Buku II-27

“Jarak itu tidak terlalu jauh,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “aku tidak perlu minta agar guru kembali ke padepokan apabila ia masih mempunyai beberapa kepentingan di Sangkal Putung. Tetapi apa yang harus aku lakukan, aku perlu mendengar pendapat guru.”

Karena itu, maka niat itu pun semakin lama mendesak di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia masih harus mempertimbangkannya.

Sementara itu, Sabungsari pun menjadi semakin gelisah. Waktu yang diberikan oleh Ki Pringgajaya sudah hampir habis. Meskipun Ki Pringgajaya tidak akan menyalahkannya, atau bertindak terhadapnya karena ia tidak berbuat sesuatu atas Agung Sedayu, tetapi ancaman maut itu akan benar-benar tertuju kepada Agung Sedayu itu sendiri.

Sabungsari yang bukan sanak bukan kadang dari Agung Sedayu, karena ikatan jiwani yang terjalin dalam hubungannya yang dimulai dengan permusuhan itu, ternyata telah membebaninya dengan perasaan ikut bertanggung jawab atas keselamatan Agung Sedayu, karena Sabungsari merasa jiwanya telah diselamatkan oleh anak muda itu.

“Jika bukan Agung Sedayu, aku tentu sudah mati di pinggir sungai itu. Kawan-kawanku pun tentu telah tumpas di pesisir ketika mengikutinya,” berkata Sabungsari di dalam hatinya.

Karena itu, pada saat-saat menjelang batas waktu yang diberikan oleh Ki Priggajaya, ia menjadi semakin gelisah. Seolah-olah ia melihat Agung Sedayu telah berdiri di pinggir jurang kematian.

Sabungsari yang gelisah itu menjadi sangat kecewa ketika kemudian ia mendengar dari anak-anak muda yang tinggal di padepokan, bahwa Agung Sedayu telah pergi ke Sangkal Putung.

“Tetapi ia tidak akan bermalam,” berkata anak muda itu.

“Apa Agung Sedayu tidak berpesan apa pun bagiku?” bertanya Sabungsari.

“Tidak,” jawab anak muda itu, “Ia hanya mengatakan, bahwa ia akan pulang meskipun mungkin agak malam.”

Sabungsari kemudian minta diri. Tetapi kepergian Agung Sedayu diikuti oleh Glagah Putih membuatnya gelisah. Karena Sabungsari sadar, bahwa nyawa Agung Sedayu sedang terancam.

“Jika Ki Pringgajaya mendapat kesempatan, ia tidak akan menghiraukan waktu yang memang sudah hampir habis ini. Ia tidak akan memperhitungkan aku lagi, karena nampaknya kesabarannya benar-benar telah habis,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri.

Dalam pada itu, Agung Sedayu ternyata benar-benar telah pergi ke Sangkal Putung. Kedatangannya memang agak mengejutkan. Tetapi kepada Swandaru ia tidak mengatakan alasan yang sebenarnya. Ia hanya mengatakan, bahwa tiba-tiba saja ia ingin pergi ke Sangkal Putung.

“Itu wajar sekali,” Pandan Wangi-lah yang menyahut, “tentu bukan karena Kiai Gringsing ada di sini.”

Pandan Wangi mengaduh ketika terasa lengannya pedih dicubit oleh Sekar Mirah yang duduk di sampingnya.

Tetapi ketika Agung Sedayu mengatakan, bahwa ia tidak akan bermalam di Sangkal Putung, Swandaru bertanya, “Kenapa tergesa-gesa?”

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Setiap saat jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom dapat aku tempuh dalam waktu singkat karena jarak itu tidak begitu panjang. Mungkin besok atau lusa, aku tiba-tiba saja ingin pergi kemari lagi.”

Namun pada saat-saat ia berdua dengan gurunya, maka persoalannya itu pun disampaikannya dengan hati-hati.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ternyata hal itu membuatnya gelisah pula.

“Ki Pringgajaya adalah prajurit Pajang yang masih dalam kedudukannya. Ia seorang perwira yang mempunyai pengaruh di antara anak buahnya. Agaknya ia merasa memiliki kelebihan dari Untara, meskipun ia berada di bawah pimpinan kakakmu,” berkata Kiai Gringsing.

“Itulah yang menggelisahkan, Guru,” berkata Agung Sedayu, “Sabungsari yang juga berada di lingkungan keprajuritan mengetahui hal itu, sebelum aku mengalahkannya di pinggir sungai itu,” berkata Agung Sedayu.

Sejanak Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Agung Sedayu. Kau harus berbicara dengan Untara. Pendapat Sabungsari ada juga benarnya. Tetapi kau dapat memberikan saran kepada Untara, agar ia tidak tergesa-gesa bertindak. Bahkan kau minta bantuan Untara, agar yang kau katakan itu dapat dibuktikan. Bukan sekedar tuduhan yang akan dapat disebut fitnah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud gurunya. Justru Untara-lah yang harus memberikan jalan kepadanya, sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Ia tidak semata-mata melaporkan tanpa bukti, tetapi Untara harus membantunya, agar ia dapat membuktikan, bahwa Ki Pringgajaya benar-benar ingin membunuhnya.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun memutuskan untuk melakukan seperti yang dinasehatkan gurunya. Ia akan kembali ke Jati Anom untuk menemui kakaknya dan minta pendapatnya. Namun ia masih mempunyai sebuah pertanyaan kepada gurunya, “Guru, bagaimana jika Ki Pringgajaya sudah mencurigainya saat aku menjumpai kakang Untara? Sehingga, ia telah mempersiapkan dirinya untuk menghilangkan segala jejak dan kesan bahwa ia benar-benar ingin melakukan hal itu?”

“Mungkin sekali, Agung Sedayu, tetapi aku kira kau tidak mempunyai jalan lain yang lebih baik dan tanpa menimbulkan persoalan yang gawat dengan prajurit Pajang,” berkata gurunya.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Agaknya memang tidak ada jalan yang lebih baik, datang kepada kakaknya untuk menyampaikan persoalannya.

Pembicaraan itu pun terputus, ketika Glagah Putih datang mendekat dan bahkan duduk bersamanya. Namun persoalan yang dikemukakan oleh Agung Sedayu sebagian besar telah terjawab.

Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka berdua dengan Glagah Putih, mereka mohon diri menjelang senja. Ki Demang Sangkal Putung dan mereka yang berada di Sangkal Putung berusaha mencegahnya. Tetapi sambil tersenyum Agung Sedayu berkata, “Besok atau lusa aku sudah berada di sini kembali.”

Dengan demikian maka keberangkatannya kembali ke Jati Anom tidak dapat dicegah lagi. Sebelum gelap, maka keduanya pun meninggalkan Sangkal Putung menuju ke Jati Anom.

Di perjalanan Agung Sedayu sempat mengenang masa remajanya. Ketika ia harus menempuh perjalanan ke arah yang sebaliknya. Dari Dukuh Pakuwon ke Sangkal Putung di malam hari, justru pada saat yang gawat, ketika pasukan Tohpati masih berada di sekitar Sangkal Putung.

Kini ia menempuh jalan yang berlawanan. Namun dalam saat yang gawat pula, karena seseorang sedang mengancam jiwanya.

“Mudah-mudahan aku sempat menyampaikan hal ini kepada kakang Untara,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “meskipun Sabungsari tidak sependapat.”

Demikianlah, kedua orang itu berkuda menyelusuri ujung malam yang menjadi semakin gelap. Kunang-kunang di antara batang-batang padi nampak berkeredipan, seperti reruntuhan bintang-bintang kecil yang bertebaran.

Di perjalanan keduanya tidak banyak berbicara. Glagah Putih lebih banyak merenung tentang dirinya sendiri. Ia memang merasa ketinggalan. Namun ia sudah bekerja keras. Dalam waktu yang terhitung tidak terlalu panjang, ia sudah mendapat kemajuan yang cukup banyak. Karena itu, maka Glagah Putih bukan lagi seorang anak yang dapat dianggap pupuk bawang. Ia sudah mulai dapat diperhitungkan, baru dalam tataran permulaan.

Dalam pada itu, selagi Agung Sedayu dalam perjalanan, maka kegelisahan yang sangat telah mengguncangkan hati Sabungsari. Di luar sadarnya ia berjalan-jalan di depan baraknya oleh udara yang terasa panas. Namun, dengan jantung yang berdebar-debar ia melihat seorang prajurit, yang dikenalnya sebagai pengikut Ki Pringgajaya, keluar dari halaman barak di atas punggung kuda.

“He,” dengan serta merta Sabungsari menghentikannya, “kau akan kemana?”

Wajah prajurit itu menegang. Namun kemudian nampak sebuah senyum yang aneh di bibirnya. Dengan suara datar ia berkata, “Kami dipanggil Ki Pringgajaya.”

“Untuk apa?” bertanya Sabungsari.

“Kami tidak tahu,” jawab prajurit itu.

“Siapa yang kau maksud dengan kami?”

Orang itu tertegun. Namun kemudian nampak lagi senyumnya yang aneh bagi penglihatan Sabungsari.

Sepeninggal orang itu, Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia teringat, bahwa Agung Sedayu sedang pergi ke Sangkal Putung.

“Mungkin ia sedang dalam perjalanan kembali,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, “jika demikian, mungkin sekali Agung Sedayu berada dalam bahaya.”

Karena itu, maka Sabungsari pun kemudian segera kembali ke baraknya. Membenahi diri dan menyambar senjatanya. Dengan tergesa-gesa ia pergi kepada prajurit yang sedang bertugas, untuk minta ijin menemui kenalannya di Jati Anom.

Tanpa curiga, maka dibiarkannya Sabungsari berkuda meninggalkan baraknya. Sabungsari sama sekali tidak menunjukkan kesan kegelisahan. Namun demikian kudanya berada di luar regol halaman baraknya, maka ia pun memacunya sekencang angin, menuju ke tempat tinggal para perwira termasuk Ki Pringgajaya, yang tinggal tidak di rumah Untara.

Dengan hati yang berdebar-debar, Sabungsari berusaha untuk dapat berbicara dengan Pringgajaya. Karena hubungan yang khusus, maka Ki Pringgajaya pun kemudian justru memanggilnya masuk ke ruang tidurnya.

Sabungsari menjadi berdebar-debar, ketika ia melihat dua orang prajurit telah berada di ruang itu. Namun ia menghilangkan segala kesan yang membayang di wajahnya. Menghadapi keadaan yang gawat itu, ia harus dapat mengendalikan perasaannya.

“Duduklah,” berkata Ki Pringgajaya. Sabungsari yang menahan perasaannya itu pun kemudian duduk di sebelah prajurit yang dilihatnya berkuda di depan baraknya.

Sebelum Sabungsari bertanya, Ki Pringgajaya telah berkata, “Sabungsari. Waktuku sudah habis.”

“Belum, Ki Pringgajaya. Aku masih mempunyai sisa satu malam dan satu hari besok.”

Ki Pringgajaya menggeleng. Jawabnya, “Sudah terlalu pendek untuk melaksanakannya. Saat ini kami berencana sangat baik. Kami akan melakukannya sendiri. Kau jangan mencoba mencegahnya, agar kau tidak menyesal. Mungkin kau akan menempuh banyak jalan untuk mencari kepuasan yang mungkin tidak akan pernah kau dapatkan, karena justru mungkin kau-lah yang akan mati jika kau berperang tanding melawan Agung Sedayu.”

“Tidak,” potong Sabungsari, “aku berhasil membunuh Carang Waja. Dalam kesempatan yang sama, yang pernah didapat oleh Agung Sedayu, ia memang dapat mengalahkannya, tetapi tidak membunuhnya.”

Ki Pringgajaya mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah Sabungsari yang bersungguh-sungguh. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Mungkin keadaanmu lain dengan Agung Sedayu. Jika Agung Sedayu tidak selalu dibayangi oleh keragu-raguan, maka ia tentu akan dapat membunuh Carang Waja. Tetapi agaknya ia tidak melakukannya.”

“Itu hanya alasan. Tetapi jika aku mendapat kesempatan, aku akan mencobanya. Jika aku yang harus mati, apaboleh buat.”

Tetapi Ki Pringgajaya menggeleng. Katanya, “Itu tidak perlu, Sabungsari. Aku tidak mempunyai waktu lagi untuk mencoba-coba.”

“Tetapi aku pun tidak mau kehilangan kesempatan,” bantah Sabungsari.

“Jangan memaksa aku untuk memaksamu. Aku tahu kau mempunyai kelebihan yang sukar dicari bandingnya. Tetapi aku bukan anak-anak yang dipasang di sini tanpa arti. Jika kau memaksa, aku pun harus berbuat sesuatu untuk mencegahmu. Bahkan seandainya kau berhasil mengalahkan aku, maka kau adalah buruan, karena kau adalah seorang prajurit dalam tataran yang paling rendah, meskipun kau sedang disoroti karena kau telah berhasil melakukan sesuatu yang akan dapat mengangkat derajatmu. Sedangkan aku adalah seorang perwira. apa pun alasannya, jika seorang prajurit berani melawan seorang perwira, maka ia akan mendapatkan hukuman yang berat.”

Darah Sabungsari mulai menjadi panas. Tetapi ia harus menahan diri sejauh-jauh dapat dilakukan.

Namun ia menjadi heran, bahwa Ki Pringgajaya nampaknya tidak tergesa-gesa pergi. Jika benar ia ingin mencegat Agung Sedayu di perjalanan, seharusnya ia dengan tergesa-gesa membawa anak buahnya menyongsong perjalanan anak muda itu apabila ternyata ia belum kembali ke padepokannya.

Meskipun demikian, Sabungsari tidak bertanya. Bahkan ia masih berusaha untuk mencegah rencana Ki Pringgajaya, katanya, “Ki Pringgajaya. Aku dapat mencegah dengan cara lain. Aku dapat melaporkannya kepada Ki Untara.”

Tetapi Ki Pringgajaya justru tertawa. Katanya, “Kau akan melaporkan kepada Ki Untara, agar Ki Untara mencegah usaha pembunuhan ini, kemudian memberi kesempatan kepadamu untuk melakukannya?”

“Apakah Ki Untara tahu, bahwa aku akan membunuhnya?”

“Aku masih mempunyai mulut.”

“Tetapi malam ini Ki Pringgajaya akan ditangkap. Segala pembelaan dan tuduhanmu terhadapku, tidak akan didengar.”

Suara tertawa Ki Pringgajaya justru semakin keras. Katanya, “Kau memang seorang anak muda yang pilih tanding. Tetapi kau terlalu dungu. Aku sekarang akan menghadap Ki Untara dan berbicara tentang kesejahteraan pasukan Pajang di Jati Anom. Ki Untara senang sekali membicarakannya, sehingga lewat tengah malam aku baru selesai dengan pembicaraan yang tidak tentu ujung pangkalnya itu.”

“Tetapi Ki Pringgajaya akan melakukannya sekarang?”

“Membunuh Agung Sedayu?”

“Ya.”

Pringgajaya masih tertawa berkepanjangan. Katanya, “Apakah harus dengan tanganku sendiri? Aku bukan seorang yang cengeng seperti kau. Seolah-olah dengan demikian maka kau akan menjadi seorang pahlawan. Tetapi aku dapat berbuat dengan cara apa pun juga. Yang penting bagiku, maksudku dapat tercapai.”

Wajah Sabungsari menjadi semburat merah. Namun ia segera berusaha menghapus kesan itu. Bahkan kemudian kepalanya pun tertunduk. Perlahan-lahan terdengar ia bergumam, “Sia-sialah yang aku lakukan selama ini. Aku sudah berpura-pura mendekatinya, menjadi sahabatnya untuk menjajagi kemampuannya. Ketika aku sudah yakin dapat melakukannya, maka kesempatan itu direnggut dari tanganku.”

“Jangan merengek, karena kau bukan anak-anak lagi. Kau terlalu lamban dan tidak mempunyai gairah perjuangan yang tinggi. Mulailah sejak sekarang. Lakukan yang dapat segera kau lakukan, sehingga kau tidak akan kecewa.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku menyesal sekali. Tetapi aku masih ingin minta kesempatan sekali ini. Bawalah aku menemui Agung Sedayu untuk berperang tanding. Jika aku mati, lakukan rencanamu.”

Ki Pringgajaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti, apakah Agung Sedayu sekarang belum mati. Aku memanggil beberapa orang pengikutku untuk menengok akhir dari rencana kami, sementara aku pergi menghadap Ki Untara.”

“Bawa aku serta. Jika belum terjadi, berilah kesempatan aku melakukannya. Bukankah tidak ada bedanya bagi Ki Pringgajaya?” berkata Sabungsari kepada prajurit yang ada di dalam ruang itu.

Ki Pringgajaya termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Tetapi jika kau mati, jangan menyesal dan jangan menyalahkan kami.”

“Itu tanggung jawabku sendiri. Aku tidak tahu akibat apakah yang akan menimpa diriku, seandainya Ki Untara tahu, bahwa aku telah membunuh Agung Sedayu. Mungkin aku akan lari dan kembali ke padepokanku.”

Ki Pringgajaya berpikir sejenak. Lalu katanya, “Aku beri kau kesempatan. Pergilah. Tetapi jika Agung Sedayu telah mati, kau jangan membunuh diri dengan melepaskan kemarahanmu kepada orang-orangku yang telah membunuhnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak ada duanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan seperti Carang Waja, meskipun tidak dengan ilmu sulapan yang mengaburkan perhatian lawan. Tetapi orang-orangku bertempur dengan ilmu seorang jantan.”

Sabungsari tidak banyak berbicara lagi. ia pun kemudian berdiri sambil berkata, “Tunjukkan kepadaku, dimana Agung Sedayu dapat ditemui.”

“Orang-orangku mencegatnya. Tetapi jika Agung Sedayu telah lampau, maka harus dibuat pertimbangan dan rencana baru.”

Sabungsari tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian minta diri. Bersama dengan pengikut Pringgajaya yang seorang, ia menuju ke tempat orang-orang yang mencegat Agung Sedayu.

Di sepanjang jalan, Sabungsari menjadi berdebar-debar. Ia harus berbuat sesuatu. Menurut perhitungannya, kehadirannya tentu akan membuat keadaan Agung Sedayu lebih baik. Mungkin seperti yang pernah terjadi, Glagah Putih memerlukan perlindungan, karena kepergian Agung Sedayu disertai dengan Glagah Putih pula.

Dalam pada itu, dua orang dengan gelisah berdiri di pinggir jalan. Kadang-kadang mereka berjalan mondar-mandir, kadang-kadang mereka duduk bersandar batang kayu yang tumbuh di pinggir jalan. Setiap kali, mereka memperhatikan bunyi yang lamat-lamat mereka dengar.

“Anak itu sudah lewat,” berkata salah seorang dari keduanya.

“Tidak mungkin. Kita berada di sini sejak senja,” jawab yang lain.

“Bagaimana jika keduanya telah lewat sebelum senja?” bertanya yang seorang.

Kawannya terdiam sejenak. Dengan gelisah ia memandang ke dalam gelapnya malam. Katanya, “Tidak. Aku yakin, sebentar lagi mereka akan lewat.”

Kawannya tidak menyahut lagi. Keduanya pun kemudian duduk di atas tanggul parit. Sambil memandang air yang mengalir, yang seorang berkata, “Apa katamu tentang anak muda itu?”

Kawannya tersenyum. Jawabnya, “Ia adalah anak muda yang luar biasa. Anak itu tidak dapat dikalahkan oleh Carang Waja. Apakah kau cemas menghadapinya?”

Kawannya tertawa pendek. Desisnya, “Jika aku cemas, lebih baik aku tidak datang ke tempat ini. Aku sudah tahu, bahwa anak itu memiliki kelebihan. Tetapi aku pun mengenal diriku sendiri. Bahkan seandainya Carang Waja masih hidup, aku bersedia untuk diperbandingkan dengan cara apa pun juga.”

Kawannya tersenyum semakin lebar. Katanya, “Kita saling mengenal. Tetapi aku percaya, bahwa kita masing-masing tidak berada di bawah tataran Carang Waja. Perguruan daerah Pesisir Selatan itu semakin lama namanya memang semakin suram. Sepasang Iblis dari Pesisir Endut itu tidak lagi mampu mempertahankan hidupnya. Kemudian Carang Waja mati oleh prajurit ingusan dari Jati Anom itu.”

“Tetapi Pringgajaya sangat hati-hati. Kita berdua bersama-sama harus menyelesaikan Agung Sedayu. Ia tidak yakin bahwa salah seorang dari kita dapat melakukannya, meskipun guru pernah memastikan hal ini kepada Ki Pringgajaya.”

“Perwira yang bodoh itu memang terlalu berhati-hati. Tetapi ada juga baiknya bagi kita. Pekerjaan kita tidak terlalu berat,” desis yang lain, “sementara kita masing-masing akan menerima upah yang sama.”

“Kepala anak itu memang mahal. Tidak mudah melakukan seperti yang dikehendaki oleh Ki Pringgajaya. Ia tentu akan mengirimkan orangnya untuk meyakinkan, apakah kita sudah berhasil membunuh anak itu atau tidak.”

“Tetapi jika anak itu sudah lewat atau membatalkan niatnya untuk kembali ke Jati Anom atau karena apa pun juga, kita harus menunggu lagi di Jati Anom. Menjemukan sekali.”

“Jika ia tidak lewat hari ini, aku akan minta kepada Ki Pringgajaya, agar kita diwenangkan untuk mencari cara apa pun juga yang baik menurut kita. Tidak usah menunggu kesempatan seperti sekarang ini. Kita dapat datang ke padepokannya, justru gurunya tidak ada. Atau cara apa pun yang kita pilih sendiri.”

“Prajurit yang berjanji untuk membunuhnya itu tidak juga dapat melakukannya sampai batas waktunya berakhir.”

“Belum berakhir. Tetapi Ki Pringgajaya sudah tidak telaten lagi menunggunya.”

Pembicaraan untuk mengusir kejemuan itu terputus. Mereka serentak berdiri karena mereka mendengar derap kaki kuda.

“Mereka datang,” hampir berbareng keduanya berdesis.

Tetapi keduanya termangu-mangu. Ternyata derap kaki kuda itu datang dari arah yang berbeda.

“Dari Jati Anom. Bukan dari Sangkal Putung.”

“Tentu prajurit Pringgajaya yang ingin mengetahui, apakah kami sudah berhasil membunuh anak itu.”

“Gila!” geram kawannya, “Kenapa begitu tergesa-gesa. Ia justru akan dapat menggagalkan rencana kita.”

“Ia hanya akan melihat. Kemudian akan pergi meninggalkan kita di sini. Atau mungkin orang lain yang lewat, atau malahan prajurit yang sedang meronda.”

“Lebih baik kita bersembunyi. Aku tidak senang ada orang lain yang melihat kita dan bertanya tentang kita.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun tidak membantah.

Karena itu, maka kedua orang itu pun kemudian meloncati parit dan bersembunyi di balik rimbunnya belukar di pinggir jalan. Sementara suara derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat.

Dari balik rimbunnya perdu, keduanya dapat melihat dua ekor kuda mendekat. Dalam keremangan malam, mereka tidak segera dapat mengenal, siapakah penunggangnya.

Namun keduanya pun kemudian yakin, bahwa kedua orang itu tentu mempunyai hubungan dengan Ki Pringgajaya, karena keduanya pun kemudian berhenti tepat pada tanda-tanda yang telah disepakati.

Ketika keduanya telah meloncat turun, salah seorang berkata, “Di sini seharusnya mereka menunggu.”

Sebelum yang lain menyahut, maka kedua orang yang menunggu itu telah berloncatan dari balik gerumbul sambil mendekam. Salah seorang dari mereka berkata, “He, apakah kau diutus oleh Ki Pringgajaya?”

“Ya,” sahut prajurit itu, “aku datang dengan seorang prajurit yang bernama Sabungsari. Yang pernah dikatakan oleh Ki Pringgajaya.”

“He, anak inikah yang akan membunuh Agung Sedayu dalam perang tanding?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

“Ya.”

Keduanya tiba-tiba saja tertawa menyakitkan hati. Tetapi Sabungsari menahan diri sehingga giginya tidak gemeretak.

Namun prajurit yang mengantar Sabungsari itu berkata, “Anak inilah yang telah membunuh Carang Waja.”

“Ya. Ki Pringgajaya juga sudah mengatakan. Tetapi apakah artinya Carang Waja dalam liarnya rimba ilmu kanuragan. Ia termasuk orang yang disegani. Tetapi sebenarnya ia tidak memiliki kemampuan yang berarti. Ia hanya mampu menipu lawannya dengan ilmu gilanya itu. Tetapi jika lawannya memiliki sedikit kewaspadaan penglihatan batin, ia tidak akan terpengaruh.”

Sabungsari menjadi berdebar-debar mendengar pembicaraan orang itu. Ternyata orang itu mengetahui, bahwa Carang Waja memiliki ilmu yang dapat mempengaruhi perasaan lawannya. Yang merasa seolah-olah bumi telah berguncang, apabila ia menghentakkan kakinya pada tanah tempatnya berpijak. Dengan demikian Sabungsari dapat menilai, bahwa kedua orang itu tentu orang-orang yang memiliki kemampuan yang cukup.

Namun demikian Sabungsari pun berkata, “Ki Sanak. Berilah aku kesempatan. Aku berharap dapat membunuh Agung Sedayu. Seandainya tidak, maka kau akan mendapat kesempatan berikutnya. Setelah bertempur melawan aku, maka kekuatannya tentu sudah susut. Dengan mudah kalian berdua akan dapat membunuhnya.”

“Aku tidak perlu bantuanmu. Aku dan saudaraku ini tentu akan dengan mudah membunuhnya. Kami berdua tidak akan melepaskan kesempatan ini. Dengan membunuh Agung Sedayu, kami akan mendapat upah yang tinggi.”

“Upah itu tidak akan berubah,” berkata Sabungsari, “kalian akan tetap mendapat upah, siapapun yang telah membunuhnya.”

“Omong kosong. Jika kau yang membunuhnya, maka Pringgajaya akan ingkar. Agaknya perhitungan itu-lah yang membuat Pringgajaya menunggu. Seandainya kau tidak terlalu lamban dan berhasil membunuh Agung Sedayu, maka niat Ki Pringgajaya menyingkirkan Agung Sedayu terlaksana, sementara ia tidak kehilangan upah sekeping uang pun.”

“Aku akan menjamin,” berkata Sabungsari, “upah itu akan tetap kalian terima, siapapun yang akan membunuh Agung Sedayu.”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Jika itu yang kau kehendaki terserah. Agaknya Ki Pringgajaya pun sudah setuju karena pengikutnya telah mengirimkan kau kemari. Tetapi jika kau mati oleh Agung Sedayu, itu bukan salah kami berdua. Kami tidak akan menolongmu, sampai kau benar-benar mati. Baru kemudian kami berdua akan berbuat sesuatu.”

“Terserah kepadamu,” desis Sabungsari, “tetapi aku minta kesempatan yang pertama.”

Prajurit yang mengantar Sabungsari itu pun kemudian berkata, “Terserah apa yang akan kalian lakukan. Aku akan menunggu di tempat terpisah. Ki Pringgajaya sudah berpesan, agar yang terjadi ini tidak menyangkut masalah keprajuritan. Jika Sabungsari berbuat sesuatu, itu adalah tanggung jawab pribadinya.”

“Menyingkirlah,” berkata salah seorang dari kedua orang yang mencegat Agung Sedayu, “jika anak ini gagal dan justru mati, kami berdua akan menyelesaikan anak Jati Anom yang sombong itu.”

Prajurit yang mengantar Sabungsari itu pun kemudian meninggalkan ketiga orang yang menunggu Agung Sedayu dan Glagah Putih. Mereka yakin bahwa keduanya akan lewat, karena mereka telah mencari keterangan tentang hal itu ke padepokan kecil anak muda itu.

Ketika mereka kemudian duduk di tepi jalan, setelah Sabungsari menyembunyikan kudanya, maka kegelisahan yang tajam telah mencengkam hati anak muda itu. Sekali-sekali ia memandang kedua orang yang duduk di sebelahnya. Nampaknya keduanya adalah orang-orang yang memang dapat diandalkan.

Dengan demikian, maka dada Sabungsari pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai membayangkan, apa yang kira-kira terjadi.

Ketika orang itu mengangkat kepalanya, ketika mereka mendengar derap kaki kuda lamat-lamat di kejauhan. Di sela-sela desir angin yang lembut, mereka mendengar derap kaki kuda yang semakin lama menjadi semakin jelas.

“Aku mendengar derap mereka datang,” desis salah seorang dari kedua orang yang mencegat Agung Sedayu itu.

“Ya,” sahut yang lain, “kita harus bersiap-siap.”

Lalu yang seorang berpaling kepada Sabungsari sambil bertanya, “Bagaimana? Apakah kau akan meneruskan niatmu, berperang tanding dengan adik Untara itu?”

“Ya,” jawab Sabungsari, “aku sudah membulatkan tekadku.”

“Terserahlah kepadamu. Yang penting bagi kami, upah itu sama sekali tidak kurang sekeping pun, siapapun yang melakukannya.”

“Aku bertanggung jawab.”

“Jika kau mati.”

“Itu lebih jelas lagi. Kalian berdualah yang benar-benar telah membunuhnya, sehingga perjanjian kalian dengan Ki Pringgajaya tidak berubah,” jawab Sabungsari.

Yang terdengar salah seorang dari kedua orang itu tertawa. Katanya, “Kau terlalu sombong anak muda. Sebaiknya kau tidak usah melakukan perang tanding. Jika kau ingin melihat Agung Sedayu mati, marilah kita bertiga menyelesaikannya. Aku mendengar dari Ki Pringgajaya, bahwa kau didorong oleh dendam yang tidak tertahankan, karena ayahmu terbunuh. Sedangkan aku bernafsu membunuhnya karena upah yang tinggi. Jika kita lakukan bersama, maka tugas kita akan menjadi ringan, dan kita yakin bahwa anak itu akan benar-benar mati malam ini.”

Sabungsari merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku minta ijin untuk melakukannya terlebih dahulu. Jika kalian melihat kemungkinan aku gagal, terserah.”

“Kami tidak akan menolong,” yang seorang menyahut dengan serta-merta, “jika perang tanding sudah dimulai, maka kami akan menunggu sampai salah seorang dari kalian mati. Kecuali jika sejak semula kita sudah sepakat untuk bersama-sama membunuhnya.”

Sabungsari memandang keduanya berganti-ganti, sementara derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat.

Tiba-tiba saja Sabungsari berdiri sambil menggeram, “Aku akan membunuhnya. Aku akan membakarnya dengan sorot mataku sampai hangus.”

Kedua orang itu tertawa. Yang seorang berkata, “Aku sudah mendengar dari Ki Pringgajaya, bahwa sorot matamu telah berhasil membunuh seekor anak kambing. Tetapi Agung Sedayu bukan seekor anak kambing. Ia adalah seekor banteng yang garang.”

“Aku tidak peduli,” geram Sabungsari, “tunggulah. Lihatlah bagaimana aku membantainya di sini dengan penuh dendam dan kebencian. Aku tidak dapat berbuat lain. Jika aku dapat membunuhnya, aku adalah anak yang telah menjunjung harga diri keluarga. Tetapi jika aku mati, maka aku mati dalam pengabdian bagi nama baik keluargaku. Aku akan mati sebagai seorang anak laki-laki.”

Kedau orang itu termangu-mangu. Mereka melihat mata Sabungsari bagaikan memancarkan api dari jantungnya yang membara. Karena itu, maka mereka pun kemudian percaya, bahwa Sabungsari benar-benar ingin mengadu ilmu dengan anak muda yang namanya menggetarkan daerah Selatan itu.

“Sabungsari,” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “aku sudah mendengar betapa anak muda yang bernama Agung Sedayu itu memiliki kemampuan yang tidak terduga. Tetapi aku pun juga sudah mendengar, bahwa kau memiliki kelebihan dari kebanyakan prajurit. Jika kau memang berkeras, terserah kepadamu. Tetapi yang kau lakukan adalah tanggung jawabmu sendiri. Aku akan melakukan tugasku setelah perang tanding yang kau kehendaki itu berakhir. Jika Agung Sedayu tidak berhasil kau bunuh, maka kami berdualah yang akan membunuhnya.”

Sabungsari tidak menjawab. Tetapi ia berdiri tegang di pinggir jalan. Sementara derap kaki kuda itu semakin lama menjadi semakin jelas.

Dengan kaki renggang dan dada tengadah Sabungsari berdiri tegak. Dengan suara datar ia menggeram, “Tidak ada orang lain yang dapat membunuhnya, kecuali Sabungsari.”

Kedua orang itu justru menepi. Mereka berdiri termangu-mangu. Mereka ingin melihat, apakah yang akan dilakukan oleh Sabungsari atas Agung Sedayu. Anak muda yang bersenjata cambuk itu.

Sejenak kemudian, maka derap kaki kuda itu pun telah menjadi sangat dekat. Dua bayangan orang yang menunggang kuda telah nampak dalam keremangan malam.

Dalam pada itu, Sabungsari pun segera meloncat ke tengah jalan sambil berteriak garang, “Berhenti. Aku di sini, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu yang datang berkuda itu terkejut. Karena itu, maka ia pun segera menarik kendali kudanya. Demikian pula Glagah Putih yang berkuda di sampingnya. Sementara mereka sedang berangan-angan, maka tiba-tiba saja mereka melihat bayangan seseorang meloncat ke tengah jalan. Meskipun mereka telah melihat dalam keremangan malam, orang yang berdiri di pinggir jalan, namun mereka tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja orang itu meloncat sambil berteriak menghentikannya.

Agung Sedayu dan Glagah Putih berhenti beberapa langkah di hadapan Sabungsari. Kuda mereka yang terkejut meringkik memecah sepinya malam. Namun sejenak kemudian malam telah menjadi hening kembali.

“Sabungsari,” desis Agung Sedayu.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 26 Januari 2009 at 08:43  Comments (116)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

116 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur nuwun Ki Gede, sampun dipun sruput, lha tapi aku sinaune lagi tekan kitab 93, ora opo2 nggo simpenan, mekate njih Ki Gede !

  2. Teng yu…teng yu….
    Kitab 127 sampun kawula unduh, kantun mempelajari jurus2nya…
    Matur suwun Ki GeDe….

  3. sugeng enjing….

    wah… bar ngeterke sekolah anak…. tekan ngomah disuguhi rontal 127

    matur tengkyu Ki GD

  4. waduh,baru aja mau konsep surat eh ada kiriman rontal,jd bingung nih mau baca dulu atao gimana (pura2 bingung)…he..he

    matur thank you ki gedhe

  5. Pagi-pagi di depan gubug Ki Truno ada Koper tergeletak. Ki Truno sempat bingung, karena koper itu cukup berat dan kelihatan sarat muatannya.
    Segera Ki Truno memanggil semua tetangganya untuk ngumpul di gubugnya, sekaligus menanyakan barangkali ada yang memiliki koper itu. Setelah semua tetangga menyatakan bahwa mereka bukan pemilik koper itu, maka dengan disaksikan para tetangga, kemudian koper itupun dibuka.
    Ki Truno Podang dan para tetangganya terkejut bukan kepalang. Ternyata isi koper itu adalah “piauw”, dan setelah dihitung bersama-sama jumlah piauwnya 127 buah. Di sudut koper ada tulisan, oleh2 dari Ki GD.
    Hatur nuhuuuun Ki GD,semoga Tuhan YME senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah untuk Ki GD beserta krue-nya, dan semoga Ki GD beserta krue senantiasa sehat wal’afiat sehingga dapat melaksanakan tugas2 dengan lancar, termasuk tugas2 yang dinanti para ADBM-ers.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. habis dapat order dari customer …. ndilalah kiriman 127 nongol. Adeem beneerrr…….he he.
    Matur nuwun Ki GD

  7. weleh..welehh… sesudah menunggu cukup lama ahirnya ..
    ki GD melemparkan kitab ke 127..
    ciaoo kamsia ki GD..

  8. Terima kasih kitab 127-nya Ki GD.

    Salam kenal buat semua cantrik senior yang lain.
    Saya cantrik baru. Baru bbrp hari diterima berguru di padepokan ini.

  9. ngene iki istilahe jare “suwe mijet wohing ranti
    ‘ mak sret langsung nemu
    pancen sekali sekali arek-arek cantrik iku yo dipenakno koyo ngene. cek’e gak ngersulo ae , wis nggolek’i gak ketemu ketemu ndilalah internet’e pedat-pedot pisan..
    ngono iku sing nggarahi kudu ngejak benjeng ae mbarek tonggo.
    matur sembah nuwun ki Gedhe

  10. beberapa hari ini Ki Gede biasa kasih kitabnya pagi2…
    ….
    bakalan para cantrik ga ada di gardu ronda lagi nih malam2…,pasti dulu2an tidur biar pagi2 bisa antri ambil kitab….
    hiks…. gardu ronda jadi sepi nih….

  11. Covernya udah sampai 30
    opo iyo ????

  12. jilid II niki sanes “jalan simpang” nggih?

    • Sanes Ki KG, niki “jalan layang”

  13. Rambitab dan Kumuda, murid perguruan Kendeng,
    lha muride perguruan Gendheng sapa ya…????

    • komedotab, rambitab, galaxytab

      • Oh, kula kinten Ki Mantab kalih Ki Muntab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: