Buku II-25

“BUKANKAH kalian pernah melakukannya bagi Senapati Ing Ngalaga, yang mempunyai kedudukan yang hampir sama? Raden Sutawijaya itu pun putera Sultan di Pajang, meskipun putera angkatnya.”

“Tetapi ia sangat baik dan seolah-olah tidak ada jarak dengan kami,” berkata salah seorang gadis.

“Demikian pula Pangeran Benawa,” sahut Agung Sedayu, “tetapi kalian memang lebih dekat dan sudah pernah melayankan hidangan kepada Raden Sutawijaya.”

Gadis-gadis itu masih saja berdebar-debar. Tetapi keterangan Agung Sedayu itu agak membuat hati mereka menjadi tenang. Jika benar seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka Pangeran Benawa tidak akan terlalu memperhatikan sikap dan unggah-ungguh mereka.

Dalam pada itu, Agung Sedayu-lah yang kemudian menanyakan, apakah mereka melihat Sekar Mirah.

“Baru saja keluar,” jawab Pandan Wangi, “mungkin ia berada di patehan, melihat anak-anak muda yang menyiapkan minuman.”

Agung Sedayu pun kemudian menyusul Sekar Mirah ke patehan di longkangan. Ternyata gadis itu memang berada di sana, memberikan beberapa petunjuk kepada anak-anak muda yang sedang membuat minuman.

“Ada sedikit yang ingin aku katakan,” bisik Agung Sedayu.

Sekar Mirah pun kemudian mengikutinya. Di balik longkangan, di sudut gandok yang sepi Agung Sedayu berkata, “Aku akan pergi.”

“He?” Sekar Mirah mengerutkan keningnya. “Bagaimana mungkin? Di sini kami sedang sibuk.”

“Sst,” desis Agung Sedayu, “ada pesan dari Pangeran Benawa.”

Sekar Mirah menjadi tegang. Kemudian, ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh keterangan Agung Sedayu, tentang pesan Pangeran Benawa lewat Swandaru.

Barulah Sekar Mirah mengerti persoalannya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah yang akan pergi bersamamu, Kakang? Mungkin di perjalanan kau tidak akan menjumpai kesulitan apa pun. Tetapi di malam hari, kadang-kadang ada saja sesuatu yang harus kita perhitungkan.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Katanya, “Menurut Pangeran Benawa, Swandaru dan guru sebaiknya tidak meninggalkan rumah ini.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Jadi dengan siapakah Kakang akan pergi?”

“Aku tidak dapat memilih siapakah yang paling baik pergi bersamaku. Mungkin seorang pengawal yang paling baik menurut petunjuk Swandaru, atau barangkali Glagah Putih saja.”

“Apakah itu sudah cukup?” bertanya Sekar Mirah.

“Mungkin sudah cukup. Atau kedua-duanya. Glagah Putih dan seorang pengawal terpilih.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Bagaimana jika aku saja?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah, “kau diperlukan dalam kesibukan ini.”

Sekar Mirah mengangguk kecil, ia sadar, bahwa ia harus membantu mempersiapkan jamuan yang dengan tergesa-gesa dilakukan oleh perempuan-perempuan di Kademangan Sangkal Putung untuk menjamu tamu-tamu mereka, termasuk seorang Pangeran dan seorang Adipati.

“Tetapi, Kakang harus berhati-hati,” berkata Sekar Mirah, “mudah-mudahan tidak ada apa-apa di perjalanan.”

“Doakan saja, Sekar Mirah. Aku sekarang akan segera pergi dengan diam-diam. Jangan berkata kepada siapapun, karena jika hal ini diketahui oleh satu orang saja, maka mungkin sekali akan segera tersebar sampai ke telinga salah seorang pengiring Pangeran Benawa.”

“Bagaimana dengan seorang pengawal? Ia pun tentu akan berceritera kepada kawan-kawannya.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Jika demikian, aku akan pergi dengan Glagah Putih saja.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Tetapi jika hal itu dikehendaki oleh Pangeran Benawa, ia tidak dapat mencegahnya. Ia pun mengerti, bahwa Pangeran Benawa sebenarnya sangat mengasihi kakak angkatnya di Mataram, seperti Raden Sutawijaya juga mengasihinya.

Dalam pada itu, dengan diam-diam Agung Sedayu dan Glagah Putih segera mempersiapkan kuda mereka. Melalui longkangan belakang, keduanya pergi dengan diam-diam. Jangankan para tamu, orang-orang Sangkal Putung sendiri tidak mengetahui bahwa keduanya telah meninggalkan halaman.

“Kita lewat jalan-jalan setapak,” berkata Agung Sedayu, yang mengenal Sangkal Putung seperti mengenal padukuhannya sendiri. Karena itu, maka ia pun dapat memilih jalan keluar tanpa melalui sebuah gardu penjagaan pun, meskipun kadang-kadang mereka justru harus menuntun kuda mereka.

Demikianlah, ketika mereka sudah berada di luar padukuhan, maka kuda mereka pun segera berpacu. Dengan cepat mereka melintasi bulak-bulak dan padukuhan-padukuhan. Sejauh mungkin Agung Sedayu menghindari gardu-gardu yang dapat menghambat perjalanannya. Apalagi selama mereka masih berada di tlatah Sangkal Putung.

Agung Sedayu harus dengan secepatnya mencapai Mataram. Kemudian dengan secepat-cepatnya pula kembali ke Sangkal Putung. Jarak antara Sangkal Putung dan Mataram memang cukup panjang, sehingga perjalanan itu merupakan perjalanan yang cukup berat, jika menjelang pagi mereka harus sudah berada di Sangkal Pulung kembali. Apalagi jika ada sesuatu yang dapat menghambat perjalanan mereka.

Namun, ternyata di perjalanan menuju ke Mataram, nampaknya mereka tidak menemui gangguan sesuatu. Meskipun jalan gelap dan kadang-kadang mereka masih harus melalui jalan di pinggir hutan, namun mereka tidak mendapat hambatan yang berarti.

Dalam pada itu, di Sangkal Putung yang seolah-olah dengan tiba-tiba saja telah menyelenggarakan sebuah perhelatan, telah menjadi sangat ramai. Kademangan Sangkal Putung menjadi terang benderang. Apalagi halaman rumah Ki Demang, yang penuh dengan obor di setiap sudut dan bagian dari kebun dan longkangan.

Dalam kesibukan itu, tidak seorang pun yang menyadari, bahwa Agung Sedayu tidak berada di halaman rumah Ki Demang itu, kecuali orang-orang tertentu yang memang berkepentingan. Anak-anak muda yang sibuk itu kadang-kadang memang ada yang bertanya, dimana Agung Sedayu. Tetapi Sekar Mirah selalu dapat mencari jawabnya. Jika ia berada di patehan, ia mengatakan Agung Sedayu ada di pendapa. Tetapi jika anak-anak yang dari pendapa bertanya dimana Agung Sedayu, ia menjawab bahwa Agung Sedayu berada di sumur atau di longkangan.

Namun bagaimanapun juga, Sekar Mirah menjadi berdebar-debar juga. Ia mengerti, betapa di malam hari, meskipun sebagian besar jalan telah lapang dan rata, tetapi hutan-hutan seperti Tambak Baya, kadang-kadang masih merupakan daerah yang sangat mendebarkan. Bulak yang panjang dan kemudian jalan yang menembus daerah yang masih berhutan lebat, bahkan masih merupakan daerah jelajah para perampok dan penyamun.

Terhadap satu dua orang perampok dan penyamun. Sekar Mirah tidak perlu mencemaskan nasib Agung Sedayu. Tetapi jika sekelompok dari mereka bersama-sama mencegatnya di hutan Tambak Baya, maka hal itu akan dapat merupakan peristiwa yang gawat.

Tetapi, Agung Sedayu tidak mengalami sesuatu di perjalanan. Glagah Putih ternyata merupakan anak muda yang memang mempunyai kemampuan yang besar dan kemungkinan yang baik di masa mendatang. Di dalam gelapnya malam, ia mampu berkuda dengan cepatnya mengikuti Agung Sedayu. Ketika sekali mereka berhenti di pinggir Kali Opak, tidak nampak kesan kelelahan atau perasaan cemas pada Glagah Putih. Ia pun dengan sigap kembali meloncat ke punggung kudanya yang telah sempat minum air sungai yang jernih, dan beristirahat barang sejenak.

Ketika mereka memasuki Mataram di gelapnya malam, maka para penjaga di regol telah menghentikannya. Tetapi karena keduanya tidak mencurigakan, maka mereka tidak mengalami banyak kesulitan.

Meskipun Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak menyatakan diri mereka dan kepada siapa ia akan menghadap, namun para penjaga tidak terlalu banyak bertanya tentang mereka. Adalah mungkin sekali seseorang yang datang dari jarak yang kemalaman di perjalanan. Apalagi Agung Sedayu dapat menyebut beberapa nama, justru orang-orang yang sudah banyak dikenal di Mataram dan mengaku sebagai sanak kadangnya yang datang dari jauh, meskipun nama itu bukan Senapati Ing Ngalaga.

Tetapi, ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih sampai di regol rumah yang didiami oleh Raden Sutawijaya, maka ia harus mengatakan, bahwa mereka memang akan menghadap Raden Sutawijaya.

“Kenapa malam-malam begini?” bertanya pengawal yang menjaga regol halaman.

“Penting sekali. Kami tidak dapat menundanya sampai besok,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi, siapakah kalian?” pengawal itu mendesak.

Agung Sedayu termangu-mangu. Seperti di Pajang, maka sudah barang tentu bahwa tidak semua orang di Mataram dapat dipercaya. Mungkin sekali penjaga itu adalah orang yang dengan sengaja di tempatkan oleh orang-orang yang justru memusuhi Mataram.

Karena itu, maka Agung Sedayu berkata, “Apakah kalian dapat menyampaikan pesan kedatanganku kepada Ki Lurah Branjangan?”

Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ki Lurah tidak bertugas malam ini.”

“Tetapi, bukankah rumahnya di belakang rumah ini dan setiap saat dapat dihubungi?”

“Kau aneh. Katakan, siapakah kalian dan apakah keperluan kalian?” bentak penjaga itu.

“Ki Lurah mengenal kami. Jika Ki Lurah ada, maka Ki Lurah akan dapat mengurus segalanya,” Agung Sedayu termangu-mangu. Lalu, “Atau, antarkan kami kepada Ki Lurah.”

Selagi kedua penjaga regol itu termangu-mangu, tiba-tiba saja seorang perwira pengawal datang sambil bertanya, “Ada apa dengan mereka?”

“Mereka ingin menghadap. Tetapi sikap mereka justru mencurigakan. Mereka mungkin sekali berniat buruk dengan merahasiakan diri mereka.”

“Aku tidak merahasiakan. Aku hanya mengatakan, bahwa Ki Lurah mengenal kami.”

Tiba-tiba perwira itu mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Bukankah kau?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu sambil menjabat tangan perwira itu. Namun ia berbisik, “Aku datang dengan pesan rahasia.”

Perwira itu termangu-mangu. Ia tidak jadi menyebut nama Agung Sedayu. Apalagi Agung Sedayu seolah-olah justru telah mendesaknya semakin jauh dari para penjaga dan membiarkan kendali kudanya dipegang oleh Glagah Putih.

“Sebaiknya jangan ada orang lain yang mengetahui, apakah yang aku lakukan di sini,” desis Agung Sedayu pula.

Tetapi perwira itu tersenyum. Katanya lirih, “Orang-orangku dapat dipercaya. Petugas-petugas di rumah ini adalah petugas-petugas khusus yang dipilih melalui beberapa tataran.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sukurlah. Mudah-mudahan begitu.”

“Kau harus yakin. Jika tidak, kau pun wajib mencurigai aku,” sahut perwira itu sambil tertawa.

Agung Sedayu justru menjadi termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian tertawa pula. Desisnya, “Mudah-mudahan aku dapat yakin kemudian.”

Meskipun demikian, ternyata perwira itu tidak menyebut juga nama Agung Sedayu. Dengan termangu-mangu, penjaga regol itu melihat perwira yang kebetulan sudah mengenal Agung Sedayu itu membawanya masuk dan langsung ke longkangan, bersama Glagah Putih.

“Apakah kau akan bertemu dengan Senapati Ing Ngalaga malam ini juga?” bertanya perwira itu.

“Ya, penting sekali. Aku membawa pesan Pangeran Benawa.”

“He?” wajah orang itu menegang. Lalu, “Baiklah. Aku akan membangunkannya.”

Perwira itu telah membawa Agung Sedayu ke ruang pengawal dalam. Kemudian, bersama salah seorang dari mereka memasuki bagian tengah dari rumah yang besar itu.

“Tunggulah di sini,” berkata pengawal dalam itu.

“Cepatlah sedikit,” berkata perwira yang membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih itu.

Pengawal dalam itu pun kemudian menuju ke pintu bilik Senapati Ing Ngalaga. Sejenak ia termangu-mangu.

Namun kemudian, ia pun mengetuk pintu bilik itu.

Sejenak kemudian, pintu itu terbuka. Seorang yang mempunyai perbawa yang sangat besar, telah berdiri di muka pintu, sementara pengawal dalam itu menganggukkan badannya penuh hormat.

“Kenapa kau bangunkan aku?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ampun, Senapati. Ada seseorang yang ingin menghadap, membawa berita yang sangat penting yang tidak dapat ditunda sampai besok,” jawab pengawal dalam itu.

Raden Sutawijaya pun kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Yang dilihatnya di ruang sebelah lewat pintu hanyalah bayangan yang melekat dinding.

Namun katanya kemudian, “Bawa mereka kemari.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian melangkah surut, untuk mempersilahkan perwira pengawal yang membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih.

Demikian Sutawijaya melihat Agung Sedayu, sejenak ia menegang. Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata, “Kau, Agung Sedayu. Marilah. Duduklah di ruang dalam. Kedatanganmu tentu akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Tetapi tentu bukan kedatangan dan kematian Carang Waja.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk penuh hormat, karena bagaimanapun juga, ia berhadapan dengan Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.

“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu, “kami mohon maaf, bahwa kami datang di malam larut.”

Raden Sutawijaya tertawa. Jawabnya, “Aku justru berterima kasih. Tentu kau membawa persoalan yang sangat mendesak. Bukan hanya sekedar menginap karena kemalaman dalam perjalananmu.”

“Senapati benar. Aku memang membawa kabar penting,” sahut Agung Sedayu.

Sejenak kemudian, maka Raden Sutawijaya pun membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih ke ruang tengah. Sementara perwira yang membawanya pun kemudian minta diri meninggalkan ruangan itu, bersama pengawal dalam yang telah membangunkan Raden Sutawijaya.

Setelah Raden Sutawijaya bertanya tentang keselamatan Agung Sedayu di perjalanan bersama Glagah Putih, maka ia pun berkata, “Nah, sekarang katakanlah. Apakah yang penting itu bagi kami di Mataram?”

Agung Sedayu pun kemudian mengatakan, bahwa Pangeran Benawa berada di Sangkal Putung dalam perjalanannya ke Mataram. Dan ia pun telah menyampaikan pesan Pangeran Benawa kepada Raden Sutawijaya tentang keperluannya dan mempersilahkan Raden Sutawijaya untuk menyesuaikan diri.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesis, “Itulah, Agung Sedayu. Ada orang-orang tertentu di Pajang yang selalu mencari-cari kesalahanku. Ketika kita berada di Gunung Merapi, di lembah antara gunung itu dan Gunung Merbabu, maka Pajang telah berbuat serupa. Tetapi agaknya mereka belum puas, karena mereka tidak menemukan yang mereka kehendaki. Seolah-olah Mataram sedang mempersiapkan diri untuk memberontak terhadap Pajang. Waktu itu aku sempat mengaburkan kedatangan pasukanku agar mereka memasuki kota dalam pecahan-pecahan kecil, sehingga petugas-petugas dari Pajang tidak melihat pasukan yang seolah-olah dipersiapkan untuk melawan Pajang. Kini Pajang justru mengutus Pangeran Benawa sendiri untuk datang ke Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Demikianlah yang harus aku sampaikan kepada Senapati Ing Ngalaga.”

“Aku mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Aku akan menyesuaikan diri. Namun sebenarnyalah di Mataram tidak ada kegiatan yang pantas disebut atau dianggap sebagai satu persiapan pemberontakan. Adalah wajar sekali jika pengawal-pengawalku mengadakan latihan-latihan perang di daerah Ganjur atau di pinggir hutan Kleringan. Dan bahkan kadang-kadang memasuki lebatnya hutan Tambak Baya dan sisa-sisa hutan Mentaok, untuk menambah ketangkasan dan ketrampilan mereka. Jika latihan-latihan yang demikian dianggap sebagai suatu persiapan pemberontakan, maka aku tidak mengerti, kegiatan apakah yang dapat aku lakukan sebagai seorang yang telah dianugerahi Gelar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia memang tidak banyak mengerti tentang tata pemrintahan. Ia juga tidak mengerti batas kewajiban dan wewenang Raden Sutawijaya. Dan ia pun tidak mengerti, apakah kedudukan Raden Sutawijaya itu adalah kedudukan yang memang sudah ada sejak masa pemerintahan sebelum Pajang, atau baru ada karena di Pajang ada seorang Raden Sutawijaya, yang mempunyai kedudukan dan sikap khusus.

Sementara itu Raden Sutawijaya meneruskan, “Baiklah, Agung Sedayu. Malam ini juga, aku akan memerintahkan menarik semua pasukan yang sedang mengadakan latihan-latihan perang-perangan di daerah yang terpencar. Biarlah mereka memasuki baraknya masing-masing, sementara para pengawal padukuhan yang setiap saat dapat aku siapkan sebagai pengawal-pengawal dan prajurit, akan aku perintahkan kembali ke padukuhan masing-masing. Sehingga besok saat Pangeran Benawa memasuki Mataram, sama sekali tidak ada kegiatan keprajuritan, kecuali pasar-pasar yang ramai dan kedai-kedai yang penuh dengan para pembeli. Mungkin aku juga akan menyiapkan penyambutan dengan berbagai macam pertunjukan, jika Pangeran Benawa berkenan bermalam di Mataram.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kekecewaan di wajah Raden Sutawijaya atas sikap orang-orang Pajang. Tetapi Raden Sutawijaya masih tetap hormat dan patuh kepada Sultan di Pajang, yang juga merupakan ayah angkatnya dan sekaligus salah seorang gurunya dalam olah kanuragan. Bahkan agaknya jiwa petualangannya dan juga jiwa menyepi dan pemusatan panca indera di tempat-tempat terasing untuk mematangkan dan mendewasakan diri dalam bentuknya yang beraneka, adalah karena pengaruh gurunya, yang juga rajanya dan yang juga orang tuanya itu.

Dalam pada itu, ketika Agung Sedayu menganggap bahwa ia sudah cukup jelas menyampaikan pesan Pangeran Benawa, maka katanya, “Tugas yang dibebankan kepadaku agaknya sudah cukup aku lakukan. Karena itu, maka kami akan segera mohon diri. Segala sesuatunya mudah-mudahan akan dapat berjalan dengan baik dan selamat.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Bermalam sajalah di sini.”

“Terima kasih, Senapati. Aku harus sudah berada di Sangkal Putung menjelang matahari naik, agar tidak menimbulkan beberapa kecurigaan. Karena itu, maka aku harus segera kembali dan secepatnya sampai ke Sangkal Putung.”

Senapati Ing Ngalaga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau mempunyai tanggung jawab yang besar. Kau, gurumu dan saudara seperguruanmu yang gemuk itu, ternyata terlalu banyak memberikan bantuan terhadap berdiri dan tegaknya Mataram. Karena itu, aku setiap kali akan selalu mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Yang aku lakukan sama sekali tidak berarti,” sahut Agung Sedayu.

Namun Raden Sutawijaya itu pun bertanya, “Bagaimana dengan kudamu? Meskipun lelah dan barangkali punggungmu terasa sakit, tetapi kau tidak berlari dari Sangkal Putung ke Mataram dan sebaliknya. Karena itu, jika kudamu lelah dan barangkali dapat mengganggu perjalananmu, biarlah kau berdua memakai kuda dari Mataram, agar kudamu sempat beristirahat di sini.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Kudanya memang tentu lelah setelah menempuh perjalanan dari Sangkal Putung ke Mataram. Kuda itu hanya berhenti sebentar di pinggir Sungai Opak. Meskipun ia dapat memaksa kudanya untuk berlari kembali ke Sangkal Putung setelah berhenti pula sejenak di Mataram, tetapi seperti yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya, kudanya tentu merasa lelah.

Tawaran Raden Sutawijaya itu memang menarik perhatiannya. Besok atau lusa atau kapan saja, ia dapat pergi ke Mataram dan kembali dengan kudanya sendiri bersama Glagah Putih.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun berkata, “Terima kasih. Jika demikian, aku akan menerimanya dengan senang hati. Biarlah kuda kami tinggal dan beristirahat di sini. Pada saatnya kami akan mengembalikan kuda yang kami bawa dan menukarkannya kembali dengan kuda kami.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Ia pun kemudian bertepuk dua kali. Ketika seorang pengawal dalam datang mendekatinya, maka diperintahkannya agar seorang gamel menyiapkan dua ekor kuda dan membawa dua ekor kuda yang dipakai oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih ke kandang.

Gamel yang mendapat perintah itu pun segera mengerti maksudnya. Betapapun malasnya, maka sambil menguap ia pun terpaksa menyiapkan dua ekor kuda. Meneliti segala sesuatunya sampai ke tapal kakinya. Karena jika tapal kaki kuda itu kendor, maka kuda itu akan mengalami kesulitan di perjalanan.

Setelah ternyata segalanya siap, maka kuda itu pun diserahkan kepada Agung Sedayu dan Glagah Putih, yang telah mohon diri kepada Senapati Ing Ngalaga.

“Berhati-hatilah di perjalanan. Aku kira tidak akan ada gangguan apa pun juga. Meskipun demikian, kadang-kadang masih ada juga orang-orang yang tidak bertanggung jawab di sepanjang jalan,” berkata Senapati Ing Ngalaga.

“Kami mohon diri,” berkata Agung Sedayu, “mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang dapat mengeruhkan ketenangan yang selama ini terbina sebaik-baiknya.”

Raden Sutawijaya tersenyum. Ia pun mengerti, bahwa Agung Sedayu menangkap ketegangan yang ada di antara Mataram dan Pajang. Karena itu, maka Agung Sedayu pun tentu mengerti, bahwa ketenangan yang dimaksudkan, adalah ketenangan yang tegang.

Sejenak kemudian, Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera meninggalkan Mataram. Mereka tidak melalui regol kota yang mereka lalui ketika mereka masuk. Tetapi mereka memilih regol yang lain, agar para penjaga tidak terlalu banyak bertanya dan bahkan mencurigai. Karena semakin banyak pertanyaan yang harus mereka jawab, maka mereka akan semakin banyak mengalami kesulitan untuk merahasiakan keperluan mereka datang ke Mataram.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun meninggalkan Mataram tanpa kesulitan. Mereka segera berpacu di sepanjang bulak. Kuda yang mereka pakai adalah kuda yang tegar dan kuat, seperti kuda yang mereka bawa dari Sangkal Putung. Apalagi kuda itu adalah kuda yang segar, yang belum merasa lelah karena perjalanan. Dengan demikian, maka perjalanan mereka kembali ke Sangkal Putung dapat mereka lakukan secepat perjalanan mereka berangkat dari Sangkal Putung ke Mataram.

Menjelang dini hari, keduanya telah mendekati Sangkal Putung. Seperti saat mereka berangkat, maka ketika mereka kembali, Agung Sedayu pun memilih jalan yang paling sepi dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyulitkannya.

Untunglah, bahwa menjelang dini hari, Sangkal Putung benar-benar masih sepi. Tanpa melalui gardu-gardu perondan, Agung Sedayu menyusup memasuki padukuhan induk. Mereka berdua justru menuntun kuda mereka melalui jalan-jalan sempit. Namun akhirnya mereka berhasil mendekati kademangan. Dan bahkan kemudian keduanya memasuki kademangan lewat pintu butulan.

Tetapi, ternyata bahwa ada juga seseorang yang melihat keduanya memasuki halaman di belakang sambil menuntun kuda masing-masing. Karena itu, maka orang itu pun bertanya, “He, dari manakah kalian berdua?”

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian menjawab, “Glagah Putih minta aku mengajarinya bermain dengan kuda.”

“Apakah ia belum terbiasa naik kuda?” bertanya orang itu.

“Bukan belum terbiasa naik kuda. Tetapi ia ingin menguasai kuda dan bermain-main dengan langkah-langkah yang menarik. Kuda kami memang kuda pilihan, yang dapat menari dengan langkah-langkah kakinya.”

Orang itu tidak bertanya lebih lanjut. Sekilas ia melihat dua ekor kuda yang besar dan tegar. Sambil mengerutkan keningnya ia mengamati kuda itu sejenak, seolah-olah ia baru melihat kuda itu untuk pertama kali. Namun orang itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia memang belum mengenal dengan baik kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih yang mereka bawa dari Jati Anom. Karena itu, ia tidak dapat mengatakan sesuatu tentang kedua ekor kuda yang terasa asing baginya itu.

Setelah memasukkan kuda mereka ke kandang dan melepas pelananya, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera pergi ke longkangan. Namun Agung Sedayu berbisik, “Masuk sajalah ke bilikmu dan cobalah untuk berbaring.”

“Tetapi, tubuhmu basah oleh keringat.”

“Sekali-sekali mencoba tidur dengan pakaian basah,” desis Agung Sedayu.

Tetapi Glagah Putih pun pergi juga mencuci kaki dan tangannya, mengusap wajahnya dan kemudian masuk ke dalam biliknya di gandok, tanpa menarik perhatian orang lain. Ia sama sekali tidak menyentuh anak-anak muda yang tidur di longkangan setelah tamu-tamu yang berada di Sangkal Putung pun tertidur pula. Sementara Agung Sedayu masih harus menemui Swandaru dan melaporkan hasil perjalanannya.

Ternyata Swandaru tidak tidur di dalam biliknya. Ia berbaring di serambi, pada sebuah lincak bambu. Beberapa orang yang ikut membantu menjamu para tamu Ki Demang pun tertidur pula dengan nyenyaknya, di atas amben bambu pula di serambi belakang, berdesakan.

Swandaru terkejut, ketika Agung Sedayu menyentuh kakinya. Dengan serta merta ia bangkit. Namun ia pun menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri di sisinya

“Kau sudah datang?” bertanya Swandaru.

“Baru saja,” jawab Agung Sedayu.

Swandaru pun kemudian mempersilahkan Agung Sedayu duduk di sebelahnya. Dengan berdebar-debar ia pun bertanya, apakah Agung Sedayu berhasil menemui Raden Sutawijaya langsung.

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “aku dapat bertemu dengan Raden Sutawijaya sendiri dan mengatakan kepadanya segala pesan Pangeran Benawa.”

“Apa katanya?”

“Ia akan menyesuaikan diri,” jawab Agung Sedayu.

Swandaru menarik nafas panjang. Desisnya, “Untunglah, bahwa Raden Sutawijaya bersedia menyesuaikan diri.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Jika Raden Sutawijaya justru tersinggung karenanya, dan dengan sengaja pula menunjukkan kepada orang-orang Pajang, bahwa Mataram sudah siap menghadapi segala kemungkinan, maka akibatnya akan parah,” jawab Swandaru.

“Ah, apakah mungkin demikian?” Agung Sedayu termangu-mangu.

“Menurut guru, mungkin saja. Raden Sutawijaya sama sekali tidak mau merubah sikapnya untuk tidak datang ke paseban Pajang. Seakan-akan ia memang sudah mengeraskan hatinya meskipun ia mengerti, bahwa hal itu dapat mengakibatkan kurang baik bagi dirinya sendiri, bagi Mataram dan bagi Pajang,” jawab Swandaru pula, “Karena itulah, maka mungkin pula ia justru dengan sengaja menunjukkan Mataram yang sebenarnya.”

Agung Sedayu menggeleng. Katanya, “Tidak. Untunglah bahwa kali ini Raden Sutawijaya tidak berbuat demikian. Seperti yang dilakukannya ketika ia kembali dari Lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”

Swandaru mengangguk-angguk. Nampaknya, bagaimanapun juga Raden Sutawijaya tidak dapat menantang ayahandanya, Sultan Pajang.

“Baiklah,” berkata Swandaru, “nanti, pada suatu kesempatan aku akan mengatakan kepada Pangeran Benawa. Ia sudah berusaha untuk mendapat kesempatan itu. Karena itu, ia sengaja berangkat menjelang sore hari dari Pajang, sehingga akan kemalaman di Sangkal Putung. Menurut Pangeran Benawa, ia memang ingin bermalam di Kademangan ini.”

“Agaknya Raden Sutawijaya tetap menghormati Pangeran Benawa pula. Ia mengerti, betapa Pangeran Benawa berusaha berbuat sebaik-baiknya bagi Mataram.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan hubungan antara Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya tetap baik. Apa pun yang akan dilakukan orang, tetapi jika kedua orang itu tetap saling menghormati, maka hubungan antara Pajang dan Mataram tidak akan bertambah buruk.”

“Mudah-mudahan. Sementara beberapa orang masih tetap pada rencananya untuk menemukan kesempatan bagi kepentingan diri mereka sendiri,” berkata Agung Sedayu, yang tiba-tiba melanjutkan, “Mataram sudah mengetahui segalanya yang terjadi di sini. Kematian Carang Waja telah didengar oleh Raden Sutawijaya.”

“Demikian cepatnya,” desis Swandaru, “bagi Pajang tidak mengherankan, karena ada jalur laporan lewat Senapati prajurit Pajang di Jati Anom. Apalagi beberapa orang prajurit telah terlibat pula.”

“Tetapi hampir setiap orang mendengarnya. Dan berita demikian akan segera menjalar.”

Swandaru mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah, Kakang Agung Sedayu. Aku akan mengatakannya pada kesempatan yang tepat. Tetapi, dimana Glagah Putih?”

“Ia berada di dalam biliknya. Biarlah ia beristirahat. Perjalanan ini baginya tentu sangat melelahkan.”

Swandaru mengangguk. Jawabnya, “Aku dapat membayangkan. Kuda-kuda itu tentu sangat lelah pula.”

“Aku membawa kuda dari Mataram. Kuda kami, kami tinggalkan di Mataram atas tawaran Raden Sutawijaya sendiri.”

“O,” Swandaru menarik nafas panjang. “Sokurlah. Itu merupakan pertanda, bahwa kedatanganmu berkenan di hati Raden Sutawijaya.”

“Ya,” desis Agung Sedayu, “kita berharap, bahwa kedatanganku ke Mataram di malam hari ini ada gunanya.”

Agung Sedayu pun kemudian meninggalkan Swandaru, yang duduk di lincak bambunya. Namun sementara itu, di dapur telah mulai terdengar beberapa orang perempuan menyiapkan perapian untuk merebus air.

“Sudah pagi,” desis Swandaru. Tetapi karena masih sepi, ia pun telah berbaring lagi dan membiarkan orang-orang di dapur mulai menyiapkan air panas untuk minuman. Sementara jika air sudah mendidih, maka anak-anak muda itu akan dibangunkan dan mempersiapkan minuman di pendapa, apabila tamu-tamu dari Pajang itu telah terbangun.

Dalam pada itu, Agung Sedayu pun segera pergi ke biliknya dan berbaring di samping Glagah Putih, yang ternyata masih belum tidur juga.

“Tidurlah,” desis Agung Sedayu.

“Sebentar lagi hari akan pagi. Ayam sudah mulai berkokok untuk yang terakhir kalinya malam ini.”

“Kau masih mempunyai waktu barang sekejap. Biarlah kau tidak usah ikut membantu menyiapkan minuman dan jamuan pagi bagi para tamu. Aku pun merasa lelah dan akan beristirahat.”

Glagah Putih tidak menjawab. Tubuhnya memang terasa letih sekali. Semalaman ia berada di atas punggung kuda tanpa tidur sekejap pun. Karena itu, maka ketika ia merasa sejuknya dini hari mengusap tubuhnya, tanpa dikehendakinya, matanya pun telah terpejam.

Berbeda dengan Glagah Putih, Agung Sedayu tidak dapat dan memang tidak ingin untuk tidur. Daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dari Glagah Putih. Karena itu, maka Agung Sedayu masih dapat mengatasi perasaan lelah dan kantuknya.

Bahkan kemudian, ia mendengar langkah mendekati pintu biliknya. Ketika pintu berderit, ia melihat Kiai Gringsing berdiri termangu-mangu.

Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan duduk di bibir pembaringan. Sementara Kiai Gringsing melangkah masuk.

“Berbaringlah. Kau tentu lelah.”

“Terima kasih, Guru. Tetapi aku tidak lelah sekali.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Kau berhasil?”

Sekali lagi Agung Sedayu menceriterakan hasil perjalanannya. Sambil mengangguk-angguk Kiai Gringsing berdesis, “Sukurlah. Sekarang, beristirahatlah. Kita berdoa, agar tidak terjadi sesuatu, justru di antara orang-orang Pajang itu terdapat orang yang meragukan.”

Ketika Kiai Gringsing melangkah meninggalkannya, Agung Sedayu pun membaringkan dirinya kembali. Tetapi ia memang tidak ingin tidur, karena tidur yang hanya sekejap justru akan dapat membuatnya menjadi pening.

“Jika tamu-tamu itu sudah berangkat ke Mataram, biarlah aku tidur sehari suntuk,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Sementara itu, langit pun menjadi semakin cerah. Demikian air mendidih, maka perempuan-perempuan di dapur membangunkan anak-anak muda yang tidur di serambi, untuk menyiapkan minuman bagi para tamu, yang sebentar lagi tentu akan bangun pula.

Swandaru yang berada di serambi itu pun kemudian bangkit pula. Ketika anak-anak muda mulai mempersiapkan minuman, Swandaru pun pergi ke pakiwan untuk mandi, mendahului para tamu yang sebentar lagi tentu akan terbangun pula.

Seperti yang diduganya, maka satu dua orang tamu itu pun mulai terbangun dan pergi ke pakiwan. Pangeran Benawa yang turun ke halaman, tidak segera pergi mandi, tetapi ia masih berjalan mengelilingi halaman, sambil melihat-lihat beberapa batang pohon bunga. Beberapa saat ia berhenti di dekat sebatang pohon bunga soka putih yang sedang berkembang.

Swandaru yang kemudian pergi ke longkangan, melihat Pangeran Benawa berjalan-jalan di halaman seorang diri, segera menghampirinya. Ia pun kemudian berdiri pula di sebelah pohon bunga soka putih itu.

“Bagus sekali bunga soka ini,” berkata Pangeran Benawa.

“Ya, Pangeran,” jawab Swandaru agak canggung.

Sekilas Swandaru melihat dua orang pengiring Pangeran Benawa berdiri di sudut gandok. Tetapi agaknya keduanya sedang berbicara di antara mereka.

“Di sudut halaman itu terdapat sebatang pohon ceplok piring,” berkata Pangeran Benawa pula, “agaknya isteri dan adik perempuanmu sempat juga memelihara pohon bunga-bungaan di halaman.”

Swandaru memaksa diri untuk tertawa. Jawabnya, “Mereka tidak mempunyai kerja apa pun di sini, Pangeran. Itulah sebabnya mereka sempat memelihara pohon-pohon bunga. Hanya kadang-kadang saja mereka ikut pergi ke sawah bersama-sama perempuan yang lain di musim menanam dan menuai padi.”

Pangeran Benawa pun tertawa pula. Namun kemudian Pangeran itu bertanya, “Bagaimana dengan Agung Sedayu?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menjawab, “Ia sudah kembali, Pangeran.”

“Apakah ia bertemu dengan kakangmas Senapati Ing Ngalaga?”

“Ya,” jawab Swandaru, yang kemudian melaporkan apa yang sudah dilakukan oleh Agung Sedayu bersama Glagah Putih di Mataram.

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sokurlah. Aku masih mengharap, bahwa jurang yang memisahkan Pajang dan Mataram akan dapat dipersempit. Tetapi, sementara itu ada juga orang lain yang dengan gigih berusaha untuk membenturkan Pajang dan Mataram. Dengan demikian, maka keduanya tentu akan hancur dan setidak-tidaknya menjadi lemah.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, dilihatnya dua orang yang berdiri di sudut gandok, masih berdiri di tempatnya. Keduanya nampaknya masih asyik berbicara tentang Kademangan Sangkal Putung. Agaknya keduanya belum juga berminat untuk pergi ke pakiwan, meskipun Sangkal Putung sudah menjadi semakin terang.

Justru Pangeran Benawa-lah yang kemudian berkata, “Aku akan mandi. Aku akan pergi ke Mataram segera, setelah setiap orang di dalam kelompok kecil kami sudah bersiap.”

“Agaknya kami sedang menyiapkan makan pagi bagi Pangeran dan para pengiring,” jawab Swandaru.

Pangeran Benawa tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih.”

Ketika Pangeran Benawa kemudian melangkah ke pakiwan, maka Swandaru pun menarik nafas dalam-dalam. Ia menganggap Pangeran Benawa itu orang yang aneh. Ia sudah mendengar, bahwa Pangeran Benawa sama sekali tidak berminat untuk mewarisi kerajaan. Bahkan ia seolah-olah tidak mau menghiraukan pemerintahan Pajang yang sedang surut. Ia lebih senang mengembara dan bertualang atau tinggal di dalam biliknya menekuni kitab-kitab yang berisi berbagai macam ilmu dan hasil kesusasteraan.

Swandaru mengerutkan keningnya, ketika ia melihat langkah Pangeran Benawa tertegun di longkangan. Ternyata Agung Sedayu telah berada di serambi gandok dan dengan serta merta berdiri menghormat.

“Selamat pagi, Agung Sedayu,” sapa Pangeran Benawa.

Agung Sedayu tersenyum. Jawabnya, “Selamat pagi, Pangeran. Apakah Pangeran akan mandi?”

Pangeran Benawa mengangguk. Jawabnya, “Hari sudah semakin terang. Matahari akan segera naik. He, apakah kau baru saja bangun?”

Pertanyaan itu membingungkan Agung Sedayu. Tetapi akhirnya ia menjawab, “Aku tidak baru saja bangun, Pangeran. Tetapi aku memang baru keluar dari bilik di gandok sebelah kiri.”

Pangeran Benawa tertawa. Ia tahu pasti, bahwa Agung Sedayu tentu merasa sangat lelah karena perjalanannya yang semalam suntuk. Karena itu katanya, “Aku sudah mendengar serba sedikit tentang kau. Kau memang seorang pemalas. Aku kira kau masih akan kembali ke dalam bilikmu dan tidur sampai matahari sepenggalah.”

“Ah tidak, Pangeran. Aku tidak akan tidur lagi. Entah nanti setelah Pangeran berangkat ke Mataram.”

Pangeran Benawa benar-benar tertawa mendengar gurau Agung Sedayu, sehingga beberapa orang telah berpaling kepadanya.

“Ah, sudahlah. Aku akan mandi,” berkata Pangeran Benawa, sambil melangkah meninggalkan Agung Sedayu yang berdiri di serambi gandoknya. Dipandanginya langkah Pangeran Benawa. Ketika tanpa sengaja ia berpaling ke halaman, dilihatnya Swandaru masih saja berdiri memandangnya. Sejenak keduanya berpandangan. Namun seperti berjanji keduanya pun tersenyum.

Tetapi Swandaru kemudian melangkah pergi. Melingkari gandok ia pergi ke belakang. Dilihatnya orang-orang di dapur sudah menjadi semakin sibuk menyiapkan makan pagi bagi para tamu. Ki Demang memperhitungkan, bahwa tamu-tamunya akan berangkat pagi-pagi, sehingga perjalanan mereka masih terasa cukup segar di saat mereka berangkat.

Sejenak kemudian, maka para tamu dari Pajang itu pun telah duduk berjajar di pendapa, ditamui oleh Ki Demang Sangkal Putung dan Kiai Gringsing. Mereka masih sempat berbincang tentang kemajuan yang dicapai oleh Sangkal Putung sejak tempat itu bebas dari kecemasan, sepeninggal Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

“Hadirnya Macan Kepatihan itu banyak memberikan pengalaman bagi kami,” berkata Ki Demang.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Beruntunglah Ki Demang mempunyai anak seperti Swandaru. Ia adalah anak muda yang memiliki tanggung jawab yang besar bagi masa depan kademangan ini. Ia sudah melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat. Ia tidak hanya pandai mengeluh, mengumpat dan akhirnya berolok-olok tentang keadaan dan tentang dirinya sendiri. Tetapi ia sudah bekerja keras, merombak segala macam cela yang tidak disukainya.”

“Ah,” desah Ki Demang, “ia adalah anak yang malas. Ia hanya berbuat sesuatu yang disukainya.”

“Tetapi yang disukainya ternyata bermanfaat bagi Kademangan Sangkal Putung. Meskipun ketika kami lewat, pande besi itu tidak sedang bekerja, namun melihat beberapa perapian aku dapat membayangkan, apa yang dapat mereka lakukan disiang hari,” berkata Pangeran Benawa.

“Ya, ya, Pangeran,” Ki Demang mengangguk-angguk.

“Jalur-jalur air di persawahan pun memberikan gambaran yang sangat baik bagiku,” sambung Pangeran Benawa.

Sementara, Ki Demang mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya, ya, Pangeran.”

Pangeran Benawa masih berbicara tentang beberapa hal mengenai Sangkal Putung. Bukan saja memuji, tetapi ia dapat menyebut pula beberapa kekurangan yang dapat diperbaiki oleh anak-anak muda Sangkal Putung.

Sementara itu, Kiai Gringsing masih sempat memperhatikan para pengiring Pangeran Benawa yang ada di pendapa itu. Ia melihat beberapa macam tanggapan pada wajah-wajah itu. Dengan ragu-ragu ia mencoba untuk mencari makna dari kesan yang didapatkannya.

Sebagian dari para pengiring Pangeran Benawa membenarkan kata-kata Pangeran Benawa. Mereka pun melihat apa yang dilihat oleh Pangeran Benawa. Dan mereka pun ikut berbangga karenanya. Sangkal Putung, sebuah kademangan, telah berhasil membina dirinya sendiri dengan baik dan mapan.

Namun beberapa wajah yang lain menunjukkan kesan yang berbeda. Mereka menganggap kemajuan yang dapat dicapai oleh Kademangan Sangkal Putung justru sebagai satu masalah.

Tetapi Kiai Gringsing tidak berani memastikan dugaannya. Ia hanya membaca pada wajah-wajah yang memberikan kesan yang berbeda. Tetapi ia sadar, bahwa tangkapannya akan dapat salah dan bahkan mungkin berlawanan.

Untuk beberapa saat,Pangeran Benawa masih berbincang. Apalagi ketika para bebahu Sangkal Putung yang lain pun berdatangan. Maka Pangeran Benawa pun banyak memberikan pendapatnya bagi perkembangan Kademangan itu.

Kiai Gringsing yang hanya mengangguk-angguk saja mendengarkan pembicaraan itu, berusaha untuk menangkap arti sikap dan kata-kata Pangeran Benawa.

Agung Sedayu dan Swandaru, yang kemudian ikut pula duduk di pendapa sempat mendengarkan beberapa kesan yang dikatakan oleh Pangeran Benawa. Kesan yang bagi Swandaru dapat membesarkan hatinya.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu seolah-olah melihat Pangeran Benawa agak berbeda dengan Pangeran Benawa yang pernah dikenalnya. Yang duduk di pendapa itu, benar-benar menunjukkan sikap seorang Pangeran yang menyadari kedudukannya. Berbicara tentang salah satu kademangan yang berada di bawah pengaruh dan kuasanya. Sementara Pangeran Benawa yang pernah dikenalnya adalah seorang Pangeran yang acuh tidak acuh, kecewa dan menuruti kehendaknya sendiri.

“Apakah karena sekarang Pangeran Benawa itu berada di Sangkal Putung bersama pengiringnya dan dalam kedudukannya sebagai seorang Pangeran, atau memang terdapat perubahan sikap dari Pangeran Benawa itu?” Berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Lalu, “Tetapi bahwa ia telah memerintahkan aku untuk mendahuluinya, masih juga nampak, bahwa Pangeran Benawa sangat mengasihi kakak angkatnya yang berada di Mataram. Atau justru satu perhitungan yang masak tentang perkembangan hubungan antara Mataram dan Pajang. Termasuk salah satu usaha untuk mempersempit jarak yang digali oleh beberapa orang yang ingin melihat ayah dan anak angkat itu hancur bersama-sama.”

Dalam pada itu, orang-orang Sangkal Putung pun kemudian menghidangkan makan pagi bagi para tamu mereka, karena para tamu itu akan segera meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.

Ketika matahari naik, maka Pangeran Benawa pun kemudian minta diri. Bersama para pengiringnya, ia pun melanjutkan perjalanannya ke Mataram untuk melaksanakan tugas yang dibebankan oleh ayahanda Sultan Pajang kepadanya, melihat dari dekat perkembangan yang ada di Mataram.

Dalam satu kesempatan, Pangeran Benawa berbisik di telinga Agung Sedayu, “Ikutilah perkembangan keadaan dengan saksama. Kau adalah seorang yang tidak mempunyai kedudukan apa pun juga. Tetapi kedudukan yang demikian justru memberikan banyak kemungkinan bagimu untuk menunjukkan pengabdianmu. Apakah itu bernama Pajang, apakah itu bernama Mataram, namun pada suatu saat akan nampak, manakah loyang dan manakah emas.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena beberapa orang pengiring Pangeran Benawa telah mendekatinya dan berjalan seiring.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 26 Januari 2009 at 08:43  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-25/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. waaa….
    jg nomer atu… tumben euy…

  2. wah tebakanku salah…
    tak kusangka bilik ini dibuka hari ini
    mestinya akan diiringi dengan pembagian rontal hari ini
    hehehehehe

  3. Mudah2an Semangkin dikasih bonus ama Ki Gede…mmmuaaaccch..

  4. No 4

  5. covernya Sabungsari diobati Kiai Gringsing ya?

  6. kitab 124 + 125 lom di launching juga hiks

  7. Bonus akhir bulan suro…terima kasih..terima kasih
    …kita tunggu segera…..Ki

  8. Waduuh Sabungsari terluka

  9. Semangkin lama semangkin banyak bonus ???????…….

  10. kam sia,
    ki gede…

  11. lho..
    bonusnya apa jg dititpke?
    koq ga keliatan?

  12. Bonusnya yang di bawa langsung Maestro ADMB:
    “S.H. Mintrdja” poro sederek

  13. matur nuwun ki GD

  14. # On 26 Januari 2009 at 18:35 Sabung Ayam Sari Said:

    Bonusnya yang di bawa langsung Maestro ADMB:
    “S.H. Mintrdja” poro sederek

    “?*65$3^*(KP/?=

    weleh weleh…
    api di mukit benoreh…,..di sebelah mana Ki Sabung??..

  15. Trima kasih ki,
    Bonusnya sudah diterima..

  16. Kasinggihan panjenenganipun Romo SH Mintardja estu maestro.

  17. setiap ada bonus maka sumringah hati ini , matur nuwun ki GD

  18. Goro2 kakean nge’klik sedinoan..
    Drijine dadi kriting, nulis komen ngalor ngidul…
    aarrrGHHH…

  19. Bonusnya dah terima…
    Tengkyu KiGede.

  20. kapan rilis ?

  21. Terima kasih atas bonusnya Ki Gede, sudah sukses diambil semua

  22. Matur nuwun Ki bonusipun

  23. Met Ultah Ki SH Mintardja…semoga amal kebaikan panjenengan diterima oleh-Nya. Amin.
    Teng yu Ki GeDe….bonus sampun kawula unduh…

  24. Trima kasih Ki

    Dua hari kemarin tidak bisa ngunduh apa-apa dari Padepokan ADBM, karena saluran internet kami lemot.

    Hari ini saya sudah unduh semuanya, empat buah kitab 122,123,124 dan 125.

    Tapi untung juga, saya jadi memiliki waktu lebih banyak ngerjakan ladang Padepokan ADBM3.

    Trima kasih ki

  25. makasih…
    bonusnya udah bisa dinikmati

    bagi yg belum dapet
    cari bonus di semua kamar tulisan tgl 26 januari 🙂

  26. Wah sekali klik langsung dapet dua kitab, matur nuwun Ki GD, semakin mantabs, tensiku yo stabil.

    Salam Santai Bangeti

    Joko Brondong

  27. We ladalah ….. kok durung nangkep yo ? wonten pundi kitabipun kisanak ?

  28. semua rontal 124, 125 & 126 sampun di unduh .. matur nuwon ki GD ….

  29. waaa, baru pulang dari pajang sudah ditumpleki kitab-kitab.

    trims ki gd.

  30. SAYA PENING NIH…. DIMANA KITAB 125 NYA……. SAYA DARI MALAYSIA…. TIDAK BERAPA PAHAM…. BERI TUNJUK AJAR DEH…. DIMANA KIOTAB 125 NYA………

  31. Klik nama pengarangnya … cari tanggal lahirnya. silahkan dicoba…

  32. Kisanak Sutajia, tetep dereng ngeh. Nama yang disisih pundi? Soyo ndalu pandulu soyo lemot angupadi dununge kitab kamanukswan.

  33. dibawah cover sebelah kanan

    karya :

    S.H. Mintardja

    nah dibiografi beliau ada tgl. lahirnya … tinggal klik

  34. Suwun Ki Sutajia, sudah ketemu. Sambil ngopi … mudar kitab. Jan enak tenan.

  35. Adipati Partaningrat,
    adigang, adigung, adiguna.

    Hikss, kalau jaman sekarang tentu termasuk dalam golongan orang2 yang kalau sedang berkonvoi naik kendaraan berombongan kemudian kendaraan lain yang ngalang alangi digepuki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: