunyikan Ki Gede Telengan sehingga lontar 107 kurang lengkap halamannya….

    Jangan jangan halaman 73 -74 dipakai untuk membungkus pusaka….

  23. Laporan susulan dari prajurit penghubung sebelah barat, halaman 78 dan 79 ternyata juga digembol Ki Kalasa Sawit…

    Maaf nih mungkin cantrik yang lain sudah menyelesaikan materi teori dan praktek lontar lontar yang lebi advance… cantrik J3b3ng baru menyelesaikan lontar 107 meskipun ceriteranya meloncat loncat tetapi bisa diikuti dengan mata wadag….

  24. @Ki Joko Brondong

    sebelum dapat clue dari njenengan saya udah search “peta” sana sini tapi kok ya ra nemu2 perasaan dulu sempat mbaca tapi dimana ya? maklum lagi cupet pikire
    bisa diperjelas ki jalan masuk ke petanya…

  25. akhirnya dengan susah payah dan dg bantuan tombak kesayangan ini ketemu jg kitab 107..
    ternyata jauh2 mencari susah payah mikir cuma lompat 2 pagar

    nuwun

  26. Ki Gede pernahjanji kitab ini akan ditukar dengan rontal yg baru…soalnya banyak halaman yg hilang…
    kok belum dituker2 ya ?

  27. Jadi 107 ini masih mbetet…koyo Kho Ping Ho…ibarate pendekar compang-camping…Bu Kek Siansu…halamane dedel duwel…

    Ki gede yg baek…
    kalau 107 dah direvisi..matur nuwun yo..kalau belum..
    ya tetep maturnuwun..

  28. 107 ?

  29. revisi 107 belum ada yah??? serasa ada yang hilang di hati gitu loh….

    ditunggu revisinya. matur tengkyu

  30. ada yang bisa bantu nich buat nyari kitab 107 ato petanya.
    Tks.

    # dah dicoba pake menu “Search” mas ?

  31. Mas udah pake menu Search masih gak ketemu, kenapa ya ?
    Tks.

  32. Ki Gedhe, maklum orang udik mau nanya gimana cara downloadnya

  33. Poro sesepuh, nyuwun pitulungan, kulo tiang enggal. Dimana 107 berada??? Kalo yang dimangsud gambar peta bukanya itu gambar yang ngelink ke halman lain????
    Tapi ….dimana 107 nya? hik…hik

  34. @dodolibert
    Kitab di umpetno di Halaman lain, terus mlebu ae nang WISATA ADBM…nah di tempat wisata itu ada kamar2…kamar 1 buat pengumuman, kamar 2 buat nyimpen Peta…, Katab 107 nempel di Peta itu..
    Monggo di cari, semoga ketemu..

  35. Retype 107 (part 1)

    jurit prajurit Pajang yang berpengalaman
    Perintah itupun segera menjalar kepada setiap pemimpin kelompok dan prajurit, mcskipun mereka tidak mengetahui alasannya dengan pasti. Namun perintah itupun disusul oleh perintah Swandaru kepada pasukannya, bahwa mereka tidak hanya sekedar menunggu di mulut lembah. Mereka akan mengikuti gerak pasukan Mataram Jika benar-benar diperlukan, maka mereka akan langsung terlibat dalam pertempuran.
    ……

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.

  36. Retype 107 (Part 2 ) selesai

    Tetapi kawannya tiba-tiba membentak, “Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan. Tidak sekedar berbicara tentang Ki Gede Telengan itu.”
    Para pengawas itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya menuju kebarak tempat penyimpanan pusaka. Tidak ada pilihan lain daripada melaporkan kepada Ki Gede Telengan bahwa pasukan yang diduga dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati barak.
    ………………

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: