Buku II-60

“KAKANG,” berkata Sekar Mirah kemudian, “”aku mohon maaf, bahwa mungkin yang akan aku katakan kurang kau sepakati. Tetapi aku ingin kau mengetahui perasaanku. Dengan demikian, maka kita akan dapat saling mengerti dasar pikiran kita masing-masing, jika kita kemudian melihat sikap dan langkah-langkah yang barangkali tidak pernah kita lakukan sebelumnya.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia pun tidak kalah gelisahnya dari Glagah Putih.

“Kakang. Selama ini, aku merasa, bahwa hari-hari permulaan rumah tangga kita adalah menyenangkan. Rasa-rasanya kita benar-benar meniti satu kehidupan yang kita inginkan sebelumnya. Apalagi setelah aku men¬dapat kesempatan ikut serta menjalankan tugas ber-samamu di barak pasukan khusus itu. Rasa-rasanya hidup pun menjadi semakin berarti.” Sekar Mirah berhenti sejenak, lalu, “”tetapi akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang asing yang kurang aku kenal dan kurang aku mengerti. Aku merasa sangat sepi dan kadang-kadang aku merasa rumah ini tidak memberikan ketenangan kepadaku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia masih belum mengerti, ke mana arah pembicaraan Sekar Mirah. Tetapi bahwa ada sesuatu yang asing, yang tidak dimengerti rasa-rasanya ia juga mengalami. Meskipun perasaan itu baginya lebih langsung menyentuh wadagnya, membuat sendi-sendi tubuhnya bagaikan sangat letih dan lemah. Namun dalam saat-saat tertentu, jika ia menguji kemampuannya, maka kemampuannya itu sama sekali tidak berubah.

Tetapi Agung Sedayu tidak segera mengatakannya. Ia masih mendengar Sekar Mirah melanjutkan, ””Kakang. Aku tidak mengerti, apakah sebabnya bahwa aku merasa demikian. Tetapi mungkin aku dapat menyebut satu dugaan. Aku mohon maaf, bahwa yang akan aku katakan itu tidak sesuai dengan jalan pikiranmu.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “”Katakan Mirah.”
“Kakang. Mungkin akhir-akhir ini aku merasa kesepian. Kau terlalu sering meninggalkan aku sendiri di rumah,.” Suara Sekar Mirah merendah. Bagai¬manapun juga terasa keseganan telah bergejolak di dalam hatinya Tetapi ia tidak mau menyimpan perasaan itu di dalam dadanya. Ia merasa lebih baik mengatakannya langsung kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia mencoba memandang ke dirinya sendiri. Sebenarnyalah ia mengakui, bahwa ia memang terlalu banyak meninggalkan Sekar Mirah sendiri di rumah,. bahkan kadang-kadang Glagah Putih telah dibawanya pula, sementara di saat lain, ternyata Glagah Putih masih senang juga pergi ke sungai, menutup pliridan untuk men¬cari ikan bersama pembantu rumahnya dan kawan-kawannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “”Aku dapat mengerti perasaanmu, Sekar Mirah. Agaknya aku memang terlalu banyak meninggalkan kau di rumah.”

“Kakang, bukan maksudku menghambat tugas-tu¬gas Kakang,” berkata Sekar Mirah lebih lanjut. Lalu, “”Tetapi agaknya akan berbeda, jika Kakang justru mau mengajak aku pergi bersama Kakang. Kakang tahu, bah¬wa aku bukan anak ingusan yang masih sering merengek. Aku bahkan akan dapat membantu tugas-tugas Kakang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Ia mengerti kemampuan isterinya. Karena itu, Sekar Mirah justru te¬lah menemukan pemecahan yang agaknya dapat ditem¬puhnya.

Karena itu, maka katanya, “”Baiklah Mirah. Kita memang dapat pergi bersama-sama. Mungkin sekaligus dengan Glagah Putih. Mungkin kita berdua saja, karena Glagah Putih ingin berada di sanggar.”

“Terima kasih, Kakang. Aku akan melihat, apakah perasaan asing yang tidak aku kenal itu akan dapat beru¬bah,” berkata Sekar Mirah kemudian.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “”Sebaiknya kita akan mengamati bersama. Keasingan di dalam dirimu itu memang dapat ditimbulkan opleh ber¬bagai sebab. Namun yang kau katakan itu memang mung¬kin sekali salah satu sebab dari kesepian yang kau rasakan.” Agung Sedayu itu pun berhenti sejenak, lalu tiba-tiba saja ia pun terdorong untuk mengatakan, “”Mirah. Sebenarnya aku pun merasakan sesuatu yang asing di dalam diriku. Tetapi tidak pada perasaanku, namun pada wadagku. Aku merasakan satu perasaan yang selama ini tidak pernah aku alami. Keletihan dan kadang-kadang seolah-olah tubuhku kehilangan kekuat¬an oleh satu kerja yang keras. Namun pada saat-saat ter¬tentu, jika aku mengujinya, maka segenap kemampuanku masih tetap berada pada tataran yang seharusnya.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kita sama-sama mengalami satu hal yang perlu mendapat perhatian kita. Tetapi gejala-gejala yang kau rasakan itu mungkin sekali karena kelelahan. Benar-benar kelelahan, karena seakan-akan kau tak per¬nah berhenti bekerja. Kau selalu berbuat sesuatu dari matahari terbit, sampai jauh malam. Setiap hari. Bagai¬manapun juga kekuatan seseorang mempunyai keter¬batasan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “”Mungkin sekali. Karena itu, aku akan mendengarkan pendapatmu.”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu sekilas. Tetapi seolah-olah Agung Sedayu itu pun menjadi asing seperti sesuatu yang bergejolak di hatinya. Perasaannya terhadap Agung Sedayu yang duduk itu lain dengan pera¬saannya kepada Agung Sedayu beberapa waktu yang lam¬pau.

“Aku tidak boleh mengikuti arus perasaan yang ti¬dak aku kenal ini,” berkata Sekar Mirah didalam hatinya, “bahwa aku menjadi kecewa karena kesepian yang mencengkam bukan satu alasan untuk memandang Ka¬kang Agung Sedayu dengan sikap yang berbeda.”

Sementara itu, Agung Sedayu masih tetap duduk di tempatnya. Kepalanya menunduk sementara perasaannya pun mulai menelusuri sikapnya pada saat-saat tera¬khir. Ia memang merasa, bahwa ia terlalu sering meninggalkan Sekar Mirah seorang diri.

Dalam pada itu, Glagah Putih hampir tidak dapat menahan kegelisahannya yang bergejolak. Ia melihat sesuatu yang kurang serasi pada kedua orang yang belum terlalu lama menginjakkan kaki mereka ke dalam satu lingkungan keluarga baru. Namun yang mulai di sentuh oleh satu keadaan yang mendebarkan.

“Untunglah bahwa Kakang Agung Sedayu mau mendengarkan pendapat mBokayuMbokayu,” berkata Glagah Putih, “sementara itu mBokayuMbokayu pun dengan terbuka mengatakan perasaannya. Jika masing-masing meren¬dam perasaan itu di dalam hati, maka akibatnya tentu akan lebih parah lagi.”

Sementara itu, Glagah Putih merasa bahwa dirinya ti¬dak seharusnya hadir dalam pembicaraan-pembicaraan yang mungkin akan menjadi semakin mendalam. Karena itu, maka ia pun kemudian beringsut sambil berkata, “”Ka¬kang, apakah aku diperkenankan pergi ke sungai?”

“Untuk apa?” berkata Agung Sedayu.

“Membuka pliridan. Aku membuat sebuah pliridan yang besar,” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu termenung sejenak. Namun katanya kemudian, “”Jangan terlalu lama. Dan berhati-hatilah, karena kadang-kadang ular air berkeliaran di malam ha¬ri.”

“Baik Kakang,” jawab Glagah Putih. Sambil bering¬sut ia pun kemudian minta diri pula kepada Sekar Mirah, “”Mudah-mudahan aku mendapat bader yang mBokayuMbokayu inginkan.”

Sekar Mirah memandang anak muda itu. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “”Pergilah Glagah Putih. Tetapi kau tidak perlu merisaukan keadaanku dan kakangmu. Tidak ada persoalan apa-apa. Kau yang sudah dewasa tentu dapat menangkap isi pembicaraan kami de¬ngan sikap dewasa pula.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “”Teri¬ma kasih mBokayuMbokayu.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Glagah Putih yang kemudian meninggal¬kan rumah itu. Sekar Mirah pun kemudian pergi juga ke pintu yang ditinggalkan oleh Glagah Putih.

Sejenak Sekar Mirah masih berdiri di muka pintu. Ia melihat Glagah Putih melintasi halaman dan hilang di balik regol. Sementara itu malam pun menjadi semakin ge¬lap.

Namun Sekar Mirah itu tertegun ketika ia melihat seleret sinar yang berwarna kemerah-merahan meluncur di halaman. Sinar kemerah-merahan itu jatuh tepat di re¬gol halaman, sementara Glagah Putih baru saja melintas.

Cahaya kemerah-merahan itu telah mengejutkan Sekar Mirah. Hampir di luar sadarnya Sekar Mirah yang terkejut itu berteriak memanggil, “”Glagah Putih.”

Sementara itu suara itu sendiri telah mengejutkan Agung Sedayu, , sehingga ia pun telah meloncat ke pintu. Dari sebelah Sekar Mirah ia melihat pendapa dan halaman yang sepi.

“Ada apa Mirah?” bertanya Agung Sedayu.

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Namun suara¬nya ternyata telah didengar oleh Glagah Putih. Karena itu, maka ia pun telah berbalik dan masuk kembali ke dalam regol. Berlari-lari kecil ia melintasi halaman dan naik ke pendapa. Ketika ia sampai ke pintu, ia melihat Sekar Mirah berdiri tegang. Di sebelahnya Agung Sedayu termangu-mangu.

“Kau tidak apa-apa?” bertanya Sekar Mirah kepa¬da Glagah Putih.

“Kenapa?” justru Glagah Putih-lah yang bertanya.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Adalah mengherankan bagi Agung Sedayu dan Glagah Putih sendiri ketika Sekar Mirah membimbing anak muda itu masuk kembali ke ruang dalam, seperti membimbing kanak-kanak.

“Apa yang terjadi?” bertanya Agung Sedayu.

Wajah Sekar Mirah masih nampak tegang. Sementara Agung Sedayu-lah yang kemudian menutup pintu yang masih terbuka.

Setelah Glagah Putih duduk di amben, Sekar Mirah duduk pula di sampingnya sambil berdesis, “”Kau tidak merasa apa-apa?”

Glagah Putih menggeleng. Jawabnya, “Tidak, mBoka-yuMbokayu. Ada apa sebenarnya?”

Kecemasan masih nampak membayang di wajah Sekar Mirah. Ketika Agung Sedayu kemudian duduk pula di sebelahnya, maka Sekar Mirah pun mengatakan apa yang dilihatnya.

“Aku cemas tentang keadaanmu. Aku tidak menger¬ti, apakah yang telah aku lihat itu. Tetapi ada kesan yang mendebarkan. Cahaya yang kemerah-merahan itu seolah-olah jatuh menimpamu, atau satu dua langkah di belakangmu,” berkata Sekar Mirah.

“Aku tidak merasa apa-apa. Aku juga tidak melihat apa-apa,” jawab Glagah Putih.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara bergetar ia berdesis, “”Tentu bukan sebangsa tatit.”
“Selain langit tidak mendung, cahaya tatit memancar dengan kecepatan yang tidak kasat mata. Tetapi aku meli¬hat cahaya itu meluncur. Cepat, tetapi tidak secepat tatit atau petir.”

Pada malam itu, Kiai Tali Jiwa di rumah mBahMbah Kan¬thil duduk dengan tegang menghadapi jambangannya. Sementara itu asap kemenyan telah memenuhi bilik yang sempit itu.

Menjelang pagi, Kiai Tali Jiwa itu berkata kepada mBahMbah Kanthil, “”Aku telah mulai. Aku telah mengisi hala¬man rumah Sekar Mirah dengan suasana yang berbeda. Rumah itu akan terasa sangat sepi dan asing bagi Sekar Mirah. Apalagi Agung Sedayu akan mengalami keadaan yang tidak diinginkannya. Perlahan-lahan ia akan mengalami penderitaan, karena wadagnya yang tidak lagi dapat mendukung kemampuan ilmunya yang sangat ting¬gi.”

“Apakah Guru yakin, bahwa Guru akan dapat menembus kedua orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan itu?” bertanya mBahMbah Kanthil.

“Kau tetap dungu sampai sekarang, Kanthil,” jawab Kiai Tali Jiwa, “”bukankah ilmu yang dimiliki oleh Agung Sedayu itu ilmu dalam olah kanuragan? Bukan ilmu seperti yang kita pelajari selama ini?”

mBahMbah Kanthil itu mengangguk-angguk. Ia percaya kepada gurunya karena ia sudah terlalu sering membukti¬kan, bahwa gurunya memang dapat melakukan seperti apa yang dikatakannya.

Malam itu Glagah Putih tidak jadi pergi ke sungai. Le¬wat tengah malam, pembantu rumah Agung Sedayu kembali seorang diri. Perlahan-lahan ia mengetuk dinding arah bilik tidur Glagah Putih.

“Siapa?” desis Glagah Putih yang terbangun.

“Aku. He, kenapa kau tidak turun?” bertanya pembantu itu.

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian bangkit dari pembaringannya dan melangkah ke pintu butulan.

Langkahnya tertegun, ketika dilihatnya Agung Sedayu masih duduk di ruang tengah seorang diri. Sementara itu, Agung Sedayu itu pun bertanya, “”Kau akan ke mana?”

“Membuka pintu. Anak itu pulang dari sungai. Agak¬nya ia menunggu aku terlalu lama,” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Dipandanginya saja Glagah Putih yang pergi ke pintu butulan.

Ketika pintu itu terbuka, dan pembantu Agung Sedayu itu melangkah masuk, maka langkahnya terhenti ketika ia melihat Agung Sedayu masih duduk.

“Kakang tidak apa-apa,” desis Glagah Putih, “”ce¬pat tidur.”

“Tetapi kau tidak jadi turun malam ini. Gatra mendapat seekor uling, meskipun belum begitu besar memasuki pliridannya di bawah bendungan,” berkata anak itu.

“Pliridan kita agak jauh dari bendungan,” desis Glagah Putih. Lalu, “”Sudahlah, tidurlah. Masih ada waktu sampai dini hari.”

Anak itu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian pergi ke biliknya dan menjatuhkan diri di pembaringannya.

Glagah Putih tidak langsung kembali ke dalam bilik¬nya. Ia pun kemudian duduk di sebelah Agung Sedayu.

“Kakang,” berkata Glagah Putih, “”nampaknya ada sesuatu yang kurang wajar telah terjadi. Jika benar mBokayuMbokayu Sekar Mirah seperti yang telah dikatakan, maka hal itu harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandangi¬nya wajah Glagah Putih dengan tatapan mata yang heran.

“Kenapa tiba-tiba saja kau berkata demikian?” bertanya Agung Sedayu.

Glagah Putih beringsut setapak. Ia menjadi gelisah oleh pertanyaan Agung Sedayu itu. Namun akhirnya ia menjawab, “”Kakang, pembicaraan Kakang dan mBokayuMbokayu seakan-akan selalu terngiang di telingaku. Sementara itu, aku pernah mendengar ceritera Sabungsari dari dunia hitam. Ia sendiri pernah hidup dekat dengan dunia yang demikian. Sabungsari pernah berceritera tentang kemampuan seseorang yang beralaskan ilmu hitam itu melampaui jangkauan nalar kita. Ia pun dapat berceritera tentang cahaya yang kemerah-merahan seperti yang aku dengar dari mBokayuMbokayu Sekar Mirah. Semula aku tidak berpikir sejauh itu. Namun sambil berbaring aku mulai memikirkannya. Bahkan dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Sabungsari. Ia mengulangi ceriteranya tentang cahaya yang kemerah-merahan. Cahaya itu dapat mendatangkan penyakit.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ceritera yang demikian memang pernah aku dengar, Glagah Putih. Mungkin mBokayumbokayumu pun pernah mendengarnya meskipun agak berbeda.”

“Karena itu, Kakang harus menilainya sebagai satu persoalan yang gawat,” berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “”Aku akan memperhatikannya. Tetapi aku sependapat dengan mBokayumbokayumu, bahwa aku harus membagi waktu. Bukan saja agar mBokayumbokayumu tidak merasa terlalu sepi. Tetapi aku memang perlu beristirahat. Seperti kata mBokayumbokayumu, kemampuan seseorang ada batasnya. Dan aku telah berbuat melampaui batas kemampuan itu.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.
Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam. Baru kemudian Agung Sedayu berkata, “”Masih terlalu malam untuk bangun, Glagah Putih. Pergilah ke bilikmu.”

Glagah Putih pun kemudian meninggalkan Agung Sedayu pergi ke biliknya. Namun ia tetap memikirkan persoalan yang terjadi di dalam keluarga kecil itu. Ia ti¬dak dapat menyingkirkan angan-angannya tentang caha¬ya kemerah-merahan seperti yang dikatakan oleh Sekar Mirah. Meskipun ia tidak menjadi takut karenanya, tetapi seperti yang pernah didengarnya, cahaya yang demikian akan dapat menimbulkan malapetaka.

“Tentu bukan aku sasarannya,” berkata Glagah Putih di dalam dirinya, “”tentu salah satu. mBokayuMbokayu Sekar Mirah atau Kakang Agung Sedayu atau kedua-duanya.”

Namun kemudian Glagah Putih itu bertanya kepada diri sendiri, “”Tetapi untuk apa? Keduanya sudah kawin. Atau mungkin ada orang yang menjadi iri atau perasaan lain semacam itu?”

batik-tulis-jogja-motif-gringsing-bintang

Halaman Retype (new)

Tetapi Glagah Putih tidak dapat menemukan jawabnya. Semuanya masih diselubungi oleh ketidak tentuan. Bahkan mungkin sekali yang sebenarnya terjadi tidak sejauh yang diduganya.

Namun dalam pada itu, suasana di rumah itu memang terasa semakin asing bagi Sekar Mirah. Ketika ia bangun dari tidurnya, ia merasa seolah-olah biliknya itu terlalu sepi bagaikan sebuah bilik di rumah yang sudah berta¬hun-tahun tidak dihuni orang.

Perlahan-lahan Sekar Mirah turun dari pembaringan¬nya. Derit amben bambunya terdengar bagaikan keluhan panjang.

Ketika Sekar Mirah melangkah keluar dari pintu bilik¬nya, ia melihat Agung Sedayu masih duduk di ruang te¬ngah. Langkah Sekar Mirah telah membuat Agung Sedayu itu berpaling.

Sekar Mirah memandang wajah Agung Sedayu seki¬las. Tetapi Sekar Mirah merasa aneh atas penglihatannya sendiri. Rasa-rasanya wajah Agung Sedayu menjadi beku dan kehilangan cahaya.

“Semalam suntuk kau duduk di situ, Kakang?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya,” jawab Agung Sedayu singkat.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Jawaban itu ti¬dak menyenangkannya. Seolah-olah Agung Sedayu telah mengabaikannya. Keseganannya menjawab pertanyaan Sekar Mirah, membuat perempuan itu merasa tidak mendapat perhatiannya.

Tetapi Sekar Mirah masih menahan diri. Ia pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Sebagaimana biasa maka ia pun langsung pergi ke pakiwan sebelum memasu¬ki dapur.

Tetapi suasana rumah itu telah benar-benar berubah menurut perasaan Sekar Mirah. Agung Sedayu tidak saja berwajah pucat dan beku.Tetapi sikapnya pun telah beru¬bah pula.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang ternyata sema¬lam suntuk tidak beranjak dari tempatnya, beringsut menepi. Tetapi ketika ia turun dari amben di ruang tengah itu, hampir saja ia terjatuh. Kakinya terasa semutan yang sangat.

“Aneh,” pikir Agung Sedayu, “”aku tidak pernah merasakan kakiku seperti ini.”

Namun setelah ia menjulurkan kakinya beberapa sa¬at, perasaan itu pun telah berangsur hilang.

Yang nampak di lingkungan rumah Agung Sedayu itu memang tidak ada perubahan. Yang biasanya menyapu halaman masih juga menyapu halaman. Yang di dapur ju¬ga menyalakan api untuk menjerang air. Sementara yang membersihkan ruang-ruang di dalam rumah pun telah melakukannya pula.
Tetapi ternyata yang tidak kasat mata, telah tersen¬tuh oleh perubahan suasana. Perubahan suasana yang ti¬dak di mengerti oleh yang mengalaminya. Terutama Sekar Mirah dan Agung Sedayu.

Namun ternyata bahwa Sekar Mirah benar-benar seo¬rang yang berhati terbuka seperti Swandaru. Perasaan itu sangat mengganggunya, sehingga ia berniat untuk mengatakannya langsung kepada suaminya seperti yang sudah dilakukannya. Namun perasaan yang semakin la¬ma menjadi semakin tidak dimengertinya itu harus mendapat pemecahan.

“Aku tidak mau di ganggu oleh perasaan seperti ini tanpa berkesudahan. Jika Kakang Agung Sedayu memang tidak mau memperhatikan aku lagi, ia harus mengatakan¬nya sekarang, sebelum segalanya terlambat,” berkata Sekar Mirah kepada diri sendiri.

Hari itu, keduanya pergi ke barak seperti biasanya. Anak-anak muda di dalam barak pasukan khusus itu pun ti¬dak melihat perubahan apa pun pada kedua orang suami isteri itu. Mereka berlatih seperti yang harus mereka lakukan sehari-hari. Menempa diri agar mereka benar-be-nar menjadi seorang pengawal dalam pasukan khusus yang mumpuni.

Seperti biasanya pula, setelah tugas kedua orang sua¬mi isteri itu selesai, maka mereka pun pulang dengan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan bulak di Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu, ketika mereka sampai di sebuah simpang empat, Agung Sedayu telah berkata, “”Aku akan singgah di padukuhan itu sebentar, Sekar Mirah. Menurut pedengaranku, semalam padukuhan itu telah diganggu oleh sepasang harimau yang tiba-tiba saja dili¬hat oleh para peronda. Tetapi para peronda tidak berhasil menemukan harimau itu. Mudah-mudahan harimau itu te¬lah kembali ke dalam hutan dan tidak akan mengganggu penduduk padukuhan itu.”

“Dan aku pulang sendiri?” bertanya Sekar Mirah.
“Ya. Aku tidak lama. Segera aku menyusul,” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian melangkah sendiri menyusuri bulak menuju ke paduku¬han induk.

Namun ketika ia melihat matahari yang condong, kemudian melihat pegunungan yang membujur panjang, seterusnya jalan panjang di depan langkah kakinya, tera¬sa kembali betapa kesepian mencengkam perasaannya.

Di luar sadarnya ia berpaling. Dilihatnya lamat-lamat di kejauhan Agung Sedayu menjadi demikian kecilnya bergerak menuju ke padukuhan di hadapannya.

“Ia memang tidak menghiraukan aku lagi,” desis Sekar Mirah sambil melangkah terus.

Sementara Agung Sedayu memasuki padukuhan sebe¬lah untuk menemui anak-anak muda yang dapat mengata¬kan tentang harimau yang memasuki padukuhan itu semalam, maka Sekar Mirah telah berbelok menuju ke padukuhan induk yang menjadi semakin dekat.

Namun langkahnya bagaikan tertegun sejenak. Dari kejauhan ia melihat seekor kuda yang berlari kencang menuju ke arahnya.

Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Yang berada di punggung kuda itu adalah Prastawa.

Ketika kemudian mereka berpapasan, Prastawa sama sekali tidak memperlambat derap kudanya. Ia ha¬nya mengangguk saja sambil tersenyum dan bertanya, “”Kau sendiri Mirah?.”

Sekar Mirah tidak sempat menjawab. Prastawa sudah dilarikan kudanya menjauhinya. Ketika Sekar Mirah berpaling, Prastawa sama sekali tidak menghiraukannya lagi.

Terasa sesuatu bergejolak di hati Sekar Mirah. Prastawa itu sangat menarik perhatiannya. Jauh berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Ia menganggap anak mu¬da itu memang pantas dihormati, karena ia kemanakan Ki Gede Menoreh. Tidak lebih. Namun tiba-tiba perasaan itu telah berubah di dalam dirinya.

“Salah Kakang Agung Sedayu,” geram Sekar Mirah, “”jika sikapnya tidak berubah, maka perasaanku tidak akan dicengkam oleh sikap yang asing ini.”

Sekar Mirah menggeretakkan giginya. Namun ia pun kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke rumahnya.

Tetapi perasaan itu telah terungkat kembali ketika ia memasuki regol rumahnya. Ketika ia melangkahi pintu regol, terasa tengkuknya bagaikan meremang. Namun perasaan itu kemudian berubah ketika ia memandang pin¬tu rumahnya. Rumahnya itu sama sekali tidak lagi menarik baginya. Rumah itu rasa-rasanya menjadi sepi lengang. Namun juga mendebarkan.

Meskipun demikian, Sekar Mirah melangkah terus. Ketika ia naik ke pendapa, dilihatnya Glagah Putih sibuk menyiram pepohonan di halaman. Anak muda itu menanam sebatang bunga soka putih, kembang ceplok piring dan beberapa batang kembang melati di dekat dinding pa¬gar, melengkapi pohon-pohon bunga yang sudah ditanam oleh Sekar Mirah. Sementara itu, beberapa pohon buah-buahan pun telah tumbuh dengan suburnya pula.

Sekar Mirah terhenti sejenak. Menurut pengamatan¬nya, anak itu benar-benar anak yang rajin. Perasaannya terhadap Glagah Putih tidak pernah berubah. Bahkan rasa-rasanya anak muda itu adalah adiknya sendiri. Beta¬pa inginnya ia mempunyai seorang adik. Perempuan atau laki-laki. Sehingga kehadiran Glagah Putih itu serasa te¬lah sedikit memenuhi kerinduannya terhadap seorang adik, justru karena sikap Glagah Putih yang sesuai de¬ngan keinginan Sekar Mirah. Gembira, rajin dan ka¬dang-kadang bergurau tetapi kadang-kadang bersungguh-sungguh sesuai dengan keadaan yang di hadapinya, apalagi berilmu tinggi.

Karena itu, ketika ia melihat Glagah Putih menjinjing kelenting berisi air, Sekar Mirah menarik nafas dalam-da¬lam.

Namun sejenak kemudian Sekar Mirah telah masuk ke ruang dalam dan langsung ke biliknya. Sejenak kemudi¬an ia sudah berada di pakiwan. Baru setelah mandi, maka ia pun kemudian menyiapkan minum dan makan malam bagi Agung Sedayu. Ia memanasi sayur dan menjerang air sambil menanak nasi.

Dalam kesibukan itu, Glagah Putih masuk ke dalam dapur. Ia berhenti di muka pintu sambil bertanya, “”mBokayuMbokayu pulang sendiri?”

“Ya,” jawab Sekar Mirah, “”kakangmu singgah di padukuhan yang melaporkan, bahwa ada sepasang hari¬mau yang semalam memasuki padukuhan itu.”

“O,” Glagah Putih mengangguk-angguk

“Tetapi entahlah,” berkata Sekar Mirah lebih lan¬jut, “”aku tidak tahu, apakah ia benar-benar mengurus sepasang harimau itu.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Bahkan ia pun kemudian bergeser dan melangkah keluar.

Namun ternyata bahwa panggraita anak itu benar-benar tajam. Ia memang mencemaskan hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Dan kini ia meli¬hat ungkapan perasaan Sekar Mirah yang menurut pengamatannya cenderung menumbuhkan suasana yang semakin buruk.

“Kakang Agung Sedayu harus menanggapi keadaan ini dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkannya. Jika tidak, maka keadaan ini akan menjadi semakin buruk,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya.

Dengan perasaan yang bergejolak, Glagah Putih pergi ke pendapa. Sejenaank ia duduk merenung. Namun kemudian ia pun bangkit ketika ia melihat Agung Sedayu memasuki halaman dan kemudian naik ke pendapa.

Ketika Glagah Putih mendekatinya, maka Agung Sedayu justru berhenti sambil berdesis, “”Ada yang ku¬rang wajar pada kakiku.”

“Kenapa?” bertanya Glagah Putih.

“Aku serasa letih sekali. Kakiku menjadi berat dan sendi-sendinya serasa sangat letih,” desis Agung Sedayu.

Glagah Putih memandang Agung Sedayu sekilas. Kemudian katanya, “”Sebaiknya Kakang membersihkan diri dahulu. Baru kemudian kita akan berbicara.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia pun berta¬nya, “”Berbicara apa? Kau bersikap aneh. Seolah-olah kau sudah menjadi seorang kakek yang ingin memberi sedikit petunjuk kepada cucunya.”

“Ah,” desah Glagah Putih, “”bukan begitu. Aku ha¬nya ingin melapor saja.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian langsung memasuki ruang dalam. Setelah melepaskan bajunya, maka ia pun pergi ke pakiwan.

Perhatian Agung Sedayu sepenuhnya ditujukan kepa¬da keadaan dirinya yang tidak wajar itu. Dengan demiki¬an, maka ia tidak teringat lagi untuk menyapa Sekar Mirah yang berdiri di pintu dapur memandanginya ketika ia pergi ke pakiwan.

Tetapi Sekar Mirah juga merasa segan untuk menyapanya. Sehingga karena itu, maka ia pun berdiam diri saja sambil berputar kembali masuk ke dalam dapur.

Tetapi ia sudah bertekad menyelesaikan persoalan¬nya dengan Agung Sedayu.

“Malam ini,” katanya di dalam hati, “”aku tidak ingin berkepanjangan. Perasaan-perasaan asing yang bermain di dalam diri sehingga rasa-rasanya sulit untuk dapat dikenali. Apa pun yang terjadi, biarlah segera terja¬di. Bagiku lebih baik segalanya cepat mendapat pemeca¬han daripada saling menyimpan perasaan tanpa diketahui ujung dan pangkalnya.”

Dengan demikian, maka Sekar Mirah itu pun telah menyiapkan beberapa persoalan di dalam hatinya. Setelah makan malam, ia akan mengemukakannya kepada Agung Sedayu. Dikehendaki atau tidak dikehendaki.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 Februari 2009 at 18:05  Comments (109)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-60/trackback/

RSS feed for comments on this post.

109 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kayaknya minggu ini akhir pekan kelabu. Biasanya sih minum kopi sambil membayangkan sepak terjang Agung Sedayu dkk, wah sesok garing tenan. Saya doakan yang ki GD dan Senopati sehat wal-afiat biar rontal berikutnnya cepet terbit.

  2. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, parine lemu-lemu
    yayaakkee….!

    Ki Wiro_Gerong

  3. no 60 ok

  4. trims atas adbm gratisnya…..nggak ding wong modal internet…

  5. Sinten pirso retype kitab 160 ?

  6. Ohh wonten halaman 3 Pakdhe…
    Maturnuwun….

  7. Matur nuwun…

  8. daftar

  9. Tunai sudah penelusuran bundel kesepuluh.

    Matur nuwun Ki GD, matur nuwun Nyi Seno.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: