Buku II-3

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak dapat ingkar. Karena itu maka jawabnya, “Ya kakang. Baru saja Raden Sutawijaya meninggalkan padepokan ini.”

“Apakah ia bermalam dipadepokan ini? “

“Ya. Darimana kakang mengetahuinya?”

“Seorang petugas sandi telah mendengar kabar kedatangannya. Ia mula-mula datang ke Sangkal Putung. Kemudidan ia pergi kepadepokan ini karena di Sangkal Putung kebetulan mereka bertemu dengan Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak, sementara Kiai Gringsing menyahut, “Ya anakmas. Aku memang telah berjumpa dengan Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani di Sangkal Putung. Karena itu aku persilahkan mereka singgah barang sejenak dipadepokan ini.”

Untara mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya lebih lanjut, “Apakah keperluannya datang ke Sangkal Putung Kiai.”

“Ah. Aku kira Raden Sutawijaya hanya sekedar singgah. Seperti biasa ia sering mengadakan perjalanan jauh dalam pakaian orang kebanyakan.”

“Justru kedatangannya dalam sikap orang kebanyakan hanya sekedar singgah. Seperti biasa ia sering mengadakan perjalanan jauh dalam pakaian orang kebanyakan.”

“Justru kedatangannya dalam sikap orang kebanyakan itulah yang telah menimbulkan pertanyaan bagi kami. Aku masih Senopati didaerah ini. Meskipun ia sudah mendapat gelar Senopati ing Ngalaga, namun seharusnya ia menghubungi aku jika ia berada didaerah ini.”

Agung Sedayu termang-mangu sejenak. Namun sebenarnyalah bahwa kakaknya adalah seorang Senapati. Karena itu, dalam kebimbangan ia memandang gurunya sejenak, seolah-olah minta pertimbangannya.

Kiai Gringsing beringsut setapak. Lalu katanya, “Anak-mas benar. Seharusnya kedatangan Raden Sutawijaya diketahui oleh anakmas. Tetapi agaknya karena Raden Sutawijaya menganggap kedatangannya sekedar dalam rangka hubungan yang telah akrab seperti saudara sendiri yang sudah lama tidak bertemu sehingga menimbulkan kerinduan sajalah, maka ia tidak memerlukan membertahukan kepada anakmas.”

“Sudah aku katakan. Kedatangan yang tidak resmi seperti itulah yang justru harus mendapat perhatian. Jika ia datang dengan gelar kebesarannya diikuti oleh sepasukan pengawal maka adalah jelas bahwa ia tidak menyembunyikan sesuatu maksud. Aku sendiri akan menyongsongnya dan ikut dalam perjalanannya di daerah ini, meskipun seandainya Raden Sutawijaya belum melaporkan kepada Sultan di Pajang.”

Kiai Gringsing tidak dapat membantah lagi. Sikap Untara adalah sikap yang seharusnya dilakukan sebagai seorang Senapati yang bertanggung jawab. Karena itu, maka Kiai Gringsingpun hanyalah mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Agung Sedayu,“ berkata Untara kemudian, “aku minta dilain kali, kau melaporkan kepadaku jika kau mendapat kunjungannya. Bukan saja Raden Sutawijaya, tetapi juga ada pemimpin-pemimpin prajurit dari Pajang atau siapapun juga.”

Agung Seday mengangguk. Jawabnya, “Ya kakang Aku akan melakukannya.”

Sementara itu Glagah Putih yang gelisah sekali-sekali memandang Untara dengan ragu-ragu. Agaknya ada yang ingin dikatakannya. Tetapi mulutnya masih belum sanggup mengucapkannya.

Untara melihat sikap adik sepupunya yang gelisah. Tiba-tiba saja ia tersenyum sambil berkata, “Apakah ada yang akan kau katakan Glagah Putih?”

Glagah Putih menundukkan kepalanya. Keringat dinginnya mulai membasahi Pakaiannya.

“Katakanlah,“ desak Untara.

Glagah Putih memandang wajah Agung Sedayu sekilas. Lalu katanya terputus-putus, “Ya kakang sebut Raden Sutawijaya tidak berbuat apa-apa disini kakang. Ia datang, melihat-lihat kemudian pergi.”

“Ya. ya,“ jawab Untara, “aku kira ia memang tidak berbuat apa-apa.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Ia heran mendengar jawaban Untara. Jika ia mengetahui bahwa Raden Sutawijaya itu tidak berbuat apa-apa, kenapa ia berkeberatan? Tetapi pertanyaan itu tidak terucapkan, karena mulutnya tiba-tiba saja terasa menjadi seolah-olah terkatup rapat-rapat.

Untara melihat keringat yang mengembun dikening adik sepupunya. Karena itu maka katanya, “Glagah Putih. Belajarlah mengenal orang lain. Aku memang seorang prajurit. Tetapi aku adalah kakakmu. Katakan apa yang ingin kau katakan. Itu akan lebih baik daripada kau simpan saja didalam hati. Benar atau salah, lepaskanlah pikiranmu jika itu kau anggap perlu, ungkin pikiranmu itu berguna bagi orang lain meskipun hanya sebagai bahan pertimbangan. Tetapi jika kau simpan saja didalam hati, maka tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya atau mempertimbangkannya.”

Glagah Putih termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Tidak kakang. Aku tidak mempunyai pendapat apapun juga.”

Kiai Gringsing yang melihat sikap Glagah Putih itupun tersenyum. Katanya, “Sebenarnyalah angger Glagah Putih bukannya seorang yang tidak dapat menyatakan pendapatnya. Dalam kejutan perasaan, justru semuanya akan tertumpah. Ia dengan serta merta mengatakan apa yang dirasakannya meskipun belum matang dipertimbangkan sesuai dengan umurnya.”

Glagah Putih menundukkan kepalanya. Tetapi keterangan Kiai Gringsing itu telah menarik perhatian Untara, yang kemudian bertanya, “Apakah yang sudah dilakukannya?”

Kiai Gringsing hanya tersenyum saja. Ia tidak mengatakan, bagaimana Glagah Putih bersikap menghadapi Raden Sutawijaya yang dengan serta merta seolah-olah telah menantangnya meskipun anak itu mengetahui bahwa ia tak akan dapat berbuat apa-apa.

“Anakmas Untara,“ berkata Kiai Gringsing kemudian, “angger Glagah Putih masih bersikap kekanak-kanakan. Kadang-kadang ia hanyut pada arus perasaannya, sehingga ia sama sekali tidak menunjukkan kesan pemalunya. Tetapi justru terhadap anakmas Untara ia rasa-rasanya ingin selalu menyembunyikan wajahnya.”

Untara tertawa. Katanya, “Ia berbuat demikian juga dirumahnya jika aku berkunjung ke Banyu Asri.”

Glagah Putih sendiri tidak menyahut. Ia masih saja duduk dibelakang Agung Sedayu.

Dalam pada itu, setelah seseorang menghidangkan minuman panas, maka Untarapun segera minta diri sambil berpesan, “Ingat-ingatlah Agung Sedayu, sampaikan kepadaku jika seseorang yang justru memegang pimpinan mengunjungi daerah ini dengan maksud apapun juga.”

“Baik kakang.”

“Lain kali aku ingin melihat, apa yang kau dapatkan selama kau mengembara.”

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak mendapatan apa-apa kakang, selain pengalaman dan penglihatanku sajalah yang bertambah.”

“Itupun sudah baik. Artinya ada yang bertambah padamu. Dengan demikian kaupun menjadi bertambah dewasa untuk menangkap getar kehidupan disekitarmu saat ini, berdasarkan pengalamanmu masa lampau, sehingga kau akan dapat mengambil langkah bagi masa depanmu.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, ”Mudah-mudahan aku berhasil menemukan pilihan yang paling tepat bagi masa depanku.”

“Paling tepat dan berarti. Bukan saja bagi dirimu sendiri. Tetapi bagi lingkunganmu dan bagi Tanah ini. Padepokan ini hendaknya hanya sekedar menjadi pancatan yang tidak akan mengikatmu disini seperti seorang kakek-kakek yang sudah kehilangan waktu untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.“

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa yang dimaksud kakaknya adalah bahwa tidak sebaiknya ia berada dipadepokan kecil itu untuk seterusnya.

Tetapi Agung Sedayu tidak menjawab.

Sementara itu Untara beringsut dari tempatnya. Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu mengantarkannya turun kehalaman, sementara Glagah Putih mengikutinya dibelakang.

“Mudah-mudahan Kiai segera dapat memberikan jalan kepada Agung Sedayu,” desis Untara ketika ia sudah memegang kendali kudanya. Lalu katanya kepada Ki Waskita, “apakah yang dapat Ki Waskita lihat pada masa depan anak itu? Kesuraman atau tempurung yang tertelungkup menyelubunginya?”

Ki Waskita tersenyum. Jawabnya, “Tidak ada yang jelas bagiku anakmas. Semuanya sekedar uraian atas isyarat yang kadang-kadang tidak aku mengerti maknanya sama sekali.”

Untara mengangguk-angguk. Kemudian sambil menuntun kudanya diikuti oleh pengawal-pengawalnya ia berkata, “Aku akan menyusul Raden Sutawijaya. Mudah-mudahan aku dapat bertemu. Bukankah Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani hanya berjalan kaki saja?”

Agung Sedayu menjadi tegang, sementara Kiai Gringsing bertanya, “Apakah ada yang penting untuk dibicarakan dengan angger Sutawijaya ?”

“Tidak. Tetapi sebagai Senopati yang lebih rendah tingkatnya, aku harus menemuinya dan menghormati kedatangannya. Tapi juga mengetahui keperluannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sikap Untara tentu tidak akan dapat dirubahnya. Karena itu, ia tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika Agung Sedayu akan bertanya sesuatu, maka Kiai Gringsing telah menggamitnya, karena persoalannya adalah persoalan Untara sebagai seorang prajurit.

Sejenak kemudian maka kuda Untarapun telah berderap diikuti oleh para pengawalnya. Seperti yang dikatakannya, maka iapun berusaha menyusul Raden Sutawijaya.

Tetapi justru karena Raden Sutawijaya hanya berjalan kaki, maka Untara ternyata menemui kesulitan. Ketika ia melalui jalan simpang, maka ia tidak dapat menentukan, jalan manakah yang dilalui oleh Raden Sutawijaya.

“Kita tidak dapat melihat jejaknya,“ berkata Untara, “jika Raden Sutawijaya berkuda, maka jejaknya akan nampak jelas dijalan ini. Tetapi jejak kaki seseorang tidak akan dapat kita kenal diantara jejak yang lain, karena kita tidak dapat mengenal manakah jejak yang paling baru diantara jejak-jejak yang nampak. Apalagi jalan ini agaknya sudah menjadi jalan yang semakin ramai.”

Pengawal-pengawalnya hanya mengangguk-angguk saja. Merekapun tidak tahu, bagaimanakah cara yang sebaik-baiknya untuk mengetahui kemanakah Raden Sutawijaya pergi.

Namun dalam pada itu Untarapun berkata, “Marilah. Jalan inilah agaknya jalan yang lebih banyak mempunyai kemungkinan dilalui oleh Raden Sutawijaya.”

Pengawal-pengawalpun membenarkannya. Karena itu maka Untarapun segera mempercepat langkah kudanya menyusul Raden Sutawijaya.

Dalam pada itu, di padepokan kecil yang ditinggalkan Untara. Agung Sedayu bertanya kepada Kiai Gringsing, “Apakah kakang Untara berkeberatan jika Raden Sutawijaya datang kepadepokan ini?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukan berkeberatan. Tetapi kakakmu ingin mendapat laporan atau setidak-tidaknya diberitahukan bahwa ada seseorang penting yang datang didaerahnya.”

“Kenapa kakang Untara mempersulit dirinya sendiri dengan kecurigaan semacam itu?“ bertanya Agung Sedayu.

“Kakakmu benar Agung Sedayu,“ sahut Ki Waskita.

“dalam keadaan yang goyah seperti ini, ia mempunyai kewajiban yang sangat berat. Terutama didaerah ini. Daerah yang benar-benar memerlukan pengamatan yang saksama.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Akupun menganggap bahwa Raden Sutawijaya keliru. Karena disini ada seseorang yang mendapat limpahan kekuasaan dari Sultan Demak, maka Raden Sutawijaya dalam kedudukannya harus datang atau menyuruh salah seorang pengawalnya untuk memberitahukan kehadirannya. Dengan demikian maka ia telah melakukan kewajibannya dengan tertib meskipun ia adalah Senapati ing Ngalaga.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk. Namun sekilas ia memandang gurunya yang menarik nafas dalam-dalam.

“Agaknya Ki Waskita tidak begitu sependapat dengan Raden Sutawijaya,“ berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Baru sejenak kemudian, maka iapun minta diri kepada gurunya untuk pergi bersama Glagah Putih menengok sawah dan ladangnya.

“Pergilah,“ jawab Kiai Gringsing, “jagalah agar air diparit itu dapat mengalir ajeg.”

“Ya guru,“ jawab Agung Sedayu yang kemudian bergeser meninggalkan pendapa bersama Glagah Putih.

Ternyata Glagah Putih yang masih sangat muda itu telah dapat menangkap perasaan yang tersirat didalam kata-kata Ki Waskita. Karena itu maka disepanjang jalan menuju kesawah ia bertanya, “Kakang, apakah Ki Waskita tidak senang kepada Raden Sutawijaya?”

“He,“ Agung Sedayu mengerutkan dahinya, “kenapa kau bertanya demikian.“

“Sikapnya dan agaknya ia selalu menyalahkan Raden Sutawijaya dalam hubungannya dengan sikap kakang Untara.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi jangan kau pikirkan. Mungkin Ki Waskita mempunyai pertimbangan-angan lain. Bukan berarti tidak senang kepada Raden Sutawijaya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya masih ada yang tersisa diperasaannya. Namun ia tidak mengatakannya.

Meskipun demikian, agaknya Agung Sedayu masih dapat menangkap gejolak perasaan Glagah Putih yang tersimpan dihatinya itu.

Dalam pada itu, maka Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martanipun masih dalam perjalanan menuju ke Mataram.

Meskipun mereka tidak tahu, bahwa Untara akan menyusulnya, ternyata mereka telah memilih jalan memintas, melalui pematang dan kemudian bahkan melintasi lapangan alang-alang yang cukup rapat. Mereka menyusuri jalan setapak yang sering dilalui oleh orang-orang yang sedang mencari kayu bakar kehutan atau kepentingan-kepentingan yang lain, namun jarang sekali.

Karena itulah, maka Untara yang mempercepat lari kudanya, tidak dapat menemukannya. Meskipun Untara sudah melintasi jarak yang cukup jauh, namun tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat menjumpai Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani.

“Keterangan yang aku terima agak terlambat,“ desis Untara, “sehingga akupun lambat sampai kepadepokan Agung Sedayu.”

“Keterangan dari Sangkal Putung itu memang baru saja datangnya. Semula orang-orang Sangkal Putung tidak mengira, bahwa orang yang berjalan beriringan dengan Kiai Gringsing itu adalah Raden Sutawijaya. Tetapi ternyata bahwa para pengawal yang khusus dipanggil oleh Swandaru meyakinkan, bahwa anak muda itu memang Raden Sutawijaya. Di Sangkal Putung ia memamerkan ilmu kebal yang dimilikinya.”

Untara menarik keningnya. Namun kemudian ia menggeram, “Anak yang masih terlalu muda untuk menyimpan ilmu yang tinggi seperti dimiliki oleh Raden Sutawijaya. Itulah sebabnya, maka sekali sekali ia masih ingin menunjukkan kemampuannya dihadapan orang lain.”
“Ya. Menurut keterangan itu Raden Sutawijaya sengaja memberikan kesempatan kepada Swandaru untuk memukulnya dengan kemampuannya yang sudah meningkat jauh. Tetapi ketika Raden Sutawijaya tersorong, bahkan terguling, maka iapun menjadi marah sehingga permainan itu hampir-hampir saja telah berubah menjadi arena perang tanding.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Keteranganmu agak berbeda dengan yang aku dengar kemarin.”

“Apa yang Senapati dengar?“ bertanya pengawalnya itu.

“Swandarulah yang memulainya. Ia ingin meyakinkan diri, apakah sepantasnya Sutawijaya itu disembahnya sebagai seorang pemimpin.”

Pengawalnya mengerutkan keningnya. Lalu, “Mungkin demikian. Tetapi yang terjadi kemudian adalah pameran kekuatan seperti yang sudah aku katakan.”

“Baiklah,“ Untara memotong, “apapun alasannya, tetapi seharusnya, ia memberitahukan kepadaku, bahwa ia berada di daerahku. Apalagi jika benar-benar ia mengadakan pameran kekuatan untuk mempengaruhi mereka yang mengaguminya.”

Pengawal-pengawalnya tidak menjawab. Namun nampaknya mereka sedang mencoba membayangkan, betapa tingginya ilmu Raden Sutawijaya. Bahkan ilmu anak Kademangan di Sangkal Putung itu.

Sangkal Putung telah menyusun kekuatan pengawal-pengawal itu berkata kepada diri sendiri.

Keterangan tentang perkembangan Sangkal Putung dan kedatangan Raden Sutawijaya memang telah menumbuhkan berbagai pernyataan dihati para prajurit di Jati Anom. Apalagi keterangan yang simpang siur. tentang peristiwa penjajagan ilmu Raden Sutawijaya oleh Swandaru. Bahkan ada yang menarik arti, bahwa Raden Sutawijayalah yang justru menjajagi ilmu Swandaru karena ia memerlukan seorang Senapati yang akan dapat membayangi kekuatan Untara sebagai Senapati yang mendapat wewenang dari Pajang. Bukan dari Mataram.

Dengan demikian maka para prajurit itupun beranggapan bahwa Sangkal Putung yang menjadi semakin kuat itupun memerlukan pengawasan yang saksama. Hubungan langsung dengan Raden Sutawijaya mungkin dapat menumbuhkan perkembangan yang lain dari Kademangan itu.

Dalam pada itu, setelah Untara yakin tidak akan dapat menjumpai Raden Sutawijaya, maka diperintahkannya para pengawalnya untuk kembali saja di Jati Anom.

“Sulit untuk menemukannya,” berkata Untara.

“Apakah kita akan melingkar sehingga mungkin kita akan menjumpainya lewat jalan lain?“ berkata salah seorang pengawalnya.

Untara berpikir sejenak. Kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Tidak ada buruknya. Tetapi aku kira Raden Sutawijaya tidak akan mengambil jalan yang besar. Tetapi ia akan memilih lorong-lorong sempit atau bahkan jalan-jalan memintas. Pematang atau tanggul-tanggul parit dan sungai.”

Meskipun demikian, maka Untara telah mengambil jalan melingkar untuk kembali ke Jati Anom. Mungkin masih akan dijumpai kedua orang Mataram itu dijalan lain.

Tetepi seperti yang diperhitungkan oleh Untara, mereka sama sekali tidak bertemu dengan Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani. Sampai saatnya kuda mereka memasuki regol rumah Untara.

Sambil menggelengkan kepalanya Untara yang naik kependapa rumahnya berkata kepada seorang perwira bawahannya, “Aku tidak menjumpainya.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Jawabnya, “Keterangan itu datangnya memang terlambat. Jadi Raden Sutawijaya telah meninggalkan padepokan kecil itu?”

“Ya. Tetapi seperti yang kita dengar, Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani memang telah datang ke Sangkal Putung dan singgah dipadepokan Agung Sedayu. Tetapi aku aku datang sesaat setelah mereka meninggalkan padepokan itu.”

Perwira itu tidak memberikan tanggapan langsung menganai kedatangan Raden Sutawijaya itu. Tetapi seperti juga pada hampir setiap prajurit, maka mereka dengan hati-hati mencoba untuk menilai sikap dan tingkah laku pemimpin-pemimpin Mataram seorang demi seorang.

Namun dalam pada itu Untara berkata, “Kedatangan Raden Sutawijaya kali ini tidak ada hubungannya dengan sikap Mataram. Ia adalah sahabat adikku Agung Sedayu dan adik seperguruannya Swandaru yang sudah lama tidak saling bertemu. Hanya itu. Jangan membuat tanggapan sendiri atas kedatangannya.”

Para perwira bawahannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak yakin akan kata-kata Untara. Mereka sadar sepenuhnya, bahwa Untara berusaha untuk tidak dikaburkan oleh tanggapan yang bersimpang siur dari prajurit-prajuritnya.

Sebenarnyalah Untara sendiri memang tidak menganggap kedatangan Raden Sutawijaya sekedar ingin bertemu dengan Agung Sedayu dan Swandaru. Tetapi ia ingin mendapat tanggapan yang sama dari anak buahnya, sehingga karena itu, maka ia hanya akan berbicara sesuai dengan perhitungan dan pertimbangannya dengan beberapa orang saja, sebelum ia mengambil kesimpulan.

Namun dalam pada itu, agaknya Untara sama sekali tidak tersentuh keterangan tentang orang-orang yang akan mengadakan pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Justru karena Pajang tidak mengalami gangguan langsung dari mereka yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit yang sebagian memang berada diistana Pajang sendiri.

Berbeda dengan Raden Sutawijaya yang telah diguncang oleh kehilangan pusaka terpentingnya. Bukan saja nilai dari pusaka-pusaka yang hilang itu, namun Raden Sutawijaya merasa bertanggung jawab kepada ayahanda angkatnya. Meskipun ia tidak bersedia menghadap sebelum tekadnya untuk menjadikan Mataram sebuah negeri yang ramai terpenuhi sebagai jawaban atas tantangan beberapa orang pemimpin Pajang yang tidak mempercayainya, namun sebenarnyalah bahwa ia sama sekali tidak melupakan apa yang sudah diterimanya dari ayahanda angkatnya itu.

Bagi Untara, jika keadaan menjadi semakin baik dan tenang, maka sebagian tugasnya telah tertunaikan, meskipun ia tidak pernah meninggalkan kewaspadaan. Tetapi karena usahanya untuk sementara tertuju kepada ketenangan daerah pengawasannya, maka perhatiannya terbesar ditujukannya kepada ketenangan didalam rangkah.

Sementara itu sepeninggal Raden Sutawijaya, maka Swandaru yang telah meyakinkan diri, bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang pilih tanding, tidak mau mengingkari niatnya. Ia benar-benar bertekad untuk membantu anak muda itu bagi masa depan Mataram. Apalagi penilaiannya, gurunya Kiai Gringsing juga berdiri dipihak Mataram jika terjadi perselisihan dengan pihak yang manapun juga. Apalagi dengan orang-orang yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Mahapahit itu, meskipun banyak diantara mereka yang berada didalam lingkungan istana Pajang tanpa diketahui oleh Sultan.

Bahkan Swandaru telah menarik kesimpulan bahwa Raden Sutawijaya telah menyatakan niat dan harapannya, bahwa Sangkal Putung akan bersedia membantu Mataram dalam masa pertumbuhannya. Demikian juga dengan daerah disebelah Barat Alas Mentaok. Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan demikian, maka Swandarupun mulai membicarakan dengan ayahnya, niatnya untuk semakin memperkuat kedudukan Sangkal Putung yang justru berada hampir digaris lurus antara Pajang dan Mataram dan sekaligus berhadapan dengan kekuasaan Senopati Pajang yang berkedudukan di Jati Anom.

“Swandaru,“ berkata ayahnya, “aku tidak berkeberatan. Tetapi kau jangan justru mendahului Raden Sutawijaya. Sampai saat ini Raden Sutawijaya masih tetap mengakui kekuasaan Pajang. Sultan Pajang adalah ayahanda angkatnya yang mengasihinya.”

“Tetapi bukankah sikapnya sudah jelas, ayah,“ jawab Swandaru.

“Kau masih harus mempelajari banyak hal tentang sikapnya. Ia tidak mau datang ke Pajang bukan karena ia ingin menentang ayahandanya. Tetapi ia ingin membuktikan semacam sumpahnya, bahwa Raden Sutawijaya tidak akan menginjak paseban Agung di Pajang sebelum Mataram menjadi sebuah negeri yang besar.”

Swandaru tersenyum. Jawabnya, “Mungkin ayah benar. Tetapi bagaimanapun juga jarak itu semakin lama menjadi semakin lebar. Itulah sebabnya kita harus bersiap-siap. Jika tidak terjadi sesuatu, sukurlah. Tetapi jika terjadi ledakan antara Pajang dan Mataram, maka kita semuanya sudah siap. Ledakan apapun alasannya. Mungkin karena orang-orang dungu disekitar Sultan Pajang, tetapi mungkin juga karena orang-orang yang merasa dirinya mempunyai warisan atas Kerajaan Majapahit yang besar.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Jika kau sekedar ingin bersiap-siap saja, aku kira memang tidak ada buruknya. Tetapi ingat. Yang dapat kita lakukan benar-benar sekedar mempersiapkan diri. Bukan justru mendahului Raden Sutawijaya. Jika pada suatu saat, Raden Sutawijaya merasa janjinya terpenuhi, Mataram sudah menjadi negeri yang ramai, sehingga ia kemudian datang memasuki Paseban Agung dengan dada tengadah, dan bahkan kemudian menerima limpahan kekuasaan yang lebih besar lagi dari ayahanda angkatnya yang justru untuk membersihkan istana dari orang-orang yang dengki dan penuh pamrih pribadi itu, maka yang terjadi akan jauh berbeda sekali dengan gambaranmu sekarang.”

“Aku sudah memperhitungkan ayah. Tetapi menurut pertimbanganku, tentu akan terjadi benturan kekuatan antara Raden Sutawijaya dengan salah satu pihak. Apakah mereka orang-orang Pajang sendiri yang harus dibersihkan, atau dengan orang-orang yang menyebut dirinya pewaris Kerajaan Majapahit. Nah, untuk itulah aku harus bersiap-siap. Sangkal Putung harus memilih jalan yang tegas, sehingga justru tidak akan terumbang-ambing oleh keadaan yang kabur.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Berhati-hatilah. Kau jangan bertindak tanpa perhitungan matang.”

Swandaru masih saja tersenyum. Baginya, ayahnya adalah orang tua yang lamban dan selalu dibayangi oleh kecemasan dan ketakutan bertindak. Sehingga karena itulah, maka setiap nasehat ayahnya bagi Swandaru seakan-akan hanyalah hambatan bagi perkembangan yang dikehendakinya.

“Aku akan membuat Sangkal Putung menjadi daerah yang tidak ada duaya didaerah Selatan ini. Berapa-pun kekuatan prajurit Pajang di Jati Anom, Untara tidak akan dapat melampui kekuatan Sangkal Putung.”

Tanpa sesadarnya, ternyata Swandaru telah menempatkan diri berseberangan dengan Untara. Seolah-olah Swandaru telah berdiri dipihak Mataram, sedang Untara berdiri dipihak Pajang sementara Mataram dan Pajang telah berhadapan dan siap untuk bertempur.

Sikap Swandaru itu semakin lama benar-benar semakin mencemaskan ayahnya dan Ki Sumangkar. Bahkan agaknya Sekar Mirahpun telah terpengaruh pula oleh sikap kakaknya.

“Jika Agung Sedayu dapat mempercepat sedikit hubungannya dengan Sekar Mirah untuk segera memasuki jenjang perkawinan, maka Sekar Mirah tentu akan mendapatkan pengalaman batin yang lain,“ berkata Sumangkar kepada diri sendiri, “bagaimanapun jauh bedanya sifat kedua orang suami isteri, namun perlahan-lahan jika mereka menghendaki dengan sungguh-sungguh rumah tangganya berhasil, semakin lama tentu akan menjadi semakin dekat dan saling menyesuaikan diri. Kecuali jika mereka tidak berniat untuk bertahan lebih lama lagi.”

Namun Sumangkarpun menyadari, bahwa hari-hari perkawinan Agung Sedayu dan Sekar Mirah itu tentu akan berlangsung diwaktu yang masih jauh. Agaknya Agung Sedayu sama sekali belum siap menghadapi hari-hari perkawinannya. Bahkan nampaknya apa yang dilakukan disaat terakhir sama sekali tidak menarik bagi Sekar Mirah.

Tetapi betapapun gelisahnya hati Sumangkar. ia harus menyaksikan Swandaru bekerja giat untuk memperkuat Kadernangannya dengan caranya. Sekali-sekali Ki Sumangkar berbincang juga dengan Ki Demang tentang anak yang mulai menuruti keinginannya sendiri itu. Namun keduanya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

“Anak itu sulit sekali dikendalikan,“ berkata Ki Demang.

“Perkembangannya memang agak mencemaskan Ki Demang,“ sahut Sumangkar, “namun mudah-mudahan ia akan menyadarinya jika ia sudah mencapai puncak kemampuannya.”

Ki Demang hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian ia berdesis seolah-olah kepada diri sendiri. “Bagaimanakah jika kita minta Kiai Gringsing menungguinya disini? Mungkin akan berpengaruh juga bagi perkembangan jiwanya Swandaru, karena agaknya hanya gurunyalah yang diseganinya.”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Mungkin juga ada hasilnya. Tetapi baiklah aku akan berbicara dengan Kiai Gringsing.”

“Mudah-mudahan Kiai Gringsing bersedia tinggal di sini untuk waktu yang agak panjang. Menurut dugaanku. Agung Sedayu mempunyai sifat dan watak yang lebih jinak dari anakku, sehingga seandainya ia ditinggalkan sendiri dipadepokan bersama beberapa orang pembantunya, tidak banyak akan mengalami perkembangan yang menyulitkan. Apalagi padepokan itu seolah-olah selalu dibawah pengawasan Untara dan Ki Widura.”

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Namun ia masih ragu-ragu, apakah Kiai Gringsing benar-benar bersedia tinggal di Kademangan Sangkal Putung justru setelah ia mempunyai padepokan kecil yang dibuatnya bersama Agung Sedayu meskipun hanya untuk waktu tertentu, dan barangkali ia tidak akan berkeberatan untuk sekali-seka li menengok padepokan yang ditinggalkannya itu.

Namun Ki Sumangkar masih akan mencoba. Ia akan meyakinkan Kiai Gringsing bahwa perkembangan Swandaru agak menggelisahkan orang tuanya.

***

Catatan :
Belum di proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 16:37  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-3/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ha ha ha ha, Ki Jebeng betul2 hebat. Kok tau aja yang dibagikan Ki GD BTL, alias Bantuan Langsung Tunai.
    Hatur nuhuuuun Ki GD.
    Ki Truno Podang

  2. Dalam proses ngunduh matur nuwun Ki Gede…

  3. Beberapa gambar di Kitab 102 tampaknya spoiler, terlihat di sana beberapa adegan yang belum terceritakan di kitab teresebut gambarnya telah ada, misalnya saat Sutawijaya mengetrapkan aji Tameng Waja ketika menerima pukulan Swandaru….
    Hmm…jadi nggak sabar menunggu kitab 103.
    Sampun mboten sabar Ki GD

  4. Iya masaryo, wangsit doang …tapi donlotnya susah …target filenya terlalu samar-samar…

  5. Hahahahaha…thanks Ki GD…
    Ternyata para telik sandi Ki Gede banyak sekali bertebaran….cuma mata awam cantrik saja yang kurang awas….dan segera mereka muncul setelah tahu banyak yang membutuhkan bantuan langsung tunai…

    Terimakasih…

  6. 103 nya sudah saya unduh dengan speedy juga, 2,32 MB, kata-kata pertamanya : orang-orang
    Makasih ki GD

  7. Wo…jian Ki GD pinter tenan.
    Begitu komentar di atas di submit, begitu ngecek ke ‘halaman 2’ begitu nongol, begitu asyik, begitu download…
    Wah…tararengkyu….Ki GD

  8. lho.. lho.. lho….
    Kok.. tiba-tiba sudah terdownload. 😉

    감사합니다 (Kamsahamida) Ki Gede.

  9. trimakasih BLT nya Ki GD

  10. Terima kasih Ki GeDe…rencana mau lihat2 dan baca2 coment, kok tahu2 diparingi kitab.
    Terima kasih…terima kasih

  11. alhamdulillah…. hatur nuhun ki gede….

  12. Ketika Ki Wakarimasen iseng iseng melemparkan mata kursor ke angka dua di halaman ini, dengan teriak kegirangan dia terkejut.

    Karena ternyata diujung mata kursornya telah tertempel lontar 103.

    Wah, siang ini sungguh beruntung. Baru ikut berdiri di antrian sejenak sudah mendapatkan salinan lontar.

    “Arigato Sensei….,” ucapnya sambil menjura dalam dalam.

    Segera salinan lontar itu pun dikerubungi oleh Ki Wakarimasen, Ki Sam Ja Ne Hi dan Ki Wo Pu Ce Tau….

  13. Matur nuwun sanget Ki GD..
    Kitabnya sudah tak sedott..

  14. Matur nuwun, Ki GD.

    Menawi angsal, langsung kulo pesen nggih.

    Angsal mboten, Ki?

  15. Ngecek untuk ke-4 kalinya dan langsung dapet..
    matur suwun Ki GD..
    sekarang tak ikut ngantri ke kitab 104 dech.. 🙂

  16. Matur thank you Ki GD

  17. Hahahaha,.. makin kesini makin penuh kejutan,..

  18. SurPRiSeD……HaaaAa padahal sudah siAp siap mengeluarkan jurus …… TerNyata?????

  19. Bangun tidur sudah dihidangkan kitab 103.
    Enak tenan mbaca sambil nyruput kopi panas, merokok dan lesehan.

    GRACIAS Ki GD!!!

  20. nunggu pencerahan dari ki waskita dulu, ada apa gerangan dengan kitab 103

  21. Wah….!!! (kaget)

    Dua hari absen, langsung diberi kejutan oleh BTL kitab 103.

    Trimakasih ki Gede.

  22. Terima kasih banyak ki GD…

  23. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, sawahe lemu-lemu
    yayakkee…. !

    Ki Wiro_Gerong

  24. parine lemu-lemu ding!

    Ki Wiro_Gerong

  25. Raden Sutawijaya lali matrapke ajiaan,
    suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

    malah dodolan Tameng Wajan, elu jual gue beli.

    • hihaaaa elu juwal ngga ada yang beli, wong ki kartu ngasi gratis je

      • Untuk kalangan sendiri…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: