Buku II-32

Kedua orang itu keluar dari regol Kota Raja ketika matahari masih sedang nampak sebagai bayang-bayang yang kemerah-merahan. Tetapi bukan karena keduanya ingin menempuh perjalanan jauh dan tergesa-gesa, tetapi semata-mata untuk menghindarkan diri dari pengamatan orang lain.

Raja, maka merekapun justru mulai membicarakan, apa yang akan mereka lakukan.

” Kita pergi ketempat yang telah lebih dahulu didatangi oleh kedua petugas sandi itu ” berkata Pangeran Benawa ” tetapi sudah barang tentu tidak dengan segera. Waktunya masih panjang. Kita akan memasuki daerah itu disore hari. ”

” Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? ” bertanya Kiai Gringsing.

” Berputar-putar, ” jawab Pangeran Benawa ” atau beristirahat ditempat yang sepi. Dipinggir hutan atau di kuburan. ”

Kiai Gringsing tersenyum. Namun mereka berduapun kemudian memilih untuk beristirahat ditepi hutan. Mereka memasuki hutan yang tipis, tetapi tidak terlalu dalam. Mereka sempat terkantuk-kantuk dibawah sebatang pohon yang besar dan berdauh rimbun, meskipun mereka harus berhati-hati terhadap hadirnya seekor ular yang mungkin berkeliaran direrumputan liar.

Baru setelah matahari mulai turun, keduanya melanjutkan perjalanan, dengan perhitungan bahwa mereka akan sampai ketempat tujuan disore hari.

Yang mula-mula sekali mereka masuki adalah sebuah kedai nasi dipinggir jalan, disebelah sebuah pasar yang sudah sepi. Tetapi agaknya kedai itu terbiasa dibuka sampai sore hari.

Kiai Gringsing sama sekali tidak mempersoalkan berapa keduanya akan membayar, karena bersamanya adalah Pangeran Benawa, yang tidak akan kesulitan uang disepanjang perjalanan. Meskipun ujudnya ia tidak lebih dari orang-orang kebanyakan, tetapi sebenarnyalah bahwa Pangeran Benawa membawa bekal secukupnya.

” Jika aku sendiri ” bisik Kiai Gringsing ” ak« harus memperhitungkan dengan sungguh sungguh, apa saja yang akan aku kunyah sebelum aku menyuapkannya kedalam mulut. ”

” Kenapa? ” bertanya Pangeran Benawa.

” Aku harus menghitung-hitung, apakah masih ada uang didalam kampilku. ” sahut Kiai Gringsing ” Tentu agak berbeda dengan Pangeran. ”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya tanpa didengar oleh orang lain yang kebetulan ada didalam kedai itu juga ” Cobalah Kiai mengukur isi perut Kiai.”

Orang tua berkumis putih itupun tertawa pula.

Demikianlah keduanya makan dan minum secukupnya. Namun keduanyapun mulai berbicara juga tentang keadaan dipadukuhan itu, meskipun baru sekilas, karena mereka memang harus berhati-hati.

” Sampai kapan kedai ini dibuka? ” bertanya Pangeran Benawa ” sampai malam, atau bahkan semalam suntuk? ”

” Siapa yang akan membeli? ” penjual dikedai itu ganti bertanya. Lalu katanya ” Setelah senja kami akan menutup pintu kedai kami. Tidak banyak orang keluar rumah di malam hari. ”

” Kenapa? ” bertanya Kiai Gringsing.

” Padukuhan ini padukuhan kecil. Mungkin Ki Sanak pernah menjelajahi padukuhan-padukuhan yang ramai dan besar. Bahkan mungkin kota-kota, yang memungkinkan kedai-kedai dibuka sampai jauh malam. Tetapi disini tidak. Tetangga-tetangga kami akan segera menutup pintu rumahnya jika malam turun. Hanya kadang-kadang saja diterang bulan mereka duduk-duduk disudut padukuhan. ”

Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Ternyata dugaan mereka keliru. Mereka ingin mendengar keterangan pemilik kedai itu, bahwa keamanan disaat terakhir agak terganggu. Namun ternyata alasan pemilik kedai itu adalah alasan yang wajar sekali.

Namun ketika dikedai itu mulai dipasang lampu, dan nampaknya pemiliknya sudah bersiap-siap untuk mengemasi dagangannya, empat orang berwajah garang telah memasuki kedai itu dengan kasar. Bahkan sebelum kakinya melangkahi tlundak, terdengar suara tertawa mereka bagaikan mengguncang kedai yang kecil itu.

” Siapa? ” bertanya Kiai Gringsing perlahan-lahan sebelum orang-orang itu masuk

” Penjaga kuburan ” jawab pemilik kedai itu ” mereka adalah benggol yang ditakuti dipadukuhan sebelah. Tetapi mereka bekerja untuk kepentingan Ki Demang. ”

” Kuburan siapa yang harus dijaga? ” bertanya Pangeran Benawa.

Tetapi pemilik kedai itu tidak sempat menjawab, karena orang-orang itu telah berada dimuka pintu.

” Apakah kedaimu sudah akan tutup? ” salah seorang dari mereka bertanya.

” Hampir >aja ” jawab pemilik kedai itu ” aku kira kalian tidak singgah malam ini. ”

” Aku tentu singgah, meskipun hanya sebentar ” jawab yang lain ” beri aku minuman hangat. Air sere dengan gula kelapa. ”

” Aku juga ” desis yang lain. Lalu yang seorang -bungkus untuk kami beberapa potong makanan. Seperti biasanya. ”

Pemilik kedai itu tidak menjawab. Tetapi iapun segera sibuk menyiapkan minuman dan makanan bagi keempat orang yang disebutnya penjaga kuburan itu.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa masih ada didalam kedai itu juga. Tetapi mereka sama sekali tidak bertanya kepada orang-orang yang berwajah garang itu. Keduanya hanya kadang-kadang saja memandangi mereka yang minum dan makan sambil bergurau.

Ternyata orang-orang itupun sama sekali tidak menghiraukan Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa. Mereka melihat kedua orang itu sekilas, namun kemudian mereka tidak memperhatikan mereka lagi.

Sejenak kemudian, nampaknya mereka telah selesai. Sebungkus makanan telah disediakan pula. Orang yang paling besar diantara merekapun kemudian berkata ” Berapa hutang kami? Kemarin kami membayar makanan dan minuman bagi tiga hari terdahulu. ”

” Tinggal kemarin dan hari ini ” jawab pemilik warung itu.

” Besok atau lusa kami akan membayar ” berkata orang yang paling besar.

” Terima kasih ” sahut pemilik warung itu.

Sejenak kemudian keempat orang itupun minta diri. Namun dimuka pintu salah seorang dari mereka berkata kepada kawan-kawannya ” Masih ada dua orang didalam kedai ini. He, apakah diluar itu kuda kalian? ” iapun kemudian bertanya.

” Ya Ki Sanak ” Kiai Gringsinglah yang menjawab.

” Kuda yang sangat bagus. Jarang aku melihat kuda sebagus ini. ” desis orang itu.

Kiai Gringsing tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Keempat orang itupun kemudian melangkah meninggalkan kedai itu, sementara Kiai Gringsing menarik nafas sambil berdesis ” Aku kira ia ingin memiliki kuda itu. ”

Pangeran Benawa tersenyum. Namun pemilik kedai itu berkata ” Mereka tidak mau berbuat demikian di Kademangannya sendiri. Diwarung ini pun mereka selalu membayar hutangnya. Mereka tidak pernah mengingkari janjinya. Jika mereka berkata dua tiga hari lagi akan membayar, maka mereka benar-benar membayar. ”

Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Sementara pemilik kedai itu berkata ” Bagi mereka uang dua tiga keping sama sekali tidak berarti. Mereka tinggal mengambil saja seperti mengambil milik sendiri. ”

” Apakah mereka masih melakukannya sekarang? ” bertanya Pangeran Benawa.

” Ya. Tetapi ditempat yang jauh. Tidak didaerah sen diri. Mereka baik terhadap-tetangga-tetangganya disini. ” jawab pemilik kedai itu ” apalagi sekarang. Ia mendapat tugas yang cukup menarik bagi mereka. ”

” Ya. Tadi kau katakan, mereka adalah penjaga kuburan. Kuburan siapakah yang mereka jaga? ” bertanya Kiai Gringsing.

Pemilik kedai itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian ” Hari sudah malam. Kami akan menutup kedai kami. Maaf, bahwa kami tidak dapat melayani Ki Sanak terlalu lama. ”

” O, silahkan ” sahut Kiai Gringsing ” tetapi kau belum menjawab pertanyaan kami. Kecuali jika memang hal itu tak kau ucapkan. ”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya ” Sebenarnya juga tidak tahu dan tidak terlarang. ”

” Jika demikian, apakah kau tidak berkeberatan menyebutnya? ” desak Pangeran Benawa.

Pemilik kedai itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya ” Baiklah. Mungkin kau pernah mendengar, bahwa belum lama telah terjadi bencana didaerah ini bagi beberapa orang prajurit Pajang. Seorang diantara mereka telah gugur dan dimakamkan dipadukuhan sebelah. ”

” O, aku mendengar ” sahut Pangeran Benawa ” Apakah kuburan prajurit Pajang itulah yang dijaga? ”

_ Ya. ” sahut pemilik kedai itu.

” Kenapa dijaga? ” bertanya Kiai Gringsing.

” Aku tidak tahu. Tetapi pimpinan prajurit Pajang itu minta kepada Ki Demang, agar memerintahkan beberapa orang untuk menjaga kuburan itu sampai ampat puluh hari. Maksudku ampat puluh malam. Sebelum waktu itu lewat, maka masih dicemaskan, bahwa seseorang akan mengambil jenazah prajurit Pajang yang gugur itu. ” jawab pemilik kedai itu sambil mengemasi barang-barangnya.

Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa saling berpandangan sejenak. Namun kemudian merekapun berdiri sambil minta diri setelah mereka membayar harga makanan dan minuman yang telah mereka habiskan.

Demikian keduanya keluar dari kedai itu, maka kedai itupun kemudian telah ditutup oleh pemiliknya.

” Kuburan itu menarik sekali untuk diperhatikan ” gumam Pangeran Benawa demikian mereka meloncat naik kepunggungkuda.

” Kenapa harus dijaga sampai ampatpuluh malam ” desis Kiai Gringsing. Namun kemudian dijawabnya sendiri ” Tentu ada sesuatu yang tidak wajar pada kuburan itu.

” Mungkin sekali ” berkata Pangeran Benawa.

” Pangeran, pertanda apa sajakah yang telah diserahkan kepada keluarga Ki Pringgajaya, sebagai bukti bahwa ia benar-benar telah meninggal dalam pertempuran itu? “bertanya Kiai Gringsing.

” Ada beberapa keganjilan dalam laporan yaflg aku dengar ” berkata Pangeran Benawa – Tumenggung Prabadaru mengatakan, bahwa ia telah membunuh semua orang yang mencegatnya. Tetapi kemudian iapun menceriterakan bahwa tidak seorangpun diantara lawan-lawannya yang dapat ditangkap, bahkan mayat merekapun tidak, karena kawan-kawan dari para perem-pok itu sempat datang dan membawa mayat-mayat itu. Prajurit Pajang yang tersisa tidak dapat mencegahnya, karena jumlah mereka terlalu banyak, meskipun mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan prajurit-prajurit Pajang. ”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia memang mendengar perbedaan tafsiran itu, meskipun sesuai dengan keterangan Untara, bahwa semua orang yang mencegat itu telah terbunuh, tetapi tidak dapat mereka tunjukkan sesosok mayatpun, karena kawan-kawan mereka segera berdatangan untuk menyelamatkannya.

” Keganjilan yang lain ” berkata Pangeran Benawa ” kepada keluarga Ki Pringgajaya, tidak diserahkan pertanda pribadi seorang prajurit. Bahkan pertanda pribadi seorang kesatria, karena kepada keluarganya tidak diserahkan pusaka keris Ki Pringgajaya. ”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Nampaknya Pangeran Benawa yang berada di Pajang itu telah mendengar laporan yang kurang cermat dari Ki Tumenggung Prabadaru, yang memimpin sekelompok kecil prajurit yang telah mengalami pertempuran sehingga Ki Pringgajaya terbunuh.

Sebenarnyalah bahwa bukan saja Pangeran Benawa yang menjadi curiga. Untarapun telah menjadi curiga pula. Tetapi agaknya Pangeran Benawa mendengar keganjilan-keganjilan lebih banyak dari Untara.

” Pangeran ” bertanya Kiai Gringsing kemudian ” apakah sebenarnya yang telah diserahkan kepada keluarganya, sehingga seolah-olah semuanya menjadi yakin bahwa yang terbunuh itu adalah Ki Pringgajaya. ”

” Pertama, yang melaporkan adalah Prabadaru-Mustahil bahwa Prabadaru tidak mengenal siapakah yang mati terbunuh itu. Kemudian kepada keluarganya telah diserahkan beberapa barang milik Ki Pringgajaya, tetapi justru bukan pusakanya. Tentu tidak mungkin orang seperti Ki Tumenggung Prabadaru melupakannya sehingga pusakanya ikut terkubur, atau dimiliki oleh orang lain. ” jawab Pangeran Benawa.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Lalu katanya ” Bahwa kuburan itu telah dijaga, agaknya juga menarik perhatian. ”

” Tepat. Aku justru ingin melihat, apakah sebenarnya yang dilakukan oleh orang-orang yang garang itu. -desis Pangeran Benawa.

Melihat orang-orang yang menjaganya atau melihat isi kuburan itu. Agaknya beberapa orang padukuhan telah membantu menguburkan mayat Ki Pringgajaya sehingga mustahil bahwa kuburan itu tidak berisi seperti yang dikatakannya. “desis Kiai Gringsing.

Kiai benar. Didalam kubur itu tentu berisi sesosok mayat yang disebut Ki Pringgajaya. Tetapi orang-orang padukuhan itu tidak akan dapat membedakan, apakah orang yang berpakaian seorang prajurit itu bernama Ki Pringgajaya atau bernama siapapun juga. ” sahut Pangeran Benawa.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia adalah seorang dukun yang banyak bergaul dengan orang-orang sakit dan bahkan orang-orang yang tidak terobati lagi, sehingga meninggal. Tetapi untuk melihat kuburan yang telah beberapa hari, agaknya segan juga rasanya.

” Kita memang agak terlambat ” berkata Pangeran Benawa kemudian ” jika hal ini kita lakukan dua tiga hari setelah mayat itu dikuburkan, kita akan dapat melihat dengan jelas. Tetapi sekarang, akupun tidak yakin bahwa kita masih akan dapat melihat bentuk. ”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya

” Kita memang sudah terlambat Pangeran. Tetapi bahwa ada orang-orang yang bertugas menjaga kuburan itu, agaknya memang cukup menarik. Mungkin kita akan mendapat beberapa keterangan tanpa melakukan kerja yang mendebarkan jantung itu. ”

Pangeran Benawa tersenyum. Jawabnya ” Akupun segan melakukannya. Mungkin ada cara lain. Tetapi jika perlu, apaboleh buat. Rasa rasanya ada satu dorongan untuk mengetahui, apakah yang dikatakan oleh Prabadaru itu benar atau tidak. Meskipun aku tidak banyak mencampuri persoalan pemerintahan, tetapi aku masih tersinggung juga, jika seseorang telah dengan sengaja mengelabui para pemimpin di Pajang. Terlebih-lebih lagi karena pamrih yang terkandung didalamnya. ”

Kiai Gringsing yang mengerti perasaan Pangeran Benawa itupun mengangguk angguk. Katanya kemudian

” Baiklah Pangeran. Aku akan mengikuti Pangeran. Akupun mempunyai kepentingan yang langsung karena persoalan ini akan menyangkut diri muridku. Jika yang terbunuh itu ternyata bukan KI Pringgajaya, maka keadaan Agung Sedayu akan selalu dibayangi oleh ancaman yang gawat. ”

” Kita akan pergi kekuburan itu Kiai ” berkata Pangeran Benawa.

Kiai Ggringsing tidak menjawab lagi. Meskipun ada juga keinginannya untuk memastikan siapakah yang terkubur itu, tetapi sebenarnya ia masih ingin mencari jalan lain.

” Kita memang sudah tet buntuti katanya didalam hati.

Kedua orang itupun kemudian berkuda kekuburan. Meskipun mereka belum pemati pergi kekuburan itu, tetapi beberapa petunjuk lidah pernah mereka dengar, sehingga merekapun segera «I,ip.il menemukan arahnya.

Dari jarak yang masih cukup panjang, ketajaman penglihatan kedua orang itu lelah melihat sebatang pohon randu alas yang besar dan heidaun lebat. Karena itu, maka mereka tidak lagi harus mencari-cari arah.

Beberapa tonggak dan kuburan tlu, keduanya turun dari kudanya dan menambal karinya pada sebatang pohon perdu dibelakang sebuah gcmmbul I >enr,an berjalan kaki keduanya mendekati pintu gerbang kubur yang dimalam hari nampak semakin menyeramkan Bunyi seekor burung kedasih yang ngelangul membuai hati mereka tergetar

Tetapi yang dua orang itu adalah Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa. Karena itulah, maka keduanya tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh perataan mereka, meskipun suasana kuburan dimalam hau agak menggetarkan juga.

Ternyata Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa tidak mendekati kuburan itu dengan diam diam. Tetapi mereka langsung menuju kepintu gerbang meskipun mereka mengetahui, bahwa kuburan itu telah di juga oleh ampat orang yang disebut sebagai benggol sekelompok penjahat yang memiliki ilmu yang tinggi.

Seperti yang mereka perhitungkan, bahwa didepan regol kuburan seseorang telah membentaknya ” He, siapa kalian? ”

Pangeran Benawalah yang menyahut ” Kami orang-orang dari padukuhan sebelah. ”

” Jangan mengigau ” bentak penjaga yang lain ” kami mengenal setiap orang dari padukuhan kami. Kau sangka kami orang asing disini? ”

Tetapi Pangeran Benawa Jertawa. Katanya ” Kami memang bukan tetangga kalian. Kami adalah prajurit-prajurit Pajang. ”

” Bohong ” bentak penjaga itu ” kalian sama sekali tidak “menunjukkan tanda-tanda seorang prajurit. ”

” Apakah tanda-tanda seorang prajurit? ” bertanya Pangeran Benawa.

Pertanyaan itu membuat penjaga itu agak kebingungan. Namun iapun kemudian menjawab ” Seorang prajurit akan memakai pakaian yang khusus dan tanda-tanda yang khusus. ”

” O, jika itu yang kau anggap pertanda seorang prajurit, aku memang tidak mengenakannya ” jawab Pangeran Benawa.

Pvara * penjaga kuburan itu menjadi bingung mendengar jawaban Pangeran Benawa Seolah-olah ia berkata asal saja membuka mulutnya.

Karena itu, salah seorang dari para penjaga itu justru membentak. ” Siapakah sebenarnya kalian, dan apakah keperluan kalian? ”

***

Oleh Ki Terangguk-angguk
Belum di proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2009 at 10:54  Comments (136)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-32/trackback/

RSS feed for comments on this post.

136 KomentarTinggalkan komentar

  1. absen dulu…
    Terimakasih kitab 132-nya.

  2. Wah, jan, ngedab2i tenan, aku ketipu yang kedua kali (setelah kitab 130) dengan bayangan semu yang diciptakan Ki GD. Memang harus rajin berlatih dengan sareh …

  3. Ilmu Ki Gede memang semakin ngedap-edapi…
    sarapan sik kih….uenak tenan…

  4. Tq Ki GD, pagi2 dah bisa ambil ransum… MAtur nuwun sangwt…

  5. Orang-orang ini apa sudah menyapu halaman padepokan? kok sudah sarapan dua kali?

  6. Kalo di Amrik, Bill Clinton adalah produk generasi Babby boom, kalo di Padepokan generasinya Bill Clinton, adalah angkatan Gesek (generasi seketan) pada jadi cantrik padepokan kayak saya ini. Nuwun Ki..

  7. Tengkyu Ki GD, neng kene pancen wis wayahe ngaso, dadi bisa langsung moco kitab 132 karo mangan lan leyeh-leyeh

  8. Wah para cantrik wis podo sarapan….
    aku kok durung keduman yo….
    Dateng pundhi mendete jatah rangsume nggihh, tak ubek2 kok durung ketemu-temu…?
    Opo ono sing ngumpetke yo ?
    Tuluuunggg….tuuluuunggg……

  9. Hehehe…..isin aku….
    Jan…jan….Ki Ge De memang suka guyon….
    Terima kasih Ki GeDe….

  10. Itulah akibatnya kalau para cantrik senengane klekaran neng halaman…entah kenapa Ki Gede kok nyebar-nyebar kitab di halaman dan bukannya di Padepokan seperti biasanya.
    Moga-moga Ki Gede tidak sedang dalam keadaan marah kepada para cantrik sehingga kok muncul kejadian seperti ini.
    Tebakanku sih, Ki Gede sebenarnya memang getul-betul marah, tapi sedikit terhibur melihat keriangan Ni Rara Wulan dan Nyai Semangkin di gandok timur padepokan, sehingga kemarahannya sedikit mereda…
    Mari kita kembali belajar untuk bisa sabar dan tidak umbyek-umbyekan koyo antrian minyak tanah. 😛

  11. ikut ngantri,,,kitab 132 kapan Ki Gede, cantrik kelahiran 70 an ikut ngangsu kaweruh 🙂

  12. terima kasih Ki gede kitabnya sudah diunduh, semalan nungguin belm ada… eh pagi ini sudah nongol

  13. Terima kasih Ki GD
    Waktu istirahat, tanpa isayarat dari Ki GD, ternyata
    kitab sudah di sediakan di halaman
    Terima kasih Ki Pandan Alas yang sudah woro-woro

  14. Mator NuwOn ki Gede …. sepertinya Ki Gede sudah Refresh lagi setelah liburan kemaren …

  15. Mutur nuwun kitab 131 d1n 132 nya Ki GD

    Salam

  16. wah.. kitab 132 selain ceritanya ada hubungannya dg madiun ..ternyata kitab itu berasal dari madiun juga..

    moga2 liburan bisa mampir ke sana..

    trim’s ki gd..

  17. wah..
    kados pundi ngunduhipun
    koq mboten wonten linkipun…
    hks deh

  18. taksih kathah cantrik ingkang salah kamar… Kula ature leyeh2 wonten Halaman mawon…

    Nuwun

  19. ki GD, kula sampun Ngunduh Kitab 132…Kesuwun…

  20. Wah cantrik2 sepuh seperti Ki Pandanalas, Ki Martana, KGPH RM Agung Sedayu, dll semakin canggih saja mengikuti kisaran ilmu RR rara wulan dan GRAy Semangkin yang semakin merapat ke kemampuan Ki Gede. Salut…

  21. wah…wah…wah
    Ki GD baru marah atau nglulu, kitab kok disebar neng halaman tapi hebat kok

  22. waduh, iya, kitab 132 disebar di halaman.
    untung belum disapu Glagah Putih; bisa terpijak tuh, wong dia nyapu sambil mundur. Tak pungut aja dulu …

    mercy, ki GD

  23. Wah sudah sampai halaman…, jangan2 besok kitab berikutnya ditaruh didepan regol atau di atas pagar…
    mtr tx Ki GD

  24. @Mas Karebet,
    Bagaimana jika Rontal 151-158 dikirim via kurir Pajang Ki Tiki? Dengan perjanjian untuk dikembalikan jika sudah dipahatkan di dinding Padepokan ADBM.
    Mohon maaf Ki Truno hanya bisa urun rembug saja, mudah2an dipertimbangkan.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  25. Bapak2…saya istrinya Pak Ubaid..maaf sering mengganggu (beliau lg dilaut lg)..saya ga tau mo download 132 nya kemana ..kalau boleh suami saya minta tolong dikirimin ke emailnya kalau ada yg berbaik hati…once again…thanks a lot yah Bapak2 sekalian 🙂
    email suami saya:
    Generic_Champion-Servo@cnooc.co.id

  26. Bu Ubaid said.
    Bapaknya lagi offshore bukan?. di laut mana Bu..??.
    Enak sambil mancing ya…
    Liat halaman atas.., klik aja di tulisan halaman Bu…, cepetan sebelum bapa nya kena demam virus adbm.., gawat bisa pulang mendadak

  27. memang Halaman sangat membantu, maturnuwun.

    3 kitab hari saya sedot.

    Belajar puasa, puegel kedarung-darung saben dino.

  28. Mbah mbah, kok jilid 132 belum sempurna yah, yang terlihat hanya sampai halaman 9 dari 36 lembar DJVU, mohon nantinya diupload ulang ya mbah

    Maturnuwun sanget

    Salam

    dari anak ku Mahesa

  29. Makasih yah Mas…

    hadduhhh itu suami saya kesurupan deh sama adbm…katanya skarang bab yg lg seru2nya…capee deee 🙂

  30. dera pengasuh ADBM

    sungguh suatu karunia luar biasa dapat baca buku klasik Api di bukit menoreh,aku sdh tamat baca jilid 1-II-31, dalam waktu 15 hari, sayang jilid selanjutnta bagaimana caranya karena belum terunduh

    salam hormat

    Ki Gde Trio

    # wow.. 15 hari menekuni kitab?? jaga wagad sampeyan kisanak, jangan lupa makan… mungkin kitab 31 perlu dimulai dengan pati geni dan mandi keramas ki 🙂

  31. Kelelegen…..Keluron……

  32. Maap Nyai/Ki
    versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  33. Maap Nyai Seno/Ki Gede
    Versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  34. LANJUTAN……….

    Namun demikian, mereka masih memerlukan keterangan lebih banyak lagi. Dimalam hari, seperti yang dikatakan oleh penjaga banjar itu, banyak anak-anak muda yang berkumpul dengan senjata dilambung. Dari mereka Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda juga mendengar ceritera tentang kematian seorang prajurit Pajang. Bahkan mereka dapat menceriterakan lebih banyak dan lebih jelas lagi.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  35. TERUSANNYA LAGEE……..

    ” Latar belakang apakah yang kau maksudkan? ”

    ” Misalnya, apakah kita menganggap dengan beberapa bukti dan saksi, bahwa yang terjadi adalah perampokan. Mungkin sekelompok perampok telah keliru menyer gap korbannya. ” jawab Untara, lalu ” tetapi mungkin pembunuhan itu berlatar belakangkan dendam atau iri dan dengki. Ki Pringgajaya adalah orangku yang memiliki banyak kelebihan. Karena itu, aku sangat memerlukannya. Ketika ia berangkat, aku sudah mengatakannya kepada Tumenggung Prabadaru. ”

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  36. alhamdulillah seri-32 keluar, matur suwun Ki GD, kapan seri selanjutnya keluar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: