Buku II-32

DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

Pada saat yang gawat itu, Jandon telah bersiap untuk melontarkan serangannya langsung menghantam tubuh Agung Sedayu yang masih duduk ditanah bersandar pada kedua tangannya. Bahkan Jandon telah yakin, bahwa serangannya itu akan menentukan akhir dari perkelahian yang telah berlangsung terlalu lama baginya. Tidak pernah ada seorangpun yang dapat bertahan selama itu, selain Agung Sedayu.

Namun’ tepat pada saat Jandon meloncat menyerang Agung Sedayu yang masih duduk dijtanah itu, dengan Ion taran kakinya datar menyamping, maka Agung Sedayu telah menyerangnya pula dengan tatapan matanya, menghantam dadanya.

Ternyata bahwa lontaran ilmu Agung Sedayu yang luar biasa itu, telah berhasil menembus perisai ilmu Jandon yang membetengi dirinya. Karena itu,maka pada saat ia melayang, terasa dadanya bagaikan dihentakkan oleh kekuatan yang sangat berat, bahkan kemudian seolah-olah isi dadanya bagaikan telah diremas.

” Gila ” Jandon mengumpat. Tetapi ia sudah meluncur dengan derasnya.

Agung Sedayu sudah memperhitungkan keadaan itu dengan cermat. Ia melihat Jandon menyeringai menahan sakit. Dengan demikian ia yakin, bahwa ilmunya berhasil menembus tirai yang seolah-olah menyekat segala macam serangan atas murid terpereaya dari Gunung Kendeng itu.

Tetapi Agung Sedayupun tidak mau dikenai serangan Jandon yang dilontarkan dengan segenap kekuatannya. Ternyata bahwa ketahanan ilmu Agung Sedayu masih belum mampu membebaskannya dari rasa sakit. Karena itu, jika serangan Jandon itu menghantam dadanya, meskipun ia sudah melambannya dengan ilmu kebal yang baru mulai dipelajarinya, namun nafasnya tentu masih terasa sesak. Dan isi dadanyapun tentu akan diremukkan nya.

Karena itu, demikian serangan itu meluncur mendekati sasaran, Agung Sedayu telah melepaskan serangannya pula. Ia masih sempat berguling kesamping, menghindarkan diri dari sentuhan kaki Jandon.

Jandon mengumpat dengan kasarnya ketika serangannya tidak menyentuh lawannya. Apalagi perasaan sakit masih saja terasa meremas dadanya, meskipun tiba-tiba telah menjadi jauh berkurang setelah Agung Sedayu terpaksa menghindar.

Namun ketika kaki Jandon menginjak tanah, ia masih harus berjuang sesaat untuk mengatur pernafasannya yang sesak karena remasan ilmu Agung Sedayu atas isi dadanya.

Kesempatan itu telah dipergunakan pula oleh Agung Sedayu dengan sebaik-baiknya. Ia kini meyakini, bahwa ilmunya yang dapat dilontarkannya lewat tatapan matanya, ternyata telah jauh lebih mapan dari ilmu kebalnya. Karena itu, dilandasi dengan kemampuannya yang telah luluh di dalam dirinya dari beberapa unsur ilmu, maka ia berniat untuk mempergunakannya pada saat-saat yang paling gawat itu.

Ketika Jandon kemudian bersiap untuk memburunya, maka Agung Sedayupun telah bersiap pula Seperti semula ia masih duduk ditanah, seolah-olah ia memang belum sempat berdiri karena keadaannya yang tidak menguntungkan setelah terjadi benturan yang terdahulu.

Sekali lagi Jandon ingin melumatkan isi dada Agung Sedayu selagi Agung Sedayu belum sempat berdiri. Ia masih belum yakin, bahwa kesakitan didadanya itu adalah karena serangan lawannya yang tidak kasat mata. Ia masih belum menyadari, bahwa sebenarnya perasaan sakit itu bukannya karena benturan-benturan yang telah terjadi, sehingga bagian dalam tubuhnya menjadi pedih dan nyeri.

Namun agaknya Agung Sedayu lebih cepat sekejap dari lawannya. Pada saat Jandon telah bersiap meloncat, maka Agung Sedayu telah meremas isi dadanya dengan sorot matanya, menembus perisai ilmu lawannya.

Terasa nafas Jandon menjadi sesak. Meskipun ia masih sempat meloncat menyerang, karena daya lontarnya yang sudah siap mendorongnya, namun seakan-akan perasaan sakit telah tidak tertahankan lagi.

Hanya karena ilmu kebalnya sajalah yang menyebabkan Jandon masih tetap mampu menyerang. Tanpa perisai ilmunya, ia tentu sudah terkapar ditanah.

Yang dilakukan Agung Sedayu kemudian agak berbeda dengan yang terdahulu. Ia memang melepaskan ilmunya, tetapi ia tidak berguling menghindar. Ia tahu, lontaran serangan Jandon tidak sekuat serangannya sebelumnya, karena perasaan sakit yang telah menyengatnya lebih dahulu. Karena itu, maka Agung Sedayu itupun segera membenahi letak duduknya. Tangannyapun segera menyilang didadanya. Ketika serangan lawannya menghantamnya, maka yang terjadi adalah benturan yang dahsyat. Kaki Jandon telah menghantam tangan Agung Sedayu yang bersilang.

Tetapi sebenarnyalah bahwa kekuatan Jandon bukannya sepenuh kemampuannya. Itulah sebabnya, maka ia tidak berhasil membanting Agung Sedayu terlentang ditanah. Bahkan ia sendirilah yang kemudian terhuyung-huyung surut. Hampir saja ia jatuh terlentang, jika ia tidak dengan sepenuh sisa tenaganya menjaga keseimbangannya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu tidak melepaskannya. Ilmunya yang luar biasa itu ternyata lelah benar-benar dapat dikendalikannya. Ia tidak mempergunakan waktu yang panjang untuk melontarkannya, seperti ia menyerang dengan tangan atau kakinya saja.

Pada saat Jandon terhuyung-huyung itulah, Agung Sedayu telah menyerangnya dengan segenap ungkapan ilmu yang dimilikinya. Demikian kuatnya menembus perisai ilmu lawannya.

Jandon yang masih terhuyung-huyung itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu. Ketika ia mencoba berdiri tegak, maka jantungnya bagaikan telah remuk oleh serangan ilmu lawannya.

Sejenak Jandon termangu-mangu. Namun kemudian matanya menjadi berkunang-kunang.

Tetapi ia tidak menyerah kepada perasaan sakit itu. Dihentakkannya segenap ilmu. Sekali lagi ia berusaha untuk meloncat menyerang. Namun perhitungan Agung Sedayu nampaknya telah benar-benar mengakhiri pertempuran itu. Jandon memang bersiap untuk menyerang. Tetapi Agung Sedayu tidak mau melepaskan lagi serangannya. Tatapan matanya bagaikan pusaran yang mengorek menembus ilmu kebal Jandon yang dibangga-banggakan. Namun ternyata dengan bekal ilmunya, beralaskan unsur-unsur dari ilmu yang telah dipelajarinya pula dengan menyadap makna isi kiab Ki Waskita, maka Agung Sedayu telah berhasil menembus perisai lawannya sampai kepusat jantung.

Darah Jandon seakan-akan telah membeku karenanya. Dengan demikian maka kakinya tidak sempat lagi melangkah. Terhuyung-huyung ia maju. Betapa perasaan sakit mencengkamnya, namun tangannya masih juga mengembang, menerkam Agung Sedayu yang masih duduk ditanah.

Agung Sedayu melihat bagaimana lawannya menerkamnya. Ia memang dihadapkan pada pilihan yang sulit. Menghindari terkaman lawannya, atau sama sekali tidak melepaskannya.

Menurut perhitungan Agum: Sedayu kead ini Jandon sudah semakin parah. Ia merasa bahwa ilmunya lewat sorot matanya dapat mengorek dan menembus perisai ilmu lawannya. Karena itu, maka Agung Sedayupun memilih untuk tidak melepaskan serangannya lewat sorot matanya, meskipun tangan-tangan lawannya akan mencekik lehernya.

Sebenarnyalah bahwa Jandon seolah-olah tidak mampu lagi untuk tetap tegak. Namun ketika ia akan jatuh tertelungkup, maka ia sempat memaksa kakinya melangkah maju, sehingga ketika ia benar-benar jatuh, maka tangannya masih sempat mencengkam leher lawannya.

Terasa perasaan pedih dan panas bagaikan tersentuh bara telah menyengat leher Agung Sedayu. Namun pada saat terakhir, tatapan matanya justru telah menyerang bagian yang lebih lemah lagi dari tubuh lawannya, yaitu matanya yang sedang menatap wajah Agung Sedayu dengan penuh keberanian.

Demikian dahsyat serangan Agung Sedayu yang sudah berhasil menembus benteng ilmu lawannya, yang justru menjadi semakin lemah, maka sesaat kemudian, maka Jandonpun telah kehilangan segenap kemampuannya. Serangan Agung Sedayu seolah-olah telah menembus sampai kepusat syaraf dikepala Jandon, sehingga Jandon telah kehilangan segenap pengamatan diri, bahkan akhirnya setelah menggeliat sambil mengumpat, ia telah kehilangan segenap kemungkinan dapat bertahan untuk tetap hidup.

Namun demikian Jandon jatuh terkulai disisi Agung Sedayu, maka terdengar anak muda itu mengeluh. Hasa-rasanya lehernya benar -benar seperti terbakar. Tangan Jandon yang dilambari dengan hentakkan sisa kekuatan dan puncak ilmunya, benar-benar telah membakar leher Agung Sedayu.

Tetapi pertempuran itu sudah berakhir. Kiai Gring-sing dengan tergesa-gesa telah berlari mendekatinya. Namun bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang mengerikan, maka Kiai Gringsingpun segera teringat kepada Sabungsari dan kepada orang-orang lain yang juga terluka parah.

Tanpa berpikir tentang hal yang lain, maka Kiai Gringsingpun kemudian berteriak ” Bawa mereka kependapa.”

Dengan serta merta, maka orang-orang yang terlu-kapun segera dibawa kependapa, termasuk Agung Sedayu.

Pada saat itu, Untara berdiri termangu-mangu diba-wah tangga pendapa padepokan kecil itu.» Disampingnya Widura memandang Agung Sedayu dan Sabungsari yang terbaring diantara orang-orang lain yang terluka dengan hati yang gelisah. Sementara Glagah Putih dengan wajah yang tegang bersimpuh diantara Agung Sedayu dan Sabungsari.

Keduanya terluka parah. Sabungsari masih pingsan, meskipun titik-titik air yang menyentuh bibirnya membuatnya agak segar. Bahkan perlahan-lahan anak muda itu sudah mulai menggerakkan bibirnya yang basah.

Namun sementara itu, ternyata keadaan tubuh Agung Sedayupun sangat mencemaskan. Lehernya bagaikan terluka oleh sentuhan api. Agaknya hentakkan ilmu Jandon telah menyusup pula diantara ilmu kebal Agung Sedayu yang masih belum sampai ketingkat yang memadai, sehingga pada saat Agung Sedayu mengerahkan ilmunya pada sorot matanya, maka ternyata kulitnya telah dibakar oleh sentuhan tangan api murid terpercaya dari Gunung Kendeng itu.

Sejenak kemudian, Kiai Gringsingpun telah bekerja dengan sibuknya, sementara beberapa orang lain telah mengumpulkan korban yang berjatuhan di padepokan kecil itu. Glagah Putihpun kemudian sibuk membantu Kiai Gringsing, menyiapkan segala macam keperluannya untuk memperingan penderitaan Agung Sedayu, Sabungsari dan beberapa orang lain. Sementara mereka yang terluka tidak terlalu parah, telah dipersilah-kan untuk mengobatinya sendiri untuk sementara, sebelum Kiai Gringsing sempat melakukannya.

Dalam pada itu, perhatian Untara telah tertumpuk kepada orang-orang yang dapat ditawannya hidup-hidup pada pertempuran itu. Selain prajurit-prajurit Pajang yang telah mencegat prajurit berkuda yang telah dikirim oleh Untara, ternyata juga bahwa Banjar Aking, yang bertempur melawan Sabungsari, masih hidup.

” Kiai ” berkata Untara kepada Kiai Gringsing ” usahakan, agar orang Gunung Kendeng itu tetap hidup. Agaknya ia termasuk orang yang cukup penting bagi padepokannya. ”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya ” Mudah-mudahan aku berhasil ngger. Orang itu memang penting untuk mencari keterangan yang agak lengkap tentang Gunung Kendeng, dan tentang hubungan Gunung Kendeng dengan orang-orang yang telah tertangkap dilu-ar padepokan ini. ”

Untara mengangguk pula.Tangkapan-tangkapan itu harus segera diselamatkan, agar mereka tidak mengalami nasib buruk, jika kawan-kawannya mengambil sikap lain apabila mereka yakin tidak akan dapat membebaskan mereka. Beberapa kali telah terjadi, orang-orang yang mungkin dapat disadap keterangannya, telah dibunuh dengan kejamnya. Bahkan Sabungsaripun hampir menjadi korban pula dari orang yang dianggapnya memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Justru orang yang dipercaya untuk mengobatinya, telah dengan sengaja meracunnya. Untunglah Kiai Gringsing sempat menyelamatkannya.

Tetapi demikian Sabungsari telah sembuh, kini sebelum anak muda itu sempat menikmati kesembuhannya, karena ia masih harus selalu berada didalam biliknya dan berpura-pura masih sakit, kini ia benar-benar telah terluka lagi. Tidak kalah parahnya dengan yang pernah dialaminya. Bahkan agaknya Agung Sedayupun mengalami luka yang sangat parah dilehernya.

Dalam kesibukan itu, maka Untara telah memanggil dua diantara empat prajurit berkuda yang berada dipadepokan itu. Diperintahkannya kedua orang itu menghubungi seorang perwira yang paling dipercaya oleh Untara, agar ia segera datang kepadepokan kecil itu bersama beberapa orang prajurit yang dapat dipercaya pula.

” Ia tahu, apa yang harus dikerjakannya menghadapi keadaan ini ” berkata Untara aku harap «a segera datang. Mungkin keadaan ini masih akan berkembang.

Jika saat ini Gembong Sangiran kembali bersama sisa murid-muridnya, maka kita akan mengalami kesulitan, justru karena kita ingin menyelamatkan para tawanan itu..

Sejenak kemudian, maka dua ekor kuda telah berderap menembus gelapnya malam. Suara kentong dalam nada titir telah berhenti sama sekali. Apipun telah lama padam. Namun dipadepokan kecil itu ketegangan justru semakin memuncak karena anak-anak muda yang terluka parah.

Beberapa orang lain juga terluka. Tetapi mereka masih dapat berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri. Bahkan sejenak kemudian merekapun sudah dapat membantu kesibukan-kesibukan yang terjadi di padepokan itu. Namun seorang dari mereka yang bertahan di padepokan itu telah menjadi korban.

” Jika kau tidak datang tepat pada waktunya ” berkata Widura “maka mungkin sekali keadaannya akan berbeda. Glagah Putih sama sekali sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Dengan demikian, maka kekalahan demi kekalahan akan merambat pada lingkaran-lingkaran pertempuran yang lain. Mungkin aku lebih dahulu, kemudian Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda. Baru kemudian, orang-orang yang terhitung memiliki ilmu yang tinggi diantara mereka akan mendekati arena pertempuran Agung Sedayu dan Sabungsari. ”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia bergumam ” Tetapi aku sama sekali tidak menduga paman, bahwa tingkat ilmu Agung Sedayu sudah demikian tinggi. Bahkan aku tidak mengerti, bagaimana cara ia dapat membunuh lawannya. ”

Widura mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Yang kemudian menjadi pusat perhatian Untara, selain adiknya dan Sabungsari yang terluka parah, adalah para tawanan. Ia berharap bahwa Banjar Aking tidak mati. Mungkin ia dapat memberikan beberapa keterangan tentang Gunung Kendeng, sementara beberapa orang prajurit Pajang yang tertangkap, akan ditelusurinya dalam hubungan mereka dengan Ki l’riuggaiaya

Namun Untara harus cepat bertindak, liahwa pimpinan tertinggi padepokan Gunung Kendeng sempal melarikan diri, adalah suatu isyarat yang kurang menguntungkan. Mungkin berita kegagalan ini akan segera sampai ketelinga Ki Pringgajaya.

Karena itu, maka ketika prajurit yang dipanggilnya dari Kademangan induk Jati Anotn telah datang, maka atas persetujuan Kiai Gringsing, maka orang-orang yang tidak terancam jiwanya, akan dibawa oleh Untara kerumahnya dibawah pengawasan yang sangat ketat oleh orang-orang yang dipercayanya. Sementara, Untarapun telah meletakkan beberapa orang prajurit pilihan di padepokan itu untuk ikut serta mengawasi beberapa orang tawanan yang berada didalam perawatan. Namun yang penting bagi para prajurit itu adalah justru melindungi jika Gembong Sangiran datang kembali untuk mengambil orang-orangnya yang tertinggal.

” Dua orang kuat dipadepokan ini sedang terluka parah ” berkata Untara kepada orang-orang pilihannya ” meskipun kalian tidak sekuat mereka, tetapi dalam jumlah yang cukup, kalian akan dapat menjaga dan sekaligus membantu melindungi yera tawanan itu. ”

Dengan demikian, maka selagi Kiai Gringsing sibuk mengobati orang-orang yang terluka, maka Untarapun sibuk memindahkan para tawanan ke rumahnya.

Ternyata Untara tidak mau terlambat. Ia berharap, bahwa ia akan dapat mendahului berita kegagalan Gembong Sangiran itu sampai ketelinga Ki Pringgajaya, meskipun Untara merasa ragu. Karena iapun sadar, bahwa Gembong Sangiran bukan anak-2»Orang itu mampu bergerak cepat, yang agaknya akan dapat mengimbangi kecepatannya bergerak.

Tetapi Untara tetap berusaha. Ia tidak menunggu sampai matahari terbit. Malam itu juga, ia memaksa prajurit yang tertawan untuk mengatakan, siapakah yang memerintahkan mereka melakukan pengkhianatan itu.

Prajurit-prajurit itu mengenal dengan baik, siapakah Untara. Maka merekapun tidak menunggu keadaan mereka menjadi semakin sulit. Karena itu, maka mereka segera mengaku, bahwa mereka adalah pengikut-pengikut Ki Pringgajaya.

Untara menggeretakkan giginya. Meskipun hal itu sudah diduganya, bahkan hampir diyakininya, namun pengakuan itu telah membuat jantungnya bagaikan semakin cepat berdetak.

” Aku akan memanggil Ki Pringgajaya dari perjalanannya ” berkata Untara ” aku akan menghadapkan kalian dengan Ki Pringgajaya. ”

Wajah para prajurit itu menjadi semakin pucat.

” Aku sudah berprasangka sejak lama. Aku sudah mendapat laporan. Tetapi kalian adalah saksi hidup yang tidak akan dapat diingkarinya lagi, disamping Sabungsari sendiri. ” geram Untara kemudian. Lalu ” Dihadapan Pringgajaya kalian tidak usah takut. Aku akan bertanggung jawab atas keselamatan kalian jika Pringgajaya berusaha melakukan kekerasan. Betapa saktinya orang itu, tetapi dihadapan sepasukan prajurit pilihan, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika ia mencoba melakukannya, maka tubuhnya akan menjadi arang kran-jang. Bahkan seandainya ia memiliki ilmu kebal sekalipun, maka perisai ilmunya tidak akan dapat menangkis ujung kerisku, Kiai Sasak. Betapa tebalnya ilmu kebal seseorang, maka ujung Kiai Sasak akan dapat menembus sampai kepusat jantungnya. ”

Prajurit-prajurit itu menundukkan kepalanya. Mereka sudah berada dalam keadaan yang paling sulit. Mereka tidak mengira, bahwa akhirnya merekalah yang tertangkap. Prajurit-prajurit berkuda yang dicegatnya itu ternyata benar-benar orang pilihan.

Untara benar-benar ingin bergerak cepat. Ketika matahari terbit, maka iapun segera mempersiapkan diri. Ia harus berbicara dengan Kiai Gringsing, bahwa ia akan pergi menyusul Ki Pringgajaya dan memanggilnya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.

” Apakah angger akan menghadap ke Pajang? ” bertanya Kiai Gringsing.

” Aku merasa curiga dengari behei apa 01 ¦»”(’. perwira di Pajang Kiai. ” jawab Untara tetapi pka aku akan langsung menyusul Ki Pringgajaya, aku tidak lalui, sampai dimanakah perjalanannya hari ini, Dan kemana besok ia akan pergi. ”

” Tetapi tentu ada juga Senapati Pajang yang masih dapat dipercaya. Mungkin angger U utara mengenal satu dua orang yang meyakinkan angger, bahwa mereka tidak dipengaruhi oleh mimpi yang buruk itu.

Untara termangu-mangu. Tetapi ia memang mempunyai pertimbangan tertentu. Diam-diam ia menilai beberapa orang perwira yang memiliki kekuasaan yang luas di Pajang. Beberapa orang petugas sandi, seperti Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda dapat membantunya memberikan beberapa petunjuk, karena ia mengenal beberapa nama dan keadaan mereka di Pajang.

” Kiai ” berkata Untara ” aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat menunggui kesibukan padepokan kecil ini. Tetapi aku akan memperbantukan orang-orangku untuk menyelenggarakan mereka yang terbunuh dipertempuran semalam. Aku ingin menemui orang-orang yang dapat memberikan beberapa petunjuk kepadaku, apakah yang sebaiknya aku lakukan atas Ki Pringgajaya. ”

” Silahkan ngger. Mungkin kecepatan angger bergerak akan dapat membantu memecahkan persoalan ini. ” jawab Kiai Gringsing.

” Ya Kiai. Apapun yang akan terjadi, aku harus dengan cepat bertemu dengan Ki Pringgajaya. ” berkata Untara kemudian ” jika perlu, maka aku akan mempergunakan kekerasan untuk membawanya kemari. ”

” Tetapi apakah angger akan pergi seorang diri? ” bertanya Kiai Gringsing.

” Tidak. Aku akan membawa dua orang pengawal khususku. Aku tidak dapat memperhitungkan, apakah yang akan terjadi jika Ki Pringgajaya merasa curiga, bahwa aku sudah mengetahui segalanya. Jika ia sudah mendengar kegagalan ini, maka ia tentu akan mengambil sikap. ”

“.Apakah yang akan angger lakukan jika ia menolak? ”

” Aku akan melaporkannya kepada Tumenggung Prabadaru, tanpa menyembunyikan satu hal yang paling kecil sekalipun. Aku akan mohon kepada Tumenggung Prabadaru untuk membantuku, memaksa Ki Pringgajaya kembali ke Jati Anom. “jawab Untara.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia tidak dapat memberikan pendapatnya terlalu banyak, karena ia memang tidak banyak mengetahui tentang lingkungan keprajuritan di Pajang yang telah goyah itu.

Demikianlah, setelah minta diri kepada Ki Widura, Glagah Putih dan orang-orangnya yang berada dipadepokan itu, maka Untarapun meninggalkan Jati Anom. Ia tidak dapat minta diri kepada Sabungsari dan Agung Sedayu, karena keduanya seolah-olah masih belum menyadari keadaannya. Hanya kadang-kadang mereka mengerti tentang diri mereka. Namun pada suatu saat, mereka seolah-olah menjadi pingsan kembali.

Sepeninggal Untara, padepokan kecil itu menjadi terlalu sibuk Kiai Gringsing yang sama sekali tidak sempat beristirahat, masih selalu sibuk dengan orang-orang yang terluka. Bukan orang-orang padepokan itu sendiri saja, tetapi juga orang-orang Gunung Kendeng.

Banjar Aking yang parah, juga dirawatnya baik-baik, meskipun orang itu selalu berada dibawah pengawasan yang kuat.

Dibagian lain, orang-orang dipadepokan itu sibuk menyelenggarakan orang-orang yang terbunuh dipepera-ngan. Siapapun mereka, maka mereka harus dikuburkan sebaik-baiknya seperti yang seharusnya dilakukan.

Dengan dua orang pengawal, maka pada saat itu Untara berpacu ke Pajang, setelah ia berbicara dengan Ki Lurah Patrajaya, Ki Lurah Wirayuda dan beberapa orang yang dipercayanya, maka Untara memutuskan untuk singgah di Pajang. Dari beberapa orang ia akan mendapat keterangan, sampai dimana perjalanan Ki Tumenggung Prabadaru bersama pengiringnya.

” Hari ini adalah hari pasowanan ” berkata Untara kepada para pengiringnya ” dari pemimpin dan Senapati tertinggi di Pajang akan menghadap di paseban. ”

” Apakah kita akan dapat bertemu dengan orang-orang yang kita perlukan? bertanya pengiringnya.

” Menjelang tengah hari, pasowannu akan dibubarkan jika tidak ada persoalan yang penting sekali. Bahkan dalam persoalan-persoalan yang khusus, maka tidak semua orang diwajibkan ikut membicarakannya. ” jawab Untara ” apalagi pasowanan hari ini bukannya pasowanan Agung. ”

Pengiringnya mengangguk-angguk. Jika mereka datang terlalu awal, maka mereka tentu akan menunggu sampai pasowanan dibubarkan.

Namun ketika mereka berada di Pajang, ternyata para pemimpin dan Senapati tidak menghadap, karena Sultan Pajang sedang dalam keadaan sakit. Seperti yang sering terjadi, maka hari-hari menghadap bagi para pemimpin pemerintahan dan Senapati telah ditunda. Hanya orang-orang terpenting sajalah yang dipanggilnya untuk membicarakan tentang beberapa masalah terpenting di Pajang. Namun karena keadaannya, maka pengamatan Sultan Pajang atas keadaan negerinya sudah tidak dapat menyeluruh lagi.

Tetapi Untara terkejut ketika ternyata ia mendapat berita bahwa Ki Tumenggung Prabadaru berada di Pajang pula. Tetapi ia tidak datang bersama seluruh pengiringnya.

” Dimanakah Ki Tumenggung Prabadaru sekarang? ” bertanya Untara.

” Ia sedang menghadap Ki Patih, untuk melaporkan bagian dari perjalanan yang telah dilakukan ” jawab orang itu.

Untarapun menjadi berdebar-debar. Namun ia akhirnya memutuskan untuk pergi kerumah Ki Tumenggung Prabadaru.

” Aku akan menunggu sampai Ki Tumenggung pulang dari Kepatihan ” berkata Ki Untara.

” Mungkin ia lama berada di Kepatihan Ia sedang mengalami kejutan perasaan, karena salah seorang

pengiringnya terbunuh diper jalanan ” berkata orang itu.

Seorang perwira yang dikenalnya dengan baik, segera menceriterakan bahwa dalam perjalanan pulang dari Madiun, pengiring Ki Tumenggung Prabadaru yang bernama Ki Pringgajaya telah terbunuh didalam pertempuran yang kurang seimbang.

” Pertempuran dengan siapa? ” Untara mendesak.

” Tidak seorangpun mengetahui. Tetapi iring-iringan kecil prajurit Pajang itu telah dicegat. Setelah berjuang dengan gigihnya, maka Ki Pringgajaya yang terluka arang keranjang itu telah gugur. Namun ia telah membawa berapa lima orang korban dipihak lawan. ” jawab perwira itu.

” Dari siapa kau dengar berita itu? ” bertanya Untara.

” Langsung dari Ki Tumenggung Prabadaru. ” jawabnya.

Wajah Untara menjadi tegang. Karena itu maka katanya ” Aku akan menyusul ke Kepatihan. Apakah Ki Patih tidak menghadap Sultan? ”

Perwira itu menggeleng. Dengan suara datar ia menjawab ” Rekyana Patih mengetahui bahwa Sultan sedang sa kit. Dan ternyata Sultan tidak memanggilnya menghadap secara khusus. Karena itulah maka Tumenggung Prabadaru telah menghadap di istana Kepatihan. ”

Untara mengangguk-angguk. Lalu katanya ” Jika demikian, akupun akan menghadap ke Kepatihan. Adalah kebetulan jika Ki Tumenggung Prabadaru masih berada di Kepatihan. ”

Dengan tergesa-gesa, maka Untarapun segera pergi ke Kepatihan. Ia mengharap bahwa ia akan dapat mendengar, apakah yang telah terjadi atas Ki Pringgajaya sejelas-jelasnya.

Ketika ia tiba dikepatihan, dari para pengawal Kepatihan, ia mengetahui bahwa Ki Tumenggung Prabadaru masih berada di Kepatihan dan justru baru diterima oleh Rekyana Patih. Karena itu, maka Untarapun segera mohon untuk dapat menghadap pula, iunI i u pad i aat Ki Tumenggung sedang melaporkan perisi i wa yang sangat menarik baginya itu.

Ki Patih sama sekali tidak berkeberatan. Untarapun kemudian dipersilahkan oleh para pengawal untuk menghadap ke ruang dalam.

Atas perkenan Ki Patih, maka Ki Tumenggung Prabadarupun telah mengulangi laporannya. Ia men-ceriterakan apa yang telah terjadi dengan Ki Pringgajaya diper jalanan seperti yang pernah didengarnya.

Wajah Untara menegang. Namun kemudian ia berdesis ” Apaboleh buat ”

” Kenapa? ” bertanya Tumenggung Prabadaru.

” Sebenarnya aku memerlukannya ” jawab Untara. Namun kemudian ia bertanya ” Tetapi apakah Ki Tumenggung dan Ki Pringgajaya memang sudah selesai dengan tugas perjalanan didaerah Timur itu? ”

” Belum ” Ki Tumenggung Prabadaru menggeleng ” aku sebenarnya hanya ingin menghadap Kangjeng Sultan untuk satu persoalan khusus. Setelah menyampaikan masalah itu, aku akan segera kembali. Sebagian besar dari pengiringku masih tetap berada di telatah Timur. Hanya aku, Pringgajaya dan dua orang sajalah yang kembali ke Pajang. Tidak pernah aku jumpai sesuatu diper-jalanan yang nampak selalu tenang. Tetapi tiba-tiba saja kami telah mengalami bencana itu. Kami harus bertempur melawan sekelompok orang yang tidak dikenal. Sampai kami meninggalkan tempat pertempuran itu, kami tetap tidak mengetahui, siapakah yang telah mencegat kami, karena diluar kemauan kami, kami telah membunuh mereka – Aku memang berusaha untuk dapat menangkap mereka hidup-hidup. Tetapi dua orang yang masih hidup, ternyata telah membunuh diri. Sementara Ki Pringgajaya |telah gugur dalam pertempuran itu. Sementara aku sendiri juga mengalami luka-luka. ”

Untara mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya ia memandang tubuh Ki Tumenggung Prabadaru. Tetapi ia tidak melihat segores lukapun ditubuh itu. karena Ki

Tumenggung memakai baju yang lain dari yang telah dipergunakannya bertempur.

Untara menggeleng lemah sambil menjawab ” Terima kasih Ki Tumenggung. Aku kira tidak perlu. ”

Ki Tumenggung yang menawarkan untuk membuka bajunya itu tersenyum. Katanya ” Dengan melihat luka-lukaku, mungkin kau akan dapat membayangkanapa yang telah terjadi. Mungkin kau pernah mendengar serba sedikit tentang aku dan tentang bawahanmu yang bernama Ki Pringgajaya itu. Dengan demikian, kau akan dapat membayangkan, kekuatan yang luar biasa ternyata sedang mengancam Pajang. Bahwa mereka berhasil membunuh Ki Pringgajaya yang luar biasa itu, dan melukai aku, berarti bahwa diantara merakapun terdapat kekuatan-kekuatan yang harus diperhitungkan. ”

Untara mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa Ki Pringgajaya adalah seorang prajurit linuwih. Ia memang menduga, bahwa Pringgajaya memiliki kemampuan melampaui kebanyakan prajurit, seperti juga kelebihan yang terdapat pada Sabungsari yang masih berada pada tataran yang terendah.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya dida-lam hati ” Mudah-mudahan peristiwa pahit ini tidak menimpa Sabungsari. Tiga kali ia telah terluka, sementara kenaikan derajadnya sedang dalam persiapan. Mudah-mudahan ia sempat menghayatinya. ”

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Prabadarupun telah berceritera lebih terperinci lagi, bagaimana Ki Pringgajaya dengan kemampuannya yang luarbiasa, bertahan sampai nafasnya yang terakhir.

” Aku mengaguminya ” berkata Ki Tumenggung Prabadaru ” seharusnya aku memang memberitahukan hal, ini kepadamu. Tetapi aku baru datang dari perjalanan yang mengalami nasib buruk itu. Setelah laporan-laporan-ku selesai di pusat pemerintahan ini, baru aku akan mene-muimu dan memberitahukan hal ini kepadamu, atau lewat saluran yang seharusnya, karena Ki Pringgajaya adalah bawahanmu. ”

Untara mengangguk sambil menjawab ” Terima kasih Ki Tumenggung. Yang aku dengar ini memang telah mengejutkan aku. Aku sangat berkepentingan dengan Ki Pringgajaya. Tetapi karena ia telah gugur, maka tidak sebaiknya aku menjelekkan namanya. ”

” Apakah sebenarnya yang telah terjadi atasnya ” bertanya Ki Tumenggung Prabadaru ketika Pringgajaya akan berangkat, kau sudah menunjukkan sikap yang aneh Sekarang, kau masih selalu mempersoalkannya. ”

Untara menarik nafas dalam dalam. Katanya ” Persoalan yang khusus terjadi dalam pasukanku. –

Ki Tumenggung Prabadaru mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.

Karena yang ingin diketahui sudah didengarnya, maka Untarapun kemudian mohon diri kepada Tumenggung Prabadaru dan kepada Rekyana Patih. Ia akan segera kembali ke Jati Anom, untuk mengatur segala sesuatunya karena peristiwa yang telah terjadi. Ki Untara sengaja tidak mengatakannya kepada Ki Prabadaru. Ia ingin membuat laporan lewat saluran yang seharusnya. Apalagi ia tidak berada langsung dibawah pimpinannya yang telah terjadi. Ki Untara sengaja tidak mengatakannya kepada Ki Prabadaru. Ia ingin membuat laporan lewat saluran yang seharusnya. Apalagi ia tidak berada langsung dibawah kepemimpinan Ki Tumenggung Praba-daru.

” Nampaknya Ki Patih tidak menaruh perhatian khusus terhadap peristiwa yang terjadi atas Ki Pringgajaya. ” berkata Untara didalam hatinya. Apalagi ia mengetahui, bahwa nampaknya perhatian Ki Patih terhadap pemerintahanpun sangat dipengaruhi oleh keadaan Kang jeng Sultan Hambar.

Ada perasaan kecewa yang bergejolak dihati Untara. Pringgajaya adalah rambatan untuk menelusur ketingkat yang lebih tinggi, atas orang-orang yang mempunyai sikap yang dapat merugikan Pajang dalam keseluruhan. Bukan saja karena ancaman terhadap adiknya, tetapi Untara tidak dapat melepaskan persoalannya dengan bayangan sekelompok orang yang merindukan masa kejayaan Majapahit. Apakah hal itu hanya sekedar dipergunakan untuk mempengaruhi banyak orang yang akan dapat dipakai sebagai alas tujuan mereka, ataukah memang benar-benar suatu mimpi atas kejayaan masa lampau, namun sikap itu tentu tidak akan dapat dibenarkan.

Dengan berbagai macam dugaan dan pertimbangan, Untara mencoba mengurai keterangan Ki Tumenggung Prabadaru. Ki Tumenggung tidak dapat memberikan keterangan yang jelas tentang tempat peristiwa itu terjadi. Ia hanya mengatakan, bahwa peristiwa itu terjadi diujung sebuah hutan yang lebat. Namun jalur jalan yang lewat di pinggir hutan itu adalah jalur jalan yang banyak dilalui orang. Ki Tumenggungpun mengatakan, bahwa jarang sekali terjadi peristiwa yang serupa. Apalagi hutan itu sudah tidak terlalu jauh lagi dari Kota Raja meskipun masih terletak disebelah Timur Bengawan.

” Ia harus dapat mengingat dimana Ki Pringgajaya dikuburkan ” berkata Untara didalam hatinya ” pada suatu saat keluarganya tentu akan menjenguknya atau bahkan memindahkannya ”

Tetaoi Untara tidak mengatakan sesuatu.

Ketika Untara sampai kerumahnya, malam telah menyelubungi Jati Anom. Tetapi ia tidak ingin beristirahat. Setelah minum beberapa teguk, maka iapun segera pergi kepadepokan Kiai Gringsing. Kecuali ia ingin segera menceriterakan tentang Ki Pringgajaya yang terbunuh, ia juga ingin segera melihat keadaan adiknya.

Ternyata Agung Sedayu dan Sabungsari telah berangsur baik. Mereka telah menyadari keadaan mereka sepenuhnya, meskipun mereka masih nampak lemah sekali. Leher Agung Sedayu benar-benar bagaikan terbakar. Betapa dahsyatnya sentuhan tangan Jandon. Seandai nya Agung Sedayu sama sekali tidak dapat melindungi dirinya dengan ilmu kebal yang masih baru saja dipelajarinya, maka seluruh tubuhnya tentu sudah terbakar oleh sentuhan-sentuhan tangan Jandon.

Selain kedua anak muda itu, Banjar Akingpun ternyata sudah menjadi bertambah baik pula. Betapa kecewa dan kemarahan nampak membayang diwajahnya ketika ia menyadari, bahwa ia menjadi lawanan prajurit Pajang di Jati Anom.

” Maaf, Ki Banjar Aking ” berkata seorang perwira pembantu Untara yang menjaga orang itu aku terpaksa mengikat kaki Ki Banjar Aking. Aku tahu, bahwa Ki Banjar Aking adalah orang yang tidak ada taranya. Jika keadaan Ki Banjar Aking berangsur baik, aku kira dadung yang mengikat kakimu ‘tupun tidak akan ada artinya ”

Banjar Aking hanya dapat mengumpat. Tetapi ia tidak menjawab.

Dalam pada itu, maka Untarapun kemudian duduk dipendapa bersama Kiai Gringsing dan Widura. Mereka mulai membicarakan berita yang dibawa oleh Untara tentang Ki Pringgajaya.

Kiai Gringsing dan Ki Widura mendengarkan keterangan Untara dengan saksama. Sementara Untarapun menceriterakan segalanya yang didengar dari Ki Tumenggung Prabadaru.

” Ada beberapa hal yang menarik ” berkata Widura ” bukankah kau juga pernah melalui jalan itu ke Madiun seperti aku juga pernah melakukannya meskipun sudah lama sekali. ”

” Ya paman ” jawab Untara, lalu iapun bertanya kepada Kiai Gringsing ” apakah Kiai pernah juga melalui jalan yang disebut oleh Ki Tumenggung Prabadaru? ”

” Ya. Aku juga pernah melaluinya, meskipun juga sudah lama. “jawab Kiai Gringsing.

” Menurut Ki Tumenggung Prabadaru, keadaan Ki Pringgajaya tidak memungkinkan lagi untuk dibawa ke Pajang. Karena itu, dengan bantuan orang-orang paduku-han terdekat, maka tubuh itupun dimakamkannya ” berkata Untara kemudian ” jika diperlukan, Ki Prabadaru akan menunjukkan, dimanakah Ki Pringgajaya itu dimakamkan.”

” Ia harus dapat mengingat dengan baik ” berkata Widura ” setiap saat, apakah ia pimpinan prajurit Pajang, ataukah keluarganya, tentu ingin melihat makam itu. ”

” Tidak sulit. Mungkin Ki Tumenggung sudah memberikan tanda apapun juga. Mungkin sebatang pohon, mungkin batu yang besar atau tanda-tanda lain yang tidak mudah hilang dan rusak ” berkata Kiai Gringsing. Namun ia meneruskan ” meskipun demikian, berita itu memang harus mendapat pertimbangan yang khusus. ”

Ki Untara dan Ki Widura mengangkat wajahnya. Hampir bersamaan mereka bertanya ” Maksud Kiai?”

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2009 at 10:54  Comments (136)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-32/trackback/

RSS feed for comments on this post.

136 KomentarTinggalkan komentar

  1. absen dulu…
    Terimakasih kitab 132-nya.

  2. Wah, jan, ngedab2i tenan, aku ketipu yang kedua kali (setelah kitab 130) dengan bayangan semu yang diciptakan Ki GD. Memang harus rajin berlatih dengan sareh …

  3. Ilmu Ki Gede memang semakin ngedap-edapi…
    sarapan sik kih….uenak tenan…

  4. Tq Ki GD, pagi2 dah bisa ambil ransum… MAtur nuwun sangwt…

  5. Orang-orang ini apa sudah menyapu halaman padepokan? kok sudah sarapan dua kali?

  6. Kalo di Amrik, Bill Clinton adalah produk generasi Babby boom, kalo di Padepokan generasinya Bill Clinton, adalah angkatan Gesek (generasi seketan) pada jadi cantrik padepokan kayak saya ini. Nuwun Ki..

  7. Tengkyu Ki GD, neng kene pancen wis wayahe ngaso, dadi bisa langsung moco kitab 132 karo mangan lan leyeh-leyeh

  8. Wah para cantrik wis podo sarapan….
    aku kok durung keduman yo….
    Dateng pundhi mendete jatah rangsume nggihh, tak ubek2 kok durung ketemu-temu…?
    Opo ono sing ngumpetke yo ?
    Tuluuunggg….tuuluuunggg……

  9. Hehehe…..isin aku….
    Jan…jan….Ki Ge De memang suka guyon….
    Terima kasih Ki GeDe….

  10. Itulah akibatnya kalau para cantrik senengane klekaran neng halaman…entah kenapa Ki Gede kok nyebar-nyebar kitab di halaman dan bukannya di Padepokan seperti biasanya.
    Moga-moga Ki Gede tidak sedang dalam keadaan marah kepada para cantrik sehingga kok muncul kejadian seperti ini.
    Tebakanku sih, Ki Gede sebenarnya memang getul-betul marah, tapi sedikit terhibur melihat keriangan Ni Rara Wulan dan Nyai Semangkin di gandok timur padepokan, sehingga kemarahannya sedikit mereda…
    Mari kita kembali belajar untuk bisa sabar dan tidak umbyek-umbyekan koyo antrian minyak tanah. 😛

  11. ikut ngantri,,,kitab 132 kapan Ki Gede, cantrik kelahiran 70 an ikut ngangsu kaweruh 🙂

  12. terima kasih Ki gede kitabnya sudah diunduh, semalan nungguin belm ada… eh pagi ini sudah nongol

  13. Terima kasih Ki GD
    Waktu istirahat, tanpa isayarat dari Ki GD, ternyata
    kitab sudah di sediakan di halaman
    Terima kasih Ki Pandan Alas yang sudah woro-woro

  14. Mator NuwOn ki Gede …. sepertinya Ki Gede sudah Refresh lagi setelah liburan kemaren …

  15. Mutur nuwun kitab 131 d1n 132 nya Ki GD

    Salam

  16. wah.. kitab 132 selain ceritanya ada hubungannya dg madiun ..ternyata kitab itu berasal dari madiun juga..

    moga2 liburan bisa mampir ke sana..

    trim’s ki gd..

  17. wah..
    kados pundi ngunduhipun
    koq mboten wonten linkipun…
    hks deh

  18. taksih kathah cantrik ingkang salah kamar… Kula ature leyeh2 wonten Halaman mawon…

    Nuwun

  19. ki GD, kula sampun Ngunduh Kitab 132…Kesuwun…

  20. Wah cantrik2 sepuh seperti Ki Pandanalas, Ki Martana, KGPH RM Agung Sedayu, dll semakin canggih saja mengikuti kisaran ilmu RR rara wulan dan GRAy Semangkin yang semakin merapat ke kemampuan Ki Gede. Salut…

  21. wah…wah…wah
    Ki GD baru marah atau nglulu, kitab kok disebar neng halaman tapi hebat kok

  22. waduh, iya, kitab 132 disebar di halaman.
    untung belum disapu Glagah Putih; bisa terpijak tuh, wong dia nyapu sambil mundur. Tak pungut aja dulu …

    mercy, ki GD

  23. Wah sudah sampai halaman…, jangan2 besok kitab berikutnya ditaruh didepan regol atau di atas pagar…
    mtr tx Ki GD

  24. @Mas Karebet,
    Bagaimana jika Rontal 151-158 dikirim via kurir Pajang Ki Tiki? Dengan perjanjian untuk dikembalikan jika sudah dipahatkan di dinding Padepokan ADBM.
    Mohon maaf Ki Truno hanya bisa urun rembug saja, mudah2an dipertimbangkan.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  25. Bapak2…saya istrinya Pak Ubaid..maaf sering mengganggu (beliau lg dilaut lg)..saya ga tau mo download 132 nya kemana ..kalau boleh suami saya minta tolong dikirimin ke emailnya kalau ada yg berbaik hati…once again…thanks a lot yah Bapak2 sekalian 🙂
    email suami saya:
    Generic_Champion-Servo@cnooc.co.id

  26. Bu Ubaid said.
    Bapaknya lagi offshore bukan?. di laut mana Bu..??.
    Enak sambil mancing ya…
    Liat halaman atas.., klik aja di tulisan halaman Bu…, cepetan sebelum bapa nya kena demam virus adbm.., gawat bisa pulang mendadak

  27. memang Halaman sangat membantu, maturnuwun.

    3 kitab hari saya sedot.

    Belajar puasa, puegel kedarung-darung saben dino.

  28. Mbah mbah, kok jilid 132 belum sempurna yah, yang terlihat hanya sampai halaman 9 dari 36 lembar DJVU, mohon nantinya diupload ulang ya mbah

    Maturnuwun sanget

    Salam

    dari anak ku Mahesa

  29. Makasih yah Mas…

    hadduhhh itu suami saya kesurupan deh sama adbm…katanya skarang bab yg lg seru2nya…capee deee 🙂

  30. dera pengasuh ADBM

    sungguh suatu karunia luar biasa dapat baca buku klasik Api di bukit menoreh,aku sdh tamat baca jilid 1-II-31, dalam waktu 15 hari, sayang jilid selanjutnta bagaimana caranya karena belum terunduh

    salam hormat

    Ki Gde Trio

    # wow.. 15 hari menekuni kitab?? jaga wagad sampeyan kisanak, jangan lupa makan… mungkin kitab 31 perlu dimulai dengan pati geni dan mandi keramas ki 🙂

  31. Kelelegen…..Keluron……

  32. Maap Nyai/Ki
    versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  33. Maap Nyai Seno/Ki Gede
    Versi konvert jilid 132 aku taruh sini…….

    Prasidi’s Collection ~ Scanned by Herry WSN For: adbmcadangan.wordpress.com

    DALAM kebimbangan, ternyata Agung Sedayu telah menghentakkan segenap kekuatannya, segenap kemampuannya, dan segenap daya ungkapnya atas ilmu yang dimilikinya. Ia tidak ingin mengalami kesulitan yang lebih parah lagi pada keadaan yang demikian. Meskipun ia tidak berharap akan dapat menyelesaikan pertempuran itu dengan serta merta, namun ia berharap bahwa ia akan dapat mempergunakan kemampuannya itu untuk bertahan lebih rapat dari lawannya.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  34. LANJUTAN……….

    Namun demikian, mereka masih memerlukan keterangan lebih banyak lagi. Dimalam hari, seperti yang dikatakan oleh penjaga banjar itu, banyak anak-anak muda yang berkumpul dengan senjata dilambung. Dari mereka Ki Lurah Patrajaya dan Ki Lurah Wirayuda juga mendengar ceritera tentang kematian seorang prajurit Pajang. Bahkan mereka dapat menceriterakan lebih banyak dan lebih jelas lagi.

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  35. TERUSANNYA LAGEE……..

    ” Latar belakang apakah yang kau maksudkan? ”

    ” Misalnya, apakah kita menganggap dengan beberapa bukti dan saksi, bahwa yang terjadi adalah perampokan. Mungkin sekelompok perampok telah keliru menyer gap korbannya. ” jawab Untara, lalu ” tetapi mungkin pembunuhan itu berlatar belakangkan dendam atau iri dan dengki. Ki Pringgajaya adalah orangku yang memiliki banyak kelebihan. Karena itu, aku sangat memerlukannya. Ketika ia berangkat, aku sudah mengatakannya kepada Tumenggung Prabadaru. ”

    S sudah dipindah ke bangsal pusaka

  36. alhamdulillah seri-32 keluar, matur suwun Ki GD, kapan seri selanjutnya keluar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: