Buku II-24

“Apapun yang akan kau lakukan terhadap Untara, Agung Sedayu maupun Swandaru bukanlah urusanku. Bunuhlah aku yang pertama-tama. Aku menun¬tut kematian sahabatku.”
“Siapakah sahabatmu?” bertanya Carang Waja.
“Aku tidak perlu menyebutnya. Sudah terlalu ba¬nyak orang yang kau bunuh. Karena itu, kau tentu tidak akan dapat mengingatnya lagi.”
Carang Waja menggeram. Sementara Sabungsari te¬lah melangkah mendekatinya.
“Jika kau tidak keberatan, tinggalkan Carang Waja,” berkata Sabungsari kepada Pandan Wangi.
“Ia amat berbahaya,” sahut Pandan Wangi sambil bertempur. Namun karena lawannya belum memper¬gunakan ilmunya yang aneh, maka Pandan Wangi tidak terlalu terdesak karenanya.
“Aku telah bertekad untuk membalas dendam, atau akan mati karenanya.”
Pandan Wangi menjadi ragu-ragu. Tetapi, ia masih tetap bertempur terus. Ia sadar, bahwa jika ia melepas¬kan lawannya kepada orang lain, Swandaru akan dapat tersinggung. Sehingga karena itu, maka seolah-olah ia menunggu keputusan suaminya.
Swandaru yang sudah banyak kehilangan tenaga, ma¬sih sempat berpikir. Ia memang tidak dapat berpegangan sekedar pada harga diri tanpa menghiraukan keadaan yang sebenarnya.
Swandaru pada kedudukannya bukan sekedar dirinya. Di Sangkal Putung ia adalah pimpinan pasukan pengawal. Karena itu, yang harus dipertimbangkannya adalah Sangkal Putung dalam keseluruhannya.
Kehadiran prajurit Pajang, bukannya akan menyusutkan harga dirinya sebagai pimpinan pasukan pengawal Sangkal Putung, karena Kademangan itu memang termasuk ke dalam wilayah perlindungan Pajang.
Apalagi karena kenyataan yang terjadi atas dirinya. Darah yang sudah banyak mengalir dari luka-lukanya. Meskipun luka-luka itu sendiri tidak berbahaya, tetapi jika darah yang mengalir tidak dapat dipampatkan, maka akibatnya akan gawat, apalagi ia masih harus bertempur.
Karena itu, maka Swandaru tidak dapat tetap menge¬raskan hatinya. Jika benar yang dikatakan prajurit itu, bahwa jika prajurit itu sudah mati, ia harus bertempur melawan orang yang bernama Carang Waja itu, maka ia harus mempunyai kesempatan untuk memampatkan darahnya. Baru kemudian ia akan mendapatkan kesem¬patan untuk berperang tanding.
Dalam pada itu, terdengar Carang Waja berkata, ”Prajurit yang malang. Kau benar-benar orang yang tidak tahu diri. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang prajurit he? Sepantasnya kau mencari lawan yang seimbang. Tetapi jika kau hanya sekedar ingin membunuh diri, marilah, aku kira kau akan mendapat kesempatan itu. Dan aku akan mencari orang lain yang akan tetap hidup, mengabarkan peristiwa yang terjadi ini kepada Senapati Prajurit Pajang di Jati Anom, agar disampaikan kepada Pangeran Benawa. Aku akan menunggu kedatangannya dengan senang hati, karena aku memang ingin mem¬bunuhnya sebagaimana ia membunuh kedua saudara seperguruanku.”
“Apapun yang akan terjadi atas diriku, maka aku akan memuntahkan dendam pribadiku jika lawanmu memberi kesempatan kepadaku.”
Pandan Wangi masih belum melepaskan lawannya. Namun dalam pada itu terdengar Swandaru berkata, ”Berilah orang itu kesempatan. Meskipun ia tidak ber¬maksud membunuh diri, tetapi ia dapat melihat kemung¬kinan pahit itu terjadi. Namun mudah-mudahan ia dapat melindungi dirinya sendiri.”
Terdengar Carang Waja tertawa. Diantara suara ter¬tawanya ia berkata, ”Baiklah. Aku beri kau kesempatan untuk mati. Tetapi aku tidak akan membiarkan perem¬puan itu membunuh siapapun juga dari orang-orangku. Karena itu, biarlah ia mendapatkan lawannya.”
Dalam pada itu, terdengar Carang Waja meneriakkan isyarat kepada orang-orangnya yang bertempur di luar regol halaman. Agaknya ia telah memanggil pengikutnya untuk menahan agar Pandan Wangi tidak sempat berbuat apapun juga.
“Apa artinya prajurit-prajurit diluar regol itu. Tahan sajalah agar mereka tidak sempat lari. Aku akan memilih, siapakah yang berhak hidup diantara mereka.”
Sejenak kemudian, maka dua dari tujuh orang yang berada diregol itu meloncat memasuki halaman. Mereka langsung menempatkan, diri untuk melawan orang yang akan terlepas dari arena pertempuran melawan Carang Waja.
Dalam pada itu, para prajurit yang berada diluar pin¬tu regol halaman Kademangan Sangkal Putung, menda¬pat kesempatan untuk bernafas. Karena lawan mereka berkurang dua orang, maka keseimbangan pertempuran itu pun segera berubah. Jika semula para prajurit yang dipimpin oleh seorang perwira itu merasa terdesak dan bahkan seoalah-olah tidak ada harapan lagi untuk mele¬paskan diri, maka setelah dua orang lawan mereka memasuki halaman, para prajurit itu pun telah mendapat kesempatan untuk bertempur seorang melawan seorang, kecuali pimpinan mereka yang masih harus bertempur melawan dua orang. Namun para prajurit yang lainpun tidak membiarkannya bertempur dalam kesulitan. Setiap kali para prajurit juga berusaha membantunya dengan melibatkan diri dalam pertempuran ganda.
Di halaman, Sabungsari segera melibatkan diri mela¬wan Carang Waja yang telah ditinggalkan oleh Pandan Wangi. Demikian Carang Waja mendapatkan lawannya yang baru, maka dengan serta merta ia menghentakkan kakinya sambil berteriak nyaring.
Ilmunya itu ternyata telah mengejutkan Sabungsari. Rasa-rasanya lantai tempatnya berpijak itu pun telah ber¬guncang. Pendapa itu rasa-rasanya bagaikan diayun oleh gempa yang dahsyat.
Sejenak Sabungsari tertegun. Namun ia pun harus berusaha mempertahankan keseimbangannya agar ia tidak terlempar jatuh.
Pada saat itulah Carang Waja menyerang dengan garangnya. Dengan pisau belati panjangnya ia menikam leher lawannya yang sedang berusaha memperbaiki keseimbangannya.
Tetapi Sabungsari tidak menyerah pada serangan yang pertama. Ia masih sempat menjatuhkan dirinya, sehingga serangan lawannya itu tidak menjatuhkan dirinya, sehingga serangan lawannya itu tidak menyen-tuhnya.
“Anak iblis,” teriak Carang Waja, “betapapun juga, kau akan segera mati. Prajurit Pajang bukanlah lawan yang patut aku perhitungkan.”
Carang Waja pun segera mempersiapkan dirinya pula. Namun ia menjadi heran, melihat betapa tangkasnya Sabungsari melenting berdiri. Demikian kakinya menje¬jak tanah, demikian anak muda itu sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Kecepatan bergerak Sabungsari telah menarik per¬hatian Carang Waja. Ternyata bahwa Sabungsari bukan¬nya prajurit kebanyakan. Karena itu, Carang Waja meli¬hat, bahwa prajurit muda itu masih dapat diguncang dengan ilmunya. Karena itu, maka ia pun tentu akan se¬gera dapat diselesaikannya.
Selagi Sabungsari mempersiapkan dirinya, maka sekali lagi Carang Waja berteriak sambil menghentakkan kakinya. Dan sekali lagi rasa-rasanya tanah tempatnya berpijak itu berguncang. Seperti yang telah dilakukannya, maka Sabungsari pun segera berusaha memantapkan keseimbangannya dengan merendahkan dirinya, semen¬tara ia masih sempat melihat serangan lawannya melun¬cur dengan dahsyatnya.
Sekali lagi Sabungsari terpaksa merendahkan dirinya dan bahkan berguling dilantai untuk menghindari sambaran pisau belati lawannya yang hampir menyentuh kening.
Dengan demikian, maka Sabungsari pun segera menyadari, bahwa ia memang berhadapan dengan sese¬orang yang pilih tanding, yang memiliki ilmu yang sulit dicari tandingnya.
Tetapi Sabungsari ternyata bukannya orang yang cepat kehilangan akal dan putus asa. Ia sengaja memper¬gunakan benturan-benturan pertama untuk mempelajari ilmu lawannya.
Karena itu ia tidak tergesa-gesa mengambil sikap. Dengan penuh kewaspadaan ia meloncat bangkit. Ketika kakinya menjejak tanah, ia merasakan keseimbangannya tetap mantap.
Namun sesaat kemudian, sekali lagi ia melihat lawan¬nya menghentakkan kakinya sambil berteriak. Seperti yang sudah terjadi, maka ia pun telah berguncang pula. Pendapa itu bagaikan akan runtuh karena gempa yang luar biasa.
Sekali lagi Sabungsari harus mempertahankan keseimbangannya. Tetapi ia tidak lagi berguling dilantai. Meskipun ia masih harus merendahkan dirinya, tetapi ia sudah mulai dapat mengatasai kebingungannya menghadapi ilmu yang aneh itu.
Karena itu, maka ia pun menyilangkan kakinya sam¬bil menjatuhkan diri duduk dilantai. Namun tangannya sudah siap menghadapai segala kemungkinan yang bakal terjadi. Seperti lawannya, Sabungsari tidak mempergunakan senjata panjangnya. Tetapi ia mencabut keris¬nya untuk melawan pisau belati Carang Waja.
Ketika Carang Waja meluncur menyerang, maka dengan tangkasnya Sabungsari bergeser. Demikian serangan lawannya meluncur tanpa menyentuhnya, maka dengan kecepatan yang luar biasa, Sabungsari telah mengayunkan kakinya mengejar lawannya, tanpa menghiraukan keseimbangannya.
Kecepatan yang tidak diperhitungkan itulah yang telah mengejutkan Carang Waja. Tiba-tiba saja terasa lambungnya dihantam oleh kaki lawannya. Demikian kerasnya, sehingga Carang Waja telah terlempar bebera¬pa langkah. Hampir saja kepalanya membentur tiang pen¬dapa. Untunglah, bahwa ia sempat menahan dirinya, sehingga benturan itu dapat dihindarkan.
Tetapi pada saat yang sama, Sabungsari pun telah ter¬banting jatuh. Rasa-rasanya ia telah kehilangan keseim¬bangannya disaat ia melontarkan serangannya. Meskipun serangan itu mengenai sasarannya, tetapi ia pun bagaikan terlempar pula dan jatuh dilantai.
Pada saat yang hampir bersamaan pula keduanya telah meloncat berdiri. Keduanyapun segera bersiap melancarkan serangan masing-masing.
Tetapi Carang Waja lebih cepat sekejap. Ia sempat menghentakkan kakinya dan sekali lagi mengguncang tanah tempat berpijak. Dan sekali lagi ia melihat lawan¬nya menjatuhkan diri sambil menyilangkan kakinya, sementara kerisnya tegak didepan dadanya.
Carang Waja yang melihat ketangkasan lawannya tidak segera menyerangnya. Tetapi sekali lagi ia menghentakkan kakinya, sehingga guncangan bumi itu pun rasa-rasanya menjadi semakin dahsyat. Pendapa itu benar-benar bagaikan runtuh menimpa kepala Sabung¬sari.
Tetapi pendapa itu tidak runtuh. Pendapa itu tetap tegak seperti tidak bergetar sama sekali.
Tetapi Sabungsari tidak sempat berpikir lebih pan¬jang. Carang Waja telah meluncur dengan pisau belatinya mengarah kelehernya.
Dengan serta merta Sabungsari beringsut sambil merendahkan kepalanya hampir menyentuh lantai. Ia mulai menyadari, bahwa setelah serangan dilontarkan, maka guncangan tempatnya berpinjak menjadi susut.
Karena itu, maka sambil menjatuhkan diri hampir ber¬baring dilantai, Sabungsari telah siap melenting untuk mengejar lawannya dengan serangan.
Tetapi ternyata bahwa Carang Waja bergerak lebih cepat. Ujung pisau belatinya tidak seluruhnya dapat dihin¬dari oleh lawannya. Ternyata bahwa Sabungsari telah berdesah menahan pedih yang telah menyengat pundak¬nya.
Seleret luka telah menyobek kulit dipundaknya, sehingga sejenak kemudian, maka darahpun mulai mengalir dari lukanya itu.
Terdengar Sabungsari menggeram. Ia sadar, bahwa lawannya memang orang yang luar biasa. Seorang yang sulit untuk diatasinya.
Ternyata bahwa luka itu telah memperlambat gerak¬nya. Sebelum ia sempat bangkit dan bersiap sebaik-baik¬nya, Carang Waja telah menghentakkan kakinya sekali la¬gi, sehingga rasa-rasanya kepala Sabungsari menjadi pe¬ning karena gangguan keseimbangannya. Pendapa itu rasa-rasanya bukan saja berguncang, tetapi kemudian justru mulai berputar.
Tetapi justru karena itu, maka Sabungsari tidak beru¬saha bangkit berdiri. Ia masih tetap duduk bertelekan pada sikunya. Sementara tangannya yang lain telah siap dengan kerisnya untuk menghadapi kemungkinan yang lebih pahit, apabila Carang Waja menyerangnya dengan gerak pendek.
Tetapi perhitungan Carang Waja pun cukup cermat. Yang dilakukannya kemudian adalah meloncat sambil mengayunkan pisau belatinya mengarah ke dadanya.
Sabungsari tidak bergeser. Tetapi ia siap menghadapi serangan itu dan menyongsongnya dengan ujung keris¬nya. Namun ternyata bahwa Carang Waja hanya sekedar meloncat mendekat. Ia tidak menusukkan pisau belati¬nya, karena ia pun tidak mau tergores oleh keris lawan¬nya. Yang dilakukan kemudian adalah meloncat ke samping sambil menghentak sekali lagi dibarengi dengan teri¬akan yang nyaring.
Sabungsari benar-benar menjadi pening. Selagi ia bertahan agar isi dadanya tidak runtuh, ia melihat serang¬an lawannya menyambarnya sekali lagi. Dan sekali lagi ia terlambat. Ujung pisau belati itu telah mengenai punggungnya.
Sabungsari menjadi sangat marah. Ia sudah terluka ditubuhnya. Dan darah telah mulai mengalir. Namun ia ti¬dak dapat ingkar akan kemampuan lawannya, sehingga ia tidak boleh membiarkan serangan-serangan demikian berlangsung terus atasnya.
Ketika kemudian Carang Waja menghentak bumi sekali lagi, maka Sabungsari pun meluncur turun dari tangga pendapa. Ia ingin bertempur ditempat yang lebih luas tanpa diganggu oleh tiang-tiang dan umpak-umpak batu. Namun, disaat ia meluncur turun ke halaman, Carang Waja masih sempat mengejarnya, dan melukai¬nya sekali lagi dilambung meskipun hanya segores kecil.
Tetapi sebelum Sabungsari bersiap, maka tanah tempatnya berpijak telah terguncang lagi. Sekali lagi pisau lawannya telah melukai dadanya. Lebih parah dari luka-luka yang terdahulu.
Betapa kemarahan menghentak-hentak dada anak muda itu. Seolah-olah ia tidak mendapat kesempatan untuk mengadakan perlawanan. Sekilas ia melihat lawan¬nya menyambar. Namun kemudian berdiri tegak di halaman rumah Ki Demang Sangkal Putung.
Sementara itu, Sabungsari masih terkapar bersandar tangga pendapa. Luka-lukanya terasa pedih sepedih luka dihatinya.
Dalam pada itu, Swandaru yang masih bertempur melawan dua orang pengikut Carang Waja, sempat juga melihat keadaan Sabungsari. Seakan-akan tidak ada lagi kesempatan bagi Sabungsari untuk bangkit dan melin¬dungi dirinya sendiri.
Karena itulah, maka ia harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang bakal datang. Jika anak muda itu terbunuh, maka ia harus siap menggantikan tempatnya, apapun yang akan terjadi atasnya. Bahkan seakan-akan ia telah mengorbankan harga dirinya dengan memberikan kesempatan kepada anak muda itu untuk melawan Carang Waja, sehingga diluar niatnya, ia telah menjerumuskannya ke dalam maut.
Dengan demikian, maka Swandaru yang telah susut kekuatannya karena darahnya yang mengalir itu tidak lagi memperhitungkan dirinya yang sudah terluka. Tiba-tiba saja ia menghentakkan segenap kemampuan¬nya, melampaui perhitungan nalarnya. Cambuknyapun tiba-tiba telah meledak dengan dahsyatnya, sehingga kedua lawannyapun terkejut karenanya. Dengan mengerahkan kekuatan yang ada, maka Swandaru berusaha untuk secepatnya mengalahkan lawannya dan mempersiapkan diri untuk melawan Carang Waja yang garang itu.
Ternyata bahwa kedua lawan Swandaru terkejut menghadapi perubahan yang tiba-tiba itu. Cambuk Swan¬daru yang berputar seperti angin pusaran tiba-tiba telah meledak seperti guntur, dan mematuk seperti ujung petir menyambar puncak pepohonan.
Ketika terdengar ledakkan yang dahsyat, maka seorang lawannya telah berdesah tertahan. Segores luka telah menyobek keningnya yang tersentuh ujung cambuk Swandaru yang berkarah rangkap.
Swandaru yang melihat darah meleleh dikening, berusaha untuk menekan lawannya lebih dahsyat lagi, sehingga ia melupakan keadaannya sendiri. Cambuknya meledak semakin dahsyat dan ujung cambuknya seolah-olah mempunyai mata yang tajam, sehingga kemana lawannya pergi, ujung cambuk itu telah mengejarnya.
Sekali lagi orang yang terluka dikening itu mengaduh. Pundaknyapun telah dikoyak oleh juntai cambuk Swanda¬ru yang dahsyat itu.
Sementara itu, Pandan Wangi yang mendapat kedua lawan yang baru, telah dengan mantap menempatkan dirinya. Keduanya tidak banyak dapat berbuat sesuatu. Hentakan kaki Carang Waja tidak banyak mempenga¬ruhi Pandan Wangi yang telah menjadi semakin jauh dari padanya.
Yang menjerit kemudian adalah lawan Sekar Mirah. Ketika Carang Waja memburu lawannya, turun dari pen¬dapa, maka jarak dari padanyapun menjadi semakin jauh. Karena itulah, maka Sekar Mirah pun kemudian segera dapat mendesak lawannya.
Yang paling malang dari para pengikut Carang Waja adalah lawan Sekar Mirah. Ternyata bahwa tongkat baja Sekar Mirah mampu mematahkan senjata lawannya.
Dengan wajah yang pucat lawan Sekar Mirah itu pun kemudian harus menerima nasibnya yang buruk. Ayunan yang tidak terelakkan telah menghantam pelipisnya, sehingga seolah-olah kepalanya telah terlempar dari tubuhnya.
Namun, meskipun kepala itu masih tetap melekat dilehernya, tetapi retak ditulang kepalanya, telah menghempaskan orang itu ke dalam batas umurnya. Ketika ia menggeliat, maka terlepaslah nafasnya yang terakhir dari lubang hidungnya.
Sekar Mirah kemudian berdiri dengan garangnya. Dipandanginya tubuh yang terbaring diam itu dengan wajah yang tegang.
Sementara itu, Pandan Wangi masih bertempur mela¬wan dua orang pengikut Carang Waja. Demikian juga Swandaru. Tetapi salah seorang lawan Swandaru telah menjadi semakin lemah, bahkan seolah-olah tidak lagi mampu berbuat sesuatu, meskipun ia masih tetap berdiri dengan senjata ditangan.
Sekar Mirah yang melihat kakaknya terluka, segera mendekatinya. Namun yang terdengar adalah Swandaru yang membentaknya, ”Jangan ganggu aku. Lihat, bagaimana dengan mbokayumu.”
Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Baru kemudian ia berpaling. Dilihatnya Pandan Wangi masih bertempur melawan dua orang. Tetapi agaknya yang dua orang itu, tidak akan membahayakan keadaan Pandan Wangi.
Kehadiran lima orang prajurit Pajang itu benar-benar telah merubah keadaan. Perhitungan Carang Waja tentang kelima prajurit itu ternyata keliru. Lima orang prajurit itu tidak dapat dipatahkan seperti yang diper-hitungkan. Apalagi salah seorang dari mereka, adalah anak muda yang siap melawannya, meskipun telah terlu¬ka parah.
Namun dalam pada itu, prajurit yang bertempur di luar regol halaman itu ternyata telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan mereka. Ketahanan jasmaniah mereka semakin lama menjadi semakin susut. Jumlah lawan yang lebih banyak, memaksa mereka harus mengerahkan tenaga mereka berlebih-lebihan.
Carang Waja yang melihat lawannya terkapar ber¬sandar tangga pendapa berdiri tegak dengan tangan ber¬tolak pinggang. Pisau belatinya yang merah karena darah, digenggamnya erat-erat. Sesaat ia memandang lawannya. Kemudian dengan suara lantang ia berkata, ”Kau akan segera mati. Yang lainpun akan mati pula. Se¬orang pengikutku telah terbunuh. Itu berarti bahwa seisi Kademangan ini akan mati pula. Para pengawal di gardu-gardupun akan mati.”
Sabungsari masih bersandar tangga pendapa. Wajahnya yang merah karena marah menjadi bertambah tegang. Sementaraa matanya bagaikan menyala oleh gejolak hatinya. Namun, sikap Carang Waja itu adalah kesalahan yang besar yang telah dilakukannya dihadapan Sabungsari.
Beberapa saat lamanya Carang Waja masih ber¬diri tegak. Ia sudah siap menikmati kemenangannya yang pertama dengan membunuh anak muda yang mengena¬kan pakaian seorang prajurit dan telah berani menempat¬kan diri untuk melawannya.
Carang Waja masih berdiri tegak dengan bertolak pinggang. Terdengar kemudian suara tertawanya, ”Ayo anak muda yang mendendam. Bangkitlah. Kita masih akan bertempur satu dua langkah lagi sebelum kau mati.”
Tetapi Sabungsari sudah tidak berusaha untuk bang¬kit lagi. Ia masih terkapar bersandar tangga pendapa. Sementara Carang Waja tertawa berkepanjangan.
“Baiklah,” berkata Carang Waja kemudian, ”jika kau tidak lagi dapat bangkit karena putus asa, aku akan segera mengakhiri hidupmu. Pisauku akan menusuk dadamu langsung ke arah jantung, karena kau sudah pa¬srah sehingga menumbuhkan belas kasihanku kepadamu. Dengan demikian, aku akan menolongmu untuk cepat mati tanpa merasakan siksaan kesakitan.”
Carang Waja kemudian mempersiapkan diri untuk sekali lagi menghentakkan kakinya, membuat lawannya kehilangan keseimbangan. Kemudian meloncat mem¬benamkan pisau belatinya.
Namun diluar sadarnya, pada saat itu, Carang Waja seolah-olah telah memberikan kesempatan yang cukup kepada Sabungsari untuk mempersiapkan ilmunya. Tan¬pa bergeser sejenggkalpun ia telah mempersiapkan diri, memusatkan kemampuan ilmunya yang dapat terpancar dari matanya.
Namun diluar sadarnya, pada saat itu, Carang Waja seolah-olah telah memberikan kesempatan yang cukup kepada Sabungsari untuk mempersiapkan diri, memusat¬kan kemampuan ilmunya yang dapat terpancar dari matanya.
Karena itu, maka pada saat yang bersamaan kedua orang itu telah bersiap untuk melepaskan ilmu puncak masing-masing. Carang Waja dengan ilmunya yang seolah-olah mampu mengguncang bumi, sedangkan Sabungsari telah siap melontarkan ilmunya lewat sorot matanya.
Tepat pada waktuya, ketika Carang Waja mulai menggerakkan kakinya untuk menghentak tanah tempat ia berpijak, Sabungsari yang seolah-olah tidak bergerak, dan masih terkapar bersandar tangga pendapa itu, telah melepaskan ilmunya lewat sorot matanya, yang menghan¬tam tubuh lawannya.
Ketika Carang Waja berteriak sambil menghentak bumi, maka suara teriakannya tiba-tiba saja telah melengking tinggi. Sementara hentakan kakinya masih juga terasa oleh Sabungsari, dirinya bagaikan diguncang. Namun Sabungsari tidak melepaskan tatapan matanya yang seolah-olah mencengkam dada Carang Waja.
Terasa dada Carang Waja bagaikan tertimpa sebuah bukit batu. Jantungnya bagaikan diremas hancur, semen¬tara pernafasannya bagaikan telah tersumbat.
Dengan gerak naluriah. Carang Waja telah meloncat dan membanting tubuhnya ditanah sambil melepaskan ilmunya menghentak tempat ia berpijak. Sekali lagi Sabungsari terguncang. Sehingga ia seolah-olah telah ter¬lepas dari sandarannya.
Sabungsari yang berusaha untuk tetap mencengkam lawannya dengan ilmunya telah kehilangan ia sesaat. Pada saat Carang Waja menjatuhkan dirinya sambil mengguncang lawannya, maka Carang Waja telah ter¬lepas beberapa kejap.
Namun yang beberapa kejap itu seolah-olah telah menunjukkan kepadanya,bahwa himpitan pada dadanya itu adalah karena lontaran ilmu lewat sorot mata lawan¬nya.
Karena itu, maka dengan tenaga yang ada padanya, Carang Waja pun kemudian melenting berdiri. Ia sadar, bahwa lawannya akan mencengkamnya sekali lagi. Namun pada saat itu, ia masih sempat menghentakkan kakinya untuk mengelabui keseimbangan Sabungsari yang masih tetap saja ditempatnya.
Ketika terasa himpitan didadanya mengendor, karena Sabungsari sedang berusaha mempertahankan keseimba¬ngannya. Carang Waja dengan serta merta telah melon¬tarkan pisau ditangannya.
Sabungsari terkejut. Diluar sadarnya ia telah mem¬perhatikan pisau yang meluncur cepat. Namun ia tidak sempat mengelak, karena ia tidak menduga sama sekali, bahwa serangan itu akan datang meluncur seperti anak panah. Apalagi ia sedang berusaha untuk memper¬tahankan keseimbangannya.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 22 Januari 2009 at 12:22  Comments (165)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-24/trackback/

RSS feed for comments on this post.

165 KomentarTinggalkan komentar

  1. Untuk Ki Waskita,

    Rontal pusaka ada pada comment putra nusantara yang menjawab HUT alm. SHM

    Jangan mudah putus asa.
    Nilai sesuatu tergantung usaha.
    Tidak mengenal tua dan muda.
    Tapi saling bekerja sama.

    Meraih kehidupan dunia.
    Tapi tidak lupa dengan yang disana.

  2. sabar ki Waskita,
    silahkan diklik nama putra nusantara, dan jilid berikutnya ada di halaman ttg SHM

  3. @Ki Waskita,
    Tidak usah terburu-buru dan menjadi stress, memang mungkin panjenengan akan agak lama baru bisa mengunduh, tapi kalau dicermati, setiap ada permintaan tolong dan pernyataan kesulitan selalu akan ada cantrik yang bersedia membantu. Contohnya untuk kitab 24 sudah ada yang memberi petunjuk dimana harus dicari Putra Nusantara lengkap dengan hari (26 Jan) dan jam (17.29).
    Sedangkan rontal 25 dari para cantrik yang lain kuncinya ada di halaman SH. Mintardja dibawah hari lahir beliau.
    Ki Waskita setiap permintaan tolong rasanya selalu dijawab disini, baik terang2an, maupun setengah gelap.
    Jadi enjoy aja.
    Nuwun
    (mohon maaf kalau informasi ini mengganggu kesenangan berburu para cantrik yang lain)

  4. yg sabar rekan2 semua.tapi jangan lupa saling mengingatkan kalau ada yg tersesat di jalan. saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. cuma masalah waktu aja kok kebenaran itu akan terungkap terang benderang.

    Kalau saya, cuma berharap nyai Semangkin tidak melupakan saya karena kepincut sama Ki Gede.

    Kasihan anaknya kelak mencari siapa bapaknya yg sesungguhnya ;P

    halah opo meneh… iki ;P

  5. Wah sudah ada cantrik yang “ndlosor”

    Buat Ki Waskita, saya ikut prihatin dengan tensi anda, saya bisa “merasakan” mempunyai tensi setinggi itu.

    Sepertinya bukan maksud Ki GD utk seperti itu, tapi saya merasakan keasyikan luar biasa dari cara Ki GD memberikan buku-buku ADBM ini, ada kepuasan tersendiri yang ketika buku berhasil di unduh.

    Jadi saran saya, santai saja dalam berburu kitab ADBM ini, gak usah kemrungsung.

    Salam Cantrik paling Santai

    Joko Brondong

  6. akhirnya setelah mesu diri sesuai petunjuk dari kitab yang dikirim para sederek,hari ini langsung udah isa ambil 3 kitab sekaligus,makasih banyak n khusus ki GD trimakasih banyak 3X,maksih…..kasih…sih…sh…

  7. Memang asik berburu kita dipadepokan ini,
    bukan hanya sekedar baca kitab, ilmu2 lain pun kita dapatkan….Terus maju Ki GD

  8. Tolong di mana kitab yg 124 saya sudah coba kemana-mana tetapi engak ketemu siapa tau para cantrik bisa ngebantu

    Salam,Kalimantan

  9. @ M.Faisal
    Seperti janji Ki GD, kitab dititipkan pada yang tahu alasan perlunya Ki GD memberi bonus pada tgl 26 jan, yang berhasil ditebak oleh PUTRA NUSANTARA, 26 jan mrpk ultah sang maestro.
    Kecermatan, kesabaran, kesenangan berpetualang akan membantu anda menemukan karena kitab masih ada disitu… jangan dicari ditempat lain
    Selamat mengeksplorasi…

  10. Ampun, Ki GD, kulo niki wong anyar. Kok boten saget mendet 124. Wonten ning ki putra nusantara, kulo sampun klik piyambake, eh boten medal. Kuluo nyuwun petunjuk, kalihan 121.

    matursuwun

    patihmantahun

  11. wuihhhhhhhhhhhhh mblibet tenan, namung puassssssssssss, ampe cruttttttttt,

    makasih Ki Gd

  12. Mohon petunjuk sederek2 para pendekar untuk bisa down load kitab 24, dimana ki putra nusantara bisa dicar?

    matur nuwun sak derengipun

  13. Maaf ternyata kitab 24 sudah saya ketemukan, ternyata dengan sedikit pemusatan nalar budi saya baru bisa menghilangkan ilmu getar yang disebarkan oleh carang waja, sehingga kitab 24 pun kelihatan jelas, tinggal akan saya ambil, mohon doa restu

    # ikut senang Ki

  14. Pangeran BenHawa,
    apa isih seduluru BenHur ya…..????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: