Buku II-32

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya ” Mungkin tanggapan kita tidak jauh berbeda. Apakah kita dapat menganggap berita itu meyakinkan. ”

Untara bergeser setapak. Katanya ” Itulah yang aku pikirkan K;ai. Tiba-tiba saja Ki Tumenggung sudah berada di Pajang dengan berita kematian Ki Pringgajaya. Tetapi bagaimanapun juga, aku harus memperhitungkan. Seandainya Gembong Sangiran yang lolos dari kematian di padepokan ini berusaha memberitahukan hal ini kepada Ki Pringgajaya, maka aku kira, Ki Tumenggung Prabadaru tidak akan sudah berada di Pajang, pada pagi harinya dari peristiwa di padepokan ini, sekaligus membawa berita kematian Ki Pringgajaya. ”

” Memang ada beberapa kemungkinan dapat terjadi ngger ” berkata Kiai Gringsing ” sebaiknya kita harus berhati-hati. Kita akan dapat melihat apakah yang dikatakan oleh Ki Tumenggung itu benar. ”

” Apa yang dapat kita lakukan Kiai? ” bertanya Untara.

” Menelusuri jalan ke Madiun. Kita akan dapat mendengar ceritera kematian itu. Jika peristiwa itu benar terjadi, maka hampir setiap orang akan mengetahuinya. Berita itu dalam sehari akan menjalar dari seseorang keorang lain, dari satu padukuhan ke padukuhan lain. ” jawab Kiai Gringsing.

Untaara mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis ” Tugas baru bagi Ki Lurah Patrajya dan Ki Lurah Wirayuda. ”

Demikianlah, maka untuk beberapa saat lamanya, Untara masih berbincang dengan Kiai Gringsing dan Ki Widura. Mereka merencanakan cara yang manakah yang paling baik akan ditempuh. Namun mereka berkesimpulan untuk melihat, apakah yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Prabadaru itu benar, atau karena Ki Tumenggung mempunyai perhitungan lain atas Ki Pringgajaya, sehingga ia mengatakan apa yang tidak sebenarnya terjadi.

” Rasa-rasanya ada sesuatu yang pantas dicurigai pada Ki Tumenggung Prabadaru. Mungkin ia memang terlibat langsung dalam gerakan yang sama. Tetapi mungkin ia sekedar ingin memecahkan masalah yang timbul karena sikapku atas Ki Pringgajaya ” berkata Untara kemudian.

” Nampaknya segala sesuatu di padepokan ini memang sudah selesai ngger ” berkata Kiai Gringsing ” yang terbunuh sudah dikuburkan, yang terluka berat, sedang aku rawat, sementara yang terluka kecil, telah dibubuhi obat yang akan dapat segera menyembuhkannya. Karena itu, maka orang-orang yang ada dipadepokan ini akan dapat angger perintahkan untuk tugas-tugas lain, sementara angger telah menempatkan secara terbuka sekelompok prajurit disini. ”

Untara mengangguk-angguk. Ia memang ingin berbuat dengan cepat. Karena itu, maka iapun segera memanggil Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda. Meskipun ada juga goresan-goresan luka ditubuh mereka, namun tidak mempunyai pengaruh yang dapat menghambat tugas-tugas mereka.

Dengan singkat Untara memberikan beberapa petunjuk apa yang harus mereka lakukan. Bahkan kemudian Untarapun bertanya ” Apakah salah seorang dari kalian mempunyai sanak kadang yang tinggal di Madiun? ”

” Aku mempunyai seorang kadang seperguruan yang tinggal di Mediun ” jawab Ki Lurah Patrajaya ” aku akan dapat mengunjunginya tanpa prasangka orang lain.

” Nah, segera berangkatlah. Besok kalian akan menelusuri jalan ke Mediun. Kalian akan mendengarkan ceritera orang disepanjang jalan, apakah benar-benar telah terjadi seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Prabadaru. ”

Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa tugas baru itupun merupakan tugas yang cukup berat bagi mereka.

Demikianlah, setelah sekali lagi Ki Untara menengok Agung Sedayu dan Sabungsari, maka iapun segera minta diri. Kepada pimpinan pasukan yang dipercayanya mengawasi padepokan kecil itu, iapun memberikan beberapa pesan, agar mereka selalu berhati-hati.

Seperti yang dikatakan oleh Untara, maka malam itu juga. Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda segera mempersiapkan diri. Mereka masih mendapat kesempatan untuk beristirahat beberapa saat menjelang matahari terbit.

Ketika langit di Timur menjadi merah oleh cahaya fajar, maka kedua orang itu telah bersiap. Dengan membawa sekedar bekal, maka merekapun meninggalkan padepokan kecil itu, setelah minta diri kepada semua penghuninya, termasuk Agung Sedayu dan Sabungsari yang terluka. Sementara Glagah Putih telah didera oleh suatu keinginan untuk ikut dalam perjalanan yang demikian. Namun Ki Widura telah melarangnya, karena yang berangkat ke Mediun itu adalah petugas-petugas yang sedang mengemban kewajiban yang berat. Mereka memang agak berbeda dengan Agung Sedayu yang masih kadang sendiri.

Ki Lurah Patrajaya Ki Wirayuda itu telah mendapat pesan pula dari Kiai Gringsing, agar mereka singgah di Sangkal Putung.

” Tidak perlu Swandaru, isterinya dan Sekar Mirah menengok kepadepokan ini. Katakan, bahwa keadaan Agung Sedayu berangsur baik. Sementara itu yang aku kehendaki, justru agar mereka bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Mungkin sekali Gembong Sangiran mengarahkan dendam mereka kepada Swandaru seperti yang pernah dilakukan oleh Carang Waja. Karena itu, maka sebaiknya Sangkal Putung meningkatkan pengawasan atas Kademangan mereka. Tidak mustahil bahwa mereka harus berusaha untuk menentang sirep. ” berkata Kiai Gringsing.

Kedua orang yang berangkat dari padepokan kecil di Jati Anom itu mengangguk-angguk. Merekapun kemudian menuju ke Sangkal Putung untuk menyampaikan pesan Kiai Gringsing itu, baru kemudian mereka akan meneruskan perjalanan ke Timur. Namun seperti yang telah disepakati, mereka harus menghindarkan diri dari pengenalan orang-orang Pajang, apalagi mereka yang terlibat bersama Ki Tumenggung Prabadaru.

Perjalanan ke Sangkal Putung, bukanlah perjalanan yang terlalu jauh. Karena itu, maka kedua orang itupun setelah berpacu beberapa lamanya, telah memasuki Kademangan Sangkal Putung.

Kedatangan mereka berdua memang mengejutkan. Apalagi ketika mereka mengatakan, bahwa mereka mendapat pesan dari Kiai Gringsing.

Dengan jelas Ki Lurah Wirayuda menceriterakan apa yang telah terjadi di padepokan kecil itu. Iapun kemudian menyampaikan pesan Kiai Gringsing, bahwa mereka tidak perlu pergi ke Jati Anom. Justru mereka harus berhati-hati dan meningkatkan pengawasan.

Swandaru menggeram menahan gejolak perasaannya. Namun kemudian ia berkata ” Terima kasih Ki Sanak. Kami akan melakukan segala pesan guru. Dengan demikian, kami akan dapat dengan hati-hati mengamankan Kademangan ini, seandainya orang-orang Gunung Kendeng itu memalingkan wajahnya ke Kademangan ini.

Ternyata Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda tidak terlalu lama berada di Sangkal Putung. Merekapun segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanan mereka.

” Apakah Ki Sanak berdua akan pergi ke Pajang? ” bertanya Ki Demang»

” Aku akan menengok keluargaku Ki Demang ” jawab Ki Lurah Patrajaya.

Orang-orang Sangkal Putung itu tidak bertanya lebih lanjut. Sementara kedua orang itu tidak mengatakan, bahwa mereka akan pergi ke Mediun meskipun kepada murid Kiai Gringsing.

Perjalanan ke Mediun itu merupakan perjalanan yang cukup berat. Mereka tidak sekedar melalui jalan-jalan panjang, melintasi bengawan degan rakit, kemudian berpacu dijalan yang menyelusuri tepi huan. Tetapi mereka harus mencari berita, apakah benar, telah terjadi seperti yang dikatakan oleh Ki Tumenggung Prabadaru.

Karena itu, maka yang penting bagi kedua orang itu bukannya kecepatan mereka mencapai tujuan, tetapi justru mereka akan sering berhenti diperjalanan. Terutama didaerah seperti yang dikatakan oleh Untara menurut pendengarannya dari Ki Tumenggung Prabadaru.

Karena itu, maka mereka justru memperhitungkan, bahwa mereka akan kemalaman di jalan justru di padukuhan itu. Keduanya akan bermalam di banjar apabila keduanya diperkenankan oleh Ki Demang atau orang yang dikuasakannya.

Ternyata bahwa mereka dapat melakukan rencana itu sebaik-baiknya. Mereka sampai kepadukuhan yang disebut oleh Untara, disebelah ujung hutan, pada saat matahari mulai terbenam.

Kedatangan kedua orang yang kemalaman diperjalanan itu, telah diterima oleh orang yang dikuasakan menunggui banjar Kademangan. Dengan merendahkan diri keduanya mohon agar diperkenankan bermalam dipadukuhan itu.

Namun dalam pada itu, ketajaman tanggapan Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda dapat menangkap kecurigaan yang memancar pada sorot mata orang itu. Bahkan kemudian terasa betapa teliti orang itu bertanya tentang kedua orang yang mohon untuk diijinkan bermalam.

Tetapi Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda sudah bersiap-siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memang sudah diperhitungkan. Karena itu maka keduanya dapat menjawab dengan lancar tanpa melakukan kesalahan.

” Baiklah ” berkata orang yang menunggui banjar itu ” kalian berdua aku ijinkan tinggal dibanjar ini semalam. Kalian dapat bermalam disini, tetapi dengan pengertian sebelumnya, mungkin kalian terganggu sehingga kalian tidak akan dapat tidur dengan nyenyak. ”

” Apakah yang akan mengganggu kami Ki Sanak? ” bertanya Ki Lurah Patrajaya.

” Setiap malam banjar ini penuh dengan anak-anak muda. Kadang-kadang sampai lima belas orang, sementara yang lain tersebar di gardu-gardu, ” jawab orang itu

” O ” kedua orang yang akan bermalam itupun terkejut ” apakah Kademangan ini termasuk Kademangan yang tidak aman? ”

” Sebelumnya tidak pernah terjadi ” berkata orang itu ” tetapi baru saja terjadi peristiwa yang mengejutkan .kami semuanya. Karena itulah maka aku terpaksa bersikap hati-hati menerima kalian berdua bermalam di banjar ini. ”

Kedua orang itupun seakan-akan mendapat jalan untuk menyampaikan beberapa pertanyaan, sehingga keduanya telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Dari orang itu, Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda mendengar bahwa telah terjadi perampokan atas sekelompok prajurit dari Pajang.

” Aneh ” berkata Ki Patrajaya ” kenapa justru mereka merampok sekelompok prajurit? Apakah mereka menganggap bahwa prajurit Pajang itu membawa bekal yang cukup? Atau barangkali mereka menginginkan pusaka yang dibawa oleh para prajurit itu? ”

Orang itu menggeleng. Jawabnya ” Kami tidak tahu.. Tetapi agaknya para perampok itu telah keliru memilih sasaran. ”

” Kenapa? Apakah mereka kemudian menyesal? ” Orang itupun kemudian menceriterakan, bahwa yang

terjadi adalah pertempuran yang sengit. Sekelompok prajurit Pajang dalam perjalanan kembali ke Kota Raja. Kelompok prajurit itu melewati padukuhan itu lewat senja. Tetapi diujung hutan sekelompok prajurit itu telah bertemu dengan sekelompok perampok yang ganas

” Tetapi perampok itu telah dihancurkan Lebih dari lima orangnya telah terbunuh. Sementara seorang prajurit telah tewas pula. berkata orang ‘itu kemudian.

Hampir diluar sadarnya. Ki Lurah Wirayuda bertanya ” Apakah Ki Sanak mengetahui, siapakah nama prajurit yang tewas itu? ”

” Menurut keterangan pemimpin kelompok prajurit itu, justru yang telah gugur itu adalah seorang prajurit linuwih setelah ia sendiri dapat membunuh lawan-lawannya. Menurut para prajurit itu. namanya adalah Ki Pringgajaya. ” jawab orang itu

Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Pringgajaya benar-benar telah terbunuh dalam keadaan yang sama sekali tidak terduga, dan yang barangkali sama sekali tidak adii hubungannya dengan peristiwa di Jati Anom

” Kami telah membantu mengubur mayatnya – berkata orang itu.

” Bersama-sama dengan para perampok yang tewas? ” bertanya Ki Lurah Wirayuda.

” Tidak. Mayat-mayat dar para perampok itu ke mu dian dapat diselamatkan oleh kawan-kawannya yang jumlahnya tidak seimbang. Namun ternyata bahwa jum lah yang banyak itu tidak dapat mengimbangi kemam puan para prajurit. Agaknya para perampok itu mengi ra, bahwa yang lewat adalah sekelompok pedagang da ri daerah Timur yang akan memasuki kota Pajang dengan membawa bermacam-macam barang dagangan. ”

Kedua Lurah dalam tugas sandi Pajang itu mengangguk-angguk. Ceritera itu cukup jelas. Orang itupun dapat menceriterakan, bahwa beberapa prajurit Pajang telah terluka selain yang terbunuh. Bahkan pemimpin prajurit Pajang itupun telah terluka parah. Tetapi karena tanggung jawabnya, maka ia tetap memegang pimpinan dan setelah penguburan itu selesai, mereka melanjutkan perjalanan.

Semuanya menjadi jelas. Karena itu, maka sebenarnya tugas perjalanan mereka telah selesai.

Namun demikian, mereka masih memerlukan keterangan lebih banyak lagi. Dimalam hari, seperti yang dikatakan oleh penjaga banjar itu, banyak anak-anak muda yang berkumpul dengan senjata dilambung. Dari mereka Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda juga mendengar ceritera tentang kematian seorang prajurit Pajang. Bahkan mereka dapat menceriterakan lebih banyak dan lebih jelas lagi.

Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak mempercayainya. Anak-anak muda dipadukuhan itu tahu benar apa yang telah terjadi. Sebagian dari mereka telah ikut membantu menguburkan seorang prajurit Pajang yang bernama Ki Pringgajaya.

Namun demikian, ketika fajar menyingsing, maka keduanya telah mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Mereka tidak dapat langsung kembali ke Pajang, karena dengan demikian, maka orang-cang di padukuhan itu akan mencurigainya.

Disegarnya matahari pagi, maka kedua orang petugas sandi dari Pajang yang tidak banyak dikenal oleh prajurit-prajurit Pajang sendiri itu telah melanjutkan perjalanan mereka ke Mediun. Tidak ada lagi yang harus mereka lakukan, selain menghapus kecurigaan orang-orang padukuhan yang ditinggalkan.

Meskipun demikian, kedua orang itu masih saja selalu memperhatikan setiap keadaan disepanjang jalan. Namun agaknya kehidupan berjalan seperti biasa*. Tidak ada akibat yang langsung mengganggu ketenangan hidup rakyat disepanjang jalan karena peristiwa itu.

Ternyata jalan menuju ke Mediun bukanlah jalan yang sepi di siang hari. Ada beberapa orang berkuda lewat disepanjang jalan itu pula. Bahkan mereka telah bertemu dengan beberapa pedati dan cikar yang membawa barang-barang dari daerah Timur menuju ke Pajang.

Namun dalam pada itu, Ki Lurah Patrajaya bertanya kepada Ki Lurah Wirayuda ” Kau merasa sesuatu yang pantas mendapat perhatian kita? ”

” Orang berkuda dibelakang kita ” jawab Ki Wirayuda.

Ki Patrajaya mengangguk-angguk. Nampaknya keduanya merasa bahwa seseorang sedang mengikuti mereka sejak mereka meninggalkan padukuhan tempat mereka bermalam. Mereka tidak tahu pasti sejak kapan orang berkuda itu mengikutinya. Atau secara kebetulan orang berkuda itu menuju ketujuan yang sama. Mereka merasa curiga karena jarak antara keduanya dan orang berkuda itu seakan-akan tidak berubah.

Tetapi Ki Patrajaya dan Ki Wirayuda tidak berbuat sesuatu. Mereka membiarkan orang berkuda itu mengikutinya. Bahkan keduanya mengira, bahwa orang itu adalah salah seorang pengawal padukuhan tempat mereka bermalam untuk mengamati apakah keduanya benar-benar pergi ke Mediun.

Namun, beberapa saat kemudian, menjelang memasuki jalur jalan menuju ke pintu gerbang kota Mediun, orang berkuda itu mempercepat lari kudanya. Tanpa menghiraukan kedua orang petugas sandi itu, orang berkuda itu telah mendahului mereka.

Meskipun Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda ingin memperhatikan orang itu, namun mereka tidak dapat melihat wajah itu dengan jelas. Namun acaknya mereka masih belum mengenal orang yang nampaknya telah menjelang usia tuanya. Meskipun demikian, nampaknya tujbuh dan sikapnya, masih kokoh dan utuh.

Untuk beberapa saat Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda tidak lagi menghiraukan orang berkuda yang semakin jauh meninggalkan mereka. Bahkan ketika sekali-sekali Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda berhenti dan singgah di kedai yang terletak dipinggir jalan itu, sama sekali tidak ada kesan apapun yang dapat mengganggu perasaan mereka dan mengungkit kecurigaan.

Dengan tanpa prasangka apapun keduanya kemudian memasuki kota Mediun. Ki Patrajaya memang mempunyai seorang saudara seperguruan, sehingga ada tempat yang langsung dapat mereka kunjungi

Namun Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda terkejut ketika mereka sudah berada diregol halaman rumah itu, seekor kuda berlari mendahului. Apalagi ketika ternyata bahwa penunggang kuda itu adalah orang yang mereka sangka telah mengikuti mereka disepanjang jalan menuju ke Mediun.

Sejenak keduanya berhenti. Dengan suara datar Ki Lurah Wirayuda berkata ” Bukan sekedar kebetulan. ”

” Ya ” sahut Ki Lurah Patrajaya ” aku akan mengatakan kepada kadang seperguruanku. ”

” Tetapi apakah dengan demikian kita sudah melibatkan orang lain yang mungkin tidak tahu menahu sama sekali dengan tugas kita? ” bertanya Ki Lurah Wirayuda.

Ki Lurah Patrajaya termenung sejenak. Namun kemudian katanya ” Ia adalah kadang seperguruanku. Ia akan dapat mengerti keadaanku, meskipun aku tidak perlu mengatakan bahwa kita adalah petugas sandi dari Pajang. ”

Ki Lurah Wirayuda mengangguk-angguk. Iapun mengerti arti kadang seperguruan, yang tidak ubahnya dengan saudara kandung sendiri. Apalagi didalam menghadapi kesulitan. Maka kesetia kawanan seorang kadang seperguruan, kadang-kadang lebih besar dari saudara kandung sendiri.

Demikianlah, maka keduanyapun telah meloncat turun dari kudanya dan memasuki regol halaman. Adalah kebetulan sekali bahwa orang yang mereka cari itupun sedang berada dirumah pula.

Kedatangan Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda telah disambut gembira oleh saudara seperguruan Ki Lurah Patrajaya itu. Sudah lama mereka tidak bertemu. Karena itu, pertemuan itu merupakan pertemuan yang menyenangkan.

“ Pantas, hampir sehari penuh burung perenjak berkicau dihalaman. Ternyata ada tamu yang sudah lama aku tunggu-tunggu. ” berkata saudara seperguruan Ki Patrajaya itu.

Ki Lurah Patrajaya kemudian memperkenalkan kawan seperjalanannya. Meskipun mereka berdua tidak memperkenalkan tugas mereka yang sesungguhnya.

Tetapi saudara seperguruan K T Lurah Patrajaya itu berkata ” Kedatanganmu ke pondok ini sebenarnya sangat mengejutkan. Meskipun aku senang sekali atas kunjungahmu, tetapi hatikupun menjadi berdebar-debar.

Ki Lurah Patrajaya tersenyum. Jawabnya ” Aku tidak mempunyai tujuan tertentu selain sekedar ingin bertemu dengan saudara- kita yang sudah lama berpisah

Saudara seperguruannya tidak mendesak meskipun nampak juga dari sorot matanya, bahwa masih ada beberapa pertanyaan yang tersembunyi di dasar hatinya.

Dalam pada itu. dengan sungguh-sungguh seisi rumah itu telah menjamu kedua tamunya. Mereka merasa gembira pula, ketika mereka mengetahui bahwa tamu mereka akan bermalam dirumah itu pula.

Namun dalam pada itu, ketika mereka kemudian duduk bercakap-cakap dipendapa, maka Ki Lurah Patrajayapun mulai menyebut orang berkuda yang mencurigakan itu.

” Orang itu mengikuti aku sejak aku menyeberang bengawan ” berkata Ki Lurah Patrajaya.

Saudara seperguruannya mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya ” apakah ketika kau sekali-sekali berhenti di warung, atau berhenti memberi minum kudamu, orang itu juga berhenti? ”

” Mendekati kota Mediun, orang itu telah mendahului kami ” jawab Ki Lurah Patrajaya ” tetapi demikian kami berdua berhenti diregol, orang itu telah melampaui kami dengan cepatnya tanpa menoleh sama sekali. ”

Saudara seperguruan Ki Lurah Patrajaya itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian ” Sebaiknya kita tidak usah terlalu dipengaruhi oleh peristiwa itu. Mungkin orang itu memang bermaksud jahat. Mungkin kau dikiranya seorang pedagang atau seorang yang memiliki harta benda. Tetapi ketika ia melihat, bahwa kau singgah dirumah yang tidak berarti apa-apa ini, maka orang itu tentu tidak akan menaruh perhatian atasmu lagi. ”

Ki Lurah Patrajaya mengangguk-angguk. Namun saudara seperguruannya itupun berkata ” Meskipun demikian, tidak ada salahnya, jika kita harus berhati-hati. Aku mempunyai dua orang pembantu dirumah ini. Biarlah mereka ikut mengawasi suasana malam ini. Mungkin sesuatu akan terjadi. Meskipun demikian, kalian dapat beristirahat sebaik-baiknya. Jika terjadi sesuatu, biarlah orang-orangku itu memberitahukan kepada kalian. Hanya orang yang kehilangan akal sajalah yang akan berani mengganggu kalian berdua. ”

” Ah ” desis Ki Patrajaya ” rumah ini agaknya rumah hantu pula bagi orang-orang yang bermaksud jahat. Karena itu, maka ketika aku berhenti dimuka rumah ini, maka orang berkuda itu segera berpacu. ”

Orang-orang yang sedang bercakap-cakap dipendapa itupun tertawa. Bahkan kemudian mereka berbicara tentang beberapa masalah, tentang diri masing-masing dan pengalaman mereka selama mereka berpisah.

Meskipun demikian, Ki Patrajaya sama sekali tidak menyinggung tugasnya sebagai seorang petugas sandi dari Pajang dibawah perintah langsung Ki Untara. Ia mengatakan, bahwa selama ini ia adalah seorang petani yang memiliki tanah yangcukupdan bahkan mempunyai sebidang tanah yang dapat dibuatnya menjadi belum-bang. Dari belumbang itu ia mempunyai penghasilan yang cukup untuk membeli garam dan gula.

” Kau tidak nderes sendiri? ” bertanya saudara seperguruannya.

Ki Patrajaya menggeleng. Jawabnya,” Dahulu. Sekarang tidak lagi. karena kakiku telah menjadi cacat. Aku pernah terjatuh. ”

Pembicaraan merekapun kemudian bergeser dari satu persoalan kepersoalan yang lain. Sekali-sekali terdengar mereka tertawa tergelak-gelak. Sekali-sekali mereka nampak berbicara dengan sungguh-sungguh.

Namun akhirnya, ketika malam menjadi semakin dalam, kedua orang tamu itupun dipersilahkan beristirahat digandok sebelah kanan. Sementara saudara seperguruan Ki Lurah Patrajaya itupun telah memanggil dua orang pembantunya.

” Awasi keadaan ” perintah saudara seperguruan Ki Lurah Patrajaya itu. Dengan singkat ia berceritera tentang orang berkuda yang mengikuti tamunya dari sebelah Timur bengawan sampai ke pinggir kota Bahkan kemudian orang itu melintas pula didepan regol rumahnya ketika kedua tamunya itu telah berada didepan regol.

” Baiklah Ki Lurah ” jawab salah seorang pembantunya.

” Jangan berada diregol. ” berkata saudara seperguruan Ki Lurah Patrajaya ” beradalah di serambi gan-dok yang terlindung. Kalian dapat mengawasi halaman dan regol itu. sementara kalian tidak segera dapat dilihat oleh orang yang berada di halaman. Kalian harus bergantian tidur, agar kalian dapat melihat apa yang terjadi. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Besok kalian dapat tidur sehari penuh. Tetapi jika terjadi sesuatu, kalian dapat membangunkan tamu-tamu itu, sebelum kalian membangunkan aku. Tamu-tamuku itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tidak ada bending-nya. ”

Kedua orang itupun dengan sungguh-sungguh telah melaksanakan perintah-perintah saudara seperguruan Ki Lurah Patrajaya. Keduanya telah duduk diamben bambu diserambi berkerudung kain panjang berwarna kelam. Karena keduanya terlindung dari cahaya lampu minyak, maka keduanya memang tidak nampak dari halaman atau dari regol

Kedua orang itu telah mengatur waktu mereka. Yang seorang akan tidur dahulu sambil bersandar pada sandaran amben bambu, sementara yang lain duduk mengawasi keadaan. Kemudian pada waktu yang telah disepakati, yang seorang akan membangunkan yang lain, dan bergantian ia akan tidur sampai pagi.

Namun dalam pada itu, Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayudapun tidak kehilangan kewaspadaan. Merekapun ternyata tidak dapat tidur bersama-sama. Sambil tersenyumpun telah membagi waktu mereka seperti penjaga di serambi.

” Ternyata hati kami terlampau kecil ” desis Ki Lurah Wirayuda sambil tertawa ” peristiwa yang barangkali hanya kebetulan itu telah membuat kami gelisah. ”

” Kami adalah orang-orang yang penuh dengan curiga, cemas dan kadang-kadang berprasangka. Itu adalah pengaruh dari tugas-tugas kami selama ini. Karena, jika umurku sudah menjadi semakin tua, aku ingin berganti pekerjaan menjadi juru misaya mina. He, bukankah tanahku yang terbentang di pinggir bengawan itu dapat dijadikan belumbang ikan air tawar? ” desis Ki Lurah Patrajaya.

Ki Lurah Wirayuda mengangguk-angguk. Tetapi desisnya ” Jika aku masih menjawab berarti aku tidak akan sempat tidur. Demikian pembicaraan tentang be -lumbang selesai, maka waktuku telah habis. ”

Ki Lurah Patrajaya tertawa tertahan. Namun iapun kemudian duduk dibibir pembaringannya, sementara Ki Lurah Wirayudapun berbaring disebelahnya.

Sesaat kemudian terdengar desah nafas Ki Wirayuda yang teratur. Matanya terpejam, dan iapun telah tertidur.

Seperti yang direncanakan, maka pada saatnya Ki Patrajayapun berganti beristirahat, sementara Ki Wirayuda duduk terkantuk-kantuk.

Namun ternyata malam itu mereka lampaui tanpa persoalan yang dapat mengusik ketenangan rumah itu. Tidak ada seorangpun yang datang dengan maksud yang kurang baik. Sehingga orang-orang yang ada didalamnya sama sekali tidak merasa terganggu sama sekali.

Dipagi hari yang cerah, Ki Patrajaya dan Ki Wirayuda telah bersiap untuk mulai lagi dengan perjalanannya. Mereka telah mohon diri untuk kembali ke Pajang setelah semalam mereka berada di tempat saudara seperguruan Ki Patrajaya.

” Sebenarnya, apakah keperiuanmu datang kerumah ini? ” bertanya saudara seperguruan Ki Lurah Patrajaya itu. Lalu ” Jika kau benar-benar hanya ingin menengok setelah sekian lama kita tidak bertemu, maka aku benar-benar mengucapkan banyak terima kasih. ”

Ki Lurah Patrajaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnyarKakang, aku memang hanya ingin menengokmu disini. Aku ingin agar hubungan kita tidak terputus. Selama ini seolah-olah diantara kita tidak ada tali pengikat sama sekali. ” Ki Lurah Patrajaya terdiam sejenak, namun kemudian katanya ” Tetapi mungkin pada suatu saat aku akan datang lagi dalam keadaan yang agak berbeda. Mungkin pada suatu saat aku datang sambil menangis, mohon agar kakang bersedia membantu aku. ”

” Uh, kau memang kurang waras ” sahut saudara seperguruannya ” baiklah. Mungkin sekarang kau masih segan untuk mengatakannya. Datanglah lain kali. Aku senang sekali jika aku mendapat kesempatan membantumu. Dengan demikian, jika aku memerlukan bantuanmu, akupun tidak akan segan-segan mengatakannya. ”

Ki Lurah Patrajaya tertawa pendek. Namun iapun kemudian sekali lagi mohon diri kepada seluruh keluarga saudara seperguruannya untuk kembali bersama seorang kawannya, yang telah mengucapkan banyak terima kasih atas perlakuan yang sangat ramah.

Demikianlah, maka kedua orang itupun segera menempuh perjalanan kembali ke Pajang. Tidak seperti saat mereka berangkat. Mereka tidak perlu berhenti dan apalagi bermalam dijalan. Mereka akan menempuh perjalanan langsung sampai ke Jati Anom, meskipun malam hari mereka baru akan tiba. Bahkan tengah malam.

Tetapi sekali-sekali merekapun merasa perlu untuk berhenti. Bukan saja untuk memberi kesempatan kuda mereka beristirahat. Tetapi kedua orang itupun perlu juga singgah di kedai-kedai dipinggir jalan untuk melepaskan haus dan lapar. Namun yang penting, mereka masih ingin mendengar serba sedikit, persoalan yang barangkali ada hubungannya dengan kematian Ki Pringgajaya.

Tetapi mereka tidak mendengar ceritera apapun lagi yang dapat melengkapi pendengaran mereka tentang kematian Ki Pringgajaya. Ketika mereka berhenti dise-buah kedai, dekat peristiwa itu terjadi, maka yang mereka dengar tidak lebih dan tidak kurang darj ceritera yang pernah mereka dengar sebelumnya, bahkan dari orang-orang yang langsung ikut membantu menguburkan mayat perwira yang memiliki ilmu yang luar biasa itu.

Demikianlah, maka kedua orang itu berniat untuk tidak bermalam diperjalanan. Meskipun mereka harus sering berhenti, namun lewat tengah malam, maka mereka telah memasuki Kademangan Jati Anom.

Kedua orang itu tidak langsung menghadap Ki Untara. Mereka menuju ke padepokan kecil tempat tinggal Kiai Gringsing, yang masih dijaga oleh beberapa prajurit.

Ketika kedua orang itu datang, maka prajurit yang bertugaspun segera mempersilahkan mereka masuk. Setelah membersihkan diri, maka keduanya langsung diterima oleh Kiai Gringsing yang terbangun.

” Rasa-rasanya aku tidak sabar menunggu sampai esok ” berkata Kiai Gringsing.

Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayudapun mengangguk-angguk.

” Jika kalian berdua tidak terlalu letih, aku ingin mendengar serba sedikit, berita perjalanan yang telah kalian lakukan. “berkata Kiai Gringsing.

Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayudapun mengangguk-angguk. Sambil beringsut setapak, Ki Lurah Patrajaya berkata ” Baiklah Kiai. Barangkali aku dapat mengatakan, maksud pokok dari perjalanan kami. ”

” Ya, ya, khususnya mengenai Ki Pringgajaya. ” desis Kiai Gringsing.

” Mendahului laporanku kepada Ki Untara ” berkata Ki Lurah Patrajaya, yang kemudian menceriterakan serba sedikit pendengarannya disepanjang jalan mengenai kematian Ki Pringgajaya. Bahkan iapun sempat menceriterakan seseorang yang nampaknya dengan sengaja telah mengikutinya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian ” Aku tidak tahu tanggapan angger Untara tentang berita ini. Tetapi aku menduga, bahwa bukanlah suatu kebetulan bahwa perjalanan Ki Tumenggung Prabadaru dan pengiringnya bertemu dengan sekelompok orang-orang yang telah berusaha mengganggu mereka. Apalagi seorang diantara mereka yang terbunuh adalah Ki Pringgajaya. ”

Kedua orang yang baru datang dari perjalanan itupun mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, seorang pengawal yang mendapat kepercayaan sepenuhnya dari Untara, telah berpacu keru-mah Senapati muda itu di Jati Anom, sesuai dengan permintaan Kiai Gringsing. Prajurit itu diminta untuk memberitahukan, bahwa Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda telah datang.

” Sampaikan langsung kepadanya ” berkata Kiai Gringsing ” jika ia tidak sempat dibangunkan, maka kaupun harus menunggu sampai esok pagi.

Tetapi ternyata bahwa Untarapun tidak menunggu sampai fajar. Diiringi oleh beberapa orang pengawalnya, maka iapun pergi kepadepokan untuk menerima laporan dari kedua orang yang diutusnya menyelusuri perjalanan dan berita kematian Ki Pringgajaya.

Ternyata setelah ia mendengar laporan dari kedua petugas sandinya, ia berkata seperti yang telah dikatakan oleh Kiai Gringsing ” Aku menjadi cUriga. Ada beberapa hal kecil yang agak berbeda dengan ceritera Tumenggung Prabadaru. Mungkin ada kesengajaan untuk memutuskan jalur yang melintasi Ki Pringgajaya, dari bawah, menuju keatas, yang tersembunyi didalam lingkungan istana Pajang. ”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Iapun ber-

pendapat demikian. Tetapi yang harus diketemukan kemudian, siapakah yang telah berusaha memutuskan jalur itu. Ki Tumenggung Prabadaru sendiri, atau ia hanyalah sekedar peraga dari satu permainan yang tidak dimengertinya.

” Kita harus mencari, dimanakah otak dari permainan ini ” berkata Kiai Gringsing.

” Bukan orang lain ” sahut Untara ” tetapi kami, prajurit Pajang sendiri. ”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Untunglah bahwa ia mengenal Untara dengan baik, sehingga ia tidak merasa tersinggung karenanya. Bahkan katanya kemudian ” Angger benar. Persoalannya menyangkut persoalan didalam lingkungan prajurit Pajang. Tetapi bahwa seorang prajurit Pajang atau lebih telah menyentuh padepokan kecil ini, maka sepantasnya kami terlibat langsung kedalam persoalannya. ”

Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab ” Itupun menjadi kewajiban kami untuk mengusutnya. Dan kami akan melakukannya sebaik-baiknya. Kecuali jika kami memandang perlu, sehingga kami mohon bantuan dari pihak yang manapun juga. ”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Lalu katanya ” Sementara ini kami hanya dapat berdoa. Mudah-mudahan usaha angger untuk memecahkan persoalan ini cepat selesai. Namun menurut pendapatku, yang angger hadapi ini adalah tugas yang sangat berat. ”

” Ya Kiai ” jawab Untara ” kami akan lebih sulit mencari cacat ditubuh sendiri. Tetapi itu harus kami lakukan. Mudah-mudahan aku dapat menemukan orang yang dapat kami bawa bekerja bersama-sama didalam lingkungan kami. Tetapi jika kami terpaksa, maka kami tentu akan mohon bantuan dari siapapun yang menurut pertimbangan kami akan dapat memberikan pemecahan.

” Angger ” berkata Kiai Gringsing ” jika angger memerlukan, sudah barang tentu aku bersedia untuk melakukan apa saja yang dapat aku lakukan. Namun sebenarnyalah, bahwa lebih dahulu angger dapat melihat kedalam diri dan tubuh keprajuritan Pajang. –

” Terima kasih Kiai ” jawab Untara ” aku akan memikirkannya. Sementara ini kami, masih belum dapat berbuat apa-apa. Aku masih harus menilai semua peristiwa yang telah terjadi. Kematian Ki Pringgajaya bagiku merupakan teka-teki. Mungkin Ki Tumenggung Prabadaru sengaja membawa Pringgajaya kedalam satu kelompok orang yang sudah dipersiapkan, dan menjerumuskannya kedalam keadaan yang paling pahit setelah ia dianggap tidak berguna lagi, dan bahkan akan dapat menjadi jalur penghubung untuk mencari otak dari permainan yang memuakkan ini. ”

” Mungkin ngger. ” desis Kiai Gringsing ” namun yang perlu diperhitungkan, bahwa peristiwa itu terjadi, sebelum atau selambat-lambatnya bersamaan dengan kegagalan Gembong Sangiran. ”

” Malam itu, tugas Ki Pringgajaya sudah dianggap selesai. Kematian Agung Sedayu dan seisi padepokan ini adalah tugas terakhir yang harus ditunaikannya. Karena itu, demikian tugas terakhirnya selesai, maka iapun harus dibinasakan. Tetapi mungkin juga, Ki Pringgajaya telah melakukan kesalahan dalam tugasnya, atau hal-hal lain yang masih harus dicari, ” jawab Untara.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Memang ada seribu kemungkinan yang dapat terjadi atas kematian Ki Pringgajaya. Tetapi sasaran pertama yang akan diamati oleh Untara, sudah barang tentu adalah Ki Tumenggung Prabadaru.

Demikianlah, maka ketika Untara telah mendengar laporan kedua orang petugas sandi itu, maka iapun segera kembali ke rumahnya di Jati Anom, setelah ia menengok Agung Sedayu dan Sabungsari sesaat. Agaknya keduanya sudah dapat tidur meskipun masih nampak gelisah. Sementara orang-orang lainpun dipadepokan itu, tidak juga dibangunkannya.

Sepeninggal Untara, maka Kiai Gringsing tidak lagi kembali k e pembaringannya. Beberapa saat lamanya ia berada didalam bilik Sabungsari yang ditunggui oleh seorang pengikutnya, meskipun sambil tidur pula di atas sehelai tikar disebelah pembaringan. Kemudian Kiai Gringsingpun beringsut kebilik Agung Sedayu. Glagah Putih yang biasa tidur bersamanya pada amben yang samar telah tidur dilantai pula beralaskan tikar. Ia tidak mau mengganggu Agung Sedayu. Jika didalam tidur tanpa sengaja ia menyentuh luka Agung Sedayu, maka luka itu tentu akan terasa sakit sekali.

Ketika Kiai Gringsing keluar dari bilik Agung Sedayu, maka terdengar ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kali. Dilangit sebelah timur sudah terbayang warna merah. Beberapa orang cantrik telah terbangun dan melakukan kerja masing-masing.

Ki Widura dan Glagah Putihpun segera terbangun pula. Setelah mereka membersihkan diri, maka sekilas Kiai Gringsing memberitahukan kepada Ki Widura, apa yang sudah dibicarakannya dengan Untara.

” Memang mencurigakan sekali ” berkata Ki Widura ” tetapi untuk dapat mengatakan dengan pasti apa yang, telah terjadi, memang memerlukan waktu dan ketekunan. ”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Namun pembicaraan merekapun tidak mereka teruskan, karena Kiai Gringsing dan Ki Widurapun segera berada didalam kesibukan masing-masing. Namun pada satu kesempatan lain, mereka masih akan berbicara lebih panjang.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing tidak dapat melepaskan angan-angannya kepada peristiwa itu. Ia memandang peristiwa yang penuh dengan rahasia itu dari segala segi. Tetapi akhirnya ia menarik nafas sambil berdesah ” Aku tidak mempunyai bahan yang cukup untuk mengurai peristiwa ini. ”

Sebenarnya ada keinginan Kiai Gringsing untuk pergi ketempat yang dikatakan oleh Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda. Tetapi ia tidak akan sampai hati meninggalkan Agung Sedayu dan Sabungsari yang terluka parah. Bukan karena kemungkinan datangnya orang-orang Gunung Kendeng, karena di padepokan itu telah terdapat beberapa orang prajurit pengawal pilihan disamping Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda.

Namun jika terjadi perubahan keadaannya dgn tiba-tiba, sementara ia tidak berada dipadepokan itu, maka kemungkinan yang paling gawat akan dapat terjadi pada kedua orang yang terluka parah itu.

Tetapi dalam pada itu. ketika Kiai Gringsing sedang melintas dihalaman. ia melihat Glagah utih berdiri ter-mangu-mangu di regol halaman, seolah olah sesuatu sedang diperhatikannya dengan saksama.

Langkah Kiai Gringsingpun terhenti. Iapun kemudian pergi keregol sambil bertanya ” Apa yang kaulihat Glagah Putih? ”

Glagah Putih berpaling Namun kemudian jawabnya ” Orang berkuda itu. Kiai. ”

Ketika Kiai Gringsing sampai keregol, maka ia masih melihat orang berkuda beberapa tonggak dari regol.

” Siapa? ” bertanya Kiai Gringsing.

” Aku tidak tahu Kiai. Kuda itu melintas. Namun kemudian berhenti ditempat itu. Memang sangat menarik perhatian. “jawab Glagah Putih.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Sementara itu, langit bagaikan dihembus oleh cahaya pagi, menguak kekelaman. Namun dalam keremangan pagi, orang berkuda yang berhenti beberapa tonggak dari regol itu masih belum dapat dilihat dengan jelas.

Kiai Gringsingpun kemudian teringat kepada orang berkuda yang mengikuti Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda. Karena itu, maka iapun menduga, bahwa o-rang berkuda itulah yang telah mengikuti kedua orang pe tugas sandi Pajang itu sampai ke Mediun.

Sejenak Kiai Gringsing merenung. Namun akhirnya ia berkata kepada Glagah Putih ” Kau disini saja, aku ingin mendekati. Nampaknya penunggang kuda itu ingin mengatakan sesuatu. ”

Kiai Gringsingpun kemudian melangkah mendekati orang berkuda itu. Rupa-rupanya ia ragu-ragu ketika ia melihat kuda itu bergeser menjauh. Namun ketika kuda itu berhenti dan pen unggangnya nampak menunggunya, maka iapun melangkah terus.

Glagah Putih memandangi saja Kiai Gringsing dari tempatnya. Tetapi ia tidak memberitahukan kepada sia-papun juga. Justru karena ia menjadi asyik dan bahkan tegang.

Ternyata orang berkuda itu memang menunggu. Ketika Kiai Gringsing menjadi semakin dekat, maka kuda itupun melangkah perlahan-lahan mendekatinya.

Beberapa langkah kemudian, Riai Gringsingpun tertegun. Dengan suara tertahan ia berdesis ” Pangeran Benawa. ”

” Sst ” desis orang berkuda itu ” kau tidak usah menyebut aku dan mengatakannya kepada siapun juga. Jangan mengatakan pula kepada Untara. ” Kepada orang-orang dipadepokanmu jika masih belum kau anggap perlu. Kedua petugas sandi dari Pajang itupun tidak perlu mengetahuinya. ”

” Ya, Pangeran ” sahut Kiai Gringsing.

” Bukankah kedua orang petugas dari Pajang itu baru saja kembali dari Mediun? ” bertanya Pangeran Benawa.

” Ya Pangeran, meskipun sebenarnya merekii tidak ingin pergi ke Mediun. ” Namun Kiai Gringsing justru bertanya ” Pangeran mengetahui? ”

” Aku mengerti. Tetapi apakah benar2 Pringgajaya sudah mati? ” tiba2 saja Pangeran itu bertanya.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2009 at 10:54  Comments (136)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-32/trackback/

RSS feed for comments on this post.

136 KomentarTinggalkan komentar

  1. absen dulu…
    Terimakasih kitab 132-nya.

  2. Wah, jan, ngedab2i tenan, aku ketipu yang kedua kali (setelah kitab 130) dengan bayangan semu yang diciptakan Ki GD. Memang harus rajin berlatih dengan sareh …

  3. Ilmu Ki Gede memang semakin ngedap-edapi…
    sarapan sik kih….uenak tenan…

  4. Tq Ki GD, pagi2 dah bisa ambil ransum… MAtur nuwun sangwt…

  5. Orang-orang ini apa sudah menyapu halaman padepokan? kok sudah sarapan dua kali?

  6. Kalo di Amrik, Bill Clinton adalah produk generasi Babby boom, kalo di Padepokan generasinya Bill Clinton, adalah angkatan Gesek (generasi seketan) pada jadi cantrik padepokan kayak saya ini. Nuwun Ki..

  7. Tengkyu Ki GD, neng kene pancen wis wayahe ngaso, dadi bisa langsung moco kitab 132 karo mangan lan leyeh-leyeh

  8. Wah para cantrik wis podo sarapan….
    aku kok durung keduman yo….
    Dateng pundhi mendete jatah rangsume nggihh, tak ubek2 kok durung ketemu-temu…?
    Opo ono sing ngumpetke yo ?
    Tuluuunggg….tuuluuunggg……

  9. Hehehe…..isin aku….
    Jan…jan….Ki Ge De memang suka guyon….
    Terima kasih Ki GeDe….

  10. Itulah akibatnya kalau para cantrik senengane klekaran neng halaman…entah kenapa Ki Gede kok nyebar-nyebar kitab di halaman dan bukannya di Padepokan seperti biasanya.
    Moga-moga Ki Gede tidak sedang dalam keadaan marah kepada para cantrik sehingga kok muncul kejadian seperti ini.
    Tebakanku sih, Ki Gede sebenarnya memang getul-betul marah, tapi sedikit terhibur melihat keriangan Ni Rara Wulan dan Nyai Semangkin di gandok timur padepokan, sehingga kemarahannya sedikit mereda…
    Mari kita kembali belajar untuk bisa sabar dan tidak umbyek-umbyekan koyo antrian minyak tanah. 😛

  11. ikut ngantri,,,kitab 132 kapan Ki Gede, cantrik kelahiran 70 an ikut ngangsu kaweruh 🙂

  12. terima kasih Ki gede kitabnya sudah diunduh, semalan nungguin belm ada… eh pagi ini sudah nongol

  13. Terima kasih Ki GD
    Waktu istirahat, tanpa isayarat dari Ki GD, ternyata
    kitab sudah di sediakan di halaman
    Terima kasih Ki Pandan Alas yang sudah woro-woro

  14. Mator NuwOn ki Gede …. sepertinya Ki Gede sudah Refresh lagi setelah liburan kemaren …

  15. Mutur nuwun kitab 131 d1n 132 nya Ki GD

    Salam

  16. wah.. kitab 132 selain ceritanya ada hubungannya dg madiun ..ternyata kitab itu berasal dari madiun juga..

    moga2 liburan bisa mampir ke sana..

    trim’s ki gd..

  17. wah..
    kados pundi ngunduhipun
    koq mboten wonten linkipun…
    hks deh

  18. taksih kathah cantrik ingkang salah kamar… Kula ature leyeh2 wonten Halaman mawon…

    Nuwun

  19. ki GD, kula sampun Ngunduh Kitab 132…Kesuwun…

  20. Wah cantrik2 sepuh seperti Ki Pandanalas, Ki Martana, KGPH RM Agung Sedayu, dll semakin canggih saja mengikuti kisaran ilmu RR rara wulan dan GRAy Semangkin yang semakin merapat ke kemampuan Ki Gede. Salut…

  21. wah…wah…wah
    Ki GD baru marah atau nglulu, kitab kok disebar neng halaman tapi hebat kok

  22. waduh, iya, kitab 132 disebar di halaman.
    untung belum disapu Glagah Putih; bisa terpijak tuh, wong dia nyapu sambil mundur. Tak pungut aja dulu …

    mercy, ki GD

  23. Wah sudah sampai halaman…, jangan2 besok kitab berikutnya ditaruh didepan regol atau di atas pagar…
    mtr tx Ki GD

  24. @Mas Karebet,
    Bagaimana jika Rontal 151-158 dikirim via kurir Pajang Ki Tiki? Dengan perjanjian untuk dikembalikan jika sudah dipahatkan di dinding Padepokan ADBM.
    Mohon maaf Ki Truno hanya bisa urun rembug saja, mudah2an dipertimbangkan.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  25. Bapak2…saya istrinya Pak Ubaid..maaf sering mengganggu (beliau lg dilaut lg)..saya ga tau mo download 132 nya kemana ..kalau boleh suami saya minta tolong dikirimin ke emailnya kalau ada yg berbaik hati…once again…thanks a lot yah Bapak2 sekalian 🙂
    email suami saya:
    Generic_Champion-Servo@cnooc.co.id

  26. Bu Ubaid said.
    Bapaknya lagi offshore bukan?. di laut mana Bu..??.
    Enak sambil mancing ya…
    Liat halaman atas.., klik aja di tulisan halaman Bu…, cepetan sebelum bapa nya kena demam virus adbm.., gawat bisa pulang mendadak

  27. memang Halaman sangat membantu, maturnuwun.

    3 kitab hari saya sedot.

    Belajar puasa, puegel kedarung-darung saben dino.

  28. Mbah mbah, kok jilid 132 belum sempurna yah, yang terlihat hanya sampai halaman 9 dari 36 lembar DJVU, mohon nantinya diupload ulang ya mbah

    Maturnuwun sanget

    Salam

    dari anak ku Mahesa

  29. Makasih yah Mas…

    hadduhhh itu suami saya kesurupan deh sama adbm…katanya skarang bab yg lg seru2nya…capee deee 🙂

  30. dera pengasuh ADBM

    sungguh suatu karunia luar biasa dapat baca buku klasik Api di bukit menoreh,aku sdh tamat baca jilid 1-II-31, dalam waktu 15 hari, sayang jilid selanjutnta bagaimana caranya karena belum terunduh

    salam hormat

    Ki Gde Trio

    # wow.. 15 hari menekuni kitab?? jaga wagad sampeyan kisanak, jangan lupa makan… mungkin kitab 31 perlu dimulai dengan pati geni dan mandi keramas ki 🙂

  31. Kelelegen…..Keluron……

  32. Maap Nyai/Ki
    versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  33. Maap Nyai Seno/Ki Gede
    Versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  34. LANJUTAN……….

    Namun demikian, mereka masih memerlukan keterangan lebih banyak lagi. Dimalam hari, seperti yang dikatakan oleh penjaga banjar itu, banyak anak-anak muda yang berkumpul dengan senjata dilambung. Dari mereka Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda juga mendengar ceritera tentang kematian seorang prajurit Pajang. Bahkan mereka dapat menceriterakan lebih banyak dan lebih jelas lagi.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  35. TERUSANNYA LAGEE……..

    ” Latar belakang apakah yang kau maksudkan? ”

    ” Misalnya, apakah kita menganggap dengan beberapa bukti dan saksi, bahwa yang terjadi adalah perampokan. Mungkin sekelompok perampok telah keliru menyer gap korbannya. ” jawab Untara, lalu ” tetapi mungkin pembunuhan itu berlatar belakangkan dendam atau iri dan dengki. Ki Pringgajaya adalah orangku yang memiliki banyak kelebihan. Karena itu, aku sangat memerlukannya. Ketika ia berangkat, aku sudah mengatakannya kepada Tumenggung Prabadaru. ”

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  36. alhamdulillah seri-32 keluar, matur suwun Ki GD, kapan seri selanjutnya keluar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: