Buku II-6

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya Ki Juru Martani seolah-olah hendak mempersilahkannya untuk mengambil keputusan yang akan mengikat semua pihak.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia bergeser setapak. Ia dapat menangkap maksud yang tersirat pada tatapan mata Raden Sutawijaya.

“Marilah, kita akan menentukan bersama-sama,“ berkata Ki Juru.

Demikianlah, maka orang-orang terpenting yang ada dipendapa Mataram itupun segera membicarakan rencana mereka. Seperti semula, maka pembicaraan itu tetap berpangkal pada usaha menyumbat lembah itu dari dua arah, dan pasukan Mataram akan langsung menusuk masuk kedalamnya.

“Kita akan menentukan waktu,“ berkata Raden Sutawijaya.

“Kita harus bersiap-siap,“ sahut Swandaru, “kita harus memperhitungkan perjalanan pasukan kita kemulut lembah. Terutama disebelah Timur, karena di Jati Anom ada pasukan Pajang yang kuat, agar tidak menimbulkan salah paham apabila mereka mengetahui kehadiran pasukan kami.”

“Semuanya harus diatur sebaik-baiknya,“ berkata Raden Sutawijaya, “karena itu, kita harus memperhitungkan waktu yang kita perlukan untuk mempersiapkan pasukan itu dilembah.”

“Tidak banyak persoalan bagi Tanah Perdikan Menoreh,“ berkata Ki Waskita, “Tanah Perdikan Menoreh hanya memerlukan waktu sehari untuk menempatkan pasukannya dimulut lembah itu.”

“Baiklah,“ berkata Raden Sutawijaya kita akan rnernerlukan waktu tujuh hari sejak saat ini. Tetapi sebelum pasukan kita semuanya siap ditempat, maka kita harus mengirimkan sekelompok petugas yang harus mengawasi keadaan mereka. Tidak perlu memasuki lembah itu sampai kejantung. Yang penting mereka harus dapat melihat lalu lintas dimulut lembah. Mereka harus mengetahui dengan pasti, bahwa gerombolan itu masih ada dilembah dan tidak mengirimkan kedua pusaka itu keluar.”

“Kita yakin bahwa pusaka-pusaka itu masih ada dilembah sekarang ini? “ bertanya Swandaru.

“Ya. Menurut orang-orang yang tertangkap itu semuanya masih lengkap berada dilembah itu. Beberapa pihak yang melibatkan diri dalam usaha mereka itupun telah berkumpul pula. Mereka masing-masing dengan membawa pasukan terpercaya. Agaknya mereka memang akan berpangkal dilembah itu sebelum mereka menghantam Pajang yang menjadi semakin lemah sekarang ini.“ jawab Raden Sutawijaya.

“Tetapi Pajang masih belum merupakan seonggok sampah yang dapat diperlakukan begitu saja,“ justru Ki Juru Martanilah yang menyahut, “para Adipati masih siap melakukan perintah Sultan. Dan kekuatan para Adipati itu bukanlah tida dapat ikut menentukan apa yang akan terjadi dengan Pajang.”

“Benar paman. Tetapi keadaan Pajang sendiri akan mempunyai pengaruh yang besar. Tidak semua Adipati sependapat bahwa ayahanda Sultan Hadiwijayalah yang naik tahta setelah Demak kehilangan wibawanya. Tetapi karena perubahan dipusat pemerintahan itu sudah terjadi, maka yang lain dapat diselesaikan setapak demi setapak,“ jawab Raden Sutawijaya.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia memandang wajah Kiai Gringsing yang buram. Namun agaknya Kiai Gringsing mempunyai persoalan tersendiri didalam hatinya mengenai orang-orang yang mengaku pewaris kerajaan Majapahit itu. Karena sebenarnyalah Kiai Gringsing berkepentingan langsung dengan mereka.

Tetapi Kiai Gringsing tidak ingin berbuat sesuatu yang akan dapat menambah suasana menjadi semakin keruh. Mataram dan Pajang sudah cukup berat menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, sehingga karena itulah, maka sudah sebaiknyalah bahwa ia menempatkan diri pada pihak yang sudah mengambil sikap tertentu atas orang-orang yang berada dilembah itu.

Tatapan yang sekilas itu agaknya telah mengusik hati Kiai Gringsing sehingga iapun merasa wajib untuk ikut serta menentukan rencana penyergapan itu. Bukannya sekedar menunggu keputusan dan kemudian melaksanakannya.

“Raden,“ berkata Kiai Gringsing kemudian, “sejak saat ini, sebaiknya kita sudah mengirimkan kelompok-kelompok kecil yang akan mengawasi lembah itu seperti yang Raden katakan. Tujuh hari adalah waktu yang panjang.”

“Tetapi jika pada hari ketujuh itu kita semuanya harus sudah siap ditempat kita masing-masing, maka tiga hari setelah pembicaraan ini kita harus sudah berangkat. Gelombang demi gelombang,“ sahut Raden Sutawijaya.

“Benar Raden,“ jawab Kiai Gringsing, “dua atau tiga hari itu adalah perhitungan kami. Tetapi bagi orang-orang dilembah itu, kehadiran kami tetap pada hari ketujuh. Karena itu, secepatnyalah kita meletakkan pengawasan. Juga gelombang-gelombang pasukan yang hadir dimulut lembah itu harus kita manfaatkan, selain harus menjaga diri agar pengawas-pengawas dari orang-orang itu berada dimulut lembah tidak melihat kehadiran kita.

“Ya. Pengawas-pengawas mereka harus kita perhitungkan,“ desis Sutawijaya.

“Kita akan berkumpul agak jauh dari mulut lembah. Kita akan hadir serentak dan bersama-sama waktunya. Kita tidak akan cemas lagi seandainya pengawas mereka melihat kehadiran kita, karena kita langsung telah mempersiapkan diri dalam gelar,“ berkata Ki Juru.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Agaknya hal yang mereka bicarakan itulah yang harus dilakukannya.

Dengan demikian, maka pembicaraan itupun menemukan pokok-pokok persoalannya. Pasukan Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh akan hadir dilembah, pada hari ketujuh setelah pembicaraan itu. Pada hari itu akan berangkat kelompok kecil yang akan mengawasi mulut lembah, dengan pesan bahwa mereka harus menghindari pengawasan orang-orang yang ada dilembah itu.

Semua keputusan itu segera dijalankan. Lima orang yang terdiri dari tiga orang pengawal Mataram dan dua orang dari Sangkal Putung akan segera berangkat. Sementara Ki Waskita dan tiga orang pengawal dari Mataram akan segera menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Tiga orang pengawal Mataram itu kemudian akan pergi bersama dengan dua orang pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh untuk mengawasi mulut lembah dibagian lain.

“Ingat,“ berkata Ki Juru kemudian, “pada hari ketujuh setelah hari ini, waktu fajar menyingsing, pasukan harus sudah berada dimulut lembah dalam gelar. Sementara pasukan Mataram akan mengatur diri langsung memasuki lembah itu.”

Demikianlah ketika semua persoalan sudah disepakatkan bersama dengan perincian waktu, tempat dan jarak, maka Ki Waskitapun segera minta diri. Bersama tiga orang pengawas dari Mataram yang akan bekerja bersama orang-orang Tanah Perdikan Menoreh, mereka berkuda meninggalkan Mataram.

Berbareng dengan keberangkatan Ki Waskita, lima orang yang bertugas dimulut lembah disebelah Timurpun telah berangkat pula. Mereka akan menyusuri jalan memanjat kaki Gunung Merapi dari arah Selatan. Baru kemudian mereka akan melingkari lambung dan turun dimulut lembah. Sehingga dengan demikian mereka memperkecil kemungkinan untuk bertemu dengan para peronda dari Jati Anom.

Sepeninggal Ki Waskita dan para pengawas, maka Raden Sutawvjaya dan Swandaru segera mempersiapkan pasukan masing-masing. Dalam dua hari semuanya harus sudah selesai. Dihari ketiga, pasukan itu akan mulai bergerak dari Mataram. Gelombang demi gelombang. Seperti yang dilakukan oleh pasukan yang datang dari Sangkal Putung, pasukan yang akan pergi kelembah itupun harus tidak menimbulkan kegelisahan mereka yang melihatnya.

Swandaru tidak banyak lagi harus mengatur diri. Sejak dari Sangkal Putung ia sudah memberikan beberapa pesan dan petunjuk. Karena itu, maka tugasnya tinggallah mengulang pesan-pesannya dan menyesuaikan diri dengan rencana keseluruhan.

Beberapa orang pemimpin dari Sangkal Putung dan Mataram, dalam kesempatan yang pendek itu dapat saling menjajagi kemampuan pasukan masing-masing. Mereka masih sempat menyaksikan latihan-latihan dikedua belah pihak. Baik para pengawal dari Sangkal Putung, maupun para pengawal dari Mataram.

“Guru,“ berkata Swandaru ketika ia hanya duduk berdua dengan gurunya ternyata pasukan pengawal Sangkal Putung tidak kalah bobotnya dengan para pengawal dari Mataram.”

Kiai Gringsing tersenyum. Sambil mengangguk ia berkata, “Kau benar Swandaru. Melihat latihan-latihan dari kedua belah pihak pasukan pengawal yang sedang berkumpul di Mataram sekarang ini, dan siap untuk berangkat, maka keduanya mempunyai bobot yang sama.”

Terasa hati Swandaru bagaikan berkembang. Gurunya, orang yang memiliki ketajaman pengamatan atas ilmu kanuragan, membenarkan pendapatnya. Sehingga dengan demikian ia menjadi semakin bangga dengan Kademangannya dan kepada dirinya sendiri.

Dalam pada itu, keadaan Ki Sumangkar sudah menjadi berangsur baik. Meskipun masih belum sembuh benar namun lukanya sudah tidak banyak mengganggunya lagi.

Jika luka dikulitnya itu sudah sembuh, maka hilanglah bekas-bekas luka itu tanpa bekas.

“Pada saatnya pasukan ini berangkat,“ berkata Ki Sumangkar kepada Kiai Gringsing ketika mereka duduk bersama didalam biliknya, “aku sudah akan sembuh sama sekali.”

“Tetapi sebaiknya Ki Sumangkar masih harus beristirahat. Meskipun luka-luka itu sudah sembuh sama sekali, namun kekuatan Ki Sumangkar tentu masih belum pulih.“ berkata Kiai Gringsing.

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Jika aku sakit sehingga aku tidak mau makan dan minum, maka kekuatanku akan susut. Tetapi selama aku beristirahat di Mataram, aku justru makan dua kali lipat dari kebiasaanku, sehingga tenagaku tentu berlipat pula.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mungkin dapat mencegah Ki Sumangkar agar tidak ikut kemedan yang tentu akan merupakan medan yang berat itu.

Agaknya Sekar Mirahpun telah berusaha pula agar Ki Sumangkar tinggal di Mataram, tetapi muridnya itupun tidak berhasil. Ki Sumangkar tetap pada pendiriannya untuk ikut serta pergi kelembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Dalam pada itu, Ki Waskita telah melampui perjalanannya dengan tanpa gangguan diperjalanan. Ketia ia memasuki tlatah Tanah Perdikan Menoreh, hatinya terasa sejuk. Agaknya Menoreh benar-benar telah bangun. Diperjalanan Ki Waskita telah bertemu dengan tiga orang peronda berkuda yang mengelilingi padukuhan yang satu dan yang lain.

“Mereka telah menemukan diri mereka kembali,“ desis Ki Waskita.

Tiga orang pengawas yang dikirim oleh Mataram itu termangu-mangu. Mereka tidak begitu mengerti, apakah yang dimaksud oleh Ki Waskita. Namun merekapun menganggukkan kepalanya tanpa mengerti maknanya.

Dihalaman rumah Ki Gede Menoreh, Ki Waskita melihat beberapa orang anak muda sedang berkumpul. Sebagian dari mereka adalah para pemimpin pengawal yang sedang berlatih bersama Prastawa.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tanah Perdikan Menoreh ingin meloncat sampai ketempatnya berpijak sebelum mengalami kemunduran yang dapat mengganggu Tanah Perdikan itu jika terjadi sesuatu.

Kedatangan Ki Waskita segera disambut oleh Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu. sementara Prastawa melanjutkan latihan-latihannya dihalaman.

Setelah beristirahat sejenak dan minum beberapa teguk, maka Ki Waskitapun langsung menceriterakan perjalanannya ke Mataram. Hasil-hasil yang telah ditetapkan dalam pembicaraan antara Mataram dan Sangkal Putung.

“Aku mohon maaf Ki Gede, bahwa aku telah memberanikan diri mewakili Tanah Perdikan Menoreh dalam pembicaraan itu, karena akulah orang yang dianggap paling banyak mengetahui tentang Tanah Perdikan ini, sekaligus aku adalah utusan Ki Gede untuk menyampaikan laporan tentang Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede tersenyum. Jawabnya, “Akulah yang seharusnya mengucapkan terima kasih. Bahkan seterusnya Ki Waskita yang mendengar langsung semua yang dibicarakan di Mataram, aku harap untuk mengendalikan semua gerakan di Tanah Perdikan ini. Aku mencoba meletakkan kepercayaan kepada Prastawa. Namun sudah tentu bahwa aku tidak akan melepaskannya.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya Mudah-mudahan ia dapat melaksanakan dengan baik. Asal Prastawa tidak meninggalkan semua pesan dan petunjuk orang-orang tua, maka ia tentu akan berhasil.”

“Mudah-mudahan sahut Ki Gede selebihnya aku minta angger Agung Sedayu untuk mendampinginya. Aku kira angger Agung Sedayu mempunyai pengalaman agak lebih banyak dari Prastawa.”

Satelah berbicara beberapa saat, maka Ki Gede Menorehpun segera menunjuk dua orang pengawal terpilih untuk mengawani tiga orang pengawas dari Mataram yang akan mendahului keujung lembah disebelah Barat.

“Apakah aku sajalah yang pergi mendahului paman? “ bertanya Prastawa.

Ki Gede menggeleng. Jawabnya, “kau akan membawa seluruh pasukan Tanah Perdikan Menoreh pada saatnya nanti bersama aku, Ki Waskita dan Agung Sedayu.”

Prastawa mengangguk-angguk. Sepercik kebanggaan telah terbersit dihatinya. Ia mulai mendapat kepercayaan dari Ki Gede Menoreh meskipun masih dibawah pengawasan langsung pamannya. Namun jika ia berhasil dengan baik, maka kepercayaan itu lambat laun akan menjadi semakin besar.

Demikianlah maka setelah beristirahat dan menyediakan bekal secukupnya, lima orang pengawas yang akan mendahului pergi ke ujung lembah itupun segera berangkat.

Sepeninggal kelima orang itu, Ki Gede masih melanjutkan pembicaraan dengan Ki Waskita, Agung Sedayu dan Prastawa. Mereka sudah mulai membagi kelompok-kelompok pasukannya dalam gelar yang akan mereka pergunakan menyumbat lembah yang menghadap keBarat.

“Kita masih mempunyai cukup waktu,“ berkata Ki Gede Menoreh, “bahkan menurut perhitunganku, waktu itu agak terlalu longgar.”

“Ada beberapa pertimbangan Ki Gede,“ berkata Ki Waskita, “menurut orang-orang yang berhasil kita tawan dan sekarang berada di Mataram, mungkin masih ada beberapa orang penting yang akan hadir dalam pertemuan dilembah itu. Tetapi juga karena perhitungan waktu dalam persiapan terutama pasukan Mataram yang akan langsung menusuk kejantung lembah itu.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Bagi Menoreh waktu yang tujuh hari itu telah lebih dari cukup, apalagi sekedar memasang gelar untuk menahan arus lawan yang mengundurkan diri jika mereka tidak dapat menahan serangan pasukan Mataram.

“Kita mengharap, dari para pengawas yang mendahului, kita akan mendapat gambaran kekuatan dari kelompok-kelompok yang sedang berkumpul dilembah itu.” berkata Ki Gede Menoreh.

“Tetapi aku kira, tidak seluruh kekuatan mereka berada dilembah itu. Mereka yang berkumpul tentu beberapa orang pemimpin serta pengawal-pengawalnya yang mungkin memang agak banyak. Namun pasukan mereka pasti terbagi dalam pemusatan-pemusatan yang setiap saat dapat menghantam Pajang dari beberapa jurusan,“ sahut Ki Waskita.

“Mungkin demikian. Tetapi jika kita berhasil menangkap kepalanya, maka ekornya tidak akan dapat banyak bergerak lagi.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Ki Gede. Dan iapun mengartikan bahwa kelompok-kelompok yang berkumpul di lembah itu hanyalah beberapa orang saja. Dari para wartawan Mataram sudah mendapat gambaran, bahwa lembah itu telah dipenuhi dengan gubug-gubug ilalang yang dihuni oleh kelompok-kelompok dari beberapa gerombolan yang berada dilembah itu.

“Mereka tinggal dilereng yang tertutup oleh hutan yang masih cukup lebat. Padukuhan dan padepokan kecil yang berada dimulut lembah bagian Timur, agaknya tidak diganggunya sama sekali, agar orang-orang dipadepokan dan padukuhan kecil itu tidak menyebarkan berita kehadiran gerombolan-gerombolan itu.” berkata Ki Waskita.

Ki Gede mengangguk-angguk. Iapun sudah membayangkan kekuatan yang besar memang sedang menyiapkan diri dilembah itu. Bahkan kekuatan yang ada itu masih juga akan bertambah-tambah.

Dalam pada itu, Ki Gedepun memerintahkan kepada Prastawa untuk mengadakan persiapan sebaik-baiknya. Pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan dibagi dalam kelompok-kelompok dibawah seorang pemimpin. Mereka harus siap menangkap dan menjalankan perintah yang disampaikan kepada mereka.

“Kita masih mempunyai waktu lima hari. Dihari keenam kita sudah berada diperjalanan. Pada saat fajar menyingsing dihari ketujuh kita sudah berada dimulut lembah. Mungkin kita harus masuk agak dalam, diantara hutan yang cukup lebat. Meskipun dilembah itu memang ada jalan setapak, tetapi jika terjadi pertempuran, maka yang akan menjadi jalur jalan pasukan yang mungkin berhasil didesak oleh pasukan Mataram itu, bukannya jalan setapak itu,“ berkata Ki Gede.

“Kita mempunyai beberapa orang yang telah mengenal daerah itu dengan baik,“ berkata Prastawa, “mereka akan ditempatkan pada ujung pasukan. Begitu fajar dihari ketujuh itu naik, kita akan menempatkan kelompok-kelompok pasukan kita terpencar dilembah dengan perlengkapan isyarat yang cukup.”

“Kewajibanmulah untuk menyiapkan semua keperluan itu Prastawa,“ berkata Ki Gede, “Agung Sedayu akan dapat kau ajak berbicara. Ia mempunyai pengalaman yang cukup. Juga diatas Tanah Perdikan Menoreh ini. Meskipun ia bukan keluarga Tanah Perdikan Menoreh, namun ia mengenal Tanah ini seperti kalian.”

Prastawa mengangguk. Tetapi terasa sesuatu melonjak dihatinya. “tanpa Agung Sedayu aku juga dapat menyelesaikan tugas ini,“ berkata Prastawa didalam hatinya.

Ternyata bahwa Tanah Perdikan Menoreh telah memanfaatkan hari yang tersisa itu sebaik-baiknya. Latihan-latihan diadakan dengan teratur dan bersungguh-sungguh. Prastawa seakan-akan berada disegala tempat memberikan petunjuk-petunjuk. Sementara Agung Sedayupun mencoba membantunya meskipun sekali-sekali terasa, bahwa sikap Prastawa agak kurang pada tempatnya.

Tetapi Agung Sedayu mencoba untuk tidak berprasangka. Karena itulah ia masih tetap melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Bahkan kadang-kadang bersama Ki Gede Menoreh sendiri dan Ki Waskita.

Betapa tajamnya tanggapan Ki Gede Menoreh atas ilmu kanuragan. Meskipun Agung Sedayu sekedar memberikan beberapa bimbingan kepada para pengawal, namun sambil berbisik Ki Gede bertanya kepada Ki Waskita, “Apakah ada penyempurnaan ilmu dari angger Agung Sedayu?”

Ki Waskita tersenyum. Sambil mengangguk ia menjawab, “Luar biasa. Ia menemukan inti dari ilmunya diluar pengamatan langsung gurunya.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya, Nampak keragu-raguan membayang diwajahnya. sehingga Ki Waskita merasa perlu untuk menjelaskan. Katanya, “Agung Sedayu meninggalkan gurunya untuk sebulan. Memang agak sukar dimengerti, bahwa yang sebulan itu ternyata telah membuat Agung Sedayu meloncat jauh sekali. Jauh diluar perhitungan gurunya sendiri.”

Ki Argapatu mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi maksud Ki Waskita, bahwa Agung Sedayu menemukan inti dari ilmunya justru saat ia meninggalkan gurunya dalam sebulan itu?”

“Ya.”

Ki Argapati mengangguk-angguk pula. Sejak semula ia sudah mengagumi anak muda itu seperti juga ia mengagumi Swandaru. Karena itu ia mempercayai keterangan Ki Waskita tentang Agung Sedayu.

Namun Ki Argapatipun tidak dapat menyembunyikan perasaan ingin tahunya tentang menantunya yang sudah agak lama terpisah. Karena itu, maka iapun dengan ragu-ragu bertanya pula kepada Ki Waskita.

Seperti yang dilihatnya pada Swandaru. maka Ki Waskitapun menceriterakan bahwa kekuatan Swandaru yang dilambari dengan latihan-latihan yang mapan, kini merupakan kekuatan raksasa yang sulit dicari imbangannya. Ketrampilannya bermain cambuk telah meningkat jauh sekali. Bahkan iapun ternyata memiliki kemampuan yang tinggi untuk mempergunakan segala macam senjata.

“Sokurlah,“ desisnya, “aku berbangga karena kelak ia akan menjadi tetua Tanah Perdikan ini disamping isterinya.”

Ki Waskita tidak menyahut. Tetapi ia menyembunyikan sesuatu didasar hati. Ia tidak sampai mengatakan bahwa ada sesuatu yang lain telah berkembang di dalam jiwa anak muda yang gemuk itu.

“Aku ternyata terlalu lemah,“ berkata Ki Waskita didalam hatinya. Sebenarnya ia merasa bersalah, bahwa ia tidak berterus terang tentang Swandaru yang perkembangan jiwanya agak mencemaskan.

Dalam pada itu, latihan-latihan di Tanah Perdikan Menoreh itu berlangsung dengan penuh gairah. Waktu yang sempit itu mereka pergunakan sebaik-baiknya. Kehadiran Agung Sedayu dan Ki Waskita dapat memberikan warna-warna yang dapat membubuhi latihan-latihan yang diadakan oleh para pengawal. Pengalaman-pengalaman yang diceriterakan oleh Agung Sedayu dan Ki Waskita meskipun hanya sekedar sebagai dongeng menjelang tidur, namun banyak memberikan petunjuk yang sangat berguna bagi mereka.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya Tanah Perdikan Menoreh telah bangun kembali setelah terkantuk-kantuk beberapa saat. Bukan saja dalam olah kanuragaan. Tetapi disamping peronda yang mulai berputaran diseluruh tlatah Tanah Perdikan Menoreh, maka orang-orang tua-pun mulai menyadari, bahwa seharusnya parit-parit yang kering itupun mengalirkan air yang dapat membasahi tanaman dimusim kering.

Dalam pada itu. selagi Tanah Perdikan Menoreh sibuk mempersiapkan pasukan terkuat untuk ikut serta bersama Mataram dan Sangkal Putung berusaha menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang disamping mempersiapkan pasukan pengawal yang akan menjaga keamanan Tanah Perdikan selama tugas itu berlangsung, dari Mataram sekelompok demi sekelompok pasukan pengawaltelah mulai bergerak.

Di hari ketika pasukan pengawal Sangkal Putung yang dipimin langsung oleh Swandaru telah dipersiapkan dalam kelompok-kelompok kecil yang berangkat dibarengi oleh kelompok-kelompok kecil dari Mataram mendaki kaki Gunung Merapi. Beberapa orang yang telah mengenal jalan menuju kelambung Gunung Merapi itu membawa mereka lewat jalan-jalan yang kadang-kadang merupakan jalur-jalur sempit ditengah-tengah hutan.

Tetapi jalan yang demikian adalah jalan yang paling baik mereka lalui, sehingga mereka tidak akan mudah diketahui, baik oleh para pengawas yang mungkin dipasang oleh orang-orang yang berada dilembah, namun mungkin juga pasukan sandi dari Pajang.

Menurut perhitungan dihari kelima, pasukan Sangkal Putung dan pasukan Mataram telah berada dilambung Gunung Merapi. Mereka akan melingkari lambung itu dalam iring-iringan yang lengkap. Pasukan Sangkal Putung segera akan menempati tempat-tempat yang akan ditunjukkan oleh para pengawas yang telah mendahului, sementara pasukan Mataram dihari ketujuh, menjelang fajar, akan memasuki lembah dalam gelar perang.

Setiap orang didalam pasukan Mataram dan Sangkal Putung itu sudah mulai membayangkan, apa yang akan terjadi. Mereka mulai menjadi tegang dan berdebar-debar. Mereka telah mendengar, bahwa didalam lembah itu terdapat beberapa orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga mereka harus berhati-hati menghadapi mereka.

“Ki Juru Martani akan ikut serta memasuki lembah itu,“ berkata salah seorang Senapati.

“Dari siapa kau dengar?” bertanya kawannya.

“Ki Lurah Branjangan. Ki Lurah akan menjadi pengapit yang sebelah lagi?”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun ini masih bertanya, “Kenapa Ki Juru tidak berada di antara pasukan Sangkal Putung yang menunggu dimulut lembah? Ki Juru sudah tua.”

“Kau lihat orang bercambuk yang bernama Kiai Gringsing itu? Iapun sudah tua setua Ki Sumangkar. Tetapi mereka masih saja hidup dalam petualangan mengalami perkelahian dan pertempuran yang satu keperkelahian dan pertempuran berikutnya.

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun adalah isyarat bagi setiap pengawal Mataram, Jika Ki Juru ikut serta didalam gelar, itu adalah pertanda bahwa keadaan memang benar-benar gawat.

Sebenarnyalah. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tengah membicarakan kemungkinan yang akan mereka hadapi. Ternyata bahwa kedua orang tua itu bersepakat untuk ikut serta memasuki lembah, dan mempercayakan pasukan pengawai Sangkal Putung kepada Swandaru. Pandan wangi dan Sekar Mirah.

“Tetapi kita harus memperhitungkan kekuatan Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Juru kepada Sutawijaya ketika mereka sedang berbincang tentang rencana mereka. “Jika kita mendesak dati Timur, dan lawan mundur ke Barat, apakah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh cukup kuat untuk menahan mereka ?”

“Kita tidak akan melepaskan mereka. Jika mereka mundur, berarti mereka akan membuka dua garis peperangan,” jawab Sutawijaya.

Ki Juru mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa pasukan Mataram akan menekan mereka, sehingga seandainya orang-orang yang ada dilembah itu bergeser kemulut lembah, maka mereka masih akan tetap harus melawan pasukan Mataram yang mengikuti mereka. Dengan demikian maka tekanan pada pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu tidak akan terlalu berat.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya merasa tidak perlu lagi menugaskan penghubungnya ke Tanah Perdikan Menoreh, karena ia percaya bahwa Ki Waskita, orang yang sudah kenyang akan pengalaman itu, tidak akan salah langkah.

Sebenarnyalah pada saat menjelang keberangkatan pasukan Tanah Perdikan Menoreh, Ki Waskita, Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu dan Prastawa telah mematangkan semua rencana. Prastawa akan memimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh didampingi oleh Ki Argapati sendiri. Keduanya akan berada di ujung pasukan Sementara Agung Sedayu akan berada disebelah kanan mendampingi pimpinan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh, sementara pimpinan pengawal yang ada disebelah kiri akan didampingi oleh Ki Waskita.

Ketika Ki Gede Menoreh bertanya kepada Ki Waskita, apakah Agung Sedayu sudah mampu berdiri sendiri di hadapan orang-orang yang berada dilembah itu, Ki Waskita tersenyum sambil menjawab, “Itulah yang aku merasa heran. Ketika ia sendiri didalam sebuah goa, ia telah berhasil meningkatkan ilmunya, sehingga sulit untuk membedakan lagi antara Agung Sedayu dan gurunya didalam olah kanuragan. Meskipun Agung Sedayu belum sematang Kiai Gringsing, namun ia telah memiliki segalanya yang dimiliki oleh gurunya.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Sulit baginya untuk mempercayainya. Tetapi Ki Waskita tentu tidak akan berbohong. Apalagi dalam keadaan gawat dimulut lembah itu. Ki Gede Menoreh mengenal beberapa orang sakti dari lingkungan mereka yang mengaku dirinya keturunan Majapahit dan merindukannya kembali.

Ki Waskita agaknya dapat menangkap perasaan Ki Gede. Katanya, “Ki Gede. Seandainya Agung Sedayu kini bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung atau Penembahan Alit, maka aku tidak akan mencemaskan lagi. Setidak-tidaknya ia akan dapat bertahan untuk waktu yang lama, sementara akan datang kesempatan-kesempatan yang lain yang dapat kita berikan.”

“Sukurlah,“ desis Ki Gede, “aku memang sudah menduga sejak semula, bahwa angger Agung Sedayu akan menjadi seorang yang luar biasa.“ Ki Argapati terdiam sejenak, namun kemudian, “apakah Swandaru juga memiliki kemampuan seperti itu?”

“Ia memiliki kekuatan jasmaniah seperti yang pernah aku katakan. Selebihnya ia memiliki kemampuan memimpin para pengawal sehingga Sangkal Putung menjadi Kademangan yang kuat dari segala segi. Bukan saja kekuatan tempur bila terjadi sesuatu, tetapi juga kesejahteraan Kademangannya telah meningkat. Sawah ladang terpelihara baik, sementara kerja yang lain telah tumbuh pula dengan subur.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Ia dapat mengambil kesimpulan bahwa menurut pengamatan Ki Waskita, didalam olah kanuragan, Swandaru agak ketinggalan dari Agung Sedayu.

Namun hal itu memang sudah diduga oleh Ki Gede Menoreh, bahwa Agung Sedayu agaknya mempunyai beberapa kelebihan dari menantunya yang gemuk itu.

Dalam pada itu, maka semua rencana telah dapat berjalan seperti yang dikehendakinya. Pada hari yang kelima, pasukan dari Tanah Perdikan Menoreh telah siap menempuh perjalanan. Jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tetapi juga tidak terlalu dekat.

Ketika matahari turun, diakhir hari kelima sejak ditentukan saat-saat maka pasukan Tanah Perdikan Menoreh itu telah berangkat kemedan. Mereka berjalan dimalam hari untuk menghindari kegelisahan yang dapat timbul jika orang-orang dipadukuhan melihat kelengkapan pasukan yang pergi kemedan itu. Sementara perjalanan dimalamhari tidak akan terasa panasnya sengatan matahari meskipun jalan menjadi samar oleh kegelapan.

Ki Gede berharap bahwa pasukannya masih mempunyai kesempatan untuk sekedar beristirahat dimulut lembah sebelum fajar menyingsing dihari ketujuh. Istirahat yang akan dapat memberikan kesegaran baru setelah menempuh perjalanan yang meskipun tidak begitu jauh, tetapi cukup melelahkan.

Karena para pengawas tidak memberikan laporan apapun tentang keadaan dilembah itu, maka menurut perhitungan Ki Gede, tidak terjadi sesuatu yang akan dapat merubah rencana.

Namun dalam pada itu, dilembah yang dipagari oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu telah terjadi kegelisahan. Kepergian beberapa orang yang mereka tugaskan untuk melenyapkan Sumangkar, masih belum kembali. Semula mereka menganggap bahwa orang-orang itu masih belum mendapat kesempatan untuk melakukan tugasnya karena Sumangkar selalu berada di Sangkal Putung. Namun karena waktu yang telah terlalu lama itu, benar-benar telah menumbuhkan kegelisahan.Orang yang mereka tugaskan berada didekat Untara masih dapat memberikan ketenangan karena ternyata Ki Sumangkar masih belum menghadap Untara dan memberikan laporan apapun.

“Agaknya Sumangkar menganggap peristiwa yang dihadapinya itu bukan peristiwa yang penting,“ berkata salah seorang dari mereka yang digelisahkan karena kelambatan kawan kawannya melenyapkan Sumangkar, “ternyata ia masih belum datang menghadap Untara dan melaporkan apa yang telah terjadi.”

“Mungkin. Tetapi ada kemungkinan lain. Laporan itu tidak diberikannya kepada Untara, tetapi langsung kepada Pajang atau Mataram. Dengan demikian maka jalur perintah kepada Untara itu akan datang dari Pajang.”

Kawannya tertawa. Jawabnya, “Kita mempunyai telinga dan mata di Pajang.“ namun kemudian nampak keningnya berkerut, “tetapi tidak di Mataram.”

Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba saja datang laporan dari petugas mereka yang ada di Jati Anom. Mereka memberikan laporan bahwa Kiai Gringsing dan Agung Sedayu tidak ada di padepokan mereka yang kecil.

Berita itu semula tidak begitu menarik perhatian. Namun kemudian mereka mulai menghubungkan, bahwa Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bukannya orang lain setelah keduanya berada di Sangkal Putung untuk waktu yang cukup lama.

“Apakah kepergian Kiai Gringsing dan Agung Sedayu ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi atas Ki Sumangkar?“ pertanyaan itu mulai timbul diantara mereka yang ada dilembah itu.

Ternyata bahwa orang-orang dilembah itu ingin segera mendengar jawabnya. Karena itu, maka mereka bersepakat mengirimkan beberapa orang untuk menemukan orang-orang yang telah pergi lebih dahulu untuk melenyapkan Ki Sumangkar.

“Mereka berada disekitar Sangkal Putung,” pesan itulah yang dibawa oleh orang-orang yang kemudian meninggalkan lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.

Namun dalam pada itu, kepergian mereka berhasil dilihat oleh para pengawas yang telah mendahului keberangkatan pasukan pengawal dari Mataram. Tetapi para pengawas itu sama sekali tidak mengganggunya, karena orang-orang itu tidak akan mengganggu rencana Raden Sutawijaya.

Dalam pada itu, orang-orang yang langsung menuju kedaerah disekitar Sangkal Putung itu telah berusaha untuk mendengar dan mengetahui, apakah yang sebenar nya telah terjadi.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:16  Comments (92)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-6/trackback/

RSS feed for comments on this post.

92 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hari ini cantrik2 pasti harus mengeluarkan tenaga cadangannya utk menemukan persembunyian kitab ii-6, karena gua penyimpanannya ada 11 persimpangan jalur…

    Jangan tertipu dgn indah & cantiknya perempuan (seperti pesan Ki Untara kpd Agung Sedayu)……….

  2. wah tiwas searching….mboten ketemu juga….jangan2 memang di cd-nya Paris Hilton ?…atau di cd-nya Pandan Wangi ?…

    Kalau jaman sekarang Sekar Mirah itu kesannya matre’ banget ya ?…mestinya agung sedayu jangan mau sama Sekar Mirah…
    Mestinya waktu pertama ketemu Pandan Wangi langsung nembung aja…dan lupakan Sekar Mirah… hehehehehe

  3. Duh Ki GD …..
    Buku II jilid 6 halaman 7, mengingatkan saya waktu jaman sekolah dulu….. biar nggak di tegor guru, pura-pura baca buku pelajaran, padahal buku pelajaran hanya sekedar “lambaran” buat komik yang ada di dalamnya……
    Terima kasih ki GD

    Ki Pandan Alas,
    Selain di iket pinggang mBak Paris, Kyai sudah melihat apa yang ada dibalik majalah “Vogue” belum???

  4. Ki Sutawijia … memang Pandan Wangi menjadi istri Swandaru, tetapi hati dan cintanya selalu terpaut utk Agung Sedayu, begitu pula sebaliknya…

    CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI ….

  5. Ki Bung Didiek,… aku begitu terpesona dgn iket pinggang si hilton shg blm sempet bukak2 yg laen… emank ada yg lbh “eh” dari si paris hilton?

  6. Poro cantrik, barusan paris Hilton sms kalo di cd yg dipegangnya mengandung kitab ii-6…

    Cepet diambil sebelum dia dikontrak oleh yg laen

    Makasih Ki GD

  7. waduuu….
    ki Gede memang pinter bikin para cantrik ikut berbangga dengan dipajangnya beberapa cover 106 di sembarang dan di semua tempat sesuai dengan selera ki Gede… he he…
    tetapi intinya tetep sama, yaitu usaha melestarikan ADBM ini…
    sekali lagi saluut…. saluuuutt

  8. Wah hebat… kitab 106 ternyata dipromosikan langsung oleh PH. Pasti bayarannya mahal tuh…

    Untuk berikutnya siapa nih yang akan jadi kurir ki GD dalam menyampaikan kitab2 ADBM.

    Zhaf

  9. wah ternyata Ki Gede kejam juga ya…saya jadi kasihan sama yang faqir bandwith… 😛
    harus melalui 10 bab dulu yang betul2 susah ngebayanginnya kalau doi faqir bw…tapi untungnya bab 11 bikin bahagia….

  10. ternyata PH selain cuantikkkkk juga baik ya……

  11. hmm…gimana kalo dalam rangka mencintai produk sendiri, kitab 107 dipromosikan oleh socialite lokal, keluarga azhari hehe seksi abis deh ADBM hihi…

    matur nuwun rontal 106nya ki GDe

  12. Setuju Kiai …. keluarga azhari …. pose yg mana kiai

  13. Kagum sama kehebatan ilmu Ki Gd…
    Suusah membedakan apakah itu bentuk-bentuk semu yang nampak nyata atau bentuk-bentuk nyata yang seolah-olah nampak semu…

  14. kadang2 juga terjebak antara cd betulan dan cd ‘betulan’…beberapa kali sebelumnya sempat ngeklik cd dekat jimat ikat pinggang…ternyata lontarnya di cd betulan… 😛
    ada banyak bentuk2 semu ternyata…

  15. Matur nuwun …. matur nuwun …..

  16. saya juga bingung ki pandanalas, pose mana yang terbaik dari azhari family, dan siapa yang paling berhak memegang rontal ilmu tanpa tandingan ki gede…kakak tertua perguruan azhari ato yang ms muda saja hehe tanyakan pada roy suryo yang bergoyang 🙂

  17. Untuk yang merasa faqir bandwith langsung aja ….. ke antrian 11, yang merasa berlebihan boleh mulai dari mana aja, semuanya bagus seperti gambarnya…… betulan…. ini tidak bohong…. :-b

  18. Waduh… sepertinya ini tantangan terberat dalam mengunduh… kitab 106 di pegang perempuan cantik gitu… jadi gemeteran niih…

    Hati-hati bagi yang jantungnya lemah….

    Trimakasih Ki GD 🙂

  19. ga nyangka jg yah… Paris rupa-a ADBM mania jg
    Haaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,
    Go Paris….

  20. Tengkiu Ki GD, ikutan nyedott..he..he..

  21. Walah….

    Ternyata kitab 106 sudah di bagi to.

    Trimakasih Ki Gede.

  22. Ternyata Paris Hilton lancar membaca dalam bahasa Indonesia tho |:D

  23. wah ki gedhe sekarang mainannya “ikat pinggang” deh,he..he senjatanya adimas glagah putih kan

    suwun2

  24. Sopo mau sing usul postere diganti barak obama? malah nek iso poster barak obama neng US diganti poster ADBM aja..

  25. Wa kakakakak, Ki GD bisa aja, mosok majalah boso londo ono edisi serial ADBM nya yo. Juga Majalah VOGUE kok iso-iso ne ber-edisi ADBM , wekekekekek, kreatip. Lah Paris Hilton kui jadi membintangi ADBM juga yo, kiro-kiro dadi sopo yo? Sekar Mirah opo Pandan Wangi? opo malah Rara Semangkin? opo Nyi Demang Sangkal Putung wae … hahahaha …. good

  26. numpang ngunduh kitab 106 nya ya.. Nyai Paris..;D

    hatur nuwun Ki GD

  27. TQ Ki gede..
    numpang nyruput.

  28. alih-alih arep nitip lontar 106,
    asline ki gede ming arep gramak-gramak paris hilton.
    rasane piye ki..???
    kene dibagi-bagi karo sanak kadang.

    suwe-suwe trik’e ki gede
    soyo ngedab-edabi.

    josss tenanan

  29. Nuwun Nyai Pandan Hilton
    Thankyu Ki Gede

  30. Luar biasa. Setelah mesu diri tidak 1 purnama, ternyata ilmu Ki GD telah meningkat dengan tajam sekali tidak hanya mampu menyalurkan tenaga cadangan kepada cambuknya, bahkan telah mempu pula melontarkannya lewat sorot mata dengan tenaga yang nggegirisi. Hal ini ternyata telah semakin memantapkan para cantrik pada padepokan kecil ADBM ini, bahkan banyak cantrik dari seluruh dunia ingin menyadap ilmu itu. Apalagi jika para cantrik itu tahu bahwa ilmu itu baru disadap dari kitab 105, belum lagi kitab 106…396 walah tentu akan menjadi seorang yang pilih tanding di usia yang masih sangat muda.

  31. Hehehe…hebaaat…heebaaat….ternyata tidak cuma orang pribumi aja yang mania ama ADBM tetapi wong LONDO / MANCA juga pada demen……..
    JOS GANDOS …LET METHET…….
    Salut Ki GeDe….Salut

  32. ternyata elmu Ki Gede tak terbatas..
    piawai alias mumpuni olah ngalihkan wujud2 semu.
    udah tingkatan MPU…
    terima kasih paris Hiltonnya…

  33. ruarrrr biasa. demam ADBM melanda dunia. kreatif dan halusss banget gambarnya!

  34. yang belum nemu isyarat, klik saja paris hilton hehe… (boleh kan ngasih bocoran?)

  35. edan……………. tenan
    kreatif dan imajinatif

  36. iki opo critane paris hilton membintangi pilem ADBM yo?
    dadi sopo yo pantese?

  37. retype 106 (part 1)

    Ki Argapati termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu bertanya, “Tetapi Ki Waskita akan pergi seorang diri tanpa kawan diperjalanan.”
    Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Jalan rasa-rasanya menjadi semakin aman.”
    Agung Sedayu mengangguk-angguk Ia sadar, bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu memang memerlukan seorang kawan untuk mempersiapkan pasukannya. Setelah pembicaraan itu tuntas, maka Ki Waskita pun minta diri untuk menengok keluarganya barang sehari semalam, Ia sudah berada dekat dengan rumahnya.
    ……….

    $$ sudah dipindahkan ke bangsal pusaka.

  38. Retype kitab 106 part 2 (Selesai)

    “Tidak banyak persolan bagi Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Waskita, Tanah Perdikan Menoreh hanya memerlukan waktu sehari untuk menempatkan pasukannya dimulut lembah itu.
    “Baiikah,” berkata Raden Sutawjjaya,”kita akan rmemerlukan waktu tujuh hari sejak saat ini. Tetapi sebelum pasukan kita semuanya siap ditempat, maka kita harus mengirimkan sekelompok petugas yang harus mengawasi keadaan mereka. Tidak perlu memasuki lembah itu sampai kejantung. Yang penting mereka harus dapat melihat lalu lintas dimulut Iembah. Mereka harus mengetahui dengan pasti, bahwa gerombolan itu masih ada diiembah dan tidak mengirimkan kedua pusaka itu keluar.”
    ……….

    $$ sudah disimpan dibangsal pusaka.

  39. Hebat dan salut buat Ki Gede atau Cantrik yang kreatif sehingga adbm nganglang ke mancanegara

  40. SAYA BERSUKA CITA SEKALI DENGAN adbm YANG MENJADI IDOLA SAYA TAHUN 70 AN YANG TERPUTUS KARENA HARUS PINDAH NYANGKUL DI PAPUA, SEKALIPUN SAYA SERING JUGA MASUK DUNIA MAYA NAMUN TIDAK TERPIKIR, YA NDILALAH BARU BISA KETEMU SEKARANG, NAMUN SAYANG GAMBAR-GAMBAR BAGIAN DALAM HAMPIR TIDAK ADA, ADAKAH BISA SAYA DAPATKAN PAKET LENGKAPNYA, YANG TENTU SAJA YG LENGKAP GAMBARNYA. TRIMA KASIH SALAM TAHUN BARU 2011 BUAT PARA CANTRIK-CANTRIK.

    S silakan ikuti dari awal Ki.. paket lengkap seluruhnya nya ada di padepokan ini 🙂

  41. wow team kreatif ADBM mantab ……. oldignya yahoot

  42. cerita yang bikin kecanduan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: