Buku II-27

“JANGAN memperkecil diri sendiri. Jika kau berusaha untuk meningkatkan ilmu adalah suatu usaha yang baik. Tetapi jika kau kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, maka usahamu sebagian telah gagal,” berkata Agung Sedayu.

Glagah Putih mencoba mengerti keterangan kakaknya. Karena itu, ia tidak kehilangan gairah yang menyala di dalam hatinya untuk berlatih.

“Tetapi kau jangan merasa bahwa usahamu akan berhasil dengan menyandarkan kepada kemampuanmu sendiri,” berkata Agung Sedayu, “karena betapapun jauhnya kita berusaha, segalanya tergantung kepada belas kasihan Yang Maha Agung. Namun hanya orang yang berusaha sajalah yang akan mendapatkan belas kasihan-Nya, karena usaha adalah wujud dari permohonan yang bersungguh-sungguh.”

Glagah Putih berusaha untuk menempatkan diri pada kedudukan seperti yang dimaksud kakak sepupunya. Ia mohon kepada Yang Maha Tinggi. Untuk menunjukkan kesungguhan dari permohonannya, maka ia pun telah berusaha sejauh dapat dilakukan.”

Namun dalam pada itu, pada saat tertentu, Agung Sedayu telah mulai berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri. Meskipun masih sangat terbatas.

Sejak sore hari, ia biasanya menenggelamkan diri di sanggarnya bersama Glagah Putih. Ternyata Glagah Putih memiliki kemampuan yang luar biasa, yang dapat membuat ketahanan tubuhnya menjadi semakin meningkat. Seolah-olah ia tidak merasa lelah sama sekali, meskipun ia sudah berlatih untuk waktu yang lama.

Tetapi Agung Sedayu-lah yang membatasi waktunya. Jika Glagah Putih telah berlatih cukup lama, maka Agung Sedayu telah menghentikan latihan itu dan meneruskan di hari berikutnya. Ia masih tetap pada acaranya, bahwa di siang hari, Glagah Putih harus meningkatkan tenaganya, menyesuaikan diri dengan kerjanya sehari-hari. Setiap pagi Glagah Putih masih harus menyapu halaman yang luas dengan tanpa tapak kaki. Glagah Putih harus membelah kayu bakar. Semakin lama, beban yang diberikan oleh Agung Sedayu kepadanya menjadi semakin berat, sementara jalannya menuju ke sawah pun menjadi semakin jauh dan sulit. Untuk menghindari pertanyaan orang-orang lain, maka Glagah Putih memilih jalan yang paling sepi. Karena itu, maka ia selalu menyusuri sungai ketika ia berangkat dan kembali dari sawah. Dengan niat yang membara di hatinya, maka Glagah Putih selalu berloncatan dari batu ke batu. Meloncat naik tebing, kemudian menuruninya kembali. Berlari-lari, bahkan kadang-kadang ia mempergunakan sebagian waktunya untuk melatih kemampuan tangannya di pasir tepian. Kadang-kadang di bawah petunjuk Agung Sedayu, Glagah Putih berusaha mengembangkan kemampuan bidiknya dengan mempergunakan batu-batu kerikil. Di sungai yang jarang di ambah kaki manusia, Glagah Putih berlatih mempergunakan bandil. Dan bahkan lontaran tangan. Sambil berlari-lari dan meloncat-loncat antara bebatuan, Glagah Putih telah melempar satu sasaran dengan batu sebesar telur ayam. Di kesempatan lain, sasarannya-lah bergerak. Bahkan kemudian Glagah Putih yang bergerak berusaha untuk mengenai sasaran yang bergerak pula.

“Lambat laun, kemampuan bidikmu akan meningkat,” berkata Agung Sedayu.

“Kakang Agung Sedayu termasuk orang aneh,” berkata Glagah Putih, “Sambil memejamkan mata, Kakang dapat mengenai sebuah batu yang dilontarkan di udara.”

“Ah, itu berlebih-lebihan. Jika aku memejamkan mata, mana mungkin aku dapat membidik sasaran. Jika memejamkan sebelah mata, barulah mungkin dilakukan.”

Namun bagi Glagah Putih, kemampuan bidik Agung Sedayu benar-benar di luar jangkauan nalarnya. Seolah-olah Agung Sedayu telah meletakkan matanya pada alat pelemparnya, sehingga lemparannya tidak pernah meleset dari sasaran.

Sebenarnyalah bahwa perlahan-lahan, dengan mempergunakan sisa waktu yang ada, Agung Sedayu telah meningkatkan kemampuannya. Dengan sangat berhati-hati, ia mulai mencoba melihat isi kitab yang pernah dibacanya atas kebaikan hati Ki Waskita.

Tetapi Agung Sedayu masih belum berbuat sesuatu. Ia baru sekedar melihat kembali pada ingatannya, apa saja yang pernah dibacanya pada kitab Ki Waskita.

Pada kesempatan yang tersisa, Agung Sedayu duduk menyendiri di dalam sanggar. Biasanya jika Glagah Putih telah tertidur setelah memeras tenaganya.

Sambil duduk di bawah lampu minyak, Agung Sedayu mencoba untuk mengingat bait demi bait tulisan yang pernah dibacanya. Kemudian dengan sedikit catatan pada helai-helai rontal, ia memisahkan jenis dan sasaran bagian demi bagian dari ilmu yang tertera di dalam kitab itu.

Agung Sedayu benar-benar harus berhati-hati dengan penelaahan ilmu itu. Karena itu, yang mula-mula dilihatnya barulah bagian pertama. Dengan teliti ia membagi hubungan antara isi kitab itu dengan kemampuan ilmu yang ada padanya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali. Ia harus mengenal sifat, watak dan segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam hubungan antara ilmu yang ada di dalam dirinya. Bukan saja dengan ilmu yang dipelajarinya dari Kiai Gringsing, tetapi juga ilmu yang temurun dari ayahnya, lewat lukisan-lukisan yang terdapat di dinding goa yang pernah dipelajarinya.

Baru kemudian, ia akan melihat ke dalaman ilmu dari kitab yang dipinjamnya dari Ki Waskita sampai ke hakekatnya.

Demikian berhati-hati Agung Sedayu dengan penelaahannya, sehingga tidak seorang pun yang mengetahuinya. Glagah Putih juga tidak, seperti ia merahasiakan kitab yang pernah dibacanya. Tidak seorang pun yang boleh mengetahuinya, kecuali Kiai Gringsing.

Namun dalam beberapa hal, ketajaman nalar Agung Sedayu telah menyentuh hubungan antara ilmunya dengan ilmu yang pernah dibacanya dari kitab itu. Betapa ia berhati-hati, sehingga untuk mengenal setiap unsur dari ilmu yang dibacanya dari kitab Ki Waskita, Agung Sedayu harus mengujinya dua tiga kali. Baru ketika ia sudah yakin, barulah ia mencoba untuk mencari singgungan. Dalam tahap permulaan, ia baru merambah jalan untuk mencari kemungkinan agar ilmu itu dapat luluh, namun masih tetap memiliki wataknya masing-masing dalam ungkapan-ungkapan tertentu.

Yang dilakukan Agung Sedayu barulah penjelajahan di dalam angan-angan, dan kemudian di guratkannya beberapa bentuk dan wujud gerak pada rontal. Ia memang mencoba beberapa unsur gerak meskipun sambil duduk. Ia mencoba melihat sesuatu yang terjadi pada gerak jari-jarinya, gerak pergelangan tangannya dan kemudian gerak lengannya.

Tetapi Agung Sedayu baru sampai kepada bentuk dan wujud lahiriah, yang mungkin akan dapat menjadi landasan ke dalaman gerak bukan saja wadagnya. Tetapi gerak wadag itu akan dapat di pergunakannya untuk melontarkan kekuatan cadangan yang bukan saja terdapat di dalam dirinya, tetapi yang dapat diserapnya dari kesatuan dirinya dengan lingkungannya. Dunia kecilnya dengan dunia besarnya.

Meskipun yang dilakukan oleh Agung Sedayu itu tidak lebih dari duduk bersilang kaki sambil menggerakkan jari-jarinya, pergelangan tangan, lengan dan pundaknya, namun ia merasa telah melakukan pekerjaan yang berat sekali. Jauh lebih berat dari yang dilakukannya bersama Glagah Putih untuk waktu yang lebih singkat.

Menyadari betapa sulit dan peliknya persoalan yang dihadapinya, maka Agung Sedayu pun menjadi sangat berhati-hati dan perlahan-lahan sekali. Yang dilakukannya adalah yang paling mudah dan paling tidak berbahaya, sementara ia masih menunggu kesempatan kedatangan gurunya di padepokan kecil itu.

Namun demikian, yang sangat perlahan-lahan itu, telah mulai nampak pengaruhnya. Meskipun pengaruh itu belum mendasar, sekedar tompangan pada alas yang memang sudah ada, namun terasa, bahwa pada bagian-bagian tertentu, kemampuan Agung Sedayu sudah meningkat.

Pernafasannya menjadi lebih baik dan urat-uratnya pun seolah-olah menjadi semakin liat. Penguasaan tubuhnya menjadi bertambah mapan, sehingga gerak-gerak naluriahnya tidak terlepas dari pengendalian akalnya. Bahkan saluran perintah dari pusat sarafnya ke segenap tubuhnya menjadi lebih cepat, seperti juga meningkatnya kecepatan gerak anggota badannya.

Perubahan-perubahan itu telah disadari oleh Agung Sedayu, meskipun perlahan-lahan sekali. Namun dengan tekun ia mempelajari setiap perkembangan. Tidak tergesa-gesa dan dengan penuh kesadaran Agung Sedayu memelihara keseimbangan yang ada di dalam dirinya.

Agung Sedayu sama sekali tidak berani merambah pengamatannya pada dasar-dasar ilmu yang dapat memberikan kekuatan pada sorot matanya, meskipun pada dasarnya ia sudah memiliki kemampuan itu. Dan pada bagian ilmu yang tidak bersifat wadag lainnya, yang telah dipahami atau belum oleh Ki Waskita sendiri.

Namun sementara itu, Sabungsari masih saja di gelut oleh kegelisahannya. Ia masih belum menemukan jalan yang paling baik, untuk mengatasi kemungkinan yang buruk, yang dapat terjadi atas Agung Sedayu karena pokal Ki Pringgajaya.

Sekali-sekali, jika ia kehilangan kebeningan nalarnya, ia bertekad untuk menantang Ki Pringgajaya dalam perang tanding untuk menyelesaikan masalah itu tanpa diketahui oleh Agung Sedayu. Namun setiap kali, ia selalu mengurungkan niatnya. Jika hal itu diketahui oleh Untara dari para pengikut Pringgajaya, maka ia akan mendapat hukuman karena ia telah melawan seorang perwira. Sedangkan alasannya tidak akan dapat dikatakannya dengan disertai bukti-bukti yang dapat menguatkan keterangannya, sehingga ia justru dapat dituduh memfitnah.

Akhirnya, Sabungsari merasa tidak mempunyai jalan lain kecuali menyampaikannya kepada Agung Sedayu sendiri.

“Jika Agung Sedayu menyebut namaku, dan Ki Pringgajaya marah kepadaku, apaboleh buat. Aku akan sekedar membela diriku. Mungkin aku akan dapat mengelak dan mencari saksi apabila hal itu akan terjadi, sebelum aku menerima tantangannya untuk berperang tanding,” berkata Sabungsari di dalam hatinya. Karena itulah, maka ia pun kemudian mengambil keputusan untuk menyampaikan masalah itu kepada Agung Sedayu sendiri, sebelum waktu yang tersisa itu habis.

Namun ketika Sabungsari kemudian datang ke padepokan Agung Sedayu, keragu-raguannya telah membayang kembali. Ketika ia melihat Agung Sedayu sibuk berlatih bersama Glagah Putih, Sabungsari menjadi bimbang.

“Agung Sedayu akan menjadi gelisah,” berkata Sabungsari di dalam hatinya, “tetapi jika aku tidak menyampaikannya kepadanya, maka pada suatu saat ia akan diterkam oleh kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi atasnya. Anak muda itu mempunyai sikap yang agak lain dari anak-anak muda sebayanya. Ia banyak menghindari kemungkinan terjadinya kematian. Namun dengan demikian, kadang-kadang ia sendiri terperosok ke dalam kesulitan. Betapapun ia mempunyai ilmu yang tinggi, namun sikapnya kadang-kadang membuatnya menjadi orang yang paling lemah di daerah yang panas ini.”

Beberapa saat, Sabungsari bergulat dengan pertimbangan-pertimbangan yang kadang-kadang saling bertentangan, sehingga karena itu, maka ia lebih banyak duduk diam dengan kesibukan angan-angannya sendiri.

Untunglah bahwa ia berada di sanggar. ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sedang berlatih, sehingga kedua orang itu tidak memperhatikan sikap Sabungsari yang gelisah.

“Tidak ada jalan lain,” geram Sabungsari kemudian.

Namun Sabungsari berniat untuk mengatakannya tanpa Glagah Putih. Jika anak itu mendengar, maka ia akan mempunyai tanggapan dan sikap tersendiri yang mungkin akan mempengaruhi segala macam pertimbangan dan perhitungan yang akan dibuat oleh Agung Sedayu, untuk mengatasi persoalan itu dengan cara yang paling baik.

Beberapa saat Sabungsari masih menunggu latihan itu selesai. Ia masih sempat memperhatikan, betapa Glagah Putih sudah menjadi semakin maju.

“Cepat sekali,” gumam Sabungsari di dalam dirinya.

Namun Sabungsari pun melihat tekad yang menyala di hati Glagah Putih, sementara Agung Sedayu pun memiliki cara yang tepat untuk menurunkan ilmu warisan Ki Sadewa itu, sehingga dengan demikian, maka kemampuan Glagah Putih pun meningkat dengan cepat.

Ketika mereka sudah cukup lama berlatih, maka Agung Sedayu pun menghentikan latihan itu. Meskipun Glagah Putih masih berminat, tetapi Agung Sedayu berkata, “Saat-saat latihanmu bukan hanya saat ini. Tetapi waktu yang akan kau pergunakan masih cukup lama, sehingga kau tidak boleh memaksa diri tanpa menghiraukan keadaan wadagmu.”

Glagah Putih tidak menjawab. Ia sudah mendengar kakaknya mengatakannya berpuluh-puluh kali jika ia menghentikan latihan.

Sabungsari yang melihat Glagah Putih kecewa, tersenyum sambil berkata, “Agaknya kau ingin menyelesaikan ilmumu sekarang juga?”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum.

“Beristirahatlah,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Glagah Putih pun kemudian keluar sanggar. Ia berjalan beberapa saat di luar untuk mengeringkan keringatnya. Baru kemudian ia pergi ke pakiwan untuk mandi.

“Luar biasa,” desis Sabungsari, “ternyata anak kurus itu memiliki tenaga dan kemauan yang luar biasa. Ilmunya cepat sekali maju dan bahkan telah mulai nampak kelebihannya yang akan dapat dikembangkan.”

“Kemauannya yang luar biasa itulah yang mendorongnya mempercepat peningkatan kemampuannya. Ia tidak mengenal lelah. Di siang hari ia mengembangkan kekuatan dan ketrampilan tubuhnya. Di malam hari ia mempelajari unsur-unsur gerak dari ilmu yang disadapnya. Semuanya dilakukan dengan tekun dan bersungguh-sungguh, tanpa melalaikan kerjanya sehari-hari di sawah dan pategalan.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Namun agaknya kegelisahan yang ada di dalam hatinya dapat dilihat oleh Agung Sedayu pada kerut di wajahnya, sehingga karena itu, maka Agung Sedayu pun bertanya, “Sabungsari, apakah kau mempunyai keperluan khusus, atau sekedar melihat-lihat Glagah Putih berlatih seperti biasanya?”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku mempunyai kepentingan sedikit, Agung Sedayu. Sebaiknya aku katakan kepadamu sebelum Glagah Putih hadir lagi di sanggar ini.”

Wajah Agung Sedayu menegang. Sabungsari pernah mengatakan seperti yang dikatakannya itu. Kemudian mengajaknya berjalan-jalan menyusur sungai. Namun akhirnya ia harus mengadu ilmu dengan anak muda itu.

Tetapi saat itu Sabungsari bertanya, “Apakah kau mempunyai waktu sedikit saja untuk mendengarkan?”

“Katakanlah,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari masih tetap ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Agung Sedayu. Ternyata bahwa dendam yang kau hadapi, masih membara di Jati Anom ini.”

Wajah Agung Sedayu menjadi semburat merah.

Namun ia tidak bertanya. Dibiarkannya Sabungsari meneruskan kata-katanya setelah ia melihat ke pintu sekilas. “Agung Sedayu. Aku bukan satu-satunya orang yang menginginkan kematianmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terasa pedih di hatinya bagaikan disiram garam.

“Maafkan aku. Bukan maksudku membuatmu gelisah dan barangkali bingung. Tetapi aku hanya ingin sekedar memperingatkan agar kau tetap berhati-hati.”

“Darimana kau mengetahui hal itu? Apakah kau datang membawa beberapa orang kawan selain para pengikutmu? Mungkin anak orang-orang yang terbunuh di peperangan itu, selain Ki Gede Telengan?”

Sabungsari menggeleng. Jawabnya, “Bukan mereka, Agung Sedayu, meskipun masih ada hubungannya juga dengan pertempuran di lembah itu. Tetapi hubungan lewat jalur yang sudah berbelit-belit, bahkan sudah kusut, sehingga sulit untuk menelusurinya. Namun jelas, bahwa yang sekarang mengancam keselamatanmu adalah juga orang-orang yang berada di dalam barisan orang-orang yang merindukan kembali masa-masa lampau, tanpa mengingat perkembangan dan peredaran waktu.”

“Darimana kau tahu? Apakah mereka berhubungan dengan kau sebagai anak Telengan?”

Sabungsari menggeleng. Katanya, “Meskipun ayahku berada di dalam barisan itu pula, tetapi aku datang karena dendamku pribadi.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Sabungsari dengan tajamnya, seolah-olah ia ingin melihat isi hati anak muda itu.

“Apakah kau mulai ragu-ragu lagi tentang aku, Agung Sedayu?” bertanya Sabungsari kemudian.

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak, Sabungsari. Tetapi aku benar-benar menjadi bingung. Apakah sebenarnya yang telah terjadi di Jati Anom, yang berhubungan dengan kehadiranku di sini?”

“Agung Sedayu. Kau harus menyadari, bahwa justru karena pengabdianmu bagi tegaknya kemanusiaan, kau telah berdiri di ujung dendam yang membara di hati beberapa orang yang merasa kehilangan seperti aku.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun dapat menepuk dada dengan mengatakan, bahwa yang dilakukan itu adalah pengabdian terhadap peri kemanusiaan. Ia telah berjuang melawan kelaliman, ketidak adilan dan bahkan kesewenang-wenangan. Tetapi jika terbayang di dalam angan-angan Agung Sedayu sikap Rudita yang memancarkan kejernihan budi, maka rasa-rasanya Agung Sedayu dihadapkan pada suatu bayangan tentang dirinya sendiri yang berwajah gelap, meskipun di tangannya terdapat lampu yang menyala betapapun terangnya.

Beberapa saat lamanya Agung Sedayu berdiam diri. Yang mula-mula berbicara adalah Sabungsari menyambung kata-katanya, “Karena itu, Agung Sedayu, kau harus selalu menjaga diri.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Yang dikatakan oleh Sabungsari itu adalah suatu keadaan yang tidak dapat diingkarinya. Bahwa ia memang berada dalam ancaman dendam yang tidak ada taranya.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian, “kau nampaknya ingin menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan dendam itu. Katakanlah.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Ya. Aku akan mengatakan sesuatu tentang dendam atas dirimu.”

“Katakanlah,” desis Agung Sedayu dengan nada dalam.

Sabungsari beringsut setapak. Sejenak ia memandang wajah Agung Sedayu yang nampak bersungguh-sungguh.

“Agung Sedayu,” berkata Sabungsari, “sebenarnya sudah sejak lama seseorang menghendaki kematianmu selain aku pada waktu itu. Aku sudah hampir mengatakan hal ini kepadamu, tetapi aku selalu ragu-ragu.”

Sekarang kau tidak perlu ragu-ragu lagi. Aku tetap mempercayaimu,” sahut Agung Sedayu.

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesis, “Terima kasih. Mudah-mudahan dengan demikian, kau akan dapat menjaga dirimu tanpa menimbulkan persoalan-persoalan baru yang dapat menggelisahkanmu.”

“Katakan,” Agung Sedayu menjadi tidak sabar lagi melihat keragu-raguan Sabungsari.

Sabungsari mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Agung Sedayu. Pada waktu itu, seorang perwira di dalam lingkungan keprajuritan Pajang telah mengancammu. Menurut perhitungannya, kau harus disingkirkan. Siapapun yang melakukannya. Pada waktu itu, aku yang juga sedang dibakar oleh dendam telah menyatakan diri untuk membunuhmu dengan tanganku. Tetapi ternyata, bahwa aku tidak dapat melakukannya.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Sementara Sabungsari melanjutkan, “Tetapi ternyata yang terjadi adalah seperti ini. Perwira itu agaknya tidak sabar lagi. Ia telah datang kepadaku dan bertanya tentang kematianmu.”

Wajah Agung Sedayu menjadi semakin tegang. Sementara itu Sabungsari berkata pula, “Ada alasan, kenapa aku tidak segera melakukannya. Aku mengatakan, bahwa aku telah terperosok ke dalam pertempuran yang membuat aku terluka parah, melawan Carang Waja. Karena itu, maka aku terpaksa menunda rencanaku untuk membunuhmu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi kini ia menagih, apakah aku masih akan melakukannya.”

“Apa katamu?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku minta waktu dua pekan untuk memulihkan kesehatanku karena luka-lukaku melawan Carang Waja. Yang dua pekan itu kini sudah hampir habis. Sementara itu aku masih selalu ragu-ragu, apakah yang sebaiknya aku lakukan tanpa membuatmu gelisah.”

Agung Sedayu termenung sejenak. Agaknya ia sedang mempertimbangkan apakah yang sebaiknya dilakukan.

Tiba-tiba saja Sabungsari terhenyak karena seperti yang diduganya, Agung Sedayu berkata, “Sabungsari. Betapapun kerasnya hati seseorang, namun ia tentu masih dapat mempertimbangkan pendapat orang lain. Aku akan menemuinya dan membicarakan, apakah yang sebenarnya dikehendaki sehingga ia berniat untuk menyingkirkan aku.”

Sabungsari menggigit bibirnya. Sejenak ia bagaikan membeku. Namun kemudian ia berkata, “Agung Sedayu. Aku sudah memperhitungkan, bahwa kau akan berbuat demikian. Kau akan datang menjumpainya dan mempersoalkan niat itu. Kau tentu menganggap, bahwa orang itu akan dapat kau ajak berbicara, kemudian membuatnya menyadari kesalahan dan kekeliruannya.”

“Aku masih percaya akan hati nurani seseorang,” jawab Agung Sedayu.

“Kau keliru. Aku sendiri adalah orang yang keras hati. Yang tidak akan mungkin dapat menyelesaikan persoalanku denganmu hanya dengan berbicara. Mungkin kau berhasil membuat aku ragu-ragu. Tetapi aku masih akan tetap mencoba membunuhmu. Jika kemudian niat itu aku urungkan, seperti yang sudah aku katakan, karena aku mengakui kemenanganmu. Seandainya aku sekarang mencoba menantangmu lagi, aku pun tentu akan kau kalahkan pula.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ragu-ragu yang timbul di hati seseorang, adalah pertanda bahwa ia membuat pertimbangan. Kau pun sudah membuat pertimbangan-pertimbangan yang bening waktu itu. Jika tidak, meskipun kau telah aku kalahkan, tentu kau tidak akan berhenti berusaha. Mungkin kau akan mengulangi perang tanding, tetapi mungkin kau akan mengorbankan kejantananmu dan berusaha membunuh aku dengan licik. Tetapi kau tidak melakukan hal itu, justru karena kau mulai mendengar kata hatimu. Nuranimu.”

Sabungsari termangu-mangu sejenak. Ia memang menjadi ragu-ragu. Dan ia pun sama sekali tidak berniat untuk mengulangi usahanya, membunuh Agung Sedayu. Namun demikian ia ingin meyakinkan, bahwa usaha Agung Sedayu untuk berbicara langsung dengan Ki Pringgajaya adalah sangat berbahaya. Apalagi Sabungsari masih belum mengetahui, betapa tingkat ilmu yang dimiliki oleh orang itu.

Menilik sikap dan kepercayaannya kepada diri sendiri, maka Ki Pringgajaya adalah termasuk orang-orang yang pilih tanding, seperti orang-orang yang memimpin pasukan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu, termasuk ayahnya, Ki Gede Telengan.

Karena itu, maka katanya, “Agung Sedayu. Kau jangan menilai tingkah laku seseorang dengan tingkah lakumu sendiri. Jangan mengukur sikap seseorang dengan sikap dan pendangan hidupnya. Kau harus percaya, bahwa ada orang yang sama sekali tidak dapat mengerti dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Lebih buruk lagi, bahwa ada orang yang memanfaatkan sikap orang lain yang dianggapnya suatu kelemahan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya, sementara Sabungsari berbicara terus, “Tentu ada orang yang menganggap keragu-raguanmu, seribu macam pertimbangan-pertimbangan di dalam hatimu sebelum kau berbuat sesuatu, juga usaha damaimu itu, sebagai suatu kelemahan. Dan tentu ada orang yang justru ingin memanfaatkannya. Menjebakmu dan kemudian berbuat sesuatu yang sangat jahat dan licik,” ia berhenti sejenak. Lalu, “Ingat Agung Sedayu, aku pun pernah berbuat demikian.”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya, “Jadi apa yang baik menurut pertimbanganmu, Sabungsari?”

“Aku belum tahu apa yang sebaiknya kau lakukan,” jawab Sabungsari, “jika bukan kau, Agung Sedayu, mungkin aku menyarankan, agar datang saja kepadanya bersama beberapa orang saksi. Tantang berperang tanding dengan alasan yang dapat saja dicari-cari tanpa menyebutkan persoalan yang sebenarnya.”

“Apakah dengan demikian persoalannya dapat selesai? Bukankah selain Pringgajaya masih ada orang-orang lain yang dapat berbuat seperti itu? Apakah dengan demikian, aku harus menantang perang tanding setiap orang yang berdiri di pihak Ki Pringgajaya? Jika demikian, maka umurku akan aku habiskan di arena perang tanding, tanpa dapat berbuat sesuatu yang berarti sepanjang hidupku bagi sesama.”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ada juga benarnya kata Agung Sedayu, bahwa dengan demikian persoalannya tentu masih belum selesai. Kematian Pringgajaya, seandainya Agung Sedayu dapat memenangkan perang tanding itu, akan mengundang dendam yang lebih parah lagi dari lingkungannya terhadap Agung Sedayu.

“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, “apakah kau kira lebih baik aku melaporkannya kepada Kakang Untara?”

“Jalan itu pun dapat ditempuh. Tetapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Jika kau datang kepadanya, Ki Pringgajaya tentu akan menjadi curiga, bahwa kau telah melaporkan persoalannya kepada Untara. Dengan demikian, maka ia akan dapat menghilangkan segala jejaknya untuk mengingkarinya. Jika kemudian ternyata kau tidak dapat membuktikannya, maka kau akan dapat dituduh memfitnahnya.”

“Tetapi, bukankah kau akan dapat menjadi saksi?” bertanya Agung Sedayu, “bukankah kau mengetahui dan langsung berbicara dengan Ki Pringgajaya bahwa ia akan membunuhku?”

“Aku pun harus dapat membuktikannya. Ki Pringgajaya pun akan dapat mengatakan, bahwa aku telah memfitnahnya dan mengadu domba antara Ki Pringgajaya dan kau.”

Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata bahwa kau pun kini telah dijalari oleh penyakit ragu-ragu. Kau pun kini mempunyai seribu pertimbangan sebelum berbuat sesuatu.”

“Ada bedanya dengan keragu-raguanmu,” jawab Sabungsari, “kau ingin menghindari sentuhan pada perasaan orang lain. Kau tidak ingin menyakiti hati dan apalagi sampai pada suatu perselisihan yang dapat membawa maut, kecuali jika sudah tidak ada jalan lain untuk menghindar. Tetapi pertimbanganku lain. Aku justru mengetahui betapa liciknya seseorang yang tidak mengenal harga diri. Karena itu, aku tidak dapat menutup mata atas kemungkinan yang paling buruk dapat terjadi atasmu. Di arena perang tanding, atau di arena perang fitnah.”

“Aku tidak akan merendahkan Ki Pringgajaya dengan anggapan, bahwa ia adalah seorang yang licik dan pengecut.”

“Ia mempunyai landasan berdiri yang berbeda dengan aku. Aku datang karena aku merasa anak Ki Gede Telengan. Aku ingin menunjukkan, bahwa aku adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk mengalahkanmu. Karena itu aku tantang kau perang tanding. Sebenarnya perang tanding. Tetapi Ki Pringgajaya mempunyai landasan yang berbeda. Ia tidak perlu perang tanding dalam arti sebenarnya. Ia tidak perlu menunjukkan, apakah ia mampu membunuhmu dengan tangannya atau tidak. Yang penting baginya dan bagi orang-orangnya, kau harus mati. Itu saja. Siapapun yang melakukan. Bahkan meskipun aku yang melakukannya. Seorang yang sama sekali tidak mempunyai sangkut paut secara langsung dengan kelompoknya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan suara datar ia bertanya, “Manakah yang lebih baik aku lakukan?”

Sabungsari merenung sejenak. Katanya, “Itulah yang membingungkan. Tetapi kita harus menemukannya, meskipun mungkin kita akan bertempur melawan mereka.”

“Kenapa bertempur?”

“Justru untuk membuktikan, bahwa kita, maksudku kau, harus membela diri. Jika pertempuran itu dapat dilihat oleh saksi yang jujur, maka kau akan terlepas dari tuduhan yang dapat menjeratmu, meskipun kau adik Untara.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Memang sulit untuk melepaskan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang paling buruk karena fitnah. Mungkin justru dengan tuduhan memfitnah.

Namun pembicaraan itu terhenti. Glagah Putih masuk ke dalam sanggar sambil berkata, “Aku telah menyiapkan minuman. Masih panas, karena air baru saja mendidih. Marilah, lebih baik kita duduk di serambi.”

Agung Sedayu dan Sabungsari saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun kemudian berdiri dan melangkah ke serambi.

Beberapa saat lamanya mereka duduk sambil minum minuman hangat yang disiapkan oleh Glagah Putih. Mereka pun mengunyah beberapa potong makanan sambil berbincang. Tetapi yang mereka perbincangkan adalah keadaan yang mereka lihat dan mereka lakukan sehari-hari. Sementara Sabungsari juga sempat memberikan beberapa pendapatnya tentang latihan-latihan yang dilakukan oleh Glagah Putih.

Glagah Putih yang menganggap bahwa Sabungsari pun seorang anak muda yang mempunyai ilmu yang tinggi karena ia telah berhasil membunuh seorang yang mempunyai nama yang cukup besar dari Pesisir Endut, dengan senang hati mencoba memahaminya.

Ternyata bahwa yang dikatakan oleh Sabungsari itu pun sangat berguna baginya. Meskipun Sabungsari mempunyai sudut penglihatan dari arah yang agak berbeda dengan Agung Sedayu, namun justru dapat melengkapi pengertiannya tentang olah kanuragan.

Namun ternyata bahwa Sabungsari dan Agung Sedayu masih belum dapat menyelesaikan masalah mereka dengan tuntas. Ketika Sabungsari kemudian minta diri, ia sempat berbisik, “Jangan mengukur Ki Pringgajaya dengan sifat dan watakmu sendiri.”

Agung Sedayu hanya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sepeninggal Sabungsari, Agung Sedayu selalu dibayangi oleh niat Ki Pringgajaya. Ada maksudnya untuk menyampaikan hal itu kepada gurunya, agar ia mendapat petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan. Namun dengan demikian, ia harus pergi ke Sangkal Putung.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 26 Januari 2009 at 08:43  Comments (116)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

116 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur nuwun Ki Gede, sampun dipun sruput, lha tapi aku sinaune lagi tekan kitab 93, ora opo2 nggo simpenan, mekate njih Ki Gede !

  2. Teng yu…teng yu….
    Kitab 127 sampun kawula unduh, kantun mempelajari jurus2nya…
    Matur suwun Ki GeDe….

  3. sugeng enjing….

    wah… bar ngeterke sekolah anak…. tekan ngomah disuguhi rontal 127

    matur tengkyu Ki GD

  4. waduh,baru aja mau konsep surat eh ada kiriman rontal,jd bingung nih mau baca dulu atao gimana (pura2 bingung)…he..he

    matur thank you ki gedhe

  5. Pagi-pagi di depan gubug Ki Truno ada Koper tergeletak. Ki Truno sempat bingung, karena koper itu cukup berat dan kelihatan sarat muatannya.
    Segera Ki Truno memanggil semua tetangganya untuk ngumpul di gubugnya, sekaligus menanyakan barangkali ada yang memiliki koper itu. Setelah semua tetangga menyatakan bahwa mereka bukan pemilik koper itu, maka dengan disaksikan para tetangga, kemudian koper itupun dibuka.
    Ki Truno Podang dan para tetangganya terkejut bukan kepalang. Ternyata isi koper itu adalah “piauw”, dan setelah dihitung bersama-sama jumlah piauwnya 127 buah. Di sudut koper ada tulisan, oleh2 dari Ki GD.
    Hatur nuhuuuun Ki GD,semoga Tuhan YME senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah untuk Ki GD beserta krue-nya, dan semoga Ki GD beserta krue senantiasa sehat wal’afiat sehingga dapat melaksanakan tugas2 dengan lancar, termasuk tugas2 yang dinanti para ADBM-ers.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. habis dapat order dari customer …. ndilalah kiriman 127 nongol. Adeem beneerrr…….he he.
    Matur nuwun Ki GD

  7. weleh..welehh… sesudah menunggu cukup lama ahirnya ..
    ki GD melemparkan kitab ke 127..
    ciaoo kamsia ki GD..

  8. Terima kasih kitab 127-nya Ki GD.

    Salam kenal buat semua cantrik senior yang lain.
    Saya cantrik baru. Baru bbrp hari diterima berguru di padepokan ini.

  9. ngene iki istilahe jare “suwe mijet wohing ranti
    ‘ mak sret langsung nemu
    pancen sekali sekali arek-arek cantrik iku yo dipenakno koyo ngene. cek’e gak ngersulo ae , wis nggolek’i gak ketemu ketemu ndilalah internet’e pedat-pedot pisan..
    ngono iku sing nggarahi kudu ngejak benjeng ae mbarek tonggo.
    matur sembah nuwun ki Gedhe

  10. beberapa hari ini Ki Gede biasa kasih kitabnya pagi2…
    ….
    bakalan para cantrik ga ada di gardu ronda lagi nih malam2…,pasti dulu2an tidur biar pagi2 bisa antri ambil kitab….
    hiks…. gardu ronda jadi sepi nih….

  11. Covernya udah sampai 30
    opo iyo ????

  12. jilid II niki sanes “jalan simpang” nggih?

    • Sanes Ki KG, niki “jalan layang”

  13. Rambitab dan Kumuda, murid perguruan Kendeng,
    lha muride perguruan Gendheng sapa ya…????

    • komedotab, rambitab, galaxytab

      • Oh, kula kinten Ki Mantab kalih Ki Muntab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: