Buku II-6

Dengan berbagai macam akal, akhirnya ia mendengar dari orang-orang yang berjualan dipinggir jalan, bahwa Sumangkar kebetulan tidak ada di Sangkal Putung.

“Apakah ia pergi ke Jati Anom?“ bertanya salah seorang dari mereka yang sedang berusaha mendapatkan keterangan itu.

“Kami tidak tahu. Tetapi ia pergi dahulu bersama putera Ki Demang. Tetapi putera Ki Demang sudah kembali dan bahkan sudah pergi lagi.”

“Kemana?”

Orang-orang yang sedang berjualan itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mendengar dari orang-orang yang berbelanja. Menantu Ki Demang, yang sering berbelanja bersama Sekar Mirah itupun sudah beberapa hari tidak nampak. Mungkin keduanya ikut pergi pula. bersama Swandaru.”

Orang-orang yang datang dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menjadi termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berhenti berusaha, sehingga pada suatu kali mereka berhasil mendapat ceritera tentang iring-iringan yang meninggalkan Sangkal Putung.

“Siapa dan berapa orang?“ bertanya orang-orang itu.

Orang yang memberikan keterangan itu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak melihatnya.”

Berita-berita yang didengarnya ternyata membuat mereka gelisah. Ada kemungkinan bahwa Sumangkar telah binasa, karena swandaru datang kembali ke Kademangan tidak bersama Sumangkar, tetapi bersama Kiai Gringsing. Tetapil jika demikian, maka orang-orang yang berhasil membinasakan Sumangkar itu akan segera kembali.

“Apakah setelah mereka berhasil membinasakan Sumangkar, mereka diketahui oleh orang-orang Sangkal Putung dan justru mereka juga dapat dibinasakan.”

Berbagai pertanyaan telah tumbuh. Dengan sungguh-sungguh orang-orang itu berusaha mengurai setiap keterangan dan menghubungkannya dengan keterangan-keterangan yang lain.

Baru kemudian mereka mendapat keterangan yang agak menjurus. Ketika seorang petani melihat beberapa orang yang berpakaian seperti perwira prajurit Pajang melakukan kegiatan di tengah-tengah bulak.

“Mereka membawa beberapa orang pergi,“ berkata petani itu.

Yang dapat mereka berikan hanyalah sekedar petunjuk arah. Kemana orang-orang itu pergi.

Dengan susah payah orang-orang yang datang dari Lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu mencoba menelusur jejak. Meskipun sudah samar-samar, tetapi jejak beberapa ekor kuda masih dapat mereka ikuti. Justru ketika mereka melihat jejak kuda yang berjumlah lebih dari sepuluh ekor itu meninggalkan jalur jalan yang banyak dilalui orang.

“Jalan ini tentu jarang di lalui. Tetapi samar-samar masih nampak jejak sekelompok orang-orang berkuda,“ berkata salah seorang dari mereka.

Kawan-kawannya juga melihat rerumputan yang terinjak-injak dan kadang-kadang diatas tanah yang lunak jejak itu masih jelas, karena jalan kecil itu adalah jalan simpang yang sepi.

“Mereka membawa Sumangkar ketempat yang tidak banyak didatangi orang,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Agaknya demikian,“ jawab yang lain.

“Jika demikian, maka Sumangkar tentu sudah terbunuh. Yang menjadi teka-teki, kenapa mereka yang ditugaskan untuk membunuh Sumangkar itu masih belum kembali.”

Namun demikian mereka masih menelusuri bekas yang kadang-kadang jelas, tetapi kadang-kadang hampir lenyap, sehingga akhirnya mereka sampai kehutan perdu yang terasing.

Ternyata bahwa bekas pertempuran yang terjadi ditempat itu telah mengejutkan mereka. Jika benar Sumangkar sudah mati, maka ia tentu telah melakukan perlawanan yang sengit.

Tetapi mereka telah dikejutkan oleh gundukan tanah didekat tempat itu. Dengan serta merta mereka segera mengenal, bahwa gundukan tanah itu tentu tempat untuk mengubur mayat.

“Sepuluh,“ seseorang hampir berteriak. “Ya. Sepuluh,“ sahut yang lain.

Sejenak mereka menjadi tegang. Jumlah itu sama dengan jumlah orang yang ditugaskan untuk membinasakan Sumangkar.

“Semuanya terbunuh.“ salah seorang dari mereka berdesis.

Wajah-wajah mereka menjadi tegang. Sejenak mereka justru berdiri mematung. Beberapa saat mereka telah terpukau oleh berbagai macam tanggapan tentang kenyataan yang mereka temukan itu.

“Gila,“ tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak, “jadi bukan Sumangkarlah yang agaknya telah terbunuh. Tetapi orang-orang yang harus membunuhnya. Agaknya sekelompok orang-orang Sangkal Putung telah menjebak mereka dan membawa mereka ketempat ini untuk dibantai seluruhnya.”

Ketegangan telah mencengkam setiap jantung. Orang-orang dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menyadari apa yang telah terjadi. Namun ternyata bahwa gundukan tanah itu berjajar sepuluh, agaknya justru telah mengurangi kecemasan mereka.
“Semuanya terbunuh,“ desis salah seorang dari mereka. Kemudian, “Tetapi itu agaknya lebih baik daripada ada diantara mereka yang tertangkap hidup. Kematian mereka tidak akan dapat memberikan penjelasan apapun tentang lembah yang tertutup itu.”

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang luar biasa. Ki Sumangkar seakan-akan mempunyai kekuatan ajaib pada dirinya. Sepuluh orang terpilih itu tidak berhasil membunuhnya, bahkan merekalah yang telah mati terbunuh.”

“Mungkin petugas-petugas sandi dari Jati Anom tetapi juga mungkin pengawas-pengawas dari Sangkal Putung telah menemukan kesepuluh orang itu, sehingga mereka berhasil mereka jebak. Dalam pertempuran beradu dada maka sepuluh orang itu memerlukan sepasukan yang besar dari para pengawal Sangkal Putung untuk mengalahkannya,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Kita harus segera melaporkan peristiwa ini. Mungkin ada sesuatu yang harus dilakukan. Jika benar kesepuluh orang itu mati dalam pertempuran, memang agaknya tidak banyak keterangan yang telah didengar. Tetapi jika mereka berhasil menangkap satu dua orang hidup-hidup kemudian memeras keterangan mereka sebelum mereka dibantai disini, maka itu akan merupakan hal yang gawat bagi kita.”

Yang lain mengangguk-angguk. Salah seorang berkata, “Kita memang harus segera melaporkan bahwa Sumangkar tentu masih hidup. Tidak ada seorangpun yang memberikan keterangan tentang kematian Sumangkar. Jika sekiranya ia terbunuh juga dalam pertempuran yang dahsyat, tentu mayatnya akan dibawa ke Sangkal Putung oleh para pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

Dengan demikian orang-orang dari lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu menyadari, bahwa mereka akan berhadapan dengan bahaya, meskipun mereka belum dapat mengatakan, apakah yang akan terjadi dilembah itu.

Karena itulah maka merekapun kemudian berpacu kembali kelembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Mereka hampir pasti bahwa justru Sumangkarlah dan orang-orangnyalah yang telah membunuh kesepuluh orang yang ditugaskannya membunuhnya.

Orang-orang itu memasuki lembah tanpa kesulitan, karena para pengawas dari Mataram memang tidak mengganggunya, meskipun dari tempat yang agak tinggi, mereka sempat melihatnya. Orang-orang itu memasuki lembah lewat jalur jalan sempit diantara gerumbul-gerumbul perdu dan hilang kedalam hutan yang semakin lebat.

Demikian para pengawas melihat orang-orang itu lewat, maka merekapun segera mempersiapkan diri. Saatnya sudah tiba untuk menyongsong pasukan yang tentu sudah mendekati mulut lembah itu.

“Untunglah, bahwa orang-orang itu sudah memasuki lembah,” berkata salah seorang dari para pengawas.

“Seandainya belum-pun tidak akan ada pengaruhnya,“ sahut yang lain.

“Ya,“ gumam yang lain lagi, “mereka akan tertahan disini. sementara lembah ini sudah tersumbat.”

Yang lain tidak menjawab. Tetapi menurut perhitungan mereka, sebentar lagi pasukan Mataram dan Sangkal Putung itupun akan segera berada ditempat itu.

Ternyata semua rencana berjalan seperti yang diperhitungkan. Pasukan Mataram dan Sangkal Putungpun datang tepat pada waktunya, meskipun mereka tidak serentak berada ditempatnya.

“Tidak ada gangguan apapun,“ lapor para pengawas.

“Jadi pasukan Sangkal Putung dan Mataram sudah dapat ditempatkan? “ bertanya seorang Senepati penghubung.

“Ya. Kami sudah menemukan tempat-tempat yang paling baik bagi pasukan Sangkal Putung dan arah yang benar bagi pasukan Mataram yang akan memasuki lembah dalam gelar yang sempit.“ sahut pemimpin pengawas itu.

Senapati itupun kemudian kembali keinduk pasukannya dan melaporkannya kepada Raden Sutawijaya dan Swandaru.

“Kita akan mempersiapkannya sekarang. Kita sudah berada dihari keenam. Kita akan beristirahat semalam. Sebelum fajar dihari ketujuh pasukan Mataram sudah akan bergerak,“ berkata Raden Sutawijaya.

Demikianlah, maka pasukan Sangkal Putung yang telah berkumpul dilambung Gunung Merapi itupun segera bergerak ketempat yang ditunjukkan oleh para pengawas. Mereka segera menempatkan diri ditempat yang paling menguntungkan. Induk pasukan Sangkal Putung itu ditempatkan sebelah-menyebelah jalan setapak yang memasuki gerumbul-gerumbul dilembah itu dan langsung menusuk kedalam hutan. Namun yang lain menebar cukup panjang. Beberapa orang berada ditempat yang agak tinggi. Mungkin orang-orang yang berusaha melepaskan diri dari sergapan orang-orang Mataram akan melarikan diri memanjat lambung Gunung yang lebih tinggi sebelum mereka melingkar. Baik disebelah Timur maupun disebelah Barat.

Pada saat yang bersamaan, maka pasukan Tanah Perdikan Menorehpun telah menempatkan dirinya pula. Merekapun berharap untuk dapat beristirahat barang sejenak, dimalam hari menjelang hari ketujuh.

Para pengawaspun menempatkan mereka seperti yang dilakukan oleh pasukan Sangkal Putung. Mereka sedikit memasuki lembah dan menebar ditempat yang agak panjang, sementara mereka menempatkan induk pasukan mereka ditempat yang mudah untuk bergerak.

Dalam pada itu, pasukan Mataram telah mengambil sikap tersendiri. Dibawah pimpinan langsung Raden Sutawijaya mereka menyergap memasuki lembah. Mereka harus menemukan pusaka-pusaka yang hilang, yang menurut perhitungan tentu berada dilembah itu pula, sementara merekapun akan dapat berhadapan dengan orang-orang yang ingin menentukan wajah baru bagi Tanah ini dengan sebuah kenangan atas kejayaan Majapahit.

“Mudah-mudahan aku dapat berbuat sesuatu,“ desis Kiai Gringsing. Seperti orang-orang tua yang berada disekitarnya. Raden Sutawijayapun mengetahui, bahwa ada sangkutpautnya antara Kiai Gringsing dengan mereka.

Ketika matahari turun dihari yang keenam, maka rasa-rasanya darah ditubuh para pengawal Mataram, Sangkal Putung disebelah Timur, dan para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh di sebelah Barat, mengalir semakin cepat. Meskipun demikian, agar mereka tidak terlalu lelah, maka merekapun berusaha sejauh dapat dilakukan untuk beristirahat.

Mereka berbaring diatas rerumputan kering, diatas batu-batu besar yang berserakan di lembah, atau di tempat-tempat yang lain. Sementara beberapa orang yang sedang bertugas, dengan saksama mengawasi keadaan.

Beberapa orang pengawas yang memanjat tebing agak tinggi, melihat beberapa buah lampu minyak yang menyala, agak menjorok ketengah hutan. Agaknya lampu-lampu minyak didalam barak-barak yang telah dibuat oleh orang-orang yang tengah berkumpul dilembah itu.
Sementara itu, para pemimpin yang sudah hadir dilembah itupun mulai tertarik kepada berita tentang hilangnya sepuluh orang yang ditugaskan membunuh Ki Sumangkar. Apalagi setelah mereka mendengar tentang gundukan tanah baru yang jumlahnya juga sepuluh.

“Sumangkar memang siluman,“ berkata salah seorang dari mereka, “ia adalah adik seperguruan Mantahun. Karena itu. maka untuk menyingkirkan orang itu, diperlukan perhitungan yang sangat teliti.”

Yang lain mengangguk-angguk. Merekapun menyadari, siapakah Patih Mantahun.

Orang-orang yang mendapat tugas untuk menemukan kesepuluh orang itupun segera melaporkan pula, bahwa mereka mendengar berita dari orang-orang Sangkal Putung, bahwa Sangkal Putung ternyata sedang kosong. Ki Sumangkar tidak ada di Kademangan. Bahkan kemudian Swandaru, isterinya dan Sekar Mirahpun tidak nampak pula.

“Sekar Mirah adalah adik Swandaru. Ia adalah murid Ki Sumangkar,“ berkata salah seorang dari mereka.

Tetapi agaknya sebagian dari mereka sudah mengetahui, sehingga tidak banyak diantara mereka yang bertanya lebih banyak lagi tentang orang-orang yang disebut.

Namun yang menarik perhatian adalah bahwa orang-orang itu tidak berada di Sangkal Putung.

“Tetapi orang-orang kita yang ada di Jati Anom tidak mengatakan bahwa mereka telah datang untuk menghadap Untara,“ berkata salah seorang dari mereka.

“Jika demikian, maka mereka agaknya telah pergi ke Pajang untuk langsung melaporkan persoalan ini kepada Sultan,“ desis yang lain.

“Tidak. Aku tidak yakin. Bahkan mungkin mereka telah pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah Pandan Wangi, isteri Swandaru itu berasal dari Tanah Perdikan Menoreh?”

“Ya,“ seorang yang bibirnya seakan-akan selalu dihiasi dengan senyum menyahut, “kawanku, Gandu Demung telah terbunuh ketika ia mencoba untuk ikut mengiringkan pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh itu.”

“Kenapa?“ bertanya seorang bertubuh gemuk.

Orang yang selalu tersenyum, dan pernah berada di Gunung Tidar itu berdesis, “Orang-orang Sangkal Putung-pun telah kepanjingan iblis.”

Kawan-kawannya menjadi heran, sehingga salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kawanmu bernama Gandu Demung itu salah seorang kawan Swandaru atau siapa? Dan kenapa ia terbunuh justru saat itu mengiringkan pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh itu?”

Panganti tersenyum. Namun ternyata nada suaranya digetarkan oleh dendam yang menyala dihatinya, “Orang-orang Sangkal Putung adalah orang-orang gila seperti Gandu Demung sendiri.”

“Ya, tetapi apa yang telah terjadi?”

Panganti sempat menceriterakan dengan singkat, apa yang telah dialami Gandu Demung, sehingga dengan demikian, maka pun telah memperkuat dugaan, bahwa Ki Sumangkar bersama orang-orang Sangkal Putung telah membunuh sepuluh orang yang ditugaskan untuk membinasakan Ki Sumangkar itu sendiri.

Sementara itu, orang-orang terpenting dilembah itupun telah mengambil keputusan untuk sekali lagi mengirimkan sekelompok orang-orang yang lebih kuat untuk menemukan Ki Sumangkar sebelum ia memberikan laporan kepada siapa pun juga.

“Menurut laporan yang kami dengar sampai saat ini dari Pajang dan dari Jati Anom. Ki Sumangkar belum memberikan laporan tentang kegiatan kita. Tetapi jelas bahwa ia tidak akan dapat menghadap Sultan. Jika ia nampak di Kota Raja, maka beberapa orang perwira telah siap membunuhnya,“ berkata seorang perwira Pajang yang ada diantara mereka.

Namun dalam pada itu maka pertemuan dilembah itu pun telah disiapkan pula Empu Pinang Aring yang telah berada di lembah itu pula, mendesak agar pertemuan segera berlangsung sebelum terjadi sesuatu.

“Kita terlampau lamban,“ berkata Empu Pinang Aring.

“Sebenarnya kita menunggu apakah usaha untuk mendapatkan keris Kangjeng Kiai Sangkelat itu dapat berhasil.” jawab seorang Perwira tinggi Pajang yang ada diantara mereka, “sementara kakang Panji akan datang sendiri menghadiri pertemuan ini.”

“Kapan ia akan datang?”

Perwira tinggi itu termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Segera. Maksudnya bahwa ia akan datang sambil membawa pusaka Kangjeng Kiai Sangkelat, sehingga kedudukan kita menjadi semakin jelas. Namun jika belum berhasil dalam waktu dekat ia akan datang tanpa Kiai Sangkelat.”

“Kita sudah jauh terlambat dari gerakan orang-orang Pajang di Jati Anom, orang-orang Mataram dan orang-orang Sangkal Putung. Sementara menurut pengamatan kami, kelemahan terdapat di Tanah Perdikan Menoreh yang terkantuk kantuk sekarang ini.”

Namun dalam pada itu, selagi mereka menyesali kelambanan kerja yang telah menyebabkan pertemuan dilembah itu masih harus tertunda satu dua hari, maka lembah itu telah digetarkan oleh laporan para pengawas. Dengan tegas mereka menceritakan apa yang telah mereka saksikan dimulut lembah.

“Kami melihat persiapan sepasukan yang kuat dimulut lembah,“ berkata pengawas itu.

Berita itu benar-benar telah memukul setiap jantung. Empu Pinang Aring yang hampir tidak telaten menunggu perundingan yang menentukan bagi kedudukan mereka itu, dengan serta merta bertanya, “Apakah kau melihat sendiri?”

“Ya. Kami melihat gerakan itu. Pengamat kami kemudian mencoba mengadakan penyelidikan. Ternyata bahwa mereka telah menempatkan diri dimulut lembah, menebar dari kaki Gunung Merapi sampai kekaki Gunung Merbabu.”

“Gila,“ geram perwira Pajang yang ada diantara mereka, ”sebut, apakah mereka prajurit Pajang?”

“Tidak. Menilik pakaian yang mereka kenakan. Kemungkinan terbesar mereka datang dari Mataram.“ jawab pengawas itu.

mPu Pinang Aring melangkah mendekati pengawas itu dengan wajah yang merah padam. Katanya, “Mataram sudah menjawab tantangan kita. He, apakah kata Kelasa Sawit?”

Semenjak orang-orang didalam ruangan itu termangu-mangu. Mereka tidak melihat Kiai Kelasa Sawit berada diantara mereka.

“Ia berada dibaraknya.”

“Kita harus berbicara sekarang ini. Bukan lagi tentang kedudukan dan kewajiban kita dalam kebesaran kerajaan Majapahit baru. Tetapi kita akan berbicara bagaimana kita menyediakan kuburan raksasa bagi orang-orang Mataram.” geram Empu Pinang Aring.

Perwira Pajang yang ada diantara mereka itupun kemudian bergumam, “Kakang Panji masih belum ada diantara kita. Tetapi tentu kita tidak akan menunggu perintahnya jika benar-benar orang Mataram itu datang.”

“Dimana Tumenggung Wanakerti. Bukankah ia diserahi pimpinan disini sebelum orang yang menyebut dirinya kakang Panji itu datang?“ bertanya Ki Samparsada seorang yang bertubuh tinggi, berambut berjambang dan berkumis putih.

Perwira prajurit Pajang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kita akan berkumpul. Kakang Tumenggung harus segera dipanggil.”

Perwira itupun segera memerintahkan orang-orangnya untuk memanggil orang-orang terpenting yang ada didalam barak mereka masing-masing. Kiai Kelasa Sawit, Empu Pinang Aring, Ki Samparsada, seorang bertubuh raksasa yang bernama Kiai Jagaraga dan beberapa orang lain. Mereka adalah orang-orang yang merasa dirinya memiliki warisan atas kebesaran kerajaan Majapahit.

“Kita belum berbicara apa-apa disini,“ berkata orang bertubuh raksasa itu.

“Tetapi kita cukup banyak mendapatkan bahan-bahan yang akan kita bicarakan dengan pihak Pajang yang akan menentukan saat-saat yang tepat untuk mengambil alih kekuasaan,“ sahut Ki Samparsada, “kehadiran kita disini tidak sia-sia. Kita sudah lebih dahulu menemukan sikap yang akan kita hadapkan kepada kakang Panji yang masih belum juga datang.”

“Dan yang kini datang, bukannya kakang Panji, tetapi pasukan Mataram yang kuat.”

Tumenggung Wanakerti yang sudah berada diantara mereka itupun kemudian berkata, “Sebenarnya persoalan kita sudah selesai. Persoalan-persoalan yang ada diantara kita sudah kita pecahkan meskipun secara kasar. Jika kakang Panji datang, maka kita sudah mendapatkan pola keputusan yang harus diambilnya.“ Tumenggung Wanakerti berhenti sejenak, lalu. “jika kini pasukan Mataram datang, itu adalah menyenangkan sekali. Bukankah kita akan mengusulkan kepada kakang Panji, bahwa sebelum kita melangkah lebih jauh, maka kita akan membinasakan Mataram lebih dahulu? Kini orang-orang Mataram itu datang sendiri. Mereka tentu tidak menyadari kekuatan yang akan mereka hadapi dilembah ini. Kekuatan yang sudah kita persiapkan, bukan saja untuk menghapuskan Mataram, tetapi juga akan menelan Kota Raja.”

“Jangan terlalu berbangga Ki Tumenggung,“ berkata Empu Pinang Aring, “meskipun kita sudah banyak berbicara dan mendapatkan pola penyelesaian, tetapi, yang kita bicarakan adalah masalah-masalah yang terlalu kasar. Belum sampai pada masalah-masalah yang lebih kecil dan rumit. Kita belum tahu, apakah kita akan mengumpankan pasukan pilihan yang kita persiapkan dilembah ini, atau kita harus menghindar untuk menyusun diri lebih mantap. Bukankah kita telah merencanakan, jika kakang Panji sependapat, untuk memukul Pajang dengan pasukan terpercaya ini, tetapi gerakan ditempat-tempat lain akan membantu memecah perhatian prajurit-prajurit Pajang.”

“Ya. Kita tetap pada rencana itu. Dan kita tetap pada rencana untuk menghancurkan Mataram. Dan kini Mataram telah datang dengan sendirinya. Apakah salahnya jika kita mempergunakan pasukan yang telah siap ini.”

Beberapa orang menjadi termangu mangu. Namun kemudian orang bertubuh raksasa itu berkata, “Kita akan mempergunakan pasukan yang ada. Aku ingin bertemu dengan orang yang bernama Raden Sutawijaya dan bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

“Memang tidak ada salahnya,“ desis Ki Samparsada, “aku juga ingin melihat Mataram binasa. Dan itu adalah kesalahan Ki Sumangkar. Jika ia lolos dari maut dan justru berhasil membinasakan sepuluh orang kepercayaan kita termasuk Kiai Jambu Sirik dan Kiai Senadarma, maka kini ia telah menyeret Mataram kedalam maut itu. Agaknya ia memang tidak melaporkan kepada Untara di Jati Anom atau kepada para perwira di Pajang. Tetapi ia lebih senang melaporkan kepada Raden Sutawijaya yang kini dengan sombong telah datang dengan pasukannya.”

“Mereka yang datang dari Mataram itu mengira, bahwa kita sedang bermain-main disini. Mereka tidak tahu, apakah yang sebenarnya ada di lembah ini,“ berkata Tumenggung Wanakerti, “Jika demikian halnya, maka kitapun harus segera mempersiapkan pasukan kita masing-masing.”

“Dalam sekejap pasukan sudah siap,“ berkata Empu Pinang Aring. Lalu. “Ada juga gunanya kejutan serupa ini. Orang-orangku telah jemu menunggu Kiai Sangkelat. Jika mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan selingan sekarang ini, maka mereka tentu akan terbangun dan gairah perjuangan mereka akan tumbuh semakin mekar.”

“Sekarang juga pasukanku siap bertempur,“ berkata Kiai Kelasa Sawit, “sebenarnya aku mengharap Untara datang. Ia telah membuat hatiku sakit. Tetapi jika yang datang Mataram, maka aku akan melepaskan dendamku kepada orang-orang Mataram yang dungu itu.”

Tumenggung Wanakerti mengangguk-angguk. Ia percaya, bahwa setiap orang yang telah ikut membicarakan beberapa persoalan di lembah itu sambil menunggu kedatangan pemimpin tertinggi para perwira prajurit Pajang yang terlibat didalamnya, akan dapat mempersiapkan diri dengan cepat. Sehingga mereka tidak perlu cemas, bahwa kekuatan Mataram akan dapat melampui kekuatan mereka.

Namun dalam pada itu. Tumenggung Wanakerti berkata, “Kita masih menunggu kehadiran sebuah pusaka lagi, Kangjeng Kiai Sangkelat. Karena itu, yang sudah ada pada kita harus kita pertahankan. Jika orang-orang Mataram datang dengan niat untuk merebut pusaka-pusaka itu, maka yang akan mereka temukan adalah sebuah kuburan raksasa bagi mereka.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi Ki Tumenggung. Sesudah kita menyelesaikan tugas ini, maka aku mengharap, agar persoalan kita cepat mendapat penyelesaian. Mungkin kakang Panji masih sibuk sehingga ia belum mendapatkan kesempatan mengambil pusaka Kangjeng Kiai Sangkelat dari gedong pusaka. Tetapi seharusnya ia datang dan menentukan sikap sampai kebahagian yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian kita masing-masing akan merasa, bahwa perjuangan ini tidak sia-sia.“
Tumenggung Wanakerti tersenyum. Katanya, “Empu. Jangan cemas. Aku yakin bahwa kakang Panji akan menepati janjinya. Kerajaan Majapahit kelak akan membutuhkan beberapa orang Adipati untuk mengganti para Adipati yang ternyata tidak mampu mengendalikan daerahnya seperti sekarang ini. Tetapi semuanya itu juga dipengaruhi oleh sumber pemerintahan yang berhenti. Sultan Pajang tidak lagi mempunyai gairah perjuangan buat masa depan kita yang panjang.”

Empu Pinang Aringpun tersenyum pula. Katanya, “Aku tidak akan ingkar. Aku adalah seorang yang akan menyebut diriku seorang Adipati yang mumpuni.”

“Tetapi sekarang, persoalan kita adalah kedatangan orang-orang Mataram.“ potong Tumenggung Wanakerti, “karena itu, siapkan sepasukan pengawal yang terkuat untuk melindungi pusaka-pusaka yang sudah ada ditangan kita.”

“Jangan takut. Orang-orang Mataram tidak akan dapat menyentuh pusaka itu,“ desis Kiai Kelasa Sawit.

Dalam pada itu, maka dimalam itu juga orang-orang dilembah itupun segera menyiapkan pasukannya. Dibawah cahaya obor yang bagaikan membakar hutan, mereka bersiap di barak masing-masing.

Orang-orang yang sudah mulai berbaring itu mengumpat didalam hati. Mereka rasa-rasanya malas sekali untuk berbuat sesuatu. Sudah terlalu lama mereka berada dilembah yang menjemukan itu.

Tetapi sebagian dari mereka, kegawatan keadaan itu merupakan suatu selingan yang menggembirakan. Setelah sekian lamanya mereka duduk sambil menghitung peredaran bulan dilangit, mereka akan mendapatkan suatu permainan meskipun dengan taruhan nyawa.

“Kita akan mencium bau darah,“ berkata salah seorang dari mereka, “dengan demikian kita akan terbangun dari mimpi yang menjemukan ini.”

Orang-orang dilembah itu tidak perlu lagi merahasiakan kehadirannya, sehingga karena itu maka mereka tidak lagi segan-segan mempergunakan obor untuk mempersiapkan diri menghadapi orang-orang Mataram yang akan datang kelembah itu.

Dengan demikian maka lembah itupun segera digetarkan oleh hiruk pikuk pasukan yang tengah bersiap-siap untuk bertempur dengan sepenuh kekuatan.

Dalam pada itu, malam dihari keenam itupun telah menjadi semakin dalam. Untuk menjajagi kekuatan lawan, Sutawijaya telah mengirimkan beberapa petugas sandinya. Mereka sejauh mungkin berusaha untuk mengetahui keadaan lawan. Jika ada hal-hal yang berbahaya, maka mereka harus segera melaporkan kepada Raden Sutawijaya.

Dengan dada yang berdebar-debar para pengawas itu melihat obor yang tersebar dilembah yang ditumbuhi oleh hutan yang cukup lebat itu. Obor obor itu bagaikan suatu petunjuk, bahwa lawan yang mereka hadapi sebenarnya adalah kekuatan yang cukup gawat.

Dengan hati-hati mereka berusaha mendekati perkemahan lawan. Didalam gelapnya malam dan pepatnya pepohonan, petugas sandi itu berhasil mendekat meskipun pada jarak yang tidak terlampau pendek.

Namun ternyata persiapan di lembah itu telah mengejutkannya. Mereka melihat pasukan yang kuat bersiap dalam kelompok masing-masing. Mereka melihat beberapa barak yang berpencar. Dan disetiap halaman barak, mereka melihat pasukan yang telah bersiap untuk bertempur.

“Jumlah mereka terlalu banyak,“ desis pengawas itu.

“Ya. Pasukan Mataram tidak sebanyak itu. Jumlah mereka mungkin dua kali lipat dari pasukan kita.”

Para pengawas itu termangu-mangu. Kemudian mereka memutuskan untuk segera melaporkan kepada Raden Sutawijaya.

Laporan itu telah menumbuhkan persoalan baru bagi Raden Sutawijaya. Pengenalan mereka terhadap kekuatan lawan memang agak kurang cermat. Namun semula Raden Sutawijaya tidak menyangka, bahwa dilembah itu telah berkumpul pasukan yang sedemikian banyak dan kuat.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?“ bertanya pengawas itu.

“Kita akan berbicara dahulu,“ desis Raden Sutawijaya.

Dengan demikian, maka Raden Sutawijayapun segera memanggil orang-orang terpenting dipasukannya dan di pasukan para pengawal Sangkal Putung. Mereka dengan cermat mendengarkan laporan petugas sandi yang telah melihat perkembangan keadaan lawan dilembah itu.

“Jumlah mereka terlalu banyak,“ desis Raden Sutawijaya.

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa rencana Mataram masih kurang matang Mereka hanya berdasarkan kepada dugaan-dugaan bertandasan keterangan beberapa orang tawanan. Tetapi setelah mereka melihat kenyataan tentang jumlah lawan, maka mereka perlu mempertimbangkannya lebih lanjut.

“Jika demikian,“ Swandaru tiba-tiba saja memotong, “pasukan dari Sangkal Putung tidak perlu menunggu dimulut lembah. Bersama dengan pasukan Mataram maka jumlah kita akan berlipat.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya petugas sandi yang telah memasuki lembah itu. Kemudian dengan ragu ia bertanya, “Bagaimana menurut penglihatanmu?”

Pengawas itu termangu-mangu sejenak. Memang pasukan Sangkal Pulung jumlahnya hampir sebanyak pasukan Mataram sendiri. Tetapi pengawas itu meragukan, apakah setiap orang didalam pasukan Sangkal Putung itu memiliki kemampuan seorang prajurit.

Karena itu, maku katanya kemudian, “Dengan pasukan Sangkal Putung mungkin jumlahnya akan memadai, karena pasukan Sangkul Putung itu hampir sejumlah orang-orang didalam pasukan Mataram.“ ia berhenti sejenak. Sekilas dipandanginya wajah Swandaru.

“Aku tahu,“ sahut Swandaru, “kau meragukan kemampuan secara pribadi dari orang-orangku. Baiklah aku yang bertanggung jawab, bahwa mereka tidak berada dibawah kemampuan seorang prajurit. Atau katakan, bedanya tidak terlalu banyak.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia percaya keterangan Swandaru. Para pengawal Kademangan Sangkal Putung memang memiliki kemampuan yang, cukup. Seperti yang dikatakan oleh Swandaru sendiri, bedanya memang tidak terlalu banyak.

Namun demikian Raden Sutawijaya masih ragu-ragu. Jika ia melibatkan langsung pasukan Sangkal Putung, maka pengorbanan Sangkal Putung akan menjadi terlampau besar bagi perjuangan tegaknya Mataram. Namun jika ia tidak membawa pasukan itu serta, maka kekuatan pasukan Mataram masih kurang memadai.

Dalam keragu-raguan itu Kiai Gringsing berkata, “Bagaimana jika kita juga menghubungkan pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh? Aku kira pasukan mereka juga cukup kuat.“

“Maksud Kiai ?”

“Untuk mengurangi tekanan pasukan yang ada dilembah itu, maka biarlah pasukan Tanah Perdikan Menoreh juga memasuki lembah, sehingga pasukan yang ada dilembah itu harus membuka dua garis perang. Meskipun jumlah mereka lebih banyak dari pasukan Mataram, tetapi dengan dua garis perang, mereka tentu akan membagi diri.”

“Tetapi kita tidak tahu keadaan pasukan Tanah Perdikan Menoreh dengan pasti Kiai,“ berkata Raden Sutawijaya, “selebihnya, apakah kita masih mempunyai waktu untuk menghubungi mereka.”

“Kita masih mempunyai waktu semalam. Kita akan mengirimkan penghubung berkuda.”

“Tetapi di dini hari mereka tentu belum sampai meskipun mereka tidak banyak beristirahat.”

“Tidak perlu di dini hari Raden. Mereka secepat-cepatnya baru akan sampai tengah hari. Tetapi jika mereka mendengar pesan itu, maka mereka tentu akan langsung bergerak, sementara kita masih akan tetap bertahan dengan pasukan yang ada, karena menurut para pengawas, jumlah pasukan Mataram dan Sangkal Putung cukup memadai. Kita akan bertahan sampai tengah hari. sebelum pasukan Tanah Perdikan Menoreh bergerak.”

Raden Sutawijaya berpikir sejenak. Kemudian dipandanginya Ki Juru Martani yang sedang berpikir pula.

“Bagaimana pendapat paman,“ Raden Sutawijaya mendesak.

***

Oleh Ki Sarip Tambank Oso
Belum di proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:16  Comments (92)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-6/trackback/

RSS feed for comments on this post.

92 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hari ini cantrik2 pasti harus mengeluarkan tenaga cadangannya utk menemukan persembunyian kitab ii-6, karena gua penyimpanannya ada 11 persimpangan jalur…

    Jangan tertipu dgn indah & cantiknya perempuan (seperti pesan Ki Untara kpd Agung Sedayu)……….

  2. wah tiwas searching….mboten ketemu juga….jangan2 memang di cd-nya Paris Hilton ?…atau di cd-nya Pandan Wangi ?…

    Kalau jaman sekarang Sekar Mirah itu kesannya matre’ banget ya ?…mestinya agung sedayu jangan mau sama Sekar Mirah…
    Mestinya waktu pertama ketemu Pandan Wangi langsung nembung aja…dan lupakan Sekar Mirah… hehehehehe

  3. Duh Ki GD …..
    Buku II jilid 6 halaman 7, mengingatkan saya waktu jaman sekolah dulu….. biar nggak di tegor guru, pura-pura baca buku pelajaran, padahal buku pelajaran hanya sekedar “lambaran” buat komik yang ada di dalamnya……
    Terima kasih ki GD

    Ki Pandan Alas,
    Selain di iket pinggang mBak Paris, Kyai sudah melihat apa yang ada dibalik majalah “Vogue” belum???

  4. Ki Sutawijia … memang Pandan Wangi menjadi istri Swandaru, tetapi hati dan cintanya selalu terpaut utk Agung Sedayu, begitu pula sebaliknya…

    CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI ….

  5. Ki Bung Didiek,… aku begitu terpesona dgn iket pinggang si hilton shg blm sempet bukak2 yg laen… emank ada yg lbh “eh” dari si paris hilton?

  6. Poro cantrik, barusan paris Hilton sms kalo di cd yg dipegangnya mengandung kitab ii-6…

    Cepet diambil sebelum dia dikontrak oleh yg laen

    Makasih Ki GD

  7. waduuu….
    ki Gede memang pinter bikin para cantrik ikut berbangga dengan dipajangnya beberapa cover 106 di sembarang dan di semua tempat sesuai dengan selera ki Gede… he he…
    tetapi intinya tetep sama, yaitu usaha melestarikan ADBM ini…
    sekali lagi saluut…. saluuuutt

  8. Wah hebat… kitab 106 ternyata dipromosikan langsung oleh PH. Pasti bayarannya mahal tuh…

    Untuk berikutnya siapa nih yang akan jadi kurir ki GD dalam menyampaikan kitab2 ADBM.

    Zhaf

  9. wah ternyata Ki Gede kejam juga ya…saya jadi kasihan sama yang faqir bandwith… 😛
    harus melalui 10 bab dulu yang betul2 susah ngebayanginnya kalau doi faqir bw…tapi untungnya bab 11 bikin bahagia….

  10. ternyata PH selain cuantikkkkk juga baik ya……

  11. hmm…gimana kalo dalam rangka mencintai produk sendiri, kitab 107 dipromosikan oleh socialite lokal, keluarga azhari hehe seksi abis deh ADBM hihi…

    matur nuwun rontal 106nya ki GDe

  12. Setuju Kiai …. keluarga azhari …. pose yg mana kiai

  13. Kagum sama kehebatan ilmu Ki Gd…
    Suusah membedakan apakah itu bentuk-bentuk semu yang nampak nyata atau bentuk-bentuk nyata yang seolah-olah nampak semu…

  14. kadang2 juga terjebak antara cd betulan dan cd ‘betulan’…beberapa kali sebelumnya sempat ngeklik cd dekat jimat ikat pinggang…ternyata lontarnya di cd betulan… 😛
    ada banyak bentuk2 semu ternyata…

  15. Matur nuwun …. matur nuwun …..

  16. saya juga bingung ki pandanalas, pose mana yang terbaik dari azhari family, dan siapa yang paling berhak memegang rontal ilmu tanpa tandingan ki gede…kakak tertua perguruan azhari ato yang ms muda saja hehe tanyakan pada roy suryo yang bergoyang 🙂

  17. Untuk yang merasa faqir bandwith langsung aja ….. ke antrian 11, yang merasa berlebihan boleh mulai dari mana aja, semuanya bagus seperti gambarnya…… betulan…. ini tidak bohong…. :-b

  18. Waduh… sepertinya ini tantangan terberat dalam mengunduh… kitab 106 di pegang perempuan cantik gitu… jadi gemeteran niih…

    Hati-hati bagi yang jantungnya lemah….

    Trimakasih Ki GD 🙂

  19. ga nyangka jg yah… Paris rupa-a ADBM mania jg
    Haaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,
    Go Paris….

  20. Tengkiu Ki GD, ikutan nyedott..he..he..

  21. Walah….

    Ternyata kitab 106 sudah di bagi to.

    Trimakasih Ki Gede.

  22. Ternyata Paris Hilton lancar membaca dalam bahasa Indonesia tho |:D

  23. wah ki gedhe sekarang mainannya “ikat pinggang” deh,he..he senjatanya adimas glagah putih kan

    suwun2

  24. Sopo mau sing usul postere diganti barak obama? malah nek iso poster barak obama neng US diganti poster ADBM aja..

  25. Wa kakakakak, Ki GD bisa aja, mosok majalah boso londo ono edisi serial ADBM nya yo. Juga Majalah VOGUE kok iso-iso ne ber-edisi ADBM , wekekekekek, kreatip. Lah Paris Hilton kui jadi membintangi ADBM juga yo, kiro-kiro dadi sopo yo? Sekar Mirah opo Pandan Wangi? opo malah Rara Semangkin? opo Nyi Demang Sangkal Putung wae … hahahaha …. good

  26. numpang ngunduh kitab 106 nya ya.. Nyai Paris..;D

    hatur nuwun Ki GD

  27. TQ Ki gede..
    numpang nyruput.

  28. alih-alih arep nitip lontar 106,
    asline ki gede ming arep gramak-gramak paris hilton.
    rasane piye ki..???
    kene dibagi-bagi karo sanak kadang.

    suwe-suwe trik’e ki gede
    soyo ngedab-edabi.

    josss tenanan

  29. Nuwun Nyai Pandan Hilton
    Thankyu Ki Gede

  30. Luar biasa. Setelah mesu diri tidak 1 purnama, ternyata ilmu Ki GD telah meningkat dengan tajam sekali tidak hanya mampu menyalurkan tenaga cadangan kepada cambuknya, bahkan telah mempu pula melontarkannya lewat sorot mata dengan tenaga yang nggegirisi. Hal ini ternyata telah semakin memantapkan para cantrik pada padepokan kecil ADBM ini, bahkan banyak cantrik dari seluruh dunia ingin menyadap ilmu itu. Apalagi jika para cantrik itu tahu bahwa ilmu itu baru disadap dari kitab 105, belum lagi kitab 106…396 walah tentu akan menjadi seorang yang pilih tanding di usia yang masih sangat muda.

  31. Hehehe…hebaaat…heebaaat….ternyata tidak cuma orang pribumi aja yang mania ama ADBM tetapi wong LONDO / MANCA juga pada demen……..
    JOS GANDOS …LET METHET…….
    Salut Ki GeDe….Salut

  32. ternyata elmu Ki Gede tak terbatas..
    piawai alias mumpuni olah ngalihkan wujud2 semu.
    udah tingkatan MPU…
    terima kasih paris Hiltonnya…

  33. ruarrrr biasa. demam ADBM melanda dunia. kreatif dan halusss banget gambarnya!

  34. yang belum nemu isyarat, klik saja paris hilton hehe… (boleh kan ngasih bocoran?)

  35. edan……………. tenan
    kreatif dan imajinatif

  36. iki opo critane paris hilton membintangi pilem ADBM yo?
    dadi sopo yo pantese?

  37. retype 106 (part 1)

    Ki Argapati termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu bertanya, “Tetapi Ki Waskita akan pergi seorang diri tanpa kawan diperjalanan.”
    Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Jalan rasa-rasanya menjadi semakin aman.”
    Agung Sedayu mengangguk-angguk Ia sadar, bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu memang memerlukan seorang kawan untuk mempersiapkan pasukannya. Setelah pembicaraan itu tuntas, maka Ki Waskita pun minta diri untuk menengok keluarganya barang sehari semalam, Ia sudah berada dekat dengan rumahnya.
    ……….

    $$ sudah dipindahkan ke bangsal pusaka.

  38. Retype kitab 106 part 2 (Selesai)

    “Tidak banyak persolan bagi Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Waskita, Tanah Perdikan Menoreh hanya memerlukan waktu sehari untuk menempatkan pasukannya dimulut lembah itu.
    “Baiikah,” berkata Raden Sutawjjaya,”kita akan rmemerlukan waktu tujuh hari sejak saat ini. Tetapi sebelum pasukan kita semuanya siap ditempat, maka kita harus mengirimkan sekelompok petugas yang harus mengawasi keadaan mereka. Tidak perlu memasuki lembah itu sampai kejantung. Yang penting mereka harus dapat melihat lalu lintas dimulut Iembah. Mereka harus mengetahui dengan pasti, bahwa gerombolan itu masih ada diiembah dan tidak mengirimkan kedua pusaka itu keluar.”
    ……….

    $$ sudah disimpan dibangsal pusaka.

  39. Hebat dan salut buat Ki Gede atau Cantrik yang kreatif sehingga adbm nganglang ke mancanegara

  40. SAYA BERSUKA CITA SEKALI DENGAN adbm YANG MENJADI IDOLA SAYA TAHUN 70 AN YANG TERPUTUS KARENA HARUS PINDAH NYANGKUL DI PAPUA, SEKALIPUN SAYA SERING JUGA MASUK DUNIA MAYA NAMUN TIDAK TERPIKIR, YA NDILALAH BARU BISA KETEMU SEKARANG, NAMUN SAYANG GAMBAR-GAMBAR BAGIAN DALAM HAMPIR TIDAK ADA, ADAKAH BISA SAYA DAPATKAN PAKET LENGKAPNYA, YANG TENTU SAJA YG LENGKAP GAMBARNYA. TRIMA KASIH SALAM TAHUN BARU 2011 BUAT PARA CANTRIK-CANTRIK.

    S silakan ikuti dari awal Ki.. paket lengkap seluruhnya nya ada di padepokan ini 🙂

  41. wow team kreatif ADBM mantab ……. oldignya yahoot

  42. cerita yang bikin kecanduan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: