Buku II-60

Dua malam terakhir, perjuangan kedua belah pihak menjadi semakin seru. Tubuh Agung Sedayu memang merasa semakin letih. Bahkan di hari berikutnya, ia seolah-olah tidak sanggup lagi pergi ke barak untuk menunaikan tugasnya. Hanya karena kemauannya yang besar sajalah yang telah memberi kekuatan kepadanya untuk dapat melakukan tugas-tugasnya bersama Sekar Mirah.

Pada malam terakhir, menurut perhitungan Kiai Tali Jiwa adalah malam keempat puluh, maka perjuangan keduanya mencapai puncaknya. Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang tidak mengetahui hitungan hari itu, masih tetap belum memberitahukan keadaannya kepada orang-orang tua. Mereka masih berusaha untuk mengatasi perasaan yang asing itu tanpa memberita¬hukannya kepada Ki Waskita, agar Ki Waskita tidak justru mempunyai tanggapan lain atas persoalan itu. Mungkin Ki Waskita menganggap bahwa Agung Sedayu dan Sekar Mirah telah berselisih dan mengarah kepada saling menyalahkan dan saling menyatakan kekecewaan atas perkawinan yang telah mereka langsungkan.
Namun pada saat yang demikian, Kiai Tali Jiwa telah siap melepaskan serangan terakhirnya dengan segenap ilmu dan kemampuan yang ada padanya tanpa ampun sama sekali.

Malam itu Kiai Tali Jiwa duduk tepekur dengan sege¬nap daya kekuatannya yang terpusat kepada ilmu Tunda Bantala. Di hadapannya jambangan berisi air bunga dan beberapa reramuan yang lain masih tetap diterangi de¬ngan nyala lampu minyak yang berkeredip. Kiai Tali Jiwa telah meletakkan tiga batang jarum emas di dalam jambe yang telah dibelah, dan direndamkannya di dalam air jambangan itu. Ia telah mengesampingkan ilmu pemikatnya terhadap Sekar Mirah, sehingga dengan demikian, ia memusatkan segenap kemampuannya pada serangannya terhadap Agung Sedayu. Dengan ilmunya Tunda Bantala, Kiai Tali Jiwa berusaha untuk memasukkan tiga batang jarum emas itu langsung ke dalam jantung Agung Sedayu. Ia tidak lagi ingin menyakiti tubuh anak muda itu sebagaimana dikehendaki oleh Prastawa dengan menempatkan jarum-jarum emas itu pada sendi-sendi Agung Sedayu. Tetapi serangan itu akan langsung menusuk jantungnya dan membunuhnya.

Demikianlah, telah terjadi perjuangan yang sangat dahsyatnya. Kiai Tali Jiwa masih merasakan perisai yang rapat memagari kehidupan Agung Sedayu . Namun Kiai Tali Jiwa tidak jemu-jemu menyerang dengan ilmunya. Menghantam perisai yang seolah-olah tidak tertembus itu. Bertubi-tubi, susul menyusul tanpa ada henti-hentinya. Se¬jak matahari terbenam Kiai Tali Jiwa telah mengerahkan segenap ilmunya, setelah sehari semalam Kiai Tali Ji¬wa telah berpuasa pati geni. Tanpa minum seteguk air pun dan tanpa makan sesuap nasi pun.

Menjelang tengah malam keringat Kiai Tali Jiwa tel¬ah membasahi segenap tubuhnya. Wajahnya menegang. Dengan tatapan mata membara ia memandang jambangannya serta ketiga batang jarum di dalam jambe yang dibelah dan direndam di dalam air di jambangan itu.

Gerak-gerak bibirnya menyebut kata-kata manteranya. Semakin lama semakin cepat. Namun dalam pada itu, keringatnya pun menjadi semakin banyak terperas dari dalam dirinya.

Namun tiba-tiba di tengah malam terdengar Kiai Tali Jiwa hampir berteriak, “”Kanthil, Kanthil.”

mBahMbah Kanthil berlari-lari mendekat.

“Aku hampir berhasil,” geram Kiai Tali Jiwa, “”tetapi dinding itu terlalu keras. Cepat, duduk di belakang¬ku. Pegang punggungku dan kita bersama-sama menye¬rang anak muda gila itu.”

mBahMbah Kanthil tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun lang¬sung duduk bersimpuh di belakang Kiai Tali Jiwa. Serba sedikit, mBahMbah Kanthil memiliki pula ilmu Tunda Bantala yang dalam hubungannya dengan orang-orang tertentu te¬lah dapat dipergunakanya pula.

Sambil memusatkan kemampuannya, mBahMbah Kan¬thil telah memegangi punggung Kiai Tali Jiwa, seo¬lah-olah ia telah menyalurkan segenap kemampuan ilmu¬nya untuk membantu kekuatan daya lontar ilmu Kiai Tali Jiwa itu.

Dengan demikian, maka sebenarnyalah bahwa kekua¬tan ilmu Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil telah menumbuhkan satu kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang sulit di jajagi dengan nalar.

Tetapi Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak melawan ilmu Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil dengan kemampuan nalarnya. Namun mereka justru dengan pa¬srah mengakui betapa lemahnya daya tahan mereka. Meskipun demikian, mereka yakin dengan sebulat hati-nya, bahwa betapa pun lemahnya mereka, namun mereka tidak melawan kekuatan ilmu yang telah menumbuhkan keadaan yang asing pada diri mereka itu sendiri. Tetapi mereka telah bersandar kepada kekuasaan yang Maha Kuasa.

Demikianlah telah terjadi satu benturan kekuatan yang dahsyat sekali. Kekuatan Kiai Tali Jiwa yang berga¬bung dengan kekuatan muridnya, berusaha untuk menem¬bus pertahanan Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang dibantu oleh Glagah Putih yang berlindung di balik perisai keyakinan dan kepercayaannya.

Namun betapa kuatnya ilmu Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil itu. Apalagi mereka telah memusatkan serangan¬nya tidak kepada dua orang bersama-sama, tetapi hanya ditujukan kepada Agung Sedayu.

Terasa betapa perasaan Agung Sedayu tengah bergejolak. Tetapi ia tidak berkisar dari keyakinannya. Betapa tubuhnya terasa sangat letih dan kadang-kadang sendi-sendinya serasa akan lepas satu dengan yang lain, bahkan jantungnya serasa bagaikan ditusuk-tusuk dengan duri, tetapi ia tidak beringsut seujung rambut pun dari keyakinannya.

Dalam pada itu, keringat bagaikan terperas dari tubuh Agung Sedayu. Dahinya menjadi basah seperti terguyur air. Demikian pula pakaiannya. Sekali-sekali nampak bibirnya bergetar, bahkan terdengar desis perla¬han. Perasaan sakit yang menusuk jantungnya, semakin lama menjadi semakin terasa.

Di rumah mBahMbah Kanthil, asap dupa telah memenuhi seluruh bilik, sehingga cahaya lampu minyak yang berkeredipan seakan-akan menjadi kian buram. Namun kedua orang itu dengan sekuat kemampuannya mereka tengah berusaha menghancurkan sasarannya tanpa am¬pun lagi.

Pada saat dupa menipis, maka Kiai Tali Jiwa yang se¬dang memusatkan nalar budinya, telah menaburkan beberapa gumpal kemenyan sebagai hentakkan terakhir, ia harus dapat menghancurkan Agung Sedayu.

Ketika dupa itu menyala menggapai-gapai, ruangan yang penuh dengan asap itu seolah-olah telah berguncang. Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil telah memejamkan matanya, memusatkan segenap ilmunya pada hentakkan yang menentukan.

Pada saat yang demikian, benturan ilmu yang berusaha menembus perisai diseputar kehidupan Agung Sedayu, telah menimbulkan angin pusaran yang menggebu. Gla¬gah Putih yang duduk bersama Sekar Mirah dan Agung Sedayu mendengar seolah-olah rumah itu telah dilanda oleh prahara yang mengamuk.

Terasa tengkuk Glagah Putih meremang. Tetapi ia masih melihat Sekar Mirah dan Agung Sedayu duduk sam¬bil menyilangkan kedua tangan mereka di dada. Sementa¬ra itu, Glagah Putih sempat melihat, wajah Agung Sedayu yang kadang-kadang menjadi tegang, seolah-olah sedang menahan sakit yang mencengkamnya.

Tetapi ketika Glagah Putih melihat nyala api lampu minyak di ajug-ajug, ia sama sekali tidak melihat kesan, bahwa nyala lampu itu telah tersentuh angin yang betapa¬ pun lembutnya. Nyala api itu tegak seperti biasa, meski¬pun seolah-olah di luar rumah, bertiup badai dan angin ribut.

“Suasananya sangat aneh,” berkata Glagah Putih di dalam dirinya.

Namun dengan demikian, meskipun tidak sedalam Se¬kar Mirah dan Agung Sedayu, Glagah Putih pun berusaha untuk memusatkan nalar budinya. Ia pun yakin, bahwa ia akan dapat membantu, memohon kepada Tuhan agar mereka diselamatkan dari keadaan yang sangat asing itu.

Ketika angin prahara itu berputaran, seolah-olah se¬dang mengitari benteng baja yang tidak tertembus, ka¬dang-kadang terdengar seolah-olah ledakan-ledakan seperti suara petir di langit. Kadang-kadang mengejutkan kadang-kadang perlahan-lahan.

Pada saat yang demikian, sebuah kejutan telah mengguncang amben pembaringan Ki Waskita. Betapa terkejutnya orang tua itu, sehingga ia terlonjak dari ambennya dan berdiri tegak dengan penuh kewaspadaan.

Namun ia tidak melihat sesuatu. Ia tidak melihat apa ¬pun juga. Ketika ia memusatkan pengamatannya pada pendengarannya, ia pun tidak mendengar sesuatu.

“Aneh,” desis Ki Waskita. Namun Ki Waskita tidak berteka-teki terlalu lama. Ia pun kemudian duduk sambil memusatkan inderanya pada jangkau yang melampaui kemampuan orang kebanyakan.

Tiba-tiba Ki Waskita menjadi tegang. Dengan serta merta, ia pun bangkit berdiri. Sambil mengemasi pakaian¬nya yang tidak sempat ditukarnya, ia pun segera keluar dari biliknya. Ketika ia turun ke gandok, maka seorang penjaga telah menyapanya.

“Aku ingin menghirup udara malam,” katanya sam¬bil tersenyum. “”Di dalam udara terasa panas sekali.”

Para penjaga tidak mencurigainya. Dibiarkan Ki Waskita keluar regol halaman rumah Ki Gede. Namun demikian, ia sampai di kegelapan, maka ia pun segera berlari seperti angin menuju ke rumah Agung Sedayu yang tidak begitu jauh.

Ki Waskita memang bukan orang kebanyakan. Ia pun mampu berlari lebih cepat dari orang kebanyakan, meski¬pun tidak secepat Agung Sedayu. Justru karena kegelisa¬han yang menghentak-hentak jantungnya, setelah ia meli¬hat isyarat yang mendebarkan jantung. Ki Waskita telah melihat asap yang kehitaman dan nyala api kemenyan te-lah membakarnya.

Dengan demikian, maka Ki Waskita dapat meraba satu kesimpulan, bahwa Agung Sedayu sedang mengala¬mi satu keadaan yang tidak sewajarnya, meskipun ia ti¬dak tahu pasti apa yang terjadi.

Jarak yang tidak jauh itu ditempuhnya dalam waktu dekat. Namun ketika ia memasuki regol halaman rumah Agung Sedayu, terasa bulu tengkuknya meremang.

“Suasana yang aneh,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. Namun ia tidak beranjak surut. Ia melangkah te¬rus ke pendapa rumah Agung Sedayu. Betapa perasaan asing menerpa jantungnya, namun Ki Waskita maju de¬ngan langkah yang pasti.

Pada saat ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, tiba-tiba ia telah terkejut. Seperti yang dirasakan oleh Glagah Putih, maka seolah-olah di seputar halaman rumah itu telah terjadi angin prahara. Suaranya bagaikan gelombang laut yang susul menyusul menghantam pantai.

Jantung Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Tetapi seperti Glagah Putih, ketika ia melihat lampu minyak di pendapa, nyalanya sama sekali tidak bergerak.

“Tentu ada yang tidak wajar,” berkata Ki Waskita. Pengalaman dan pengetahuannya yang luas, justru membuatnya semakin gelisah.

Perlahan-lahan Ki Waskita mengetuk pintu rumah Agung Sedayu. Ketika sekali dua kali, tidak seorang pun yang menyahut, maka ia pun mengetuk semakin keras. Bahkan hampir saja ia memecah daun pintu itu bergerak karena kegelisahan yang menghentak-hentak.

Di ruang dalam, Glagah Putih mendengar ketukan pintu itu. Ia menjadi ragu-ragu. Tetapi ia tidak dapat bertanya kepada Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang agaknya sedang berjuang dengan sekuat tenaganya. Berjuang dalam kepasrahannya, memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikan perlindungan kepada-Nya.

Karena itu, Glagah Putih harus mengambil sikap. Ia tidak mau mengganggu pemusatan nalar dan budi Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

Karena ketukan pintu itu menjadi semakin keras, maka Glagah Putih pun kemudian turun dari amben. Dengan tangkas ia meloncat. Tetapi tidak langsung membuka pintu. Ia curiga karena suasana yang asing. Sehingga karena itu, maka ia sempat menyambar pedang¬nya di biliknya dan langsung berlari ke pintu yang menghentak-hentak.
“Siapa?” bertanya Glagah Putih sambil mengacu¬kan pedangnya.

“Aku, Waskita,” jawab di luar.
,
“O, Ki Waskita,” ulang Glagah Putih.

“Ya,” jawab Ki Waskita.

Dengan tergesa-gesa Glagah Putih telah membuka pintu. Ketika ia melihat benar-benar Ki Waskita berdiri di luar, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

Ki Waskita pun segera beringsut masuk. Demikian ia melangkahi tlundak pintu, maka ia pun segera menutup pintu itu kembali.

“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Waskita.

“Aku tidak tahu. Suasana yang asing telah menceng¬kam rumah ini. Mula-mula tidak terlalu terasa. Tetapi di hari-hari terakhir ini, keadaan menjadi semakin buruk.”

“Ceriterakan,” minta Ki Waskita.

Dengan singkat Glagah Putih menceriterakan apa yang telah terjadi. Cahaya yang kemerah-merahan. Sikap Sekar Mirah dan keadaan wadag Agung Sedayu.

Wajah Ki Waskita menjadi tegang. Ia pun langsung da¬pat menebak apa yang telah terjadi.

“Apa yang dilakukan Agung Sedayu dan Sekar Mirah sekarang?” bertanya Ki Waskita.

“Mereka duduk di ruang dalam. Mereka sedang memusatkan akal budi mereka, mengadukan keadaan mereka kepada Tuhan,” jawab Glagah Putih.
“Bagus. Bagus. Mereka telah melakukan hal yang tepat. Di mana mereka sekarang,” bertanya Ki Waskita.

Glagh Putih pun kemudian mengajak Ki Waskita ke ruang dalam. Ketika Ki Waskita memasuki ruang itu, jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Ia melihat Agung Sedayu duduk dengan keringat yang membasahi segenap tubuhnya. Wajahnya menjadi pucat seperti kapas. Namun Ki Waskita melihat betapa nafas orang muda itu terse¬ngal-sengal. Sementara Sekar Mirah bersandar pada din¬ding rumahnya. Matanya terpejam rapat sebagaimana Agung Sedayu. Tubuhnya nampak gemetar seperti orang kedinginan.

Ki Waskita berdiri tegak. Namun kemudian, ia pun beringsut mendekat. Tetapi ia tidak duduk di amben itu pu¬la. Ia tidak mau mengganggu pemusatan pikiran kedua suami isteri itu. Namun adalah kewajibannya untuk bersama dengan mereka memohon kepada Tuhan perlindungan atas bencana yang akan dapat menimpa kedua orang suami isteri itu.

Namun sebelum Ki Waskita sempat berbuat demi¬kian, hampir saja ia berdesah. Untunglah ia masih dapat menahan diri ketika ia melihat darah meleleh di bibir Agung Sedayu.

Sejenak Ki Waskita termangu-mangu, dan ia menya¬dari sepenuhnya segala apa yang ditempuh oleh Agung Sedayu, karena ia pun yakin, bahwa kuasa yang paling tinggi adalah di tangan Yang Maha Kuasa.

Kemarahan yang membakar jantungnya, telah mengerahkan segenap daya dan kekuatannya untuk mendorongnya menghadap kepada Tuhan Yang Maha Agung. Dengan permohonan yang mantap dan sepenuh hati, sebagaimana dilakukan oleh Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

Namun ternyata tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Ki Waskita. Selagi ia mulai menyilangkan tangannya, tiba-tiba saja ia mendengar suara mangkuk yang retak, dan bahkan pecah tanpa sebab. Mangkuk yang terletak di amben di hadapan Glagah Putih semula duduk.

Ki Waskita terkejut. Ia mengurungkan niatnya. Teta¬pi ia cepat memeriksa mangkuk yang pecah itu bersama Glagah Putih. Di dalam mangkuk yang pecah dan yang airnya berserakan itu, terdapat buah jambe yang terbelah. Pada saat yang bersamaan, jambangan Kiai Tali Jiwa telah bergejolak. Airnya bagaikan diaduk, bahkan kemudi¬an seolah-olah telah mendidih.

Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil menjadi tegang. Jantung mereka berdegup makin keras. Sementara diper¬hatikan gejolak air di dalam jambangan. Namun sesaat kemudian, mereka menghentakkan kemampuan mereka sampai ke puncaknya.

Ketika air didalam jambangan itu bercahaya, maka tiba-tiba saja Kiai Tali Jiwa berteriak, “”Kanthil, Jambe itu sudah tidak ada.”

mBahMbah Kanthil bergeser setapak. Oleh pengerahan puncak ilmunya, maka tubuhnya hampir tidak mampu lagi bergeser oleh kelelahan. Nafasnya tersengal-sengal meluncur lewat lubang hidungnya.

“Cepat, perempuan cengeng,” bentak Kiai Tali Ji¬wa.

“Aku hampir mati kelelahan, Guru,” jawabnya di antara desah nafasnya.

“Lihat, kita menang. Jambe itu sudah tidak ada. Aku berhasil menyusupkan jarum emas itu ke dalam jantung Agung Sedayu. Ia akan mati dan kita akan merayakan kemenangan kita.”

“O,” mata mBahMbah Kanthil menjadi melotot, “”jambe itu memang sudah tidak ada.”

“Bagus. Kita menang,” Kiai Tali Jiwa menjadi kegirangan.

Namun dalam pada itu, mBahMbah Kanthil justru beringsut menepi. Sambil bersandar dinding ia berkata, “”Besok ki¬ta rayakan kemenangan ini.”

Kiai Tali Jiwa pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kemudian ia pun merasakan keletihan yang sangat. Karena itu, maka ia kemudian beringsut keluar dari bilik yang pengap oleh asap kemenyan itu. Tertatih-tatih ia melangkah ke amben di ruang dalam. Sambil menjatuhkan dirinya ia berkata, “”Aku masih Kiai Tali Jiwa yang sakti. Semua penunggu langit, penunggu lautan dan bumi telah membantuku. Aku berha¬sil. Mereka telah mengirimkan api, air dan udara ke da¬lam diriku, sehingga kekuatanku jadi berlipat. Dengan demikian, aku berhasil menembus benteng yang paling te¬bal yang pernah aku jumpai.”

“Aku ikut membantu, Guru,” desis mBahMbah Kanthil yang hampir pingsan.

“Ya, kau memang telah membantu. Tetapi sumber ilmumu juga dari aku pula asalnya,” jawab Kiai Tali Ji¬wa.

mBahMbah Kanthil mengangguk-angguk. Namun ia tidak beringsut dari tempat duduknya. Untuk beberapa saat ia pun berusaha untuk memulihkan kekuatannya yang da¬tang sangat perlahan. Demikian pula dengan Kiai Tali Ji¬wa. Bahkan seolah-olah kedua orang yang dicengkam oleh kepuasan jiwa itu pun seolah-olah justru telah tertidur.

Namun dalam pada itu, sesosok tubuh telah merayap mendekat dinding rumah perempuan tua itu. Sejenak orang itu menunggu. Namun hampir terlonjak ia terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar seorang laki-laki tua dalam rumah itu berkata, “”He, Kanthil. Kau tidur he?”

“Tidak Guru. Aku tidak tidur,” jawab mBahMbah Kanthil dari dalam biliknya.

“Persetan. Tetapi marilah kita merayakan kemena¬ngan kita. He, bukankah kau bilang, bahwa kita akan merayakan kemenangan kita ini,” bertanya Kiai Tali Ji¬wa.

“Ya, Guru,” jawab mBahMbah Kanthil tanpa beringsut.

“Nah, bukankah kau memelihara beberapa ekor ayam. Tangkap satu atau dua ekor. Kau dapat menyembelihnya, dan kita akan merayakan kemenangan kita dengan sepasang ingkung ayam kemanggang,” terdengar Kiai Tali Jiwa berkata sambil masih tetap duduk bersandar tiang.

“Besok aku akan menangkap dua ekor,” jawab mBahMbah Kanthil.

“Sekarang, hari sudah hampir pagi. Jika ayammu sempat keluar kandang, kau akan mengatami kesulitan untuk menangkapnya. Kau sudah tidak mampu berlari secepat langkah kaki ayam,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Masih belum pagi,” jawab mBahMbah Kanthil.

“Sebentar lagi akan pagi,” teriak Kiai Tali Jiwa.

mBahMbah Kanthil mengumpat di dalam hati. Namun ia pun berusaha untuk bangkit dan melangkah terhu¬yung-huyung ke pintu sambil berkata, “”Aku letih sekali, Guru. Aku belum mampu menangkap ayam.”

“Perempuan cengeng. Kau mulai merajuk. Baiklah. Kita tunggu sampai kau dapat melangkah ke kandang dan menangkap dua ekor ayam kemanggang. Jangan yang sudah tua. Aku tidak akan dapat ikut makan dagingnya,” Kiai Tali Jiwa tertawa. Tetapi ia masih tetap duduk bersandar tiang.

Sementara itu, sesosok tubuh yang ada di luar pun beringsut menjauh. Dengan wajah tegang ia pun kemudian meninggalkan halaman rumah itu. Sejenak kemudian, maka orang itu pun telah mengambil kudanya yang disembunyikannya di dalam gerumbul.

“Benar dugaan Ki Waskita,” geram orang di punggung kuda itu, “”yang telah berusaha membunuh Kakang Agung Sedayu tentu orang-orang yang berilmu jahat dan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Karena menurut pendengaran Ki Waskita, satu-satunya juru tenung di
Tanah Perdikan ini adalah perempuan tua itu, maka besar dugaannya, bahwa sumber bencana itu berasal dari rumah itu.”

Dengan demkian, maka orang yang tidak lain adalah Glagah Putih itu telah memacu kudanya seperti angin. Ia dapat meyakinkan dirinya, bahwa orang yang telah berbu¬at jahat dan mencelakai Agung Sedayu itu adalah dua orang yang berada di dalam rumah itu. Seorang dikenal dengan nama mBahMbah Kanthil tetapi laki-laki yang ada di ru¬mah itu tidak dapat dikenalnya, namun menurut tangkapannya, agaknya justru laki-laki itulah yang mempunyai kekuatan yang lebih besar dalam ilmu tenung itu.

“Keduanya akan merayakan kemenangannya,” Glagah Putih menggeretakkan giginya.

Sementara itu, langitpun menjadi semakin terang. mBahMbah Kanthil yang sudah menjadi semakin pulih kembali kekuatannya telah bangkit sambil berkata, “”Aku seka¬rang akan menangkap dua ekor ayam itu.”

“Cepat,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”aku sudah berpuasa empat puluh hari empat puluh malam dan pati geni di hari terakhir. Karena itu, daging ayam kemang¬gang akan memberikan kesegaran pada wadagku.”

Tertatih-tatih perempuan tua itu pergi keluar rumah. Di muka kandang ayamnya ia terhenti sejenak. Diamatinya beberapa ekor ayam yang sudah gelisah di da¬lam kandangnya.

mBahMbah Kanthil tiba-tiba tertawa. Katanya kepada diri sendiri, “”Dua ekor ayamku tentu akan mendapat ganti jauh lebih banyak lagi. Tetapi kerja ini belum selesai. Guru masih harus menggarap Sekar Mirah. Mudah-muda¬han Angger Prastawa tidak mengelak, justru karena Agung Sedayu terbunuh.”

Sejenak kemudian, terdengar dua ekor ayam menje¬rit-jerit di tangan mBahMbah Kanthil. Tetapi mBahMbah Kanthil ha¬nya tertawa saja. Namun sejenak kemudian, suara ayam itu pun tiba-tiba terhenti, ketika mBahMbah Kanthil memutar lehernya.

“Kenapa kalian berteriak-teriak,” geram mBahMbah Kanthil.

Sambil menjinjing dua ekor ayam yang sudah mati itu, mBahMbah Kanthil pergi ke dapur. Ia tidak menghiraukan cara yang paling baik untuk menyembelih seekor ayam sebagaimana seharusnya. Baginya tidak ada bedanya, apakah darah ayam itu akan tuntas mengalir lewat bekas luka dileher, atau membeku di dalam dagingnya. Baginya ayam itu asal saja mati dan dibersihkan setelah dicabut bulunya, akan sama saja artinya.

Namun dalam pada itu, ketika ia mengambil pisau yang ada di ruang dalam untuk membersihkan ayamnya, ia melihat Kiai Tali Jiwa merenungi air jambangannya. Ternyata lampu minyak di dalam bilik itu masih belum pa¬dam.

“Ada apa lagi, Guru?” bertanya mBahMbah Kanthil.

“Tidak apa-apa,” jawab Kiai Tali Jiwa. Namun kemudian katanya, “”agaknya kematian Agung Sedayu te¬lah menyiksanya. Darah di dalam jambangan itu tidak terlalu banyak. Kematian Agung Sedayu tentu berlang¬sung lebih lama dari yang seharusnya.”

Tetapi mBahMbah Kanthil tertawa. Katanya, “”Ayam-ayam itu mati tanpa menitikkan darah. Aku putar lehernya sehingga tulang-tulangnya menjadi patah.”

“Persetan,” geram Kiai Tali Jiwa, “”kita akan meli¬hat, bahwa air di dalam jambangan itu akan menjadi semakin lama semakin memerah, sehingga akhirnya benar-benar seperti darah. Dalam jarak waktu itulah, Agung Sedayu mengalami siksaan menjelang matinya. Siksaan yang dibuatnya sendiri, karena ia telah mencoba bertahan.”

mBahMbah Kanthil tertawa semakin keras. Katanya, “”aku tidak peduli. Yang penting Angger Prastawa mengakui hasil kerja keras kita berdua dan memberikan imba¬lan seperti yang dikatakannya. Tetapi kerja kita masih harus kita teruskan. Menundukkan Sekar Mirah.”

Kiai Tali Jiwa-lah yang kemudian tertawa. Katanya, “”Perempuan itu tidak sekeras Agung Sedayu. Ia akan tunduk di bawah pengaruhku, dan pada saat Agung Sedayu dikuburkan, ia sudah melupakannya.”

mBahMbah Kanthil tertawa pula. Katanya, “”Kita akan merayakannya dengan dua ekor ayam kemanggang.”

Sambil menjinjing pisaunya, mBahMbah Kanthil keluar rumahnya menuju ke dapur.

Tetapi ia terkejut ketika ia mendengar derap kaki ku¬da. Dengan serta merta ia telah ke ruang dalam. Dilihat¬nya Kiai Tali Jiwa pun memperhatikan suara derap kaki kuda itu.

Tetapi mBahMbah Kanthil pun kemudian berkata, “”Agak¬nya Angger Prastawa segera ingin mengetahui hasilnya. Tetapi bukankah lebih dekat jika ia langsung datang ke rumah Agung Sedayu?”

“Itu perbuatan bodoh,” geram Kiai Tali Jiwa, “”jika ia pergi ke rumah Agung Sedayu, maka di rumah itu seka¬rang tentu sedang ribut dengan orang-orang yang kebingungan. Agung Sedayu sedang diletakkan orang membujur ke Utara. Beberapa orang sedang menyiapkan air untuk memandikannya. Kehadirannya tentu akan menarik perhatian orang.”

“Tentu tidak. Ia datang atas nama Ki Gede,” jawab mBahMbah Kanthil.

Tetapi keduanya tidak sempat membantah. Derap kaki kuda itu memang berhenti di depan rumahnya.

“Buka pintu,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”aku akan menunjukkan kepada Angger Prastawa, bahwa air di ¬dalam jambangan itu sudah menjadi merah. Semakin lama akan menjadi semakin merah. Tetapi Agung Sedayu tentu sudah mati.”

“Bahkan mungkin Angger Prastawa justru ingin memberitahukan kematian Agung sedayu itu,” desis mBahMbah Kanthil.

Dalam pada itu, dengar pintu rumah mBahMbah Kanthil itu diketuk orang. Dengan tergesa-gesa mBahMbah Kanthil pergi ke pintu rumahnya yang tertutup.

Dengan tergesa-gesa pula mBahMbah Kanthil mendorong daun pintu leregnya ke samping, sehingga sejenak kemu¬dian pintu itu pun telah terbuka.

“Agung Sedayu,” mBahMbah Kanthil hampir berteriak.

Betapa terkejutnya perempuan tua itu. Bahkan Kiai Tali Jiwa yang berada di dalam rumah itu pun terlonjak dengan mata yang terbelalak. Yang berdiri di muka pintu itu adalah Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“Selamat pagi, mBahMbah Kanthil,” desis Agung Sedayu sambil membungkuk hormat.

mBahMbah Kanthil berdiri mematung dengan mulut ter¬nganga. Sementara itu Kiai Tali Jiwa memandanginya dengan degup jantung yang menjadi semakin cepat. Ia melihat Agung Sedayu berdiri tegak, meskipun wajahnya masih nampak pucat.

“Apakah aku diperbolehkan masuk?” berkata Agung Sedayu.

mBahMbah Kanthil menjadi kebingungan. Tetapi Agung Sedayu tidak menunggu jawabnya. Ia pun kemudian membimbing Sekar Mirah masuk ke dalam rumah mBahMbah Kanthil yang kotor itu. Tanpa dipersilahkan, maka kedua¬nya pun kemudian duduk di amben yang ada di dalam rumah mBahMbah Kanthil itu.

“Kenapa kalian seperti sedang kebingungan?” bertanya Sekar Mirah kepada mBahMbah Kanthil.

mBahMbah Kanthil masih belum dapat menjawab. Seolah-olah ia sedang berhadapan dengan dua sosok mayat yang bangkit dari kuburan.

“Apa yang aneh pada kami berdua?” bertanya Se¬kar Mirah.

mBahMbah Kanthil masih belum dapat menjawab. Namun Kiai Tali Jiwa agaknya telah berhasil menguasai goncangan perasaannya. Katanya, “”Maaf, Ngger. Aku terceng¬kam oleh kehadiran kedua anak muda yang belum aku kenal ini?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya mBahMbah Kanthil yang masih berdiri membeku. Katanya, “”Bukankah mBahMbah Kanthil tadi sudah menyebut namaku? Tentu mBahMbah Kanthil mengenal aku. Aku selalu berkeliaran di Tanah Perdikan Menoreh. Sekali-sekali mBahMbah Kanthil tentu pernah bertemu dengan aku.”

“Ya. Ya. Aku mendengar ia menyebut sebuah nama. Tetapi aku tidak jelas. Dan bukankah Anakmas datang berdua,” jawab Kiai Tali Jiwa.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “”Jadi Kiai belum mengenal aku? Aku adalah Agung Sedayu dan ini isteriku, Sekar Mirah .”

“O. Jadi aku tadi memang mendengar Kanthil menyebut nama Agung Sedayu,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”nama yang sudah sering aku dengar. Nama seorang anak muda yang luar biasa. Yang pilih tanding dan yang memiliki perbendaharaan ilmu tanpa hitungan.”
“Ah, tentu berlebih-lebihan, Kiai,” jawab Agung Sedayu, “aku adalah kebanyakan anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Tidak ada lebihnya apa pun juga.”

Kiai Tali Jiwa mengangguk-angguk. Namun terasa jantungnya berdegup semakin cepat. Sikap Agung Sedayu nampak benar-benar meyakinkan. Meskipun ia nampak agak pucat, namun ia tetap berwibawa.

“Angger berdua,” bertanya Kiai Tali Jiwa kemudian, “”setelah aku mengerti siapakah Anakmas berdua ini, maka perkenankanlah aku bertanya, apakah kepentingan Anakmas berdua datang ke pondokku di pagi-pagi hari ini?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya, “”Kiai, sebenarnyalah kami berdua ingin mohon pertolongan kepada mBahMbah Kanthil. Namun agaknya di rumah ini sedang ada seorang tamu. Apakah aku diperkenankan untuk mengetahui, siapakah nama Kiai dan sekaligus asal usulnya?”

Wajah Kiai Tali Jiwa menegang. Dipandanginya mBahMbah Kanthil yang mematung. Namun jawaban Agung Sedayu itu rasa-rasanya dapat memberinya sedikit harap¬an.

“Angger berdua,” jawab Kia Tali Jiwa, “”sudah tentu aku tidak akan berkeberatan. Namaku Tali Jiwa. Aku berasal dari tempat yang jauh. Aku datang dari Gunung Sumawana.”

“Ya, ya Ngger,” berkata mBahMbah Kanthil, “”orang tua itu adalah guruku.”

“Guru, atau saudara seperguruan?” Agung Sedayu menjelaskan.

“Guru. Meskipun umur kami hampir sebaya, tetapi ia adalah guruku,” jawab mBahMbah Kanthil. Lalu, “”Tetapi pertolongan apakah yang Angger kehendaki?”

mBahMbah Kanthil menjadi tegang ketika Agung Sedayu menjawab, “”mBahMbah Kanthil. Aku telah mengalami satu peristiwa yang tidak kukenal. Menurut pendengaranku, mBahMbah Kanthil mempunyai ilmu yang dapat dipergunakan untuk menyerang dari jarak jauh. Apakah benar demiki¬an?”

“O,” mBahMbah Kanthil telah beringsut dari tempatnya. Kemudian ia pun bertanya, “”peristiwa apakah yang Angger maksud?”

“Aku tidak tahu dengan pasti, mBahMbah Kanthil, tetapi menurut ciri-cirinya, agaknya aku telah kena tenung,” jawab Agung Sedayu.

“Lalu, maksud kedatangan Angger berdua,” mBahMbah Kanthil mulai berharap. Agaknya Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas mereka, sehingga mereka telah datang kepadanya untuk minta pertolongan.

Karena itu maka ia pun menjadi semakin berani untuk bergeser mendekat.

“mBahMbah Kanthil,” berkata Agung Sedayu kemudian, “”malam tadi, di rumahku, tiba-tiba saja telah aku ketemukan benda yang sangat asing bagiku. Mungkin mBahMbah Kanthil mengetahuinya. Jika itu merupakan alat tenung, maka mBahMbah Kanthil aku harap dapat menunjuk¬kan, siapakah yang telah melakukannya, dan apakah ia telah berbuat atas kehendaknya sendiri atau karena permintaan orang lain.”

“O begitu,” Kiai Tali Jiwa-lah yang menjawab, “”Kanthil memang dapat berbuat demikian. Jika ia mengalami kesulitan, biarlah aku membantunya. Aku adalah gurunya yang kebetulan sedang mengunjunginya.”

“Terima kasih Kiai,” berkata Agung Sedayu. Sambil berpaling kepada Sekar Mirah ia berkata, “”Mirah. Berikan benda itu kepadaku.”

Sekar Mirah pun kemudian mengambil sesuatu yang dibungkus dengan sehelai kain dari ikatan ujung bajunya. Kemudian memberikan benda itu kepada Agung Sedayu.

“Ini mBahMbah Kanthil, aku persilahkan untuk membuka¬nya dan melihat isinya,” berkata Agung Sedayu.

mBahMbah Kanthil menjadi termangu-mangu. Namun Kiai Tali Jiwa pun kemudian berkata, ”Lihatlah.”

mBahMbah Kanthil pun kemudian membuka bungkusan kain itu perlahan-lahan dengan jantung yang berdebaran.

Tangannya terasa gemetar, ketika kemudian ia meli¬hat bungkusan itu pada gurunya sambil berdesis, “”Jambe, Guru.”

“Berikan,” desis Kiai Tali Jiwa tidak sabar.

mBahMbah Kanthil pun kemudian menyerahkan jambe itu kepada Kiai Tali Jiwa. Dengan tangan yang bergetar pula, Kiai Tali Jiwa menerima jambe itu langsung diamatinya, apakah jambe itu utuh atau terbelah dua.

Ternyata bahwa jambe itu sudah terbelah dua. Dengan hati-hati ia pun telah membuka jambe yang terbe¬lah itu. Betapa hatinya terguncang ketika ia melihat, tiga batang jarum emas putih utuh terletak di dalam jambe itu.

“Gila,” geram Kiai Tali Jiwa di dalam hatinya. “”Ini¬lah sebabnya mengapa iblis itu masih tetap hidup.”

Namun demikian, Kiai Tali Jiwa berusaha menguasai perasaannya. Ia masih berharap sebagaimana mBahMbah Kanthil berharap. Jika Agung Sedayu benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi dan minta pertolongan kepada mBahMbah Kanthil, maka mereka masih mempunyai harapan untuk dapat melepaskan diri dari tanggung jawab mereka atas usaha mereka untuk membunuh Agung Sedayu.

Untuk beberapa saat Kiai Tali Jiwa masih mengamati jarum yang masih berada di dalam jambe yang terbelah itu. Namun kemudian ia pun bertanya kepa¬da Agung Sedayu, “”Angger, apakah yang sebenarnya Angger maksud? Apakah Angger hanya sekedar ingin ta¬hu, atau barangkali Angger ingin agar benda-benda ini kami lontarkan kembali kepada orang yang telah menye¬rang Angger.”

“Kiai,” berkata Agung Sedayu, “”tetapi apakah Kiai dapat mengatakan kepada kami berdua, siapakah yang telah memasang tenung itu dan atas permintaan siapa de¬ngan alasan apa?”

Kiai Tali Jiwa berpikir sejenak. Namun ia kemudi¬an mendapat satu akal. Setidak-tidaknya ia mendapat kesempatan untuk meninggalkan Tanah Perdikan Meno¬reh.

Karena itu maka katanya, “”Angger Agung Sedayu. Aku tentu akan dapat membantumu. Aku tentu akan dapat menemukan, siapakah yang telah menyerang Angger Agung Sedayu dengan cara itu. Tetapi aku mohon agar Angger Agung Sedayu memberikan waktu aku barang tiga hari. Aku harus melihat dengan cermat, agar aku dapat menemukan orang yang sebenarnya.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandangi¬nya wajah Kiai Tali Jiwa sejenak. Lalu, “”Kiai, tiga hari terlalu lama bagiku. Aku mohon Kiai dapat memberitahu¬kan kepadaku saat ini. Dengan demikian aku akan segera dapat berbuat sesuatu.”

Wajah Kiai Tali Jiwa menjadi semakin tegang. Na¬mun katanya, “”Tentu tidak mungkin Ngger. Kerja itu bu¬kan dapat dilakukan dengan serta merta. Aku harus mempunyai waktu untuk memusatkan inderaku selama tiga hari tiga malam untuk melihat jauh ke seberang penglihatan kewadaganku.”

“Kiai tentu orang yang mumpuni,” jawab Agung Sedayu, “”jika mBahMbah Kanthil, murid Kiai itu mampu melakukan sesuatu yang tidak dapat dijangkau dengan nalar, tentu Kiai akan dapat berbuat jauh lebih banyak.”

“Dalam hal yang biasa aku lakukan, aku memang dapat melakukannya,” jawab Kiai Tali Jiwa, “”tetapi yang ingin Angger ketahui itu adalah satu pekerjaan yang sangat berat bagiku. Apalagi bagi Kanthil.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun ia ¬pun kemudian berdiri sambil berkata, “”Aku yakin kalau Kiai dapat melakukan sekarang. Aku masih mencium bau kemenyan. Tentu Kiai baru saja memusatkan ilmu Kiai untuk satu tujuan. He, apakah aku boleh masuk ke dalam bilik itu.”

mBahMbah Kanthil menjadi bingung, sementara Kiai Tali Jiwa menjawab dengan terbata-bata, “”Jangan Ngger. Bi¬lik sederhana itu adalah sanggar kami. Hanya kami ber¬dua sajalah yang boleh masuk ke dalamnya. Jika Angger menghendaki agar aku melihat siapa yang telah melontar¬kan tenung itu, aku akan berada di dalam bilik itu selama tiga hari tiga malam. Sedangkan bila Angger menghendaki agar benda-benda ini kami lontarkan kembali kepada orang yang telah memasang atau yang telah meminta untuk memasang pada Angger Agung Sedayu, maka aku memerlukan empat puluh hari empat puluh malam.”

Agung Sedayu yang sudah berdiri di muka bilik berpintu leregan itu terhenti. Namun katanya, “”Sanggar ini tentu baru saja kalian pergunakan. Bau ini memberi¬kan pertanda. He, Kiai. Apa yang baru saja kau lakukan?”

“Kami selalu membakar dupa setiap malam selama kami bersemedi. Angger, kami sudah tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta di dalam sanggar. Itulah sebabnya, kami selalu berada di dalam sanggar itu setiap hari,” jawab Kiai Tali Jiwa.

“Bagus sekali Kiai,” jawab Agung Sedayu, “”dengan demikian, Kiai akan dapat merasakan betapa damainya hati yang dekat dengan Penciptanya. Tetapi Kiai, jika Kiai memang sudah mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta, kenapa Kiai masih juga bersedia untuk melontarkan kembali benda-benda itu kepada orang yang melontarkannya atau orang yang memintanya berbuat demikian?”

“O,” wajah Kiai Tali Jiwa semakin menegang. Katanya, “”Ah, maksudku, bukankah yang bersalah harus mendapat hukuman.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “”Kau cerdik juga, Kiai. Tetapi aku mohon maaf, bahwa aku akan melihat bilikmu ini.”

“Jangan,” minta Kiai Tali Jiwa.

“Jangan cemas. Aku tidak akan mengambil apa pun yang terdapat di dalam bilikmu,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi tempat itu merupakan tempat suci bagiku,” jawab Kiai Tali Jiwa.

“Alangkah senangnya aku berkesempatan untuk berada di dalam satu bilik yang suci, bersih tanpa ada ca¬cat celanya. Mudah-mudahan akan dapat memberikan pengaruh yang damai di dalam hatiku,” berkata Agung Sedayu.

Tanpa menghiraukan permintaan Kiai Tali Jiwa dan mBahMbah Kanthil yang kecemasan, maka Agung Sedayu pun telah mendorong pintu bilik lereg itu ke samping. Dengan sekali sentuh, pintu itu telah terbuka.

“O, inikah peralatanmu bersamadi Kiai,” desis Agung Sedayu yang segera melangkah masuk.

Dengan kerut di dahinya ia memperhatikan jamba¬ngan yang berisi reramuan yang dipergunakan oleh Kiai Tali Jiwa. Ia memang melihat air di dalam jambangan itu agak kemerahan.

“Kiai,” berkata Agung Sedayu tiba-tiba. “”Masuk¬kan jambe itu ke dalam jambangan ini lengkap dengan tiga jarum emas itu. Aku akan melihat apa yang terjadi.”
“Jangan, jangan,” desis Kiai Tali Jiwa.

“Aku akan melakukan sendiri. Aku akan menyerang kembali orang yang telah berusaha membunuh aku de¬ngan tenung. Bukan orang yang menyuruhnya, tetapi orang yang melakukannya. Orang yang telah menjual il¬munya dengan mengorbankan jiwa orang lain meskipun orang itu tidak pernah dikenalnya apalagi bersalah kepadanya,” berkata Agung Sedayu. “”Aku sudah berha¬sil melawannya. Aku tentu akan berhasil membalasnya, karena ilmuku ternyata lebih kuat.”

Wajah mBahMbah Kanthil menjadi pucat, sementara Kiai Tali Jiwa berdiri tegak dengan jantung yang berdatangan. Di tangannya masih tergenggam sebuah jambe yang sudah terbelah dengan tiga batang jarum emas di dalamnya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun mengulangi kata-katanya, “Cepat, Kiai. Berikan jambe itu. Air di dalam jambangan itu sudah mulai memerah. Segalanya akan berjalan lebih cepat. Lampu minyak itu pun masih menyala, sedang api pun masih berasap.”

Kiai Tali Jiwa masih tetap membeku. Ketika ia melihat Agung Sedayu menggapai segumpal kemenyan dan memasukkannya ke dalam perapian yang masih berasap, maka kegelisahannya menjadi semakin memun¬cak.

Dalam kebekuan itu, Kiai Tali Jiwa berpikir keras. Ternyata ia pun kemudian sampai pada satu dugaan, bahwa sebenarnya Agung Sedayu sudah mengetahui, apakah yang sebenarnya terjadi. Jika ia bertanya tentang orang-orang yang telah melakukan serangan atas dirinya dan orang yang menyuruhnya, itu adalah pura-pura be¬laka. Satu cara untuk mempermainkannya.

Sementara itu Agung Sedayu masih berkata, “”Kiai. Bagiku, orang yang ingin mencelekaiku karena satu alasan masih lebih baik dari orang yang melakukannya. Yang ingin mencelakaiku, tentu ada sebab dan alasannya. Sementara orang yang melakukannya, adalah orang yang telah mempergunakan kemampuan dan ilmunya untuk melawan kuasa Yang Maha Agung, sementara sasarannya tidak pernah berbuat kesalahan kepadanya, semata-mata karena ia akan mendapat uang.”

Kiai Tali Jiwa tidak menjawab. Namun dalam pada itu, tangannya masih tetap memegang buah jambe yang terbelah itu dengan gemetar.

Sekar Mirah Masih tetap duduk di tempatnya. Ia mengawasi saja, apa yang sedang dilakukan oleh Kiai Tali Jiwa dan mBah Kanthil yang pucat.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 Februari 2009 at 18:05  Comments (109)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-60/trackback/

RSS feed for comments on this post.

109 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kayaknya minggu ini akhir pekan kelabu. Biasanya sih minum kopi sambil membayangkan sepak terjang Agung Sedayu dkk, wah sesok garing tenan. Saya doakan yang ki GD dan Senopati sehat wal-afiat biar rontal berikutnnya cepet terbit.

  2. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, parine lemu-lemu
    yayaakkee….!

    Ki Wiro_Gerong

  3. no 60 ok

  4. trims atas adbm gratisnya…..nggak ding wong modal internet…

  5. Sinten pirso retype kitab 160 ?

  6. Ohh wonten halaman 3 Pakdhe…
    Maturnuwun….

  7. Matur nuwun…

  8. daftar

  9. Tunai sudah penelusuran bundel kesepuluh.

    Matur nuwun Ki GD, matur nuwun Nyi Seno.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: