Buku II-60

Dalam pada itu, setelah Agung Sedayu mandi dan berganti pakaian, ia pun duduk di pendapa bersama Gla¬gah Putih. Dengan hati-hati, Glagah Putih telah menyampaikan tangkapan perasaannya atas ungkapan Sekar Mirah, yang bagi Glagah Putih perlu mendapat perhatian.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “”Teri¬ma kasih Glagah Putih. Aku mengerti maksudmu. Aku akan memperhatikannya. Sikap Sekar Mirah pada sa¬at-saat terakhir memang agak aneh. Aku kurang mengerti apa sebabnya, sebagaimana aku juga kurang mengerti kenapa aku pun merasakan sesuatu yang asing dalam diriku sendiri.”

“Kakang,” berkata Glagah Putih, “”aku sadar, bah¬wa aku tidak lebih dari seorang anak-anak bagi Kakang Agung Sedayu. Tetapi karena aku pernah mendengar ceritera Sabungsari, maka aku mohon Kakang menghubungkan keadaan ini dengan cahaya yang pernah dilihat oleh mBokayumbokayu. Mungkin tidak hanya sekali itu saja. Mungkin dua kali, tiga kali dan bahkan mungkin lebih dari itu. Siapa tahu, bahwa ada orang yang dengki atau iri melihat keadaan Kakang sekarang ini.”

“Ah,” desis Agung Sedayu, “”jangan berprasangka buruk begitu, Glagah Putih. Bukan berarti aku tidak memperhatikan sebagaimana kau usulkan itu. Tetapi seandainya kita harus mencari sebab dari kekalutan ini, sebaiknya kita tidak mencari kambing hitam. Kita sendirilah yang harus melihat ke dalam diri kita dan mencari cara untuk mengatasinya.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “”Maaf, Kakang. Aku bukan orang yang berhati sebersih Kakang. Karena itu, mungkin aku mempunyai pikiran bu¬ruk terhadap orang lain. Tetapi itu hanya satu akibat dari keadaan yang terjadi di dalam diri kita. Mudah-mudahan aku keliru.”

Agung Sedayu mengangguk angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan memperhatikannya.”

Glagah Putih pun kemudian meninggalkan Agung Sedayu duduk seorang diri di pendapa. Direnunginya kata-kata anak muda itu. Sambil duduk bersilang tangan, Agung Sedayu memandang halaman rumahnya yang semakin suram karena matahari pun menjadi semakin de¬kat dengan garis cakrawala.

Sejenak kemudian Glagah Putih pun telah menyalakan lampu. Ketika anak itu pergi ke regol untuk menyalakan lampu minyak yang tergantung di regol, hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengerti kena¬pa tiba-tiba saja ia merasa bahwa halaman rumahnya itu nampak gersang dan lengang.

Tetapi Agung Sedayu tidak dengan cepat memanja¬kan perasaannya itu. Ia berusaha untuk melihat ke dalam dirinya lebih dalam lagi, sebagaimana dikatakan oleh Glagah Putih. Perubahan-perubahan yang terjadi di da¬lam dirinya itu memang tidak wajar.

Demikianlah, setelah malam menjadi gelap, maka de¬ngan singkat dan datar, Sekar Mirah mempersiapkan Agung Sedayu untuk makan malam. Sebelum Agung Seda¬yu bangkit berdiri, Sekar Mirah telah hilang di balik pintu. Sejenak kemudian terdengar suara Sekar Mirah itu memanggil Glagah Putih untuk makan bersama pula.

Nasi hangat, sayur, dan lauk pauk rasa-rasanya begitu saja meluncur lewat kerongkongan Masing-masing makan sambil menundukkan kepalanya. Tidak seorang pun di antara mereka yang berbicara.

Justru karena itu, maka rasa-rasanya mereka menyelesaikan makan malam itu dengan cepat. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena mereka cepat menjadi kenyang, atau selera makan mereka yang jauh menurun karena keadaan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, seperti yang sudah direncanakan, maka Sekar Mirah benar-benar ingin berbicara dengan Agung Sedayu. Ia ingin segala-galanya menjadi jelas. Apa pun yang terjadi.

Karena itu, setelah ia membenahi mangkuk dan sisa makanan mereka, maka ia pun kemudian menuang minu¬man panas di mangkuk masing-masing sambil berkata, “”Aku masih akan berbicara, Kakang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi agak berbeda dengan kebiasaannya yang lebih senang berdiam diri. Saat itu, ia justru merasa bahwa niat Sekar Mirah untuk berbicara itu merupakan kesempatan yang baik baginya. Setelah menimbang-nimbang, maka apa yang dikatakan oleh Glagah Putih di pendapa itu agaknya memang benar. Ia harus memperhatikan perkembangan keadaan terakhir dengan bersungguh-sungguh.

Sejenak kemudian, Sekar Mirah telah duduk pula bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Yang mula-mu¬la dikatakan adalah, “”Kau duduk saja di situ, Glagah Putih.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

“Kakang,” berkata Sekar Mirah, “”aku pernah berbicara tentang keadaan kita beberapa hal yang aku anggap asing di dalam diriku dan mungkin di dalam diri¬mu. Tetapi pembicaraan itu rasa-rasanya tidak ada guna¬nya sama sekali, Kakang, karena justru setelah itu pera¬saanku menjadi semakin baur. Aku tidak lagi mengerti sikap Kakang sekarang ini terhadapku. Apakah sebenar¬nya Kakang memang sudah berubah, sehingga kehadiran¬ku di sini sama sekali tidak berarti lagi.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi seolah-olah ia telah didorong untuk berbicara lebih terbu¬ka dari sifatnya yang sebenarnya. Karena itu, maka jawabnya, “”Mirah. Aku cenderung untuk melihat keadaan ini dari beberapa sudut. Seandainya benar anggapan bahwa kau tidak berarti lagi bagiku, maka hal itu terlalu cepat terjadi. Memang mungkin sekali pada suatu saat perasaan seseorang dapat berubah. Kita tidak usah menu¬tup mata, bahwa ada perkawinan yang gagal di tengah ja¬lan. Tetapi yang asing bagiku, justru perasaan yang demikian itu datangnya terlalu cepat. Selebihnya, kau pun harus mengetahui perasaan yang aneh pada diriku, meskipun sebagian terasa pada wadagku. Tetapi dengan demikian, maka aku mulai curiga, bahwa sebenarnya bu¬kan karena aku terlalu banyak bekerja. Bukan karena aku terlalu letih.”

“Jika demikian, coba katakan, Kakang, apakah yang sebenarnya sedang terjadi di antara kita?” bertanya Sekar Mirah.

“Itulah yang harus kita cari. Tetapi bahwa kita masing-masing merasa ada sesuatu yang tidak kita kenal di dalam diri kita, adalah satu kurnia. Marilah kita memperhatikannya dengan saksama.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kata-kata suaminya itu berhasil menyentuh perasaannya.

Dalam pada itu Agung Sedayu melanjutkannya, “”Se¬kar Mirah. Dalam beberapa hal kita telah dihanyutkan oleh arus perasaan kita. Kita terumbang-ambing oleh satu pengaruh yang tidak kita kenal. Tentu dari luar diri kita sendiri, sehingga kita menjadi terasa asing terhadap diri kita masing-masing.”

Sekar Mirah menjadi tegang. Ia mulai berpikir. Betapa pun juga pikirannya terasa membeku, namun ia berusaha dengan sekuat tenaganya untuk memperguna¬kan penalaran menanggapi persoalan yang sedang dihadapinya.

“Kakang,” berkata Sekar Mirah kemudian, “”apa¬kah Kakang bermaksud, bahwa perasaan kita telah terke¬na pengaruh dari luar lingkungan kita?”

“Kita harus mencoba untuk menilainya, Mirah,” jawab Agung Sedayu.

“Maksud Kakang, bahwa sesuatu sebab telah dengan sengaja memacu perasaan kita ke arah yang sebenarnya tidak kita kehendaki?”

“Aku tidak pasti. Tetapi kemungkinan itu ada, Mi¬rah. Dengan demikian, maka kita telah berbuat sesuatu di luar pengamatan nalar kita. Demikian pula yang terjadi dengan keadaanku, terutama wadagku. Aku tidak menutup kemungkinan pertimbangan, bahwa yang kau li¬hat itu bukannya tidak mungkin merupakan salah satu sebab,” berkata Agung Sedayu.

“Yang aku lihat yang mana yang Kakang maksud?” bertanya Sekar Mirah pula.

“Cahaya kemerah-merahan itu?” jawab Agung Sedayu.

Tiba-tiba saja tubuh Sekar Mirah meremang. Ia memang pernah mendengar dongeng tentang cahaya yang demikian. Apalagi ketika Agung Sedayu berkata, “”Cahaya yang demikian mungkin tidak hanya sekali turun di sekitar dan bahkan mungkin atas rumah kita.”

Sekar Mirah pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “”Memang mungkin, Kakang. Aku akan mencoba menghubungkannya.”

“Kemudian kita merenunginya dengan perasaan, tetapi juga dengan nalar. Apa yang telah terjadi dan apa yang sedang kita lakukan,” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Perasaanku telah mencengkamku. Aku merasa asing di dalam rumah ini. Kau telah berubah sama sekali,” desis Sekar Mirah.

“Katakan,” desak Agung Sedayu.

Sekar Mirah berusaha untuk dapat melihat ke dalam dirinya. Melihat pengaruh yang tidak dikenalnya dan mencoba menyebutnya sambil memejamkan matanya, “”Kau menjadi dingin dan tidak memperhatikan aku lagi. Yang kau lakukan itu telah mendorong aku untuk membencimu. Bahkan aku telah berniat untuk meninggal-kanmu.”

“Kau akan pergi ke mana, jika kau berniat untuk meninggalkan aku? Kembali ke Sangkal Putung?” de¬sak Agung Sedayu.

“Tidak. Aku akan pergi ke tempat yang tidak aku ketahui. Tetapi tidak ada niatku untuk kembali ke Sangkal Putung.” Sekar Mirah berhenti sejenak. Kemudian de¬ngan suara sendat ia berkata selanjutnya sambil memejamkan matanya, “”Bahkan jika perlu, aku akan mengusirmu. Kau lah yang harus pergi, jika kau memang tidak mempedulikan aku lagi.”

“Mirah. Menurut perhitungan nalarmu, apakah mungkin aku berbuat demikian? Apakah mungkin aku ti¬dak mempedulikanmu lagi setelah kita kawin dalam waktu yang terhitung sangat singkat?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku merasa demikian,” jawab Sekar Mirah.

“Bukan sekedar perasaanmu. Selama ini kau banyak mempergunakan nalarmu. Perhitungan dan pertimba¬ngan. Justru lebih banyak dari aku sendiri,” desak Agung Sedayu.

“Aku akan mencoba,” jawab Sekar Mirah.

“Ingat. Aku sudah mengenalmu lama sekali sebelum kita kawin. Aku sudah mengerti tabiatmu dan kau sudah mengerti tabiatku. Mungkin ada hal yang tidak sesuai di antara kita. Tetapi akhirnya kita sampai ke jenjang perkawinan. Itu berarti bahwa kita sudah berusaha untuk mengkesampingkan ketidak sesuaian itu Apakah masuk akal, bahwa setelah sekian lama, ternyata dalam waktu yang singkat, kita sudah tidak saling memerlukan lagi?” bertanya Agung Sedayu.

Sekar Mirah terdiam sejenak. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Namun ia masih tetap berusaha untuk bertahan pada pertimbangan nalarnya. Lalu katanya, “”Memang tidak masuk akal. Tetapi apakah memang demikian halnya?”

“Tidak. Coba katakan, tidak,” jawab Agung Sedayu tegas. Sikap yang tidak pernah nampak pada Agung Seda¬yu dalam hidupnya sehari-hari.

“Ya,” Sekar Mirah mengulangi. “”Tidak. Kau benar, Kakang, tidak.”

“Mulailah dengan sikapmu sendiri. Perasaanmu yang seimbang dengan penalaranmu. Kau usahakan merebut kembali pribadimu sendiri dari pengaruh yang asing itu, Mirah. Sementara aku akan berjuang untuk mengatasi kesulitan pada wadagku,” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Aku akan melakukannya. Tetapi tolong aku, Ka¬kang. Katakan, apakah kau tidak memerlukan aku lagi?” bertanya Sekar Mirah.

“Sikapku kepadamu tidak pernah berubah, Mirah. Seperti saat kita memasuki jenjang perkawinan,” jawab Agung Sedayu.

“Benar demikian?” bertanya Sekar Mirah pula.

Glagah Putih menjadi semakin menunduk. Namun ia mendengar Sekar Mirah terisak semakin keras.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu membiarkan isterinya menangis. Isterinya yang kadang-kadang dapat menjadi garang, apalagi dengan tongkat baja putihnya. Namun ternyata bahwa ia tetap seorang perempuan.

Baru sejenak kemudian Agung Sedayu berkata, “”Sudahlah Mirah. Duduklah yang baik. Kita masih akan berbicara panjang.”

Sekar Mirah pun kemudian beringsut. Sambil membenahi sanggulnya ia pun kemudian duduk beringsut sejengkal dari Agung Sedayu.

“Sekarang kita bersama-sama menyadari sepenuh¬nya. Bahwa ada pengaruh dari luar lingkungan kita yang telah menyusup ke dalam diri kita masing-masing, meski¬pun akibat yang tumbuh agak berbeda,” berkata Agung Sedayu.

“Ya, Kakang. Aku sekarang yakin. Meskipun pera¬saan yang asing itu masih ada di dalam diriku, tetapi aku sudah tahu sebabnya, sehingga aku harus melawannya,” berkata Sekar Mirah.

“Kita harus melawannya. Jika kita yakin akan pega¬ngan kita, maka kita akan dapat membebaskan diri,” berkata Agung Sedayu kemudian. Lalu, “”Sudah barang tentu bahwa seperti yang aku katakan, kita tidak akan da¬pat membanggakan kekuatan kita sendiri, lahir maupun batin. Karena itu, kita harus bersandar kepada pertolo-ngan Tuhan Yang Maha Agung. Tidak ada kekuatan dari pihak yang manapun yang akan dapat mengimbangi kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih itu.”

“Ya, Kakang. Aku sudah merasakan betapa besar kuasa-Nya,” jawab Sekar Mirah.

“Karena itu, sejak sekarang, marilah kita selalu menyebut nama-Nya, mohon pertolongan dan perlindu¬ngan-Nya. Dengan memusatkan nalar budi kita, maka kita akan mendekatkan diri kepada-Nya,” berkata Agung Sedayu.

Sekar Mirah mengangguk kecil.

“Biarlah malam ini aku tetap berada di sini. Aku akan selalu berdoa bagi keselamatan kita sekeluarga. Keluarga kecil ini,” berkata Agung Sedayu, “”sementara itu, kau dapat beristirahat, Mirah. Kau dapat merenung le¬bih dalam di dalam bilik kita. Kau dapat menukik ke dalam pusat persoalan yang sedang kita hadapi. Kau dapat mencari dengan ketajaman nalarmu, pengaruh apakah yang sebenarnya sedang menyusup ke dalam diri kita masing-masing.”

“Aku tetap di sini Kakang. Marilah semuanya kita lakukan bersama-sama,” jawab Sekar Mirah.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “”Baik¬lah. Jika kau bertekad untuk bersamaku menghadapi masalah yang sama-sama kita alami sekarang ini.” Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu, “”Kau sajalah Gla¬gah Putih. Jika kau ingin beristirahat, beristirahatlah. Atau jika kau ingin turun ke sungai, turunlah. Mungkin kau akan membuka pliridan. Jika kau mendapat ikan sekepis malam ini, besok pagi-pagi kita tidak usah mencari lauk bagi makan pagi kita.”

Glagah Putih mengangkat wajahnya. Namun katanya kemudian, “”Aku akan tetap berada di sini pula Kakang. Meskipun barangkali kehadiranku tidak berarti apa-apa. Tetapi setidak-tidaknya aku dapat membantu, jika Kakang memerlukan. Mungkin Kakang memerlukan mengambil sesuatu, atau berbuat sesuatu yang akan dapat aku laku-kan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “”Jika demikian baiklah. Malam ini kita bertiga akan duduk di si¬ni. Kita akan dengan cermat mengamati perkembangan keadaan didalam diri kita masing-masing. Kita akan melawan segala macam pengaruh yang dapat merusak sikap kita, dengan bersandar kepada keyakinan kita bah¬wa Tuhan akan menolong kita.”

“Ya, Kakang,” jawab Sekar Mirah dan Glagah Putih hampir berbareng.

“Tetapi itu tidak berarti bahwa kita semalam suntuk tidak akan tidur. Kita dapat tidur barang sejenak bergantian. Jika salah seorang dari kita tetap jaga, maka kita tidak melepaskan kewaspadaan dan dengan demiki¬an, kita akan tetap mempertautkan diri dengan permoho¬nan perlindungan kepada Tuhan,” berkata Agung Seda¬yu.

Sekar Mirah dan Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi mereka telah mengangguk kecil.

Demikianlah, maka bertiga mereka tetap duduk bersama-sama di ruang tengah. Mereka duduk bersila sambil menyilangkan tangan mereka di dada. Untuk beberapa lamanya mereka duduk tanpa berbicara sepatah kata pun. Mereka memusatkan nalar dan budi sebagaimana dikatakan oleh Agung Sedayu untuk menghadapi keadaan yang sebelumnya tidak mereka ke¬nal dengan pasti, meskipun mereka dapat menduganya.

Malam itu, Kiai Tali Jiwa terkejut melihat nyala lampu minyaknya di dalam bilik khusus itu padam. Dengan tergesa-gesa ia berusaha untuk menyalakannya kembali. Namun terasa angin yang kencang bagaikan berputar di dalam bilik itu.

“Kanthil,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”bukan main. Ke¬dua orang itu benar-benar bukan orang kebanyakan.”

“Bukankah sudah aku katakan, Guru,” berkata mBahMbah Kanthil.

“Tetapi aku bukan anak-anak lagi, Kanthil. Hari ini belum hari ke empat puluh. Aku masih mempunyai kesem¬patan. Aku akan mempertajamkan ilmuku, sehingga mereka benar-benar akan tunduk di bawah pengaruhku sebagaimana aku kehendaki.”

mBahMbah Kanthil tidak menjawab. Ia melihat Kiai Tali Jiwa malam itu duduk tepekur menghadapi bejana yang berisi air kembang dan reramuan lain. Sementara itu, api lampunya telah menyala lagi, meskipun kadang-kadang berguncang bagaikan ditiup angin yang kencang.

Menjelang dini hari, terdengar Kiai Tali Jiwa menge¬luh. mBahMbah Kanthil yang sudah tertidur terkejut men¬dengar Kiai Tali Jiwa mengumpat keras-keras.

“Apa apa?” bertanya mBahMbah Kanthil.

“Ada dinding yang membentengi halaman itu,” berkata Kiai Tali Jiwa. Lalu, “”Tetapi itu tidak berarti. Pengaruh ilmuku sudah masuk malam kemarin. Meski¬pun agaknya malam ini agak terganggu. Aku tidak tahu, apakah suami isteri itu menyadari keadaannya, sehingga mereka minta pertolongan seseorang.”

mBahMbah Kanthil duduk di pintu bilik itu. Dilihatnya wajah Kiai Tali Jiwa menjadi tegang. Sambil meman¬dangi bejana yang diterangi oleh lampu minyak yang berkeredipan, Kiai Tali Jiwa berkata, “”Sebentar lagi hari menjadi pagi. Kesempatanku tinggal sedikit malam ini. Biarlah aku menghimpun tenaga sehari ini. Malam nanti aku akan melontarkan puncak ilmuku. Aku masih mem¬punyai waktu beberapa hari lagi. Sebelum hari keempat puluh aku harus sudah siap seluruhnya. Pada malam terakhir, semuanya harus terjadi seperti yang kita kehen¬daki. Meskipun ada benteng berlapis sembilan yang dipa¬sang oleh sembilan orang yang memiliki ilmu mumpuni, maka aku tentu akan dapat menembusnya.”

mBahMbah Kanthil mengangguk-angguk. Namun ia pun memperingatkan, “”Guru, mereka memang orang-orang yang luar biasa. Meskipun hanya ilmu kanuragan, tetapi mereka tentu memiliki daya tahan melampaui orang kebanyakan.”

“Daya tahan kewadagan mereka tidak akan berarti apa-apa bagiku,” jawab Kiai Tali Jiwa.
mBahMbah Kanthil tidak menjawab lagi. Tetapi ia sudah melihat, bahwa gurunya mengalami kesulitan.

Sisa malam itu tidak lagi dipergunakan oleh Kiai Tali Jiwa. Ia justru beristirahat dari kelelahan batinnya setelah berusaha menembus selapis pertahanan yang tidak dikenal pada Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

Di hari-hari menjelang hari keempat puluh, Kiai Tali Jiwa menjadi semakin tekun. Siang hari ia seakan-akan mengumpulkan tenaga dan kekuatan yang akan dilon¬tarkannya malam hari berikutnya. Bahkan ia semakin ketat berpuasa. Pada saat matahari terbit dan terbenam, ia masih tetap hanya minum beberapa teguk dan makan beberapa suap nasi tanpa lauk sama sekali. Bahkan sema¬kin lama semakin sedikit.

Dalam pada itu, di siang hari Sekar Mirah dan Agung Sedayu tetap menjalankan kewajibannya seperti biasa. Sekar Mirah masih saja dicengkam oleh perasaan asing, sebagaimana Agung Sedayu menjadi cemas menghadapi keadaan tubuhnya. Tetapi keduanya menyadari sepenuhnya, bahwa perasaan mereka telah dipengaruhi oleh kekuatan di luar diri mereka. Sekar Mirah menyadari, bahwa sebenarnya ia tidak membenci Agung Sedayu. Tidak ada alasan untuk berbuat demikian. Apa yang dila¬kukan oleh Agung Sedayu menurut pengamatannya dengan nalar, tidak lebih buruk dari yang dilakukan sebe¬lumnya. Bahkan Agung Sedayu yang merasa tubuhnya kadang-kadang sangat letih itu sudah menjadi lebih sering tinggal di rumah. Dengan demikian Sekar Mirah justru menjadi semakin menyadari, bahwa perasaan yang bergejolak di dalam dirinya, tentu bukan perasaannya yang sewajarnya.

Kesadaran itu telah menolong Sekar Mirah dan Agung Sedayu mengatasi keadaannya. Bersandar kepada kepercayaan mereka kepada Tuhan Yang Maha Kasih, mereka telah berusaha untuk melawan perasaan yang tidak mereka kenal itu.

Karena itu, setelah mereka kembali dari barak pasukan khusus yang mereka tangani sebagaimana kebia¬saan mereka, sehingga sama sekali tidak menimbulkan kesan apa pun, maka mereka mulai menempatkan diri mereka dalam kesiagaan menghadapi pengaruh yang tidak mereka kenal itu.

Setelah makan malam dan setelah kewajiban mereka dalam hubungan mereka dengan Tuhan mereka tunaikan, maka Agung Sedayu dan Sekar Mirah disertai Glagah Putih telah duduk bersama di amben bambu di ruang dalam. Kadang-kadang mereka memang merasa cemas. Tetapi kepercayaan mereka terhadap Tuhan telah memantapkan sikap mereka.

“Kau tidak pergi Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu yang sudah duduk sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Malam ini tidak, Kakang. Aku akan duduk di sini ber¬sama Kakang dan mBokayuMbokayu,” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “”Baiklah. Tetapi jika kau merasa letih dan mengantuk, pergilah ke bilikmu. Biarlah aku dan mBokayumbokayumu duduk sambil ber¬usaha mengenali apa yang sebenarnya terjadi.”

Glagah Putih mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, maka mereka bertiga pun mulai memusatkan nalar budi mereka untuk mengenali apa yang sebenarnya terjadi. Kesadaran mereka terhadap pengaruh yang tidak mereka kenal, telah mereka kembangkan di dalam diri mereka untuk melawan pengaruh itu sendiri. Sementara itu Agung Sedayu pun telah menge¬rahkan kemampuan daya tahannya untuk melenyapkan perasaan letih yang kadang-kadang datang menyengat sendi-sendi tulangnya.

“Aku tidak tahu sebabnya. Tetapi kekuatan di dalam diriku, kekuatan cadangan dan daya tahaa dilandasi dengan keyakinan yang teguh serta bersandar kepada perlindungan Tuhan, maka aku yakin segalanya akan dapat aku atasi,” berkata Agung Sedayu di dalam dirinya.

Ternyata bahwa keyakinan itulah yang memang telah memberikan kekuatan kepadanya sehingga perasaan letih dan kadang-kadang nyeri pada sendi-sendi tulangnya itu tidak berkembang. Namun juga karena keyakinan itu, maka ia benar-benar siap melawan segala macam penga¬ruh yang tidak diketahuinya itu.

Demikianlah, dari malam ke malam, seolah-olah telah terjadi benturan kekuatan. Kiai Tali Jiwa yang semakin mempertajam ilmunya untuk memberikan pengaruh untuk mematangkan suasana di malam keem¬pat puluh memang merasa heran. Rasa-rasanya ilmunya memang membentur kekuatan yang melapisi perasaan Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“Gila,” geram Kiai Tali Jiwa, “apakah yang sebe¬narnya aku hadapi? Suasana yang aku ciptakan itu tidak berhasil memasuki lingkungan hidup Sekar Mirah dan Agung Sedayu.”

mBahMbah Kanthil pun menjadi tegang. Ketika ia mende¬kati gurunya yang sedang tepekur, tiba-tiba ia terkejut, sebagaimana juga Kiai Tali Jiwa. Air di dalam jambangan itu tiba-tiba saja bergejolak. Keduanya melihat getaran yang mengguncangnya. Namun hanya sesaat. Sesaat kemudian air itu pun menjadi tenang kembali.

“Kanthil,” geram Kiai Tali Jiwa, “”ternyata lon¬taran kekuatanku itu telah membentur dan berbalik.

mBahMbah Kanthil termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “”Lalu, apakah yang akan Guru lakukan?”

Kiai Tali Jiwa menjadi tegang. Dipandanginya air di dalam jambangan di hadapannya. Nampaknya sudah menjadi tenang, dan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

“Kanthil,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”ternyata aku benar-benar berhadapan dengan orang yang memiliki kelebihan. Aku sama sekali tidak menduga, bahwa orang-orang yang hanya mengenal olah kanuragan itu mampu membentengi dirinya, sehingga malam ini aku ga¬gal lagi memasuki lingkungan kehidupan mereka, bahkan benteng itu mampu melontarkan kembali serangan yang aku tujukan kepada mereka.”

“Ya. Aku salah hitung,” jawab Kiai Tali Jiwa, “”jus¬tru karena itu, aku telah menganggap mereka lawan yang harus aku hadapi dengan sungguh-sungguh.”

“Apa yang akan Guru lakukan?” ulang mBahMbah Kan¬thil.

“Aku akan menghadapi mereka seorang demi seorang,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”aku harus melepaskan Sekar Mirah lebih dahulu, meskipun aku sudah berhasil menanamkan kegelisahan di dalam jiwanya. Biarlah ia dalam keadaannya. Sementara itu, aku harus menghada¬pi Agung Sedayu lebih dahulu. Aku akan menusuknya de-ngan kekuatan Tunda Bantala.”

“Guru,” potong mBahMbah Kanthil dengan serta merta, “”jika Guru mempergunakan kekuatan ilmu Tunda Banta¬la, apakah orang muda itu akan mampu mempertahankan hidupnya?”

“Tidak ada orang yang dapat bertahan atas ilmu Tunda Bantala. Orang yang bernama Agung Sedayu itu pun akan binasa. Hanya mereka yang memiliki kekuatan yang luar biasa, di luar perhitungan nalar manusia sajalah yang mungkin masih akan tetap hidup dalam keadaan yang paling pahit,” berkata Kiai Tali Jiwa.

“Tetapi bukankah Angger Prastawa menghendaki agar Agung Sedayu tetap hidup?” bertanya mBahMbah Kan¬thil.

“Bukan persoalan yang harus direntang terlalu pan¬jang. Jika aku mengatakannya, bahwa ternyata Agung Sedayu terlalu lemah, sehingga serangan yang paling ringan pun telah membunuhnya, aku kira tidak akan ada persoalan lagi. Yang penting, aku akan dapat menguasai perasaan Sekar Mirah sepenuhnya sepeninggal Agung Sedayu,” jawab Kiai Tali Jiwa.

mBahMbah Kanthil termangu-mangu. Namun kemudian ia tersentak, ketika Kiai Tali Jiwa membentaknya, “”Jangan dungu, perempuan tua. Keragu-raguan di dalam langkah kita adalah bencana. Jika kau mulai ragu-ragu, sebaiknya kita batalkan saja seluruh rencana ini.”

“Tidak,” jawabnya hampir berteriak, “”aku tidak ragu-ragu, Guru. Jika aku nampak ragu-ragu bukan karena sasaran ki¬ta. Tetapi justru jika Angger Prastawa menolak untuk mengakui kerja kita justru karena tidak sesuai dengan yang dikehendakinya.”

“Itu sama artinya dengan membunuh diri,” berkata Kiai Tali Jiwa, “”kau sangka aku tidak akan dapat mengendalikannya?”

mBahMbah Kanthil mengangguk-angguk. Ia mengerti sifat gurunya. Karena itu ia tidak berbicara lebih panjang lagi.

Sementara itu, Kiai Tali Jiwa-lah yang berkata selanjutnya, “”Kanthil. Aku tinggal mempunyai waktu tiga malam lagi. Aku harus mempergunakannya sebaik-baiknya. Jika aku gagal, maka aku harus mulai lagi dari permulaan. Dan itu tentu akan menghisab tenagaku semakin banyak.”

“Ya, Guru,” jawab mBahMbah Kanthil.

“Karena itu,” berkata Kiai Tali Jiwa pula, “”yang pertama akan menyelesaikan Agung Sedayu. Kemudian empat puluh hari empat puluh malam lagi, Sekar Mirah akan aku tundukkan sepeninggal Agung Sedayu. Dalam keadaannya kini, kematian Agung Sedayu tentu tidak akan menyusahkan Sekar Mirah yang sudah berhasil aku susupi suasana yang menjauhkannya dari Agjung Sedayu meskipun kemudian terjadi keanehan ini. Serasa ada ben¬teng yang memagari kedua orang itu, sehingga suasana yang lebih dalam tidak berhasil aku trapkan.”

wiki adbm

Wisata ADBM

Mbah Kanthil mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “”Tetapi apakah mungkin ada kekua¬tan orang lain yang membantunya?”

“Mungkin sekali,” jawab Kiai Tali Jiwa, “”aku tidak percaya, bahwa keduanya akan mampu bertahan. Apalagi justru pada bagian pertama seranganku berhasil menyu¬sup masuk.”

“Dengan demikian, Guru berhadapan dengan pihak ketiga,” berkata mBahMbah Kanthil.

“Yang pasti, aku menghadapi keadaan yang sulit aku tebak. Aku tidak merasa ada perlawanan yang hidup. Yang aku rasakan, adalah sekedar benteng yang menjadi perisai dari kehidupan keduanya,” jawab Kiai Tali Jiwa, “”aku tidak tahu, apakah keduanya mempunyai sarana untuk berbuat demikian. Tetapi bagaimanapun juga, bu¬kan berarti bahwa aku tidak akan berhasil. Meskipun ju¬ga, bukan berarti bahwa aku tidak akan berhasil. Meski¬pun dengan demikian keberhasilanku memerlukan waktu yang lebih panjang.”

mBahMbah Kanthil mengangguk-angguk. Ia merasa gejo¬lak perasaan gurunya. Gurunya bukan saja sekedar memenuhi keinginan Prastawa. Tetapi gurunya sudah di sentuh oleh kemarahan yang membakar jantungnya, sehingga dengan demikian maka ia tentu akan menjadi semakin garang.

Dalam pada itu, Sekar Mirah dan Agung Sedayu masih tetap dalam sikapnya. Di siang hari memang tidak nampak perubahan sama sekali, meskipun keduanya te¬tap berhati-hati dan menyadari perasaan masing-masing. Sekar Mirah berusaha dengan sekuat tenaga, mempergunakan nalarnya untuk menguasai perasaan bencinya kepada Agung Sedayu. Sementara Agung Seda¬yu telah mengerahkan segenap daya tahannya untuk menolak perasaan yang mengganggu wadagnya, meski¬pun tidak seluruhnya berhasil.

Pada malam-malam berikutnya, Agung Sedayu justru telah mengetrapkan ilmu kebalnya ketika ia duduk bersa¬ma Sekar Mirah setelah makan malam di kawani oleh Glagah Putih. Sementara mereka bertiga berusaha untuk menyandarkan diri dalam kuasa Yang Maha Agung.

Namun dalam pada itu, Glagah Putih telah bertanya pula, “”Kakang, apakah Kakang tidak berniat mengatakan hal ini kepada orang-orang tua? Ki Waskita misalnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Memang terasa di hatinya.

Glagah Putih memandang Sekar Mirah sekilas. Tetapi ia tidak menangkap sesuatu kesan wajah isteri Agung Sedayu itu.

Karena itu, maka katanya, “”Kakang dan mBokayuMbokayu dapat mengatakan apa yang telah Kakang alami selama ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “”Mungkin Ki Waskita akan menganggap kami terlalu cengeng. Mungkin memang tidak terjadi sesuatu atas diri kami, kecuali gejolak perasaan kami sendiri. Karena itu, biarlah kami mencoba mengatasinya. Jika ternyata bahwa kami tidak mampu lagi berbuat sesuatu, biarlah kami akan mengatakan kepadanya dan kepada orang-orang tua yang lain.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu, Sekar Mirah pun berkata, “”Ya, Glagah Putih. Kami akan menunggu perkembangan keadaan dalam beberapa hari ini.”

Glagah Putih kemudian hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebenarnya¬lah Agung Sedayu dan Sekar Mirah tidak tahu, bahwa batas yang diletakkan oleh Kiai Tali Jiwa untuk me-lontarkan puncak ilmunya Tunda Bantala sudah menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, sebenarnyalah telah terjadi benturan ilmu yang nggegirisi dari Kiai Tali Jiwa dengan benteng yang ternyata telah memutari kehidupan Agung Sedayu yang justru tersusun karena sikap pasrahnya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Agung. Dengan sepenuh nalar budi, Agung Sedayu dan Sekar Mirah, di sertai Glagah Putih telah memohon perlindungan kepada Tuhan bagi keselamatan mereka.

Untuk melawan ilmu Tunda Bantala, ilmu kebal Agung Sedayu sebenarnya sama sekali tidak berarti. Kiai Tali Jiwa tidak menyerang Agung Sedayu lewat ujud kewadagannya. Namun sebenarnyalah bahwa perlindungan Tuhan sajalah yang sampai pada saat-saat terakhir telah menyelamatkannya.

Tetapi dalam pada itu, Kiai Tali Jiwa pun telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ia melepaskan serangannya terhadap Sekar Mirah untuk sementara, agar ia dapat memusatkan serangannya atas Agung Sedayu. Sehingga dengan demikian, maka perjuangan Agung Sedayu pun menjadi semakin berat. Sedikit saja keragu-raguannya terhadap perlindungan Tuhan, maka ia telah menyediakan lubang bagi ilmu Tunda Bantala untuk menyusup ke dalam dirinya menempatkan senjata Kiai Tali Jiwa di dalam tubuhnya.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 Februari 2009 at 18:05  Comments (109)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-60/trackback/

RSS feed for comments on this post.

109 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kayaknya minggu ini akhir pekan kelabu. Biasanya sih minum kopi sambil membayangkan sepak terjang Agung Sedayu dkk, wah sesok garing tenan. Saya doakan yang ki GD dan Senopati sehat wal-afiat biar rontal berikutnnya cepet terbit.

  2. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, parine lemu-lemu
    yayaakkee….!

    Ki Wiro_Gerong

  3. no 60 ok

  4. trims atas adbm gratisnya…..nggak ding wong modal internet…

  5. Sinten pirso retype kitab 160 ?

  6. Ohh wonten halaman 3 Pakdhe…
    Maturnuwun….

  7. Matur nuwun…

  8. daftar

  9. Tunai sudah penelusuran bundel kesepuluh.

    Matur nuwun Ki GD, matur nuwun Nyi Seno.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: