Buku II-7

Tetapi Ki Juru itupun menjawab bagi dirinya sendiri, “Sifat-sifat seperti itu akan nampak dimanapun juga. Dalam hubungan pribadi seorang dengan seorang dalam hubungan perdagangan, dalam hubungan kelompok dengan kelompok dan dalam hubungan pemerintahan.”

Kesadaran itulah yang agaknya dapat sedikit memperingan beban yang rasa-rasanya memberati hati orang tua itu. Betapa sakitnya jika ia harus menyaksikan pertempuran antara prajurit Pajang melawan prajurit Pajang sendiri.

Tetapi Ki Juru dan Kiai Gringsing tidak menyampaikan kegelisahan itu kepada Raden Sutawijaya yang muda. Jika ia mengetahui perasaan itu, maka tanggapannya mungkin akan dapat berbeda, sehingga akan dapat timbul persoalan didalam diri anak muda itu.

Sesaat kemudian, Ki Juru menengadahkan wajahnya. Dilihatnya langit menjadi semakin cerah, dan bayangan badanpun nampaknya menjadi semakin pendek.

“Hampir saatnya kita begerak,“ berkata Ki Juru kepada Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing mengangguk.

“Marilah, kita akan melihat semua persiapan.“ ajak Ki Juru.

Kiai Gringsing tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti Ki Juru berjalan mendekati Raden Sutawijaya yang masih berbincang dengan beberapa orang pemimpin beserta Ki Sumangkar.

“Saatnya telah tiba,“ berkata Raden Sutawijaya mungkin orang-orang dilembah ini telah bersiap menyongsong kedatangan kita. Kita akan bergerak dalam dua susun. Gelar pasukan Mataram dan gelar pasukan pengawal dari Sangkal Putung, yang apabila perlu akan tampil pula dalam pertempuran nanti.”

Para pemimpin kelompokpun segera mempersiapkan diri dipasukan masing-masing, sementara pasukan Sangkal Putungpun telah dipersiapkan pula dibawah pimpinan Swandaru beserta isteri dan adiknya. Namun demikian mereka bertiga mengerti, bahwa di gelar pasukan Mataram, terdapat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, yang apabila perlu tentu akan hadir ditengah-tengah pasukan Sangkal Putung.

Perlahan-lahan pasukan Matarampun maju kearah pertahanan orang-orang dilembah, yang mengaku pewaris kerataan Majapahit itu.

Matahari yang cerah telah memanjat langit semakin tinggi. Disela-sela derap kaki pasukan Mataram dan Sangkal Putung yang bergerak maju, terdengar angin lembah bertiup perlahan-lahan. Diantara dedaunan, burung-burung liar yang berkicau menyambut datangnya hari yang baru, sama sekali tidak mengacuhkan, bahwa dilembah itu akan terjadi pertumpahan darah yang mengerikan.

Dengan petunjuk para pengawas, pasukan Mataram menuju kepertahanan lawan yang sudah bergerak maju beberapa ratus langkah dari perkemahannya.

Sementara itu, para pengawas dari pihak yang lain-pun telah melaporkan, bahwa pasukan Mataram sudah mulai bergerak. Seorang pengawas dengan kerut merut dikening melaporkan kepada Tumenggung Wanakerti, “Pasukan Mataram dibagi dalam dua susun.”

Tumenggung Wanakerti mendengar laporan itu dengan saksama. Dengan tegang ia bertanya, “Apakah kau tahu maksudnya, kenapa pasukan Mataram itu dibagi menjadi dua susun?”

Pengawas itu menggeleng. Tetapi ia menjawab, “Ki Tumenggung. Ada beberapa perbedaan yang nampak secara lahiriah pada kedua pasukan itu. Aku tidak tahu pasti, apakah yang menyebabkan kedua pasukan nampak berbeda.”

Ki Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Laporan itu menarik perhatiannya. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah jumlah kedua pasukan yang bersusun itu mencemaskan ?”

Pengawas itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Pasukan itu tidak melampui jumlah kita semuanya. Bahkan menurut pengamatanku masih lebih kecil. Nampaknya mereka bukan prajurit.”

Tumenggung Wanakerti tersenyum. Katanya, “Raden Sutawijaya telah mengerahkan anak-anak petani yang tidak tahu menahu tentang olah kanuragan, dan apalagi gelar perang. Kasihan anak-anak itu. Meskipun mereka sekedar menjadi pasukan cadangan, namun setelah kami menghancurkan induk pasukannya, pasukan cadangan itupun akan hancur pula.”

Pengawas yang melaporkan itu mengangguk angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Mungkin kita akan dapat menghancurkan mereka. Tetapi bagaimana dengan prajurit Pajang?”

Tumenggung Wanakerti tertawa. Katanya, “Pimpinan prajurit Pajang ada didalam tangan kami.”

“Panglima yang disegani yang berada di Jati Anom mempunyai sikap dan pendirian tersendiri. Ia tidak mudah diombang-ambingkan keadaan karena justru ia adalah seorang prajurit yang sebenarnya.”

“Ia akan menjalankan perintah Panglimanya. Usaha kita adalah mempengaruhi keadaan di istana Pajang itu sendiri.”

Pengawas itu mengangguk-angguk. Namun ia nampaknya masih kurang yakin. Tetapi ia tidak berhak untuk bertanya terlalu banyak. Tugasnya melaporkan penglihatannya dan pertimbangan-pertimbangannya untuk memperhitungkan kekuatan dan keadaan lawan.

Laporan itupun telah menggerakkan pasukan yang berada dilembah untuk bersiaga. Gerakan pasukan Mataram berarti pertanda bahwa pertumpahan darah akan segera terjadi dilembah itu.

Kiai Kalasa Sawit, Kiai Jagarana, Kiai Samparsada dan Empu Pinang Aring telah berada diantara pasukan masing-masing. Bahkan mereka telah mulai bergerak untuk menyongsong lawan. Ujung sayap pasukan yang berada dilembah itu telah maju beberapa langkah didepan induk pasukannya sehingga gelar yang menebar itu telah berbentuk Gelar Wulan Punanggal.

Dalam pada itu pasukan Matarampun telah menjadi semakin dekat. Raden Sutawijaya berada langsung diujung gelar. Disamping Senopati pengapitnya di sayap pasukannya, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun berada disebelah menyebelah, sementara Ki Juru Martani selalu berada disampingnya. Betapapun juga ada perasaan khawatir untuk melepas Raden Sutawijaya yang muda itu seorang diri di paruh gelarnya. Namun semantara itu, iapun masih juga terganggu oleh perasaannya, bahwa akan terjadi pertempuran yang sengit antara prajurit-prajurit Pajang yang berada dikedua belah pihak.

“Mungkin diantara mereka terdapat dua orang kawan karib yang pernah saling menolong dimedan perang yang terdahulu. Tetapi kini mereka mungkin sekali dihadapkan sebagai lawan yang harus saling membunuh. Bahkan mungkin ada diantara mereka saudara sekandung yang berbeda pendirian, masing-masing berada dipihak yang kini akan berhadapan dengan senjata ditangan,“ desis Ki Juru Martani didalam hatinya.

Sementara itu, selagi kedua pasukan yang bermusuhan didalam lembah itu saling mendekati, maka utusan yang melingkari Gunung Merapi pun masih berpacu sekencang-kencangnya. Sejak mereka berhenti sejenak, untuk memberikan kesempatan kuda mereka beristirahat dan makan rumput hijau sekedarnya dipinggir tanggul yang hijau. Namun kemudian merekapun segera berpacu lagi memasuki lembah diujung Barat.

Justru pada saat yang diperhitungkan pasukan Mataram mulai bergerak, diwayah temawon, para utusan yang bertugas menjumpai Ki Gede Menoreh itu sudah memasuki mulut lembah di sebelah Barat.

“Kita akan mencari pertahanannya,“ desis yang satu.

“Kita harus datang dengan berhati-hati didaerah terbuka, agar tidak terjadi salah paham.” sahut yang lain.

Merekapun kemudian menyusuri jalan terbuka memasuki lembah diujung Barat.

“Kita datang lebih cepat dari perhitungan kita,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Ya.Masih belum lewat wayah temawon. Semalam suntuk kita berkuda. Kasihan. Kuda-kuda ini tentu merasa lelah sekali.”

“Tetapi kita sudah dekat. Menurut perhitungan dan pesan dari Raden Sutawijaya, sekarang pasukan Mataram mulai bergerak.”

Kawannya menengadahkan wajahnya. Mereka melihat matahari disela-sela lambung Gunung, sudah menjadi semakin tinggi. Sementara kuda mereka masih berjalan terus menyusuri jalan setapak dilembah itu.

Kedatangan utusan itu telah mengejutkan Ki Gede Menoreh. Ketika seorang pengawas melaporkan kepadanya bahwa ada petugas yang menurut keterangannya datang dari garis pertempuran disebelah Timur, maka dengan tergesa-gesa ia telah memanggilnya.

Dengan tergesa-gesa pula Ki Gede bertanya ketika para utusan itu sudah menghadapnya. “Apakah ada pesan khusus dari Raden Sutawijaya?”

Salah seorang dari utusan itupun segera menyampaikan pesan Raden Sutawijaya. Ternyata menurut perhitungan berdasarkan penglihatan para pengawas, pasukan yang berada dilembah itu lebih besar dari perhitungan sebelumnya yang dasarnya dari pengamatan dan dilengkapi keterangan para tawanan.”

Laporan itu telah menggetarkan hati Ki Gede Menoreh. Ki Waskita dan Agung Sedayu yang mendengar pula laporan itu mengangguk-angguk betapapun hati mereka bergejolak.

“Bagaimana pesan seterusnya?“ bertanya Ki Gede seolah-olah tidak sabur lagi menunggu.

“Ki Gede,“ berkata utusan itu, “karena itulah maka Raden Sutawijaya telah mengadakan beberapa perubahan. Bukan saja mengenai waktu, tetapi juga mengenai gelar.”

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya. Dengan saksama ia mendengarkan keterangan dan pesan yang disampaikan oleh utusan itu dengan jelas.

Ketika utusan itu selesai, maka ki Gedepun sadar, bahwa tugasnya memang telah beralih. Ia tidak hanya sekedar penunggu lembah jika ada arus pelarian ke Barat dari orang-orang yang berada dilembah itu, tetapi justru sebaliknya, keadaan keseimbangan kekuatan ternyata tidak seperti yang diperhitungkan semula.

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “aku akan menyesuaikan diri. Aku akan membawa pasukanku memasuki lembah. Tetapi karena jaraknya yang tidak terlalu pendek, maka tentu setelah tengah hari, kami baru akan sampai keperkemahan itu dari arah Barat. Mudah-mudahan kehadiran pasukan Tanah Perdikan Menoreh dapat menarik perhatian mereka.”

“Mudah-mudahan,“ berkata utusan itu, “jika tidak, maka Mataram dan Sangkal Putung akan mengalami kesulitan.”

Ki Gede Menorehpun mengangguk-angguk. Kepada para pemimpin pasukannya ia kemudian memberikan beberapa pesan dan petunjuk.

“Agaknya kita harus merubah sikap,” berkata Ki Gede kepada para pemimpin kelompoknya, “siapkan pasukan dalam gelar. Kita akan bergerak maju. Tetapi dalam keadaan tergesa-gesa ini semua perlengkapan jangan ada yang tertinggal. Kita akan menyerang perkemahan dari arah Barat.”

Para pemimpin kelompok mendengarkan semua petunjuk Ki Gede dengan saksama.

“Bimbing anak-anak muda yang belum berpengalaman. Jangan lepaskan mereka dalam gerakan yang berbahaya.“ pesan Ki Gede kepada para pemimpin pengawal agar mereka lebih memperhatikan ikatan gerak dalam keseluruhan. Karena ada diantara pasukan pengawal itu anak-anak muda yang sama sekali belum berpengalaman. Namun ada diantara para pengawal orang-orang yang telah kenyang makan pahit asamnya pertempuran dalam segala bentuk.

Meskipun disaat terakhir nampak kemunduran di Tanah Pertikan Menoreh, namun setelah mereka mulai menyentuh medan, maka gairah yang hampir mencair itu telah mengeras kembali disetiap jantung. Mereka benar-benar telah terbangun dari mimpi yang malas.

Namun dalam pada itu, didalam perjalanan pendek yang menegangkan itu, setiap pemimpin kelompok telah berusaha untuk meyakinkan anak-anak muda yang berada didalam kelompoknya, bahwa yang mereka hadapi adalah kekuatan yang tidak dapat diabaikan.

“Kalian bukannya sedang bermain-main dengan seorang pencuri ayam,“ berkata seorang pemimpin kelompok kepada para pengawal, “tetapi yang kalian hadapi adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Diantara mereka terdapat prajurit-pranurit Pajang yang telah menyeberang atau mereka yang memang bermuka dua.”

Anak-anak muda yang berada didalam lingkungan pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu mengangguk-angguk. Tetapi diantara mereka merasa bahwa pengalaman ini akan memberikan warna baru di dalam tugasnya sebagai seorang pengawal.

Tanpa peristiwa-peristiwa semacam ini, maka seumur hidupku aku tidak akan pernah berpengalaman didalam perang yang sebenarnya,“ desis seorang pengawal muda kepada kawannya.

“Ya. Tetapi aku berharap bahwa ini bukan merupakan pengalamanku yang terakhir. Karena itu, aku akan berhati-hati dan berlindung di dalam bayang-bayang yang telah lebih dahulu berpengalaman,“ jawab kawannya yang berjalan disisinya sambil membelai hulu pedangnya.

Sementara itu. Dibagian Timur dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, pasukan Mataram telah mendekati pertahanan lawan. Raden Sutawijaya sengaja tidak tergesa-gesa, karena ia memperhitungkan gerakan pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun mungkin pasukan Tanah Perdikan Menoreh terlambat, karena perjalanan utusannya, namun mereka akan mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu pada hari itu. Pasukan Mataram harus memelihara kemampuan tempurnya dihari pertama. Jika dihari pertama pertempuran itu tertunda oleh gelapnya malam, maka dihari berikutnya pasukan Tanah Perdikan Menoreh tentu sudah dapat ikut menentukan.

Ketika seorang pengawas melaporkan bahwa pasukan lawan telah berada beberapa puluh langkah dihadapannya, maka Raden Sutawijaya telah mengisyaratkan, agar pasukannya berhenti sejenak. Ia masih memberikan pesan-pesan terakhir lewat para penghubung, kemudian juga kepada Swandaru yang memimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh dilapisan berikutnya.

Mungkin pertempuran ini tidak hanya berlangsung satu hari. Mungkin setelah gelap ada isyarat untuk menunda pertempuran, tetapi mungkin sebaliknya. Orang-orang dilembah ini akan meneruskan pertempuran dimalam hari, karena mereka mempunyai kelebihan bermain senjata didalam gelap,” pesan Sutawijaya, “karena itu. kitalah yang akan mempersiapkan obor dan sebagai persiapan jasmaniah, kita jangan membiarkan pasukan kita kehabisan tenaga didalam benturan yang pertaman.”

Pesan itupun kemudian telah menjalar diseluruh pasukannya. Para pengawal yang semula adalah prajurit-prajurit Pajang, segera dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang mereka hadapi. Tetapi para pengawal yang belum berpengalaman masih harus mempertimbangkan pesan itu sebaik-baiknya. Apakah tidak lebih baik bertempur mati-matian dibenturan pertama dan mengalahkan lawannya daripada memelihara kekuatannya dengan membiarkan lawannya bertahan terlalu lama.

Ketika seorang pengawal muda menyampaikan hal itu kepada seorang pengawal yang lebih tua dan berpengalaman, maka pengawal tua itu menjawab, “Memang lebih baik kita menghancurkan lawan secepat cepatnya. Tetapi ingat, bahwa didalam pertempuran, bukanlah kita yang menentukan. Yang terjadi mungkin berbeda dengan keinginan kita, karena lawanpun berusaha membinasakan kita.”

Pengawal muda itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk angguk.

Sementara itu matahari memanjat semakin tinggi. Lewat wayah temawon waktu rasa-rasanya berjalan cepat, karena perhatian mereka telah dirampas oleh ketegangan yang mencengkam.

Namun dalam pada itu. Raden Sutawijaya terkejut ketika tiba-tiba saja dari sela-sela pepohonan hutan dihadapannya telah muncul beberapa orang bersenjata dan berhenti agak jauh dari padanya. Meskipun Raden Sutawijaya sudah berada diantara gerumbul-gerumbul perdu diujung hutan namun ia masih dapat melihat lawannya dengan jelas.

“Ki Tumenggung Wanakerti,” desisnya.

Yang muncul dihadapan pasukan Mataram itu memang Ki Tumenggung Wanakerti. Sambil tersenyum ia berkata, “Benar Raden. Ternyata Raden benar-benar seorang anak muda yang berani. Yang pantas mendapat gelar Senopati IngNgalaga.”

“Jangan mengigau. Sebut, apakah maksudmu menemui aku diantara garis pasukan kita masing-masing. Aku sudah siap bertempur dan menghancurkan pasukanmu,“ geram Raden Sutawijaya.

Tetapi Tumenggung Wanakerti tertawa. Katanya, “Bagus. Kau memang pantas memimpin gelar yang besar seperti sekarang ini. Tetapi aku ingin memperingatkan Raden, bahwa pasukanmu masih terlalu kecil untuk menjalankan tugas yang besar ini.”

“Jadi apa nasehatmu?“ bertanya Raden Sutawijaya.

Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Ia tidak menduga bahwa Raden Sutawijaya akan bertanya seperti itu. Namun kemudian ia menjawab, “Nasehatku, kau harus membunuh dirimu daripada kau jatuh ketanganku.”

Raden Sutawijayalah yang tertawa. Katanya, “Aku kira kau ingin menasehatkan agar aku kembali saja sebelum pertempuran ini terjadi.”

“Itu tidak mungkin. Kau tentu hanya akan berusaha menyelamatkan dirimu. Karena itu, mulailah menyesali kesombonganmu.”

“Pergilah. Jangan banyak bicara lagi. Pasukanku sudah siap untuk bertempur.”

Ki Tumenggung Wanakerti menebarkan pandangan matanya. Ia melihat sebagian dari gelar Raden Sutawijaya diinduk pasukan. Katanya kemudian, “Semula aku tidak percaya kepada laporan pengawasku, bahwa dengan pasukan yang sangat kecil kau berani memasuki lembah ini. Tetapi ternyata kau benar-benar dungu. Dan sekarang aku melihat induk pasukanmu, sebagai paruh gelarmu, benar-benar pasukan yang tidak berdaya sama sekali. Bukanlah cara bunuh diri yang demikian agak kurang baik bagimu. Karena itu pakailah cara lain. Bunuh diri dihadapanku.”

Penghinaan itu benar-benar telah membakar jantung Raden Sutawijaya yang muda itu, sehingga hampir saja ia kehilangan nalarnya dan langsung menyerang Tumenggung Wanakerti.

Untunglah bahwa Ki Juru Martani ada diantara pasukannya. Dengan tergesa-gesa Ki Juru mendekatinya dan menggamitnya sambil berdesis, “Jangan terpengaruh oleh perasaannmu saja ngger?”

Raden Sutawijaya yang marah itu berpaling. Ketika ia melihat Ki Juru berdiri di belakangnya maka iapun menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan gejolak didalam dirinya.

Tumenggung Wanakerti yang berdiri tidak terlalu jauh daripadanya, melihat dengan dahi yang berkerut merut. Bahkan kemudian ia berteriak, “He. Ki Juru Martani. Apa pula yang kau bisikkan ditelinga momonganmu? Kau sudah terlalu banyak membubuhkan racun di telinganya. Sekarang, apa lagi yang kau katakan. Kau jugalah yang membawa anak muda itu memasuki lembah neraka ini, dan tidak ada jalan lagi baginya untuk keluar.”

Ki Juru memandang Tumenggung Wanakerti itu. Sejenak nampak ketegangan diwajahnya Seperti yang diduganya, bahwa akan datang saatnya prajurit Pajang akan saling bertempur diantara mereka, karena mereka terdapat dikedua belah pihak.

Namun kata-kata Ki Tumenggung Wanakerti membuat jantungnya semakin keras berdetak, sehingga kemudian iapun menjawab, “Ki Tumenggung. Mungkin dugaanmu benar, bahwa aku telah menjerumuskan Raden Sutawijaya kelembah neraka ini. Tetapi meskipun demikian, itu adalah kewajibannya. Kewajiban seorang Senopati besar. Karena itu, jangan marah bahwa ia telah mengganggu rencanamu.”

“Sayang,“ jawab Ki Tumenggung, “ia masih terlalu muda. Ia harus mati meninggalkan perempuan-perempuan yang pernah dipeluknya. Perempuan yang dicurinya meskipun ia tahu, bahwa perempuan itu adalah bakal isteri ayahanda angkatnya. Kemudian gadis dari Pegunungan Sewu itu. Masih ada lagi dari daerah Tebu Wulung.”

“Cukup,“ Raden Sutawijaya berteriak. Tetapi sekali lagi Ki Juru menggamitnya sambil berbisik, “Jangan lekas murah. Pergunakanlah nalarmu baik-baik. Semakin lama ia berbiara semakin baik bagimu.”

“Aku kira utusanmu telah sampai kedaerah pertahanan pasukan Tanah Perdikan Menoreh. Mereka tentu sudah mulai bergerak. Selama itu, biar sajalah orang itu berbicara panjang lebar. Ia sengaja memancing kemarahanmu. Karena kau masih sangat muda dipandangan matanya.”

Raden Sutawijaya menarik nafas panjang sekali.

Dengan suara gemetar ia berdesis, “Aku tidak tahan, paman. Ia telah menghinaku.”

“Itu sudah diperhitungkan. Dan kau jangan terpancing oleh usahanya yang licik itu.”

Raden Sutawijaya mencoba untuk mengerti keterangan Ki Juru. Ia mulai membayangkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang bergerak masuk lembah. Namun katanya kemudian, “Tetapi jika mereka lebih dahulu terlibat dalam pertempuran, akibatnya akan menjadi buruk sekali bagi mereka.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kau masih dapat membuat perhitungan dengan jernih. Karena itu jangan terlibat dalam pusaran arus perasaanmu. Jika kau menyerang atas dasar pertimbanganmu bahwa pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati kubur pertahanan lawan, maka lakukanlah. Telai jika kau menyerang karena dibakar oleh kemarahanmu saja, tundalah barang sesaat, sehingga api yang menyala dihatimu itu padam, dan kau akan dapat membuat perhitungan-perhitungan yang mapan dalam pertempuran yang besar nanti.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk, sementara itu Ki Tumenggung Wanakerti berteriak, “He Raden. Kenapa kau termenung saja? Kau masih sempat mendengarkan kicau orang itu itu lagi?”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Desisnya kepada Ki Juru, “Aku selalu mengingat pesan paman. Aku akan mulai menyerang, karena perhitunganku mengharuskannya, agar orang orang dari Tanah Perdikan Menoreh tidak lebih dahulu terlibat dalam perang. Bukan sekedar karena aku terbakar oleh kata-katanya.”

“Lakukankah. Berikanlah aba-aba itu.”

Raden Sutawijaya memandang Ki Tumenggung Wanakerti dan beberapa orang pengawalnya. Ia sadar, bahwa pasukan dilembah itu tidak jauh lagi berada dihadapan hidung mereka. Karena itu maka Raden Sutawijaya pun berkata, “Ki Tumenggung. Waktu kita sudah habis. Kita akan bertempur sejak tengah hari aku tidak tahu, apakah kau sengaja memperpanjang waktu agar kita akan bertempur sampai malam. Tetapi seandainya demikian, akupun telah mempersiapkan diri pula bertempur dimalam hari.”

Ki Tumenggung Wanakerti menjadi berdebar-debar. Katanya kepada Raden Sutawijaya, “He, apakah kau sudah menyesali nasibmu dan justru pasrah terhadap keadaan? Tetapi membunuh diri bersama orang-orang yang tidak berdosa, adalah tidak bijaksana.”

Rasa-rasanya darah Raden Sutawijaya telah mendidih lagi. Tetapi ia selalu ingat pesan Ki Juru. Ia tidak berdiri sendiri. Tetapi ia membawa sepasukan pengawal, sehingga tidak sebaiknya ia memimpin pasukannya dalam keadaan marah dan kehilangan akal.

Raden Sutawijaya tidak ingin menjawab lagi kata-kata Tumenggung Wanakerti. Ia tidak ingin membiarkan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh terlibat dalam kesulitan. Katanya perlahan-lahan kepada Ki Juru, “Aku menjadi curiga, paman. Apakah dibelakang mereka, pertempuran itu benar sudah berkobar.”

“Majulah ngger. Tetapi berhati-hatilah.”

Raden Sutawijayapun kemudian memberikan isyarat kepada pengawalnya yang bertugas untuk melontarkan aba-aba lewat sangkakala. Karena itu, sejenak kemudian suara sangkakalapun telah bergema memenuhi daerah yang dipenuhi dengan perdu dihadapan hutan yang menjadi semakin lebat.

Suara Sangkakala itu bagaikan telah menggetarkan setiap dada. Bukan saja para pengawal dari Mataram, tetapi juga orang-orang yang menunggunya dilembah itu.

Aba-aba itu telah menggerakkan setiap orang untuk segera memasuki arena pertempuran yang dahsyat dilembah antara Gunung Merapi dan Merbabu.

Ki Tumenggung Wanakerti telah menyadari apa yang akan terjadi. Karena itu, maka iapun segera kembali kepasukannya. Seperti Raden Sutawijaya, maka iapun segera memerintahkan seorang pengawalnya untuk memberikan aba-aba. Berbeda dengan pengawal di Mataram yang mempergunakan sangkakakala, maka pengawal Ki Tumenggung Wanakerti telah meneriakkan aba-aba itu yang disahut berturut-turut dari induk pasukan sampai keujung sayap.

Kedua pasukan telah bergerak rnaju. Mereka tidak lagi berjalan setapak demi setapak sambil memperhatikan keadaan disekilarnya. Tetapi mereka langsung maju dengan senjata teracu, karena masing-masing telah meyakini bahwa lawan merekapun sedang berjalan tergesa-gesa menyongsongnya.

Baru sejenak kemudian, mereka mulai melihat lawan-lawan mereka bermunculan dibalik pepohonan. Pasukan Mataram atas isyarat Raden Sutawijaya sengaja memperlambat langkah mereka, agar mereka tidak memasuki hutan yang terlalu lebat, sehingga pertempuran akan berlangsung ditempat yang tidak terlalu padat dengan pepohonan.

Seperti yang diperhitungkan, maka pasukan Ki Tumenggung Wanakertilah yang kemudian maju menyerang didaerah hutan perdu diujung hutan yang lebih lebat dengan pepohonan.

Sejenak kemudian. Raden Sutawijayapun telah melihat sayap pasukannya mulai terlibat kedalam pertempuran. Pertempuran yang agaknya akan berlangsung cukup lama. Apalagi ketika ia kemudian menyadari bahwa jumlah lawan memang terlalu banyak bagi pasukan pengawal Mataram.

Dalam pada itu, Ki Juru Martani berbisik, “Mudah-mudahan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar dapat menyesuaikan diri dengan kemampuan pasukan pengawal Mataram. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, sehingga mungkin mereka agak terpisah jauh didalam ungkapan kemampuan mereka dimedan perang.

“Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah mengetahui tingkat kemampuan para pengawal paman. Bahkan mereka dapat bertempur bersama pasukan pengawal Sangkal Putung, yang barangkali masih juga tidak lebih baik dari pasukan pengawal Mataram.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Kemudian dengan isyarat ia memberitahukan kepada Raden Sutawijaya, bahwa pasukannya akan segera terlibat pula dalam pertempuran seperti pasukan diujung ujung sayap.

Raden Sutawijayapun kemudian mulai merundukkan senjatanya. Sebuah tombak pendek yang ditandai dengan seutas tali berwarna kuning keemasan. Dengan tegang ia mencoba mencari, dimanakah Tumenggung Wanakerti memimpin pasukannya.

“Gila,” desis Raden Sutawijaya, “ia tidak berada diparuh pasukannya. Ia tentu akan mengguncang keberanian para pengawal dengan tingkah lakunya yang aneh-aneh diantara garis benturan kekuatan.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan langsung berada di ujung pasukan. Kau harus berusaha membayangi tingkah laku Ki Tumenggung Wanakerti yang licik itu. Biarlah aku berada diparuh pasukanmu.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu. Namun iapun kemudian menyerahkan paruh pasukannya kepada Ki Juru beserta para pengawal terpilihnya. Raden Sutawijaya sendiri segera menenggelamkan diri kedalam pasukannya. Ia sadar, bahwa Ki Tumenggung Wanakerti memiliki banyak kelebihan dari para prajurit kebanyakan, sehingga ia akan dapat membuat pangeram-eram sehingga mengguncang perasaan para pengawal.

“Kelicikan ini harus dicegah,” berkata Raden Sutawijaya kepada dirinya sendiri.

Disayap pasukannya, pertempuranpun segera berkobar dengan dahsyatnya. Para pemimpin kelompokpun tidak segera dapat saling bertemu dan bertempur diantara mereka. Tetapi mereka masih sibuk memberikan perintah dan aba-aba bagi pasukan masing-masing.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berada disayap pasukan Matarampun mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang mungkin tidak terduga-duga. Disamping para pemimpin dari Mataram. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang sadar, bahwa diantara lawan-lawan mereka terdapat orang-orang yang memiliki kelebihan, maka mereka tidak akan dapat membiarkan orang-orang setingkat Panembahan Agung dan Panembahan Alit itu menyapu bersih pasukan pengawal yang mendekati mereka.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin dahsyat, maka ujung-ujung senjatapun mulai menjadi merah. Beberapa gores luka telah menyentuh orang-orang yang sedang bertempur itu dikedua belah pihak.

Sementara itu, di bagian Barat dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu, pasukan Tanah Perdikan Menoreh telah bergerak semakin maju. Sebagai seorang yang berpengalaman, maka Ki Gede tidak dapat berbuat tergesa-gesa. Setiap kali ia mengirimkan beberapa orang mendahului pasukannya untuk mempertahankan medan. Jika para pengawas itu melihat sesuatu, maka pasukannya harus segera menyesuaikan diri dengan petunjuk-petunjuk itu.

Tetapi gerakan Ki Gede Menoreh memang tidak dapat terlalu cepat, karena mereka sudah menyusup diantara pepohonan hutan. Mereka tidak lagi berada di tempat terbuka, atau hutan perdu yang meskipun terdapat pohon-pohon yang rimbun berserakan, namun secara keseluruhan, pasukannya akan lebih mudah diawasi. Namun pasukannya yang menyusup diantara pepohonan hutan, memerlukan penghubung yang trampil dan cepat, sehingga pimpinan pasukan akan mendapat gambaran yang luas dari seluruh gerakan pasukannya.

Setelah menyusup beberapa lama, maka pasukan Tanah Perdikan Menoreh itupun mulai mendekati barak yang dijaga oleh sepasukan pilihan meskipun jumlahnya tidak terlalu besar. Sementara itu, pasukannya yang terbesar itupun telah memasuki daerah pengawasan orang-orang yang berada dilembah itu.

Seorang pengawas dengan tegang melihat gerakan yang semula kurang jelas baginya. Ia melihat beberapa orang menyusup diantara pepohonan hutan. Namun kemudian, iapun sadar, bahwa yang bergerak itu bukannya hanya beberapa orang, tetapi sepasukan pengawal.

“Gila,“ geram pengawas itu, “apakah penglihatanku benar?”

Sejenak ia termangu-mangu. Menurut perhitungan para pemimpinnya, pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang tidak begitu besar itu, tidak akan menyerang, tetapi sekedar menjaga mulut lembah.

Tetapi ternyata bahwa mereka kini melihat pasukan itu bergerak maju. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan barak yang sedang ditinggalkan oleh pasukan yang ada dilembah itu, meskipun masih ada sebagian pengawal yang berjaga-jaga.

“Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan yang bertugas menjaga kedua pusaka itu di barak yang khusus,“ berkata salah seorang pengawas kepada kawannya.

“Ya. Dan Ki Gede Telengan adalah orang yang tidak dapat dikalahkan. Mungkin pasukannya tidak terlalu besar. Tetapi Ki Gede Telengan sendiri akan mampu membunuh setiap orang dipasukan lawannya, karena Ki Gede Telengan sendiri tidak dapat disentuh oleh maut.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:19  Comments (86)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-7/trackback/

RSS feed for comments on this post.

86 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ki GD, saya lagi jalan-jalan di Malioboro sambil nyeruput kitab-107..
    Tengkiu sanget..he..he..

  2. matur nuwun Ki GD,

    bener2 tambah lihay aji2 Ki GD ini, bagai Sedayu yang sudah memper sama gurunya dalam menggenapi ilmu cambuknya, sampaipun swandaru menyalah artikan kediaman dan andap asornya sedayu.

    terpaksa, ngerogoh sukma harus dikeluarken untuk dapat menyelami ilmu Ki GD di pedalaman mentaok sana.

    kitab wingkingipun peta sampun kulo pendhet Ki GD.

  3. Matur nuwun Ki GD, atas petanya

  4. Weh ndhelik neng kono tibane…..
    Matur nuwun Ki GD

  5. Saya malah dapetnya di gunung Merapi

  6. Peta yang di maksud Ki GD apa yang digunakan untuk panduan “Wisata ABDM” ya…

    Mungkin Ki GD takut nanti cantriknya kesasar …. jadi dibekali peta.

  7. Berbekal peta yang diberikan Ki GD, akhirnya sampailah daku ke Laut Selatan.

    Dengan meminta ijin pada yang menjaga disana, berhasillah kudapatkan rontal pusaka tersebut.

    Pulanglah daku dengan riang hati, ingin segera meyakinkan isi rontal pusaka.

    Terimakasih Ki GD

  8. Matur suwun Ki GD, lontar mpun kulo pendhet, berbekal peta pusaka yang diwariskan Ki GD

  9. kapan rilis ?

  10. Untung kitab jilid 107 ditaruh Ki GeDe di Malioboro, jadi dengan bekal peta dari Ki GeDe jadi mudah mendapatkannya.
    Matur suwun Ki GeDe.

  11. Matur nuwun sanget Ki GD …. dalan2 nang Mataram (Yogya) pancen oye …

  12. maaf Ki Gede ada laporan, menurut telik sandi file djvu 107 halaman nya kurang, dari halaman 1 – 7 tidak ada, apa para cantrik yang lain ada yang mencuri, wah pencopetnya kembali lagi, cuman gak semua yang berhasil dibawa, ato para cantrik yang lain ada yang tau solusinya.

  13. kitab ii-7 hal 1-7 akan disusulkan di kitab ii-9…SEGERA …

  14. pakai speedy maknyosssss
    makasih ki GD

  15. baguslah kalo memang hal 1-7 nya mau di susulkan,

  16. Sedulur aku kelangan lacak 107 piye iki jan lagi dedel tenan. Nuwun

  17. sampun sampun kepanggih matur nuwun

  18. ampun DJ……
    108 & 109 dalam genggaman 107 malah kehilangan
    ada yang bisa kasih bantuan???
    plis dong ahh…

  19. Maaf ki Gede, rasa rasanya lontar nomor seratus tujuh, ada satu halaman yang tercecer yaitu halaman 7…
    bagaimanakah gerangan cara mendapatkannya?

    Apakah harus mengikuti pendadaran ulang secara teori dan praktek untuk mendapatkan sertifikat lontar 107 halaman 7?

  20. Kalo mau gak kesasar memang harus bertanya kepada siapa? (kata Dora) : “aku peta, aku peta, aku peta aku peta ……… yuhu”

    matur nuwun

  21. Wah, jika melihat ilustrasi lontar 107 halaman 63 yang menggambarkan Agung Sedayu melenting tinggi, se akan akan melihat Film MATRIX.

    Jangan jangan gerakan Keanu Reeves dalam film Matrix (1999) buatan Wachowski bersaudara, menyontek Api di Bukit Menoreh…..

  22. Maaf Ki Gede, ternyata dari prajurit penghubung terdapat laporan bahwa lontar 107 halaman 73 -74 disembunyikan Ki Gede Telengan sehingga lontar 107 kurang lengkap halamannya….

    Jangan jangan halaman 73 -74 dipakai untuk membungkus pusaka….

  23. Laporan susulan dari prajurit penghubung sebelah barat, halaman 78 dan 79 ternyata juga digembol Ki Kalasa Sawit…

    Maaf nih mungkin cantrik yang lain sudah menyelesaikan materi teori dan praktek lontar lontar yang lebi advance… cantrik J3b3ng baru menyelesaikan lontar 107 meskipun ceriteranya meloncat loncat tetapi bisa diikuti dengan mata wadag….

  24. @Ki Joko Brondong

    sebelum dapat clue dari njenengan saya udah search “peta” sana sini tapi kok ya ra nemu2 perasaan dulu sempat mbaca tapi dimana ya? maklum lagi cupet pikire
    bisa diperjelas ki jalan masuk ke petanya…

  25. akhirnya dengan susah payah dan dg bantuan tombak kesayangan ini ketemu jg kitab 107..
    ternyata jauh2 mencari susah payah mikir cuma lompat 2 pagar

    nuwun

  26. Ki Gede pernahjanji kitab ini akan ditukar dengan rontal yg baru…soalnya banyak halaman yg hilang…
    kok belum dituker2 ya ?

  27. Jadi 107 ini masih mbetet…koyo Kho Ping Ho…ibarate pendekar compang-camping…Bu Kek Siansu…halamane dedel duwel…

    Ki gede yg baek…
    kalau 107 dah direvisi..matur nuwun yo..kalau belum..
    ya tetep maturnuwun..

  28. 107 ?

  29. revisi 107 belum ada yah??? serasa ada yang hilang di hati gitu loh….

    ditunggu revisinya. matur tengkyu

  30. ada yang bisa bantu nich buat nyari kitab 107 ato petanya.
    Tks.

    # dah dicoba pake menu “Search” mas ?

  31. Mas udah pake menu Search masih gak ketemu, kenapa ya ?
    Tks.

  32. Ki Gedhe, maklum orang udik mau nanya gimana cara downloadnya

  33. Poro sesepuh, nyuwun pitulungan, kulo tiang enggal. Dimana 107 berada??? Kalo yang dimangsud gambar peta bukanya itu gambar yang ngelink ke halman lain????
    Tapi ….dimana 107 nya? hik…hik

  34. @dodolibert
    Kitab di umpetno di Halaman lain, terus mlebu ae nang WISATA ADBM…nah di tempat wisata itu ada kamar2…kamar 1 buat pengumuman, kamar 2 buat nyimpen Peta…, Katab 107 nempel di Peta itu..
    Monggo di cari, semoga ketemu..

  35. Retype 107 (part 1)

    jurit prajurit Pajang yang berpengalaman
    Perintah itupun segera menjalar kepada setiap pemimpin kelompok dan prajurit, mcskipun mereka tidak mengetahui alasannya dengan pasti. Namun perintah itupun disusul oleh perintah Swandaru kepada pasukannya, bahwa mereka tidak hanya sekedar menunggu di mulut lembah. Mereka akan mengikuti gerak pasukan Mataram Jika benar-benar diperlukan, maka mereka akan langsung terlibat dalam pertempuran.
    ……

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.

  36. Retype 107 (Part 2 ) selesai

    Tetapi kawannya tiba-tiba membentak, “Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan. Tidak sekedar berbicara tentang Ki Gede Telengan itu.”
    Para pengawas itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya menuju kebarak tempat penyimpanan pusaka. Tidak ada pilihan lain daripada melaporkan kepada Ki Gede Telengan bahwa pasukan yang diduga dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati barak.
    ………………

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: