Buku II-3

Raden Sutawijaya dan Ki Juru masih memperhatikan halaman itu beberapa saat. Sementara Kiai Gringsing menambatkan kudanya pada patok bambu yang sudah dibuat oleh Glagah Putih.

“Apakah Agung Sedayu tidak ada dipadepokan?“ bertanya Raden Sutawijaya tiba-tiba.

“Ia masih berada disawah Raden. Tetapi sebentar lagi ia tentu akan segera pulang,” jawab Ki Waskita.

“Sampai menjelang senja?”

“Kadang-kadang memang demikian. Apalagi pada masa-masa tanaman padi memerlukan air dan menyiangi.”

“Sendiri?”

“Tidak. Dengan Glagah Putih dan beberapa orang kawan.”

“Glagah Putih?”

“Putera Ki Widura. Ia berada dipadepokan kecil ini pula.”

Sutawijaya mengangguk-angguk. Agaknya padepokan kecil ini mempunyai nafas yang jauh berbeda dengan Kademangan Sangkal Putung, sehingga Raden Sutawijayapun dapat membayangkan, bahwa tata kehidupan dari kedua murid Kiai Gringsingpun tentu akan mengalami perbedaan yang besar yang langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi pandangan hidup mereka.

Sejenak kemudian maka Raden Sutawijaya, Ki Juru dan Kiai Gringsingpun telah duduk dipendapa, sementara Ki Waskita pergi kebelakang menyalakan api perapian dan menjerang air. Pekerjaan yang tidak pernah dilakukan dirumahnya, karena ia adalah orang yang cukup berada dan mempunyai beberapa orang pelayan. Tetapi dipadepokan kecil dan terpisah itu, ia mengerjakan apa saja seperti juga Kiai Gringsing dan penghuni-penghuninya yang lain.

Ketika api sudah menyala, maka ditinggalkannya air yang sedang dijerang itu untuk ikut menemui tamu-tamunya dari Mataram.

“Sebentar lagi Agung Sedayu tentu akan datang,“ katanya didalam hati, “biar ia sajalah atau Glagah Putih membuat minuman untuk tamu-tamu itu jika air sudah mendidih.”

Sejenak mereka saling memperbincangkan keselamatan masing-masing. Kemudian pembicaraan itupun merambat kepada persoalan-persoalan padepokan kecil itu, sejak saat-saat dibangun sampai saat terakhir, dimana dedaunan sudah menjadi hijau rimbun, dan bahkan batang pohon buah buahan yang sudah berbunga.

“Tanah ini adalah tanah pategalan,“ Kiai Gringsing menerangkan, “sehingga pohon buah-buahan itu memang sudah ada sejak padepokan ini mulai dibangun.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk.

“Tanah pategalan ini adalah tanah peninggalan Ki Sadewa seijin Untara. Bahkan ia menjadi berbesar hati bahwa adiknya telah mulai dengan suatu cara hidup yang baru.”

Raden Sutawijaya ternyata sangat tertarik kepada isi padepokan itu. Tidak jemu-jemunya ia memandang berkeliling. Memandangi pohon buah-buahan dan rumpun pohon bunga-bungaan.

“Menyenangkan sekali,” desisnya beberapa kali. Namun kemudian ia bertanya dengan dahi berkerut, “Kapan Agung Sedayu kembali?”

“Sebentar lagi,“ jawab Ki Waskita, “ia tentu sudah berada di perjalanan.”

“Sampai petang?” suara Raden Sutawijaya berubah.

Ki Waskita menggeleng, “Tidak Raden. Ia akan segera datang. Sebelum senja.”

Wajah Kiai Gringsing menjadi tegang. Sementara Ki Waskitapun bertanya didalam hatinya akan sikap Sutawijaya yang tidak diketahui maksudnya itu.

Tiba-tiba saja suasana dipendapa itu telah berubah. Raden Sutawijaya nampak gelisah dan kurang tenang. Setiap kali ia memandang regol padepokan, seolah-olah ia tidak sabar lagi menunggu kedatangan Agung Sedayu.

Ki Juru Martanipun telah menjadi gelisah pula karenanya. Beberapa kali ia mencoba memancing pembicaraan untuk menarik perhatian Raden Sutawijaya. Tetapi ia tidak berhasil, karena setiap kali Sutawijaya kembali merenungi regol dengan wajah yang tegang.

Kiai Grigsing yang menjadi gelisah pula tidak sempat memberitahukan kepada Ki Waskita apakah yang telah terjadi di Sangkal Putung. Karena itu, kegelisahannya itupun telah membuat Ki Waskita bertanya-tanya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu memang sedang dalam perjalanan kembali dari sawah bersama Glagah Putih dan kawan-kawannya yang lain. Wajah mereka nampak cerah secerah harapan yang membersit dihati tentang sawah dan ladang mereka. Tanaman mereka nampak hijau subur dan paritpun rasa-rasanya tidak akan pernah kering jika tidak terjadi kemarau yang sangat panjang sehingga arus sungai menjadi sangat kecil.

“Jika masih ada orang yang membuka tanah baru, maka parit itu memerlukan perhatian,” berkata Glagah Putih.

“Ya. Bendungan itu harus diperbaiki. Sampai sekarang, air dari parit itu sudah terasa cukup. Tetapi jika kebutuhan air bertambah, maka parit itu memang memerlukan tambahan air,“ jawab Agung Sedayu. Lalu. “tetapi untuk sementara Ki Demang sudah menghentikan pembukaan tanah baru karena dipandang sudah cukup. Kitapun untuk sementara tak memerlukan lagi.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi pada suatu saat jumlah penduduk akan bertambah-tambah.”

“Kita akan membuka tanah baru. Itulah agaknya, maka sekarang Ki Demang tidak memberikan kesempatan lagi, agar pada suatu saat kita tidak akan terjepit oleh kesempitan.”

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Tetapi sambil mengamati hutan yang masih cukup luas ia membayangkan masa-masa mendatang, bahwa hutan itu akan menjadi semakin sempit karena tanah persawahan menjadi semakin luas.

Kawan-kawannya yang lain berjalan dibelakang Agung Sedayu dan Glagah Putih sambil menjinjing gendi dan keranjang kecil tempat mereka membawa bekal makanan dan minuman kesawah. Tetapi gendi dan keranjang kecil itu telah kosong.

Dalam pada itu, maka merekapun berjalan tanpa menghiraukan bahwa matahari telah menjadi semakin rendah, dan bahkan telah bertengger dipunggung Gunung. Sebentar lagi matahari itu akan terbenam, dan langitpun akan menjadi kelabu. Mereka berjalan seperti tidak ada kebutuhan lagi yang harus mereka lakukan. Seenaknya. Bukan saja karena mereka memang sudah lelah oleh kerja disawah, tetapi merekapun merasa bahwa kerja mereka sehari itu sudah selesai.

Karena mereka tidak menyadari, bahwa Raden Sutawijaya menunggu dengan gelisah dipendapa padepokan kecilnya, maka Agung Sedayu dan kawan-kawannya masih sempat singgah dan turun kesebuah sungai kecil. Mereka sempat membersihkan alat-alat yang mereka bawa dan kemudian mandi disebuah pancuran dipinggir sungai itu. Pancuran yang menyalurkan air dari sebuah belik kecil di bawah sebatang pohon preh yang besar.

Badan mereka yang lelah dan kehitam-hitaman disengat cahaya matahari hampir sehari penuh, telah terasa menjadi segar kembali. Wajah-wajah mereka yang memang cerah, nampak menjadi semakin cerah oleh segarnya air pancuran.

Tetapi mataharipun menjadi semakin rendah. Dan langit menjadi semakin merah menjelang senja.

“Ki Waskita tentu sudah menunggu,“ desis Glagah Putih.

“Ya,“ jawab Agung Sedayu. Aku masih harus menanak nasi,“ desis kawannya yang lain.

Merekapun kemudian naik tanggul sungai kecil itu dan berjalan semakin cepat pulang, setelah badan mereka terasa menjadi semakin segar.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya menjadi semakin gelisah. Ia tidak lagi duduk dipendapa, tetapi ia sudah berdiri dan turun kehalaman.

“Kau gelisah sekali ngger,“ desis Ki Juru perlahan-lahan, “apakah sebenarnya yang kau kehendaki?”

Adalah diluar dugaan, bahwa Raden Sutawijaya menjawab dengan lantang seakan-akan dengan sengaja agar didengar oleh Kiai Gringsing dan Ki Waskita, “Aku akan menjajagi kemampuannya. Aku sudah diperlakukan demikian. Apa salahnya jika akupun berbuat demikian?”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tidak lagi menahan kegelisahannya dan bertanya kepada Kiai Gringsing, apakah yang sudah terjadi.

Dengan singkat Kiai Gringsing menceriterakan sikap Swandaru yang aneh. Meskipun Swandaru dengan jujur mengakui kekalahannya, dan nampaknya saat itu Raden Sutawijayapun memaafkannya, tetapi tiba-tiba saja sikap itu telah berubah ketika mereka berada diperjalanan. Bahkan dengan keras anak muda itu berniat untuk menjajagi kemampuan Agung Sedayu.

“Aneh sekali,“ gumam Ki Waskita.

Kiai Gringsing mengangkat bahunya. Tetapi seperti juga Ki Juru Martani, ia tidak akan dapat mencegah niat Raden Sutawijaya yang baginya juga aneh.

“Mungkin ada semacam dendam meskipun terlalu tajam jika disebut demikian,“ desis Kiai Gringsing, “dan sasarannya adalah Agung Sedayu yang tidak tahu menahu persoalannya.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi iapun hanya dapat berdebar-debar dan menunggu apa yang akan terjadi.

Dalam kegelisahan itu, Sutawijaya berjalan hilir mudik dihalaman, sementara langit menjadi bertambah buram, karena Matahari telah berada dibalik bukit.

Pada saat itulah. Agung Sedayu sampai keregol padepokannya. Dengan tanpa prasangka apapun ia melangkah memasuki regol itu bersama dengan Glagah Putih.

Namun demikian ia menginjak halaman padepokannya, maka tiba-tiba saja ia terkejut. Dengan serta merta Raden Sutawijaya berkata, “Nah, ia sudah datang. Marilah, kita akan melihat, apakah kau pantas menjadi seorang sahabat Raden Sutawijaya yang bergelar Senepati ingNgalaga.”

Langkah Agung Sedayu tertegun. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Raden, kedatangan Raden benar-benar mengejutkan aku dan tentu saja kawan-kawanku. Kami tidak menyangka bahwa kami akan mendapat kehormatan, kunjungan Raden Sutawijaya yang bergelar Senepati ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram.”

“Lupakanlah basa basi yang manapun juga. Aku datang untuk menjajagi ilmumu. Letakkan cangkul dan bersiaplah. Kita akan bertempur di halaman padepokan ini.“ Raden Sutawijaya menjawab lantang.

Agung Sedayu menjadi bingung. Dipandanginya Ki Juru, gurunya dan Ki Waskita berganti-ganti.

“Raden,“ Ki Jurulah yang kemudian bergeser mendekati Raden Sutawijaya, “anak muda itu tentu akan menjadi bingung. Ia tidak tahu menahu apa yang telah terjadi sebelumnya.”

“Persetan. Aku tidak peduli apakah ia tahu atau tidak. Tapi aku ingin mengetahui tingkat ilmunya. Sahabat Raden Sutawijaya haruslah orang-orang yang mumpuni seperti Swandaru Geni di Sangkal Putung.”

Agung Sedayu menjadi bertambah bingung. Namun kemudian Ki Juru Martani mendekatinya sambil berkata, “Maaf Agung Sedayu. Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang adik seperguruanmu.”

Agung Sedayu termangu-mangu.

“Jangan katakan kepadanya,“ geram Raden Sutawijaya, ”tidak ada gunanya ia mengerti persoalannya.”

Ki Juru menjadi bingung.

Sementara itu Raden Sutawijaya melangkah satu-satu mendekati Agung Sedayu sambil berkata lantang, “Agung Sedayu. Cepatlah. Sebelum gelap kita akan berkelahi untuk saling menjajagi ilmu kita masing-masing. Aku dengar kau sudah meningkatkan ilmumu. Karena itu, aku ingin tahu sampai dimana tingkat ilmumu sekarang, sehingga aku akan dapat mengerti apakah kau sudah pantas menjadi sahabatku dalam keadaan seperti sekarang ini.”

Agung Sedayu benar-benar tidak mengerti. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Apalagi karena gurunya, Ki Waskita dan bahkan Ki Juru Martani sendiri nampaknya juga kebingungan.

“Cepat, apakah kau takut?” bentak Raden Sutawijaya.

“Raden,“ Agung Sedayu termangu-mangu, “aku benar-benar tidak mengerti. Apakah sebenarnya yang sudah terjadi disini ?”

“Kau tentu tidak banyak berbeda dengan Swandaru. Cepat, kita akan segera mulai.”

“Aku menjadi bingung Raden. Benar-benar bingung. Kedatangan Raden di padepokan ini sudah mengejutkan aku. Apalagi tingkah laku Raden sekarang ini.”

“Cukup,“ bentak Raden Sutawijaya, “kau tentu sudah memiliki ilmu yang tinggi seperti Swandaru. Kau tentu ingin menunjukkan bahwa ilmumu sudah setingkat dengan ilmu Sutawijaya yang bergelar Senopati ing Ngalaga. Karena itu jangan berpura-pura. Kita akan berkelahi. Sampai seberapa kebenaran angan-anganmu tentang tingkat ilmumu dibandingkan dengan Raden Sutawijaya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati-hati ia menjawab, “Aku tidak mengerti. Aku sama sekali tidak merasa bahwa ilmuku sudah meningkat. Dipadepokan ini yang aku lakukan adalah bercocok tanam. Memelihara sawah dan ladang. Dan sedikit membuka hutan.”

“Nah, kau sudah mulai membuka hutan. Kau tentu tidak puas melihat perkembangan Mataram. Dan kau mencoba untuk membuka hutan sendiri dan kemudian mengembangkannya menjadi suatu negeri.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya Kiai Gringsing, seolah-olah ia ingin mendapatkan pertimbangannya. Tetapi Raden Sutawijaya seolah-olah mengetahui isi hatinya dan berkata, “Kau tidak usah menunggu pertimbangan gurumu. Lakukanlah menurut nuranimu sendiri.”

“Tetapi semua yang Raden katakan itu tidak benar. Aku membuka hutan hanya sekedar membuat tanah persawahan bagi padepokan kecil ini dengan isinya. Dan bagaimana mungkin aku berpikir, bahwa aku akan membuka sebuah negeri? Mimpipun aku tidak akan melakukannya.”

“Apa saja yang kau katakan. Tetapi cobalah menunjukkan sedikit kejantananmu. Jika kau berani berbuat sesuatu, kau tentu akan mempertanggung jawabkan.”

“Apa yang harus aku pertanggung jawabkan? Aku tidak berbuat apa-apa.”

“Aku tidak peduli. Tunjukkan peningkatkan ilmumu. Mungkin kau sudah dapat menggugurkan gunung atau mengeringkan lautan dengan sentuhan jari-jarimu. Tetapi ingat, bahwa Raden Sutawijaya bukannya kanak kanak yang kagum melihat gunung yang runtuh serta lautan yang menjadi kering.”

“Aku tidak mengerti, sungguh tidak mengerti Raden.”

“Bohong. Kau hanya berpura-pura.“

Agung Sedayu benar-benar bingung. Apalagi gurunya, Ki Waskita dan Ki Juru Martani nampaknya hanya berdiri termangu-mangu saja tanpa berbuat apa-apa.

Sementara itu. Sutawijaya yang tidak sabar menunggu lagi, telah melangkah maju beberapa langkah mendekati Agung Sedayu. Wajahnya menjadi tegang dan tangannya bagaikan hendak meremasnya.

“Cepat,“ Raden Sutawijaya berteriak, “aku tidak, mempunyai banyak waktu.”

Tetapi Agung Sedayu yang bingung sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia masih berdiri termangu-mangu sambil memandang orang-orang yang ada dihalaman itu berganti-ganti.

Ketika Raden Sutawijaya mendekat selangkah lagi, Agung Sedayu justru menjadi semakin bingung.

“Agung Sedayu,“ suara Raden Sutawijaya menjadi gemetar, “kenapa kau diam saja? Apakah kau ingin menghinaku dengan sikap dinginmu itu. Kau ingin menunjukkan bahwa kau telah menjadi kebal dan tidak lagi dapat dikenai oleh serangan apapun juga.”

“Raden menjadi semakin aneh,“ desis Agung Sedayu, “siapakah yang mengatakan bahwa aku kebal dan tidak dapat disentuh oleh serangan yang manapun juga. Aku masih tetap seperti ini. Aku selama ini tidak bertambah apa-apa, selain sedikit kemampuan mengerjakan sawah.”

“O, kau menjadi semakin sombong. Baiklah. Jika kau tidak mau berbuat apa-apa, biarlah aku mencoba kekebalanmu. Jika kau tahan pukulanku, maka aku akan berjongkok dan menyembahmu. Aku akan menyerahkan gelar Senopatiku kepadamu dengan segala macam kebesaran yang pernah aku terima.”

“Itu tidak masuk akal,” jawab Agung Sedayu dengan serta merta.

“Aku tidak peduli.”

Sutawijaya nampaknya sudah tidak sabar lagi. Ia maju semakin dekat dengan sikap yang garang, sementara Agung Sedayu masih termangu-mangu kebingungan.

Tiba-tiba dalam ketegangan itu, Glagah Putih yang tidak tahu siapakah anak muda itu sesungguhnya karena ia belum mengenalnya, meloncat maju sambil melemparkan cangkulnya. Dengan dada tengadah ia berteriak nyaring, “He anak muda yang belum aku kenal sebelumnya. Aku tidak mempunyai persoalan dengan kau. Tetapi sikapmu telah membakar hatiku. Aku tahu kau memiliki kesaktian. Tetapi jika kesaktianmu itu sekedar sebagai bekal untuk menyombongkan diri, aku akan melawanmu.”

Agung Sedayu yang melihat Glagah Putih meloncat maju. dengan tergesa-gesa menangkap lengannya. Sambil menariknya mundur ia berdesis, “Jangan Glagah Putih. Kau belum tahu, siapakah anak muda itu.”

“Aku sudah mendengar namanya dan gelarnya. Aku memang pernah mendengar tentang perkembangan atau negeri yang bernama Mataram, yang justru banyak disebut-sebut orang. Tetapi jika ternyata Mataram dipimpin oleh seorang anak muda yang sombong dan tamak, apakah artinya perkembangan Mataram itu.”

“Jangan berkata begitu. Kau belum mengetahui apapun juga tentang Mataram dan tentang pimpinannya.”

“Aku memang tidak banyak mengetahui tentang Mataram, tentang Pajang dan tentang pemimpin-pemimpinnya. Tetapi sekarang, aku sudah mengetahuinya. Ternyata kelahiran Mataram bukannya didorong oleh cita-cita seorang yang kecewa melihat Pajang yang terhenti sekarang ini, tetapi sekedar didorong oleh nafsu ketamakan yang berlebih-lebihan.”

“Glagah Putih,“ potong Agung Sedayu.

Dalam pada itu, Kai Gringsingpun dengan tergesa-gesa mendekatinya sambil berkata, “Jangan kau katakan sesuatu yang tidak kau ketahui Glagah Putih.”

“Kiai,“ Tiba-tiba saja Glagah Putih menengadahkan kepalanya, “aku adalah anak Ki Widura. Meskipun ayahku sekedar seorang prajurit kecil, tetapi ayahku dapat menyebut apa yang diketahuinya tentang Mataram dan Pajang. Ayahku mengajarkan kepadaku, bahwa aku harus mulai sekarang mencoba mempertajam penilaian dan tanggapan atas segala peristiwa yang aku hadapi. Aku tahu, bahwa yang aku hadapi bukannya yang aku pahami sekarang ini. Tetapi aku menjadi kecewa. Kecewa sekali melihat kenyataan ini. Ketika aku mendengar dari ayahku, seorang pemimpin muda dari Mataram yang rendah hati dan mumpuni, aku telah mengaguminya. Namun ketika tiba-tiba saja menantang dengan penuh kesombongan kakang Agung Sedayu yang ternyata terlalu sabar itu, hatiku benar-benar menjadi kecewa. Seperti kecewanya seseorang yang menggenggam pinggan dan terlepas jatuh diatas batu hitam. Pecah menjadi berkeping-keping.”

“Glagah Putih,“ suara Agung Sedayu tertahan. Namun ia berkata selanjutnya, “Dari mana kau dapat mengucapkan kata-kata itu. Kau masih terlampau muda. Dan itu adalah ciri kemudaan bahwa kau tidak dapat menahan diri.”

“Apakah Raden Sutawijaya itu juga masih terlalu muda? Jika ia masih terlalu muda, kenapa ia telah dianugerahi jabatan tertinggi di Mataram.”

“Tentu tidak.”

“Tetapi iapun tidak dapat menahan diri. Aku kenal kakang Agung Sedayu. Dan aku yakin bahwa kakang tidak berbohong jika kakang menyatakan bahwa kakang tidak tahu menahu tentang sikap yang aneh dari pemimpin tertinggi Mataram itu. Kakang tidak pernah berbohong dalam hal ini. Dan kakang tidak berpura-pura. Tetapi anak muda itu benar-benar kehilangan kendali dan tidak tahu diri.”

“Sudahlah. Sudahlah,“ Agung Sedayu hampir membentak, “tahanlah dirimu sedikit. Aku akan mohon penjelasan.”

“Kakang, apakah kakang masih akan berbicara? Aku kira tidak ada gunanya. Sudah berapa kali kakang mencoba berbicara dengan rendah hati. Terlalu merendahkan diri. Tetapi sama sekali tidak dihiraukannya. Apakah itu bukan berarti suatu penghinaan?”

Agung Sedayu tiba-tiba saja memeluk Glagah Putih yang masih sangat muda itu. Sambil mengusap kepalanya ia berkata, “Kau benar Glagah Putih tetapi biarlah aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku yang barangkali berbeda dengan kata hatimu.”

Agung Sedayu benar benar menjadi bingung menghadapi anak itu. Karena itulah maka iapun kemudian berkata dengan berterus terang, ”Glagah Putih, sikamu membuat aku bertambah bingung. Aku sudah hampir gila menghadapi sikap Raden Sutawijaya yang tidak aku mengerti dan terasa aneh sekali. Sekarang kau membuat aku semakin kehilangan akal.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun pengakuan itu ternyata telah menyentuh perasaan Glagah Putih sehingga iapun justru terdiam karenanya.

“Glagah Putih,“ berkata Agung Sedayu, “aku memang sedang mencoba melihat keadaan ini dengan kewajaran. Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati ing Ngalaga di Mataram itu memang seorang anak muda yang rendah hati. Ia bukan seorang yang sombong apalagi tamak dan dengki. Jika sekarang kau melihat sikap itu padanya, maka kau jangan bersikap kekanak-kanakan. Itulah yang sebenarnya aku maksudkan. Kau harus menilainya dengan sedikit cermat. Ayahmu, paman Widura telah mengatakan yang sebenarnya. Namun jika ternyata terjadi sesuatu yang lain, maka kita harus mencari sebabnya. Jangan tergesa-gesa mengambil sikap.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Dan Agung Sedayu meneruskan, “Demikianlah atas Raden Sutawijaya ini. Semula aku menyangka bahwa Raden Sutawijaya sekedar bergurau. Tetapi ternyata tidak. Dan karena tidak, justru ini telah menyimpang dari kemungkinan yang dapat terjadi atas seorang anak muda yang bergelar Senapati ing Ngalaga itu. Dan penyimpangan itulah yang harus kita cari.”

Glagah Putih mengangguk. Namun katanya, “Tetapi sikapnya benar benar menyinggung perasaan kakang.”

“Itulah yang aneh. Kenapa ia dapat melakukannya sehingga langsung menyinggung perasaan orang lain.”

Glagah Putih tidak menjawab lagi. Ketika Agung Sedayu menariknya menepi, Glagah Putih tidak menolaknya lagi. Meskipun demikian sekali-sekali ia masih berpaling memandang wajah Raden Sutawijaya yang mulai disaput oleh keremangan senja.

Sejenak orang-orang yang ada dihalaman itu termangu-mangu. Namun kemudian kesunyian itupun dipecahkan oleh suara Raden Sutawijaya, “Anak itu benar-benar memiliki sifat seorang prajurit. Jika ia anak paman Widura, maka ia akan menjadi seorang yang besar seperti bahkan melampaui ayahnya.”

Suara Raden Sutawijaya telah berubah sama sekali. Sikapnyapun telah berubah, sehingga Agung Sedayu dan terutama Glagah Putih menjadi heran. Glagah Putih menyangka bahwa Raden Sutawijaya akan marah kepadanya dan mencincangnya, tetapi ia sama sekali tidak takut menghadapi akibat apapun. Tetapi ternyata bahwa Raden Sutawijaya tidak berbuat demikian.

Ki Juru yang semula menjadi bingung dan ragu ragu menghadapi sikap anak muda itu menarik nafas dalam-dalam.

Ia mulai mengerti, apakah yang sebenarnya dihadapinya.

Dalam pada itu, keragu-raguan masih meliputi halaman padepokan kecil itu meskipun sudah mulai nampak gambaran yang mapan tentang sikap Raden Sutawijaya yang aneh itu.

Glagah Putih yang keheran-heranan itu bagaikan terbangun dari sebuah mimpi. Ia melihat sesuatu yang berbeda sekali dengan nalarnya. Raden Sutawijaya itu tidak marah. Bahkan sambil tersenyum anak muda itu berkata, “Kau akan menjadi orang besar Glagah Putih. Kau sangat yakin akan sikapmu dan uraianmu tentang persoalan yang kau hadapi ternyata melamaui kedewasaan umurmu.”

Glagah Putih termangu-mangu dalam keheranannya.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing yang berdiri termangu-mangu itupun kemudian berkata. “Tetapi marilah, silahkan duduk di pendapa. Jantung tua didalam dada ini rasa-rasanya sudah akan rontok, tetapi agaknya akulah yang terlampau bodoh.”

Sutawijaya tersenyum. Iapun kemudian mengikuti Kiai Gringsing dan Ki Juru Martani yang menuju kependapa dan kemudian duduk dalam satu lingkaran.

“Duduklah disini Glagah Putih,“ ajak Kiai Gringsing ketika ia melihat anak muda itu termangu-mangu, “biarlah kawan-kawanmu pergi ke belakang menyiapkan segala sesuatunya. Menyalakan lampu dan barangkali semangkuk minuman.”

“Aku sudah menyalakan api dan menjerang air,“ sahut Ki Waskita seakan-akan ingin pula ikut melepaskan ketegangannya, “tetapi justru karena aku terikat dihalaman, mungkin air itu belum mendidih, dan api sudah padam.”

Ki Juru tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Merekapun kemudian duduk melingkar dipendapa dengan sikap yang kaku. Namun Raden Sutawijayalah yang mulai memecahkan keseganan, “Kiai, maaf jika sikapku kali ini agak berlebih-lebihan. Aku memang sengaja ingin menjajagi perasaan Agung Sedayu. Aku mencoba membuatnya marah. Tetapi aku tidak berhasil.”

Kiai Gringsing menarik nafas.

“Ternyata ia mempunyai kelebihan daripadaku. Aku sebenarnya ingin menguji sikapku sendiri. Apakah sikapku menanggapi sikap Swandaru di Sangkal Putug itu sudah benar? Disini aku dihadapkan pada sebuah cermin. Untunglah bahwa akibatnya tidak justru meretakkan hubungan Mataram dengan Sangkal Putung, tetapi sebaliknya. Namun dihadapan Agung Sedayu aku merasa betapa kerdilnya jiwaku dihadapkan kepada kebesaran jiwanya.”

“Ah,“ Agung Sedayu menjadi tersipu-sipu.

“Tidak Raden,” jawab Kiai Gringsing, “aku kira sikap Raden sudah benar menghadapi Swandaru. Aku kira tidak ada sikap yang lebih tepat dari yang sudah Raden lakukan. Jika Raden bersikap lain, mungkin Swandaru justru tidak akan dapat menyadari, betapa kecilnya Sangkal Putung dibanding dengan kebesaran Mataram.”

“Tetapi sikap Agung Sedayu sangat mengagumkan. Ia benar-benar sudah dewasa.”

“Bagi Raden yang sudah dewasa pula. Tetapi tidak bagi Swandaru. Aku kira pada suatu saat, Swandaru pun akan menjajagi ilmu kakak sepergurunnya ini.“

Raden Sutawijaya mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk sambil berkata, “Tetapi aku dapat mengerti. Swandaru agaknya kurang yakin akan perkembangan ilmunya sehingga ia memerlukan perbandingan. Di Sangkal Putung ada Pandan Wangi. Tetapi karena Pandan Wangi justru telah menjadi isterinya, maka ia kurang mantap untuk membuat perbandingan dengan ilmunya. Swandaru tentu menyangka bahwa dalam beberapa hal Pandan Wangi tidak bersungguh-sungguh.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi iapun menyahut, “Tetapi aku sebenarnya menjadi sangat berdebar-debar. Seharusnya bukan Radenlah yang menjadi sasaran percobaan ilmunya itu.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Yang terpandang olehnya kemudian adalah Glagah Putih yang masih keheran-heranan.

Dengan singkat Kiai Gringsingpun kemudian menjelaskan kepada Glagah Putih tentang Raden Sutawijaya. Maksudnya dan juga latar belakang peristiwa yang telah terjadi di Sangkal Putung.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam.

“Aku minta maaf Raden,“ gumam Glagah Putih kemudian yang seolah-olah dapat didengarnya sendiri.

Tetapi Raden Sutawijaya mendengarnya pula. Sambil tersenyum ia menjawab, “Kau akan menjadi seorang anak muda yang perkasa. Kau tentu telah menempa diri bersama Agung Sedayu atau Kiai Gringsing dalam jalur ilmunya.”

Raden Sutawijaya menjadi heran ketika ia melihat Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Raden. Ia tidak berada dalam jalur ilmuku seperti Agung Sedayu dan Swandaru. Tetapi ia berada dalam jalur cabang perguruan Ki Sadewa.”

“He?” Raden Sutawijaya menjadi heran, “siapakah gurunya? Ki Widura atau kakang Agung Sedayu. Ki Untara?”

“Bukan salah seorang dari keduanya,“ jawab kiai Gringsing.

Raden Sutawijaya menjadi termangu-mangu. Jika Glagah Putih berada dibawah bimbingan ayahnya sendiri atau Ki Untara, maka ilmu Glagah Putih tentu tidak akan dapat melampui keduanya, karena yang dituangkan dari keduanya masih belum tuntas.

“Siapakah gurunya ? Apakah pada saat ini masih ada seseorang yang mampu menuangkan ilmu cabang perguruan Ki Sadewa dengan sempurna?”

“Tentu tidak Raden. Sejak dahulupun tidak ada seseorang yang mampu menyalurkan ilmu dengan sempurna? “ jawab Kiai Gringsing.

“O,“ Raden Sutawijaya tersenyum, “maksudku, sampai tuntas. Sempurna menurut ukuran manusiawi yang serba kekurangan.”

Kiai Gringsingpun tersenyum pula. Namun katanya kemudian, “Tidak ada seorang guru yang akan dapat memberikan bahan yang cukup kepadanya dalam jalur ilmunya yang dianutnya sekarang. Tetapi kami sedang berusaha. Dan kami mengharap bahwa Glagah Putih akan dapat mencapai suatu tingkatan yang baik baginya, jika ia tekun dan bersungguh-sungguh.”

Raden Sutawijaya memandang Glagah Putih yang menundukkan kepalanya. Tubuhnya yang agak kekurusan. Menurut ukuran wajahnya yang masih kekanak-kanakan ia termasuk anak yang bertubuh tinggi. Kejujuran yang memancar dari wajah yang masih sangat muda itu telah menarik perhatian Raden Sutawijaya.

Dalam pada itu, beberapa orang yang dibelakang masih saja sibuk menjerang air dan menyalakan lampu. Mereka memasang lampu-lampu minyak di setiap ruangan. Salah seorang dari mereka telah membawa lampu kependapa pula.

Ketika lampu sudah menyala, maka Glagah Putih menjadi semakin gelisah. Karena itu, Kiai Gringsing yang tidak ingin membuatnya bertambah gelisah lagi berkata kepadanya, “Glagah Putih, jika kau ingin kebelakang, pergilah.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia telah terbebas dari satu tugas yang sedang mengikatnya.

Anak muda itupun kemudian minta diri dan dengan tergesa-gesa pergi kebelakang, seakan-akan ia ingin segera menjauhkan diri agar keputusan Kiai Gringsing itu tidak berubah dan memanggilnya kembali kependapa.

Sementara itu, minuman panas dan ketela rebus yang hangat sudah dihidangkan dipendapa. Sambil berkelakar Kiai Gringsing mempersilahkan, “Inilah hasil padepokan kami Raden. Jika ada seorang tamu, maka kami telah mencabut satu dua batang pohon ketela dan langsung merebusnya.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Ki Juru Martanipun tersenyum pula. Katanya, “Dengan demikian maka lumbungmu adalah lumbung yang hidup Kiai.”

Kiai Gringsingpun tertawa. Kemudian dipersilahkannya Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani untuk minum dan makan makanan yang sudah dihidangkan.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 16:37  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-3/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ha ha ha ha, Ki Jebeng betul2 hebat. Kok tau aja yang dibagikan Ki GD BTL, alias Bantuan Langsung Tunai.
    Hatur nuhuuuun Ki GD.
    Ki Truno Podang

  2. Dalam proses ngunduh matur nuwun Ki Gede…

  3. Beberapa gambar di Kitab 102 tampaknya spoiler, terlihat di sana beberapa adegan yang belum terceritakan di kitab teresebut gambarnya telah ada, misalnya saat Sutawijaya mengetrapkan aji Tameng Waja ketika menerima pukulan Swandaru….
    Hmm…jadi nggak sabar menunggu kitab 103.
    Sampun mboten sabar Ki GD

  4. Iya masaryo, wangsit doang …tapi donlotnya susah …target filenya terlalu samar-samar…

  5. Hahahahaha…thanks Ki GD…
    Ternyata para telik sandi Ki Gede banyak sekali bertebaran….cuma mata awam cantrik saja yang kurang awas….dan segera mereka muncul setelah tahu banyak yang membutuhkan bantuan langsung tunai…

    Terimakasih…

  6. 103 nya sudah saya unduh dengan speedy juga, 2,32 MB, kata-kata pertamanya : orang-orang
    Makasih ki GD

  7. Wo…jian Ki GD pinter tenan.
    Begitu komentar di atas di submit, begitu ngecek ke ‘halaman 2’ begitu nongol, begitu asyik, begitu download…
    Wah…tararengkyu….Ki GD

  8. lho.. lho.. lho….
    Kok.. tiba-tiba sudah terdownload. 😉

    감사합니다 (Kamsahamida) Ki Gede.

  9. trimakasih BLT nya Ki GD

  10. Terima kasih Ki GeDe…rencana mau lihat2 dan baca2 coment, kok tahu2 diparingi kitab.
    Terima kasih…terima kasih

  11. alhamdulillah…. hatur nuhun ki gede….

  12. Ketika Ki Wakarimasen iseng iseng melemparkan mata kursor ke angka dua di halaman ini, dengan teriak kegirangan dia terkejut.

    Karena ternyata diujung mata kursornya telah tertempel lontar 103.

    Wah, siang ini sungguh beruntung. Baru ikut berdiri di antrian sejenak sudah mendapatkan salinan lontar.

    “Arigato Sensei….,” ucapnya sambil menjura dalam dalam.

    Segera salinan lontar itu pun dikerubungi oleh Ki Wakarimasen, Ki Sam Ja Ne Hi dan Ki Wo Pu Ce Tau….

  13. Matur nuwun sanget Ki GD..
    Kitabnya sudah tak sedott..

  14. Matur nuwun, Ki GD.

    Menawi angsal, langsung kulo pesen nggih.

    Angsal mboten, Ki?

  15. Ngecek untuk ke-4 kalinya dan langsung dapet..
    matur suwun Ki GD..
    sekarang tak ikut ngantri ke kitab 104 dech.. 🙂

  16. Matur thank you Ki GD

  17. Hahahaha,.. makin kesini makin penuh kejutan,..

  18. SurPRiSeD……HaaaAa padahal sudah siAp siap mengeluarkan jurus …… TerNyata?????

  19. Bangun tidur sudah dihidangkan kitab 103.
    Enak tenan mbaca sambil nyruput kopi panas, merokok dan lesehan.

    GRACIAS Ki GD!!!

  20. nunggu pencerahan dari ki waskita dulu, ada apa gerangan dengan kitab 103

  21. Wah….!!! (kaget)

    Dua hari absen, langsung diberi kejutan oleh BTL kitab 103.

    Trimakasih ki Gede.

  22. Terima kasih banyak ki GD…

  23. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, sawahe lemu-lemu
    yayakkee…. !

    Ki Wiro_Gerong

  24. parine lemu-lemu ding!

    Ki Wiro_Gerong

  25. Raden Sutawijaya lali matrapke ajiaan,
    suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

    malah dodolan Tameng Wajan, elu jual gue beli.

    • hihaaaa elu juwal ngga ada yang beli, wong ki kartu ngasi gratis je

      • Untuk kalangan sendiri…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: