Buku II-6

“Aku minta maaf,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis, ”bukan maksud menyinggung perasaan para pengawal. Tetapi aku ingin menunjukkan keadaan yang sebenarnya.”

“Kau sangka bahwa kau lebih tahu dari kami orang-orang Tanah Perdikan Menoreh sendiri.” bertanya pengawal muda itu.

“Sudah,” potong pemimpinnya, ”aku tidak menyalahkan Agung Sedayu. Jangan ribut lagi. Aku mengakui kebenaran kata-katanya. Para pengawal yang pernah mengalami masa lalu yang panjang mengakui dengan setulus hati, bahwa keadaan Tanah Perdikan ini menjadi semakin mundur. Bahkan Ki Gede Menoreh dihadapan kami, para pemimpin pengawal, mengakuinya pula.”

Pengawal muda itu mengerutkan keningnya. Tetapi ketika memandang wajah pemimpinnya, secara ia berpaling, karena ternyata sorot mata pemimpinnya itu mulai menyala.

“Begitu besar pengaruhnya Agung Sedayu disini,” berkata pengawal itu didalam hatinya, ”karena itulah agaknya Prastawa tidak menyukainya. Jika ia kembali ke induk Tanah Perdikan dari rumahnya sendiri dan bertemu dengan Agung Sedayu, maka barulah Agung Sedayu menyesal.”

Dalam pada itu, maka latihan-latihan pun telah menjalar sampai kesetiap padukuhan. Mula-mula sekedar para pengawal. Namun kemudian hampir setiap anak muda dan bahkan setiap laki-laki telah mempersiapkan diri meskipun mereka jelas, apa yang sedang mereka hadapi.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu dapat menangkap pembicaraan yang pendek dengan pengawal yang tersinggung itu.

Dengan demikian ia mengetahui, bahwa Prastawa bukannya tidak mempunyai pengaruh diatas Tanah Perdikan Menoreh. Para pengawal yang paling muda, terutama pada angkatan yang terakhir, agaknya telah mengagumi Prastawa sebagai anak muda yang barangkali sebaya dengan mereka.

“Tetapi ia sedang berada dirumahnya,“ desis Agung Sedayu.

Sesuai dengan pendapat Agung Sedayu. maka Ki Gede Menoreh telah memerintahkan untuk memanggil Prastawa. Agung Sedayu berpendapat, bahwa kehadiran Prastawa di tengah-tengah para pengawalpun sangat penting artinya.

Namun Ki Gede Menoreh berkata dengan nada berat, ”Aku agak kurang sesuai dengan anak itu. Meskipun ia anak yang baik, rajin dan dengan tekun berusaha meningkatkan diri, tetapi yang dilakukan sebagian terbesar adalah bagi dirinya sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam.

“Meskipun demikian,” Ki Gede melanjutkan, ”bukan berarti aku membencinya. Ia adalah kemenakanku. Kegagalan ayahnya merupakan pengalaman yang paling pahit bagi hidupnya, dan agaknya justru telah mengarahkan perkembangan berikutnya. Tetapi bahwa semuanya dilihat dari kepentingan diri, akan merupakan pengaruh yang kurang menguntungkan.” ia terdiam sejenak, lalu. ”tetapi aku sependapat, bahwa kali ini Prastawa akan memegang peranan. Ia harus mulai mendapat kepercayaan dalam tugas-tugas besar, sehingga ia akan dapat membantu aku dalam tugas-tugas berikutnya. Iapun harus menyadari kemunduran Tanah Perdikan ini, sehingga setelah tugas ini selesai, kemunduran itu tidak akan terulang lagi.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun seperti Ki Gede Menoreh, ada sesuatu yang kurang mapan pada dirinya dalam hubungannya dengan Prastawa.

Tetapi Agung Sedayu berusaha untuk menyingkirkan segala macam prasangka dan kecurigaan. Tanah Perdikan Menoreh yang mundur itu sedang menghadapi tugas- tugas berat, sehingga semua kemampuan yang ada, memang harus dikembangkan.

“Sebenarnya ia masih mempunyai waktu setengah bulan lagi,“ berkata Ki Gede kemudian, “ia berada dirumah ayahnya untuk membantu menyelesaikan tanah garapan. Saatnya orang mulai menanam padi dan mempersiapkan sawahnya. Sawah Argajaya cukup luas, sementara ia menjadi semakin tua dan lemah, sehingga Prastawa perlu membantunya mengawasi para pekerja yang sedang membajak dan mengolah sawah.”

“Tetapi bukankah Ki Argajaya masih lebih muda dari Ki Gede karena ia adalah adik Ki Gede,“ bertanya Agung Sedayu.

“Kelemahan rokhaniah telah membuat wadagnya menjadi lemah pula. Ia sering sakit dan bahkan kadang-kadang sangat mengejutkan. Nafasnya tiba-tiba menjadi sesak dan didalam tidurnya seolah-olah ia masih saja dikejar oleh penyesalan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, betapa dalam luka hatinya atas peristiwa yang pernah terjadi diatas Tanah Perdikan Menoreh itu karena tingkah lakunya.

“Untuk mengurangi beban dihatinya, ia telah mengarahkan anaknya untuk menebus kesalahan yang pernah dibuatnya itu,“ berkata Ki Gede Menoreh.

“Agaknya Prastawa akan berhasil memenuhi keinginan ayahnya,“ desis Agung Sedayu.

“Mudah-mudahan. Aku masih ingin membuktikan,“ berkata Ki Argapati. Tatapan matanya tiba-tiba saja tersangkut dikejauhan. Agaknya ada sesuatu yang singgah didalam angan-angannya. Mungkin ingatan masa lampaunya, tetapi juga mungkin kecemasan bagi masa depan yang samar-samar.

Dalam pada itu, sebelum Prastawa datang kembali keinduk padukuhan. Agung Sedayu yang selalu berada diantara para pengawal. Menjelang malam ia berusaha memancing latihan bersama parai pengawal. Bahkan kemudian dengan dua orang pengawal sempat melihat-lihat di padukuhan- padukuhan yang berpencaran.

Ternyata bahwa para pemimpin pengawal telah berhasil membangunkan kawan-kawannya. Mereka mulai berlatih dengan bersungguh-sungguh. Dihalaman banjar mereka seakan-akan mencoba mengingat setiap unsur gerak yang pernah mereka kuasai. Dengan sungguh-sungguh mereka berlatih dalam kelompok-kelompok kecil. Gelapnya malam sama sekali tidak mempengaruhi hasrat mereka yang sudah mulai bangkit kembali.

Dipadukuhan lain Agung Sedayu menjumpai tingkat latihan yang berbeda. Agaknya pemimpin pengawal dipadukuhan itu ingin memanaskan tubuh kawan-kawannya dengan cara yang paling ringan. Sekelompok anak-anak muda berarak-arak berjalan mengelilingi bukan saja padukuhannya, tetapi juga bulak-bulak panjang dan tanggul-tanggul. Mereka berjalan beriringan untuk waktu yang cukup lama.

Baru setelah tubuh mereka berkeringat dan darah mereka menjadi hangat, maka latihan-latihan yang sebenarnya baru akan dimulai.

Dalam pada itu, Prastawa yang berada dirumahnya sendiri terkejut ketika utusan Ki Gede Menoreh datang dan menyampaikan pesan agar Prastawa segera kembali kepadukuhan induk.

“Kenapa?“ bertanya Prastawa, “aku minta ijin kepada paman Argapati untuk waktu kira-kira sebulan. Bukan baru separonya lewat?”

“Tetapi ada persoalan penting yang akan terjadi?“

“Apa? “

“Aku kurang pasti. Tetapi sebaiknya kau menghadap Ki Gede untuk menerima penjelasannya langsung. Disana ada anak muda dari Sangkal Putung itu.”

“Swandaru ?“ bertanya Prastawa.

Utusan Ki Gede itu menggeleng. Jawabnya, “Bukan Swandaru. Tetapi yang satu, Agung Sedayu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dengan nada tegang ia bertanya, “Apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu disana? Apakah ia sedang membujuk paman Argapati?”

“Aku tidak tahu. Tetapi kedatangannya disertai oleh Ki Waskita, meskipun Ki Waskita kemudian pergi meninggalkan rumah Ki Gede. Namun ia kembali diesok harinya dan setelah beristirahat sebentar ia telah melanjutkan perjalanannya pula.”

“Ki Waskita? “ Prastawa termangu-mangu.

Ayahnya yang ikut mendengarkan pembicaraan itu-pun kemudian berkata, “Sudahlah. Pergilah kepada pamanmu. Biarlah pekerjaan disawah aku selesaikan.”

“Ayah baru sakit.”

“Tidak. Saat ini aku merasa sehat. Agaknya badanku berangsur pulih kembali.”

“Seharusnya anak Sangkal Putung itulah yang datang kemari jika ia memerlukan aku. Paman terlalu memanjakannya, sedangkan menantu paman bukannya Agung Sedayu, tetapi Swandaru.”

“Jangan berpikir begitu,“ desis Ki Argajaya, “seandainya kau tidak ingin menghormati tamu itu berlebih-lebihan, kau masih harus menghormati pamanmu.”

Prastawa berpikir sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Aku akan menghadap paman.”

“Agaknya memang ada yang penting terjadi. Jika tidak, maka Ki Waskita tidak akan menjadi terlalu sibuk, dan pamanmu tidak tergesa-gesa memerintahkan memanggilmu.”

“Tetapi tentu anak Sangkal Putung itulah yang membuat persoalan. Ayah. Terus terang, aku kurang senang terhadap Agung Sedayu. Berbeda dengan Swandaru yang berhati terbuka dan bercita-cita tinggi. Agung Sedayu adalah seorang yang ragu-ragu. tanpa masa depan yang baik dan agak sombong. Ia lebih senang disapa lebih dahulu daripada menyapa orang lain. Apalagi dengan ramah tamah.”

“Ah,“ sahut Ki Argajaya, “biasanya seseorang yang pendiam dan apalagi pemalu mempunyai sifat-sifat demikian. Ia sama sekali tidak sombong. Tetapi ia memang mempunyai keseganan karena sifatnya itu.”

Prastawa tidak membantah. Tetapi ia tidak sependapat dengan ayahnya. Agaknya ayahnya ingin mengurangi kekurangan Agung Sedayu dimatanya.

“Berbahaya bagi anak-anak muda Sangkal Putung,“ berkata Prastawa didalam hatinya, “mereka akan tetap mengagumi orang yang bukan seharusnya mereka kagumi. Satu dua orang anak muda di Tanah Perdikan Menoreh memang menganggapnya sebagai seorang anak muda yang luar biasa.”

Namun dalam pada itu, Prastawapun segera mempersiapkan diri. Mengemasi pakaiannya dan yang terpenting baginya, adalah senjatanya. Prastawa mulai tertarik pada sepucuk senjata yang agak lain dari jenis-jenis yang pernah dipergunakan. Diluar sadarnya, ia terpengaruh oleh jenis senjata yang pernah dikenal bentuknya dan memiliki kekhususan. Sebilah tombak yang pendek sekali dengan tajam dikedua ujungnya.

“Senjata ini menarik sekali,“ berkata Prastawa kepada pengawal yang dijemputnya.

Pengawal itu mengangguk-angguk. Iapun pernah mengenal senjata semacam itu. Kadang-kadang orang menyebutnya nenggala meskipun nenggala mempunyai nilai yang luar biasa karena unsur ular yang sangat tajamnya. Tetapi bentuknyalah yang memang mirip dengan nenggala.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam melihat Prastawa mempersiapkan senjatanya. Ia tahu, dari mana Prastawa mendapatkan petunjuk untuk mempergunakan senjata itu.

Bahkan ketika ia pernah bertanya tentang hal itu, maka Prastawa hanya tertawa saja sambil menjawab, “Aku mengenalnya dari angan-anganku ayah. Ketika aku melatih diri untuk meningkatkan ilmu, aku mulai mengkhayalkan berbagai jenis senjata. Diantaranya adalah sebatang tongkat besi berkepala tengkorak. Tetapi aku juga tertarik pada sebatang bindi bergerigi. Bahkan aku pernah berlatih dengan sebuah canggah bertangkai pendek. Namun akhirnya yang paling sesuai adalah senjata ini.”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mau terseret dalam kenangan atas masa lampaunya karena bentuk senjata anaknya itu.

Demikianlah maka Prastawapun segera bersiap. Ia kemudian minta diri kepada orang tuanya untuk kembali kerumah pamannya.

“Hati-hatilah,“ pesan ayahnya, “kau harus menyesuaikan dirimu dengan keadaan dan lingkunganmu. Jangan menurutkan kata hatimu sendiri, karena lingkunganmu akan sangat berpengaruh atas diri dan kehidupan yang harus kau jalani setiap hari.”

Prastawa mengangguk-angguk. Kemudian dengan nada parau ia menjawab, “Ya ayah. Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”

Namun Prastawapun tahu, bahwa ayahnya kini menjadi orang yang sangat berhati-hati. Seolah-olah ia mempertimbangkan setiap langkahnya sebelas dua belas kali sebelum dilakukannya, meskipun hanya sekedar memperbaiki parit dipinggir padukuhan.

“Persetan,” geram Prastawa, “aku mempunyai cara lain untuk menunjukkan, bahwa aku dapat berguna bagi Tanah Perdikan ini. Saat itu aku masih sangat muda sehingga aku tidak tahu, kenapa aku berpihak kepada ayah.”

Sejenak kemudian, maka Prastawa dan pengawal yang menjemputnya itupun telah berada diperjalanan. Pengawal itu masih sempat mengatakan apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu dihari-hari pertama ia berada di Tanah Perdikan itu.

“Ia memang terlalu sombong. Ia menyangka bahwa ilmunya sudah sempurna. Aku sekali-sekali ingin mencoba, apakah benar-benar Agung Sedayu mempunyai ilmu yang mantap. Agaknya Swandaru memiliki beberapa kelebihan meskipun didalam perguruan kecilnya Swandaru adalah saudara muda seperguruan dari Agung Sedayu,“ berkata Prastawa.

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Meskipun Agung Sedayu mendesak dan bahkan mengajak para pengawal berlatih bersamanya, namun bagi pengawal itu, sama sekali tidak nampak sifat-sifat sombongnya.

Meskipun demikian pengawal itu tidak menjawab. Ia pun sadar, bahwa Prastawa adalah anak muda yang tentu akan ikut memegang peranan dalam perkembangan Tanah Perdikan Menoreh dimasa depan, karena Prastawa adalah anak Ki Argajaya, kemanakan Ki Argapati. Meskipun pengawal itupun tahu, apa yang pernah terjadi dengan Ki Argajaya dan Prastawa dimasa lampau.

Namun agaknya mereka telah menyadari dan kesempatan yang diberikan oleh Ki Gede Menoreh telah dipergunakan sebaik-baiknya.

Jarak yang mereka tempuh memang tidak begitu jauh. Mereka melintasi beberapa bulak panjang yang subur. Meskipun demikian diluar sadarnya pengawal itu berkata, “Agung Sedayu menjadi kecewa bahwa beberapa dari parit-parit kita menjadi kering.”

“Apa pedulinya, he.“ tiba-tiba saja nada suara Prastawa meninggi, “Ia mulai menghina. Ia tentu akan mengatakan bahwa Tanah Perdikan Menoreh sekarang mengalami kemunduran. Bukankah begitu?”

Pengawal itu tidak menyahut.

“Gila. aku benar-benar ingin melihat, apakah ilmunya benar-benar sudah mantap. Selama ini aku telah berjuang dengan tekun untuk memperdalam ilmuku. Meskipun ayah sudah sakit-sakitan dan lesu. tetapi ia masih mampu memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berharga, sementara aku mampu mengembangkannya sendiri dalam tata gerak. Paman Argapatipun agaknya ingin melihat aku maju dan tidak ketinggalan dari anak-anak Sangkal Putung itu, sehingga iapun telah menyisihkan waktu untuk memberikan latihan-latihan khusus bagiku. Mungkin guru anak-anak Sangkal Putung itu lebih banyak waktu untuk memberikan latihanlatihan. tetapi aku menganggap cara itu adalah cara kekanak-kanakan. Mereka masih harus dituntun dari gerak yang satu kepada gerak yang lain. Dari perkembangan jenis keperkembangan berikutnya. Dengan demikian otak mereka tidak akan berkembang. Mereka hanya dapat mempergunakan apa yang pernah mereka pelajari dari gurunya.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja Prastawa menunjukkan sikap yang kurang senang kepada Agung Sedayu.

“Tetapi mungkin Swandaru berbuat lain,“ katanya tiba-tiba, “pikirannya lebih hidup, dan cita-citanya agak lebih mantap dari kakak seperguruannya yang ragu-ragu dan sombong itu.”

Pengawal yang mendapat perintah untuk memanggil Prastawa itu sama sekali tidak menjawab lagi. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan oleh Prastawa itu benar atau tidak. Tetapi menurut pengetahuannya. Agung Sedayu memang sudah memberikan jasa kepada Tanah Perdikan Menoreh bersama saudara seperguruannya dan gurunya yang bersenjata cambuk itu.

Perjalanan mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu lama. Sejenak kemudian mereka telah mendekati pa-dukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Perjalanan mereka terhenti, ketika mereka melihat di pinggir padukuhan, sekelompok anak-anak muda yang berlatih dibawah rimbunnya sebatang pohon munggur yang besar.

Prastawa berhenti didekat mereka. Anak-anak muda itupun berhenti berlatih pula. Salah seorang dari mereka sambil tersenyum mendekati Prastawa yang masih berada dipunggung kuda, “Kami sedang berlatih.”

“Ya. Aku sudah melihat bahwa kalian sedang berlatih,” jawab Prastawa sambil tersenyum.

Kawan-kawannyapun tertawa pula, sementara Prastawa bertanya, “Dimanakah Agung Sedayu?”

“Ia tidak berada disini. Ia berada di padukuhan sebelah atau dipadukuhan lain. Bersama Ki Argapati ia melihat-lihat para pengawal yang sedang mengadakan latihan dimana mana.”

“Apakah ia memberikan petunjuk-petunjuk tentang latihan-latihan itu sendiri? “ bertanya Prastawa.

Pengawal itu menggeleng, “Ia hanya memberikan beberapa keterangan. Tetapi semuanya ditangani oleh para pemimpin kami disetiap padukuhan.”

“Sekarang kalian berlatih tanpa seorang pengawaspun.”

“Kami mengisi waktu kami. Daripada kami duduk merenung menunggui burung tanpa berbuat sesuatu, maka kami mencoba melanyahkan tangan dan kaki kami.”

Prastawa mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Kalian adalah kekuatan bagi Tanah Perdikan Menoreh. Lanjutkanlah. Peningkatan kemampuan setiap orang, berarti peningkatan kemampuan seluruh Tanah Perdikan ini.”

Para pengawal yang sedang berlatih itupun mengangguk-angguk. Keterangan Prastawa itu membuat mereka semakin bergairah untuk meneruskan latihan mereka, setelah beberapa saat lamanya mereka seolah-olah sedang beristirahat.

Sepeninggal Prastawa, para pengawal itu telah tenggelam lagi dalam latihan yang lebih bersungguh-sungguh. Mereka bukan saja berlatih dengan tangan. Tetapi mereka berlatih dengan mempergunakan senjata-senjata mereka masing-masing.

“Mudah-mudahan paman sudah ada dirumah,“ berkata Prastawa kepada pengawal yang menjemputnya.

“Seandainya Ki Gede tidak ada, tentu para pengawal mengetahui kemana ia pergi.”

“Tetapi menurut para pengawal, paman pergi berkeliling bersama Agung Sedayu.“ sahut Prastawa.

Pengawal yang menyertainya tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil. Memang mungkin sekali Ki Argapati sedang berkeliling dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain, setelah agak lama Ki Argapati seolah-olah telah menyepi dirumahnya.

Ternyata seperti yang mereka duga, ketika mereka memasuki ha aman rumah Ki Argapati, yang ada dihalaman adalah beberapa orang pengawal yang justru sedang berlatih. Seorang pemimpin pengawal mengawasi mereka dan setiap kali memberikan petunjuk-petunjuk yang diperlukan.

Ketika Prastawa datang, maka pemimpin pengawal itu menyongsongnya sambil berkata, “Marilah. Sayang sekali. Ki Gede dan Agung Sedayu sedang melihat-lihat berkeliling.”

Prastawa tersenyum. Iapun kemudian turun dari kudanya dan menyerahkan kudanya kepada seorang pengawal yang membawanya kebelakang.

“Teruskanlah,” berkata Prastawa.

“Apakah kau akan menyusul Ki Gede? “ bertanya pemimpin pengawal itu.

“Tidak. Nanti aku justru akan berselisih jalan. Aku akan tetap disini, menunggu paman pulang. Sementara teruskanlah latihan ini. Aku akan melihat-lihat,“ jawab Prastawa.

Pemimpin pengawal itu tersenyum. Nampaknya ia menjadi agak segan. Namun akhirnya iapun mengangguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi kau sajalah yang memimpin latihan ini.”

“Bukan aku. Kau,“ jawab Prastawa.

Pemimpin pengawal itu tersenyum. Namun iapun kemudian melanjutkan latihan yang diikuti oleh beberapa orang pengawal.

“Disore hari, latihan-latihan berjalan lebih luas,” berkata salah seorang pengawal yang tidak ikut dalam latihan itu, karena ia harus berjaga-jaga diregol.

Prastawa mengangguk-angguk. Katanya, “Latihan-latihan ini akan segera menjalar kepadukuhan- padukuhan yang agak jauh dari padukuhan induk. Dipadukuhanku, latihan-latihan belum lagi mulai. Tetapi agaknya para pemimpin pengawal telah mendapat penjelasan yang sama dengan kalian.”

“Ya. Kami telah mendapat penjelasan yang sama. Mungkin hari ini, atau nanti malam, latihan-latihan itu akan dimulai.”

Prastawa mengangguk-angguk. Sekilas ia membayangkan, bahwa para pengawal dipadukuhan tentu mempunyai kemampuan yang lebih baik. Disaat lampau, jika ia kebetulan berada di rumah nya sendiri, ia selalu ikut memberikan latihan latihan bagi kawan-kawannya disekitarnya.

Dan kini ia menyaksikan pengawal-pengawal diinduk padukuhan itu sedang berlatih. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya. Ia merasa ikut bertanggung jawab pula atas kemampuan mereka, sehingga akhirnya Prastawapun tidak dapat berdiam diri. Sekali-sekali iapun memberikan beberapa petunjuk dan kadang-kadang justru terlibat pula dalam latihan-latihan dengan para pengawal itu.

“Kalian masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai tingkat kemampuan yang pernah kalian miliki,“ berkata Prastawa tiaba-tiba diluar sadarnya.

Para pengawal itu mengangguk-angguk. Peringatan itu berarti, Prastawapun telah mengakui, bahwa telah terjadi kemunduran diatas Tanah Perdikan Menoreh itu.

Dalam pada itu, sementara Tanah Perdikan Menoreh telah dihangatkan oleh latihan-latihan disetiap padukuhan. maka Ki Waskita telah berada kembali di Mataram dengan selamat. Dari Tanah Perdikan Menoreh ia langsung pergi menghadap Raden Sutawijaya, dan melaporkan apa yang dilihatnya di Tanah Perdikan Menoreh dan kesanggupan yang didengarnya dari Ki Argapati.

“Anak anak muda di Tanah Perdikan Menoreh memang mengalami kemunduran,“ berkata Ki Waskita, “tetapi agaknya masih belum terlalu jauh. Dalam waktu yang singkat, maka semuanya akan dapat dicapai lagi sehingga Tanah Perdikan Menoreh akan menemukan dirinya kembali.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih paman. Jika Agung Sedayu tinggal di Tanah Perdikan Menoreh, aku berharap, bahwa kehadirannya itu akan dapat ikut membantu memanaskan Tanah Perdikan itu dengan latihan-latihan.

“Agaknya ia akan berusaha bersama kemanakan Ki Gede Menoreh yang masih muda dan cekatan itu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita justru menunggu Swandaru. Agaknya ia akan datang bersama pasukannya. Untuk menghindarkan pengamatan Untara yang mungkin akan tersinggung karenanya, maka pasukan Sangkal Putung akan datang dari arah Selatan dan melingkar dilambung Gunung Merapi.”

Ki Waskitapun mengangguk-angguk pula Ia harus menunggu satu dua hari sebelum perintah terakhir akan jatuh dari pimpinan tertinggi Mataram yang akan mengatur semua gelar, baik yang akan memasuki lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, maupun yang akan memasang gelar dimulut lembah.

Hanya akan ada satu perintah dalam gerakan yang besar itu untuk menghindarkan kesimpang-siuran. Dan perintah tertinggi itu sudah barang tentu berada ditangan Raden Sutawijaya.

Sementara itu. agaknya Swandarupun menyadari bahwa pasukannya tentu sudah ditunggu, ia benar-benar berusaha untuk tidak menarik perhatian, terutama petugas-petugas sandi Untara yang mungkin saja secara kebetulan berada di alur jalan antara Sangkal Putungdan Mataram.

Setelah ia berhasil mengumpulkan sepasukan yang kuat, meskipun ia tidak melupakan keamanan Sangkal Pulung sendiri sepeninggalnya, maka Swandaru dan Kiai Gringsingpun mulai mengatur keberangkatan pasukannya ke Mataram.

Tetapi seperti yang sudah diperhitungkan, maka Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah berkeras untuk ikut serta bersama pasukan itu. Betapapun Swandaru dan ayahnya mencoba mencegahnya, tetapi keduanya memaksa untuk ikut serta pergi kemedan.

“Aku akan berada dibelakang garis perang. Jika tidak diperlukan, aku tidak akan mengganggu,“ berkata Pandan Wangi.

“Ya. Aku akan menunggu perintah.”

“Sekarang kau sudah tidak menurut perintah,“ berkata Swandaru.

Tetapi Sekar Mirah menggeleng, katanya. “Sekarang belum mulai. Aku akan menempatkan diri dibawah perintahmu setelah kita berada di lembah. Apalagi aku ingin melihat keadaan guru.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Adalah wajar sekali jika Sekar Mirah ingin melihat gurunya yang terluka cukup parah meskipun tidak berbahaya dan tentu sudah berangsur baik.

Setelah berbicara dengan ayahnya dan Kiai Gringsing, maka akhirnya Swandaru tidak dapat menolak permintaan Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Agaknya mereka sudah mulai dihinggapi oleh kejemuan untuk tinggal dirumah saja melakukan pekerjaan mereka sehari-hari.
“Baiklah,“ akhirnya Swandaru mengalah, “tetapi kalian berdua benar-benar harus menurut perintahku dimedan. Kalian tidak boleh membuat rencana sendiri yang mungkin akan berbahaya bagi kalian masing-masing.”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah mengangguk. Namun mulai nampak kegembiraan di wajah mereka. Mereka sudah lama tidak berkuda di jalan-jalan panjang sambil menggenggam senjata.

Dengan keputusan itu, maka mulailah Sekar Mirah menggosok senjata yang paling dipercayainya. Tongkat pemberian gurunya, sementara Pandan Wangi mulai melihat-lihat kembali sepasang pedangnya.

Dengan demikian, maka Sangkal Putungpun telah mulai mempersiapkan diri. Swandaru yang tidak dapat langsung berangkat ke Mataram, masih harus mengatur tugas para pengawal yang ditinggalkan. Bahkan tugas pengawalan Kademangan tidak hanya dibebankannya kepada pengawal yang tinggal sedikit, tetapi dibebankannya kepada setiap laki-laki.

“Ayah dan Ki Jagabaya akan mengatur kalian jika kalian harus mempertahankan Kademangan ini dari gangguan siapapun,” berkata Swandaru kepada para pengawal.

Setelah semuanya dianggapnya selesai, serta jalur perintah di Kademangannya sudah tersusun jika para pengawal terpilih telah meninggalkan Kademangan. maka mulailah Swandaru bersiap-siap untuk berangkat ke Mataram.

Seperti yang direncanakan, maka pasukannya mulai berangkat menjelang petang. Sekelompok demi sekelompok, sehingga jika seseorang melihat atau bertemu diperjalanan. mereka tidak akan langsung tertarik perhatiannya. Apalagi Swandaru telah membagi jalan pula. Sebagian harus melalui jalan kecil dibagian Selatan. Jalan yang kurang menarik, tetapi cukup lebar dan rata. Jalan yang akan bertemu dengan jalan yang biasa dilalui dalam perjalanan ke Mataram, menjelang Alas Tambak Baya.

“Mudah-mudahan pasukan ini tidak terganggu diperjalanan,“ berkata Swandaru.

“Aku kira tidak Swandaru,“ sahut Kiai Gringsing, “nampaknya daerah ini cukup tenang. Kesibukan dilembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu belum terasa sampai kedaerah ini, sehingga orang-orang yang melihat sekalipun tidak akan membayangkan bahwa akan terjadi sesuatu yang akan dapat menentukan masa depan daerah Selatan ini.”

Swandaru mengangguk angguk. Ia sependapat dengan gurunya. Karena itu maka iapun yakin, bahwa perjalanannya akan ikut serta menentukan.

Namun demikian, sekali-sekali terbersit pula diangan-angannya tentang sekelompok orang-orang yang mengaku dirinya dan berpakaian seperti para perwira prajurit Pajang. Jika tidak dibantu oleh Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu yang melintas dijalan yang sama, meskipun berlawanan arah. maka ia dan Ki Sumangkar sudah tidak akan dapat melihat medan dilembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu.

Ketika hal itu dinyatakan kepada gurunya Kiai Gringsing berkata, “Mereka mencari Ki Sumangkar.”

“Tetapi jika orang-orang mereka itu tidak segera kembali apapun hasilnya, maka mereka tentu akan mengambil sikap lain,“ sahut Swandaru.

“Itulah sebabnya Mataram tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum mereka mengambil sikap yang lain itu.”

Swandaru mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa persoalan orang-orang yang sedang berkumpul dilembah itu harus mendapat perhatian sepenuhnya. Dan untuk itulah maka ia membawa sepasukan pengawal pilihan ke Mataram.

Kehadiran para pengawal dari Sangkal Putung di Mataram disambut oleh para pengawal Mataram yang memang sudah diberi tahu akan kehadiran mereka. Barak-barak telah disiapkan pula, sementara segala keperluan mereka telah disediakan.

Swandaru datang ke Mataram bersama Kiai Gringsing diiringi oleh isteri dan adiknya. Namun kehadiran kedua orang perempuan itu sama sekali tidak mengejutkan Raden Sutawijaya karena ia sudah mengenal dan mengetahui, siapakah kedua perempuan itu.

Sekar Mirah yang mencemaskan nasib gurunya, langsung diantar oleh Sutawijaya kegandok. tempat Ki Sumangkar beristirahat selama ia berada di Mataram.

Kedatangan Sekar Mirah memberikan kegembiraan dihati Sumangkar. Bagaimanapun juga, gadis itu adalah satu-satunya muridnya. Murid yang masih akan memperpanjang jenis ilmu dari cabang perguruannya.

“Aku sudah sehat,“ berkata Ki Sumangkar.

“Tetapi luka-luka guru belum sembuh sama sekali.”

“Luka-luka pada kulit tidak akan banyak berpengaruh. Marilah. Aku akan menemui tamu dari Sangkal Putung dipendapa.”

“Tetapi, sebaiknya Ki Sumangkar tinggal saja didalam bilik, agar luka-luka itu tidak kambuh lagi.”

Ki Sumangkar tertawa. Katanya, “Aku sudah sembuh. Dan luka-lukaku tidak akan dapat kambuh lagi. Apalagi Kiai Gringsing ada disini. Ia akan dapat memberikan obat untuk luka-lukaku meskipun seandainya harus kambuh lagi.”

Raden Sutawijaya dan Sekar Mirah tidak dapat mencegahnya. Ki Sumangkarpun kemudian ikut bersama mereka kependapa. menjumpai para pemimpin pengawal dari Sangkal Putung yang ikut menghadap Raden Sutawijaya di rumahnya.

Raden Sutawijaya menerima pasukan pengawal Sangkal Putung itu dengan gembira. Rasa-rasanya, apa yang akan dilakukannya itu tidak akan gagal lagi. Lembah itu akan tersumbat dari kedua mulutnya, sehingga kedua pusaka itupun akan dapat diketemukannya bersama hancurnya gerombolan yang sangat berbahaya bagi Pajang dan Mataram.

Sutawijaya yang dikawani oleh Ki Juru Martani dan beberapa orang pemimpin dari Mataram, masih belum membicarakan persoalan-persoalan yang langsung mengenai tugas-tugas mereka dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Tetapi mereka kemudian justru mempersilahkan para pemimpin dari Sangkal Putung dan para prajurit yang lain untuk beristirahat, setelah perjalanan mereka sekelompok demi sekelompok dimalam hari.

Namun agaknya bagi Ki Waskita yang sudah lebih dahulu berada di Mataram, semuanya sudah jelas. Tugas yang besar itu akan benar-benar mereka laksanakan dalam waktu dekat. Apalagi setelah pasukan pengawal Sangkal Putung hadir di Mataram.

Meskipun demikian Ki Waskita masih harus menunggu pembicaraan yang masak antara para pemimpin Mataram dan Sangkal Putung. Hasil pembicaraan itu akan dibawanya ke Menoreh dan merupakan ketentuan waktu yang harus dipegang bersama-sama.

Demikianlah, setelah pasukan pengawal dari Sangkal Putung itu beristirahat, maka para pemimpin dari Mataram, Sangkal Putung dan Ki Waskita yang mewakili Tanah Perdikan Menoreh itupun segera mengadakan pembicaraan. Mereka menentukan tempat dan waktu bagi masing-masing pasukan yang akan ikut mengambil bagian dalam penyergapan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu.

“Apakah Tanah Perdikan Menoreh dapat diandalkan Ki Waskita,“ bertanya Swandaru tiba-tiba, seolah-olah ia dapat melihat apa yang telah terjadi selama masa-masa terakhir.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Pandan Wangi sekilas. Namun kemudian jawabnya, “Tanah Perdikan Menoreh masih memiliki kekuatan dan kemampuannya seperti semula.”

Swandaru mengangguk-angguk, sementara Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya Pandan Wangi juga mencemaskan keadaan Tanah Perdikan itu. Seolah-olah ada firasat yang mengatakan kepadanya, bahwa pada masa-masa terakhir Tanah Perdikan Menoreh telah dibuai oleh kelemahan justru karena ketenangannya.

“Aku sudah menyaksikan sendiri,“ berkata Ki Waskita kemudian, “di saat-saat yang sangat pendek itu, para pemimpin pengawal telah berhasil menyiapkan kekuatan yang ada diatas Tanah Perdikan Menoreh.”

“Sokurlah,“ Raden Sutawijaya menyahut. Iapun sebenarnya menyimpan pertanyaan serupa. Tetapi ia tidak mengatakannya, karena ia yakin, jika ada kekurangan pada Tanah Perdikan itu, Ki Waskita tentu sudah mengatakannya.

“Jika demikian,“ berkata Swandaru, “kita dapat menentukan segala-galanya sekarang. Waktu dan tempat yang akan menentukan saat dan arah kita masing-masing.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:16  Comments (92)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-6/trackback/

RSS feed for comments on this post.

92 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hari ini cantrik2 pasti harus mengeluarkan tenaga cadangannya utk menemukan persembunyian kitab ii-6, karena gua penyimpanannya ada 11 persimpangan jalur…

    Jangan tertipu dgn indah & cantiknya perempuan (seperti pesan Ki Untara kpd Agung Sedayu)……….

  2. wah tiwas searching….mboten ketemu juga….jangan2 memang di cd-nya Paris Hilton ?…atau di cd-nya Pandan Wangi ?…

    Kalau jaman sekarang Sekar Mirah itu kesannya matre’ banget ya ?…mestinya agung sedayu jangan mau sama Sekar Mirah…
    Mestinya waktu pertama ketemu Pandan Wangi langsung nembung aja…dan lupakan Sekar Mirah… hehehehehe

  3. Duh Ki GD …..
    Buku II jilid 6 halaman 7, mengingatkan saya waktu jaman sekolah dulu….. biar nggak di tegor guru, pura-pura baca buku pelajaran, padahal buku pelajaran hanya sekedar “lambaran” buat komik yang ada di dalamnya……
    Terima kasih ki GD

    Ki Pandan Alas,
    Selain di iket pinggang mBak Paris, Kyai sudah melihat apa yang ada dibalik majalah “Vogue” belum???

  4. Ki Sutawijia … memang Pandan Wangi menjadi istri Swandaru, tetapi hati dan cintanya selalu terpaut utk Agung Sedayu, begitu pula sebaliknya…

    CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI ….

  5. Ki Bung Didiek,… aku begitu terpesona dgn iket pinggang si hilton shg blm sempet bukak2 yg laen… emank ada yg lbh “eh” dari si paris hilton?

  6. Poro cantrik, barusan paris Hilton sms kalo di cd yg dipegangnya mengandung kitab ii-6…

    Cepet diambil sebelum dia dikontrak oleh yg laen

    Makasih Ki GD

  7. waduuu….
    ki Gede memang pinter bikin para cantrik ikut berbangga dengan dipajangnya beberapa cover 106 di sembarang dan di semua tempat sesuai dengan selera ki Gede… he he…
    tetapi intinya tetep sama, yaitu usaha melestarikan ADBM ini…
    sekali lagi saluut…. saluuuutt

  8. Wah hebat… kitab 106 ternyata dipromosikan langsung oleh PH. Pasti bayarannya mahal tuh…

    Untuk berikutnya siapa nih yang akan jadi kurir ki GD dalam menyampaikan kitab2 ADBM.

    Zhaf

  9. wah ternyata Ki Gede kejam juga ya…saya jadi kasihan sama yang faqir bandwith… 😛
    harus melalui 10 bab dulu yang betul2 susah ngebayanginnya kalau doi faqir bw…tapi untungnya bab 11 bikin bahagia….

  10. ternyata PH selain cuantikkkkk juga baik ya……

  11. hmm…gimana kalo dalam rangka mencintai produk sendiri, kitab 107 dipromosikan oleh socialite lokal, keluarga azhari hehe seksi abis deh ADBM hihi…

    matur nuwun rontal 106nya ki GDe

  12. Setuju Kiai …. keluarga azhari …. pose yg mana kiai

  13. Kagum sama kehebatan ilmu Ki Gd…
    Suusah membedakan apakah itu bentuk-bentuk semu yang nampak nyata atau bentuk-bentuk nyata yang seolah-olah nampak semu…

  14. kadang2 juga terjebak antara cd betulan dan cd ‘betulan’…beberapa kali sebelumnya sempat ngeklik cd dekat jimat ikat pinggang…ternyata lontarnya di cd betulan… 😛
    ada banyak bentuk2 semu ternyata…

  15. Matur nuwun …. matur nuwun …..

  16. saya juga bingung ki pandanalas, pose mana yang terbaik dari azhari family, dan siapa yang paling berhak memegang rontal ilmu tanpa tandingan ki gede…kakak tertua perguruan azhari ato yang ms muda saja hehe tanyakan pada roy suryo yang bergoyang 🙂

  17. Untuk yang merasa faqir bandwith langsung aja ….. ke antrian 11, yang merasa berlebihan boleh mulai dari mana aja, semuanya bagus seperti gambarnya…… betulan…. ini tidak bohong…. :-b

  18. Waduh… sepertinya ini tantangan terberat dalam mengunduh… kitab 106 di pegang perempuan cantik gitu… jadi gemeteran niih…

    Hati-hati bagi yang jantungnya lemah….

    Trimakasih Ki GD 🙂

  19. ga nyangka jg yah… Paris rupa-a ADBM mania jg
    Haaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,
    Go Paris….

  20. Tengkiu Ki GD, ikutan nyedott..he..he..

  21. Walah….

    Ternyata kitab 106 sudah di bagi to.

    Trimakasih Ki Gede.

  22. Ternyata Paris Hilton lancar membaca dalam bahasa Indonesia tho |:D

  23. wah ki gedhe sekarang mainannya “ikat pinggang” deh,he..he senjatanya adimas glagah putih kan

    suwun2

  24. Sopo mau sing usul postere diganti barak obama? malah nek iso poster barak obama neng US diganti poster ADBM aja..

  25. Wa kakakakak, Ki GD bisa aja, mosok majalah boso londo ono edisi serial ADBM nya yo. Juga Majalah VOGUE kok iso-iso ne ber-edisi ADBM , wekekekekek, kreatip. Lah Paris Hilton kui jadi membintangi ADBM juga yo, kiro-kiro dadi sopo yo? Sekar Mirah opo Pandan Wangi? opo malah Rara Semangkin? opo Nyi Demang Sangkal Putung wae … hahahaha …. good

  26. numpang ngunduh kitab 106 nya ya.. Nyai Paris..;D

    hatur nuwun Ki GD

  27. TQ Ki gede..
    numpang nyruput.

  28. alih-alih arep nitip lontar 106,
    asline ki gede ming arep gramak-gramak paris hilton.
    rasane piye ki..???
    kene dibagi-bagi karo sanak kadang.

    suwe-suwe trik’e ki gede
    soyo ngedab-edabi.

    josss tenanan

  29. Nuwun Nyai Pandan Hilton
    Thankyu Ki Gede

  30. Luar biasa. Setelah mesu diri tidak 1 purnama, ternyata ilmu Ki GD telah meningkat dengan tajam sekali tidak hanya mampu menyalurkan tenaga cadangan kepada cambuknya, bahkan telah mempu pula melontarkannya lewat sorot mata dengan tenaga yang nggegirisi. Hal ini ternyata telah semakin memantapkan para cantrik pada padepokan kecil ADBM ini, bahkan banyak cantrik dari seluruh dunia ingin menyadap ilmu itu. Apalagi jika para cantrik itu tahu bahwa ilmu itu baru disadap dari kitab 105, belum lagi kitab 106…396 walah tentu akan menjadi seorang yang pilih tanding di usia yang masih sangat muda.

  31. Hehehe…hebaaat…heebaaat….ternyata tidak cuma orang pribumi aja yang mania ama ADBM tetapi wong LONDO / MANCA juga pada demen……..
    JOS GANDOS …LET METHET…….
    Salut Ki GeDe….Salut

  32. ternyata elmu Ki Gede tak terbatas..
    piawai alias mumpuni olah ngalihkan wujud2 semu.
    udah tingkatan MPU…
    terima kasih paris Hiltonnya…

  33. ruarrrr biasa. demam ADBM melanda dunia. kreatif dan halusss banget gambarnya!

  34. yang belum nemu isyarat, klik saja paris hilton hehe… (boleh kan ngasih bocoran?)

  35. edan……………. tenan
    kreatif dan imajinatif

  36. iki opo critane paris hilton membintangi pilem ADBM yo?
    dadi sopo yo pantese?

  37. retype 106 (part 1)

    Ki Argapati termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu bertanya, “Tetapi Ki Waskita akan pergi seorang diri tanpa kawan diperjalanan.”
    Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Jalan rasa-rasanya menjadi semakin aman.”
    Agung Sedayu mengangguk-angguk Ia sadar, bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu memang memerlukan seorang kawan untuk mempersiapkan pasukannya. Setelah pembicaraan itu tuntas, maka Ki Waskita pun minta diri untuk menengok keluarganya barang sehari semalam, Ia sudah berada dekat dengan rumahnya.
    ……….

    $$ sudah dipindahkan ke bangsal pusaka.

  38. Retype kitab 106 part 2 (Selesai)

    “Tidak banyak persolan bagi Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Waskita, Tanah Perdikan Menoreh hanya memerlukan waktu sehari untuk menempatkan pasukannya dimulut lembah itu.
    “Baiikah,” berkata Raden Sutawjjaya,”kita akan rmemerlukan waktu tujuh hari sejak saat ini. Tetapi sebelum pasukan kita semuanya siap ditempat, maka kita harus mengirimkan sekelompok petugas yang harus mengawasi keadaan mereka. Tidak perlu memasuki lembah itu sampai kejantung. Yang penting mereka harus dapat melihat lalu lintas dimulut Iembah. Mereka harus mengetahui dengan pasti, bahwa gerombolan itu masih ada diiembah dan tidak mengirimkan kedua pusaka itu keluar.”
    ……….

    $$ sudah disimpan dibangsal pusaka.

  39. Hebat dan salut buat Ki Gede atau Cantrik yang kreatif sehingga adbm nganglang ke mancanegara

  40. SAYA BERSUKA CITA SEKALI DENGAN adbm YANG MENJADI IDOLA SAYA TAHUN 70 AN YANG TERPUTUS KARENA HARUS PINDAH NYANGKUL DI PAPUA, SEKALIPUN SAYA SERING JUGA MASUK DUNIA MAYA NAMUN TIDAK TERPIKIR, YA NDILALAH BARU BISA KETEMU SEKARANG, NAMUN SAYANG GAMBAR-GAMBAR BAGIAN DALAM HAMPIR TIDAK ADA, ADAKAH BISA SAYA DAPATKAN PAKET LENGKAPNYA, YANG TENTU SAJA YG LENGKAP GAMBARNYA. TRIMA KASIH SALAM TAHUN BARU 2011 BUAT PARA CANTRIK-CANTRIK.

    S silakan ikuti dari awal Ki.. paket lengkap seluruhnya nya ada di padepokan ini 🙂

  41. wow team kreatif ADBM mantab ……. oldignya yahoot

  42. cerita yang bikin kecanduan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: