Buku II-27

“Ya. Aku, Sabungsari,” jawab anak muda yang berdiri sambil bertolak pinggang di tengah jalan.

“Kenapa kau di sini?” bertanya Glagah Putih.

Sejenak Sabungsari termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kami telah siap untuk membunuhmu.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih terkejut. Agung Sedayu yang menganggap, bahwa Sabungsari benar-benar telah menyadari dirinya, tiba-tiba saja kini ia berdiri di tengah jalan sambil bertolak pinggang. Sementara Glagah Putih yang sama sekali belum mengetahui, bahwa Sabungsari pernah mengancam hidup Agung Sedayu itu pun terkejut pula. Nampaknya Sabungsari adalah seorang yang sangat baik bagi Agung Sedayu. Namun tiba-tiba anak muda itu kini berdiri di tengah jalan dengan tangan di pinggang.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun kemudian meloncat turun dari kudanya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Aku tidak mengerti, Sabungsari. Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya. Aku berkata sebenarnya. Aku telah datang ke tempat ini untuk menunggumu, karena aku mengerti, bahwa kau tidak akan bermalam di Sangkal Putung. Aku sudah menunda rencanaku beberapa hari. Kini aku sudah benar-benar sembuh dari luka-lukaku saat aku bertempur melawanmu dan kemudian membunuh Carang Waja. Kini datang giliranmu. Kaulah yang kini akan aku bunuh.”

“Sabungsari,” Glagah Putih pun kemudian turun pula dari kudanya, “kata-katamu membuat aku menjadi bingung.”

“Aku tidak mempunyai persoalan apa pun dengan kau. Pergilah sebelum kau ikut terbantai di sini,” sahut Sabungsari.

“Tetapi tingkah lakumu terlalu aneh bagiku,” desis Glagah Putih.

“Kau masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti. Aku akan membunuh Agung Sedayu karena ia telah membunuh ayahku. Kau jangan turut campur. Kau bagiku adalah anak-anak ingusan yang tidak berarti,” bentak Sabungsari, “Setelah aku berhasil membunuh Carang Waja, maka aku pun yakin, bahwa aku akan dapat membunuhmu.”

Glagah Putih menjadi semakin tegang. Ketika ia berpaling memandang wajah Agung Sedayu, maka yang nampak adalah wajah yang membeku di dalam gelap.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kau membuat aku menjadi bingung.”

“Jangan kau ratapi nasibmu. Aku datang bersama dua orang yang tidak tanggung-tanggung. Mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan tidak kalah dari Carang Waja. Nah, apa katamu sekarang? Jika kau ingin menangis, menangislah. Jika kau ingin berpesan, berpesanlah kepada Glagah Putih.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu. Seolah-olah ia tidak percaya kepada peristiwa yang dihadapinya. Seolah-olah ia bermimpi bertemu dengan Sabungsari dalam waktu surut beberapa pekan yang lewat. Pada saat Sabungsari masih dibakar oleh api dendam yang menyala di dadanya. Tetapi pada suatu saat, api itu sudah surut. Namun kini tiba-tiba api itu telah menyala kembali. Tiba-tiba saja Sabungsari telah berdiri bertolak pinggang, sambil menantangnya berperang tanding.

“Apakah karena ada dua orang itu, maka Sabungsari telah kambuh lagi dengan angan-angan hitamnya?” bertanya Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun pertanyaan itu tidak segera dapat dijawabnya. Ia masih melihat Sabungsari berdiri tegak seperti tonggak.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang terheran-heran melihat sikap itu, maju selangkah sambil bertanya, “Tetapi, bukankah kau Sabungsari yang aku kenal itu? Bukankah kau yang sering datang di padepokan?”

“Ya. Aku. Apakah kau sudah gila, sehingga kau tidak mau kenal aku lagi?”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Sabungsari pernah membunuh seseorang yang bernama Carang Waja yang memiliki kemampuan luar biasa.

Karena itu, Glagah Putih benar-benar menjadi cemas. Ketika ia memandang dua orang yang berdiri di pinggir jalan, maka detak jantungnya seakan-akan menjadi semakin cepat. Keduanya benar-benar nampak garang dan kasar.

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang masih termangu-mangu itu pun kemudian berkata, “Sabungsari. Aku benar-benar tidak mengerti sikapmu. Tetapi kita sudah saling mengenal. Bukan saja kau mengenal namaku dan aku mengenal namamu. Tetapi kau mengetahui apa yang mampu aku lakukan dan aku mengetahui apa yang mampu kau lakukan.”

“Benar!” Sabungsari hampir berteriak, “Tetapi kau tidak mengenal keduanya. Kau tidak mengenal kemampuannya,” Sabungsari berhenti sejenak. Lalu, “Keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding, yang telah menyediakan diri untuk membunuhmu. Keduanya adalah orang-orang yang telah di upah oleh Ki Pringgajaya.”

“Sabungsari!” kedua orang itu berteriak hampir berbareng.

“Kenapa?” bertanya Sabungsari, “Bukankah benar kalian diupah oleh Ki Pringgajaya untuk membunuh Agung Sedayu?”

“Itu tidak perlu kau katakan kepada siapapun.”

“Tetapi Agung Sedayu akan mati. Jika ia mengetahuinya, maka pengetahuannya akan dibawa mati. Ia tidak akan dapat menceriterakan kepada siapapun, bahwa Ki Pringgajaya telah mengupahmu untuk membunuh anak muda yang bernama Agung Sedayu, karena Ki Pringgajaya mempunyai hubungan dengan orang-orang yang mengaku pewaris Kerajaan Majapahit itu.”

“Cukup!” potong salah seorang dari kedua orang itu, “Kkau tidak usah mengigau tentang kami berdua. Jika kau ingin berperang tanding, segera lakukan. Kami menjadi saksi.”

Tetapi Sabungsari tertawa. Katanya, “Kalian tidak usah malu. Kalian memang diupah oleh Ki Pringgajaya. Dan aku akan bertindak atas namaku sendiri.”

“Cukup!” yang lain pun berteriak.

Namun Sabungsari tidak mau diam. Katanya kepada Agung Sedayu, “Agung Sedayu. Aku memang pernah minta kepada Ki Pringgajaya agar ia tidak tergesa-gesa bertindak. Aku ingin membunuhmu dalam perang tanding. Tetapi Ki Pringgajaya tidak tahu apakah yang pernah terjadi di antara kita, sehingga ia masih dengan sabar menunggu aku melakukannya. Tetapi akhirnya kesabaran itu ada batasnya. Malam ini adalah malam terakhir aku mendapat kesempatan berperang tanding. Sementara kedua orang itu telah dipersiapkan. Jika aku gagal, dan aku mati, maka keduanya akan membunuhmu.”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung menanggapi sikap Sabungsari. Namun ia mulai mempunyai tanggapan lain, meskipun ia tidak jelas, apakah maksud anak muda itu sebenarnya.

Dalam pada itu, kedua orang yang berdiri di tepi jalan itu bergeser setapak maju. Salah seorang dari mereka berkata lantang, “Jangan berbicara saja, Sabungsari. Waktunya sudah menjadi terlalu sempit. Jika kau ingin bertempur, kami akan segera menyelesaikannya. Kesempatan yang diberikan kepadamu dapat kau pergunakan atau tidak. Tetapi jangan menghambat tugas kami.”

Sabungsari justru tertawa. Katanya, “Tunggu. Jangan tergesa-gesa. Aku akan membuat Agung Sedayu marah. Sulit sekali memancing perselisihan dengan anak muda ini. Sebenarnya aku sudah pernah mencoba sebelumnya. Tetapi aku tidak berhasil.”

“Kau memang dungu. Jangan dipancing. Tantang ia berkelahi, kalau ia menolak, kau tinggal membantainya.”

“Itu licik. Aku harus membuatnya marah. Kemudian bertempur secara jantan, karena aku tidak mau merendahkan harga diriku sendiri.”

“Lakukanlah. Cepat, lakukanlah.”

Tetapi suara tertawa Sabungsari justru semakin keras. Katanya, “Kenapa justru kalian yang marah? Aku memancing Agung Sedayu agar marah. Tetapi Agung Sedayu belum juga marah.”

“Persetan!” teriak salah seorang dari kedua orang itu, “Jika kau takut menghadapi kematian. Minggirlah. Aku akan membunuhnya.”

“Jangan tergesa-gesa,” cegah Sabungsari, “tunggulah.”

Tetapi ternyata sikap Sabungsari telah membuat kedua orang itu benar-benar kehilangan kesabaran. Karena itu, maka berbareng mereka maju sambil menggeram.

“Pergilah. Kami berdua akan menyelesaikannya. Jika kau ingin menjadi saksi kematiannya, berdirilah menepi. Sebelum ada orang lain lewat, atau prajurit yang meronda di jalan ini, aku harus sudah membunuhnya.”

“Malam masih panjang. Aku memerlukan waktu tidak sampai tengah malam. Jika aku gagal, kau masih mempunyai setengah malam berikutnya.”

“Aku tidak mau menunggu sampai ada orang lain ikut campur. Ternyata kau anak gila. Pergilah. Meskipun kau berhasil membunuh Carang Waja, tetapi kau tidak berani berhadapan dengan Agung Sedayu.”

Suara tertawa Sabungsari justru menjadi semakin keras. Katanya, “Ternyata bahwa umpan yang aku berikan kepada Agung Sedayu telah kau sadap. Dengan demikian, kalian berdualah yang menjadi marah. Terserahlah. Jika kalian marah kepadaku, maaf, aku bukan sasaran yang baik, karena aku mempunyai harga diri. Kalian tidak berhak marah kepadaku. Kalian dapat berbuat apa saja, tetapi tidak atas aku.”

“Gila!” geram salah seorang dari kedua orang itu.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih justru berdiri membeku. Perlahan-lahan Agung Sedayu mulai memahami sikap Sabungsari, sementara Glagah Putih masih tetap berdiri termangu-mangu. Ia sama sekali tidak mengerti, apa yang telah terjadi. Ia menjadi bingung melihat sikap Sabungsari yang aneh itu.

“Ki Sanak,” berkata Sabungsari kemudian, “kalian jangan merampas hakku untuk membunuh Agung Sedayu. Aku sudah bertekad dan aku akan berjuang untuk dapat melakukannya.”

“Kau anak gila. Sudah aku katakan, kalau kau ingin melakukan, lakukanlah. Jika tidak, pergilah.”

“Aku akan melakukan. Tetapi terserah kepadaku, apakah sekarang, apakah menjelang tengah malam. Sabarlah menunggu. Jangan ganggu aku, agar aku tidak terpaksa bertahan atas hakku.”

“Anak setan!” geram salah seorang dari keduanya, “Katakan maksudmu yang sebenarnya. Aku mulai curiga kepadamu.”

Sabungsari memandang kedua orang itu berganti-ganti. Sejenak ia diam. Namun sejenak kemudian terdengar suara tertawanya yang makin lama menjadi makin keras. Katanya kemudian, “Ki Sanak. Baiklah aku berkata terus terang jika kau mulai mencurigaiku. Aku datang ke tempat ini untuk memperingatkan Agung Sedayu agar ia berhati-hati. Agar ia menyadari, bahwa ia akan berhadapan dengan dua orang yang pilih tanding.”

“Gila!” teriak kedua orang itu hampir berbareng. Salah seorang dari keduanya meneruskan, “Jadi, kau batalkan niatmu membunuh Agung Sedayu?”

“Aku sejak semula memang tidak akan membunuhnya. Aku tidak akan dapat melakukannya. Aku telah dikalahkan oleh Agung Sedayu,” jawab Sabungsari. Lalu, “Dengan demikian, aku adalah telukannya. Sebagai seorang laki-laki jantan, aku mengakui kekalahanku, dan aku akan menempatkan diriku sebagai seorang telukan yang tidak akan berkhianat.”

“Tetapi, kau mengkhianati Ki Pringgajaya!” Teriak salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku memang sengaja melakukannya,” jawab Sabungsari, “Ketahuilah, bahwa jika kalian berdua berhasil mencegat Agung Sedayu hanya berdua dengan Glagah Putih, maka kalian tentu akan berhasil membunuhnya. Ki Pringgajaya tentu sudah memperhitungkan dengan matang, siapakah yang akan dikirim untuk mencegat Agung Sedayu dan membunuhnya. Karena itu, agar aku tidak keliru kemana aku harus menemui kalian, maka aku minta seorang prajurit Ki Pringgajaya untuk mengantar aku, dengan alasan yang tentu saja memungkinkan.”

“Dengan demikian kau sudah menentang Ki Pringgajaya. Ia adalah seorang prajurit Pajang di Jati Anom,” geram salah seorang dari kedua orang itu.

“Aku juga seorang prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Ki Pringgajaya adalah seorang perwira. Sedang kau hanyalah seorang prajurit pada tataran terendah.”

“Apakah artinya pangkat dan jabatan bagi kebenaran. Kau tidak akan dapat mengukur perjuanganku sekarang ini dengan pangkat dan jabatan. Yang kau hadapi di sini adalah kau berdua. Bukan Ki Pringgajaya. Seandainya Ki Pringgajaya datang pula, maka terpaksa aku akan berani melawannya karena aku berdiri di pihak yang benar,” jawab Sabungsari.

Dalam pada itu, maka Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Sabungsari ternyata benar-benar seorang laki-laki. Ia tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang licik dan pengecut. Jika ia berkata bahwa ia kalah, maka kata-katanya adalah kata-kata seorang laki-laki.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Terima kasih atas sikapmu, Sabungsari. Dengan demikian kau telah menolong aku, dan bahkan kau sudah melindungi aku dari sambaran maut. Karena sebenarnya-lah bahwa kedua orang itu tentu orang yang pilih tanding.”

“Bersiaplah menghadapi segala kemungkinan, Agung Sedayu,” berkata Sabungsari.

“Aku sudah siap, Sabungsari. Kecuali jika kedua orang itu bersedia mengurungkan niatnya. Aku ingin mempersilahkan keduanya untuk mempertimbangkan kemungkinan lain dari berusaha membunuhku.”

“Maksudmu?” bertanya Sabungsari.

“Aku ingin bertanya kepada mereka, apakah mereka benar-benar berniat melakukannya?” desis Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sudah mengenal Agung Sedayu. Karena itu, maka dibiarkannya Agung Sedayu kemudian bertanya kepada keduanya, “Ki Sanak. Apakah benar seperti yang dikatakan oleh Sabungsari, bahwa kalian adalah sraya Ki Pringgajaya untuk membunuh aku?”

“Ya,” keduanya tidak dapat ingkar lagi. Yang seorang menambahkan, “jangan mempersulit tugas kami. Menyerahlah. Aku akan membunuhmu. Jika kau tidak berusaha melawan, maka saudaramu itu akan selamat.”

“Apa pedulimu?” Sabungsari yang menyahut, “Kau tidak akan dapat mengganggu anak yang masih terlalu muda itu.”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun ia pun telah mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh Sabungsari, justru bermaksud baik. Dengan cara itu, ia sudah berhasil berada di antara orang-orang yang telah mencegat Agung Sedayu, dan yang bahkan mungkin akan membunuhnya dengan licik.

Kedua orang itu menggeram. Yang seorang maju selangkah sambil berkata, “Tidak ada pilihan lain. Kami sudah terjebak oleh sikap Sabungsari. Tetapi kami pun mengerti akan kemampuan kami dan mengerti pula akan kemampuan kalian. Sabungsari berhasil membunuh Carang Waja, tetapi dengan luka arang keranjang. Agung Sedayu pun telah dapat mengalahkannya, meskipun tidak membunuhnya. Tetapi Agung Sedayu pun terluka pula.”

“Dengan demikian kami mengerti, bahwa kalian berdua adalah orang-orang yang pilih tanding. Tetapi kalian kini berhadapan tidak dengan orang-orang Pesisir Endut, yang hanya mampu mengguncang bumi dalam peristiwa semu. Kami adalah orang-orang yang datang dari Gunung Kendeng. Jika kau pernah mendengar dongeng dari siapapun, sepasang Elang yang ditakuti itu adalah kami berdua. Nama kami tentu sudah pernah kalian dengar pula. Rambitan dan Kumuda, dari perguruan Elang Hitam di lereng Gunung Kendeng.”

Yang pertama-tama menyahut adalah Sabungsari, “Jadi kalianlah yang digelari sepasang Elang dari Gunung Kendeng. Kalian pulalah yang bernama Rambitan dan Kumuda. Jika demikian, kalian tentu juga pernah mendengar nama perguruanku. Perguruan Telengan.”

“Persetan dengan Ki Gede Telengan,” geram yang seorang dari keduanya, “kau tidak dapat membanggakan apa pun juga dengan Ki Gede Telengan. Permainan sorot matamu tidak akan berarti bagi kami.”

Sabungsari menjadi tegang. Tetapi kemudian ia berkata, “Agung Sedayu. Beruntunglah kita, karena kita dapat bertemu dengan saudara-saudara kita dari Gunung Kendeng. Sayang mereka berdiri di pihak yang berlawanan dengan kita. Karena itu, kau tidak usah memikirkan, apakah mereka akan mengurungkan niatnya. Aku kenal, orang-orang dari perguruan Elang Hitam, pada dasarnya adalah orang-orang yang berhati keras. Karena itu, kau tidak usah mencoba mencegah benturan kekerasan di sini. Mereka membunuh kita, atau kita yang membunuh mereka.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sabungsari yang berdiri tegak dengan kaki renggang. Tetapi Agung Sedayu tidak meragukan anak muda itu lagi. Ternyata Sabungsari benar-benar seorang laki-laki.

Karena itu, maka katanya, “Jika memang seharusnya demikian, apaboleh buat, Sabungsari. Tetapi kita belum terlanjur membenturkan kekuatan. Sehingga karena itu, kemungkinan yang lain masih dapat terjadi.”

“Gila!” teriak Rambitan, “Kau kira kami adalah anak-anak cengeng yang merengek karena kehilangan mainan. Tidak. Meskipun Sabungsari berkhianat, kami tidak akan surut selangkah. Kami akan membunuh kau, Sabungsari dan Glagah Putih sekaligus. Kemudian kami akan menghancurkan padepokan kecilnya. Membunuh gurumu, saudara seperguruanmu yang sombong itu. Isterinya dan adiknya.”

“Kau dengar, Agung Sedayu,” berkata Sabungsari, “tidak ada gunanya lagi untuk merajuk. Kau pun jangan merengek seperti anak cengeng kehilangan mainan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jika tidak ada kesempatan lain, apaboleh buat. Tetapi segalanya belum terlanjur.”

Kedua orang dari Gunung Kendeng itu tiba-tiba telah meloncat maju sambil berteriak, “Aku akan membunuh kalian sekarang. Jangan mencoba untuk menghindari tangan-tangan maut yang sudah siap untuk menerkam. Karena hal itu akan sia-sia saja.”

Agung Sedayu memandang kedua orang itu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Jadi, kalian tidak memberikan kesempatan lain daripada mempertahankan diri?”

“Tutup mulutmu!” geram Kumuda.

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku memang masih ingin kembali ke padepokan, bertemu dengan guru dan orang-orang lain yang aku kenal. Karena itu aku akan mempertahankan diri.” lalu katanya kepada Glagah Putih, “Minggirlah, Glagah Putih. Ambillah jarak. Pegangilah kuda-kuda itu atau tambatkan pada pepohonan.”

Glagah Putih pun beringsut. Ia menyadari, bahwa keempat orang yang sudah siap untuk bertempur itu tentu orang-orang yang memiliki kelebihannya masing-masing. Karena itu, maka ia pun kemudian mengambil jarak dan menambatkan kudanya dan kuda Agung Sedayu. Baginya lebih baik kedua tangannya bebas dan siap untuk dipergunakan apabila perlu, karena ia tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi kemudian.

Sejenak kemudian, keempat orang itu sudah siap. Rambitan berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu, sedang Kumuda beringsut mendekati Sabungsari.

“Anak itu dapat bermain-main dengan matanya,” berkata Rambitan kepada Kumuda.

“Ya. Sorot matanya tidak akan dapat menembus perisai yang melingkari diriku, meskipun tidak kasat mata,” berkata Kumuda.

Sabungsari mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa orang itu tentu bukan hanya sekedar menakut-nakuti. Tetapi orang itu tentu nemiliki kemampuan seperti yang dikatakannya.

Namun demikian, Sabungsari tidak gentar. Ia pun bukan sekedar dapat berteriak dan berbicara lantang. Tetapi ia pun memiliki bekal ilmu dari perguruannya.

Ia datang ke Jati Anom dengan niat untuk membunuh Agung Sedayu. Karena itu, maka ia pun memiliki kepercayaan kepada ilmunya, meskipun ternyata ia tidak dapat mengalahkan anak muda itu.

Kini ia justru berdiri di pihak Agung Sedayu, untuk bersama-sama bertempur melawan sepasang Elang dari Gunung Kendeng itu.

Sejenak keempat orang itu berdiri dengan tegang. Masing-masing telah bersiap dalam kemampuan puncaknya, karena masing-masing sudah dapat menduga tataran ilmu lawannya.

Ketika Rambitan bergeser, maka Agung Sedayu pun bergeser pula. Ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Agung Sedayu memang masih merasa terlalu muda untuk mati. Betapapun juga ia harus bertahan untuk tetap hidup.

Namun dalam pada itu, seorang yang bersembunyi di balik semak-semak melihat segalanya yang terjadi. Ia tidak meninggalkan tempat itu, karena ia memang ingin mengawasi dua orang upahan itu.

Sikap Sabungsari ternyata benar-benar telah membakar jantungnya. Prajurit muda itu telah menipu Ki Pringgajaya, sehingga dengan demikian ia adalah orang yang paling berbahaya. Justru lebih berbahaya dari Agung Sedayu, karena ia merupakan saksi dari sikap Ki Pringgajaya terhadap adik Untara itu.

“Anak itu harus dibunuh,” geramnya. Tetapi prajurit itu merasa bahwa di antara keempat orang dengan ilmu raksasanya itu, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Namun sekilas dilihatnya Glagah Putih. Tiba-tiba saja ia mempunyai akal yang licik. Jika ia dapat menguasai Glagah Putih, maka ia tentu akan dapat memperlemah pertahanan Agung Sedayu dan Sabungsari.

Bahkan ia akan dapat mempergunakan Glagah Putih untuk memaksa Agung Sedayu dan Sabungsari menyerah, karena Glagah Putih adalah saudara sepupu dan di bawah tanggung jawab Agung Sedayu.

Prajurit itu tidak mengenal pengikut Sabungsari. Tetapi ia mendapat pikiran yang serupa dari apa yang pernah dilakukan oleh para pengikut Sabungsari di pantai Selatan itu.

Karena itu, maka sebelum pertempuran itu berkobar, dan apa lagi membawa korban, maka ia akan merunduk anak itu, dan sekaligus menguasainya dan mempergunakannya sebagai alat untuk memaksa Agung Sedayu menyerah.

Dengan hati-hati, prajurit itu berkisar mendekati Glagah Putih. Semakin lama semakin dekat. Ia menyusup di antara gerumbul-gerumbul dan semak-semak.

Namun, mata Agung Sedayu ternyata memiliki ketajaman penglihatan yang melampaui ketajaman penglihatan orang kebanyakan. Ia melihat dalam kegelapan seperti itu pun mampu melihat pada jarak yang sangat jauh. Jika ia memusatkan tatapan matanya dalam ketajaman penglihatan, maka seolah-olah yang jauh itu menjadi dekat, dan yang baur itu dapat menjadi jelas.

Karena itulah, maka di dalam gelapnya malam, ia melihat meskipun hanya lamat-lamat, semak-semak yang bergerak. Agung Sedayu melihat arah gerak pohon-pohon perdu yang rimbun itu, sehingga ia pun segera dapat mengambil kesimpulan, apa yang ada di balik semak-semak itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak sempat berbuat sesuatu. Ketika ia siap untuk meloncat ke balik semak-semak, ternyata lawannya telah bergerak selangkah maju dan bersiap untuk menyerang. Agung Sedayu harus memperhatikannya. Seperti yang diduganya, maka sejenak kemudian orang itu sudah meloncat menyerang dengan cepatnya.

Agung Sedayu berkisar selangkah. Namun ia masih sempat melihat Glagah Putih sekilas. Pada saat yang gawat itu, ia melihat sesosok bayangan yang muncul dari balik semak-semak di belakang Glagah Putih.

“Glagah Putih!” teriak Agung Sedayu, “Berhati-hatilah. Lihat di belakangmu.”

Teriakan itu mengejutkan Glagah Putih dan Sabungsari. Bahkan kedua orang yang mencegat Agung Sedayu itu pun terkejut pula, karena mereka tidak menyangka, bahwa prajurit yang mengawasi mereka telah mengambil sikap tersendiri.

Namun kedua orang itu merasa, bahwa sikap itu akan sangat menguntungkannya. Jika prajurit itu berhasil menguasai Glagah Putih, maka perlawanan Agung Sedayu dan Sabungsari tentu akan terganggu pula.

Namun, pada saat itu Glagah Putih sempat berpaling. Ia melihat seseorang berdiri beberapa langkah di belakangnya dan siap untuk menyerangnya.

Sementara itu, baik Glagah Putih maupun Agung Sedayu dan Sabungsari tidak mengetahui, seberapa tingkat ilmu orang yang menyerang itu. Karena itu, maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Jika orang yang menyerang Glagah Putih itu memiliki kemampuan seperti kedua orang yang lain, maka Glagah Putih benar-benar berada dalam bahaya.

Sambil mengelakkan serangan lawannya yang datang berikutnya, Agung Sedayu menyaksikan orang yang merunduk Glagah Putih itu mulai menyerang pula.

Dengan sepenuh tenaga prajurit itu menyerang, langsung mengarah ke dada Glagah Putih. Namun ternyata bahwa Glagah Putih mengelakkan serangan itu.

Pada serangan yang pertama, Agung Sedayu dan Sabungsari melihat, bahwa orang itu agak berbeda dengan iblis yang dua, yang berhadapan masing-masing dengan Agung Sedayu dan Sabungsari. Karena itu, maka Agung Sedayu dan Sabungsari pun menjadi agak tenang. Mereka dapat memusatkan perhatian mereka kepada lawan masing-masing.

Karena Agung Sedayu telah terlibat dalam pertempuran, maka lawan Sabungsari itu pun tidak menunggu lebih lama, ia pun segera menyerang dengan sepenuh kemampuannya.

Tetapi Sabungsari adalah seorang anak muda yang memiliki bekal ilmu yang cukup. Karena itu, maka serangan itu baginya, bukannya serangan yang berpengaruh, baik badannya, maupun bagi jiwanya.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian kedua anak-anak muda itu pun segera terlibat ke dalam pertempuran yang sengit. Kedua orang dari perguruan Elang Hitam itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya, karena mereka sadar, tatapan mata yang menyala pada anak-anak muda itu akan dapat membakar jantungnya.

Rambitan dan Kumuda berusaha untuk bertempur pada jarak yang pendek, sehingga tidak memberi kesempatan lawannya untuk membangunkan kekuatan lewat sorot matanya. Mereka melibat dalam benturan-benturan pendek, pada jarak jangkau serangan tangan dan kakinya.

Namun, sekali-sekali Sabungsari berusaha melepaskan diri dari libatan yang keras itu. Meskipun ia belum bermaksud mempergunakan kekuatan sorot matanya, namun seolah-olah ia sedang mencoba, apakah pada suatu saat ia akan dapat mengambil kesempatan untuk melakukannya.

“Jika aku dapat bertahan tanpa ilmu itu, aku akan melakukannya,” berkata Sabungsari di dalam hatinya. Karena ia sadar, bahwa ia memerlukan waktu. Jika dalam saat sekejap itu ia terjebak, maka ia akan mengalami kesulitan seterusnya.

Karena itu, maka ia justru tidak mempergunakan ilmu puncaknya apabila ia memang belum terpaksa.

Selagi kedua orang anak muda itu bertempur dengan serunya, maka prajurit yang merunduk Glagah Putih itu pun telah terlibat dalam perkelahian. Untunglah, bahwa Glagah Putih telah menempa diri dalam menekuni ilmunya, sehingga kemampuannya telah jauh meningkat.

Yang dihadapinya kemudian adalah seorang prajurit Pajang di Jati Anom yang tidak memiliki kelebihan seperti Sabungsari. Ia tidak lebih dari seorang prajurit kebanyakan, yang mempunyai ilmu dasar bagi seorang prajurit. Meskipun ia memiliki ilmu yang cukup dalam perang gelar, tetapi dalam ilmu kanuragan secara pribadi, ia tidak memiliki banyak kelebihan.

Karena itu, maka ketika kemudian Glagah Putih sempat mempertahankan dirinya, maka prajurit itu pun tidak terlalu banyak dapat memaksakan kehendaknya. Meskipun Glagah Putih masih belum memiliki pengalaman, namun ia masih sempat bertahan. Dengan ilmu yang ada padanya, ia berjuang untuk tidak segera mati atau dilumpuhkan oleh lawannya.

Ternyata Agung Sedayu melihatnya. Karena itu, maka Agung Sedayu pun berteriak, “Bertahanlah, Glagah Putih. Aku akan segera datang membantumu.”

“Kau akan mati,” teriak Rambitan.

Yang terdengar berteriak kemudian adalah Sabungsari, “Jika demikian, aku-lah yang akan membantumu.”

“Kau pun akan mati,” geram Kumuda. Sabungsari tertawa. Katanya, “Ternyata kau hanya dapat berkicau. Apa kelebihanmu dari Carang Waja?”

Kumuda benar-benar merasa terhina. Namun perasaannya tidak cepat terbakar. Ia masih sempat membuat pertimbangan-pertimbangan menghadapi anak muda yang ternyata benar-benar memiliki kemampuan.

Agaknya mereka yang bertempur itu masih belum sampai pada puncak ilmu masing-masing. Mereka masing-masing masih mencoba menjajagi kemampuan lawannya. Karena itulah maka masing-masing masih bertempur dengan kemampuan wadag mereka sewajarnya, meskipun semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin sengit. Mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka dan mulai merambat pada kemampuan tenaga cadangan meskipun belum sepenuhnya.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun mulai menyadari sepenuhnya, bahwa lawannya benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Lawannya semakin lama semakin menjadi kuat dan gerakannya menjadi semakin cepat.

Sementara itu, Glagah Putih pun telah bertempur dengan serunya. Agak berbeda dengan Agung Sedayu dan Sabungsari, ternyata Glagah Putih telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mempertahankan diri, karena lawannya pun berusaha untuk segera menguasainya. Namun kemampuan Glagah Putih yang didapatnya dengan menempa diri hampir setiap saat itu pun telah melindunginya. Ia telah mampu bergerak dengan cepat dan tangkas, meskipun ia masih dibatasi oleh kekuatan dan kemampuan wadag sewajarnya. Tetapi karena latihan-latihan yang berat, maka ia adalah seorang anak muda yang kuat dan trampil.

Ternyata lawannya pun seorang prajurit yang kuat dan trampil. Tetapi seperti Glagah Putih, ia pun bertumpu pada kemampuan wadag sewajarnya.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Glagah Putih dan prajurit itu pun menjadi semakin seru. Masing-masing telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya.

Tetapi ternyata kemudian, bahwa prajurit itu memiliki pengalaman yang lebih luas. Glagah Putih kadang-kadang masih nampak gugup dan kehilangan kesempatan yang berarti. Namun setiap kali ia masih menyadari dirinya dan selalu meloncat mengambil jarak, sementara ia berusaha memperbaiki kedudukannya.

Agung Sedayu dan Sabungsari tidak mempunyai kesempatan terlalu banyak untuk mengamati Glagah Putih, karena ia harus memperhatikan lawan masing-masing dengan saksama. Meskipun mereka agaknya belum sampai pada puncak ilmu mereka, namun Agung Sedayu dan Sabungsari tidak ingin terjebak oleh kelengahannya. Sehingga dengan demikian, maka keduanya telah bertempur dengan hati-hati. Mereka mengerti, bahwa setiap saat lawan masing-masing akan dapat melontarkan ilmu pamungkas mereka.

Dalam pada itu, maka pertempuran di bulak panjang itu pun menjadi semakin seru. Adalah kebetulan sekali, bahwa tidak ada seorang petani pun yang menjenguk sawahnya, di bulak panjang yang gelap dan di malam yang dingin. Karena itu, maka tidak seorang pun yang telah melihat, apa yang telah terjadi di bulak panjang itu.

Sementara itu, Rambitan yang berhadapan dengan Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin yakin, bahwa anak muda itu memang memiliki ilmu yang luar biasa. Yang didengarnya tentang Agung Sedayu bukannya sekedar dongeng yang tidak berarti. Tetapi setelah ia berhadapan langsung dengan anak muda itu, maka ia pun mulai mempercayainya.

Namun Rambitan yang merasa dirinya murid terbaik dari perguruan Elang Hitam di pegunungan Kendeng itu, justru semakin bergairah. Ia ingin menunjukkan, bahwa murid-murid dari Gunung Kendeng itu bukannya sekedar mampu berkicau dan berteriak-teriak, seperti yang dituduhkan oleh Sabungsari terhadap Kumuda. Namun dengan kemantapan ilmunya, perguruan Gunung Kendeng akan dapat menghancurkan lawan-lawannya.

Perlahan-lahan, Rambitan pun mulai meningkatkan ilmunya. Dengan demikian ia ingin melihat sampai batas tertinggi kemampuan lawannya. Jika pada suatu saat, Agung Sedayu tidak lagi mengimbanginya, maka ia akan mendapat ukuran, bahwa kemampuan anak muda yang menggetarkan Pajang itu hanya sampai pada tingkat tertentu di bawah ilmunya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu ternyata menyadari, apa yang dilakukan oleh lawannya. Karena itu, maka ia pun selalu mengikutinya dengan saksama. Setiap kali lawannya meningkatkan ilmunya, maka Agung Sedayu pun melakukannya pula.

Setiap kali terasa oleh Agung Sedayu, tekanan lawannya yang menjadi semakin meningkat. Pertanda peningkatan ilmu ini ternyata sangat menarik bagi Agung Sedayu. Bukan saja Rambitan yang ingin mengetahui batas puncak kemampuan lawannya, namun Agung Sedayu pun telah melakukan yang serupa.

Dengan demikian, Agung Sedayu tidak dengan serta merta mengerahkan ilmunya seperti yang dilakukan oleh lawannya. Dengan cara itu ia akan mengetahui tingkat tertinggi dari murid terbaik yang datang dari perguruan Elang Hitam di Gunung Kendeng.

“Anak-anak murid dari Perguruan Wulung Ireng ini tentu sedang menjajagi kemampuanku pula,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Agak berbeda dengan Agung Sedayu adalah Sabungsari. Ia bukan anak muda yang ragu-ragu dan mempunyai banyak pertimbangan yang dapat menghambat tingkah lakunya. Ia tidak memikirkan, apa yang sedang dilakukan oleh lawannya. Karena itu, maka Sabungsari pun segera bertempur dengan segenap kemampuannya melawan Kumuda, yang dicengkam oleh nafsu yang membara di dadanya untuk membunuh anak muda yang dianggapnya berkhianat itu.

Karena itu, maka pertempuran antara Sabungsari dan Kumuda menjadi semakin sengit. Lebih seru dari arena pertempuran antara Agung Sedayu dan Rambitan.

Rambitan pun mengetahui sekilas, bahwa agaknya Kumuda dan Sabungsari telah sampai ke puncak ilmunya, sehingga mereka bagaikan prahara yang saling membentur.

Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Serangan yang membentur serangan itu seolah-olah telah menimbulkan angin pusaran. Desir yang berbaur dengan hentakan tenaga yang lepas dari sasaran, telah membuat arena pertempuran itu bagaikan di guncang oleh gempa yang mengerikan.

Sabungsari yang pernah bertempur melawan Carang Waja itu pun merasa, bahwa lawannya ternyata memiliki kemampuan yang berbeda. Kumuda tidak dapat mengguncang tanah bagaikan guncangan gempa yang ternyata hanya semu. Tetapi Kumuda benar-benar mampu bergerak cepat dan serangannya pun dilambari dengan kekuatan yang luar biasa. Ia mampu meloncat bagaikan petir yang menyambar di langit. Dan ia pun mampu menghantamkan hentakkan kekuatan bagaikan gugurnya gunung Merapi dan Merbabu, menghimpit lawannya tanpa ampun.

Karena itu, maka Sabungsari pun harus berhati-hati. Ia harus berusaha mengimbangi kecepatan bergerak lawannya, dan sekaligus berusaha untuk mengerahkan tenaga cadangannya dalam daya tahannya. Karena setiap sentuhan serangan lawannya, akan dapat berarti hancurnya isi dadanya jika ia tidak mengerahkan daya tahannya sekuat-kuatnya.

Dengan demikian, maka kekuatan cadangan Sabungsari sebagian telah terhisap pada pertahanannya. Karena itu, maka serangan-serangannya pun menjadi lemah.

Namun dalam pada itu, bukan berarti bahwa Sabungsari tidak pernah menyerang lawannya. Dalam kesempatan tertentu, Sabungsari pun mampu menyerang. Tetapi yang diluncurkan bukanlah puncak dari kekuatannya.

Untuk beberapa saat, Sabungsari masih harus mengamati dengan sungguh-sungguh keadaan lawannya yang sesungguhnya. Ia harus melihat, dimana kelebihannya dan dimana kekurangannya.

Tetapi kesempatan terlalu sempit bagi Sabungsari. Lawannya melibatnya dalam pertempuran yang keras pada jarak yang pendek. Apalagi lawannya memiliki kecepatan bergerak yang mendebarkan, dan kekuatan mengagumkan.

Namun dalam pada itu, kekuatan dan kemampuan Sabungsari telah benar-benar pulih kembali sejak ia dilukai oleh Carang Waja. Segala luka-lukanya telah sembuh dan kemampuannya pun telah dimilikinya kembali.

Karena itu, betapapun juga, Sabungsari pun ternyata adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ia pun telah menempa diri sebelum meninggalkan padepokannya. Meskipun ia mempersiapkan dirinya untuk melawan Agung Sedayu, namun yang dihadapinya kemudian dalam pertempuran antara hidup dan mati adalah justru orang-orang lain.

Menghadapi lawannya yang tangguh tanggon itu, Sabungsari pun harus mengerahkan segenap kemampuannya. Ia masih berusaha mengimbangi kemampuan lawannya dalam pertempuran yang semakin lama menjadi semakin keras dan kasar.

“Aku pun orang kasar sejak semula,” geram Sabungsari di dalam hatinya. Karena itu, maka ia pun mampu mengimbangi kekerasan dan kekasaran sikap lawannya.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Sabungsari dan Kumuda itu benar-benar merupakan pertempuran yang dahsyat. Benturan-benturan kekuatan dan lontaran-lontaran serangan dengan kecepatan petir di udara.

Namun dalam pada itu, Kumuda pun menjadi heran. Setiap kali serangannya menyentuh lawannya, prajurit muda itu seolah-olah tidak bergetar. Ia mampu menahan serangannya yang dilontarkan dengan kekuatan raksasa. Bahkan dalam pada itu, Sabungsari masih juga sempat membalas serangan dengan serangan. Meskipun kekuatan serangan Sabungsari tidak meruntuhkan isi dada lawannya, namun sentuhan-sentuhan yang semakin sering, terasa mulai mengganggu lawannya. Apalagi sentuhan-sentuhan di tempat yang paling gawat. Meskipun tidak terlalu keras, tetapi akan dapat mempunyai akibat yang menentukan.

Dengan kecepatan bergerak, Sabungsari beberapa kali hampir berhasil menyentuh tempat-tempat yang berbahaya. Ia sadar, bahwa sebagian besar kekuatannya dipergunakannya untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya, sehingga karena itu, ia harus mampu mempergunakan sebagian dari tenaganya pada sasaran yang menentukan.

Kumuda menggeram, ketika hampir saja jari-jari Sabungsari menyentuh matanya. Ia masih sempat menggeser kepalanya, sehingga jari-jari Sabungsari hanya mengenai keningnya. Tetapi sekejap kemudian disusul dengan serangan ibu jari anak muda itu menyentuh leher lawannya.

Kumuda terkejut. Ia sempat meloncat surut. Sentuhan di lehernya yang tidak terlalu kuat itu, rasa-rasanya telah menutup pernafasannya. Namun sejenak kemudian, ia telah berhasil membuka kembali jalur pernafasannya sehingga ia dapat bernafas lagi dengan wajar.

Kumuda pun kemudian menyadari, bahwa meskipun serangan Sabungsari tidak terlalu kuat, namun ia mampu memilih sasaran yang menentukan. Sehingga karena itu, maka Kumuda menjadi lebih berhati-hati. Jika semula ia berbangga, bahwa serangan-serangannya seolah-olah telah memaksa Sabungsari untuk sekedar bertahan, dan dengan demikian maka kesempatan menyerang anak muda itu menjadi sangat terbatas, namun ternyata kemudian, bahwa dalam kelemahan itu, terdapat kemampuan yang mengagumkan. Sabungsari ternyata menguasai benar-benar jalur-jalur otot bebayu dan garis-garis syaraf yang terpenting, di samping bagian-bagian tubuh yang lemah.

Dengan demikian, maka Kumuda tidak lagi menganggap bahwa kekalahan lawannya hanyalah tinggal soal waktu. Justru ia mulai menganggap lawannya adalah orang yang benar-benar berbahaya.

Apalagi Kumuda pernah mendengar, bahwa Sabungsari memiliki kemampuan pada tatapan matanya. Jika anak muda itu mendapat kesempatan untuk mengambil jarak waktu barang sekejap, maka ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya.

Tetapi Kumuda pun mempunyai sipat kandel yang akan dapat dipergunakannya untuk melawan serangan yang tidak mempergunakan rabaan wadag dengan wantah itu, meskipun ia sendiri belum meyakini, seberapa jauh ia akan dapat bertahan terhadap serangan tatapan mata Sabungsari.

“Tetapi aku bukan sasaran mati yang menunggu jantungku terbakar oleh tatapan matanya,” berkata Kumuda di dalam hati, “adalah kebodohan yang sangat besar jika aku harus mati di bawah sorot matanya.”

Sebenarnyalah, bahwa Sabungsari terlalu sulit untuk dapat mengambil jarak dan waktu untuk mengungkapkan kemampuan puncaknya itu.

Namun dalam pada itu, Sabungsari pun belum merasa terdesak oleh lawannya dalam pertempuran yang keras itu. Ia masih tetap memusatkan sebagian terbesar kekuatan dan kemampuan cadangannya pada daya tahannya, sehingga seolah-olah ia menjadi seorang yang memiliki ilmu kebal, meskipun setiap kali ia masih harus menyeringai dan berdesis menahan sakit. Sementara itu, ia telah mempergunakan ketrampilan dan pengetahuannya tentang tubuh dan bagian-bagiannya untuk melemahkan pertahanan lawannya. Ia mengetahui tempat yang paling ringkih, meskipun hanya mendapat serangan yang tidak begitu kuat, tetapi telah menimbulkan akibat yang gawat.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Sabungsari dan Kumuda itu pun justru menjadi semakin sengit. Keduanya bergerak semakin cepat, dan serangan-serangannya pun datang silih berganti, meskipun dalam ungkapan yang berbeda.

Sementara itu, ternyata Rambitan mulai dipengaruhi oleh keadaan lawannya yang masih muda. Sementara ia perlahan-lahan meningkatkan ilmunya, namun ia tidak sampai pada batas yang dianggapnya sebagai tingkat puncak ilmu lawannya. Setiap ia meningkatkan kemampuan dan kekuatannya, maka Agung Sedayu selalu dapat mengimbanginya. Sehingga akhirnya, ketika Rambitan sudah mendekati puncak kemampuannya, maka ia pun menjadi gelisah.

“Dari mana iblis ini memiliki ilmu yang jarang ada bandingnya?” berkata Rambitan di dalam hatinya.

Tetapi Rambitan masih mempunyai harapan. Pada tahap terakhir dari tingkat ilmunya, ia akan membuktikan, bahwa ia memiliki kelebihan dari Agung Sedayu, yang dalam pertempuran melawan Carang Waja ternyata hanya mampu mengimbanginya tanpa dapat membunuhnya.

Namun ada yang tidak diketahui oleh Rambitan, kenapa Carang Waja tidak mati oleh Agung Sedayu. Rambitan sama sekali tidak membayangkan warna hati dalam dada anak muda itu.

Apalagi yang dilakukan Agung Sedayu saat itu, adalah saat-saat ia sama sekali belum tersentuh ilmu yang terdapat dalam kitab Ki Waskita. Sehingga ilmunya sama sekali masih belum terpengaruh sama sekali.

Dengan demikian, maka ukuran Rambitan atas ilmu Agung Sedayu ternyata tidak tepat. Bahkan agak jauh dari kebenaran.

Karena itu, ketika Rambitan akhirnya sampai pada puncak ilmunya, melampaui kemampuan ilmu Kumuda, ternyata bahwa ia tidak berhasil dengan serta merta menguasai Agung Sedayu. Betapapun keras dan kasarnya ia bertempur, namun seolah-olah Agung Sedayu mampu mengimbanginya.

Kekuatan Rambitan yang luar biasa, kecepatan bergerak yang jarang ada bandingnya, tidak mampu menguasai anak muda yang bernama Agung Sedayu itu. Bahkan jika Rambitan mencoba untuk membenturkan kekuatannya, maka hentakan tenaganya seolah-olah telah memukul isi dadanya sendiri. Agung Sedayu benar-benar bagaikan tonggak baja yang berdiri tegak menghunjam ke pusat bumi.

Kegelisahan Rambitan ternyata telah memaksanya untuk mulai mempertimbangkan jenis-jenis senjata yang dibawanya. Ketika ternyata bahwa kekuatannya yang menghantam Agung Sedayu, tidak mampu melumpuhkan anak muda itu, maka mulailah Rambitan meraba hulu pedangnya.

“Tidak ada pilihan lain,” katanya di dalam hati. Namun dengan demikian ia sadar, bahwa mungkin ia justru akan mengalami tekanan yang lebih berat, jika anak muda yang dihadapinya itu menarik cambuknya. Menurut pendengarannya, anak muda ini mempunyai cambuk yang mampu mendendangkan lagu maut.

Agung Sedayu melangkah surut, ketika ia melihat Rambitan menarik parangnya. Sejenak ia termangu-mangu. Wajahnya menjadi semakin tegang dan jantungnya berdegupan.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 26 Januari 2009 at 08:43  Comments (116)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

116 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur nuwun Ki Gede, sampun dipun sruput, lha tapi aku sinaune lagi tekan kitab 93, ora opo2 nggo simpenan, mekate njih Ki Gede !

  2. Teng yu…teng yu….
    Kitab 127 sampun kawula unduh, kantun mempelajari jurus2nya…
    Matur suwun Ki GeDe….

  3. sugeng enjing….

    wah… bar ngeterke sekolah anak…. tekan ngomah disuguhi rontal 127

    matur tengkyu Ki GD

  4. waduh,baru aja mau konsep surat eh ada kiriman rontal,jd bingung nih mau baca dulu atao gimana (pura2 bingung)…he..he

    matur thank you ki gedhe

  5. Pagi-pagi di depan gubug Ki Truno ada Koper tergeletak. Ki Truno sempat bingung, karena koper itu cukup berat dan kelihatan sarat muatannya.
    Segera Ki Truno memanggil semua tetangganya untuk ngumpul di gubugnya, sekaligus menanyakan barangkali ada yang memiliki koper itu. Setelah semua tetangga menyatakan bahwa mereka bukan pemilik koper itu, maka dengan disaksikan para tetangga, kemudian koper itupun dibuka.
    Ki Truno Podang dan para tetangganya terkejut bukan kepalang. Ternyata isi koper itu adalah “piauw”, dan setelah dihitung bersama-sama jumlah piauwnya 127 buah. Di sudut koper ada tulisan, oleh2 dari Ki GD.
    Hatur nuhuuuun Ki GD,semoga Tuhan YME senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah untuk Ki GD beserta krue-nya, dan semoga Ki GD beserta krue senantiasa sehat wal’afiat sehingga dapat melaksanakan tugas2 dengan lancar, termasuk tugas2 yang dinanti para ADBM-ers.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. habis dapat order dari customer …. ndilalah kiriman 127 nongol. Adeem beneerrr…….he he.
    Matur nuwun Ki GD

  7. weleh..welehh… sesudah menunggu cukup lama ahirnya ..
    ki GD melemparkan kitab ke 127..
    ciaoo kamsia ki GD..

  8. Terima kasih kitab 127-nya Ki GD.

    Salam kenal buat semua cantrik senior yang lain.
    Saya cantrik baru. Baru bbrp hari diterima berguru di padepokan ini.

  9. ngene iki istilahe jare “suwe mijet wohing ranti
    ‘ mak sret langsung nemu
    pancen sekali sekali arek-arek cantrik iku yo dipenakno koyo ngene. cek’e gak ngersulo ae , wis nggolek’i gak ketemu ketemu ndilalah internet’e pedat-pedot pisan..
    ngono iku sing nggarahi kudu ngejak benjeng ae mbarek tonggo.
    matur sembah nuwun ki Gedhe

  10. beberapa hari ini Ki Gede biasa kasih kitabnya pagi2…
    ….
    bakalan para cantrik ga ada di gardu ronda lagi nih malam2…,pasti dulu2an tidur biar pagi2 bisa antri ambil kitab….
    hiks…. gardu ronda jadi sepi nih….

  11. Covernya udah sampai 30
    opo iyo ????

  12. jilid II niki sanes “jalan simpang” nggih?

    • Sanes Ki KG, niki “jalan layang”

  13. Rambitab dan Kumuda, murid perguruan Kendeng,
    lha muride perguruan Gendheng sapa ya…????

    • komedotab, rambitab, galaxytab

      • Oh, kula kinten Ki Mantab kalih Ki Muntab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: