Buku II-69

169-00

Halaman: 1 2

Telah Terbit on 7 Maret 2009 at 07:08  Comments (194)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-69/trackback/

RSS feed for comments on this post.

194 KomentarTinggalkan komentar

  1. akhirnya belum keluar juga…

  2. tidak keluar ama karena tidak ada bantuan untuk nimas seno yg membutuhkan rontal 171 ya? kalau begitu bantu dong…

  3. Elok tenan… durung njedhul….
    Mungkin maksud Nyi Seno para cantrik harus memperdalam ilmu Pameling di kitab 168 makanya diwedar sampai 2 kali. Karena besuk pada jam pelajaran ke 3 ada ulangan mata pelajaran SMS tanpa pulsa.
    Nek ra kleru lho….

  4. blm ada jg ternyata.., tp lmyn,, byk cerita lucu..,mtr nwn jg buat cantrix2 yg tlh berbagi cerita lucu…jauh lbh baik dr pd komen yg seolah2 minta ktb di tunda tayang..

  5. walah…awaiting moderation…,

  6. kopernya….ko blm ada ya…, no koper no loper…¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿¿????????

  7. AGUNG SEDAYU :

    kapan nyampe ke sini ya?????

    +++
    +++
    Episode paling menarik dari kedua tokoh seperguruan ini dikisahkan dalam episode kedua, JALAN SIMPANG. Swandaru selalu menilai diri terlalu tinggi karena Agung Sedayu selalu terluka melawan tokoh-tokoh sakti yang mulai rajin bermunculan di atas jilid 100. Padahal, melawan tokoh-tokoh ini justru semakin mematangkan Agung Sedayu. Ilmunya meningkat pesat, dan memperoleh pengasihan dari Guru keduanya yang meminjamkan kitabnya dan juga petunjuk Pangeran Benawa dan Raden Sutawidjaya dalam meningkatkan Ilmu.

    Dari Guru keduanya, Agung Sedayu mampu mengolah dan memperoleh Ilmu Kebal yang luar biasa, mampu mengeluarkan panas membakar dalam puncak Ilmu Kebalnya itu. Mampu bergerak cepat dan melayang-layang secara tidak masuk akal (ini mungkin ginkang) dan mampu menghadapi ilmu sihir atau santet, bahkan belakangan mampu menemukan ilmu Kakang Pembarep Adi Wuragil dengan memecah diri menjadi 3 seperti Kiai Juru Mentani. Selebihnya, diapun melatih ilmu-ilmu mendengar dari jarak jauh, menyerap bunyi dan mempertajam panggraita atau intuisi dan perasaan. Dari Kiai Gringsing, dia memperoleh ilmu Cambuk yang luar biasa yang mampu menembus Ilmu Kebal dengan lecutan-lecutannya. Bahkan meski tidak diceritakan, sebagai murid terkasih Kiai Gringsing dia juga mewarisi Ilmu Ilmu yang nyaris punah, yakni Ilmu Melepas Awan Pekat, Gelap Ngampar dan Mempengaruhi Indra lawan melalui penciuman, Ilmu yang dimiliki Sesepuh Majapahit. Selain itu, dia juga kebal racun setelah diberi petunjuk oleh Pangeran Benawa, tokoh muda sakti selain Sutawidjaya. Keduanya, Sutawidjaya dan Benawa dianggap tokoh muda tersakti pada masa cerita ini, meskipun perkembangan Agung Sedayu juga dipantau keduanya dengan cermat.

    Puncak cerita dan menariknya cerita ini, ketika Swandaru yang suka meledak-ledak, emosional dan merasa dari kalangan atas, merasa sudah melampaui kehebatan kakak seperguruannya. Dalam pertarungan yang mengakhiri episode jalan simpang, Agung Sedayu mengajarkan bagaimana kematangan dan kedalaman mengalahkan Swandaru yang mengandalkan Tenaga Fisiknya. Dalam perkelahian yang disadari betul oleh adik Swandaru, Sekar Mirah dan Istri Swandaru ,Pandanwangi, bahwa Swandaru kalah jauh oleh Agung Sedayu karena berkali-kali mereka menyaksikan bagaimana Agung Sedayu berkembang menjadi raksasa Olah Kanuragan, SWANDARU TELAH TERKALAHKAN. Bahkan Sekar Mirah, yang akhirnya menjadi istri Agung Sedayupun, baru menyadari betapa suaminya jauh meninggalkannya dengan swandaru, ketika melihat Suaminya nyaris mati menandingi dan mengalahkan Panglima Sakti dari Pajang dalam sebuah perang tanding yang disaksikan banyak tokoh utama.

    Untuk membuka mata Swandaru, Agung Sedayu mempergunakan semua Ilmunya, baik Kakang Pembarep Adi Wuragil, Ilmu Kebal, Ilmu Pandang Mata, dan Lecutan Berat yang tidak terdengar telinga biasa tapi telinga batin yang menyakitkan. Semua ilmu kanuragan andalannya dikeluarkan dan membuat Swandaru akhirnya SADAR dan terperangah.

    Episode seudahnya adalah episode pengembaraan Glagah Putih, adik sepupu AGung Sedayu sekaligus muridnya. Sementara Agung Sedayu menempah istrinya dan juga menmpa dirinya dengan kitab gurunya, Kiai Gringsing.

    ……………

    masih jauh man….
    baru mo kitab 169…, kalo nyampe itu juga…

  8. masih jam 11.54 dan masih ada 24 cantrik yang berjaga di pendapa padepokan… sungguh luar biasa keteguhan hati para cantrik malam ini. tentunya dengan berjaga semalam suntuk akan dapat memperlancar pematangan kitab 169 nanti. mari terus berjaga 🙂

  9. Wa….tenan ki
    Wis meh jam 24.00 Kitabe durung di wedhar juga…
    Jian…nasib Sultan Hadiwijaya gimana ?
    Apa Kakang Panji bener2 turun ke medan hari ini ?
    Siapa yang bisa menghadapi kesaktiannya ?
    Cilaka…..

  10. @ Pandanalas
    Ki AGeng…
    saya cuma punya 3 biji rekaman Basiyo (alm).
    Ukurane raksasa semua (luwih gedhe tinibang Gajahe Sultan Hadiwijaya), kira-kira 20X ukuran kitab adbm.
    Lha nek dikirim via email opo ra ming marahi macet..
    enake piye yo ?

  11. Wis kebacut rondha…
    Nganglang dhisik ah sapa ngerti nemu kitab 169 neng pinggir kali Opak nggone mbahku….

  12. Mbok menawi,..Ki GeDe,..

  13. Ihhh…, KI Dewo1234 sopo ngiler yoo…

  14. BREAKING NEWS!

    Jalur dari arah Puncak, saat berita ini ditulis macet total, karena ada gajah yang mogok di tengah jalan, Dan pecahan batu hitam yang berserakan di jalan.

    Diperkirakan kemacetan baru akan bisa diatasi besok pagi.

    $$ Ssst…, ternyata “Nyi Senopati” juga terperangkap dalam kemacetan tersebut.

  15. 😥
    😥
    😥
    😥

  16. macet total dari arah puncak nyai??..

    .. pasar cisarua, masuk aja ke pasar nya belok kiri.., sebelum padepokan hotel taman safari itu, ngopi dulu- wedang sere..
    lanjut ke dalem, tanya mana arah jalan ke pasir muncang.., nah ikutin aja.., nanjak mudun, sepi tapi lancar,…sampe pasir muncang lanjut lagi.., lurus.., ntar nembus di gadog.., belok kiri ketemu lampu merah tol…, masuk tol jagorawi…, rebes…

    bisa juga belok kiri setelah pom bensin cisarua,…….
    mudah2an subuh udah nyampe ke rumah….hehe

  17. Sebenarnya sih bukan karena Nyai terjebak macet, tetapi karena Nyai sedang sibuk mencari siapa yang punya kitab 171 sehingga Nyai lupa kalau kitab 169 belum di wedar, betulkah Nyai?

  18. Minggu,Detik.Com. 08/03/2009 20:45 WIB
    Pulang Liburan, Puncak Macet Parah
    Rachmadin Ismail – detikNews

    Cisarua – Meski waktu libur masih tersisa satu hari lagi, namun para wisatawan dari Jakarta yang berada di kawasan Puncak sudah berangsur pulang. Akibatnya, jalur Puncak-Bogor macet parah.

    “Macet sekali, dari Pukul 17.30 WIB, saya hanya berjalan sejauh 500 meter,” kata pembaca detikcom Nyi Senopati, saat dihubungi di lokasi kemacetan, Minggu (8/3/2009).

    Menurut Nyi Senopati, arus ke arah Jakarta saat ini tidak bergerak sama sekali. Berdasarkan pengamatannya, antrean kendaraan mencapai 10 km.

    Saat ini puluhan petugas, lanjut Nyi Seno, sudah melakukan sistem buka-tutup jalur. Namun cara itu tidak membuat kemacetan berkurang.”Masih banyak yang nyodok mas, jadi tidak efektif,padahal saya terburu buru buat wedar kitab 169, kasian para cantrik adbm sudah pada sakaw” pungkasnya. (mad/yid)

  19. Wah…sudah menjelang pagi hari kok kitab belum muncul ya…???
    Ada apa gerangan….???

  20. Ki dewo123

    AGUNG SEDAYU :
    kapan nyampe ke sini ya?????

    Saya juga menunggu apakah petualangan Glagah Putih sebagaimana ditulis disini cukup menarik.
    http:\\ceritasilat.wikia.com/wiki/agung_sedayu****

  21. Weleh…tiwas tak enteni tekan jam 2-an esuk tetep durung diwedhar….terus tekan F5, tetep ora ono perubahan…..

    Tetep sabar menanti….

  22. nembe dumugi bumi seentak galah serangkuh dayung…ternyata belum diwedhar

  23. menunggu dalam sakaw

  24. Sudah nendekati azan Subuh tetapi tanda2 kitab belum ada….jan mengujui kesabaran tenan…

  25. Kemarin kitab 168 dititipkan ki Yayan, namun pada hari ini kitab 168 juga dititip di “sabar”nya ki Paimo. Kenapa hari ini yang dititipkan pada Ki Paimo kitab 168 juga bukan kitab 169 ??????. Ada apa yaaaa !!!!!!!!!!!!!

  26. coper udah keluar..
    masih sakaw menunggu

  27. matur nuwun, sampun diunduh

  28. para cantrik lagi persiapan berangkat nyangkul setelah liburan ..
    kitab 169 diwedar

    trimakasih senopati

  29. nach ini baru benaaar panembahan senopati, makacih yaa mamah seno….

  30. Sudah di unduh Nyimas, Ki GD, matur tx, 🙂

  31. Wah….ditinggal mandi bentar kitab dah di wedhar
    Makasih Nyi Seno…..
    Lateung …Weeeek
    Nyi Seno….aku tadi kesusu submit sehinga nama yang terpampang cuma ‘a’, mohon yang dari ‘a’ diabaikan saja.

  32. Esuk2 ngunduhe nglemet..pertondo ribuaan cantrik berbarengan ngunduh…Wis podo Sakaw sajake

  33. matur nuwun…
    nyi seno
    ayo2 antri ngunduh,sing sabar gantian ra usah oyok2an

  34. siipp….

  35. Wah ternyata Nyai Seno enggak lupa kalau belum ngawedar kitab 169, tuh buktinya sekarang saya sudah berhasil mengunduhnya… Terimakasih Nyai Seno untuk tidak melupakan kami, selamat sejahtera…

  36. Matur nuwun

  37. Makasih Nyi Seno…..
    Lateung …Weeeek

  38. terima kasih, nyi seno. trenyuh bener sy membaca permohonan maaf nyi senopati.

    buat sy yg hingga saat ini masih belum bisa aktif membantu dan cuma bisa menikmati rontal, rasa-rasanya di telinga terdengar seperti permohonan maaf dari seorang ibu kepada anaknya.

    Dunia ini memang seperti kebalik-balik Nyi.

    Juga persepsi banyak orang terhadap isi cerita ADBM karya SHM ini; setidaknya sy yg setelah sampai di ADBM 169 ini kayaknya jg mulai susah membedakan mana yang khayalan dan mana yang terjadi beneran dalam sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam.

    salam

  39. Asyikk….pagi-pagi sudah dapat sarapan rontal nomor 169. Thank you very much ki GD dan Senopati.

  40. permohonan maaf menyatakan betapa sereh nya hati nyi senopati, yg sebenarnyalah kita para cantrik yang harus mohon maaf terhadap nyi seno yg tiap hari menyuruh buru2, semoga berkah dan selamat menyertai nyi senopati selalu.

    lanjut…
    kemana tuh ki gringsing??.. apa lagi mata2i dari jarak jauh.., kasian ki juru udah kolaps dengan ilmunya kakang panji.., konon pertempuran berikut akan merupakan puncak pertempuran dalam perang mataram-pajang ini, maka dengan berdebar kita nantikan kitab selajutnya…


    ngantor.., telat.untung anak buah bisa dikibulin.
    mau urusan ke bank.., dikensel aja besok.
    mau ke bengkel service mbl, ah masih bisa besok2 juga
    ada klien yg mau ketemu pagi.., disuruh ntar sore aja..
    masih pagi.., cuaca dingin.., kayaknya masih macet.., enaknya baca adbm dulu, biar tambah elmu hadapi orang…
    ya…. semua berasal karena adbm keluar pagi.., penasaran, baca dulu, baru kerja….
    hehehehehe
    salam..

  41. jempling pisan euy…
    keur garawe?…
    paling oge keur maraca adbm, sabari nyumput..
    bener2 ieu mah nyi seno nebarkeun racun…, heu heu heu……

  42. Sampun di unduh.
    Matur suwun, Nyi Seno…

  43. SEJENAK kemudian, maka kedua pasukan itupun telah berbenturan. Senjata-senjata yang merundukpun mulai berdentangan. Kedua belah pihak telah menempatkan orang orang terbaik di garis pertama dari kedua pasuakn itu. Namun ternyata bahwa sejak benturan pertama, orang-orang Pajang mulai menyadari, bahwa pasukan Mataram bukannya pasukan yang dengan tergesa gesa disusun setelah pecah bercerai berai. Namun pasukan Mataram yang mereka hadapi, masih juga pasukan yang mereka hadapi di tebing Kali Opak. Masih tersusun dalam gelar yang utuh. Masih pula kekuatan yang terdapat pada sayap kiri dan kanan dari pasukan Mataram. Pertempuran yang dahsyat segera mulai membakar bulak bulak persawahan dan pategalan. Orang-orang Pajang yang semula berkerut karena mereka menganggap bahwa pasukan Mataram tidak lagi sebanyak pasukan di Kali Opak, terpaksa berusaha untuk menebar lagi, sebagaimana dilakukan oleh pasukan Mataram. Setelah benturan terjadi, maka ternyata pasukan Mataram yang berlapis itu berusaha untuk melebar dan menguasai sisi dari medan sebelah menyebelah. Namun sementara itu, sepasukan khusus yang kuat meskipun hanya sekelompok kecil dari kekuatan orang Pajang telah melingkari ujung-ujung pertempuran. Mereka ingin menyelinap ke belakang garis pertempuran dan orang-orang Mataram untuk menemukan letak bende Kiai Becak. Mereka harus menghancurkan bende itu meskipun mereka harus bertaruh nyawa. Jika mereka berhasil, ma¬ka suara yang menjemukan itu tidak akan mempengaruhi medan lagi, sehingga orang-orang Mataram tentu akan berasa kecut. Perasaan yang demikian akan sangat berpengaruh bagi seorang prajurit di medan perang. Pasukan khusus terpilih itu, meskipun harus menempuh jarak yang terasa panjang, namun berhasil menyusup melingkari pasukan Mataram. Suara bende itu sendiri telah menuntun mereka untuk menemukan tempatnya. Meskipun suara angin kadang-kadang membuat suara bende itu seolah-olah berubah tempatnya. Namun akhirnya pemimpin pasukan khusus itu akhirnya menunjuk dengan pasti, “Bende itu berada di bawah potion Mahoni yang besar itu.” Para prajurit dari pasukan khusus terpilih itupun segera mempersiapkan diri. Senjata mereka telah terhunus dan bergetar di dalam genggaman. Perlahan-lahan kelompok kecil itu maju. Mereka berusaha untuk dapat menyergap dengan tiba-tiba, sehingga mempersempit kesempatan para pengawal ben¬de itu untuk mempersiapakn diri, menghadapi mereka. “Tetapi kitapun harus menyadari, bahwa bende yang dikeramatkan itu tentu mendapat pengawal yang baik.” berkata Senapati yang memimpin sekelompok pasu¬kan khusus terpilih itu. Yang lain mengangguk-angguk. Namun bagi mereka, tidak ada lagi yang dapat menggetarkan jantung mereka. Mereka sudah menyerahkan hidup mati mereka kepada tugas yang harus mereka lakukan. Dengan kesetiaan seorang prajurit dari pasukan khusus, maka mereka tidak akan mundur sebelum tugas mereka selesai. Atau, jika mereka gagal, maka hanya nama mereka sajalah yang akan kembali ke pasukan induk mereka. Dengan wajah yang tegang, sekelompok prajurit dari pasukan khusus yang terpilih itu merayap semakin dekat. Mereka pun kemudian yakin, bahwa bende itu memang berada di bawah pohon Mahoni yang besar. Semakin dekat, maka merekapun mulai melihat beberapa orang yang mengawal bende itu. Tidak terlalu banyak, sehingga Senapati itu berdesis, “Jumlah kita ter¬nyata terlalu banyak untuk memusnakan orang-orang Mataram yang bodoh itu.” “Tetapi tempat ini tidak terpisah terlalu jauh dari medan. Mereka akan dapat mengharap bantuan dari para prajurit Mataram yang berada di medan. Dengan isyarat mereka dapat memanggil beberapa orang prajurit untuk membantu mereka.” sahut seorang kawannya. “Namun sementara itu, mereka sudah musna terbantai di bawah pohon Mahoni itu. Bende itupun telah kita hancurkan dan tidak mungkin dapat berbunyi lagi.” jawab Senapatinya. “Ternyata ceritera tentang bende itu benar-benar ngaya wara. Ada yang mengatakan, bahwa sumber suara itu dapat berubah-ubah tempat. Namun ternyata kita langsung dapat menemukannya.” desis seorang prajurit. “Kebohongan besar yang mentertawakan.” sahut Senapati yang memimpin pasukan itu, “memang pengaruh angin kadang-kadang dapat menyesatkan pendengaran kita. Tetapi telinga yang baik tidak akan dapat ditipu lagi.” Senapati itu berhenti sejenak, lalu, “cepat. Kita sudah siap.” Pasukan kecil itu telah bersiap-siap. Sejenak kemudian, maka jatuhlah perintah. Merekapun segera berloncatan dan berlari menuju ke sebatang Mahoni tua yang tumbuh di tengah-tengah bulak di antara semak-semak yang tumbuh disebuah bukit kecil. Kedatangan prajurit khusus itu benar benar mengejutkan. Sekelompok pengawal yang tidak siap, tiba-tiba saja telah berloncatan berlari meninggalkan sebuah bende yang tergantung pada sebuah goyor kecil yang sudah terlalu tua. Sikap para pengawal bende itu justru sangat mengejutkan. Beberapa orang prajurit Pajang sudah siap mengejar mereka yang berlari kearah medan. Namun Senapatinya segera mencegahnya. Katanya, “Jangan terpancing masuk kedalam api. Kita selesaikan tugas pokok kita. Bende ini kita hancurkan.” Prajurit-prajurit Pajang itu mengurungkan niatnya mengejar beberapa orang pengawal yang berlari kearah medan. Nampaknya orang-orang Mataram itu ingin mencari perlindungan di antara para prajurit di medan. Karena itu, maka yang mereka lakukan kemudian adalah menghancurkan bende itu. Bende tua yang tergan¬tung pada sebuah gayor yang tua pula. Yang sebagian dari ukirannya sudah rusak dan sunggingnyapun telah hampir hilang. Ketika beberapa orang diantara mereka ragu-ragu, pemimpin kelompok kecil itu berkata, “Bende ini sama sekali tidak bertuah. Jangan takut. Tidak akan ada akibat apapun juga.” Dengan pedang mereka telah menghancurkan gayor tempat bende itu tergantung. Kemudian dengan bindi dan batu-batu besar, mereka memecahkan bende kecil yang sudah tua itu, sehingga hancur sama sekali. “Kita sudah melaksanakan tugas kita dengan baik.” berkata Senapati itu, ”bawa bende yang rusak itu sebagai bukti, bahwa kita sudah melakukannya.” “Lalu, apakah yang akan kita lakukan ?” bertanya salah seorang diantara mereka. “Kita kembali ke induk pasukan.” jawab Senapati itu, “jangan sia-siakan waktu. Ternyata tugas kita jauh lebih mudah dari yang kita duga. Yang kita persiapkan ternyata tidak dapat kita pergunakan. Orang-orang Mata¬ram terlalu licik dan pengecut. Aku kira, sebuah bende yang dikeramatkan itu, tentu dijaga oleh pasukan yang terpilih, sebagaimana kita terpilih untuk melakukan tugas ini.” Pasukan kecil itupun tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka sempat melihat dari kejauhan, bahwa pertempuran telah membakar bulak dan pategalan. Sorak sorai mulai menggetar dan menyentuh langit. Demikianlah pasukan kecil itupun segera melingkar, kembali ke induk pasukan. Sementara itu, suara bende yang menjemukan itupun telah tidak terdengar lagi. Yang terdengar adalah dentang senjata beradu. Sorak para prajurit dan kadang-kadang teriakan para Senapati yang memberikan aba-aba kepada pasukannya yang disambut dengan suara gemuruh dan gegap gempita. Dalam pada itu, api yang memusnakan beberapa-padukuhanpun menjadi semakin surut. Tetapi asapnya masih mengepul kehitam-hitaman. Pepohonanlah yang kemudian mulai terbakar diantara debu yang menghambur. Tetapi api tidak dapat membakar pepohonan semudah membakar rumah yang berdinding bambu dan berangka kayu. Apalagi yang beratap ilalang atau ijuk. Karena itu, yang nampak kemudian dari kejauhan bukan lagi lidah api yang menjilat awan, tetapi asap kehitaman yang mengepul tinggi. Ketika angin kemudian bertiup, maka asap itupun terguncang dan pecah berserakan. Dalam pada itu, sekelompok prajurit pilihan yang menghancurkan bende yang suaranya sangat mengganggu itu telah sampai ke induk pasukannya. Senapati yang memimpin sekelompok prajurit itupun segera menghadap salah seorang kepercayaan kakang Panji yang telah memberikan perintah kepadanya untuk menghancurkan bende itu. “Bagus.” gumam kepercayaan kakang Panji itu, “ternyata bende itu bukan bende yang bertuah. Dengan rnudah kau menghancurkannya tanpa akibat apapun juga.” “Sejak semula aku sudah tidak percaya, bahwa ben¬de itu memiliki kekuatan yang dapat berpengaruh atas seseorang.” jawab Senapati itu, “seandainya ada juga orang yang dapat dipengaruhinya, orang itu tentu bukannya aku.” “Bagus.” jawab kepercayaan kakang Panji, “aku tidak memerlukan bangkai bende itu. Aku akan melaporkan hasil tugasmu.” Kepercayaan kakang Panji itupun kemudian mencari kakang Panji di medan. Ternyata kakang Panji masih berada di lapisan belakang. Ia masih belum turun langsung ke tengah-tengah arena. “Bende itu sudah dihancurkan. Bangkainya dibawa kembali oleh kelompok yang aku tugaskan menghancurkannya. Dan sekarang, suara bende itu sudah tidak terdengar lagi.” “Bagus. Aku sekarang dapat memusatkan perhatianku kepada orang-orang yang aku perlukan. Aku akan berhubungan dengan Ajar Jatisrana agar tugas tugasku cepat selesai.” berkata kakang Panji. Dalam pada itu, kepercayaan kakang Panji itupun kemudian menarik diri. Ia memang menempatkan dirinya sebagai penghubung antara kakang Panji dengan orang-orang yang diperlukannya. Namun dalam pada itu, selagi Senapati yang memim¬pin sekelompok prajurit pilihan itu sedang menikmati kemenangannya sebelum mereka memasuki medan, ter¬nyata mereka telah dikejutkan oleh bunyi yang tiba-tiba saja melengking memecah hiruk pikuk pertempuran. Bu¬nyi bende yang meraung-raung. Justru lebih keras dari suara bende yang telah dihancurkannya. “Gila.” geram Senapati itu, “permainan apa lagi yang dilakukan oleh orang-orang Mataram.” Suara bende itu benar-benar mengejutkan bukan saja kepercayaan kakang Panji dan seluruh prajurit dalam kelompok kecil yang telah menghancurkan bende itu. Tetapi juga kakang Panji. Bahkan dengan garang kakang Panji itu menggeram, “Gila. Orang-orang itu mencoba mempermainkan aku.” Namun akhirnya kakang Panjipun menyadari, bahwa orang-orang Mataram bukan orang-orang dungu. Bahkan mereka justru telah mengelabui orang-orangnya. “Ternyata yang dibunyikan itu bukan sebenarnya bende Kiai Becak, meskipun bende yang, disebut Kiai Becak itu tentu juga berada di medan.” geram kakaim Panji. Karena itu, kakang Panji tidak menghiraunkan lagi bunyi bende yang seakan-akan justru menjadi semakin keras dan seolah-olah nada yang terlontar mengandung ejekan atas kebodohan beberapa orang prajurit Pajang. Namun telinga kakang Panji rasa-rasanya telah menjadi kebal. “Aku tidak peduli meskipun bunyi bende itu akan memecahkan langit sekalipun.” geramnya. Tetapi berbeda dengan kepercayaan kakang Panji itu. Ia telah menemui Senapati yang memimpin sekelompok prajurit pilihan dan merasa telah berhasil memecahkan bende itu. “Apa katamu sekarang ?” berlanya kepercayaan kakang Panji. “Orang-orang Mataram memang licik.” jawab Senapati itu, “aku akan sekali lagi pergi ke belakang pasukan Mataram.” “Kau sangka bende yang dibunyikan itu bende Kiai Becak yang sebenarnya ?” bertanya kepercayaan kakang Panji. “Meskipun bukan, tetapi aku akan berusaha menangkap satu atau dua orang di antara mereka. Dari mulut mereka, aku ingin mendengar, di mana bende yang sebenarnya itu disimpan.” jawab Senapati itu. Kepercayaan kakang Panji itu mengangguk angguk. Katanya, “Lakukan. Tetapi jangan hancurkan bende itu. Bawa bende itu kemari. Utuh. Kitalah yang kemudian akan membunyikannya. Tetapi ingat, jangan tertipu lagi.” Senapati itu mengangguk Namun iapun kemudian menggeram sambil berkata, “Aku akan menangkap orang-orang gila itu. Aku akan memeras darah mereka sampai kering jika mereka tidak mau menunjukkan letak bende yang sebenarnya.” Dengan kemarahan yang menghenlak hentak di dada, Senapati itu telah memimpin kelompoknya kembali melingkari medan sebagaimana pernah dilakukan. Kemarahan mewarnai kelompok itu, sehingga setiap orang di dalam kelompok itu menjadi semakin garang. Bahkan mereka seakan-akan menjadi buas dan tidak mempunyai niat lain, kecuali membantai korban mereka. Kecuali satu dua orang yang akan mereka paksa untuk mengatakan di mana letak bende yang mereka cari, meskipun akhirnya orang-orang itupun akan mereka bunuh juga. Dalam pada itu, pertempuran antara pasukan Mata¬ram dan pasukan Pajang itupun berlangsung semakin sengit. Orang-orang Pajang harus melihat kenyataan bahwa orang-orang yang mereka anggap memiliki kemampuan melampaui orang kebanyakan telah mendapat lawan mereka masing-masing. Tidak seorangpun diantara mereka yang dapat lolos dan sebagaimana mereka inginkan, membantai sebanyak-banyaknya. Karena di dalam pasukan Matarampun terdapat banyak orang yang memiliki kelebihan itu. Dengan demikian maka pertempuran itupun merupakan pertempuran yang semakin sengit. Masing-masing sudah sampai ke puncak usaha untuk menghancurkan lawan. Orang-orang Pajang yang kehilangan sasaran di tebing Kali Opak itu, dengan darah yang mendidih di dalam jantungnya, berusaha untuk menghan¬curkan orang-orang Mataram tanpa ampun. Namun orang-orang Mataram yang mengetahui kelicikan orang-orang Pajang, apalagi setelah mereka membakar pedukuhan-pedukuhan, maka merekapun menjadi sangat marah, sebagaimana para pemimpin dari Mataram. Namun sementara itu, Raden Sutawijaya masih tetap berada di belakang medan. Dengan cermat ia mengamati pasukannya. Bukan saja dari satu sayap. Tetapi kedua sayap yang kemudian bertemu, karena induk pasukan Mataram yang dipimpin oleh Ki Juru tidak berada di garis pertempuran itu. Mereka menarik diri surut ke Barat. Mereka harus menahan pasukan Pajang, apabila pasukan Pajang itu akan langsung menuju ke Mataram. Sementa¬ra pasukan Raden Sutawijaya akan menahan pasukan Pajang itu dari belakang. Tetapi Raden Sutawijaya ter¬nyata tidak dapat menahan diri ketika ia melihat api yang membakar padukuhan-padukuhan kecil dilintasan pasu¬kan Pajang. Yang bertempur di medan semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah mendapatkan kemenangan-kemenangan kecil sehingga merekapun te¬lah bersorak-sorak bagaikan membelah langit. Namun disamping kemenangan-kemenangan kecil merekapun mengalami kesulitan-kesulitan yang harus mereka atasi. Orang-orang terpilih dari Pajang harus menghadapi kenyataan, hadirnya orang orang Mataram seperti Ki Waskita, Kiai Gringsing dan seorang anak yang memiliki kecepatan gerak bagaikan sikatan menyambar bilalang. Glagah Putih yang bagaikan anak kijang lepas di padang rumput, telah mempergunakan kesempatan itu untuk benar-benar menalai dirinya. Sementara disayap lain, seo¬rang Senapati muda yang bemama Sabungsari memiliki kemampuan melampaui Senapati-senapati lawannya. Bahkan putera Ki Gede Pasantenan mulai menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Bahwa ia adalah putera Ki Gede yang memiliki sumber perguruan sama dengan Ki Gede Pemanahan. Yang saat itu tidak nampak di medan justru Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Oleh Raden Sutawijaya keduanya mendapat tugas tersendiri yang tidak kalah gawatnya de¬ngan mereka yang berada di medan pertempuran. Semen¬tara itu beberapa Senapati pilihan yang lain, mempunyai tugas khusus mengawal orang orang yang terluka di padukuhan yang tidak terlalu jauh dari medan. Sementa¬ra itu, Ki Gede Menoreh dan Swandaru sudah menjadi semakin baik, sementara Agung Sedayu masih harus tetap berbaring di pembaringan, meskipun keadaannya su¬dah menjadi semakin baik pula. Dalam pada itu, sekelompok pasukan khusus yang ter¬pilih, benar-benar telah melingkari medan menuju kebelakang garis pertempuran pasukan Mataram. Mereka de¬ngan marah berusaha untuk dapat menangkap satu atau dua orang yang menunggu bende yang sedang berbunyi itu. Karena merekapun yakin bahwa bende itu bukan ben¬de Kiai Becak yang sebenarnya. Sementara itu, di belakang garis pertempuran pasu. kan Mataram, Untara sedang sibuk memberikan petun-juk-petunjuk kepada Pandan Wangi dan Sekar Mirah ber-sama beberapa orang pasukan khusus yang terpilih pula. Dari orang-orang yang sengaja melarikan diri ketika pasukan khusus Pajang menyergap para pengawal bende yang mereka sangka Kiai Becak, Untara mendapat gambaran jumlah dan kekuatan pasukan itu. Karena itu, maka ia telah mengatur jumlah orang yang menurut perhitungannya akan dapat mengimbangi pasukan khusus dari Pajang itu. Sementara Untara telah menyediakan sebuah bende yang lain, yang sama sekali bukan Kiai Be¬cak. “Menurut perhitunganku, mereka akan kembali.” berkata Untara, “karena itu, maka Senapati Ing Ngalaga te¬lah memerintahkan untuk menjebak mereka.” “Apakah kami harus membinasakan mereka ?” bertanya Sekar Mirah. “Kalian harus mengalahkan mereka, tetapi tidak ha¬rus membunuhnya.” jawab Untara. Lalu dengan nada menurun ia meneruskan, “kecuali jika memang tidak ada jalan lain bagi keselamatan kalian sendiri.” Sekar Mirah mengangguk kecil. Ia mengerti tugas yang harus dilaksanakannya. Sementara itu, seorang pengawal terpilih masih saja sibuk membunyikan bende yang agak lebih besar dari bende yang telah dirusakkan oleh orang-orang Pajang. Karena itu suaranya terdengar semakin keras dan nyaring. Setelah memberikan beberapa perintah yang lain atas nama Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga, maka Untarapun telah meninggalkan bende itu, yang dibunyikan dibawah sebatang pohon gayam yang ti¬dak terlalu besar, tetapi disekitarnya tumbuh semak-se¬mak yang agak rimbun. Dalam somak snnak ltulah beberapa orang telah mengamati keadaan Setiap saat orang-orang Pajang akan datang merunduk mereka seperti yang telah terjadi. Namun saat itu. mereka tidak mendapat perintah un¬tuk melarikan diri sebagaimana beberapa orang penga¬wal yang terdahulu. Dalam pada itu, Sekar Mirah dan Pandan Wangi telah bersiap pula sebelah menyebelah bende itu, sementara beberapa orang pengawal terpilih berada di sekitarnya. Dengan jumlah yang telah diperhitungkan, maka mereka berharap bahwa mereka akan dapat mengalahkan orang-orang Pajang yang menurut Untara tentu akan da¬tang lagi. “Permainan yang mengasyikkan.” desis Pandan Wangi didalam hatinya. “Dalam keadaan yang gawat itu, Untara masih juga sempat bermain-main.” Dalam api pertempuran yang semakin menyala, ma¬ka sekelompok pasukan khusus Pajang menjadi semakin dekat dengan bunyi bende di bawah pohon gayam itu. De¬ngan hati-hati Senapati yang memimpin kelompok itu berkata, “Jangan kehilangan buruan lagi. Kita harus berpencar. Sebagian dari kita akan memotong mereka yang melarikan diri kearah medan. Satu atau dua orang harus tertangkap hidup-hidup. Jika semuanya terbunuh maka kitapun akan kehilangan sumber keterangan.” Seperti yang telah mereka lakukan, maka mereka¬pun dengan sangat berhati-hati mendekati sasaran. Suara bende itu telah menuntun mereka pula sebagaimana yang terdahulu. Namun Senopati itu masih sempat memperingatkan. “Hati-hatilah. Mungkin mereka sekarang akan menyambut kedatangan kita, mereka agaknya memperhitungkan pula beberapa kemungkinan. Mungkin mereka sudah memperhitungkan pula bahwa kita akan kembali.” Para prajurit itu menjadi semakin berhati-hati. Sen¬jata mereka telah siap di tangan. Setiap saat senjata itu akan terayun dan mematuk kearah lawan Senopati yang marah itu ternyata tidak kehilangan perhitungan iapun menduga, bahwa orang-orang Mataram sengaja mempermainkan mereka. Karena itu, maka Senopati itupun menjadi semakin waspada menghadapi orang-orang yang mengawal bende itu. Namun dalam pada itu, para pengawas yang menunggu di sebelah menyebelah bende itu telah melihat kedatangan orang-orang Pajang yang merunduk-runduk diantara gerumbul-gerumbui perdu dan tanaman-tanaman di sawah. Karena itu, maka merekapun telah menggerakkan tali yang terentang antara mereka dan Pandan Wangi serta Sekar Mirah. Isyarat tali itu telah diteruskan oleh Pandan Wangi dan Sekar Mirah kepada para pengawal di sekitarnya. De¬ngan demikian maka merekapun segera mempersiapkan diri pula menghadapi segala kemungkinan. Orang-orang Pajang perlahan-lahan merayap men¬dekati bunyi bende di bawah sebatang pohon gayam yang tidak terlalu besar itu. Meskipun nampaknya tempat itu sepi-sepi saja selain bunyi bende yang melengking bagai¬kan memecahkan selaput telinga, tetapi Senopati itu sadar bahwa yang dihadapannya adalah ujung senjata. Dengan isyarat ia memerintahkan para prajuritnya untuk menebar. Kemudian, dengan tiba-tiba saja ia meloncat dan berteriak lantang memerintahkan pra¬jurit- prajurit untuk menyerang. Perintah itu memang mengejutkan orang-orang Mataram meskipun mereka sudah mengetahui bahwa prajurit prajurit Pajang telah datang. Namun bahwa seorang Senopati telah meloncat bangkit berdiri dengan mengangkat pedangnya sambil berteriak tidak terpikir-kan oleh mereka..Yang mereka duga adalah bahwa orang orang Pajang itu akan merunduk semakin dekat dan dengan tiba-tiba menyerang orang-orang Mataram tanpa melepaskan bunyi apapun juga. Prajurit-prajurit Pajang memang mampu bergerak cepat. Demikian aba-aba itu dilontarkan, maka seakan-akan mereka telah berada dihidung orang-orang Mataram, karena prajurit-prajurit Pajang itu tidak mau kehilangan. Sebagaimana telah diduga oleh Senopati Pajang yang memimpin sekelompok prajurit pilihan itu, maka orang-orang Mataram yang mengawal bende itu tidak lagi terbirit-birit menuju kemedan dan berlindung di dalam kekalutan pertempuran. Tetapi orang-orang Mataram yang mengawal bende itu, telah berloncatan pula dengan senjata ditangan. “Bagus,” geram Senopati pajang, “kalian tidak melarikan diri seperti kawan-kawan kalian.” Ternyata yang berdiri di hadapan orang itu adalah Pandan Wangi. Sambil menyilangkan sepasang pedang tepisnya ia menjawab, “Kami memang sudah menunggu kedatangan kalian.” “Satu permainan gila. Apa maksud kalian dengan tipu yang licik itu ?” bertanya Senopati Pajang. Pandan Wangi tersenyum. Katanya, “Dengan demikian kami dapat mengetahui, berapa banyak orang yang kalian pergunakan untuk mengurusi suara bende ini. Atas dasar kekuatan itu, kami menyiapkan orang-orang kami yang akan menghadapi kalian. Tidak perlu terlalu besar, karena tenaga kami yang lain kami pergunakan di medan yang sengit itu.” “Satu perpaduan antara kesombongan dan kelicikan.” geram Senopati Pajang, “sekarang yang aku hadapi adalah seorang perempuan. Kami memang sudah mendengar bahwa diantara orang-orang Sangkal Putung yang berpihak kepada Mataram, terdapat dua orang pengawal perempuan.” “Itulah kami berdua” berkata Pandan Wangi sam¬bil menunjuk Sekar Mirah. “Dan sekarang kalian dengan sombong menghadapi aku dan prajurit-prajuritku.” berkata Senopati itu. Lalu, “Sebaiknya kalian tidak usah terlalu banyak membuang tenaga. Menyerahlah. Aku sama sekaii tidak memerlukan bende itu, karena aku tahu, bahwa bende itu ialah bende palsu. Sama sekali bukan bende Kiai Becak yang keramat itu. Namun yang aku perlukan adalah keterangan tentang Kiai Becak yang sebenarnya. Dimanakah bende keramat itu disimpan.” “Aku tidak tahu. Tetapi tugasku adalah melindungi bende ini. Keramat atau tidak keramat.” jawab Pandan Wangi. Wajah Senopati Pajang itu menjadi merah. Dengan tegas ia berkata, “Sekarang dengar perintahku. Menyerahlah. Dan katakan kepadaku, di mana bende Kiai Becak yang sebenarnya disembunyikan. Dengan demiki¬an maka kalian akan selamat.” Namun dalam pada itu, seorang prajurit Pajang yang sudah tidak sabar lagi berkata, “Kita lakukan seperti yang kita rencanakan. Tidak ada yang pantas hidup dian¬tara mereka, kecuali dua orang atau satu orang saja yang kita anggap akan dapat menunjukkan di mana bende kiai Becak disembunyikan.” Kata-kata itu benar-benar menyakitkan hati Sekar Mirah, sehingga dengan serta merta ia menjawab, “Baiklah. Kitapun telah mendapat perintah untuk mempertahankan bende ini, tidak untuk membunuh. Tetapi jika hal itu tidak dapat dihindari, maka apaboleh buat.” “Perempuan yang tidak tahu diri.” geram prajurit itu, “seandainya kau mampu menguasai ilmu sampai lapis ketujuh, tetapi seorang perempuan dikodratkan untuk menjadi mahluk yang lemah. Karena itu, jangan banyak tingkah. Jika nasibmu baik, dan kau mau menyerah, maka kau berdualah yang akan tetap hidup diantara para pengawal bende itu.” “Ki Sanak,” sahut Pandan Wangi mendahului Sekar Mirah, “pimpinan kami telah mengukur kekuatan kami yang pantas untuk melawan sekelompok prajurit Pajang yang menyusup kebelakang garis pasukan Mataram. Karena itu, bukan tugas kami untuk menyerahkan diri.” Jawaban Pandan Wangi cukup tegas, sehingga Sena¬pati dari Pajang itupun tidak mau membuann waktu lagi. Dengan wajah yang tegang ia bergeser maju sambil ber¬kata, “Jika demikian, maka aku harus mengambil jalan lain. Ternyata kau adalah salah seorang yang keras kepala sehingga agaknya aku akan memilih orang lain yang pantas aku hidup untuk menjadi sumber keterangan tentang bende Kiai Becak yang sebenarnya.” Pandan Wangi tidak menjawab lagi. Tetapi sepasang pedang tipisnya yang bersilang telah tergetar. Dengan de¬mikian maka Pandan Wangi telah benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Sekeiap kemudian, maka Senapati itupun telah mem¬berikan isyarat kepada prajurit-prajuritnya. Mereka ha¬rus dengan cepat menghancurkan lawan mereka dan mensisakan satu atau dua orang yang akan mereka tangkap hidup-hidup. Para prajurit Pajang itupun segera berloncatan menyerang. Sementara Senapati yang memimpin kelompok itupun telah menyerang Pandan Wangi pula dengan garangnya. Pandan Wangi telah benar-benar bersiap. Karena itu, maka serangan Senapati itu dapat dielakkannya. Bahkan serangan berikut yang menyusul dengan cepatpun dapat dielakkannya pula. Dibagian lain, seorang prajurit itu mengayunkan pedangnya. Namun Sekar Mirah yang marah itu dengan serta merta telah menangkis langsung senjata lawannya dengan tongkat baja putihnya. Benturan yang keras tidak dapat dielakkan. Prajurit yang membentur langsung tongkat baja putih Sekar Mi¬rah itu sama sekali tidak menyangka, bahwa perempuan yang dihadapinya itu memiliki kekuatan yang luar biasa Karena itu pada benturan yang pertama, senjata prajurit itu telah terloncat dari tangannya. Prajurit itu terkejut bukan buatan. Apalagi ketika ke¬mudian ia melihat Sekar Mirah memandanginya dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan. Tetapi untung baginya, ketika tongkat baja Sekar Mirah mulai bergerak, seorang kawannya telah meloncat menyerang perempuan itu, sehingga Sekar Mirah harus berkisar menghadapinya. Tetapi prajurit yang menyerang kemudian itu menyadari apa yang telah terjadi dengan kawannya. Karena itu, maka ia telah membuat hitungan yang cermat. Ketika Se¬kar Mirah menangkis pula dengan tongkat baja putihnya, prajurit itu tidak membiarkan pedangnya berbenturan de¬ngan tongkat baja putih itu. Dengan cepat prajurit itu menarik serangannya, memutar pedangnya dan menyerang dengan ayunan mendatar. Geraknya cukup cepat, sehingga Sekar Mirah harus bergeser setapak untuk menghindarinya sementara ia mengayunkan tongkatnya menyilang di depan dadanya untuk menunggu serangan berikutnya. Namun dalam pada itu, prajurit lawan yang kehilangan senjatanya langsung pada benturan pertama itu te-lah berhasil memungut pedangnya. Kemarahan yang tiada taranya telah membakar dadanya. Perempuan itu te¬lah menyinggung harga dirinya. Bukan saja sebagai seo¬rang prajurit, tetapi juga sebagai seorang laki-iaki. Kare¬na itu dengan sorot mata membara prajurit itu telah mendekati Sekar Mirah sambil berkata, “Lepaskan perempu¬an itu. Aku akan menyincangnya sampai lumat.” Tetapi kawannya tidak segera melepaskannya. Namun jelas bagi prajurit yang baru saja kehilangan senjatanya itu, bahwa kawannya itupun telah terdesak. Pada langkah-langkah pertama, Sekar Mirah benar-benar ingin menunjukkan, bahwa orang-orang Mataram bukan orang-orang yang hanya mampu menyerah di medan perang. Prajurit dari pasukan khusus yang terpilih di Pajang itu menjadi heran. Perempuan Sangkal Putung itu mam¬pu mengimbangi kekuatan dan bahkan langsung mendesak kawannya. Namun sebenarnyalah prajurit Pajang itu tidak tahu, bahwa perempuan yang namanya Sekar Mirah itu adalah salah seorang dari mereka yang mempunyai wewenang melatih pasukan khusus Mataram yang berkedudukan di Tanah Perdikan Menoreh. Ternyata prajurit itu tidak mengingkari kenyataan yang dihadapinya. Karena itu, maka ia tidak berusaha menyingkirkan kawannya dan bertempur seorang diri. Bahkan ia pun kemudian menempatkan dirinya bersama dengan kawannya melawan Sekar Mirah. Tetapi kedua prajurit itupun menjadi benar-benar keheranan. Meskipun keduanya bertempur berpasangan, namun Sekar Mirah mampu mengimbangi kemampuan mereka berdua. Meskipun dengan demikian Sekar Mirah harus bekerja keras. Tongkat baja putihnya yang berkepala tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan itu berputar semakin lama semakin cepat. Dalam pada itu, Pandan Wangi bertempur seo¬rang melawan seorang menghadapi Senapati yang memimpin sekelompok prajurit pilihan dari Pajang yang menyusup kebelakang garis pertempuran pasukan Mataram. Namun iapun telah membentur kekuatan yang tidak diduganya. Ternyata perempuan dari Sangkal Putung itu memiliki kemampuan yang mendebarkan jantungnya. Sementara kelompok kecil itu bertempur melawan pa¬ra pengawal, seorang diantara orang-orang Mataram itu masih saja dengan tenang membunyikan bendenya. Jika semula ia sudah bersiap-siap untuk terjun kemedan per¬tempuran melawan orang-orang Pajang, maka ia telah mengurungkan niatnya ketika ia melihat, bahwa orang-o¬rang Mataram masih mampu menjaga keseimbangan ke¬kuatan meskipun ia sendiri masih belum ikut serta. Suara bende itu benar-benar menjemukan. Namun Se¬napati Pajang yang memimpin sekelompok pasukan kecil itu, agaknya dengan sengaja membiarkannya. Ia sama se¬kali tidak berusaha atau memerintahkan orang-orangnya untuk membungkam bende itu. “Biar saja, agar orang orang Mataram tidak mengetahui bahwa disini telah terjadi pertempuran. Jika bende itu masih saja berbunyi, mereka yang ada di me¬dan akan mengira bahwa bende itu masih belum terganggu.” Namun Pandan Wangi memang tidak mer asa perlu untuk memberitahukan kedatangan orang orang Pajang itu kepada induk pasukan Mereka telah mempercayakan orang-orang Pajang itu kepada Pandan Wangi, Sekar Mirah dan kawan kawannya. Sehingga karena ltu maka Pandan Wangipun akan berusaha untuk menyelesaikan persoalan itu bersama keiompoknya saja. Demikianlah pertempuran dua kelomok kecil itu terjadi di sekitar pohon gayam yang tidak begiu besar itu. Beberapa orang prajurit pilihan dari pasukan khusus di Pajang bertempur melawan beberapa orang dari pasu¬kan khusus dari Mataram. Keduanya adalah orang-orang yang terlatih dengan baik dan memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga karena itu, maka pertempuran itupun segera meningkat menjadi semakin sengit. Ternyata pertempuran kecil itu merupakan gambaran dari pertempuran yang besar induk pasukan. Kedua belah pihak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing sehingga kedua pihak menjadi saling mendesak. Senapati yang memimpin sekelompok kecil pasukan khusus itu ternyata benar-benar seorang Senapati yang tangguh. Dengan tangkasnya ia melawan pedang rangkap Pandan Wangi. Dengan loncatan-loncatan pendek ia berhasil menghindari setiap serangan. Bahkan kadang-kadang dengan kecepatan yang mengejutkan ia telah meloncat, menusuk dengan senjatanya di sela-sela putaran sepasang pedang lawannya. Namun Pandan Wangipun cukup cepat menanggapi serangan-serangannya, sehingga dengan demikian, maka Senapati itu tidak berhasil menyentuh lawannya dengan ujung senjatanya. “Perempuan celaka.” ia menggeram. Sebenarnyalah bahwa perempuan yang pernah didengarnya berasal dari Sangkal Putung itu memiliki kele-bihan. Bukan saja dari perempuan kebanyakan, tetapi para prajurit dari pasukan khususnya tentu tidak akan dapat mengimbanginya. Sementara itu jika sekilas ia sempat melihat dua orang prajuritnya bertempur melawan Sekar Mirah, maka hatinya memang menjadi berdebar debar. Adalah satu hal yang sangat mertarik, dua orang prajurit dari pasukan khususnya yang terpilih itu tidak segera dapat mengakhiri pertempuran melawan seorang perempuan saja. Tetapi dalam pada itu, kedua lawan Sekar Mirah itu¬pun menjadi sangat marah ketika usaha mereka untuk mengatasi perempuan itu tidak segera berhasil. Kedua¬nya merasa dirinya telah ditempa dalam satu lingkungan yang khusus. Karena itu, maka keduanyapun telah berusaha sampai ke puncak ilmu mereka. Dengan cepatnya mereka menyerang berpasangan. Ujung senjata mereka bagaikan arus banjir bandang yang menyerang tanpa ada henti-hentinya. Tetapi Sekar Mirahpun lincah seperti seekor burung sikatan. Kakinya seolah-olah tidak menyentuh tanah. Berloncatan melemparkan tubuhnya yang seakan-akan tanpa bobot. Dalam pertempuran yang semakin cepat, maka kedua orang lawannya telah memencar. Mereka berusaha untuk melawan Sekar Mirah dari dua arah. Dengan demi¬kian, mereka merasa bahwa mereka dapat memecah pemusatan perhatian perempuan itu. Tetapi Sekar Mirah memang terlalu garang bagi keduanya. Tongkat baja putihnya berputaran semakin cepat. Bagaikan segumpal awan putih tongkat baja itu melibat kedua lawannya. Kadang-kadang sinar kekuning-kuningan memancar bagai¬kan cahaya lidah api yang menyambar kedua lawannya berganti-ganti. Namun kedua lawannya itupun masih mampu mengelakkan serangan Sekar Mirah. Keduanya mampu bekerja bersama dengan baiknya. Jika serangan seorang diantara mereka dapat dielakkan oleh Sekar Mirah, maka ujung senjata yang lain telah menyerangnya pula. Berurutan, seakan-akan tidak memberikan kesempatan kepada Sekar Mirah untuk melawan serangan-serangan itu. Tetapi serangan-serangan itu tidak pernah berhasil menyentuh tubuh Sekar Mirah. Bahkan loncatan-loncatan Sekar Mirah yang menjadi semakin cepat dan panjang, kadang-kadang membuat lawannya bagaikan kehilangan sasaran. Namun dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja sebuah serangan telah menyambar salah se¬orang dari mereka sehingga dengan tergesa-gesa prajurit itu harus menghindar, sementara kawannya harus dengan cepat membantunya, agar orang yang menjadi sasaran serangan Sekar Mirah itu tidak mengalami kesulitan selanjutnya. Hanya dengan kerja sama yang baik, ternyata kedua orang prajurit pilihan itu mampu memperpanjang perlawanannya terhadap Sekar Mirah. Meskipun demikian, semakin lama Sekar Mirah rasa-rasanya menjadi sema¬kin cepat bergerak. Ketika Sekar Mirah meningkatkan penggunaan tenaga cadangannya, maka kakinyapun men¬jadi semakin cepat bergerak, sementara tongkatnya berputaran semakin cepat. Dalam sentuhan dan benturan senjata yang kemudian terjadi, maka terasa kekuatan Sekar Mirah menjadi semakin meningkat. “Anak iblis.” seorang diantara keduanya menggeram. Ada semacam kecemasan yang mencengkam hati. Keduanya masih belum melihat satu kesempatan untuk dapat mengalahkan perempuan dari Sangkal Putung itu. Bahkan rasa-rasanya keduanya ketinggalan semakin lama semakin jauh. Sekali-sekali Sekar Mirahpun sempat melihat Pandan Wangi yang bertempur melawan seorang Senapati yang bertugas memimpin sekelompok pasukan khusus itu. Namun, dalam kesibukannya sendiri, Sekar Mirah tidak sempat menilai, apa yang dapat terjadi atas Pandan Wangi itu. Namun Sekar Mirah masih belum mencemaskan, karena rasa-rasanya keadaannya masih belum sampai kepada tingkat yang berbahaya. Namun dalam pada itu, yang terjadi disekitar kedua perempuan itu memang agak berbeda. Dalam benturan puncak kemampuannya, maka prajurit dari pasukan khusus Pajang masih mempunyai harapan yang lebih besar. Meskipun orang-orang Mataram itupun adalah orang-orang pilihan, namun ternyata bahwa mereka mengakui, bahwa prajurit Pajang, memili¬ki pengalaman yang lebih luas dari mereka. Dalam pada itu, agaknya orang-orang Mataram ter¬lalu percaya kepada pasukan khususnya, sehingga Mata¬ram tidak memberitahukan jumlah yang lebih besar dari jumlah orang-orang yang mereka perkirakan akan datang kembali setelah mereka berhasil merampas bende yang pertama, kecuali seorang yang masih dengan tenangnya memukul bendenya dan seorang lagi yang menungguinya. Sementara seorang yang lain berdiri di belakang orang yang sedang memukul bende itu untuk melindunginya. Selebihnya telah terlibat dalam pertempuran seorang melawan seorang dengan para prajurit dari Pajang, ke¬cuali Sekar Mirah yang bertempur melawan dua orang lawan. Nampaknya kekurangan pada orang-orang Mataram itu dapat dilihat oleh Sekar Mirah. Namun sementara itu, ia masih harus menghadapi dua orang lawan yang mampu bekerja bersama dengan sebaik-baiknya. Meskipun demikian, Sekar Mirah adalah salah se¬orang yang ikut menempa pasukan khusus dari Mataram. Ia adalah satu-satunya murid Sumangkar. Dan ia adalah orang yang menerima senjata dari Sumangkar yang memiliki ilmu yang bersumber dari perguruan yang sama dengan Patih Mantahun yang namanya menggetarkan Pajang pada waktu itu. Sehingga banyak orang yang menganggap bahwa orang yang memiliki tongkat baja putih dengan kepala tengkorak yang berwarna keku¬ning-kuningan itu mempunyai nyawa rangkap. Namun dalam pada itu, prajurit-prajurit dari pasukan khusus Pajang perlahan-lahan dapat mendesak pasukan khusus Mataram yang lebih banyak bertahan. Satu-satu kemudian ternyata bahwa orang-orang Pajang itu memi¬liki ragam permainan senjata yang lebih banyak, se¬hingga kadang-kadang orang-orang Mataram menjadi agak kebingungan. Tetapi orang-orang Mataram itu adalah para peng¬awal yang mengalami latihan-latihan yang sangat berat. Karena itu, desakan orang-orang Pajang yang memiliki beberapa kelebihan itu tidak dengan segera dapat mematahkan perlawanan orang-orang Mataram. Dengan sepenuh kemampuan dan ilmu yang ada, maka para pengawal dari Mataram itu memberikan perlawanan yang sengit atas lawan lawan mereka. Pandan Wangipun melihat kekurangan orang-orangnya. Sementara itu ia masih melihat tiga orang yang belum turun ke medan. Mereka merasa bahwa mereka sudah tidak mempunyai lawan lagi, karena jumlah mere¬ka lebih banyak, sehingga seorang diantara mereka masih saja membunyikan bende yang melengking-lengking. Justru karena itu, maka Pandan Wangipun harus membuat perhitungan yang cermat. Jika tiga orang yang berada disekitar bende itu kemudian turun pula ke medan, maka keadaannya tentu akan berbeda. Jika semula dua orang diantara mereka sudah siap untuk bertempur, namun akhirnya mereka kembali berada disebelah menyebelah bende yang masih saja dibunyikan itu, setelah mereka tidak melihat lagi lawan yang berdiri bebas. Tetapi Pandan Wangi tidak mau memberikan perin¬tah. Ia membiarkan saja apakah pengawal itu akhirnya akan menyadari keadaan. Kemudian turun kemedan per¬tempuran. Atau mereka terlalu percaya kepada kawan-kawannya tanpa memperhatikan keadaan disekitarnya. Tetapi agaknya pengawal yang berdiri di belakang orang yang sedang memukul bende itupun mengerutkan keningnya ia melihat kawan-kawnanya mengalami kesulitan. Meskipun mereka masih tetap melawan dengan gigihnya, tetapi setapak demi setapak mereka mulai terdesak surut. Bahkan ada diantara pengawal Mataram yang harus meloncat jauh, jauh menghindari serangan-serangan yang datang beruntun. “Ternyata kami harus mengakui kelebihan pasukan khusus Pajang yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Prabadaru. Menilik pakaiannya, maka orang-orang itu adalah prajurit prajurit dari pasukan khusus itu.” gumam pe¬ngawal itu. Sekali ia berpaling. Ia memang sedang melindungi pemukul bende itu, jika tiba-tiba saja seorang lawannya meloncat menusuknya dari belakang. Namun dalam pada itu ia berbicara dengan kawan¬nya yang lain, yang asyik menunggui Pengawal yang memukul bende itu, katanya, “Kau lihat keseimbangan pertempuran ini?” “Ya,” jawab kawannya, “meskipun harus melawan dua orang, tetapi Sekar Mirah teryata dapat mengatasinya.” “Kau hanya melihat Sekar Mirah saja?” bertanya kawannya. Yang berada di depan pemukul bende itu mengerutkan keningnya. Dengan jujur ia menjawab, “Ya, Aku kurang memperhatikan yang lain.” “Lihatlah dengan saksama.” berkata kawannya yang berdiri. Kawannya mulai memperhatikan seluruh arena per¬tempuran. Kemudian keningnya mulai berkerut. Jawabnya, “aku melihatnya. Ternyata kita masih terlalu lemah menghadapi prajurit-prajurit Pajang yang sebenarnya.” “Apakah kita aklan turun?” bertanya yang berdiri. “Kita tidak mempunyai lawan.” jawab yang lain. “Aku akan mengambil lawan Sekar Mirah yang se¬orang.” berkata yang berdiri. “Kau akan mengalami kesulitan seperti yang lain-lain.” jawab kawannya. “Tetapi aku segan bertempur berpasangan untuk melawan seorang. Karena itu, aku akan melawan salah seorang lawan Sekar Mirah.” geram yang berdiri, “meskipun aku akan mengalami kesulitan seperti yang lain-lain, tetapi Skar Mirah akan segera menyelesaikan yang seorang lagi. Dengan demikian, beruntun ia akan mengurangi jumlah lawan.” Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah. Kau atau aku.” “Aku. Kau awasi pemukul bende yang sibuk ini.” jawab yang berdiri, “aku akan pergi sekarang.” Pengawal itupun kemudian mengacukan senjatanya. Dengan langkah panjang ia mendekati arena pertempuran antara Sekar Mirah dan dua orang lawannya. Namun keragu-raguan telah tumbuh dihatinya, apakah Sekar Mirah akan melepaskan lawannya. Sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah tengah ber¬tempur dengan sengitnya. Perlahan-lahan Sekar Mirah mendesak lawannya meskipun ia harus melawan dua orang laki-laki. Dua orang prajurit dari pasukan khusus Pajang. Dalam kesulitan itu salah seorang dari kedua orang prajurit itu telah menggeram, “Perempuan celaka. Aku habisi nyawamu dengan cara seorang prajurit khusus.” Sekar Mirah mendengar geram itu. Namun hampir saja ia tidak berkesempatan untuk menghindar ketika dua buah pisau belati kecil menyambarnya. Untunglah bahwa ia masih cukup tangkas. Karena itu, kedua pisau itu meluncur tanpa menyentuhnya. “Inikah prajurit-prajurit dari pasukan khusus ?” bertanya Sekar Mirah dengan nada tinggi. Suaranya benar-benar menyakitkan hati. Apalagi setelah dua buah pisau belati yang meluncur dengan tiba-tiba itu tidak mengenai sasarannya. Dalam pada itu, pengawal yang bebas itupun telah mendekatinya. Dengan suara lantang ia berkata, “Aku melihat perkelahian yang tidak adil disini. Namun akupun melihat, bahwa dua orang prajurit dari pasukan khusus Pajang ini tidak banyak dapat berbuat, melawan Sekar Mirah. Karena itu, daripada kalian mati sebagai dua orang prajurit yang licik, sebaiknya kalian mati sebagai prajurit yang jantan. Marilah, aku memberi kesempatan kalian mati dengan sebutan seorang prajurit laki-laki yang tangguh.” Sekar Mirah memandang pengawal itu sejenak. Na¬mun iapun ternyata dapat mengerti. Para pengawal Mata¬ram yang lain mengalami kesulitan. Dengan terlepasnya seorang lawannya, maka ia harus bertindak lebih luas daripada bertempur dalam keterikatan seperti itu. Karena itu, Sekar Mirah tidak mencegahnya ketika pengawal itu berdiri semakin dekat. Bahkan kemudian ia mulai mengganggu salah seorang lawan Sekar Mirah. “Lihat, aku tidak mempunyai lawan.” berkata pengawal itu, “tetapi aku segan bertempur berpasangan. Aku tidak mau bertempur berdua melawan seorang praju¬rit Pajang. Karena itu, satu-satunya kemungkinan bagiku adalah mengambil salah seorang diantara kalian untuk bertempur, agar kehadiranku disini tidak sia-sia.” Kedua orang prajurit Pajang itu menjadi berdebar-debar. Mereka menyadari sepenuhnya apa yang ter¬jadi. Namun merekapun melihat bahwa kawan-kawannya nampaknya mempunyai kesempatan lebih baik dari para pengawal dari Mataram itu. Namun bagaimanapun juga pengawal itu telah berha¬sil menyentuh harga diri prajurit-prajupit Pajang, semen¬tara merekapun melihat kemungkinan yang sebaliknya dari yang diperhitungkan oleh pengawal dari Mataram itu. “Jika satu atau dua orang prajurit mempunyai kesempatan menyelesaikan lawannya lebih cepat dari Sekar Mirah, maka kesempatan bagi Pajang akan menjadi semakin baik.” berkata prajurit itu. Karena itu, ketika pengawal dari Mataram itu menja¬di semakin dekat, maka seorang dari kedua prajurit yang bertempur melawan Sekar Mirah itupun dengan cepat meloncat keluar dari arena. Namun secepat itu pula, prajurit itu telah melemparkan pisau kecilnya kearah pengawal dari Mataram yang mendekatinya. Yang dilakukan itu demikian cepatnya, sehingga pengawal dari Mataram itu tidak mempunyai banyak kesempatan. Ia melihat pisau itu meluncur. Namun demikian tiba-tiba. Meskipun demikian ia tidak menyerahkan dirinya bulat-bulat menjadi sasaran pisau itu. Dengan segenap kemampuannya ia berusaha untuk berkisar dari arah sambaran pisau lawannya. Namun pisau itu masih sempat menyambar pundaknya. Pisau itu tidak menghunjam. Namun pisau itu telah menggores mengoyak kulitnya. Pengawal itu menggeram. Tetapi adalah satu kenyataan bahwa pundaknya telah terluka. Tetapi dengan demikian, kemarahan telah membakar jantung pengawal itu. Dengan tangkasnya ia meloncat mendesak maju. Ia tidak mau menjadi sasaran serangan serupa. Karena itu, maka ia justru harus bertempur da¬lam jarak yang lebih pendek. Namun dalam pada itu, justru karena ia mengerahkan kemampuannya, maka darah dipundaknya bagaikan terperas. Semakin lama menjadi semakin cepat mengalir lewat mulut lukanya. Dalam pada itu, prajurit Pajang itupun tertawa. Katanya, “Kau memang bernasib buruk. Kau mengantarkan nyawamu. Betapa mudahnya membunuhmu sekarang.” Tetapi pengawal itupun menggeram. Ia tidak mau menyerah. Karena itu maka ia justru meloncat menyerang dengan senjata teracu. Namun dengan demikian, darahpun menjadi semakin banyak mengalir. Bagaimanapun juga, selain perasaan pedih yang menggigit, terasa kekuatan pengawal itupun menjadi susut. Namun dalam pada itu, ia masih sempat melihat prajurit Pajang itu sekaii lagi memungut pisau kecil pada ikat pinggangnya justru dengan tangan kirinya. Pengawal itu masih sempat meloncat menghindari sambaran pisau kedua yang hampir saja melubangi dadanya. “Kau masih tangkas juga menghindar.” geram prajurit Pajang. Kata-katanya terputus, karena pengawal yang terluka itu meloncat maju sambil menjulurkan senjatanya kearah mulutnya. Dalam pada itu, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Arena yang kecil itu ternyata menggambarlkan betapa serunya pertempuran antara orang-orang Pajang dan Mataram. Di medan perang yang besar, pasukan Mataram telah menahan gerak pasukan Pajang yang kuat dan marah. Para Senapati Pajangpun tidak banyak dapat berbuat, karena para Senapati dari Mataram mampu mengimbanginya. Di arena kecil, dekat sumber suara bende yang masih saja mengaum itu, Pandan Wangi bertempur melawan seorang Senapati terpilih dari pasukan khusus Pajang. Namun betapapun tinggi kemampuan Senapati itu, akhir¬nya menjadi bingung menghadapi Pandan Wangi yang mulai mengembangkan ilmunya yang semula kurang dikenalnya. Dalam puncak benturan ilmu, maka ilmu itu¬pun telah terungkap kembali. Perlahan lahan Pandan Wangi yang mulai mengenal kemampuan diri itu dengan sadar telah mengetrapkan ilmunya itu. Dengan demikian maka ujung sepasang pedangnya, seolah-olah mampu bergerak lebih cepat dari geraknya yang sebenarnya. Senapati pasukan khusus Pajang itu tidak segera menyadari apa yang sedang dihadapinya. Ketika pedang Pandan Wangi terjulur, maka dengan tangkasnya ia telah menangkisnya. Namun, meskipun ia berhasil mengibaskan arah serangan pedang Pandan Wangi, namun terasa ujung pedang itu telah menggores kulitnya. Senapati itu meloncat surut. Dengan tegang ia mengamati senjata Pandan Wangi yang dengan langkah satu-satu dan pedang bersilang di dadanya, mendekati Senapati yang termangu-mangu. “Anak iblis.” geram Senapati yang mulai menitikkan darah dari tubuhnya itu, meskipun lukanya tidak dalam. Pandan Wangi sama sekali tidak menyahut. Tetapi kemudian sekali lagi ia dengan sengaja melontarkan kemampuannya. Dengan tangkasnya ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Senapati itu tidak menangkis serengan Pandan Wa¬ngi. Tetapi dengan cepat ia bergeser selangkah kesamping. Menurut perhitungannya ia telah keluar dari garis serengan lawannya. Namun sekali lagi ia terkejut. Terasa ujung pedang Pandan Wangi yang masih berjarak sejengkal dari tubuh¬nya itu telah mengenainya. Sebuah goresan tajam telah mengoyak kulit lengannya. “Gila.” geramnya, “aku telah berhadapan dengan ilmu iblis.” Namun dalam pada itu, Senapati itupun mulai yakin, bahwa ujung pedang Pandan Wangi mempunyai kemam¬puan melampaui kecepatan gerak pedang itu sendiri. Ternyata Senapati itu telah mengenal jenis ilmu seperti itu. Ia mengenal kemampuan serangan berjarak seperti yang dilakukan oleh Pandan Wangi, dan bahkan perkembangannya selanjutnya. Sebagaimana telah dimulai oleh Pandan Wangi bahwa ia mampu pula menyerang lawannya dari jarak beberapa langkah dengan tangannya yang seolah-olah melontarkan kekuatan. Namun kekuatan yang dapat dilontarkan oleh serangan Pandan Wangi de¬ngan cara yang demikian masih belum memadai untuk melawan orang-orang yang memiliki ketahanan tubuh yang tinggi. Karena itu, maka serangan Pandan Wangi di beratkan pada kemampuannya mempergunakan senjata yang seakan-akan mampu mendahului gerak wadagnya dan benar-benar mampu melukai lawannya. Dengan demikian maka Senapati Pajang itu telah mengerahkan segenap ilmunya pula. Ia mempergunakan segenap tenaganya untuk mendorong kecepatan geraknya, sehingga dengan kecepatannya itu ia mampu mengatasi kecepatan gerak serangan-serangan Pandan Wangi. Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua orang berilmu tinggi itu menjadi semakin sengit. Ternya¬ta bahwa Senapati pilihan dari Pajang itu meskipun sudah terluka, namun masih mampu mengimbangi ilmu Pandan Wangi. Karena itu, maka kedua orang itupun bertempur semakin cepat. Keduanya memiliki kelebihan yang mendebarkan. Sementara itu, Sekar Mirah telah kehilangan seorang lawannya. Dengan demikian, maka terasa tugasnya men¬jadi semakin ringan. Namun dalam pada itu, dengan jantung yang berdebaran ia melihat seorang pengawal yang telah terluka itu semakin terdesak. Bahkan bukan hanya seorang saja. Beberapa orang yang lainpun telah terdesak pula oleh lawan-lawannya, prajurit-prajurit terpilih dari pasukan khusus Pajang yang ternyata masih memiliki pengalaman yang lebih luas dari para pengawal. Hanya karena para pengawal itu telah mengalami tempaan yang luar biasa sajalah, mereka memiliki kemampuan untuk bertahan terhadap prajurit-prajurit pilihan dari Pajang itu. Dalam puncak kesulitan, pengawal yang terluka itu telah kehilangan harapan untuk dapat keluar dengan sela¬mat dari arena. Namun ia sudah dengan sengaja menempatkan diri melawan prajurit itu. Ia sama sekaii tidak menjadi ketakutan seandainya pedang lawannya itu menghunjam di dadanya. Namun yang membuatnya gelisah, bahwa usahanya itu seakan-akan menjadi sia-sia. Sekar Mirah tidak dengan cepat menyelesaikan lawannya yang sudah berkurang seorang itu dan membantu meringankan tugas para pengawal. Namun agaknya Sekar Mirah dapat mengetahui kesulitannya. Dalam keadaan yang palipg pahit, yang hampir saja merampas nyawanya, maka Sekar Mirah te¬lah bergeser mendekatinya. Dengan perhitungannya sendiri, Sekar Mirah tiba-tiba saja telah meloncat kedekat pengawal itu sambil berkata lantang, “Kita bertempur berpasangan. Biarlah kedua orang prajurit itu juga berpasangan.” Pengawal itu masih dicengkam oleh ketegangan. Ia masih melihat ujung pedang lawannya terjulur iurus kedadanya, sementara pedangnya bagaikan menjadi seberat bandul timah oleh kedudukannya yang sulit, kare¬na keseimbangannya yang kurang mapan. Namun tiba-tiba pedang lawannya telah membentur tongkat baja putih yang dengan cepat telah memotong serangan itu. Demikian kerasnya sehingga ujung senjata lawannya itu telah berkisar dan bahkan senjata itu ham¬pir saja terlepas dari tangannya. Sekar Mirah tidak membiarkan kesempatan itu berlalu. Dengan cepat ia bergeser dan sekaii lagi tongkatnya terayun. Dengan sengaja Sekar Mirah tidak menghantam leher orang itu sehingga patah, tetapi senjata Sekar Mirah terayun mendatar menghantam paha lawannya. Terdengar keluhan tertahan. Orang itu telah terlempar ke samping dan kemudian jatuh berguling. Dengan ce¬pat orang itu berusaha untuk bangkit. Namun demikian ia bangkit, maka iapun terjatuh sambil mengaduh kesakitan. Ternyata sentuhan senjata Sekar Mirah seolah-olah telah memecahkan tulangnya. Dalam pada itu, lawan Sekar Mirah sendiri telah memburunya. Dengan cepat orang itu menyerang Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah sempat menghindar. Bahkan dengan segenap kekuatannya, Sekar Mirah telah memu¬kul senjata lawannya, sehingga senjata itu telah terlempar beberapa langkah. Seperiti yang terdahulu, maka Sekar Mirah tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan cepat ia sekali lagi mengayunkan tongkat baja putihnya. Dan sekali lagi terdengar lawannya mengaduh. Ayunan tongkat baja putih Sekar Mirah telah menyambar kaki orang itu pula, sehing¬ga lawannya itupun telah jatuh terpelanting di tanah. Pengawal yang telah diselamatkan oleh Sekar Mirah itupun menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada beratia berkata, “Terima kasih.” Sekar Mirah tersenyum. Katanya, “Tugas kita belum selesai. Lihat, kawan-kawan kita mulai terdesak.” “Apa yang harus aku lakukan ?” bertanya orang itu. “Obati lukamu. Kemudian bantu kawan-kawanmu. Jangan segan bertempur berpasangan sebagaimana orang-orang Pajangpun tidak segan melakukannya. Aku sudah bertempur melawan dua orang.” jawab Sekar Mirah, “dalam pertempuran seperti ini, kita tidak perlu menempatkan diri selalu dalam perang tanding.” Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah ia memang segan untuk bertempur berpasangan, tetapi sebagaimana dikatakan oleh Sekar Mirah bahwa arena itu bukan arena perang tanding. Karena itu, maka orang itupun telah bergeser menepi, mendekati kawannya yang masih sibuk memukul bende untuk mengobati luka-lukanya. Sementara itu iapun berkata kepada kawannya yang lain, “Aku akan bertem¬pur berpasangan.” “Kau sajalah yang tinggal. Kau sudah terluka. Aku akan menggantikanmu.” berkata kawannya yang menunggui pemukul bende itu. Pengawal yang terluka itu tidak mencegahnya ketika orang itu kemudian berlari ke medan. Sekar Mirah yang telah kehilangan lawannya, telah memasuki arena pertempuran yang sengit diantara para pengawal dan para prajurit Pajang. Namun dengan demikian, maka kehadirannya itu akan mempunyai pengaruh yang sangat besar. Kemenangan Sekar Mirah telah menggetarkan hati para prajurit Pajang. Namun mereka adalah prajurit-prajurit pilihan. Untuk mengimbanginya, maka para prajurit itu bersama-sama telah meningkatkan segenap kemampuan mereka, agar mereka dapat mengalahkan lawan-lawan mereka dengan cepat. Namun para pengawalpun telah berusaha dengan segenap kemampuan mereka pula untuk mempertahankan diri, sehingga akan datang saatnya, Sekar Mirah mengambil lawan mereka satu demi satu, atau kawan mereka yang lain untuk bertempur berpasangan. Dalam pada itu, Pandan Wangipun telah sampai kepuncak kemampuannya pula. Sepasang pedangnya yang berputaran dan yang memiliki kecepatan melampaui ujud wadagnya, membuat lawannya menjadi gelisah. Bahkan semakin lama, meskipun tidak dengan serta merta, Pandan Wangi berhasil mendesak lawannya. Ketika Pandan Wangi, Sekar Mirah dan para penga¬wal sudah mulai menguasai lawan-lawan mereka, maka pertempuran di arena yang panjang antara pasukan Mata¬ram dan Pajang itupun menjadi semakin sengit pula. Namun dalam pada itu, pasukan Pajang yang dikerahkan bukan saja terdiri dari para prajurit dari pasukan khusus, tetapi juga dari kekuatan-kekuatan lain yang mendukung perjuangan Kakang Panji, ternyata mu¬lai menggelisahkan orang-orang Mataram. Prajurit-prajurit dari pasukan khusus yang semula di pimpin oleh Ki Tumenggung Prabadaru, memang memiliki kemampuan tempur yang tinggi. Sementara itu orang-orang yang hadir di pertempuran itu dari lingkungan di luar para prajurit Pajang, telah bertempur dengan cara mereka sendiri. Sementara prajurit-prajurit Pajang yang lain, dibawah pimpinan para Senapati yang sejalan dengan langkah Ki Tumenggung Prabadarupun telah ber¬tempur dengan sengitnya. Sebagaimana dikatakan oleh Kakang Panji lewatpara pengikutnya, bahwa jika hari itu mereka gagal menghan¬curkan orang-orang Mataram, maka perjuangan mereka akan menjadi semakin panjang. Karena itu, maka sege¬nap kekuatan harus mereka kerahkan. Mataram harus dihancurkan di medan yang berat di Prambanan itu. Ternyata Raden Sutawijaya yang mengikuti pertem¬puran itu dengan saksama, mulai dicemaskan oleh suasana di medan yang menjadi semakin sulit dikendalikan. Sorak yang kadang-kadang meledak, dentang senjata dan korban yang berjatuhan, membuat para prajurit dan pengawal di kedua belah pihak menjadi kehilangan pengamatan diri. Mereka tidak lagi sempat mengekang perasaan mereka yang meledak-ledak. Mereka tidak lagi berusaha untuk menghindarkan kematian atas lawan-lawan mereka yang sudah tidak berdaya. Apalagi orang-orang yang hadir di peperangan itu atas permintaan Kakang Panji bersama para pengikut mereka, diluar para prajurit Pajang sendiri. Mereka ternyata telah menjadi liar dan ganas. Dalam keadaan yang demikian, maka tidak ada pili¬han lain bagi Raden Sutawijaya daripada mempercepat penyelesaian pertempuran yang mengerikan itu. Meski¬pun benturan yang terjadi akan menjadi semakin dahsyat, tetapi dengan mempercepat penyelesaian, maka diharapkan korbanpun menjadi semakin berkurang. Bagaimanapun juga, Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu tidak dapat mengabaikan nilai jiwa seseorang, tanpa membedakan apakah ia kawan atau lawan. Karena itu, maka Raden Sutawijaya itupun akhirnya telah memerintahkan penghubungnya untuk menyampaikan perintah kepada induk pasukan yang dipimpin oleh Ki Juru untuk turun kemedan. Apalagi dengan satu keyaki¬nan, sesuai dengan pesan yang diterimanya dari Pangeran Benawa, lewat Aji Pameling, bahwa pasukan induk Pajang yang dipimpin oleh Kangjeng Sultan sendiri, tidak akan mungkin bergerak. Dan sebagaimana yang terjadi, maka di dalam pasukan Pajang itu tidak hadir pasukan in¬duk atau sebagian daripadanya. “Kita harus menyelesaikan pertempuran ini secepatnya, agar korban tidak menjadi semakin besar.” berkata Raden Sutawijaya, “sampaikan pesan ini kepada paman Juru Martani. Yang akan kita lakukan bukan satu pertem¬puran, tetapi justru untuk berusaha menyelamatkan jiwa sejauh dapat dijangkau.” Demikiarilah dua orang penghubung telah meninggalkan medan, untuk pergi ke induk pasukan Mataram yang justru masih belum tampil di medan. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Juru Martani itu, sejak meninggalkan pasanggrahan, telah mundur dalam garis lurus. Tidak menyibak sebagaimana kedua sayapnya. Se¬suai dengan pembicaraan antara para pemimpin Mata¬ram dalam waktu singkat sebelum mereka meninggalkan pasanggrahan, maka pasukan itu akan menghentikan pasukan Pajang jika pasukan itu mengikuti terus garis mundur pasukan Mataram. Sementara kedua sayapnya akan memukul pasukan Pajang itu dari belakang. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Raden Sutawijaya telah menggerakkan kedua sayap pasukannya sebelum pasukan Pajang itu membentur pasukan induk Mataram yang dipimpin oleh Ki Juru Martani, karena Ra¬den Sutawijaya tidak tahan melihat kekejaman orang-orang Pajang setelah mereka membakar rumah orang-orang yang tidak bersalah. Sementara itu pasukan yang dipimpin oleh Ki Jurulah yang akan menyerang pasukan Pajang itu dari belakang. Ketika perintah itu sampai kepada Ki Juru, maka Ki Jurupun dapat mengerti suasana dalam keseluruhan. Ki Jurupun melihat asap yang mengepul sampai menyentuh langit. Dan hatinyapun telah bergejolak melihat sikap orang-orang Pajang, meskipun Ki Juru mengerti, bahwa yang melakukan itu tentu bukan prajurit-prajurit Pajang yang sebenarnya. Apalagi atas perintah Kangjeng Sultan atau Pangeran Benawa. Namun agar pasukannya tidak melakukan kesalahan sehingga merusakkan rencana dalam keseluruhan, maka pasukan Ki Juru Martani telah menunggu perintah dari Raden Sutawijaya. Karena itu, setelah Ki Juru menerima perintah itu, maka iapun segera memerintahkan pasukannya untuk bersiaga sepenuhnya. Sebentar kemudian, maka iapun memerintahkan pasukannya untuk bergerak. Sebagaima¬na dikehendaki oleh Raden Sutawijaya, maka Ki Jurupun telah berpesan kepada pasukannya, agar mereka tidak kehilangan nalar dan tetap bersikap sebagai seorang kesatria. “Apapun yang dilakukan oleh lawan kalian, tetapi kalian harus tetap bersikap sebagai seorang yang beradab, seorang yang berpijak pada satu sikap yang telah menjadi pegangan kita, sikap seorang kesatria,” kemudi¬an, “kalian memang harus mempertahankan hidup kali¬an. Namun kalian tentu sudah mengetahui paugeran seo¬rang prajurit dimedan perang.” Sejenak kemudian, maka Ki Jurupun telah membawa pasukannya langsung menuju kemedan yang semakin la¬ma menjadi semakin dahsyat. Sementara itu, di belakang pasukan Mataram, Pan¬dan Wangi dan Sekar Mirah telah berhasil menguasai lawan mereka sepenuhnya. Beberapa orang prajurit Pa¬jang telah dapat dilumpuhkan, sementara para pengawa dari Mataram telah bertempur berpasangan. Sebagaimana prajurit Pajang, mereka tidak terikat kepada perang tanding seorang melawan seorang. Namun demikian, ketika para prajurit terpilih dari pasukan khusus itu sudah tidak berdaya, Senapati yang memimpin sekelompok prajurit itu masih bertempur melawan Pandan Wangi. “Menyerardah.” berkata Pandan Wangi, “kawan-kawanmu sudah menyerah dan yang lain telah terluka parah. Jika ada diantara mereka yang terbunuh, itu sama sekali bukan yang kami maksud. Tetapi dalam pertempuran mungkin saja seseorang kehilangan nyawanya.” “Persetan,” geram Senapati itu, “aku bukan pengecut.” “Baiklah,” jawab Pandan Wangi, “agaknya kau ingin bertempur sampai batas kemampuanmu yang terakhir.” “Aku akan membunuhmu,” Senapati itu hampir berteriak, “jangan menyesal.” Pandan Wangi tidak menjawab. Iapun meningkatkan serangannya untuk menekan Senapati yang tidak mau menyerah itu. Sekar Mirah dan para pengawal yang lain, telah berhasil menyelesaikan tugas mereka, telah mengerumuni arena pertempuran antara Pandan Wangi dan Senapati itu. Mereka melihat satu benturan ilmu yang mengagumkan. Pandan Wangi yang memiliki kemampuan yang sulit dimengerti semakin mendesak lawannya. Bahkan akhir¬nya lawannya itu tidak mampu lagi mengimbangi kecepatan gerak Pandan Wangi. Apalagi justru karena ujung pe¬dang Pandan Wangi seolah-olah mampu meloncat mendahului ujudnya. Selagi Pandan Wangi berusaha menyelesaikan tugasnya, maka tiba-tiba saja terdengar sorak yang mengguntur di medan perang yang tidak terlalu jauh dari arena pertempuran antara sekelompok kecil pasukan Pajang yang ingin mendapatkan bende Kiai Becak melawan sekelompok pengawal Mataram yang dipimpin oleh Pan¬dan Wangi dan Sekar Mirah. “Apa yang terjadi ?” bertanya Sekar Mirah kepada para pengawal. Para pengawal itupun saling berpandangan. Mere¬kapun tidak mengetahui apa yang telah terjadi di medan. Namun ternyata sorak yang bagaikan membelah la¬ngit itu telah mendebarkan jantung Pandan Wangi, justru karena ia tidak mengerti artinya. Karena itu, agar tidak terjadi sesuatu yang menyulitkannya, maka iapun segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera menyelesaikan pertempuran itu. Karena keadaan Senapati itu memang sudah sulit, ditandai dengan luka-lukanya yang tergores dibeberapa bagian dari tubuhnya, maka perlawanan Senapati itu semakin lama menjadi semakin lemah. Disaat-saat terakhir, Pandan Wangi telah mendesaknya sehingga Senapati itu berloncatan surut. Beberapa orang pengawal Mataram yang melingkari pertempuran itu telah menyibak. Mereka sengaja tidak ikut mencampuri perkelahian itu, karena merekapun ingin menunjukkan, bahwa Senapati Pajang itu bukan orang sang tidak terkalahkan. Bahkan melawan seorang perempuan Senapati itu tidak berhasil mengalahkannya. Sementara itu, para pengawal Mataram yang melihat kedatangan pasukan yang dipimpin oleh Ki Juru Martani itupun telah bersorak bagaikan meruntuhkan langit. De¬ngan kedatangan pasukan itu, mereka semakin yakin, bahwa mereka akan dapat memenangkan pertempuran itu. Namun dalam pada itu, orang-orang Pajang telah mengumpat-umpat. Kedatangan pasukan yang dipimpin oleh Ki Juru itu telah menambah kemarahan mereka, meskipun sebagian dari mereka menjadi berdebar-debar pula. Tetapi para prajurit khusus dari Pajang, menyambut kedatangan pasukan lawan itu dengan kemarahan yang mereka mulai mendesak orang-orang Mataram, maka dari arah belakang mereka, telah datang pasukan Mata¬ram yang akan dapat menikam punggung. Namun orang-orang Pajang itu tidak dapat ingkar. Mereka merasa berkewajiban untuk menghancurkan la-wan darimanapun arahnya. “Apakah orang-orang Mataram telah mendatangkan bantuan dari Mataram ?” bertanya seorang prajurit Pa¬jang. “Kau yang dungu.” jawab kawannya, “pada saat mereka menarik diri, ada sebagian diantara mereka yang mengambil lurus.” Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak ber¬tanya lagi. Sementara itu, yang jantungnya bagaikan meledak adalah kakang Panji. Ia melihat pasukan yang datang da¬ri arah belakang itu. Pasukan yang dapat diabaikan kekuatannya. Ketika pasukan Pajang sedang menghadapi ujung senjata dari dua arah, maka Pandan Wangi benar-benar telah menyelesaikan lawannya. Namun Senapati itu benar-benar seorang prajurit. Ia tidak mau menyerah meskipun t
  44. Nyambung karya Ki mahesa yang terpotong.

    Ketika pasukan Pajang sedang menghadapi ujung senjata dari dua arah, maka Pandan Wangi benar-benar telah menyelesaikan lawannya. Namun Senapati itu benar-benar seorang prajurit. Ia tidak mau menyerah meskipun tubuhnya telah tergores oleh luka silang menyilang. Baru ketika ia kehilangan kekuatannya dan jatuh terkulai, maka ia tidak lagi dapat melawan. Namun pada saat-saat terakhir, Senapati itu masih melemparkan senjatanya kearah Pandan Wangi. Namun dengan mudah Pandan Wangi dapat menghindarinya.
    “Urusilah mereka” berkata Pandan Wangi.
    “Apakah mereka harus dibunuh?” bertanya salah seorang pengawal.
    “Tentu tidak,” jawab Pandan Wangi, “maksudku, kumpulkan yang terluka dan yang terbunuh. Yang menyerah supaya mendapat pengawasan yang kuat.”
    “Kami telah mengikat tangan dan kaki mereka” ja¬wab seorang pengawal.
    “Tetapi hati-hatilah dengan mereka, kami akan pergi ke medan,” lalu katanya kepada Sekar Mirah,” bukankah tempat ini sudah dapat kami tinggalkan?”
    “Ya,” jawab Sekar Mirah, “sesuatu telah terjadi di medan. Aku mendengar sorak yang gemuruh”
    “Marilah” ajak Pandan Wangi. Lalu katanya kepa¬da para pengawal “Usahakan untuk mengobati yang luka-luka. Dan biarlah bende itu berbunyi terus. Jika ada sekelompok prajurit yang lain yang datang ke tempat ini dengan kekuatan yang tidak dapat kalian lawan, maka hentikan bunyi bende itu sebagai isyarat. Kami akan datang membantu kalian.”
    Sejenak kemudian, maka Pandan Wangi dan Sekar Mirah itu pun segera meninggalkan sekelompok pengawal yang telah berhasil menguasai lawan mereka menuju ke medan perang yang gemuruh.
    Pada saat yang demikian, pasukan yang dipimpin oleh Ki Juru Martani menjadi semakin dekat. Sementara itu, beberapa orang Senapati Pajang yang telah melihat kedatangan musuh dari arah yang berlawanan dari musuh yang sedang dihadapinya telah mempersiapkan pasukannya.
    Namun mereka mulai diganggu oleh pertanyaan, apakah kedatangan pasukan baru itu akan berarti kesulitan yang sulit diatasi.
    Dalam pada itu, ternyata kakang Panji sudah tidak sabar lagi. Ia tidak dapat lagi mempercayakan kemenangan pertempuran itu kepada pasukannya saja. Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa telah memanggil beberapa orang kepercayaannya yang terdekat.
    “Aku tidak mempunyai pilihan lain” berkata ka¬kang Panji.
    “Apa yang akan kakang Panji lakukan?” bertanya salah seorang kepercayaannya.
    “Aku tidak akan membiarkan keadaan tidak menentu ini kian berlarut-larut.” jawab kakang Panji, “aku harus mengakhirinya. Ternyata orang-orang yang aku harapkan akan dapat membantuku menyelesaikan per¬soalan ini telah terbentur pada orang-orang yang memiliki kemampuan seimbang, bahkan melampauinya. Beberapa orang telah terbunuh dan kini orang-orang yang disebut bernama Kiai Gringsing, Ki Waskita, putera Ki Gede Pasantenan dan beberapa orang lainnya telah sangat mengganggu rencanaku. Bahkan Agung Sedayu telah membunuh Ki Tumenggung Prabadaru.”
    “Apakah kakang Panji akan turun ke medan?” bertanya seorang kepercayaannya.
    “Ya. Aku akan menghadapi pasukan yang datang. Siapkan orang-orang kita yang khusus darn biar sebagian dari pasukan yang ada ikut bersamaku.” jawab kakang Panji, “sebagian dari pasukan khusus itu akan membantu kita. Perintahkan semuanya bersiap sekarang. Para Senapati akan dapat membagi diri sebaik-baiknya. Tetapi sebelumnya aku akan membuat mereka gemetar.”
    “Apa yang akan kakang Panji lakukan untuk menakut-nakuti mereka yang baru datang?” bertanya kepercayaannya.
    Kakang Panji menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Yang akan terjadi segera terjadilah. Aku akan mempergunakan puncak kemampuanku. Aku tidak perlu bersembunyi lagi. Semuanya akan segera berakhir. Aku akan menggempur pasukan yang pertama memasuki daerah jangkau kekuatanku.”
    “Seharusnya kakang Panji tidak menunggu sampai keadaan yang paling sulit. Jika sejak pertempuran ini kekuatan itu dipergunakan, maka perang ini tidak akan berkepanjangan.”
    “Aku tidak ingin dikenal dengan serta-merta” jawab kakang Panji, “tetapi aku tidak mempunyai cara lain. Prabadaru sudah mati. Meskipun aku sadar, bahwa pada pihak Mataram, ada juga orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Mungkin Sutawijaya sendiri, mungkin Ki Juru atau orang lain. Tetapi orang itu tidak akan mampu mengimbangi aku.”
    Orang kepercayaannya pun mengangguk-angguk. Sebagian dari mereka pun segera menyampaikan perintah kakang Panji kepada pasukan-pasukan yang tergabung dalam pasukan Pajang.
    Dengan demikian, maka para Senapati pun menjadi sibuk. Mereka telah membagi pasukannya. Sebagian dan mereka harus menghadapi pasukan Mataram yang baru datang dari arah yang berlawanan dengan pasukan Mata¬ram yang lain.
    Tetapi seperti yang diperintahkan kakang Panji, pasukan yang akan menghadapi pasukan yang baru da¬tang itu hanya sebagian kecil saja dari seluruh kekuatan mereka, agar pasukan Pajang itu tidak digilas oleh Pasukan Mataram yang terdahulu.
    “Aku tidak memerlukan pasukan yang terlalu kuat untuk menghadapi pasukan yang baru datang ini” berkata kakang Panji.
    Demikianlah, ketika pasukan Pajang bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan, maka Ki Juru dan pasukannya pun menjadi semakin dekat. Mereka mendengar orang-orang Mataram yang bertempur terdahulu telah bersorak dengan gemuruh. Ternyata bahwa sorak itu telah membesarkan hati mereka pula.
    Namun dalam pada itu, seorang yang menamakan dirinya kakang Panji telah berdiri tegak diantara beberapa orang kepercayaannya, sementara sebagian kecil dari pasukan Pajang telah bersiap pula menghadapi kehadiran Ki Juru Martani itu.
    Namun dalam pada itu, ternyata bahwa kakang Panji telah sampai kepada batas kesabarannya. Ia tidak mau la¬gi menunda waktu. Pertempuran yang terjadi itu sudah cukup lama, sementara kekuatan lawan justru bertambah banyak. Karena itu, jika ia tidak segera bertindak, maka pasukannya tentu akan dapat dikoyak dan dihancurkan oleh orang-orang Mataram. Bukan sebaliknya, sebagaimana yang diinginkannya bahwa pasukan Mataram harus hancur pada hari itu juga.
    Karena itu, maka kakang Panji itu pun telah memusatkan segenap kemampuannya. Ia ingin membuat pengeram-eram menghadapi pasukan Mataram yang baru datang, agar orang-orang Mataram itu menjadi kecut dan menyadari dengan siapa mereka berhadapan.
    Dengan demikian, maka ketika pasukan Mataram itu menjadi semakin dekat, maka kakang Panji itupun sudah menakupkan kedua telapak tangannya. Dipusatkannya ilmunya pada telapak tangannya itu. Sehingga ilmunya yang nggegirisi pun akan dapat memancar dari telapak tangannya itu.
    Pada jarak jangkau kekuatannya, maka kakang Panji itu pun telah menggerakkan tangannya, seakan-akan ia te¬lah menghantam sasaran. Namun sebenarnyalah kakang Panji telah melepaskan kemampuan ilmunya. Ia telah melontarkan kekuatan pukulan dari jarak yang jauh.
    Sebenarnyalah Ki Juru terkejut bukan buatan. Untunglah bahwa ia seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Demikian ia sadar, melihat sikap orang yang menunggu kehadiran pasukannya, maka ia pun telah bersiap-siap. Karena itu, ketika ia melihat gerak tangan orang yang menyebut dirinya kakang Panji, maka seakan-akan digerakkan oleh nalurinya, maka Ki Juru itu pun telah meloncat sambil berteriak “Cepat menghin¬dar.”
    Namun orang-orang yang berdiri di belakangnya terlambat bergerak. Mereka tidak sempat menghindari ketika tanah tempat Ki Juru berpijak itu bagaikan meledak. Untunglah Ki Juru telah melontarkan diri sehingga ia bebas dari bencana. Namun beberapa orang telah dengan sangat terkejut mengalami hentakkan kekuatan yang luar biasa, meskipun sasaran kakang Panji bukanlah mereka.
    Tiga orang telah terlempar dan jatuh berguling. Dua orang lainnya tergetar dan terdorong surut. Tiga orang yang terguling itu dadanya menjadi sesak, sehingga seakan-akan mereka tidak dapat lagi bernafas. Sementa¬ra dua orang yang terdorong surut untuk sesaat mereka telah kehilangan kesadaran.
    Dalam keadaan yang gawat itu, Ki Juru telah berteriak, “Cepat, capai garis benturan. Aku akan menghadapi orang itu.”
    Ki Juru berharap, bahwa setelah benturan terjadi, orang itu tidak akan mungkin dapat menyerang orang-orangnya dari jarak jauh, karena hal itu akan dapat mengenai orang-orangnya sendiri.
    Sementara itu, Ki Juru harus bekerja cepat untuk menghindarkan orang-orangnya dari kemungkinan yang paling buruk. Jika ia sendiri mampu menghindar, maka orang-orangnya lah yang akan mengalami kesulitan.
    Sebenarnyalah kakang Panji adalah orang yang garang. Ia tidak menghiraukan apapun juga untuk mencapai maksudnya. Dalam-benturan pertama itu ia ingin menun¬jukkan kepada orang-orang Mataram, bahwa mereka berhadapan dengan satu kekuatan yang tidak dapat mereka lawan.
    Karena itu, ketika ia gagal menghancurkan orang yang dianggapnya memimpin pasukan yang datang itu, maka ia telah mengulanginya. Tetapi kakang Panji tidak ingin serangannya gagal. Karena itu maka arah sasaran¬nya adalah justru para pengawal yang sedang bergejolak oleh serangannya yang pertama.
    Akibatnya memang mengerikan. Sekali lagi tanah tempat orang-orang Mataram berdiri itu meledak oleh kekuatan ilmu kakang Panji. Dua orang terlempar dan langsung jatuh tanpa dapat bernafas lagi. Ampat orang lainnya nafasnya bagaikan tersumbat dan tiga orang terpental dari tempatnya.
    Jantung Ki Juru bagaikan meledak melihat serangan-serangan itu. Orang itu akan dapat membunuh pengawal-pengawalnya. Karena itu, maka ia harus berbuat sesuatu, sementara para pengawalnya telah berlari menyerang, agar mereka segera berada dalam pertempu¬ran.
    Ki Juru yang ingin melindungi orang-orangnya itu telah memusatkan kemampuannya pula. Tetapi ia tidak mempunyai kemampuan menyerang seperti orang itu. Karena itu, maka Ki Juru pun telah menggapai sebuah tombak seorang pengawalnya. Yang dapat dilakukannya adalah memusatkan kemampuan ilmunya pada tangannya.
    Dengan kekuatan penuh Ki Juru itu telah melontarkan tombaknya langsung mengarah kepada orang yang memiliki ilmu yang mendebarkan jantung itu.
    Ki Juru yang tua ternyata masih dapat mengejutkan orang yang disebut kakang Panji. Meskipun Ki Juru tidak dapat melontarkan serangan sebagaimana dilakukan oleh kakang Panji, namun ternyata bahwa Ki Juru mampu mengumpulkan segenap kekuatan dan kekuatan cadangannya pada lontaran tombaknya. Bahkan kekuatan itu seolah-olah telah berpengaruh pada tombaknya itu sendiri.
    Karena itu yang terlontar itu bukannya sekedar tombak yang terdiri dari landean dan mata tombak yang runcing tajam, namun senjata itu seolah-olah telah memiliki kekuatan yang luar biasa, melampaui nilai sebuah tombak biasa.
    Dorongan kekuatan Ki Juru Martani benar-benar di luar dugaan kakang Panji. Tombak yang dilontarkan dengan landasan segenap kekuatan ilmunya itu meluncur dengan kecepatan yang sulit dimengerti.
    Ternyata bahwa Ki Juru Martani untuk sesaat merampas perhatian kakang Panji. Tombak yang meluncur itu demikian cepatnya, sehingga kakang Panji tidak dapat mengabaikannya.
    Karena itu, maka kakang Panji itu pun telah mengerahkan kekuatannya untuk menghadapi tombak yang meluncur kearahnya. Dengan satu lontaran kekuatan, maka kakang Panji telah menyerang tombak yang mengarah ke tubuhnya itu.
    Akibatnya memang luar biasa. Tombak itu bagaikan menghantam lapisan yang hampir tidak tertembus. Na¬mun tombak itu dilontarkan oleh kekuatan Ki Juru Martani, sehingga dengan demikian maka dorongan ilmu Ki Juru itu telah membentur kekuatan kakang Panji yang dah¬syat.
    Kedua orang itu telah bersama-sama terkejut. Ki Juru terkejut, bahwa kekuatan yang dilontarkan dari tangan kakang Panji itu berhasil menahan tombaknya. Meskipun tombak itu tidak hancur karena seakan-akan tombak itu telah dilapisi kekuatan ilmu Ki Juru, namun tombak itu tidak mampu menukik langsung mengenai tubuh kakang Panji meskipun Ki Juru berhasil membidiknya dengan tepat.
    Tombak itu bagaikan membentur dinding baja dan jatuh beberapa langkah di sisi kakang Panji.
    “Gila,” geram kakang Panji, “ada juga iblis tua yang mampu melontarkan kekuatan yang luar biasa.”
    Namun dalam pada itu Ki Juru pun berkata di dalam hati, “Orang ini memang luar biasa. Ia memiliki ilmu yang sulit dikenali pada saat ini.” Bahkan tiba-tiba saja Ki Juru pun teringat apa yang pernah terjadi atas Agung Sedayu yang mendapat serangan dengan diam-diam lewat indera penciumannya.
    “Apakah orang ini yang melakukan atau orang lain?” bertanya Ki Juru di dalam hatinya, “jika orang lain, maka Pajang benar-benar telah mengerahkan kekuatan yang sulit dilawan. Apalagi setelah Angger Agung Sedayu terluka. Yang ada tinggal Angger Sutawijaya, karena agaknya Ki Waskita dan Kiai Gringsing telah terlibat dalam perkelahian orang-orang yang berilmu tinggi pula sejak kemarin.”
    Namun dalam pada itu, Ki Juru tidak dapat merenung terlalu lama. Namun justru setelah ia sempat menyaksikan orang-orang Mataram menebar dan menyerbu ke medan, maka hatinya menjadi agak tenang. Jika ia harus menghadapi orang itu, maka ia tidak akan berkeberatan meskipun ia tidak pasti, bahwa ia akan mampu melawannya.
    Tetapi Ki Juru adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka apa pun yang akan terjadi, maka ia akan langsung menghadapinya.
    Dalam pada itu, para pengawal Mataram pun segera menyadari, dengan siapa mereka berhadapan.
    Karena itu, maka beberapa orang yang mampu berpikir cepat, segera mengambil sikap. Ternyata orang yang telah menyerang mereka dengan cara yang kurang mere¬ka mengerti itu, akan sangat berbahaya bagi pasukan Mataram yang tersisa, pasukan yang masih belum sem¬pat membentur pasukan Pajang dari arah punggung.
    Untuk mengurangi bahaya itu, maka beberapa orang pengawal telah memberanikan diri menyerang kakang Panji. Mereka tidak menghiraukan keselamatan mereka sendiri.
    Ternyata usaha para pengawal itu berhasil. Kakang Panji tidak membiarkan tubuhnya dikoyak oleh senjata. Sementara itu, kakang Panji yang belum mengetahui tataran kemampuan berani mengabaikan mereka. Jika di antara lawan-lawannya itu ada yang memiliki kemampuan untuk mengatasi daya tahan tubuhnya, maka ia akan mengalami kesulitan.
    Orang-orang Mataram yang melihat kekuatan yang mampu dilontarkan oleh orang itu, telah melawannya dalam kelompok kecil. Mereka berusaha untuk tidak memberi kesempatan orang itu melepaskan ilmu seperti yang sudah mereka lihat. Ilmu yang mampu meledakkan tanah dan melemparkan beberapa orang kawannya ke udara, membantingnya sehingga tulang-tulangnya berpatahan.
    Dalam keadaan yang demikian, maka kakang Panji¬ pun menjadi sibuk. Serangan telah datang dari segala penjuru berurutan dan tidak henti-hentinya. Namun dengan tangkas ia mampu menghindari serangan lawannya. Kecepatan geraknya benar-benar sangat mengagumkan.
    Dalam pada itu, ternyata Ki Juru telah mendapat kesempatan bersama beberapa orang pengawal untuk mendekati arena. Para pengawal pun segera membentur prajurit-prajurit Pajang yang sudah dipersiapkan menghadapi mereka.
    Hampir seluruh medan yang panjang itu bergetar oleh kehadiran Ki Juru Martani. Beberapa kelompok pasukan Pajang telah menahan mereka.
    Tetapi jumlah orang-orang Mataram ternyata jauh lebih banyak dibanding dengan orang-orang Pajang yang sempat menghadapi mereka. Sehingga karena itu, meskipun para prajurit Pajang memiliki pengalaman yang lebih baik dari orang-orang Mataram, namun jumlah kekuatan mereka pun telah mengalami keseimbangan yang berat sebelah. Orang-orang Mataram ternyata berjumlah lebih banyak dari orang-orang Pajang yang masih harus bertahan dari tekanan pasukan Mataram dari sayap-sayap pasukan di tebing sebelah Barat Kali Opak di Prambanan.
    Pembagian pasukan Pajang itu memang terasa sa¬ngat membebani setiap orang di dalam pasukan Pajang itu.
    Namun dalam pada itu, yang kemudian menjadi gelisah adalah Ki Juru Martani. Ternyata orang yang telah menyerang pasukan Mataram dari jarak beberapa depa dan seolah-olah berhasil meledakkan tanah tempat lawan¬nya berpijak itu, benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa.
    Dalam waktu yang pendek, dua orang Mataram yang bertempur dalam kelompok kecil melawan kakang Panji itu telah terlempar dari arena. Meskipun keduanya tidak terbunuh, tetapi keduanya sudah tidak lagi mampu berbuat sesuatu selain merangkak menjauhi hiruk pikuk pertempuran.
    “Luar biasa” desis Ki Juru. Sementara itu ia tidak membiarkan korban semakin banyak. Karena itu, maka ia pun segera menempatkan diri melawan orang yang memiliki ilmu yang luar biasa itu.
    “Minggirlah” desis Ki Juru.
    Orang-orang Mataram itu menyibak. Mereka membe¬ri tempat kepada Ki Juru menghadapi orang yang nggegirisi itu. Namun orang-orang Mataram yang mengetahui kemampuan orang itu tidak segera meninggalkannya. Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi antara orang itu dengan Ki Juru Martani.
    Dalam ketegangan itu, terdengar orang itu bertanya, “He, apakah kau memang sudah jemu melihat pertempuran ini?”
    “Aku tidak mengerti maksudmu” jawab Ki Juru.
    “Orang setua kau memang sudah waktunya mati,” berkata orang itu pula, “marilah. Aku akan mengantarkanmu, Ki Juru. Bukankah kau yang bernama Ki Juru Martani?”
    “Ya. Aku yang disebut Ki Juru Martani.” jawab Ki Juru, “tetapi siapa kau sebenarnya? Kau memiliki ilmu yang sekarang sulit dicari bandingnya.”¬
    “Namaku Panji. Orang-orang memanggilku kakang Panji, karena mereka menganggap aku sebagai saudara tua mereka.” jawab orang itu.
    “Kakang Panji, hanya begitu? Atau masih ada kelengkapan nama Panji itu?”bertanya Ki Juru.
    “Namaku Panji. Itu saja,” jawab orang itu, “sekarang kita sudah berhadapan di medan. Tetapi kehadiranmu benar-benar mengecewakan aku. Aku ingin bertemu Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.”
    Ki Juru memandang orang itu dengan saksama, sementara di sekitar mereka pertempuran menjadi semakin sengit. Namun masih ada juga beberapa orang Mataram yang bebas, karena jumlah mereka memang lebih banyak.
    “Kenapa kau mencari Senapati Ing Ngalaga?” ber¬tanya Ki Juru.
    “Bukankah ia orang yang dianggap memiliki hak un¬tuk memerintah Mataram dengan gelarnya itu, namun yang kemudian di salah-gunakannya untuk memberontak kepada Kangjeng Sultan? Dan bukankah bagi Mataram tidak ada orang yang dianggap mumpuni selain Senapati Ing Ngalaga? Nah, aku adalah salah seorang prajurit yang setia kepada Kangjeng Sultan. Aku ingin menangkap Sutawijaya hidup atau mati, sekaligus membuktikan bahwa Sutawijaya bukan orang yang tidak terkalahkan, sebagaimana diperkirakan orang”
    “Ki Sanak,” berkata Ki Juru, “apakah kau masih menganggap bahwa Pajang akan mungkin dipulihkan kembali kewibawaannya? Apalagi sekarang Kangjeng Sultan Pajang sedang dalam keadaan yang gawat.”
    “Itu adalah karena ulah Senapati Ing Ngalaga. Seo¬rang yang sama sekali tidak mengenal terima kasih. Seorang yang diangkat dari kehinaan menjadi anak angkat Kangjeng Sultan. Seorang yang telah menerima warisan ilmu yang tidak terkatakan nilainya. Seorang yang men¬dapat kedudukan yang tinggi meskipun sebenarnya tidak ada darma baktinya sama sekali yang dapat dikenang oleh Pajang.” jawab kakang Panji, “semuanya itu diakhiri dengan sebuah pemberontakan yang tidak mengenal tatanan sama sekali.”
    “Jangan berpura-pura tidak tahu Ki Sanak,” jawab Ki Juru, “kau tentu lebih tahu, isi dari istana Pajang sekarang? Seandainya di sini ada Kangjeng Sultan Hadiwijaya, apakah ia akan mengatakan seperti yang kau katakan, atau justru Kangjeng Sultan itu akan berkata kepada Senapati Ing Ngalaga agar Senapati bersedia membantunya, menyingkirkan duri yang tumbuh di dalam jantung kehidupan Pajang.”
    Wajah kakang Panji menegang. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Apapun yang dapat kau sebutkan, berilah kesempatan Sutawijaya untuk membuktikan bah¬wa ia adalah orang yang pilih tanding.”
    “Di peperangan kau tidak usah memilih lawan Panji. Marilah kita hadapi siapa saja yang ada di hadapan kita.” jawab Ki Juru Martani.
    Wajah kakang Panji menjadi semakin tegang. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia merasa kecewa karena ia tidak dapat bertemu dengan Raden Sutawijaya. Ia ingin membuktikan kata-katanya bahwa ia akan mampu membunuh Raden Sutawijaya meskipun hampir setiap orang mengatakan bahwa Raden Sutawijaya adalah orang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna.
    Dalam pada itu, maka sambil bergeser setapak orang itu berkata, “Marilah orang tua. Umurmu memang sudah tidak terlalu panjang lagi.”
    Namun Ki Juru menjawab, “Kita sudah sama-sama tua Ki Sanak. Aku atau kaulah yang akan mati”
    Kakang Panji menggeram. Iapun segera mempersiapkan diri.
    Ki Juru yang melihat kakang Panji bersiap, dengan cepat ia bergeser justru mendekat. Ia tidak ingin mendapat serangan dengan lontaran pukulan yang mampu mengenai lawan yang berdiri beberapa langkah dari padanya.
    Kakang Panji mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun menyadari bahwa Ki Juru adalah seorang tua sebagaima¬na dirinya, yang memiliki perbendaharaan pengalaman yang tidak terbatas.
    Karena itulah, bagaimanapun juga, kakang Panji itu harus berhati-hati. Apalagi ia masih juga melihat beberapa orang Mataram berdiri di sekitarnya. Di setiap saat orang-orang itu akan dapat meloncat langsung memasuki arena pertempuran.
    Namun agaknya orang-orang Mataram itu tidak ingin segera mencampuri pertempuran yang bakal terjadi. Mereka menyadari bahwa baik Ki Juru maupun lawan¬nya itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang luar biasa.
    Demikianlah kedua orang itupun bersiap-siap. Kedua¬nya bergeser saling mendekat. Ki Juru memang ingin ber¬tempur tanpa jarak, sehingga ia akan mempunyai kesem¬patan sama dengan lawannya.
    Pada saat-saat yang tepat, maka Ki Juru pun mencoba memancing lawannya. Dengan langkah pendek itu menye¬rang lawan dengan tangannya.
    Kakang Panji yang tahu bahwa serangan itu bukan¬nya serangan yang berbahaya tidak meloncat menghindarinya, tetapi ia sekedar menarik tubuhnya condong menyamping. Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat de¬ngan kecepatan yang luar biasa menyerang Ki Juru dengan kakinya mengarah ke lambung.
    Ki Juru terkejut, tetapi ia sempat menghindari serangan itu dengan satu loncatan surut. Namun, pada saat yang demikian, ia melihat bahaya yang dapat menghancurkannya. Benar-benar menghancurkannya, ketika lawannya hampir saja mendapat kesempatan untuk memukulnya pada jarak dua tiga langkah.
    Karena itu, dengan cepat Ki Juru pun meloncat maju. Tangannya terjulur lurus ke arah dada. Namun ketika kakang Panji itu mengelak dengan putaran setengah lingkaran, maka tangan Ki Juru pun menebas ke samping mengarah kening.
    Kakang Panji meloncat surut. Cepat sekali. Namun Ki Juru pun telah memburunya dan menyerang dengan keras.
    Tetapi serangan-serangan itu tidak berhasil menyentuh lawannya. Kakang Panji cukup tangkas. Namun juga sebaliknya, Ki Juru itu bagaikan bayangan yang tidak teraba.
    Demikianlah keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Semakin lama semakin cepat, Semakin lama keduanya semakin tenggelam ke kedalaman ilmu mereka masing-masing.
    Dalam pada itu, selagi kedua orang itu bertempur semakin dahsyat maka benturan antara orang-orang Pajang dan Mataram pun menjadi semakin seru pula. Namun karena orang-orang Mataram yang menggempur pasukan Pajang dari dua arah itu berjumlah lebih banyak, maka pasukan Mataram itu pun telah mengguncang kegelisahan orang-orang Pajang.
    Meskipun orang-orang Pajang memiliki pengalaman yang pada umumnya lebih baik dari orang-orang Mataram, bahkan pasukan khususnya, namun jumlah kedua pasukan itu pun ternyata sangat berpengaruh pula.
    Dalam pada itu, para Senapati dan para pemimpin dari Pajang pun telah berusaha dengan sepenuh kemampuan mereka untuk mengatasi kesulitan yang mulai terasa. Namun karena perhatian pasukan Pajang itu terbagi, maka mereka benar-benar harus memeras ilmu yang ada pada mereka.
    Namun demikian, terasa meskipun perlahan-lahan, bahwa orang-orang Pajang semakin mengalami kesuli¬tan. Meskipun di antara mereka masih terdapat orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, namun mereka telah mendapat lawan mereka masing-masing.
    Dalam pada itu, selagi kedua pasukan itu berbenturan dengan dahsyatnya, dari jarak yang tidak terlalu dekat, seseorang tengah memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Namun orang itu tidak lagi dicengkam oleh kegelisahan setelah ia melihat apa yang terjadi di medan. Apalagi ketika orang itu melihat pasukan induk Mataram ikut melibatkan diri melawan pasukan Pajang yang telah melepaskan diri dari ikatan paugeran itu.
    “Bagaimanapun juga, mereka tidak akan dapat mengalahkan pasukan Kakangmas Sutawijaya.” desis orang itu. Namun ia masih saja berada di tempatnya. Ia masih ingin melihat pertempuran itu lebih lama lagi.
    Dalam kegelisahannya, orang-orang Pajang itu pun telah mendengar laporan bahwa pasukan Pajang di induk pasukan, yang dipimpin langsung oleh Kangjeng Sultan telah meninggalkan medan dan kembali ke Pajang sambil membawa Kangjeng Sultan yang terluka parah di bagian dalam tubuhnya setelah Kangjeng Sultan itu jatuh dari punggung gajah membentur sebongkah batu hitam yang justru pecah karenanya.
    Tetapi, orang-orang Pajang yang ada di medan itu memang tidak mengharap sama sekali bantuan dari induk pasukan. Mereka telah menyerang pasukan Mataram dengan cara yang lain dan paugeran perang. Namun agaknya rencana licik mereka itu telah diketahui oleh lawan mereka sehingga orang-orang Mataram itu sempat menyingkirkan diri dan bahkan seakan-akan telah menjebak pasukan Pajang itu ke dalam satu keadaan yang sangat
    Namun berbeda dengan para pengawal dari Mataram yang berhasil mendesak orang-orang Pajang, maka Ki Juru menghadapi satu kesulitan yang besar dengan lawan¬nya. Bahkan, ternyata. kakang Panji itu benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Meskipun Ki Juru berusaha untuk bertempur dalam jarak yang pendek, namun ternyata sekali-sekali kakang Panji itu berhasil melontarkan pukulan petirnya, Untunglah bahwa Ki Juru yang tua itu masih tetap Ki Juru yang memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan, sehingga beberapa kali ia berhasil menghindarkan diri dari lontaran pukulan ilmu yang dahsyat, yang mampu meledakkan tanah tempat lawannya berpijak. Hanya karena kemampuan Ki Juru meloncat dengan cepat sajalah, maka ia masih sempat menyelamatkan diri dari ledakan pukulan orang yang menyebut dirinya kakang Panji. Bahkan setiap kali, Ki Ju¬ru masih juga berhasil menemukan kembali jarak yang dikehendakinya dalam perlawanannya.
    “Orang tua ini benar-benar liat” gumam kakang Panji. Dengan demikian iapun telah meningkatkan ilmu¬nya. Yang kemudian terjadi bukan saja sekedar pertem¬puran ujud wadag kedua orang itu. Bukan saja lontaran-lontaran pukulan yang mampu meledakkan sasaran yang disentuhnya. Tetapi kedua orang itu telah mulai mengerahkan kekuatan ilmu mereka yang sulit dimenger¬ti oleh para pengawal dan prajurit yang berada di sekitar arena perkelahian antara kedua orang tua itu.
    Dengan demikian pertempuran itu menjadi semakin dahsyat. Diantara pertempuran antara prajurit Pajang dan para pengawal dari Mataram maka lontaran-lontaran ilmu antara kakang Panji dan K! Juru Martani merupakan, ledakan-ledakan yang mentakjubkan.
    Di seberang lain, pertempuran pun menjadi semakin dahsyat. Ada juga orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang bertempur di luar kemampuan pengamatan nalar. Namun lambat laun, pertempuran itu pun menjadi semakin Lemah, karena para pengawal dari Mataram semakin lama menjadi semakin menguasai medan. Bah¬kan para Senapatinya pun seakan-akan telah terpengaruh oleh keadan dan suasana itu sehingga mereka pun seakan-akan telah kehilangan harapan. Di sekitar mereka para pengawal dari Mataram yang jumlahnya melampaui para prajurit dan orang-orang Pajang, ternyata mendesak lawan mereka di segala tempat. Pengalaman yang mendasari para prajurit Pajang, ternyata terdesak oleh jumlah lawan mereka yang bertambah. Apalagi orang-orang Mataram itu pun memiliki bekal yang cukup pula.
    Di sebelah sisi dari pasukan Mataram, Untara dan para prajurit Pajang yang berada di bawah pimpinannya, benar-benar merupakan imbangan yang berat bagi lawan-lawan mereka, sementara sekelompok terpilih diantara mereka yang dipimpin oleh Sabungsari, tidak kalah nilainya dari setiap prajurit dari pasukan khusus Pajang yang berada di bawah pengaruh Tumenggung Prabadaru.
    Sementara itu, putera Ki Gede Pasantenan pun mam¬pu membuat pangeram-eram. Lawannya menjadi gelisah dan bahkan kemudian tidak berdaya.
    Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Juru dan kakang Panji pun menjadi semakin dahsyat. Kakang Panji telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan kecepatannya ia setiap kali berhasil mengambil jarak dan menyerang Ki Juru dengan kemampuannya yang mengagumkan.
    Setiap kali Ki Juru harus berloncatan. Ledakan-leda¬kan tanah tempat ia berpijak, membuatnya berdebar-debar, karena ledakan itu akan dapat melontarkannya. Bu¬kan saja wadagnya, tetapi jika nasibnya buruk, maka nyawanyalah yang akan terloncat dari tubuhnya.
    Serangan-serangan yang mendebarkan itu semakin lama menjadi semakin sering. Ki Juru harus berloncatan dengan cepat dan tergesa-gesa, sehingga semakin lama, maka pengerahan tenaga itupun telah mempengaruhinya.
    Karena itu, maka Ki Juru pun mulai dengan caranya untuk mengurangi kesibukannya. Iapun sadar, kelengahan yang terjadi, akan dapat berarti maut baginya.
    Karena itu, maka Ki Juru pun mulai mengerahkan ilmunya. Dalam satu hentakan oleh serangan kakang Panji yang dahsyat, Ki Juru itu pun telah meloncat menghindar. Namun kakang Panji tidak melepaskannya. Sekali lagi ia mengangkat tangannya. Jika tangan itu terayun, maka kekuatan yang terloncat dari tangannya itu akan menyambar sasaran dan menghancur lumatkannya.
    Tetapi ayunan tangan kakang Panji tertahan. Sekali lagi ia mengumpat, “Orang gila, anak iblis.”
    Kakang Panji berdiri tegang memandang sasarannya yang membuatnya tertegun.
    Dalam pada itu, Ki Juru yang tidak memiliki kemam¬puan seperti kakang Panji untuk menyerangnya dari jarak tertentu, telah mempergunakan ilmunya sekedar untuk bertahan. Namun demikian, yang dilakukannya itu telah membuat kakang Panji menjadi bingung.
    Ketika serangan kakang Panji menjadi semakin cepat dan semakin dekat memburunya kemana saja ia meloncat, maka Ki Juru pun tiba-tiba telah melepaskan ilmunya yang sulit dicari bandingnya.
    Dalam keadaan yang sulit, pada saat kakang Panji su¬dah hampir sampai kepada satu batas kemenangan, tiba-tiba saja Ki Juru telah meloncat kedua arah sekaligus. Tiba-tiba saja orang yang bernama Ki Juru Martani itu bagaikan terpecah menjadi dua. Seorang meloncat ke kiri, seorang meloncat ke kanan.
    Dalam keadaan yang demikian, kakang Panji menjadi bingung. Yang nampak dihadapannya bukannya bayangan semu yang akan dapat diurainya dan dikenalinya, tetapi keduanya sama sekali tidak dapat dibedakannya. Baik oleh mata wadagnya, maupun oleh mata hatinya.
    Karena itu, untuk sesaat kakang Panji menjadi bi¬ngung. Sementara dalam keadaan yang demikian, kedua bayangan itu telah meloncat semakin dekat.
    Tiba-tiba saja, selagi kakang Panji belum sempat mengambil keputusan, kedua bayangan telah menyerangnya dari dua arah. Bersama-sama.
    Kakang Panji yang masih dicengkam oleh kebingungan tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu. Ia ragu-ragu untuk melontarkan serangan karena ia tidak tahu, yang manakah yang harus menjadi sasarannya.
    Karena itu, yang dapat dilakukannya, adalah meloncat jauh-jauh mengambil jarak dari kedua orang yang ujudnya sebagaimana Ki Juru Martani.
    Dalam pada itu, kedua bayangan Ki Juru itu masih tetap mengejarnya dan menyerang dari arah yang berbeda pula.
    “Persetan” geram kakang Panji. Ia tidak mau terlalu lama dibingungkan oleh keadaan itu. Tiba-tiba saja ia telah melontarkan serangannya ke salah seorang di antara kedua orang yang berujud Ki Juru Martani itu.
    Namun sekali lagi kakang Panji mengumpat. Ujud itu tidak meledak dan hancur menjadi kepingan daging dan tulang. Tetapi ujud itu telah lenyap bagaikan asap.
    Namun pada saat ia tercenung oleh peristiwa itu, ter¬nyata ujud yang lain benar-benar telah menyerang dan menghantam tubuhnya dengan kekuatan luar biasa. Seolah-olah Gunung Merapi telah terlontar menghantam tubuhnya, menghimpit dadanya.
    Kakang Panji terdorong beberapa langkah. Hampir saja ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh berguling. Namun ternyata bahwa ia masih mampu menguasai keseimbangannya, sehingga ia pun sejenak kemudian telah tegak kembali.
    Ki Juru melihat lawannya yang dalam sekejap telah mampu berdiri tegak kembali. Karena itu, maka hatinya ¬pun menjadi berdebar-debar. Lawannya memang bukan orang kebanyakan. Lawannya adalah orang yang berilmu tinggi.
    Karena itu, maka Ki Juru pun segera mempersiapkan dirinya kembali. Tidak ada waktu untuk merenungi keadaan lawannya, karena dalam sekejap kemudian, kakang Panji telah melontarkan ilmu yang dahsyat. Dengan mengayunkan tangannya. maka sebuah kekuatan yang tidak kasat mata telah menyambar Ki Juru.
    Namun Ki Juru cukup tangkas. Sekali lagi ia meloncat. Tetapi karena ia tidak terdesak dalam keadaan yang hampir tidak teratasi, maka ia tidak merasa perlu untuk menjadikan dirinya kembar.
    Demikian serangan kakang Panji meluncur, maka Ki Juru telah tidak lagi berdiri di tempatnya, sehingga yang kemudian meledak adalah tanah bekas tempatnya berdiri.
    Sementara itu, Ki Juru telah meloncat menyerang dengan loncatan panjang. Demikian cepatnya, sehingga Kakang Panji tidak sempat mendahuluinya. Bahkan ia harus bergeser dari tempatnya dengan cepat,
    Ki Juru tidak melepaskannya. Dengan tangkas pula ia memburunya. Tetapi kakang Panji sama sekali tidak kehilangan kesempatan untuk menghindarinya dan bah¬kan kemudian menyerang langsung dengan wadagnya.
    Namun sebenarnyalah bahwa keduanya adalah orang-orang yang luar biasa.
    Sementara itu, pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan Pajang masih berlangsung dengan sengitnya. Namun sudah mulai nampak kesulitan pada pasukan Pajang. Perlahan-lahan pasukan Mataram menyusup ke segenap celah-celah pasukan lawan.
    Namun dalam pada itu, orang-orang Pajang bukan¬nya orang-orang yang mudah menjadi putus asa. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman, Baik para prajurit apalagi mereka dari pasukan khusus. Juga orang-orang yang menjadi pengikut kakang Panji dari padepokan-padepokan dan kelompok-kelompok yang men¬dukung gagasannya. Juga, dari orang-orang yang merasa mempunyai sentuhan dengan kejayaan masa lampau de¬ngan tanpa menilai persoalan yang dihadapinya.
    Bahkan dalam keadaan yang sulit, orang-orang yang berada di dalam lingkungan pasukan Pajang itu semakin tidak merasa lagi terikat oleh paugeran perang gelar. Mereka lebih banyak bertempur sebagai seorang yang memiliki ilmu kanuragan. Apakah dengan demikian mereka justru terlepas dari gelar perang atau tidak, mereka sama sekali tidak menghiraukannya.
    Namun dengan demikian, orang-orang Pajang memang agak terpengaruh karenanya. Mereka menghadapi orang-orang yang bertempur menurut cara mereka masing-masing. Menurut dasar ilmu yang berbeda-beda.
    Namun untunglah, baik pasukan khusus Mataram yang ditempa di Tanah Perdikan Menoreh, maupun prajurit Pajang di Jati Anom yang dipimpin oleh Untara atau Sabungsari, telah mendapatkan latihan-latihan dalam pe¬rang yang demikian. Mereka mendapat latihan untuk ber¬tempur seorang-seorang.
    Tetapi sebagian dari lawan-lawan mereka tiba-tiba saja telah berubah. Mereka menjadi kasar dan keras. Sehingga dengan demikian maka arena itu perlahan-lahan telah berubah. Gelar yang mapan telah hampir kehila¬ngan bentuknya.
    Jika semula orang-orang Mataram berhasil menyu¬sup ke celah-celah pasukan Pajang yang lemah, namun ternyata bahwa mereka telah memasuki satu lingkungan yang mengejutkan. Orang-orang Pajang memang tidak lagi menjaga keutuhan gelarnya. Celah-celah didalam gelar mereka nampaknya menjadi semakin banyak. Tetapi justru karena sebagian dari orang-orang Pajang telah bertempur dengan cara mereka sendiri.
    Namun dalam keadaan yang demikian, maka para Senapati dari pasukan khusus Mataram telah meneriakkan perintah, agar mereka berusaha untuk tetap dalam satu keterikatan pasukan. Perintah yang sambung-menyambung.
    Demikian pula Sabungsari di sisi yang lain berusaha untuk tetap mengikat pasukannya agar tak terpancang oleh cara yang dipergunakan orang-orang Pajang.
    Namun dalam pada itu, di antara orang-orang Mataram terdapat pula orang-orang yang mampu dengan tangkas menanggapi cara bertempur orang-orang Pajang itu. Sebagian dari para pemimpin pasukan yang bergabung dengan Mataram mampu menghadapi orang-orang yang melepaskan diri dari keterikatan gelar.
    Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin hiruk pikuk. Selain dentang senjata dan teriakan-teriakan yang garang, maka para prajurit dan penga¬wal masih juga bersorak-sorak apabila mereka men¬dapatkan kemenangan-kemenangan kecil. Bukan saja karena kemampuannya, namun dengan sorak yang riuh itu, mereka berusaha untuk mempengaruhi perasaan lawan.
    Dalam kekalutan itu, tiba-tiba telah terjadi sesuatu. Jika suara bende yang tidak henti-hentinya itu semula tidak lagi dihiraukan oleh pasukan kedua belah pihak justru karena telinga mereka seakan-akan telah terbiasa, namun tiba-tiba suara bende itu telah berubah.
    Suara bende yang semula melengking-lengking memenuhi arena dan bahkan terasa menyakitkan telinga, maka suara itu kemudian telah terhenti.
    Kepercayaan kakang Panji yang memerintahkan sekelompok orangnya mencari bende yang sebenarnya bernama Kiai Becak itu mengira, bahwa sekelompok orang-orangnya itulah yang telah membungkam bende itu. Namun yang justru terjadi kemudian sangat menggejutkannya.
    Setelah beberapa saat suara bende yang menyakitkan telinga itu terhenti, tiba-tiba saja telah berbunyi suara bende yang lain. Suara bende yang bagaikan menggelepar mengguncang udara di sekitar arena pertempuran.
    Suara itu benar-benar menggetarkan. Suara itu tiba-tiba telah mengingatkan mereka yang bertempur, suara bende yang pertama kali mereka dengar. Suara itu. Bukan suara yang baru saja terhenti.
    Suara yang berubah itu ternyata telah menyentuh setiap orang dalam pertempuran yang dahsyat itu. Suara itu telah membuat mereka yang mendengarnya menyada¬ri, bahwa yang mereka dengar selama ini bukanlah suara bende itu. Bukan suara bende yang mereka dengar perta¬ma kali di pinggir Kali Opak.
    Selama ini orang-orang Pajang tidak menghiraukan¬nya. Bahkan mereka memang berusaha untuk tidak mendengar dan terpengaruh oleh suara bende itu. Sehingga dengan demikian, mereka tidak menyadari, bahwa suara bende itu telah berubah.
    Namun kini setelah suara bende itu didengar kembali, maka orang-orang Pajang itu tidak dapat menahan getar di dalam dadanya. Mereka tidak dapat mengingkari bahwa suara bende itu mempunyai pengaruh yang kuat didalam hati mereka.
    Dalam suasana yang demikian, maka orang-orang Mataram justru mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Suara bende itu mempunyai pengaruh yang sebaliknya bagi mereka, karena menurut keperca¬yaan mereka, jika bende itu melontarkan bunyi yang lan¬tang, maka itu berarti bahwa mereka akan mendapatkan kemenangan.
    Ternyata kepercayaan yang demikian itu mempunyai pengaruh yang sangat besar. Pasukan Mataram yang memang berjumlah lebih banyak itu merasa bahwa mereka akan segera memenangkan perang, sehingga dengan demikian, maka merekapun telah mengerahkan segenap ilmu dan kemampuan mereka.
    Gelombang yang dahsyat itu terasa melanda pertahanan orang-orang Pajang. Bergulung-gulung tidak henti-hentinya, sehingga pertahanan orang-orang Pajang itu¬pun seakan-akan menjadi semakin rapuh karenanya. Jumlah yang banyak dari orang-orang Mataram, telah mengisi kekurangan mereka dalam perbendaharaan pengalaman.
    Namun dalam pada itu, Ki Juru masih tetap merasa¬kan betapa beratnya tekanan lawannya. Setiap kali Ki Ju¬ru terpaksa mempergunakan kemampuannya untuk membuat dirinya sendiri menjadi rangkap. Namun lambat laun, kakang Panji itupun telah mempergunakan cara yang membuat Ki Juru mengalami kesulitan. Setiap kali kakang Panji selalu berusah mengambil jarak untuk melontarkan serangannya kepada kedua ujud yang kembar itu berturut-turut.
    Namun dalam keadaan yang demikian, Ki Juru masih mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri menghindari serangan Yang nggegirisi itu.
    Dengan demikian, maka pertempuran antara kedua orang itupun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Meskipun Ki Juru tidak mempunyai kemampuan menyerang pada jarak di luar jangkauan tangannya, namun da¬lam puncak ilmunya Ki Juru telah membuat kakang Panji berdebar-debar. Pada saat-saat yang kadang-kadang di luar perhitungan kakang Panji, Ki Juru tiba-tiba saja te¬lah menyerang dengan gerak yang sangat cepat. Pada saat kakang Panji sempat menghindar, sehingga serangan Ki Juru menyentuh sasaran yang lain, maka tiba-tiba sentuhannya itu telah mengeluarkan asap.
    “Sentuhan tangannya melampaui panasnya api” geram kakang Panji yang marah. Namun serangan kakang Panji pun tidak kalah dahsyatnya.
    Orang-orang yang ada di sekitar kedua orang itu pun semakin lama telah menyibak semakin jauh. Namun dalam pada itu, orang-orang Mataram lah yang berhasil mendesak orang-orang Pajang, sehingga dengan demikian, beberapa orang kepercayaan kakang Panji telah bertahan mati-matian untuk tidak terdesak dari landasan mereka untuk tetap berada tidak terlalu jauh dari arena pertempuran kakang Panji.
    Ternyata mereka adalah orang-orang bukan saja memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi mereka adalah orang-orang yang tidak lagi menghiraukan apapun yang juga selain usaha untuk tetap berada di arena yang tidak terlalu jauh.
    Sementara itu, di bagian lain dari arena pertempuran itu, Raden Sutawijaya melihat bahwa pasukannya mulai menguasai keadaan. Raden Sutawijaya sendiri masih tetap belum turun ke arena. Ia ingin melihat pertempuran itu dalam keseluruhan. Apalagi setelah pasukannya berhasil mendesak lawannya.
    Di beberapa bagian, Raden Sutawijaya memang melihat, orang-orang berilmu tinggi masih bertempur dengan sengitnya. Namun keadaan pertempuran itu dalam keseluruhan sangat mempengaruhinya, sehingga orang-orang berilmu tinggi itu pun akhirnya sulit untuk bertahan menghadapi Ki Waskita, putera Ki Gede Pasan¬tenan dan beberapa orang yang lain.
    Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya merasa kehilangan seseorang. Dari para pengamat yang menda¬pat tugas daripadanya untuk membuat laporan menyeluruh, Raden Sutawijaya tidak melihat Kiai Gringsing di arena pertempuran itu.
    “Kiai Gringsing telah menyelesaikan lawannya seseorang melaporkan.” Namun kemudian ia tidak lagi berada di tempatnya atau menghadapi lawan yang lain.”
    Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi untuk sementara ia masih saja membiarkannya. Kata¬nya, “Mungkin Kiai Gringsing perlu beristirahat atau ia telah memilih satu tugas tertentu yang penting dan berada di luar pengamatan kita.”
    Petugas yang melaporkan itu hanya mengangguk-angguk. Namun ia mendapat pesan dari Raden Sutawijaya, “Tetapi usahakan untuk melihat, dimana Kiai Gringsing itu sekarang.”¬
    “Baik Raden,” jawab petugas itu, “aku akan mencarinya.”
    Namun sementara petugas itu meninggalkan, maka telah datang menghadap seorang penghubung dari induk pasukan yang melaporkan keadaan pertempuran di induk pasukan secara menyeluruh.
    “Jadi paman Juru Martani mengalami kesulitan dengan lawannya itu?” bertanya Raden Sutawijaya.
    “Ya Raden. Lawannya adalah orang yang luar biasa.” jawab petugas yang melaporkannya.
    “Paman Juru Martani bukan orang kebanyakan,” desis Raden Sutawijaya, “ia memiliki ilmu yang dahsyat. Dan pada puncak kemarahannya ia adalah orang yang sangat berbahaya bagi lawan-lawannya.”
    Namun penghubung yang menghadap itu menjelaskan apa yang terjadi. Lawan Ki Juru mempunyai kemampuan yang jarang dimiliki oleh orang-orang berilmu tinggi sekalipun.
    “Ia mampu melontarkan serangan di luar jangkauan wadagnya?” bertanya Raden Sutawijaya.
    “Ya Raden. Bahkan jarak jangkau serangannya itu mencapai beberapa langkah dari tempatnya berdiri” jawab penghubung itu.
    “Beberapa langkah?” ulang Raden Sutawijaya.
    “Ya Raden. Memang orang luar biasa.” jawab penghubung itu.
    “Baiklah. Aku akan melihatnya. Aku akan menyerahkan pimpinan dan pengamatan pasukan Mataram kepada seseorang. Mungkin kepada Untara yang menguasai masalah-masalah keprajuritan. Sementara itu aku akan menyeberang ke belakang orang-orang Pajang untuk melihat apa yang telah terjadi di medan sebelah.” berkata Raden Sutawijaya.
    “Silahkan Raden. Aku akan menunjukkannya” berkata petugas itu.
    “Tunggulah disini. Aku akan menemui beberapa orang disini” berkata Raden Sutawijaya kemudian.
    Sejenak kemudian Raden Sutawijaya telah meninggalkan tempatnya. Ketika ia berhasil menemui Untara, maka ia pun memerintahkan Untara untuk mengamati seluruh medan di sisi Timur.
    “Aku akan berada di sisi Barat” berkata Raden Sutawijaya.
    “Baik Raden. Aku akan berbuat sebaik-baiknya. Tetapi apakah para Senapati sudah mengetahui?” bertanya Untara.
    “Aku akan memberitahukan kepada mereka. jawab Senapati Ing Ngalaga.
    “Silahkan Raden” jawab Untara.
    Seperti yang dikatakan, maka Raden Sutawijaya pun segera berloncatan dari satu tempat ke tempat yang lain diikuti oleh dua orang pengawal kepercayaannya. Ditemuinya putera Ki Gede Pasantenan. Ditemuinya Ki Waskita, Sabungsari, Ki Lurah Branjangan dan para pemimpin yang lain.
    Kepada mereka Raden Sutawijaya memberitahukan bahwa pimpinan pasukan dalam keseluruhan ada di tangan Untara, yang dianggap mengerti dan menguasai gelar perang dan tata keprajuritan, meskipun bukan berarti bahwa Untara adalah orang yang memiliki ilmu yang tertinggi di antara orang-orang Mataram.
    Namun dalam pada itu, seperti yang dilaporkan oleh para petugas dan sebagaimana disaksikan sendiri, Kiai Gringsing tidak ada di medan.
    Tidak seorang pun yang dapat mengatakannya. Glagah Putih pun tidak melihatnya. Apalagi Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang kemudian telah memasuki arena pertempuran itu pula, setelah mereka berhasil menjebak sekelompok prajurit Pajang yang ingin merampas bende Kiai Becak.
    Tetapi Raden Sutawijaya tidak mencarinya lebih lama. Ia mencemaskan keadaan Ki Juru Martani. Meskipun Ki Juru adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi, namun ternyata ia mengalami kesulitan.
    “Tentu orang yang menjadi lawannya itu orang yang luar biasa” berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya.
    Bahkan Raden Sutawijaya pun kemudian teringat seseorang yang telah melintasi Kali Opak di malam, ketika pasukan Pajang dan pasukan Mataram saling berhadapan seberang menyeberang Kali Opak. Seorang yang telah menyerangnya dengan sambaran ilmu yang memecahkan batu padas.
    Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun dengan tergesa-gesa telah meninggalkan medan di sisi Timur. Mereka akan pergi ke medan di seberang Barat.
    “Kita melingkari medan” berkata Raden Sutawijaya kepada kedua orang pengawal yang akan menyertainya.
    Demikianlah, maka mereka pun telah berusaha pergi ke seberang. Mereka menyusuri medan sampai ke ujung. Kemudian melingkar untuk pergi ke seberang sebelah Barat. Agaknya jalan itu lebih baik daripada mereka menerobos medan.
    Namun, tiba-tiba langkah Raden Sutawijaya terhenti. Dengan sigap ia bergeser.
    Kedua pengawalnya pun terkejut. Namun mereka segera mempersiapkan diri pula.
    Namun Raden Sutawijaya pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Yang kemudian muncul dari balik gerumbul adalah Pangeran Benawa.
    “Kau Adimas?” bertanya Raden Sutawijaya.
    Pangeran Benawa tersenyum. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah Kakangmas akan melihat arena di sebelah Barat?”
    “Ya” jawab Raden Sutawijaya, “paman Juru Martani bertempur di sebelah Barat.”
    “Paman Juru Martani akan menyelesaikan semua persoalan” berkata Pangeran Benawa selanjutnya.
    “Mudah-mudahan” desis Raden Sutawijaya. Namun katanya kemudian, “Tetapi menurut laporan yang aku terima, paman Juru Martani mengalami kesulitan”
    Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Sementa¬ra itu Raden Sutawijaya bertanya, “Kenapa Adimas berada di tempat ini ? Aku menerima pesan Adimas lewat Aji Pameling. Aku kira Adimas masih berada di pasanggrahan.”
    “Aku memang ingin melihat medan” jawab Pangeran Benawa yang kemudian menceriterakan tentang Ayahandanya Sultan Hadiwijaya.
    Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ada sepercik kegelisahan didalam hatinya tentang Ayahandanya, Sultan Hadiwijaya. Namun sejenak kemudian ia berusaha untuk melenyapkan kesan kegelisahannya itu.
    “Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “sekarang kita menghadapi keadaan yang rumit ini. Meskipun orang-orang Mataram nampaknya berhasil mengua¬sai lawan-lawan mereka, namun ada sesuatu yang menggelisahkan.”
    “Apa yang telah menggelisahkan Kakangmas?” bertanya Pangeran Benawa.
    “Ki Juru Martani mengalami kesulitan menghadapi lawannya” jawab Raden Sutawijaya.
    “Paman Juru?” bertanya Pangeran Benawa agak kurang percaya.
    “Ya. Karena itu, aku melingkari arena untuk menyaksikan apa yang telah terjadi” jawab Raden Sutawijaya.
    Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku ikut bersama Kakangmas. Menarik sekali bahwa ada orang yang mampu mengatasi kemampuan paman Juru Martani di antara orang-orang Pajang.”
    “Aku teringat apa yang terjadi di pinggir Kali Opak, ketika pada suatu malam seseorang telah menyeberang dan pada saat ia meninggalkan tebing Barat, telah menyerangku dengan ilmu yang dahsyat.” berkata Raden Sutawijaya.
    Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mungkin orang itu yang telah menghadapi Ki Juru sekarang.”
    “Ciri-ciri ilmunya memang menunjukkan demikian” berkata Raden Sutawijaya kemudian. Lalu, “marilah. Kita akan melihat apa yang telah terjadi.”
    Pangeran Benawa pun kemudian mengikuti Raden Sutawijaya melingkari arena menuju ke sisi sebelah Barat. Dengan hati-hati mereka telah mendekati medan. Bahkan para pengawal pun kemudian telah membaurkan diri di dalam arena bersama-sama dengan para prajurit dari Mataram dengan segala ciri-cirinya.
    Namun dalam pada itu, Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya masih tetap mengambil jarak. Meskipun demikian mereka pun kemudian dapat menyaksikan apa yang telah terjadi dengan Ki Juru Martani.
    Dalam pada itu, Ki Juru memang telah mengerahkan segenap kemampuannya. Bukan saja benda-benda yang tersentuh tangannya menjadi berasap sebagaimana tersentuh panasnya api. Tetapi hampir setiap benda yang tersentuh tangannya kemudian justru telah hangus menjadi abu.
    Tetapi tangan Ki Juru itu masih belum mampu menyentuh tubuh, lawannya, Bahkan setiap kali Ki Juru terpaksa harus berloncatan, menjadikan dirinya rangkap, bahkan dengan susah payah membuat lawannya untuk sejenak memperhitungkan geraknya dalam ujudnya yang rangkap.
    Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia ¬pun segera melihat bahwa lawan Ki Juru memang orang yang luar biasa. Serangan-serangan yang terlontar dari tangannya, benar-benar mendebarkan jantung, Meskipun seseorang memiliki daya tahan yang sangat tinggi, namun mereka tentu akan mengalami cidera jika mereka tersentuh serangan lawan Ki Juru yang dahsyat itu.
    Meskipun demikian, lawan Ki Juru yang luar biasa itu pun merasa betapa liatnya Ki Juru yang tua itu. Kemarahan orang itu pun menjadi semakin memuncak. Orang yang menyebut dirinya kakang Panji itu tidak menyangka, bahwa Ki Juru Martani akan dapat mengimbangi ilmunya untuk sekian lamanya.
    “Nyawa orang ini memang hat sekali” geram orang itu.
    Namun dalam pada itu, orang itu pun benar-benar ingin segera menghancurkan lawannya.
    “Aku tidak peduli dengan pertempuran dalam keseluruhan sekarang ini” katanya di dalam hati. Tetapi kakang Panji itu yakin, jika ia dapat mengalahkan Ki Juru dalam waktu yang singkat, maka ia pun tentu akan segera dapat menghancurkan orang-orang Mataram. Ia dapat mempergunakan ilmunya, Jika orang-orang Mata¬ram benar-benar telah mendesak orang-orang Pajang, maka ia akan dapat menyerang dari belakang garis perang. Ia dapat menghancurkan orang-orang Mataram dari arah punggung tanpa mengorbankan orang-orang Pajang sendiri, meskipun mungkin ada juga satu dua di antara mereka yang akan menjadi korban tanpa disengajanya.
    Tetapi Ki Juru itu tidak segera dapat dilumatkan. Ki Juru itu tidak dapat segera terkena sambaran kekuatan tangannya dan meledaknya menjadi sayatan daging dan pecahan tulang. Ki Juru masih saja dapat membuatnya bingung.
    Demikianlah pertempuran antara kedua orang itu menjadi semakin lama semakin dahsyat. Meskipun Ki Juru tidak dapat sepenuhnya mengimbangi ilmu lawannya, tetapi lawannya pun tidak mudah dapat mengalahkannya dan apalagi menghancurkannya.
    Dalam keadaan yang paling gawat dari benturan ilmu kedua orang itu, maka tiba-tiba saja orang yang menyebut dirinya kakang Panji itu telah mengambil jarak yang cukup. Di saat Ki Juru bersiap menghadapi sambaran serangan dari tangan kakang Panji, ternyata orang itu telah mengambil sikap yang lain. Orang itu sama sekali tidak mengayunkan tangannya dan tidak menghentakkan kekuatan dari tangannya itu, yang akan dapat memecahkan batu-batu padas. Namun orang itu Justru sekali lagi mengambil jarak.
    Ki Juru memang menjadi heran. Ia sadar, bahwa ia akan dapat memasuki jebakan ilmu jika ia kurang berhati-hati.
    Namun, selagi Ki juru memperhatikan lawannya de¬ngan saksama, maka barulah ia menyadari apa yang se¬dang terjadi. Ternyata kakang Panji itu telah mengerah¬kan jenis ilmunya yang lain. Ilmu yang mempunyai kekuatan luar biasa. Tidak lewat benturan kekuatan atau kecepatan gerak, tetapi kakang Panji telah menyerang lawannya lewat indera penciumannya.
    Serangan itu memang mengejutkan Ki Juru. Ketika tercium bau yang sangat wangi, maka Ki Juru itu pun sadar, bahwa ia telah memasuki satu perjuangan yang sa¬ngat berat.
    Bau yang sangat tajam menusuk hidung itu, ternyata bukan saja hanya tercium oleh Ki Juru, tetapi orang-orang yang ada di sekitarnya pun telah menciumnya pula. Meskipun demikian, sebagaimana yang telah terjadi, sasaran utama yang dikehendaki yang dapat dijangkau oleh penglihatannyalah yang mengalami gangguan yang terbesar. Orang-orang lain yang tidak menjadi sasarannya langsung, memang tidak terlalu terpengaruh oleh bau yang menusuk itu.
    Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa telah mencium bau itu pula. Dan mereka pun segera mengetahui, bah¬wa pada saat Agung Sedayu bertempur melawan Ki Tumenggung Prabadaru, maka orang itu, atau orang yang seperguruan orang itu telah mengganggu Agung Sedayu dengan serangannya.
    Dan kini, ia tidak sekedar mengganggu, tetapi kini ia berhadapan dengan Ki Juru Martani. Dengan ilmu itu pula ia telah menyerang di samping ilmunya yang lain yang ada padanya. Ilmu petirnya yang dapat dilontarkannya dari tangannya, menyambar lawannya dan menghancur¬kannya.
    Ki Juru pun menyadari akan hal itu. Karena itu, maka segera ia memusatkan bukan saja ilmunya untuk menghancurkan lawannya apabila berhasil disentuhnya, tetapi juga kemampuan batinnya untuk mengatasi serangan pada indera penciumannya.
    Dengan segenap kemampuan yang ada padanya, Ki Juru berusaha untuk menutup indera penciumannya tan¬pa mengganggu pernafasannya, sementara ia masih ha¬rus memperhatikan kekuatan petir yang setiap kali da¬tang menyambarnya.
    Namun lawannya memang seorang yang tangguh tanggon. Dalam keadaan yang demikian, maka tangannya telah terayun dan melepaskan serangannya. Ki Juru yang melihat gerak itu pun telah meloncat ke dua arah, karena ujudnya yang rangkap.
    Ujud yang rangkap itu memang dapat sekedar membingungkan lawannya dan memberinya kesempatan mempersiapkan diri menghadapi serangan-serangan
    berikutnya. Namun serangan lewat indera penciumannya itu ternyata demikian tajamnya. Meskipun kadang-kadang lawannya harus melepaskan serangannya, justru pada saat-saat Ki Juru berhasil menyusup ke dalam perisai pertahanannya, namun ketajaman bau yang sangat menusuk itu telah berhasil menembus inderanya betapapun ia berusaha untuk menutupnya rapat-rapat.

    HABIS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: