Buku II-60

Tetapi dalam keadaan yang demikian, Kiai Tali Jiwa tidak mau menyerah. Ia masih mempunyai senjata yang akan dapat dipergunakannya untuk melawan Agung Sedayu. Jika ternyata bahwa ilmunya yang terlontar dari jarak jauh itu tidak dapat berhasil membunuhnya, dan kini Agung Sedayu sudah ada di hadapannya, maka ia akan mempergunakan cara lain.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu sedang sibuk mengamati jambangan dan perapian yang mulai menge¬pul semakin banyak oleh segumpal dupa yang di masukkannya ke dalam perapian yang memang belum padam, maka Kiai Tali Jiwa itu telah mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya. Dengan cepat, ia mendorong pintu bilik itu sehingga tertutup rapat. Dengan cepat pula ia memasang selarak pintu itu sambil menaburkan sesuatu ke dalamnya.

“Kiai,” terdengar suara Sekar Mirah memekik. Tetapi segalanya telah terjadi. Pintu bilik itu sudah tertutup dan selarak telah terpasang. Sementara itu sebangsa serbuk berwarna coklat kehitaman telah terhambur di dalam bilik itu.

Sekar Mirah sudah meloncat dan berdiri tegak di depan Kiai Tali Jiwa yang berdiri di depan pintu yang sudah tertutup itu.

Namun dalam pada itu, Kiai Tali Jiwa itu pun tertawa dengan suara yang memanjang. Katanya, “”Sayang, Ngger. Aku harus membela diri. Angger Agung Sedayu terjebak oleh pokalnya sendiri. Aku sudah melarangnya, agar ia tidak memasuki ruangan itu. Tetapi ia tidak mendengarkannya.”

“Apa yang akan terjadi dengan Kakang Agung Seda¬yu?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku tidak tahu, Ngger. Tetapi serbuk itu akan dapat melumpuhkannya. Racun itu terlalu kuat untuk dilawan,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Kiai berusaha membunuhnya?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku hanya membela diri. Angger Agung Sedayu te¬lah menodai kesucian sanggarku. Aku memang seorang miskin sehingga ujud sanggarku pun hanya terlalu sederhana. Tetapi kesederhanaan itu bukan mengurangi kesuciannya,” berkata Kiai Tali Jiwa.

Wajah Sekar Mirah menjadi merah. Sementara itu, mBahMbah Kanthil yang pucat itu pun mulai menarik nafas da¬lam-dalam sambil berkata, “”Karena itu, kalian harus berhati-hati. Rumah ini rumahku, sementara Angger Agung Sedayu sama sekali tidak menghiraukan aku.”

“Kiai,” geram Sekar Mirah, “”bukalah pintu itu. Kemudian Kiai tentu mempunyai obat penawar racun ta¬bur itu.”

Tetapi Kiai Tali Jiwa hanya tertawa saja. Katanya, “Jika Angger Agung Sedayu memang orang yang pilih tan¬ding, ia tidak akan terlalu cepat mati. Mungkin ia akan pingsan. Tetapi ia benar-benar sudah ada di bawah kekua¬saanku.”

“Jika Kiai membunuhnya, berarti Kiai telah mela¬wan paugeran yang berlaku di Tanah Perdikan Menoreh. Ki Gede akan dapat bertindak tegas terhadap Kiai dan mBahMbah Kanthil sekaligus,” berkata Sekar Mirah selanjut¬nya.
“Sayang sekali, bahwa tidak ada orang yang mengetahuinya,” berkata Kiai Tali Jiwa. Lalu, “”Seandai¬nya hal ini diketahui oleh orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, maka aku tidak usah cemas. Aku mempunyai seorang pelindung yang baik”

“Siapa?” bertanya Sekar Mirah.

Kiai Tali Jiwa tertawa. Katanya, “”Sudahlah, Ngger. Biarlah Angger Agung Sedayu mengalami nasib yang bu¬ruk. Tetapi tentu tidak dengan kau, Nngger. Kau justru akan mengalami nasib yang lebih baik. Pada saat mendatang, perasaanmu akan berubah menghadapi peristiwa ini. Kau akan merasakan akibat yang sebenarnya dari laku yang aku jalani.”

“Buka, Kiai,” bentak Sekar Mirah, “”atau aku akan membukanya.”

Tetapi Kiai Tali Jiwa tertawa, “”Kau seorang perempuan. Apa yang akan kau lakukan, tidak akan ba¬nyak berarti, Ngger. Apalagi beberapa saat mendatang, aku akan menundukkanmu dengan caraku.”

Sekar Mirah maju selangkah. Tetapi Kiai Tali Jiwa menghalanginya sambil berkata, “”Sudahlah. Jangan hiraukan Agung Sedayu. Ia memang akan mati di dalam bilik itu. Tetapi aku akan dapat menyembunyikannya dan menyingkirkannya tanpa diketahui oleh orang lain.”

Sekar Mirah menjadi tegang. Dipandanginya pintu yang menyekat ruang yang tidak begitu besar itu. Pintu itu terbuat dari bambu lereg. Jika Agung Sedayu menghen¬daki, biarpun pintu itu diselarak rangkap tujuh, tentu ia akan dapat keluar dengan mudah. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu tidak membuka pintu itu dengan cara apa pun.

“Apakah serbuk racun itu benar-benar mencelakai¬nya?” bertanya Sekar Mirah didalam hatinya.

Tetapi bagaimanapun juga, ia harus berhati-hati menghadapi orang yang licik itu. Apalagi Sekar Mirah be¬lum mengetahui, apakah ia memiliki ilmu kanuragan pula.

Meskipun demikian, ia tidak dapat membiarkan Agung Sedayu berada di dalam bilik yang telah ditaburi dengan racun yang benar-benar akan dapat mencelakai¬nya.

Karena itu, maka Sekar Mirah itu pun kemudian berkata, “”Kiai. Sekali lagi aku minta. Buka pintu itu seka¬rang.”

Tetapi Kiai Tali Jiwa masih saja tertawa. Katanya, “”Sudahlah. Jangan hiraukan.”

“Aku dapat memaksamu Kiai,” bentak Sekar Mirah.

“Apakah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan,” jawab Kiai Tali Jiwa.

Sekar Mirah menggeram. Agaknya ada satu hal yang kurang dimengerti oleh Kiai Tali Jiwa, bahwa Sekar Mirah memiliki kemampuan olah kanuragan melampaui orang kebanyakan.

Karena itu, ketika Sekar Mirah benar-benar bersiap untuk menyerangnya, mBahMbah Kanthil-lah yang mem¬peringatkannya hampir berteriak, “”Guru. Parempuan itu adalah salah seorang pembimbing dalam pasuan khusus yang berada di barak diujung Tanah Perdikan ini.”

Kiai Tali Jiwa terkejut. Kanthil memang belum per¬nah mengatakannya sebelumnya tentang hal itu, meski¬pun pernah juga disinggung beberapa hal tentang perempuan yang akan menjadi korbannya itu. mBahMbah Kan¬thil hanya mengatakan, bahwa Sekar Mirah memiliki kelainan dari perempuan-perempuan kebanyakan karena ia mempelajari olah kanuragan.

Meskipun demikian, bagaimanapun juga Kiai Tali Ji¬wa juga merasa memiliki kemampuan olah kanuragan, meskipun ia merasa tidak akan dapat mengimbangi kemampuan Agung Sedayu. Tetapi karena ia tidak dapat membayangkan kemampuan Sekar Mirah yang sebenar¬nya, maka ia pun telah bersiap pula untuk melawannya.

“Betapa tinggi ilmumu perempuan manis, kau ada¬lah seorang perempuan. Sementara Agung Sedayu telah terbaring diam di dalam bilik itu karena pengaruh racun taburku,” berkata Kiai Tali Jiwa.

Gejolak perasaan Sekar Mirah tidak dapat dikekang¬nya lagi. Tiba-tiba saja ia pun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Kiai Tali Jiwa yang juga memiliki ilmu kanuragan itu¬ pun berusaha untuk mengelak. Ia berhasil menghindari serangan pertama Sekar Mirah. Namun ia tidak menyangka, bahwa Sekar Mirah mampu bergerak sece¬pat tatit, sehingga tidak diduganya, maka serangan keduapun telah memburunya.

Sebenarnyalah, bahwa Kiai Tali Jiwa tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak Sekar Mirah. Apalagi Sekar Mirah sedang dalam kecemasan tentang nasib Agung Sedayu. Karena itu, maka ia tidak lagi berusaha mengekang dirinya.

Sentuhan serangan Sekar Mirah tidak dapat dielakkannya. Ketika serangan itu mengenainya, maka Kiai Tali Jiwa telah terlempar menghantam pagar bambu sehingga berderak patah.

Sekar Mirah tidak menghiraukan lagi. Kiai Tali Jiwa yang kemudian terkapar. Dengan tergesa-gesa ia membu¬ka selarak pintu bilik yang diselarak oleh Kiai Tali Jiwa itu.

Ketika pintu itu terbuka, dilihatnya Agung Sedayu berdiri tegak sambil tersenyum kepadanya. Dengan lang¬kah yang tetap ia keluar dari dalam bilik itu sambil berka¬ta, “”Aku memang ingin mendapat kepastian tentang Kiai Tali Jiwa. Dengan perbuatannya dan kata-katanya ia ti¬dak akan dapat mengelakkan tuduhan lagi.”

“Kau tidak apa-apa?” bertanya Sekar Mirah.

“Tidak. Agaknya Kiai Tali Jiwa salah menaburkan racunnya. Aku hanya merasa serak sedikit,” jawab Agung Sedayu yang sebenarnya memang telah kebal racun itu.

Kiai Tali Jiwa yang dengan susah payah berusaha un¬tuk bangkit menjadi heran. Ia melihat Agung Sedayu ma¬sih tetap berdiri tegak. Racun yang ditaburkannya sama sekali tidak berpengaruh terhadap anak muda itu.

“Benar-benar anak iblis,” geram Kiai Tali Jiwa di dalam hatinya, “”ilmu Tunda Bantala tidak dapat menembus benteng pertahanannya. Kini racun tabur itu tidak dapat melumpuhkannya. Bahkan menyakitinya pun tidak.”

Kiai Tali Jiwa yang telah berdiri dengan kaki bergetar oleh gejolak perasaannya, melangkah surut ketika Agung Sedayu mendekatinya. Katanya, “”Aku sudah mendengar, bahwa kau mendapat seorang pelindung di Tanah Perdi¬kan ini. Aku pun mendengar, apa yang kau lakukan terhadap isteriku dengan ilmumu yang sesat itu. Nah, Kiai Tali Jiwa, apakah Kiai masih akan mengelak lagi, atau aku akan benar-benar menghancurkanmu lewat jambemu itu sendiri?”

“Jangan, jangan Ngger,” minta Kiai Tali Jiwa yang mulai benar-benar dicengkam oleh ketakutan. Menurut tanggapannya, Agung Sedayu benar-benar seorang manu¬sia yang luar biasa.

“Kiai,” berkata Agung Sedayu, “”sebenarnyalah aku sudah pasti, bahwa kau dan mBahMbah Kanthil telah memusuhiku tanpa sebab. Aku dan isteriku tidak pernah mempunyai persoalan dengan kalian. Tetapi kalian telah benar-benar berusaha membunuh kami. Mungkin aku sasaran utama dari pembunuhan itu, sementara kau akan merampas kepribadian isteriku untuk kau bentuk sesuai dengan kehendakmu.”

Kiai Tali Jiwa benar-benar menjadi gemetar, sementara Agung Sedayu melanjutkan, “”Kiai, ketahuilah, aku dapat membalasmu dengan cara agal, atau halus. Dengan jambanganmu, atau dengan tanganku langsung mencekik lehermu.”

Wajah Kiai Tali Jiwa menjadi pucat. Apalagi mBahMbah Kanthil yang semula mulai ditumbuhi harapan. Ternyata bahwa yang dihadapinya adalah dua orang sua¬mi isteri yang benar-benar memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, sehingga Kiai Tali Jiwa, orang yang tidak pernah gagal itu, terpaksa menyerah dengan gemetar.

“Angger Agung Sedayu,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”aku menyerah. Aku merasa, bahwa aku tidak akan dapat melawan dengan cara apapun. Aku mohon ampun.”

“Kau sudah tua, Kiai,” berkata Agung Sedayu, “”umurmu tinggal seumur jagung. Apa bedanya bagimu, jika kau mati sekarang atau menunggu beberapa saat lagi.”

“Angger Agung Sedayu,” Kiai Tali Jiwa berjongkok di hadapan Agung Sedayu, “”berilah kesempatan kepada¬ku untuk melihat kesalahanku.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “”Kau terlalu licik untuk dipercaya, Kiai. Sekarang kau berjongkok di hadapanku, besok kau mulai mengeram di dalam bilik¬mu dengan jambangan dan pelita minyak di bawah asap kemenyan.”

“Tidak, Ngger. Aku bersumpah,” jawab Kiai Tali Jiwa.

“O, apakah kau masih menghargai kata-katamu sendiri? Apa artinya sumpah bagimu, Kiai?” jawab Agung Sedayu. Lalu, “”Lihat, air di dalam jambanganmu sudah mulai menjadi merah. Kau memang hampir berha¬sil, Kiai. Darahku mulai meleleh dari sela-sela bibirku. Namun tidak ada kuasa yang melampaui kuasa Yang Maha Agung. Ternyata bahwa aku masih diselamat¬kan-Nya.”

“Ya, ya Ngger. Aku memang mengaku kalah,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”aku mohon ampun.”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Dengan suara parau ia berkata, “”Tidak sepantasnya kesalahan¬mu dimaafkan. Mungkin aku seorang yang baik hati, yang dapat memaafkan kesalahanmu. Tetapi itu tidak adil. Berapa orang yang sudah kau kenai dengan ilmumu yang kau jual tanpa belas kasihan. Kau korbankan nyawa seseorang karena kau ingin mendapat imbalan.”

“Aku bersumpah. Aku bersumpah demi langit dan bumi. Demi air dan api atau apa saja yang akan dapat merampas nyawaku,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Tidak ada yang lebih berkuasa dari Yang Maha Agung. Bukankah aku sudah mengatakannya?” potong Agung Sedayu.

“Ya. Aku bersumpah demi Yang Maha Agung itu,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Kata-katamu mengambang tanpa jiwa. Kau tidak tahu arti dari kata-kata yang kau ucapkan,” sahut Agung Sedayu, “”karena itu, maka kau tidak dapat dimaafkan.”

“Ampunkan aku anak muda. Ampunkan aku,” min¬ta Kiai Tali Jiwa sambil merangkak di bawah kaki Agung Sedayu, sementara mBahMbah Kanthil pun telah terduduk de¬ngan lemahnya pula.

Kamus Jawa

Halaman Kamus Jawa


“Kiai,” berkata Agung Sedayu, “”air di jambangan itu sudah menjadi merah, sementara kau sudah menabur¬kan serbuk racun untuk membunuhku tanpa ampun.”

“Bukan kehendakku sendiri,” jawab Kiai Tali Jiwa.

“Itulah yang paling jahat. Jika kau berkepentingan dengan aku, karena dendam atau persoalan yang memaksamu berbuat demikian, maka masih dapat dipertimbangkan untuk mengampunimu. Tetapi justru karena kau tidak mempunyai persoalan dengan aku, teta¬pi kau telah berusaha membunuh untuk kepentingan orang lain, itulah yang memaksa aku untuk tidak memaafkanmu,” berkata Agung Sedayu.

Wajah Kiai Tali Jiwa benar-benar telah menjadi semakin putih. Tubuhnya menjadi gemetar dan kata-kata¬nya menjadi gagap, “”Kami berdua mohon ampun. Kami akan mengatakan siapa yang telah menyuruh kami. Dan kami pun akan bersedia untuk melontarkan kembali tenung itu kepada orang yang menyuruh kami.”

“Tidak,” jawab Agung Sedayu, “”aku tidak memerlukanmu. Aku dapat melakukan sendiri. Dengan caramu, atau aku cegat ia di tengah bulak panjang. Aku dapat membunuhnya dengan pedang, karena dengan demikian aku telah bersikap lebih jantan dari cara yang kau tempuh dari dalam bilik pengab itu.”

Kiai Tali Jiwa menjadi semakin gemetar. Agaknya Agung Sedayu sudah tidak lagi dapat dibujuknya untuk mengampuninya. Kesalahannya memang sudah terlalu besar. Dua kali ia berusaha membunuh Agung Sedayu. Tetapi keduanya telah gagal.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun berkata, “”Kiai. Yang manakah yang lebih penting bagi Kiai. Nyawa Kiai, atau ilmu yang kelam itu.”

“Apakah maksud Angger?” bertanya Kiai Tali Ji¬wa dengan terbata-bata.

“Jika Kiai masih ingin hidup, aku minta Kiai melepaskan ilmu Tunda Bantala,” berkata Agung Seda¬yu tegas.

Darah Kiai Tali Jiwa serasa terhenti. Dengan suara yang bergetar ia bertanya, “”Darimana Angger tahu, bah¬wa aku mempergunakan ilmu Tunda Bantala?”

“Aku melihat cara yang kau pergunakan. Aku meli¬hat jambangan dan reramuan dan aku lihat jambe terbe¬lah dan jarum di dalamnya. Semuanya menyatakan kepadaku, bahwa kau mempergunakan ilmu hitam,” berkata Agung Sedayu, “”karena itu, kau harus melepaskannya. Kau harus meletakkan Akik Pawenang di dalam dirimu.”

“O,” wajah Kiai Tali Jiwa menjadi semakin pucat. Akik Pawenang adalah salah satu sarana yang harus dimiliki oleh mereka yang mempelajari dan kemudian menguasai ilmu Tunda Bantala. Jika ia harus meletakkan Akik Pawenang, maka ia tidak akan mampu lagi berbuat sesuatu atas kekuatan ilmunya.

“Cepat Kiai,” bentak Agung Sedayu, “”atau aku akan membunuhmu.”

“Bagaimana aku dapat meletakkan Akik Pawenang, Ngger. Akik itu berada di dalam diriku,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Aku dapat membantumu Kiai,” jawab Agung Sedayu, “atau kau tentu dapat melakukannya sendiri, meskipun dengan demikian kau akan memuntahkan bersama Akik itu segumpal darah. Tetapi kau akan tetap hidup, meskipun kau tidak lagi memiliki ilmu itu. Sementa¬ra itu, aku pun minta mBahMbah Kanthil berbuat serupa.”

Kiai Tali Jiwa benar-benar telah tersudut ke dalam satu keadaan yang tidak dapat dielakkannya. Jika ia men¬olak, maka Agung Sedayu memang akan dapat membunuhnya, karena dalam olah kanuragan, ia memang tidak mempunyai arti sama sekali di hadapan Agung Sedayu.

Karena itu, maka ia memang tidak mempunyai pili¬han lain.

Meskipun demikian, Kiai Tali Jiwa itu masih juga bertanya, “”Anakmas. Kau benar-benar seorang yang mengagumkan. Namun satu hal yang aku tidak dapat mengerti sama sekali, bagaimana kau dapat mengetahui beberapa hal tentang diriku. Tentang ilmuku dan tentang Akik di dalam diriku itu pula.”

“Sudahlah,” berkata Agung Sedayu, “”lakukan perintahku. Kau dan mBahMbah Kanthil harus melepaskan Akik itu dari dalam dirimu. Aku tidak tahu, siapa sajakah muridmu yang telah kau beri kemampuan dengan ilmumu itu. Tetapi yang sekarang ada di hadapanku adalah kalian berdua.”

“Pilihan itu sangat berat bagiku,” desis Kiai Tali Jiwa.

“Jika begitu kau memilih mati,” sahut Agung Seda¬yu.

“Aku sudah bersumpah,” berkata Kiai Tali Jiwa pula.

“Pertanda dari sumpahmu, lakukanlah. Jika kau de¬ngan juiur ingin menghentikan perbuatanmu itu, maka kau tidak akan segan melepaskan Akik itu dari dalam dirimu,” berkata Agung Sedayu, “”buat apa ilmu itu bagimu, jika kau memang dengan jujur ingin menghentikan pekertimu.”

Kiai Tali Jiwa menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya mBahMbah Kanthil yang gemetar. Kemudian katanya, “”Kita tidak mempunyai pilihan lain, Kanthil. Marilah, meskipun kau masih belum menguasai ilmu itu dengan sempurna, tetapi biarlah mereka tahu, bahwa kita berdua benar-benar tidak akan berbuat sesuatu seperti apa yang pernah kita lakukan.”

mBahMbah Kanthil semula terlihat sangat tegang dan merasa sangat berat untuk melaksanakannya. Tetapi akhirnya ia berpendapat, jika gurunya saja tidak lagi mempunyai pilihan lain, maka apa lagi ia sendiri.

“Masuklah ke dalam bilikmu,” berkata Agung Seda¬yu, “”jangan kau tutup pintunya. Aku akan mengikuti laku kalian dengan saksama. Jika kalian berbuat curang, maka aku akan dapat membinasakan kalian.”

Kedua orang itu benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil kemudian ma¬suk ke dalam bilik mereka. Tetapi pintu bilik itu tidak ditu¬tup sebagaimana dikehendaki oleh Agung Sedayu.
Keduanya pun kemudian duduk membelakangi Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang kemudian berdiri beberapa langkah dari bilik itu.

“Apakah kita benar-benar akan melakukannya?” bertanya mBahMbah Kanthil sambil berbisik, ketika ia sudah duduk di sisi Kiai Tali Jiwa.

“Anak itu tahu segala-galanya, meskipun ada yang ti¬dak tepat benar. Tetapi aku tidak berani menentangnya. Nampaknya ia benar-benar dapat membunuh,” jawab Kiai Tali Jiwa.

mBahMbah kanthil menarik nafas dalam-dalam. Dilihat¬nya sekilas jambangan di hadapan mereka. Sekali lagi mBahMbah Kanthil berbisik, “”Apakah kita tidak dapat mempergunakan kesempatan ini?”

“Tidak mungkin, Kanthil. Anak itu benar-benar anak luar biasa. Biarlah kita terima nasib kita, asal kita tidak dibunuhnya,” jawab Kiai Tali Jiwa.

mBahMbah Kanthil tidak bertanya lagi. Keduanya pun kemudian duduk tepekur. Meskipun ada juga keseganan didalam diri, tetapi ternyata mereka masih memilih hidup mereka daripada ilmu mereka.

Sejenak kemudian keduanya telah sampai pada satu laku yang sebenarnya tidak mereka kehendaki. Mereka tengah memusatkan nalar budi mereka untuk melepaskan Akik Pawenang dari dalam diri mereka. Meskipun Akik itu sudah menyatu di dalam diri, tetapi dengan laku yang mereka kenal, maka mereka akan dapat melepaskannya betapa pun beratnya.

Sejenak kemudian tubuh kedua orang itu menjadi gemetar. Sementara Agung Sedayu dan Sekar Mirah memperhatikan keduanya dengan saksama.

“Apa yang mereka lakukan,” bisik Sekar Mirah.

“Aku kira mereka benar-benar akan melepaskan il¬mu mereka,” jawab Agung Sedayu.

“Kau yakin?” bertanya Sekar Mirah pula.

“Ya. Mereka sudah tidak mempunyai keberanian un¬tuk melawan,” jawab Agung Sedayu pula.

Sebenarnyalah, mereka menyaksikan dari arah bela¬kang, apa yang telah terjadi atas keduanya. Tubuh Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil benar-benar telah menggi¬gil. Sejenak kemudian, keduanya bagaikan menjadi ke¬jang.

Agung Sedayu dan Sekar Mirah menyaksikan laku itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka dapat merasa¬kan, bahwa laku itu sungguh sangat tidak menyenangkan. Tetapi keduanya harus menempuhnya, karena keduanya masih ingin hidup.

Dalam pada itu, maka dari ubun-ubun kedua orang itu seolah-olah telah keluar cahaya yang berwarna keme¬rah-merahan. Namun kemudian disusul oleh cahaya yang kebiruan. Meskipun terang cahaya yang keluar dari Kiai Tali Jiwa jauh lebih tajam dari cahaya yang keluar dari mBahMbah Kanthil.

Sebenarnyalah, keduanya benar-benar telah kehila¬ngan kemampuan mereka untuk mengetrapkan ilmu mereka yang untuk beberapa lamanya telah mereka pergunakan untuk melakukan tindakan yang tercela.
Namun dalam pada itu, Agung Sedayu merasa heran, bahwa ada dua jenis cahaya yang keluar dari diri kedua orang itu. Ia tidak tahu, apakah arti kedua jenis cahaya itu. Namun menurut pengenalannya, cahaya yang kebi¬ru-biruan adalah cahaya yang mempunyai sifat yang baik, sementara yang kemerah-merahan memang mempunyai sifat yang kurang terpuji.

Tetapi Agung Sedayu tidak mau menunjukkan kekurangannya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menunjukkan keheranannya.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu menyaksikan Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil duduk diam. Namun sejenak kemudian, Kiai Tali Jiwa berusaha menggeliat, sementa¬ra mBahMbah Kanthil telah jatuh terkulai dengan lemahnya.

“Kakang,” desis Sekar Mirah. “”Apa yang telah terja¬di dengan mereka.”

Agung Sedayu menjadi tegang. Tetapi menurut pengertiannya, kedua orang itu tidak akan mati meski¬pun untuk sesaat mereka seolah-olah telah kehilangan seluruh tenaganya bersama dengan lenyapnya kemampu¬an mereka.

Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil tidak berani berbuat pura-pura. Menurut anggapan mereka, Agung Sedayu benar-benar memiliki segala-galanya. Karena itu, maka mereka pun benar-benar telah melepaskan segenap ilmu mereka untuk mempertahankan hidup.

Agung Sedayu kemudian melangkah maju mendekati kedua orang yang menjadi sangat lemah. Namun Kiai Tali Jiwa masih mampu memutar diri dan menghadap ke arah Agung Sedayu.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sementara Sekar Mirah telah berpaling. Agaknya memang benar bahwa kedua orang itu telah memuntahkan darah bersa¬maan dengan lepasnya ilmu mereka.

Tetapi seperti yang diperhitungkan Agung Sedayu, sesuai dengan pengenalannya atas ilmu itu bahwa keduanya memang tidak mati karenanya.

“Benahi dirimu,” berkata Agung Sedayu, yang kemudian membawa Sekar Mirah duduk di amben bambu diruang itu.

Kiai Tali Jiwa tidak menjawab. Ketika kekuatannya sedikit demi sedikit mulai pulih kembali, maka ia pun te¬lah menolong mBahMbah Kanthil yang hampir tidak tahan lagi karena keringkihan wadagnya di dalam usia tuanya. Namun sejenak kemudian keduanya telah membersihkan diri dan duduk bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah, meskipun mBahMbah Kanthil masih harus bersandar dinding.

“Aku percaya bahwa kalian telah melakukan dengan sungguh-sungguh,” berkata Agung Sedayu.

“Ya Ngger. Bagaimanapun juga, aku masih berha¬rap untuk dapat berumur lebih panjang lagi, meskipun si¬sa hidupku tidak lagi akan berarti apa-apa,” jawab Kiai Tali Jiwa.

“Kau keliru Kiai,” jawab Agung Sedayu, “”justru hidupmu akan mulai berarti jika kau kehendaki. Selama ini kau telah menghantui orang-orang yang sebenarnya ti¬dak mempunyai persoalan dengan kau dan murid-murid¬mu. Tetapi orang-orang itu harus mengalami nasib yang buruk jika mereka gagal bertahan, atau karena keperca¬yaan mereka kepada kekuasaan Yang Maha Agung terasa goyah. Tetapi hidupmu kemudian adalah hidup yang ce¬rah justru di saat hari-hari terakhirmu. Kau adalah keluarga sesama yang baik dan tidak akan lagi melaku¬kan perbuatan yang tercela tanpa belas kasihan.”

Kiai Tali Jiwa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti, Ngger. Tetapi tanganku yang kotor dan bernoda darah ini, apakah masih akan mendapat kesem¬patan untuk dapat hidup bersama dalam keluarga sesa¬ma.”

“Kau telah mencucinya, Kiai. Bukan saja tanganmu, tetapi untuk selanjutnya kau harus mencuci hatimu. Jika kau mandi untuk membersihkan tubuhmu, maka kau pun harus mandi untuk membersihkan hatimu dengan sikap yang baru,” berkata Agung Sedayu.

Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil hanya dapat mengangguk-angguk. Sementara itu Agung Sedayu berka¬ta selanjutnya, “Dengan sikap yang baru maka kau akan menjadi orang baru dalam keluarga sesama, Kiai.”

“Mudah-mudahan aku masih dapat diterima, Ngger. Tetapi aku akan berusaha untuk melakukannya,” jawab Kiai Tali Jiwa. Dalam pada itu maka katanya pula, “Untuk terakhir kalinya Ngger, aku ingin membersihkan diri dari perbuatanku. Sebenarnyalan bahwa bukan atas kehendakku sendiri aku telah menyerang Angger. Jika Angger menghendaki aku akan mengatakan, siapakah yang telah menyuruh aku berbuat demikian?”

Tetapi Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “”Kami berdua sudah dapat menduga. Tetapi kami memang tidak ingin satu kepastian. Jika kau menyebut sebuah nama, kami akan tahu pasti, siapakah yang telah bersalah. De¬ngan demikian akan dapat merangsang hati kami untuk melakukan pembalasan dendam. Karena itu, biarlah ka¬mi tidak yakin siapakah yang telah memusuhi kami, agar kami tidak terdorong untuk melakukan pembalasan de¬ngan cara apa pun juga. Mudah-mudahan kegaga¬lan-kegagalan yang pernah terjadi, akan dapat memberi¬kan petunjuk kepadanya, bahwa yang dilakukan itu keliru.”

Wajah mBahMbah Kanthil dan Kiai Tali Jiwa menjadi te¬gang. Sementara itu Kiai Tali Jiwa berkata, “Aku benar-benar tidak pernah membayangkan, bahwa ada seseorang yang memiliki sifat seperti itu. Karena itu, da¬lam kesempatan, terakhir aku memperbandingkan diriku dengan Angger berdua, maka alangkah kotornya hidup yang pernah aku jalani.”

“Yang sudah itu dapat Kiai jadikan cermin,” berka¬ta Agung Sedayu, “”hati-hatilah di masa mendatang. Meskipun kau telah melepaskan ilmumu, tetapi selama hatimu masih hidup, kau akan dapat mempergunakan cara apa pun juga.”

***

Oleh Ki Sabung Ayam Sari dan Ki Abu Gaza
Proofing oleh Ki Terangguk-angguk

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 Februari 2009 at 18:05  Comments (109)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-60/trackback/

RSS feed for comments on this post.

109 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kayaknya minggu ini akhir pekan kelabu. Biasanya sih minum kopi sambil membayangkan sepak terjang Agung Sedayu dkk, wah sesok garing tenan. Saya doakan yang ki GD dan Senopati sehat wal-afiat biar rontal berikutnnya cepet terbit.

  2. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, parine lemu-lemu
    yayaakkee….!

    Ki Wiro_Gerong

  3. no 60 ok

  4. trims atas adbm gratisnya…..nggak ding wong modal internet…

  5. Sinten pirso retype kitab 160 ?

  6. Ohh wonten halaman 3 Pakdhe…
    Maturnuwun….

  7. Matur nuwun…

  8. daftar

  9. Tunai sudah penelusuran bundel kesepuluh.

    Matur nuwun Ki GD, matur nuwun Nyi Seno.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: