Buku II-27

Rambitan melihat sikap Agung Sedayu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia tertawa sambil berkata, “Jangan cemas, Agung Sedayu. Aku mampu menebas lehermu dengan sekali ayun. Karena itu, jika kau tidak banyak solah, maka kau akan mati dengan cepat. Tetapi jika kau mencoba melawan ilmu pedangku, maka kau akan menyesal.”

Agung Sedayu memandang Rambitan dengan tajamnya. Meskipun ia mengerti, bahwa ilmu Rambitan masih belum mencapai lapisan yang sama dengan ilmunya, tetapi senjata di tangannya akan dapat menjadi sangat berbahaya baginya.

“Marilah, anak muda,” suara Rambitan meninggi, “jangan mencoba untuk lari.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi gelisah. Tetapi bukan karena ia menjadi kecut melihat senjata itu. Tetapi perang bersenjata memang dapat menimbulkan akibat yang lebih buruk.

Tetapi Agung Sedayu tidak sempat merenung lebih lama lagi. Tiba-tiba saja lawannya sudah meloncat dengan parang terjulur, lurus mengarah ke dada Agung Sedayu.

Tidak ada kesulitan bagi Agung Sedayu untuk mengelakkan serangan pertama. Tetapi Agung Sedayu pun sadar, bahwa yang berbahaya tentu bukan serangan yang pertama itu.

Sebenarnyalah, demikian Agung Sedayu mengelakkan serangan yang pertama, maka lawannya pun tiba-tiba telah memutar parangnya, menebas leher lawannya. Sekali lagi Agung Sedayu harus meloncat. Namun lawannya telah memburunya.

Ternyata Rambitan benar-benar seorang yang memiliki ilmu pedang yang luar biasa. Ia mampu menggerakkan pedangnya dengan cepat dan deras. Setiap sentuhan tajam pedang itu, tentu akan mematahkan tulang. Bukan saja menyobek kulit daging.

Beberapa saat kemudian terasa, bahwa Agung Sedayu memang mulai terdesak. Ia tidak dapat menembus putaran parang lawannya yang bagaikan perisai memutari dirinya. Sekali-sekali ia harus meloncat, jika tiba-tiba seolah-olah dari balik perisai itu telah meluncur ujung parang yang mematuk dadanya. Kemudian menebas mendatar dan memutar dengan cepatnya.

“Menyerahlah,” geram orang berparang itu.

“Ki Sanak,” desis Agung Sedayu sambil meloncat mundur, “kau jangan memaksa aku untuk berbuat lebih banyak lagi. Apakah kau tidak mempunyai cara lain untuk mengakhiri pertempuran ini selain maut? Kau dapat meninggalkan arena ini. Atau jika kau keberatan karena kau seorang laki-laki jantan, biarlah aku yang meninggalkan arena ini tanpa kau ganggu. Atau mungkin ada cara lain yang lebih baik dari bayangan maut?”

“Persetan!” teriak lawannya, “Jika kau takut menghadapi putaran parangku, menyerahlah.”

“Jangan salah sangka. Aku tidak takut. Tetapi aku pun tidak ingin menyombongkan diriku. Karena itu, marilah kita mencari jalan lain. Jika kau benar diupah oleh Ki Pringgajaya, biarlah aku menemuinya dan berbicara dengan perwira prajurit Pajang itu.”

Tetapi Rambitan tidak menanggapi sama sekali. Justru serangan parangnya semakin lama menjadi semakin cepat, mengarah ke tempat yang paling berbahaya di tubuh Agung Sedayu.

“Orang ini sudah tidak dapat diajak berbicara lagi,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, ternyata ilmu pedang Rambitan benar-benar berbahaya bagi Agung Sedayu. Setiap kali Agung Sedayu harus meloncat surut menghindari serangan lawannya yang bagaikan prahara.

“Menyerahlah!” teriak Rambitan.

Akhirnya Agung Sedayu tidak mempunyai pilihan lain. Lawannya-lah yang telah mendesaknya untuk meloncat surut. Mengambil jarak dan dalam kesempatan yang pendek, ia telah mengurai cambuknya yang membelit lambung.

Rambitan menjadi semakin berdebar-debar. Ia memang sudah memperhitungkan, bahwa pada suatu saat cambuk itu akan diurainya juga.

Agung Sedayu yang sudah memegang pangkal cambuknya itu kemudian berdiri tegak. Sebelah tangannya menggenggam ujung cambuknya yang berjuntai.

“Apakah kita akan bertempur terus?” bertanya Agung Sedayu.

Rambitan tidak menjawab. Namun parangnya telah mematuk dengan cepatnya, seperti anak panah yang meloncat dari busurnya.

“Kau benar-benar tidak dapat diajak berbicara,” geram Agung Sedayu.

Rambitan sama sekali tidak menghiraukannya. Ujung pedangnya menyambar semakin cepat, sementara kakinya berloncatan dengan tangkasnya.

Agung Sedayu masih menghindar. Ia masih memegang ujung cambuknya. Namun ketika ia menjadi semakin terdesak, tiba-tiba cambuk itu telah meledak. Tetapi yang terdengar adalah ledakkan cambuk yang tidak terlalu keras.

Sabungsari mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian sadar, bahwa Agung Sedayu tentu masih mengekang dirinya. Jika ia benar-benar telah sampai ke puncak kemarahannya, maka ia dapat meledakkan cambuknya seperti ledakkan petir di udara.

Sebenarnyalah, Agung Sedayu tidak ingin membuat orang-orang padukuhan di sebelah menyebelah bulak itu menjadi gelisah. Jika ia meledakkan cambuknya dengan sepenuh tenaganya, maka cambuk itu akan memecah sepinya malam, menyentuh ujung-ujung padukuhan, sehingga jika anak-anak muda mulai berada di gardu di regol padukuhan, mereka akan menjadi gelisah.

“Sebagian dari mereka telah pernah mendengar arti suara cambukku,” berkata Agung Sedayu di dalam hati.

Namun, meskipun suara cambuk itu tidak meledak terlalu keras, tetapi getar udara di sekitarnya membuat Rambitan harus menilai dengan saksama. Ternyata di antara ledakan cambuk sawantah dan getar yang merobek udara, masih harus mendapat nilai banding yang cermat. Karena yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu, bukannya sekedar hentakkan tenaga wadagnya dan senjata yang kasat mata.

Tetapi Rambitan adalah orang yang cukup mempunyai pengalaman. Ia pernah berada di medan melawan berbagai jenis ilmu. Karena itu, maka ia pun akan menghadapi ilmu yang menggetarkan jantungnya itu seperti ia pernah menghadapi ilmu yang lain, yang kadang-kadang memang dapat mengguncang kejantanannya.

“Beberapa kali aku menjumpai ilmu yang tidak masuk akal. Tetapi akhirnya aku berhasil keluar membawa kemenangan,” berkata Rambitan kepada diri sendiri. Karena itu ia masih berharap, bahwa pada saatnya ia akan dapat mematahkan ilmu Agung Sedayu.

Namun dalam pada itu, kemarahan Kumuda tertuju sepenuhnya kepada Sabungsari yang telah berkhianat. Ia telah menipu dan kemudian berusaha untuk menggagalkan maksud mereka.

“Anak inilah yang pertama-tama harus mati,” geram Kumuda di dalam hatinya.

Karena itu, maka ia pun bertempur semakin keras. Ilmunya diperasnya sampai tuntas. Dengan keras dan kasar ia berusaha untuk menekan Sabungsari sepenuh tenaganya.

Tetapi Sabungsari pun mengimbanginya, ia pun dapat bertempur dengan keras. Ia tidak segan membenturkan kekuatannya jika lawannya menyerangnya dengan kasar. Kemudian melenting menyerang mengarah ke bagian tubuh lawan yang paling lemah.

Kumuda akhirnya menyadari, bahwa ia tidak akan dapat menjatuhkan lawannya, meskipun tangannya seakan-akan telah berubah menjadi besi gligen. Jari-jarinya mampu meremas batu padas dan hentakkan kakinya dapat menggulingkan batu-batu sebesar gardu di sudut-sudut padesan.

Namun ternyata, bahwa Sabungsari memiliki daya tahan yang luar biasa. Bahkan di sela-sela pertahanannya, ia masih mampu menyusup menyerang dengan cepatnya.

Sejenak kemudian, tidak ada pilihan lain dari lawanya selain mempergunakan senjatanya. Kumuda tidak membawa senjata panjang. Tetapi yang ada di lambungnya adalah sebilah pisau belati. Pisau yang jarang sekali dipergunakan, karena tangannya adalah senjatanya yang dapat diandalkan. Tangannya yang memiliki kekuatan seperti sepotong besi baja.

Namun Sabungsari tidak remuk oleh pukulan tangannya. Tubuhnya seolah-olah menjadi liat dan bahkan bagaikan kebal, meskipun setiap kali terdengar ia berdesis dan menyeringai menahan sakit. Namun hampir tidak berpengaruh sama sekali pada daya tahan dan kemampuannya bertempur.

“Ujung pisau ini akan dapat menyobek dagingnya,” berkata Kumuda di dalam hatinya.

Sabungsari mengerutkan keningnya, ketika ia melihat tangan lawannya menggapai senjatanya. Namun ia tidak menunggu. Ia justru meloncat surut beberapa langkah.

Kumuda terkejut. Ia merasa telah melakukan satu kesalahan. Sesaat ia menarik senjatanya, Sabungsari agaknya akan mempergunakan kesempatan itu.

Karena itu, maka Kumuda pun segera mengerahkan segenap ilmunya, kekuatannya dan kemampuannya melindungi dirinya dengan daya tahannya yang luar biasa, sehingga kekuatan lawannya, seakan-akan tidak dapat menyentuhnya sama sekali, karena tubuhnya seolah-olah telah dilingkari oleh selapis perisai yang tidak kasatmata.

Namun dalam pada itu, sejenak kemudian ia melihat Sabungsari berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Sikap yang langsung memberitahukan kepada lawannya, bahwa anak muda itu telah sampai kepada puncak ilmunya.

Sejenak Kumuda masih mampu bertahan. Ia berdiri tegak seperti patung. Dengan memusatkan daya tahannya, ia mampu menahan diri tanpa mengalami sesuatu.

Namun ternyata bahwa ilmu Sabungsari benar-benar dahsyat. Perlahan-lahan tetapi pasti, tatapan matanya yang mempunyai sentuhan wadag itu bagai tajamnya ujung senjata, yang sedikit demi sedikit memecahkan perisai yang melindungi lawannya.

Kumuda menyadari akan hal itu. Ia merasa tatapan mata itu mulai menghunjam ilmunya yang dibanggakan.

Pertempuran ilmu yang dahsyat itu benar-benar mendebarkan. Keduanya berdiri tegak dalam pemusatan puncak kemampuan.

Namun Kumuda merasa, bahwa ia tidak dapat berbuat demikian. Perlahan-lahan ilmu lawannya itu akan menyusup semakin dalam. Jika ilmu itu kemudian berhasil menyentuh tubuhnya, menembus perisai ilmunya, maka ia akan mengalami bencana.

Karena itu, maka Kumuda harus berbuat sesuatu. Ia sadar, di tangannya tergenggam pisau belatinya. Sehingga dengan demikian ia tidak boleh menunggu lebih lama lagi, sehingga tubuhnya akan terbakar oleh ilmu lawannya yang berhasil mengoyak perisainya.

Sejenak Kumuda memusatkan perhatiannya kepada Sabungsari, yang berdiri tegak dengan tangan bersilang. Ia sadar, bahwa waktunya tidak terlalu banyak. Perisainya menjadi semakin tipis, dan sesaat lagi ilmu lawannya itu akan menembus dan menghimpit dadanya, membakar jantungnya.

Dengan mengerahkan kemampuannya, tiba-tiba saja Kumuda itu melenting menyerang Sabungsari dengan pisau belatinya.

Sabungsari yang berada dalam puncak kemampuannya itu pun merasa, bahwa perlahan-lahan ilmunya berhasil memecahkan perisai yang mengitari lawannya, meskipun tidak kasat mata. Sabungsari yakin, bahwa sekejap kemudian ia akan dapat menembus tirai yang bagaikan berlapis-lapis, yang menahan kemampuan ilmu lewat sorot matanya itu.

Namun, sesaat Sabungsari menjadi bimbang, ketika ia melihat lawannya meloncat dengan pisau terjulur ke dadanya. Ia merasa bahwa kulitnya bukannya kulit yang kebal dari sentuhan senjata. Namun ia pun yakin, bahwa sekejap kemudian ia akan dapat meremas lawannya dengan tatapan matanya, karena ia sudah berhasil mengoyak ilmu yang membatasi serangannya lewat sorot matanya.

Sabungsari tidak mempunyai waktu banyak. Senjata itu meluncur seperti anak panah, mengarah ke dadanya.

Namun akhirnya Sabungsari memutuskan untuk tidak bergerak. Tetapi ia pun tidak melepaskan lawannya dari genggaman sorot matanya. Dengan mengerahkan kemampuan ilmunya, Sabungsari berusaha menghantam lawannya yang sedang meluncur menyerangnya dengan pisau belatinya.

Pada saat yang gawat, telah terjadi benturan serangan yang dahsyat pada kedua belah pihak. Serangan pisau belati yang sama sekali tidak dihindari itu benar-benar telah mengenai dada Sabungsari. Pisau itu menghunjam di atas tangan Sabungsari yang menyilang di dada.

Namun, pada saat pisau itu menyentuh dada lawannya, ternyata bahwa Sabungsari telah berhasil memecahkan ilmu yang menahan sentuhan wadag sorot mata Sabungsari. Dengan demikian, maka pada saat pisau itu menyentuh dada lawannya, Kumuda berdesis menahan dadanya yang serasa retak.

Karena itu, maka kekuatan Kumuda tidak lagi mampu menekan pisau itu sampai ke pusat jantung lawannya. Demikian pisau itu menembus kulit, maka Kumuda pun harus segera mengelakkan diri dari remasan kekuatan sorot mata Sabungsari.

Sabungsari merasa dadanya terkoyak. Tetapi ia tidak mau melepaskan lawannya yang sudah mulai tersentuh oleh ilmunya. Karena itu, ketika Kumuda kemudian berusaha mengelak, Sabungsari bertahan pada sikapnya tanpa melepaskan lawannya dari tatapan matanya.

Ternyata bahwa cengkaman ilmu Sabungsari benar-benar dahsyat. Rasa-rasanya dada Kumuda menjadi sesak, dan nafasnya pun tersumbat di kerongkongan. Beberapa saat ia mencoba untuk berguling ke tanah, namun yang dapat dilakukannya hanya sekedar menggeliat. Tatapan mata Sabungsari benar-benar telah menguasainya, tanpa dapat dilawannya.

Rasa-rasanya langit pun kemudian runtuh menghimpit tubuhnya. Dan nafasnya telah tersumbat karenanya. Yang ada kemudian hanyalah kegelapan dan kepepatan.

Kumuda tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Sabungsari, dengan tatapan matanya berhasil menghancurkan lawannya seperti ia menghancurkan sebongkah batu, meskipun dalam bentuk yang lain.

Namun ketika Kumuda tidak bergerak lagi, maka Sabungsari pun tidak mampu bertahan pula. Darahnya mengalir dari lukanya. Pada hentakan ilmunya, maka darah itu bagaikan diperas lewat lukanya.

Karena itu, ketika ia merasa bahwa ia sudah menyelesaikan lawannya, luka di dadanya itu benar-benar telah mencemaskannya. Tubuhnya menjadi lemah sekali, sehingga ia tidak mampu bertahan untuk berdiri terlalu lama.

Dengan demikian, maka Sabungsari pun segera duduk di tanah. Dari kantung ikat pinggangnya, ia mengambil serbuk obat yang selalu dibawanya. Dengan sisa tenaga yang ada padanya, maka ia mulai menaburkan obat itu pada lukanya, sehingga terasa luka itu menjadi panas.

Namun dengan demikian Sabungsari mengerti, bahwa obat itu mulai bekerja pada lukanya dan perlahan-lahan menahan arus darahnya yang mengalir.

Tetapi agaknya darah sudah terlalu banyak keluar lewat lukanya. Karena itu, maka tubuh Sabungsari benar-benar menjadi sangat lemah. Bahkan kemudian matanya pun menjadi berkunang-kunang.

Ternyata Sabungsari tidak mampu bertahan duduk di tanah. Dengan lemahnya ia pun kemudian membaringkan dirinya di atas rumput yang basah oleh embun malam. Bahkan rasa-rasanya kesadarannya pun mulai melambung. Namun adalah suatu keuntungan, bahwa luka-lukanya telah dipampatkan oleh obat yang telah ditaburkannya.

Agung Sedayu melihat segalanya yang terjadi. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa pun juga, karena lawannya pun menyerangnya seperti badai yang didorong oleh angin prahara menghantam tebing.

Betapa hatinya menjadi gelisah melihat keadaan Sabungsari. Meskipun Agung Sedayu melihat Sabungsari berhasil mengalahkan lawannya, namun keadaannya agaknya sangat mencemaskan.

Sementara itu, Glagah Putih pun telah menambah kegelisahannya pula. Meskipun Glagah Putih telah menempa diri tanpa mengenal lelah, tetapi lawannya adalah seorang prajurit yang berpengalaman. Karena itu, maka ia pun mulai terdesak. Meskipun kadang-kadang Glagah Putih masih mampu menyerang lawannya, tetapi perlahan-lahan ia mulai dikuasai oleh kemampuan lawannya itu. Bahkan nampaknya lawannya benar-benar berusaha untuk menjatuhkannya, bahkan mungkin membunuhnya.

Sementara pertempuran masih berlangsung dengan dahsyatnya, Rambitan yang melihat Kumuda tidak bergerak lagi, benar-benar telah sampai ke puncak kemarahannya. Tetapi ia masih tetap menguasai dirinya dalam kesadaran sepenuhnya, bahwa lawannya adalah orang yang luar biasa.

“Nasibnyalah yang malang,” desis Rambitan di dalam hati. Tetapi jika ia melihat Sabungsari berbaring diam, maka ia masih mempunyai sepercik kebanggaan, “Jika anak itu pun mati, maka ternyata Kumuda benar-benar lebih dahsyat dari Carang Waja.”

Dengan demikian, maka Rambitan pun membuat perhitungan yang lebih cermat menghadapi Agung Sedayu. Ia pun mengerti bahwa Glagah Putih tidak akan dapat menang melawan prajurit pengikut Ki Pringgajaya itu, sementara Sabungsari sudah tidak berdaya lagi. Bahkan Rambitan berharap bahwa anak muda itu akan mati pula.

Karena itu, maka ia dapat memusatkan perlawanannya atas Agung Sedayu yang memiliki kemampuan raksasa.

Namun dalam pada itu, sekali-sekali Rambitan mengumpat pula di dalam hatinya. Pengkhianatan Sabungsari benar-benar telah mengacaukan rencananya. Kebodohan Ki Pringgajaya dan prajurit itu pun telah menjerumuskan Kumuda ke dalam pelukan maut.

“Jika segalanya berjalan seperti rencana, betapapun tinggi ilmu Agung Sedayu, ia tidak akan dapat melawan aku dan Kumuda bersama-sama,” berkata Rambitan di dalam hatinya.

Namun segalanya sudah terjadi. Kumuda telah tidak berdaya, sementara ia harus berhadapan dengan Agung Sedayu.

Karena itu, tidak ada lagi yang ditunggunya. Ia harus dapat membinasakan lawannya secepat-sepatnya.

Tetapi yang terjadi adalah di luar kehendaknya. Betapapun juga ia menyerang dengan kecepatan yang tidak ada taranya, Agung Sedayu masih sempat menghindari. Meskipun kadang-kadang parangnya seolah-olah dapat mengurung lawannya, namun parang itu sama sekali tidak berhasil menyentuh tubuh Agung Sedayu yang mampu bergerak secepat lintasan sinar. Bahkan setiap kali ujung cambuknya yang berputar itu bagaikan perisai yang tidak akan dapat ditembusnya.

Sementara itu, Agung Sedayu justru menjadi semakin gelisah melihat keadaan Sabungsari dan Glagah Putih. Sabungsari berbaring diam tanpa bergerak sama sekali. Sementara Glagah Putih menjadi semakin terdesak oleh lawannya yang jauh lebih berpengalaman.

“Apakah Sabungsari mati?” pertanyaan itu mulai mengusik dadanya.

Karena itulah, maka akhirnya Agung Sedayu harus mengambil sikap yang lebih mantap. Ia sadar, bahwa ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi, karena lawannya adalah benar-benar seorang yang pilih tanding. Bahkan, jika ia pada suatu saat melakukan kesalahan, maka ia sendirilah yang akan mengalami bencana. Bahkan adik sepupunya dan Sabungsari yang sudah tidak berdaya.

Dengan demikian, maka akhirnya Agung Sedayu mengambil suatu sikap yang lebih keras. Ia harus menguasai lawannya dan mengalahkannya.

Sejenak kemudian, maka ujung cambuk Agung Sedayu itu pun bergetar semakin cepat. Meskipun ledakkannya tidak memecahkan selaput telinga, namun sentuhan ujung cambuk itu masih mampu menyobek kulit.

Sentuhan-sentuhan pertama dari ujung cambuk Agung Sedayu membuat Rambitan benar-benar terkejut. Ia melihat ujung cambuk itu bagaikan melenting. Namun ia merasa dirinya telah menghindar. Adalah di luar dugaannya bahwa ujung cambuk itu mampu mengejarnya dan mematuk kakinya.

Ujung cambuk itu benar-benar telah menggoreskan luka. Darah mulai mengalir dari tubuh Rambitan. Namun dengan demikian kemarahannya tidak lagi dapat dikendalikan.

Sejenak kemudian Rambitan justru menyarungkan parangnya. Beberapa langkah ia meloncat surut.

Sikapnya telah membuat Agung Sedayu termangu-mangu. Namun ia tidak meninggalkan kewaspadaan. Meskipun ia tidak memburu, namun ia telah mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan.

“Apakah orang ini memiliki ilmu seperti Carang Waja?” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “Atau sejenis ilmu yang lain, yang akan dapat mempengaruhi perasaan dan nalarku?”

Tetapi Agung Sedayu tidak perlu meraba-raba lebih lama lagi. Pandangan matanya yang tajam melihat, gerak tangan Rambitan yang mendebarkan.

Sekejap kemudian, Agung Sedayu melihat tangan itu bergerak. Seperti ujung petir yang menyambar, Agung Sedayu melihat sekilas putaran cakram bergerigi menyambar keningnya.

Namun Agung Sedayu cukup tangkas. Ia sempat memiringkan kepalanya, meskipun debar jantungnya bagaikan menjadi semakin cepat. Cakram bergerigi yang tidak begitu besar itu hampir saja memecahkan tulung keningnya dan sekaligus dapat membunuhnya.

Tetapi Agung Sedayu harus meloncat sekali lagi ketika cakram yang sama meluncur ke dadanya. Hanya karena kemampuannya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal lawannya sajalah, Agung Sedayu sempat menghindarkan dirinya.

“Gila!” geram Rambitan, “Apakah anak ini kerasukan iblis yang mampu melenting seperti bilalang, atau apakah ia memang anak iblis itu sendiri?”

Rambitan menggeram ketika ia melihat Agung Sedayu kemudian berdiri tegak dengan cambuk di tangannya. Namun dalam pada itu, di tangan Rambitan telah tergenggam cakram bergerigi yang akan mampu membelah dadanya. Setiap saat cakram itu akan dapat dilontarkannya dan menghunjam jauh ke dalam dagingnya.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar menghadapi senjata lawannya. Dengan demikian, maka ia harus berbuat sesuatu agar ia tidak sekedar menjadi sasaran lontaran senjata lawannya, karena dengan demikian maka ia akan selalu berada di dalam keadaan yang gawat, sementara lawannya akan dapat mempergunakan waktu dan kesempatan yang ditentukannya sendiri.

“Tentu tidak menyenangkan,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Karena itu, maka ia harus segera mengambil sikap.

Selagi Agung Sedayu menimbang-nimbang, maka Rambitan telah bersiap untuk melontarkan cakramnya pula. Dengan penuh dendam dan kebencian, ia mengerahkan tenaga dan kemampuannya lewat lontaran cakramnya. Tangannya yang gemetar adalah pertanda kemarahannya yang tidak tertahankan.

Agung Sedayu tidak boleh lengah. Ia selalu memandang tangan lawannya. Dari tangan itu akan dapat meluncur maut yang dapat menjemputnya setiap saat.

***

Oleh Ki Prass
Belum di proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 26 Januari 2009 at 08:43  Comments (116)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

116 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur nuwun Ki Gede, sampun dipun sruput, lha tapi aku sinaune lagi tekan kitab 93, ora opo2 nggo simpenan, mekate njih Ki Gede !

  2. Teng yu…teng yu….
    Kitab 127 sampun kawula unduh, kantun mempelajari jurus2nya…
    Matur suwun Ki GeDe….

  3. sugeng enjing….

    wah… bar ngeterke sekolah anak…. tekan ngomah disuguhi rontal 127

    matur tengkyu Ki GD

  4. waduh,baru aja mau konsep surat eh ada kiriman rontal,jd bingung nih mau baca dulu atao gimana (pura2 bingung)…he..he

    matur thank you ki gedhe

  5. Pagi-pagi di depan gubug Ki Truno ada Koper tergeletak. Ki Truno sempat bingung, karena koper itu cukup berat dan kelihatan sarat muatannya.
    Segera Ki Truno memanggil semua tetangganya untuk ngumpul di gubugnya, sekaligus menanyakan barangkali ada yang memiliki koper itu. Setelah semua tetangga menyatakan bahwa mereka bukan pemilik koper itu, maka dengan disaksikan para tetangga, kemudian koper itupun dibuka.
    Ki Truno Podang dan para tetangganya terkejut bukan kepalang. Ternyata isi koper itu adalah “piauw”, dan setelah dihitung bersama-sama jumlah piauwnya 127 buah. Di sudut koper ada tulisan, oleh2 dari Ki GD.
    Hatur nuhuuuun Ki GD,semoga Tuhan YME senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah untuk Ki GD beserta krue-nya, dan semoga Ki GD beserta krue senantiasa sehat wal’afiat sehingga dapat melaksanakan tugas2 dengan lancar, termasuk tugas2 yang dinanti para ADBM-ers.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. habis dapat order dari customer …. ndilalah kiriman 127 nongol. Adeem beneerrr…….he he.
    Matur nuwun Ki GD

  7. weleh..welehh… sesudah menunggu cukup lama ahirnya ..
    ki GD melemparkan kitab ke 127..
    ciaoo kamsia ki GD..

  8. Terima kasih kitab 127-nya Ki GD.

    Salam kenal buat semua cantrik senior yang lain.
    Saya cantrik baru. Baru bbrp hari diterima berguru di padepokan ini.

  9. ngene iki istilahe jare “suwe mijet wohing ranti
    ‘ mak sret langsung nemu
    pancen sekali sekali arek-arek cantrik iku yo dipenakno koyo ngene. cek’e gak ngersulo ae , wis nggolek’i gak ketemu ketemu ndilalah internet’e pedat-pedot pisan..
    ngono iku sing nggarahi kudu ngejak benjeng ae mbarek tonggo.
    matur sembah nuwun ki Gedhe

  10. beberapa hari ini Ki Gede biasa kasih kitabnya pagi2…
    ….
    bakalan para cantrik ga ada di gardu ronda lagi nih malam2…,pasti dulu2an tidur biar pagi2 bisa antri ambil kitab….
    hiks…. gardu ronda jadi sepi nih….

  11. Covernya udah sampai 30
    opo iyo ????

  12. jilid II niki sanes “jalan simpang” nggih?

    • Sanes Ki KG, niki “jalan layang”

  13. Rambitab dan Kumuda, murid perguruan Kendeng,
    lha muride perguruan Gendheng sapa ya…????

    • komedotab, rambitab, galaxytab

      • Oh, kula kinten Ki Mantab kalih Ki Muntab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: