Buku II-44

Mohon sabar bagi para cantrik

Mohon menunggu hingga esok hari (14-02-2009).

 

Salam kenal.

ttd 

Senopati

Update:
Terimakasih buat Ki Banuaji atas ketikannya.
Ditunggu partisipasi cantrik yang lain.

Laman: 1 2

Telah Terbit on 11 Februari 2009 at 05:24  Comments (324)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-44/trackback/

RSS feed for comments on this post.

324 KomentarTinggalkan komentar

  1. Senopati… gelar nya apa yaa….
    Thanks kitapnya

  2. Matur nuwun, kang Senopati.
    Ternyata kang Senopati, bebahu raformative, bisa menerima masukan para cantriknya…
    Sekali lagi ..Matur Nuwun

  3. Para sanak kadang semua, berhubung Versi DJVU-nya pengin dikoleksi.
    Adakah Kitab ADBM I versi djvu-nya? Kalau memang ada mohon bantuannya untuk memberikan informasi mengenai keberadaan kitab tersebut.
    Saya sudah mencoba mencari keberadaan kitab tersebut di Bundel ADBM 1 s/d 120, ternyata yang diketemukan Kitab 90 keatas.
    Mohon informasinya.
    Terima kasih sebelumnya.

    BONAN

  4. Akhirnya …. datang juga..
    Terimakasih mbak Seno,
    Tentunya akan jadi lebih tertib, rapi dan ….
    sering ada bonusnya…

  5. Teng yu…teng yu…Kakang Senopati, akhirnya…

    matur suwun

  6. Matur nuwun Ki GD, Ki Senopati …
    Kitab sampun dipun tampi kanti selamet…
    tapi selamet minta ijin pulang duluan..

  7. Ki Agung…
    yang saya dapat memang dari KR… cuma sepotong2..
    yang lembaran lontar dari 145 sampe 800an tidak dapat saya temukan…

    tengkiu ki gede…. tengkiu tengkiu

  8. maturnuwun Ki Seno..

    Lanjut nganglang nang Kidul

  9. Waduh, lha tak kira ki nek wis ana paling ora 2 kitab. E… ternyata malah harus menunggu hari esok. Ya wis, mbukak e sesuk we… Pareeennnngggg…..

  10. waktu masuk pendapa kok kosong … setelah direfresh eh ternyata sudah tersedia …
    nuwun Ki Gede & Ki Senopati
    ayo poro cantrik ora ngrusuhi Ki Gede & Ki Seno … ndhak 145 mengko telat … ayo pindah gandok sebelah

  11. trims ki sanak sedaya

  12. tengkiu Ki Gede dan anakmas seno…

  13. Luar biasa kakang,..matur nuwun,..

  14. Wah saya sampe nggak bisa bicara banyak lagi….

    Ki Gede dan anakmas senopati, matur nuwun sanget atas kitabnya ….

    Nyuwun ngapunten bila selama ini kami sering tidak sabaran.

  15. Ki GD/Kangmas Seno
    Ma’acih kitabnya yah,….

    Muuuaaaccchhh!!!

  16. sekedar iseng, sambil menunggu kitab 153

    kitab 144 hal 07 s/d 25

    KIAI Gringsing dengan tergesa-gesa mendekatinya. Dengan nada berat ia bertanya, “Bagaimana Agung Sedayu?”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengangkat tangannya dan kemudian menggeliat. Sementara Ki Waskitapun mendekatinya pula.

    “Ujung Cambuk guru di saat terakhir terasa menggoyahkan pertahanan ilmuku. Jika guru mengulanginya, aku kira, aku akan merasakannya, meskipun tidak terlalu tajam.” jawab Agung Sedayu.

    Kiai Gringsing menepuk bahu muridnya. Katanya, “Ilmumu sudah hampir sempurna. Tetapi ingat, bahwa yang sempurna itu tidak ada.”

    “Ya, guru.” sahut Agung Sedayu.

    “Kau sudah mempunyai bekal yang cukup untuk berada di daerah jelajah orang-orang berilmu tinggi dalam olah kanuragan. Kau mempunyai kemampuan melindungi dirimu dengan ilmu kebalmu. Sementara kau mempunyai kemampuan menyerang dengan tatapan mata yang jarang ada bandingnya.” berkata gurunya. Namun kemudian, “Tetapi itu tidak berarti bahwa ilmumu tidak ada yang dapat mengatasinya. Contoh yang paling mudah aku sebut adalah anak muda yang hampir sebaya dengan kau sendiri, yaitu Raden Sutawijaya. Pada saat kau hampir menjangkau tingkat ilmunya, Raden Sutawijaya telah berhasil meningkat lebih tinggi lagi.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak merasa iri. Ia merasa bahwa wajar sekali jika ia tidak akan dapat berdiri setingkat dengan Raden Sutawijaya dan mungkin juga Pangeran Benawa. Ia sudah merasa berterima kasih dengan keadaannya. Karena itu, maka katanya, “Kurnia yang aku terima sudah terlampau banyak guru. Karena itu, tidak sewajarnya aku merasa kecewa. Akupun sadar, bahwa tentu bukan hanya Raden Sutawijaya atau Pangeran Benawa. Masih banyak orang yang memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari ilmuku. Mungkin orang-orang yang berada di sekitar Sultan Hadiwijaya, mungkin orang-orang Mataram atau orang-orang di padepokan yang tersebar.”

    “Kesadaranmu itu akan bermanfaat bagi sikap dan pandangan hidupmu Agung Sedayu.” berkata Ki Waskita, “Peliharalah kesadaran itu di dalam hatimu. Meskipun demikian, semuanya itu tidak menutup kemungkinan bagimu untuk meningkatkan ilmumu lebih tinggi lagi, asal kau tetap berpegang kepada ajaran gurumu. Kau tidak boleh melupakan Sumber dari segala sumber dari segala yang hidup dan terbentang di atas cakrawala ini. Kurnia itu kau terima dari pada-Nya, karena itu harus kau pergunakan bagi kebesaran nama-Nya.”

    Agung Sedayu mengangguk sambil berdesis, “Aku akan selalu mengingatnya.”

    Dalam pada itu, Kiai Gringsingpun kemudian berkata, “Untuk sementara kita sudah selesai Agung Sedayu. Kau sudah meningkat selapis pada satu segi ilmu yang kau miliki. Ingat, pada satu segi saja, yaitu ilmu kebalmu. Hanya itu.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terbersit pernyataan syukur dan terima kasih atas kurnia yang telah diterimanya. Betapa banyaknya, disertai dengan segala tanggung jawab yang sebanyak itu pula.

    Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsingpun berkata, “Kerja hari ini sudah selesai Agung Sedayu. Kau sudah memiliki sesuatu yang jarang dimiliki orang lain. Kau sudah memiliki sesuatu yang jarang di dunia ini. Namun kau sudah semakin dekat dengan yang sempurna menurut ukuran ilmu, meskipun kau masih belum dapat menahan hentakkan ujung cambukku, apalagi jika serangan semacam itu terulang sampai tiga empat kali, maka ilmumu itu akan dapat tertembus juga. Dan itu sudah kau sadari.”

    “Ya guru.” jawab Agung Sedayu.

    “Jika demikian, bersitirahatlah untuk beberapa hari. Kau masih mempunyai kewajiban terhadap Glagah Putih. Kau harus meningkatkan ilmunya. Namun kemudian kaupun masih harus meningkatkan ilmumu pada segi yang lain. Di samping ilmu kebalmu, maka kau memerlukan peningkatan pada unsur serangan dengan sentuhan wadag dan bukan wadag.” berkata gurunya kemudian.

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya pula, “Ya guru.”

    “Sekarang, kita dapat meninggalkan sanggar ini.” berkata Kiai Gringsing. Lalu katanya, “Kau memerlukan istirahat sebaik-baiknya Agung Sedayu.”

    Merekapun kemudian meninggalkan sanggar itu. Glagah Putih yang gelisah dengan tergesa-gesa segera menyongsong mereka. Namun ia menarik nafas panjang ketika dilihatnya, bahwa Agung Sedayu sama sekali tidak mengalami keadaan seperti saat ia keluar dari sanggar setelah sehari semalam ia menutup diri.

    Demikianlah, maka untuk beberapa hari kemudian, Agung Sedayu sendiri benar-benar telah beristirahat. Tetapi dalam istirahatnya, ia telah mulai lagi dengan latihan-latihan bagi Glagah Putih, karena anak itu rasa-rasanya tidak sabar lagi menunggu. Meskipun ia sadar, bahwa Agung Sedayu baru saja sembuh, namun dengan nada mendesak ia berkata, “Kakang tidak usah berbuat apa-apa. Kakang hanya memberikan aba-aba. Aku akan berlatih sendiri selama keadaan kakang masih belum memungkinkan.”

    Tetapi Agung Sedayu tidak melepaskannya. Iapun telah terlibat dalam latihan-latihan yang semakin berat di dalam sanggar dan kadang-kadang di kebun belakang padepokan di malam hari.

    Namun keadaan Agung Sedayu sudah menjadi pulih kembali. Karena itu, ia dapat berbuat seperti yang diinginkan oleh Glagah Putih. Bahkan kadang-kadang dengan Ki Widura dan Sabungsari. Malahan kadang-kadang Ki Waskita dan Kiai Gringsingpun ikut menungguinya pula.

    Tetapi untuk sementara Agung Sedayu masih mempergunakan unsur-unsur dair ilmu yang temurun lewat Ki Sadewa. Ia menghendaki agar Glagah Putih menguasainya dasar-dasar ilmu itu. Baru kemudian, ia dapat melengkapi ilmu itu dari sumber yang berbeda, meskipun Agung Sedayu menyadari, jika ilmu yang temurun lewat Ki Sadewa itu dipelajari sampai tuntas, dengan segala macam syarat keharusan dan pantangannya, ilmu itu sendiri sudah merupakan ilmu yang pilih tanding.

    Meskipun Agung Sedayu sendiri tidak menceriterakan apa yang telah dilakukannya, namun ternyata Glagah Putih dengan tidak langsung mengetahui bahwa Agung Sedayu telah memperdalam ilmu kebalnya. Sehingga dengan demikian, maka Glagah Putih itupun mengerti, bahwa Agung Sedayu adalah seorang yang kebal.

    Glagah Putih sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia ingin melakukan sesuatu. Ketika Agung Sedayu sehabis mandi sedang duduk di pendapa di sore hari bersama Sabungsari yang datang ke padepokan itu pula, seolah-olah di luar kehendaknya sendiri, Glagah Putih telah mengambil upet yang membara di dapur. Upet yang selalu menyala sehingga setiap kali diperlukan api, tidak perlu lagi membuatnya dengan batu thithikan.

    Tidak ada yang memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Glagah Putih. Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu telah dikejutkan oleh ujung upet yang menyala itu telah menyentuh kakinya. Dengan serta-merta iapun meloncat selangkah, sehingga Sabungsaripun terkejut pula dan dengan sigapnya telah meloncat bangkit.

    “O!” Glagah Putihpun terkejut. Wajahnya menjadi tegang. Namun kemudian terdengar suaranya gemetar, “Maaf kakang. Aku kira, aku tidak akan mengejutkan kakang.”

    “Apa yang kau lakukan Glagah Putih?” bertanya Sabungsari.

    Glagah Putih menjadi tergagap. Namun kemudian Sabungsaripun menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya kaki Agung Sedayu terluka bakar oleh ujung upet yang membara itu.

    “Aku kira, kakang Agung Sedayu telah menjadi kebal.” desis Glagah Putih dengan jantung yang berdebaran.

    Agung Sedayu meraba kakinya yang terluka. Kemudian sambil tersenyum ia duduk kembali, meskipun hatinya masih berdebar-debar. Sementara Sabungsaripun tersenyum pula.

    Keributan kecil itu telah memanggil orang-orang tua yang berada di ruang dalam. Namun merekapun tertawa pula ketika mereka mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Glagah Putih.

    “Aku minta maaf.” desis Glagah Putih.

    Kiai Gringsing yang masih saja tertawa berkata, “Satu pengetahuan yang baik bagimu Glagah Putih. Ilmu itu tidak setiap saat berlaku. Ia memerlukan saat-saat tertentu, ketika diperlukan. Seseorang harus mengetrapkan ilmunya dengan pemusatan nalar dan budi. Sebagaimana kau mulai dengan mengetrapkan tenaga cadangan. Ia tidak langsung berlaku pada setiap saat diperlukan sebelum ditrapkan dengan sengaja dan sadar.”

    Glagah Putih hanya menundukkan kepalanya. Namun iapun menjadi yakin. Baru kemudian ia sadar, bahwa sebenarnyalah ia ingin membuktikan arti dari kekebalan seseorang. Dan ternyata pada keadaan wajar, seorang yang disebut kebal itupun tidak kebal. Agung Sedayu telah disengat oleh panasnya api di ujung upet, bahkan kulitnyapun telah terluka pula.

    “Karena itu Agung Sedayu seperti juga orang-orang lain yang berilmu, masih tetap orang-orang lemah dan ringkih lahir dan batinnya.” berkata Kiai Gringsing kemudian.

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun sekali-sekali ia memandang Agung Sedayu sepintas. Agaknya kata-kata Kiai Gringsing itu bukan saja ditujukan kepada Glagah Putih, tetapi juga kepada Agung Sedayu dan Sabungsari.

    Glagah Putih yang muda itupun mengerti, bahwa dengan demikian betapa seseorang berilmu tinggi, namun orang lain masih mempunyai kesempatan untuk melumpuhkannya, meskipun orang itu tidak berilmu sekalipun. Pada saat-saat yang lengah, maka serangan yang tiba-tiba akan dapat berakibat gawat.

    Namun dalam pada itu Glagah Putihpun mengerti, bahwa ada cara untuk memperkecil kemungkinan semacam itu. Hanya memperkecil kemungkinan, karena tidak akan dapat terhapus sama sekali. Glagah Putih pernah mendengar ilmu sapta pangrungu, sapta pangrasa, sapta pangganda dan sentuhan-sentuhan lain pada indera seseorang, sehingga ketajaman indera seseorang seolah-olah menjadi lebih tajam tujuh kali lipat.

    Sebenarnyalah bahwa ilmu itupun telah mulai dirintis oleh Agung Sedayu. Pada saat-saat berikutnya, Agung Sedayu mulai menilai inderanya. Pada saat sebelumnya ia sudah pernah menjadi heran sendiri, ketika di luar sadarnya, ia melihat sesuatu di kejauhan lebih jelas dari penglihatannya yang biasa. Di luar sadarnya, ia telah memusatkan ketajaman penglihatannya pada sasaran yang menjauh di antara tanaman di sawah. Sasaran itu tiba-tiba saja justru menjadi jelas, seolah-olah ia sempat melihat bagian-bagiannya yang kecil, lebih dari keadaan di sekitarnya. Namun ketika ia kemudian memandang secara umum tanpa pemusatan perhatian, maka penglihatannya menjadi terbiasa kembali. Demikian juga pendengarannya. Pada saat-saat khusus ia dapat mendengar lebih jelas pada sasaran yang dikehendaki. Dengan demikian, jika dikehendaki, maka ia dapat mendengar lebih jelas segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

    Kemungkinan yang tumbuh pada dirinya itu terjadi sejak ia mulai merenungi isi kitab Ki Waskita, meskipun belum secara sungguh-sungguh. Karena itu, maka Agung Sedayupun yakin, setelah ia memperdalam ilmu yang dapat melindunginya, maka ia akan dapat meningkatkan bagian-bagian yang lain dari berbagai macam ilmu yang tertera pada kitab yang sangat berharga itu. Meskipun seperti yang dikatakan oleh gurunya, segalanya dalam keterbatasan kelemahan manusiawi. Selebihnya, meskipun ada beberapa tuntunan secara umum dan khusus dari berbagai macam ilmu, namun di dunia yang terbentang ini tentu masih ada berpuluh macam dan bahkan beratus macam ilmu yang tidak tercakup di dalamnya yang justru memiliki kelebihan-kelebihan yang menentukan.

    Dalam pada itu, ketika keadaan Agung Sedayu telah pulih seperti tidak pernah terjadi sesuatu, bahkan justru telah terjadi peningkatan ilmu yang tidak nampak dari ujud wadagnya, Agung Sedayu telah memulai dengan kehidupan sehari-harinya. Ia telah mulai berada di sawah di siang hari. Bahkan kemudian di malam hari.

    Namun setiap kali ia masih merasa berdebar-debar. Bukan karena ia merasa takut oleh dendam orang-orang yang memusuhinya, namun sebenarnyalah ia merasa segan untuk terlibat dalam langkah kekerasan. Meskipun ilmunya justru meningkat, tetapi keseganannyapun telah mencengkamnya pula. Tetapi, ketika ia berada di sawah seorang diri menunggui air, beberapa saat saja lewat senja, Agung Sedayu sudah dikejutkan oleh seseorang yang datang kepadanya. Di dalam keremangan malam yang baru saja turun, Agung Sedayu melihat bayangan yang kehitam-hitaman.

    Namun seperti yang pernah dilakukan, tiba-tiba saja ia mengerutkan keningnya. Dipusatkannya daya penglihatannya pada sasaran yang mendekatinya itu. Meskipun tidak terlalu jelas, namun ia mulai dapat mengenali bayangan yang mendatang itu.

    Karena itu, maka iapun segera bangkit berdiri. Dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya sambil berdesis, “Raden Sutawijaya.”

    “Sst!” desis Raden Sutawijaya, “Aku justru menemuimu karena kau hanya seorang diri. He, kenapa kau hanya seorang diri?”

    “Aku menunggui air.” jawab Agung Sedayu, “Entahlah, aku merasa bahwa aku ingin menunggui air yang kadang-kadang dengan tiba-tiba saja meluap dan dapat menimbulkan kerusakan. Hujan turun di saat-saat yang tidak diperhitungkan. Tetapi sebentar lagi, Glagah Putih dan seorang cantrik akan menyusul.”

    “Baiklah.” berkata Raden Sutawijaya sambil duduk di pematang, sehingga Agung Sedayupun duduk pula.

    “Aku melihat kau seorang diri. Karena itu, aku merasa lebih baik menemuimu di sini daripada aku singgah di padepokanmu.” berkata Raden Sutawijaya.

    Tentu aku akan mempersilahkan Raden singgah.” desis Agung Sedayu.

    “Semula aku memang ingin singgah. Tetapi aku kira aku akan berjalan terus. Aku harus berada di rumah malam ini.” Jawab Raden Sutawijaya.

    “Malam ini?” bertanya Agung Sedayu.

    “Ya, malam ini. Kenapa?” bertanya Raden Sutawijaya.

    “Sekarang sudah malam.” desis Agung Sedayu.

    “Ah, malam baru saja mulai. Aku masih mempunyai kesempatan. Karena itu aku tidak akan singgah di padepokanmu. Aku akan berjalan pulang.” berkata Raden Sutawijaya.

    “Tetapi dari manakah Raden ini? Apakah Raden dari Pajang?” bertanya Agung Sedayu.

    “Tidak.” Raden Sutawijaya ragu-ragu sejenak, namun kemudian katanya, “Aku hanya berkata kepadamu. Mungkin seumur kita, kesempatan semacam ini tidak baik kita lewatkan.” Raden Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “Aku dari sendang Telu.”

    “Sendang Telu di Gendari?” bertanya Agung Sedayu.

    “Ya, di alas Gendari. Au sedang memperdalam ilmuku. Dan tiba-tiba saja aku ingin melakukan di sendang Telu. Salah satu dari tiga sendang di Gendari itu.” jawab Raden Sutawijaya.

    “Apa yang Raden lakukan? Dan kenapa begitu jauh dari Mataram? Apakah di Mataram tidak ada sendang yang memenuhi syarat?” bertanya Agung Sedayu.

    “Mungkin ada. Tetapi sudah aku katakan, tiba-tiba saja aku ingin melakukan di sendang Telu. Pemenuhan keinginan tentang tempat itu akan dapat memberikan kepuasan tersendiri.” jawab Raden Sutawijaya.

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Apalagi ia memang mengetahui bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang yang gemar menjelajahi tempat-tempat yang dapat dipergunakan untuk mesu diri dan dapat memberikan keheningan di saat-saat ia mesu budi.

    Meskipun demikian, ia masih juga bertanya, “Raden, apakah tempat itu sendiri dapat memberikan semacam dukungan atas usaha Raden mesu diri?”

    “Tentu” jawab Raden Sutawijaya, “jika yang kau maksud dengan dukungan itu adalah dorongan pemantapan jiwani. Tetapi jika yang kau maksud, bahwa tempat itu sendiri akan dapat memberikan tuah atau semacam kekuatan tersendiri bagi mesu diri, sudah tentu tidak. Karena itu, maka salah satu dari sendang Telu di alas Gendari itu merupakan tempat yang dapat memberikan kepuasan kepadaku. Aku pernah melewati ketiga sendang Telu itu sebelumnya dan aku memang tertari pada tempat itu. Salah satu dari ketiga sendang itu mempunyai mata air yang sangat menarik, seperti sebuah sumur yang tidak begitu besar, tetapi cukup dalam. Di dasarnya pasir bagaikan di hembus dari dalam tanah, dan airpun memancar lewat pasir yang bagaikan air mendidih itu.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun iapun bertanya, “Apa yang Raden lakukan di sendang itu?”

    Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Agung Sedayu. Cara untuk mesu diri ada bermacam-macam sesuai dengan tingkat dan jalur ilmu yang dianut. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun selain kepadamu dan kepada Ki Juru di Mataram yang aku anggap sebagai orang tua yang merupakan tumpuan batin selama ini.” Raden Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “He, kau tentu bertanya, kenapa aku berceritera juga kepadamu?”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

    “Ada alasannya tersendiri. Kau adalah seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari anak-anak muda sebayamu. Kau juga seorang anak muda yang suka mesu diri.” jawab Raden Sutawijaya atas pertanyaannya sendiri.

    “Tetapi tidak ada yang pernah aku lakukan.” sahut Agung Sedayu.

    Raden Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Dengarlah. Sebelum Glagah Putih dan kawan-kawannya datang kemari.”

    Agung Sedayu tidak menyahut.

    “Aku mendapat petunjuk untuk melakukan pembajaan diri lahir dan batin. Aku harus mesu raga dengan bergantung pada sebatang dahan selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Aku juga harus berendam di dalam air selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Kemudian aku harus pati geni selama tiga hari tiga malam pula.” jawab Raden Sutawijaya.

    “Pati geni tiga hari tiga malam?” bertanya Agung Sedayu.

    “Ya.” jawab Raden Sutawijaya.

    “Dan Raden melakukannya sembilan hari sembilan malam berturut-turut untuk memenuhi kewajiban itu?” bertanya Agung Sedayu.

    “Aku dapat melakukan demikian. Tiga hari tiga malam untuk laku yang pertama. Kemudian beristirahat barang tiga empat hari. Lalu dilakukan laku kedua dan seterusnya. Tetapi dengan demikian aku memerlukan waktu yang panjang.”

    “Jadi bagaimana Raden melakukannya?” bertanya Agung Sedayu.

    “Aku lakukan ketiga-tiganya sekaligus. Aku mesu raga dengan bergantung pada sebatang dahan. Di salah satu dari sendang Telu terdapat sebatang pohon yang miring, salah satu dahannya terdapat di atas sendang itu, sehingga di hutan Gendari itulah aku dapat melakukan ketiga laku itu sekaligus. Bergantung pada sebatang dahan sambil berendam di sendang dan sekaligus pati geni.”

    “Tiga hari tiga malam?” bertanya Agung Sedayu pula.

    “Ya. Tiga hari tiga malam aku telah dapat menyelesaikan tiga laku sekaligus.” jawab Raden Sutawijaya.

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia bertanya pula, “Kapan Raden menyelesaikan ketiga laku itu?”

    “Tadi pagi. Demikian aku selesai, maka aku telah mandi dan keramas di sendang itu pula.” jawab Raden Sutawijaya.

    “Raden makan dan minum di mana setelah selesai dengan mesu diri di alas Gendari? Di kedai? Atau di mana?” bertanya Agung Sedayu mendesak.

    “Kenapa?” Raden Sutawijaya menjadi heran, “Kenapa kau tanyakan hal itu? Di sendang itu terdapat mata air yang bersih. Aku minum dari mata air itu. Dan kenapa kau bertanya tentang makan? Mungkin kau pernah mendapat petunjuk, bahwa setelah saat-saat kau tidak makan, maka kau harus berhati-hati, agar perutmu tidak dirusakkan oleh makanan yang pertama kau makan. Begitu?”

    Agung Sedayu mengangguk.

    “Nah, akupun melakukannya. Di hutan itu terdapat banyak sekali dedaunan. Aku telah meremas pupus daun melanding. Kemudian aku makan ubi-ubian yang aku panasi dengan serbuk api.” jawab Raden Sutawijaya, lalu, “Dan sebagaimana kau lihat, aku nampak segar dan sehat bukan?”

    “Ya, ya.” tiba-tiba saja Agung Sedayu tergagap. Yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya pada waktu yang hampir bersamaan dengan saat-saat ia mesu diri itu ternyata jauh lebih berat dari yang dilakukan. Apalagi setelah ia selesai melakukan pati geni yang hanya satu hari satu malam. Tentu menurut pendapat Raden Sutawijaya, ia menjadi terlalu manja. Kiai Gringsing sudah menyediakan sejenis minuman, kemudian bubur cair yang hangat. Iapun mendapat kesempatan untuk tidur sehari penuh di pembaringannya.

    Raden Sutawijaya melihat sekilas loncatan kegelisahan di sikap Agung Sedayu. Karena itu, iapun bertanya, “Apakah ada yang tidak wajar menurut penilaianmu?”

    “Tidak Raden.” jawab Agung Sedayu, “Tetapi kemampuan wadag Raden memang luar biasa. Aku kira hanya Raden sajalah yang dapat melakukannya.”

    “Tentu tidak. Setiap orang yang bertekad dengan sungguh-sungguh akan dapat melakukannya.” jawab Raden Sutawijaya.

    Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Raden, apakah aku diperkenankan untuk menceriterakan hal ini kepada guru?”

    Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya kepada Agung Sedayu, “Apakah gunanya kau ceriterakan hal ini kepada gurumu?”

    “Mungkin ada gunanya Raden.” jawab Agung Sedayu.

    “Ceritera itu akan tersebar ke mana-mana. Apalagi jika Glagah Putih mengetahuinya. Ia akan berceritera kepada para cantrik di padepokanmu. Kepada kawan-kawannya di Jati Anom. Bahkan kepada Untara, kakak sepupunya.” desis Raden Sutawijaya.

    “Tidak Raden. Hanya kepada guru dan mungkin Ki Waskita.” jawab Agung Sedayu.

    “Dan mungkin Ki Widura.” potong Raden Sutawijaya.

    “Ya. Tetapi hanya orang-orang tua saja. Aku akan berpesan kepada mereka, bahwa hal ini jangan disebarkan kepada siapapun juga.” sahut Agung Sedayu.

    “Terserahlah kepadamu jika hal ini kau anggap berguna bagimu. Jika hal ini aku ceriterakan kepadamu, seperti yang sudah aku katakan, justru karena kita masih mungkin untuk tumbuh lebih besar lagi. Kemungkinanmu sama dengan kemungkinan yang aku dapatkan. Kau juga termasuk orang yang luar biasa.” berkata Raden Sutawijaya.

    “Sebenarnya Raden sebaiknya singgah saja di padepokan sebentar.” berkata Agung Sedayu kemudian, “Hanya sebentar. Raden akan bertemu dengan guru, Ki Waskita dan Ki Widura.”

    “Terima kasih. Sudah aku katakan, malam ini aku harus sudah berada di Mataram.” jawab Raden Sutawijaya.

    “Raden memang luar biasa. Baru pagi tadi Raden menyelesaikan satu tugas yang sangat berat. Sekarang Raden masih harus berjalan ke Mataram, sebelum keadaan Raden pulih kembali.” desis Agung Sedayu kemudian.

    “Pulih kembali?” justru Raden Sutawijaya bertanya, “Kenapa pulih kembali? Aku tidak mengalami sesuatu. Aku tidak sakit dan tidak terluka.”

    “Tetapi Raden mesu diri tiga hari tiga malam dalam tiga laku.” jawab Agung Sedayu.

    “Ya. Kenapa? Aku tidak mengalami sesuatu. Aku hari ini sudah beristirahat sehari penuh. Makan ubi-ubian dan minum seberapa saja aku mau. Aku tidak mengalami kesulitan apapun juga jika aku harus berjalan kembali ke Mataram, meskipun di malam hari. Seandainya ada orang-orang jahat yang ingin mengganggu, aku masih sempat lari. Aku masih seorang pelari yang baik, seperti di masa kanak-kanak dalam permainan kejar-kejaran, anak yang jauh lebih besar dari akupun tidak dapat mengejar aku.”

    “Raden selalu merendahkan diri.” gumam Agung Sedayu.

    Raden Sutawijaya tersenyum. Lalu katanya, “Sudahlah. Aku akan meneruskan perjalananku yang masih cukup panjang. Aku tidak berkuda, tetapi aku hanya berjalan kaki. Aku ingin melintasi lereng gunung Merapi dan turun ke sebelah selatan. Aku akan turun dan menyeberang sungai Opak sebelah utara candi.”

    “Perjalanan yang panjang. Apalagi Raden hanya berjalan kaki.” sahut Agung Sedayu.

    “Menyenangkan. Kadang-kadang aku lebih suka berjalan daripada berkuda. Apalagi setelah tiga hari tiga malam aku tidak berjalan selangkahpun, maka perjalanan ini akan dapat memulihkan urat-urat di kakiku.” jawab Raden Sutawijaya.

    Agung Sedayu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga, yang memiliki pengawal dan reh-rehan yang tidak terhitung jumlahnya, mesu diri seorang diri saja di tempat yang jauh, sepi dan terpisah karena letaknya di dalam huta, meskipun bukan hutan yang sangat lebat. Namun hutan Gendari memang jarang sekali dimasuki seseorang, sehingga karena itu, maka Raden Sutawijaya dapat melakukannya tanpa terganggu.

    Raden Sutawijaya benar-benar tidak mau singgah di padepokan ketika Agung Sedayu mempersilahkannya sekali lagi. Bahkan iapun segera minta diri untuk segera melanjutkan perjalanannya yang masih jauh.

    “Salam buat Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura. Juga bagi Glagah Putih, Sabungsari dan para cantrik.” berkata Raden Sutawijaya. Agung Sedayu menjadi termangu-mangu ketika Raden Sutawijaya kemudian berkata, “Aku sudah mendengar apa yang telah kau lakukan terhadap Ajar Tal Pitu. Berhati-hatilah. Ajar Tal Pitu adalah orang yang licik.”

    “Dari mana Raden mengetahuinya?” bertanya Agung Sedayu.

    Raden Sutawijaya hanya tertawa saja. Namun iapun melangkah menjauh sambil berkata, “Lihat. Nampaknya langit mulai mendung. Jika di lereng turun hujan, berhati-hatilah dengan paritmu. Jangan kau biarkan air meluap merusakkan tanamanmu yang subur itu.”

    Raden Sutawijaya tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian meninggalkan Agung Sedayu yang termangu-mangu di pematang.

    Dalam waktu yang pendek, Raden Sutawijaya sudah berjalan sampai ke kotak sawah berikutnya. Ia menyusuri pematang yang disaput oleh gelapnya malam. Namun ia dapat berjalan dengan cepat meskipun sebagai seorang putera Sultan dan yang kemudian diangkat menjadi Senapati Ing Ngalaga, ia tidak terlalu sering bergaul dengan pematang, parit dan bulak-bulak panjang.

    Sepeninggal Raden Sutawijaya, Agung Sedayu duduk di pematang sambil merenung. Di luar kehendaknya, ia telah dihadapkan pada satu perbandingan atas apa yang telah dilakukan. Semula ia menganggap bahwa ia telah mesu diri dengan laku yang jarang ditempuh oleh orang lain. Namun ternyata bahwa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya adalah sembilan kali lebih berat dari yang dilakukannya. Apalagi karena Raden Sutawijaya melakukan tiga laku itu sekaligus dengan mempersingkat waktu menjadi sepertiga.

    “Luar biasa.” desis Agung Sedayu, “Jadi apakah artinya ilmu yang sudah aku miliki itu, dibandingkan dengan ilmu Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu.”

    Dalam pada itu, Agung Sedayu mulai membayangkan pula, seorang Pangeran yang juga memiliki kemampuan seolah-olah tanpa batas. Pangeran Benawa. Seorang yang dalam tataran umur, dapat disebut sebaya dengan Raden Sutawijaya, meskipun lebih muda sedikit dan yang hanya lebih tua sedikit saja dari padanya.

    Agung Sedayu tidak tahu, berapa lama ia merenung tentang Raden Sutawijaya. Agung Sedayu itu bagaikan terbangun ketika ia mendengar langkah kaki mendekatinya.

    Ketika ia berpaling, dilihatnya dua orang berjalan dalam keremangan malam menuju ke arahnya.

    Agung Sedayu segera mengenal keduanya. Glagah Putih yang dikawani oleh seorang cantrik dari padepokannya.

    “Sudah lama kakang menunggu?” bertanya Glagah Putih.

    Agung Sedayu menggeliat sambil menjawab, “Belum. Aku baru saja sampai.”

    Glagah Putih tertawa. Katanya, “Maaf kakang. Aku agak terlalu lambat menyusul. Senggot tima sumur itu rusak. Aku harus memperbaikinya dahulu.”

    Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Akupun hanya duduk saja di sini. Nampaknya langit tidak terlalu gelap, sehingga mungkin hujan tidak akan turun. Atau seandainya turun, baru besok di dini hari dan agaknya juga tidak terlalu lebat.”

    Glagah Putih menengadahkan kepalanya. Ia memang melihat selembar awan di langit. Tetapi seperti Agung Sedayu, iapun berpendapat bahwa hujan tidak akan segera turun.

    Meskipun demikian, mereka berada di sawah untuk beberapa lama. Sambil duduk di pematang keduanya berbicara berkepanjangan tentang tanaman mereka. Tentang hama yang kadang-kadang mereka dengar menyerang tanaman padi para petani di padukuhan, dan tentang para prajurit yang rasa-rasanya terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu di Pajang.

    “Kakang Untara harus mengambil sikap.” berkata Glagah Putih.

    “Ya” jawab Agung Sedayu, “tetapi kita tidak mempunyai bahan cukup untuk berbicara tentang mereka.”

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Agaknya memang demikian.”

    Karena itu pembicaraan mereka telah berkisar pula. Kadang-kadang Agung Sedayu hampir saja tidak teringat pesan Raden Sutawijaya. Setiap kali hampir saja terloncat dari bibirnya, ceritera tentang Senapati Ing Ngalaga yang baru saja lewat.

    Namun akhirnya ketika langit justru menjadi semakin cerah dan bintangpun nampak bergayutan di langit, maka ketiga orang itupun kembali ke padepokan mereka.

    Berbeda dengan Glagah Putih yang pergi ke ruang belakang, Agung Sedayu mendapatkan gurunya di ruang tengah. Seperti biasanya, Kiai Gringsing masih duduk bercakap-cakap dengan Ki Waskita dan Ki Widura jika ia tidak sedang pergi ke Banyu Asri.

    Tetapi ia sudah minta ijin kepada Raden Sutawijaya untuk menceriterakan tentang Senapati Ing Ngalaga itu kepada gurunya.

    Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura mendengarkannya dengan seksama. Sambil mengangguk-angguk mereka memperhatikan setiap penjelasan yang diberikan oleh Agung Sedayu. Tanpa disadarinya telah tersirat di dalam ceriteranya, perbandingan antara sikap dan laku Raden Sutawijaya dengan laku yang baru saja dijalaninya di dalam sanggar.

    “Ternyata bahwa yang aku lakukan hanyalah sepersembilan dari yang telah dilakukan oleh Raden Sutawijaya.” berkata Agung Sedayu.

    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun kemudian, “Kau mengambil perbandingan yang sebenarnya memang tidak dapat diperbandingkan. Meskipun tidak dapat diingkari, bahwa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya itu memang luar biasa. Aku kira tidak semua orang akan mampu melakukannya. Apalagi ia telah mengambil satu sikap yang berbahaya. Jika ia kehilangan keseimbangan sehingga ia tidak mampu lagi, maka ia akan terbenam dalam air. Bahayanya tentu lebih besar dari jika itu terjadi di atas tanah. Karena jika ia terjatuh ke dalam air, ia dapat tenggelam dan mati lemas.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Sementara itu, Kiai Gringsing melanjutkan, “Agung Sedayu, sementara yang kau lakukan memang agak berbeda. Kau memang hanya melakukan pati geni sehari semalam. Tetapi saat kau mesu raga harus diperhitungkan saat kau memulainya. Saat kau mengalami luka-luka parah di dalam dirimu. Keadaan itu telah kau ambil manfaatnya tanpa dengan sengaja kau memperlakukan diri sendiri seperti itu. Kemudian kaupun telah mengatur jenis makananmu untuk beberapa hari justru selama kau sakit. Nah, keadaan sakit dan cara-cara yang kau lakukan itu, merupakan imbangan dari laku-laku yang lain dari Raden Sutawijaya, meskipun sekali lagi, yang dilakukan memang lebih berat dari yang kau lakukan. Tetapi yang kau lakukan tidak kalah nilainya dengan berpuasa empat puluh hari empat puluh malam dan kemudian pati geni tiga hari tiga malam, dengan laku yang biasa. Tetapi akupun tidak sependapat dengan laku seseorang yang dengan sengaja menyakiti diri dengan cara yang berlebih-lebihan. Meskipun kau dapat mengambil akibat yang sama sebagai laku, tetapi kau tidak dengan sengaja mengupah orang untuk menyakiti dirimu dalam usaha mencapai kesempurnaan ilmu kanuragan.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jika semula ia merasa dirinya justru terlalu kecil, gurunya telah memberikan sedikit kesempatan bagi jantungnya untuk mekar. Bahwa yang dilakukannya itu bukannya tanpa arti.

    Dalam pada itu, pembicaraan itupun terhenti ketika Glagah Putih memasuki ruangan. Agung Sedayupun telah berpesan, bahwa yang dikatakannya tentang Raden Sutawijaya itu tidak perlu didengar oleh orang lain.

    Meskipun demikian, Agung Sedayu masih juga membayangkan, selangkah demi selangkah Raden Sutawijaya berjalan dengan cepat menuju ke Mataram. Berjalan kaki, tanpa menunggang seekor kuda.

    Tetapi ia tidak dapat merenung lebih lama. Glagah Putih telah minta kepadanya untuk turun ke sanggar.

    “Kita berlatih sendiri kakang.” berkata Glagah Putih, “Sabungsari malam ini mendapat tugas. Ia akan tidur di Jati Anom.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Glagah Putih yang nampaknya sangat mengharap kesediaannya untuk segera turun ke sanggar.

    “Mumpung belum terlalu malam.” desis Glagah Putih kemudian.

    Akhirnya Agung Sedayupun mengangguk sambil menjawab, “Marilah. Tetapi aku masih belum dapat berlatih terlalu lama.”

    Glagah Putih tidak menjawab. Ialah yang kemudian lebih dahulu pergi ke sanggar. Baru kemudian Agung Sedayu menyusulnya diikuti oleh Ki Widura.

    Ternyata bahwa Ki Widurapun tengah merenungi ceritera Agung Sedayu tentang Raden Sutawijaya. Kemudian tentang Agung Sedayu sendiri. Jika Glagah Putih tidak bersungguh-sungguh maka ia akan menjadi semakin jauh ketinggalan dari keduanya. Ternyata bahwa Raden Sutawijaya telah menempuh jalan yang jauh lebih berat dair laku yang ditempuh oleh Agung Sedayu. Dengan demikian, maka sudah barang tentu bahwa Glagah Putihpun harus menempuh laku yang serupa dengan laku dari kedua orang anak muda yang memiliki kelebihan jauh melampaui orang kebanyakan itu.

    Seperti biasanya, maka Glagah Putihpun telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia mencoba untuk menunjukkan bahwa iapun telah berusaha dengan segenap kekuatannya untuk menempa diri dalam olah kanuragan.

    (untuk menjadi terusan)

  17. iseng lagi, halaman 26 s/d 39

    Tetapi ia tidak dapat memaksa Agung Sedayu untuk terlalu lama berada di dalam sanggar. Glagah Putih pun mengetahui, bahwa Agung Sedayu masih belum waktunya mengerahkan segenap tenaganya dalam bentuk yang bagaimanapun juga. Ia masih harus banyak beristirahat agar ia segera pulih kembali seperti sedia kala.

    “Setiap saat orang yang disebut bernama Ajar Tal Pitu itu akan dapat datang” berkata Glagah Putih di dalam dirinya, “karena itu kakang Agung Sedayupun harus segera siap untuk menghadapinya”.

    Namun sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu telah bersiap. Bahkan ilmu kebalnya telah jauh meningkat. Di saat-saat ia mesu diri, terutama ia berusaha untuk meningkatkan ilmu kebalnya. Namun dalam pada itu, secara tidak langsung, maka kesungguhannya mesu diri itupun telah meningkatkan kemampuan-kemampuannya yang lain dalam rangkuman ilmu kanuragannya.

    Bahkan dalam pada itu, setiap saat Agung Sedayupun merasa, seolah-olah Raden Sutawijaya mentertawakannya, bahwa ia adalah anak muda yang terlalu manja di dalam usahanya meningkatkan ilmunya. Ia sama sekali tidak berprihatin. Di saat ia mesu diri, maka seolah-olah orang di seluruh padepokan itu telah berbuat apa saja bagi kepentingannya.

    Dalam pada itu, ternyata apa yang telah terjadi di Jati Anom itu pada akhirnya terdengar juga oleh adik seperguruan Agung Sedayu di Sangkal Putung. Meskipun Swandaru mendengar bahwa isi padepokan itu ternyata berhasil menyelamatkan diri, namun ia terdorong juga untuk pergi ke Jati Anom.

    Setelah tertunda beberapa kali karena keadaan kademangannya, serta justru karena iapun mendengar tidak terjadi sesuatu atas saudara seperguruannya, maka akhirnya Swandarupun telah memerlukan pergi ke Jati Anom. Tetapi seperti biasanya ia tidak dapat mencegah keinginan Sekar Mirah untuk ikut serta bersamanya.

    “Baiklah” berkata Swandaru, karena iapun dapat mengerti, kenapa Sekar Mirah mendesaknya untuk ikut serta pergi bersamanya, “ajaklah Pandan Wangi untuk menemanimu di perjalanan.”

    “Kenapa aku?” jawab Sekar Mirah, “Kakang sajalah yang mengajaknya.”

    Seperti yang sudah dilakukan, maka akhirnya mereka bertiga telah meninggalkan kademangan Sangkal Putung untuk pergi ke Jati Anom. Merekapun sadar, bahwa bahaya akan dapat ditemuinya di perjalanan, karena merekapun sadar, bahwa ada pihak yang dengan sengaja telah berusaha untuk memusuhi Kiai Gringsing dan murid-muridnya. Namun Swandarupun tahu pula, bahwa hal itu bukannya tidak ada hubungannya dengan Mataram.

    Ketika mereka sampai di padepokan kecil di Jati Anom, mereka melihat bahwa Agung Sedayu benar-benar telah sembuh dan pulih kembali. Mereka melihat Agung Sedayu telah dapat melakukan kerjanya sehari-hari.

    Dalam pada itu, Kiai Gringsingpun telah mempersilahkan ketiga orang tamunya duduk dipendapa. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsingpun menjadi cemas. Jika di perjalanan ketiganya bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Ajar Tal Pitu, maka mereka akan dapat menjadi sasaran dendamnya, karena Ajar Tal Pitu itupun tentu mengetahui, bahwa anak muda Sangkal Putung itupun adalah muridnya.

    “Jika Ajar Tal Pitu seorang diri, mereka bertiga akan dapat mengalahkannya. Tetapi jika Ajar Tal Pitu membawa dua atau tiga orang pengikut yang meskipun hanya sekedar dapat mengganggu salah seorang dari keduanya, maka ilmunya yang dahsyat itu akan dapat menjadi bahaya yang gawat bagi mereka.” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

    Setelah mereka saling bertanya tentang keselamatan mereka, maka Swandarupun segera minta Agung Sedayu menceriterakan apa yang telah terjadi dengan dirinya.

    Dengan singkat Agung Sedayu menceriterakan apa yang telah dialaminya. Bagaimana ia mengalami sakit parah karena ia harus berhadapan dengan orang yang menyebut dirinya Ajar Tal Pitu.

    “Syukurlah” Swandaru mengangguk, “ayahpun menjadi sangat gelisah, justru hari-hari yang ditentukan itu menjadi semakin pendek. Jika terjadi sesuatu atasmu, maka kami akan kehilangan.”

    “Tuhan masih melindungi aku” berkata Agung Sedayu, “ternyata bahwa di saat-saat yang menentukan, Ajar Tal Pitu telah kehabisan tenaga dan berusaha meninggalkan arena, sehingga akupun ternyata selamat. Atau barangkali ia menganggap bahwa tugasnya sudah selesai dan menganggap aku sudah dapat diselesaikannya pula.”

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun mengenal bahwa Agung Sedayu memang mempunyai cara tersendiri dalam berceritera.

    Namun dengan demikian, Kiai Gringsingpun telah menjadi cemas pula bahwa Swandaru selalu mempunyai tanggapan yang lain atas ceritera Agung Sedayu. Ia selalu menganggap bahwa nasib baiklah yang telah menyelamatkan Agung Sedayu, sebagaimana Agung Sedayu sendiri mengatakannya. Sehingga anak muda Sangkal Putung itu tidak mendapat gambaran yang sebenarnya dari kemampuan Agung Sedayu.

    Sejalan dengan itu, maka Kiai Gringsing sempat menangkap kesan yang tersirat dari pembicaraan kedua muridnya. Sebenarnyalah tanggapan Swandaru atas saudara seperguruannya seperti yang sudah diduganya.

    “Mungkin kakang Agung Sedayu memerlukan satu dua orang yang dapat mendorong kakang Agung Sedayu untuk berlatih bersama, sehingga kakang Agung Sedayu dapat melakukannya dengan bersungguh-sungguh.” berkata Swandaru kemudian.

    “Ya. Agaknya memang demikian.” berkata Agung Sedayu, “Di sini sekarang ada Sabungsari. Di saat-saat senggang ia datang ke padepokan ini atas ijin pimpinannya. Ia dapat menjadi kawan berlatih di samping Glagah Putih.”

    “Tentu tidak dengan Glagah Putih.” jawab Swandaru, “Jika kau berada di dalam sanggar bersama Glagah Putih, itu sama sekali tidak berarti kau meningkatkan kemampuanmu. Tetapi kau justru menuangkan kemampuanmu. Itulah agaknya maka kau sendiri tidak pernah mempunyai waktu cukup untuk berlatih bagi kepentinganmu sendiri.”

    “Aku mempunyai banyak waktu.” sahut Agung Sedayu dengan serta merta, “Sudah aku katakan, Sabungsari sering berada di sini.”

    Swandaru mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah. Nampaknya memang ada baiknya kita selalu bersiaga. Aku sendiri pernah mengalaminya. Tentu kita tidak akan menyangka, bahwa tiba-tiba saja aku harus berhadapan dengan orang yang berniat jahat terhadap kita di pinggir Kali Praga, karena aku yakin bahwa sasarannya saat itu bukan sekedar aku, Pandan Wangi atau Sekar Mirah. Tetapi kita.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Agaknya memang demikian. Mudah-mudahan untuk selanjutnya kita akan dapat menjaga diri.”

    “Tetapi” berkata Swandaru kemudian, “dalam waktu dekat kakang akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Sebenarnyalah hal itu dapat menjadi masalah. Orang yang berniat jahat itu akan dapat mencari dan menyusul kakang ke Tanah Perdikan Menoreh.”

    “Di sana ada Ki Gede Menoreh” berkata Agung Sedayu, “aku akan mendapat perlindungannya. Di samping itu, aku akan berada di antara sepasukan pengawal.”

    “Pasukan pengawal itu sedang mengalami masa surut.” desis Swandaru.

    “Salah satu kewajibanku adalah membangunkan mereka jika aku berhasil.” jawab Agung Sedayu.

    “Mudah-mudahan kau berhasil. Selain untuk kepentingan Tanah Perdikan Menoreh, juga untuk kepentinganmu sendiri.” berkata Swandaru.

    Kiai Gringsing hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun justru tiba-tiba saja timbul niatnya untuk pada suatu saat menilik langsung kemajuan ilmu Swandaru.

    “Jika Agung Sedayu berada di Tanah Perdikan, maka aku harus dengan cermat mengamati kemajuan Swandaru.” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Ia sadar, bahwa perhatian Agung Sedayu dan Swandaru jauh berbeda dalam usaha mengembangkan ilmu mereka.

    Sementara itu, Sekar Mirah yang melihat keadaan Agung Sedayu yang sudah menjadi baik dan pulih kembali itupun masih juga dibayangi oleh kegelisahan. Apakah orang-orang yang berniat buruk itu tidak akan mengejarnya ke mana saja ia akan pergi.

    Ketika kemudian Sekar Mirah sempat berbicara langsung dengan Agung Sedayu, maka iapun menyatakan kecemasannya, meskipun tidak secara langsung, keadaannya nanti di Tanah Perdikan Menoreh. Dengan samar-samar ia membuat perbandingan, bahwa di padepokan itu ada Kiai Gringsing, Ki Waskita, Ki Widura dan kebetulan Sabungsari ada pula pada saat terjadi peristiwa itu. Sementara di Tanah Perdikan Menoreh hanya ada Ki Gede seorang diri.

    “Sudah aku katakan Sekar Mirah.” jawab Agung Sedayu, “Di Tanah Perdikan itu selain Ki Gede terdapat sepasukan pengawal yang akan segera bangun dari tidurnya.”

    Tetapi Sekar Mirah agaknya masih merasa cemas. Ia tidak yakin sebagaimana juga Swandaru bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan dapat dengan segera menyesuaikan diri menghadapi keadaan. Bahkan ia merasa bahwa sepasukan pengawal di Tanah Perdikan itu, tidak akan segera dapat meningkat setataran dengan para pengawal di kademangan Sangkal Putung.

    Namun dalam pada itu, agaknya Ki Waskita yang kemudian ikut pula duduk di antara mereka, dapat melihatnya. Karena itu, maka iapun telah menyahut, “Angger Sekar Mirah. Akupun telah memikirkannya pula, kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas angger Agung Sedayu. Namun sudah barang tentu, bahwa orang-orang tua ini tidak akan melepaskannya begitu saja. Aku memang sudah berniat, jika saatnya angger Agung Sedayu pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, maka akupun akan menyertainya pula. Meskipun dengan demikian, Kiai Gringsing akan menjadi kesepian di padepokan ini.”

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga sebelumnya bahwa Ki Waskita akan mengambil sikap demikian, karena ia tentu tidak akan terlalu lama berada di padepokan itu. Di Tanah Perdikan Menoreh, ia akan dapat setiap saat kembali ke keluarganya, atau malahan sebaliknya, ia dapat mengajak keluarganya ke Tanah Perdikan Menoreh.

    Pernyataan Ki Waskita itu sedikit memberikan ketenangan kepada Sekar Mirah. Seandainya ia tidak terikat oleh anggapan bahwa tidak baik bagi seorang gadi mengikuti seorang laki-laki yang belum menjadi suaminya, ia tidak akan berkeberatan untuk pergi bersama Agung Sedayu ke Tanah Perdikan Menoreh dengan membawa harapan-harapan baru meskipun ia masih belum tahu pasti, apakah harapan itu bukan sekedar mimpi.

    “Tetapi keadaannya akan menjadi lebih baik dari pada ia berada di padepokan kecil yang tanpa kemungkinan apapun bagi hari depan.” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya.

    Dalam pada itu setelah anak-anak muda dari Sangkal Putung itu melihat sendiri keadaan isi padepokan kecil di Jati Anom, bahwa mereka telah menjadi baik kembali, merekapun segera minta diri. Setelah mereka dijamu sekedarnya, maka Swandaru bersama isteri dan adiknya itupun kembali ke Sangkal Putung.

    Ketiga anak muda itu adalah anak muda yang memiliki bekal ilmu yang cukup. Namun rasa-rasanya Kiai Gringsing menjadi cemas pula melepaskan mereka. Karena itu, maka disuruhnya dua orang cantrik untuk mengamati mereka dari kejauhan. Cantrik itu sendiri tentu tidak akan diganggu oleh siapapun.

    “Jika kau melihat sesuatu yang tidak wajar terjadi atas anak-anak itu, cepat, beritahukan kepada kami.” pesan Kiai Gringsing.

    “Jika kau sudah dekat dengan Sangkal Putung, dan menurut pertimbanganmu kau lebih cepat pergi ke Sangkal Putung, pergilah ke Sangkal Putung.” sambung Ki Waskita.

    “Ya. Sudah tentu kalian sendiri harus menghindari sesuatu yang terjadi itu. Sangkal Putung mempunyai sepasukan pengawal yang kuat dan siap bertindak setiap saat.” Kiai Gringsing menjelaskan.

    Karena itu, di luar pengetahuan anak-anak muda Sangkal Putung, dua orang cantrik telah mengikuti dari kejauhan. Mereka hanya sekedar melihat dan meyakinkan bahwa ketiga anak-anak muda itu telah sampai dengan selamat di kademangan mereka.

    Ternyata bahwa kedua orang cantrik itu kembali dengan selamat dan memberitahukan bahwa tidak terjadi sesuatu di perjalanan. Ketika ketiga anak-anak muda itu telah memasuki padukuhan pertama dari kademangan Sangkal Putung, maka kedua orang cantrik itupun segera kembali.

    Namun sementara itu, Agung Sedayu mulai memikirkan keadaan Glagah Putih. Ia tentu tidak akan dapat membawanya pada saat-saat permulaan ia berada di Tanah Perdikan Menoreh. Ia akan berada di Tanah Perdikan itu untuk bekerja keras, membentuk Tanah Perdikan itu menjadi Tanah Perdikan yang hidup seperti beberapa saat yang lampau. Jika Glagah Putih ikut bersamanya, maka Glagah Putih justru akan terlibat dalam kerja, dan tidak akan sempat meningkatkan ilmunya sebaik-baiknya.

    Tetapi di luar pengetahuan gurunya, Agung Sedayu telah menyusun rencana sendiri.

    “Jika guru setuju, aku akan melaksanakannya.” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

    Dengan demikian, maka iapun mulai dengan langkah-langkah persiapan. Ia ingin melengkapi bekal Glagah Putih sampai saatnya ia berangkat. Bekal yang cukup mantap untuk membentuk anak muda itu menjadi seorang pewaris ilmu dari jalur perguruan Ki Sadewa.

    Setelah itu, maka ia akan menunjukkan kepada Glagah Putih pemantapan dan pematangan ilmunya di dalam goa yang pernah diketemukannya.

    Meskipun tidak dengan sengaja ia telah merusak bagian terakhir, justru bagian yang paling tinggi nilainya dari ilmu itu, namun bekal kemampuannya dan ilmunya sendiri, serta ketajaman akal dan budinya, ia merasa akan sanggup memperbaikinya.

    “Dengan demikian, jika kemampuan daya tangkap Glagah Putih cukup tajam, ia akan dapat menguasai ilmu itu sebaik-baiknya.” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “Tetapi jika ia tidak sampai tuntas, maka pada suatu saat, aku tinggal menyempurnakannya saja.”

    Namun demikian, Agung Sedayu mempertimbangkan kemungkinan untuk memohon kepada Ki Widura mendampinginya, agar Glagah Putih melakukan latihan-latihan di dalam goa itu dengan wajar.

    “Ia belum siap untuk memasuki suatu cara pembajaan diri dengan cara seperti yang pernah aku lakukan.” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “Namun sejalan dengan tingkat kedewasaannya, maka pada suatu saat, ia akan mengenalnya juga. Nampaknya ia lebih dekat pada cara yang aku tempuh dari pada cara yang dilakukan oleh Swandaru.”

    Pada hari-hari berikutnya Agung Sedayu mulai mempersiapkan Glagah Putih untuk memasuki suatu cara latihan yang khusus. Ia mulai memperkenalkan Glagah Putih ujud dan gambar serta perlambang-perlambang dari tata gerak dan sifat dari ilmunya. Sedikit demi sedikit ia mengarahkan Glagah Putih untuk menekuni lambang-lambang yang ditunjukkannya.

    Kiai Gringsing yang melihat cara yang mulai dilakukan oleh Agung Sedayu itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia sempat berbicara dengan anak muda itu, maka katanya, “Agung Sedayu, nampaknya kau telah bersiap-siap menjelang keberangkatanmu ke Tanah Perdikan Menoreh?”

    Agung Sedayu termangu-mangu. Ia tidak segera mengetahui maksud gurunya. Namun kemudian Kiai Gringsing itu menjelaskan, “Setelah kau pergi ke Tanah Perdikan Menoreh, agaknya kau ingin meninggalkan tuntunan ilmu kepada Glagah Putih. Apakah terpikir olehmu untuk menunjukkan goa yang pernah kau kunjungi itu?”

    Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Namun ia menjawab, “Ya guru. Aku mohon maaf, bahwa aku belum menyampaikan rencana itu kepada guru meskipun aku sudah mulai mempersiapkannya.”

    Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya, “Itu adalah pertanda bahwa kau benar-benar sudah mempertimbangkannya masak-masak dengan sikap yang dewasa pula. Cara itu sama sekali bukannya satu kesalahan. Kau memang tidak perlu tergantung kepadaku terus-menerus. Pada suatu saat kau memang harus berdiri di atas kepribadianmu sendiri seutuhnya. Jika perlu saja kau dapat minta pertimbanganku. Karena di dalam perkembangan selanjutnya, mungkin nalar dan budimu akan berkembang menjadi lebih baik dari aku.”

    Agung Sedayu tidak menjawab. Sementara gurunya berkata, “Teruskan rencanamu. Kau menurut pendapatku, sudah melangkah ke jalan yang paling baik bagi perkembangan ilmu Glagah Putih. Ia akan matang dengan ilmu yang temurun dari Ki Sadewa. Jika ia benar-benar berhasil, maka ia sudah memiliki bekal yang cukup, meskipun bukan berarti bahwa ia harus berhenti. Karena masih mungkin ia melengkapi dirinya dengan berbagai macam ilmu yang lain. Namun segalanya tergantung kepada perkembangan kepribadiannya pula.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ternyata bahwa gurunya justru memperkuat rencananya untuk membawa Glagah Putih ke sebuah goa yang pernah diketemukannya di luar kehendaknya sendiri.

    “Agung Sedayu” berkata Kiai Gringsing kemudian, “ada beberapa keuntungan jika kau tempuh cara itu. Ki Widura yang tidak lagi terikat atas sesuatu kewajiban itu akan dapat mengawasi Glagah Putih sementara Glagah Putih memperdalam ilmunya. Bahkan hal itu akan berguna bagi Ki Widura sendiri. Meskipun ia menjadi semakin tua, namun tidak ada batas keterlambatan bagi seseorang untuk memperdalam ilmu. Sehingga dengan demikian, di samping mengawasi perkembangan ilmu Glagah Putih dengan tuntunan ilmu yang memang sedang dipelajarinya, Ki Widura sendiri akan dapat mengambil manfaat pula. Namun sudah barang tentu, bahwa keduanya harus dapat memegang rahasia sebaik-baiknya.”

    “Ya guru.” jawab Agung Sedayu. Sementara itu gurunya berkata selanjutnya, “Di samping itu, aku akan mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu atas adik seperguruanmu. Meskipun aku tidak dapat melepaskan begitu saja Glagah Putih yang bagaimanapun juga, sedikit banyak aku merasa ikut bertanggung jawab atas perkembangannya jika kau tidak ada, namun perkembangan Swandarupun harus mendapat penilikan yang lebih seksama.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti sepenuhnya kecemasan gurunya tentang perkembangan ilmu Swandaru yang tidak seperti dikehendaki oleh Kiai Gringsing. Cara yang ditempuh oleh Swandaru condong kepada kekuatan dan ketrampilan kewadagan. Hal itu bukannya satu kesalahan mutlak. Tetapi perkembangannya tidak dapat sepesat sebagaimana dilakukan oleh Agung Sedayu. Bahkan seandainya Swandaru berhasil mencapai puncak kemampuannya, maka yang dicapai itu tidak akan mengimbangi kemampuan Agung Sedayu.

    Bagaimanapun juga, Kiai Gringsing akan dapat dipersalahkan meskipun oleh batinnya sendiri. Seolah-olah ia memang lebih banyak memperhatikan Agung Sedayu dari pada Swandaru.

    “Tetapi Agung Sedayu seakan-akan mencari jalan sendiri untuk mencapai tingkat ilmunya yang sekarang.” Kiai Gringsing mencoba mencari sandaran. Namun jauh di dalam lubuh hatinya, Kiai Gringsing merasakan satu keraguan, seandainya Swandaru memiliki ilmu setingkat dengan Agung Sedayu, apa sajakah yang akan dilakukannya.

    Dalam pada itu, karena Kiai Gringsing telah menyetujuinya, maka Agung Sedayupun telah mengarahkan latihan-latihan Glagah Putih semakin jelas sebagaimana rencananya meskipun ia sendiri belum mengatakannya. Agung Sedayu semakin banyak mempergunakan gambar dan lambang-lambang dari unsur-unsur gerak yang harus dimengerti oleh Glagah Putih.

    Sebenarnyalah bahwa Glagah Putih merasa cara itu menjadi semakin sulit. Bahkan ia pernah bertanya kepada Agung Sedayu, kenapa ia mencoba cara yang lain bagi latihan-latihan yang diberikan.

    “Glagah Putih” berkata Agung Sedayu, “pada suatu saat, mungkin kau akan memerlukan latihan-latihan tanpa seorang penuntunpun. Jika kau sudah terbiasa dengan latihan-latihan seperti yang aku berikan sekarang, sementara kau mempunyai tuntunan gambar, lukisan, pahatan atau sejenis itu dengan lambang-lambang gerak dan unsur-unsur gerak dari ilmu yang sedang kau pelajari, maka kau akan dapat melakukannya justru lebih jelas dan pasti dari cara yang pernah aku pergunakan sebelumnya.”

    Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia bukan anak-anak lagi. Panggraitanya sudah cukup tajam menanggapi keadaan. Karena itu, maka seolah-olah di luar sadarnya ia bertanya, “Kapan kau akan berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh?”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun tidak dapat lagi menganggap Glagah Putih sebagai anak-anak yang selalu harus dikelabui. Karena itu maka jawabnya, “Tidak lama lagi, seperti yang pernah dikatakan. Ki Gede Menoreh akan datang kemari. Aku mendapat kewajiban untuk membantu Ki Gede Menoreh, mengurangi kelesuan yang kini terasa menjalari Tanah Perdikan itu.”

    “Dan kakang hanya akan sekedar meninggalkan gambar, lukisan atau lambang-lambang itu untukku?” bertanya Glagah Putih.

    “Tidak Glagah Putih.” berkata Agung Sedayu, “Aku akan berbuat lebih banyak lagi, meskipun aku belum dapat mengatakannya kepadamu.”

    “Bagaimana jika aku ikut kakang saja ke Menoreh?” bertanya Glagah Putih.

    “Pada saatnya Glagah Putih.” jawab Agung Sedayu, “Tetapi tentu tidak di saat-saat permulaan. Untuk beberapa saat lamanya, aku harus melihat-lihat keadaan. Kemudian aku akan menentukan langkah-langkah yang paling baik yang dapat aku lakukan untuk mengatasi keadaan. Jika kemudian semuanya sudah mapan, kau akan dapat menyusul aku ke Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi pada saat itu, aku kira sudah tidak memerlukan aku lagi.”

    “Ah, tentu tidak. Dalam waktu lima sampai sepuluh tahun mendatang, belum tentu aku dapat mencapai tingkat ilmu seperti kakang Agung Sedayu sekarang ini.” berkata Glagah Putih.

    “Tidak. Jauh lebih cepat dari itu.” jawab Agung Sedayu, “Asal kau selalu melihat ke dalam dirimu. Bukan saja sebagai ujud wadagmu, tetapi kau dalam seutuhnya. Kau sudah mulai dengan mengenal tenaga cadangan di dalam dirimu. Karena itu, kenalilah dirimu lebih banyak lagi.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia menangkap serba sedikit apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu. Di dalam hati ia berjanji, bahwa ia akan mencari penjelasan dari kata-kata Agung Sedayu itu di dalam dirinya.

    Karena itulah, maka Glagah Putihpun justru telah berusaha untuk memahami sebaik-baiknya cara yang dipergunakan oleh Agung Sedayu kemudian. Dengan ketajaman ingatannya, Agung Sedayu telah mempergunakan gambar, bentuk dan lambang-lambang seperti yang tertera di dalam goa sesuai dengan urutan perkembangan ilmu yang sedang diberikan kepada Glagah Putih.

    Selain pengenalan atas gambar dan lambang-lambang dari unsur-unsur di dalam ilmunya, Agung Sedayu berusaha untuk menuntun Glagah Putih melihat dirinya pada kedalamannya. Bukan sekedar riak di permukaan dengan kelebihan pada wadagnya.

    Perlahan-lahan Agung Sedayu mulai membayangkan, bahwa di suatu tempat ada sebuah dinding yang luas yang memuat gambar dan lambang-lambang dari unsur-unsur gerak ilmu yang sedang dipelajarinya itu. Tetapi Agung Sedayu masih belum menunjukkan tempat itu dengan jelas.

    “Glagah Putih” berkata Agung Sedayu, “jika sampai saatnya aku pergi, maka aku akan membawamu ke suatu tempat di mana akan terdapat dinding yang luas. Pada dinding itu tertera lambang-lambang ilmu yang dapat kau pelajari sendiri dengan bekal ilmu yang telah kau miliki. Sampai saat ini tidak ada seorangpun yang pernah melihat lukisan lambang-lambang itu kecuali aku. Sebelumnya tentu sudah ada orang yang memasukinya, setidak-tidaknya orang yang membuat pahatan lambang-lambang pada dinding yang luas itu.”

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Akan sangat ngelangut. Seorang diri di dalam sebuah goa.”

    “Tetapi dengan demikian kau akan mendapat kesempatan untuk mengenal dirimu lebih banyak lagi. Mengenal dirimu dalam segala segi, sifat dan watak. Kau akan mendapat kesempatan untuk melihat yang baik dan yang buruk pada dirimu. Pada watak dan sifatmu.” berkata Agung Sedayu.

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa Agung Sedayupun tentu pernah melakukannya. Bahkan ia tentu masih sering melakukannya dalam batas waktu dan keadaan tertentu.

    Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu sibuk mempersiapkan Glagah Putih menjelang keberangkatannya ke Tanah Perdikan Menoreh, maka jauh dari padepokan kecil di Jati Anom, Ajar Tal Pitu sedang mesu diri. Ia telah memilih tempat yang memadai untuk melakukannya. Dengan tiga orang muridnya ia telah menyisih dari lingkungannya, padepokan Tal Pitu. Dibuatnya sebuah gubug kecil di lereng gunung Kelud di tempat yang jarang dikunjungi orang. Di tempat itulah, Ajar Tal Pitu berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, dengan tidak makan beberapa jenis bahan makanan. Pada akhir dari masa mesu diri itu, ia akan melakukan pati geni selama tiga hari tiga malam. Tiga orang muridnya itu harus melayaninya selama ia mesu diri dan menjaganya selama ia pada saatnya akan pati geni.

    Namun Ajar Tal Pitu tidak mengetahui, bahwa sebelum hari-hari terakhir dari masa empat puluh hari itu, Agung Sedayu sudah tidak akan berada di padepokannya lagi, karena ia akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.

    Betapa dendam rasa-rasanya masih saja membakar jantungnya. Di dalam mesu diri, tidak ada yang nampak sebagai sasaran dendamnya kecuali anak muda dari Jati Anom yang dapat mengalahkannya.

    (bersambung lagi)

  18. 144 hal 39 s/d 49

    “Setelah empat puluh hari empat puluh malam serta tiga hari tiga malam mesu diri, maka anak itu akan menjadi lumat sama sekali. Meskipun pada dasarnya ia kebal, apakah karena ilmu kebal atau karena ilmu yang lain, namun ia tidak akan dapat bertahan dari ilmuku setelah aku selesai mesu diri dengan laku terakhir dari seluruh kewajibanku. Aku akan menjadi sempurna dan tidak ada orang yang akan mampu mengimbangi ilmuku, meskipun guru anak iblis itu sekalipun.”

    Sementara itu, saat yang dijanjikan oleh Ki Gede Menoreh untuk datang kembali ke padepokan kecil di Jati Anom itupun menjadi semakin dekat. tidak sampai empat puluh hari empat puluh malam sejak ia kembali pada kunjungannya yang terdahulu.

    Dalam pada itu, ternyata telah terjadi satu pergolakan perasaan di padepokan kecil di Jati Anom itu. Masing-masing dibebani oleh persoalan yang berbeda-beda. Glagah Putih merasa sedih karena Agung Sedayu terpaksa meninggalkannya. Ia belum tahu untuk waktu berapa panjangnya, ia mendapat kesempatan untuk menyusul. Sementara itu, Kiai Gringsing sibuk memikirkan keadaan kedua muridnya yang semakin lama telah dipisahkan oleh jarak yang semakin panjang.

    Tetapi di samping itu, sebenarnyalah Kiai Gringsing telah dibebani pula oleh kebimbangan yang tiada taranya.

    Pada saat-saat terakhir ia melihat, pertentangan ilmu yang menjadi semakin meningkat. Orang-orang yang merasa ilmunya kurang memadai telah menempa diri dengan segala macam cara, sehingga dengan demikian, maka ilmu yang saling berbenturan itupun menjadi semakin meningkat pula.

    Dalam keadaan yang demikian, kadang-kadang Kiai Gringsing harus merenungi dirinya sendiri. Dalam keadaan serupa itu, ia tidak dapat berbicara dengan siapapun. Juga tidak denan Ki Waskita. Namun Kiai Gringsingpun sadar, bahwa Ki Waskita yang memiliki sebuah kitab yang memuat berbagai macam tuntunan olah kanuragan dan kajiwan, serta petunjuk laku badani dan jiwani untuk mencapai satu tingkat dan jenis ilmu tertentu, jika ia merasa perlu, tentu akan dapat meningkatkan ilmunya meskipun ia sudah tua.

    Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia meraba pergelangan tangannya, maka rasa-rasanya jantungnya berdegup semakin cepat.

    “Tidak pantas.” tiba-tiba saja ia menggeram, “Tidak seharusnya aku membiarkan ketamakan itu menggelora di dalam hati. Aku sudah memiliki landasan ilmu yang cukup untuk melindungi diriku. Kenapa aku harus memikirkan sesuatu yang sudah aku simpan jauh di dalam timbunan niatku sejak semula. Apakah dengan ilmu yang dahsyat itu aku akan dapat menyelesaikan semua persoalan?”

    Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Tidak perlu. Selama ini aku masih tetap mampu bertahan tanpa mempergunakannya.”

    Tetapi Kiai Gringsingpun mulai digoda oleh satu pertanyaan, “Apakah ilmu itu akan dibiarkan lenyap bersama jasadnya yang pada suatu saat aku kembali ke pangkuan bumi?”

    “Apakah mungkin bagiku untuk memberikan hanya kepada salah seorang saja dari kedua muridku?” pertanyaan itu telah pula bergejolak di dalam hatinya.

    Namun pada akhirnya Kiai Gringsing itu berkata di dalam hatinya, “Ternyata aku belum dapat mengambil satu kesimpulan. Sifat dan watak kedua muridku berbeda, sehingga mereka harus mendapat perlakuan yang berbeda pula.”

    Saat-saat yang menggelisahkan di padepokan kecil di Jati Anom itupun berlalu dari hari ke hari. Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh menuntun Glagah Putih sampai pada tahap-tahap terakhir dari latihan dasarnya. Dalam pada itu, Glagah Putihpun semakin mengenal dan terbiasa dengan gambar dan lambang-lambang dari tata gerak dalam jalur peningkatan ilmunya.

    Sementara itu, Agung Sedayu sendiri masih selalu menyediakan waktu meskipun hanya sedikit bagi dirinya sendiri. Meskipun ia telah meloncat sampai ke tataran yang tinggi di dalam ilmu kebal, namun ia masih merasa perlu untuk meningkatkan sedikit demi sedikit cabang ilmunya yang lain, karena Agung Sedayu masih merasa bahwa cabang ilmunya yang lain masih mungkin ditingkatkan. Bahkan kadang-kadang Agung Sedayu masih merasa cemas, bahwa ilmunya masih terlalu jauh dari memadai.

    Sebenarnyalah bahwa semakin banyak yang dimilikinya, maka ia merasa semakin banyak yang kurang pada dirinya.

    Dengan demikian, rasa-rasanya waktu yang sempit itu semakin sesak oleh kerja dan persiapan untuk satu masa perpisahan. Namun isi padepokan itupun samar, bahwa pada suatu saat, mereka memang akan menentukan jalan hidup mereka masing-masing, sehingga mereka tidak akan dapat tetap berkumpul untuk seterusnya. Sebagaimana Agung Sedayu dan Swandaru yang berguru pada orang yang sama, namun pada suatu saat merekapun telah berpisah pula.

    Tetapi perpisahan itu datangnya terlalu cepat bagi Glagah Putih. Ia merasa bahwa ia masih sangat memerlukan Agung Sedayu. Namun ia tidak akan dapat menghindari perpisahan itu. Tetapi dengan satu harapan bahwa ia akan dapat berkumpul lagi pada suatu saat di kemudian hari.

    Pada hari-hari terakhir, Glagah Putih telah menjadi masak dan siap untuk melakukan latihan-latihan dengan cara yang khusus. Dengan gambar dan lambang-lambang. Karena itu, maka Agung Sedayu menganggap bahwa ia tidak akan canggung lagi untuk ditinggalkannya dengan satu petunjuk tentang sebuah goa yang memuat gambar dan lambang-lambang yang dipahatkan pada dindingnya tentang ilmu yang dianut oleh Ki Sadewa.

    Tetapi hari-hari itu terasa cepat sekali berlalu. Ketika pada suatu hari padepokan itu dikejutkan oleh kehadiran sebuah iring-iringan kecil dari Tanah Perdikan Menoreh.

    Ternyata Ki Gede datang sebagaimana waktu yang dikatakannya diiringi oleh empat orang pengawalnya.

    Dengan jantung yang berdebar-debar Glagah Putih menanggapi kehadiran mereka. Ia sadar, bahwa kehadiran mereka akan berarti saat perpisahannya dengan Agung Sedayu menjadi semakin mendesak.

    Sebenarnyalah bukan saja Glagah Putih yang menjadi gelisah. Perpisahan memang tidak menyenangkan. Kiai Gringsing, Ki Widura dan Sabungsari yang selalu datang ke padepokan itupun merasa, betapa mereka menjadi gelisah. Meskipun Agung Sedayu masih belum beranjak dari padepokan itu, tetapi terasa bahwa kesepian telah mulai meraba perasaan mereka.

    Berbeda dengan penghuni padepokan itu, Ki Gede Menoreh nampak datang sambil membawa harapan bagi Tanah Perdikannya. Ia membayangkan bahwa Agung Sedayu akan dapat berbuat sebagaimana dilakukan oleh Swandaru bagi Sangkal Putung.

    Setelah duduk di pendapa, dan setelah mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka mulailah Ki Gede menyebut-nyebut kedatangannya.

    “Aku memenuhi seperti yang sudah aku katakan kira-kira sebulan yang lalu.” berkata Ki Gede Menoreh.

    “Waktu itu datangnya terlampau cepat.” Sahut Kiai Gringsing, “Rasa-rasanya kami belum siap untuk melepaskan Agung Sedayu.”

    “Tetapi Kiai tidak akan melepaskannya untuk seterusnya.” Berkata Ki Gede, “Setiap saat, anak muda itu akan dapat datang menghadap jika Kiai perlukan, atau jika kebetulan Kiai sempat datang ke Tanah Perdikan Menoreh, maka bukan saja Agung sedayu, tetapi kami semuanya akan merasa senang sekali.”

    Kiai Gringsing tersenyum betapapun pahitnya. Sementara itu, Ki Widura berkata, “Sebenarnya aku masih sangat memerlukannya. Tetapi apa boleh buat. Saat-saat yang demikian akan datang juga, lambat atau cepat.”

    “Kenapa angger Glagah Putih tidak ikut saja ke Tanah Perdikan Menoreh?” bertanya Ki Gede Menoreh.

    “Biarlah ia mempersiapkan dirinya lebih baik lagi.” jawab Ki Widura, “Pada suatu saat, aku memang akan melepaskannya pula. Tetapi tidak secepatnya.”

    Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, betapa orang-orang yang akan ditinggalkan oleh Agung Sedayu itu merasa dibayangi oleh kesepian. Sebagaimana yang pernah dialami oleh Ki Gede sendiri. Meskipun ia dapat memanggil berpuluh-puluh anak muda setiap hari di rumahnya, tetapi kepergian Pandan Wangi ke Sangkal Putung membuatnya menjadi sepi dan seolah-olah terasing.

    Tetapi atas permintaan Kiai Gringsing, Ki Gede Menoreh tidak akan tergesa-gesa kembali ke Tanah Perdikannya bersama Agung Sedayu. Bahkan Kiai Gringsing telah bertanya kepada Ki Gede, “Bukankah Ki Gede akan menengok Pandan Wangi pula barang satu dua hari di Sangkal Putung?”

    “Ya Kiai.” jawab Ki Gede, “Aku tentu akan menengok anakku. Tetapi rasa-rasanya aku lebih mapan berada di padepokan ini. Mungkin aku akan berada di Sangkal Putung di siang hari dan kembali ke padepokan ini di malam hari.”

    Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Bagi kami di sini, sama sekali tidak ada keberatannya.”

    “Ya, aku tahu maksud Kiai.” sahut Ki Gede Menoreh, “Tetapi jika demikian, apakah tidak akan terasa janggal oleh Ki Demang Sangkal Putung?”

    Kiai Gringsing tertawa, sementara Ki Gedepun tertawa pula. Bagaimanapun juga, tentu akan terasa oleh Ki Demang, seolah-olah Ki Gede kurang mapan tinggal di Sangkal Putung, justru pada anak menantunya sendiri.

    Demikianlah, seperti yang diperbincangkan itu, Ki Gede memang merencanakan untuk pergi ke Sangkal Putung. Meskipun belum lama berselang ia baru saja menemui anak dan menantunya, tetapi jika ia sudah berada di Jati Anom maka untuk bergeser ke Sangkal Putung tinggallah jarak yang pendek saja.

    Dalam pada itu, meskipun Agung Sedayu sudah mempersiapkan sebelumnya, ternyata kehadiran Ki Gede Menoreh itu terasa terlampau cepat. Karena itu, rasa-rasanya ia menjadi sangat tergesa-gesa untuk mempersiapkan Glagah Putih sebelum ia meninggalkan Jati Anom.

    Ketika ia mendengar keterangan bahwa Ki Gede Menoreh akan pergi ke Sangkal Putung barang dua tiga hari, maka Agung Sedayu merasa agak lapang. Ia mempunyai waktu untuk kesempatan yang terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan Glagah Putih untuk memberikan pesan-pesan dan petunjuk-petunjuk yang sangat diperlukan.

    Tetapi Agung Sedayu menjadi berdebar-debar ketika Ki Gede bertanya, “Apakah kau tidak pergi ke Sangkal Putung bersama aku? Kau tentu akan minta diri kepada Sekar Mirah dan keluarganya.”

    Agung Sedayu menjadi semakin bingung. Tetapi ia benar-benar tidak dapat pergi sebelum ia menyelesaikan pesan-pesan terakhirnya kepada Glagah Putih. Karena itu, maka katanya, “Aku masih akan menyelesaikan beberapa kewajibanku di sini Ki Gede. Meskipun sudah aku persiapkan beberapa lama, tetapi pada saat terakhir, rasa-rasanya waktu berjalan terlampau cepat.”

    Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan pergi lebih dahulu. Baru di keesokan harinya kau akan menyusul.”

    Ketika Ki Gede pergi ke Sangkal Putung diiringi oleh para pengawalnya dan diantar oleh Ki Waskita karena perkembangan keadaan yang kadang-kadang sangat mendebarkan di daerah itu, maka Agung Sedayu mempunyai rencananya sendiri dengan Glagah Putih.

    “Waktuku sudah habis Glagah Putih.” berkata Agung Sedayu, “Namun sementara itu, kau sudah menjadi semakin dewasa. Kau sudah cukup masak untuk menentukan langkah-langkahmu sendiri. Kau harus menjadi seorang anak muda yang lebih tangkas berpikir dan bertindak dari aku. Seumurmu, aku masih sangat ketinggalan.”

    “Apakah yang harus aku lakukan, kakang?” bertanya Glagah Putih.

    “Kita akan pergi ke suatu tempat.” jawab Agung Sedayu.

    “Ke mana?” bertanya Glagah Putih kemudian.

    “Kau sekarang sudah cukup dewasa.” berkata Agung Sedayu pula, “Dengan demikian maka sudah sewajarnya jika kau harus bersikap dewasa pula.”

    “Aku akan mencoba.” jawab Glagah Putih.

    “Baik.” berkata Agung Sedayu, “Yang akan aku tunjukkan kepadamu adalah satu rahasia. Rahasia yang tidak seorangpun yang mengetahui kecuali aku, guru dan Ki Waskita.”

    Glagah Putih menjadi tegang.

    “Karena itu, kaupun harus merahasiakannya. Kau tidak boleh mengatakannya kepada siapapun. Juga kepada Sabungsari. Meskipun aku sudah yakin, bahwa ia tidak akan berbuat jahat, tetapi untuk sementara biarlah ia tidak mengetahuinya.” berkata Agung Sedayu.

    “Bagaimana dengan ayah?” bertanya Glagah Putih.

    “Aku tidak berkeberatan. Jika kau ingin memberitahukan kepada paman Widura, maka kaupun harus berpesan, bahwa tidak ada orang lain lagi yang boleh mengetahuinya. Kau mengerti?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Jawabnya lirih, “Aku mengerti kakang.”

    “Nah, aku kira kau masih ingat, bahwa pada suatu saat aku pergi untuk waktu yang agak lama? Satu bulan.” bertanya Agung Sedayu.

    Glagah Putih mengingat-ingat sejenak. Sementara Agung Sedayu berkata lebih lanjut, “Aku kembali dalam keadaan yang sangat lemah.”

    “Ya, ya. Aku ingat.” jawab Glagah Putih kemudian.

    “Aku pergi dari satu tempat yang aku sebut rahasia itu. Sebelum aku pergi ke Tanah Perdikan, aku ingin menunjukkan kepadamu tempat itu.” berkata Agung Sedayu kemudian.

    “Untuk apa?” bertanya Glagah Putih.

    “Pada saatnya kau akan mengetahui.” jawab Agung Sedayu.

    Glagah Putih tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengerti, bahwa tentu Agung Sedayu mempunyai maksud tertentu. Jika tidak ada sesuatu yang sangat penting, maka ia tidak akan membawanya ke manapun juga.

    “Kita akan berangkat menjelang pagi, agar tidak seorangpun yang melihatnya.” berkata Agung Sedayu, “Di saat matahari terbit, kita akan sampai ke tempat itu. Tempatnya memang tidak terlalu jauh.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan berbuat apa saja yang baik menurut kakang.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih ingin berbuat lebih banyak lagi atas anak itu. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan lagi.

    Demikianlah seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka menjelang dini hari, keduanya telah meninggalkan padepokan setelah mereka minta diri kepada Kiai Gringsing dan Ki Widura. Meskipun sisa-sisa malam masih gelap, tetapi ketajaman indera Agung Sedayu telah menuntunnya berjalan menuju ke goa di tepi sungai yang bertebing curam, setelah mereka melintasi sebuah hutan kecil.

    Ketika langit menjadi merah, keduanya telah berada di lereng sungai yang curam itu. Dengan hati-hati mereka menuruni tebing. Kemudian, keduanyapun telah mendekati mulut goa yang berada di lereng tebing sungai itu.

    “Kita akan memasuki goa itu, Glagah Putih.” berkata Agung Sedayu.

    “Goa apakah itu, kakang?” bertanya Glagah Putih.

    “Kau akan mengetahuinya. Kali ini kita hanya ingin melihat isinya. Kemudian, kau sendirilah yang akan menentukan kelanjutannya.”

    Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah. Kita akan memasukinya. Tetapi apakah kakang pernah masuk sebelumnya?”

    “Sudah. Bukankah aku pernah mengatakan, bahwa aku pernah pergi ke satu tempat yang aku rahasiakan? Ketika aku pulang, aku merasa sangat letih.” jawab Agung Sedayu.

    Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Di luar sadarnya ia bertanya, “Apakah aku juga harus melakukan seperti yang kakang lakukan?”

    “O, tidak. Tidak.” jawab Agung Sedayu, “Pada saat itu aku melakukan tanpa petunjuk, tanpa pengertian lain kecuali tekad yang menyala di dalam dada ini.”

    “Jadi aku akan berbuat tidak seperti yang kakang lakukan?” bertanya Glagah Putih.

    “Tidak. Kau tidak perlu berbuat sesuatu seperti yang aku lakukan sehingga kau akan menjadi sangat letih.” jawab Agung Sedayu, “Nah, sekarang ikut aku memasuki goa itu.”

    Glagah Putihpun kemudian mengikuti Agung Sedayu memasuki goa itu. Meskipun matahari sudah memanjat langit, tetapi udara di dalam goa itu masih sangat lembap dan gelap.

    Dengan pengenalannya yang tajam Agung Sedayupun dapat langsung membawa Glagah Putih ke tempat yang dicarinya. Setelah beberapa lama mereka merayap meloncat dan masuk ke dalam sebuah lubang kemudian merangkak menelusuri jalur yang sempit, akhirnya mereka sampai ke sebuah ruangan yang diterangi oleh cahaya dari lubang di atas ruang itu.

    Ketika Agung Sedayu berhenti di ruang itu, dan kemudian berpaling ke arah Glagah Putih, dilihatnya anak muda itu bersandar dinding goa. Nafasnya terasa terengah-engah dan lututnya menjadi pedih.

    “Kenapa kau Glagah Putih?” bertanya Agung Sedayu dengan cemas.

    Glagah Putih menggeleng. Jawabnya, “Tidak apa-apa kakang.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Baru ia sadar, bahwa jalan menuju ke ruang itu memang terlalu sulit untuk dilalui. Agung Sedayupun teringat bagaimana pertama kali ia memasuki ruang itu. Lututnya menjadi terluka karena merangkak di dalam sebuah lubang dari sebuah goa yang berdinding padas.

    (bersambung)

  19. ki GD mau tanya nih, kok ada bag yg hilang ya antara 144-145. apa emang blm di retype ato kelupaan ato bgmn?
    Yah, kl mmg krn versi resmi retype blm keluar ya berarti blm rejeki nih hari ini.
    Aku tunggu deh dg sesabar2nya (eh disabar2in).
    ok deh, hidup padepokan adbm.
    MERDEKA!!!

  20. terusan… hal. 50 s/d 62

    “Beristirahatlah.” berkata Agung Sedayu.

    Glagah Putihpun kemudian duduk dengan letih. Ketika ia menengadahkan wajahnya, iapun melihat dua buah lubang yang tidak terlalu besar.

    “Oleh lubang-lubang itulah, maka ruangan ini tidak menjadi pepat. Udara sempat masuk dan jika matahari memanjat semakin tinggi, maka sinarnyapun akan masuk pula ke dalam ruangan ini.” berkata Agung Sedayu.

    “Apakah kakang pernah berada di ruang ini?” bertanya Glagah Putih.

    “Ya. Aku menemukan ruang ini tidak dengan sengaja.” jawab Agung Sedayu.

    “Apakah yang menyebabkan tempat ini memberikan arti bagi kakang Agung Sedayu, dan apa pula yang akan dapat aku sadap di sini?” bertanya Glagah Putih yang segera ingin tahu.

    Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Beristirahatlah sebentar. Nanti aku akan menunjukkannya.”

    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam.

    Dalam pada itu, mataharipun memanjat semakin tinggi. Bayangannya mulai nampak pada lubang yang terdapat di atas ruang itu, sehingga ruangan itupun rasa-rasanya menjadi semakin terang.

    “Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu kemudian, “jika nafasmu telah teratur kembali dan ruangan ini menjadi semakin terang, marilah kita melihat, apakah yang dapat kita sadap di dalam ruangan ini.”

    “Aku sudah tidak sabar lagi, kakang.” jawab Glagah Putih.

    Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Baiklah. Berdirilah.”

    Glagah Putihpun kemudian berdiri. Ia menjadi heran ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri menghadap dinding. Ketika tangannya mengusap dinding goa itu, Glagah Putih bertanya, “Kenapa dengan dinding goa itu?”

    “Debunya tidak setebal saat aku memasuki goa ini untuk pertama kali.” berkata Agung Sedayu.

    “Debu apa?” bertanya Glagah Putih pula.

    “Debu yang melekat pada dinding goa ini.” jawab Agung Sedayu.

    Ketika sekali lagi ia meraba dinding goa itu, maka katanya, “Lakukanlah seperti yang aku lakukan. Kemarilah. Usaplah dinding goa ini. Di sini.”

    Glagah Putih menjadi heran. Tetapi ia melakukan seperti yang dilakukan Agung Sedayu. Ketika Agung Sedayu mengusap dinding goa yang kotor itu, iapun melakukannya.

    “Apa yang terasa di tanganmu?” bertanya Agung Sedayu.

    “Debu.” sahut Glagah Putih.

    “Di balik debu.” Agung Sedayu menjelaskan.

    Glagah Putih mengerutkan keningnya. Kemudian iapun mulai merasa sambil memperhatikan apa yang terasa di tangannya.

    Hatinya menjadi berdebar-debar ketika terasa goresan-goresan pada dinding goa itu. Garis-garis. Bukan saja garis-garis. Tetapi tentu sebuah lukisan yang terpahat pada dinding goa itu.

    Dengan tergesa-gesa, Glagah putihpun kemudian menghapus debu pada dinding itu. Meskipun Agung Sedayu tidak pernah mengatakannya apa yang dilakukannya, tetapi Glagah Putih telah melakukan seperti apa yang pernah dilakukan itu. Dengan kain panjangnya, Glagah Putih telah mengibas debu yang ada pada dinding goa yang tidak setebal saat Agung Sedayu menemukannya.

    Sesaat kemudian, Glagah Putih telah melihat dengan jelas, lukisan yang terpahat pada dinding goa itu. Lukisan dan gambar-gambar seperti yang pernah diperkenalkan Agung Sedayu kepadanya.

    “Kakang,” desis Glagah Putih, “bukankah ini lambang-lambang gerak dari ilmu yang sedang aku pelajari?”

    “Ya.” jawab Agung Sedayu, “Ketahuilah, dinding ini penuh dengan pahatan lukisan dan lambang-lambang seperti itu.”

    Wajah Glagah Putih menjadi tegang dan jantungnya seolah-olah berdegup semakin keras. Dengan serta-merta iapun kemudian mengusap dinding itu dengan kain pan jangnya.

    Agung Sedayu tidak mencegahnya. Dibiarkannya saja Glagah Putih berbuat demikian.

    Namun ketika sebagian besar dari dinding itu sudah dibersihkan, Glagah Putih itu berhenti. Sambil bersandar dinding goa itu, ia menarik nafas panjang. Beberapa kali, sambil menghentak-hentakkan tangannya.

    Katanya, “Menghapus debu pada dinding seluas ini ternyata memerlukan tenaga yang cukup banyak.”

    Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Itu baru menghapus debunya. Kau belum mulai dengan gerak seperti yang terpahat pada dinding goa itu.”

    “Ya. Aku sekarang dapat membayangkan, kenapa kakang menjadi nampak sangat letih ketika kembali ke padepokan pada saat itu.” berkata Glagah Putih.

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantahnya, meskipun yang dikatakan oleh Glagah Putih itu kurang tepat. Ia justru menekuni ilmu yang lain dari yang terpahat pada dinding goa itu. Baru kemudian ia menemukannya dan memperhatikannya pahatan itu dengan seksama dengan menilainya. Bahkan hampir saja ia terdorong oleh gejolak perasaannya sehingga ia berniat untuk merusak saja gambar dan lambang-lambang yang terpahat pada dinding goa itu. Namun untunglah bahwa saat itu ia teringat akan Glagah Putih, serta kemungkinan bagi perkembangan ilmu anak muda itu selanjutnya, yang masih tetap berada pada jalur ilmu Ki Sadewa, sehingga iapun mengurungkan niatnya itu.

    Kini ia sudah membawa Glagah Putih kedalam goa itu. Dan iapun telah menghadapkan Glagah Putih pada pahatan di dinding goa itu untuk memperdalam ilmunya yang masih tetap pada jalur ilmu Ki Sadewa.

    Dalam pada itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata, “Glagah Putih, aku sekarang hanya ingin menunjukkan kepadamu tempat yang harus kau rahasiakan ini. Kau dapat mempelajarinya dengan tidak usah tergesa-gesa. Jika pada saat aku pergi meninggalkan padepokan, guru hanya memberi waktu aku satu bulan, maka sekarang kau dapat melakukan jauh lebih lama. Kau mempunyai waktu yang jauh lebih lapang, sehingga ilmu yang kau sadap itupun akan menjadi lebih masak.”

    “Tetapi, apakah ilmu kakang Agung Sedayu kurang matang?” bertanya Glagah Putih.

    “Di samping ilmu yang gambar dan lambangnya terpahat pada dinding goa ini, aku juga mempelajari ilmu kanuragan dari saluran ilmu Kiai Gringsing. Karena itu aku dapat mematangkan ilmuku lewat dua saluran. Sudah barang tentu bahwa dalam keadaan yang gawat, ilmu yang nampak lebih banyak aku pergunakan adalah ilmu yang aku sadap dari Kiai Gringsing.” jawab Agung Sedayu.

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun dapat mengerti, bahwa pada Agung Sedayu pengaruh ilmu yang tersalur lewat Kiai Gringsing akan nampak lebih banyak dari ilmu yang dipelajarinya dengan tergesa-gesa karena waktu yang sangat singkat di dalam goa itu. Namun sebenarnyalah, Agung Sedayu tidak berbuat demikian ketika ia berada didalam goa itu.

    Dalam pada itu, maka Agung Sedayupun berkata pula, “Glagah Putih. Aku kira kewajibanku atasmu sebagian besar telah selesai. Selanjutnya aku berharap bahwa kau akan berkembang lebih jauh. Mungkin kau akan mendapat petunjuk dari Ki Widura. Namun ketahuilah, bahwa paman Widura masih belum mencapai tataran terakhir dari ilmu ini. Tataran terakhir yang masih mungkin kau pelajari, karena tataran berikutnya, tataran yang mendekati sempurna, ternyata telah rusak.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya, kakang. Aku akan dapat mencapai satu tingkat yang sama dengan ayah. Kemudian kami akan bersama-sama mengembangkan ilmu ini dengan mempelajarinya pada gambar yang dipahatkan pada dinding goa ini.”

    “Mungkin kau dapat berbuat demikian,” jawab Agung Sedayu, “tetapi aku yakin bahwa kemajuanmu akan jauh lebih pesat dari paman Widura. Kecuali usiamu adalah usia yang paling baik bagi perkembangan ilmu, juga niat yang membakar jantungmu akan jauh lebih besar dari paman Widura. Meskipun demikian kau akan dapat mencobanya. Jangan kau cegah ayahmu meningkatkan ilmunya dan menunggumu. Biarlah paman Widura melangkah lebih dahulu dari permulaan yang lebih baik darimu. Tetapi aku yakin, pada satu saat kau akan menyusulnya dan bahkan melampauinya.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Desisnya, “Baiklah kakang. Aku akan melakukannya. Tetapi, bagaimana dengan kakang Untara?”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Gambar-gambar yang terpahat pada dinding ini sudah tidak banyak artinya lagi bagi kakang Untara. Jika ia melihat pahatan ini, maka manfaatnya tidak akan terlalu banyak. Ia sudah sampai pada tingkat terakhir. Yang sebenarnya diperlukan adalah tataran tertinggi yang justru sudah rusak itu.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa ilmu kakak sepupunya itu lebih baik dari ilmu ayahnya. Sementara itu, Untara masih selalu berusaha mengembangkan ilmunya itu meskipun waktunya sangat terbatas.

    “Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu kemudian, “dalam waktu dekat aku akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Kau dapat mengatur waktumu bersama paman Widura dan Kiai Gringsing. Tetapi menurut pendengaranku, Kiai Gringsing akan berada di samping Swandaru untuk menilai perkembangan ilmunya pada saat-saat terakhir. Tetapi tentu tidak akan terlalu lama.” Agung Sedayu berhenti sejenak, lalu, “Sekali lagi aku ingatkan. Tempat ini adalah tempat yang harus dirahasiakan. Sabungsari, meskipun aku yakin, ia adalah orang yang baik di dalam hidup barunya, namun ia masih belum perlu mengetahui apapun tentang goa dan pahatan pada dinding goa ini.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya, kenapa goa itu harus dirahasiakan terhadap orang terdekat sekalipun.

    Sementara itu, Agung Sedayupun berkata, “Glagah Putih. Aku merasa kepergianku tidak lagi dibebani oleh kewajiban yang terlalu berat. Gambar dan lambang-lambang yang terpahat di dinding goa ini telah banyak membantu aku menuntunku pada jalur ilmu Ki Sadewa. Tentu cara yang akan kau tempuh berbeda dengan cara yang pernah aku lakukan. Namun aku percaya bahwa kau akan dapat menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Pada saat kita akan bertemu lagi, maka kita akan dapat mempelajari bersama bagian yang tertinggi dari susunan ilmu yang justru sudah rusak dan retak-retak itu. Tetapi itu bukan berarti bahwa yang sudah rusak itu tidak akan dapat dipelajari dan disusun kembali.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Aku berharap bahwa kakang tidak akan terlalu lama lagi sudah kembali ke padepokan. Beberapa bulan lagi kakang akan melangsungkan perkawinan kakang. Tentu kakang akan berada di Sangkal Pulung. Namun sesudah itu, apakah kakang mengerti, apa yang akan kakang lakukan?”

    Agung Sedayu menggeleng lemah. Jawabnya, “Belum, Glagah Putih. Aku belum tahu. Tetapi jika benar aku akan diserahi tugas seperti yang dilakukan oleh Swandaru bagi Sangkal Putung, aku akan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga sesudah hari perkawinan itu, akupun akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh untuk beberapa saat.”

    “Seandainya, kakang. Hanya seandainya. Pada saat itu aku sudah selesai dengan mempelajari gambar dan lambang-lambang yang tertera di dinding goa ini, apakah aku diperkenankan untuk mengikuti kakang ke Tanah Perdikan Menoreh?”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku belum dapat menjawabnya sekarang Glagah Putih. Semuanya masih tergantung sekali kepada keadaan dan suasana.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti, bahwa di Tanah Perdikan Menoreh Agung Sedayu tidak dapat menentukan segala sesuatunya menurut kehendaknya sendiri.

    Dalam pada itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata, “Tugas kita hari ini sudah selesai. Kita akan kembali ke padepokan. Tetapi kita akan menunggu matahari turun dan senja menjadi gelap, agar tidak seorangpun yang bertanya kepada kita, atau seseorang yang menduga-duga tentang perjalanan pendek ini.”

    “Kita akan keluar dari goa?” bertanya Glagah Putih.

    “Ya. Kita akan menunggu di luar.” jawab Agung Sedayu.

    Keduanyapun kemudian menelusuri jalur sempit meninggalkan ruangan itu. Seperti saat mereka memasukinya, maka mereka harus merangkak dan merayap.

    “Kenalilah jalur ini sebaik-baiknya Glagah Putih.” pesan Agung Sedayu. Lalu, “Jika kau tersesat memasuki jalur yang lain, kau tidak akan menemukan gambar dan lambang-lambang yang terpahat pada dinding ruangan itu.”

    “Tetapi mungkin aku menemukan sesuatu yang lain lagi, kakang.” jawab Glagah Putih.

    “Memang mungkin.” jawab Agung Sedayu, “Tetapi mungkin pula kau akan menelusuri jalan yang sangat panjang tanpa akhir. Atau terperosok ke jalur yang melingkar lingkar tanpa ujung dan pangkal.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Iapun melakukan seperti yang dipesan oleh Agung Sedayu. Ia mencoba untuk mengenali jalur yang ditelusurinya sebaik-baiknya, agar jika ia pada suatu saat akan kembali lagi, maka ia tidak akan kehilangan jalan.

    Ketika keduanya kemudian sampai ke mulut goa, Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia ingin menghisap semua udara di depan mulut goa itu.

    Namun dalam pada itu, seperti saat Agung Sedayu pertama kali memasuki goa, maka lututnya telah terluka dan berdarah.

    “Kau dapat mandi di sungai itu.” berkata Agung Sedayu.

    Glagah Putih mengangguk. Iapun kemudian turun ke sungai dan mandi sambil mencuci kain panjangnya yang kotor oleh debu. Kemudian membentangkannya di atas rumput yang tumbuh di tepian sambil menunggu matahari turun.

    Dalam pada itu, menjelang senja, barulah mereka meninggalkan tempat itu. Meskipun mereka tidak makan sehari penuh, selain beberapa potong ketela pohon rebus di pagi hari, namun mereka telah terbiasa dengan keadaan serupa itu. Bahkan merekapun telah berusaha melatih diri menghadapi keadaan-keadaan yang gawat dan terpaksa.

    “Besok aku akan menyusul Ki Gede ke Sangkal Putung.” berkata Agung Sedayu, “Aku akan minta diri kepada keluarga di Sangkal Pulung untuk pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Pada saatnya aku akan kembali lagi, dan seterusnya aku belum tahu apa yang akan aku lakukan.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia menyadari keadaan Agung Sedayu meskipun ia tidak tahu dengan pasti. Karena itu, maka ia tidak bertanya lebih lanjut.

    Malam itu juga Glagah Putih berbicara dengan ayahnya berdua saja. Ia memberitahukan tempat yang oleh Agung Sedayu dinyatakan sebagai tempat yang harus dirahasiakan itu.

    “Kau sudah melihat gambar-gambar itu seluruhnya?” bertanya Ki Widura.

    “Ya, ayah. Aku sudah melihat semuanya.” jawab Glagah Putih.

    “Apakah bukan Agung Sedayu sendiri yang memahatkannya pada dinding ruangan itu?” bertanya Widura pula.

    Glagah Putih merenung sejenak. Hal itu memang mungkin sekali. Tetapi untuk melakukannya tentu dibutuhkan waktu yang lama.

    “Tetapi kakang Agung Sedayu belum pernah meninggalkan padepokan itu, atau sebelumnya terpisah dari Kiai Gringsing untuk waktu yang cukup lama.” jawab Glagah Putih.

    “Ia pernah pergi untuk waktu satu bulan lamanya. Ketika ia kembali, ia menjadi sangat letih.” jawab Ki Widura.

    “Waktu itu tidak cukup ayah. Justru saat itu kakang Agung Sedayu hanya mempelajari gambar dan lambang-lambang yang terdapat pada dinding ruangan di dalam goa itu. Untuk memahatkan gambar-gambar dan lambang-lambang itu tentu diperlukan waktu yang lama sekali.”

    Widura mengangguk-angguk lemah. Tetapi yang diceriterakan oleh anaknya itu memang sangat menarik perhatiannya. Jika benar apa yang dikatakan oleh anak laki-lakinya itu, maka hal itu akan merupakan satu teka-teki yang sulit untuk ditebak.

    Namun dalam pada itu Ki Widura itupun berkata, “Baiklah, Glagah Putih. Kakakmu Agung Sedayu akan segera pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Namun kau telah mendapat kesempatan yang jarang bandingnya. Bahkan kau akan dapat mempelajari satu urutan ilmu sampai pada satu tingkat yang sulit dicapai. Meskipun seperti yang kau katakan, bahwa tingkat tertinggi dari ilmu itu justru telah rusak dan retak-retak, namun jika yang ada itu telah dapat kau sadap seluruhnya, maka kau akan menjadi seorang anak muda yang pilih tanding. Sementara pada suatu saat, jika kakakmu itu telah selesai dengan tugasnya di Tanah Perdikan Menoreh, kau akan dapat mendalaminya lebih jauh lagi.”

    “Mudah-mudahan kita dapat memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh kakang Agung Sedayu itu sebaik-baiknya, ayah.” desis Glagah Putih.

    “Kita akan mencobanya. Tetapi sudah barang tentu, kau adalah yang utama. Aku sudah tua. Segala perkembangan tentu sudah lamban. Tetapi semuda kau, segalanya harus berjalan cepat.” jawab ayahnya. Lalu, “Meskipun demikian bukan berarti bahwa yang tua ini harus berhenti. Tetapi yang mudalah yang lebih berarti bagi masa depan.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia merasa berdebar-debar jika ia membayangkan dinding yang luas yang penuh dengan gambar dan lambang-lambang yang terpahat pada dinding itu.

    Malam itu. Glagah Putih hampir tidak dapat tidur sama sekali. Angan-angannya dipenuhi oleh berbagai macam persoalan. Dinding gua. Agung Sedayu yang akan pergi, kesepian di hari-hari mendatang, dan bermacam-macam persoalan lagi.

    Namun menjelang pagi, ternyata Glagah Putih itu menjadi lelap. Namun ia hanya sempat tidur beberapa saat, karena sebentar kemudian ia sudah terbangun oleh kesibukan Agung Sedayu yang akan pergi ke Sangkal Putung.

    “Kakang akan berangkat pagi-pagi benar?” bertanya Glagah Putih.

    “Sebentar lagi matahari akan terbit, dan aku akan berangkat ke Sangkal Putung.” jawab Agung Sedayu.

    “Sendiri?” bertanya Glagah Putih.

    “Tidak. Aku akan pergi bersama guru. Sementara paman Widura yang agaknya sudah kau beritahu, akan mempunyai rencananya tersendiri. Kau akan dibawanya ke sungai itu.” jawab Agung Sedayu.

    “Sudah terlalu siang.” desis Glagah Putih.

    “Belum. Masih cukup pagi. Agaknya paman Widura sudah siap. Tetapi karena paman tahu, bahwa hampir semalam kau tidak tidur, maka ia tidak sampai hati untuk membangunkanmu.” jawab Agung Sedayu.

    “Tetapi jangan kesiangan,” desis Glagah Putih, “bukankah tempat itu harus dirahasiakan?”

    Ternyata Glagah Putihpun segera mempersiapkan diri. Ketika ia bertemu dengan ayahnya, maka seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, ayahnya ingin melihat tempat yang diceriterakannya itu.

    Sejenak kemudian, maka merekapun telah siap untuk pergi ke arah yang berbeda. Mereka masih sempat untuk makan beberapa kerat ketela pohon yang direbus. Rasa-rasanya memang sedap sekali, menjelang fajar makan ketela rebus yang masih hangat dan minum minuman yang hangat pula dengan gula kelapa.

    Kepada para cantrik yang tinggal di padepokan Agung Sedayu berpesan, bahwa ia akan pergi ke Sangkal Putung bersama gurunya, sedangkan Ki Widura dan Glagah Putih pergi ke Banyu Asri.

    “Jika Sabungsari datang kemari, biarlah ia menunggu.” pesan Agung Sedayu pula.

    Dalam pada itu, di perjalanan menuju ke Sangkal Putung, Kiai Gringsing sempat memberikan beberapa pesan kepada Agung Sedayu jika ia berada di Tanah Perdikan Menoreh kelak. Bagaimana ia harus menyesuaikan diri dengan daerah yang baru, meskipun pada masa lampau. Agung Sedayu pernah berada di Tanah Perdikan itu untuk beberapa saat lamanya.

    “Sementara itu, aku ingin menilik keadaan Swandaru.” berkata Kiai Gringsing, “Seperti yang pernah aku katakan, perkembangan ilmu Swandaru mempunyai arah yang berbeda dengan perkembangan ilmumu. Aku berkewajiban untuk menilik kedua-duanya. Mudah-mudahan aku akan dapat memberikan jalan agar ilmu kalian seimbang.” Namun Kiai Gringsing masih menambahkannya, “Maksudku, seimbang bagi ilmu yang kau sadap dari padaku. Sementara kau berhak untuk mendapatkan kemampuan dari manapun juga, asal tidak bertentangan dengan watak dan sifat dari ilmu yang telah kau dapatkan dari aku, serta tidak meninggalkan pegangan dan pandangan hidup sebagaimana aku ajarkan kepadamu.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya maksud gurunya. Agung Sedayu sendiri memang melihat, bahwa nampaknya Swandaru lebih condong untuk melihat unsur lahiriah pada ilmunya. Meski pun demikian jika ia berhasil menyempurnakannya, maka ledakan cambuknya akan dapat membelah batu hitam, dan melumatkannya menjadi debu.

    Sementara itu, Glagah Putih telah membawa ayahnya mengikuti jalan yang dilaluinya bersama Agung Sedayu di hari sebelumnya. Ketika matahari naik, ternyata mereka sudah berada di hutan kecil yang sepi dan jarang dikunjungi orang. Dengan langkah yang cepat Glagah Putih meloncati pepohonan yang roboh melintang jalan, melintasi parit yang mengalir tidak terarah. Kemudian menyeberangi padang perdu yang sempit, sehingga akhirnya merekapun menuruni tebing sungai yang cukup curam.

    “Kita sudah sampai.” berkata Glagah Putih sambil menunjuk mulut goa ketika mereka sudah berada di tepian.

    “Aneh,” berkata Ki Widura, “bukannya aku belum pernah melihat goa itu. Di masa remaja, aku pernah memasukinya, meskipun tidak sengaja dan tanpa maksud apapun juga. Menurut ceritera, goa itu panjang sekali, sehingga ujungnya akan sampai ke dasar samodra.”

    “Karena itu, tidak ada orang yang tertarik untuk menelusurinya.” sahut Glagah Putih.

    Keduanyapun kemudian memasuki goa itu. seperti pada saat Glagah Putih mengikuti Agung Sedayu, maka iapun membawa ayahnya melalui jalur-jalur sempit menuju kesebuah ruang yang cukup luas. Pada dinding ruang itulah, gambar dan lambang-lambang itu terpahat.

    Widura memperhatikan gambar dan lambang-lambang itu dengan jantung yang berdegupan. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa di dinding goa itu terdapat gambar dan lambang-lambang yang demikian jelas dan berurutan, sehingga bagi mereka yang memiliki dasar kemampuan, tentu akan dapat mempelajarinya untuk seterusnya sampai pada tingkat yang hampir mumpuni, karena justru tingkat terakhir telah rusak.

    “Glagah Putih,” berkata Ki Widura, “ternyata meskipun Agung Sedayu meninggalkanmu untuk sementara, tetapi jiwanya dalam hubungan dengan peningkatan ilmumu, masih tetap ada padamu. Ternyata apa yang diberikan kepadamu ini, tidak ubahnya dengan hadirnya Agung Sedayu sendiri. Lepas dari siapapun yang telah membuat gambar dan lambang-lambang ini, tetapi adalah satu kenyataan bahwa Agung Sedayulah yang telah memberikan kepadamu. Karena itu, jangan mengecewakannya. Jika kau tekun dan sungguh-sungguh, maka kau akan dapat memenuhi harapannya.”

    (masih bersambung)

  21. hal. 63 s/d 71

    “Ya, ayah.” jawab Glagah Putih, “Aku akan membuktikan kepada kakang Agung Sedayu bahwa aku akan mempelajarinya dengan sebaik-baiknya sehingga sampai tingkat yang terakhir yang terdapat pada dinding goa ini. Untuk selanjutnya, kakang Agung Sedayu sudah menyanggupkan diri untuk memperbaiki yang rusak itu.”

    “Lakukanlah.” sahut ayahnya, “Meskipun aku sudah tua, tetapi ternyata bahwa ilmuku masih belum mencapai tingkat tertinggi dari gambar dan lambang-lambang yang ada. Karena itu, aku akan bersama-sama mempelajarinya, meskipun sudah barang tentu dengan laju yang berbeda. Apa yang dapat kau pahami dalam waktu satu hari, aku akan dapat melakukan hal yang sama dalam sepekan karena umurku yang sudah terlalu tua untuk meningkatkan ilmu.”

    Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu ia berjanji kepada diri sendiri untuk melakukan seperti yang dikatakan oleh ayahnya.

    Ternyata mereka tidak terlalu lama berada di dalam goa. Merekapun kemudian merangkak keluar. Seperti Glagah Putih, maka lutut Widurapun menjadi terluka.

    “Kakang Agung Sedayu keluar dari daerah ini setelah gelap.” berkata Glagah Putih.

    Ki Widura mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa justru setelah diketemukan isi dari goa itu, maka Agung Sedayu ingin merahasiakan goa itu. Atau tidak menarik perhatian orang lain untuk melihat-lihat isi goa itu.

    Tetapi untuk menunggu sampai senja, mereka akan memerlukan waktu yang lama. Karena itu, maka Widurapun berkata, “Kita akan menelusuri sungai ini. Kita akan naik di sebelah tikungan sehingga kita akan sampai ke pinggir hutan kecil di sebelah Banyu Asri. Kita akan benar-benar singgah di Banyu Asri meskipun hanya sebentar.”

    Dalam pada itu, Agung Sedayu yang sudah berada di Sangkal Putung menyusul Ki Gede Menoreh, telah berbicara tentang berbagai persoalan tentang dirinya dengan Sekar Mirah. Bagaimanapun persoalan tentang dirinya dengan Sekar Mirah. Bagaimanapun juga perpisahan itu tidak menggembirakan, meskipun keduanya mengetahui bahwa perpisahan itu hanya bersifat sementara.

    Namun bagi Sekar Mirah, yang dilakukan oleh Agung Sedayu itu terasa lebih baik daripada ia berada di padepokan kecil di Jati Anom tanpa berbuat apa-apa, selain mempertahankan diri dari usaha beberapa pihak untuk membunuhnya.

    “Ia telah membuat dirinya sendiri menjadi sasaran pembunuhan tanpa tahu sebabnya dan tanpa kemungkinan apapun juga. Seseorang mempertaruhkan jiwanya dengan harapan-harapan. Tetapi kakang Agung Sedayu sama sekali tidak. Ia mempertaruhkan jiwanya tidak untuk apa-apa.” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya.

    Dengan demikian, betapapun perasaan sepi akan menjalari jantungnya, namun ia berusaha untuk mendorong Agung Sedayu melakukan tugas itu sebaik-baiknya.

    “Mungkin ada perkembangan lain dengan Tanah Perdikan itu.” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya. Karena ia tahu, bahwa kakaknya tidak ingin meninggalkan Sangkal Putung yang sudah dibinanya dengan baik.”

    Tidak seorangpun yang mengganggu pembicaraan antara Sekar Mirah dan Agung Sedayu, karena mereka tahu keduanya akan berpisah untuk sementara. Namun jika Sekar Mirah telah sampai pada pembicaraan tentang harapan-harapan, maka Agung Sedayu mulai menjadi gelisah.

    Tetapi Sekar Mirah tidak berbicara seperti biasanya. Ia lebih banyak berbicara tentang Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan iapun kemudian bertanya, “Kakang. apakah kau tidak berkeberatan, jika pada suatu saat aku datang menengokmu ke Tanah Perdikan Menoreh?”

    “Tentu tidak, Sekar Mirah.” jawab Agung Sedayu, “Tetapi kau harus memperhitungkan jalan menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Kau pernah mengalami satu keadaan yang gawat. Agaknya orang-orang yang selalu memusuhi kita telah membuat pertimbangan-pertimbangan sebaik-baiknya. Mereka tahu apa yang akan kita lakukan, sehingga mereka selalu memilih saat-saat yang demikian. Tetapi Tuhan agaknya masih selalu melindungi kita, sehingga setiap kali usaha mereka telah gagal karena keadaan yang tiba-tiba dan kadang-kadang semata-mata kebetulan telah terjadi di luar perhitungan mereka.”

    Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Ia masih ingat jelas apa yang pernah terjadi atas dirinya bersama kakak dan kakak iparnya. Untunglah bahwa seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, secara kebetulan Ki Waskita telah ikut pula pergi ke Jati Anom bersama dengan mereka.

    “Karena itu, Sekar Mirah,” berkata Agung Sedayu, “jika kau memang ingin pergi, pertimbangkan sebaik-baiknya.”

    Sekar Mirah mengangguk kecil. Desisnya, “Aku mengerti kakang. Agaknya kita memang sedang menjadi pusat sasaran orang orang dari lingkungan yang tidak kita ketahui ujung dan pangkalnya serta kepentingannya. Namun segalanya itu memang sudah terjadi.”

    Masih banyak yang dibicarakan oleh keduanya. Namun Sekar Mirah berusaha untuk tidak terdorong pada satu sikap yang dapat memberikan kesan yang kurang baik pada pertemuan yang terakhir sebelum mereka akan berpisah. Meskipun hanya untuk sementara. Dengan hati-hati Sekar Mirah menyatakan harapan-harapannya. Tidak seperti biasanya, ia berkata berterus terang akan kecemasannya atas masa datang yang buram.

    Demikianlah, maka pada saat terakhir sebelum Agung Sedayu berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh, ia bermalam satu malam di Sangkal Putung, karena Ki Gede Menoreh masih juga bermalam semalam lagi di rumah menantunya.

    Pada kesempatan itu, Agung Sedayu memerlukan melihat kesiagaan Sangkal Putung di malam hari. Karena ia harus meningkatkan kemampuan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pada khususnya dan gairah anak-anak muda pada umumnya di Tanah Perdikan Menoreh, maka sekali lagi ia ingin melihat keadaan Sangkal Putung yang sudah dikenalnya baik baik itu, karena pada dasarnya Ki Gede Menoreh menganggap bahwa Swandaru telah berhasil membina Kademangannya.

    Agung Sedayu melihat gardu-gardu yang terisi oleh anak-anak muda bukan saja yang sedang bertugas. Tetapi gardu-gardu itu seakan-akan menjadi tempat mereka berkumpul, berbincang dan merencanakan kerja buat masa mendatang. Kadang-kadang hanya kelompok-kelompok kecil saja, tetapi kadang-kadang sebuah kelompok yang besar yang dapat menentukan bagi sebuah padukuhan dalam lingkungan Kademangan Sangkal Putung.

    Swandaru yang mengantar Agung Sedayu berkeliling di Kademangannya itu memberikan banyak keterangan dan contoh-contoh yang barangkali dapat ditrapkannya di Tanah Perdikan Menoreh. Namun demikian tentu ada hal-hal yang berbeda karena keadaan lingkungan di Sangkal Putung yang berbeda dengan keadaan di Tanah Perdikan Menoreh.

    Bahkan dalam perjalanan mengelilingi Kademangan itu, Swandaru masih sempat memberikan pesan pesan khusus bagi Agung Sedayu sendiri. Bagi Swandaru, Agung Sedayu terasa terlalu lamban dan ragu-ragu.

    “Jika kau tetap pada keadaan seperti itu, kakang, maka yang kau lakukan di Tanah Perdikan Menorehpun akan lamban dan ragu-ragu.” berkata Swandaru, “Kau tidak akan dapat melakukan tugas yang dibebankan kepadamu dalam waktumu yang tidak terlalu banyak. Kecuali apabila setelah hari perkawinanmu, kau akan kembali ke Tanah Perdikan itu dan menyempurnakan kewajibanmu di sana.”

    Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku belum tahu, apa yang akan aku lakukan kelak setelah hari-hari yang ditentukan itu. Namun aku akan berusaha sebaik-baiknya, meskipun aku tidak akan mungkin dapat menyamaimu. Aku tidak terbiasa berdiri di depan. Aku juga tidak terbiasa memimpin sekian banyak anak-anak muda seperti yang kau lakukan, karena seolah-olah sejak dilahirkan kau sudah seorang pemimpin.”

    “Tetapi kau harus mencoba melakukannya.” jawab Swandaru, “Jika tidak, maka kau akan gagal sebelum kau mulai. Di Tanah Perdikan, kau akan sekedar menjadi perhiasan. Ibaratnya bunga, maka kau adalah kembang paes. Bunga yang tidak akan dapat menjadi buah.”

    Agung Sedayu hanya mengangguk-angguk saja. Ia tidak dapat membantah, karena Swandaru memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dalam tugasnya sebagai anak seorang Demang di Kademangan yang besar. Justru ia memang ingin menyadap pengalaman-pengalaman itu yang tentu akan bermanfaat bagi tugasnya di Tanah Perdikan Menoreh.

    Dalam pada itu, hampir semalam suntuk Agung Sedayu melihat-lihat keadaan di Kademangan Sangkal Putung. Menjelang dini hari keduanya baru kembali ke Kademangan, sehingga dengan demikian waktu yang dipergunakan oleh Agung Sedayu untuk tidur, hanyalah sedikit sekali.

    Pada pagi hari berikutnya, maka Ki Gede Menorehpun minta diri kepada Ki Demang untuk kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, meskipun ia masih akan singgah dan bermalam semalam lagi di padepokan kecil di Jati Anom. Sekaligus ia memberitahukan bahwa Agung Sedayu akan pergi bersamanya ke Tanah Perdikan Menoreh.

    Meskipun Ki Demang masih berusaha menahannya, tetapi Ki Gede terpaksa meninggalkan Kademangan itu, agar ia tidak terlalu lama meninggalkan Tanah Perdikan-nya.

    Bagaimanapun juga, mata Sekar Mirah terasa menjadi panas. Meskipun ia tidak menangis, tetapi nampak hatinya menjadi gelisah. Bukan saja karena Agung Sedayu akan pergi meninggalkannya, tetapi sebenarnyalah ia masih belum melihat pegangan hidup yang mapan bagi bakal suaminya yang dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka akan mulai dengan satu kehidupan baru.

    “Mudah-mudahan hatinya terbuka setelah ia berada di Tanah Perdikan Menoreh.” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya.

    Dalam pada itu, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.

    Pada hari terakhir Agung Sedayu berada di Jati Anom itu, diperlukannya untuk minta diri kepada kakaknya, Untara. Seperti yang pernah dikatakannya, maka Untarapun mengulangi pesan-pesannya. Ia tidak lupa menunjukkan kepada adiknya, bahwa pada suatu saat ia akan membangun sebuah keluarga. Dan waktu untuk itu tinggal sedikit.

    “Karena itu, kaupun harus mempersiapkan diri menghadapi masa-masa yang demikian.” pesan kakaknya untuk kesekian kalinya. Namun di samping itu Untarapun berpesan, “Kecuali dari dalam dirimu sendiri, kau harus melihat hambatan-hambatan dan tantangan-tantangan dari luar dirimu. Kau tahu, bahwa ternyata Pringgajaya benar-benar masih hidup. Kau adalah salah satu sasaran yang pokok bagi orang itu meskipun aku tidak tahu dengan pasti alasannya. Kemudian Swandarupun ternyata telah diancam pula. Karena itu, kau harus berhati-hati di Tanah Perdikan Menoreh. Jarak itu bagi Ki Pringgajaya tidak akan menjadi rintangan. Ia akan datang ke Tanah Perdikan Menoreh, mungkin dengan orang-orang Tal Pitu, mungkin dengan orang-orang Padepokan Gunung Kendeng.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya. Ki Pringgajaya memang mengancam jiwanya. Di manapun ia berada, maka ancaman itu tidak akan dapat dialaikan. Bahkan mungkin setelah ia berada di Tanah Pedikan Menoreh, ancaman itu akan menjadi semakin gawat baginya.

    Karena itu, maka kepada kakaknya ia berjanji akan mengingat segala pesan-pesannya. Ia akan berusaha memenuhinya sejauh kemampuannya.

    Demikianlah, ketika saatnya tiba, pada pagi hari berikutnya, maka Ki Gede Menoreh beserta kelompok kecilnya telah meninggalkan padepokan Jati Anom.

    Kiai Gringsing, Ki Widura dan anaknya Glagah Putih, bahkan Sabungsaripun melepas mereka sampai ke regol padepokan. Mereka memandangi iring-iringan itu sampai hilang di balik tikungan.

    Glagah Putih merasa seolah-olah jantungnya menjadi semakin lambat berdetak. Ia merasa kehilangan bukan saja saudara sepupunya yang terdekat. Tetapi juga gurunya, karena selama ini Agung Sedayu telah menuntunnya meningkatkan ilmunya.

    Namun ia akan selalu ingat pesan Agung Sedayu, bahwa jika ia berlatih dengan tekun dengan tuntunan gambar dan lambang-lambang yang terdapat pada dinding goa itu, maka ia akan dapat meningkatkan ilmunya sebagaimana jika ia ditunggui dan dituntun oleh Agung Sedayu.

    “Aku akan mencoba.” Glagah Putih berjanji kepada diri sendiri, “Aku tidak boleh mengecewakan kakang Agung Sedayu. Jika beberapa bulan lagi kakang Agung Sedayu datang pada hari-hari perkawinannya, ia harus melihat bahwa ilmuku maju dengan wajar. Tidak tersendat-sendat.”

    Sementara itu, Sabungsaripun merasa kehilangan seorang sahabat pula. Sahabat yang sangat baik. Bahkan Sabungsari merasa pernah berhutang budi kepada Agung Sedayu. Jika ia masih tetap hidup, itu hanyalah karena belas kasihan Agung Sedayu kepadanya.

    “Tetapi ia tidak akan pergi untuk seterusnya,” berkata Sabungsari kemudian, “ia akan kembali beberapa bulan mendatang.”

    Bahkan Sabungsari itupun berjanji pula kepada dirinya sendiri untuk berbuat sebaik-baiknya dalam tugasnya.

    Dalam pada itu. padepokan kecil itupun menjadi sepi. Kiai Gringsing sudah mengatakan niatnya untuk berada di Sangkal Putung beberapa saat lamanya, untuk menilik ilmu Swandaru setelah berkembang beberapa lama tanpa pengawasannya secara langsung. Dengan demikian, maka yang akan tinggal di padepokan itu hanyalah tinggal Ki Widura dan Glagah Putih saja, dikawani oleh beberapa orang cantrik, termasuk bekas pengikut Sabungsari yang telah menjadi kerasan tinggal dipadepokan itu, dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan para cantrik. Seperti Sabungsari merekapun berusaha memperbaiki cara hidup dan bahkan sikap hidup mereka.

    Namun agaknya Untara yang mengetahui kekosongan padepokan itu tidak sampai hati membiarkannya. Atas persetujuan Kiai Gringsing dan Ki Widura, Untara lelah menitipkan beberapa orang perwiranya untuk tinggal di padepokan itu.

    “Kiai,” berkata Untara yang datang kepadepokan itu sepeninggal Agung Sedayu, “dari pada padepokan ini kosong, sementara beberapa orang perwira prajurit Pajang berdesakkan di baraknya, apakah Kiai mengijinkan bahwa dua atau tiga orang perwira akan tinggal di padepokan ini?”

    “Silahkan,” jawab Kiai Gringsing, “silahkan ngger. Aku justru sangat berterima kasih, bahwa para perwira itu sudi tinggal di padepokan yang kotor ini.”

    “Biarlah mereka mulai besok berada di padepokan ini. Mungkin ada gunanya untuk mengawani Glagah Putih. Yang aku dengar, Sabungsari sudah terbiasa di sini. Dengan demikian, maka ia akan mendapat kawan-kawan baru, para perwira muda dari pasukanku.” berkata Untara pula, “Sementara itu, akupun sedang menyiapkan wisuda bagi kenaikan kedudukan dan drajat Sabungsari dalam tataran keprajuritan.”

    “Tentu akan menyenangkan sekali bagi angger Glagah Putih.” jawab Kiai Gringsing kemudian. Namun iapun berkata, “Tetapi aku sendiri akan berada di Sangkal Pulung untuk beberapa waktu ngger. Aku ingin menunggui perkembangan terakhir dari Swandaru setelah aku yakin akan perkembangan ilmu Agung Sedayu.”

    “Silahkan Kiai.” jawab Untara, “Justru aku sudah mendengar tentang rencana Kiai itu, maka aku telah datang untuk minta pendapat Kiai tentang rencanaku menitipkan beberapa orang perwira muda dari pasukanku.”

    Namun justru dengan demikian, Kiai Gringsingpun menjadi semakin tenang meninggalkan padepokannya.

    Dengan hadirya para perwira itu bersama Sabungsari, maka seolah-olah ada kekuatan yang tinggal di padepokan itu, sehingga jika ada pihak-pihak yang ingin berbuat jahat, maka padepokan itu akan terlindungi.

    Dalam pada itu, Ki Gede Menoreh beserta iring-iringan telah berpacu menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Mereka dengan sengaja tidak akan singgah di Mataram, agar mereka tidak harus bermalam satu malam lagi, karena mereka pasti, bahwa Raden Sutawijaya apabila ada di Mataram, tentu akan menahan mereka untuk singgah barang semalam.

    Dengan demikian, maka mereka telah memilih jalan yang melingkar sehingga mereka tidak melalui kota Mataram yang menjadi ramai.

    Tidak ada hambatan apapun yang mereka jumpai di perjalanan. Mereka dengan selamat menyeberangi Kali Praga dengan rakit. Kemudian mereka telah berkuda di sepanjang jalan yang langsung memasuki Tanah Perdikan Menoreh.

    Kedatangan iring-iringan itu telah memanggil beberapa orang di padukuhan-padukuhan yang mereka lewati untuk menyambut mereka dengan lambaian-lambaian tangan. Mereka tahu bahwa yang berkuda di paling depan adalah Ki Gede Menoreh. Namun selain para pengawal yang mengiringi Ki Gede, orang-orang itu tidak segera mengenal, dua orang yang ada di dalam iring-iringan itu pula, Agung Sedayu dan Ki Waskita, meskipun keduanya telah sering berada di Tanah Perdikan Menoreh.

    Namun ternyata bahwa ada juga anak muda di antara mereka yang dapat mengenalinya. Karena itu, maka meskipun agak ragu ia bergumam, “Agung Sedayu.”

    Sedang yang lain berdesis pula, “ Yang seorang itu adalah Ki Waskita.”

    Seperti biasanya, orang Tanah Perdikan Menoreh merasa tenang jika Ki Gede telah kembali ke Tanah Perdikan itu. Jika Ke Gede tidak ada, kadang-kadang mereka digelisahkan oleh sikap Prastawa yang kadang-kadang kurang disenangi oleh sebagian dari para penghuni Tanah Perdikan yang besar itu. Sebagian anak-anak mudapun menjadi bingung menanggapi sikapnya, karena ternyata bahwa Prastawa telah mengambil beberapa orang kawan terdekat sebagai satu kelompok yang paling berkuasa di antara anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh.

    (teruss…)

  22. penutup…

    Meskipun Ki Gede sudah sering kali mencoba menegornya dengan hati-hati, agar anak muda itu tidak justru semakin meledak-ledak, namun Prastawa masih saja sering mengulangi tingkah lakunya yang kurang terpuji.

    Nampaknya Ki Gede yang merasa sepi dan sendiri itu masih belum bersikap untuk mengambil sikap yang agak keras terhadap kemanakannya itu. Karena pada saat-saat terakhir, ia adalah satu-satunya orang yang dapat diajak berbicara tentang Tanah Perdikannya.

    Namun dalam pada itu, ternyata kepergian Ki Gede Menoreh ke Jati Anom untuk menjemput Agung Sedayu itu telah membuat Prastawa benar-benar tersinggung. Ia merasa seolah olah Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari dirinya, sehingga pamannya memerlukan pergi ke Jati Anom memanggilnya untuk membantu membina Tanah Perdikan H’enoreh, terutama anak-anak mudanya.

    “Apakah menurut paman, aku tidak dapat melakukannya?” berkata Prastawa kepada sekelompok kawan-kawannya.

    Terdengar mereka tertawa meledak. Seorang yang bertubuh tinggi besar, meskipun sangat muda, semuda Prastawa, berkata lantang, “Kau perlu membuatnya jera.”

    Prastawa tertawa. Katanya, “Ia akan mengerti, bahwa Tanah Perdikan ini bukan sarang gadis-gadis yang merindukan seorang suami yang tampan dan berkelakuan sehalus sutera dari tanah seberang. Tetapi Tanah Perdikan ini adalah kandang serigala kelaparan, ia akan menyesal memasuki Tanah Perdikan ini. Namun yang harus kita perhitungkan, bagaimana sikap paman Argapati? Jika Agung Sedayu itu menghadap sambil merengek, maka paman akan marah dan mengancam aku.”

    “Anak itu harus kita takut-takuti.” desis seorang bertubuh gemuk berkulit kehitam-hitaman, “Jangan melapor kepada Ki Gede. Jika ia tumbak cucukan, maka ia akan kita pentheng di pinggir pategalan di siang hari ketika matahari terik, sampai saatnya matahari turun, sementara di perutnya kita taburkan semut ngangrang.”

    Anak-anak itu tertawa berkepanjangan. Seorang yang bertubuh kurus tertawa terguncang-guncang. Katanya di antara derai tertawanya, “Lucu sekali. Lucu sekali. Ia tentu akan jera. Dan ia akan menganggap kita sebagai penghuni Tanah Perdikan ini yang sebenarnya. Ia adalah pendatang yang tidak berhak untuk berbuat apapun di atas Tanah Perdikan ini.”

    Yang lainpun tertawa pula. Sementara Prastawa berkata, “Kita akan menunggu saja, apa yang akan terjadi.”

    Demikianlah, maka Prastawapun hadir pula ketika para bebahu Tanah Perdikan Menoreh menyambut kedatangan Ki Gede di pendapa rumah Ki Gede Menoreh. Kehadiran Agung Sedayu dan Ki Waskita membuat mereka gembira, karena dengan demikian mereka akan mempunyai kawan baru untuk membina Tanah Perdikan yang sedang bergerak surut itu.

    Bagaimanapun juga, mereka harus mengakui kenyataan, bahwa pada beberapa segi kehidupan telah terdapat kemunduran. Kesiagaan anak-anak muda menjadi jauh susut. Mereka lebih senang hidup seenaknya. Mereka nikmati hari ini tanpa tanggung-tanggung. Tetapi dengan demikian mereka tidak sempat memikirkan hari esok. Bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh Tanah Perdikannya. Sebagian dari anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh menganggap bahwa hidup adalah hanya hari ini.

    Hari itu Agung Sedayu dan Ki Waskita sempat berbicara panjang lebar dengan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh yang sedang berprihatin. Dari mereka Agung Sedayu mendapat banyak bahan untuk mengenal Tanah Perdikan yang besar itu, yang pada suatu saat pernah mencapai masa kebesarannya.

    “Kecemasan orang-orang tua itu tidak wajar.” berkata Prastawa tiba-tiba, “Sudah beberapa kali aku katakan, bahwa kecemasan itu terlalu berlebih-lebihan.”

    Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sementara Ki Gede bertanya, “Apa yang kau maksudkan Prastawa?”

    “Memang ada kemunduran di beberapa segi, paman.” jawab Prastawa, “Tetapi tidak dalam keseluruhan. Bahkan jika diambil dasar rata-rata Tanah ini maju meskipun tidak sepesat Kademangan Sangkal Putung. Justru karena Kademangan Sangkal Putung daerahnya lebih sempit, sehingga lebih mudah untuk menanganinya.”

    Ki Gede termangu-mangu sejenak. Ia memang melihat beberapa orang anak muda yang datang bersama Prastawa. Dalam pada itu Prastawapun berkata, “Coba, silahkan paman bertanya kepada anak-anak muda yang terdiri dari bermacam-macam golongan ini. Mereka akan dapat berbicara tentang keadaan anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Mereka akan banyak memberikan bahan dari keadaan yang sebenarnya.”

    “Terima kasih.” jawab Ki Gede, “Agung Sedayu tentu akan mendengar dan melihat. Tetapi yang tidak dapat kita ungkiri, bahwa parit-parit di banyak tempat menjadi kering. Gardu-gardu menjadi kosong, bahkan ada beberapa gardu yang rusak tanpa diperbaiki lagi. Tanda isyarat tidak lagi terdapat di gardu-gardu itu. Kenthongan itu seolah-olah telah tidak lagi ada gunanya sehingga pantas untuk merebus air saja di dapur. Nah, hal-hal semacam inilah yang perlu kita perhatikan. Tentu saja tanpa mengurangi hasil-hasil yang telah kita capai bersama seperti yang kau katakan itu Prastawa. Karena itu, maka apa yang dapat kau capai, kemudian dibantu oleh Agung Sedayu. Tanah Perdikan ini akan dapat mencapai kebesarannya kembali.”

    Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Meskipun rasa-rasanya ia masih belum puas, tetapi ia tidak dapat berbicara lebih banyak lagi, justru karena pamannya tidak membantahnya.

    Namun dalam pada itu, meskipun sekilas, Agung Sedayu dapat melihat kesan pada wajah para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh yang lain. Para pembantu Ki Gede itu nampaknya tidak puas dengan keterangan yang diberikan Prastawa, seolah-olah Tanah Perdikan Menoreh telah berkembang maju meskipun tidak sepesat Sangkal Putung. Menurut penilikan Agung Sedayu, orang-orang tua itu justru dengan jujur mengakui, bahwa Tanah Perdikan Menoreh sedang mundur.

    Tetapi Agung Sedayu tidak ingin berbantah justru pada hari-hari pertama ia berada di Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu maka Ki Gedelah yang memberikan penjelasan lebih banyak lagi tentang rencana Ki Gede dengan Agung Sedayu.

    “Apa artinya satu orang bagi Tanah Perdikan ini?” berkata Ki Gede, “Katakanlah dua orang dengan Ki Waskita yang sudah terlalu sering berada di sini. Namun yang aku lakukan ini semata-mata merupakan satu pertanda bahwa kita semuanya, seisi Tanah Perdikan Menoreh akan bergerak bersama. Apapun yang dilakukan oleh Agung Sedayu tidak akan berarti apa-apa tanpa bantuan kita semuanya.”

    Anak-anak muda yang ada di pendapa itu saling menggamit. Mereka menunjukkan sikap yang sama sekali kurang wajar terhadap kehadiran Agung Sedayu.

    Tetapi nampaknya Ki Gede juga mengerti. Karena itu, maka iapun kemudian berkata, “Sekali lagi kami, orang tua-tua mohon keikhlasan kalian untuk menerima Agung Sedayu di antara kalian, agar ia dapat menjadi salah satu di antara roda-roda penggerak yang memang sudah ada di Tanah Perdikan ini.”

    Tidak seorangpun yang menjawab. Prastawapun tidak.

    Demikianlah setelah mereka berbicara beberapa saat, dan ketika kepada mereka telah dihidangkan berbagai macam hidangan, maka pertemuan itupun diakhiri. Para pembantu Ki Gede di Tanah Perdikan itupun kembali kerumah masing-masing, sementara anak-anak mudapun kemudian masih bergerombol di halaman dengan Prastawa.

    Untuk beberapa saat lamanya, Agung Sedayu masih berbincang dengan Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita. Mereka melihat gelagat yang kurang baik dari Prastawa dan beberapa orang anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh, yang merasa diri mereka dikecilkan.

    “Aku dapat mengerti.” berkata Agung Sedayu, “Aku akan mencoba mendekati mereka. Mungkin mereka belum yakin, bahwa aku benar-benar hanya seorang pembantu mereka yang mungkin akan dapat mengusulkan beberapa kegiatan. Tetapi yang paling tepat adalah keterangan Ki Gede, bahwa kedatanganku adalah sekedar pertanda waktu. Tanah ini bersama-sama akan bangkit. Bukan karena ada waktu di sini. Karena itu, kebetulan adalah aku yang datang. Mungkin Swandaru, mungkin Pandan Wangi sendiri, atau siapapun. Namun kedatangan itu adalah satu isyarat agar kita semuanya bangkit dan bekerja keras.”

    “Bagus, Agung Sedayu.” sahut Ki Gede, “Kau memang harus sabar menghadapi anak-anak itu. Mereka termasuk sasaran yang aku cemaskan. Aku merasa sangat sulit untuk mengawasinya. Agak berbeda dengan kau. Kau adalah anak muda seumur mereka, meskipun kau lebih tua sedikit. Tetapi kau mungkin sekali akan cepat menyesuaikan diri. Yang penting, mengerti apakah yang mereka kehendaki sebenarnya.”

    “Aku akan mencoba, Ki Gede.” jawab Agung Sedayu, “Besok aku akan melihat-lihat keadaan di seluruh Tanah Perdikan ini.Aku yakin bahwa ada segi-segi lain dari wajah anak-anak muda di seluruh Tanah Perdikan Menoreh ini.”

    “Ya, ya. Kau akan dapat melihatnya sendiri.” berkata Ki Gede, “Biarlah besok kau diantar oleh para pengawal mengelilingi Tanah Perdikan ini dari ujung sampai ke ujung.”

    “Kenapa dengan para pengawal?” bertanya Agung Sedayu, “Apakah menurut pertimbangan Ki Gede, orang-orang Gunung Kendeng atau orang Tal Pitu, termasuk Ki Pringgajaya demikian cepatnya menyusul aku?”

    “Aku tidak berpikir tentang mereka, ngger.” jawab Ki Gede, “Tetapi aku berpikir tentang tingkah laku beberapa orang anak-anak muda di Tanah Perdikan ini.”

    Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Besok biarlah aku seorang diri untuk menunjukkan bahwa aku adalah bagian dari mereka di masa-masa mendatang. Sementara jika ada tanda-tanda orang Tal Pitu, atau Gunung Rendeng atau Ki Pringgajaya sendiri akan datang, aku akan mohon Ki Waskita dan Ki Gede sendiri untuk melindungi aku. Karena bagi mereka, tentu tidak akan ada orang lain yang disegani kecuali orang-orang tua itu.”

    “Aku sudah tidak banyak berarti lagi, Agung Sedayu.” sahut Ki Gede dengan nada rendah.

    “Tidak.” jawab Agung Sedayu, “Ki Gede adalah orang yang setingkat dengan guru, dengan Ki Waskita, dengan orang-orang yang sebaya dengan Ki Gede. Jika Ki Gede merasa terganggu karena cacat kaki, maka pada saat-saat tertentu Ki Gede tentu akan menemukan jalan untuk mengatasinya. Sebagaimana pernah kita dengar, orang yang cacat mutlakpun mempunyai kelebihannya tersendiri.”

    Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Sambil tersenyum ia berkata, “Itulah yang menarik berbicara dengan angger Agung Sedayu. Jarang anak muda sebayanya dapat berbicara tentang orang-orang tua dan justru dapat menyentuh perasaan. Rasa-rasanya aku memang ingin berusaha untuk mengatasi cacat kakiku.”

    “Ki Gede sadar atau tidak sadar, tentu sudah berusaha.” sahut Agung Sedayu, “Tinggal mematangkannya.”

    Ki Gede tertawa. Katanya, “Terima kasih, ngger. Mudah-mudahan aku dapat melakukannya.”

    Dalam pada itu, Ki Waskitapun memberikan beberapa pesan kepada Agung Sedayu jika ia benar-benar ingin mengelilingi Tanah Perdikan ini seorang diri.

    “Yang penting, kau harus menyadari, bahwa ada pihak yang tidak menerimamu dengan baik.” berkata Ki Waskita, “Tetapi jangan kau musuhi mereka itu.”

    Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia menjawab, “Aku akan berusaha sejauh mungkin menimbuni jarak antara mereka dengan aku, Ki Waskita.”

    “Kau memang harus bersabar menghadapi kenyataan ini.” sambung Ki Gede pula.

    Demikianlah, maka Agung Sedayu sudah mendapat gambaran apa yang harus dilakukannya. Yang pertama adalah melepaskan pemisah yang ada antara dirinya dengan anak anak muda Tanah Perdikan Menoreh yang justru pernah dikenalnya dengan baik. Namun dengan mereka yang baru tumbuh sebaya dengan Prastawa, dan yang mereka sebelumnya tidak pernah berbuat mengenali mereka. Mungkin anak-anak muda itu mengenal Agung Sedayu pada waktu itu, tetapi mungkin pula tidak.

    Namun yang penting bahwa Prastawa yang sudah dewasa dan merasa memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Tanah Perdikan Menoreh, merasa kehadiran Agung Sedayu itu akan memperkecil arti dirinya. Dengan demikian, maka bersama kawan-kawan dekatnya ia telah berusaha untuk berbuat sesuatu yang menurut mereka, akan membuat Agung Sedayu menjadi jera, atau setidak-tidaknya akan tunduk terhadap kelompok mereka.

    Sebenarnyalah bahwa di Tanah Perdikan Menoreh, kelompok yang di pimpin oleh Prastawa itu kurang mendapat tempat dihati rakyat Tanah Perdikan Menoreh. Juga dilingkungan anak-anak mudanya. Tetapi karena kedudukan Prastawa yang dikenal sebagai kemanakan Ki Gede Menoreh, telah membuat sekelompok anak-anak muda itu disegani.

    Karena itulah, ketika berita kedatangan Agung Sedayu itu didengar oleh anak muda diseluruh Tanah Perdikan Menoreh, ternyata banyak juga diantara mereka yang merasa bersukur, bahwa akhirnya Agung Sedayu itupun datang. Mereka berharap bahwa Agung Sedayu akan membawa nafas, baru dalam kehidupan anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Sementara itu, para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh telah sepakat untuk memberi arti atas kehadiran Agung Sedayu itu sebagai satu pertanda waktu saja.agar Tanah Perdikan Menoreh terbangun dan bekerja bersama-sama untuk kepentingan Tanah Perdikan mereka. Jika kemudian ternyata Agung Sedayu dapat memberikan arti lebih jauh dari itu, rakyat Tanah Perdikan Menoreh akan berterima kasih kepadanya.

    Dalam pada itu, ketika malam turun, maka Agung Sedayu telah menahan dirinya untuk tetap tinggal di rumah Ki Gede. Ia melihat Prastawa dengan beberapa orang anak muda berada di gardu di depan regol. Nampaknya mereka sedang berjaga-jaga sebagaimana seharusnya dilakukan.

    “Nampaknya mereka masih tetap giat berjaga-jaga.” berkata Agung Sedayu kepada Ki Gede di pagi hari berikutnya.

    “Biasanya tidak demikian ngger.” jawab Ki Gede, “Malam tadi agaknya ada beberapa gardu lain yang juga terisi, ternyata aku mendengar isyarat kentongan di tengah malam dari dua gardu lain.”

    “Ya,” jawab Agung Sedayu, “karena itu aku menyangka, bahwa di malam hari, Tanah Perdikan ini mendapat pengamatan yang baik.”

    “Hanya semalam saja ngger,” jawab Ki Gede, “mudah-mudahan apa yang mereka lakukan semalam akan berkelanjutan di malam-malam mendatang.”

  23. sapa ya yang mau bantu ngirimin ngirimin aku edisi lengkapnya, soale aku sangat tertarik dengan cerita ini very much…., tq

  24. Terima kasih Ki Gede…akhirnya hamba bisa membaca kelanjutan ADBM ini meskipun awalnya kebingungan…he he ada-ada saja Ki Gede ini…bikin deg degan hati cantrik ini…nuwun…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: