Buku II-24

Kedatangan sekelompok kecil orang-orang dari pade¬pokan terpencil di Jati Anom itu telah menumbuhkan tanggapan yang cerah. Dengan serta merta maka Kiai Gringsing pun segera naik ke pendapa diikuti oleh Agung Sedayu dan Glagah Putih, serta kedua prajurit yang telah datang ke padepokannya.
Yang mula-mula mempersilahkannya adalah justru Ki Jagabaya, ”Silahkan Kiai. Itulah Swandaru Geni.”
Tetapi Swandaru-lah yang menyahut, ”Lukaku tidak seberapa. Guru, tolonglah dahulu prajurit itu.”
Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun iap un segera melihat, bahwa keadaan Ssbungsari-lah yang benar-benar gawat. Karena itulah, maka ia pun segera mendekati Sabungsari yang masih ditunggui oleh kedua orang kawannya.
Dengan sungguh-sungguh Kiai Gringsing memperhatikan keadaan Sabungsari. Luka-lukanya yang parah dan pernafasannya yang tersendat-sendat. Beberapa kerut kecemasan nampak membayang diwajahnya. Bahkan kemudian orang tua itu menarik nafas panjang.
“Bagaimana keadaannya Kiai?” bertanya perwira yang menjemputnya ke Jati Anom.
“Marilah kita berdoa didalam hati,” berkata Kiai Gringsing, ”aku akan mencobanya memberikan obat yang paling baik yang ada padaku. Mudah-mudahan Yang Maha Kuasa berkenan mempergunakannya sebagai alat limpahan belas kasihan-Nya kepada Angger Sabungsari.”
Perwira itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah Kiai mengenalnya?”
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, ”Ya. Aku kenal Angger Sabungsari. Ia pernah datang ke padepokanku.”
”Untuk apa?” bertanya perwira itu.
“Diwaktu senggang ia mengisinya dengan berbagai macam kerja dipadepokan sekedar untuk mendapatkan suasana yang berbeda. Bahkan kadang-kadang, Angger Sabungsari ikut pula kerja disawah dan ladang. Namun kadang-kadang ia hanya sekedar tinggal dipadepokan dengan duduk-duduk dan bergurau bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih.”
Perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengganggu lagi, ketika kemudian Kiai Gringsing dengan sungguh-sungguh mulai mengobatinya dengan obat-obat yang dibawanya dari padepokannya.
Sementara itu, para pengawal masih saja sibuk dengan orang-orang Sangkal Putung yang ingin melihat apa yang terjadi. Bahkan dengan demikian, maka hampir tidak ada orang yang sempat membantu membawa sosok-sosok mayat ke kuburan setelah perwira prajurit yang telah datang kembali ke Sangkal Putung itu mengijinkannya.
Namun akhirnya Ki Jagabaya pun mendapatkan beberapa orang yang bersedia membantunya memebawa mayat-mayat itu ke kubur diantar oleh sekelompok penga¬wal. Bagaimanapun juga mereka harus tetap berhati-hati karena kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan masih saja dapat terjadi. Dendam tentu masih menyala di Pesisir Endut karena kematian bebera¬pa orang kawannya. Bahkan Carang Waja yang tidak ada duanya bagi orang-orang Pasisir Endut itu pun telah ter¬bunuh pula di Sangkal Putung.
Dalam pada itu, oleh sejenis obat-obatan yang paling baik dari Kiai Gringsing, serta doa yang sungguh-sungguh dihati orang tua itu serta mereka yang mengikuti pengobatan yang menegangkan itu, ternyata Sabungsari telah menggerakkan matanya. Perlahan-lahan ia ber¬desis. Namnn agaknya ia telah mulai sadar akan keadaan¬nya.
Tetapi justru karena itu, maka ia mulai merasa, beta¬pa tubuhnya bagaikan remuk disayat-sayat oleh luka. Betapa perasaan pedih dan, nyeri menggigit sampai ke tulang-tulang.
Sabungsari mulai membuka matanya. Bukan saja sekedar membuka mata tanpa kesadaran. Ia mulai mengerti, betapa luka-lukanya sangat parah.
Namun kehadiran Kiai Gringsing yang mula-mula nampak kabur membuat prajurit muda itu menjadi heran. Semakin lama wajah orang tua itu nampak semakin jelas. Bahkan kemudian ia melihat sebuah senyum dibibir orang tua yang dikenalnya dengan baik itu.
“Kiai,” desisnya perlahan-lahan sambil menyeri¬ngai menahan sakit.
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya, ”Ya Ngger. Aku ada disini bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih.”
Sabungsari menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dadanya terasa betapa sakitnya. Ia merasa sesuatu telah menitik dibibirnya dan kemudian hanyut di kerongkongannya.
Sabungsari mengerti, bahwa yang ditelannya itu adalah cairan yang dibubuhi obat oleh Kiai Ggringsing selain obat yang ditaburkan pada lukanya.
Dengan demikian, maka harapan prajurit-prajurit dari Jati Anom itu telah menjadi semakin besar, bahwa Sabungsari akan dapat diobatinya. Dengan tegang mereka mengikuti perkembangan keadaannya. Meskipun kemudian Sabungsari justru terdengar menahan desah kesakitan, namun dengan demikian, maka para prajurit itu mengerti, bahwa kesadaran Sabungsari telah pulih kembali.
Baru setelah Sabungsari sadar sepenuhnya akan kea¬daannya, Kiai Gringsing beringsut mendekati Swandaru yang duduk bersandar tiang pendapa. Luka Swandaru pun bukan luka yang dapat diabaikan. Untunglah bahwa ia telah meninggalkan serbuk obat yang untuk sementara dapat menolongnya.
Seperti Sabungsari, maka Swandaru pun kemudian diberinya cairan obat yang dapat memperkuat daya tahan tubuhnya, yang terbuat dari jenis akar-akaran dan dedau¬nan.
“Swandaru,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “memang sebaiknya kau beristirahat dipembaringan untuk memulihkan keadaanmu.”
Swandaru menggeleng. Katanya, ”Aku tidak terlalu parah, Guru. Aku ingin melihat, apa yang dikerjakan oleh orang-orang Sangkal Putung dalam keadaan seperti ini. Para pengawal tentu akan menjadi semakin gelisah jika mereka melihat, seolah-olah aku terluka parah.”
“Mereka sudah mengetahui apa yang terjadi,” jawab Kiai Gringsing, ”adalah wajar jika kau beristirahat barang sehari dua hari. Sementara, biarlah Angger Sabungsari juga dibaringkan dipembaringan. Keadaan¬nya akan lebih baik daripada dibiarkannya saja berada dipendapa. Kegelisahan orang-orang Sangkal Putung yang mengerumuni pendapa ini akan dapat mengganggu perasaannya.”
Swandaru mengerutkan keningnya. Lalu katanya, ”Biarlah prajurit itu dibawa ke gandok.”
Kemudian atas persetujuan ayahnya, prajurit yang terluka itu pun diangkat oleh kawan-kawannya ke gandok sebelah kiri dan membaringkannya disebuah amben yang besar. Sementara Swandaru masih tetap ingin duduk dipendapa bersama para bebahu Sangkal Putung yang telah berkumpul di Kademangan.
Dalam pada itu, Ki Demang dan Ki Jagabaya telah minta agar mereka yang berkerumun disekitar pendapa, meninggalkan halaman dan kembali kepada kerja masing-masing.
“Bukankah kalian harus pergi ke sawah?” ber¬tanya Ki Jagabaya, ”kita akan menyelesaikan kerja disi¬ni. Kerja yang memerlukan ketenangan. Karena itu, kami, para bebahu Kademangan minta tolong kepada kalian untuk membuat suasana di halaman ini menjadi tenang. Tiggalkan halaman ini, dan lakukanlah kerja kalian sehari-hari.”
Orang-orang Sangkal Putung itu termangu-mangu. Namun akhirnya mereka pun meninggalkan halaman Kademangan. Seorang demi seorang mereka melangkah keluar halaman sambil berbicara diantara mereka.
“Prajurit itu terluka parah,” desis yang seorang.
Yang lain menjawab, ”Ya. Swandaru pun terluka. Tetapi ia adalah seorang pemimpin sejati. Bagaimanapun juga keadaannya, ia tetap bertanggung jawab. Untuk mengawasi medan ia tetap duduk dipendapa meskipun setiap orang minta agar ia beristirahat dipembaringan.”
“Tetapi itu dapat membahayakan dirinya sendiri,” jawab yang lain pula,
“Seorang pemimpin tidak menghiraukan keadaan dirinya sendiri,” desis seorang pengawal yang mende¬ngar pembicaraan itu.
Dalam pada itu, orang-orang Sangkal Putung yang kemudian melihat Kiai Gringsing mengobati orang-orang Pesisir Endut yang terluka, harus menahan perasaannya untuk tidak berteriak menentang sikap itu. Tetapi karena Swandaru, Ki Demang dan Ki Jagabaya tidak berkebera¬tan, bahkan nampaknya mereka justru sependapat, maka orang-orang Sangkal Putung itu tidak berteriak agar mereka dibunuh saja.
Tetapi seperti yang pernah terjadi, maka Swandaru sebenarnya menjadi kesal juga atas orang-orang itu. Jika Sangkal Putung terpaksa menahan mereka, maka hal itu akan merupakan beban waktu dan tenaga yang cukup menjemukan.
Namun ketika Swandaru memandang perwira pra¬jurit Pajang yang nampaknya memperhatikan orang-orang Pasisir Endut yang terluka itu dengan sak¬sama, maka timbullah niatnya untuk menyerahkan mere¬ka kepada para prajurit Pajang di Jati Anom itu saja,
Ketika orang-orang Sangkal Putung yang berkerumun telah meninggalkan halaman, maka orang-orang yang berada dipendapa itu pun mulai duduk dengan tenang melingkar ditengah-tengah pendapa, sementara orang-orang Pesisir Endut yang terluka itu masih ber¬baring disudut pringgitan.
Ketika Pandan Wangi menceriterakan apa yang ter¬jadi, maka Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih mulai dapat membayangkan, bahwa peristiwa ini pernah pula terjadi. Agung Sedayu seolah-olah melihat kembali, bagaimana ia harus bertempur melawan Carang Waja, yang untunglah, bahwa keadaannya lebih baik dari yang terjadi atas Sabungsari.
“Jika Ki Demang tidak berkeberatan,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”biarlah Sabungsari berada disini barang dua tiga hari, sehingga luka-lukanya tidak ber¬bahaya lagi. Baru kemudian ia akan dibawa kembali ke baraknya di Jati Anom.”
Ki Demang mengangguk-angguk sambil menjawab, ”Baiklah Kiai. Aku tidak berkeberatan sama sekali. Agak¬nya hal itu akan lebih baik bagi prajurit muda itu.”
“Tetapi bagaimana dengan Kiai Gringsing?” ber¬tanya Ki Jagabaya.
“Aku akan merawatnya. Dan aku akan merawat Swandaru untuk beberapa saat,” jawab Kiai Gringsing.
Sekar Mirah menarik nafas diluar sadarnya. Tetapi wajahnya menjadi kemerah-merahan karena ia telah menjadi gembira atas keputusan Kiai Gringsing. Seolah-olah orang-orang yang berada dipendapa itu mengetahui perasaannya, bahwa sebenarnya ia memang berharap, bahwa Agung Sedayu akan tinggal beberapa hari di Sangkal Putung.
Demikianlah, maka untuk merawat orang-orang yang terluka di Sangkal Putung, termasuk kedua orang Pesisir Endut, Kiai Gringsing harus tinggal untuk bebera¬pa hari. Demikian pula, Agung Sedayu dan Glagah Putihpun ikut pula tinggal untuk sementara di Sangkal Putung. Kecuali untuk membantu merawat orang-orang yang ter¬luka, maka agaknya Kiai Gringsing pun mempunyai per¬timbangan lain. Mungkin keluarga atau perguruan Carang Waja akan mengambil sikap karena kematiannya.
Dalam pada itu, maka perwira prajurit Pajang di Jati Anom yang berada di Sangkal Putung tidak dapat tinggal terlalu lama. Ia pun kemudian menyerahkan Sabungsari dalam perawatan Kiai Gringsing, sementara ia sendiri harus kembali ke Jati Anom. Tetapi ia meninggalkan seo¬rang prajuritnya untuk mengawani Sabungsari dan mem¬bantunya jika ia memerlukan sesuatu agar tidak terlalu menyulitkan orang-orang Sangkal Putung yang merawat¬nya.
“Tiga atau empat hari lagi kami akan datang men¬jemput Sabungsari jika keadaannya sudah memungkin¬kan,” berkata perwira itu.
“Dan kami akan menyerahkan kedua orang Pesisir Endut itu,” sahut Swandaru.
Perwira itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak akan ingkar. Maka jawabnya, ”Aku akan membawanya bersama dengan Sabungsari.”
Setelah mengucapkan terima kasih, maka perwira itu pun kemudian meninggalkan Sangkal Putung bersama kedua orang prajuritnya kembali ke Jati Anom untuk melaporkan semuanya yang telah terjadi di Sangkal Putung. Agaknya masih ada harapan bagi Sabungsari untuk tetap hidup. Sementara kehadiran Kiai Gringsing di Sangkal Putung selain akan dapat memberikan pengoba¬tan, juga akan dapat memberikan perlindungan bagi Sabungsari jika diperlukan.
Dengan sunggguh-sungguh, Kiai Gringsing telah merawat mereka yang terluka. Bukan saja Swandaru dan Sabungsari, tetapi juga kedua orang Pesisir Endut yang terluka.
Karena itulah, maka keadaan mereka pun menjadi semakin baik. Swandaru dihari berikutnya telah dapat berjalan-jalan dihalaman. Ia sudah dapat berada diantara para pengawal yang masih saja digelisahkan oleh keadaan di halaman Kademangan. Dua kali peristiwa serupa itu telah terjadi. Jika saudara-saudara seperguruan Carang Waja masih juga mendendam, maka tidak mus¬tahil bahwa peristiwa itu akan masih terulang kembali, meskipun yang melakukan orang lain.
Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Sekar Mirah ter¬lihat dalam persoalan yang lama diantara mereka. Sekar Mirah sama sekali tidak menunjukkan keinginannya untuk tinggal dipadepokan. Ia masih saja selalu berbicara tentang masa depan yang lebih baik. Meskipun Sekar Mirah tidak begitu senang terhadap pribadi Untara yang dianggapnya kurang ramah dan terlalu berpegangan pada pendapatnya sendiri, tetapi sempat juga ia berkata kepa¬da Agung Sedayu, ”Kakang, bukankah setiap kali Kakang Untara juga mendorongmu, agar kau memilih jalan hidup yang lebih baik dari yang kau tempuh sekarang?”
Setiap kali Agung Sedayu hanya dapat menundukkan kepalanya. Kadang-kadang ia merasa terlalu bebal untuk mengambil sikap. Ia mengerti perasaan Sekar Mirah. Tetapi ia merasa berdiri di jalan yang bersimpang sembilan. Ia tidak tahu, jalan manakah yang paling baik untuk dipilihnya.
“Kakang Agung Sedayu,” berkata Sekar Mirah kemudian, ”kau lihat prajurit muda itu? Ia dapat mem¬bunuh Carang Waja, tetapi ia terluka parah, sehingga jiwanya hampir dikorbankannya. Aku mempunyai perhi-tungan, bahwa kau memiliki kelebihan daripadanya. Aku mendasarkan perhitunganku pada saat kau mengalahkan Carang Waja itu. Jika ia kembali setelah sembuh, maka perwira yang menyaksikan peristiwa ini akan membuat laporan tentang dirinya. Dengan demikian maka tatarannyapun akan meningkat dan harapan baginya menjadi semakin cerah.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya, maka ia pun mengangguk-anggukkan kepala¬nya.
“Kakang, jika kau berpinjak pada harga dirimu, dan tidak mau menompang kedudukan Kakang Untara, maka kau dapat memilih tugas ditempat lain, ditempat yang ti¬dak berada dibawah kuasa Kakang Untara. Meskipun kau harus melalui tataran yang paling rendah, tetapi kau ma¬sih mempunyai harapan.”
Agung Sedayu masih berdiam diri.
“Atau, barangkali kau tidak ingin menjadi prajurit, Kakang. Jika demikian, berbuat sesuatu, agar kau menda¬pat tempat bagi hidup kita kelak. Padepokanmu yang kecil itu tidak akan dapat memberikan apa-apa kepada kita. Nama tidak, harta benda juga tidak. Jika kau puas dengan sekedar pengabdian, maka hidup ini akan menjadi kering dan tidak memberikan gairah sama sekali,” suara Sekar Mirah menjadi semakin dalam.
Tetapi seperti yang selalu dilakukan, maka Agung Sedayu hanyalah menunduk dan kebingungan. Ia tidak tahu, apakah yang harus diperbuatnya, apalagi jika mata Sekar Mirah kemudian menjadi basah. Dalam keadaan yang demikian. Sekar Mirah sama sekali menjadi lain dari Sekar Mirah yang garang, yang memegang tongkat baja putih berkepala tengkorak, peninggalan gurunya.
Jika mudah tidak mungkin lagi baginya untuk hanya berdiam diri, maka Agung Sedayu selalu mengatakan, ”Aku akan memikirkannya, Mirah.”
Sekar Mirah mengusap matanya. Kemudian dengan wajah yang buram ia meninggalkan Agung Sedayu yang termangu-mangu.
Persoalan itu seolah-olah merupakan persoalan yang selalu kembali setiap saat dalam pembicaraannya dengan Sekar Mirah. Tidak ada habisnya dan tidak ada jalan yang nampaknya dapat ditempuh selain melakukan seperti yang dikatakan oleh Sekar Mirah.
Tanpa disadarinya, Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan melangkah ke gandok, ke dalam bilik Sabung¬sari yang masih terbaring diamben bambu.
Ketika prajurit muda itu melihat Agung Sedayu, maka ia pun tersenyum sambil berkata, ”Marilah Agung Sedayu.”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia masih berdiri beberapa saat dimuka pintu, sehingga pra¬jurit yang berada bersama Sabungsari didalam bilik itu pun mempersilahkannya, ”Marilah. Masuklah.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun melangkah masuk dan duduk dibibir amben tempat Sabungsari terbaring. Diluar sadarnya ia meraba leher Sabungsari sambil bertanya, ”Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Sabungsari masih tersenyum. Jawabnya, ”Aku sudah menjadi jauh lebih baik sekarang.”
“Tetapi tubuhmu masih terasa agak panas.”
Sabungsari beringsut setapak. Katanya, ”Setiap kali aku minum obat yang diberikan oleh Kiai Gringsing, tubuhku memang terasa panas. Tetapi itu tidak lama. Jika keringat telah membasahi punggung, terasa tubuhku menjadi segar. Rasa-rasanya luka-lukaku telah sembuh.”
Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab, ”Luka-lukamu masih sangat berbahaya. Kau harus mengi¬kuti segala petunjuk Guru, agar kau benar-benar akan sembuh. Pada suatu saat keadaanmu menjadi seolah-olah telah baik sama sekali. Tetapi jika kau kurang ber¬hati-hati dan terlalu banyak bergerak, maka mungkin sekali akan timbul akibat sampingan dari sakitmu seka¬rang ini sehingga akan dapat terjadi hal yang tidak ter¬duga-duga.”
Sabungsari tertawa. Katanya, ”Yang kau katakan seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing. Agaknya kau pun mulai mempelajari ilmu yang satu ini.”
Agung Sedayu pun tersenyum. Jawabnya, ”Aku ada¬lah muridnya. Meskipun aku belum mulai belajar dengan sungguh-sungguh ilmu pengobatan, tetapi aku sering meli¬hat dan mendengar apa yang dilakukan dan apa yang dipesankan kepada orang-orang sakit.”
Suara tertawa Sabungsari meninggi. Tetapi ia pun kemudian menyeringai menahan sakit pada lukanya.
“Sudahlah,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”jika mungkin tidurlah sebanyak-banyaknya. Kesehatan¬mu akan segera menjadi bertambah baik. Jika kawan-kawanmu datang untuk menjemputmu, kau sudah dapat melakukan segala keperluanmu sendiri. Kau tidak perlu didukung memanjat sangga wedi kudamu. Atau jika mereka membawa pedati, kau tidak usah diangkat naik ke pedati.”
Sabungsari mengangguk. Tetapi ia masih tersenyum.
Sesaat Agung Sedayu masih duduk diamben itu. Prajurit yang menunggui Sabungsari seolah-olah men¬dapat kesempatan untuk meninggalkan kawannya yang sedang sakit itu untuk beberapa lamanya. Karena itu maka ia pun justru pergi keluar dan turun ke halaman menghirup udara yang segar diluar biliknya.
Prajurit itu berpaling ketika ia mendengar Glagah Putih bertanya, ”Paman, kau lihat Kakang Agung Sedayu?”
“Ia berada didalam bilik Sabungsari,” jawab pra¬jurit itu.
Glagah Putih mengangguk. Katanya, ”Terima kasih.”
Tetapi Glagah Putih tidak langsung menuju ke bilik itu. Ia justru pergi ke biliknya sendiri.
Sementara itu, Agung Sedayu masih duduk di dekat Sabungsari berbaring. Diluar sadarnya, ia justru mere¬nungi kata-kata Sekar Mirah. Sabungsari yang terbaring karena luka-lukanya itu, telah melakukan sesuatu dalam penilaian atasannya. Mungkin ia akan mendapat pujian, atau mungkin kenaikan tataran kepangkatannya. Meski¬pun anak muda itu tidak benar-benar ingin menjadi se¬orang prajurit. Jika ia berada didalam lingkungan kepra¬juritan, justru ia mempunyai maksud-maksud yang lain, yang bertentangan dengan tugas seorang prajurit.
Tetapi sesuatu telah terjadi atas Sabungsari. Ia mengalami suatu pengalaman jiwa yang akan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah lakunya.
Dalam pada itu, Sabungsari yang berbaring dipemba¬ringan itu pun tiba-tiba telah berdesis, ”Agung Sedayu. Aku sudah melakukan sesuatu yang memberikan warna tersendiri dalam perjalanan hidupku. Aku sudah melakukan sesuatu yang meskipun tidak dengan sengaja, tetapi langsung sampai ke sasaran.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi karena hanya mereka berdua saja yang berada didalam bilik itu, maka ia pun menjawab, ”Kau melakukannya karena dendam?”
“Tidak. Mulanya aku melakukan karena tiba-tiba saja aku merasa berkewajiban. Aku tidak tahu, sejak kapan aku merasa diriku benar-benar seorang prajurit,” jawab Sabungsari, ”tetapi adalah kebetulan sekali bahwa orang yang berada di Sangkal Putung itu adalah orang-orang Pesisir Endut. Aku tidak menyangkal bahwa memang ada dorongan dari endapan perasaanku untuk menyalurkan dendam yang terbendung. Dan ternyata aku telah melakukannya. Tetapi seperti bendungan yang telah pecah, maka beban dihatikupun menjadi bertambah ringan. Rasa-rasanya, merasa berkewajiban ini akan aku pelihara. Dan aku akan tetap berada didalam lingkungan keprajuritan dengan tujuan yang lain dari saat aku mema¬sukinya.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, ”Sokurlah. Kau sudah menemukan pribadimu dan lingkungan yang paling baik bagimu. Meskipun bukan tujuan, tetapi kemampuanmu tentu akan cepat membawamu kejenjang yang lebih baik.”
“Ah,” desah Sabungsari, ”seperti yang kau katakan. Itu bukan tujuan. Aku masih muda. Aku belum mempunyai beban keluarga yang memerlukan sandaran hidup yang berat. Karena itu, maka kewajibanlah yang penting bagiku, meskipun harapan-harapan seperti yang kau katakan itu mungkin saja tumbuh didalam hati ini.”
“Sabungsari,” berkata Agung Sedayu, ”jika kau ber¬harap untuk mendapat jenjang yang lebih tinggi, bukankah karena kepentingan pribadimulah yang berdiri dipaling depan. Tetapi dengan jenjang yang lebih tinggi, kau mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk menunjukkan pengabdianmu. Karena jenjang itu akan mempunyai akibat kewajiban dan tanggung jawab.”
Sabungsari mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku mengerti. Mudah-mudahan perlahan-lahan aku dapat menyesuaikan diriku.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia telah berhasil meyakinkan Sabungsari bah¬wa ia telah berada ditempat yang paling baik dan tepat baginya.
Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu menjadi ber¬debar-debar. Persoalan yang paling pelik baginya adalah dirinya sendiri. Ia sendirilah yang masih berdiri di atas ja¬lan yang menuju ke simpang sembilan. Ialah yang seha¬rusnya mendengarkan nasehat seperti yang dikatakannya kepada Sabungsari.
Sejenak Agung Sedayu merenungi dirinya sendiri. Jika ia berada dilingkungan keprajuritan, maka ia pun akan mendapat kesempatan seperti Sabungsari. Pada saat-saat ia dihadapkan pada kewajiban, maka ia akan menemukan kepuasan dan kebanggaan apabila ia dapat menyelesaikannya. Kemudian mendapat kesempatan un¬tuk meningkat dari satu tataran ketataran berikutnya.
Pada permulaannya, tentu ia akan mengorbankan harga dirinya, karena ia akan berada dibawah tataran orang-orang yang memiliki kemampuan jauh lebih rendah dari dirinya. Orang-orang yang barangkali karena se¬bab-sebab khusus berada dijenjang yang tinggi, namun yang tidak memiliki kemampuan. Baik dimedan maupun lingkungannya.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia sudah berada di dunia angan-angan yang mulai menyimpang. Karena itulah, maka ia pun kemudian men¬coba untuk melihat dengan hati yang bening tentang diri¬nya sendiri.
“Apakah salahnya jika aku pun mulai menentukan pilihan seperti yang mulai di yakini kebenarannya oleh Sabungsari,” berkata Agung Sedayu kemudian didalam hatinya, ”jika Guru sependapat, aku akan mencobanya.”
Rasa-rasanya Agung Sedayu telah menemukan alas tempat berpijak. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, ”Sabungsari. Cobalah meyakini bahwa kau telah berada dijalan yang benar.”
Sabungsari memandang Agung Sedayu sejenak. Namun diluar dugaan Agung Sedayu, anak muda itu ber¬tanya, ”Agung Sedayu. Bagaimanakah dengan engkau sendiri? Apakah kau tidak mungkin memilih jalan seperti yang dilalui oleh kakakmu.”
Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Namun ia memaksa dirinya untuk tersenyum sambil berkata, ”Aku sedang memikirkannya.”
Sabungsaripun tersenyum pula. Tetapi ia tidak berta¬nya lebih jauh lagi.
Dalam pada itu, Agung Sedayu pun kemudian bangkit dan minta diri untuk keluar dari bilik itu. Dengan angan-angannya ia berjalan menyusuri serambi, kemu¬dian turun ke longkangan. Tetapi ternyata bahwa Agung Sedayu kemudian justru turun ke halaman depan dan ber-jalan perlahan-lahan melintas menuju ke regol.
Satu pertanyaan telah tumbuh dihatinya yang memang sudah buram, ”Jika aku ingin menjadi seorang prajurit, apakah aku harus pergi ke Pajang atau ke Mataram.”
Kebimbangan demi kebimbangan masih saja selalu membayanginya, sehingga alas tempatnya berpinjak, yang rasa-rasanya mulai mapan itu telah berguncang lagi.
Keragu-raguan itu agaknya akan tetap mem¬bayanginya. Meskipun setiap kali ia bertemu dengan Sekar Mirah, rasa-rasanya ia sudah siap untuk berlari ke Pajang atau ke Mataram, menyatakan diri untuk menjadi prajurit atau pengawal.
Tetapi selalu diikuti dengan pertanyaan, ”Kemana? Ke Pajang atau ke Mataram?”
Bagaimanapun juga Agung Sedayu tidak akan dapat menutup mata melihat pertentangan yang sebenarnya telah membayangi kedua pusat pengaruh yang seha¬rusnya tidak terpisahkan. Seandainya tidak pada Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga dengan Mas Karebet yang bergelar Sultan Hadiwijaya itu, namun pengaruh dalam lungkungannyalah yang agaknya telah menggali jurang yang semakin lama menjadi semakin dalam.
Di saat-saat berikutnya, Agung Sedayu justru ter¬benam lebih dalam lagi dalam kebimbangan. Rasa-rasanya ia sudah memutuskan. Namun kemudian ia kembali menjadi bimbang.
Sangkal Putung menjadi ramai dihari-hari berikut¬nya, ketika sepasukan kecil prajurit dari Jati Anom datang untuk menjemput Sabungsari yang mulai berang¬sur baik. Sebuah pedati yang khusus telah dibawa oleh sekelompok prajurit itu, untuk membawa Sabungsari yang belum memungkinkan untuk pergi berkuda. Bahkan ternyata bahwa selain Sabungsari, prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom itu juga akan membawa kedua orang Pesisir Edut yang terluka.
Kedatangan sekelompok prajurit dalam sikap yang resmi itu memang telah menumbuhkan kebanggaan diha¬ti Sabungsari. Ketika ia sempat berbisik di telinga Agung Sedayu, ia berkata, ”Agung Sedayu. Jika kau ingin mem¬buat perhitungan, maka hutangku kepadamu akan semakin bertimbun. Kau sudah mencegah aku untuk membunuh orang yang nampaknya tidak bersalah, meski¬pun sebenarnya justru karena aku telah kau kalahkan. Kemudian kau telah memantapkan kedudukanku sebagai seorang prajurit, meskipun ditataran yang paling rendah. Betapapun juga aku akan berbangga karena aku telah mendapat perhatian yang sangat besar dari Senapati pra¬jurit Pajang di Jati Anom. Kesempatan semacam ini sama sekali tidak pernah aku mimpikan ketika aku berangkat dari padepokan dengan membawa dendam didalam hati.”
“Kau harus menanggapi kesempatan ini dengan hati yang jernih,” sahut Agung Sedayu.
“Terima kasih Agung Sedayu. Agaknya sudah waktunya aku untuk meninggalkan Sangkal Putung ber¬sama dengan para prajurit yang menjemputku.”
Seperti yang dikatakan oleh Sabungsari, maka per¬wira yang memimpin kelompok peronda sehingga melibatkan Sabungsari ke dalam benturan melawan Carang Waja, yang telah mendapat tugas untuk memimpin sekelompok prajurit yang menjemput Sabungsari, tidak tinggal terlalu lama di Sangkal Putung. Ia pun segera menyampaikan maksudnya kepada Ki Demang Sangkal Putung, para bebahu dan para tamu mereka.
Ki Demang Sangkal Putung tidak dapat menahan prajurit yang terluka itu di Sangkal Putung. Ia pun menyerahkan Sabungsari yang meskipun masih nampak sangat lemah, namun luka-lukanya sudah berangsur baik.
“Atas nama pimpinan prajurit Pajang di Jati Anom, aku mengucapkan terima kasih, Kiai,” berkata perwira yang menjemput Sabungsari.
Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Aku hanya sekedar alat dari belas kasihan Yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan Angger Sabungsari menjadi semakin baik dan segera sembuh sama sekali. Ia adalah seorang prajurit kecil yang besar.”
Perwira itu mengangguk-angguk. Jawabnya, ”Segalanya yang telah dilakukan telah diketahui oleh Ki Untara. Tentu ada perhatian khusus dari peristiwa yang telah terjadi di Sangkal Putung. Ia telah berbuat melampaui batas tatarannya, sehingga kesempatan untuk meningkat telah terbuka baginya.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk sambil ber¬gumam, ”Ia adalah satu kekuatan yang sulit dicari ban¬dingnya.”
“Ya. Agaknya memang demikian,” jawab perwira itu. ”Mudah-mudahan ia akan merupakan kekuatan yang pilih tanding, tetapi juga yang baik sebagai seorang prajurit.”
Demikianlah, maka Sabungsari pun kemudian telah diangkat kedalam pedati yang sudah disediakan bagi dirinya. Kepada Swandaru yang berdiri disebelah pedati¬nya bersama Pandan Wangi dan Sekar Mirah ia berkata, ”Aku minta diri. Aku berhutang budi kepada Sangkal Putung dan segala penghuninya yang bersikap sangat baik kepadaku dan yang telah memberi aku tempat sela¬ma aku hampir saja kehilangan nyawaku.”
Swandaru tersenyum. Meskipun mula-mula ada pera¬saan yang terasa menggelitik hati, karena kehadiran anak muda itu di medan, namun akhirnya Swandaru berhasil untuk mengesampingkannya, karena justru Sabungsari adalah seorang prajurit. Yang dilakukan di halaman Sangkal Putung, bukannya sekedar memamerkan dan menyombongkan kekuatannya dan kemampuannya untuk membunuh Carang Waja. Tetapi anak muda itu agaknya telah dibebani oleh perasaan wajib karena ia memang seorang prajurit.
Sementara itu, dipedati yang lain, dua orang dari Pesisir Endut telah naik pula diawasi oleh beberapa orang prajurit.
Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun meninggalkan Sangkal Putung. Agung Sedayu yang melepas iring-iringan itu sampai ke regol padukuhan induk, untuk beberapa saat masih saja berdiri memandangi mereka sampai iring-iringan itu semakin jauh.
“Kakang ingin ikut serta bersama mereka?” tiba-tiba saja Glagah Putih yang mengikutinya bertanya.
Agung Sedayu berpaling. Kemudian sambil ter¬senyum ia berkata, ”Sabungsari telah melakukan tugas seorang prajurit dengan hampir saja mempertaruhkan nyawanya. Ia adalah seorang anak muda yang luar biasa.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Diluar dugaan Agung Sedayu, Glagah Putih berkata, “Setiap kali aku melihat anak-anak muda yang memiliki kelebihan, aku selalu merasa diriku semakin kecil.”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, ”Tentu tidak Glagah Putih. Kau masih jauh lebih muda dari Sabungsari. Umur anak muda itu tentu tidak kurang dari umurku. Dan kau masih mem¬punyai hitungan tahun untuk mematangkan ilmumu, setingkat dengan Sabungsari.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, sementara Agung Sedayu melanjutkan, “Kau jangan merasa dirimu sangat kecil. Kau sudah menjadi jauh lebih baik dari saat kau berada di Pesisir.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi tatapan matanya masih membayangkan perasaan kecewa.
Agung Sedayu yang kemudian mengajak Glagah Putih kembali ke Kademangan Sangkal Putung. Beberapa orang yang pergi bersama mereka sampai ke regol mengi¬kuti pula kembali ke Kademangan, sementara iring-iringan para prajurit yang membawa Sabungsari dan para tawanan itu menjadi semakin jauh.
Dalam pada itu, diperjalanan kembali ke Jati Anom, rasa-rasanya Sabungsari benar-benar telah menemukan dirinya. Ia menjadi semakin mantap sebagai seorang pra¬jurit. Ia tidak lagi merasa bahwa dirinya berada dilingkungan keprajuritan, sekedar mencari tempat yang paling baik untuk menunggu kedatangan Agung Sedayu, kemudian menantangnya perang tanding dan membunuh¬nya. Ia gagal melakukan, karena ternyata ia telah dikalahkan oleh Agung Sedayu. Tetapi tidak dibunuhnya. Sehingga karena itulah, maka sisa hidupnya kemudian sudah sepantasnyalah jika dipergunakannya untuk mengi¬kuti petunjuk Agung Sedayu, menyerahkan bagi kebaji¬kan.
Namun dalam pada itu, ia teringat akan kawan-kawannya yang menunggunya di Jati Anom, ia pun menjadi berdebar-debar. Apakah yang sebaiknya dikata¬kan kepada mereka.
Tetapi akhirnya Sabungsari berkata didalam hati, ”Aku akan mengatakan seperti yang terjadi. Aku tidak akan hidup dalam dunia yang gelap lagi. Aku sudah mendapat jalan keluar dari duniaku, dunia yang diwariskan oleh orang tuaku. Semua pengikut dan pengawal padepo-kanku harus mengetahuinya dan menyadari, bahwa jalan itu adalah jalan yang paling baik. Mereka yang berada dipadepokan dapat menyiapkan diri menempuh jalan kehidupan yang baru. Sawah cukup luas, dan tempat tinggalpun mencukupi pula. Sehingga mereka tidak akan kekurangan makan, minum, pakaian dan rumah.”
Namun, agaknya ada yang dilupakan oleh Sabungsa¬ri. Ia pernah mengatakan kepada seorang prajurit, bah¬kan dengan menunjukkan kelebihannya membunuh dengan kekuatan pandangan matanya, seekor kambing yang terikat, bahwa ia akan membunuh Agung Sedayu. Ia tidak memberikan kesempatan kepada orang lain, kecuali dirinya sendiri.
Sepeninggal para prajurit Pajang di Jati Anom membawa Sabungsari dan kedua orang Pesisir Endut yang terluka, Kiai Gringsing masih tetap tinggal di Sangkal Putung bersama Agung Sedayu dan Glagah Putih. Kiai Gringsing masih tetap merawat Swandaru yang meskipun sudah berangsur baik, tetapi masih belum sembuh sama sekali.
Dalam pada itu, Agung Sedayu yang setiap kali harus berpikir tentang masa depannya, justru karena Sekar Mirah selalu bertanya kepadanya apakah ia sudah mem¬punyai pilihan, seolah-olah telah berketetapan untuk memilih jalur kehidupan yang akan dapat menjadi arena pengabdian sesuai dengan kemampuannya.
“Aku akan berkata kepada Kakang Untara, bahwa aku pun akan terjun ke dalam lingkungan keprajuritan,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.
Anak muda itu melihat, bahwa didalam lingkungan keprajuritan ia akan terhindar dari permusuhan pribadi. Tentu tidak akan ada orang yang mendendamnya secara pribadi, apabila ia telah berbuat sesuai dalam menjalankan tugasnya, karena yang dilakukan bukan atas nama¬nya sendiri.
“Demikian aku sampai ke Jati Anom, aku akan men¬jumpai Kakang Untara. Aku tidak akan dapat selalu mengelak dari pertanyaan dan permintaan Sekar Mirah. Ia berhak berbuat demikian, karena hidupnya dimasa datang, akan berkaitan dengan hidupku,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.
Tetapi Agung Sedayu tidak segera meninggalkan Sangkal Putung karena ia menunggu Kiai Gringsing yang masih merawat Swandaru yang belum sembuh sama sekali.
Bagi Swandaru, yang terjadi itu merupakan cambuk yang pedih bagi Kademangannya. Kepada para pengawal¬nya ia mengatakan, seandainya tidak segera kebetulan para prajurit Pajang itu meronda sampai ke Sangkal Putung, apakah Kademangan itu tidak akan mengalami bencana?
“Mungkin aku dapat menyelamatkan diri dan berha¬sil melumpuhkan Carang Waja yang ternyata terbunuh oleh Sabung Sari. Tetapi bagaimana dengan para penga¬wal yang tertidur nyenyak? Orang-orang Carang Waja yang marah, tentu akan mencari sasaran siapapun juga. Kalian yang tidur nyenyak akan dibantai tanpa ampun,” berkata Swandaru pula.
Para pengawal hanya dapat menundukkan kepala¬nya. Yang terjadi memang berada diluar kemampuan¬nya. Tidak seorangpun diantara mereka yang mampu melawan sirep yang demikian kuatnya.
“Kita harus menemukan cara,” berkata Swandaru, ”kita harus mencari satu atau dua orang dari isi Kademangan ini, yang dapat menolak sirep dari satu segi. Sementara kita, akan dapat menghadapi lawan dari segi benturan kekuatan dan pertempuran. Mungkin ada satu dua orang-orang tua yang memiliki ilmu yang dapat mela¬wan sirep.
Kita akan minta kepada mereka untuk ikut serta melindungi Kademangan ini dari kejahatan disaat yang lain. Karena sepeninggal Carang Waja bukan berarti bah¬wa perguruannya tidak lagi akan mengganggu kita.”
Para pengawalpun sependapat. Namun mereka yang tidak mungkin melalukan hal itu, bertekad untuk mem¬pelajari ilmu pedang atau senjata-senjata lain lebih banyak lagi.
“Kita harus mempergunakan sebagian waktu kita untuk berlatih tanpa jemu,” berkata Swandaru kepada para pengawal, ”pada saatnya kita harus menunjukkan, bahwa Sangkal Putung adalah Kademangan yang sudah dewasa. Yang dapat menjaga dirinya sendiri dari segala macam bencana.”
Ternyata seperti yang diharapkan oleh Swandaru, para pengawal memang bertekad untuk melakukannya. Mereka tidak menunggu sepekan dua pekan. Mereka lang¬sung menyusun rencana untuk melaksanakannya.
“Selama aku belum sembuh benar, maka kalian dapat melakukannya. Sementara aku akan menyaksikan saja,” berkata Swandaru.
Selagi Agung Sedayu dan Glagah Putih berada di Sangkal Putung, maka mereka pun sempat menyaksikan, bagaimana para pengawal dengan gairah yang tinggi, melatih diri menyempurnakan bekal mereka.
Yang terjadi di Sangkal Putung itu telah merupakan pendorong bagi Agung Sedayu untuk terjun kedalam lingkungan keprajuritan. Meskipun dorongan terbesar adalah karena keinginan Sekar Mirah, namun Agung Sedayu melihat, bahwa jalan itu adalah jalan yang paling baik untuk dilaluinya.
“Sekar Mirah akan dapat memuaskan dirinya, sean¬dainya pada suatu saat aku telah dapat meningkat ke jen¬jang yang lebih tinggi,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, meskipun ia tahu, bahwa kesempatan untuk mencapai tataran berikutnya kadang-kadang tidak dinilai atas dasar kemampuan saja.
Demikian dari hari kehari, keadaan Swandaru telah berangsur baik. Bahkan sudah tidak mengganggunya lagi. Pada saat-saat para pengawal berlatih, Swandaru telah dapat ikut serta untuk memberikan petunjuk dan bimbing¬an kepada mereka.
Karena itu, maka Kiai Gringsing yang sudah berada di Sangkal Putung untuk beberapa hari, merasa bahwa Swandaru tidak perlu ditungguinya lagi. Dalam beberapa hari, luka-luka itu sudah akan dapat sembuh sama sekali. Mungkin bekas-bekasnya sajalah yang masih memerlukan perawatan khusus agar kemudian tidak akan menjadi noda pada tubuhnya.
“Kita sudah dapat kembali ke Jati Anom,“ berkata Kiai Gringsing pada suatu saat kepada Agung Sedayu.
“Apakah Sangkal Putung sudah dapat kita tinggal¬kan?” berkata Agung Sedayu.
Kiai Gringsing merenungkan sejenak. Seolah-olah ia masih membuat pertimbangan-pertimbangan khusus ten¬tang Sangkal Putung. Namun kemudian ia berkata, ”Menurut pertimbanganku, Sangkal Putung sudah tidak perlu dicemaskan lagi. Setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat. Sementara itu, luka-luka Swandaru tentu sudah akan sembuh sama sekali.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun masih juga ada kecemasan dihati Agung Sedayu. Seolah-olah da¬lam saat-saat terakhir, Agung Sedayu tidak melihat usaha Swandaru untuk meningkatkan ilmunya sejak ia tidak lagi berada dekat dengan gurunya.
“Mudah-mudahan aku hanya tidak mengetahuinya saja,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, ”seperti Swandaru tentu juga tidak mengetahui, apakah ilmuku meningkat atau tidak. Tetapi pengaruh kehadiran Guru, tentu akan banyak memberikan dorongan untuk berusaha meningkatkan ilmu.”
Namun dalam pada itu, secara tidak langsung, Agung Sedayu mendengar dari Sekar Mirah, bahwa Swandaru ¬pun telah berusaha terus menerus untuk meningkatkan il¬munya bersama dengan Pandan Wangi dan dirinya sen¬diri. Mereka bertiga bersumber dari tiga perguruan yang memiliki dasar ilmu yang berbeda. Namun dengan berla¬tih bersama, mereka berusaha untuk menemukan paduan tata gerak yang akan dapat meningkatkan ilmu mereka masing-masing.
“Tetapi yang dilakukan oleh Swandaru adalah peningkatan ketrampilan jasmaniah. Ia kurang bersung¬guh-sungguh untuk membina kemampuannya mempergu¬nakan tenaga cadangan meskipun demikian, kecepatan bergerak Swandaru benar-benar mengagumkan disamping kekuatannya yang jauh melampaui kekuatan orang kebanyakan,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.
Dan saat-saat untuk kembali ke padepokan kecil itu ¬pun semakin dekat pula. Kiai Gringsing sudah tidak menganggap perlu lagi untuk berada di Sangkal Putung. Apalagi jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom memang tidak terlalu jauh.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 22 Januari 2009 at 12:22  Comments (165)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-24/trackback/

RSS feed for comments on this post.

165 KomentarTinggalkan komentar

  1. Untuk Ki Waskita,

    Rontal pusaka ada pada comment putra nusantara yang menjawab HUT alm. SHM

    Jangan mudah putus asa.
    Nilai sesuatu tergantung usaha.
    Tidak mengenal tua dan muda.
    Tapi saling bekerja sama.

    Meraih kehidupan dunia.
    Tapi tidak lupa dengan yang disana.

  2. sabar ki Waskita,
    silahkan diklik nama putra nusantara, dan jilid berikutnya ada di halaman ttg SHM

  3. @Ki Waskita,
    Tidak usah terburu-buru dan menjadi stress, memang mungkin panjenengan akan agak lama baru bisa mengunduh, tapi kalau dicermati, setiap ada permintaan tolong dan pernyataan kesulitan selalu akan ada cantrik yang bersedia membantu. Contohnya untuk kitab 24 sudah ada yang memberi petunjuk dimana harus dicari Putra Nusantara lengkap dengan hari (26 Jan) dan jam (17.29).
    Sedangkan rontal 25 dari para cantrik yang lain kuncinya ada di halaman SH. Mintardja dibawah hari lahir beliau.
    Ki Waskita setiap permintaan tolong rasanya selalu dijawab disini, baik terang2an, maupun setengah gelap.
    Jadi enjoy aja.
    Nuwun
    (mohon maaf kalau informasi ini mengganggu kesenangan berburu para cantrik yang lain)

  4. yg sabar rekan2 semua.tapi jangan lupa saling mengingatkan kalau ada yg tersesat di jalan. saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. cuma masalah waktu aja kok kebenaran itu akan terungkap terang benderang.

    Kalau saya, cuma berharap nyai Semangkin tidak melupakan saya karena kepincut sama Ki Gede.

    Kasihan anaknya kelak mencari siapa bapaknya yg sesungguhnya ;P

    halah opo meneh… iki ;P

  5. Wah sudah ada cantrik yang “ndlosor”

    Buat Ki Waskita, saya ikut prihatin dengan tensi anda, saya bisa “merasakan” mempunyai tensi setinggi itu.

    Sepertinya bukan maksud Ki GD utk seperti itu, tapi saya merasakan keasyikan luar biasa dari cara Ki GD memberikan buku-buku ADBM ini, ada kepuasan tersendiri yang ketika buku berhasil di unduh.

    Jadi saran saya, santai saja dalam berburu kitab ADBM ini, gak usah kemrungsung.

    Salam Cantrik paling Santai

    Joko Brondong

  6. akhirnya setelah mesu diri sesuai petunjuk dari kitab yang dikirim para sederek,hari ini langsung udah isa ambil 3 kitab sekaligus,makasih banyak n khusus ki GD trimakasih banyak 3X,maksih…..kasih…sih…sh…

  7. Memang asik berburu kita dipadepokan ini,
    bukan hanya sekedar baca kitab, ilmu2 lain pun kita dapatkan….Terus maju Ki GD

  8. Tolong di mana kitab yg 124 saya sudah coba kemana-mana tetapi engak ketemu siapa tau para cantrik bisa ngebantu

    Salam,Kalimantan

  9. @ M.Faisal
    Seperti janji Ki GD, kitab dititipkan pada yang tahu alasan perlunya Ki GD memberi bonus pada tgl 26 jan, yang berhasil ditebak oleh PUTRA NUSANTARA, 26 jan mrpk ultah sang maestro.
    Kecermatan, kesabaran, kesenangan berpetualang akan membantu anda menemukan karena kitab masih ada disitu… jangan dicari ditempat lain
    Selamat mengeksplorasi…

  10. Ampun, Ki GD, kulo niki wong anyar. Kok boten saget mendet 124. Wonten ning ki putra nusantara, kulo sampun klik piyambake, eh boten medal. Kuluo nyuwun petunjuk, kalihan 121.

    matursuwun

    patihmantahun

  11. wuihhhhhhhhhhhhh mblibet tenan, namung puassssssssssss, ampe cruttttttttt,

    makasih Ki Gd

  12. Mohon petunjuk sederek2 para pendekar untuk bisa down load kitab 24, dimana ki putra nusantara bisa dicar?

    matur nuwun sak derengipun

  13. Maaf ternyata kitab 24 sudah saya ketemukan, ternyata dengan sedikit pemusatan nalar budi saya baru bisa menghilangkan ilmu getar yang disebarkan oleh carang waja, sehingga kitab 24 pun kelihatan jelas, tinggal akan saya ambil, mohon doa restu

    # ikut senang Ki

  14. Pangeran BenHawa,
    apa isih seduluru BenHur ya…..????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: