Buku II-32

” Menurut pendengaran Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda, Ki Pringgajaya memang sudah mati terbunuh ” jawab Kiai Gringsing.

” Tetapi agaknya Untara dan barangkali Kiai Gringsing menjadi curiga? ” bertanya Pangeran Benawa.

” Ya Pangeran. Kami menganggap kematian itu bukanlah kematian yang sewajarnya ” jawab Kiai Gringsing.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Lalu katanya _ jika kau berkesempatan Kiai, maka kau dapat melakukan penyelidikan itu lebih cermat. Tentu yang sehari di Mediun, yang dilakukan oleh Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda itu kurang memadai. Ia hanya mendengar kebenaran berita kematian Ki Pringgajaya. Tetapi sebabnya, tanda-tanda yang lain \6ari vkematian |itu,|kemungkinan-kemungkinannya, masih belum dapat diungkapkan. ”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya “,Disini ada dua orang yang terluka parah Pangeran. Agung Sedayu dan Sabungsari. ”

” Ya, aku sudah mendengar. Apakah keduanya itu agaknya tidak dapat kau tinggalkan? ”

” Luka mereka sangat parah. ” jawab Kiai Gringsing.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Lalu iapun bertanya ” Bagaimana dengan Untara.

Kiai Gringsingpun kemudian mengatakan serba sedikit tentang sikap Untara.

” Baiklah Kiai ” berkata Pangeran Benawa ” anak itu mendekat kemari. Agaknya ia curiga bahwa Kiai Gringsing terlalu lama bercakap-cakap dengan orang yang tidak dikenal. Sikap Untara sebagai prajurit dapat dimengerti. Karena itu, biarlah aku mencoba membantumu tanpa menumbuhkan persoalan bagi Untara. Namun aku akan tetap minta kepadamu, setelah kedua orang itu dapat kau tinggalkan, pergilah barang sehari dua hari ke Mediun. ”

Pangeran Benawa tidak dapat berkata lebih panjang lagi, karena Glagah Putih sudah menjadi semakin dekat. Bahkan kuda itupun kemudian berputar dan berlari meninggalkan Kiai Gringsing seorang diri.

” Siapa Kiai? ” bertanya Glagah Putih.

” Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya ” Aku tidak tahu. ”

– ” Aku bertanya, siapakah dia, dan apakah maksudnya? ” jawab Kiai Gringsing.

” Aku bertanya, siapakah dia, dan apakah maksudnya? ” jawab Kiai Gringsing.

” Apa jawabnya? ” desafc Glagah Putih.

” Ia menyebut sebuah nama. Tetapi itu sama sekali

tidak berarti bagiku. Aku memang mencurigainya. Karena itu, aku usir orang itu pergi. ”

” Seharusnya Kiai tidak mengusirnya ” berkata Glagah Putih kemudian.

” Lalu X”Kiai Gringsinglah yang bertanya.

” Kita persilahkan orang itu masuk. Kemudian kita akan dapat bertanya kepadanya. Kalau perlu, dihadapan prajurit-prajurit Pajang yang diletakkan kakang Untara disini. ” desis Glagah Putih.

” Ah ” jawab Kiai Gringsing ” jika terjadi perselisihan, maka kita hanya akan menambah lawan saja. ”

” Kiai aneh ” desis Glagah Putih ” bahwa ia hadir secara aneh itupun tentu bukannya tanpa maksud? ”

” Sudahlah ” Kiai Gringsing kemudian menepuk bahu Glagah Putih ” Marilah. Orang itu sudah pergi. Aku memang melihat sesuatu yang pantas dicurigai. Tetapi tidak harus bertindak sekarang atasnya. ”

Glagah Putih tidak menjawab meskipun Kiai Gringsing mengetahui, bahwa anak muda itu tidak puas dengan jawabannya. Meskipun demikian Glagah Putihpun melangkah kembali ke regol padepokannya.

” Lanjutkan saja kerjamu Glagah Putih ” berkata Kiai Gringsing ” lihat, matahari telah memancar. ”

Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia sudah selesai menyapu halaman seperti yang selalu dikerjakannya setiap hari. Tanpa jejak kaki, karena ia melangkah surut seperti yang dianjurkan oleh Agung Sedayu.

Karena itu, maka Glagah Putihpun segera pergi ke belakang.

Hari itu, perasaan Kiai Gringsing selalu dibayangi oleh berita kematian Ki Pringgajaya dan keragu-raguan atas kebenaran berita itu. Seandainya Ki Pringgajaya benar-benar telah mati seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda, namun kematiannya itu sendiri memang perlu untuk diselidiki Mungkin memang ada rencana yang matang untuk membunuhnya. Tetapi karena Ki Pringgajaya adalah perajurit linuwih, maka untuk membunuhnya, telah jatuh beberapa orang „orban jiwa.

” Pada saat Ki Pringgajaya merencanakan untuk membunuh Sabungsari dan Agung Sedayu, maka orang lain telah merencanakan membunuhnya. berkata Kiai Gringsing didalam hatinya ” Tetapi ternyata justru pembunuhan atas Ki Pringgajaya sajalah yang berhasil, sementara pembunuhan atas Agung Sedayu dan Sabungsari telah gagal. ”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam dalam. Ia membayangkan, betapa buruknya nasib Ki Pringgajaya.

Tetapi Kiai Gringsing tidak mempersoalkan dengan siapapun juga. Dengan Widura dan kedua petugas sandi itupun tidak. Meskipun dengan demikian, hal itu telah menambah beban perasaannya.

Sehari itu, Kiai Gringsing telah bekerja keras. Sabungsari dan Agung Sedayu sudah menjadi berangsur baik meskipun keduanya masih harus tetap berbaring di pembaringannya. Meskipun demikian Kiai Gringsing masih belum berani meninggalkan keduanya, karena perubahan keadaan masih memungkinkan. Jika tubuh mereka menjadi panas dan terdapat kelainan pada luka-luka mereka, maka ia harus cepat bertindak.

Karena itu, maka betapa ia ingin memenuhi pesan Pangeran Benawa, namun ia harus tetap menahan diri untuk tetap berada dipadepokannya.

Berbeda dengan keadaan Kiai Gringsing, maka ternyata Untara telah bertindak lebih jauh. Ia tidak berhenti pada keterangan yang diterima dari Ki Lurah Patrajaya dan K i Lurah Wirayuda. Namun ia berusaha untuk mendapat keterangan lewat jalur keprajuritan. Karena Ki Pringgajaya adalah bawahannya, maka Untarapun telah pergi ke Pajang untuk mendapat keterangan tentang kematian Ki Pringgajaya.

Ternyata bahwa pihak keprajuritan Pajang telah menganggap dengan beberapa bukti, bahwa Ki Pringgajaya telah mati terbunuh oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.

” Hanya cukup begitu? ” bertanya Ki Untara kepada seorang perwira yang memberikan keterangan kepadanya.

” Apa maksud Ki Untara? ” bertanya perwira itu.

” Apakah kita sama -sekali tidak berusaha untuk mengetahui latar belakang dari pembunuhan itu? ” bertanya Untara pula.

” Latar belakang apakah yang kau maksudkan? ”

” Misalnya, apakah kita menganggap dengan beberapa bukti dan saksi, bahwa yang terjadi adalah perampokan. Mungkin sekelompok perampok telah keliru menyer gap korbannya. ” jawab Untara, lalu ” tetapi mungkin pembunuhan itu berlatar belakangkan dendam atau iri dan dengki. Ki Pringgajaya adalah orangku yang memiliki banyak kelebihan. Karena itu, aku sangat memerlukannya. Ketika ia berangkat, aku sudah mengatakannya kepada Tumenggung Prabadaru. ”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya ” Tentu Ki Untara. Kalau itu yang kau maksud. Kami bukan kanak-kanak. ”

Untara mengangguk-angguk. Nampaknya memang meyakinkan, bahwa Ki Pringgajaya benar-benar telah, mati. Ada beberapa bukti yang dapat diberikan kepadanya. Senjatanya, pakaiannya dan saksi padukuhan terdekat, yang telah membantu menyelenggarakan korban yang terbunuh itupun dapat menyebut, bahwa orang yang terbunuh itu adalah Ki Pringgajaya.

Karena itu, maka usaha Untara untuk menyelidikinya lebih jauh menjadi agak mengendor, meskipun ia tetap ingin mengetahui, apakah sebenarnya latar belakang dari pembunuhan itu. Sambil menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pimpinan keprajuritan Pajang, maka Untarapun berniat untuk berusaha mencari jejak’sendiri meskipun tidak terlalu tergesa-gesa.

Untuk sementara, Untara menganggap bahwa ancaman bagi keselamatan Sabungsari dan Agung Sedayu sudah menurun. Orang-orang yang berusaha untuk menyingkirkannya lewat Ki Pringgajaya tentu sedang mencari cara lain yang lebih haik dari yang pernah dilakukan oleh Ki Pringgajaya, yang ternyata telah gagal.

Meskipun demikian, Untara tidak ingin menarik prajuritnya yang berada di padepokan. Setidak-tidaknya untuk sementara, selagi Agung Sedayu dan Sabungsari masih belum dapat berbuat sesuatu jika bencana masih akan mengejarnya.

Sementara itu, kegelisahan ternyata telah menjalar ke Sangkal Putung. Sekar Mirah mulai tidak sabar menunggu. Ia ingin menengok apa yang telah terjadi dengan Agung Sedayu. Meskipun ia yakin bahwa Agung Sedayu akan sembuh dibawah perawatan Kiai Gringsing, namun rasa-rasanya ia tidak dapat menunda keinginannya untuk pergi ke Jati Anom.

Tetapi setiap kali Swandaru dan Pandan Wangi menasehatinya, agar ia menunggu kabar berikutnya dari Jati Anom. Mungkin keadaannya masih belum memungkinkan.

” Jika kabar itu tidak kunjung datang? ” bertanya Sekar Mirah.

Akhirnya Swandaru mengambil sikap lain, setelah disepakati oleh Ki Demang dan Pandan Wangi. Swandaru akan menugaskan dua orang pengawalnya untuk pergi ke Jati Anom, sebagaimana dua orang petani yang sedang bepergian, agar perjalanan mereka tidak menarik perhatian, seandainya keadaan di Jati Anom masih tetap gawat.

Dalam pada itu, keadaan Sabungsari dan Agung Sedayupun menjadi semakin baik dihari-hari berikutnya. Meskipun mereka masih lemah, tetapi sudah membayang, bahwa keadaan mereka akan menjadi semakin baik, sehingga merekapun akan segera menjadi sembuh. Meskipun mereka tentu masih akan membutuhkan waktu yang panjang untuk dapat dianggap sembuh sama sekali, dan apalagi memulihkan segala kekuatan.

Namun sementara itu, Kiai Gringsing yang selalu dibayangi oleh keterangan yang didengarnya dari Pangeran Benawa, rasa-rasanya selalu digelitik oleh satu keinginan untuk melakukan satu perjalanan.

Meskipun Kiai Gringsing juga harus mempertimbangkan pendapat Untara, namun ia akan da£at memberikan penjelasan sehingga Untara tidak akan keberatan jika untuk beberapa saat lamanya ia meninggalkan padepokan kecil itu.

Karena itu, maka pada saatnya, Kiai Gringsing telah menghadap Untara untuk menjelaskan maksudnya, meskipun ia tidak mengatakan bahwa ia telah bertemu dengan Pangeran Benawa.

” Apakah Kiai tidak bermaksud menunggu hasil penyelidikanku? ” bertanya Untara ” aku telah melakukan beberapa pengamatan melalui berbagai jalur. Tetapi sampai sekarang, yang dapat aku dengar, barulah kematian Pringgajaya. Aku belum mendapatkan suatu keterangan tentang latar belakang dari kematiannya. ”

” Bagaimana dengan Ki Tumenggung Prabadaru? ” bertanya Kiai Gringsing.

” Aku tidak dapat secara langsung mengamatinya dan apalagi mencurigainya ” jawab Untara.

” Angger Untara ” berkata Kiai Gringsing ” jika angger tidak berkeberatan, aku ingin menitipkan padepokan itu sementara kepada para prajurit Pajang. Aku yakin, bahwa yang berada dipadepokan saat ini adalah orang-orang yang dapat dipercaya, sementara Ki Widura juga akan selalu mengawasi padepokan itu. ”

” Sebenarnya Kiai akan pergi kemana? ” bertanya Untara lebih jauh.

” Aku akan pergi ke sekitar peristiwa itu terjadi, kemudian pergi ke tempat-tempat yang mungkin dapat aku telusuri. Aku belum tahu pasti, kemana aku akan pergi ” jawab Kiai Gringsing ” namun aku berusaha untuk segera kembali, karena aku tidak akan sampai hati meninggalkan angger Sabungsari dan Agung Sedayu terlalu lama, meskipun aku sudah menyediakan obat-obatnya. ”

” Tetapi yang Kiai lakukan adalah tanggung jawab Kiai sendiri ” berkata Untara kemudian ” maksudku, tugas yang Kiai bebankan pada diri Kiai sendiri, bukanlah tugas keprajuritan Pajang. ”

” Aku mengerti ngger. Aku memang bukan seorang prajurit. ”

” Dan juga tidak diminta oleh pimpinan keprajuritan

jenjang yang manapun juga. ” sahut Untara.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya ” Aku mengerti ngger. ”

” Terserahlah kepada Kiai. Kiai dapat melakukan atas nama Kiai sendiri, karena sikap dan pandangan Kiai secara pribadi terhadap peristiwa ini ” berkata Untara, lalu ” namun aku tidak ingkar, bahwa sudah banyak yang Kiai lakukan bagi kepentingan prajurit Pajang. Jika kali ini Kiai masih akan berbuat sesuatu yang akhirnya dapat membantu kami, kami akan sekali lagi mengucapkan terima kasih. ”

” Apa yang aku lakukan tidak banyak berarti. Juga kali ini sebenarnya aku hanya ingin memanjakan perasaan sehingga aku didorong untuk melakukan sesuatu yang tidak pasti, dan barangkali sama sekali tidak bermanfaat bagi siapapun juga ” jawab Kiai Gringsing.

Ternyata Untara memang tidak berkeberatan untuk menempatkan prajuritnya dipadepokan itu untuk sementara. Terutama selama Kiai Gringsing tidak ada dipadepokan dan Sabungsari serta Agung Sedayu masih sakit.

Ketika Kiai Gringsing kembali dari rumah Untara, maka ternyata dua orang utusan Swandaru telah berada dipadepokan.

” Sangkal Putung dalam keadaan cemas ” berkata Ki Widura yang menerima kedua orang itu.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya ” Itu dapat dimengerti. Tetapi bukankah Ki Widura sudah mengatakan tentang kedua|anak£ yang terluka itu, bahwa keadaan mereka telah berangsur baik? ”

” Ya. Aku telah mengatakannya, dan keduanyapun telah menengok mereka dibilik masing-masing. ” jawab Ki Widura.

” Sokurlah ” berkata Kiai Gringsing lebih lanjut ” keadaan berangsur pulih kembali. Meskipun demikian, kami masih memerlukan sekelompok prajurit untuk membantu melindungi padepokan ini selama Agung Sedayu dan Sabungsari masih belum sembuh sama sekali.

” Agaknya itu lebih baik ” berkata utusan dari Sangkal Putung itu ” yang paling gelisah adalah Sekar Mirah. Daln tentu hal itupun dapat dimengerti pula. ”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya ” Katakan kepada Ki Demang, kepada Swandaru, Pandan Wangi dan terutama Sekar Mirah, bahwa Agung Sedayu sudah berangsur baik seperti yang kalian lihat. Tetapi biarlah mereka tidak perlu menengoknya, seperti yang aku katakan, bahwa ada banyak kemungkinan dapat terjadi. Karena itu, lebih baik bagi mereka untuk tetap berjaga-jaga di Sangkal Putung. ”

Demikianlah utusan dari Sangkal Putung itu kembali dengan berita yang dapat mengurangi kegelisahan. Meskipun demikian, rasa-rasanya memang sulit bagi Sekar Mirah untuk menahan diri. Namun setiap kali Swandaru dan Pandan Wangi selalu mencoba untuk menenangkannya.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang sudah bertekad untuk mengadakan perjalanan seorang diri itupun telah minta diri kepada Ki Widura, Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda yang untuk sementara masih tetap berada dipadepokan itu bersama beberapa orang prajurit Pajang.

Dengan sedikit bekal keterangan tentang tempat terjadinya peristiwa yang telah menyebabkan Ki Pringgajaya terbunuh, dan sedikit keterangan tentang perguruan di Gunung Kendeng dari orang-orang Gunung Kendeng yang tertawan, maka Kiai Gringsing mulai dengan sebuah perjalanan. Perjalanan seorang diri yang sudah lama tidak dilakukannya, sejak ia mempunyai dua orang murid.

” Berapa lama Kiai akan pergi? ” bertanya Agung Sedayu yang ditunggui oleh Glagah Putih.

” Tidak terlalu lama”jawab orang tua itu.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa gurunya, tentu tidak akan sampai hati meninggalkannya terlalu lama dalam keadaannya. Namun agaknya gurunyapun mempunyai perhitungan tersendiri tentang Ki Pringgajaya.

Dengan demikian, maka pada suatu pagi yang cerah,

Kiai Gringsing telah berangkat meninggalkan padepokannya. Ki Widura dan Glagah Putih serta beberapa orang penghuni padepokan itu. termasuk pimpinan prajurit yang diperintahkan oleh Untara menjaga padepokan kecil itu, melepaskannya sampai keregol halaman.

” Perjalanan yang aneh ” desis Ki Widura.

” Apakah sebenarnya yang dicari oleh Kiai Gringsing? ” bertanya Glagah Putih.

” Aku tidak tahu ” jawab Widura ” mungkin ia ingin satu kepastian, kenapa Ki Pringgajaya telah dibunuh, dan siapakah sebenarnya yang telah membunuhnya. Bertolak dari sana, maka ia ingin sampai kepada satu kesimpulan, siapakah sebenarnya orang yang telah menggerakkan semua peristiwa yang menyangkut ketenangan Pajang disaat terakhir. ”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Ia memang bukan kanak-kanak lagi, sehingga iapun dapat mengerti, apa yang dikatakan oleh ayahnya.

Namun dalam pada itu, penghuni padepokan kecil itupun merasa, bahwa mereka harus menjadi lebih berhati-hati sepeninggal Kiai Gringsing. Apalagi orang terkuat yang lain, Agung Sedayu dan juga Sabungsari, masih dalam keadaan sakit. Sehingga dengan demikian, maka keselamatan padepokan itu, harus mereka pertanggung jawabkan bersama-sama.

Sementara itu, Kiai Gringsing yang meninggalkan padepokannya, telah berkuda seorang diri melintasi bulak-bulak panjang. Meskipun orang tua itu tidak berpacu terlalu cepat, namun kudanya telah berlari semakin jauh dari padepokannya.

Untuk beberapa saat Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu, kemana ia akan pergi. Apakah ia akan langsung menuju ketempat yang ditunjuk oleh mereka yang telah mencari keterangan lebih dahulu, atau ia akan menemui orang-orang yang mungkin akan dapat membantunya memberikan keterangan.

Hampir diluar sadarnya, kudanya telah menuju ke dukuh Pakuwon. Untuk beberapa lama, ia pernah tinggal dipadukuhan itu sebagai seorang dukun yang selalu menolong mengobati orang-orang yang sakit di sekitarnya.

Terasa perasaannya tersentuh pula ketika ia memasuki padukuhan yang pernah dihuninya itu. Namun tetangga-tetangganya tentu tidak akan dapat mengenalnya dalam keadaannya itu. Meskipun ia juga sering pergi berkuda, namun ia telah memberikan kesan yang sangat berbeda tentang dirinya pada waktu itu, dengan pada waktu ia berkuda sebagai seorang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing dari padepokan kecil diujung Kademangan Jati Anom.

Tetapi Kiai Gringsing tidak berhenti dipadukuhan kecil, la melintas saja beberapa puluh tonggak dari rumah yang pernah menjadi tempat tinggalnya, yang ternyata masih saja menjadi rumah dan halaman yang kosong.

Namun dalam pada itu, demikian ia meninggalkan padukuhan kecil itu, tiba-tiba saja terbersit keinginannya untuk bertemu dengan Pangeran Benawa. Pangeran Benawalah yang telah menggerakkan hatinya untuk mencari keterangan lebih jauh tentang Ki Pringgajaya yang telah mengancam keselamatan jiwa muridnya.

” Apakah aku akan singgah di Pajang? ” bertanya Kiai Gringsing didalam hatinya.

Sekilas ia mulai membayangkan tentang dirinya sendiri dalam berbagai bentuk penyamaran. Bahkan sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada diri sendiri ” Apakah Kiai Gringsing itupun sudah merupakan kebenaran tentang diriku? ”

Namun akhirnya Kiai Gringsing tidak dapat mengetahui lagi, dimanakah sebenarnya kakinya ingin berdiri. Ia telah menyebut dirinya dengan beberapa sebutan. Ia sudah pernah merasa dirinya berpura-pura dengan peranannya. Namun kemudian ia menganggap baljwa ia sudah melakukan sesuatu atas namanya, sehingga ia telah merubah dirinya sendiri dalam ujud yang berbeda. Bahkan akhirnya ia tidak mengerti, jika ia harus menemukan dirinya sendiri sebagaimana pada alas yang seharusnya, ia harus berada pada dirinya yang mana.

Diluar sadarnya, Kiai Gringsing memandang lebih dalam lagi kepada dirinya sendiri. Kepada bentuk yang tergores dipergelangan tangannya. Dan bahkan diluar sadarnya ia memandang surut kekejayaan Majapahit yang telah lama lalu.

Namun akhirnya orang tua itu bergumam kepada diri sendiri ” Aku akan menjumpai Pangeran Benawa. ”

Demikianlah maka Kiai Gringsingpun menuju ke Pajang tanpa singgah lebih dahulu ke Sangkal Putung. Ia tidak ingin menumbuhkan persoalan-persoalan baru pada muridnya yang seorang lagi beserta keluarganya di Sangkal Putung.

Namun Kiai Gringsing tidak akan dapat memasuki Pajang dalam keadaannya. Sudah banyak orang yang mengenalnya sebagai guru Agung Sedayu, sehingga kedatangannya ke istana Pangeran Benawa tentu akan banyak menarik perhatian. Sedangkan mungkin sekali Pangeran Benawa tidak ada diistananya. Dengan demikian ia telah membuat perjalanannya sia-sia, apabila orang yang justru sedang dicarinya itu telah melihatnya lebih dahulu, sehingga mereka akan menjadi lebih berhati-hati. Lebih dari itu, maka merekalah yang akan mepgawasi perjalanannya, dan bukan ia yang akan mendapat keterangan tentang kematian Ki Pringgajaya.

Karena itu, maka Kiai Gringsing harus hadir diistana Pangeran Benawa dalam ujud yang lain. Bukan sebagai Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia masih harus melakukannya lagi. Jika ia dikenal sebagai Kiai Gringsing, karena terlalu lama ia menyatakan diri sebagaimana ia dikenal tanpa diketahui asal-usulnya, maka ia harus hadir dalam penyamaran ganda, karena Kiai Gringsing itupun bukanlah ia sendiri pada mulanya.

” Pangeran Benawa juga sering melakukannya ” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya, sebagaimana ia bertemu disaat terakhir, sehingga mendorongnya untuk meninggalkan padepokan kecilnya.

Karena itulah, maka dalam perjalanannya, Kiaj Gringsing tidak langsung menuju ke Pajang. Ia masih mempunyai waktu cukup, karjena ia ingin memasuki istana Pangeran Benawa setelah senja.

” Aku punya waktu sehari ” berkata Kiai Gringsing.

Yang sehari itu dipergunakan oleh Kiai Gringsing untuk menjelajahi daerah yang pernah dilihatnya beberapa saat sebelumnya. Bahkan ada juga keinginannya untuk melihat tlatah yang sudah lama tidak dilihatnya.

Untuk menghabiskan waktunya Kiai Gringsing telah beristirahat dipinggir sebuah belumbang, dibawah sebatang pohon yang besar, namun yang agaknya jarang dikunjungi orang.

Adalah kebetulan sekali, bahwa orang tua itu dapat dengan bebas bercermin diair belumbang yang bening meskipun agak kotor oleh dedaunan yang berjatuhan. Namun ketika angin tenang, orang tua itu dapat melihat wajahnya sendiri dipermukaan air.

Demikian matahari turun kekaki langit. Kiai Gringsing tersenyum melihat wajahnya sendiri. Seleret kumis yang tebal keputih-putihan melekat diatas bibirnya. Sementara ia tidak lagi mengenakan ikat kepalanya seperti kebiasaannya, tetapi ia mengenakannya dengan rapi. Demikian juga baju dan kain panjangnya.

Sambil tersenyum Kiai Gringsing berkata kepada diri sendiri ” Aku masih pantas mengaku seorang priyayi. ”

Sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing nampak seperti seorang priyayi. Tetapi sebuah pertanyaan tiba-tiba saja terbersit dihatinya ” Apakah aku hanya sekedar nampaknya saja seperti seorang hamba istana? ”

Tetapi Kiai Gringsing kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada diri sendiri ” Aku sudah memilih jalan hidup yang sudah sekian lama aku jalani. ”

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dengan cara berpakaian yang lain dan sebuah kumis yang tebal keputih-putihan segera meloncat naik kepunggung kudanya.

” Untunglah, kumis itu masih aku simpan baik-baik ” katanya didalam hati.

Seperti yang diperhitungkan, maka ia memasuki Pajang ketika matahari sudah tenggelam. Ia sengaja memilih waktu yang buram, agar orang tidak akan

dengan mudah dapat mengenalnya, seandainya ia bertemu dengan seseorang yang sudah mengenalnya dengan baik.

Dengan ujudnya yang agak berbeda, maka Kiai Gringsingpun langsung menuju ke istana Pangeran Benawa. Kepalanya tidak tertunduk seperti biasanya yang dilakukan dalam perjalanan. Tetapi ketika ia mendekati regol, maka iapun mengangkat wajahnya sambil menegakkan dadanya.

” Sikapku harus patut ” katanya didalam hati.

Sejenak kemudian, maka Kiai Gringsing itupun sudah berada di muka regol istana Pangeran Benawa. Dengan sikap seorang yang berkedudukan ia bertanya kepada penjaga regol ” Apakah Pangeran Benawa ada diistana? ”

Penjaga itu memandanginya sejenak. Namun karena keremangan malam ia tidak dapat memandang wajah orang yang datang itu dengan jelas. Tetapi menilik ujudnya sekilas dalam bayangan senja, orang itu adalah orang yang berkedudukan baik.

” Apakah tuan akan bertemu dengan Pangeran? ” bertanya penjaga regol itu.

” Ya. Aku akan menghadap Pangeran ” jawab Kiai Gringsing ” aku mempunyai kepentingan yang tidak dapat ditunda sampai esok pagi ”

” Siapakah tuan ” bertanya penjaga regol itu. Pertanyaan itulah yang digelisahkan oleh Kiai Gringsing. Bagaimana ia menyebut dirinya sendiri, sehingga justru tidak membuatnya harus mengurungkan niatnya, karena Pangeran Benawa menolak.

” Aku adalah saudara seperguruannya ” berkata Kiai Gringsing hampir diluar sadarnya.

” Saudara seperguruan? ” penjaga regol itu menjadi heran ” tuan agaknya berselisih umur cukup banyak dengan Pangeran. ”

” Ya. Aku memang jauh lebih tua ” Kiai Gringsing terpaksa berbohong lebih lanjut ” agaknya aku bukan saja cepat menjadi tua, tetapi aku memasuki padepokan tempat aku berguru, aku memang sudah menjelang hari tuaku. Sementara Pangeran Benawa hanya seperti orang lewat, sekedar singgah. Namun ilmunya jauh melampaui ilmu saudara2 seperguruannya yang lain. ”

” Baik tuan. Tetapi jika Pangeran bertanya, siapakah nama tuan, orang itu bertanya lebih jauh.

Kiai Gringsing menjadi agak bingung. Namun kemudian katanya ” Risang Jati Pakuwon. ”

Penjaga regol itu mengerutkan keningnya. Sementara itu sambil tersenyum Kiai Gringsing berkata ” Apakah itu nama yang aneh? Namaku memang bukan itu. Tetapi aku mendapatkannya dipadepokan. Dan nama itulah yang dikenal oleh Pangeran Benawa. “Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu katanya ” Jika Pangeran masih juga bingung, katakan, bahwa aku adalah orang yang mendapat pesan langsung dari Pangeran untuk mengantarkan pusaka Kiai Cemeti. Dengan demikian, maka Pangeran tentu akan segera mengenal, siapakah tamunya? ”

Penjaga regol itu mengangguk-angguk. Meskipun ia masih regu-ragu, maka iapun berkata ” Baiklah. Aku akan menyampaikannya. Silahkan. ”

Ketika orang itu meninggalkan regol, maka seorang kawannya yang lain bergeser mendekat, meskipun ia tetap berdiri beberapa langkah dari Kiai Gringsing yang kemudian turun dari kudanya, dan melangkah memasuki regol halaman. Namun ia masih tetap berdiri saja di bawah sebatang pohon sawo sambil memegangi kendali kudanya.

Adalah suatu kebetulan, bahwa saat itu Pangeran Benawa tidak sedang pergi. Ia berada di ruang dalam, ketika seorang hamba datang menghadap untuk kepentingan menyampaikan pesan, bahwa seseorang ingin menghadap.

Ketika hambanya menyampaikan nama dan kepentingan orang yang datang itu, Pangeran benawa berpikir sejenak. Ia belum pernah mendengar nama yang aneh itu, dan iapun sama sekali belum pernah memesan sebuah pusaka kepada orang yang mengaku saudara seperguruannya.

Tetapi justru nama dan keperluan yang aneh itu telah menarik perhatian Pangeran Benawa yang memang ingin banyak mengetahui.

Karena i itu, maka Pangeran Benawapun segera memerintahkan agar tamunya segera dipersilahkan masuk, justru keruang dalam.

Demikianlah, maka orang yang menyebut dirinya Risang Jati Pakuwon itupun kemudian menyerahkan kudanya kepada penjaga istana itu, dan dengan sikap seorang berkedudukan iapun naik tangga pintu samping, langsung masuk keruang dalam.

” Silahkan Ki Sanak ” Pangeran Benawa memper-silahkan.

” Aku benar-benar datang menghadap Pangeran ” jawab orang yang menyebut dirinya Risang Jati Pakuwon.

DemikianPangeran Benawa mendengar suara orang itu, dan demikian cahaya lampu yang lebih terang jatuh kewajahnya, maka Pangeran Benawapun tersenyum sambil berkata ” Silahkan. Silahkan Risang Jati Pakuwon. ”

Kiai Gringsingpun menahan tertawanya. Ia sadar, bahwa Pangeran Benawa segera dapat mengenalnya. Suaranya dan mungkin sikap dan wajahnya meskipun ia sudah memakai kumis yang keputih-putihan.

Para pengawal dan pelayan istana itu tidak tahu, siapakah sebenarnya tamu Pangeran Benawa. Karena itu, maka ketika mereka melihat, bahwa Pangeran Benawa nampaknya memang sudah mengenalnya dengan baik, maka merekapun tidak lagi bertanya-tanya didalam hati. Orang itu tentu benar-benar seperti yang dikatakannya, saudara seperguruan Pangeran Benawa.

Setelah tak ada orang lain didalam ruang itu, maka Pangeran Benawapun kemudian bertanya ” Kiai sengaja mengejutkan aku? ”

Kiai Gringsingpun tertawa pula. Jawabnya ” Aku kira aku lebih baik datang dengan cara ini. Agaknya tidak ada seorangpun yang mengetahui kehadiranku disini. ”

” Bukankah para penjaga regol yang mempersilah-kan Kiai masuk? ” bertanya Pangeran Benawa.

” Ah, aku tidak mempunyai aji penglimunan. Maksudku, tidak seorangpun yang curiga, bahwa penghuni padepokan kecil di Jati Anom telah datang menghadap Pangeran Benawa ” jawab Kiai Gringsing.

Pangeran Benawapun tertawa semakin panjang. Katanya kemudian ” Menarik sekali. Kiai lebih pantas dengan cara berpakaian demikian. Kiai memakai kain sebagaimana seharusnya. Dengan wiron yang tidak begitu lebar dan teratur. Sabuk dan kumis yang Kiai pakai dengan tertib. Baju yang rapat dan ikat kepala yang rajin.

” Pangeran memuji ” desis Kiai Gringsing ” tetapi itu bukan kebiasaanku. ”

” Kiai dapat membiasakannya. ” sahut Pangeran Benawa.

” Tetapi pada saat yang diperlukan seperti ini, aku tidak mempunyai kesempatan lagi ” jawab Kiai Gringsing, lalu ” dan agaknya, cara berpakaian seperti ini tidak pantas bagi seorang penghuni padepokan. ”

Pangeran Benawa tertawa pula. Lalu ” Baiklah. Aku tidak akan dapat merubah sifat dan tabiat Kiai. ”

” Demikianlah, agaknya Pangeranpun merasa perlu untuk berbuat demikian seperti kebiasaanku sehari-hari, pada saat-saat Pangeran memerlukan. ” berkata Kiai Gringsing.

Pangeran Benawa tertawa semakin keras. Sementara Kiai Gringsingpun tertawa pula tertahan-tahan.

Demikianlah, setelah Pangeran Benawa bertanya tentang keselamatan orang-orang yang tinggal dipadepokan, serta kesehatan Agung Sedayu dan Sabungsari, maka sampailah Kiai Gringsing pada maksud kedatangannya.

” Pesan Pangeran memang sangat menarik, sehingga aku benar-benar ingin melihat-lihat daerah sebelah Timur Kota Raja ini ” berkata Kiai Gringsing kemudian-

” Aku sudah menduga. ” sahut Pangeran Benawa ” dan akupun sebenarnya juga menunggu, mudah-mudahan Kiai singgah dirumah ini. Ternyata Kiai benar benar singgah, sehingga aku dapat menyampaikan maksudku untuk pergi bersama-sama dengan Kiai menjelajahi beberapa daerah yang mungkin sangat menarik. ”

” Pangeran juga akan pergi? ” bertanya Kiai Gringsing dengan kerut merut dikening.

” Ya. Apa salahnya? Kematian Ki Pringgajaya memang sangat menarik untuk bukan saja diperbincangkan, tetapi untuk diketahui. Tumenggung Prabadaru memang memberikan laporan terperinci atas kematian Ki Pringgajaya. Bahkan ia sudah membawa keluarga Ki Pringgajaya mengunjungi makamnya. ” berkata Pangeran Benawa.

” Apakah keluarganya tidak mempunyai keinginan apapun terhadap makam Ki Pringgajaya yang terpisah dari makam keluarganya yang lain? ” bertanya Kiai Gringsing pula.

” Mereka berpendapat, bahwa sebaiknya makam itu dipindahkan. Tetapi sudah barang tentu tidak dalam waktu yang dekat, ” jawab Pangeran Benawa.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Seperti Pangeran Benawa, iapun berniat untuk mengetahui lebih banyak. Adalah kebetulan sekali bahwa Pangeran Benawa ternyata ingin pergi pula bersamanya, sehingga ia mempunyai kawan berbincang, bukan saja disepanjang jalan, tetapi di tempat-tempat ia harus bermalam. Bahkan mungkin bermalam di pinggir hutan atau di makam Ki Pringgajaya itu sendiri.

” Kiai ” berkata Pangeran Benawa kemudian ” malam ini Kiai tidur dirumahku. Besok kita akan pergi bersama. ”

Kiai Gringsing tidak dapat menolak. Bahkan dengan bergurau Pangeran Benawa berkata ” Disini Kiai akan sempat bersolek lebih baik ”

Kiai Gringsing tertawa sambil menjawab ” Terima kasih Pangeran. Aku akan mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. ”

Dengan demikian, maka pada malam itu, Kiai Gringsing bermalam diistana Pangeran Benawa. Seperti yang sudah mereka sepakati, maka didini hari berikutnya, keduanyapun meninggalkan istana itu, justru sebelum jalan-jalan menjadi ramai, agar kepergian mereka berdua tidak menarik perhatian orang-orang Pajang.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing dan Pangeran Benawapun telah mulai dengan sebuah perjalanan khusus, karena mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang kematian Ki Pringgajaya yang mereka anggap penuh dibayangi oleh rahasia.

Tidak seorangpun yang mengetahui, bahwa dua orang yang kemudian keluar dari regol Kota Raja adalah Kiai Gringsing dan Pangeran Benawa. Ternyata demikian Pangeran Benawa keluar dari halaman rumahnya, maka iapun sempat berganti baju. Dimasukkannya baju Pangerannya kedalam kampil yang tergantung dipelana kudanya. Dirubahnya pula caranya memakai ikat kepala, sehingga ia tidak lebih dari seorang kebanyakan. Demikian pula Kiai Gringsing yang di saat memasuki regol istana Pangeran Benawa mengenakan pakaian yang rapi dan tertib, telah berubah pula menjadi seorang tua yang tidak lebih dari orang kebanyakan pula seperti Pangeran Benawa. Namun ia masih juga mempertahankan kumisnya yang keputih-putihan di atas bibirnya.

Namun dalam keseluruhan, maka dua orang berkuda itu sama sekali tidak menarik perhatian. Bahkan seseorang akan dapat mengira bahwa keduanya adalah ayah dan anak yang sedang menempuh perjalanan.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2009 at 10:54  Comments (136)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-32/trackback/

RSS feed for comments on this post.

136 KomentarTinggalkan komentar

  1. absen dulu…
    Terimakasih kitab 132-nya.

  2. Wah, jan, ngedab2i tenan, aku ketipu yang kedua kali (setelah kitab 130) dengan bayangan semu yang diciptakan Ki GD. Memang harus rajin berlatih dengan sareh …

  3. Ilmu Ki Gede memang semakin ngedap-edapi…
    sarapan sik kih….uenak tenan…

  4. Tq Ki GD, pagi2 dah bisa ambil ransum… MAtur nuwun sangwt…

  5. Orang-orang ini apa sudah menyapu halaman padepokan? kok sudah sarapan dua kali?

  6. Kalo di Amrik, Bill Clinton adalah produk generasi Babby boom, kalo di Padepokan generasinya Bill Clinton, adalah angkatan Gesek (generasi seketan) pada jadi cantrik padepokan kayak saya ini. Nuwun Ki..

  7. Tengkyu Ki GD, neng kene pancen wis wayahe ngaso, dadi bisa langsung moco kitab 132 karo mangan lan leyeh-leyeh

  8. Wah para cantrik wis podo sarapan….
    aku kok durung keduman yo….
    Dateng pundhi mendete jatah rangsume nggihh, tak ubek2 kok durung ketemu-temu…?
    Opo ono sing ngumpetke yo ?
    Tuluuunggg….tuuluuunggg……

  9. Hehehe…..isin aku….
    Jan…jan….Ki Ge De memang suka guyon….
    Terima kasih Ki GeDe….

  10. Itulah akibatnya kalau para cantrik senengane klekaran neng halaman…entah kenapa Ki Gede kok nyebar-nyebar kitab di halaman dan bukannya di Padepokan seperti biasanya.
    Moga-moga Ki Gede tidak sedang dalam keadaan marah kepada para cantrik sehingga kok muncul kejadian seperti ini.
    Tebakanku sih, Ki Gede sebenarnya memang getul-betul marah, tapi sedikit terhibur melihat keriangan Ni Rara Wulan dan Nyai Semangkin di gandok timur padepokan, sehingga kemarahannya sedikit mereda…
    Mari kita kembali belajar untuk bisa sabar dan tidak umbyek-umbyekan koyo antrian minyak tanah. 😛

  11. ikut ngantri,,,kitab 132 kapan Ki Gede, cantrik kelahiran 70 an ikut ngangsu kaweruh 🙂

  12. terima kasih Ki gede kitabnya sudah diunduh, semalan nungguin belm ada… eh pagi ini sudah nongol

  13. Terima kasih Ki GD
    Waktu istirahat, tanpa isayarat dari Ki GD, ternyata
    kitab sudah di sediakan di halaman
    Terima kasih Ki Pandan Alas yang sudah woro-woro

  14. Mator NuwOn ki Gede …. sepertinya Ki Gede sudah Refresh lagi setelah liburan kemaren …

  15. Mutur nuwun kitab 131 d1n 132 nya Ki GD

    Salam

  16. wah.. kitab 132 selain ceritanya ada hubungannya dg madiun ..ternyata kitab itu berasal dari madiun juga..

    moga2 liburan bisa mampir ke sana..

    trim’s ki gd..

  17. wah..
    kados pundi ngunduhipun
    koq mboten wonten linkipun…
    hks deh

  18. taksih kathah cantrik ingkang salah kamar… Kula ature leyeh2 wonten Halaman mawon…

    Nuwun

  19. ki GD, kula sampun Ngunduh Kitab 132…Kesuwun…

  20. Wah cantrik2 sepuh seperti Ki Pandanalas, Ki Martana, KGPH RM Agung Sedayu, dll semakin canggih saja mengikuti kisaran ilmu RR rara wulan dan GRAy Semangkin yang semakin merapat ke kemampuan Ki Gede. Salut…

  21. wah…wah…wah
    Ki GD baru marah atau nglulu, kitab kok disebar neng halaman tapi hebat kok

  22. waduh, iya, kitab 132 disebar di halaman.
    untung belum disapu Glagah Putih; bisa terpijak tuh, wong dia nyapu sambil mundur. Tak pungut aja dulu …

    mercy, ki GD

  23. Wah sudah sampai halaman…, jangan2 besok kitab berikutnya ditaruh didepan regol atau di atas pagar…
    mtr tx Ki GD

  24. @Mas Karebet,
    Bagaimana jika Rontal 151-158 dikirim via kurir Pajang Ki Tiki? Dengan perjanjian untuk dikembalikan jika sudah dipahatkan di dinding Padepokan ADBM.
    Mohon maaf Ki Truno hanya bisa urun rembug saja, mudah2an dipertimbangkan.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  25. Bapak2…saya istrinya Pak Ubaid..maaf sering mengganggu (beliau lg dilaut lg)..saya ga tau mo download 132 nya kemana ..kalau boleh suami saya minta tolong dikirimin ke emailnya kalau ada yg berbaik hati…once again…thanks a lot yah Bapak2 sekalian 🙂
    email suami saya:
    Generic_Champion-Servo@cnooc.co.id

  26. Bu Ubaid said.
    Bapaknya lagi offshore bukan?. di laut mana Bu..??.
    Enak sambil mancing ya…
    Liat halaman atas.., klik aja di tulisan halaman Bu…, cepetan sebelum bapa nya kena demam virus adbm.., gawat bisa pulang mendadak

  27. memang Halaman sangat membantu, maturnuwun.

    3 kitab hari saya sedot.

    Belajar puasa, puegel kedarung-darung saben dino.

  28. Mbah mbah, kok jilid 132 belum sempurna yah, yang terlihat hanya sampai halaman 9 dari 36 lembar DJVU, mohon nantinya diupload ulang ya mbah

    Maturnuwun sanget

    Salam

    dari anak ku Mahesa

  29. Makasih yah Mas…

    hadduhhh itu suami saya kesurupan deh sama adbm…katanya skarang bab yg lg seru2nya…capee deee 🙂

  30. dera pengasuh ADBM

    sungguh suatu karunia luar biasa dapat baca buku klasik Api di bukit menoreh,aku sdh tamat baca jilid 1-II-31, dalam waktu 15 hari, sayang jilid selanjutnta bagaimana caranya karena belum terunduh

    salam hormat

    Ki Gde Trio

    # wow.. 15 hari menekuni kitab?? jaga wagad sampeyan kisanak, jangan lupa makan… mungkin kitab 31 perlu dimulai dengan pati geni dan mandi keramas ki 🙂

  31. Kelelegen…..Keluron……

  32. Maap Nyai/Ki
    versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  33. Maap Nyai Seno/Ki Gede
    Versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  34. LANJUTAN……….

    Namun demikian, mereka masih memerlukan keterangan lebih banyak lagi. Dimalam hari, seperti yang dikatakan oleh penjaga banjar itu, banyak anak-anak muda yang berkumpul dengan senjata dilambung. Dari mereka Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda juga mendengar ceritera tentang kematian seorang prajurit Pajang. Bahkan mereka dapat menceriterakan lebih banyak dan lebih jelas lagi.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  35. TERUSANNYA LAGEE……..

    ” Latar belakang apakah yang kau maksudkan? ”

    ” Misalnya, apakah kita menganggap dengan beberapa bukti dan saksi, bahwa yang terjadi adalah perampokan. Mungkin sekelompok perampok telah keliru menyer gap korbannya. ” jawab Untara, lalu ” tetapi mungkin pembunuhan itu berlatar belakangkan dendam atau iri dan dengki. Ki Pringgajaya adalah orangku yang memiliki banyak kelebihan. Karena itu, aku sangat memerlukannya. Ketika ia berangkat, aku sudah mengatakannya kepada Tumenggung Prabadaru. ”

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  36. alhamdulillah seri-32 keluar, matur suwun Ki GD, kapan seri selanjutnya keluar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: