Buku II-3

ORANG-orang yang berada didalam sanggar itupun menjadi tegang. Mereka mulai membayangkan apa yang bakal terjadi. Kedua anak muda itu adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga apabila keduanya tenggelam dalam arus perasaan yang tidak terkendali, maka akan terjadi perang tanding yang sangat dahsyat didalam sanggar itu.

Tetapi didalam sanggar itu ada orang-orang tua yang tentu akan dapat bertindak apabila keadaan menjadi gawat. Didalam sangar itu ada Ki Juru Martani, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang tentu tidak akan tinggal diam apabila keadaan menjadi berbahaya.

Demikianlah, sejenak kemudian Swandaru telah bersiap. Ia mulai mempersiapkan sebuah serangan. Dengan sengaja ia memperlihatkan kepada Sutawijaya, agar Sutawijaya bersiap menghadapinya.

Sejenak kemudian Swandaru telah meloncat dengan serangan kearah dada. Meskipun ia masih belum melontarkan serangannya dengan sepenuh tenaga, namun serangan itu adalah serangan yang berbahaya.

Tetapi semua orang terkejut melihat sikap Raden Sutawijaya. Ketika Swandaru meloncat menyerangnya, ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya bahkan bergerakpun tidak.

Radien Sutawijaya ternyata telah membuat perhitungan yang sangat cermat. Ia yakin bahwa pertama yang dilontarkan dengan ragu-ragu itu tentu bukannya serangan yang menentukan. Tenaga Swandaru tentu tidak seluruhnya telah dilontarkan.

Karena itulah maka Raden Sutawijaya ingin membuat kejutan untuk yang pertama kali, justru karena ia berhadapan dengan Swandaru.

Dalam benturan yang pertama Raden Sutawijaya telah dengan diam-diam mengerahkan ilmunya untuk melambari daya tahan tubuhnya. Itulah sebabnya ia tetap berdiri tegak tanpa berbuat sesuatu.

Swandaru sendiri terkejut melihat sikap Raden Sutawijaya. Sebenarnyalah bahwa ia memang belum mengerahkan segenap kekuatannya. Namun ia mengharap Raden Sutawijaya mengelak, sehingga dengan demikian maka ia telah memancing perkelahian selanjutnya.

Tetapi kini ia melihat Raden Sutawijaya itu tetap berdiri tegak ditempatnya. Tidak menghindar, tetapi juga menangkis.

Namun Swandaru sudah tidak sempat menahan serangannya. Itulah sebabnya maka serangannya itupun langsung mengenai dada Sutawijaya. Meskipun tidak dilambari dengan sepenuh kekuatan, namun setangan Swandaru adalah serangan yang kuat.

Sesaat kemudian serangan Swandaru itu telah membentur dada Raden Sutawijaya. Semua orang yang menyaksikan menahan nafasnya dengan tegang. Bahkan Ki Juru Martani yang tahu pasti kemampuan Raden Sutawijayapun menjadi berdebar-debar, karena justru ia belum tahu pasti kemampuan Swandaru dan kekuatan tenaga jasmaniahnya.

Benturan yang terjadi benar-benar telah menegangkan. Pukulan Swandaru yang mengenai dada Raden Sutawijaya itu bagaikan hantaman yang akan langsung menghancurkan dada. Namun ternyata bahwa dada Raden Sutawijaya seolah-olah telah menjadi selembar besi baja, sehingga hantaman tangan Swandaru itu telah membentur kekuatan yang tidak beringsut serambutpun.

Ketika benturan itu terjadi, orang-orang tua yang ada didalam Sanggar itu terkejut. Bahkan dengan sertamerta diluar sadarnya Kiai Gringsing berbisik, “Tameng Waja.”

“Ya,“ desis Ki Sumangkar, “sama sekali bukan Lembu Sekilan.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar termangu-mangu sejenak. Yang dilihatnya adalah kemampuan yang tidak disangka-sangka. Jika semula mereka melihat sikap Raden Sutawijaya yang yakin akan dapat membebaskan diri dari serangan lawannya, mereka menduga bahwa Raden Sutawijaya tentu akan mempergunakan Aji Lembu Sekilan yang juga dimiliki oleh Sultan Hadiwijaya sehingga ia terbebas dari rencana pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa orang utusan Arya Penangsang meskipun orang-orang itu sudah berhasil langsung memasuki bilik tidurnya dan menyerang dengan keris pusaka Adipati Jipang.

Tetapi kini ia melihat suatu perlindungan atas daya tahan tubuh dengan cara yang lain. Ketajaman pandangan mereka atas ilmu yang mereka saksikan langsung dapat membedakannya antara Aji Lembu Sekilan dan Aji Tameng Waja.

“Hanya Sultan Trengganalah yang memiliki ilmu itu. Tetapi hampir tidak dapat dipercaya, bahwa sekarang Raden Sutawijaya telah menunjukkan kemampuannya mempergunakan Aji Tameng Waja,“ berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Ki Sumangkar adalah orang yang saat itu terlibat dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang. Ia tahu benar kemampuan yang ada pada Sultan Trenggana, Pada Adipati Pajang dan Adipati Jipang.

Namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh Aji Tameng Waja yang seolah-olah dengan tiba-tiba saja telah nampak pada anak muda yang bergelar Senepati ing Ngalaga itu.

Ternyata benturan itu telah menggetarkan dada Swandaru. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa tangannya seakan-akan telah membentur dinding baju yang kuat. Ia semula agak cemas bahwa ia akan mematahkan tulang iga Raden Sutawijaya. Namun yang kemudian ternyata adalah, bahwa Raden Sutawijaya itu tetap berdiri tegak. Dan bahkan sekilas nampak senyumnya yang membayang di bibirnya.

Pandan Wangi dan Sekar Mirahpun semula telah dicengkam oleh kecemasan, bahkan Pandan Wangi telah memalingkan wajahnya sambil menahan nafasnya. Tetapi ia menjadi heran, bahwa Raden Sutawijaya itu bergeser-pun tidak.

Tetapi kedua perempuan itu sama sekali tidak mengerti, apa yang telah terjadi sebenarnya. Yang mereka ketahui bahwa Raden Sutawijaya tentu telah menguasai suatu ilmu yang dahsyat. Tetapi mereka tidak tahu, ilmu yang manakah yang ada pada Senepati ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram itu.

Namun, dalam pada itu, yang diharapkan Raden Sutawijaya adalah meleset. Swandaru yang tidak berhasil menggetarkan sikapnya, ternyata tidak mau melihat kenyataan itu. Ia merasa bahwa yang dilakukannya belumlah puncak kemampuan dan kekuatannya. Kerena itu, maka iapun segera surut selangkah dan mempersiapkan serangan berikutnya.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Meskipun ia menguasai Aji Tameng Waja, namun ia sadar, bahwa segala macam kemampuan, dengan nama apapun, tentu ada batasnya. Juga ilmu yang dimilikinya itu tentu ada batasnya pula. Dengan demikian, maka ia tidak akan mau menanggung akibatnya, jika kekuatan Swandaru setelah ia meningkatkan diri itu melampai batas, kemampuan Aji penahan yang oleh Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar dikenal sebagai Aji Tameng Waja itu, maka ia tentu akan mengalami kesulitan.

Karena itulah, maka Raden Sutawijayapun telah mengambil suatu keputusan untuk benar-benar memberikan kenyataan kepada Swandaru bahwa Raden Sutawijaya yang bergelar Senopati ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram memiliki bekal yang cukup untuk melakukan tugasnya. Raden Sutawijaya telah bertekad untuk memaksa Swandaru mengakui, bahwa sebenarnyalah Sangkal Putung tidak akan dapat diperbandingkan dengan Mataram yang telah tumbuh subur dan berkembang.

“Anak ini harus yakin,“ berkata Raden Sutawijaya didalam hatinya. Dan iapun benar-benar ingin meyakinkan.

Itulah sebabnya, maka Raden Sutawijayapun kemudian telah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Ia tidak mau membiarkan Swandaru menghantam dadanya lagi, karena pukulan yang berikutnya tentu akan dilambarinya dengan segenap kemampuan yang ada padanya.

Sejenak kemudian keduanya telah bersiap kembali. Swandaru yang merasa dirinya memiliki kemampuan cukup namun telah membentur kekuatan yang tidak diduganya itu, benar-benar telah menyiapkan segenap kekuatannya.

Sejenak kemudian Swandaru telah mengulangi serangannya. Bukan lagi sekedar untuk memancing perkelahian, tetapi serangan benar-benar telah dilontarkan dengan kekuatan raksasanya.

Raden Sutawijaya tidak membiarkan kekuatan Swandaru menembus ketahanan Aji Tameng Waja. Meskipun ia masih mengharap bahwa kekuatan Ajinya tidak dapat tembus oleh kekuatan Swandaru, tetapi ia tidak mau menyesal jika ia gagal.

Itulah sebabnya, maka iapun kemudian telah meloncat menghindar dan bahkan kemudian iapun telah terlibat dalam perkelahian melawan anak Demang Sangkal Putung itu.

Beberapa saat Sutawijaya masih ingin menjajagi kemampuan dan kekuatan Swandaru. Ia tahu bahwa Swandaru telah melontarkan segenap kekuatannya. Karena itulah, maka ia harus berhati-hati.

Mula-mula Raden Sutawijaya mulai dengan benturan-benturan kecil. Kemudian menangkis serangan Swandaru. Dan bahkan membentur kekuatan serangan anak muda itu.

Namun dengan demikian Raden Sutawijaya mulai dapat menjajagi kekuatan anak muda yang gemuk itu. Kekuatan yang terlontar pada serangan-serangannya adalah kekuatan yang luar biasa. Tetapi sebagian besar masih bertumpu pada kekuatan wadagnya, meskipun Swandaru sudah melepaskan kekuatan cadangan yang dapat dikuasainya.

Akhirnya Raden Sutawijayapun pasti, bahwa kekuatan Swandaru betapapun besarnya, dilambari dengan kemampuannya membangunkan kekuatan cadangan yang ada didalam dirinya, tidak akan dapat melampui daya tahan Aji Tameng Waja. Itulah sebabnya, maka Sutawijaya kembali kepada kepercayaan bahwa ia akan mampu menahan segala kekuatan yang akan dilontarkan oleh Swandaru. Selama Swandaru tidak melontarkan kekuatan ilmu yang dapat menyerap bukan saja tenaga cadangan didalam dirinya, tetapi juga hubungan kekuatan antara alam yang kecil dan alam yang besar sebagai kebulatan ujud dari diri pribadi dan lingkungannya.

Tetapi ternyata Swandaru tidak melakukannya. Ia terlalu percaya kepada dirinya sendiri, dan iapun telah melatih diri dalam kepercayaan itu, sehingga Swandaru tidak lebih dan tidak kurang dari orang yang sedang bertempur dengan Raden Sutawijaya itu.

Sejenak mereka masih bertempur dengan sengitnya. Namun kemudian Sutawijaya telah memantapkan Aji Tamenng Waja yang telah dikuasainya. Karena itulah, maka iapun kemudian bergeser menjauh selangkah. Kemudian berdiri tegak dengan kaki renggang dan tangan yang bertolak pinggang.

Sikap itu benar-benar menyakitkan hati Swandaru. Ia melihat dada Raden Sutawijaya terbuka seutuhnya. Bahkan ia melihat seakan-akan Raden Sutawijaya dengan sengaja menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tidak dapat disentuh oleh serangan lawannya.

Swandaru termangu-mangu sejenak. Namun iapun ingin membuktikan, bahwa ia memiliki tenaga raksasa. Ia dapat menghancurkan perisai besi dengan bindinya, dan ia mampu menyobek kulit harimau dengan ujung cambuknya.

Karena itulah, maka iapun menyiapkan diri dengan ancang-ancang. Kemudian dengan geram ia meloncat sambil berteriak nyaring. Tangannya langsung menghantam dada anak muda yang dalam pandangan matanya adalah anak muda yang sangat sombong itu.

Sejenak kemudian terjadi benturan yang dahsyat. Benturan antara serangan Swandaru yang menghantam dada Raden Sutawijaya.

Ternyata bahwa Raden Sutawijaya yang telah matek Aji Temeng Waja seutuhnya itu terdorong juga surut selangkah meskipun ia masih tetap dapat menguasai keseimbangannya, sehingga ia tidak terhuyung-huyung karenanya.

Namun dalam pada itu, Swandaru yang membentur ketahanan tubuh Raden Sutawijaya justru terpental beberapa langkah surut. Rasa-rasanya kekuatannya telah membentur kekuatan yang tidak tertembus, sehingga ia justru telah terpental oleh hentakan kekuatannya sendiri. Selebihnya, terasa tangannya menjadi sakit oleh kekuatannya yang sepenuhnya dilontarkan, tetapi tertahan oleh ketahanan lawannya.

Swandaru yang terhuyung-huyung itu menyeringai kesakitan. Sejenak ia berusaha melepaskan diri dari perasaan sakit. Namun kemudian ia sama sekali tidak segera mengakui bahwa lawannya telah memiliki perisai yang tidak tertembus oleh kekuatannya.

Sekali lagi Swandaru ancang-ancang. Dan sekali ia meloncat melontarkan serangan. Namun seperti yang sudah terjadi, ia sama sekali tidak dapat menembus kekuatan Aji Raden Sutawijaya yang masih berdiri tegak meskipun ia terdorong sekali lagi selangkah surut.

Semua orang yang menyaksikan menjadi berdebar-debar. Mereka mulai yakin, bahwa Swandaru benar benar tidak akan dapat menembus kekuatan yang ada didalam diri Raden Sutawijaya.

Sejenak Swandaru termangu mangu. Dipandanginya wajah Raden Sutawijaya sejenak. Namun ketika ia melihat senyum dibibir anak muda itu, darahnya terasa telah mendidih. Karena itulah maka seolah-olah ia tidak melihat kenyataan itu. Dengan wajah yang merah membara, Swandaru telah menyiapkan serangan berikutnya.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Pandan Wangi menjadi gelisah melihat keadaan anak muda itu. Tetapi Sekar Mirah telah menggeretakkan giginya seperti Swandaru. Katanya didalam hati, “Betapa sombongnya.”

Swandaru yang kehilangan pengamatan diri itupun telah meloncat sekali lagi. Ia telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada untuk menghantam bukan dada, tetapi mengarah kekening.

Serangan Swandaru benar-benar mengejutkan. Raden Sutawijayapun terkejut sekali. Ia tidak menduga, bahwa Swandaru akan menyerang keningnya. Bukan dadanya.

Ketika tangan Swandaru membentur kening Raden Sutawijaya dengan kekuatan sepenuhnya, terasa hentakan yang kuat seolah-olah telah mengguncang isi kepala Raden Sutawijaya. Keadaan yang tiba-tiba itu benar-benar diluar dugaannya, sehingga ia tidak sempat lagi untuk mengelak.

Meskipun Raden Sutawijaya masih dilambari kekuatan Aji yang seakan-akan menahan serangan Swandaru, namun kekuatan Swandaru yang didorong oleh kemarahan itu telah menyakiti Raden Sutawijaya. Bahkan kepalanya terasa pening dan hentakan itu telah mendorongnya bukan saja selangkah surut, tetapi anak muda yang memiliki Aji Tameng Waja itu telah terhuyung-huyung.

Sutawijaya harus berjuang untuk mempertahankan keseimbangannya. Tetapi ternyata bukan saja keseimbangan badannya, tetapi juga keseimbangan nalarnya, karena ia sadar sepenuhnya, bahwa serangan yang deksura itu seakan akan telah membakar dadanya.

Dalam pertempuran yang sebenarnya, serangan yang demikian bukan menjadi pantangan. Bahkan menyerang mata sekalipun dengan ujung-ujung jari. Tetapi sekedar penjajagan yang langsung mengarah kening adalah suatu perbuatan yang dapat mengungkat kemarahan.

Swandaru yang melihat Sutawijaya terhuyung-huyung, telah merasa bahwa ia mulai berhasil menembus ketahanan ilmu anak muda itu. Karena itu, ia justru menjadi semakin bernafsu. Dihadapan orang-orang yang dianggapnya berpengaruh atas dirinya, Swandaru ingin menunjukkan, bahwa ia bukan lagi anak-anak. Tetapi ia telah mampu melawan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga, sehingga dengan demikian, iapun pantas mendapat kedudukan yang setimpal dengan kemampuannya.

Karena itu, maka Swandaru tidak mau kehilangan kesempatan. Iapun segera memburu dan menyerang dengan sepenuh kekuatannya pula.

Raden Sutawijaya yang sedang mencari keseimbangannya itu, melihat betapa Swandaru seolah-olah telah membabi buta. Tetapi ia tidak berkesempatan untuk menghindar. Karena itu, maka iapun kemudian mempercayakan ketahanan dirinya pada kekuatan ilmunya yang telah tersalur di tubuhnya, sehingga merupakan daya tahan yang sangat kuat

Sekali lagi serangan Swandaru yang dahsyat menghantam tubuh Raden Sutawijaya. Betapapun tubuh itu terlindungi oleh daya tahan yang kuat, namun dorongan serangan Swandaru telah mendesaknya sehingga sebelum ia menemukan keseimbangannya yang utuh, Raden Sutawijaya telah terdorong pula dengan kekuatan raksasa.

Raden Sutawijaya benar-benar tidak dapat menguasai keseimbangannya, meskipun tubuhnya tidak menjadi cidera oleh serangan itu. Karena itulah maka Raden Sutawijaya justru menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali untuk mengambil jarak. Kemudian dengan lincahnya ia melenting berdiri diatas kedua kakinya yang renggang

Tetapi wajah Raden Sutawijaya telah menjadi semburat merah oleh kemarahan yang semakin menggelitik hati.

Dalam pada itu, Ki Juru Martanipun menjadi berdebar-debar. Ia menjadi cemas melihat wajah Raden Sutawijaya yang membayangkan keresahan hatinya. Namun Ki Juru tidak sempat berbuat sesuatu. Ia melihat Swandaru sudah menyusul Raden Sutawijaya dengan serangan berikutnya.

Tetapi kali ini Raden Sutawijaya telah bersiap. Ia tidak ingin menghindari serangan Swandaru, bahkan dengan sengaja ia telah membenturkan ilmunya dengan kekuatan raksasa Swandaru yang menghantamnya.

Benturanm itupun terjadi dengan dahsyatnya. Swandaru benar-benar tidak menyadari, bahwa ia akan dapat mengalami kesulitan dengan lontaran kekuatannya sendiri.

Tertnyata dengan dorongan kekuatan Raden Sutawijaya, Swandaru itu telah terpental beberapa langkah. Bahkan Swandaru tidak mampu lagi untuk bertahan atas keseimbangannya. Dengan tanpa dapat berbuat apa-apa, Swandaru telah terbanting jatuh ditanah.

Ternyata bahwa Raden Sutawijaya bukan saja menyelubungi dirinya dengan ilmunya, tetapi ia telah melawan dan mendorong kekuatan Swandaru sendiri dan telah melontarkannya tanpa dapat dielakkan.

Swandaru yang terjatuh itu, darahnya benar-benar telah mendidih. Dengan tangkasnya ia meloncat berdiri. Ketika ia melihat Sutawijaya masih berdiri tegak, maka Swandaru yang menjadi mata gelap itu telah mengulangi serangannya pula dengan sekuat tenaganya.

Sekali lagi Raden Sutawijaya sengaja tidak mengelak. Ia telah bersiap untuk membentur kekuatan Swandaru dan dengan kekuatan ilmunya pula melemparkan anak muda Sangkal Putung itu.

Sekali lagi Swandaru terlempar dan jatuh terbanting ditanah. Lontaran yang kedua itu terasa jauh lebih pahit dari yang pertama. Punggungnya bagaikan merasa patah dan sendi-sendinya seakan-akan pecah karenanya.

Sejenak Swandaru menyeringai menahan sakit. Namun iapun kemudian berusaha untuk dengan cepat berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ketika ia mulai bangkit, ia terkejut ketika ia melihat sepasang kaki dihadapan hidungnya. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Dan nampaklah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga itu berdiri tegak selangkah dihadapannya.

Swandaru tertegun sejenak. Tetapi ia masih tetap dicengkam oleh berbagai perasaan yang bergejolak.

“Swandaru,” tiba-tiba terdengar suara Raden Sutawijaya, “aku kira aku sudah melontarkan sebagian dari kemampuanku sekedar untuk menunjukkan kepadamu, bahwa aku adalah Senapati ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram. Aku adalah pemegang pusaka tertinggi dari Pajang yang langsung diserahkan kepadaku apapun alasannya. Dan aku adalah anak muda yang telah memenuhi keinginanmu, menunjukkan kemampuanku yang ternyata berada didatas kemampuanmu sekedar untuk menentukan apakah kau bersedia menganggap aku seorang pemimpin atau bukan. Kau sudah menjajagi kemampuan Aji Tameng Waja. Baru Aji Tameng Waja, karena aku belum merasa perlu mempergunakan yang lain.”

Darah Swandaru bagaikan mendidih didalam jantungnya. Perlahan-lahan ia berdiri. Kemudian tegak dihadapan Raden Sutawijaya.

Ternyata Raden Sutawijaya membiarkannya. Ia tidak menyerang saat Swandaru berusaha untuk bersikap. Dan bahkan seolah-olah Raden Sutawijaya itu sekedar menunggu apakah yang akan dilakukan oleh Swandaru.

Semua orang yang ada didalam Sanggar itu menjadi tegang. Kiai Gringsing justru menahan nafasnya. Ia melihat kemarahan yang masih menyala dimata Swandaru.

Tetapi iapun melihat, bahwa ada semacam pengakuan dari Swandaru, bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap anak muda yang bernama Sutawijaya dan bergelar Senopati ing Ngalaga itu.

Sejenak mereka termangu-mangu. Ki Jurupun menahan nafasnya, karena iapun sadar, bahwa Raden Sutawijaya yang juga masih muda itu, akan dapat kehilangan pengamatan diri pada suatu saat.

Namun dalam pada itu, hampir setiap orang menarik nafas dalam-dalam ketika mereka kemudian melihat Swandaru tersenyum. Sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata, “Raden. Aku seharusnya memang mengakui, bahwa Raden adalah sepantasnya bergelar Senopati ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram. Menyimpan pusaka tertinggi dan memimpin daerah yang akan berkembang mengimbangi perkembangan Pajang yang seakan-akan telah berhenti.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar saling berpandangan sejenak. Namun nampak mereka seakan-akan telah terlepas dari himpitan perasaan yang selama itu mencengkam jantung.

Berbeda dengan orang-orang lain, maka Sekar Mirah mencibirkan bibirnya sambil berkata kepada diri sendiri, “Sombongnya. Seharusnya kakang Swandaru mengerahkan semua kekuatan yang ada pada dirinya. Ilmu kebal anak itu masih belum mampu melindungi dirinya mutlak terhadap setiap serangan.”

Tetapi Sekar Mirah tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memperhatikan saja apa yang terjadi.

Raden Sutawijaya yang memperhatikan sikap Swandaru masih termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian tersenyum pula sambil menepuk bahu anak muda itu. Katanya, “Kau luar biasa. Kau pantas menjadi penggerak di Kademangan Sangkal Putung.”

Suasana didalam sanggar itupun segera berubah. Semua orang yang mula-mula mengerutkan kening dengan tegang, nampak kemudian tersenyum cerah. Merekapun segera berdiri dan mengerumuni kedua orang yang sedang berdiri tegak di tengah-tengah arena.

Pandan Wangipun sedang melepaskan ketegangan hatinya. Tanpa di sadarinya, setitik air mata telah mengambang dipelupuknya. Namun ketika terasa matanya menjadi hangat, maka cepat-cepat ia menghapusnya sebelum orang lain melihatnya.

“Sudahlah. Marilah kita keluar dari ruang yang panas ini,“ ajak Kiai Gringsing.

Sesaat kemudian, maka orang-orang yang ada didalam sanggar itupun segera keluar dan berjalan kependapa. Beberapa orang pengawal masih berdiri termangu-mangu.

Sekar Mirah yang kemudian mendekati para pengawal itupun bertanya, “Apakah kalian sangka bahwa kakang Swandaru benar-benar tidak dapat memecahkan ilmu Raden Sutawijaya?”

Para pengawal itu tidak menjawab.

“Kakang Swandaru masih menghormatinya. Tetapi dalam keadaan yang sesungguhnya kakang Swandaru tentu dapat memecahkan ilmu pertahanan Raden Sutawijaya, yang entah Aji apapun namanya. Kakang Agung Sedayu mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga ia akan mampu menembus setiap perisai yang wadag maupun yang halus.”

Para pengawal hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka melihat sendiri, bahwa dalam setiap benturan, ternyata nampak bahwa Raden Sutawijaya mempunyai kelebihan dari Swandaru.

Ternyata pertemuan dipendapa itupun tidak berlangsung lama. Agaknya Swandarupun telah dicengkam oleh kekalahan.

Karena itulah, maka iapun segera minta diri untuk beristirahat.

Meskipun ternyata kemudian bahwa Swandaru dengan jujur mengakui kelebihan Raden Sutawijaya, namun pertemuan di Kademangan itu menjadi agak lain dari saat-saat sebelumnya. Hubungan antara Raden Sutawijaya dengan keluarga Ki Demang rasa-rasanya dibatasi oleh perasaan segan dan ragu-ragu.

“Kiai,“ berkata Raden Sutawijaya, “suasana ini agak kurang menguntungkan. Baiklah aku besok pagi-pagi akan meninggalkan Kademangan ini dan pergi kepadepokan Agung Sedayu. Aku ingin melihat, apakah yang sudah dilakukannya dipadepokannya. Dan apakah ia ingin memperlakukan aku seperti yang telah dilakukan oleh Swandaru.”

Kiai Gringsing tidak dapat mencegahnya. Itulah sebabnya, ketika Raden Sutawijaya dan Ki Juru sudah bermalam semalam, merekapun segera mohon diri.

“Aku ingin segera melihat, apakah Agung Sedayu berhasil membangun sebuah padepokan.”

“Padepokan kecil yang tidak berarti,“ sahut Swandaru.

“Itulah yang ingin aku lihat.”

Kiai Gringsing tidak melepaskan kedua pemimpin dari Mataram itu pergi sendiri. Iapun segera minta diri pula untuk mengantarkan Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani mengunjungi padepokan kecil yang dihuni oleh Agung Sedayu bersama gurunya dan beberapa orang lain.

Dalam pada itu, kekalahan Swandaru ternyata mempunyai beberapa pengaruh atas anak muda itu. Ia benar-benar tidak dapat ingkar, bahwa Raden Sutawijaya memang seorang yang memiliki ilmu yang tidak dapat diatasinya. Jika ia melawan lebih lama, itu berarti bahwa ia akan mengalami penilaian yang semakin buruk dari para pengawal dan orang-orang Sangkal Putung yang lain. Namun dalam pada itu, maka keragu-raguannya terhadap kepemimpinan Raden Sutawijaya telah dapat diatasinya. Ia kemudian yakin dengan jujur bahwa Raden Sutawijaya akan dapat memimpin Mataram dengan perkembangannya.

Sementara itu, Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani telah berada diperjalanan bersama Kiai Gringsing menuju ke Jati Anom. Kiai Gringsing yang sebenarnya ingin berada di Sangkal Putung lebih lama lagi, terpaksa ikut pula kembali kepadepokan kecilnya, karena padepokan itu akan dikunjungi oleh dua tamu yang pantas dihormati, meskipun kedatangan mereka kali ini seolah-olah dalam penyamaran.

Ketika ketiganya lepas dari padukuhan, maka mereka pun mulai menempuh perjalanan dibulak-bulak panjang. Mereka menyusuri jalan yang dibatasi oleh hijaunya tanaman disawah, melintasi parit-parit yang menyilang jalan dibawah sakak bambu yang kuat.

Tetapi perjalanan itu tidak dapat berlangsung cepat, karena Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani tidak membawa kuda tunggangan. Seperti yang mereka kehendaki sendiri, mereka lebih senang berjalan kaki sambil melihat-lihat sawah dan ladang yang luas. Puncak Gunung Merapi yang kemerah-merahan oleh cahaya matahari pagi.

Ketika kemudian mereka menyusur jalan ditepi hutan, maka rasa-rasanya dedaunan yang rimbun yang seakan-akan berjuntai diatas kepala mereka, telah menahan sinar matahari yang mulai terasa panas.

Kiai Gringsing yang membawa seekor kuda terpaksa menuntun kudanya dan berjalan seiring dengan Raden Sutawijaya.

“Apakah Kiai akan mendahului,“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Tidak Raden. Akupun akan berjalan kaki.“

“Tetapi Kiai membawa seekor kuda.”

“Itulah kebisaanku sekarang yang manja. Semula akupun orang yang selalu berjalan kaki kemanapun. Betapapun panjang jalan yang aku tempuh. Tetapi sekarang aku sudah dijangkiti penyakit ini.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Bukan suatu kemanjaan. Justru itulah yang wajar. Kamilah yang seolah-olah tidak mempunyai kewajiban apapun sehingga menghabiskan waktu kami disepanjang jalan.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Tetapi bagi Raden, perjalanan itu sangat bermanfaat, karena tentu ada sesuatu yang dapat disadap sepanjang perjalanan.”

Kiai Gringsing tertawa ketika ia melihat Raden Sutawijaya dan Ki Juru Martani yang tertawa pula.

Dalam pada itu, disepanjang perjalanan. Raden Sutawijaya dengan hati-hati mulai bertanya tentang kedua murid Kiai Gringsing. Ia tidak dapat menjajaginya setelah beberapa lama terpisah. Bahkan ia tidak menyangka bahwa di Sangkal Putung ia akan menghadapi sikap Swandaru yang aneh.

Pertanyaan-pertanyaan Raden Sutawijaya telah menimbulkan kegelisahan pula pada Kiai Gringsing. Bahkan Kiai Gringsing mulai ragu-ragu, apakah Sutawijaya yakin bahwa sikap Swandaru itu benar benar tumbuh dari hatinya sendiri.

“Apakah Raden Sutawijaya menyangka bahwa akulah yang telah mendorong Swandaru untuk bersikap deksura?“ bertanya Kiai Gringsing kepada diri sendiri.

Tetapi ia menarik nafas ketika Ki Juru berkata, “Kiai, sikap Swandaru sebenarnya sangat menarik perhatianku. Tetapi apakah sikap Agung Sedayu juga akan sama seperti sikap Swandaru? Sehingga angger Sutawijaya harus berkelahi lagi dan memamerkan kemampuannya?”
Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya, “Mudah-mudahan tidak Ki Juru. Meskipun aku tidak mengerti isi hati seseorang yang sebenarnya, tetapi menurut perhitunganku, Agung Sedayu tidak akan berbuat demikian.”

“Apakah ada perbedaan sikap dari kedua murid Kiai itu?“ bertanya Raden Sutawijaya.

“Agaknya memang demikian. Aku memang cemas melihat perkembangan jiwa Swandaru, justru karena ia merasa berhasil,“ berkata Kiai Gringsing yang kemudian menceriterakan tentang sifat dan tingkah lakunya. Keberhasilannya membangun Sangkal Putung, membuatnya kadang-kadang seperti seorang yang kehilangan pengekangan diri.

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Itu adalah sikap yang berbahaya. Ia belum dewasa menanggapi keberhasilannya. Tetapi ada baiknya ia bertemu dengan aku dan membenturkan ilmunya dengan ilmuku.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Bahkan Ki Jurupun berpaling memandang wajah Raden Sutawijaya.

Tetapi nampaknya Raden bersungguh-sungguh. Bahkan kemudian katanya, “Murid Kiai sudah terlanjur menjajagai ilmuku. Aku akan melakukannya pula atas murid Kiai yang lain. Jika Agung Sedayu tidak ingin menjajagi ilmuku, akulah yang akan menjajagi ilmunya.”

“Raden,“ potong Ki Juru Martani.

“Mungkin aku sudah menjadi gila seperti Swandaru.”

Kiai Gringsing tidak segera dapat menjawab. Ia tidak tahu, apakah Raden Sutawijaya itu sekedar bergurau atau bersungguh-sungguh. Namun menilik wajah dan sikapnya, maka agaknya Raden Sutawijaya itu bersungguh-sungguh.

“Kenapa Kiai menjadi heran,“ bertanya Sutawijaya, “bukankah wajar bahwa anak-anak muda bersikap ingin mengetahui sejauh-jauhnya?. Demikian pula aku. Aku juga ingin mengetahui sejauh-jauhnya, dengan siapakah aku berhadapan.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Jawabnya, “Aku tahu. bahwa Raden tidak bersungguh-sungguh. Tetapi semuanya terserah kepada Raden.”

“Aku bersungguh-sungguh Kiai. Aku ingin menjajagi kemampuan Agung Sedayu. Mataram akan berkembang. Dan Mataram tentu akan memerlukan kawan sebanyak-banyaknya. Karena itu aku ingin mengetahui, apakah Agung Sedayu pantas aku jadikan kawan. Terhadap Swandaru justru aku tidak ragu-ragu lagi. Ia adalah anak yang mungkin agak sombong. Tetapi ternyata ia jujur dan terbuka seperti sifat-sifatnya yang pernah aku kenal. Ia mengakui kekalahannya dan ia tidak menjadi gila karena kekalahannya itu. Nah, aku ingin tahu, apakah Agung Sedayu juga bersikap demikian.”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Ia sadar, bahwa perlakuan Swandaru agak kurang menyenangkan Raden Sutawijaya. Tetapi kemudian Raden Sutawijaya yang muda itu-pun telah mengambil sikap yang aneh-aneh pula.

“Apakah itu perlu ngger,” bertanya Ki Juru Martani.

“Kenapa tidak paman?,“ jawab Sutawijaya.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling memandangi Kiai Gringsing. dilihatnya orang tua itu menundukkan kepalanya. Kedua tangannya berada dibelakang sambil memegangi kendali kudanya.

Raden Sutawijaya seolah-olah tidak menghiraukan sikap kedua orang tua itu. Iapun kemudian justru berjalan didepan dengan kepala tengadah.

Beberapa saat lamanya mereka yang berjalan beriring itupun saling berdiam diri. Kiai Gringsing yang berjalan dipaling belakang sambil menuntun kudanya masih saja memikirkan sikap Raden Sutawijaya. Agaknya sikap itu akan mengejutkan Agung Sedayu, karena Kiai Gringsing tahu pasti, bahwa sifat dan watak Agung Sedayu berbeda dengan sifat dan watak Swandaru.

“Mungkin Swandaru dapat melupakan hal itu dalam waktu singkat,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya, “tetapi bagi Agung Sedayu hal serupa ini akan mempengaruhinya untuk waktu yang lama. Mungkin ia akan selalu bertanya-tanya, kenapa hal itu harus terjadi. Bukan kekalahan yang pasti akan dialaminya. Tetapi kenapa seseorang harus menjajagi ilmunya. Apalagi ia tidak tahu latar belakang gejolak hati Raden Sutawijaya yang mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan di Sangkal Putung.

Perjalanan yang gelisah itupun akhirnya sampai pula pada akhirnya. Ketiga orang itupun kemudian memasuki sebuah lorong sebelum mereka sampai ke Jati Anom. Beberapa tonggak menjelang pintu gerbang Kademangan Jati Anom, ketiganya berbelok sepanjang lorong yang agak panjang.

Kedatangan ketiganya ternyata telah mengejutkan seisi padepokan kecil itu. Yang pertama-tama menyongsong mereka adalah Ki Waskita yang kebetulan berada dipadepokan.

“Marilah Raden, marilah Ki Juru,“ ia mempersilahkan, “kedatangan Raden Sangat mengejutkan, karena kami disini sama sekali tidak menyangka bahwa kami akan mendapat kunjungan pimpinan tertinggi di Mataram.”

Raden Sutawijayapun mengangguk hormat, disusul oleh Ki Juru Martani sambil berkata, “Padepokan ini sangat menarik perhatian. Kami sudah membayangkan sejak kami berangkat dari Sangkal Putung untuk kunjungan khusus ini. Ternyata ketika kami sampai, padepokan ini lebih baik dari yang kami bayangkan.”

“Ki Juru memuji,“ sahut Kiai Gringsing, “tentu padepokan ini sebenarnya hanyalah sekedar tempat berteduh.”

Raden Sutawijaya tertawa. Katanya, “Aku sudah membayangkan bahwa padepokan Kiai Gringsing tentu hanya sebuah padepokan kecil. Bukan sebuah padepokan yang luas yang dilengkapi dengan sebuah barak bagi beberapa puluh orang cantrik, jejanggan dan beberapa orang putut.”

“Ya Raden. Demikianlah keadaannya.”

“Tetapi akupun sudah membayangkan bahwa padepokan kecil ini tentu padepokan yang asri dan terpelihara.”

“Ah,“ desis Kiai Gringsing, “kami bukannya orang-orang yang mengenal tata keindahan. Kami mengatur asal saja sesuai dengan selera kami.“ Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “tetapi marilah. Silahkan naik kependapa.”

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Januari 2009 at 16:37  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-3/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ha ha ha ha, Ki Jebeng betul2 hebat. Kok tau aja yang dibagikan Ki GD BTL, alias Bantuan Langsung Tunai.
    Hatur nuhuuuun Ki GD.
    Ki Truno Podang

  2. Dalam proses ngunduh matur nuwun Ki Gede…

  3. Beberapa gambar di Kitab 102 tampaknya spoiler, terlihat di sana beberapa adegan yang belum terceritakan di kitab teresebut gambarnya telah ada, misalnya saat Sutawijaya mengetrapkan aji Tameng Waja ketika menerima pukulan Swandaru….
    Hmm…jadi nggak sabar menunggu kitab 103.
    Sampun mboten sabar Ki GD

  4. Iya masaryo, wangsit doang …tapi donlotnya susah …target filenya terlalu samar-samar…

  5. Hahahahaha…thanks Ki GD…
    Ternyata para telik sandi Ki Gede banyak sekali bertebaran….cuma mata awam cantrik saja yang kurang awas….dan segera mereka muncul setelah tahu banyak yang membutuhkan bantuan langsung tunai…

    Terimakasih…

  6. 103 nya sudah saya unduh dengan speedy juga, 2,32 MB, kata-kata pertamanya : orang-orang
    Makasih ki GD

  7. Wo…jian Ki GD pinter tenan.
    Begitu komentar di atas di submit, begitu ngecek ke ‘halaman 2’ begitu nongol, begitu asyik, begitu download…
    Wah…tararengkyu….Ki GD

  8. lho.. lho.. lho….
    Kok.. tiba-tiba sudah terdownload. 😉

    감사합니다 (Kamsahamida) Ki Gede.

  9. trimakasih BLT nya Ki GD

  10. Terima kasih Ki GeDe…rencana mau lihat2 dan baca2 coment, kok tahu2 diparingi kitab.
    Terima kasih…terima kasih

  11. alhamdulillah…. hatur nuhun ki gede….

  12. Ketika Ki Wakarimasen iseng iseng melemparkan mata kursor ke angka dua di halaman ini, dengan teriak kegirangan dia terkejut.

    Karena ternyata diujung mata kursornya telah tertempel lontar 103.

    Wah, siang ini sungguh beruntung. Baru ikut berdiri di antrian sejenak sudah mendapatkan salinan lontar.

    “Arigato Sensei….,” ucapnya sambil menjura dalam dalam.

    Segera salinan lontar itu pun dikerubungi oleh Ki Wakarimasen, Ki Sam Ja Ne Hi dan Ki Wo Pu Ce Tau….

  13. Matur nuwun sanget Ki GD..
    Kitabnya sudah tak sedott..

  14. Matur nuwun, Ki GD.

    Menawi angsal, langsung kulo pesen nggih.

    Angsal mboten, Ki?

  15. Ngecek untuk ke-4 kalinya dan langsung dapet..
    matur suwun Ki GD..
    sekarang tak ikut ngantri ke kitab 104 dech.. 🙂

  16. Matur thank you Ki GD

  17. Hahahaha,.. makin kesini makin penuh kejutan,..

  18. SurPRiSeD……HaaaAa padahal sudah siAp siap mengeluarkan jurus …… TerNyata?????

  19. Bangun tidur sudah dihidangkan kitab 103.
    Enak tenan mbaca sambil nyruput kopi panas, merokok dan lesehan.

    GRACIAS Ki GD!!!

  20. nunggu pencerahan dari ki waskita dulu, ada apa gerangan dengan kitab 103

  21. Wah….!!! (kaget)

    Dua hari absen, langsung diberi kejutan oleh BTL kitab 103.

    Trimakasih ki Gede.

  22. Terima kasih banyak ki GD…

  23. kudu sabar lan ora kesusu
    sawahe jembar-jembar, sawahe lemu-lemu
    yayakkee…. !

    Ki Wiro_Gerong

  24. parine lemu-lemu ding!

    Ki Wiro_Gerong

  25. Raden Sutawijaya lali matrapke ajiaan,
    suradira jayaningrat lebur dening pangastuti.

    malah dodolan Tameng Wajan, elu jual gue beli.

    • hihaaaa elu juwal ngga ada yang beli, wong ki kartu ngasi gratis je

      • Untuk kalangan sendiri…….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: