Buku II-24

Ketika ia berusaha bergeser setapak, maka pisau itu telah menancap didadanya. Untunglah, bahwa ia sempat berkisar, sehingga pisau itu tidak menghunjam dijantungnya.
Sabungsari bagaikan dibakar oleh dendam dan kema¬rahan tiada taranya. Dengan sisa tenaga yang ada, maka ia pun kemudian menghempaskan segenap ilmunya menghantam lawannya. Diremasnya dada lawannya sehingga terdengar tulang-tulang iganya menjadi retak.
Carang Waja berteriak tertahan. Tetapi ia tidak dapat melepaskan diri lagi dari cengkaman sorot mata Sabung¬sari. Anak muda itu sama sekali tidak menghiraukan lagi, ketika dirinya seolah-olah berguncang. Tetapi karena kemampuan tenaga lawan yang jauh susut oleh cengka¬man ilmu Sabungsari, maka goncangan itu tidak banyak lagi berarti.
Sabungsari benar-benar tidak mau melepaskan lawannya. Ketika Carang Waja kemudian menggeliat dan menjatuhkan dirinya ditanah sambil berguling-guling, Sabungsari berusaha dengan tenaga yang tersisa untuk tetap mencengkam lawannya dengan sorot matanya.
Akhirnya Carang Waja sulit untuk berhasil melepas¬kan diri dari ilmu lawannya. Meskipun ia mencoba mengerahkan ilmunya, ia tetap merasa bahwa dadanya bagaikan dihimpit oleh sebuah bukit batu.
Namun demikian, Carang Waja masih berusaha untuk melepaskan diri dengan berguling dan melenting. Sekali-sekali ia terlempar keluar dari cengkaman ilmu Sabungsari. Namun sejenak kemudian, ilmu itu telah mencengkamnya kembali.
Meskipun demikian, Sabungsari menjadi cemas juga. Ia sadar bahwa Carang Waja sedang berusaha menjauhinya, dan kemudian berlindung dibalik arena pertem¬puran yang lain, atau dibalik gerumbul dan pepohonan.
Sabungsari tidak mau kehilangan lawannya. Dengan sekuat tenaga yang tersisa, sambil mencengkam lawan¬nya dengan ilmunya, maka ia pun bangkit perlahan-lahan dengan tubuh gemetar.
Luka Sabungsari ditubuhnya adalah luka yang pa¬rah. Tetapi didorong oleh kemarahan yang tiada taranya, ia masih dapat melangkah maju mendekati Carang Waja yang sedang berusaha melepaskan diri dari padanya.
Tetapi Carang Waja sudah tidak mempunyai harapan lagi. Rasa-rasanya isi dadanya telah diremukkan oleh kekuatan sorot mata Sabungsari yang mempunyai sentuh¬an wadag itu.
Beberapa langkah ia masih dapat beringsut. Namun ternyata bahwa prajurit muda itu melangkah terhu¬yung-huyung mendekatinya. Dengan demikian maka kekuatan sorot matanya terasa semakin keras menghim¬pit tubuhnya.
Tetapi tiba-tiba terasa sesuatu yang mengejutkan Ca¬rang Waja. Ketika langkah Sabungsari menjadi semakin dekat, maka cengkaman ilmu anak muda itu justru terasa semakin kendor.
Dengan demikian, maka tiba-tiba saja telah melonjak kembali harapan dihati Carang Waja. Meskipun ilmu itu masih terasa menggenggam dadanya, tetapi Carang Waja sempat melihat Sabungsari tidak lagi dapat berdiri de¬ngan mantap. Bahkan kemudian ilmu itu perlahan-lahan seakan-akan telah melepaskannya.
Selangkah dihadapannya Sabungsari berdiri. Wajah¬nya nampak pucat pasi. Darahnya mengalir dari lukanya tanpa terkendali lagi. Karena itulah, maka Sabungsari menjadi semakin lemah. Ia tidak lagi mampu memusat¬kan ilmunya untuk tetap mencengkam lawannya. Bahkan kepalanya terasa semakin lama semakin pening, sementara matanya, pintu pancaran ilmunya yang khusus itu menjadi semakin kabur.
Pada saat itu, melonjak harapan dihati Carang Waja. Ia sadar bahwa lawannya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Ia tentu akan segera pingsan dan barangkali mati. Dengan demikian, betapa luka parah didalam dada¬nya terasa pedih, namun ia akan dapat melepaskan diri dari himpitan yang tidak terlawan. Ia akan mendapat waktu untuk sekedar beristirahat, mengatur pernafasan¬nya dan kemudian seperti yang pernah terjadi, melarikan diri.
Yang terjadi itu bagi Carang Waja, bagaikan sebuah peristiwa yang terulang kembali, saat ia melawan Agung Sedayu yang memiliki kemampuan tidak terlawan oleh¬nya. Dan kini prajurit muda itu telah bertempur dengan ilmu yang mirip dengan ilmu yang dimiliki Agung Sedayu, meskipun sumbernya dapat berbeda.
Carang Waja tidak menghiraukan lagi kawan-kawan¬nya yang sedang bertempur dengan sengitnya. Ia berha¬rap bahwa mereka pun akan dapat menyelesaikan pertem¬puran itu sebaik-baiknya. Prajurit-prajurit di regol itu akan mati. Prajurit muda yang melawannya itu pun akan mati. Dan yang lain-lainpun akan terbunuh pula.
Pada saat itu, Carang Waja benar-benar merasa telah terlepas dari cengkaman ilmu lawannya. Betapapun dada¬nya terasa telah hancur, tetapi ia sempat melihat Sabung¬sari terhuyung-huyung selangkah dihadapannya.
Namun yang tidak diperhitungkannya adalah kesa¬daran terakhir yang mendorong gejolak perasaan Sabung¬sari. Dendamnya yang membara serta kemarahan yang tidak terkendali, telah memaksanya untuk selangkah lagi maju untuk menyelesaikan pertempuran itu.
Tetapi ia tidak lagi mampu memeras ilmunya dan menghimpit lawannya dengan sorot matanya. Ia tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mendorong ilmu¬nya yang dahsyat itu, seperti juga Carang Waja sudah tidak mampu lagi menghentak tanah tempatnya berpijak.
Namun Sabungsari tidak mau gagal disaat terakhir.
Itulah sebabnya, maka Sabungsari memaksa diri de¬ngan kekuatannya yang terakhir untuk melangkah maju. Ia tidak lagi mempergunakan sorot matanya untuk menghadiri pertempuran. Tetapi dengan kekuatan yang tersisa, dihentakannya tangannya untuk menghunjamkan keris ditangannya.
Carang Waja melihat keris itu terayun. Bahkan kemu¬dian tubuh Sabungsari itu roboh menimpanya. Tetapi ia ti¬dak mampu beringsut sama sekali. Karena itu, maka ia hanya dapat berdesah perlahan ketika tubuh prajurit mu¬da itu jatuh pada tubuhnya yang terkapar. Carang Waja masih sempat merasa sebuah tusukan keris menghunjam didadanya. Oleh tekanan berat badan lawannya, maka keris yang tepat diarah jantungnya itu telah menembus tubuhnya dan merobek dinding jantungnya itu.
Carang Waja tidak sempat mengaduh. Tarikan nafas¬nya yang berat telah mengakhiri hidupnya diujung keris Sabungsari, seorang prajurit muda yang hatinya telah dibakar oleh dendam. Yang ternyata dendam itu telah membakar Carang Waja.
Pada saat yang bersamaan, maka Swandaru pun telah menghentakkan kekuatannya yang terakhir. Ia pun telah memaksa diri, bertempur melampaui ketahanan tubuh¬nya, sehingga demikian lawannya yang terakhir dilumpuhkannya, ia pun telah terduduk dengan lemahnya di tangga pendapa.
Dalam pada itu, para pengikut Carang Waja tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghindarkan diri. Mereka yang masih mempunyai kekuatan untuk melari¬kan diri, segera melarikan diri tanpa menghiraukan kawan-kawannya yang lain. Mereka telah berusaha men¬cari keselamatan masing-masing.
Demikianlah, maka pertempuran di halaman Kade¬mangan Sangkal Putung itu pun berakhir. Beberapa sospk mayat tergolekdihalaman, termasuk Carang Waja. Dan orang dari Pesisir Endut terluka parah. Sementara Swandaru sendiri menjadi lemas oleh darahnya yang terlalu banyak mengalir. Sementara Sabungsari masih terbujur diam diatas tubuh Carang Waja. Sedangkan yang lain ma¬sih sempat melarikan diri menghindari para prajurit dan orang-orang Sangkal Putung.
Pandan Wangi yang tidak mengejar lawannya, de¬ngan tergesa-gesa berlari mendekati suaminya. Sekar Mirah pun telah mengikutinya dan bersama-sama ber¬jongkok disampingnya. Sementara para prajurit yang lain telah berlari-larian mendekati Sabungsari. Mengang¬kat tubuhnya dan membaringkannya menelentang.
”Pisau itu,” desis salah seorang prajurit.
Perwira yang memimpin para prajurit itu pun kemu¬dian berdesis, ”Aku akan mencabutnya. Aku membawa obat yang dapat menolongnya untuk sementara jika ia memang masih mungkin hidup.”
Dalam pada itu, Swandaru yang menjadi sangat lemah masih sempat melihat para prajurit yang sibuk merawat Sabungsari, sementara itu Pandan Wangi dan Sekar Mirah mencemaskannya.
“Aku tidak apa-apa,” berkata Swandaru, “bagaimana dengan prajurit itu?”
Pandan Wangi yang mencemaskan keadaan Swandaru menyahut, ”Prajurit yang lain telah berusaha menolongnya. Tetapi bagaimana keadaanmu sendiri. Lukamu masih berdarah.”
Swandaru menarik nafas dalam-dalam.
“Marilah,” berkata Pandan Wangi, ”aku akan mengobati luka-lukamu lebih dahulu.”
Swandaru tidak membantah ketika kemudian Pandan Wangi dan Sekar Mirah menolongnya, nampaknya masuk ke ruang dalam, dan membaringkannya disebuah amben yang besar.
Ketika Pandan Wangi dan Sekar Mirah merawatnya, Swandaru sempat menilai dirinya sendiri. Ketika pera¬saannya bergejolak karena Carang Waja terbunuh oleh prajurit Pajang yang datang itu, maka ia pun mencoba untuk menekannya. Meskipun ada juga singgungan pada perasaannya, bahwa orang lainlah yang telah membunuh orang itu, namun ternyata bahwa orang itu pun berada dalam keadaan yang parah. Sementara itu, para prajurit telah mengangkat tubuh Sabungsari ke pendapa. Dengan hati-hati perwira yang memimpin kelima orang prajurit itu pun mencabut pisau yang masih tertancap didada Sabungsari yang pingsan. Kemudian menaburkan obat yang dibawanya untuk menolong luka-luka itu sebelum mendapat perawatan yang lebih baik.
Ketika para prajurit masih dengan tegang menunggui Sabungsari yang pingsan, Swandaru dengan langkah yang belum mantap, telah keluar pula kependapa dengan dibantu oleh Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Oleh obat yang ditaburkan diluka-lukanya, maka darahnya telah menjadi hampir pampat. Sehingga karena itulah, maka ketika ia sudah berada di pendapa, maka ia pun segera duduk bersandar tiang dan membatasi geraknya, agar darahnya tidak menjadi deras lagi.
“Bagaimana keadaannya?” bertanya Swandaru dengan nada datar.
“Parah sekali,” jawab perwira yang memimpin kelompok prajurit peronda itu, ”darahnya terlalu banyak mengalir. Tetapi mudah-mudahan ia tertolong.”
Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengalami bertempur melawan Carang Waja, meskipun orang itu kemudian meninggalkannya. Ia harus mengakui bahwa Carang Waja adalah orang yang luar biasa.
Meskipun demikian, Swandaru itu berkata didalam hatinya, ”Seandainya ia tetap melawanku, aku pun akan membunuhnya pula, meskipun mungkin aku akan menja¬di lebih parah dari luka-lukaku ini.”
Sementara itu, para prajurit itu masih dicengkam oleh ketegangan. Obat yang ditaburkan oleh perwira itu memang dapat menolong serba sedikit. Darah yang mengalirpun menjadi jauh berkurang.
Tiba-tiba saja hampir diluar sadarnya, Swandaru ber¬kata, ”Apakah kalian bersedia menyampaikan hal ini kepada Kiai Gringsing? Mudah-mudahan ia sempat menolong prajurit yang terluka itu.”
“Kiai Gringsing,” perwira itu bergumam.
“Ya. Kiai Gringsing dipadepokan kecil itu,” desis Swandaru.
Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemu¬dian katanya, ”Apakah Kiai Gringsing mampu mengo¬batinya?”
“Aku tidak tahu pasti. Tetapi ia adalah seorang yang memiliki pengetahuan tentang obat-obatan. Kakang Untara mengetahui hal itu dengan pasti, karena ia pernah ditolong pula oleh Kiai Gringsing ketika ia terluka senjata.”
Perwira itu memandang ketiga prajuritnya yang lain. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Marilah. Seorang dari kalian akan pergi bersamaku. Dua orang lainnya akan menjaga Sabungsari. Carilah air dan titikkan dibibirnya yang kering agar ia mendapat sekedar kesegaran.”
“Marilah,” berkata Sekar Mirah. Lalu, ”Aku akan mencari mangkuk di ruang belakang.”
Seorang dari prajurit itu pun mengikutinya, sementa¬ra perwira itu pun kemudian minta diri bersama seorang prajuritnya yang lain untuk pergi ke Jati Anom. Melapor¬kan keadaannya dan singgah dipadepokan Kiai Gringsing.
Sepeninggal perwira itu, maka prajurit yang mengambil semangkuk air dibelakang, telah menitikkan air dibibir Sabungsari. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia melihat bibir itu bergerak. Tetapi nampaknya Sabungsari masih tetap belum sadarkan diri.
Meskipun demikian, agaknya obat yang ditaburkan di luka-lukanya telah berhasil mengurangi arus darah yang mengalir. Bahkan semakin lama menjadi semakin pampat, sehingga prajurit-prajurit yang menungguinya itu te¬lah berpengharapan, bahwa kawannya itu masih akan da¬pat ditolong jiwanya.
Dalam pada itu, Sekar Mirah telah mendekati pintu bilik ayahnya dan mengetuknya keras-keras. Agaknya pengaruh sirep telah lampau. Ketukan itu ternyata telah didengar oleh ayahnya dan bangun dengan gugup.
“Ada apa Sekar Mirah?” ia bertanya.
“Pergilah ke pendapa, Ayah,” desis Sekar Mirah.
Dengan mengusap matanya, Ki Demang pun berjalan tertatih-tatih ke pendapa oleh kantuk yang masih saja seolah-olah melekat dimatanya.
Demikian ia keluar dari pintu ruang dalam, hatinya melonjak. Ia melihat seorang prajurit terbaring diam ditunggui oleh dua orang kawannya, sementara Swandaru duduk bersandar tiang tanpa bergerak.
“Apa yang telah terjadi?” ia bertanya.
“Silahkan Ayah,” berkata Sekar Mirah.
Ki Demang pun dengan wajah yang tegang, duduk dipendapa, disamping Swandaru yang lemah.
“Ceriterakan peristiwa ini kepada Ayah, Sekar Mirah,” minta Swandaru.
Dengan singkat Sekar Mirah menceriterakan apa yang telah terjadi. Sambil menunjuk ke halaman ia ber¬kata, ”Ada beberapa sosok mayat dihalaman. Dan mung¬kin diantara mereka masih ada yang hidup. Tetapi kami tidak sempat berbuat apa-apa, karena Kakang Swandaru terluka dan prajurit itu pun parah sekali.”
K i Demang memandang berkeliling dengan tatapan mata yang tegang. Dilihatnya dua orang prajurit yang menunggui kawannya yang terbaring diam. Swandaru pun duduk bersandar dengan pakaian yang masih dikotori dengan darahnya sendiri.
“Aku akan memanggil para pengawal,” berkata Ki Demang, ”he, kenapa kalian tidak membunyikan kentongan?”
“Kentongan itu telah pecah,” sahut Sekar Mirah.
“Kenapa?” bertanya KiDemang.
“Aku memukulnya terlalu keras dengan tongkatku,” jawab Sekar Mirah.
“Jadi kau sudah membunyikan kentongan itu?” ber¬tanya Ki Demang.
“Sampai pecah,” jawab Sekar Mirah pula.
Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bergumam, ”Agaknya ada pengaruh sirep seperti yang pernah terjadi.”
“Ya. Ada pengaruh sirep. Dan agaknya para pengawalpun sekarang masih belum bangun,” berkata Sekar Mirah pula.
Ki Demang mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Aku akan membangunkan mereka. Jika orang-orang yang terusir itu menjadi gila, maka mereka akan dapat membunuh orang-orang yang sedang tidur nyenyak itu.”
Dada Sekar Mirah tersirap. Hal itu memang mungkin sekali terjadi. Sehingga karena itu, maka ia pun dengan serta merta menyahut, ”Ayah benar. Marilah Ayah. Kita akan membangunkan mereka.”
Ki Demang pun kemudian berkemas. Sambil menjin¬jing pedang, ia pun kemudian turun diikuti oleh Sekar Mirah. Ditangga ia berhenti sambil berkata, ”Jaga suamimu baik-baik Pandan Wangi. Kita masih harus ber¬hati-hati.”
“Ya Ayah. Kedua prajurit itu akan menemani kami.”
Ki Demang pun segera turun diikuti oleh Sekar Mirah. Mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka berdiri digardu didepan regol. Ternyata mereka melihat tubuh yang terbujur lintang didalamnya.
“Apakah mereka sudah mati?” desis Sekar Mirah.
Namun Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia meraba dada salah seorang dari mereka, tangannya masih merasakan tarikan nafas orang itu.
“Mereka hanya tertidur,” desis Ki Demang, ”aku akan membangunkan mereka.”
Sekar Mirah berdiri beberapa langkah dibelakang Ki Demang. Bagaimanapun juga ia masih harus tetap berhati-hati, karena mungkin masih ada diantara lawan yang bersembunyi diantara semak-semak.
Seperti yang dikatakan oleh Ki Demang, ternyata para pengawal itu hanyalah tertidur demikian nyenyak¬nya karena pengaruh sirep, sehingga mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Mereka terkejut ketika Ki Demang mengguncang tubuh mereka dan menyebut seorang demi seorang.
“Bangun. Lihat apa yang terjadi dihalaman Kademangan,” berkata Ki Demang.
“Apa yang telah terjadi Ki Demang?”
“Lihatlah sendiri. Kau akan dapat membayangkan, apakah kira-kira yang telah terjadi dihalaman Kade¬mangan,” jawab Ki Demang.
Para pengawal itu menjadi termangu-mangu. Namun kemudian Sekar Mirah berkata, ”Jangan bingung. Bangunlah dan pergilah ke gardu-gardu. Bangunkan kawan-kawanmu yang sedang tidur. Kemudian sebagian dari kalian pergi ke halaman Kademangan, karena ada tugas yang harus kalian lakukan.”
“Jangan lupa singgah dirumah Ki Jagabaya. Kata¬kan, bahwa telah terjadi sesuatu di Kademangan,” pesan Ki Demang kemudian.
Beberapa orang pengawal yang telah terbangun itu¬ pun segera berpencar. Mereka dengan tergesa-gesa mem¬bangunkan kawan-kawan mereka yang tertidur di gar¬du-gardu dan mengajak sebagian dari mereka ke halaman Kademangan.
“Yang lain, berhati-hatilah menghadapi kemung¬kinan yang masih dapat terjadi,” pesan para pengawal yang akan pergi ke halaman Kademangan.
Sementara itu, yang pergi ke rumah Ki Jagabaya pun segera mengetuk pintu. Ketika pintu terbuka, mereka melihat Ki Jagabaya berdiri sambil menjinjing pedang¬nya.
“Ada apa?” ia bertanya, ”kalian membuat aku terkejut.”
“Ki Demang memanggil Ki Jagabaya. Sesuatu telah terjadi dihalaman Kademangan.”
“Apa yang telah terjadi?”
“Kami tidak begitu jelas. Tetapi nampaknya cukup gawat.”
“Siapa yang menyuruh kau kemari?”
“Ki Demang sendiri.”
Ki Jagabaya menjadi termangu-mangu. Dengan kening yang berkerut merut ia bertanya, ”Apakah tidak ada tanda bahaya?”
“Tidak. Ki Demang tidak memerintahkannya.”
Ki Jagabaya pun kemudian minta diri kepada keluar¬ganya. Dengan tergesa-gesa bersama beberapa orang pengawal, ia pun pergi ke halaman Kademangan.
Betapa terkejut Ki Jagabaya melihat peristiwa yang telah terjadi. Di pendapa, seorang prajurit terluka parah, sementara Swandaru yang terlukapun masih duduk ber¬sandar tiang. Ia masih belum berani banyak bergerak dan berbicara. Ia masih berusaha untuk memampatkan luka-lukanya sama sekali.
“Sebaiknya kau tidur saja dipembaringan,” berkata Ki Jagabaya kepada Swandaru.
“Tidak mau, Paman,” jawab Pandan Wangi, ”aku, Sekar Mirah dan Ayah sudah menasehatkan agar Kakang Swandaru berbaring saja dipembaringan. Tetapi ia mera¬sa wajib untuk berada dipendapa dalam keadaan yang gawat seperti ini.”
“Serahkan semuanya kepada ayahmu,” berkata Ki Jagabaya.
Swandaru menggeleng. Jawabnya, ”Lukaku tidak terlalu parah. Prajurit itulah yang sangat parah. Semen¬tara biarlah para pengawal melihat tubuh yang terbaring dihalaman. Apakah ada diantara mereka yang masih hidup.”
Dalam pada itu, para pengawalpun mulai melakukan tugasnya. Mereka mulai meneliti tubuh-tubuh yang ter¬bujur diam ditanah.
Mereka kemudian menemukan dua orang dianta¬ra orang-orang Pasisir Endut yang masih hidup. Mereka mengangkat kedua orang itu ke pendapa dan membaring¬kannya terpisah dari Sabungsari.
“Mereka masih hidup,” berkata seorang pengawal.
Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan kedua orang itu dibaringkan dipendapa. Ia tidak dapat mengingkari kewajiban, bahwa betapapun kemarahan membakar hati, tetapi adalah menjadi kewajiban untuk merawat orang-orang yang terluka dipeperangan, meskipun mere¬ka adalah musuh sekalipun.
Para prajuritpun agaknya berpegang juga pada keharusan itu, sehingga mereka justru mengangguk-angguk ketika Swandaru diluar sadarnya memandangi para pra¬jurit yang menunggui Sabungsari yang terluka. Sementara para pengawal yang lainpun, telah memisahkan mereka yang terbunuh dipeperangan untuk diselenggarakan seba¬gaimana seharusnya.
Dalam pada itu, maka perwira prajurit Pajang yang sedang meronda itu pun berpacu menuju ke Jati Anom. Jarak antara Jati Anom dan Sangkal Putung memang tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Mereka memerlukan waktu untuk mencapai Kademangan Jati Anom.
Kedua prajurit itu tidak peduli sama sekali ketika langit menjadi merah dan kemudian matahari mulai men¬jenguk dari balik batas pandangan. Mereka tidak menghiraukan orang-orang yang berpapasan disepanjang jalan, memandang mereka dengan heran dan cemas. Orang-orang yang pergi ke pasar itu pun menjadi ber¬debar-debar pula melihat dua orang prajurit berpacu seperti angin.
Dua malam prajurit itu meronda. Namun jarak ke Jati Anom telah mereka tempuh kembali dalam waktu yang jauh lebih dekat. Mereka telah memilih jalan yang paling pendek. Dan mereka pun berpacu secepat dapat mereka lakukan.
Ketika mereka memasuki Kademangan Jati Anom, maka orang-orang Jati Anompun terkejut pula. Prajurit yang berjaga-jaga diregol rumah Untara terkejut pula. Apalagi karena kedua orang prajurit itu hanya mengangguk saja ketika mereka melintas.
Di halaman keduanya meloncat turun. Menyerahkan kudanya kepada seorang pekatik yang menyongsongnya.
Untara pun terkejut ketika seorang prajurit mem¬beritahukan kehadiran perwira yang sedang bertugas itu bersama seorang prajuritnya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pun telah menerimanya.
“Laporkan,” perintah Untara dengan singkat.
Perwira itu pun kemudian melaporkan peristiwa yang telah terjadi di Kademangan Sangkal Putung. Melaporkan keadaan Sabungsari dan Swandaru yang terluka parah.
“Sabungsari masih hidup,” katanya kemudian, ”tetapi keadaannya sangat gawat. Aku sudah mengobati¬nya untuk sementara. Sedangkan Swandaru minta agar aku singgah dipadepokan gurunya.”
“Disini ada seorang yang ahli dalam pengobatan,” berkata Untara, ”bawa orang itu agar ia mengobati pra¬jurit muda yang terluka itu.”
“Bagaimana dengan Kiai Gringsing?” bertanya perwira itu.
“Kenapa harus Kiai Gringsing?” Untara ganti ber¬tanya.
Perwira itu menjadi bingung. Ia sadar, bahwa dalam lingkungan keprajuritan memang sudah ada seorang yang ahli didalam soal obat-obatan. Tetapi ia pun menerima pesan Swandaru agar ia singgah dipadepokan Kiai Gring¬sing untuk minta orang tua itu datang ke Sangkal Putung.
Karena itu, hampir diluar sadarnya, perwira itu pun menjawab, ”Menurut Swandaru, Ki Untara mengetahui dengan pasti, bahwa Kiai Gringsing memiliki ilmu pengo¬batan yang tinggi, karena Ki Untara sendiri pernah dira¬watnya ketika Ki Untara terluka senjata.”
Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia¬ pun menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa Kiai Gringsing adalah seorang yang memi¬liki ilmu pengobatan yang lebih baik dari seorang perwiranya yang bertugas di bidang pengobatan. Ia mengerti Kiai Gringsing yang dahulu mempunyai hubungan khusus de¬ngan ayahnya, adalah orang yang aneh, yang menyembu¬nyikannya pada saat ia terluka, karena ia harus bertem¬pur melawan Alap-alap Jalatunda dan sekaligus Pande Besi dari Sandang Gabus bersama beberapa orang kawan¬nya.
Perwira yang menyampaikan hal itu, menjadi berde¬bar-debar. Ia melihat teka-teki diwajah Untara. Apakah ia dapat menerima pesan Swandaru, atau ia justru menjadi marah karenanya.
Namun akhirnya perwira itu menarik nafas da¬lam-dalam ketika Untara berkata, ”Baiklah. Pergilah secepatnya kepada Kiai Gringsing, dan beritahukan apa yang terjadi. Muridnya itu tentu merasa lebih baik diobati oleh gurunya sendiri.”
“Bagaimana dengan Sabungsari?” bertanya per¬wira itu.
“Percayakan juga ia kepada Kiai Gringsing,” jawab Untara.
Perwira itu mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Aku mohon diri untuk melaksanakan tugas ini.”
“Makan sajalah dahulu,” seorang kawannya meperingatkan ketika ia siap untuk berangkat.
Tetapi perwira itu menggeleng. Jawabnya, “Mereka yang terluka memerlukan pertolongan secepatnya.”
“Tetapi kau tentu perlu beristirahat pula.”
“Nanti aku akan beristirahat sehari semalam sete¬lah tugas ini selesai.”
Perwira itu pun kemudian melanjutkan perjalanan ke padepokan kecil disebelah Jati Anom bersama seorang prajurit yang menyertainya dari Sangkal Putung.
Kedatangan prajurit itu dipadepokan Kiai Gringsing, membuat seisi padepokan itu terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka mempersilahkan mereka duduk dipendapa. Dengan wajah tegang, Kiai Gringsing pun segera bertanya, apakah yang telah terjadi.
Dengan singkat perwira itu menceriterakan peristiwa yang telah terjadi di Sangkal Putung. Tentang Swandaru yang terluka dan Sabungsari yang parah.
Wajah-wajah yang mendengar peristiwa itu pun menjadi tegang. Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Dengan nada dalam Kiai Gringsing bertanya, ”Bagaimana keadaan mereka saat Ki Sanak meninggalkan Sangkal Putung?”
“Sabungsari dalam keadaan gawat, Kiai. Sementara Swandaru atas usahanya, dapat memampatkan luka-lukanya dengan sejenis obat-obatan,” jawab perwira itu.
“Apakah obat itu tidak dipergunakan juga untuk Angger Sabungsari?” bertanya Kiai Gringsing.
“Sabungsari mempergunakan obat yang kami bawa sebagai bekal. Dan agaknya dapat juga sedikit menolong untuk sementara,” berkata perwira itu. Kemudian, ”Atas saran Swandaru dan atas persetujuan Ki Untara, kami mohon Kiai bersedia datang ke Sangkal Putung.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Jawabnya, ”Baik. Baik. Aku akan bersiap-siap.”
Ketika Kiai Gringsing dengan tergesa-gesa berdiri un¬tuk bersiap, maka Agung Sedayu pun berkata, ”Aku ikut, Guru.”
Kiai Gringsing berpikir sejenak. Lalu Baiklah. Mari¬lah kita pergi bersama-sama.”
Tetapi mereka tidak akan dapat meninggalkan Glagah Putih. Karena itu, sebelum Glagah Putih berta¬nya. Kiai Gringsing sudah mendahuluinya berkata, ”Ber¬siaplah. Kau akan ikut pula.”
“Tetapi, bukankah Paman akan datang kemari?” bertanya Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing.
Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya kepada Glagah Putih, ”Apa kata ayahmu? Kapan ia akan datang?”
“Ayah akan datang kapan saja,” jawab Glagah Putih.
“Biarlah salah seorang pergi ke Banyu Asri menga¬barkan kepergian Glagah Putih. Adalah lebih baik bahwa pada saat-saat padepokan ini kosong ayahnya berada disini. Tetapi ia tidak kecewa karena ia sudah mengetahui bahwa Glagah Putih tidak ada dipadepokan,” berkata Kiai Gringsing.
Agung Sedayu pun kemudian bangkit pula. Ia langsung pergi ke belakang untuk mempersiapkan kuda dan ber¬pesan kepada salah seorang anak muda yang tinggal dipadepokan itu untuk pergi ke Banyu Asri.
Sejenak kemudian maka semuanya telah siap. De¬ngan membawa kuda-kudanya ke halaman, Kiai Gringsing pun kemudian mempersilahkan kedua prajurit itu untuk pergi bersamanya ke Sangkal Putung.
“Maaf, aku mengusir Ki Sanak berdua dari pade¬pokan ini,” berkata Kiai Gringsing.
“Justru itulah yang paling baik dalam keadaan seperti ini, Kiai,” jawab perwira itu.
Sejenak kemudian, maka kedua prajurit itu pun telah berpacu ke Sangkal Putung diikuti oleh Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih. Disepanjang jalan mere¬ka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali, karena pikiran mereka sedang dicengkam oleh peristiwa yang te¬lah terjadi di Sangkal Putung.
Dalam pada itu, dengan gelisah, para prajurit yang menunggui Sabungsari menunggu kawan-kawannya yang pergi ke Jati Anom. Sudah cukup lama mereka menunggu. Sekali-sekali mereka menitikkan air kebibir Sabungsari. Namun Sabungsari masih saja pingsan meskipun bibirnya kadang-kadang sudah mulai bergerak.
Tetapi mereka sedikit tenang karena obat yang mere¬ka taburkan pada luka-luka Sabungsari berhasil mengu¬rangi, bahkan hampir memampatkan darah dari luka-lukanya.
Swandaru yang masih duduk bersandar tiang, menjadi gelisah pula. Ia sendiri mengalami luka-luka. Tetapi lukanya tidak separah Sabungsari. Prajurit yang telah berhasil membunuh Carang Waja itu.
Ketika Swandaru minum seteguk air hangat, maka terasa tubuhnya menjadi lebih segar, meskipun ia masih juga merasa sangat lemah. Namun demikian, ia selalu menolak jika seseorang mempersilakannya untuk berbaring saja dipembaringannya.
Para prajurit itu tersentak ketika mereka melihat Sabungsari membuka matanya perlahan-lahan. Dengan penuh harapan mereka beringsut mendekat. Namun mata itu pun kemudian tertutup kembali.
Kedua prajurit yang menungguinya menjadi semakin gelisah. Ketika mereka melihat bibir Sabungsari ber¬gerak, mereka telah menitikkan air beberapa tetes kebibir yang kering itu.
Sekar Mirah yang kemudian mendekatinya pula ber¬desis, ”Air itu akan memberinya kesegaran. Tetapi jangan terlalu banyak.”
Kedua prajurit itu mengangguk. Salah seorang dari mereka berdesis, ”Mudah-mudahan kedatangan Kiai Gringsing tidak terlambat.”
Sementara para prajurit dan mereka yang berada dipendapa itu menjadi gelisah, Ki Demang dan Ki Jaga¬baya telah mengatur penyelenggaraan beberapa sosok mayat orang-orang Pesisir Endut yang terbunuh ter¬masuk Carang Waja sendiri. Sementara mereka yang ter¬luka. telah pula di tolong dengan obat-obatan yang ada. Ketika mereka merintih kesakitan, maka beberapa orang penga¬wal telah mendekatinya.
“Air,” desis salah seorang dari orang-orang Pasisir Endut yang terluka itu.
Senang atau tidak senang, maka salah seorang penga¬wal telah mencari air dan kemudian menitikkan kebibir orang-orang yang terluka itu.
“Terima kasih,” desis salah seorang dari mereka.
Pengawal itu tidak menyahut. Namun ketika ia sempat memandang tatapan mata orang itu,maka timbullah perasaan iba dihatinya. Nampaknya orang itu sudah ber¬putus asa. Tetapi agaknya adalah diluar dugaannya bah¬wa masih ada orang yang bersedia mengambil air untuknya. Justru karena itu, matanya tidak lagi nampak menyala oleh dendam. Tetapi justru menjadi sayu dan basah.
Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berdesis, ”Tunggulah sejenak. Jika Kiai Gringsing itu datang, maka kau pun tentu akan diobatinya.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam sekali. Agak¬nya ada yang akan dikatakannya. Tetapi bibirnya tidak melontarkan sepatah katapun.
Dalam pada itu, Kademangan Sangkal Putung telah menjadi sibuk karena kematian beberapa orang di halaman rumah Ki Demang. Kedatangan orang-orang Sangkal Putung untuk melihat apa yang telah terjadi, tidak dapat dibendung lagi. Para pengawal terpaksa men¬dorong beberapa orang untuk menyingkir dari tangga pen¬dapa, karena ada diantara mereka yang memaksa untuk naik. Kecuali karena mereka ingin melihat keadaan Swan¬daru, mereka pun ingin melihat keadaan prajurit Pajang yang terluka parah dan orang-orang Pesisir Endut yang terluka pula.
Dengan marah maka beberapa orang justru berteriak, “Bunuh saja mereka.”
Tetapi para pengawal yang sempat menjelaskan, mengatakan, bahwa tidak seharusnya mereka yang ter¬tawan itu dibunuh.
Ki Jagabaya yang juga mencemaskan keadaan Sabungsari dan Swandaru setiap kali mempersilahkan mereka dibawa masuk. Tetapi setiap kali Swandaru selalu menolak. Ia lebih senang berada dipendapa meskipun hanya sekedar duduk bersandar tiang, dari pada tidur dipembaringan.
Orang-orang Sangkal Putung ternyata tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka pun segera menyibak ketika beberapa orang yang berdiri dibelakang berteriak
“Minggir, minggir. Kiai Gringsing.”
Bagi orang-orang Sangkal Putung, Kiai Gringsing jauh lebih banyak mereka kenal daripada para prajurit Pajang di Jati Anom. Karena itu, maka yang mereka sebut adalah dukun tua yang memang pernah tinggal di Sangkal Putung dengan nada penuh harapan, agar mere¬ka yang terluka dapat segera disembuhkan. Terutama Swandaru.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 22 Januari 2009 at 12:22  Comments (165)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-24/trackback/

RSS feed for comments on this post.

165 KomentarTinggalkan komentar

  1. Untuk Ki Waskita,

    Rontal pusaka ada pada comment putra nusantara yang menjawab HUT alm. SHM

    Jangan mudah putus asa.
    Nilai sesuatu tergantung usaha.
    Tidak mengenal tua dan muda.
    Tapi saling bekerja sama.

    Meraih kehidupan dunia.
    Tapi tidak lupa dengan yang disana.

  2. sabar ki Waskita,
    silahkan diklik nama putra nusantara, dan jilid berikutnya ada di halaman ttg SHM

  3. @Ki Waskita,
    Tidak usah terburu-buru dan menjadi stress, memang mungkin panjenengan akan agak lama baru bisa mengunduh, tapi kalau dicermati, setiap ada permintaan tolong dan pernyataan kesulitan selalu akan ada cantrik yang bersedia membantu. Contohnya untuk kitab 24 sudah ada yang memberi petunjuk dimana harus dicari Putra Nusantara lengkap dengan hari (26 Jan) dan jam (17.29).
    Sedangkan rontal 25 dari para cantrik yang lain kuncinya ada di halaman SH. Mintardja dibawah hari lahir beliau.
    Ki Waskita setiap permintaan tolong rasanya selalu dijawab disini, baik terang2an, maupun setengah gelap.
    Jadi enjoy aja.
    Nuwun
    (mohon maaf kalau informasi ini mengganggu kesenangan berburu para cantrik yang lain)

  4. yg sabar rekan2 semua.tapi jangan lupa saling mengingatkan kalau ada yg tersesat di jalan. saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. cuma masalah waktu aja kok kebenaran itu akan terungkap terang benderang.

    Kalau saya, cuma berharap nyai Semangkin tidak melupakan saya karena kepincut sama Ki Gede.

    Kasihan anaknya kelak mencari siapa bapaknya yg sesungguhnya ;P

    halah opo meneh… iki ;P

  5. Wah sudah ada cantrik yang “ndlosor”

    Buat Ki Waskita, saya ikut prihatin dengan tensi anda, saya bisa “merasakan” mempunyai tensi setinggi itu.

    Sepertinya bukan maksud Ki GD utk seperti itu, tapi saya merasakan keasyikan luar biasa dari cara Ki GD memberikan buku-buku ADBM ini, ada kepuasan tersendiri yang ketika buku berhasil di unduh.

    Jadi saran saya, santai saja dalam berburu kitab ADBM ini, gak usah kemrungsung.

    Salam Cantrik paling Santai

    Joko Brondong

  6. akhirnya setelah mesu diri sesuai petunjuk dari kitab yang dikirim para sederek,hari ini langsung udah isa ambil 3 kitab sekaligus,makasih banyak n khusus ki GD trimakasih banyak 3X,maksih…..kasih…sih…sh…

  7. Memang asik berburu kita dipadepokan ini,
    bukan hanya sekedar baca kitab, ilmu2 lain pun kita dapatkan….Terus maju Ki GD

  8. Tolong di mana kitab yg 124 saya sudah coba kemana-mana tetapi engak ketemu siapa tau para cantrik bisa ngebantu

    Salam,Kalimantan

  9. @ M.Faisal
    Seperti janji Ki GD, kitab dititipkan pada yang tahu alasan perlunya Ki GD memberi bonus pada tgl 26 jan, yang berhasil ditebak oleh PUTRA NUSANTARA, 26 jan mrpk ultah sang maestro.
    Kecermatan, kesabaran, kesenangan berpetualang akan membantu anda menemukan karena kitab masih ada disitu… jangan dicari ditempat lain
    Selamat mengeksplorasi…

  10. Ampun, Ki GD, kulo niki wong anyar. Kok boten saget mendet 124. Wonten ning ki putra nusantara, kulo sampun klik piyambake, eh boten medal. Kuluo nyuwun petunjuk, kalihan 121.

    matursuwun

    patihmantahun

  11. wuihhhhhhhhhhhhh mblibet tenan, namung puassssssssssss, ampe cruttttttttt,

    makasih Ki Gd

  12. Mohon petunjuk sederek2 para pendekar untuk bisa down load kitab 24, dimana ki putra nusantara bisa dicar?

    matur nuwun sak derengipun

  13. Maaf ternyata kitab 24 sudah saya ketemukan, ternyata dengan sedikit pemusatan nalar budi saya baru bisa menghilangkan ilmu getar yang disebarkan oleh carang waja, sehingga kitab 24 pun kelihatan jelas, tinggal akan saya ambil, mohon doa restu

    # ikut senang Ki

  14. Pangeran BenHawa,
    apa isih seduluru BenHur ya…..????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: