Buku II-44

Mohon sabar bagi para cantrik

Mohon menunggu hingga esok hari (14-02-2009).

 

Salam kenal.

ttd 

Senopati

Update:
Terimakasih buat Ki Banuaji atas ketikannya.
Ditunggu partisipasi cantrik yang lain.

Laman: 1 2

Telah Terbit on 11 Februari 2009 at 05:24  Comments (324)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-44/trackback/

RSS feed for comments on this post.

324 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya nemu cerita ini dari rental komputer. Sepertinya kok ceritanya nyontek dari api di bukit menorehnya Ki SH Mintarja, tapi lumayan seru lho buat nunggu sambil leyeh-leyeh.

    Bagian Pertama

    Sebuah ledakan yang mengerikanpun terjadilah.
    Tubuh Arya terpental beberapa langkah ke belakang ketika pukulan Rajah Narantaka yang digunakan putra tunggal Kyai Kusumadahono yang baru beranjak remaja itu berbenturan dengan pukulan Aji Kumbolo Geni yang dilontarkan oleh Panembahan Kolo Ireng yang ditujukan untuk membunuh Suci. Demikian halnya dengan Panembahan Kolo Ireng sendiri, gegedug gerombolan Kolo Ireng itu juga terpental, keduanya jatuh terhempas ke tanah tak bergerak. Dari adu kekuatan itu jelas terlihat bahwa keduanya seimbang dalam tingkat kekuatan.

    Sementara itu begitu melihat Arya terlempar, Suci menjerit sambil berlari mendekati tubuh Arya yang terkapar tak bergerak-gerak di tanah itu. Segera di periksanya tubuh saudara misannya itu dan segera terlihat bahwa warna kehitaman tampak bergerak perlahan merayapi pembuluh-pembuluh darah di bawah kulitnya. Pemuda itu terkena racun yang sangat ganas.

    “Arya, … Arya ….!” Serunya penuh kecemasan.
    Tapi remaja itu hanya diam membisu, cederanya akibat kenekatannya membenturkan kekuatannya untuk menahan pukulan andalan Panembahan Kolo Ireng telah membuat Arya tak sadarkan diri. Pukulan yang ditujukan untuk membunuh Suci, anak dari wanita ia anggap telah membunuh anaknya dan mempermalukan harga dirinya.

    Sementara itu, di lain sisi.
    Elang langit berlutut dan memeriksa keadaan ketuanya. Ia mendapati bahwa ketuanya itu ternyata masih hidup ketika teraba olehnya denyutan walaupun sangat lemah ketika ia memeriksa nadi ketuanya itu. Sebenarnya ia hendak mengatakan bahwa ketuanya itu masih hidup kepada kelompoknya, ketika satu pikiran terlintas di kepalanya. Jabatan Ketua !. Seketika itu juga ia batalkan kalimatnya, dan langsung disalurkannya tenaga dalamnya ke simpul syaraf jantung ketuanya. Bukan tenaga dalam untuk membuka memacu detak jantung ketuanya itu, tapi membakar syaraf jantung panembahan Kolo Ireng tersebut.
    Sesaat tubuh gegedug tua itu mengejang, tapi sesaat berikutnya terdiam.

    “Sungguh diluar dugaan..” Geram Elang Langit pura-pura marah ketika melihat tubuh ketuanya itu telah terdiam..
    “Anak itu telah membunuh ketua kita, tenaga dalam yang kusalurkan tak mampu membuka saluran tenaga ketua yang terpecah oleh pukulan anak itu.”

    Sembari berucap laki-laki bertubuh jangkung itu menghunus pedangnya.
    “Mumpung dia masih belum sadar kita habisi dia sekalian wanita itu.”

    Sementara itu Suci yang masih saja berusaha menyadarkan saudara misannya menjadi terkejut ketika gerombolan Kolo Ireng yang telah kehilangan ketuanya itu bergerak mengepung mereka dengan senjata-senjata terhunus.

    “Kali ini giliranmu dan anak itu, setelah ini ibu dan ayahmu yang akan kami habisi.” Geram Elang langit.

    Suci tidak menanggapi ucapan itu ia kembali menatap wajah Arya. Yang kini telah terjalari oleh warna kehitaman akibat racun.
    “Kamu gegabah sekali, serangan itu tidak seharusnya kamu tahan.” Ucapnya pelan.
    “Kini giliranku, jika sekarang aku tak mampu melindungimu, setidaknya biarlah aku yang mati terlebih dahulu.”

    Perlahan diangkatnya saudara sepupunya itu ke gendongannya, dan ia pun berdiri dengan tangan terkepal erat.

    Elang langit menyeringai.
    “Heh …….. engkau sungguh mirip dengan ibumu diwaktu ia masih muda dulu, cantik sekali. Sebenarnya sayang sekali jika kau sampai mati saat ini.” Desisnya.
    “Tapi kalian telah membunuh ketua kami, dan itu tak terampuni.”

    Suci menatap Elang langit dengan tajam, ia telah mengetahui apa yang telah dilakukan Panembahan Kolo ireng dan anaknya terhadap ibu dan ayah kandungnya. Serta penderitaan yang dialami ibunya sewaktu mengandung dirinya sebelum ayah angkatnya, Kyai Manggalapati datang.
    Pertama kali ia mengetahui cerita tersebut dari beberapa orang yang mengetahuinya, ia merasakan rasa marah dan dendam yang tak terperikan. Ia baru bisa mengatasi amarahnya itu ketika ibunya terus memberikan pengertian bahwa pelaku utamanya yaitu anak tunggal dari Panembahan Kolo Ireng telah membayarnya dengan setimpal dengan tubuh hancur dirobek-robek oleh simo, harimau dari Kyai Manggalapati karena harimau itu mencium darah dari anak dari panembahan kolo ireng itu yang terluka cukup parah setelah bertarung dengan Kyai Manggalapati yang kala itu melepaskannya.

    Tapi kini ia telah berhadapan langsung dengan orang-orang itu, orang-orang yang yang hendak menuntut bela atas kematian putra tunggal Panembahan Kolo Ireng.

    Entah mengapa Suci tiba-tiba tersenyum. Senyum yang hanya ia sendiri saja yang mungkin tahu artinya.
    Sambil terus tersenyum ia menatap Elang Langit.

    Entah mengapa, laki-laki jangkung yang biasanya bisa begitu saja membunuh orang itu mendadak saja berdiri bulu kuduknya melihat senyuman itu.

    “Ku … ku …. Kurang ajar ………” desisnya
    Usai berucap, dengan panik laki-laki jangkung itu memberi isyarat dengan tangannya.
    “Bunuh mereka !” teriaknya

    Dan saat itu juga, beberapa puluh anak buah dari Panembahan Kolo Ireng itu langsung menyerbu Suci yang tengah menggendong Arya.

    Tapi diluar dugaan, lawan yang mereka kira bisa dengan mudah mereka akhiri, tiba-tiba saja bergerak maju dan dalam satu gerakan saja salah satu dari anak buah Panembahan Kolo Ireng roboh ke tanah.

    Suci menggenggam erat pedang yang baru saja ia rebut. Darah tampak mengalir dari luka di lengannya yang ia korbankan untuk menahan serangan penyerang yang paling dekat dengannya itu sekaligus merampas pedangnya.

    “Maafkan aku bibi, kali ini mungkin aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk tidak memakai ilmumu untuk membunuh orang.”
    ….. ucapan itu mengaung perlahan dihati Suci sebelum akhirnya ia memutar mata pedangnya ke arah musuhnya suatu tanda bahwa ia akan melakukan pembukaan jurus rahasia yang diajarkan oleh nyai Kusumodahono yang sebenarnya hanya boleh dipelajari oleh kaum wanita dari keluarga Chen, bidadari busur pelangi……..

    Elang langit terbeliak dan menjatuhkan pedangnya. Ia menekap luka di lehernya yang menganga ketika pedang Suci berhasil menggapai lehernya.
    Laki-laki jangkung itu terhuyung sesaat sebelum akhirnya jatuh terkapar di tanah. Menyusul ketigapuluh anak buahnya yang telah tewas di tangan Suci hari itu. Suci jatuh terduduk walaupun sebisa mungkin ia bertahan dengan bertumpu pada pedangnya. Tubuh Arya yang berada dalam pelukannya merosot jatuh ke tanah.
    Melalui usaha yang mati-matian Suci berhasil melindungi anak itu dari incaran pedang-pedang lawannya.

    Dengan napas terengah-engah Suci berusaha berdiri. Darah tampak membasahi sekujur tubuh dan wajahnya, darah dari luka-lukanya dan darah dari musuh-musuhnya yang terbunuh.

    Ketika ia berhasil berdiri Suci bermaksud kembali mengangkat Arya, tapi mendadak saja ia mengurungkan maksudnya itu ketika terdengar suara orang terbatuk-batuk sambil mengumpat-umpat.

    “Kurang ajar kau Elang langit, pengkhianat …… ” suara parau Panembahan Kolo Ireng !
    “Untung aku berhasil menahan tenaganya, jika tidak aku pasti sudah mati kali ini.”

    Laki-laki tua itu berusaha bangkit, tapi ia tak bisa bergerak saat itu karena luka-lukanya terlampau parah. Luka akibat benturan kekuatan dengan Arya dan diperparah oleh pengkhianatan Elang langit, anak buahnya sendiri yang telah tewas di tangan Suci.
    Sebenarnya ia hendak mengumpat dan memerintah para penduduk desa yang menonton dari kejauhan untuk menolongnya, tapi tidak jadi ketika dilihatnya sesosok wanita tampak berdiri tepat di hadapannya. Sebilah pedang tergenggam erat di tangannya. Wajahnya yang cantik kini terlihat menakutkan dengan adanya darah yang membasahi wajah dan pakaiannya, darah dari luka-lukanya dan darah dari lawan-lawannya yang telah ia bunuh.

    Raut wajah itu …
    “Melati, ……. tidak mungkin …. ” desisnya.
    Memang tidak mungkin, yang berdiri dihadapannya kali itu adalah Suci putri dari wanita yang namanya ia sebut barusan.

    Panembahan Kolo Ireng terbeliak matanya ketika Suci bergerak mendekat, darah masih tampak menetes dari mata pedang yang ia bawa membuat orang tua gegedug kelompok Kolo Ireng itu menjadi panik.

    “Jangan…. Jangan mendekat….” Teriaknya.

    “Toloooong …… ”
    Seketika itu juga ia berteriak-teriak minta tolong kepada para penduduk desa yang menatap dari jauh tanpa berani mendekat.

    Suasana menjadi sunyi ketika Suci menjatuhkan pedangnya yang telah memakan korbannya yang terakhir.

    Panembahan Kolo Ireng Tewas karena membongkar paksa dendam yang telah lama dikubur dalam-dalam oleh Suci.

    Perlahan Suci mengangkat kembali Arya Ke gendongannya, ia sadar bahwa ia harus berusaha sendiri memulihkan luka-lukanya dan luka-luka Arya sebelum ayah ibunya dan ayah ibu Arya datang karena ia tahu bahwa saat itu ia tak mungkin bisa meminta bantuan pada penduduk desa ………

  2. Selamat atas sertijab dari Anakmas Sukra ke prajurit Senopati.
    Semoga kinerja Anakmas Sukra yang sangat baik lebih meningkat lagi dipandegani oleh nafas baru Anakmas Senopati.

    Amin.

  3. sudah adakah..kitabnya????

  4. selamat siang….

    Cantrik padepokan….

    Apa khabar…

  5. belum ada toh?
    met kenal aja deh buat Ki senopati end di tunggu kitabna.

  6. kinerja yang jelek Senopati
    Awal yang buruk

    ttd
    Tumenggung

    (seorang Tumenggung tentu boleh menegur seorang senopati ……….. walau seorang cantrik misalnya Dedet sangat ketakutan dengan kombinasi ki GD dan Senopati)

  7. Salam Kenal…

    para Cantrik… di padepokan…

  8. Sareh poro sedulur cantrik …. sareh, meniko kulo tambah ^_^;

    Bagian Kedua

    Enam tahun kemudian

    Seluruh Kadipaten Sidokerto Gempar.
    Tujuh batu mustika Warak Mustiko Geni dicuri dari bangsal pusaka kadipaten. Tujuh mustika itu adalah pusaka keprabon perlambang kepemimpinan kadipaten, konon dimana apabila hilang, maka diramalkan sebagai kejatuhan sang adipati.

    Padahal pada saat itu situasi kadipaten sedang dalam keadaan gawat mengingat adanya ultimatum dari Kanjeng Adipati Selogilang agar kadipaten Sidokerto mau menyerah dan tunduk kepada Kadipaten Selogilang dan Kanjeng Adipati Sidokerto telah menyatakan menolak.

    Untuk mengantisipasi keadaan yang semakin gawat, Kanjeng Adipati Sidokerto langsung menyebar senopati-senopatinya yang terlatih untuk mencari si pencuri sekaligus mengembalikan mustika yang telah dicuri itu.

    Diantara para senopati yang disebar itu terdapat Kyai Manggalapati yang menyatakan bersedia untuk mencari mustika itu dan mencoba mengembalikannya ke Kadipaten.

    Orang tua yang masa mudanya sebenarnya adalah putra mahkota kadipaten Sidokerto yang bernama Bayu Manggalapati itu langsung menuju ke Desa Karangmojo tempat dimana saat itu satu pasukan dari Selogilang diperkirakan tengah bergerak ke desa di perbatasan antara kedua kadipaten tersebut.

    Kyai Manggalapati curiga bahwa pencuri mustika itu tentu ada hubungan dengan ultimatum dari Adipati Selogilang, paling tidak adalah orang yang mencoba mengail di air keruh pada perseteruan kedua kadipaten tersebut.

    Pada perjalananya kali itu ia ditemani oleh Suci putrinya.

    Mereka tepat tiba di desa tersebut ketika terjadi satu peristiwa yang cukup menggegerkan. Yaitu bahwa ternyata pasukan dari kadipaten Selogilang telah tiba di desa Karangmojo dan saat itu pemimpin dari satuan pasukan itu tengah mengumumkan kepada penduduk desa bahwa mereka akan membuat markas sementara di desa tersebut dan balai desa Karangmojo akan dipakai sebagai pusat komandonya.

    “Nah, sekarang saja, apabila ada dari penduduk yang keberatan, kami persilahkan untuk mengungkapkannya sekarang.” Seru si senopati yang mengumumkan penetapan itu.

    Ia menatap kesekeliling dengan penuh keyakinan bahwa tidak akan ada orang yang akan berani mengungkapkan keberatannya.

    Tapi….

    “Maaf, saya rasa, saya tidak bisa menyetujui niat kalian itu untuk membuat markas sementara disini.”

    Terdengar suara seseorang dari arah kerumunan penduduk.

    Sang Senopati menatap kearah suara itu berasal, seorang petani berpakaian serba hitam dengan caping di kepalanya berjalan membelah kerumunan penduduk.

    Beberapa langkah di hadapan sang senopati, petani itu berhenti melangkah.
    “Tindakan kalian akan memicu para pasukan Sidokerto untuk mengirim pasukan ke desa Karangmojo ini, dan sudah barang tentu akan terjadi korban bila kedua belah pihak tidak bisa menahan diri. Dan itu artinya peperangan berdarah seperti beberapa tahun silam akan terjadi lagi.” Ucapnya.
    “Sudah cukuplah korban yang jatuh di waktu yang lampau. Jangan ditambah lagi.”

    Sang senopati masih menatap si petani dengan tajam.
    “Besar juga nyalimu berani berkata seperti itu di hadapan kami. Hanya orang yang tak tedhas tapak paluning pandhe yang berani menentang kami. Siapakah kau ini he, apakah kau telik sandi dari Sidokerto ?”

    “Aku penduduk sini yang tak mau terjadi lagi adanya korban akibat peperangan yang tidak seharusnya terjadi.” Jawab si petani.

    Si senopati menoleh ke arah anak buahnya, ia langsung memberi isyarat. Rupanya ia tak mau banyak bicara.

    Langsung saja lima orang dari prajuritnya maju mengepung si petani. Dengan senjata terhunus

    “Tunggu …. !” ucap si petani.

    Tapi tentu saja kelima prajurit itu tak mau mendengarkan.
    Bahkan salah satu langsung menerjang dengan ayunan golok besarnya sekuat tenaga.

    Tapi ….

    Tak terlihat apa-apa, hanya suara kesiur angin yang tajam.
    Dan berikutnya golok sang prajurit mental.

    Sang prajurit terkejut sambil menatap goloknya yang melayang di udara dan jatuh menancap di tanah, kemudian ia menatap ke arah tangannya yang kesemutan.
    Keempat temannya juga terkejut. Tapi rupanya mereka adalah orang yang cepat tanggap bahwa orang yang dihadapan mereka itu adalah bukan orang biasa.

    Langsung saja mereka langsung bersiap untuk menyerang si petani dengan seluruh kemampuan mereka.

    Tapi …..

    “Tunggu !” Si senopati mencegah.
    “Kalian mundurlah, orang ini bukan lawan kalian.”

    Tapi belum juga para prajuritnya memberikan reaksi, terdengar lagi satu suara dari arah belakang si senopati.

    “Jangan dicegah, biarkan mereka lanjutkan serangannya !”

    Si senopati menoleh, dan tampaklah seorang pemuda berpakaian perlente berjalan keluar dari pendopo balai desa itu mendekat ke arah si senopati.

    “Ra-raden ….. !?” si senopati tampak agak tergagap. Langsung bisa dipastikan bawah orang yang disebutnya raden itu adalah atasannya.

    Si pemuda menatap si senopati.
    “Mengapa kau suruh mereka berhenti senopati.!?” Ucapnya dengan nada keras.
    “Bukankah semakin kuat lawannya akan membuat mereka semakin terlatih?”

    Si senopati tertegun. Tampak sebenarnya ia kurang setuju dengan pendapat itu, tapi tak urung ia mengangguk mengiyakan.
    “Anda benar raden.” Ucapnya.

    “Apa lagi ?” ucap si pemuda.
    “Suruh mereka melanjutkan serangan.”

    Dan si senopati pun langsung memberikan perintahnya.
    “Kalian dengar perintah Gusti Raden Sentanu, lanjutkan serangan !”

    Mendengar perintah itu serentak kelima prajurit itu langsung menyerbu si petani.

    Si petani melepas capingnya. Dan segera tampak wajah aslinya yaitu seorang laki-laki dengan cambang, kumis dan janggut lebat menghiasi wajahnya.
    “Apa boleh buat, ” gumamnya.

    Si petani memutar tubuhnya sambil melontarkan tendangan balik berputar yang sangat cepat beberapa kali berturut-turut.

    Saat itulah deru angin kembali berkesiur, dan menyusul itu kelima prajurit itu beserta senjata mereka bermentalan ke segala arah dan jatuh bertumbangan ke tanah.

    Melihat itu, si pemuda yang bernama Raden Sentanu itu tampak mengepalkan tinjunya.
    “Dasar prajurit-prajurit tak berguna.” Geramnya sambil bergerak maju.

    Tapi gerakannya itu tertahan oleh bawahannya yang mencegah.
    “Tunggu Raden, biarkan saya saja yang melawannya.” Pintanya.
    “Jangan kotori tangan anda dengan melawan orang ini.”

    “Minggir ….!!” bentaknya si pemuda.
    “Aku tak akan tidur tenang malam ini kalau tidak mencabut kepala orang ini dengan tanganku sendiri.”

    Si senopati pun tak punya pilihan lain selain memberi jalan bagi atasannya ini.

    Kini Raden Sentanu dan si petani telah saling berhadapan.

    Si petani tersenyum.
    “Nama anda mengingatkan saya akan putra kanjeng adipati selogilang.” Ucapnya.

    “Memang akulah orangnya.” Sentak si pemuda.
    “Kini kau sudah tahu siapa aku, lekas berlututlah dan berikan kepalamu padaku !”

    Si petani tampak menggeleng-gelengkan kepala.
    “Sebagai putra adipati selogilang, anda bisa menghentikan kesia-siaan ini raden.” Ucapnya.
    “Tariklah pasukan anda dari sini raden, sebelum pasukan sidokerto sampai ke sini, hindarkan pertumpahan darah ini.”

    “Harus berapa kali kuperintahkan agar kau mati.” Teriak si pemuda.

    Detik berikutnya, sambil berteriak, ia langsung menerjang si petani dengan sebuah serangan beruntun.

    Tapi di luar dugaan si petani tak menghindar, ia langsung menyambut serangan itu dengan beberapa kali blok yang mengakibatkan benturan tenaga yang keras.

    Keduanya melompat mundur.

    Si pemuda menggeram.
    “Ternyata kau tidak cuma berbekal mulut besar saja untuk datang ke sini.”
    “Baiklah, kau telah berani membuatku marah. Kau harus tanggung akibatnya.”

    Usai berucap, si pemuda langsung menyilangkan kedua tinjunya di depan dada. Sambil berteriak keras ia mengumpulkan tenaga dalamnya ke kedua tinjunya itu, dan berikutnya udara di kedua kepalan tinju si pemuda tampak mulai bergelombang.

    Si petani menatap si pemuda dengan seksama. Getaran tenaga yang terpancar dari tubuh pemuda itu menunjukkan bahwa si pemuda sudah tak sabar lagi ingin segera menyudahi pertarungan. Oleh karena itulah demi melihat persiapan lawannya, si petani pun segera bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.

    Tak berapa lama kemudian si pemuda menarik kedua tangannya ke pinggang sebelah menyebelah dan pada saat itulah si pemuda melompat menerjang si petani beberapa pukulan beruntun yang luar biasa cepatnya.

    Melihat serangan yang sungguh-sungguh itu, si petani pun tak mau bertindak gegabah, iapun segera menyambut serangan itu dengan sungguh-sungguh pula.

    Dan sebuah pertarungan sengit pun terjadilah.
    Keduanya saling melancarkan pukulan dan tendangan yang bertenaga dalam tinggi dengan bertubi-tubi.

    Sementara itu para penduduk yang tadinya berkumpul di depan pendopo balai desa itu, kini tampak bergerak menjauh ketika mereka menyadari bahwa angin pukulan dari kedua orang yang sedang bertempur itu ternyata mampu menerbangkan bebatuan !

    Pertarungan terus berjalan dengan sengit. Debu bergulung-gulung di udara mengiringi batu-batuan yang terbang berdesingan akibat terhantam angin pukulan dan tendangan kedua belah pihak.

    Sampai saat inipun masih belum terlihat siapa yang berada di atas angin dalam pertarungan itu. Mereka berdua masih terlihat seimbang.
    Namun memang terlihat adanya perbedaan. si petani terlihat lebih tenang, ia lebih banyak bertahan dalam menghadapi serangan-serangan dari Raden sentanu, sedangkan putra dari adipati Selogilang itu terlihat sangat ingin sesegera mungkin untuk menyelesaikan lawannya.
    Beberapa kali umpatan kasar meletup dari mulut pemuda itu ketika beberapa serangan andalannya yang bertenaga penuh berhasil dihindarkan lawannya.
    Hal ini disadari oleh si petani bahwa lawannya ini adalah orang yang tidak sabaran. Oleh karena itupun ia juga tak mau lagi berlama-lama lagi bertempur karena semakin lama, tentunya akibatnya akan semakin buruk, terutama bagi para penduduk desa.

    Oleh sebab itulah, suatu saat, ketika si pemuda mencapai puncak kemarahannya dan melancarkan satu serangan dengan sebuah pukulan bertenaga dalam penuh, langsung saja si petani menyambut dengan serangan serupa.

    Akibatnya terjadilah sebuah benturan tenaga dalam yang keras. Diiringi oleh sebuah suara ledakan yang menggelegar, tubuh Raden Sentanu terdorong surut ke belakang.
    Bahkan hampir saja putra dari adipati selogilang itu jatuh tersungkur ke tanah, kalau saja tidak cepat-cepat ia mengatur keseimbangan.

    Di lain sisi si petani masih berdiri tegak di tempatnya. Tak bergeming sedikitpun.
    Hal ini menunjukkan bahwa tingkat tenaga dalam si petani jauh di atas Raden Sentanu.

    Sementara itu melihat junjungannya hampir terjatuh, si senopati langsung berlari mendekat.
    “Ra-raden!” Serunya sambil menahan tubuh junjungannya yang masih terhuyung itu agar tidak jatuh.

    Tapi sambutan dari orang yang dibantunya itu sungguh di luar dugaan.
    Ketika keseimbangannya telah pulih, Raden Sentanu justru mengibaskan tangannya ke arah si senopati.
    Sebagai akibatnya tubuh perwira selogilang itu terpental dan jatuh terhempas ke tanah.
    “Apa maksudmu dengan perbuatanmu ini senopati.” Teriak Raden Sentanu.
    “Apakah kau kira aku ini sudah kalah, hingga kau lancang membantuku !”

    Sementara itu si perwira yang tak menduga akan kemarahan dari junjungannya itu buru-buru bangkit meskipun tulang-tulangnya terasa berpatahan akibat pukulan yang diterimanya barusan.

    “Ma-maafkan kelancangan saya raden ….. ” ucapnya dengan tubuh gemetaran menahan sakit sekaligus ketakutan.

    Raden sentanu tampak menggeratakkan giginya, tampak jelas bahwa ia sudah benar-benar naik darah.
    Sebuah tendangan langsung ia lancarkan ke arah prajuritnya itu, sebuah tendangan yang benar-benar keras.
    Si perwira menyadari itu, tapi ia terlalu takut untuk menghindar, karena ia tahu apa akibatnya bila ia menghindari tendangan itu. Dan sebagai akibatnya tubuh perwira selogilang itu kembali mental terkena tendangan itu dan terhempas ke tanah, hanya saja kali itu ia tak mampu bangun lagi.

    Di lain sisi, si petani tampak menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan ketelengasan dari lawannya itu.
    “Seharusnya yang anda tendang itu bukan bawahan anda, raden.” Ucapnya.
    “Karena lawan anda adalah saya.”

    Raden Sentanu berpaling ke arah si petani. Kali ini kedua mata dari putra adipati Selogilang itu tampak menyala.
    “Kau telah benar-benar menginjak kepalaku.” Geramnya.
    “Apa boleh buat. Aku tak akan sungkan lagi.”

    Usai berucap putra adipati selogilang itu mengepalkan tinjunya erat erat menghadap langit. dari mulutnya terdengar geraman panjang pertanda bahwa putra bangsawan itu sedang mengumpulkan seluruh kekuatannya.
    Diiringi oleh gemuruh suara ledakan-ledakan petir yang menggelegar, tampak adanya lidah-lidah api petir yang berloncatan dari udara dan masuk berkumpul di kepalan tinju Raden Sentanu.

    Si petani agak tertegun melihat perbuatan dari lawannya itu. Ia langsung sadar bahwa lawannya itu akan melontarkan ilmu pamungkasnya.

    Oleh karenanya, iapun segera bersiap.

    Sementara itu di lain sisi dua orang tampak berlari-lari mendekat memperingatkan para penduduk desa agar segera menjauh. Dua orang itu adalah seorang laki-laki setengah baya dan seorang wanita muda.
    “Cepat, kalian menjauh, ilmu yang satu ini sangat berbahaya jika di lihat dari dekat!” Teriak si lelaki setengah umur dengan wajah penuh ketegangan.

    Melihat ketegangan yang terpancar dari wajah laki-laki setengah umur itu, para penduduk desa langsung sadar bahwa orang itu tak main-main dengan ucapannya, segera saja mereka bergerak menjauh disertai oleh orang-orang yang memperingatkan mereka itu.

    Dari jarak yang dirasa cukup aman, merekapun kembali menyaksikan petarungan itu.
    Kedua orang yang tak lain adalah Kyai Manggalapati dan Suci putrinya itu tampak menatap si petani dengan perasaan khawatir.
    “Benarkah apa yang ayah katakan tadi bahwa ……. ” Suci tak melanjutkan kalimatnya.

    Kyai Manggalapati mengangguk.
    “Itu memang kuda-kuda Petir Sapu Jagat, nduk.” Ucapnya.

    Suci menatap ke arah Raden Sentanu yang masih mengumpulkan kekuatan itu dengan perasaan penuh kekhawatiran. Petir Sapu Jagat, sebuah ilmu mengerikan yang mampu menghancurkan lawan yang memiliki kemampuan di atas dari si pemilik ilmu.
    Ayahnya pernah bercerita bahwa dalam pertempuran pertama antara kadipaten sidokerto melawan kadipaten selogilang, Panembahan Rekso Bawono yang menguasai ilmu ini baru bisa dikalahkan setelah kehabisan tenaga melawan Joko Keling yang berhasil memancing panglima perang Selogilang itu untuk menghamburkan tenaga dalamnya dalam menghadapi Rajah Narantaka yang dipakai oleh Kyai Kusumodahono di masa mudanya itu.
    Kini ia menyaksikan langsung ilmu yang menakutkan itu di depan matanya.
    Ia beralih kepada ayahnya.
    “Apa yang bisa kita lakukan ayah .. ?” tanya Suci.

    Kyai Manggalapati menggeleng. Laki-laki setengah umur itu menghela nafas.
    “Kita tak bisa berbuat apa-apa, nduk. Ilmu itu akan dapat menyapu kita dalam sekali hantam. Kita tak bisa berbuat apa-apa.” Ucapnya.
    “Panembahan Rekso Bawono ternyata telah menurunkan ilmu mengerikan itu kepada Raden Sentanu yang diluar dugaan bisa menguasainya walaupun belum sesempurna gurunya.”

    “Kita berdoa saja agar si petani itu selamat.”

    Kembali ke si petani yang masih menghadapi Raden Sentanu.
    Saat itu Raden Sentanu telah siap melontarkan aji pamungkasnya. Tinju kanan bangsawan itu tampak berpijar menyilaukan.
    “Cukup sampai disini tingkahmu, keparat.” Teriaknya.
    “Sekarang ………… Matilah kau !”

    Sambil berteriak menggelegar, Raden Sentanu melontarkan seluruh kekuatan yang ia himpun di kepalan tinjunya ke arah si petani.
    “Petir Sapu Jagat …… !!!”

    Diiringi oleh suara gemuruh yang mengerikan satu lidah api petir yang luar biasa menyilaukan meledak dari kepalan tinju Raden Sentanu, menderu ganas melesat ke arah si petani.

    Tapi di luar dugaan, ketika lidah api petir itu hampir menyambarnya, si petani langsung melenting kesamping dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.
    Dan akibatnya pijar lidah api petir itu menghantam sebuah batu sebesar kerbau dibelakangnya.
    Diiringi suara ledakan yang menggelegar, batu cadas hitam itu meledak hancur, pecah berkeping-keping tersambar cahaya yang mengerikan itu. Daerah seputar wilayah arena pertarungan itu bergetar dahsyat.
    Tapi tak sampai disitu, cahaya itu masih melesat menerjang apa saya yang ada di belakang batu besar itu. Sebagai akibatnya tiga batang pohon langsung roboh mengikuti hancurnya batu tersebut.

    Para penduduk desa terperangah menyaksikan peragaan ilmu yang mengerikan itu, walau dari jauh, tubuh-tubuh mereka seperti terasa kesemutan ketika pijar lidah api petir itu meledak dari tinju Raden Sentanu, Saat itulah mereka baru sadar akan kebenaran peringatan dari Kyai Manggalapati. Dalam hati mereka bersyukur karena mematuhi peringatan dari Kyai Manggalapati itu.

    Sementara itu Kyai Manggalapati sendiri tampak menghela nafas.
    “Ternyata petani itu mengetahuinya, bahwa bagaimanapun ia harus menghindari pukulan ilmu itu.” Ucapnya.
    “Kecepatan geraknya memang di luar dugaan.”

    Suci hanya mengangguk-angguk

    Sementara itu
    Melihat ilmunya berhasil dihindari, Raden Sentanu menjadi semakin naik darah, ia menjadi kehilangan akal.
    Karena saat itu juga ia kembali memasang kuda-kuda untuk mengulangi serangannya.
    Melihat itu, Kyai Manggalapati sempat punya pikiran bahwa peristiwa beberapa puluh tahun silam yang menimpa Panembahan Rekso Bawono tampaknya akan terjadi lagi, kali ini pada muridnya. Yaitu terpancing untuk menghamburkan tenaga dalamnya.
    Tapi dugaannya itu ternyata keliru.
    Karena

    Melihat Raden Sentanu kembali bersiap, si petani tersenyum.
    “Terima kasih atas kebaikan Raden untuk mengajarkan ilmu luar biasa seperti yang raden punya itu kepada saya.” Ucapnya.

    Raden Sentanu yang sudah dikuasai amarah tidak menggubris perkataan itu, ia yang semakin marah langsung terpacu untuk lebih mengerahkan seluruh kekuatannya. Rupanya ia sudah benar-benar bertekad untuk mengakhiri perlawanan dari lawannya itu.

    Sementara itu, tidak seperti sebelumnya
    Si petani tampak mengangkangkan kaki, diacungkannya tinjunya ke arah langit menirukan gerakan Raden Sentanu.

    Raden Sentanu yang menganggap gerakan itu hanyalah gertakan lawannya untuk mengejeknya hanya menggeram.

    Sedangkan Kyai Manggalapati memberikan reaksi yang berbeda.
    “Mustahil …… ia menirukan gerakan Raden Sentanu.” Desisnya.

    Tapi ucapannya itu terhenti ketika melihat suatu hal yang lain, hal yang membuatnya terkejut bukan buatan.

    Lidah-lidah api petir tampak mulai berloncatan dari udara memasuki kepalan tinju si petani !

    “I-itu Petir Sapu Jagat …. !” Ucap Kyai Manggalapati nyaris berteriak karena kagetnya.
    “Dia berhasil menirunya dalam sekali lihat saja ”

    Di lain sisi Suci tak bisa berkata apa-apa menyaksikan kenyataan itu.
    Ilmu mengerikan yang konon hanya bisa dikuasai dengan tirakat bertahun-tahun, kini bisa ditiru hanya dalam sekali lihat saja.

    Sementara itu Raden Sentanu tak kalah kagetnya, tapi kekegetan itu berubah menjadi kemarahan yang memuncak.
    “Kurang ajar, kau telah mencuri ilmuku …. ! ” Teriaknya.

    Karena marahnya itu ia tak perduli lagi apakah lawannya sudah siap atau belum, dengan segenap kekuatannya dilontarkannya Petir Sapu Jagat Sekali lagi.

    Diiringi oleh suara gemuruh yang mengerikan, pijar cahaya petir yang menyilaukan kembali meledak dari kepalan tinju Raden Sentanu, menderu ganas menerjang ke arah si petani yang sebenarnya sedang bersiap.

    Melihat serangan mendadak itu tak ayal lagi si petani langsung menghantamkan tinjunya kearah lidah api petir yang melesat kearahnya itu.
    Satu ledakan cahaya petir yang menyilaukanpun meledak dari kepalan tinju si petani menghadang terjangan petir sang lawan.

    Dan terjadilah suatu benturan yang luar biasa dahsyatnya.
    Diiringi oleh suara ledakan yang menggelegar, daerah seputar pertarungan itu berguncang dahsyat, tanah dan bebatuan terhambur ke atas akibat ledakan yang mengerikan itu.

    Sementara itu akibat benturan tenaga yang sangat dahsyat itu, tubuh Raden Sentanu terpental ke belakang dan menghantam tembok pagar pendopo balai desa. Diiringi suara berderak dan gemuruh yang keras, tembok tebal itu roboh ke dalam halaman balai desa, seiring dengan itu pula, tanpa sempat mengeluh tubuh raden Sentanu ambruk ke tanah, tak sadarkan diri. Rupanya benturan tenaga dalam itu terlalu berat untuk ditahan tubuhnya.

    Sementara itu si petani masih berdiri dengan tegak di tempatnya, tinju kanannya masih berpijar yang menandakan bahwa ia tak melontarkan seluruh kekuatan yang ia himpun.

    Sekali lagi tinju kanan si petani berkerjap mengiringi padamnya pijar petir di tangannya itu.

    Si petani menghela nafas panjang. Ia menatap ke arah Raden Sentanu yang masih terkapar pingsan di halaman pendopo balai desa sebelum akhirnya ia berjalan menghampiri bangsawan dari kadipaten selogilang itu.

    Di samping bangsawan itu si petani berlutut. Ia tempelkan telapak tangannya ke punggung Raden Sentanu.
    Entah apa yang ia lakukan tiba-tiba saja tubuh raden sentanu tersentak dengan keras. Ia tersadar dari pingsannya.

    Ia tampak mendelik ketika Si petani berdiri dan melangkah mundur menjauh sambil menunjukkan dua buah benda berkilau di telapak tangannya kepada Raden Sentanu sembari berkata.

    “Maafkan saya raden, demi penduduk desa ini, terpaksa kedua benda ini saya ambil alih.” Ucapnya.
    “Saya harap Raden cukup tahu diri untuk menarik pasukan anda, sebab jika raden tetap bersikeras untuk tinggal, saya tidak akan tinggal diam.”

    Usai berucap si petani kembali mengenakan capingnya dan melangkah pergi meninggalkan raden sentanu yang masih terpaku dengan mata melotot.

    Ia baru sadar ketika si petani sudah jauh melangkah.
    “Tu-tunggu, wa-warak mustiko geni, kembalikan ….. !” teriaknya.
    Bangsawan itu mencoba merayap bangun, tapi gagal karena tubuhnya masih lemah akibat cideranya ketika berbenturan tenaga dalam dengan si petani. Raden Sentanu kembali jatuh terjerembab di pelataran pendopo balai desa.

    Sementara itu ….
    “Warak Mustiko Geni …… ?” Desis Kyai Manggalapati.
    ‘Jadi Raden Sentanu mengenakan mustika itu …. ?”

    “Pantas ia bisa menguasai Petir Sapu Jagat, ayah …. ” tambah Suci.

    Kyai Manggalapati mengangguk.
    “Kau benar, nduk,” Ucapnya.
    “Kurasa memang itu alasannya …..”
    “Di samping itu, ternyata benar dugaan pamanmu, orang-orang kadipaten Selogilang berada dibalik hilangnya mustika itu. Kini benda-benda itu dibawa si petani. Kuharap saja orang itu bisa diajak bicara untuk mengembalikannya ke kadipaten.”

    Suci menatap ayahnya.
    “Kita akan menemui si petani itu, ayah?” tanyanya.

    Kyai Manggalapati mengangguk.
    “Benar, nduk.” Jawabnya.
    “Ayo sekarang saja, mumpung orang itu belum jauh.”

    Tapi memang hari itu bukan hari yang baik untuk mereka karena si petani sudah tak terlihat lagi. Orang itu seperti lenyap tertelan bumi. Yang tertinggal hanyalah cerita-cerita tentang duel yang dahsyat antara petani itu melawan raden sentanu yang beredar di kalangan penduduk desa. Dan disusul dengan berita tentang ditariknya pasukan selogilang dari desa Karangmojo tersebut.

    Baru beberapa hari kemudian mereka pasangan ayah anak itu berhasil menemukan petani itu di pinggiran desa Pandan.

  9. waduh apa Senopati masih ikut perang?

  10. slamat atas sertijabnya…

  11. kemarahan yang tidak sepantasnya
    kejengkelan yang tidak sepatutnya
    tetapi hati tidak bisa berdusta
    nalar yang semakin kabur
    tertutup oleh kegelisahan..
    bagaimana nasib Agung Sedayu selanjutnya..?
    thank’s..ki GD be patient..!!

  12. luar biasa Ki Ajar Talpitu,

    ini jelas bukan spoiler yang dilarang oleh padepokan ini (kecuali kalo Ki GD segera nyemprit ..he..he…)
    Boleh juga sembari menunggu kitab yang ndak jelas munculnya kapan…………..

  13. salam kenal Ki Senopati.
    moga-moga padepokan semakin berkembang dibawah kabinet Menoreh Bersatu.

  14. salam kenal juga ki senopati

    namun esok harinya dari hari apa ya???

  15. Salam Kenal Ki Senopati

    Salam kenal chantrik-chantrik padepokan…..

    tes ikutan….

  16. sugeng rawuh / selamat datang Ki Senopati.
    sugeng angayahi kuwajiban enggal ing tlatah adbm / selamat menunaikan tugas baru di kawasan adbm.

    kayaknya Ki Senopati masih nggragap / belum lancar mengelola padepokan sehingga kitab 144 masih blom keluar juga

    akhir2 ini Ki Gede selalu telat dalam menurunkan kitab dan sekarang Ki Senopati juga begitu … jangan2 hal ini memang dikondisikan oleh Ki Gede untuk menyesuaikan dengan pola kerja Ki Senopati ????

    sorry Ki Gede dan Ki Senopati … jas kiding … sampun ndadosaken penggalih / jangan dimasukkan ke dalam hati …

  17. Mohon kangmas Senopati bersedia turun dari paseban untuk menenangkan para cantrik, sekedar memberi penjelasan mengenai kalimat “Mohon menunggu hingga esok hari”.

  18. Wah maaf poro sedulur cantrik, waktu saya internetan sudah harus diakhiri karena billingnya jalan terus nih, jadi terpaksa …. monggo ini bagian terakhir.

    Petani dari Karangmojo itu tersenyum ketika kucing kembang telon itu mengeong sambil menggosok-gosokkan punggungnya ke kaki si petani.

    Laki-laki bercaping itu menatap ikan yang baru saja ia bakar dan akan dimakannya itu.
    “Ahh, rupanya ikan ini belum jadi rejekiku…” ucapnya.

    Usai berucap disodorkannya ikan itu kepada kucing kembang telon yang masih berjalan bolak balik di kakinya itu yang segera menggigit dan memakannya.

    Setelah memberikan ikannya, laki-laki yang dikenal sebagai Petani dari Karangmojo itu menatap ke arah sekeliling.

    “Kisanak berdua keluarlah.” Panggilnya.
    “Jika kalian berdua ingin berbicara denganku, lebih baik langsung saja kalian kemari.”

    Di tempatnya bersembunyi, Kyai Manggalati dan Suci saling berpandangan.
    “Tampaknya tak ada gunanya kita bersembunyi.” Ucap Kyai
    “Kita keluar saja.”

    Suci mengangguk

    Lalu pasangan ayah anak itu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.

    “Mari silakan duduk.” Ucap si petani kepada Kyai Manggalapati dan Suci.

    “Terima kasih kisanak.” Ucap Kyai Manggalapati.
    Lalu orang tua itu dan Suci pun duduk mengitari perapian bersama orang bercaping itu.

    Lalu merekapun mulai pembicaraan
    “Nah, kisanak berdua, ada keperluan apakah maksud kisanak berdua menemui saya?”

    Kyai Manggalapati diam sejenak, tapi kemudian ia pun menjawab,
    “Kami melihat di Karangmojo pada saat anda dengan begitu saja bertarung sekaligus mengalahkan Raden Sentanu dan merebut Warak Mustiko Geni dari tangan orang itu, hingga akhirnya satu satuan pasukan Selogilang yang dipimpinnya terpaksa ditarik mundur dari Karangmojo.”

    Si Petani dari Karangmojo itu mengangguk, ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dua buah benda kecil yang kini berada di atas telapak tangannya. Dua buah benda mustika keprabon kadipaten Sidokerto yang berupa dua permata kecil itu tampak berpendar dan memancarkan dua warna cahaya yang berbeda.
    Ia menatap sesaat dua benda itu, dua benda yang direbutnya dari Raden Sentanu di Desa Karangmojo, dimana saat itu ia berhasil meniru ilmu yang dipakai oleh bangsawan Selogilang itu untuk menghadapinya, Petir Sapu Jagat. Yang telah membuatnya dijuluki Petani dari Karangmojo tersebut.
    “Yang anda maksud dua benda pembawa malapetaka ini?” ucapnya.

    Kyai Manggalapati mengangguk
    “Benar, dua benda itu.” ucapnya mengiyakan
    “Saya mengemban perintah dari Kanjeng Adipati untuk mencari dan mengembalikan benda-benda tersebut, Yang saya tanyakan adalah, apakah anda bersedia mengembalikan dua benda itu ke Kadipaten Sidokerto?”

    Si Petani dari Karangmojo menatap dua benda itu
    “Benda-benda ini telah mengakibatkan tewasnya beberapa puluh nyawa karena memperebutkannya.” Ucapnya.
    “Setahu saya dulu jumlahnya ada tujuh buah ketika dicuri, lalu dua jatuh ke tangan Raden Sentanu, sedangkan yang lima sisanya ada di tangan orang lain, yang saya rasa akan sulit untuk diambil kembali, sebab menurut kabar angin yang saya dengar, orang itu telah melakukan ritual yang membuat lima Warak Mustiko Geni melebur dengan tubuhnya.”

    Kyai Manggalapati tertegun
    “Anda tahu siapa orang itu?” tanyanya.

    Si Petani dari Karangmojo mengangguk.
    “Mungkin Kyai sudah mengenalnya sebelumnya.” Jawabnya
    “Orang itu adalah pemimpin bayangan dari pasukan Selogilang yang sekarang sedang bersiap di tegal kawilarang sekaligus guru dari Raden Sentanu, orang itu bernama Probomukti, ”

    Jantung Kyai Manggalapati berdegup keras sekali ketika mendengar nama itu disebut.
    Tokoh sakti nomor satu yang berdiam di gunung tunggul yang merupakan wilayah kadipaten Selogilang.
    gunung tunggul adalah salah satu alasan kenapa sampai saat inipun tentara dari majapahit tidak berani gegabah menapakkan kakinya ke Selogilang ataupun Sidokerto. hingga saat ini walaupun nusantara telah dikuasai oleh kerajaan besar itu namun dua kadipaten di Jawa Dwipa tengah ini masih bebas merdeka.
    Dari tiga tokoh utama dari perguruan sapu jagat, kakak seperguruan dari Panembahan Rekso Bawono inilah yang konon berhasil melampaui kemampuan gurunya dalam menguasai pukulan Petir Sapu Jagat.

    Pada bentrok pertama antara pasukan Sidokerto melawan Selogilang, pertapa ini tidak muncul karena konon ia sedang melakukan laku tirakat selama bertahun-tahun hingga sebagai akibatnya pasukan Selogilang yang dipimpin oleh Panembahan Rekso Bawono berhasil dipukul mundur oleh pasukan Sidokerto yang dibantu oleh gabungan beberapa orang pendekar kelas atas semisal Kyai kusumajaya, Gagak Wulung, dan Kyai Kusumodahono.
    Kini dia telah muncul dalam bentrok kedua antara dua kadipaten ini setelah selesai melakukan tirakat, apalagi ditambah dengan lima pusaka Warak Mustiko Geni yang telah melebur dalam tubuhnya dan memimpin langsung pasukan Selogilang menyerbu Sidokerto, bisa dipastikan seluruh kekuatan perguruan sapu jagat akan turun.
    Apa jadinya nanti dengan kadipaten ini jika sampai terjadi perlawanan?

    Ketika Kyai Manggalapati masih kebingungan itu si Petani dari Karangmojo berkata.
    “Saya akan berusaha untuk mengatasi orang itu dan merebut Warak Mustiko Geni dari tangannya dan mengembalikannya jika anda mau menyanggupi permintaan saya.”

    Kyai Manggalapati tertegun.
    “Permintaan?”

    Si Petani dari Karangmojo mengangguk lalu ia menatap ke arah Suci.
    “Putri anda, secara sembunyi-sembunyi telah cukup lama saya mengagumi putri anda sebagai seorang wanita.” Ucapnya
    “Jika anda memperbolehkan saya melamar putri anda, saya akan mencoba untuk merebut kembali benda-benda itu sekaligus mengatasi sepak terjang Probomukti.”

    Kyai Manggalapati kembali tertegun. Ia tahu telah lama putrinya itu hidup sendiri karena para pria tak berani mendekatinya akibat peristiwa yang terjadi di desa Karangwaru beberapa tahun silam. Dimana Suci telah membunuh Panembahan Kolo Ireng beserta lebih dari tiga puluh anak buahnya yang menyerbu ke desanya itu untuk membalas dendam terhadap Bayu Manggalapati dan istrinya Melati yang ia anggap telah membunuh anaknya yang bernama Sangkolo.

    Namun Kyai Manggalapati juga tahu bahwa Suci telah menaruh hati pada seorang pria walaupun ia tahu bahwa kemungkinan besar pria itu tak akan membalas perasaannya itu. Kini ada pria lain yang menyatakan diri tertarik dengan putrinya ….

    Kyai Manggalapati menghela nafas panjang…
    “Memang benar bahwa putri saya ini telah lama hidup menyendiri, adalah keinginan saya sebagai ayahnya untuk bisa melihatnya segera berkeluarga dengan pria pilihannya.” Jawabnya.
    “Tapi sekalipun saya setuju, adalah hak putri saya untuk memutuskan semuanya.”

    Kyai Manggalapati menatap wajah putrinya yang saat itu tengah menundukkan kepala.

    Wanita itu termenung, di pikirannya terbayang wajah tampan Arya yang sedang tersenyum, teringat olehnya di waktu-waktu dulu bagaimana ia dan anak itu bertukar pikiran, bergurau dan berjalan bersama. Yah, saat itu Aryalah pria pertama yang memperlakukannya secara biasa tanpa memandang siapa ia dan apa yang telah ia lakukan.

    Tapi kini Arya telah pergi untuk meminta ketegasan dari kekasihnya, yang artinya adalah akhir dari kedekatannya dengan anak itu. Setiap kali ia teringat akan hal itu hatinya terasa perih. ia selalu menangis walaupun diam-diam.

    Begitulah adanya, setelah peristiwa penyerbuan Panembahan Kolo Ireng ke tempat kediaman Kyai Kusumodahono, Kyai Manggalapati memutuskan untuk membawa keluarganya pindah dari desa Karangwaru walaupun Kyai Kusumodahono dan istrinya berkeras menahan mereka agar tetap tinggal.

    Namun pernyataan dari Kyai Manggalapati yang menegaskan bahwa ia tak ingin melibatkan keluarga Kyai Kusumodahono dalam masalah yang ia hadapi yang ternyata telah membuat Arya terluka parah membuat Kyai Kusumodahono dan istrinya tak bisa berbuat apa-apa.

    Meski dengan berat hati mereka berdua melepas sahabat dekatnya itu dan keluarganya untuk pindah dari desa Karangwaru.

    Di desa Karangjati, tempat tujuan Kyai Manggalapati untuk membuka hidup baru, ternyata cerita-cerita mengenai Suci yang membasmi gerombolan Panembahan Kolo Ireng sudah sampai disana dan menyebar.

    Sontak pandangan terhadap Suci dari para penduduk terutama para pria muda desa itupun berubah total ketika mereka tahu siapa gadis cantik yang baru pindah ke desa mereka itu bersama keluarganya.

    Jadilah Suci sebagai seorang wanita muda yang kesepian. Hanya sedikit sekali wanita sebayanya di desa itu yang mau menjadi temannya. Itupun karena mereka tahu dan mau mengerti mengapa Suci melakukan hal seperti itu. Sedangkan untuk para prianya, satupun tidak ada yang mau, tepatnya tak berani untuk mendekatinya.

    Lima tahun berlalu sudah,
    Disaat para teman sebayanya sudah memiliki satu, dua atau bahkan lebih anak hasil dari pernikahan mereka, hanya Suci yang masih sendiri melewati hari-harinya yang penuh kesepian.

    Tapi ia adalah anak yang berbakti, tak pernah sedikitpun ia mengeluh kepada orang tuanya meskipun hatinya seperti teriris setiap kali ia melihat para wanita muda dari desanya itu lewat di depan rumahnya sambil menggendong putra-putri mereka.
    Ayah dan ibunya bukannya tidak mengerti akan perasaan Suci, tapi mereka tidak berdaya apa-apa.

    Hari itu adalah perkecualian,
    Hari itu masih pagi, saat itu Suci sedang memetik sayuran di kebun depan rumahnya itu ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucap salam. Suara seorang laki-laki.

    Suci menoleh ke arah suara, ia menduga bahwa orang itu tentu adalah tamu dari ayahnya. Tapi …………

    Di hadapannya berdiri seorang pemuda yang sedang menatapnya dengan tatapan matanya yang teduh. Usianya kira-kira 17 tahun, berbadan tegap dan berkulit bersih. Wajahnya sangat tampan.

    Suci terpana sesaat.

    Tapi ia segera menepis segala sesuatu yang muncul di pikirannya, sudah terlampau banyak ia bermimpi.

    “Ada yang bisa saya bantu ?” Tanya Suci, ia masih menganggap pemuda itu adalah teman dari ayahnya.

    Si pemuda tidak menjawab, ia terus menatap wajah Suci.

    Ditatap seperti itu Suci menjadi salah tingkah. Apalagi ketika tiba-tiba pemuda itu tersenyum. Suci merasakan jantungnya berdegup sangat kencang.

    “Apa maksud pemuda ini, apakah ia tidak tahu siapa aku, dan siapakah dia sebenarnya?” pertanyaan ini bergaung berkali-kali di pikiran Suci ……………..

    ………… yang akhirnya mendapat jawaban.

    “Kakak lupa padaku?” si pemuda akhirnya berkata.

    Suci terkesiap. Pertanyaan itu …….. cara mengucapkan pertanyaan itu ……. hanya satu orang yang bisa mengucapkannya dengan nada yang seperti itu. Dan orang itu adalah …………

    Suci menatap lagi si pemuda, kali ini dengan tatapan mata tak percaya.

    “Arya ………. !!” hampir saja ia menjerit.

    Si pemuda yang tak lain adalah Arya itu kini tertawa ……..
    “Kakak, ………………. ” ucapnya
    “Tega sekali kakak melupakanku ……”

    Suci berlari mendekat
    “Kamu ………. kamu ………… ” Suci tak mampu melanjutkan kalimatnya.
    tanpa terasa air mata memercik membasahi pipinya, ….. ia tak tahu sebabnya.

    …………………………………..

    Kyai Manggalapati kembali menghela nafas panjang, ia langsung tahu jika putrinya itu teringat dengan Arya, pria pujaan hatinya.

    Di lain sisi ketika melihat reaksi dari dua orang tamunya itu, si Petani dari Karangmojo membuka suara.

    “Maaf mungkin saya keliru bicara, yang saya minta adalah izin dari anda Kyai dan itu sudah saya dapatkan, sedangkan persetujuan dari nini Suci adalah memang haknya, saya sendiri tidak akan memaksakan diri, yang paling penting bagi saya adalah kepastian, soal ya atau tidaknya jawaban nini adalah nanti setelah saya serahkan sisa warak mustika geni yang berjumlah lima itu.”

    Kyai Manggalapati tampak mengerutkan kening.
    “Maksud saudara?”

    “Ya, jawaban nini Suci adalah imbalan yang bagi saya manusia hina ini umpamanya saya berhasil menyerahkan lima warak mustiko geni sisanya. Apakah jawaban itu ya atau tidak, itu adalah hak dari nini Suci. Dan ya atau tidaknya jawaban itu adalah bukan masalah, yang penting saya sudah mencoba.” jelas yang ditanya.
    “Dan sayapun tak akan membuang waktu lagi.”

    Jelaslah kini bagi Kyai Manggalapati, ternyata Petani dari Karangmojo itu hanya meminta jawaban, apakah setuju atau tidaknya Suci, itu bukanlah masalah.

    Selesai berucap si Petani dari Karangmojo itu mengulurkan dua benda yang berkilau di telapak tangannya itu
    “Terimalah ini Kyai dan Nini Suci, dua benda ini saya serahkan kepada kalian sebagai panjer.” Ucapnya.

    Meski agak ragu-ragu Kyai Manggalapati menerima dua buah benda itu, dua dari tujuh pusaka kadipaten Sidokerto.

    “Nah kyai, nini Suci, urusan saya sudah selesai, saya mohon pamit.” Ucapnya sambil bangkit dari duduk dan berdiri.
    “Mungkin setelah ini, kita baru bisa ketemu lagi di tegal kawilarang.”

    “Tunggu saudara….” cegah Kyai Manggalapati.
    “Kalau boleh saya tahu, siapa nama saudara….”

    Si Petani dari Karangmojo itu tersenyum.
    “Manusia hina ini bernama Pamungkas, Kyai.”

    Usai berkata-kata laki-laki bernama Pamungkas itu berjalan meninggalkan Kyai Manggalapati dan putrinya.

    Kyai Manggalapati dan Suci menatap Pamungkas yang terus berjalan membelah malam hingga sosoknya lenyap ditelan kegelapan.

    Kyai Manggalapati menghela nafas panjang. Ditepuknya bahu Suci.
    “Orang itu terlalu mengagumimu, nduk.” Ucapnya

    “Mustika ini diserahkannya begitu saja hanya untuk sebuah jawaban yang belum tentu…”

    Mendengar ucapan dari ayahnya itu, Suci yang sejak tadi memang belum berkata apa-apa kembali termenung.
    Ia telah membuka hatinya untuk Arya, bisakah ia membukakan hatinya untuk orang lain?
    Ataukah ia akan menjawab dengan jawaban tidak untuk pertanyaan Pamungkas, orang yang ternyata sangat mengaguminya itu…..?

    BAGIAN KETIGA

    Dua hari berlalu sejak ia tiba di tempat kelahirannya itu.

    Di sebuah dangau kecil di tengah persawahan desa karangjati itu Suci termenung sendiri di pikirannya terbayang terus wajah dua orang yang terus muncul berganti-ganti, wajah tampan Arya dan wajah sangar Pamungkas si Petani dari Karangmojo.
    Wajah Arya yang selalu ceria menemaninya apabila ia datang ke Karangwaru, berbicara, berjalan-jalan, bergurau, maupun saling mencurahkan semua masalah di hati tanpa memandang siapa dia dan apa yang telah ia lakukan, yang kini telah pergi untuk meminta penegasan dari kekasihnya yang berarti akhir dari kedekatannya dengan anak itu. Walaupun dari awal ia sadar bahwa ia tak sebanding dengan anak itu dan tak akan mungkin ia bisa mendapatkannya.
    Wajah Pamungkas yang sangar tapi ternyata sangat mengaguminya, yang dengan rela hati menyerahkan hasil susah payahnya hanya untuk sebuah jawaban yang belum pasti.

    Sampai saat itupun Suci belum bisa memutuskan jawaban untuk pertanyaan laki-laki itu, apakah ia menerima tawaran Pamungkas atau tidak.
    Seandainya ada masalah yang sulit, bagaimanakah biasanya dia menyelesaikannya? Biasanya ia bicarakan dengan ayah dan ibunya tapi ketemu pemecahannya apabila ia bicarakan dengan Arya.

    Suci mendesah pelan sambil memegang dahinya yang terasa pusing.
    “Ah… Arya, seandainya kamu disini saat ini, tentu aku tidak perlu merasa bingung seperti ini.”

    tiba-tiba seolah seperti merupakan gema dari keluhannya tadi….

    “Memangnya kenapa seandainya aku ada disini, kak?”

    Suci tertegun, tapi sesaat kemudian ia terpana….
    Suara itu…..

    ia segera menoleh ke arah suara…..

    dan segera tampak olehnya seraut wajah tampan yang sedang menyunggingkan senyum yang berseri-seri.

    Nyaris saja Suci tak mempercayai penglihatannya

    “A..Arya….” jantungnya terasa berdegup kencang

    Anak muda yang tak lain adalah Arya itu segera saja melompat ke arah pematang tempat Dangau dimana Suci duduk dan segera saja ia duduk di samping kakak sepupunya itu.
    “Wah sudah hampir setengah tahun lho, kak, Aku kangen sekali.” Ucap Arya

    Suci tersenyum, anak muda itu tak pernah berubah dari dulu, selalu blak-blakan.
    “Dasar,” ucapnya sambil mencubit lengan Arya.
    “Beberapa hari lalu sepulang dari desa karangmojo, ketika kakak kerumahmu, kamunya tidak ada.”

    Arya hanya tertawa.

    “Eh..” tegur Suci.
    “Ngomong-ngomong kamu kok bisa sampai disini, katanya kamu pergi ke tempat pacarmu.”

    “Uh, kakak tahu juga soal itu.” ucap Arya.

    “Ayah dan Ibumu yang mengatakannya padaku.” tambah Suci.

    Arya tampak menggaruk-garuk kepalanya.
    “Begini kak, tempat pertemuan kami kan dekat dari sini, jadi sehabis menemuinya, aku langsung pergi ke sini, eh tapi ternyata kakak sedang pergi bersama paman, yang ada cuma adi prana sama bibi.”
    Ujarnya.
    “Pagi ini sebenarnya aku sudah akan mohon pamit kepada bibi dan adi Prana, tapi diluar dugaan dari ujung jalan aku melihat kalian berdua pulang, langsung saja aku minta pada adi dan bibi untuk merahasiakan kedatanganku untuk kejutan.”

    “Kamu…” Dengan gemas Suci kembali mencubit lengan Arya.

    “Aduduh….” Arya menarik tangannya
    “Kakak ini selalu saja mencubit lenganku. Sakit sekali lho, kak.”

    “Biar saja, siapa suruh kamu usil.” Balas Suci yang segera disambut oleh Arya yang tertawa lebar.

    “Ngomong-ngomong bagaimana, apakah kamu sudah mendapat jawaban?” Tanya Suci

    Arya menggeleng
    “Belum kak, tampaknya dia masih terlalu ragu untuk memberikan jawabannya…..” jawabnya.

    “Wanita bodoh….” Ucap Suci setengah bersungut.

    “Eh…!?” Arya menatap wajah Suci
    “Wanita Bodoh ….?”

    Suci mengangguk
    “Ya, pacarmu itu bodoh…….” ucapnya.
    “Masak ada pria setampan kamu melamarnya dia masih saja ragu…..”

    Arya terdiam

    Suci menghela nafas
    “Ah…. Arya, kalau saja kakak masih seumur kamu, kakak tak akan malu untuk bersaing dengan pacarmu untuk memperebutkanmu.”

    Arya kini menatap wajah Suci sambil tersenyum.
    “Jika benar itu terjadi aku akan menjadi bingung sekali.” ucapnya

    “Eh…..?!” Ganti Suci yang tertegun
    “Kok bingung……?”

    “Ya bingung dong kak, sebab mereka berdua sama cantiknya.” jawab Arya sambil masih tersenyum.

    Mendengar jawaban itu jantung Suci terasa berdetak semakin keras
    “E..eh…apa yang kamu bilang barusan?” tanyanya, warna merah tampak merambat naik di wajah wanita itu.

    Arya masih tersenyum sambil terus menatap wajah Suci.
    “Mereka berdua sama cantiknya.”

    Walaupun sebenarnya Arya sangat sering menggodanya, tapi khusus untuk saat itu juga Suci merasa bahwa ia tak akan tahan lagi mendengar pujian itu, ia memalingkan wajahnya. Wajahnya terasa panas sekali.
    “Ah sudah, jangan tatap aku lagi seperti itu.” Pintanya
    “Kita bicarakan hal yang lain saja.”

    “Iya deh..” ucap Arya.

    “Oh ya tadi ngomong-ngomong kakak hendak minta pendapatku soal apa?”

    Suci tersadar, ia jadi teringat dengan Pamungkas. ia menghela nafas panjang. dan segera saja ia menceritakan semua yang terjadi di malam itu.

    Mendengar hal itu Arya tampak tercenung, tapi hanya sebentar, karena jawabannya segera keluar.
    “Menurut pendapatku, sebaiknya kakak tunggu saja sampai orang itu membawa kelima mustika itu, kurasa jawaban kakak akan ketemu pada saat itu.

    “Menurutmu begitu ?” tanya Suci.

    Arya mengangguk.

    BAGIAN KEEMPAT

    Baik Arya, Suci, maupun Kyai Manggalapati terus memacu lari kudanya.

    Tegal Kawilarang masih jauh.
    Pagi itu dari orang-orang desa yang pergi mengungsi, mereka bertiga mendapatkan berita bahwa pasukan Sidokerto yang dipimpin langsung oleh Kanjeng Adipati telah tiba di tempat itu untuk menghadapi pasukan kadipaten Selogilang yang dipimpin langsung oleh Probomukti.

    Demi mengetahui berita itu, Arya disertai oleh Suci dan Kyai Manggalapati langsung berangkat menuju Tegal Kawilarang.

    Arya menggeratakkan giginya ketika ia sadar bahwa ia tak akan bisa tepat waktu apabila ia hanya mengandalkan kudanya.

    Oleh karena itu …………………
    “Paman !” Teriaknya kepada Kyai Manggalapati.

    “Ya ………… !?” Sahut Kyai Manggalapati

    “Paman Adipati dalam bahaya. Bila hanya mengandalkan kecepatan kuda tunggangan ini, mungkin kita tidak akan tepat waktu !” Susul Arya.

    “Tapi hanya ini kuda tercepat yang bisa kita dapat Arya !” potong Suci tanpa mengurangi kecepatan lari kudanya.

    “Benar Arya !” tambah Kyai Manggalapati.

    Arya menatap Suci dan Kyai Manggalapati berganti-ganti, sebelum akhirnya ……..
    “Kak Suci, Paman, usahakanlah agar bisa sampai di Tegal Kawilarang secepat mungkin,” ucapnya.
    “Kita berpisah disini ….”

    Usai berucap mendadak Arya melompat dari punggung kudanya, bersalto satu kali ke belakang.

    Ketika ia mendarat ke tanah mendadak saja sosoknya lenyap dari pandangan.

    Yang tampak hanyalah sebuah bayangan samar yang bergerak bagai kilat mendahului laju kuda yang sedang dipacu oleh kedua penunggangnya yaitu Suci dan Kyai Manggalapati itu. Dalam waktu sekejab saja bayangan samar yang tak lain adalah Arya yang sedang bergerak dalam kecepatan tinggi itu sudah tak nampak lagi dari pandangan.

    “Arya … !!” Suci nyaris berteriak.

    “Lintang Kemukus ……. !!” Desis Kyai Manggalapati.
    “Gila …. sesempurna itukah anak itu menguasainya ?”

    Lintang kemukus adalah ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang dikembangkan oleh kedua kakek Arya yaitu Kyai Kusumajaya dan Chen Siauw Lung.

    Ilmu ini pula yang dulu juga digunakan Kyai Kusumodahono untuk menundukkan Panembahan Rekso Bawono.

    Namun Kyai Manggalapati tidak sempat berlama-lama kagum, karena ucapan Suci menyadarkannya.

    “Kagumnya nanti saja ayah, anak itu dalam bahaya!” ucap Suci dengan nada penuh kecemasan.
    “Ia bisa saja nekat seperti dulu ketika menghadapi Panembahan Kolo Ireng.”

    Kyai Manggalapati tersadar.
    “Kau benar nduk … itu memang berbahaya sekali.” Sahutnya.

    ” ………………… Semoga saja Pamungkas sudah tiba disana sebelum anak itu.” tambahnya

    Mendengar ucapan itu Suci mendadak saja terdiam ketika ia teringat dengan janji yang diucapkan Pamungkas tempo hari untuk menghadapi sepak terjang Probomukti.
    Meskipun ia sependapat dengan ayahnya, namun tiba-tiba saja ia merasa berdosa karena mengandalkan kerelaan Pamungkas untuk melindungi Arya, pujaan hatinya.

    ……………………….

    Keduanya sampai di Tegal Kawilarang tepat pada saat Kanjeng Adipati Sidokerto sedang berhadapan dengan Probomukti, rupanya tidak seperti bentrokan pertama beberapa puluh tahun yang lalu, saat ini kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling membenturkan kekuatan pasukan terlebih dahulu.

    Probomukti menyeringai ketika melihat kedua tangan dari kanjeng adipati Sidokerto yang kini menyala kebiruan.
    “Rajah Narontoko, sebuah ilmu yang bisa digunakan sambil bergerak dengan kecepatan tinggi.” Geramnya.
    “Siasat Joko Keling, kakakmu dulu itu cukup bagus untuk menguras tenaga adi Rekso Bawono. Tapi itu tak berlaku untuk sekarang ini karena aku berbeda dengan adikku yang ceroboh itu.”

    Probomukti menatap kearah satuan tentara kadipaten Sidokerto yang telah bersiap dengan gelarnya.
    “Aku akan memecah gelar pasukanmu dengan Petir Sapu Jagatku” Ucapnya
    “Jika kau masih sayang dengan para punggawamu itu, kau harus mau menahan ilmuku ini.”

    Kanjeng Adipati Sidokerto Menggeratakkan giginya mendengar ucapan dari Probomukti itu. Ia tahu bahwa Rajah Narantoko tak akan mampu menahan dahsyatnya pukulan Petir Sapu Jagat.
    “Mereka tak ada hubungannya dengan pertarungan kita, Probomukti !” geramnya.

    Probomukti tertawa menggelegar
    “Aku tidak perduli !” sergahnya.
    “Bersiaplah!!”

    Sementara itu Suci dan Kyai Manggalapati merasa sedikit lega karena mereka tidak menjumpai Arya di pategalan luas itu. Walaupun mereka merasa heran juga. Apakah Arya tersesat jalan ? Begitu mereka bertanya dalam hati.

    Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama.
    Ketika mereka mendengar ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Kanjeng Adipati maupun Probomukti, mereka menyadari bahwa keselamatan Kanjeng Adipati dalam keadaan terancam.

    Namun mereka menyadari bahwa menghadapi Probomukti mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

    Harapan satu-satunya tinggal pada Pamungkas, namun sampai saat itu, sang petani dari Karangmojo belum terlihat tanda-tanda menampakkan diri …..

    Saat itu Probomukti sudah bersiap, tangan kiri Pertapa Sakti itu berpijar menyilaukan, sebagai pertanda bahwa ia siap melontarkan Petir Sapu Jagat.
    “Sebagai pemanasan, ini pukulan Petir Sapu Jagat dengan sepersepuluh tenaga dalamku.” Ucapnya sambil tertawa.
    “Terimalah Kanjeng Adipati …… !”

    Usai berucap, Probomukti menghantamkan kepalan tinju kirinya ke arah kanjeng Adipati Sidokerto.
    Saat itu juga diiringi oleh suara gemuruh yang mengerikan satu lidah api petir yang luar biasa menyilaukan meledak dari kepalan tinju Probomukti, menderu ganas melesat ke arah Kanjeng Adipati

    Tiada pilihan lain saat itu bagi Kanjeng Adipati, kecuali menahan serangan Petir Sapu Jagat itu karena jika ia menghindar, akan banyak sekali prajuritnya yang terbunuh oleh serangan itu.
    Saat itu juga langsung saja ia lontarkan Rajah Narantoko dengan sepenuh kekuatan.

    Dan akibatnya terjadilah sebuah benturan dahsyat yang mengakibatkan ledakan yang luar biasa, permukaan tanah bergetar hebat.

    Hasilnya memang sudah bisa diperkirakan. Kekuatan Probomukti memang mengerikan.

    Tubuh kanjeng Adipati terpental ke belakang dan jatuh terbanting dengan keras ke tanah ketika terjadi benturan.

    Sebisa mungkin orang nomor satu di kadipaten Sidokerto itu berusaha untuk bangkit. Namun ia gagal, dan kembali terjatuh.
    Kanjeng Adipati mengusap mulutnya ketika terasa olehnya cairan asin yang menggelegak keluar dari tenggorokannya. Segera dilihatnya cairan merah yang membasahi tangannya.
    Rupanya benturan kekuatan itu telah melukai bagian dalam tubuhnya.

    Sementara itu melihat Kanjeng adipati terluka, Kyai Manggalapati bergegas mendekat.
    “Aku tidak tahu, apakah aku akan berguna dalam pertarungan ini. “Tapi yang pasti aku akan menggantikanmu menghadapi orang ini.” Ucapnya kepada Kanjeng Adipati.

    Melihat kedua lawannya itu Probomukti tertawa keras.
    “Rupanya tidak perlu adanya gelar pasukan yang dikerahkan,” ucapnya.
    “Kali ini akan kuberikan sebuah pukulan yang menentukan. Akan kuakhiri kalian berdua sekaligus pasukanmu, kanjeng adipati …… ”

    Usai berucap, sambil menggeram panjang Probomukti mengacungkan tinjunya ke arah langit, dan pada saat itu juga tampaklah pijar ledakan-ledakan lidah api petir yang berloncatan dari udara dan memasuki kepalan tinju Probomukti.

    Suasana mendadak berubah drastis menjadi begitu mencekam. Aura kengerian yang luar biasa bertebaran memenuhi udara.

    Pertapa sakti itu rupanya benar-benar serius dengan ucapannya menggunakan kekuatan Penuh dari Petir Sapu Jagat untuk mengakhiri perlawanan dari kanjeng Adipati Sidokerto maupun pasukannya.

    Tak lama kemudian Probomukti kembali beralih kepada kanjeng Adipati Sidokerto sambil menyeringai penuh kemenangan. Ditariknya kepalan tinjunya yang kini berpijar menyilaukan itu ke belakang sebagai pertanda bahwa ia akan segera melontarkan ilmunya yang mengerikan itu.
    “Terimalah ini Kanjeng Adipati, dan musnahlah ……!”

    Sambil berteriak menggelegar, Probomukti menghantamkan tinjunya ke depan dan saat itulah satu pijar lidah api petir yang luar biasa menyilaukan meledak dari kepalan tinjunya. Diiringi suara gemuruh yang mengerikan, pijar cahaya penghancur itu menderu ganas menerjang ke arah Kanjeng Adipati yang dibelakangnya berdiri ribuan pasukan Sidokerto.

    Tapi pada saat yang kritis itu, tiba-tiba satu sosok hitam bercaping muncul, berkelebat cepat memotong lontaran petir itu dengan sebuah pukulan.

    Dan ketika dua pukulan tenaga dalam itu berbenturan, ledakan yang mengerikan pun terjadi, dataran tanah tegal kawilarang berguncang dengan dahsyatnya.

    Akibat benturan itu, sosok bayangan yang tak lain adalah Pamungkas itu terpental beberapa lompatan ke belakang dan jatuh bergulingan. Sedangkan Probomukti hanya terdorong satu langkah ke belakang. kekuatan yang didapatnya dari peleburan Warak Mustiko Geni benar-benar telah melindunginya. Probomukti unggul dalam daya pertahanan !

    Di tempatnya berdiri Suci memalingkan wajahnya ketika melihat lelaki yang mengaguminya itu terpental. meski ia tidak menaruh perasaan apapun terhadap laki-laki itu, tapi demi pemandangan yang seperti itu mau tak mau ia merasa iba juga.

    Sementara itu ditempatnya jatuh, Pamungkas tampak terbatuk-batuk sambil menekap dadanya. darah tampak meleleh dari mulutnya, membasahi janggut dan bajunya. Tampak jelas bahwa benturan kekuatan tadi telah melukai bagian dalam tubuhnya. Seperti halnya yang dialami oleh Kanjeng Adipati.

    Semula Kyai Manggalapati bermaksud bergerak memberikan bantuan, tapi niat itu ia hentikan ketika Pamungkas memberi isyarat agar Kanjeng adipati dibawa menjauh.

    Melihat keadaannya lawannya itu Probomukti tertawa mengerikan. Apalagi ketika ia mengenali ciri-ciri si Petani dari Karangmojo itu sebagai orang yang telah mengalahkan Raden Sentanu.
    “Kau rupanya.” sergahnya
    “Kau mau mengadu kekuatan Petir Sapu Jagat curian itu dengan gegedug perguruan sapu jagat . Bermimpilah untuk bisa selamat dari pertarungan ini.”

    Mendengar ucapan dari Probomukti itu, Pamungkas bangkit dan berdiri sambil mengusap darah yang membasahi mulutnya.
    “Kau melebur lima Warak Mustiko Geni hingga kekuatanmu bisa menjadi mengerikan seperti ini. Tapi aku membutuhkan kelimanya untuk bisa mendapatkan jawaban dari wanita pujaan hatiku. oleh karena itu sudah tiba waktuku untuk serius.” Ucapnya.
    “Untuk itu aku tak akan kalah olehmu.”

    Probomukti menggeratakkan giginya.
    “Jadi yang tadi itu belum serius ? Dasar tidak tahu diri, kalau begitu maumu, berarti sudah tiba saatmu untuk mati !” geramnya.
    “Terimalah ini, Petir Sapu Jagat dengan seluruh kekuatanku, terimalah atau musnah seluruh pasukan Sidokerto.”

    Usai berucap Pertapa sakti itu mengepalkan tinjunya erat erat menghadap langit. dari mulutnya terdengar geraman panjang pertanda bahwa pertapa itu sedang mengumpulkan seluruh kekuatannya.
    Diiringi oleh gemuruh suara ledakan-ledakan petir yang menggelegar, tampak adanya lidah-lidah api petir yang berloncatan dari udara dan masuk berkumpul di kepalan tinju Probomukti

    Sementara itu melihat lawannya bersiap, Pamungkaspun tak membuang waktu lagi.
    “Yang satu ini untukmu, Suci.” desisnya.

    Dengan kaki mengangkang dikepalkannya tinjunya erat-erat, seperti halnya Probomukti, Pamungkaspun langsung mengumpulkan seluruh kekuatannya, hanya saja kali ini melalui kedua tinjunya. Ya dan saat itu pula tampak lidah-lidah api petir berloncatan dari udara dan masuk berkumpul di kedua tinju Pamungkas. Dipusatkannya seluruh nalar budinya untuk mengangkat seluruh kekuatan yang mungkin saja masih ia punya, karena ia tahu untuk yang satu ini tidak ada kesempatan berikutnya bila ia sampai tidak berhasil.

    Kembali kepada Probomukti yang telah siap, sambil menatap Pamungkas yang masih mengumpulkan kekuatan
    “Terimalah……” Tapi mendadak ucapannya terhenti

    “Dia…dia menggunakan dua tinju….!!?” desisnya.
    “K.Kurang ajar… setan mana yang telah merasuki orang itu hingga ia bisa menggunakan Petir Sapu Jagat pada kedua tinjunya…..’

    “DASAR KURANG AJAAARRRR!!!!”

    Sambil berteriak mengerikan Probomukti melontarkan Ajian Pamungkasnya, Petir Sapu Jagat dengan seluruh kekuatan.

    Diiringi oleh suara gemuruh dan getar permukaan bumi yang mengerikan, Pijar Lidah Api Petir yang luar biasa terang benderang kembali meledak dari kepalan tinju Probomukti, melesat dengan kecepatan yang luar biasa menderu ganas ke arah Pamungkas.

    Sementara itu melihat lawannya telah melontarkan ajiannya, Pamungkaspun tidak membuang waktu lagi, ia segera melontarkan jurus serupa dengan tinju kanannya.

    Sekali lagi terjadilah benturan tenaga yang sangat mengerikan, tegal Kawilarang berguncang bagaikan dilanda gempa bumi yang dahsyat. baik pasukan Sidokerto maupun Selogilang berhamburan menyelamatkan diri mereka masing-masing dari hempasan angin pukulan Petir Sapu Jagat ataupun hentakan guncangan. Namun usaha itu agaknya agak sia-sia karena sebagian besar dari pasukan Sidokerto yang terlalu dekat langsung roboh berkaparan di tanah ketika tiba-tiba tubuh mereka terasa dijalari serangan kesemutan yang hebat ketika kedua ilmu dua orang pendekar itu berbenturan.

    Ditempatnya berdiri, karena sebelumnya ia sudah terluka, Pamungkas merasakan dadanya bagaikan dihantam batu sebesar gunung anakan. Darah kembali menyembur dari mulutnya dan hidungnya, tapi dengan sekuat daya ia mencoba bertahan, dan berhasil, walaupun terdorong surut jauh ke belakang, ia tidak terjatuh, dan saat itu pula ia menghentakkan seluruh nalar budi dan kekuatan yang masih tersisa untuk melompat.

    Sementara itu Probomukti terdorong surut satu langkah, seperti tadi, benturan tenaga itu tidak mempengaruhinya.

    Sesaat pertapa sakti itu tertawa keras ketika menyadari bahwa ia memenangkan adu tenaga, namun mendadak tawanya itu terhenti ketika melihat sosok Pamungkas yang melayang diudara kearahnya, membelah debu yang bergulung-gulung dan langsung melancarkan pukulan dengan kepalan tinju kirinya yang berpijar.

    Dengan segenap daya Probomukti berusaha menahan serangan itu. Tapi yang dihadapinya saat itu adalah pukulan tinju yang dilambari oleh kekuatan Petir Sapu Jagat.

    Sekali lagi terjadi ledakan yang mengerikan, bagaikan tersambar oleh ledakan petir, pandangan mata Probomukti langsung menjadi gelap. Tubuh Pertapa sakti itu meliuk ke belakang sebelum akhirnya roboh ke tanah tak bergerak.

    Sementara itu sekali lagi tubuh Pamungkas terlempar ketika terjadi benturan, ya kali itu adalah benturan kekuatan Petir Sapu Jagat melawan kekuatan Warak Mustiko Geni yang melindungi tubuh Probomukti.

    Tubuh Pamungkas jatuh terbanting ke tanah dengan keras. Namun entah mendapat kekuatan dari mana, Petani dari Karangmojo itu langsung bangkit dari jatuhnya, dengan darah yang masih bercucuran dari mulut dan hidungnya dan dengan langkah yang terseok-seok, laki-laki itu berjalan menghampiri tubuh Probomukti, untuk sesaat ia berjongkok disamping Pertapa Sakti itu.
    Semuanya seperti tersihir ketika melihat itu semua. Terpaku di tempat mereka masing-masing.

    Sesaat kemudian Pamungkas berdiri kembali, dengan langkah susah payah dan dipaksakan, Petani dari Karangmojo itu menyeret kakinya berjalan ke arah Suci.

    Dihadapan wanita pujaan hatinya itu sang Pamungkas berhenti melangkah, dengan tubuh gemetar ia paksakan tersenyum dan mengulurkan telapak tangannya kepada Suci, di atasnya tampak bersinar lima buah permata dengan lima warna yang berbeda. Lima dari tujuh Warak Mustiko Geni sisanya telah ia kembalikan.

    “S … Sekar Melati Suci….” ucap Pamungkas dengan suara parau dan bergetar karena tercekat oleh darah yang masih mengalir berceceran dari mulut dan hidungnya.
    “Kuberikan lima sisanya. Tapi tolong jangan kau jawab dulu pertanyaanku, sebab jawaban apapun yang kau berikan ……. a …..akan membunuhku.. sa..saat ini.”

    Usai berucap mendadak tubuh Pamungkas terhuyung dan jatuh terhempas ke tanah. Petani dari Karangmojo itu jatuh tak sadarkan diri dihadapan wanita pujaan hatinya.

    Semuanya terpaku

    Suci tersentak, seperti disadarkan akan sesuatu ia langsung saja berlutut memeriksa Pamungkas, dengan hati yang cemas di bersihkannya wajah dan mulut Petani dari Karangmojo itu dari darah dan tanah yang melekat.
    Namun saat itulah terjadi satu hal yang diluar dugaan.

    Ketika Suci mengusap wajah Pamungkas, janggut, kumis, dan cambang di wajah Petani dari Karangmojo itu terlepas dan jatuh ke tanah. Benda-benda itu ternyata hanya dilekatkan dengan semacam pelekat yang akhirnya lepas karena basah terkena darah.

    Dan pada saat itu pula Suci kembali tersentak, seraut wajah terpampang jelas pada pandangan mata Suci, seraut wajah pemuda yang selalu tersenyum kepadanya apabila mereka bertemu.
    Saat itupun wajah itu masih menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum kelegaan atas telah terselesaikannya sebuah janji.

    “Arya…..?” desis kanjeng adipati yang lebih dulu menyadari keadaan.

    “Arya…..?” Kyai Manggalapati seolah tak percaya dengan penglihatannya.
    Semuanya terpaku.

    Ya benar adanya, manusia perkasa yang berjulukan Petani dari Karangmojo, alias Pamungkas, tak lain adalah anak tunggal dari Kyai Kusumodahono. Arya, Pemuda yang selama ini menjadi pujaan hati Suci.

    Saat itu juga Suci tak kuasa lagi menahan dirinya. Air matanya jatuh berderai-derai ketika ia menyadari siapakah sang kekasih yang hendak ditanyakan ketegasannya oleh Arya. Seorang wanita yang disebutnya sebagai wanita bodoh itu.

    Wanita itu tak lain adalah dirinya. Sekar Melati Suci.

    Dengan air mata yang terus bercucuran, perlahan diangkatnya pemuda itu ke gendongannya, dalam hatinya ia berkata …………….
    “Baiklah Pamungkas, aku menerimamu …………..”

    Catatan :
    Petir Sapu Jagat : Jurus mematikan yang diperoleh dengan cara menyerap arus listrik dari udara melalui kepalan tinju dan dilontarkan dalam wujud lidah api petir.
    Warak Mustiko Geni : tujuh buah batu permata beradiasi tinggi yang memiliki fungsi meningkatkan tenaga dalam pemakainya serta membangkitkan kekebalan tubuh terhadap serangan. Tingkat kekuatannya bergantung dari jumlah permata yang dipakai.
    Bidadari Busur Pelangi : Modifikasi dari jurus maut milik Chen Hai Lin yaitu Badai Petir Gunung Hoa San. Dimodifikasi sedemikian rupa jurus yang keras dan ganas itu sehingga menjadi gerakan jurus yang lebih sesuai untuk perempuan.

    Karakter

    Nama : Arya
    Nama asli : Arya Pamungkas (Perwira Terakhir)
    Usia : 17 tahun
    Jenis Kelamin : Laki-laki
    Tempat lahir : Desa Karangwaru
    Pekerjaan : Petani
    Kegemaran : Membaca

    Putra tunggal dari Kyai Kusumodahono yang pada awalnya bernama Arya Pamungkas. Disebabkan oleh karena ayah dan ibunya tidak kunjung mendapatkan lagi keturunan, atas nasehat orang-orang tua di desanya maka nama Arya Pamungkas diubah menjadi Arya saja. Meski sebenarnya tidak mempercayai tahyul semacam itu, tapi karena tidak mau ribut dengan tetangganya, akhirnya Kyai Kusumadahono mengalah dan mengganti nama anaknya itu.

    Nama : Suci
    Nama lengkap : Sekar Melati Suci
    Usia : 22 tahun
    Jenis Kelamin : Perempuan
    Tempat lahir : –
    Pekerjaan : Petani
    Kegemaran : Berlatih ilmu pedang bersama Nyai Kusumodahono

    Sebenarnya Kyai Manggalapati bukanlah ayah kandungnya, tapi ia menyayangi Suci seperti anak kandungnya sendiri. Suci juga sudah tahu hal itu, tapi ia tidak mempermasalahkannya.

    Nama : Kyai Manggalapati
    Nama muda : Bayu Manggalapati
    Usia : 45 tahun
    Tempat lahir : Kadipaten Sidokerto
    Pekerjaan : Petani
    Kegemaran : Bertani

    Ia adalah sahabat dekat dari Kyai Kusumodahono yang telah menganggapnya sebagai saudaranya sendiri. Ia adalah putra mahkota dari Adipati Sidokerto, meletakkan haknya sebagai putra mahkota dan memberikan haknya itu kepada suami dari adiknya yang notabene adalah adik sepupu dari Kyai Kusumodahono, karena bermaksud untuk mencegah dirinya dari bertindak sewenang-wenang sebagai adipati terhadap seorang wanita yang menolak cintanya.

    Nama : Kyai Kusumodahono
    Nama muda : Joko Keling
    Julukan : Topeng Kayu Terpejam
    Usia : 47 tahun
    Tempat lahir : Desa karangwaru
    Pekerjaan : Petani
    Kegemaran : Bertani

    Ia adalah ayah kandung dari Arya

    Nama : Nyai Kusumodahono
    Nama muda : Mei Hwa Chen
    Usia : 42 tahun
    Tempat lahir : Xian
    Pekerjaan : Petani / Ibu Rumah Tangga
    Kegemaran : Berlatih ilmu pedang

    Ia adalah ibu kandung dari Arya sekaligus guru ilmu pedang dari Suci. Ia wariskan jurus rahasia bidadari busur pelangi kepada Suci dengan satu alasan, karena ia tidak memiliki anak perempuan. Tindakannya itu sungguh tepat karena di kemudian hari, dengan ilmu itu pula Suci berhasil melindungi Arya yang sedang tidak sadarkan diri dari ancaman gerombolan Kolo Ireng.

    Nama : Melati
    Usia : 41 tahun
    Tempat lahir : –
    Pekerjaan : Ibu rumah tangga
    Kegemaran : berkebun

    Ia adalah ibu kandung Suci. Ia bertemu kembali dengan Kyai Manggalapati ketika ia dalam keadaan kritis hendak dibunuh oleh putra dari Panembahan Kolo Ireng. Ia dan putrinya yang baru lahir dibawa oleh Kyai manggalapati ke desa Karangwaru untuk meminta pertolongan kepada Kyai Kusumadahono.
    Setelah beberapa waktu kemudian akhirnya ia melangsungkan pernikahan-nya dengan Kyai Manggalapati.

    Salam buat Ki Gede dan Mas Senopati mugi sehat selalu.

  19. Maaf Ki Senopati…

    Sedang apakah…. dipadepokan ini….
    kok ramai sekali….seperti sedang menunggu… sesuatu
    apakah ada pembagian beras…..
    atau ada pembagian BLT…..

    kalao memang ada… bolehkah… ikutan untuk antre….

  20. Jalan-jalan keliling padhepokan dulu ah, sambil nunggu jengkarnya nawala 144

  21. wahhh… suwe-suwe critane mlayu seko MATARAM nang TEPUS, ojo-ojo kitabe.. kegowo bis JOGJA-WONOSARI…

  22. Betul sedulur-sedulur, Ki Gede sama Ki Senopati jangan dikuyo-kuyo, mesakake, soalnya sudah kerja super keras selama ini menghadirkan sampai 144 buku.

  23. Para sanak kadang semua,Kitab 93 dan 94 ada versi djvu nya apa enggak ya?
    Kalau memang ada mohon bantuannya untuk memberikan informasi mengenai keberadaan kitab tersebut, soalnya pengin dikoleksi. Matur nuwun sebelumnya ya.

  24. KI Agung…
    Versi djvu sudah dimasukan ke peti… diawetkan…
    Kalo mau, Ki Agung mau ngasih apa? ngajak traktir??

  25. Mencoba mengamati secara menyeluruh dan tidak sepotong sepotong, maka agak bingung menguraikan maklumat seperti terkutip dibawah ini …

    Mohon sabar bagi para cantrik
    Mohon menunggu hingga esok hari.

    Salam kenal.

    ttd

    Senopati

    Telah Terbit on 11 Februari 2009 at 05:24

    hari ini Tangal 14 Pebruari 2009, dikarenakan kutipan dimaksud diyakini juga pada dimensi tahun yang sama maka kalimat hingga esok hari itu sangat bias dan membingungkan …

    nuwun sewu….Ki Senopati…

    $$ ki Jaka Pekik sekarang bicara dengan Senopati bukan dengan ki Sukra. mohon dibedakan.

  26. Ki Terangguk-angguk, jadi dulunya kitab 93 dan 94 versi djvu sempat jengkar dari peti penyimpanan pusaka ya? Hehehe …. terima kasih sekali jika Kisanak berkenan untuk meminjamkannya. Soal traktir-mentraktir, mau nggak kalau ditraktir dengan kitab ADBM 1 – 90 versi lit, atau kitab Nagasasra Sabuk Inten (lit), atau Tanah Warisan (lit), atau Suramnya Bayang-bayang (doc)? Semua kitab itu dari Empu Singgih Hadi Mintardja (alm).

  27. Hari Kasih Sayang, seharusnya poro contrik oleh hadiah bonus dari ki GD.
    Tapi sampai detik ini, jangankan bonus, yg harian pun masih belum dapat.
    Meski para cantriknya udah sepuh2, tapi tetap mengharapkan kasih sayang dari ki GD semoga kitab nya segera di wedar.

    Ni semangkin ga minta hadiah dari ki GD ????

  28. @Ki Agung Raharjo
    Kalo kitab Istana Yang Suram punya gak, klo ada boleh sekalian minta traktirannya tuh..he…he
    Belum pernah nyoba’in masakan yang itu…
    he..he..

  29. Ki Senopati yang Mulia
    Ki Senopati yang gagah perkasa

    Nuwun sewu Ki, mohon maaf ki, kinerja yang Mulia Ki Senopati sangat mengecewakan, janji Ki Senopati yang Gagah Perkasa tidak bisa di pegang.
    Cantrik sangat kecewa

    Nuwun sewu

    ttd
    cantrik

  30. rupanya telah terjadi sertijab ,
    salam kenal ki Senopati ,
    rupanya dengan adanya Senopati program padepokan ini akan menjadi sangat jelas bagaimana perkembangannya, agar para canrik tidak gelisah dan menunggu harap2 cemas , bagaimana penugasan kelompok – kelompok juru scan, juru edit,juru upload dan juru tik… apakah ada perubahan tugas atau masih tetap lancar-lancar saja,
    apa para cantrik yg banyak ini harus turun semua utk membantu/mempercepat panen nya kitab yg ada…

    mohon maaf hanya bisa urun rembug suara..
    salam utk semuanya

  31. Ki Sabung Ayam Sari….
    Nyuwun sewu, kalo kitab Istana Yang Suram saya nggak punya.

  32. Akankah ini menjadi esok yang tanpa akhir …….. semoga tidak 😀

  33. Ki Agung…
    yang di tawarkan itu, saya sudah pernah nyicipi… klo sayap2 yg terkembang gmana? yg skr lg di muat di KR

  34. sabar..sabar.. kitabnya bakalan tetep muncul.

    lanjut nganglang padukuhan sebelah wetan

  35. Nyuwun Sewu Ki Senopati…..bukan bermaksud deksura, kami sudah diinfokan mengenai kedudukan Ki Senopati dan bukan lagi Ki Sukra, namun biasnya informasi dalam penantian nan panjang ini memang menggelisahkan, walau kami sesungguhnya bisa memahami pembenahan administartif yang mungkin sedang dilakukan.

  36. Khan menunggu hingga esok hari
    Sabar aja
    Soalnya ini persis kayak “Sekarang Bayar Besok Gratis”
    he he he he he he
    Bcanda Oom Seno

  37. boycott ?
    nggak ?
    boycott ?
    nggak ?

    mbuh lah sekarep… 😛

    sante sik cah…

    gak sah digatekke…

  38. Ki Agung Raharjo, cek emailnya ya…

  39. udah ada cover nih.

  40. Ada cover ada harapan…. 🙂

  41. SENOPATI TINGAL DI MANA SIH? KOK TANGGALANYA TERTINGGAL 1 HARI???

  42. WUih….Saiki kuwalik co..konco…biasane geber iku nang ngarep penonton….tapi rek iki enek geber tapi nang buri penonton…berarti tanggale yo diwalik dadi 2/14/2009….dadi kitabe muncul tanggal 2 bulan 14 tahun 2009.

  43. Buat Kisanak berdua yaitu Adik Nunu dan Jaka Pekik, matur nuwun informasinya ya, sekarang kitabnya lagi diunduh.

    Buat Kisanak Terangguk-angguk, nyuwun sewu nggak punya kitab Sayap-sayap Terkembang, tapi silakan baca lembaran-lembaran rontalnya di http://www.kr.co.id/web/

  44. matur nuwun Ki Senopati …. salam kenal lan sampun diunduh kitabnya

  45. Matur nuwun Kanjeng Senopati, rangsumnya sudah diambil.

  46. hatur nuhun KI GD / KI SENOPATI kitab dah di sedooooot

  47. akhirnya…..klik muncul 144.ppt…matur sembah nuwun senopati…..sugeng tetepangan saha sugeng makarya minangka pangemban pangembating para cantrik lan kawula dasih

  48. Makasih Oom Seno

  49. hatur nuhun senopati,,,,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: