Buku II-24

Namun dalam pada itu, ketika Kiai Gringsing sudah berniat untuk minta diri kepada Ki Demang disatu sore, Sangkal Putung telah diguncangkan oleh kehadiran iring-iringan yang melintas dari arah Timur menuju ke Barat.
Seorang pengawal berkuda yang melihat iring-iringan itu, dengan tergesa-gesa telah berpacu ke Kademangan induk, sementara kawannya telah mempersiapkan de¬ngan tergesa-gesa para pengawal dipadukuhan di ujung Kademangan itu.
“Apakah kita perlu memberikan isyarat?” bertanya salah seorang pengawal.
“Kita akan menunggu, siapakah mereka,” jawab pimpinan pengawal padukuhan itu.
“Tetapi jika mereka bermaksud buruk, kita akan terlambat,” sahut yang lain.
“Kita akan berpencar. Kita memperhatikan dari tempat yang tersembunyi. Jika mereka berbuat jahat, maka kita akan tampil sambil membunyikan tanda. Para pengawal-pengawal dipadukuhan terdekat akan segera datang, sebelum para pengawal dari padukuhan induk beserta Swandaru datang pula.”
“Swandaru sedang sakit,” sahut yang lain pula.
“Ia sudah sembuh. Ia sudah mampu bertempur lagi. Apalagi gurunya masih berada di padukuhan induk pula.”
Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Keha¬diran Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih seolah-olah dapat menenangkan mereka, karena selain Swandaru, mereka akan mendapat perlindungan dari orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.
Demikianlah, maka beberapa orang pengawal telah berpencar dan justru berlindung di antara tana¬man-tanaman di sawah dipinggir padukuhan. Hanya beberapa orang saja yang berada di gardu, seolah-olah mereka tidak menaruh curiga sama sekali terhadap mereka yang datang mendekati padukuhan itu.
Sementara itu, maka pengawal berkuda yang berpacu ke padukuhan induk telah berhenti sejenak disetiap padu¬kuhan yang dilaluinya. Pengawal itu telah memper¬ingatkan, agar para pengawal yang mungkin dikumpul¬kan, segera berkumpul dan mempersiapkan diri.
“Kenapa?” bertanya anak-anak muda yang men¬dengar keterangan itu.
“Sebuah iring-iringan telah mendekati padukuhan diujung Kademangan. Kami belum tahu, siapakah mere¬ka itu. Jika mereka bermaksud buruk, maka kita harus berbuat sesuatu.”
“Apakah tidak ada tanda-tanda yang nampak pada iring-iringan itu?”
Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng, ”Kami tidak melihatnya. Seorang pengawal yang sedang berada disawah melihatnya dari kejauhan. Kemudian dengan tergesa-gesa ia berlari ke padukuhan, sambil berlindung dibalik batang-batang jagung, sehingga iring-iringan itu tidak melihatnya.”
“Baiklah. Kami akan bersiap-siap. Kami akan mengumpulkan para pengawal yang ada.”
“Jika perlu, kalian harus membantu ke padukuhan diujung,” berkata pengawal berkuda itu.
“Tetapi jika tidak ada tanda-tanda atau tengara, kami tidak akan mengetahuinya.”
“Tentu mereka akan memberikan isyarat. Mereka akan membunyikan kentongan jika perlu,” berkata pengawal itu, ”lebih baik kalian mempersiapkan empat atau lima ekor kuda yang dapat segera kalian pergunakan.”
Sepeninggal pengawal berkuda itu, maka anak-anak muda dipadukuhan itu pun segera mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa. Tiga orang diantara mereka siap dengan kuda-kuda mereka, sementara dua orang yang lain telah mendapatkan pinjaman dua ekor kuda yang siap pula dipergunakan. Sementara yang lain, telah berada di gardu dengan senjata masing-masing.
Kesibulkan anak-anak muda di padukuhan itu telah membuat setiap penghuninya menjadi ber¬debar-debar. Mereka telah mendengar apa yang terjadi di halaman Kademangan, sehingga Swandaru dan seorang prajurit Pajang dari Jati Anom telah terluka parah. Dan bahkan telah jatuh beberapa korban yang terbunuh dari pihak yang bermaksud jahat.
“Apakah mereka datang dengan orang-orang mereka lebih banyak lagi?” pertanyaan itu hinggap hampir disetiap orang.
Sementara itu, iring-iringan itu pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan diujung Kademangan, sehingga para pengawal yang berada digardu itu pun telah ber¬siap-siap.
Dalam pada itu, maka langitpun telah menjadi semakin buram, dan gelap mulai turun perlahan-lahan, maka senja sudah menjadi hitam.
Pemimpin pengawal yang berdiri diregol padukuhan itu mengangkat tangannya ketika iring-iringan menjadi semakin dekat. Dua orang kawannya berdiri disebelah menyebelah, sedangkan tiga orang yang lain berdiri didepan gardu didalam regol. Jika keadaan memaksa, maka salah seorang dari ketiga orang itu harus memukul isyarat, sehingga dengan demikian kawan-kawan mereka yang terpencar akan berdatangan, sementara isyarat itu akan mengundang juga para pengawal dari padukuhan-padukuhan yang lain, karena isyarat itu tentu akan bersambut. Gardu-gardu diseluruh padukuhan itu tentu akan membunyikan isyarat pula.
Ternyata bahwa pemimpin dari iring-iringan itu melihat tanda yang diberikan oleh pemimpin pengawal di padukuhan diujung Kademangan Sangkal Putung itu, sehingga ia pun memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti.
Pemimpin dari iring-iringan itu pun kemudian melon¬cat turun dari kudanya dan berjalan seorang diri men¬dekati pemimpin pengawal yang berdiri diluar regol.
“Siapakah kalian Ki Sanak?” bertanya pemimpin pengawal itu.
Pemimpin iring-iringan itu tersenyum. Katanya, ”Apakah kalian tidak mengenal aku? Itu mungkin sekali. Tetapi apakah kalian tidak mengenal kami semuanya dalam pasukan kecil ini? Setidak-tidaknya kesan yang kalian dapatkan dari kami semuanya?”
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Namun dalam keremangan malam ia melihat sesuatu yang mem¬berikan kesan seperti yang ditanyakan oleh pemimpin iring-iringan itu.
Meskipun demikian pemimpin pengawal itu berkata, ”Kami tidak mengetahui siapakah kalian semuanya. Tetapi agaknya kalian adalah orang-orang terpandang.”
“Bukan orang-orang terpandang. Tetapi kami adalah pengemban tugas. Kami adalah utusan dari Pajang. Kami akan singgah di Kademangan ini untuk semalam,” pemimpin iring-iringan itu menjawab. Kemudian ia pun bertanya, ”Apakah kau bersedia menyampaikannya kepada Ki Demang di Sangkal Putung dan anak laki-lakinya yang bernama Swandaru?”
“Tetapi, siapakah Ki Sanak? Mungkin Ki Demang bertanya, siapa pemimpin dari pasukan kecil dari Pajang ini.”
Pemimpin iring-iringan itu tertawa. Katanya, ”Kau tetap ragu-ragu. Tetapi itu adalah sikap yang baik bagi se¬tiap pengawal. Seorang pengawal memang harus teliti dan yakin, siapakah yang dihadapinya.”
“Aku mohon maaf jika sikapku deksura,” berkata pengawal itu.
“Tidak. Tidak apa-apa. Kau memang tidak segera mengenal kami. Kami adalah utusan dari Pajang. Dan kami memang bukan prajurit-prajurit atau katakanlah, dalam gelar keprajuritan,” orang itu berhenti sejenak, kemudian katanya, ”jika kau ingin mengetahui namaku, aku adalah Benawa.”
“Pangeran Benawa?” pemimpin pengawal itu ter¬kejut.
“Ya. Sudah aku katakan, bahwa kami tidak dalam gelar keprajuritan, karena tugas yang kami emban seka¬rang, memang bukan tugas keprajuritan.”
Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Sementara Pangeran Benawa yang melihat keragu-raguan itu ber¬kata, ”Tentu kau ragu-ragu, karena kau belum mengenal aku. Apakah ada prajurit Pajang di Jati Anom yang se¬dang berada di Sangkal Putung? Jika mereka ada, maka sebagian besar dari mereka dengan pasti telah mengenal aku.”
Pemimpin pengawal itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, ”Baru beberapa hari yang lalu mereka berada di Sangkal Putung.”
“Laporan itu telah sampai ke Pajang. Seorang prajurit muda bernama Sabungsari telah terluka parah. Nah, jika mereka telah kembali ke Jati Anom, apakah benar sesuai dengan laporan itu, Kiai Gringsing dan Agung Sedayu berada di Sangkal Putung sekarang, atau mereka pun su-dah kembali ke Jati Anom?”
“Mereka masih berada di Kademangan.”
“Jika demikian, beritahukan mereka. Mereka telah mengenal aku pula. Dengan demikian, kalian tidak akan ragu-ragu lagi.”
Pengawal itu termangu-mangu sejenak.
“Lakukanlah. Aku akan menunggu disini. Di Kade¬mangan lain aku tidak perlu berbuat demikian, karena Kademangan lain tidak baru saja mengalami bencana seperti Sangkal Putung, sehingga kecurigaan di Kade¬mangan ini dapat kami mengerti.”
Pengawal itu mengangguk. Kemudian katanya, ”Sa¬lah seorang dari kami akan pergi ke Kademangan induk. Kami persilahkan Pangeran untuk singgah di banjar padukuhan kami.”
Pangeran Benawa mengangguk. Jawabnya, ”Baiklah. Aku akan menunggu di banjar padukuhan ini.”
Pemimpin pengawal itu pun kemudian menjadi sibuk. Ia memerintahkan salah seorang pengawal untuk pergi berkuda ke Kademangan dengan pesan khusus. Semen¬tara ia sendiri bersama seorang kawannya mengantar iring-iringan kecil itu ke banjar padukuhan.
Namun demikian, pemimpin pengawal itu tidak meninggalkan kewaspadaan. Dua orang kawannya yang lain, harus mengikutinya dari jarak yang cukup. Apabila terjadi sesuatu, mereka harus mengambil sikap. Bagaimanapun juga, tidak seharusnya mereka demikian saja percaya kepada seseorang yang mengaku dirinya Pange¬ran Benawa.
Ketika iring-iringan itu masuk ke banjar, maka dua orang pengawal yang mengawasi mereka, berada di halaman rumah disebelah banjar. Sementara kawan-kawan mereka yang berpencar telah satu-satu mendekati regol dan menerima keterangan dari seorang pengawal yang mengetahui pembicaraan pemimpin mereka dengan pemimpin iring-iringan yang menyebut dirinya Pangeran Benawa.
“O, jadi orang-orang itu adalah Pangeran Benawa?” desis salah seorang dengan wajah yang tegang.
“Ya,” jawab kawannya.
“Apakah Pangeran Benawa tidak marah? Jika ia marah, maka kita semua akan mengalami nasib buruk.”
“Nampaknya Pangeran Benawa tidak marah. Ia dengan senang hati menerima ketika ia dipersilahkan singgah di banjar.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka tetap berdebar-debar. Jika orang itu benar-benar Pangeran Benawa, mudah-mudahan ia tidak marah kare¬nanya. Seolah-olah para pengawal di Sangkal Putung telah mencurigainya. Sebaliknya, jika orang itu-bukan sebenarnya Pangeran Benawa, maka padukuhan itu pun tentu akan menjadi ajang pertentangan, bahkan pepe¬rangan.
“Tetapi jika mereka bukan sebenarnya Pangeran Benawa, maka mereka tidak akan menunggu sampai para bebahu Kademangan datang ke padukuhan ini. Apalagi diantara mereka akan terdapat Kiai Gringsing dan Agung Sedayu” berkata para pengawal itu didalam hati.
Ternyata bahwa orang-orang dalam iring-iringan itu tidak berbuat apa-apa di banjar padukuhan. Mereka benar-benar telah menunggu dengan duduk tertib dipen¬dapa banjar, sehingga dengan demikian, maka para pengawalpun menjadi semakin yakin, bahwa sebenarnya pemimpin iring-iringan itu memang Pangeran Benawa.
Namun dalam pada itu, pemimpin pengawal dipadukuhan itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Jika Pangeran Benawa merasa tidak senang akan tingkah lakunya, maka akan ada akibat lain yang tidak diharap¬kannya.
Sementara itu, pengawal yang berpacu ke Kadema¬ngan telah melampaui beberapa bulak dan padukuhan. Ia tidak sempat berhenti dan memberikan banyak kete¬rangan kepada para pengawal yang bersiap-siap karena keterangan pengawal yang terdahulu. Tetapi pengawal yang berpacu itu sempat menyebut nama, siapakah yang lewat melalui Kademangan Sangkal Putung itu.
“Menurut pendengaranku, yang lewat adalah Pange¬ran Benawa dengan pengiringnya,” berkata salah seorang dari mereka.
“Aku pun mendengar demikian. Tetapi apakah kau percaya?” bertanya yang lain.
“Entahlah. Ia berpacu seperti dikejar hantu,” berkata yang lain pula, ”pokoknya, kita harus ber¬siap-siap menghadapi segala kemungkinan. Apakah mereka dipimpin oleh Pangeran Benawa, apakah oleh orang lain, kita memang harus bersiap. Jika benar mere¬ka dipimpin oleh Pangeran Benawa, kita harus menyiap¬kan penyambutan. Jika iring-iringan itu dipimpin oleh orang lain yang mengaku Pangeran Benawa, kita ber¬siap-siap untuk bertempur. Hanya orang-orang yang melampaui kemampuan orang kebanyakan yang berani dengan terang-terangan menantang Sangkal Putung dalam keadaan seperti ini,” berkata pemimpin pengawal dipadukuhan yang dilalui pengawal berkuda itu.
Dalam pada itu, pengawal yang terdahulu, dengan tergesa-gesa telah memasuki halaman Kademangan. Kedatangannya benar-benar telah mengejutkan seisi Kademangan, termasuk Kiai Gringsing yang sedang duduk di pendapa, dibawah lampu minyak yang berkeredipan. Hampir saja ia menyatakan keinginannya untuk besok kembali ke padepokannya, karena keadaan Swandaru yang telah menjadi baik.
Tetapi sebelum ia mengatakannya, maka pengawal yang baru datang itu telah melaporkan apa yang diketa¬huinya tentang sebuah iring-iringan yang mendekati Kademangan Sangkal Putung.
Ki Demang Sangkal Putung menjadi tegang. Ia pun segera memerintahkan memanggil KiJagabaya dan beba¬hu Kademangan, sementara Swandaru yang telah menja¬di bertambah baik itu, telah memerintahkan menyiapkan para pengawal pilihan.
“Kita menghadapi segala kemungkinan dengan kesiagaan penuh,” berkata Swandaru, ”mungkin mereka adalah orang-orang yang telah dibakar oleh dendam, sehingga mereka dengan terang-terangan telah menye¬rang Sangkal Putung.”
Kiai Gringsingpun menjadi termangu-mangu. Jika benar demikian, maka akan terjadi pertempuran terbuka. Dan dengan demikian, maka akan jatuh korban yang lebih banyak lagi.
Namun selagi Swandaru menyiapkan beberapa orang pengawal berkuda yang akan mendahului pergi kepa¬dukuhan diujung Kademangan, maka telah datang penga¬wal berikutnya, yang berpacu secepat pengawal yang per¬tama.
“Apa yang terjadi?” Swandaru-lah yang bertanya dengan tergesa-gesa.
Dengan nafas yang terengah-engah pengawal itu men¬jawab, ”Yang datang adalah iring-iringan dari Pajang dibawah pimpinan Pangeran Benawa.”
“He?” Swandaru terkejut, ”jika demikian, apakah kalian tidak dapat mengenal bahwa mereka adalah praju¬rit-prajurit Pajang?”
“Mereka tidak dalam gelar keprajuritan. Tidak seorangpun diantara mereka yang mengenakan pakaian keprajuritan. Yang berada didalam iring-iringan itu ada¬lah beberapa orang pimpinan pemerintahan Pajang,” sahut pengawal itu.
Swandaru menjadi bingung. Katanya, ”Aneh. Apakah mungkin begitu. Aku tidak yakin.”
Kiai Gringsing yang kemudian datangpun menjadi heran. Namun katanya, ”Marilah. Kita akan mem¬buktikannya.”
Swandaru pun kemudian bersiap bersama beberapa orang pengawal terpilih, diikuti oleh Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan GlagahPutih. Sementara Ki Demang dipersilahkan mempersiapkan penyambutan, jika benar-benar yang datang adalah Pangeran Benawa.
Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan Kademangan menuju ke padukuhan di ujung Kademangan Sangkal Putung. Dengan ragu-ragu mereka pergi menyongsong kedatangan Pangeran Bena¬wa dengan cara yang aneh.
Ketika mereka sampai ke banjar padukuhan diujung Kademangan, maka Swandaru mempersilahkan Kiai Gringsing dan Agung Sedayu berada didepan. Dibelakang mereka adalah Swandaru sendiri dan Glagah Putih. Sementara para pengiringnya berada dibelakang.
Demikian mereka memasuki regol halaman banjar, maka mereka pun segera berloncatan turun. Setelah menyerahkan kuda mereka kepada para pengiring, maka Kiai Gringsing, Agung Sedayu, Swandaru dan Glagah Putihpun segera pergi ke pendapa.
Agung Sedayu dan Kiai Gringsing pun kemudian men¬jadi berdebar-debar. Yang berada dipendapa itu benar-benar adalah Pangeran Benawa dengan para pengiringnya.
Karena itulah, maka demikian Agung Sedayu dan Kiai Gringsing naik ketangga pendapa, mereka pun segera ber¬jongkok. Swandaru yang berada dibelakangnya bersama Glagah Putih pun ikut pula berjongkok dan kemudian ber¬jalan sambil berjongkok dipendapa, maju mendekati Pangeran Benawa dan pengiringnya.
“Marilah, Agung Sedayu,” Pangeran Benawa ter¬tawa, ”marilah Kiai Gringsing, Swandaru dan Glagah Putih.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan heran, diluar sadarnya ia bertanya, ”Pangeran sudah mengenal kami semuanya?”
“Kita pernah bertemu,” jawab Pangeran Benawa.
“Ya Pangeran. Tetapi saudara-saudara kami?”
Pangeran Benawa tertawa. Katanya, ”Aku pernah berada di Sangkal Putung. Karena Glagah Putih itulah maka aku telah membunuh kedua saudara dari Pesisir Endut, yang dendamnya menyala sampai beberapa hari yang lalu. Agaknya seorang prajurit muda telah berhasil membunuh Carang Waja yang gila itu.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Nampaknya Pangeran Benawa tahu segala-galanya.
Karena itu, maka yang dilakukan oleh Agung Sedayu kemudian adalah mempersilahkan Kiai Gringsing untuk maju dan menemui Pangeran Benawa, sementara ia sen¬diri duduk disebelah Swandaru dan Glagah Putih.
Dengan hormatnya Kiai Gringsing pun kemudian sebagaimana kebiasaannya menerima tamu adalah ber¬tanya tentang keselamatan mereka diperjalanan. Pange¬ran Benawa pun menjawab seperti kebiasaan yang berlaku pula.
Namun kemudian Kiai Gringsing berkata, ”Pange¬ran. Tentu Pangeran tidak seyogyanya diterima dibanjar padukuhan kecil ini. Kami mohon maaf, bahwa sambutan kami tentu agak mengecewakan, karena sebenarnyalah kedatangan Pangeran sangat mengejutkan kami. Sebelumnya Pangeran tidak memerintahkan utusan untuk memberitahukan kedatangan Pangeran ini.”
Pangeran Benawa tertawa. Katanya, ”Kiai bersikap sangat bersungguh-sungguh menerima kedatangan kami. Aku mohon Sangkal Putung menerima kedatangan kami seperti kedatangan orang lain. Kami hanya lewat dan mungkin seperti orang-orang lain yang kemalaman di perjalanan. Kami mohon tempat untuk menginap barang satu malam.”
“Tentu, tentu Pangeran. Aku rasa Ki Demang Sang¬kal Putung akan menyediakan dengan sepenuh hati. Tentu kedatangan Pangeran ke Sangkal Putung, bukannya kare¬na kemalaman.”
“Ya. Benar-benar karena kemalaman. Tentu Kiai menganggap aneh. Tetapi sebenarnyalah kami berangkat terlalu siang. Bahkan setelah matahari mulai condong. Karena itulah maka kami kemalaman diperjalanan. Dan kami memang memilih Sangkal Putung sebagai tempat untuk menumpang bermalam.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sadar, bahwa ia bukannya orang yang berwenang mene¬rima tamu agung dari Pajang yang mengejutkan itu. Karena itu, maka kemudian katanya, ”Pangeran. Anak muda ini adalah putera Ki Demang Sangkal Putung. Ia akan mempersilahkan Pangeran untuk pergi ke Kadema¬ngan. Pangeran akan diterima oleh Ki Demang dan para bebahu Kademangan sebagaimana seharusnya.”
“Aku sudah mengenal Swandaru. Bukankah putera Ki Demang itu murid Kiai Gringsing pula seperti Agung Sedayu?” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu, ”Jika Swandaru ingin menerima kami di Kademangan, maka kami pun akan mengucapkan terima kasih. Tetapi tempat inipun sebenarnya sudah cukup baik bagi kami.”
“Pangeran,” berkata Swandaru, ”tentu lebih baik kami mempersilahkan Pangeran dan para pengiring untuk datang ke Kademangan. Kami sudah memper¬siapkan penyambutan yang barangkali lebih baik dari tempat yang kotor ini.”
Pangeran Benawa memandang beberapa orang pengiringnya berganti-ganti. Kemudian sambil ter¬senyum ia berkata, ”Baiklah Swandaru. Sebenarnya kami tidak ingin membuat kalian menjadi sibuk.”
“Kedatangan Pangeran adalah suatu kehormatan bagi kami,” berkata Swandaru pula.
Dengan demikian, maka Pangeran Benawa dan pengiring-pengiringnyapun kemudian meninggalkan ban¬jar padukuhan di ujung Kademangan itu menuju ke padukuhan induk. Sementara itu orang-orang di Kademangan telah menjadi sibuk, apalagi ketika dua orang pengawal yang diperintahkan oleh Swandaru untuk mendahului iring-iringan Pangeran Benawa itu telah sam¬pai di Kademangan.
“Jadi benar-benar Pangeran Benawa yang datang?” bertanya Ki Demang.
“Ya. Benar-benar Pangeran Benawa,” jawab pengawal itu.
Karena itulah, maka dipendapa, di ruang dalam, dan bahkan didapur sekalipun, telah terjadi kesibukan yang gelisah. Apa yang dikerjakan oleh orang-orang Sangkal Putung itu rasa-rasanya menjadi sangat lamban. Api diperapian rasa-rasanya tidak cukup panas untuk merebus air, sehingga terlalu lama mendidih.
Dalam pada itu, Pangeran Benawa dan para pengiringnya diikuti oleh Swandaru dan pengiringnya pula, menjadi semakin dekat dengan Kademangan Sang¬kal Putung. Disepanjang perjalanan, rasa-rasanya Pange¬ran Benawa menjadi gelisah. Setiap kali ia berpaling memandangi Agung Sedayu atau Swandaru, yang ber¬kuda agak jauh daripadanya.
Kiai Gringsing seolah-olah dapat melihat kegelisahan itu. Karena itu maka ia pun berkata kepada Swandaru, ”Nampaknya Pangeran Benawa ingin bertanya sesuatu. Dekatilah.”
Swandaru menjadi agak ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian mendekatinya. Beberapa pengiring Pangeran Benawa memandanginya dengan kerut merut dikening. Namun Swandaru adalah anak Ki Demang Sangkal Putung yang memang sudah sewajarnya untuk berada didekat tamunya yang paling terhormat.
Ternyata dugaan Kiai Gringsing benar. Pangeran Benawa pun kemudian bertanya tentang berbagai hal yang dilihatnya. Ketika mereka melalui beberapa tempat pande besi, maka Pangeran Benawa pun bertanya tentang penggunaannya, karena dimalam hari tempat itu nampak sepi.
Namun sementara itu, tiba-tiba saja Pangeran Bena¬wa berbisik, ”Swandaru, mendekatlah.”
Swandaru pun kemudian bergeser semakin dekat. Dan ia pun mendengar Pangeran Benawa berkata per¬lahan-lahan tanpa berpaling kepadanya, ”Jangan didengar oleh orang lain. Pengiringkupun tidak.”
Swandaru mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin dekat. Tetapi ia seakan-akan memandang ke alur jalan didepannya tanpa berpaling kepada Pangeran Benawa, ”Apakah ada perintah Pangeran?” anak muda itu bertanya.
“Dengarlah baik-baik,” berkata Pangeran Benawa perlahan-lahan sekali sehingga hanya didengar oleh Swandaru, ”biarlah Agung Sedayu pergi ke Mataram. Beritahukan kepada Kangmas Raden Sutawijaya, bahwa aku dan beberapa orang pengiring, termasuk seorang Adipati, akan menghadap. Atas usul beberapa orang yang mencurigai Kakang Senapati Ing Ngalaga, Ayahanda Sul¬tan memerintahkan aku dan beberapa orang untuk meyakinkan, bahwa Mataram tidak sedang dalam per¬siapan perang.”
“O,” Swandaru mengangguk-angguk. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Pangeran Benawa. Namun ia mengulanginya, ”Pangeran memerintahkan Kakang Agung Sedayu untuk menyampaikan kepada Senapati Ing Ngalaga, bahwa Pangeran akan datang bersama bebera¬pa orang pengiring untuk melihat keadaan Mataram, karena kecurigaan beberapa orang bahwa Mataram akan memberontak melawan Pajang.”
“Ya. Tetapi jangan kau sendiri yang pergi. Kau ada¬lah anak Demang Sangkal Putung yang harus ikut serta menerima tamu. Karena itu, biarlah Agung Sedayu men¬cari satu atau dua orang kawan dalam perjalanan,” Pangeran Benawa berhenti sejenak, lalu, ”juga jangan Kiai Gringsing. Biarlah ia ikut menerima tamu.”
Swandaru mengangguk kecil. Tetapi ia sama sekali tidak berpaling memandang Pangeran Benawa yang ber¬kuda di ampingnya.
Iring-iringan itu pun akhirnya memasuki Padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung. Meskipun hari telah malam, namun beberapa orang yang mendengar kedata¬ngan tamu dari Pajang itu memerlukan menjenguk keluar regol halaman rumah masing-masing. Beberapa orang pengawal di gardu-gardu, berdiri berjajar dipinggir jalan ketika iring-iringan itu lewat didepan gardu mereka.
Beberapa orang pengiring Pangeran Benawa mengerutkan keningnya. Mereka melihat Sangkal Putung sebagai suatu Kademangan yang besar dan kuat. Anak-anak muda yang sigap dan agaknya cukup terlatih menanggapi keadaan. Dalam waktu singkat, disetiap padukuhan telah berkumpul anak-anak muda yang nam¬paknya adalah para pengawal Kademangan.
Pangeran Benawa yang berkuda dipaling depan ber¬sama Swandaru berpaling kepada para pengiringnya sambil berkata, ”Apakah kalian melihat ketangkasan anak-anak muda Sangkal Putung?”
Para pengiringnya mengangguk. Seorang dari antara mereka berkata, ”Pangeran, anak-anak muda Sangkal Putung benar-benar bersikap seperti prajurit yang telah dipersiapkan dalam masa perang.”
Bukan saja dada Swandaru yang berdesir mendengar kata-kata itu, tetapi Kiai Gringsing dan Agung Sedayu yang juga mendengar, menjadi berdebar-debar pula.
Tetapi Pangeran Benawa-lah yang menjawab, ”Tepat Paman Adipati. Dan ini bukan saja terjadi sejak kemarin siang atau kemarin malam. Sikap anak-anak muda Sangkal Putung itu telah ditempa sejak Kakang Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan dari Jipang berada disekitar daerah ini. Kakang Tohpati yang tidak menye¬rah sepeninggal Pamanda Arya Penangsang, berusaha untuk mencari landasan geraknya didaerah lumbung padi ini. He, bukankah demikian?”
Para pengiringnya mengangguk-angguk.
“Saat itu, Ki Widura berada disini dengan pasukannya. Kemudian disusul oleh Ki Untara. Pasukan itu kini ditarik ke Jati Anom dan masih dipimpin oleh Senapati muda yang perkasa itu. Untara-lah yang berhasil mengalahkan Kakang Macan Kepatihan dan kemudian menawan sisa pasukannya.”
“Dan membiarkan iblis tua yang bernama Sumangkar itu untuk tetap berkeliaran,” salah seorang dari para pengiring Pangeran Benawa itu memotong.
“Apakah itu keliru? Apakah dikemudian hari Paman Sumangkar berbuat sesuatu yang merugikan Pajang?” bertanya Pangeran Benawa. ”Jika Pamanda Ki Gede Pemanahan memberikan kesempatan kepada Ki Sumang¬kar untuk bebas, maka agaknya Ki Sumangkar telah menghabiskan waktunya untuk berada di Sangkal Putung tanpa berbuat sesuatu yang dapat merugikan Pajang. Bahkan disaat meninggalnya, ia masih mendapat kehor¬matan dari Ayahanda Sultan dengan pertanda pribadinya yang diserahkan kepada Untara.”
Para pengiring Pangeran Benawa itu pun terdiam. Mereka memang melihat, dan sebagian, yang tidak sem¬pat hadir pada waktu itu, mendengar bahwa masih banyak orang yang datang disaat Sumangkar meninggal di Sangkal Putung.
Sejenak kemudian,maka mereka pun sampai ke rumah Ki Demang Sangkal Putung. Beberapa orang telah siap menyambut tamu agung itu diregol halaman, termasuk Ki Demang dan para bebahu.
Dengan sangat hormat Ki Demang dan para bebahu Kademangan Sangkal Putung itu pun kemudian memper¬silahkan Pangeran Benawa dan para pengiringnya masuk ke halaman. Setelah menyerahkan kuda-kuda mereka kepada para pengawal yang berada di halaman, maka para tamu itu pun kemudian naik ke pendapa.
Dengan tiba-tiba saja rumah Ki Demang itu menjadi ramai seperti sedang mengadakan peralatan. Lampu menyala di mana-mana. Dan orang-orangpun sibuk hilir mudik. Perempuan didapur mengusap keringat yang mengembun dikening, sementara beberapa orang gadis telah bersiap untuk menghidangkan jamuan yang mereka siapkan dengan tergesa-gesa.
“Hati-hatilah,” pesan orang-orang tua kepada beberapa orang gadis yang akan menyediakan jamuan, ”tamu-tamu itu adalah orang-orang besar dari Pajang. Kalian harus melakukannya dengan baik dan dengan tata unggah ungguh yang benar.”
“Bagaimana yang benar itu?” bertanya seorang gadis.
Orang-orang tua itu saling berpandangan. Salah se¬orang dari mereka menggeleng sambil berkata, ”Aku tidak tahu.”
Beberapa orang perempuan itupun tiba-tiba saja telah berpaling kepada Pandan Wangi yang berada didapur pula, seolah-olah mereka membebankan kepada perem¬puan itu untuk memberikan jawaban.
Pandan Wangi sendiri belum mengetahui unggah ungguh yang sebenarnya. Namun ia pun men¬jawab, ”Asal kalian sudah berbuat sebaik-baiknya. Ber¬jalan sambil berjongkok. Duduk beberapa langkah di hadapan para tamu. Kemudian menyembah,” tiba-tiba saja Pandan Wangi berhenti, “apakah kalian harus menyembah?”
Dalam kebimbangan itu, terdengar suara dibelakang pintu, ”Tidak ada salahnya. Tetapi tidakpun tidak apa-apa.”
Ketika mereka berpaling, mereka melihat Agung Sedayu berdiri dimuka pintu dapur. Lalu katanya pula, ”Memang menjadi kebiasaan untuk menyembah seorang Pangeran kecuali didalam istana, karena hanya raja sajalah yang disembah didalam lingkungan istana. Tetapi Pangeran Benawa adalah seorang Pangeran yang mem¬punyai sifat-sifat khusus. Ia tidak menghiraukan, apakah orang lain menyembahnya atau tidak. Karena itu, kalian dapat menyembah lebih dahulu sebelum meletakkan mangkuk minuman, atau tidak sama sekali.”
“Tetapi sebutlah, yang manakah yang baik kami lakukan?” bertanya gadis-gadis itu.
Agung Sedayu justru termangu-mangu. Namun kata¬nya kemudian, ”Kalian sebaiknya menyembahnya, karena Pangeran Benawa tidak seorang diri. Jika ia seo¬rang diri, maka kalian dapat berbuat lebih bebas, karena pada suatu saat Pangeran Benawa sendiri pernah duduk diregol pasar dengan pakaian seorang petani.”
“Tetapi itu dalam keadaan yang khusus,” Pandan Wangi-lah yang menyahut.
“Ya. Kau benar. Sekarang Pangeran Benawa dalam kedudukannya yang resmi,” berkata Agung Sedayu kemudian.
Dengan demikian maka gadis-gadis Sangkal Putung itu pun menjadi berdebar-debar. Seolah-olah mereka harus melakukan pekerjaan yang sangat sulit. Jarang sekali terjadi, bahwa mereka harus melayankan jamuan kepada seorang Pangeran.

***

Oleh Abu Gaza
Belum di proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 22 Januari 2009 at 12:22  Comments (165)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-24/trackback/

RSS feed for comments on this post.

165 KomentarTinggalkan komentar

  1. Untuk Ki Waskita,

    Rontal pusaka ada pada comment putra nusantara yang menjawab HUT alm. SHM

    Jangan mudah putus asa.
    Nilai sesuatu tergantung usaha.
    Tidak mengenal tua dan muda.
    Tapi saling bekerja sama.

    Meraih kehidupan dunia.
    Tapi tidak lupa dengan yang disana.

  2. sabar ki Waskita,
    silahkan diklik nama putra nusantara, dan jilid berikutnya ada di halaman ttg SHM

  3. @Ki Waskita,
    Tidak usah terburu-buru dan menjadi stress, memang mungkin panjenengan akan agak lama baru bisa mengunduh, tapi kalau dicermati, setiap ada permintaan tolong dan pernyataan kesulitan selalu akan ada cantrik yang bersedia membantu. Contohnya untuk kitab 24 sudah ada yang memberi petunjuk dimana harus dicari Putra Nusantara lengkap dengan hari (26 Jan) dan jam (17.29).
    Sedangkan rontal 25 dari para cantrik yang lain kuncinya ada di halaman SH. Mintardja dibawah hari lahir beliau.
    Ki Waskita setiap permintaan tolong rasanya selalu dijawab disini, baik terang2an, maupun setengah gelap.
    Jadi enjoy aja.
    Nuwun
    (mohon maaf kalau informasi ini mengganggu kesenangan berburu para cantrik yang lain)

  4. yg sabar rekan2 semua.tapi jangan lupa saling mengingatkan kalau ada yg tersesat di jalan. saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. cuma masalah waktu aja kok kebenaran itu akan terungkap terang benderang.

    Kalau saya, cuma berharap nyai Semangkin tidak melupakan saya karena kepincut sama Ki Gede.

    Kasihan anaknya kelak mencari siapa bapaknya yg sesungguhnya ;P

    halah opo meneh… iki ;P

  5. Wah sudah ada cantrik yang “ndlosor”

    Buat Ki Waskita, saya ikut prihatin dengan tensi anda, saya bisa “merasakan” mempunyai tensi setinggi itu.

    Sepertinya bukan maksud Ki GD utk seperti itu, tapi saya merasakan keasyikan luar biasa dari cara Ki GD memberikan buku-buku ADBM ini, ada kepuasan tersendiri yang ketika buku berhasil di unduh.

    Jadi saran saya, santai saja dalam berburu kitab ADBM ini, gak usah kemrungsung.

    Salam Cantrik paling Santai

    Joko Brondong

  6. akhirnya setelah mesu diri sesuai petunjuk dari kitab yang dikirim para sederek,hari ini langsung udah isa ambil 3 kitab sekaligus,makasih banyak n khusus ki GD trimakasih banyak 3X,maksih…..kasih…sih…sh…

  7. Memang asik berburu kita dipadepokan ini,
    bukan hanya sekedar baca kitab, ilmu2 lain pun kita dapatkan….Terus maju Ki GD

  8. Tolong di mana kitab yg 124 saya sudah coba kemana-mana tetapi engak ketemu siapa tau para cantrik bisa ngebantu

    Salam,Kalimantan

  9. @ M.Faisal
    Seperti janji Ki GD, kitab dititipkan pada yang tahu alasan perlunya Ki GD memberi bonus pada tgl 26 jan, yang berhasil ditebak oleh PUTRA NUSANTARA, 26 jan mrpk ultah sang maestro.
    Kecermatan, kesabaran, kesenangan berpetualang akan membantu anda menemukan karena kitab masih ada disitu… jangan dicari ditempat lain
    Selamat mengeksplorasi…

  10. Ampun, Ki GD, kulo niki wong anyar. Kok boten saget mendet 124. Wonten ning ki putra nusantara, kulo sampun klik piyambake, eh boten medal. Kuluo nyuwun petunjuk, kalihan 121.

    matursuwun

    patihmantahun

  11. wuihhhhhhhhhhhhh mblibet tenan, namung puassssssssssss, ampe cruttttttttt,

    makasih Ki Gd

  12. Mohon petunjuk sederek2 para pendekar untuk bisa down load kitab 24, dimana ki putra nusantara bisa dicar?

    matur nuwun sak derengipun

  13. Maaf ternyata kitab 24 sudah saya ketemukan, ternyata dengan sedikit pemusatan nalar budi saya baru bisa menghilangkan ilmu getar yang disebarkan oleh carang waja, sehingga kitab 24 pun kelihatan jelas, tinggal akan saya ambil, mohon doa restu

    # ikut senang Ki

  14. Pangeran BenHawa,
    apa isih seduluru BenHur ya…..????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: