Buku II-3

Sambil mengunyah maka merekapun masih saja bercakap-cakap, yang kemudian justru merambat pada persoalan pokok yang sangat penting bagi Raden Sutawijaya.

“Pertemuan antara orang-orang yang mengaku masih mempunyai darah keturunan Majapahit itu akan segera dilakukan,“ berkata Raden Sutawijaya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Beberapa saat terakhir kami sibuk dengan kepentingan kami sendiri Raden. Sejak perkawinan Swandaru yang hampir saja menenggelamkan Sangkal Putung dan sekaligus Tanah Perdikan Menoreh jika orang-orang itu berhasil membunuh Swandaru dan Pandan Wangi, kemudian persoalan Agung Sedayu dan padepokan kecil ini telah merampas segenap perhatian kami. Namun kamipun yakin saat itu bahwa pertemuan itu masih belum dilaksanakan karena beberapa perbedaan pendapat tentang imbangan kekuatan diantara mereka dan terutama bahwa merekapun telah saling mencurigai.”

“Tetapi agaknya hal itu akan teratasi. Mereka akan melangsungkan pertemuan itu beberapa saat lagi. Kami masih selalu membayangi sesuai dengan kemampuan yang ada pada kami.”

Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu mendengarkan berita itu dengan kerut merut dikening. Sejak semula mereka telah melibatkan diri dalam persoalan pusaka yang hilang itu, sehingga mereka tidak akan dapat menarik diri justru pada saat-saat terpenting.

Karena itu, maka Kiai Gringsingpun kemudian berkata, “Raden. Jika saatnya tiba, maka kami tentu tidak akan ingkar. Mungkin ada sesuatu yang dapat kami lakukan. Bahkan mungkin sebelum saat pertemuan itu tiba.”

“Apa yang dapat kita lakukan sebelum saat pertemuan itu tiba? Aku kira kedua pusaka itu masih belum pasti ada diantara mereka sekarang ini. Tetapi menurut perhitunganku, pada saat pembicaraan mereka itu dengan resmi diadakan, kedua pusaka itu tentu sudah ada didalam pertemuan itu sebagai bagian dari pembicaraan mereka,“ berkata Raden Sutawijaya.

“Kami mengerti. Tetapi maksud kami, apa yang dapat kami lakukan sebelumnya adalah sekedar pengamatan.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih Kiai. Tetapi barangkali yang mereka lakukan sebelumnya masih dalam usaha mereka mempersiapkan pertemuan itu di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, dan yang lebih penting adalah mempertajam persoalan yang ada antara Pajang dan Mataram. Tetapi yang membuat aku semakin prihatin sekarang ini adalah keadaan ayahanda Sultan Pajang. Menurut keterangan yang aku dengar, sepeninggalkan ayahanda Ki Gede Pemanahan yang bergelar Ki Gede Mataram, maka kesehatan ayahanda Sultan Hadiwijaya menjadi semakin buruk. Sementara itu beberapa orang yang memegang pemerintahan di Pajang menjadi semakin tamak dan mendesak kekuasaan ayahanda Sultan. Bahkan terakhir aku sudah mendengar seorang Adipati yang dengan penuh kebencian ingin menghancurkan Mataram dengan kekerasan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dengan wajah yang buram ia bertanya, “Tetapi apakah Adipati itu mempunyai hubungan dengan orang yang menyebut dirinya keturunan Majapahit yang berhak menerima warisan atas kekuasaan itu?”

“Aku tidak tahu jelas. Tetapi menurut perhitunganku, hal itu tentu dalam usaha memperebutkan pengaruh dan dukungan atas masa depan.”

Kiai Gringsing memandang Agung Sedayu sekilas. Wajah anak muda itu menjadi tegang. Berbagai persoalan agaknya telah membelit dihatinya.

“Raden,“ Ki Waskitapun kemudian bertanya, “apakah peristiwa itu berarti bahwa keadaan menjadi semakin rumit sekarang ini? Jika seorang Adipati telah melibatkan diri langsung, maka keadaannya tentu tidak akan menguntungkan semua pihak.”

“Tentu Ki Waskita. Itulah kesulitan yang tentu akan kita hadapi nanti.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Sepercik keragu-raguan telah membayang diwajahnya. Agaknya ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi ia telah dicengkam oleh kebimbangan.

Tetapi Ki Juru Martani melihat kebimbangan itu. Karena itu, maka iapun mendahuluinya, “Ki Waskita. Apakah ada sesuatu yang agaknya ingin kau katakan?”

Ki Waskita termangu mangu.

“Apakah salahnya,“ berkata Ki Juru Martani pula, “cobalah. Katakan. Setuju atau tidak setuju, kami tentu akan mempertimbangkannya sebaik-baik nya.”

“Aku mohon maaf Raden,“ berkata Ki Waskita, “aku kira keadaan memang menjadi sangat gawat. Hal ini tentu bermula karena salah paham sejak ayahanda Ki Gede Pemanahan meninggalkan istana Pajang dan kembali ke Sela dalam rangka tuntutannya atas janji Sultan Pajang untuk menyerahkan Alas Mentaok. Sementara Pati yang sudah menjadi semakin ramai dan besar telah diberikan langsung kepada Ki Penjawi. Namun kesalah pahaman itu tidak sebaiknya menjadi semakin berlarut-larut. Sepeninggal ayahanda Raden, Ki Gede Pemanahan yang bergelar Ki Gede Mataram, apakah tidak sebaiknya Raden sendiri berusaha mengakhiri salah paham itu dengan datang menghadap Sultan di Pajang.”

Wajah Raden Sutawijaya menjadi semburat merah. Namun Ki Juru Martanipun kemudian tersenyum sambil berkata, “Itulah yang aku prihatinkan Ki Waskita. Jika angger Sutawijaya tidak berhati sekeras batu, maka aku kira akan dapat dicari jalan untuk menghindarkan salah paham ini.”

“Paman,“ Raden Sutawijaya memotong, “paman tidak pernah mendengar penghinaan atasku dan ayahanda Ki Gede Pemanahan saat kami meninggalkan istana Pajang.”

“Apakah ayahanda Sultan pernah menghina Raden?“ bertanya Ki Waskita.

“Bukan ayahanda Sultan Hadiwijaya. Tetapi orang-orang didekatnya. Orang-orang disekitarnya.”

“Itulah barangkali yang membuat hati ayahanda Sultan sekarang ini selalu muram. Kesalahan beberapa orang disekitarnya terhadap Raden, berakibat parah sekali bagi Pajang dan Mataram. Pusaka-pusaka Pajang yang diserahkan kepada Mataram, gelar Senopati ing Ngalaga itu tentu diberikan kepada Raden bukannya tanpa maksud. Kecuali Raden memang sudah berhak atas gelar itu, namun tentu ada juga niat ayahanda Sultan untuk memanggil Raden kembali memasuki Paseban Agung di Pajang setidak-tidaknya selapan hari sekali.”

“Paman,“ wajah Raden Sutawijaya menjadi semakin tegang, “aku sudah mengajukan permohonan kepada ayahanda Sultan. Aku akan menghadap ke Paseban Agung bukan saja setiap selapan hari, tetapi setiap pekan dan saat apapun jika dikehendaki, asal orang-orang yang tidak aku senangi itu diusir dari istana.”

Wajah Ki Waskita menegang sejenak. Ketika dilihatnya sekilas wajah Ki Juru, maka nampaknya penyesalan membayang diwajah yang tua itu. Bahkan katanya kemudian, “Ki Waskita. Akupun pernah mengajukan permohonan serupa kepada Raden Sutawijaya. Sultan Hadiwijaya adalah seorang yang mempunyai tiga kedudukan terpenting bagi Raden Sutawijaya. Ia adalah seorang ayah yang penuh kasih, seorang guru yang cakap dan mumpuni dalam olah kanuragan dan kesusasteraan. Selebihnya ia adalah seorang Raja yang bijaksana.”

Wajah Raden Sutawijaya menjadi buram. Sekilas ia memandang Ki Juru Martani. Kemudian Ki Waskita dan orang-orang lain berganti-ganti.

Dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku mengerti paman. Tetapi aku tidak dapat melihat kelemahan semakin membelit hati ayahanda Sultan di Pajang. Sebenarnyalah bahwa ayahanda Sultan tidak berani melihat kenyataan meskipun ia mengetahuinya. Seharusnya ayahanda telah mengusir beberapa orang yang dengan sengaja mempersulit kedudukan dan rencana-rencana ayahanda. Bahkan syahanda mengetahui bahwa beberapa orang telah menyalah gunakan kepercayaan ayahanda untuk kepentingan-kepentingan yang tidak menguntungkan. Apakah paman Juru Martani tidak mau mengakui, bagaimana buruknya pengaruh orang-orang yang dengan sadar dan sengaja didorong oleh pamrih pribadi telah menjerumuskan ayahanda kedalam cengkeraman nafsu yang semakin dalam. Perempuan perempuan cantik merupakan noda kelemahan yang selalu dipergunakan.”

“Angger,” suara Ki Juru sareh, “justru dalam keadaan serupa itu. Beberapa puluh kali aku mencoba memberikan nasehat bahwa jika angger berada diistana, maka angger akan dapat membantu ayahanda melepaskan diri dari belenggu nafsu yang seolah-olah tidak terkekang itu.”

Tetapi Sutawijaya menggeleng. Jawabnya, “Uwa Mandaraka. Berpuluh kali pula aku mohon maaf, bahwa hatikulah yang tidak dapat dipaksa untuk datang menghadap ayahanda yang duduk dikitari oleh penjilat-penjilat yang dengan liciknya telah menjerumuskan ayahanda kedalam belenggu nafsu dan kesenangan duniawi.”

Ki Juru Martani yang juga bergelar Mandaraka itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

“Aku sudah menentukan sikap,“ berkata Raden Sutawijaya, “aku tetap mencintai ayahanda Sultan Hadiwijaya sebagai seorang anak yang menyadari untuk membalas budi yang tidak ternilai, yang barangkali seumurku tidak akan dapat terbalas selapis tipispun. Dan akupun tetap menghormati sebagai seorang guru yang mumpuni. Bahkan aku tetap menjunjung segala perintahnya sebagai seorang Raja yang bijaksana. Namun didalam tindakannya yang tidak aku anggap bijaksana maka aku tidak akan dapat menjunjungnya diatas kepala.”

“Baiklah Raden,“ gumam Ki Juru kemudian, “aku sudah mendengar pendirian itu berpuluh kali sebanyak aku mengucapkan harapan dan nasehatku. Tetapi baiklah. Raden sudah cukup dewasa untuk mengambil sikap. Jika aku tetap berada disisi angger, barangkali didalam sikap dan tindakan angger sehari-hari masih ada yang perlu dipertimbangkan.”

“Ki Juru,” berkata Raden Sutawijaya, “bagiku Ki Juru tetap seorang yang penting. Aku selalu melakukan segala nasehat Ki Juru, selain yang satu itu. Menghadap ayahanda dalam keadaan seperti sekarang.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Betapapun buram sorot matanya, tetapi orang tua itu benar-benar tidak berhasil merubah sikap Raden Sutawijaya dalam satu hal itu.

Sementara itu Agung Sedayu mendengarkan dengan dada yang berdebar-debar. Dengan demikian Agung Sedayupun dapat mengerti, bahwa Raden Sutawijaya adalah orang yang keras hati. Apalagi ketika ia mendengar tentang beberapa orang yang berada disekitar Sultan Pajang, yang dengan cara yang licik telah melakukan usaha untuk kepentingan diri sendiri.

Tetapi kenapa Raden Sutawijaya tidak berada didekat ayahandanya Sultan Pajang, justru dalam keadaan seperti itu? pertanyaan yang serupa itupun telah mengganggu hatinya.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya berkata seterus nya. “Karena itu aku harus segera mulai. Tetapi aku tidak akan mulai dari orang-orang disekitar ayahanda Sultan di Pajang. Aku akan mulai dengan menemukan pusaka-pusaka yang hilang itu dan sekaligus menghancurkan orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit, karena aku yakin bahwa jalurnya akan sampai juga keistana Pajang. Beberapa orang petugas sandi yang aku tugaskan khusus, telah memberikan laporan yang menurut uraian dan perhitungan, bayak orang-orang di istana Pajang yang terlibat, bahkan mungkin mereka adalah pemikir-pemikirnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya bahwa Raden Sutawijaya tidak akan bertindak dengan tergesa-gesa Tetapi akupun percaya bahwa Raden Sutawijaya bukan seorang yang tidak melihat perkembangan peristiwa dan keadaan.”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya singkat, “dan kedatanganku menemui Kiai diantaranya juga dalam usaha penyelesaian itu. Aku tidak mengatakannya di Sangkal Putung karena suasananya tidak memungkinkan. Tetapi aku yakin bahwa Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Swandaru masih akan tetap bersedia membantuku. Khususnya menghadapi orang-orang yang menyebut dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu.”

Kiai Gringsing mengangguk. Jawabnya, “Percayalah Raden. Untuk menghadapi mereka, aku akan berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuanku. Mudah-mudahan yang akan kami lakukan itu cukup berarti bagi Raden.”

“Tentu Kiai,“ berkata Raden Sutawijaya, “aku tidak dapat berhubungan dengan Untara, karena aku tidak mengetahui dengan pasti jalur apakah yang telah mengikatnya didalam lingkungan keprajuritan Pajang. Meskipun demikian aku tahu pasti, bahwa Untara adalah seorang yang setia akan kewajibannya. Ia adalah prajurit Pajang yang sangat baik. Tetapi justru itulah sulitlah bagiku untuk melakukan usaha yang dapat membawanya bekerja bersama dengan Mataram meskipun dalam persoalan yang khusus.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk.

“Karena itulah, aku mengharap bantuan Swandaru tegasnya Sangkal Putung dari arah ini, meskipun jika kita mulai, kita harus menghindari pengawasan Untara. Harapan yang sama juga akan aku sampaikan kepada Ki Gede di Menoreh. Kedua daerah itu akan merupakan kekuatan penyumbat lembah antara lereng Merbabu dan Merapi. Kamilah yang akan memasuki lembah itu dan menghancurkan mereka pada saatnya nanti. Tetapi kami harus meyakinkan diri, bahwa yang kami lakukan itu akan menguntungkan, dan menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang itu.”

Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Agung Sedayu tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi dari sorot mata mereka, Ki Juru Martani dapat menangkap, bahwa mereka tidak berkeberatan untuk ikut membantunya.

Sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing memang merasa wajib untuk setidak-tidaknya ikut mengetahui, siapakah yang berdiri dibelakang kegiatan yang dapat mengguncangkan sendi-sendi pemerintahan, baik Pajang maupun Mataram. Bahkan dalam keadaan yang paling parah, maka kekuatan itu benar-benar akan berhasil membenturkan Mataram atas Pajang. Sifat keras hati Raden Sutawijaya yang kurang menguntungkan bagi pendekatan antara anak muda itu dengan ayahandanya, benar-benar telah mencemaskan orang-orang tua.

“Kiai,“ berkata Raden Sutawijaya kemudian, “baiklah aku berterus terang. Tanpa Kiai, Ki Waskita dan kekuatan murid-murid Kiai beserta para pengawal Sangkal Putung. maka kami akan mengalami kesulitan. Karena itu, kami mohon Kiai dapat memberikan bantuan itu. Seperti yang aku katakan, aku mengharap agar kekuatan dari Sangkal Putung menyumbat mulut lembah itu dari arah Timur sedangkan Tanah Perdikan Menoreh dari arah Barat. Jika tidak berkeberatan, kedua kekuatan itu kami minta perlahan-lahan memasuki lembah itu semakin dalam, agar kesempatan bergerak orang-orang yang akan membicarakan bangkitnya Majapahit itu semakin sempit.”

“Baiklah angger,“ berkata Kiai Gringsing, “aku harap aku dapat meyakinkan Ki Demang Sangkal Putung. Tetapi aku kira, Sangkal Putung tidak akan berkeberatan. Karena perjuangan itu bukannya sekedar perjuangan dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, tetapi juga akan sangat berpengaruh bagi perkembangan dan pertumbuhan kekuasaan diatas Tanah ini.”

Raden Sutawijaya memandang wajah Ki Juru sejenak. Nampak sekilas harapan diwajah orang tua itu, seolah-olah ingin mengatakan bahwa Kiai Gringsingpun sebenarnya mempunyai kepentingan khusus dengan orang-orang yang mengaku dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu.

“Kiai,“ berkata Raden Sutawijaya, “yang aku katakan sekarang ini adalah suatu pemberitahuan, bahwa kita semuanya harus mulai mempersiapkan diri. Kami masih akan mengadakan penyelidikan lebih jauh. Seterusnya kami akan selalu berhubungan meskipun bukan aku sendiri yang akan datang kemari.”

“Baiklah Raden,” jawab Kiai Gringsing, “aku akan melakukan sesuatu disini. Tetapi mungkin karena ketidak tenanganku. aku juga sekali sekali ingin melihat perkembangan langsung dilembah itu.”

“Tentu saja aku akan berterima kasih Kiai. Karena yang akan Kiai lakukan itupun akan sangat menguntungkan Mataram. Mudah-mudahan kami dapat menemukan sesuatu yang berharga. Pusaka-Pusaka itu dan orang-orang yang sampai saat ini justru telah menggoyahkan kekuasaan ayahanda di Pajang, lewat perbuatan dan tindakan-tindakan yang licik sekali, diluar kesadaran ayahanda sendiri.”

Untuk beberapa saat mereka masih membicarakan persoalan persoalan yang lebih terperinci. Namun pada pokoknya, mereka akan bersama sama memecahkan persoalan pusaka yang hilang sekaligus tentang orang-orang yang merasa dirinya masih harus mewarisi kerajaan dan kejayaan Majapahit. Tetapi lebih dari itu, Sutawijaya selalu merasa terganggu oleh orang-orang yang ada disekitar ayahandanya, yang justru tidak menguntungkan sikap dan wibawanya dalam keseluruhan, tetapi justru telah menjerumuskan kedalam kesulitan.

Meskipun dalam hal itu Sutawijaya yakin, bahwa ada beberapa orang Adipati yang sama sekali tidak menyetujui sikapnya. Bahkan ada yang dengan serta merta mohon ijin kepada Sultan Hadiwijaya untuk menghancurkan Mataram sebelum besar, karena ada tanda-tanda bahwa Mataram akan memberontak, yang ternyata dari sikap Raden Sutawijaya yang tidak mau menghadap dipaseban, namun Sutawijaya sudah mempersiapkan diri.

“Asal bukan Pajang sendiri langsung menyerang Mataram, maka Mataram tidak akan dapat digoyahkan,“ berkata Raden Sutawijaya.

Tetapi keyakinan itu sebenarnya masih belum lengkap. Mataram masih belum memiliki jumlah pasukan yang cukup banyak meskipun secara pribadi pengawal-pengawal di Mataram memiliki kemampuan seorang prajurit pilihan. Jika dua orang Adipati bergabung dan mendapat ijin dari Sultan atas namanya mempersempit kekuasaan Mataram maka Mataram akan mengalami kesulitan.

Namun keragu-raguan atas kepemimpinan Sultan Pajang yang mulai berkembang agaknya telah menyentuh hati setiap Adipati. Masih ada kesetiaan diantara mereka. Namun mereka mulai ragu-ragu bahwa Pajang tidak akan dapat lagi diharapkan dihari depannya. Para Adipati itu mengenal sikap dan pribadi Pangeran Benawa. Satu-satunya putera yang berhak mewarisi kerajaan dan pemerintahan Pajang. Tetapi nampaknya perhatian Pangeran Benawa tidak tertuju kepada pemerintahan. Ia lebih suka menyepi dan kadang-kadang berada dalam lingkungan para ulama. Nampaknya meskipun ia masih berusia muda, ia lebih senang hidup dalam ketenangan batin daripada digelitik oleh kesibukan pemerintahan yang rumit

Ia seorang yang luar biasa setiap orang memujinya, dalam usia mudanya, ia telah mewarisi semua ilmu kanuragan yang ada pada ayahandanya. Bahkan ia termasuk orang yang aneh, yang dapat menyadap ilmu yang betapapun sulitnya dalam waktu yang sangat pendek. Tetapi seolah-oleh ia tidak mempunyai minat pada ilmu-ilmunya. Seolah-olah dengan terpaksa karena kewajiban seorang putera Sultan sajalah ia mempelajari ilmu ilmu itu. Namun kemudian yang didambakannya adalah ketenangan hidup yang sebenarnya. Kedamaian hati dan ketenteraman rohaniah.

Karena itulah, maka seakan-akan ia tidak menghiraukan yang terjadi diistana.

Seperti Raden Sutawijaya, sebenarnyalah Pangeran Benawa telah dikecewakan oleh sikap ayahnya yang terlalu mudah disentuh oleh kecantikan wajah gadis-gadis muda. Namun dalam bentuk dan ujud yang lain sesuai dengan kepribadiannya.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani masih berada di padepokan itu utuk sehari. Mereka telah bersepakat, dipagi harinya, mereka akan meninggalkan padepokan kecil itu kembali ke Mataram.

“Kita harus segera mulai, agar kita tidak terlambat,“ berkata Raden Sutawijaya.

Saat-saat yang tersisa, kemudan dipergunakan oleh Raden Sutawijaya untuk melihat-lihat padepokan itu. Bahkan iapun berkata kepada Agung Sedayu. “Kita berjalan-jalan kesawah dan ladangmu.”

Agung Sedayu tidak menolak. Merekapun kemudian berjalan-jalan menyusuri jalan ditengah-tengah daerah persawahan.

Raden Sutawijaya merasa kagum juga melihat hasil kerja Agung Sedayu. Parit-parit yang membujur lintang diantara tanaman yang hijau. Lorong-lorong yang panjang dan beberapa batang pohon pelindung dipinggir jalan.

Kedua anak muda itu berjalan sambil berbincang. Mula-mula tentang masa depan Mataram dan sekitarnya dalam hubungannya dengan Pajang. Namun kemudian sampai juga kepada kemampuan yang telah dicapai oleh Agung Sedayu.

“Aku tidak mendapatkan kemajuan apapun juga selama ini selain kecakapan memelihara sawah dan ladang ini,“ berkata Agung Sedayu.

Raden Sutawijaya yang telah mengenal sifat-sifatnya hanya tertawa saja. Anak muda yang rendah hati ini memang jauh berbeda dengan saudara seperguruannya, meskipun Raden Sutawijaya yakin bahwa Agung Sedayu telah mencapai satu tingkatan yang tidak kalah dari Swandaru.

“Agung Sedayu,“ berkata Raden Sutawijaya, “di Sangkal Putung aku telah dipaksa untuk menunjukkan kelebihanku dari Swandaru. Sebenarnya aku agak malu mengingatnya. Tetapi aku tidak mempunyai cara lain untuk meyakinkan Swandaru.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Dan kini aku sebenarnya ingin juga melihat kemampuanmu. Aku sama sekali bukannya hendak menjajagi ilmumu atau mau mengukur apakah kau pantas atau tidak menjadi seorang Senapati atau dengan maksud-maksud lain. Aku benar-benar ingin sekedar mengetahuinya.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Tidak banyak berarti Raden. Yang aku miliki pernah Raden ketahui. Masih seperti itu. Mungkin ada juga peningkatan. Tetapi sedikit sekali. Dan itu tidak berarti apa-apa. sehingga karena itu, maka aku kira tidak ada gunanya aku pamerkan dihadapan Raden.“

Raden Sutawijaya tersenyum pula Ia memang sudah menduga, bahwa tidak mudah memaksa Agung Sedayu untuk menunjukkan ilmunya dengan cara apapun juga.

Untuk beberapa saat mereka berjalan jalan melintasi bulak-bulak yang tidak begitu panjang. Mereka melihat juga ladang yang mulai ditanami pohon buah-buahan. Bukan saja pategalan Agung Sedayu yang diterimanya dari Untara, tetapi daerah pategalan baru yang dibukanya bersama-sama tanah persawahan dari hutan yang lebat.

Setelah mereka melingkari semua sudut tanah yang telah dibuka oleh Agung Sedayu, maka keduanyapun kemudian kembali kepadepokan. Raden Sutawijaya terasa sangat kecewa bahwa ia tidak dapat melihat tingkat kemajuan ilmu Agung Sedayu meskipun ia benar-benar hanya sekedar ingin mengetahuinya.

“Swandaru telah mencapai kemajuan yang pesat. Bahkan ia mampu menggoyahkan ilmuku, aji Tameng Waja. Jika Agung Sedayu tidak dapat mencapai tingkat yang sama dengan Swandaru, maka Swandaru tentu akan merasa dirinya lebih penting lagi dan bertindak kurang bijaksana atas kakak seperguruannya yang akan menjadi adik iparnya itu,“ katanya didalam hati.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak mengatakannya kepada siapapun. Juga tidak kepada Agung Sedayu.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya masih bermalam dipadepokan itu sebelum pada pagi harinya, seperti yang direncanakannya, meninggalkan padepokan itu kembali ke Mataram.

“Mudah-mudahan semuanya segera dapat aku selesaikan,“ berkata Raden Sutawijaya saat ia minta diri, “jika masalah pusaka-pusaka yang hilang dan orang-orang yang mengaku keturunan Majapahit itu sudah aku selesaikan, maka aku akan dapat memusatkan perhatianku terhadap perkembangan Pajang. Keadaan ayahanda Sultan memang menjadi semakin gawat sedang adimas Pangeran Benawa agaknya tidak menghiraukannya sama sekali.”

Ki Juru Martani menarik nafas. Ia kadang-kadang sulit mengerti pikiran anak-anak muda. Raden Sutawijaya dapat menyalahkan Pangeran Benawa yang kurang memperhatikan jalur pemerintahan dan keadaan ayahandanya yang dikelilingi oleh orang-orang yang sulit dibedakan antara mereka yang benar-benar setia dengan jujur, para penjilat, dan bahkan orang-orang yang dengan sengaja akan menjerumuskannya, sementara dirinya sendiri tidak langsung ikut serta membantu memecahkan kesulitan yang kurang disadari oleh Sultan Hadiwijaya itu.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya dan KiJuru Martani pun meninggalkan padepokan itu ketika Matahari mulai memanjat langit. Sekali-sekali keduanya masih berpaling. Dengan nada datar Ki Juru berkata, “Anak yang rendah hati. Ia mulai dari permulaan sekali. Sebuah Padepokan kecil. Tetapi nampaknya padepokan itu cukup tenang dan mempunyai harapan.”

“Sebenarnya padepokan itu kurang menguntungkan bagi Agung Sedayu,” sahut Raden Sutawijaya umurnya yang masih muda telah terkungkung dalam ikatan daerah yang sempit Sawah, ladang dan padepokannya itu.” ia berhenti sejenak, lalu, “sebenarnya ada jalan yang lebih baik bagi Agung Sedayu untuk mencapai sesuatu dimasa depanya. Ia memiliki ilmu yang cukup, cerdas dan memiliki tanggapan yang tajam. Namun ia lebih senang berada ditempat yang terasing.”

“Itu adalah watak dan sifatnya. Agaknya sifat gurunya yang lebih senang hidup tersembunyi itu menemukan persesuaian dihati anak muda itu.” berkata Ki Juru kemudian.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Namun dari bibirnya terloncat, “Sayang Ia menyia-nyiakan hari harinya dimasa muda.”

Ki Juru Martani tidak menyahut. Ia menyadari bahwa anggapan Raden Sutawijaya itu lebih banyak tertuju kepada Agung Sedayu sesuai dengan sifat dan wataknya sendiri. Raden Sutawijaya adalah seorang yang sejak masa anak-anaknya dipengaruhi oleh lingkungannya. Ia a dalah putera angkat Sultan Hadiwijaya. sehingga ia mengenal segi-segi pemerintahan dan bahkan kemudian menjadi sebagian besar dari seluruh hidupnya.

Selebihnya, karena Raden Sutawijaya menginginkan agar Agung Sedayu dengan tegas berada didalam lingkungannya. Lingkungan para pengawal di Mataram.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak dapat mengatakannya berterus terang kepada Agung Sedayu. Ia masih belum tahu pasti, apakah yang sebenarnya dikehendaki oleh anak muda itu dan gurunya. Bagi Raden Sutawijaya ternyata Swandaru lebih mudah dapat dikuasainya daripada murid Kiai Gringsing yang seorang lagi itu. Bahkan tingkat ilmu yang sebenarnyapun Raden Sutawijaya tidak berhasil mengetahuinya.

Dalam pada itu, sepeninggal Raden Sutawijaya, Dibagian belakang dari padepokan itu, Glagah Putih menemui Agung Sedayu dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya tentang Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram.

“Ia anak muda yang baik,“ jawab Agung Sedayu.

“Tetapi sikapnya saat kakang datang, benar-benar membingungkan aku.”

“Ia hanya bergurau,“ Agung Sedayu tertawa.

“Tentu tidak. Meskipun aku sadar, bahwa ia tidak bersungguh-sungguh. Aku menyesal akan sikapku.”

“Ia tidak marah. Sikapmu adalah sikap yang wajar.”

“Wajar?”

“Wajar bagi anak semuda kau dan dalam luapan perasaan yang tidak terkendali. Hal itu menjadi pengalaman yang baik bagimu. Lain kali kau akan menjadi berhati-hati menanggapi peristiwa-peristiwa yang masih kabur dan kurang meyakinkan. Nah, bukankah kau lihat, bahwa ia tidak berbuat apa-apa meskipun aku tidak melayaninya?”

“Ya.“ namun kemudian Glagah Putih menjadi ragu-ragu, “tetapi apakah Raden Sutawijaya benar-benar memiliki ilmu yang lebih tinggi dari kakang?”

“Tentu. Tentu. Kau harus yakin seperti aku yakin.” Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Apakah kakang mau menceriterakan serba sedikit tentang Mataram ?”

“Tentu,“ jawab Agung Sedayu yang kemudian mulai bercerita tentang Mataram, “Raden Sutawijaya dan usahanya membuka hutan yang lebat dan menjadikannya sebuah negeri yang ramai dan kuat.”

“O,“ desis Glagah Putih, “jika demikian, kenapa kita tidak membuka hutan lebih luas dan menjadikannya sebuah negeri ? “

Agung Sedayu tertawa. Jawabnya, “Ada bermacam-macam unsur yang dapat menjadikan sebuah hutan yang lebar menjadi sebuah negeri. Alas Mentaok telah diberikan oleh Sultan Pajang kepada putera angkatnya itu. Dan Alas Mentaok adalah hutan yang besar dan luas. Beberapa puluh kali lebih luas dari seluruh Kademangan Jati Anom.”

Glagah Putih mengangguk-angguk pula. Ia mencoba membayangkan hutan yang luas itu telah menjadi sebuah negeri.

“Tentu memerlukan waktu dan tenaga yang tidak terkira,” katanya.

“Ya. Usaha Raden Sutawijaya itu berlangsung untuk waktu yang lama dan tenaga yang tidak tanggung-tanggung. Tetapi Raden Sutawijaya adalah putera Sultan Hadiwijaya. Apalagi sebelumnya setiap orang mengetahui, bahwa dalam perselisihan antara Pajang dan Jipang, Raden Sutawijaya seakan-akan telah berhasil menentukan sikap penyelesaian dengan gugurnya Arya Penangsang. Dengan demikian, maka banyak orang yang mempercayainya dan bersedia dengan suka rela ikut serta membuka hutan dan menjadikannya sebuah negeri. Bahkan beberapa kelompok prajurit Pajang telah menyatakan keinginannya untuk mengikutinya dan langsung menjadi pengawal Tanah Mataram.”

Glagah Putih mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Jadi Sultan Pajang telah merestui usaha Raden Sutawijaya itu kakang?”

“Ya. Benar-benar merestuinya. Bukan sedekar karena ia merasa wajib berbuat demikian. Pertanda yang pasti adalah penyerahan beberapa pusaka terpenting dari Pajang kepada Mataram.”

Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi ia mulai mencoba mengerti, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Namun kebingungannya masih memaksanya untuk bertanya, “Kakang. Tetapi kenapa beberapa orang prajurit Pajang tidak menyukai perkembangan Mataram sekarang ini?”

“Siapa yang mengatakannya?”

Glagah Putih menjadi agak bingung. Namun kemudian jawabnya, “Aku hanya mendengar beberapa orang mengatakannya demikian.”

“Sudahlah. Pada saatnya kau akan mendengar lebih banyak dan lebih jelas dari ayahmu dan mungkin dari kakang Untara. Tetapi kau harus mendengar pula imbangan keterangan dari orang lain. Tetapi jangan pikirkan sekarang.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi tentang Mataram dan tentang Raden Sutawijaya.

Sementara itu dipendapa padepokan kecil itu, Kiai Gringsing dan Ki Waskitapun sedang bercakap-cakap pula. Mereka mencoba menilai sikap Raden Sutawijaya yang semakin lama menjadi semakin jelas.

“Aku kurang sependapat dengan sikapnya Kiai,” berkata Ki Waskita, “seharusnya ia tidak melepaskan diri dari istana Pajang yang menurut pendapatnya sendiri sedang diamuk oleh sikap dan nafsu beberapa orang bagi kepentingan pribadi.”

Kiai Gringsing menarik nafas panjang.

“Aku sependapat sepenuhnya dengan Ki Juru,“ berkata Ki Waskita seterusnya, “tetapi bukan sekedar menyerahkan persoalannya kepada Raden Sutawijaya, namun Ki Juru harus menekan anak muda itu dengan segala pengaruhnya agar ia mau datang menghadap Sultan Pajang dan kemudian mengambil langkah-langkah penyelamatan diistana Pajang itu sendiri.”

Kiai Gringsing memandang Ki Waskita sekilas. Kemudian dilontarkannya kekejauhan. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Ki Juru sudah mencobanya. Tetapi Ki Juru tidak berhasil.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Kiai, sebenarnya aku masih belum dapat mengerti sikap dan pendapat Raden Sutawijaya menghadap Pajang. Kebenciannya kepada orang-orang yang diduganya akan dapat menggoyahkan pemerintahan telah menjauhkannya dari ayahandanya, justru saat ayahandanya sangat memerlukannya.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu. “Kiai. Apakah sikap itu tidak bersangkut paut dengan sikap ayahanda Raden Sutawijaya, Ki Gede Pemanahan, yang meninggalkan kedudukannya di istana Pajang sebagai tekanan agar Alas Mentaok segera diserahkan. Dimulai dari sikap itulah maka Raden Sutawijaya merasa segan untuk pada suatu saat menghadap kembali keistana. Dan itulah yang membuat ayahandanya Ki Gede Pemanahan menjadi sangat berprihatin.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya, “Itu adalah salah satu sebab. Tetapi ada beberapa sebab yang lain.”

Ki Waskitapun mengangguk-angguk pula. Ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kiai Gringsing. Namun karena itu, maka ia tidak bertanya lebih lanjut.

Tetepi dengan demikian Kiai Gringsing dapat meraba tanggapan Ki Waskita atas anak muda yang bernama Raden Sutawijaya dan bergelar Senopati Ing Ngalaga itu. Agaknya ia tidak senang terhadap sikapnya yang seakan-akan telah menentang ayahanda angkatnya sekaligus guru dan rajanya menurut istilah Ki Juru Martani. Namun Ki Waskita tidak dapat mengatakannya. Dalam pada itu, maka pembicaraan kedua orangtua itupun terputus ketika mereka mendengar derap kaki kuda. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa ekor kuda muncul dihalaman. Dipaling depan dari mereka adalah Untara.

“O,” Kiai Gringsing dan Ki Waskitapun segera berdiri menyongsongnya, “marilah ngger. Silahkan naik kependapa.”

Untara yang telah meloncat turun dari kudanyapun mengangguk dalam. Setelah mengikat kudanya, maka ia-pun segera mengikuti Kiai Gringsing naik kependapa beserta Ki Waskita. Sementara ia memberikan isyarat kepada pengawal-pengawalnya untuk menunggu saja dihalaman.

“Apakah mereka tidak dipersilahkan naik?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Biar sajalah mereka menunggu Kiai. Aku tidak akan lama disini.”

“Ah. Angger Untara tidak pernah tidak tergesa-gesa. Baru saja angger datang, angger sudah menyatakan ingin pergi lagi.”

Untara tersenyum. Jawabnya, “Maaf Kiai. Mungkin terbawa oleh sikapku sejak kanak-kanak. Aku tidak pernah betah tinggal terlalu lama disuatu tempat.”

Merekapun kemudian duduk dipendapa. Sementara Agung Sedayu dan Glagah Putih yang mendengar derap kaki kuda itupun telah datang pula kependapa.

“Kakang Untara,“ Glagah Putih berdesis dibelakang Agung Sedayu.

Untara tersenyum. Sambil melambaikan tangannya ia memanggil, “Glagah Putih, kemarilah.”

Tetapi Glagah Putih masih tetap saja bersembunyi dipunggung Agung Sedayu.

“He,“ desis Agung Sedayu, “mendekatlah. Kakang Untara memanggilmu.”

Tetapi Glagah Putih masih tetap saja berada dibelakang Agung Sedayu.

“Kenapa kau memandangku seperti memandang hantu?“ bertanya Untara.

Glagah Putih hanya menundukkan kepalanya saja, sementara Agung Sedayu berkata, “Anak itu jarang-jarang bertemu dengan kakang Untara, sehingga ia nampaknya seperti seorang pemalu yang tidak pernah bertemu dengan orang lain.”

Untara tertawa. Ia memang mengenal adik sepupunya itu sebagai seorang pemalu. Itulah sebabnya maka ia tidak memaksanya. Bahkan katanya. “Baiklah. Biarlah ia bersembunyi saja di punggungmu. Mudah-mudahan ia tidak selalu berbuat demikian sampai pada masanya ia bertemu dengan seorang gadis.”

Yang mendengar kata-kata Untara itu tertawa. Jarang sekali Untara sempat berkelakar. Tetapi agaknya adik sepupunya itu memang menarik perhatiannya.

Sementara itu, setelah mereka duduk sejenak, Untarapun mulai bertanya kepada Agung Sedayu sesuai dengan kepentingannya datang ke padepokan itu, “Sedayu, apakah Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani telah datang kepadepokan ini, atau bahkan sekarang masih berada disini?”

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 16:37  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-3/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ha ha ha ha, Ki Jebeng betul2 hebat. Kok tau aja yang dibagikan Ki GD BTL, alias Bantuan Langsung Tunai.
    Hatur nuhuuuun Ki GD.
    Ki Truno Podang

  2. Dalam proses ngunduh matur nuwun Ki Gede…

  3. Beberapa gambar di Kitab 102 tampaknya spoiler, terlihat di sana beberapa adegan yang belum terceritakan di kitab teresebut gambarnya telah ada, misalnya saat Sutawijaya mengetrapkan aji Tameng Waja ketika menerima pukulan Swandaru….
    Hmm…jadi nggak sabar menunggu kitab 103.
    Sampun mboten sabar Ki GD

  4. Iya masaryo, wangsit doang …tapi donlotnya susah …target filenya terlalu samar-samar…

  5. Hahahahaha…thanks Ki GD…
    Ternyata para telik sandi Ki Gede banyak sekali bertebaran….cuma mata awam cantrik saja yang kurang awas….dan segera mereka muncul setelah tahu banyak yang membutuhkan bantuan langsung tunai…

    Terimakasih…

  6. 103 nya sudah saya unduh dengan speedy juga, 2,32 MB, kata-kata pertamanya : orang-orang
    Makasih ki GD

  7. Wo…jian Ki GD pinter tenan.
    Begitu komentar di atas di submit, begitu ngecek ke ‘halaman 2’ begitu nongol, begitu asyik, begitu download…
    Wah…tararengkyu….Ki GD

  8. lho.. lho.. lho….
    Kok.. tiba-tiba sudah terdownload. 😉

    감사합니다 (Kamsahamida) Ki Gede.

  9. trimakasih BLT nya Ki GD

  10. Terima kasih Ki GeDe…rencana mau lihat2 dan baca2 coment, kok tahu2 diparingi kitab.
    Terima kasih…terima kasih

  11. alhamdulillah…. hatur nuhun ki gede….

  12. Ketika Ki Wakarimasen iseng iseng melemparkan mata kursor ke angka dua di halaman ini, dengan teriak kegirangan dia terkejut.

    Karena ternyata diujung mata kursornya telah tertempel lontar 103.

    Wah, siang ini sungguh beruntung. Baru ikut berdiri di antrian sejenak sudah mendapatkan salinan lontar.

    “Arigato Sensei….,” ucapnya sambil menjura dalam dalam.

    Segera salinan lontar itu pun dikerubungi oleh Ki Wakarimasen, Ki Sam Ja Ne Hi dan Ki Wo Pu Ce Tau….

  13. Matur nuwun sanget Ki GD..
    Kitabnya sudah tak sedott..

  14. Matur nuwun, Ki GD.

    Menawi angsal, langsung kulo pesen nggih.

    Angsal mboten, Ki?

  15. Ngecek untuk ke-4 kalinya dan langsung dapet..
    matur suwun Ki GD..
    sekarang tak ikut ngantri ke kitab 104 dech.. 🙂

  16. Matur thank you Ki GD

  17. Hahahaha,.. makin kesini makin penuh kejutan,..

  18. SurPRiSeD……HaaaAa padahal sudah siAp siap mengeluarkan jurus …… TerNyata?????

  19. Bangun tidur sudah dihidangkan kitab 103.
    Enak tenan mbaca sambil nyruput kopi panas, merokok dan lesehan.

    GRACIAS Ki GD!!!

  20. nunggu pencerahan dari ki waskita dulu, ada apa gerangan dengan kitab 103

  21. Wah….!!! (kaget)

    Dua hari absen, langsung diberi kejutan oleh BTL kitab 103.

    Trimakasih ki Gede.

  22. Terima kasih banyak ki GD…

  23. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, sawahe lemu-lemu
    yayakkee…. !

    Ki Wiro_Gerong

  24. parine lemu-lemu ding!

    Ki Wiro_Gerong

  25. Raden Sutawijaya lali matrapke ajiaan,
    suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

    malah dodolan Tameng Wajan, elu jual gue beli.

    • hihaaaa elu juwal ngga ada yang beli, wong ki kartu ngasi gratis je

      • Untuk kalangan sendiri…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: