Buku II-20

Tetapi seorang yang lain menyahut, ”Tetapi bedanya tidak terlalu banyak. Biarlah kita mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Sabungsari.”
“Apakah itu perlu? Kita dapat juga mengatakan, bahwa kita memang membiarkan Agung Sedayu dan Glagah Putih kembali ke padepokannya. Baru kemudian kita memancingnya melepaskannya dari penghuni padepokan yang lain,” berkata yang lain.
Tetapi orang yang sama sekali belum terluka itu akhirnya berkata, ”Biarlah kita mengatakan apa adanya. Terserah kepada penilaian Sabungsari. Jika kita masih di¬anggap bersalah, dan Sabungsari bermaksud menghukum kita, biarlah ia menghukum dengan caranya. Tetapi sebuah pertanyaan harus kita jawab, ”Apakah kita akan membiarkan diri kita dihukum setelah kita mengalami ke¬adaan seperti ini.””
“Maksudmu?” bertanya salah seorang kawannya, ”apakah kita akan melawan?”
“Entahlah,” jawabnya, ”tetapi rasa-rasanya kita sudah berbuat sebaik-baiknya, sehingga kita tidak seharusnya disalahkan lagi.”
Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi jika benar mereka harus melawan Sabungsari, sementara keadaan tubuh mereka yang lemah itu, maka keadaan mereka ten¬tu akan menjadi semakin buruk.
Tetapi yang seorang itu seolah-olah mengetahui apa yang tersirat dihati kawan kawannya. Maka katanya, ”Dalam perjalanan kembali ke Jati Anom, kita akan dapat memulihkan tenaga kita. Dengan demikian, kita berlima akan mempunyai kemampuan yang utuh, yang akan dapat kita pergunakan dimana perlu.”
Yang lain tidak menyahut. Tetapi nampak bahwa mereka masih tetap ragu-ragu. Bahkan akhirnya mereka tidak mau memikirkannya lagi.
“Entahlah, apa yang akan terjadi kemudian,” desis salah seorang dari mereka, ”tetapi aku cenderung untuk mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya.”
Namun demikian, mereka berlima tidak segera meninggalkan tempat itu. Rasa-rasanya masih malas bagi mereka untuk berdiri dan melanjutkan perjalanan. Apalagi mereka yang sudah terluka.
Tetapi ketika matahari kemudian mulai memanjat langit, maka mereka dengan segan berdiri dan mengibas¬kan pakaian mereka yang kotor oleh pasir dan darah.
“Marilah,” berkata orang yang masih belum terluka sama sekali, ”kita akan maju perlahan-lahan. Tanpa Agung Sedayu pun kita akan menunggu dan berhenti dipinggir Kali Opak, karena keadaan kita. Jika kita meneruskan perjalanan, maka orang-orang yang ber¬papasan dengan kita akan heran dan mungkin diantara mereka ada juga yang mencurigai kita.”
Kawan-kawannya tidak menyahut. Dengan segan mereka berdiri dan melangkah menuju ke kuda mereka masing-masing. Sejenak kemudian mereka telah berada dipunggung kuda dan mulai dengan perjalanan yang terasa sangat menjemukan.
Tanpa mereka kehendaki, maka mereka pun mengikuti jejak kuda Agung Sedayu yang masih nampak jelas diatas pasir, diantara semak-semak dihutan perdu. Tetapi sama sekali tidak ada niat mereka untuk menyusulnya.
Kelima orang itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat jejak kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih juga menuju ke arah Sungai Opak, maka hati mereka menjadi berdebar-debar.
“Keduanya tentu sudah meninggalkan sungai itu,” berkata salah seorang dari mereka, ”kita akan mandi se¬puas-puasnya tanpa takut diganggunya lagi.”
Meskipun diantara mereka masih ada yang ragu-ragu, tetapi kelima orang itu tetap mengikuti jejak kuda Agung Sedayu menuju ke Kali Opak. Namun seperti yang mereka duga, tidak ada seorangpun lagi dipinggir sungai itu. Bahkan mereka telah melihat jejak kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih meneruskan perjalanan menuju ke Utara.
“Mereka menyusuri Kali Opak,” desis salah seorang dari mereka.
“Ya. Agaknya mereka tidak akan berhenti dan menunggu jalan-jalan mejadi sepi. Mereka nampaknya dapat membenahi diri dan tidak menimbulkan kecurigaan apapun juga,” sahut yang lain.
“Aku masih membawa selembar baju yang lain dipelana kudaku,” berkata salah seorang dari mereka.
“Persetan,” geram yang lain, ”tetapi keadaan kita cukup menarik perhatian disiang hari. Jika kita melintas jalan yang ramai, maka mereka akan menyangka kita sekelompok orang yang pulang dari perampokan atau menyamun di jalan-jalan sepi.”
Yang lain tidak menyahut. Tetapi mereka segera turun dari kuda mereka dan menambatkannya pada pohon-pohon yang tumbuh ditanggul Kali Opak.
“Alangkah segarnya untuk mandi. Mudah-mudahan kekuatanku dapat pulih kembali,” desis salah seorang dari mereka.
Kelima orang itu pun kemudian turun ke dalam segarnya air Kali Opak. Beberapa saat lamanya mereka membenamkan diri ke dalam air. Terasa seakan-akan kekuatan mereka merayap kembali ke dalam tubuh mereka yang menjadi segar.
Mereka yang terluka oleh cambuk Agung Sedayu merasa pedih sesaat. Tetapi justru sekaligus mereka men¬cuci luka itu dan kemudian ketika mereka selesai mandi, mengobatinya dengan obat yang selalu mereka bawa sebagai bekal.
Ketika mereka selesai berpakaian, maka orang yang punggungnya telah dibakar oleh kekuatan tatapan mata Agung Sedayu berkata, ”Aku telah pulih kembali. Sean¬dainya aku kini bertemu dengan Agung Sedayu, maka aku tidak segan lagi untuk mengulangi pertempuran.”
“Tanpa anak yang tinggi kekurus-kurusan itu?” bertanya kawannya.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam tanpa menja¬wab sepatah katapun.
Namun seperti orang itu pula, maka kelima orang pengikut Sabungsari itu memang merasa tubuh mereka menjadi segar kembali. Tetapi tidak ada niat mereka untuk menyusul dan kemudian menangkap Agung Sedayu. Apalagi diantara mereka, yang bersenjata tinggal dua orang. Yang lain tidak lagi memiliki pedang dilambung. Bahkan pisau-pisau belati mereka pun telah mereka lon¬tarkan ketika mereka berusaha memancing perhatian Agung Sedayu, sehingga mereka berhasil menguasai Glagah Putih.
“Jika kita bertemu dengan bahaya, aku sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa,” desis salah seorang dari mereka yang tidak bersenjata.
“Lalu, apakah yang dapat kita lakukan?” bertanya kawannya.
“Aku akan memotong sebatang kayu metir. Kayu itu akan dapat aku pergunakan sebagai senjata.”
“Bagus,” berkata kawannya yang lain, yang juga telah kehilangan senjata, ”dengan kayu metir setinggi tubuh kita, maka kita akan dapat mempersenjatai diri melawan pedang yang paling tajam sekalipun.”
Kawan-kawannya yang berpedang ternyata tidak berkeberatan. Merekapun kemudian memotong beberapa batang metir yang tumbuh diatas tepian Kali Opak sepan¬jang tubuh mereka, sehingga mereka akan dapat mem¬pergunakan tongkat itu sebagai senjata yang akan dapat melawan senjata apapun juga.
“Kayu metir sebesar pergelangan tangan ini tidak akan dapat putus dengan sekali babat betapapun tajam¬nya pedang. Bahkan pedang itu akan dapat melekat pada tongkat ini dan sulit untuk ditarik kembali,” berkata salah seorang dari mereka.
Dengan senjata tongkat kayu metir itulah maka para pengikut Sabungsari itu siap untuk meneruskan per¬jalanan. Namun mereka tetap pada pendirian mereka untuk menunggu sampai petang. Barulah mereka akan melintasi jalan-jalan yang agak ramai menuju ke Jati Anom.
Namun ketika mereka mulai melepas tali-tali kuda mereka, mereka terkejut, karena mereka mendengar suara seseorang yang sedang berbicara meskipun masih agak jauh. Kemudian suara yang lain menyahut. Bahkan masih terdengar suara yang lain lagi.
“Aku mendengar beberapa orang berbicara,” desis salah seorang dari kelima orang pengikut Sabungsari itu.
“Apakah Agung Sedayu dan Glagah Putih datang lagi ke tempat ini?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Bukan. Aku kira jumlah mereka lebih dari tiga orang.”
Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kelima orang itu tidak sempat mengambil sikap, karena tiba-tiba saja dari tikungan tebing sungai muncul empat orang yang agaknya berjalan menyusuri sungai.
Bukan saja kelima orang itu yang menjadi tegang, namun keempat orang yang tiba-tiba saja melihat lima orang berkuda itu pun terkejut pula, sehingga langkah mereka pun terhenti.
Sejenak kedua kelompok itu saling memandang. Nampaknya kerut merut diwajah masing-masing. Seolah-olah mereka telah berdiri dimuka sebuah cermin yang besar dan melihat diri masing-masing berhadapan dengan bayangannya.
Hampir setiap orang didalam kedua kelompok itu melihat wajah-wajah yang kasar seperti wajah mereka sendiri. Melihat sikap yang garang dan mata yang memancarkan kecurigaan.
Salah seorang pengikut Sabungsari itu pun tiba-tiba berdesis, ”Siapakah mereka ?”
Kawannya agaknya tidak sabar lagi. Kudanya yang telah dilepas ikatannya, telah ditambatkannya kembali. Kemudian selangkah ia maju dan berdiri dibibir tebing Kali Opak. Sambil memandang orang-orang yang menelusuri Kali Opak itu ia bertanya lantang, ”He, siapa¬kah kalian Ki Sanak?”
Orang-orang yang berada di pasir tepian itupun memandanginya dengan heran. Seorang yang berkumis lebat dan berdada bidang melangkah maju pula sambil menjawab, ”Kami pulang dari mencari makan. Siapakah kalian?”
Para pengikut Sabungsari itu pun segera mengerti. Se¬olah-olah istilah itu memang merupakan istilah yang telah mereka sepakati untuk dipergunakan. Sekelompok penja¬hat yang baru pulang dari melakukan kejahatan akan mengatakan, bahwa mereka baru pulang dari mencari makan.
Para pengikut Sabungsari itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka memang sudah mengira. Dan mereka pun sadar, bahwa orang-orang ditepian itu pun ten¬tu mengira bahwa mereka berlima tentu juga baru pulang dari mencari makan.
Justru karena itu, maka pengikut Sabungsari itu tidak ingin berurusan lebih lama lagi. Katanya, ”Silahkan kalian meneruskan perjalanan. Kami sedang digelisahkan oleh buruan kami.”
“He?“ orang berkumis di atas pasir tepian itu menjadi heran.
“Kami sedang memburu Agung Sedayu,” berkata orang diatas tebing itu acuh tidak acuh.
Tetapi ketika ia akan melangkah surut, ia terkejut karena orang berkumis itu berteriak, ”Apa katamu? Kau memburu Agung Sedayu?”
“Ya. Kenapa?” orang itu bertanya.
Sejenak orang-orang yang berada di tepian itu saling berpaling. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, ”Apakah Agung Sedayu lewat di padang perdu itu?”
Pertanyaan itu ternyata telah menarik perhatian kelima orang pengikut Sabungsari. Mereka serentak melangkah ke bibir tebing sambil memandang keempat orang itu dengan tajamnya.
“Kenapa kau bertanya tentang Agung Sedayu? Apakah kau pernah mengenal Agung Sedayu?” bertanya salah seorang dari mereka.
Orang berkumis itu tertegun sejenak. Namun kawan¬nya yang membawa sebuah bungkusan kecil menyahut, ”Ya, kami tahu pasti. Siapakah Agung Sedayu. Katakan, apakah hubungan kalian dengan Agung Sedayu.”
Orang-orang yang berdiri di atas tebing itu ter¬mangu-mangu. Orang yang masih mempunyai pedang dilambungnya itu berkata, ”Kami mempunyai persoalan dengan anak itu. Jika kalian juga mempunyai persoalan, katakan. Apakah yang akan kau lakukan atas anak itu.”
Orang berkumis itulah yang kemudian berteriak, ”Kami akan membunuhnya.”
Jawaban itu telah mendebarkan jantung kelima orang yang berada diatas tebing. Salah seorang dari mereka berkata, ”Benar kalian akan membunuh Agung Sedayu? Siapakah kalian, dan apakah kalian mempunyai kemam¬puan yang cukup?”
“Kalian belum pernah mendengar nama kami atau kalian memang tidak pernah mengira bahwa kalian akan bertemu dengan orang-orang dari Pesisir Endut?” jawab orang berkumis itu.
Sejenak orang-orang yang ada diatas tebing itu termangu-mangu. Sementara itu orang-orang yang berada dipasir tepian memandang mereka dengan dada tenga¬dah. Mereka menyangka bahwa pengakuan mereka akan mengejutkan orang-orang yang berada di tepian itu.
Tetapi merekalah yang justru terkejut. Ternyata keli¬ma orang itu justru tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, ”Jadi kalian inilah orang-orang dari Pesisir En¬dut itu? Kalianlah yang telah kehilangan dua orang pemimpin kalian yang dibunuh oleh Pangeran Benawa itu.”
Orang-orang ditepian itu termangu-mangu sejenak. Kemudian orang berkumis itulah yang berteriak, ”Jadi kalian pernah mendengar nama kami? Perguruan Pesisir Endut?”
“Nama perguruanmu memang telah dikenal sampai ke ujung bumi. Tetapi kami menjadi kecewa karena dua orang bersaudara yang terkenal dari Pesisir Endut itu sama sekali tidak berdaya menghadapi Pangeran Benawa seorang diri. He, apakah yang dapat kalian lakukan sekarang tanpa pemimpinmu itu?”
Orang bekumis itu menjadi merah padam. Dengan suara bergetar ia ganti bertanya, ”Siapakah kalian yang telah berani menghina perguruan Pesisir Endut? Kau sangka kalian memiliki kemampuan melampaui Pangeran Benawa? Bahkan seandainya Pangeran Bena¬wa sekarang ini ada disini, kami berempat akan dapat membunuhnya tanpa mengalami kesulitan.”
Kelima orang itu menjadi tegang. Seolah-olah keem¬pat orang itu demikian yakin akan diri mereka. Mereka merasa bahwa mereka akan dapat mengalahkan Pangeran Benawa.
Tetapi orang yang berpedang diatas tebing itu berkata,” Jangan sesumbar disini. Kau berteriak-teriak karena justru kau tahu, bahwa Pangeran Benawa tidak ada disini sekarang. Seandainya tiba-tiba saja Pangeran Benawa sekarang ini hadir, maka kalian akan menjadi pingsan.”
“Persetan. Siapakah kalian sebenarnya?” berta¬nya orang berkumis itu.
Orang berpedang itu tertawa kecil. Katanya, ”Baik¬lah, karena kalian telah mengaku bahwa kalian datang dari Pesisir Endut, maka kami pun akan mengatakan siapakah kami sebenarnya. Kami adalah orang-orang yang mendendam Agung Sedayu seperti orang-orang Pesisir Endut. Justru kalianlah yang agaknya lebih dahulu bertindak. Tetapi kalian tidak pernah berhasil. Bahkan menurut pendengaran kami, orang yang lebih tinggi tingkat ilmunya dari kedua kakak beradik dari Pesisir Endut itu pun tidak berhasil berbuat sesuatu atas Agung Sedayu.”
“Kedua kakak beradik itu dibunuh oleh Pangeran Benawa. Bukan oleh Agung Sedayu,” potong orang berku¬mis itu.
“Tidak jauh bedanya. Tidak seorangpun yang mengetahui dengan pasti, siapakah yang lebih kuat antara Agung Sedayu dan Pangeran Benawa. Tetapi yang jelas perguruan dari Pesisir Endut itu tak berhasil berbuat se suatu,” ia berhenti sejenak, lalu, “Nah, sekarang datang giliran kami. Kami datang dari pihak yang lain, yang juga menyimpan dendam seperti kalian. Kami adalah murid-murid dari perguruan Ki Gede Telengan.”
Keempat orang itu tercenung sejenak. Orang berkumis itu berkata, “Kami sudah mendengar orang yang bernama Ki Gede Telengan yang terbunuh juga oleh Agung Sedayu. He, apakah kalian tidak menyadari akan hal itu? Bahkan guru kalianpun telah mati?”
Tetapi orang berpedang itu tertawa. Katanya, “Kami tidak tergantung kepada Ki Gede Telengan. Orang terkuat diperguruan kami bukannya Ki Gede Telengan. Tetapi anak laki-lakinya. Ia mewarisi semua ilmu ayahnya. Tetapi ilmu itu sudah disempurnakan sesuai dengan ji-wanya yang hidup karena kemudaannya. Ia mempunyai perincian kesalahan ayahnya, kenapa ia terbunuh oleh Agung Sedayu. Dan ia tidak akan mengulangi kesalahan ayahnya jika ia berhadapan dengan Agung Sedayu nanti.”
“Siapakah anak Ki Ged,e Telengan diantara kalian?” bertanya orang berkumis itu.
“Tidak ada diantara kami. Kami memang sedang menggiring Agung Sedayu ke arah yang dikehenda¬ki, sehingga pada suatu saat keduanya akan bertemu. Keduanya adalah anak-anak muda, dan keduanya akan berhadapan dalam perang tanding yang tiada taranya.”
Orang-orang dari Pesisir Endut itu tertegun sejenak. Salah seorang dari mereka berbisik ditelinga orang berku¬mis itu, ”Kita harus cepat membawa kabar ini pulang.”
“Tetapi orang-orang itu sangat sombong,” berkata orang berkumis itu, ”nampaknya mereka memang ingin dihajar sampai jera.”
“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya yang lain.
“Kita naik ke tebing dan merebut kuda-kuda itu. Alangkah senangnya kita kembali dengan naik kuda.”
Kawannya termangu-mangu. Sejenak ia meman¬dang orang-orang yang berada di atas tebing. Namun tiba-tiba saja jantungnya rasa-rasanya menjadi berdebaran. Katanya, ”Apakah kau pasti bahwa kita akan berhasil?”
“Kenapa tidak. Mungkin kita memerlukan waktu sejenak untuk mengusir mereka. Tetapi kemudian kita akan berkuda sampai ke Padepokan Pesisir Endut.”
Kawan-kawannya yang lainpun menjadi ragu-ragu. Bahkan seorang yang lain berkata, ”Apakah kita akan sempat memiliki kuda mereka.”
“Pengecut. Aku akan naik. Aku akan memaksa mereka meninggalkan kuda mereka.”
Orang berkumis itu tidak menunggu jawaban kawan-kawannya lagi. Ia pun kemudian melangkah maju mendekati tebing sambil berkata, ”Ki Sanak. Aku memerlukan kalian. Aku ingin berbicara lebih panjang. Karena itu aku akan naik.”
Para pengikut Sabungsari menjadi berdebar-debar. Orang berpedang yang masih belum terluka sama sekali itu berbisik, ”Berhati-hatilah. Nampaknya mereka akan naik. Tentu ada sesuatu yang akan mereka lakukan atas kita.”
Kawannya yang juga masih menggenggam pedang berdesis, ”Biarlah mereka naik. Apapun yang akan mereka lakukan, akan kita hadapi. Badanku sudah pulih kembali meskipun dipesisir itu punggungku rasa-rasanya akan retak dan berpatahan.”
Orang yang masih belum terluka sama sekali itu memandang kawan-kawannya yang lain. Diantara mereka ada yang terluka kulitnya oleh sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu. Namun orang yang terluka kaki¬nya itu berkata, “Lukaku tidak seberapa. Memang pedih. Tetapi seandainya aku harus bertempur, aku sudah siap meskipun aku hanya bersenjata tongkat kayu.”
Orang berpedang itu justru masih mempunyai sebilah pisau belati. Sambil bergeser ia berkata, ”Jika kau perlukan, kau dapat mempergunakan pisauku disamping tongkatmu.”
“Tongkatku cukup kuat untuk menghadapi pedang. Kecuali lebih panjang, maka aku percaya akan kekuatan kayu metir meskipun agak berat.”
Kawan-kawannya yang bertongkatpun mengangguk-angguk. Salah seorang berdesis, “Aku merasa kuat. Pedang mereka tidak akan dapat mematah¬kan tongkat kayuku asal aku tidak membenturkan menyilang.”
Sejenak orang-orang diatas tebing itu menjadi tegang. Mereka menunggu keempat orang itu perlahan-lahan naik ke atas.
Sejenak kemudian, maka keempat orang itu sudah berdiri dialas tebing pula. Mereka masih berusaha mengatur pernafasan mereka, ketika mereka telah ber¬diri berhadapan.
“Aneh,” desis orang berkumis, ”beberapa diantara kalian membawa tongkat kayu.”
“Ini memang senjataku,” desis orang yang ber¬tongkat kayu.
Tetapi orang berkumis itu tertawa. Katanya, ”Jika kau tidak membawa sarung pedang yang kosong, aku ten¬tu percaya. Apalagi tongkat itu adalah kayu metir yang masih basah.”
Orang-orang yang bersenjata tongkat itu termangu-mangu sejenak. Namun salah seorang dari mereka telah tertawa pula. Katanya, ”Kau benar. Sarung pedangku telah kosong. Ini suatu kesalahan bahwa aku tidak membuangnya saja. Tetapi hal itu memang suatu akibat, bahwa aku kehabisan uang diperjalanan. Aku telah menjual pedangku disebuah warung dan menukarkannya dengan nasi lima bungkus. Nah, bukankah jelas bagi kalian?”
Jawaban itu rasa-rasanya memang menyakitkan hati. Tetapi orang berkumis itu tidak segera marah. Bahkan ia masih bertanya, ”Apakah kuda-kuda yang terikat itu kuda kalian?”
“Apakah kau masih perlu bertanya begitu?” orang berpedang itu justru bertanya pula.
“Pertanyaan yang bagus,” sahut orang berkumis, ”nah, jika demikian aku pasti, bahwa kuda-kuda itu memang milik kalian. Entah kalian memang mem¬bawanya sejak kalian berangkat, atau kalian dapatkan diperjalanan dengan mencuri misalnya.”
Para pengikut Sabungsari itu serentak beringsut. Namun mereka masih menahan diri dan mendengarkan orang berkumis itu berkata selanjutnya, “Ki Sanak. Sebaiknya kita bergantian saja. Sekarang, kamilah yang akan berkuda kembali ke Padepokan Pesisir Endut. Jika kemudian perguruanmu membutuhkan, ambil sajalah ke Pesisir Endut dengan anak muda yang kau sebut anak Ki Telengan.”
Wajah orang berpedang itu menjadi merah. Tetapi ia tidak mau dibakar oleh perasaannya sehingga kehilangan pengamatan diri. Karena itu ia masih tetap menyadari ke¬adaannya. Katanya kemudian, ”Aku tahu. Kau ingin merampas kudaku. Aku tahu pula, bahwa kau menganggap Perguruan Ki Telengan sudah tidak berarti lagi sepeninggal Ki Gede seperti juga Perguruan Pesisir Endut sepeninggal kakak beradik itu. Tetapi seandainya demikian, namun agaknya kami masih lebih berarti dari kalian. Kami masih menahan diri untuk tidak melakukan perampokan-perampokan kecil-kecilan, atau menyamun pedagang yang akan pergi ke pasar.”
“Persetan,” orang berkumis itulah yang menggeram, ”apapun yang kau katakan. Tinggalkan kuda-kuda kalian. Jika aku tidak mengingat bahwa nasib kita hampir bersamaan, aku tidak usah memberimu peringatan. Kami langsung membunuh kalian tanpa persoalan. Tetapi karena kita sama-sama mendendam pada orang yang sama, maka marilah kita saling berbaik hati. Serahkan kuda kalian, lalu kalian dapat pergi dengan tanpa kami ganggu.”
“Jangan omong saja. Kau tentu sudah tahu jawabku. Dan kau pun tentu tidak akan mundur. Karena itu, aku kira tidak ada kemungkinan lain yang terjadi, selain kita harus bertempur disini. Terserah pada keadaan berikut¬nya, apakah kita akan saling membunuh atau akan terjadi penyelesaian lain.”’
Orang berkuda itu tidak sabar lagi. Karena itu, maka katanya kepada kawan-kawannya, “Sudah jelas, mereka mempertahankan kuda mereka.”
Orang-orang Pasisir Endut itu ternyata lebih kasar dari para pengikut Sabungsari. Meskipun tiga orang yang lain semula masih ragu-ragu, namun kemudian mereka¬ pun berteriak dengan kasar sambil mencabut senjata mereka.
“Jumlah kami lebih banyak,” berkata salah seorang pengikut Sabungsari itu, ”dalam perhitungan kasar, maka kami akan menang.”
“Perhitungan kasar dan gila. Aku mempunyai perhitungan lain,” jawab orang berkumis, ”kami bersenjata lengkap. Tiga diantara kalian hanya bersenjata sepotong kayu. Apalagi nampaknya kalian bukan orang yang memiliki ilmu kanuragan yang pantas diperhitung¬kan.”
Pengikut Sabungsari yang sama sekali belum terluka itu tertawa sambil berkata, “Kita akan menghadapi orang-orang kasar yang dungu. Marilah. Jangan ragu-ragu.”
Kawan-kawannya mulai bergeser. Meskipun diantara mereka sudah terluka, tetapi air sungai dibawah tebing itu telah membuat tubuh mereka pulih kembali. Rasa-rasa¬nya mereka tidak pernah mengalami cidera apapun juga sebelumnya.
Keempat orang dari Pesisir Endut itu pun telah memencar pula. Mereka mengacukan senjata mereka sambil menggeram. Yang berkumis itu masih berbicara lantang, ”Untuk yang terakhir kalinya, tepuklah dadamu dengan wajah tengadah. He, orang-orang dungu. Sebentar lagi kepalamu akan terpisah dari tubuhmu. Dan kuda-ku¬da yang tegar itu akan menjadi milik kami.”
Pengikut Sabungsari itu tidak menjawab lagi. Mereka sudah siap sepenuhnya menghadapi setiap kemungkinan. Mereka yang berpedang berdiri pada jarak yang terjauh, sementara tiga orang yang lain berdiri dalam satu kelom¬pok kecil yang nampaknya ingin bertempur dalam satu lingkaran.”
Orang berkumis itu pun mulai mendekati lawannya. Orang yang nampaknya paling berpengaruh diantara kelima orang pengikut Sabungsari itu agaknya orang yang bersenjata pedang dan banyak berbicara itu. Karena itu, maka ia pun maju selangkah demi selangkah mendekati¬nya sambil berteriak, ”Bunuh saja mereka semuanya agar pekerjaan kita rampung tanpa ada persoalan lagi yang dapat timbul kemudian.”
“Jumlah kalian hanya empat,” sekali lagi salah seorang pengikut Sabungsari itu menghitung jumlah, ”bagaimanapun juga kalian akan kalah. Seandainya kita masing-masing memiliki kemampuan yang sama, maka kelebihan jumlah ini akan sangat berpengaruh.”
“Kami baru saja membunuh dan melukai tujuh orang sekaligus,“ geram orang berkumis, ”kami ketemukan mereka di bulak panjang. Mereka kami bantai semuanya karena mereka mencoba melawan kami. Menurut pengakuan mereka, ketujuh orang itu adalah orang-orang terkuat dari Kademangan Watu Gede. Mereka berkata sambil menengadahkan kepala, bahwa mereka akan menangkap aku dan mengikat tanganku dibelakang punggungku. Tetapi akhirnya mereka terbaring dijalan tanpa dapat bangun lagi untuk selama-lamanya. Agaknya akan terjadi pula atas kalian yang mengaku orang-orang tanpa tanding. Tetapi kailan sebentar lagi akan terbaring dipadang perdu ini.”
Orang berpedang diantara para pengikut Sabung¬sari itu pun berkata lantang, ”Kita tidak akan berbicara berkepanjangan. Marilah, yang akan mati biarlah segera mati.”
Orang berkumis itu menggeram. Namun tiba-tiba lawannya yang bersenjata pedang itu pula mengacukan pedangnya yang bergetar.
Sejenak kemudian, orang-orang itupun telah terlibat dalam perkelahian. Tiga orang yang bersenjata tongkat, telah bertempur dalam kelompok kecil menghadapi dua orang lawan. Sementara kawannya yang berpedang masing-masing telah menghadapi seorang lawan.

(***)

Oleh Ki Prass
Belum di proofing Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:07  Comments (196)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

196 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mugi-mugi Ki Gede mboten moksa seperti Mas Rizal…

  2. Harapan,Ki, Harapan …
    Maturthankyou Ki GD

  3. Ki GD…
    Kitab nomer setunggalatus kalehdoso sampun tamat, matur sembah nuwun.
    Saklajengipun, kawulo lan rencang-rencang cantrik padepokan sami nenggo kitab sak lajengipun, namung dumugi sak meniko dereng wonten tondo-tondo nipun Ki GD….
    Nuwun…

  4. Ki Semangkin
    Mas Rizal Moksa dg peninggalan terahir episode 60 tanggal 8 juli 2008, dan tanggal 4 sept 2008 ternyata sudah satu padepokan besar dan penuh cantrik mas rizal yang pindah kost ke adbmcadangan dengan ibu kost ki DD,
    ki DD kami selalu berdoa semoga ki DD selalu sehat walafiat, sehingga proyek ADBM ini bisa selesai sampai kitab 396

  5. Ada harapan ….
    Ada kenikmatan …
    Dalam menunggu .. ada kesabaran ..
    Dalam mendapati … ada kesyukuran …

    Trims Ki GD …

  6. aih aih…kulo meniko nyai ..mboten Aki-Aki…denmas Iga Bakar…

  7. Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!

  8. Matur nuwun Ki GD, kitab sudah diunduh.

  9. siap menuju lapak 121

  10. lak jebul kliru tah mas iga bakar kuwi,

    wong jenang-abang jenang putih katon mripat kuwin jenenge semangkin lha kok ditimbali “ki”…

    sing nduwe jeneng pulih kemrungsung kuwi lho mas 😀

    btw (btw iku opo seh boso jowone ???),

    poro konco cantrik2 iki ancene betah banget melek’an, ngriwuki sarene ki GD wayah tengah wengi nganti isuk ndhedhet

    ki GD, kapan kapling selanjute badhe dipun wedhar ?

    hehehe, melu2 ngriwuki


    wayah ngaso, wayah mangan
    ra sido mangan nyempetno nginguk

  11. mas is,

    ajian speedy iso mlayu 320-356 km/jam nek wayah mlebu dalan tol, koyoto ajian saipi angin ra iso digawe ndek tengah pasar.

    asline kuwi jatah’e iso semono, mung kan mesti dibagi, alias kembulan sakpiring karo tonggo teparo sing melu nggawe piring.

    dadine yo, nek wayah akeh tonggo teparo sing lagi podho mangan bareng, jatah piring sampean yo mestine dibagi karo liyane… hehehe


    ajianku saiki aji opo yo ?
    mbuh, kari nganggo tok kok,
    mengko wae nang omah mateg aji dhewe

    #3

  12. kang barata tetap ajian speedy, selalu dan always speedy (milik bangsa sendiri ya kang)
    apa kabar dimas kasandha, sayap-sayap yang terkembang di KR sudah 3 hari tidak nongol

  13. antri 121 disin apa boleh ki GD?

  14. Ki Gede where are you?
    Are you OK

  15. Terima kasih ki KD

  16. Ki GD, koq ora ono alas sing iso dibabati maneh? Aku wis nggowo pacul je…:roll:

  17. Ketokhe Ki GD menghadap R Sutawijaya njalok tambahan lahan kanggo cantrik sing ndak kebagian …
    jo wis aku tak ngantri ning banjar deso wae ….

  18. Mantabs, matur nuwun Ki GD. Dipun tenggo rontal rontal ajian selajengipun.

  19. # On 22 Januari 2009 at 11:36 IS Said:

    Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!
    ….

    hehehehhe,
    namanya orang jualan…, beli dulu, urusan lelet sih ga jamin…
    emang cocoknya ganti pake logo Speda..ya
    selama masih numpang di padepokan telkom, ya ga jelas siapa yang tanggung jawab.., paling 147..hehe.
    Glagah Putih paling cuma nyeletuk :”.. hare gene masih pake speda…”….

  20. Loh,… koq podho susah nganggo SPEEDY…. aku nembe pasang SPEEDY…edan tenan iso nganti 800 kbps lho.
    Ngunduh kitab 121 mung 1.8 menit ….. 🙂

    Sadurunge aku nganggo TENI, mung iso 46 kbps….

    Wah mesti diadusi kembang 7 warno nganggo banyu 7 sumur disebar neng 7 pojokan nek ono SPEEDY sing lelet …

  21. lha kok malah mbahas sepeda, sing penting iku piye kitab 121 enggal tumurun ing mayopodo

  22. iyo pener kuwi kangmas sidanti,

    kapling anyar yo isih durung iso dibuka, palingo mergo isih wingit alas’e.

    Ki GD kayane lagi mesu diri, ningkatne elmu olah kanuragan lan kajiwan, dadine durung sempet mbuka alas, lha nek poro cantrik yo ra ketang kuat mbuka lan mbabat dewe.

    mugo2 wae, sak marine ki GD mesu diri, kapasitas tatapan mripat’e juga meningkat kayata Agung Sedayu, angger’e medhar kitab ugo iso luwih akeh maneh saben ndinane… heheheh


    poso dhisik kayane dino iki
    #1

  23. Tampaknya Ki GD sengaja memberi waktu kepada para cantrik untuk mendalami kitab-kitab yang telah diterima, bukan dari sisi kanuragan tapi dari sisi kajiwan.
    Semakin tinggi ilmunya, semakin mengendap jiwanya…

    ( terlalu dalam nih Ki, takut ngga bisa naik…. )

  24. bogor cukup cerah sore ini..
    muda2an ga ujan…
    mudah2an ntar malam kavling 121 udah beres imb nya..
    trims Ki Gede

  25. Lima mayat orang orang Sabungsari tumpang tindih di tepi kali Paraga. Sedangkan empat mayat dari perguruan Endut berserakan dekat rawa rawa. Bulak sekitar hancur lembur layaknya ada gerombolan banteng ngamuk.Bekas pertempuran masih nampak nyata, darah bececeran di setiap sudut. Tidak satupun yg bisa menyelamatkan diri. Dendam dan rasa lebih dari yang lain telah menggelapkan hati dan nurani. Rasa lebih sempurna telah menenggelamkan dan mengubur pikiran yang jernih. Dendam akan terus beranak pinak.
    Sementara itu sabung sari sedang duduk terkantuk kantuk di bawah rindangnya pohon tepi alas Mentaok, menunggu orang orangnya menggiring Agung sedayu yg terikat kedua tangannya, seperti yg dilihatnya di tepi pantai..
    Rasa ngantuk, lapar dan dendam melebur menjadi satu di dalam dada Sabungsari. Sementara itu di belahan hutan tepi kali Praga AgungSedayu sambil duduk di atas pelana kudanya masih termenung, begitu dahsyat makna dendam… dendam kesumat.. rasa ingin dan penasaran untuk membaca rontal 121.

  26. hmmmm …. dalam puncak pencapaian mesu raga, semua cantrik ADBM berhasil meraih moksa …. SUNYI… SEPI … DAMAI ….

    GELISAH.

  27. Kapan?

  28. Lho, poro cantrik do ngumpul nangendi iki?

  29. Lho… gerdu 120 sudah kosong, hanya tinggal beberapa cantrik yang masih ngobrol di pendopo.
    Woo pada pulang kampung ya’e…
    Ki GD belum kasih tempat kumpul yang baru apa ya ?

  30. Para kadang,

    Selama bendel belum keluar, untuk bisa meloncat ke pendhopo selanjutnya, dapat menggunakan link “komentar terakhir” di kolom bagian kanan.
    Alternatif lain, URL dimodifikasi sedikit, misalnya …\buku-ii-20\ menjadi …\buku-ii-21\

    Ki GD pintu pendhopo 121-140 dibuka dong.

  31. sampurasun ki GD
    ugi para sedulur padepokan ADBM kulo bade miLet dahdos CANTRIK

  32. sampurasun para kadang
    yang ada di seputaran bandung cimahi tlng SMS aja ke 0811200159 udah gak tahan lagi udah seminggu otak atik,klak klik ngikutin petunjuk para kadang tanpa hasil maklum udah lelet kali yah kasihan dong sampe lieurrrr.

  33. udah ketemu udah bisa kesedot tpi kalo gak putus di jalan yah gak bisa ke buka adauhhhhh gimana do…..ng
    please dong

  34. Sebenarnya agak bingung nih.. Apa SHM lupa ya, bukankah empu pinang aring, salah satu tokoh utama dipertempuran lembah merapi dan merbabu tertangkap (lihat jilid 110). Lalu apa kelanjutannya?? tidak mungkin dia tidak menguasai jalur majapahit dipajang, karena merupakan tokoh penting. tapi cerita tentang dia hilang,dan cerita selanjutnya jalur majapahit dipajang masih gelap..

  35. kynya napak tilas adbm mantap ya….

  36. yg mau ngobrol2 tentang adbm silahkan add ym za_sableng ya….hehehe.komunitas adbm makin besar terus ya…salam buat smuaaaaaaaa..

  37. matur nuwun !!! baru kali ini kulo urun ngomong

    pancen adbm gak ono seng nandingi sakti tenan sampek

    kulo mboten saged turu penak yen durung moco agung

    SEDAYU..(mirip daerahku sedayu GRESIK)

    sopo seng durung weruh keris kyai sengkelat saiki

    ono pameran nang gresik ..wujude ..uihhh

  38. Agung Sedayu gelut neng cedhake tlatah Pandan Segegek,
    apa mulihe ya njur tuku geplak….????

    • Nyanking udud sing dilinting ni Roro Mendut ki Mbleh

      • nomer hapene ni mendut pinten ki mangku

        • Sing ngertos niku mung mas-e Pranacitra .

          • Lha kok wani2ne Ki AS mundhut pirsa nomer hapene Rara Mendut to….???
            Apa ora wedi karo Ki Menggung….?????

            • Lha ki Menggung saiki wis ora medeni maneh .

              • ora nomere roro mendut yo nomere mita waelah 😉

                • Yen ra salah nomere ganol-ganol pitu ki .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: