Buku II-25

Setelah melalui hutan yang tidak begitu lebat, mereka terpaksa memperlambat derap kuda mereka, meskipun mereka masih tetap berpacu. Di tengah-tengah bulak mereka harus menyesuaikan diri, agar para petani yang melihat tidak menjadi curiga karenanya.

Beberapa padukuhan telah dilaluinya. Akhirnya mereka pun sampai ke padukuhan yang agak besar di antara beberapa padukuhan yang lain.

“Itulah Ganjur,” berkata pengiring yang pernah melihat daerah Ganjur, “di sebelah padukuhan itu ada sebuah ara-ara yang cukup luas.”

“Apakah kita akan pergi ke ara-ara itu?” bertanya Adipati yang menjadi gelisah itu, “atau kita pergi ke pesanggrahannya?”

“Sudah tentu ke pesanggrahannya. Jika tidak ada di pesanggrahan, maka Raden Sutawijaya agaknya berada di ara-ara itu, atau bahkan berada di hutan untuk berburu kijang.”

“Persetan!” geram Adipati itu, “Jika ia berada di hutan, kita akan mencarinya sampai ketemu. Baru pagi tadi ia berangkat. Seandainya ia memang ingin berburu, maka ia tentu masih berada di pesanggrahan.”

Dengan demikian, maka iring-iringan itu pun langsung menuju ke pesanggrahan. Tanpa turun dari kudanya, maka Adipati itu langsung masuk ke dalam regol sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas.

“Aku utusan Sultan Hadiwijaya,” geram Adipati itu ketika ia berhenti di muka pendapa, “dimana Senopati Ing Ngalaga?”

Seorang pengawal yang berada di halaman itu mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Ampun, Tuan. Senopati Ing Ngalaga tidak berada di pesanggrahan.”

“Tetapi ia berada di sini.”

“Ya, benar, Tuan. Tetapi sejak menjelang sore hari. Senopati Ing Ngalaga berada di ara-ara dengan beberapa ekor kudanya.”

Adipati itu menggeram, sedangkan pengiringnya berkata, “Kita pergi ke ara-ara.”

Adipati itu tidak berkata sepatah kata pun. Ia langsung menarik kendali kudanya dan menghentakkannya, sehingga kudanya bagaikan terkejut dan meloncat berlari, menuju ke ara-ara.

Dari kejauhan, Adipati itu sudah melihat beberapa orang berada di ara-ara. Meskipun ia belum tahu, yang manakah Senopati Ing Ngalaga, tetapi ia dapat menduga, bahwa yang berada di punggung kuda, yang sedang berlatih menari di tengah-tengah ara-ara, itulah Raden Sutawijaya.

Derap kaki kuda Adipati itu memang mengejutkan Raden Sutawijaya, yang tengah bermain-main dengan kudanya. Ketika ia memandang ke kejauhan, dilihatnya empat ekor kuda berlari seperti angin menuju ke ara-ara itu.

“Siapa mereka?” bertanya Raden Sutawijaya kepada seorang pengawalnya.

Pengawal itu menggelengkan kepalanya sambil menyahut, “Aku belum pernah mengenalnya, Raden.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Semakin dekat, maka ia pun semakin jelas melihat, siapakah yang datang berkuda itu.

Demikianlah, Raden Sutawijaya dapat melihat lekuk-lekuk wajah orang itu dengan jelas, maka ia pun berdesah, “Adipati Partaningrat.”

Pengawalnya mengerutkan keningnya. Hampir berbisik ia bertanya, “Apakah ia yang bernama Raden Ambar bergelar Adipati Partaningrat ke 11?”

Raden Sutawijaya mengangguk sambil menjawab, “Ya. Ia adalah Raden Ambar yang bergelar Adipati Partaningrat ke II. Orang yang aneh menurut pandanganku. Baginya di dunia ini tidak ada orang yang baik dan benar. Semua yang dilakukan orang lain tentu salah dan kurang baik. Apalagi orang yang tidak disukai. Tetapi, kenapa ia datang kemari pada saat begini?”

“Tentu ada masalah yang penting.”

Raden Sutawijaya tidak menyahut. Ia menunggu Adipati itu menjadi semakin dekat. Tetapi ia sudah mengira, bahwa Pangeran Benawa telah berada di Mataram, dan Adipati Partaningrat itu mendapat perintah untuk memanggilnya.

Sejenak kemudian, maka Adipati yang bergelar Partaningrat ke II itu telah mendekat. Demikian ia memasuki ara-ara, maka kudanya pun diperlamban dan akhirnya berhenti beberapa langkah di hadapan Raden Sutawijaya, yang masih berada di punggung kudanya pula.

“Paman Adipati Partaningrat,” desis Raden Sutawijaya.

Adipati Partaningrat memandang Raden Sutawijaya dengan tajamnya. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Aku, Adipati Partaningrat membawa titah Sultan di Pajang.”

“Ya,” sahut Raden Sutawijaya, “katakan. Apakah titah Sultan?”

Adipati Partaningrat termenung sejenak. Dipandanginya Raden Sutawijaya dengan tajamnya. Kemudian katanya sekali lagi, “Aku, Adipati Partaningrat datang atas kuasa Sultan.”

“Ya. Apa maksudmu?”

“Di hadapan Sultan, sebaiknya kau turun dari kudamu,” desis Adipati Partaningrat.

Wajah Raden Sutawijaya tiba-tiba saja telah membara. Hampir saja ia kehilangan pengamatan diri. Untunglah, bahwa ia masih berusaha untuk menahan hatinya yang bagaikan terbakar.

“Kau turun dulu dari kudamu. Aku adalah putera Sultan Pajang, Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

“Ya. Kau putera angkat Sultan. Tetapi dalam tugasku sekarang, aku adalah Sultan itu sendiri.”

“Aku tidak percaya,” tiba-tiba saja Raden Sutawijaya menggeram, “apakah pertanda yang ada padamu, bahwa kau adalah utusan Sultan sehingga kau adalah Sultan itu sendiri?”

Wajah Adipati Partaningrat-lah yang kemudian menjadi merah. Apalagi ketika Raden Sutawijaya berkata selanjutnya, “Setiap orang yang berbuat sesuatu atas nama dan bagi Sultan Hadiwijaya di Pajang, maka ia tentu membawa pertanda. Tunggul, panji atau bawat itu sendiri. Bahkan seperti yang terjadi atas Untara, di saat meninggalnya Ki Sumangkar, justru pertanda pribadi ayahanda Sultan, keris Kiai Crubuk yang hampir tidak pernah terpisah dari lambung ayahanda.”

Sejenak Adipati Partaningrat bagaikan membeku. Namun gelora di dadanya terasa gemuruh, seolah-olah jantungnya akan meledak. Ketika kemudian mulutnya bergerak, terdengar suaranya gemetar, “Aku tidak memerlukan segala pertanda itu. Aku adalah kepercayaan Sultan. Perintah lisannya mempunyai nilai seperti tunggul, panji atau keris itu sendiri. Selebihnya, aku adalah pribadi yang memiliki pertanda itu sendiri.”

“Setiap orang dapat menyebut dirinya seperti yang kau katakan itu dengan kalimat-kalimat dan sikap kesombongan. Tetapi semuanya tidak berarti bagiku, karena aku adalah putera Sultan Hadiwijaya yang mengetahui dengan pasti semua adat dan tata cara yang diharuskan bagi istana Pajang.”

“Aku tidak perduli penilaianmu. Tetapi dengar perintahku, agar kau turun dari kudamu. Kemudian baru aku akan memberikan perintah berikutnya.”

“Adipati Partaningrat yang perkasa,” geram Raden Sutawijaya, “jangan membuat aku marah. Turunlah dari kudamu. Beri hormat kepada putera Sultan Hadiwijaya, yang bernama Raden Sutawijaya dan bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

Adipati Partaningrat menjadi gemetar menahan marah. Dengan geram ia berkata, “Jika kau melawan perintahku, maka berarti kau sudah melawan ayahanda angkatmu sendiri. Kau telah melawan rajamu dan karena itu kau telah memberontak. Mataram dengan pasti dapat dikatakan telah memberontak melawan Pajang.”
sampun
“Aku mengerti,” potong Raden Sutawijaya, “itulah yang aku kehendaki sebenarnya. Kau ingin menyebut Mataram memberontak. Kau telah mempergunakan cara yang kasar ini untuk memaksa aku melawan salah seorang Adipati kepercayaan Pajang. Tetapi, kau bagiku tidak berharga sama sekali. Meskipun bukan seorang Adipati, tetapi aku akan lebih menghormati Ki Untara di daerah Selatan ini, karena ia memang memegang kendali kekuasaan keprajuritan di daerah ini.”

“Aku tidak peduli. Sekarang, lakukanlah perintahku.”

“Kau-lah yang harus melakukan perintahku. Aku Senapati Ing Ngalaga yang berkuasa di Mataram.”

Hati dan jantung Adipati Partaningrat benar-benar telah membara. Karena itu, maka ia pun telah menyingsingkan lengan bajunya dan menarik wiron kain panjangnya. Dengan suara yang bergetar ia berkata, “Jadi aku harus memaksamu?”

“Jangan bodoh. Kematianmu tidak akan mendapat penghormatan apa-apa di sini,” jawab Senapati Ing Ngalaga.

Penghinaan itu benar-benar tidak dapat diterima oleh Adipati Partaningrat. Karena itu, maka ia pun telah bersiap untuk memaksa Raden Sutawijaya turun dari kudanya.

Sementara itu, para pengiringnya telah bersiap pula. Mereka tinggal menunggu perintah Adipati Partaningrat. Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawal Raden Sutawijaya yang berada di ara-ara itu, untuk ikut bermain-main dengan kuda, telah mempersiapkan diri pula menghadapi segala kemungkinan.

Pada saat yang tegang itulah, mereka yang berada di ara-ara itu terkejut. Mereka mendengar derap kaki kuda yang berpacu semakin dekat. Ketika mereka berpaling ke arah suara derap kaki kuda itu, maka mereka menjadi berdebar-debar. Mereka melihat iring-iringan beberapa orang berkuda.

Yang di paling depan dari mereka itu adalah Pangeran Benawa.

Raden Sutawijaya dan Adipati Partaningrat menjadi tegang. Mereka masing-masing menduga-duga, apakah yang akan dilakukan oleh Pangeran Benawa.

Namun, demikian Pangeran Benawa memasuki ara-ara, ia pun langsung menuju ke tempat Raden Sutawijaya duduk tegang di punggung kudanya. Beberapa langkah dari Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa pun berhenti, dan langsung meloncat turun.

“Aku datang, Kakang Sutawijaya,” berkata Pangeran Benawa lantang, sambil tersenyum.

Sejenak Raden Sutawijaya tercenung di atas punggung kudanya. Terasa sesuatu menggelegak di dalam dadanya. Namun sejenak kemudian ia pun segera meloncat turun pula.

“Selamat datang, Adimas Pangeran,” desis Raden Sutawijaya, tanpa menghiraukan lagi Adipati Partaningrat yang menjadi berdebar-debar melihat sikap Pangeran Benawa.

Namun, karena Pangeran Benawa telah meloncat turun diikuti oleh beberapa orang pengiringnya, maka Adipati Partaningrat pun turun pula dari punggung kudanya, betapa hatinya terasa bagaikan akan meledak.

“Pangeran Benawa adalah orang yang aneh,” geram Adipati itu di dalam hatinya, “ia telah merendahkan dirinya di hadapan Senapati Ing Ngalaga. Jika saja ia tidak datang, maka bukan salahku jika aku membawanya terikat ke Pajang sebagai seorang pemberontak, atau membiarkannya melarikan diri dan mempersiapkan pasukannya dengan tergesa-gesa, sehingga alasan untuk menghancurkan Mataram akan dapat segera dilakukan. Sementara itu, pasukan Pajang sendiri akan menjadi lemah dan kehilangan kekuatan untuk melawan kehendak beberapa orang pemimpin, yang mempunyai cita-cita yang jauh lebih berharga dari apa yang dapat dicapai Pajang dalam keadaan yang parah sekarang ini.”

Sejenak, Adipati Partaningrat melihat kedua orang itu bersalaman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan akrabnya seperti benar-benar dua orang kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu.

Tetapi agaknya Pangeran Benawa tidak bertanya sesuatu tentang Adipati Partaningrat. Bahkan ia kemudian berkata, “Tempat ini menyenangkan sekali, Kakang. Aku ingin bermalam di pesanggrahan Kakang Sutawijaya malam nanti. Tentu itu lebih baik daripada kita kembali ke Mataram. Langit sudah menjadi buram dan kemerah-merahan sekarang.”

Raden Sutawijaya mengangkat wajahnya. Dilihatnya bayangan senja mulai turun menyelubungi daerah Ganjur.

“Senang sekali jika Adimas menghendaki,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “tetapi, rumah yang ada di daerah ini adalah rumah padesan yang sederhana.”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya, “Apakah kira-kira aku tidak dapat tidur di dalam rumah yang sederhana?”

Raden Sutawijaya pun tertawa pula. Ia mengerti, siapakah Pangeran Benawa itu. Ia mengerti, bahwa Pangeran Benawa adalah seseorang yang terbiasa bertualang, tidur di rerumputan beratapkan langit berselimut embun. Karena itu, maka pertanyaan Pangeran Benawa itu membuatnya tertawa pula.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya pun kemudian mempersilahkan Pangeran Benawa dan para pengiringnya untuk pergi ke pesanggrahan. Betapapun hatinya terluka oleh sikap Adipati Partaningrat, namun ia pun mempersilahkan Adipati itu pula untuk singgah.

“Pesanggrahan yang menyenangkan,” berkata Pangeran Benawa, ketika mereka sudah berada di pesanggrahan, “aku sudah singgah di pesanggrahan ini. Namun seorang abdi mengatakan, bahwa Kakang Sutawijaya berada di ara-ara, bermain-main dengan kuda.”

“Ya. Aku merasa sangat lelah di Mataram, sehingga aku memerlukan waktu beberapa hari untuk beristirahat. Tepat pada saat aku pergi, Adimas Pangeran datang berkunjung ke Mataram.”

Pangeran Benawa tertawa. Katanya, “Aku tidak mempunyai kepentingan yang khusus. Aku memang sekedar menengok keselamatan Kakang Sutawijaya sekeluarga,” berkata Pangeran Benawa kemudian.

Pada saat Pangeran Benawa berbincang dengan Raden Sutawijaya sebagai dua orang bersaudara yang lama tidak bertemu, maka Adipati Partaningrat telah menggamit pengawalnya sambil berbisik, “Siapa yang memberitahukan, bahwa aku menyusul Raden Sutawijaya?”

Pengawal menggeleng sambil menjawab, “Tidak ada, Adipati. Tidak ada.”

“Sst. Jangan keras-keras,” desis Adipati itu. “Tetapi jika tidak ada yang memberitahukannya, kenapa ia tahu bahwa aku berada di sini?”

“Pangeran Benawa mempunyai panggraita yang sangat tajam, sehingga menurut perhitungannya. Adipati berada di sini. Dan sebenarnyalah, Kangjeng Adipati berada di sini.”

“Gila!” geramnya, “Jika saja ia tidak segera datang, maka aku sudah mempunyai bukti, bahwa Senapati Ing Ngalaga telah memberontak melawan kekuasaan Pajang.”

Pengawalnya tidak menyahut. Tetapi sambil memandang Pangeran Benawa, yang sedang asyik berbincang dengan Raden Sutawijaya, ia berkata di dalam hati, “Apakah ada tanda-tanda pemberontakan itu? Keduanya sangat akrab. Nampaknya tidak mungkin ada selisih paham antara keduanya. Padahal Sultan Pajang, seolah-olah kini sudah tidak memerintah lagi karena keadaan kesehatannya.”

Tetapi pengawal itu tidak berkata sesuatu tentang kedua orang saudara angkat itu. Yang dilihatnya, keduanya adalah dua orang saudara yang baik dan akrab. Yang memiliki kemampuan melampaui kebanyakan prajurit, sehingga keduanya adalah anak muda yang jarang ada tandingnya.

“Jika keduanya berselisih, maka bumi akan berguncang. Gunung akan saling membentur dan danau-danau akan tumpah dan kering. Lautan bagaikan mendidih dan jurang-jurang pun akan merekah semakin lebar. Bintang-bintang di langit akan berloncatan berbaur dengan badai dan prahara yang akan memutar balik langit dan mega-mega yang kelabu,” desis pengawal itu di dalam hatinya.

***

Oleh Ki Prass
Belum di proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 26 Januari 2009 at 08:43  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. waaa….
    jg nomer atu… tumben euy…

  2. wah tebakanku salah…
    tak kusangka bilik ini dibuka hari ini
    mestinya akan diiringi dengan pembagian rontal hari ini
    hehehehehe

  3. Mudah2an Semangkin dikasih bonus ama Ki Gede…mmmuaaaccch..

  4. No 4

  5. covernya Sabungsari diobati Kiai Gringsing ya?

  6. kitab 124 + 125 lom di launching juga hiks

  7. Bonus akhir bulan suro…terima kasih..terima kasih
    …kita tunggu segera…..Ki

  8. Waduuh Sabungsari terluka

  9. Semangkin lama semangkin banyak bonus ???????…….

  10. kam sia,
    ki gede…

  11. lho..
    bonusnya apa jg dititpke?
    koq ga keliatan?

  12. Bonusnya yang di bawa langsung Maestro ADMB:
    “S.H. Mintrdja” poro sederek

  13. matur nuwun ki GD

  14. # On 26 Januari 2009 at 18:35 Sabung Ayam Sari Said:

    Bonusnya yang di bawa langsung Maestro ADMB:
    “S.H. Mintrdja” poro sederek

    “?*65$3^*(KP/?=

    weleh weleh…
    api di mukit benoreh…,..di sebelah mana Ki Sabung??..

  15. Trima kasih ki,
    Bonusnya sudah diterima..

  16. Kasinggihan panjenenganipun Romo SH Mintardja estu maestro.

  17. setiap ada bonus maka sumringah hati ini , matur nuwun ki GD

  18. Goro2 kakean nge’klik sedinoan..
    Drijine dadi kriting, nulis komen ngalor ngidul…
    aarrrGHHH…

  19. Bonusnya dah terima…
    Tengkyu KiGede.

  20. kapan rilis ?

  21. Terima kasih atas bonusnya Ki Gede, sudah sukses diambil semua

  22. Matur nuwun Ki bonusipun

  23. Met Ultah Ki SH Mintardja…semoga amal kebaikan panjenengan diterima oleh-Nya. Amin.
    Teng yu Ki GeDe….bonus sampun kawula unduh…

  24. Trima kasih Ki

    Dua hari kemarin tidak bisa ngunduh apa-apa dari Padepokan ADBM, karena saluran internet kami lemot.

    Hari ini saya sudah unduh semuanya, empat buah kitab 122,123,124 dan 125.

    Tapi untung juga, saya jadi memiliki waktu lebih banyak ngerjakan ladang Padepokan ADBM3.

    Trima kasih ki

  25. makasih…
    bonusnya udah bisa dinikmati

    bagi yg belum dapet
    cari bonus di semua kamar tulisan tgl 26 januari 🙂

  26. Wah sekali klik langsung dapet dua kitab, matur nuwun Ki GD, semakin mantabs, tensiku yo stabil.

    Salam Santai Bangeti

    Joko Brondong

  27. We ladalah ….. kok durung nangkep yo ? wonten pundi kitabipun kisanak ?

  28. semua rontal 124, 125 & 126 sampun di unduh .. matur nuwon ki GD ….

  29. waaa, baru pulang dari pajang sudah ditumpleki kitab-kitab.

    trims ki gd.

  30. SAYA PENING NIH…. DIMANA KITAB 125 NYA……. SAYA DARI MALAYSIA…. TIDAK BERAPA PAHAM…. BERI TUNJUK AJAR DEH…. DIMANA KIOTAB 125 NYA………

  31. Klik nama pengarangnya … cari tanggal lahirnya. silahkan dicoba…

  32. Kisanak Sutajia, tetep dereng ngeh. Nama yang disisih pundi? Soyo ndalu pandulu soyo lemot angupadi dununge kitab kamanukswan.

  33. dibawah cover sebelah kanan

    karya :

    S.H. Mintardja

    nah dibiografi beliau ada tgl. lahirnya … tinggal klik

  34. Suwun Ki Sutajia, sudah ketemu. Sambil ngopi … mudar kitab. Jan enak tenan.

  35. Adipati Partaningrat,
    adigang, adigung, adiguna.

    Hikss, kalau jaman sekarang tentu termasuk dalam golongan orang2 yang kalau sedang berkonvoi naik kendaraan berombongan kemudian kendaraan lain yang ngalang alangi digepuki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: