Buku II-7

… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … jurit-prajurit Pajang yang berpengalaman.

Perintah itupun segera menjalar kepada setiap pemimpin kelompok dan prajurit, meskipun mereka tidak mengetahui alasannya dengan pasti. Namun perintah itupun disusul oleh perintah Swandaru kepada pasukannya, bahwa mereka tidak hanya sekedar menunggu di mulut lembah. Mereka akan mengikuti gerak pasukan Mataram. Jika benar-benar diperlukan, maka mereka akan langsung terlibat kedalam pertempuran.“

Sementara itu, tiga orang berkuda lelah berpacu meninggalkan mulut lembah. Tetapi mereka tidak dapat melingkari lambung Gunung Merapi yang masih ditutup oleh hutan-hutan lebat meskipun dibeberapa bagian sudah terbuka. Mereka harus melingkar turun dikaki Gunung. Menyusuri jalan-jalan padukuhan, dan kadang-kadang juga masih harus melalui pinggir hutan.

Tetapi diantara tiga orang itu adalah seorang yang sudah mengetahui dengan baik jalan-jalan yang melingkar dikaki Gunung Merapi.

“Tetapi besok menjelang tengah hari kita baru akan sampai,“ berkata orang itu.

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka berusaha secepatnya dapat mencapai pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh yang dipimpin oleh Ki Gede Menoreh dan kemanakannya Prastawa bersama Ki Waskita dan Agung Sedayu.

Dalam pada itu, para petugas sandi yang ada dilembah, seperti yang diperhitungkan oleh Ki Juru Martani dan para pemimpin Mataram dan Sangkal Putung, benar-benar telah mengadakan penyelidikan dimulut lembah yang lain. Dengan berdebar-debar mereka menemukan, bahwa sepasukan yang besar telah berada dimulut lembah itu. Dan para petugas itupun menduga, bahwa pasukan itu tentu pasukan Tanah Perdikan Menoreh.

“Rencana Mataram cukup matang,” desis para petugas itu, “tetapi agaknya pasukan Tanah Perdikan Menoreh tidak sekuat pasukan Mataram.”

Petugas sandi itu mencoba untuk meyakinkan pengamatannya. Didalam gelapnya malam mereka berhasil mencapai jarak yang tidak terlalu jauh. Meskipun pasukan Tanah Perdikan Menoreh berusaha untuk tidak menumbuhkan perhatian, tetapi diantara mereka terdapat pula perapian untuk menghangatkan air dan makanan.

“Kita akan melaporkan kepada Tumenggung Wanakerti,“ berkata salah seorang petugas itu.

“Ya. Jika perlu, maka kita akan dapat memecah pertahanan dimulut lembah ini. Mereka menyangka bahwa pasukan kita hanyalah terdiri dari sekelompok kecil orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan dua tiga orang prajurit Pajang,” sahut yang lain.

Para petugas itupun kemudian merayap kembali keperkemahan mereka.

Malam itu, para pemimpin kelompok yang ada dilembah itupun telah menyusun rencana berdasarkan pengamatan para petugas sandi mereka. Mereka membuat perbandingan antara pasukan Mataram yang ada dimulut lembah sebelah Timur dan pasukan yang ada dimulut lembah sebelah Barat.

“Bagaimana dengan jumlah mereka dalam keseluruhan?“ bertanya Tumenggung Wanakerti kepada petugas sandinya.

“Di mulut lembah sebelah Barat, pasukan yang agaknya datang dari Tanah Perdikan Menoreh itu tidak begitu kuat. Kami melihat beberapa kelompok diantara mereka disekitar perapian. Agaknya mereka telah menebar dalam kelompok-kelompok kecil.”

“Tetapi Tanah Perdikan Menoreh memiliki pengawal yang baik. Secara pribadi pengawal Tanah Perdikan Menoreh tidak kalah dari para pengawal di Mataram,“ desis Empu Pinang Aring.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa Tanah Perdikan Menoreh yang memiliki perkembangan yang lebih dahulu dari Mataram, tentu memiliki kelebihan. Hanya karena Mataram dipimpin oleh seorang yang bernama Raden Sutawijaya, putera angkat Sultan Hadiwijaya di Pajang, serta telah mendapatkan restu atas usahanya membuka hutan yang lebat, yang disebut Alas Mentaok, maka perkembangan Mataram meloncat jauh lebih pesat dari Tanah Perdikan Menoreh dan daerah-daerah lain disekitarnya.

Untuk beberapa saat orang-orang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu berunding. Sebagian dari mereka memang berpendapat untuk memecahkan pertahanan Tanah Perdikan Menoreh dan menghindari pertempuran dengan Mataram.

Tetapi sebagian besar dari mereka berpendirian lain. Kiai Kelasa Sawit berkata, “Apakah kekuatan Mataram dapat mengimbangi kekuatan kita yang kemampuannya dapat dibanggakan untuk menerobos masuk ke Pajang?”

Seorang pengawas yang telah mengamati kekuatan Mataram berkata, “Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Aku tidak dapat mengatakan kemampuan yang ada pada pribadi masing-masing. Tetapi petugas-petugas sandi yang pernah mengamati Mataram dari dekat, dan melihat latihan-latihan keprajuritan, maka pengawal bukanlah orang-orang yang harus disegani. Memang ada diantara mereka adalah bekas-bekas prajurit Pajang yang telah minta dengan kemauan sendiri untuk pindah ke Mataram, tetapi jumlah mereka tidak terlalu banyak.”

Para pemimpin yang ada dilembah itu mengangguk-angguk. Menurut perhitungan mereka, maka mereka tidak akan cemas menghadapi kekuatan Mataram, sementara kekuatan Tanah Perdikan Menoreh tidak begitu meresahkan hati.

Namun demikian, mereka tidak lengah untuk memperhitungkan segala kemungkinan. Bahkan Tumenggung Wanakerti berkata, “Jika menurut pertimbangan kita berikutnya, kita lebih baik menghindari pertempuran dengan Mataram untuk menyelamatkan pusaka itu sebelum kita menentukan tempat lain, maka kita akan menghancurkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh yang dilembah itu.”

Tetapi Empu Pinang Aring menyahut, “Kita berjalan seperti seekor siput. Jika kita menentukan tempat lain, maka untuk membicarakan tempat yang baik, kita memerlukan waktu tidak kurang dari setahun. Kemudian untuk menyiapkan tempat itu dan mengamankannya kita memerlukan waktu lima tahun. Jika demikian, maka pertempuran yang sebenarnya baru akan berlangsung jika anakku nanti sudah dapat mewakili aku.”

Ki Tumenggung Wanakerti mengerutkan keningnya. Katanya, “Jangan lekas marah. Kita akan menentukan bersama-sama.”

“Coba bayangkan. Berapa orang diantara kita yang tidak sabar menunggu telah hilang. Satu-satu kekuatan kita dilenyapkan oleh Mataram atau Pajang atau Tanah Perdikan Menoreh. Jika kita menunda pertemuan ini, maka aku cemas bahwa kita semuanya akan terbunuh seorang demi seorang.”

Ki Tumenggung Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Tetapi kita harus mengadakan pengamatan yang cermat. Dilembah ini ada dua buah pusaka yang harus dipertahankan mati-matian, selain pusakan-pusaka yang kita harapkan akan segera berada diantara kita pula.”

“Kita dapat mengambil perbandingan,“ berkata Empu Pinang Aring, “Apakah kita menunggu mereka menyerang, atau kita justru menyerang mereka.”

“Kita tidak menunggu di perkemahan ini, tetapi juga tidak menyerang ke mulut lembah. Kita akan maju dan menunggu mereka dalam kesiagaan yang tinggi. Menurut laporan para petugas sandi, agaknya pasukan Tanah Perdikan Menoreh tidak dipersiapkan untuk menyerang. Agaknya mereka mendapat tugas untuk menutup mulut lembah. Ternyata gelar mereka yang menebar dan terpisah dalam kelompok-kelompok kecil meskipun jaraknya tidak terlalu jauh yang satu dengan yang lain. Jika mereka siap untuk menyerang, maka mereka tidak akan terpisah-pisah dalam kelompok-kelompok kecil yang tugasnya hanyalah mengamati keadaan,” sahut Ki Tumenggung Wanakerti.

“Baiklah,“ berkata seorang yang bertubuh raksasa yang nampaknya memiliki kekuatan berlipat dari orang-orang kebanyakan, “kita akan menghancurkan mereka dimanapun.”

Tumenggung Wanakerti memandang Kiai Jagarana dengan wajah yang tegang. Namun kemudian iapun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Kita akan menghancurkan mereka. Sekarang, kita masih akan mengatur kembali setiap orang yang ada didalam pasukan kita masing-masing. Sementara mungkin diantara kita masih akan beristirahat sejenak sampai saatnya kita akan mempertaruhkan nyawa. Pengawas-pengawas kita akan tersebar di depan mulut lembah disebelah Timur dan disebelah Barat. Jika ada gerakan lawan dimalam hari, maka mereka tentu akan memberikan isyarat.”

Orang-orang terpenting dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itupun kemudian kembali kepasukan masing-masing. Tumenggung Wanakertipun kembali kedalam pasukannya, sekelompok prajurit Pajang yang memang berada diantara orang-orang dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu. Dengan jelas ia memberikan pesan bahwa menjelang fajar pasukan mereka akan bergeser menyongsong pengawal Mataram yang akan menyerang mereka dari arah Timur, karena menurut pengamatan para pengawas, pasukan Tanah Perdikan Menoreh tidak disiapkan untuk menyerang, tetapi sekedar untuk mengamati keadaan lawan.

Dalam pada itu, para penghubung yang harus menuju kemulut lembah disebelah Barat, berpacu dengan sekencang-kencangnya. Mereka berusaha untuk mempercepat perjalanan. Menurut perhitungan mereka akan sampai menjelang tengah hari, sementara saat temawon Mataram mulai menggerakkan pasukannya dari sebelah Timur. Serangan itu sudah mengalami saat pengunduran waktu, karena semula direncanakan pasukan Mataram akan digerakkan menjelang fajar. Tetapi karena keterangan terakhir dari para pengawas bahwa kekuatan lawan cukup besar, maka serangan itu mengalami perubahan waktu dan mengikut sertakan pasukan pengawal dari Sangkal Putung.

“Mudah-mudahan tidak ada perubahan-perubahan apa-apa lagi,“ berkata salah seorang penghubung itu disepanjang perjalanan menuju kemulut lembah disebelah Barat.

“Jika karena sesuatu hal, serangan pasukan Mataram mengalami perubahan, sehingga pasukan Tanah Perdikan Menoreh sampai lebih dahulu di pemusatan pasukan dilembah itu, maka nasib para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh tentu akan buruk sekali.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Keterangan yang samar-samar yang didapat Mataram tentang kekuatan lawan, ternyata telah menjadi pengalaman penting bagi masa mendatang. Perhitungan tentang kekuatan lawan itu agak meleset. Jumlah lawan agak terlalu banyak dibandingkan dengan perhitungan. Sementara persiapan pertempuran sudah sampai pada babak terakhir.”

“Mungkin ada kesengajaan para tawanan memberikan keterangan yang kurang jelas, untuk menjerumuskan pasukan Mataram. Tetapi mungkin pula, tawanan-tawanan itu, terutama yang terakhir ditangkap oleh Kiai Gringsing, benar-benar tidak mengetahui keadaan seluruhnya dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, meskipun hal itu tentu sangat mengherankan.”

Kawannya tidak menyahut lagi. Ditatapnya jalur jalan yang samar-samar dihadapan kaki kudanya, sementara derap yang menggema dimalam hari bagaikan memecahkan kesenyapan.

Jika mereka melalui padukuhun-padukuhan kecil disela-sela bulak-bulak panjang dan hutan-hutan ilalang, maka derap kaki kuda mereka itu telah mengejutkan orang-orang yang tinggal dipinggir jalan kecil itu. Mereka mengerutkan kening, sambil bertanya-tanya didalam hati, “Siapakah yang berpacu dimalam hari?”

Tetapi pada umumnya mereka tidak berani keluar rumah karena kemungkinan yang mengerikan dapat terjadi, jika yang berpacu itu adalah penjahat penjahat yang lewat.

Sekali-sekali para penghubung itu harus menyusup hutan-hutan kecil dan lewat dipinggir hutan-hutan lebat yang masih bertebaran dilereng Gunung Merapi. Namun diantara mereka terdapat seorang yang telah mengenal benar jalan-jalan dilambung Gunung Merapi itu.

Secepat derap lari kuda-kuda itu, maka rasa-rasanya secepat itu pula waktu berjalan. Bintang-bintang menjadi semakin condong ke Barat, dan warna-warna merahpun telah membayang di ujung Timur.

“Hampir fajar,“ gumam salah seorang dari para penghubung itu.

Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi didalam angan-angan masing-masing seolah-olah terbayang, jika tidak ada perubahan seperti yang diputuskan oleh Raden Sutawijaya, maka saatnya telah tiba bagi pasukan Mataram untuk menyerang.

“Ternyata masih ada waktu sedikit,“ berkata salah seorang dari mereka kepada diri sendiri, “menjelang temawon, para pengawal itu masih sempat menyiapkan makan pagi.”

Sementara itu kuda-kuda mereka berpacu semakin cepat. Mereka berharap bahwa penyerangan itu tidak akan tertunda. Karena jika demikian akan sama artinya dengan mengumpankan pasukan Tanah Perdikan Menoreh kedalam mulut kehancuran.

Demikian fajar mulai membayang, maka pasukan Mataram dan Sangkal Putung telah bersiap untuk bergerak, meskipun mereka akan menunggu sampai saat temawon. Mereka berusaha mengurangi jarak waktu antara serangan mereka dengan gerakan pasukan Tanah Perdikan Menoreh, karena menurut perhitungan terakhir, ternyata bahwa dilembah itu terdapat kekuatan yang sangat besar.

Sementara itu, justru pasukan dilembah itulah yang mulai bergerak. Mereka ingin bertempur tidak diperkemahan mereka, tempat mereka menyimpan pusaka-pusaka terpenting yang telah berhasil mereka rampas dari Mataram.

Namun sementara itu, sepasukan kecil yang kuat telah mereka tinggalkan dibarak itu untuk mengawal pusaka pusaka yang nilainya tidak terhingga itu. Mereka mendapat perintah untuk mempertahankan pusaka itu sampai kemampuan mereka yang terakhir.

“Tidak mustahil, bahwa ada sekelompok pengawal Mataram yang dengan sengaja telah disusupkan kebelakang garis pertempuran untuk mengambil pusaka-pusaka itu. Nah, kewajiban kalianlah untuk menghancurkan mereka sampai orang terakhir.”

Orang-orang yang ditugaskan untuk mengawal pusaka itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa tugas mereka sangat berat. Tetapi jika pasukan Mataram berhasil dipukul mundur sebelum mereka menjamah perkemahan itu, maka mereka seakan-akan tidak berbuat apa-apa sama sekali dalam pertempuran itu. Tetapi jika benar ada sepasukan yang menyusup dibelakang garis perang, maka mereka memang harus bertempur sampai kemungkinan yang terakhir.

Orang yang diserahi pimpinan atas sekelompok pengawal terpilih yang harus menjaga pusaka-pusaka itu adalah seorang tua yang sangat disegani. Ia adalah orang yang kecuali merasa dirinya keturunan Majapahit, juga seorang yang mengerti benar tentang jenis-jenis pusaka dan sejenisnya.

“Ki Gede Telengan,“ pesan Tumenggung Wanakerti kepada orang tua yang diserahi memimpin pasukan pengawal yang menjaga pusaka itu, “aku pereaya kepada Ki Gede. Jika kita berhasil, maka Ki Gede bukan saja akan menjadi juru gedong pada gedung perbendaharaan pusaka, tetapi seperti yang pernah dikatakan oleh kakang Panji, bahwa Ki Gede adalah seorang yang paling pantas untuk menjadi seorang Tumenggung yang menguasai seluruh isi Istana Majapahit yang kelak akan dibangunkan kembali.”

Tetapi orang yang bernama Ki Gede Telengan itu tertawa. Katanya, “Jangan seperti anak-anak Tumenggung Wanakerti. Apa artinya jabatan seorang Tumenggung bagiku. Dihadapanku sekarangpun ada seorang Tumenggung yang bernama Wanakerti. Tetapi apa arti kekuasaannya di Pajang sekarang ini.”

Wajah Tumenggung Wanakerti menjadi merah padan. Sementara itu Ki Gede Telengan berkata terus, “Tetapi sudah barang tentu aku tidak akan merasa berhak atas Majapahit yang akan berdiri kelak. Namun demikian aku adalah orang yang berhak memerintah didalam atau diluar keraton.”

Tumenggung Wanakerti menggeretakkan giginya. Jika saja pasukan Mataram belum berada dihadapan hidungnya, maka ia akan membuat perhitungan dengan orang tua itu. Namun ia sadar, bahwa dengan demikian tindakannya itu tentu tidak akan menguntungkan bagi keseluruhan.

Meskipun demikian, sikap Ki Gede Telengan itu merupakan sikap dari kebanyakan orang yang berada dilembah itu bersama pasukannya. Kiai Kelasa Sawit, Kiai Jagaraga Kiai Samparsada dan tentu juga Empu Pinang Aring dan beberapa orang pemimpin yang lain. Mereka tentu mengharapkan terlalu banyak jika mereka berhasil menjatuhkan Pajang dan menguasai tahta, meskipun hampir setiap orang yakin bahwa orang yang bernama kakang Panji itulah orang yang pertama-tama akan duduk diatas tahta. Tetapi jabatan-jabatan tertinggi lainnyalah yang tentu akan menjadi rebutan yang bahkan mungkin akan dapat menghancurkan mereka sendiri.

Tetapi Tumenggung Wanakerti memutuskan untuk memperhitungkan kemudian. Yang penting, mereka harus menghancurkan Mataram lebih dahulu. Baru kemudian persoalan antara mereka akan dibicarakan.

Sebab untuk menentukan kedudukan masing-masing, orang yang disebut kakang Panji tentu tidak akan dapat mengabaikan para Adipati yang berkuasa diluar rangkah yang setiap saat-saat tertentu harus menyerahkan persembahan bagi yang berkuasa di Pajang.

Betapapun panas hati Tumenggung Wanakerti, namun dibiarkannya saja Ki Gede Telengan dengan sikapnya pula. Ia sadar bahwa ia harus memimpin pasukannya bergerak beberapa ratus langkah dari perkemahan, agar ajang pertempuran itu tidak akan merusakkan perkemahan mereka.

Ketika para pengamat dari lembah itu melaporkan, bahwa tidak ada pasukan khusus dari Pajang yang menyertai pasukan pengawal Mataram, maka Tumenggung Wanakertipun mengerti, bahwa Mataram yang kehilangan pusaka itu telah bergerak sendiri diluar pengetahuan Pajang, sehingga dengan demikian Tumenggung Wanakerti menjadi semakin berbesar hati, bahwa ia akan dapat menghancurkan Mataram lebih dahulu.

“Tetapi gerakan ke Pajangpun harus segera menyusul setelah kita berhasil membangun kembali kekuatan yang meski akan berkurang didalam pertempuran itu,“ katanya didalam hati.

Dalam pada itu, maka Tumenggung Wanakerti telah menempatkan induk pasukannnya yang terdiri dari para prajurit dan perwira Pajang dipusat gelar. Disebelah menyebelah terdapat pasukan Empu Pinang Aring di sayap kanan bersama Kiai Jagaraga dan Kiai Kelasa Sawit dan Kiai Sampar ada di sayap kiri.

Beberapa ratus langkah dari perkemahan, pasukan itu berhenti. Di tempat yang agak terbuka, merekapun segera menyusun pertahan. Mereka membuka pasukannya menebar, seperti juga pasukan Mataram yang akan datang menyerang.

“Kita tidak tahu pasti, kapan mereka akan menyerang. Tetapi menilik persiapan mereka, maka mereka akan datang hari ini,“ berkata Tumenggung Wanakerti kepada para pemimpin pasukan yang masih belum berada dipasukan masing-masing.

“Pengawas didepan kita akan mengirimkan isyarat jika mereka melihat pasukan lawan mulai bergerak,“ berkata Empu Pinang Aring.

“Ya. Kita percaya kepada para pengawas,” berkata Tumenggung Wanakerti, “mereka tidak akan lengah. Apalagi ada beberapa kelompok kecil pengawas yang mengamati pasukan lawan dari beberapa sudut.”

“Tetapi aku yakin bahwa kitapun sedang diawasi,“ berkata Kiai Samparsada.

Tumenggung Wanakerti tersenyum. Katanya, “Kita tidak merahasiakan pasukan kita karena kita yakin akan kekuatan kita. Kita akan bertahan disini, menghancurkan pasukan Mataram disini dan menguburkan mereka disini pula. Kasihan Raden Sutawijaya yang masih terlalu muda itu. Ia terlalu sombong dan keras kepala. Jika saja ia tidak menolak untuk datang menghadap ayahandanya Sultan Pajang, maka ia tentu tidak akan malu mohon bantuan sepasukan prajurit pilihan yang akan dapat membuat kita menjadi cemas. Tetapi kini, apa artinya pasukan pengawal Mataram meskipun mereka dengan sungguh-sungguh telah melatih diri. Mereka tentu terdiri dari anak-anak muda petani yang hanya biasa memegang cangkul dan bajak. Disamping beberapa orang bekas prajurit.”

Kiai Samparsada mengangguk-angguk. Nampannya ia sependapat dengan Tumenggung Wanakerti. Bahkan dengan nada tinggi ia berkata, “Tetapi Kiai Kelasa Sawitlah yang merasa kecewa bahwa dendamnya harus dibalaskan kepada orang lain.”

“Tidak ada bedanya. Jika aku dapat membunuh Raden Sutawijaya, maka dendamku kepada prajurit Pajang sudah terobati.“ jawab Kiai Kelasa Sawit.

Namun dalam pada itu. Empu Pinang Aring berkata, “Tetapi kalian harus memperhatikan kemungkinan lain. Sebagian dari pengawal Mataram adalah prajurit Pajang yang telah meninggalkan tugasnya.”

“Hanya sebagian kecil sekali. Mereka memang diijinkan untuk mengikuti Senopati Ing Ngalaga yang kemudian berkedudukan di Mataram,” potong Tumenggung Wanakerti.

“Tetapi jangan menutup mata atas penglihatan para petugas sandi yang pernah menyaksikan latihan-latihan di Mataram,“ jawab Empu Pinang Aring, “selebihnya, Mataram mempunyai hubungan yang baik dengan Tanah Perdikan Menoreh, yang ternyata telah mengerahkan pasukannya yang cukup kuat unluk menutup mulut lembah disebelah Barat, meskipun jika kita menghendaki, maka pasukan itu akan dapat kita pecah dalam sekejap. Dan selain Tanah Perdikan Menoreh, tidak mustahil bahwa Mataram akan mendapat bantuan dari Kademangan Sangkal Putung.”

“Memang mungkin sekali,” jawab Jagarana, “tetapi apa artinya sebuah Kademangan kecil seperti Sangkal Putung. Berapa orang pengawal yang dapat dipercaya untuk ikut dalam kemeriahan peralatan di lembah ini?”

Empu Pinang Aring tersenyum. Jawabnya, “Belum banyak yang kau ketahui tentang daerah Selatan ini. Sangkal Putung dapat bertahan dari serangan yang kuat pasukan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan dari Jipang.”

“Itu sudah terjadi beberapa saat yang lampau,” sahut Tumenggung Wanakerti, “tetapi tumpuan kekuatan Sangkal Putung tidak pada pengawal Kademangan, karena prajurit Pajang yang dipimpin oleh Widura dan kemudian disusul langsung oleh Untara ada di Kademangan itu, yang sekarang berada di Jati Anom.”

Empu Pinang Aring menarik nafas panjang. Tentu Tumenggung Wanakerti lebih banyak mengetahui tentang tugas para prajurit. Namun demikian, ia masih berkata, “Tetapi jangan terlalu meremehkan lawan.”

“Baiklah,“ jawab Tumenggung Wanakerti, “agaknya kita sudah cukup berhati-hati. Dan sekarang, kalian dapat kembali kepasukan kalian masing-masing sambil menunggu isyarat, bahwa pasukan Mataram mulai bergerak.”

Para pemimpin dari kelompok-kelompok pasukan yang kuat di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu pun segera kembali kepada pasukan masing-masing. Mereka sudah benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun sampai matahari memancar diatas cakrawala pasukan Mataram masih belum bergerak, meskipun mereka telah berada dalam kesiagaan untuk melangsungkan serangan yang dahsyat, menusuk kejantung lembah diautara Gunung Merapi dan Merbabu itu.

Sementara itu, pasukan Mataram yang sudah siap berada dilapis pertama, menunggu sampai saatnya mereka akan menyerang. Dibelakang gelar pasukan Mataram, para pengawal Sangkal Putung telah siap pula turun kemedan. Mereka tidak sekedar dipersiapkan untuk mencegat kemungkinan pasukan lawan yang lolos, tetapi mereka benar-benar akan ikut kedalam pertempuran, sesuai dengan keterangan beberapa orang pengawas, bahwa, pasukan lawan ternyata jumlah lebih banyak dari yang diperhitungkan oleh Mataram, yang agaknya keterangan dari para tawanan dan para pengawas yang tidak dapat mendekati perkemahan itu tidak tepat.

Sementara pasukan Mataram masih menunggu, Raden Sutawijaya masih sempat berbincang dengan beberapa orang pemimpin nasukannya. Pesan-pesan terakhir telah diberikan, dan petunjuk-petunjuk untuk mengatasi kesulitan yang dapat timbulpun telah diberitahukannya.

Namun sementara itu. Ki Juru Martani agaknya telah diganggu oleh perasaan aneh disaat-saat terakhir. Dengan wajah yang tegang, ia duduk diatas sebuah batu sambil memandang kemulut lembah yang ditumbuhi oleh pepohonan hutan yang cukup lebat.

Kiai Gringsing yang melihatnya, mendekatinya sambil bertanya, “Apakah yang sedang Ki Juru renungkan?”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Ketika Kiai Gringsing kemudian duduk disampingnya ia berkata, “Seperti inilah yang telah terjadi hampir di setiap tataran keturunan. Sejak jaman Mataram lama, kemudian kerajaan bergeser ke timur melalui masa pemerintahan Kediri, Singasari, Majapahit dan setelah pemerintahan kembali bergeser sampai ke Demak dan kemudian kedaerah pertanian di Pajang, tidak ada henti-hentinya, peperangan terus membakar Tanah ini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Dendam yang terpendam saat surutnya pemerintahan Majapahit, kini telah diungkit lagi,” Ki Juru meneruskan, lalu. “Kiai, bukankah Kiai mempunyai ciri-ciri khusus yang dapat menempatkan Kiai kepada jalur keturunan yang berhak menerima warisan atas Majapahit? Apakah Kiai tidak dapat ikut berbicara dengan landasan sikap Kiai untuk menghindarkan cara-cara yang tidak sepantasnya bagi martabat manusia?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Juru, yang nampak dihadapan kita sama sekali bukannya suatu cita-cita atau mimpi yang terputus oleh kejutan, sehingga kita telah terbangun. Tetapi yang kita hadapi sebenarnya adalah nafsu yang lerselubung. Ada atau tidak ada ciri-ciri keturunan Majapahit, mereka tentu akan bergerak. Jika mereka tidak mempergunakan kesempatan sebagai pewaris Kerajaan Agung Majapahit, maka mereka tentu akan mempergunakan dalih lain. Dan agaknya kekerasan memang sulit untuk dihindarkan.”

Kiai Gringsing diam sejenak. Dipandanginya wajah Ki Juru yang dipenuhi oleh kerut merut umur yang nampak semakin dalam. Dengan suara yang dalam ia berkata, “Kau benar Kiai. Tetapi peperangan bukannya peristiwa yang menyenangkan. Kita akan melihat nanti, beberapa orang prajurit Pajang yang ada dilingkungan mereka, akan bertempur dengan prajurit Pajang yang ada di pihak Mataram. Mereka memiliki ilmu keprajuritan dari satu sumber. Tetapi mereka akan membenturkan ilmu yang mereka miliki itu yang satu dengan yang lain.”

Kiai Gringsingpun kemudian memandang kekejauhan. Seolah-olah ia ingin memandang menembus rimbunnya pepohonan hutan. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Ki Juru yang bijaksana. Selama dunia ini masih diselubungi oleh nafsu yang berlawanan, kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kebohongan dan ujud-ujudnya yang lain, yang digolongkan kedalam sifat-sifat baik dan buruk, maka selama itu benturan-benturan masih akan terjadi. Agaknya kali ini kitapun menghadapi dua ujung dari sifat-sifat yang bertentangan itu, sehingga dengan demikian, sulitlah bagi kita untuk menghindari bentrokan kekerasan untuk mempertahankan ujud dari sifat yang memang bertentangan itu.”

Ki Juru termangu-mangu. Ia tidak mengingkari kebenaran kata-kata Kiai Gringsing. Tetapi sebuah pertanyaan telah tumbuh didalam hatinya. Kenapa kedua sifat itu tumbuh didalam persoalan yang menyangkut pimpinan pemerintahan.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:19  Comments (86)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-7/trackback/

RSS feed for comments on this post.

86 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ki GD, saya lagi jalan-jalan di Malioboro sambil nyeruput kitab-107..
    Tengkiu sanget..he..he..

  2. matur nuwun Ki GD,

    bener2 tambah lihay aji2 Ki GD ini, bagai Sedayu yang sudah memper sama gurunya dalam menggenapi ilmu cambuknya, sampaipun swandaru menyalah artikan kediaman dan andap asornya sedayu.

    terpaksa, ngerogoh sukma harus dikeluarken untuk dapat menyelami ilmu Ki GD di pedalaman mentaok sana.

    kitab wingkingipun peta sampun kulo pendhet Ki GD.

  3. Matur nuwun Ki GD, atas petanya

  4. Weh ndhelik neng kono tibane…..
    Matur nuwun Ki GD

  5. Saya malah dapetnya di gunung Merapi

  6. Peta yang di maksud Ki GD apa yang digunakan untuk panduan “Wisata ABDM” ya…

    Mungkin Ki GD takut nanti cantriknya kesasar …. jadi dibekali peta.

  7. Berbekal peta yang diberikan Ki GD, akhirnya sampailah daku ke Laut Selatan.

    Dengan meminta ijin pada yang menjaga disana, berhasillah kudapatkan rontal pusaka tersebut.

    Pulanglah daku dengan riang hati, ingin segera meyakinkan isi rontal pusaka.

    Terimakasih Ki GD

  8. Matur suwun Ki GD, lontar mpun kulo pendhet, berbekal peta pusaka yang diwariskan Ki GD

  9. kapan rilis ?

  10. Untung kitab jilid 107 ditaruh Ki GeDe di Malioboro, jadi dengan bekal peta dari Ki GeDe jadi mudah mendapatkannya.
    Matur suwun Ki GeDe.

  11. Matur nuwun sanget Ki GD …. dalan2 nang Mataram (Yogya) pancen oye …

  12. maaf Ki Gede ada laporan, menurut telik sandi file djvu 107 halaman nya kurang, dari halaman 1 – 7 tidak ada, apa para cantrik yang lain ada yang mencuri, wah pencopetnya kembali lagi, cuman gak semua yang berhasil dibawa, ato para cantrik yang lain ada yang tau solusinya.

  13. kitab ii-7 hal 1-7 akan disusulkan di kitab ii-9…SEGERA …

  14. pakai speedy maknyosssss
    makasih ki GD

  15. baguslah kalo memang hal 1-7 nya mau di susulkan,

  16. Sedulur aku kelangan lacak 107 piye iki jan lagi dedel tenan. Nuwun

  17. sampun sampun kepanggih matur nuwun

  18. ampun DJ……
    108 & 109 dalam genggaman 107 malah kehilangan
    ada yang bisa kasih bantuan???
    plis dong ahh…

  19. Maaf ki Gede, rasa rasanya lontar nomor seratus tujuh, ada satu halaman yang tercecer yaitu halaman 7…
    bagaimanakah gerangan cara mendapatkannya?

    Apakah harus mengikuti pendadaran ulang secara teori dan praktek untuk mendapatkan sertifikat lontar 107 halaman 7?

  20. Kalo mau gak kesasar memang harus bertanya kepada siapa? (kata Dora) : “aku peta, aku peta, aku peta aku peta ……… yuhu”

    matur nuwun

  21. Wah, jika melihat ilustrasi lontar 107 halaman 63 yang menggambarkan Agung Sedayu melenting tinggi, se akan akan melihat Film MATRIX.

    Jangan jangan gerakan Keanu Reeves dalam film Matrix (1999) buatan Wachowski bersaudara, menyontek Api di Bukit Menoreh…..

  22. Maaf Ki Gede, ternyata dari prajurit penghubung terdapat laporan bahwa lontar 107 halaman 73 -74 disembunyikan Ki Gede Telengan sehingga lontar 107 kurang lengkap halamannya….

    Jangan jangan halaman 73 -74 dipakai untuk membungkus pusaka….

  23. Laporan susulan dari prajurit penghubung sebelah barat, halaman 78 dan 79 ternyata juga digembol Ki Kalasa Sawit…

    Maaf nih mungkin cantrik yang lain sudah menyelesaikan materi teori dan praktek lontar lontar yang lebi advance… cantrik J3b3ng baru menyelesaikan lontar 107 meskipun ceriteranya meloncat loncat tetapi bisa diikuti dengan mata wadag….

  24. @Ki Joko Brondong

    sebelum dapat clue dari njenengan saya udah search “peta” sana sini tapi kok ya ra nemu2 perasaan dulu sempat mbaca tapi dimana ya? maklum lagi cupet pikire
    bisa diperjelas ki jalan masuk ke petanya…

  25. akhirnya dengan susah payah dan dg bantuan tombak kesayangan ini ketemu jg kitab 107..
    ternyata jauh2 mencari susah payah mikir cuma lompat 2 pagar

    nuwun

  26. Ki Gede pernahjanji kitab ini akan ditukar dengan rontal yg baru…soalnya banyak halaman yg hilang…
    kok belum dituker2 ya ?

  27. Jadi 107 ini masih mbetet…koyo Kho Ping Ho…ibarate pendekar compang-camping…Bu Kek Siansu…halamane dedel duwel…

    Ki gede yg baek…
    kalau 107 dah direvisi..matur nuwun yo..kalau belum..
    ya tetep maturnuwun..

  28. 107 ?

  29. revisi 107 belum ada yah??? serasa ada yang hilang di hati gitu loh….

    ditunggu revisinya. matur tengkyu

  30. ada yang bisa bantu nich buat nyari kitab 107 ato petanya.
    Tks.

    # dah dicoba pake menu “Search” mas ?

  31. Mas udah pake menu Search masih gak ketemu, kenapa ya ?
    Tks.

  32. Ki Gedhe, maklum orang udik mau nanya gimana cara downloadnya

  33. Poro sesepuh, nyuwun pitulungan, kulo tiang enggal. Dimana 107 berada??? Kalo yang dimangsud gambar peta bukanya itu gambar yang ngelink ke halman lain????
    Tapi ….dimana 107 nya? hik…hik

  34. @dodolibert
    Kitab di umpetno di Halaman lain, terus mlebu ae nang WISATA ADBM…nah di tempat wisata itu ada kamar2…kamar 1 buat pengumuman, kamar 2 buat nyimpen Peta…, Katab 107 nempel di Peta itu..
    Monggo di cari, semoga ketemu..

  35. Retype 107 (part 1)

    jurit prajurit Pajang yang berpengalaman
    Perintah itupun segera menjalar kepada setiap pemimpin kelompok dan prajurit, mcskipun mereka tidak mengetahui alasannya dengan pasti. Namun perintah itupun disusul oleh perintah Swandaru kepada pasukannya, bahwa mereka tidak hanya sekedar menunggu di mulut lembah. Mereka akan mengikuti gerak pasukan Mataram Jika benar-benar diperlukan, maka mereka akan langsung terlibat dalam pertempuran.
    ……

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.

  36. Retype 107 (Part 2 ) selesai

    Tetapi kawannya tiba-tiba membentak, “Kita akan melaporkan kepada Ki Gede Telengan. Tidak sekedar berbicara tentang Ki Gede Telengan itu.”
    Para pengawas itupun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempatnya menuju kebarak tempat penyimpanan pusaka. Tidak ada pilihan lain daripada melaporkan kepada Ki Gede Telengan bahwa pasukan yang diduga dari Tanah Perdikan Menoreh telah mendekati barak.
    ………………

    $$ sudah dipindah ke gedung pusoko.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: