Buku II-25

Agung Sedayu memandang Glagah Putih sejenak. Kemudian sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Ya. Swandaru memang belum sembuh benar. Kau tahu Glagah Putih, bahwa luka-luka yang cukup parah, jika perawatannya kurang baik akan dapat kambuh kembali. Luka-luka itu tiba-tiba menjadi bengkak dan sakit sekali.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Sampai kapan Kiai Gringsing berada di Sangkal Putung?”

“Tidak terlalu lama. Sementara itu, seperti pesan orang-orang Sangkal Putung, kita akan sering datang mengunjungi mereka.”

“Berapa kali kita harus pergi ke Sangkal Putung? Jika Kiai Gringsing hanya sebentar berada di Sangkal Putung, bukankah berarti bahwa sekali kita berkunjung, Kiai Gringsing sudah berada kembali di Jati Anom?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menjawab, “Menurut jalan pikiranmu, kita hanya datang ke Sangkal Putung selama Kiai Gringsing berada di sana?”

Glagah Putih termangu-mangu sejenak. Namun ia pun tersenyum pula sambil berkata, “Ya. Aku keliru. Yang penting justru bukan Kiai Gringsing.”

“Apa?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak apa-apa,” jawab Glagah Putih.

Agung Sedayu tertawa pendek. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi.

Keduanya kemudian menyusuri jalan-jalan persawahan yang hijau. Ketika mereka keluar dari tlatah Sangkal Putung, maka matahari pun sudah menjadi semakin tinggi.

Beberapa orang masih nampak sibuk bekerja di sawah, sementara beberapa orang yang lain, telah mulai beristirahat di gubug-gubug sambil membuka kiriman makan dan minum dari rumah masing-masing.

“Kawan-kawan dari padepokan tentu sedang beristirahat pula,” desis Glagah Putih.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “salah seorang dari mereka telah membawa makanan dan minuman ke sawah.”

“Yang masak juga di antara mereka,” desis Glagah Putih.

Agung Sedayu menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Bukankah setiap hari juga mereka lakukan demikian? Bahkan jika kita ada di padepokan? Sekali-sekali justru kau yang masak.”

“Itu kita lakukan karena terpaksa,” sahut Glagah Putih.

“Kenapa terpaksa?” bertanya Agung Sedayu.

“Sebaiknya perempuan-lah yang melakukan. Perempuan-lah yang masak dan menyediakan makan dan minum yang akan dibawa ke sawah.”

“Tetapi di padepokan kita, tidak ada seorang perempuan.”

“Itulah yang kurang. Kenapa Kakang Agung Sedayu tidak segera membawa mbokayu Sekar Mirah ke padepokan?”

“Ah,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesah. Hampir saja ia mengatakan, bahwa Sekar Mirah tidak sesuai hidup di sebuah padepokan kecil, apalagi padepokan yang masih harus dibangun. Tetapi ia menyadari dengan siapa ia berbicara. Karena itu, maka ia pun memaksa diri untuk tersenyum sambil menjawab, “Untuk membawa Sekar Mirah ke padepokan itu, diperlukan banyak syarat Glagah Putih.”

“Apa?”

“Mula-mula upacara perkawinan yang memerlukan banyak beaya. Darimana aku mendapatkannya dalam keadaan seperti ini?”

“Bukankah Ki Demang Sangkal Putung cukup mempunyai uang untuk melakukan upacara itu? Dan bukankah upacara itu dapat dilakukan dengan beaya yang banyak, tetapi dapat juga dengan beaya yang sedikit saja?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih juga tertawa. Katanya, “Coba katakan, apakah sudah sepantasnya jika aku pasrahkan semua keperluan untuk itu kepada Ki Demang di Sangkal Putung? Ingat, Glagah Putih. Aku adalah seorang laki-laki.”

“Tetapi, bukankah ada kakang Untara? Kakang Untara juga bukan seorang yang terlalu miskin. Ia memiliki, meskipun sedikit, uang untuk membeayai perkawinan Kakang Agung Sedayu. Bukankah kakang Untara menjadi pengganti ayah bunda Kakang Agung Sedayu? Selain kakang Untara juga ada ayah. Ayah juga mempunyai kewajiban itu. Dan aku kira ayah pun akan bersedia berbuat sesuatu. Kecuali mereka, jika Kakang mau, Kakang akan dapat mengatakan kepada Raden Sutawijaya atau Pangeran Benawa. He, bukankah Kakang mengenal mereka secara pribadi?”

Agung Sedayu tertawa berkepanjangan. Namun, di luar pengamatan Glagah Putih, luka-luka di hati anak muda itu terasa menjadi semakin pedih. Glagah Putih yang belum mempunyai banyak pertimbangan itu, memandang kehidupannya dengan jujur dan berterus terang, bahwa sepantasnya ia harus menunggu belas kasihan orang-orang lain.

Agung Sedayu(Glagah Putih?) mengerutkan keningnya. Namun ia pun akhirnya ikut tertawa juga, tanpa menyadari pedih di hati kakak sepupunya.

Sementara itu, keduanya meneruskan perjalanan mereka. Kuda-kuda mereka kemudian tidak berlari terlalu cepat, tetapi juga tidak terlalu lambat. Mereka menyusuri bulak-bulak panjang. Kemudian mendekati hutan yang tidak terlalu lebat. Sejenak kemudian, keduanya telah menyusuri jalan di pinggir hutan itu.

Perjalanan ke Jati Anom memang tidak terlalu panjang. Karena itu, maka mereka pun segera mendekati kademangan dan padepokan kecil mereka di Jati Anom.

Agung Sedayu dan Glagah Putih sama sekali tidak berprasangka apa pun juga, ketika mereka memasuki kademangan yang dipergunakan oleh prajurit-prajurit Pajang itu. Apalagi Agung Sedayu seolah-olah sudah yakin, bahwa Sabungsari tidak lagi mendendamnya. Setelah ia terluka parah dalam menjalankan tugasnya, bahkan sekaligus berkesempatan untuk melepaskan dendamnya terhadap orang-orang Pasisir Endut, maka Sabungsari sudah menemukan dirinya sendiri. Ia tidak lagi dihantui oleh janjinya untuk membunuh Agung Sedayu. Ia sudah sadar, apa yang dihadapinya.

Karena itu, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih sama sekali tidak mencurigai siapapun juga. Ketika ia bertemu dengan dua orang prajurit yang sedang meronda, maka mereka pun memberi hormat dengan ramahnya.

Tetapi kedua orang prajurit itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah kalian?”

Agung Sedayu pun termangu-mangu. Ia memang belum mengenal kedua orang prajurit itu. Karena itu, maka Agung Sedayu pun menjawab, “Aku, orang Jati Anom. Bukankah kalian prajurit Pajang di Jati Anom?”

“Ya. Aku prajurit Pajang di Jati Anom.”

“Tetapi kami belum pernah melihat kalian. Apakah kalian orang baru?”

“Ya. Kami orang baru. Kami mengganti beberapa bagian dari pasukan Ki Untara yang ditarik kembali ke Pajang beberapa pekan yang lalu,” jawab prajurit itu. “Siapakah kalian sebenarnya?”

“Kami penghuni padepokan kecil di ujung Kademangan Jati Anom itu.”

“O,” kedua prajurit itu mengangguk, “kau penghuni padepokan kecil itu?”

“Ya.”

“Menurut beberapa orang kawan yang telah lama berada di sini, penghuni padepokan itu adalah adik Ki Untara.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun Glagah Putih-lah yang menyahut, “Ya. Kakang Agung Sedayu ini adalah adik kakang Untara.”

Kedua orang prajurit itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kami akan meneruskan perjalanan. Kami sedang nganglang. Silahkan meneruskan perjalanan pula.”

Agung Sedayu pun mengangguk pula. Jawabnya, “Terima kasih.”

Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera meneruskan perjalanan menuju ke arah yang berlawanan dengan kedua orang prajurit itu. Sekali-sekali Glagah Putih masih berpaling. Namun akhirnya ia pun memacu kudanya di belakang Agung Sedayu.

Sejenak Glagah Putih terdiam di atas punggung kudanya. Namun kemudian hampir di luar sadarnya ia berkata, “Jika Kakang menjadi seorang prajurit, maka Kakang akan memakai kelengkapan pakaian dan tanda-tanda seperti kedua orang prajurit itu.”

Agung Sedayu berpaling. Sambil tersenyum ia berkata, “Apakah aku pantas mengenakan pakaian dan kelengkapan seperti prajurit itu?”

“Tentu,” jawab Glagah Putih, “tetapi sudah tentu ada beberapa perbedaan. Kakang Agung Sedayu tentu akan menjadi seorang prajurit yang pilih tanding. Senapati yang akan menjadi lurah Kakang Agung Sedayu tidak akan dapat menyamai kecakapan Kakang dalam ilmu perang dan olah kanuragan.”

“Ah,” desis Agung Sedayu, “tentu tidak. Prajurit Pajang adalah prajurit-prajurit yang baik. Kau lihat Sabungsari?”

Glagah Putih mengangguk. Tetapi jawabnya tidak terduga-duga oleh Agung Sedayu, “Itulah yang aneh. Apakah para perwira di atas Sabungsari memiliki kemampuan lebih baik dari Sabungsari? Jika demikian, maka Pajang benar-benar akan menjadi sangat kuat. Tetapi, agaknya tidak semua prajurit memiliki kemampuan seperti Sabungsari.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi katanya kemudian, “Baiklah kita tidak membuat penilaian apa-apa, karena yang kita ketahui tentang mereka hanyalah sedikit sekali. Yang aku kenal di antara mereka secara pribadi dan rapat, hanyalah satu dua orang prajurit, meskipun yang lain aku tahu pula sekedar dengan anggukan kepala.”

Glagah Putih mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Dalam pada itu, mereka telah menjadi semakin dekat dengan padepokan kecil mereka, di ujung Kademangan Jati Anom. Mereka tanpa sadar, telah memacu kuda mereka semakin cepat.

Namun dalam pada itu, di luar sadar mereka, dari kejauhan dua orang prajurit yang lain telah memandangi mereka dengan berdebar-debar. Salah seorang dari keduanya berkata, “Ternyata Agung Sedayu masih tetap hidup.”

“Aneh sekali,” berkata yang lain, “Sabungsari belum melakukan seperti yang pernah dikatakannya. Ia akan membunuh Agung Sedayu.”

“Mungkin tertunda karena peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung itu. Memang luar biasa, bahwa seorang prajurit dari tataran terendah seperti Sabungsari mampu membunuh orang dari Pasisir Endut itu.”

“Bukankah aku sudah mengatakan, bahwa ia dapat membunuh seekor kambing dari jarak yang cukup jauh? Satu hal yang jarang sekali dapat dilakukan. Sorot matanya bagaikan meluncurkan anak panah. Dan matilah sasaran yang dipandanginya.”

“Ia hampir mati dalam perang tanding melawan Carang Waja yang seolah-olah dapat mengguncang bumi. Memang ilmu yang aneh-aneh. Seolah-olah di luar jangkauan nalar.”

“Tetapi kenapa Agung Sedayu masih tetap hidup? Itulah yang menjadi persoalan. Apakah Sabungsari mengurungkan niatnya, atau ia benar-benar sedang menunggu keadaannya menjadi pulih kembali?”

Kawannya tidak segera menjawab. Ia melihat Agung Sedayu memang dalam keadaan sehat tanpa cidera bersama adik sepupunya.

Baru kemudian ia berkata, “Kita akan menunggu beberapa saat. Mungkin keadaan Sabungsari memang belum mengijinkan. Jika Sabungsari telah sembuh sama sekali, dan ia tidak berbuat apa-apa terhadap Agung Sedayu, maka kita harus menilai kembali sikapnya. Agaknya ia justru ingin melindungi Agung Sedayu. Dalam hal yang demikian, apa pun yang dapat dilakukan, maka ia termasuk sasaran yang harus disingkirkan.”

“Ya,” desis kawannya, “Sabungsari memang seorang yang mempunyai ilmu yang luar biasa. Tetapi itu bukan berarti, bahwa ia tidak dapat dikalahkan seperti juga Agung Sedayu sendiri.”

“Marilah,” desis yang lain, “kita laporkan keadaannya. Agar kita sempat membuat pertimbangan dan perhitungan sebaik-baiknya.”

Keduanya pun kemudian menyingkir sebelum Agung Sedayu menyadari, bahwa dua orang telah mengintainya dari kejauhan. Karena itu, maka Agung Sedayu masih saja dengan tenangnya menuju ke padepokan kecilnya.

Ketika Agung Sedayu memasuki padepokannya, maka kawan-kawannya yang berada di padepokan menjadi heran, bahwa Agung Sedayu tidak datang bersama Kiai Gringsing.

“Guru masih harus menunggui Swandaru,” berkata Agung Sedayu kepada mereka, “jika keadaan Swandaru telah benar-benar menjadi pulih kembali, maka guru akan segera kembali.”

Anak-anak muda yang tinggal bersamanya di padepokan itu mengangguk-angguk. Mereka yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya di Sangkal Putung itu hanya dapat mengangguk-angguk.

“Apakah ayah tidak datang?” bertanya Glagah Putih tiba-tiba.

“Ki Widura telah datang kemari. Tetapi Ki Widura telah kembali ke Banyu Asri. Meskipun demikian, sekali-sekali Ki Widura datang juga menengok kami di sini, meskipun tidak terlalu lama,” jawab salah seorang dari anak-anak muda itu.

Glagah Putih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Dan kau katakan kepada ayah, bahwa kami pergi ke Sangkal Putung?”

“Ya. Kami katakan apa yang kami ketahui tentang Sangkal Putung,” jawab anak muda itu.

Agung Sedayu dan Glagah Putih pun kemudian menyerahkan kuda mereka kepada anak-anak muda yang menunggui padepokannya. Namun ketika mereka memasuki padepokan, terasa padepokan itu sangat sepi, meskipun hanya gurunya seorang sajalah yang tidak ada bersama mereka.

“Jika ayah datang, aku akan minta ayah tinggal di sini barang satu dua hari,” berkata Glagah Putih.

“Jika kebetulan paman tidak sibuk, paman tentu bersedia,” jawab Agung Sedayu.

Glagah Putih tidak menyahut lagi. Ia pun kemudian memasuki biliknya dan di luar sadarnya, ia telah berbaring di ambennya. Meskipun bilik itu beberapa hari lamanya tidak dipergunakan, tetapi penghuni padepokan yang tinggal, selalu membersihkannya pagi dan sore.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih tinggal di padepokan itu tanpa Kiai Gringsing untuk beberapa saat. Agung Sedayu-lah yang kemudian seakan-akan menjadi penanggung jawab dari padepokan kecil itu dan menentukan segala sesuatu yang mereka lakukan sehari-hari.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun telah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia merasa dibebani tanggung jawab untuk membentuk Glagah Putih menjadi seorang anak muda yang memiliki bekal yang cukup bagi masa depannya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian minta agar Glagah Putih mempersiapkan dirinya untuk memperdalam dan meningkatkan ilmunya.

Dalam pada itu, di antara tugas Glagah Putih sehari-hari, maka ia pun benar-benar telah mempergunakan segenap waktunya untuk menempa diri. Dengan tuntunan Agung Sedayu, maka Glagah Putih tenggelam di dalam sanggar dengan unsur-unsur gerak dan ketentuan-ketentuan ilmu pada saluran perguruan ayahnya.

Ternyata bahwa Agung Sedayu mampu melakukannya sebaik-baiknya. Ia sudah pernah melihat susunan ilmu itu dengan lengkap, meskipun pada puncak pahatan di dinding goa, ilmu itu terdapat cacat karena tingkahnya sendiri.

Tetapi Agung Sedayu sendiri yakin, bahwa pada saatnya puncak dari ilmu itu akan dapat diketemukannya dengan cara yang khusus. Ia harus mengurai tata gerak dan watak dari ilmu itu dengan saksama. Kemudian berdasarkan pada hasil penelitian itu, ia akan melangkah setapak demi setapak untuk mencapai kemampuan puncak dari ilmu itu sendiri.

Dalam pada itu, Glagah Putih ternyata benar-benar seorang anak muda yang luar biasa. Ingatannya sangat tajam. Karena itu, maka ia dengan cepat dapat menangkap setiap peningkatan dan pengenalan dari unsur-unsur yang baru.

Seperti Agung Sedayu, Glagah Putih sama sekali tidak mengenal lelah dalam latihan-latihan yang berat. Bahkan jika Agung Sedayu sedang sibuk dengan kerjanya sehari-hari, sementara Glagah Putih mempunyai waktu terluang, maka ia sendiri berada di dalam sanggarnya.

“Aku harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalanku,” berkata Glagah Putih di dalam hatinya. Bahkan hal itu selalu dikatakannya pula kepada Agung Sedayu.

“Kau ketinggalan dari siapa?” bertanya Agung Sedayu setiap kali, “Apakah kau pernah berjanji dengan seseorang untuk berpacu dengan ilmu masing-masing?”

“Meskipun tidak, tetapi aku harus dapat menilai diriku sendiri,” jawab Glagah Putih, “setiap anak muda yang aku temui, ternyata memiliki ilmu yang luar biasa. Sementara umurku merayap semakin tua, dan aku sama sekali belum mempunyai bekal apa pun juga.”

Agung Sedayu selalu membesarkan hatinya, dan berkata, “Sebesar kau, aku belum dapat berbuat apa-apa. Aku masih selalu ketakutan jika aku berada di rumah sendiri atau keluar setelah senja. Aku masih menggigil mendengar ceritera tentang hantu bermata satu, di pohon randu alas di tikungan. Dan aku pun masih ketakutan mendengar orang mengucapkan kata-kata Harimau Putih dari Lemah Cengkar.”

“Tetapi perkembangan Kakang kemudian adalah di luar kebiasaasan. Kakang telah menjadi seorang yang aneh sekarang ini,” desis Glagah Putih.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil bertanya, “Apakah yang tidak biasa padaku? Aku tidak lebih dari kau. Perkembanganku pun tidak lebih cepat dari perkembanganmu sekarang. Bahkan mungkin jauh lebih lamban, karena aku memiliki bekal yang sangat kurang.”

“Kakang hanya ingin membesarkan hatiku,” desis Glagah Putih. Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Kau memang aneh. Tetapi seandainya demikian, bukankah itu lebih baik daripada aku selalu marah-marah dan menganggap kau terlalu dungu dan lamban?”

Glagah Putih pun akhirnya tertawa pula. Namun sementara itu, ia pun telah mengajak Agung Sedayu memasuki sanggarnya dan tenggelam dalam latihan yang berat.

Ketika di sore hari, di saat langit menjadi merah oleh cahaya senja, maka Glagah Putih telah selesai dengan membersihkan diri. Ia sudah berganti pakaian dan mandi, setelah mempergunakan waktu senggangnya dengan tekun di dalam sanggarnya.

Ia terkejut ketika ia melihat seseorang berdiri di muka regol padepokannya. Dalam kesuraman senja, Glagah Putih melihat orang itu seakan menjadi ragu-ragu.

Namun ia pun segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah Sabungsari. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun berlari turun dari pendapa untuk menyongsongnya, “Kau, Sabungsari. He, apakah kau sudah sembuh sama sekali?”

Sabungsari tersenyum. Perlahan-lahan ia melangkah memasuki halaman sambil menjawab, “Keadaanku sudah berangsur baik.”

“Marilah,” Glagah Putih mempersilahkan.

Keduanya pun kemudian naik ke pendapa, sementara Agung Sedayu pun keluar dari ruang dalam dan menyambutnya.

“Tetapi, nampaknya kau belum sembuh sama sekali,” berkata Agung Sedayu.

Sabungsari yang kemudian duduk di pendapa menyahut, “Ada yang masih terasa mengganggu, Agung Sedayu. Luka-lukaku ternyata memang parah sekali. Tanpa obat-obat dari Kiai Gringsing, mungkin aku sudah mati.”

“Segalanya kita kembalikan kepada Yang Maha Kasih,” berkata Agung Sedayu.

“Ya. Aku pun bersukur kepada-Nya,” jawab Sabungsari, “Dan kini, luka-lukaku masih ada yang terasa sakit jika aku bergerak terlalu banyak.”

“Dan kau sudah berjalan sampai ke jarak yang terlalu jauh bagi seseorang yang sedang sakit,” berkata Glagah Putih.

Tetapi Sabungsari justru tertawa. Katanya, “Menurut juru pengobatan pada pasukanku, aku memang dianjurkan untuk mulai melatih diri, berjalan-jalan dan menggerakkan badanku sedikit-sedikit.”

“Juga menggerakkan mata?” bertanya Agung Sedayu.

Sabungsari tertawa, sementara Glagah Putih menjadi bingung dan bertanya, “Kenapa dengan mata?”

Agung Sedayu-lah yang menyahut, “Tidak apa-apa.”

Glagah Putih mengerutkan wajahnya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu. Bahkan kemudian ia pun beringsut sambil berkata, “Aku siapkan minuman hangat.”

“Jangan terlalu repot dengan kedatanganku, Glagah Putih,” berkata Sabungsari.

“Sudah ada.”

“Jika belum, tolonglah, adakanlah.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Sabungsari dan Agung Sedayu pun tertawa pula.

Sementara Glagah Putih berada di dalam, maka Sabungsari pun bertanya tentang keadaan Swandaru dan orang-orang Sangkal Putung yang lain.

“Swandaru sudah sembuh,” jawab Agung Sedayu.

“Lukanya tidak separah lukaku,” berkata Sabungsari, “aku sudah dapat disebut mati. Apalagi Swandaru ditunggui oleh Kiai Gringsing, yang benar-benar ahli di dalam hal pengobatan.”

“Tetapi keadaanmu pun sudah baik.”

“Ya. Berangsur baik. Tetapi aku masih lemah. Karena itu, aku masih belum dapat berbuat apa-apa sekarang ini.”

“Beristirahatlah sebanyak-banyaknya. Bukankah para pemimpinmu mengetahui keadaanmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Pemimpin-pemimpinku mengetahui keadaanku. Dan aku pun mendapat ijin cukup untuk beristirahat,” jawab Sabungsari. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Tetapi aku tidak sekedar dalam kedudukanku sebagai seorang prajurit. Aku membawa beberapa orang yang penuh dendam kepadamu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Dengan perlahan-lahan aku telah mencoba meyakinkan mereka, bahwa dendam yang berkepanjangan itu tidak ada gunanya sama sekali. Lebih dari itu, aku sudah berterus terang, bahwa aku telah kau kalahkan.”

“Apakah mereka mengerti?” bertanya Agung Sedayu.

“Mereka cukup mengerti. Tetapi aku masih belum melepaskan mereka kembali ke padepokan. Aku masih menahan mereka tinggal di Jati Anom, di tempat yang tersembunyi. Aku masih memerlukan mereka selama aku sakit.”

“Untuk apa?” bertanya Agung Sedayu.

“Bukan begitu. Tetapi sekedar untuk menahan mereka,” Sabungsari termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Tetapi di samping itu, masih juga ada sesuatu yang perlu kau ketahui.”

Agung Sedayu mengerutkan dahinya.

“Meskipun orang-orangku perlahan-lahan telah menyadari keadaan mereka dan keadaanku, namun di Jati Anom ini masih juga ada bahaya yang mengintaimu.”

“Kenapa?”

Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengatakannya, karena Glagah Putih telah datang sambil membawa minuman hangat dan beberapa potong ubi rebus.

“Nah, segar sekali,” gumam Sabungsari, “saat-saat begini tidak akan ada minuman panas lagi di barak. Apalagi ubi rebus. Ubi ungu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat memaksa Sabungsari untuk berkata lebih lanjut, justru karena kehadiran Glagah Putih.

Sejenak mereka masih bercakap-cakap sambil minum minuman panas dan makan ubi rebus yang masih hangat. Glagah Putih yang tidak mengetahui persoalan yang gawat bagi Agung Sedayu itu pun berbicara sesuka hatinya. Berkepanjangan tanpa henti-hentinya.

Sabungsari hanya kadang-kadang saja menanggapinya. Kadang-kadang tersenyum dan tertawa.

Namun ternyata, bahwa kegembiraan sikap Glagah Putih itu dapat membantu membuat tubuh Sabungsari semakin segar. Jika sebelum ia dikalahkan oleh Agung Sedayu, kejemuannya di dalam barak itu hanyalah sekedar alasan, maka kini, rasa-rasanya ia benar-benar malas kembali ke baraknya. Seperti yang pernah dikatakannya, bahwa di setiap sudut ia melihat tombak tersandar, dan pedang yang tersangkut di dinding, di atas setiap pembaringan.

Tetapi ia sudah berniat untuk benar-benar terjun ke dalam lingkungan keprajuritan. Bagaimanapun juga, ia harus menjunjung segenap ketentuan yang berlaku baginya.

Dalam pada itu, Glagah Putih berceritera tentang berbagai macam peristiwa sepeninggal Sabungsari dari Sangkal Putung. Bahkan kemudian Glagah Putih pun menceriterakan kedatangan Pangeran Benawa ke Sangkal Putung.

“Pangeran Benawa? Apakah keperluannya datang ke Sangkal Putung?” bertanya Sabungsari.

“Ia tidak sengaja pergi ke Sangkal Putung. Ia hanya singgah sejenak dalam perjalanannya ke Mataram,” jawab Glagah Putih. Hampir saja Glagah Putih terloncat mengatakan kepergiannya ke Mataram bersama Agung Sedayu. Untunglah segera ia teringat, bahwa Agung Sedayu telah memesannya untuk tidak mengatakannya kepada siapapun juga.

“Apakah aku juga tidak boleh mengatakan kepada Sabungsari?” pertanyaan itu tumbuh di hatinya.

Namun ketika ia melihat kesan di wajah Agung Sedayu, maka ia pun yakin, bahwa Agung Sedayu tidak membenarkan jika ia mengatakannya, meskipun kepada Sabungsari, yang dianggapnya seorang anak muda yang sangat baik kepadanya.

Dalam pada itu, ternyata Senapati Ing Ngalaga telah mengambil sikap yang menimbulkan pertanyaan. Bukan saja bagi para pengikut Pangeran Benawa. Tetapi Pangeran Benawa sendiri justru menjadi berdebar-debar.

“Apakah maksud kakang Sutawijaya?” pertanyaan itu bergejolak di dalam hatinya.

Ketika Pangeran Benawa dan iring-iringannya datang ke Mataram, ternyata Raden Sutawijaya tidak berada di rumahnya. Beberapa orang tua yang ada di rumah Senapati Ing Ngalaga itu, dengan gugup mempersilahkan Pangeran Benawa naik ke pendapa.

“Kedatangan Pangeran tidak kami duga-duga,” berkata salah seorang dari orang-orang tua itu.

“Paman Juru Martani?”

“Ki Juru ada, Pangeran. Seorang pengawal sedang memanggilnya ke Sanggar.”

Pangeran Benawa dan pengiringnya pun kemudian naik ke pendapa. Sejenak mereka duduk termangu-mangu.

Pangeran Benawa sendiri bertanya di dalam hatinya, apakah Agung Sedayu tidak menyampaikan pesan seperti yang dikehendakinya, sehingga timbul salah mengerti.

Dalam pada itu, selagi Pangeran Benawa termangu-mangu, maka Ki Juru Martani pun keluar dengan tergesa-gesa dari ruang dalam. Dengan tergesa-gesa pula ia berlari ke arah Pangeran Benawa.

Ternyata Pangeran Benawa pun bangkit dan berlari pula memeluk orang tua itu. Katanya, “Ki Juru Martani. Rasa-rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian Pangeran Benawa melepaskannya, maka ia pun berkata, “Silahkan duduk, Anakmas Pangeran. Kedatangan Pangeran ke Mataram bagaikan embun yang menitik di teriknya musim kemarau yang panjang tanpa batas.”

Pangeran Benawa tersenyum. Ia pun kemudian duduk dihadap oleh beberapa orang tetua Mataram.

Setelah mereka saling bertanya tentang keselamatan masing-masing dan para pengiringnya, maka akhirnya Pangeran Benawa bertanya tentang Raden Sutawijaya.

“Pangeran,” Ki Juru menarik nafas dalam-dalam, “kedatangan Pangeran sama sekali tidak kita duga-duga. Karena itu, angger Sutawijaya hari ini tidak ada di Mataram.”

“O,” Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya, “Kemana perginya kakang Sutawijaya? Aku dengar, kakang Sutawijaya adalah seorang yang senang merantau, mesu sarira, mendaki bukit dan menuruni lurah-lurah yang dalam untuk memperdalam segala macam ilmu yang ada di muka bumi ini.”

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Ia mengikuti jejak gurunya, orangtuanya dan pepundennya.”

“Ayahanda Sultan selagi masih bergelar Mas Karebet,” potong Pangeran Benawa.

Ki Juru tersenyum. Namun ia pun mengerutkan keningnya, ketika Pangeran Benawa bertanya, “Tetapi pada usia tuanya, apakah kakang Sutawijaya juga akan seperti ayahanda Sultan?”

“Kenapa?” Ki Juru bertanya.

“Aku melihat beberapa persamaan antara kakang Sutawijaya dan ayahanda Sultan. Keduanya adalah orang-orang yang luar biasa di dalam mesu diri dalam olah kanuragan di masa mudanya. Tetapi kedua-duanya juga orang-orang yang senang melihat keindahan. Lebih-lebih lagi kecantikan.”

“Ah,” desah Ki Juru Martani. Tetapi ia pun tertawa. Katanya kemudian, “Tetapi kali ini angger Sutawijaya tidak sedang mesu diri. Di saat-saat terakhir, kesehatan angger Sutawijaya agak kurang baik. Karena itu, ia kini sedang tetirah di daerah Ganjur.”

“O,” Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai mengerti, apa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya. Karena itu ia yakin, bahwa Agung Sedayu benar-benar telah menemuinya dan menyampaikan pesannya, seperti yang dikehendakinya.

Meskipun demikian, namun ia masih juga bertanya kepada Ki Juru Martani, “Ki Juru, siapakah yang ikut bersama kakang Sutawijaya ke Ganjur?”

“Tidak banyak, Ngger. Hanya beberapa orang yang mengawalnya. Daerah Ganjur adalah daerah yang tenang, seperti daerah Mataram yang lain,” jawab Ki Juru Martani.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Ketika ia memandang para pengiringnya, ia melihat beberapa kesan yang berbeda.

“Ki Juru. Kapan kakang Sutawijaya akan kembali?” bertanya Pangeran Benawa.

Ki Juru mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti, Angger Pangeran. Raden Sutawijaya tidak mengatakan berapa lama ia akan tinggal di daerah Ganjur.”

“Kapan kakang Sutawijaya berangkat?”

Ki Juru termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya ragu, “Tetapi, angger Sutawijaya baru berangkat pagi-pagi tadi, Ngger. Jika saja Angger Pangeran memberitahukan kedatangan Angger, maka sudah tentu ia tidak akan pergi tetirah, betapapun keadaannya. Apalagi keadaannya memang tidak terlalu memaksa. Mungkin ada juga keinginannya untuk melupakan kesibukannya sehari-hari dengan berburu, atau dengan menjinakkan kuda-kuda yang masih terlalu liar, itu pun termasuk kesenangannya. Karena itu, ia telah menyiapkan sebuah lapangan di daerah Ganjur untuk menjinakkan dan melatih dalam berbagai macam gerakan.”

“Ya, ya,” sahut Pangeran Benawa, “kakang Sutawijaya memang senang sekali kepada kuda. Tetapi jika kami menunggu, apakah kami harus tinggal sepekan atau dua pekan di Mataram?”

“Terlalu lama,” desis Adipati yang ikut bersama Pangeran Benawa.

Ki Juru Martani mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Pangeran. Memang sebaiknya aku akan menyuruh beberapa orang untuk menyusulnya ke Ganjur. Tetapi sudah barang tentu tidak perlu sekarang. Tetapi besok pagi-pagi benar.”

“Ya, ya, Ki Juru,” sahut Pangeran Benawa, “aku memang tidak sangat tergesa-gesa. Besok pagi pun tidak terlalu lama. Mungkin aku akan bermalam barang dua tiga malam di Mataram.”

“Terlalu lama, Pangeran,” sahut Adipati yang mengiringinya.

Pangeran Benawa berpaling kepadanya. Katanya, “Kenapa terlalu lama? Aku ingin melihat-lihat keadaan Mataram yang telah berkembang dengan cepat. Apakah Paman Adipati tidak ingin berbuat demikian?”

Adipati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian sambil mengangguk ia menjawab, “Ya, Pangeran. Aku pun ingin melihat keadaan kota yang baru tumbuh ini.”

“Nah,” desis Ki Juru, “jika demikian, biarlah besok pagi-pagi para pengawal akan menyusul Raden Sutawijaya ke Ganjur.”

“Terima kasih, Paman,” sahut Pangeran Benawam “sebenarnya bukan maksud kami mengganggu Paman dan apalagi kakang Sutawijaya yang sedang tetirah dan beristirahat di daerah Ganjur.”

“Tetapi itu adalah wajar sekali, Angger Pangeran. Angger Sutawijaya memang harus dijemput.”

Pangeran Benawa tersenyum. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu, seorang Adipati yang menyertainya itu mendahuluinya, “Tetapi kenapa menunggu sampai besok. Hari ini masih cukup panjang. Seandainya senja sekalipun, seharusnya pengawal itu berangkat sekarang dan minta agar Raden Sutawijaya segera kembali, meskipun kemalaman di perjalanan, karena Pangeran Benawa yang mengemban tugas Sultan datang ke Mataram.”

“O,” Ki Juru mengerutkan keningnya, “apakah Pangeran mengemban tugas?”

“Tidak, Paman,” Pangeran Benawa-lah yang menjawab, “seandainya aku memang ditugaskan ke Mataram, tugas itu sama sekali tidak penting. Aku hanya mengemban tugas untuk datang menengok keselamatan kakang Sutawijaya. Tidak lebih dan tidak kurang.”

Wajah Adipati itu menegang. Tetapi ia tidak dapat membantah dan mengatakan yang berbeda.

“Karena itu,” Pangeran meneruskan, “biarlah besok pagi-pagi sajalah pengawal dari Mataram menjemput kakang Sutawijaya, meskipun hari ini agaknya masih cukup panjang. Dan Ganjur agaknya memang tidak terlalu jauh.”

“Memang tidak terlalu jauh, Pangeran. Tetapi jika sekarang pengawal itu berangkat, maka ia akan sampai di Ganjur menjelang senja. Raden Sutawijaya akan kemalaman di perjalanan, seandainya ia harus kembali segera.”

“Tidak. Tidak harus segera,” potong Pangeran Benawa.

Ki Juru pun menarik nafas panjang sambil menjawab, “Terima kasih, Angger Pangeran. Jika demikian, maka biarlah dipersiapkan bilik bagi Pangeran dan para pengiring di gandok kanan.”

“Terima kasih. Kami dapat beristirahat dimana saja.”

Ki Juru tersenyum. Ia mengenal Pangeran Benawa dengan baik. Ia tahu, bahwa Pangeran Benawa dapat saja tidur di gardu, di banjar, bahkan di kandang sekalipun. Tetapi tentu para pengiringnya yang tidak akan dapat berbuat demikian.”

Karena itu, maka Ki Juru pun segera memerintahkan beberapa orang pelayan untuk membersihkan gandok kanan. Kemudian setelah menjamu sekedarnya, Ki Juru mempersilahkan para tamunya untuk beristirahat.

Namun dalam pada itu, Adipati yang mengikuti Pangeran Benawa ke Mataram itu selalu saja nampak gelisah. Sebenarnya ia tidak dapat menerima perlakuan yang sangat mengecewakan itu. Seharusnya, Ki Juru dengan tergesa-gesa memerintah beberapa orang pengawal untuk pergi ke Ganjur, minta agar Raden Sutawijaya pulang, malam itu juga. Yang datang di Mataram adalah Pangeran Benawa, yang membawa tugas ayahandanya Sultan Hadiwijaya. Karena itu, maka Raden Sutawijaya harus bersikap seperti ia bersikap kepada Sultan sendiri.

Dalam pada itu, karena ia tidak dapat menahan gejolak perasaannya, maka ia pun telah bersepakat dengan beberapa orang pengiring untuk langsung pergi ke Ganjur, memanggil Raden Sutawijaya untuk segera kembali.

“Kita tidak usah minta ijin Pangeran Benawa. Kita pergi begitu saja, jika Pangeran Benawa sedang beristirahat,” berkata Adipati itu kepada para pengiringnya.

Beberapa orang pengiringnya termangu-mangu.

Tetapi beberapa orang lain yang sependapat dengan Adipati itu pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Sutawijaya harus tahu diri.”

Demikianlah, ketika Pangeran Benawa beristirahat di dalam gandok, maka Adipati itu pun telah mempersiapkan diri. Tiga orang pengiringnya telah ditunjuk untuk mengikutinya, sementara yang lain agar tetap berada di gandok itu, sehingga kepergian Adipati itu tidak diketahui oleh Raden Sutawijaya.

“Usahakan agar ia tidak mencari aku,” berkata Adipati itu.

“Tetapi Ki Adipati tentu akan pergi cukup lama. Mungkin tengah malam baru kembali. Apa jawabku jika Pangeran bertanya?”

“Katakanlah, bahwa kau tidak tahu, kemana aku pergi,” berkata Adipati itu.

Sejenak kemudian, maka dengan hati-hati, para pengiringnya telah mempersiapkan kuda mereka. Ketika para pengawal Mataram bertanya, maka para pengiring itu hanya mengatakan, bahwa mereka ingin melihat-lihat keadaan Mataram.

Tanpa setahu Pangeran Benawa, maka Adipati yang mengikutinya ke Mataram itu pun telah meninggalkan rumah Raden Sutawijaya. Demikian mereka sampai ke jarak yang cukup, kuda-kuda itu pun segera dipacu menuju ke daerah Ganjur.

“Siapa di antara kalian yang pernah melihat daerah Ganjur?” bertanya Adipati itu di sepanjang jalan.

“Aku,” jawab salah seorang pengiringnya, “Ada sebuah padukuhan yang cukup besar di daerah Ganjur. Padukuhan itu adalah padukuhan tempat Raden Sutawijaya membuat pesanggrahan.”

Adipati itu tidak menjawab. Kudanya justru berpacu semakin cepat. Seolah-olah ia sudah tidak sabar lagi untuk dapat segera bertemu dengan Raden Sutawijaya, dan memerintahkannya segera kembali ke Mataram, meskipun sampai larut malam mereka baru akan sampai.”

“Ia harus mengerti, bahwa ia masih tetap harus tunduk kepada Sultan dan alat-alat pemerintahannya,” berkata Adipati itu di dalam hatinya, “kecuali jika ia memang benar-benar ingin memberontak. Jika itu yang dikehendakinya, maka biarlah lebih cepat dilakukan. Dengan demikian, maka rencana penghancuran Mataram akan lebih cepat selesai. Pajang pun menjadi sangat lemah karena benturan itu, sehingga menghancurkannya pun tidak diperlukan waktu setengah hari.”

Empat orang berkuda itu pun menyusuri bulak-bulak panjang dengan kecepatan yang tinggi. Beberapa orang petani yang berada di sawah, terkejut melihat kuda berpacu demikian cepatnya. Apalagi ketika keempat ekor kuda itu memasuki jalan-jalan yang sepi di pinggir hutan yang tidak terlalu lebat.

“Lewat hutan ini, kita akan mendapatkan beberapa padukuhan lagi,” berkata pengiringnya yang telah pernah mengetahui daerah Ganjur. “Setelah melalui beberapa padukuhan itulah, maka kita akan segera sampai ke padukuhan yang agak besar, dengan sebuah ara-ara yang luas. ara-ara yang dipersiapkan bagi Raden Sutawijaya untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang banyak.”

Adipati itu tidak menjawab. Ia mencoba berpacu semakin cepat. Dengan demikian, maka debu pun berhamburan di belakang kaki keempat ekor kuda itu.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 26 Januari 2009 at 08:43  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. waaa….
    jg nomer atu… tumben euy…

  2. wah tebakanku salah…
    tak kusangka bilik ini dibuka hari ini
    mestinya akan diiringi dengan pembagian rontal hari ini
    hehehehehe

  3. Mudah2an Semangkin dikasih bonus ama Ki Gede…mmmuaaaccch..

  4. No 4

  5. covernya Sabungsari diobati Kiai Gringsing ya?

  6. kitab 124 + 125 lom di launching juga hiks

  7. Bonus akhir bulan suro…terima kasih..terima kasih
    …kita tunggu segera…..Ki

  8. Waduuh Sabungsari terluka

  9. Semangkin lama semangkin banyak bonus ???????…….

  10. kam sia,
    ki gede…

  11. lho..
    bonusnya apa jg dititpke?
    koq ga keliatan?

  12. Bonusnya yang di bawa langsung Maestro ADMB:
    “S.H. Mintrdja” poro sederek

  13. matur nuwun ki GD

  14. # On 26 Januari 2009 at 18:35 Sabung Ayam Sari Said:

    Bonusnya yang di bawa langsung Maestro ADMB:
    “S.H. Mintrdja” poro sederek

    “?*65$3^*(KP/?=

    weleh weleh…
    api di mukit benoreh…,..di sebelah mana Ki Sabung??..

  15. Trima kasih ki,
    Bonusnya sudah diterima..

  16. Kasinggihan panjenenganipun Romo SH Mintardja estu maestro.

  17. setiap ada bonus maka sumringah hati ini , matur nuwun ki GD

  18. Goro2 kakean nge’klik sedinoan..
    Drijine dadi kriting, nulis komen ngalor ngidul…
    aarrrGHHH…

  19. Bonusnya dah terima…
    Tengkyu KiGede.

  20. kapan rilis ?

  21. Terima kasih atas bonusnya Ki Gede, sudah sukses diambil semua

  22. Matur nuwun Ki bonusipun

  23. Met Ultah Ki SH Mintardja…semoga amal kebaikan panjenengan diterima oleh-Nya. Amin.
    Teng yu Ki GeDe….bonus sampun kawula unduh…

  24. Trima kasih Ki

    Dua hari kemarin tidak bisa ngunduh apa-apa dari Padepokan ADBM, karena saluran internet kami lemot.

    Hari ini saya sudah unduh semuanya, empat buah kitab 122,123,124 dan 125.

    Tapi untung juga, saya jadi memiliki waktu lebih banyak ngerjakan ladang Padepokan ADBM3.

    Trima kasih ki

  25. makasih…
    bonusnya udah bisa dinikmati

    bagi yg belum dapet
    cari bonus di semua kamar tulisan tgl 26 januari 🙂

  26. Wah sekali klik langsung dapet dua kitab, matur nuwun Ki GD, semakin mantabs, tensiku yo stabil.

    Salam Santai Bangeti

    Joko Brondong

  27. We ladalah ….. kok durung nangkep yo ? wonten pundi kitabipun kisanak ?

  28. semua rontal 124, 125 & 126 sampun di unduh .. matur nuwon ki GD ….

  29. waaa, baru pulang dari pajang sudah ditumpleki kitab-kitab.

    trims ki gd.

  30. SAYA PENING NIH…. DIMANA KITAB 125 NYA……. SAYA DARI MALAYSIA…. TIDAK BERAPA PAHAM…. BERI TUNJUK AJAR DEH…. DIMANA KIOTAB 125 NYA………

  31. Klik nama pengarangnya … cari tanggal lahirnya. silahkan dicoba…

  32. Kisanak Sutajia, tetep dereng ngeh. Nama yang disisih pundi? Soyo ndalu pandulu soyo lemot angupadi dununge kitab kamanukswan.

  33. dibawah cover sebelah kanan

    karya :

    S.H. Mintardja

    nah dibiografi beliau ada tgl. lahirnya … tinggal klik

  34. Suwun Ki Sutajia, sudah ketemu. Sambil ngopi … mudar kitab. Jan enak tenan.

  35. Adipati Partaningrat,
    adigang, adigung, adiguna.

    Hikss, kalau jaman sekarang tentu termasuk dalam golongan orang2 yang kalau sedang berkonvoi naik kendaraan berombongan kemudian kendaraan lain yang ngalang alangi digepuki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: