Buku II-6

Ki ARGAPATI termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu bertanya, “Tetapi Ki Waskita akan pergi seorang diri tanpa kawan diperjalanan.”

Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Jalan rasa-rasanya menjadi semakin aman.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu memang memerlukan seorang kawan untuk mempersiapkan pasukannya.

Setelah pembicaraan itu tuntas, maka Ki Waskitapun minta diri untuk menengok keluarganya barang sehari semalam. Ia sudah berada dekat dengan rumahnya.

“Tetapi sampai kapan?“ bertanya Agung Sedayu.

“Aku akan berangkat sekarang. Besok siang aku sudah berada disini lagi untuk meneruskan perjalanan ke Mataram.”

“Ki Waskita akan berjalan dimalam hari?“ bertanya Ki Gede.

Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Aku sudah terbiasa.”

Ki Gede tidak dapat menahannya lagi. Dibiarkannya Ki Waskita menengok keluarganya dalam perjalanan dimalam hari.

Sebenarnyalah bahwa Ki Waskita hanya ingin sekedar bertemu dengan keluarganya karena ia sudah terlalu lama pergi. Untuk menyatakan keselamatannya dan melihat keselamatan keluarganya.

“Untunglah bahwa keluargaku mengenal aku sebaik-baiknya,“ berkata Ki Waskita di dalam hatinya, “sehingga mereka sama sekali tidak menyesali tingkah lakuku. Semakin tua aku justru menjadi semakin banyak bertualang lagi.”

Tetapi Ki Waskita tidak dapat menghentikan keterlibatannya itu ditengah jalan. Meskipun ia orang lain sama sekali, baik bagi Pajang maupun bagi Mataram, tetapi ia merasa mempunyai ikatan yang tidak diketahuinya sendiri dengan Kiai Gringsing. Dan Ki Waskita tahu, bahwa Kiai Gringsing tidak akan dapat berdiam diri jika seseorang mulai berbicara tentang warisan Kerajaan Majapahit, karena sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsingpun berkepentingan dengan sikap mereka. Bukan karena Kiai Gringsing dengan tamak ingin ikut serta beramai-ramai memperebutkannya, tetapi justru karena Kiai Gringsing merasa bahwa berbicara tentang warisan Kerajaan Majapahit seperti yang dilakukan oleh orang-orang dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu merupakan perbuatan yang tidak wajar karena sebenarnyalah yang mereka kehendaki adalah sekedar kemukten dan kedudukan tanpa mengenali akibat atas kewajiban yang timbul.

Sepeninggal Ki Waskita, maka Ki Gede Manorehpun mulai membicarakan persiapan yang harus dilakukan bersama Agung Sedayu. Dari mana Ki Gede harus mulai, dan siapa saja yang harus dipanggilnya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya Ki Gede Menoreh sudah benar-benar lelah melakukan tugasnya. Ia tidak lagi nampak bergairah dan penuh gelora perjuangan menghadapi tantangan seperti itu. Tetapi seakan-akan ia harus dituntun aksara demi aksara untuk menanggapi peristiwa yang besar itu.

“Ki Gede,” bertanya Agung Sedayu, “bukankah para pemimpin pengawal Tanah Perdikan masih lengkap?“

“Ya. Masih lengkap. Aku belum pernah mengadakan perubahan apapun pada pasukan pengawal dan bebahu yang lain dari Tanah Perdikan ini,” jawab Ki Gede.

“Jika demikian, mereka harus diajak berbicara. Meskipun tidak dengan serta merta, perlahan-lahan mereka harus mengerti akan tugas yang akan mereka pikul bersama Mataram.”

“Aku akan memanggil mereka.”

“Tidak sekarang Ki Gede. Biarlah aku dan beberapa orang pengawal pergi kerumah mereka dan memanggil mereka untuk berkumpul besok pagi.”

“Angger Agung Sedayu sendiri akan memanggil mereka?”

“Sudah lama aku tidak berkuda dibulak-bulak panjang seperti di bulak yang mengantari padukuhan-padukuhan di Tanah Perdikan ini.”

“Baru hari ini angger berkuda menyusuri bulak-bulak di Tanah Perdikan ini ketika angger datang dari Mataram.”

“Aku hanya sekedar lewat. Kali ini aku akan menikmati hijaunya padi disawah dan gemerlipnya kunang-kunang didedaunan.”

Ki Gede Menoreh menarik nafas panjang. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Terserahlah kepadamu ngger.”

“Trima kasih Ki Gede. Aku akan pergi bersama dua orang pengawal yang ada digardu disebelah regol halaman ini.”

“Baiklah ngger. Aku akan memberitahukan kepada mereka, sementara yang lain biarlah tetap berada digardu itu.”

Demikianlah sebagai yang direncanakan, maka setelah makan malam, Agung Sedayu bersama dua orang pengawal yang ada di gardu disebelah regol halaman rumah Ki Gede itupun mulai menyelusuri jalan-jalan Tanah Perdikan Menoreh yang sepi. Rasa-rasanya malam menjadi semakin gelap diatas Tanah Perdikan yang memang menjadi terlalu lengang. Tidak banyak lagi gardu-gardu yang diisi oleh anak-anak muda seperti yang pernah dilihat oleh Agung Sedayu beberapa saat lampau. Meskipun para pengawal masih nampak pada tugasnya, tetapi mereka rasa-rasanya melakukannya dengan hati yang kosong.

Kehadiran Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh memang mengejutkan beberapa orang pengawal yang pernah mengenalnya. Dengan gembira mereka menyambut kedatangannya. Hampir disetiap gardu Agung Sedayu harus berhenti dan berbicara panjang.

Dari pembicaraan itu Agung Sedayu mendapat kesimpulan bahwa para pengawal merasa sudah tidak banyak lagi gunanya untuk meronda Tanah Perdikan itu seketat beberapa saat lampau.

“Keadaan sudah berangsur baik. Agaknya sudah tidak ada orang yang berniat mengganggu daerah ini,” berkata salah seorang pengawal.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia masih belum memberikan tanggapan apapun juga.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu seakan-akan telah menimbulkan persoalan baru dihati anak-anak muda itu. Mereka seakan-akan telah dipaksa untuk mengenang kembali, apa yang pernah terjadi di Tanah Perdikan itu pada saat Agung Sedayu berada di daerah itu bersama saudara seperguruannya Swandaru. Bahkan satu dua orang yang telah berjuang bersama anak muda itu, merasa bahwa kedatangan Agung Sedayu telah memanasi darah yang mengalir diurat nadi mereka.

Pada malam itu juga, Agung Sedayu telah mengetuk pintu beberapa orang pemimpin pengawal yang tidak sedang bertugas. Pemimpin-pemimpin pengawal yang terkejut itu, membuka pintu rumahnya dengan mata setengah terpejam.

“Siapa? Apakah ada berita kematian?“ Tetapi merekapun terbelalak ketika mereka melihat Agung Sedayu dihadapan mereka.

“Aku sengaja datang ditengah malam,“ berkata Agung Sedayu, “aku minta maaf. Tetapi rasa-rasanya berjalan ditengah malam memberikan gairah baru.”

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah. Silahkan masuk,“ katanya.

Tetapi Agung Sedayu selalu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku mengundangmu untuk datang ke rumah Ki Gede Menoreh besok pagi-pagi, wayah temawon.”

Pengawal itu termangu-mangu. Agung Sedayu bukannya orang Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi ia berkeliaran dimalam hari untuk mengundang para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi para pemimpin pengawal yang didatangi oleh Agung Sedayu pada umumnya sudah mengenalnya. Hubungannya dengan Ki Gede Menoreh dan peranan yang pernah dilakukannya dalam perkembangan Tanah Perdikan Menoreh yang panjang.

Demikianlah Agung Sedayu telah menempuh hampir seluruh jalan yang menjelujur diatas Tanah Perdikan Menoreh. Ia mendatangi pedukuhan yang satu ke padukuhan yang lain, menjumpai beberapa orang pemimpin pengawal yang rumahnya berpencaran.

Malam itu Agung Sedayu mendapat kesan, bahwa memang telah terjadi kemunduran diatas Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun demikian Agung Sedayu masih melihat, kemungkinan yang baik bagi bangkitnya kembali para pengawal yang seakan-akan sedang terkantuk-kantuk itu.

Ketika fajar menyingsing, dan para pemimpin pengawal itu terbangun dari tidurnya, maka mereka seakan-akan telah bermimpi semalam, bahwa Agung Sedayu datang kepada mereka untuk menyampaikan perintah Ki Gede Menoreh, memanggil mereka menjelang saat pasar temawon.

“Tidak,“ desis salah seorang dari mereka sambil mandi, “aku tidak bermimpi. Agung Sedayu, anak Sangkal Putung itu memang telah datang.”

Karena itu, maka para pemimpin pengawal itupun segera bersiap-siap untuk pergi menghadap Ki Gede Menoreh.

Sudah lama mereka tidak menerima perintah itu, sehingga dengan demikian maka para pemimpin itupun menjadi berdebar-debar. Mereka merasa bahwa sesuatu telah terjadi.

Hampir semuanya diantara para pemimpin itu telah mulai meraba senjata mereka kembali. Dengan dada yang berdebar-debar mereka menarik senjata mereka dari sarungnya dan melihat, apakah senjatanya itu masih cukup tajam.

Dalam pada itu, di rumah Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu yang bangun pagi-pagi benar, telah memanggil para peronda di gardu sebelah regol halaman. Sambil menyingsingkan kain panjangnya tanpa mengenakan bajunya ia berkata, “Marilah. Kita mengurangi perasaan dingin yang menggigit tulang.”

Para peronda yang masih berselimut kain panjang didalam gardu termangu-mangu.

“Marilah. Kita bermain-main barang sejenak. Kita akan berkeringat dan udara yang dingin akan terasa sejuk menyegarkan.”

Para peronda itu sebenarnya masih merasa segan. Tetapi mereka tidak dapat menolak. Karena itu, maka merekapun segera pergi kesebelah belakang gandok.

“Kita akan sekedar bermain-main. Aku terbiasa bangun pagi-pagi untuk sekedar membasahi tubuh dengan keringat dalam segarnya udara pagi.”

Para peronda itu tidak dapat berbuat lain kecuali melepas baju mereka dan bersama-sama dengan Agung Sedayu, mereka mulai berlatih.

Mula-mula para peronda itu benar-benar merasa segan. Mereka melakukan latihan karena terpaksa sehingga yang mereka lakukan adalah gerak-gerak tanpa gairah. Mereka seakan-akan sekedar memenuhi permintaan Agung Sedayu agar tamu dari Sangkal Putung itu tidak kecewa.

Tetapi ketika mereka mulai melihat tata gerak Agung Sedayu yang kadang-kadang mengejutkan, bahkan sekali-sekali mereka melihat Agung Sedayu telah melakukan sesuatu yang sangat menarik, maka merekapun mulai merasa dijalari oleh darahnya yang memanas.

“Lihat,“ berkata Agung Sedayu, “aku sudah berkeringat.”

Para peronda itu termangu-mangu.

“Kita tidak berlatih tanpa arah. Merilah kita mencoba berbuat sesuatu yang menarik. Barangkali kita dapat bermain seperti kanak-kanak sebelum kita berlatih dengan permainan orang-orang dewasa.”

“Apakah yang akan kita lakukan?”

“Kita akan berlatih bersama-sama bukan maksudku menunjukkan suatu kelebihan yang memang tidak aku miliki. Tetapi cobalah, sentuh dadaku.”

Para peronda itu termangu-mangu. Tetapi mereka sadar bahwa Agung Sedayu ingin berlatih dengan bersungguh-sungguh.

“Akupun akan menyentuh dada kalian seorang demi seorang. Yang sudah tersentuh dadanya, harus minggir dan dianggap sudah mati. Marilah. Aku berdiri disatu pihak bersama seorang dari kalian. Sedang tiga orang yang lain berdiri dipihak lain.”

Para peronda itu tildak membantah. Mereka segera membagi diri. Seorang bersama Agung Sedayu, yang tiga orang berdiri sebagai lawan.

Dengan demikian latihan itu menjadi semakin panas. Mereka masing-masing mencoba bertahan. Menangkis dan menghindar.

Ketika keringat mulai membasahi tubuh para pengawal itu, maka merekapun justru menjadi semakin cepat bergerak sehingga latihan itu menjadi semakin hidup dan mantap. Bahkan rasa-rasanya para peronda itu bukan saja sekedar ingin menyentuh lawan dan menghindari sentuhan, namun mereka telah melakukan latihan-latihan yang lebih jauh.

Kejutan-kejutan kecil itu nampaknya mulai menumbuhkan kenangan bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh terhadap kemampuan masing-masing. Para peronda itupun seakan-akan telah bangun dari kantuknya dan mulai mengenangkan masa-masa lampau, saat-saat Tanah Perdikan Menoreh menghadapi bahaya.

Seperti yang diharapkan oleh Agung Sedayu, maka gairah yang demikian itu akan menjalar dari satu orang keorang yang lain. Para peronda itu kemudian tentu akan berceritera kepada kawan-kawannya dan bahkan akan mengulang permainannya dengan orang lain.

“Latihan yang sebenarnya tentu masih kurang menarik,“ berkata Agung Sedayu didalam hatinya, sehingga seperti kanak-kanak mereka masih harus dibimbing mulai dari permainan-permainan yang menjurus.

Seperti yang dikehendaki oleh Ki Gede Menoreh, maka pada wayah pasar temawon, para pemimpin pengawal telah berkumpul dipendapa rumah Ki Gede. Mereka menjadi berdebar-debar melihat beberapa orang kawan mereka yang sudah agak lama tidak berkumpul.

Ketika Ki Gede kemudian hadir dipendapa itu, maka para pemimpin yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang itupun segera duduk melingkar diatas tikar pandan.

Agung Sedayu telah ikut duduk pula diantara mereka. Ki Gede Menoreh minta agar Agung Sedayu menceritakan peristiwa yang mendahului keputusan Senapati Ing Ngalaga untuk melakukan tindakan langsung terhadap orang-orang yang berada dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

Untuk beberapa saat Agung Sedayu telah memenuhi permintaan itu. Dengan singkat ia menceriterakan peristiwa yang langsung ditujukan kepada Ki Sumangkar.

“Mereka telah merencanakan suatu pembunuhan terhadap Ki Sumangkar. Dan rencana itu sudah dilaksanakan seandainya Kiai Gringsing tidak hadir pada peristiwa itu, dan bersama-sama dengan Ki Waskita membantu Ki Sumangkar sehingga terlepas dari maut.“ Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu. “karena itulah, maka agaknya tindakan yang diambil oleh mereka yang berkumpul dilembah itu, merupakan tindakan yang sudah terlalu jauh dan tidak dapat dimaafkan lagi. Baik oleh Mataram maupun oleh Pajang. Namun ada perhitungan tertentu, bahwa Mataramlah yang akan mengambil tindakan mendahului Pajang.”

“Kenapa? “ tiba-tiba saja salah seorang pemimpin itu bertanya.

Agung Sedayu tidak dapat menceriterakan bahwa ada dua buah pusaka Mataram yang ada dilembah itu. Namun ia harus menjawab pertanyaan itu. Maka katanya, “Menurut penyelidikan kami, banyak perwira Pajang yang terlibat langsung, sehingga jika Pajang yang mengambil tindakan, maka agaknya tindakan itu tidak menguntungkan. Orang-orang dilembah itu akan dapat segera mengetahui dengan pasti, tindakan yang akan diambil oleh Pajang.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Semula memang terasa ada keseganan untuk terlibat langsung dalam pertempuran itu. Tetapi ketika Agung Sedayu memberikan beberapa penjelasan, maka merekapun mulai berpikir.

“Kita harus segera mempersiapkan diri,“ berkata Ki Gede Menoreh, “Mataram dalam waktu dekat akan mengambil sikap langsung terhadap mereka yang berada dilembah itu sebelum mereka menyingkir.”

“Apakah mereka akan mungkin menyingkir?“ bertanya salah seorang pemimpin pengawal itu.

“Tentu. Meskipun mereka merasa kuat. Namun agaknya mereka tidak akan menemukan tempatnya sebaik sekarang. Bukan saja letaknya, tetapi juga hubungan yang mudah dengan para perwira Pajang yang berada di Kota Raja.“ jawab Ki Gede, “Tetapi, itu bukan berarti bahwa mereka akan tetap tinggal jika mereka merasa kedudukan mereka terancam.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk.

“Nah. Masih ada waktu beberapa hari. Kalian masih ada kesempatan membangunkan para pengawal,“ desis Agung Sedayu.

Para pemimpin itu terkejut. Bahkan Ki Gede Menoreh-pun mengerutkan keningnya. Dan Agung Sedayupun meneruskan, “Maaf Ki Gede. Agaknya selama ini Tanah Perdikan Menoreh selalu dalam keadaan tenang tanpa sentuhan sama sekali, sehingga para pengawalpun merasa tidak perlu lagi untuk bersiaga setiap saat.”

“Tidak benar,“ salah seorang pemimpin pengawal itupun membantah dengan serta merta, “kami tidak pernah lengah menghadapi setiap kemungkinan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Keingkaran itu justru menjadi pertanda yang lebih parah lagi bagi kemunduran diatas Tanah Perdikan itu.

Namun pemimpin pengawal itu harus menundukkan kepalanya ketika Ki Gede Menoreh bertanya, “Apakah kau melihat tanda-tanda itu Agung Sedayu?”

“Maaf Ki Gede. Semalam aku mengelilingi Tanah Perdikan Menoreh. Aku tidak melihat lagi pengawal berkuda mengelilingi Tanah Perdikan ini. Digardu-gardu para pengawal lebih senang berbaring jika tidak benar-benar tidur dengan nyenyak. Sementara para pengawal menjadi malas untuk berlatih setiap pagi atau petang hari,“ berkata Agung Sedayu meskipun dengan memaksakan diri, “Ki Gede. Maksudku semata-mata ingin mengatakan kekurangan yang ada, agar dengan segera dapat diperbaiki menjelang saat-saat yang cukup gawat.”

Para pemimpin yang tersinggung itu bergeser. Hampir berbareng merekat berkata, “Tidak. Tidak seluruhnya benar.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku minta maaf. Aku bermaksud baik. Tetapi terserahlah kepada kalian.”

Ki Gede mengangguk-angguk sambil bertanya, “Apakah ada gunanya kita ingkar?”

Pertanyaan itu benar-benar telah menyentuh hati para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sambil memandang wajah Ki Gede dan Agung Sedayu maka seakan-akan nampak pengakuan mulai membayang disorot mata mereka.

“Kita harus berterima kasih, bahwa masih ada orang yang bersedia melihat dan mengatakan kekuatan kita,“ berkata Ki Gede Menoreh, “tanpa penilaian orang lain, kita akan sulit mengenal kekurangan kita sendiri.”

Para pemimpin pengawal itu tidak membantah lagi. Mereka mulai melihat kedalam diri mereka dan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pada saat-saat terakhir. Dan merekapun mulai melihat kekurangan-kekurangan dan kemunduran kemunduran itu.

“Baiklah,“ berkata Ki Gede Menoreh, “kita akan segera bangkit kembali. Mulailah hari ini. Apapun yang dapat kalian lakukan untuk membangunkan yang sedang tertidur itu, lakukanlah. Kita akan berbuat sesuatu bersama dengan Mataram menghadapi keadaan yang dapat menjadi bertambah buruk didaerah ini.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk angguk. Namun karena masih ada pertanyaan yang nampaknya tersimpan di hati mereka sehingga masih ada keseganan untuk melakukan sesuatu yang mereka anggap terlalu berat, maka Ki Gedepun berkata, “Kemenangan Mataram adalah kemenangan kita, karena kitapun merupakan daerah terbesar yang berhadapan denga mulut lembah itu. Beberapa Kademangan kecil akan tergantung kepada perkembangan keadaan tanpa dapat ikut menentukan. Tetapi kita tidak tergantung pada perkembangan keadaan. Tetapi kita harus ikut menentukan keadaan itu.”

Para pemimpin pengawal itupun kemudian mulai menyadari, bahwa seperti yang dikatakan oleh Ki Gede Menoreh, Tanah Perdikan itu tidak boleh tergantung atas keadaan. Jika keadaan tenang, maka Tanah Perdikan Menoreh juga terasa tenang. Tetapi jika keadaan bergolak maka orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh harus mulai mencari tempat persembunyian.

Setiap kali terngiang kembali kata-kata Ki Gede, “Kita harus ikut menentukan keadaan.”

Dalam pada itu, Ki Gede yang sudah merasa cukup setelah banyak memberikan penjelasan, telah berpesan kepada para pemimpin pengawal “ Cobalah melihat kepada diri sendiri. Apa yang sudah terjadi pada saat terakhir diatas Tanah Perdikan ini. Kemudian mulailah ber-siap–siap menghadapi tugas yang berat. Setiap orang akan mendapat bebannya masing-masing. Meskipun tidak setiap orang akan ikut serta pergi kemedan.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa setiap laki-laki diatas Tanah Perdikan Menoreh akan mendapat tugas. Mereka yang tidak ikut serta melakukan tugas kemulut lembah, harus mempertanggung jawabkan ketenteraman padukuhan-padukuhan diatas Tanah Perdikan Menoreh. Karena mungkin sekali ada pihak yang memanfaatkan keadaan, justru saat Tanah Perdikan Menoreh kosong.

Demikianlah, setelah para pemimpin pengawal itu pulang dari rumah Ki Gede Menoreh, maka merekapun merasa, seakan-akan telah melihat diri mereka dibeningnya wajah air jembangan. Mereka melihat, betapa malasnya para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, justru saat-saat Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan tidak lagi mempunyai persoalan apapun juga.

Namun demikian, ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan itu masih belum terlena sama sekali dalam mimpi yang indah. Mereka masih sempat melihat kenyataan, bahwa sebenarnyalah Tanah Perdikan Menoreh mengalami kemunduran.

Seorang pemimpin pengawal yang kemudian berkuda memutari bulak disebelah padukuhan induk harus menarik nafas dalam-dalam, ketika Agung Sedayu berdesis, “Parit itu sudah tidak mengalir lagi. Meskipun parit kecil itu hanya mengairi sawah beberapa bahu, tetapi karena parit itu kering dimusim kemarau, maka tanah yang beberapa bahu itu tidak akan dapat panen setahun dua kali.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar Agung Sedayu. Kita memang tidak boleh ingkar, bahwa kita mengalami kemunduran dibanyak bidang. Dibidang kesiagaan dan juga dibidang yang menyangkut tata kehidupan dan penghidupan rakyat Tanah Perdikan Menoreh.”

“Untunglah, bahwa masih banyak kesempatan,“ desis Agung Sedayu.

Kenyataan yang seakan-akan baru saja mereka lihat itu, ternyata telah memanasi darah mereka. Diam-diam para pemimpin pengawal itu berjanji untuk melakukan apa saja, agar tanah Perdikan Menoreh terbangun dan suasana yang malas itu.

Dalam pada itu, maka para pemimpin pengawal itu-pun setelah tiba dipadukuhan masing-masing, segera mengumpulkan para pengawal yang mula-mula juga merasa, segan seperti saat para pemimpin pengawal itu mendengar persoalan yang menyangkut tanah perdikannya di rumah Ki Gede.

Namun para pemimpin pengawal tidak mau mengejutkan mereka, sehingga mereka akan menjadi bingung. Yang mula-mula dilakukan oleh para pengawal itu adalah menceriterakan bahwa Agung Sedayu dari Sangkal Putung telah datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku sudah melihat “ sahut salah seorang pengawal.

“Ya.“ jawab pemimpin pengawal itu, “kedatangannya telah membawa persoalan baru bagi Tanah Perdikan kita.”

Para pengawal mengerutkan keningnya. Beberapa diantara mereka berkata didalam hati, “Mudah-mudahan tidak menimbulkan keributan di atas Tanah Perdikan ini.”

Tetapi pemimpin pengawal itu berkata, “Selama ini kita dapat duduk dengan tenang tanpa seorangpun yang mengganggu. Tetapi ternyata bahwa diluar kesadaran kita, bahaya itu sudah mengintai. Mereka menunggu kita terlena. Kemudian dengan serta merta mereka akan menerkam kita.”

Beberapa orang pengawal mengerutkan keningnya. Namun merekapun kemudian kehilangan gairah untuk mendengarkan berita kelanjutannya. Hanya satu dua orang sajalah tertarik oleh berita itu.

Ada beberapa cara yang dipergunakan oleh beberapa orang pemimpin pengawal dipadukuhannya masing-masing. Tetapi pada umumnya mereka tidak tergesa-gesa memaksa kawan-kawannya untuk bangkit dan dengan penuh kesadaran mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.

Salah seorang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh telah memancing gairah kawan kawannya dengan mengajak mereka mengenangkan masa lampau Tanah Perdikan itu.

“Kita sudah memiliki segalanya. Tetapi apakah kita akan berdiam diri jika orang lain mulai memandang dengan iri perkembangan Tanah Perdikan kita? Yang mula-mula mereka lakukan adalah sekedar mengamati. Kemudian mengukur kemampuan kita yang sedang lengah. Pada suatu saat mereka akan menerkam kita,“ berkata pemimpin itu.

Tetapi kata-katanya belum membangkitkan gelora dihati kawan-kawannya. Meskipun demikian ia masih berkata terus, “Yang kini sudah mulai mereka jamah adalah justru Mataram. Jika mereka menguasai Mataram, maka daerah disekitarnya akan dengan mudah mereka kuasai pula.”

”Mataram?” salah seorang dari mereka bertanya.

“Ya. Mataram juga tertidur seperti kita. Dan Mataram harus menebus kelengahannya dengan penghinaan. Beberapa orang yang tidak dikenal telah berani berkeliaran di Kota yang sedang tumbuh itu. Bahkan jika kalian sempat melihat. Agung Sedayu terluka oleh orang-orang yang sama. Sangkal Putung mulai diganggu. Dan akhirnya mereka telah sesumbar, bahwa Pajang dan sekitarnya akan mereka kuasai dalam waktu dekat. Nah, terserahlah kepada kalian, apa yang dapat kalian lakukan atas Tanah Perdikan ini.”

“Siapakah mereka itu?” para pengawal mulai tertarik.

“Kita akan mendapat keterangan secepatnya.”

Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan, sehingga beberapa orang pengawal telah mendesak, “Sebutkan, siapakah mereka yang akan menguasai Pajang, Mataram dan juga Tanah Perdikan Menoreh?”

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kita semuanya belum mengetahui dengan pasti. Tetapi Agung Sedayu sudah mempunyai tanda-tanda yang akan dapat kita pergunakan sebagai pegangan. Kita masih belum dapat menyatakan, apa yang harus kita lakukan, agar masalahnya tidak merembes sampai ketengah mereka, karena sebenarnyalah mereka mempunyai telinga dan mata disegala tempat.”

“Tetapi kami akan ikut mengambil bagian,“ berkata salah seorang pengawal.

“Ya. Tetapi akupun belum tahu pasti, apa yang hrus kita lakukan. Yang aku tahu, kita akan bertempur. Sarang mereka tidak terlalu jauh dari Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan tidak mustahil, bahwa Tanah Perdikan Menoreh akan menjadi sasaran utama sebelum mereka menuju ke Mataram dan Pajang melalui Sangkal Putung.”

“Maksudmu orang-orang yang berada di Gunung Tidar?”

“Diantaranya,“ jawab pemimpin pengawal itu.

“Mereka sudah tidak pernah menjawab Tanah Perdikan ini,“ berkata pengawal yang lain.

Itulah kebodohan kita. Kita tidak mengetahui dimana mereka sekarang berada. Tetapi orang-orang Mataram dan Sangkal Putung telah menemukannya.”

Para pengawal itu termangu-mangu. Mereka memang pernah mendengar meskipun hanya seperti desir angin lembut, bahwa akan terjadi sesuatu yang gawat yang berpusar dilembah antara Gunung Merapi dan Merbabu. Namun mereka tidak menanyakannya.

“Nah, kita harus bersiap mulai sekarang,“ berkata pemimpin pengawal itu, “kita hanya mempunyai waktu sekitar lima hari.”

“Lima hari,“ hampir berbareng para pengawal bergumam.

“Ya. Dan kita membuktikan, apakah kita masih pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang dahulu.”

“Yang dahulu? Kenapa?“ bertanya seorang pengawal.

“Tanah Perdikan Menoreh yang dahulu dikawal oleh anak-anak muda yang trampil trengginas.”

“Kami pengawal Tanah Perdikan sejak dahulu? Apakah kami pernah digantikan oleh angkatan sesudah kami?”

“Orangnya belum. Tetapi gairah perjuangannya apakah masih tetap seperti gairah perjuangan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang pernah digakumi oleh Mataram dan disegani oleh orang-orang yang bermaksud buruk atas Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Para pengawal itu mulai merenung. Namun hati mereka mulai tersentuh oleh kenangan masa lampau yang belum lama terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Yang oleh ketenangan dan ketenteraman justru seolah-olah telah berkisar surut. Bukan saja dibidang keamanan, tetapi juga pada segi-segi kehidupan yang lain.

“Nah, mulai sekarang bersiaplah. Hari ini Ki Waskita akan pergi ke Mataram mengabarkan, bahwa Tanah Perdikan Menoreh telah siap menghadapi segala kemungkinan.”

“Apa yang akan terjadi?“ tiba-tiba saja seorang pengawal bertanya.

“Mulailah membayangkan, jika liang semut itu kita siram dengan air. Maka semutnya akan buyar mencari jalannya masing-masing.”

Para pengawal itupun mengangguk-angguk. Mereka justru mulai dapat membayangkan apa yang mungkin terjadi diatas Tanah Perdikan Menoreh, jika semut yang buyar itu berlari-larian diatas Tanah Perdikan mereka, menjelajahi pedukuhan-pedukuhan dan melintasi batang-batang padi muda di bulak-bulak panjang.

Demikianlah maka para pengawal itupun mulai mempersiapkan diri. Mereka sadar, bahwa mereka harus melanyahkan kembali tata gerak dan olah senjata.

Itulah sebabnya, maka pemimpin-pemimpin mereka-pun menganjurkan, agar para pengawal itu memanfaatkan waktu yang ada untuk berlatih.

“Jika kalian mulai menyadari tugas kalian menghadapi keadaan yang sebenarnya gawat ini, maka kita akan mulai dengan anak-anak muda yang lain dan setiap laki-laki yang ada diatas Tanah Perdikan ini,“ berkata para pemimpin pengawal.

“Ya, setiap laki-laki memang harus mempersiapkan diri,“ desis para pengawal.

Namun demikian para pemimpin pengawal masih sangat membatasi keterangan tentang rencana pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk ikut serta langsung menyerang lembah diantara Gunung Merapi dan Merbabu, meskipun tugas mereka agak berbeda dengan pasukan Mataram yang akan langsung menusuk kedalam sarang mereka. Sekali-sekali para pernimpin itu hanya menyentuhnya serba sedikit. Namun masih tetap samar-samar.

Pada hari itu, seperti yang dijanjikan Ki Waskita telah berada kembali di Tanah Perdikan Menoreh. Dari Agung Sedayu ia mendengar, bahwa para pemimpin pengawal telah berhasil membangunkan Tanah Perdikan yang sedang terkantuk-kantuk itu.

“Sokurlah. Mudah-mudahan mereka menemukan gairah seperti masa-masa lalu,” desis Ki Waskita, “sehingga aku akan memberikan laporan dengan mantap kepada Raden Sutawijaya di Matarami.”

Yang kemudian disampaikan oleh Ki Gede Menoreh kepada Ki Waskitapun tidak berselisih dengan pendapat Agung Sedayu. Bagaimanapun juga Menoreh akan siap pada waktunya.

“Aku yakin,“ berkata Ki Gede, “masa istirahat yang tenang telah lampau. Kita akan kembali dalam tugas-tugas kita untuk menegakkan tanah ini bagi masa depan dan bagi anak cucu kita.”

Seperti yang direncanakan pula, Ki Waskitapun setelah beristirahat sejenak, segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Mataram, menyampaikan berita kesiagaan Tanah Perdikan Menoreh.

“Ki Waskita pergi sendiri?“ bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Bantulah membangunkan anak-anak muda diatas Tanah Perdikan ini,” jawab Ki Waskita.

“Sebenarnya aku mengharap Rudita ikut bersama Ki Waskita,“ berkata Agung Sedayu.

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Sejenak ia nampak merenung. Namun kemudian katanya, ”Ia sudah menemukan dunianya sendiri. Aku tidak berani mengusiknya. Bahkan kadang-kadang aku merasa bahwa ia telah berhasil melampaui suatu masa dari orang lain meskipun padanya masih terdapat juga cacatnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berdesis, ”Kadang-kadang aku justru merasa iri kepada Rudita.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, ”Mudah-mudahan ia benar benar menemukan kedamaian meskipun ia tidak pernah ingkar bahwa yang dihuninya sekarang adalah dunia yang gelap, penuh dengan segala macam nafsu yang kelam.”

Agung Sedayu tidak bertanya lagi tentang Rudita. Dan agaknya Ki Waskita tidak lagi berceritera tentang dirinya. Yang dikatakan kemudian adalah ibu Rudita, ”Nyai Waskita kecewa bahwa aku hanya menjenguk keluargaku sejenak. Tetapi ia menyadari, bahwa aku tidak akan dapat melepaskan diri dari tugas ini.”

“Sokurlah Ki Waskita. Mudah mudahan kita akan dapat menyelesaikannya dengan baik.” gumam Agung Sedayu.

Setelah minta diri kepada Ki Gede Menoreh, maka Ki Waskitapun meneruskan perjalanannya. Sebagai orang yang jauh lebih tua, ia sudah memberikan banyak pesan kepada Agung Sedayu. Apalagi menghadapi daerah yang sedang susut seperti tanah Perdikan Menoreh.

Sepeninggal Ki Waskita, maka Agung Sedayu telah minta ijin kepada Ki Gede untuk berada diantara para pengawal. Dengan caranya, ia berusaha menggelitik, agar anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh itu bangkit dengan penuh gairah.

Kadang-kadang ia berhasil membawa sekelompok pengawal untuk berlatih.

Tetapi kadang kadang ia harus menyindir dengan tajam. Bahkan diluar kehendaknya, seorang pengawal yang masih sangat muda telah tersinggung.

“Aku pernah mengenal namamu. Tetapi aku belum pernah melihat siapakah sebenarnya kau ini. Prastawa, anak muda yang perkasa itu tidak pernah menyombongkan diri. Ia adalah kemenakan Ki Gede Menoreh. Sedang kau orang asing bagi kami.”

Pemimpin pengawal yang ada waktu itu terkejut mendengar kata-kata pengawal yang muda itu. Dengan serta merta ia memotong, ”Jangan marah. Kami, yang sudah cukup lama menjadi pengawal Tanah Perdikan ini mengenalnya dengan baik.”

“Aku juga sudah mengenalnya. Ketika di Tanah Perdikan ini merayakan perkawinan Pandan Wangi, ia ada di sini pula.”

“Dan kau belum menjadi pengawal.”

“Sudah. Aku pengawal baru waktu itu.“ jawab pengawal itu, ”tetapi seandainya belum, apakah aku harus menerima sindiran yang tajam seperti ini ? Prastawa tidak pernah berbuat seperti orang asing yang sombong itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari, bahwa memang dapat terjadi singgungan semacam itu meskipun maksudnya sekedar membangunkan para pengawal itu dari mimpi.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 18:16  Comments (92)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-6/trackback/

RSS feed for comments on this post.

92 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hari ini cantrik2 pasti harus mengeluarkan tenaga cadangannya utk menemukan persembunyian kitab ii-6, karena gua penyimpanannya ada 11 persimpangan jalur…

    Jangan tertipu dgn indah & cantiknya perempuan (seperti pesan Ki Untara kpd Agung Sedayu)……….

  2. wah tiwas searching….mboten ketemu juga….jangan2 memang di cd-nya Paris Hilton ?…atau di cd-nya Pandan Wangi ?…

    Kalau jaman sekarang Sekar Mirah itu kesannya matre’ banget ya ?…mestinya agung sedayu jangan mau sama Sekar Mirah…
    Mestinya waktu pertama ketemu Pandan Wangi langsung nembung aja…dan lupakan Sekar Mirah… hehehehehe

  3. Duh Ki GD …..
    Buku II jilid 6 halaman 7, mengingatkan saya waktu jaman sekolah dulu….. biar nggak di tegor guru, pura-pura baca buku pelajaran, padahal buku pelajaran hanya sekedar “lambaran” buat komik yang ada di dalamnya……
    Terima kasih ki GD

    Ki Pandan Alas,
    Selain di iket pinggang mBak Paris, Kyai sudah melihat apa yang ada dibalik majalah “Vogue” belum???

  4. Ki Sutawijia … memang Pandan Wangi menjadi istri Swandaru, tetapi hati dan cintanya selalu terpaut utk Agung Sedayu, begitu pula sebaliknya…

    CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI ….

  5. Ki Bung Didiek,… aku begitu terpesona dgn iket pinggang si hilton shg blm sempet bukak2 yg laen… emank ada yg lbh “eh” dari si paris hilton?

  6. Poro cantrik, barusan paris Hilton sms kalo di cd yg dipegangnya mengandung kitab ii-6…

    Cepet diambil sebelum dia dikontrak oleh yg laen

    Makasih Ki GD

  7. waduuu….
    ki Gede memang pinter bikin para cantrik ikut berbangga dengan dipajangnya beberapa cover 106 di sembarang dan di semua tempat sesuai dengan selera ki Gede… he he…
    tetapi intinya tetep sama, yaitu usaha melestarikan ADBM ini…
    sekali lagi saluut…. saluuuutt

  8. Wah hebat… kitab 106 ternyata dipromosikan langsung oleh PH. Pasti bayarannya mahal tuh…

    Untuk berikutnya siapa nih yang akan jadi kurir ki GD dalam menyampaikan kitab2 ADBM.

    Zhaf

  9. wah ternyata Ki Gede kejam juga ya…saya jadi kasihan sama yang faqir bandwith… 😛
    harus melalui 10 bab dulu yang betul2 susah ngebayanginnya kalau doi faqir bw…tapi untungnya bab 11 bikin bahagia….

  10. ternyata PH selain cuantikkkkk juga baik ya……

  11. hmm…gimana kalo dalam rangka mencintai produk sendiri, kitab 107 dipromosikan oleh socialite lokal, keluarga azhari hehe seksi abis deh ADBM hihi…

    matur nuwun rontal 106nya ki GDe

  12. Setuju Kiai …. keluarga azhari …. pose yg mana kiai

  13. Kagum sama kehebatan ilmu Ki Gd…
    Suusah membedakan apakah itu bentuk-bentuk semu yang nampak nyata atau bentuk-bentuk nyata yang seolah-olah nampak semu…

  14. kadang2 juga terjebak antara cd betulan dan cd ‘betulan’…beberapa kali sebelumnya sempat ngeklik cd dekat jimat ikat pinggang…ternyata lontarnya di cd betulan… 😛
    ada banyak bentuk2 semu ternyata…

  15. Matur nuwun …. matur nuwun …..

  16. saya juga bingung ki pandanalas, pose mana yang terbaik dari azhari family, dan siapa yang paling berhak memegang rontal ilmu tanpa tandingan ki gede…kakak tertua perguruan azhari ato yang ms muda saja hehe tanyakan pada roy suryo yang bergoyang 🙂

  17. Untuk yang merasa faqir bandwith langsung aja ….. ke antrian 11, yang merasa berlebihan boleh mulai dari mana aja, semuanya bagus seperti gambarnya…… betulan…. ini tidak bohong…. :-b

  18. Waduh… sepertinya ini tantangan terberat dalam mengunduh… kitab 106 di pegang perempuan cantik gitu… jadi gemeteran niih…

    Hati-hati bagi yang jantungnya lemah….

    Trimakasih Ki GD 🙂

  19. ga nyangka jg yah… Paris rupa-a ADBM mania jg
    Haaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,
    Go Paris….

  20. Tengkiu Ki GD, ikutan nyedott..he..he..

  21. Walah….

    Ternyata kitab 106 sudah di bagi to.

    Trimakasih Ki Gede.

  22. Ternyata Paris Hilton lancar membaca dalam bahasa Indonesia tho |:D

  23. wah ki gedhe sekarang mainannya “ikat pinggang” deh,he..he senjatanya adimas glagah putih kan

    suwun2

  24. Sopo mau sing usul postere diganti barak obama? malah nek iso poster barak obama neng US diganti poster ADBM aja..

  25. Wa kakakakak, Ki GD bisa aja, mosok majalah boso londo ono edisi serial ADBM nya yo. Juga Majalah VOGUE kok iso-iso ne ber-edisi ADBM , wekekekekek, kreatip. Lah Paris Hilton kui jadi membintangi ADBM juga yo, kiro-kiro dadi sopo yo? Sekar Mirah opo Pandan Wangi? opo malah Rara Semangkin? opo Nyi Demang Sangkal Putung wae … hahahaha …. good

  26. numpang ngunduh kitab 106 nya ya.. Nyai Paris..;D

    hatur nuwun Ki GD

  27. TQ Ki gede..
    numpang nyruput.

  28. alih-alih arep nitip lontar 106,
    asline ki gede ming arep gramak-gramak paris hilton.
    rasane piye ki..???
    kene dibagi-bagi karo sanak kadang.

    suwe-suwe trik’e ki gede
    soyo ngedab-edabi.

    josss tenanan

  29. Nuwun Nyai Pandan Hilton
    Thankyu Ki Gede

  30. Luar biasa. Setelah mesu diri tidak 1 purnama, ternyata ilmu Ki GD telah meningkat dengan tajam sekali tidak hanya mampu menyalurkan tenaga cadangan kepada cambuknya, bahkan telah mempu pula melontarkannya lewat sorot mata dengan tenaga yang nggegirisi. Hal ini ternyata telah semakin memantapkan para cantrik pada padepokan kecil ADBM ini, bahkan banyak cantrik dari seluruh dunia ingin menyadap ilmu itu. Apalagi jika para cantrik itu tahu bahwa ilmu itu baru disadap dari kitab 105, belum lagi kitab 106…396 walah tentu akan menjadi seorang yang pilih tanding di usia yang masih sangat muda.

  31. Hehehe…hebaaat…heebaaat….ternyata tidak cuma orang pribumi aja yang mania ama ADBM tetapi wong LONDO / MANCA juga pada demen……..
    JOS GANDOS …LET METHET…….
    Salut Ki GeDe….Salut

  32. ternyata elmu Ki Gede tak terbatas..
    piawai alias mumpuni olah ngalihkan wujud2 semu.
    udah tingkatan MPU…
    terima kasih paris Hiltonnya…

  33. ruarrrr biasa. demam ADBM melanda dunia. kreatif dan halusss banget gambarnya!

  34. yang belum nemu isyarat, klik saja paris hilton hehe… (boleh kan ngasih bocoran?)

  35. edan……………. tenan
    kreatif dan imajinatif

  36. iki opo critane paris hilton membintangi pilem ADBM yo?
    dadi sopo yo pantese?

  37. retype 106 (part 1)

    Ki Argapati termangu-mangu. Sementara Agung Sedayu bertanya, “Tetapi Ki Waskita akan pergi seorang diri tanpa kawan diperjalanan.”
    Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Jalan rasa-rasanya menjadi semakin aman.”
    Agung Sedayu mengangguk-angguk Ia sadar, bahwa Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh itu memang memerlukan seorang kawan untuk mempersiapkan pasukannya. Setelah pembicaraan itu tuntas, maka Ki Waskita pun minta diri untuk menengok keluarganya barang sehari semalam, Ia sudah berada dekat dengan rumahnya.
    ……….

    $$ sudah dipindahkan ke bangsal pusaka.

  38. Retype kitab 106 part 2 (Selesai)

    “Tidak banyak persolan bagi Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Waskita, Tanah Perdikan Menoreh hanya memerlukan waktu sehari untuk menempatkan pasukannya dimulut lembah itu.
    “Baiikah,” berkata Raden Sutawjjaya,”kita akan rmemerlukan waktu tujuh hari sejak saat ini. Tetapi sebelum pasukan kita semuanya siap ditempat, maka kita harus mengirimkan sekelompok petugas yang harus mengawasi keadaan mereka. Tidak perlu memasuki lembah itu sampai kejantung. Yang penting mereka harus dapat melihat lalu lintas dimulut Iembah. Mereka harus mengetahui dengan pasti, bahwa gerombolan itu masih ada diiembah dan tidak mengirimkan kedua pusaka itu keluar.”
    ……….

    $$ sudah disimpan dibangsal pusaka.

  39. Hebat dan salut buat Ki Gede atau Cantrik yang kreatif sehingga adbm nganglang ke mancanegara

  40. SAYA BERSUKA CITA SEKALI DENGAN adbm YANG MENJADI IDOLA SAYA TAHUN 70 AN YANG TERPUTUS KARENA HARUS PINDAH NYANGKUL DI PAPUA, SEKALIPUN SAYA SERING JUGA MASUK DUNIA MAYA NAMUN TIDAK TERPIKIR, YA NDILALAH BARU BISA KETEMU SEKARANG, NAMUN SAYANG GAMBAR-GAMBAR BAGIAN DALAM HAMPIR TIDAK ADA, ADAKAH BISA SAYA DAPATKAN PAKET LENGKAPNYA, YANG TENTU SAJA YG LENGKAP GAMBARNYA. TRIMA KASIH SALAM TAHUN BARU 2011 BUAT PARA CANTRIK-CANTRIK.

    S silakan ikuti dari awal Ki.. paket lengkap seluruhnya nya ada di padepokan ini 🙂

  41. wow team kreatif ADBM mantab ……. oldignya yahoot

  42. cerita yang bikin kecanduan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: