Buku II-20

Namun ternyata Agung Sedayu mempunyai pertimbangan lain. Ia mulai menjadi ragu-ragu dan bingung. Apakah yang sebaiknya dilakukan menghadapi saat-saat yang sulit seperti itu.
“Cepat,” teriak lawannya, ”lepaskan senjatamu dan minggir dari arena ini. Kau harus menurut segala perintahku. Jika tidak, maka anak ini akan mati.”
Agung Sedayu masih berdiri termangu-mangu. Namun sekali lagi ia mendengar lawannya membentak, ”Cepat.”
Tidak ada yang dapat dilakukan olehAgung Sedayu.
Sesaat ia memperhatikan lawan-lawannya. Yang seorang sudah berada dipunggung kudanya. Yang empat orang berdiri tegak disekitarnya, sementara seorang diantaranya telah mengancam Glagah Putih dengan pedang dipunggungnya.
“Apa yang dapat aku lakukan sekarang,” keluh Agung Sedayu didalam hatinya.
Sementara itu dikejauhan Sabungsari melihat semua¬nya yang terjadi. Sekilas nampak ia tersenyum. Namun dahinya mulai berkerut ketika ia mulai membuat pertim¬bangan-pertimbangan.
Akhirnya Sabungsari pun menjadi ragu-ragu. Ada keinginannya untuk membuat penyelesaian pada saat itu juga. Orang-orangnya akan dapat tetap menahan Glagah Putih, sementara ia berperang tanding dengan Agung Sedayu.
“Aku tentu akan dapat membunuhnya,” berkata Sabungsari didalam hatinya.
Namun tiba-tiba saja ia mengerutkan keningnya. Ia melihat Agung Sedayu kemudian melepaskan senjatanya dan melangkah surut.
Sabungsari menjadi berdebar-debar. Jika orang-orangnya tidak dapat mengendalikan diri, maka Agung Sedayu akan mengalami nasib yang buruk sebelum ia sempat berbuat sesuatu untuk melepaskan dendamnya.
“Cepat,” salah seorang dari para pengikut Sabung¬sari itu membentak.
Agung Sedayu melangkah lagi beberapa langkah, sementara Glagah Putih berteriak, ”Jangan Kakang. Jangan.”
Tetapi suara Glagah Putih bagaikan lenyap ditelan ombak. Agung Sedayu masih tetap melangkah beberapa langkah menjauhi cambuknya yang tergolek di pasir.
“Kau harus menyerah, Agung Sedayu,” berkata orang yang menguasai Glagah Putih, “seorang kawanku akan mengikat tanganmu dan membawamu kembali ke Jati Anom.”
“Tetapi aku minta kesanggupanmu. Glagah Putih akan kalian lepaskan,” jawab Agung Sedayu.
“Kami akan melepaskannya, setelah tanganmu terikat dan kau tidak akan melawan lagi.”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Yang terde¬ngar adalah teriakan Glagah Putih, ”Jangan hiraukan aku.”
Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berbuat demikian. Ia tidak dapat mengorbankan Glagah Putih. Disaat mereka berangkat, maka pamannya telah menyerahkan Glagah Putih kepadanya.
Karena itu, maka akhirnya ia berkata, ”Aku akan menyerah, tetapi dengan janji bahwa Glagah Putih tidak akan kalian apa-apakan. Kalian akan melepaskan anak itu kembali ke padepokannya dengan selamat.”
“Menyerahlah. Kami berjanji.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil mengulurkan kedua tangannya ia berkata, ”Aku menyerah.”
Sejenak, keempat lawannya menjadi ragu-ragu. Namun kemudian salah seorang berkata, ”Kita ikat tangannya. Kita akan membawanya ke Jati Anom seperti yang seharusnya kami lakukan.”
Dengan ragu-ragu ketiga orang lawannya pun men¬dekat. Kemudian salah seorang berteriak, ”Tanganmu dibelakang.”
Agung Sedayu tidak dapat berbuat lain. Disilangkan¬nya tangannya dibelakang. Dan ia pun hanya dapat menggeretakkan giginya ketika lawannya mengikat tangannya, justru dengan juntai cambuknya.
“Aku tahu, cambukmu adalah cambuk yang luar biasa. Dengan tampar yang biasa kau mungkin akan dapat menghentakkannya sampai putus oleh kekuatanmu yang luar biasa. Tetapi aku yakin, bahwa kau tidak akan mampu memutuskan juntai cambukmu.”
Terasa pergelangan tangan Agung Sedayu menjadi sakit. Ia merasakan betapa kuatnya juntai cambuknya. Jika semula ia masih berharap untuk dapat memutuskan tali pengikat tangannya, maka kemudian ia telah kehi¬langan harapan. Bagaimanapun juga, ia merasa bahwa ia tidak akan dapat memutuskan juntai cambuknya, meski¬pun ia mengerahkan segenap kekuatan cadangannya.
“Tidak ada kekuatan yang dapat memutuskan janget cambuk itu,” berkata agung Sedayu didalam hati¬nya.
“He, apakah kau sudah mengikatnya kuat-kuat?” teriak orang yang menguasai Glagah Putih.
“Sudah,” teriak kawannya.
“Bawa kuda itu kemari. Kita akan berangkat sekarang membawa dua orang tawanan ini.”
Glagah Putih mengumpat. Tetapi ia tidak dapat ber¬buat apa-apa, apalagi ketika Agung Sedayu sudah terikat tangannya justru dengan ujung cambuknya sendiri.
Sejenak kemudian, maka pengikut Sabungsari itu sudah menyiapkan kuda-kuda mereka serta kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tanpa dapat membantah, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun didorong ke atas punggung kuda masing-masing.
“Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencela¬kakan dirimu sendiri,” ancam salah seorang dari kelima orang pengikut Sabungsari itu, ”jika Glagah Putih men¬coba melarikan diri, maka Agung Sedayu akan mati seke¬tika. Tetapi jika Agung Sedayu yang mencoba melarikan diri, maka Glagah Putih akan kami cincang menjadi sem¬bilan.”
Agung Sedayu tidak menyahut. Yang terdengar ada¬lah Glagah Putih menggeram.
Sejenak kemudian, maka terdengar salah seorang dari mereka meneriakkan perintah, ”Kita berangkat sekarang. Kita akan berhenti jika matahari terbit. Sebaik¬nya dihutan yang tersembunyi. Sehari penuh kita akan menunggu. Baru jika matahari terbenam, kita akan melanjutkan perjalanan sampai ke tlatah Jati Anom. Kita tidak akan langsung pergi ke Kademangan Jati Anom atau ke padepokan kecil itu atau ke rumah Untara. Kita akan menunggu di tengah-tengah hutan sebelah Utara Lemah Cengkar. Kau memang akan kami korbankan sebagai makanan Harimau Putih di hutan itu.”
Agung Sedayu tetap tidak menjawab. Sementara Gla¬gah Putih menjadi semakin marah.
“Marilah. Kau berada di tengah anak bengal,” perin¬tah salah seorang dari mereka.
Glagah Putih tidak dapat mengelak. Ia berkuda dipaling depan diikuti oleh seorang lawannya. Dibelakang or¬ang itu adalah Agung Sedayu yang terikat. Sementara kee¬mpat orang yang lain, berada di belakangnya dengan sen¬jata ditangan. Pedang-pedang yang terlempar di rawa-rawa tidak dapat dipungut lagi, sehingga ada dian¬tara mereka yang hanya menggenggam pisau belati.
Agak jauh dibelakang mereka, Sabungsari telah bersi¬ap-siap pula. Tetapi ia tidak tergesa-gesa. Ia tidak perlu lagi mengikuti orang-orangnya, karena mereka akan langsung pergi ke Jati Anom, meskipun mereka masih akan berhenti lagi disiang hari besok.
“Aku harus mendahului mereka. Jika mereka men¬cari aku di Jati anom, aku harus sudah berada ditempat,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri.
Karena itulah, maka ia justru membiarkan orang-orangnya berlalu. Ia akan menempuh jalan lain yang lebih baik. Ia tidak perlu mengikuti jejak pengikut-pengikutnya yang telah berhasil membawa Agung Sedayu dan Glagah Putih.
“Akhirnya anak itu dapat juga dikuasai oleh orang-orangku,” berkata Sabungsari didalam hatinya.
Namun ketika ia sudah berada dipunggung kudanya, maka ia mulai menilai keadaan Agung Sedayu. Agung Sedayu dapat dikuasai oleh kelima kawannya bukan kare¬na ia tidak dapat mengimbangi kemampuan kelima lawannya itu. Tetapi justru karena kelengahan Glagah Putih. Dengan mengancam Glagah Putih, maka baru Agung Sedayu dapat mereka tangkap dan mereka ikat tangannya.
Bahkan kemudian Sabungsari tidak dapat ingkar akan kemampuan bertempur Agung Sedayu. Anak muda itu ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dengan cambuknya yang membelit pedang lawannya, ia berhasil melontarkan pedang itu jauh-jauh. Bahkan diluar nalar. Pedang yang besar itu meluncur seperti anak pa¬nah yang lepas dari busurnya.
“Tentu kekuatan raksasa,” geram Sabungsari.
Selain kekuatan raksasa itu, maka kecepatan bergerak Agung Sedayu benar-benar menakjubkan. Jika ia tidak terpancing menjauhi Glagah Putih , maka mung¬kin kelima orang lawannya akan dapat dibunuhnya.
Namun tiba-tiba Sabungsari mengerutkan keningnya. Ia menjadi ragu-ragu, apakah Agung Sedayu benar-benar akan melakukanya demikian.
“Apakah jika pertempuran itu berlangsung terus tanpa Glagah Putih, Agung Sedayu akan membunuh keli¬ma orang lawannya,” bertanya Sabungsari didalam hati¬nya.
Agung Sedayu memang mampu bergerak cepat. Ujung cambuknya telah berhasil melemparkan beberapa pedang lawannya. Bahkan melukai lawannya sehingga mereka berdarah. Tetapi apakah benar-benar ujung cam¬buk Agung Sedayu langsung menggapai nyawa lawan¬nya?
Pertanyaan itu ternyata menumbuhkan keragu-ragu¬an Sabungsari. Jika benar seperti yang didengarnya, bah¬wa Agung Sedayu adalah seorang pembunuh yang paling buas dipeperangan. maka apakah ia tidak mempunyai cara bertempur yang lain, yang lebih garang dan kasar?
Namun Sabungsari menggeretakkan giginya sambil menggeram, ”Kelengahannya terletak pada Glagah Pu¬tih. Tanpa Glagah Putih ia akan menjadi iblis yang paling kasar dan buas.”
Sabungsari mencoba membuang segala kesan keragu-raguannya terhadap Agung Sedayu. Bagaimanapun juga Agung Sedayu harus dibunuhnya. Ia mempunyai cara tersendiri untuk mengalahkan Agung Sedayu yang bagaimanapun tinggi kemampuannya.
Karena itu, maka Sabungsari pun kemudian melanjut¬kan perjalanannya. Tetapi ia tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh para pengikutnya. Ia mencari jalan sendiri yang paling baik menurut perhitungannya, sehingga ia akan lebih cepat sampai ke Jati Anom.
Dengan demikian, maka Sabungsari meninggalkan pantai berpasir. Ia mencoba mencari jalan yang lebih ke¬ras, semakin lama semakin jauh dari gelora ombak yang menghentak-hentak.
Dibawah cahaya bulan sepotong, Sabungsari mene¬mukan jalan setapak yang membawanya ke jalan yang le¬bih besar melalui padukuhan-padukuhan kecil yang terse¬bar disebelah padang ilalang yang luas.
Sementara itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih harus mengikuti jalan yang dipilih oleh kelima orang yang menawan mereka. Agaknya mereka masih harus menyu¬suri pantai beberapa saat lamanya, kemudian mereka akan menuju ke hutan perdu disebelah bukit-bukit yang menjorok.
“Kita akan memasuki hutan perdu dan beristirahat sehari penuh. Agar tidak seorangpun yang melihat keadaan kita yang aneh ini.”
Agung Sedayu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Dipandanginya Glagah Putih dalam keremangan cahaya bulan. Dibelakang Glagah Putih seorang lawannya berkuda dengan senjata terhunus. Sedang agung Sedayu pun sadar, bahwa keempat orang lainnya berkuda di belakangnya.
Meskipun nampaknya Agung Sedayu hanya menun¬dukkan kepalanya saja, dan hanya sekali-sekali meman¬dang ke depan, namun sebenarnya ia sedang berpikir ke¬ras. Sudah barang tentu ia tidak akan menyerahkan diri¬nya apalagi Glagah Putih untuk mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Terlebih-lebih jika Glagah Putih akan mengalami bencana atau bahkan kematian.
Tetapi tidak mudah bagi Agung Sedayu untuk mencari jalan melepaskan diri dari ikatan juntai cambuknya sen¬diri. Bahkan rasa-rasanya pergelangan tangannya menja¬di sakit. Juntai cambuknya tidak terlalu lemas dan bah¬kan seakan-akan telah mengelupas kulitnya.
Agung Sedayu sama sekali tidak berniat untuk beru¬saha memutuskan ujung cambuknya, karena ia menya¬dari, bahwa hal itu hampir tidak mungkin dilakukannya. Namun Agung Sedayu harus menemukan cara yang lain sebelum ia sendiri dan Glagah Putih dibantai oleh orang-orang yang tidak dikenalnya.
Sejenak Agung Sedayu mencoba memperhitungkan kekuatan kelima orang lawannya. Tiga orang sudah dilukainya. Yang luka dilambung dan tersayat kakinya tentu menjadi semakin lemah oleh darahnya yang mengalir. Tetapi Agung Sedayu pun menyadari, bahwa mereka tentu mempunyai obat yang untuk sementara dapat menolong mereka, memampatkan darah dari luka itu.
Dalam pada itu, mereka yang berkuda beriringan itu ¬pun mulai menjauhi pantai berpasir. Mereka memasuki daerah yang berumput ilalang. Semakin lama semakin lebat. Dan akhirnya mereka mendekati sebuah hutan yang cukup luas.
“Kita akan berhenti diujung hutan perdu itu,” berkata orang yang berada dibelakang Glagah Putih, ”kalian berdua akan kami ikat pada sebatang pohon yang cukup kuat. Tentu ada beberapa pohon yang cukup besar untuk mengikat kaitan. Seandainya Agung Sedayu mem¬punyai kekuatan seekor gajahpun. ia tidak akan dapat melepaskan diri sama sekali. Apalagi taruhan dari usaha melepaskan diri itu adalah adiknya.”
Agung Sedayu masih tetap berdiam diri. Namun pikir¬annya berjalan terus. Berputar-putar dari satu pertim¬bangan ke pertimbangan yang lain. Ia tidak begitu saja percaya, bahwa Glagah Putih benar-benar akan dilepas¬kan.
Angin malam yang basah bertiup semakin kencang. Seolah-olah titik air telah hanyut dari permukaan laut. Sehingga malampun menjadi semakin dingin karenanya.
Ketika iring-iringan itu mulai memasuki hutan perdu, maka dada Agung Sedayu pun menjadi semakin berde¬bar-debar. Mungkin seperti yang dikatakan oleh orang bersenjata dibelakang Glagah Putih, bahwa mereka akan menunggu sehari sampai matahari terbenam diesok hari. Tetapi mungkin mereka berdua, Agung Sedayu dan Glagah Putih, akan dibantai dihutan perdu dan mayatnya akan dibiarkan menjadi makanan burung gagak.
Ketika Agung Sedayu kemudian menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya bintang-bintang dilangit telah bergeser ke Barat. Bintang Gubug Penceng diujung Selatan telah condong jauh ke Barat, sehingga dengan demikian Agung Sedayu mengerti, bahwa sebentar lagi langit akan menjadi merah oleh fajar.
Sekilas dipandangnya bulan sepotong yang keme¬rah-merahan tergantung dilangit. Selembar awan yang hanyut dipermukaannya mengalir ke Utara.
Agung Sedayu menjadi gelisah. Bahkan ia berkata didalam hatinya, ”Aku harus menemukan jalan. Apapun yang akan terjadi dengan mereka, adalah akibat yang barangkali tidak aku kehendaki. Tetapi aku tidak dapat membiarkan diriku sendiri dan Glagah Putih menjadi kor¬ban keganasan mereka.”
Sambil menggeram, Agung Sedayu memandang pung¬gung orang yang berkuda dihadapannya mengikuti Gla¬gah Putih. Dipandangnya punggung itu sejenak.
Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar ke¬tika ia mendengar orang itu berteriak, ”Jangan berbuat gila apapun juga Glagah Putih. Aku dapat membunuhmu dengan caraku.”
Agung Sedayu menggeretakkan giginya. Ia menjadi semakin tidak percaya bahwa orang-orang itu akan mem¬berikan kesempatan kepada Glagah Putih untuk kembali ke padepokannya.
Karena itu, maka ia pun semakin yakin akan niatnya untuk melepaskan diri dari kekuasaan kelima orang itu. Tetapi ia masih belum menemukan caranya.
Tiba-tiba Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ia melihat suatu kemungkinan yang dapat dilakukannya. Tetapi mungkin ia harus mengorbankan lawannya dan dendampun menjadi semakin menyala.
“Tetapi itu lebih baik daripada Glagah Putih-lah yang akan menjadi korban,” geram Agung Sedayu.
Akhirnya, setelah dipertimbangkannya berulang kali, maka ia pun menggeram didalam dadanya, ”Apa boleh buat.”
Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Dipan¬danginya orang yang berkuda didepannya. Kemudian ia pun berpaling melihat keempat orang yang mengikuti¬nya.
Ternyata bahwa keempat orang yang ada dibelakangnyapun berurutan pada jarak yang tidak terlalu dekat. Mereka yang sudah terluka nampaknya menjadi terlalu lemah dan tidak lagi mempunyai gairah diperjalanan.
“Meskipun demikian, jika hidupnya terancam, mereka masih dapat berbuat dengan liar dan buas. Bahkan orang-orang terluka itulah yang akan kehilangan pertim¬bangan dan membunuh dengan semena-mena,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.
Dalam pada itu, Agung Sedayu telah bertekad bahwa ia harus melepaskan diri bersama Glagah Putih sebelum fajar menyingsing. Sebelum lawannya menentukan sikap lebih jauh dihutan perdu dihadapan mereka.
“Mumpung masih dalam iring-iringan ini,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.
Sesaat kemudian Agung Sedayu pun beringsut, seolah-olah ia menempatkan diri sebaik-baiknya diatas punggung kudanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia bergumam kepada diri sendiri, ”Apa boleh buat.”
Sekali lagi Agung Sedayu berpaling. Dilihatnya orang-orang yang dibelakangnya terkantuk-kantuk diatas punggung kudanya. Silirnya angin malam dan redupnya cahaya bulan sepotong, membuat hati orang-orang itu meremang pula.
Sejenak kemudian Agung Sedayu pun mempersiapkan diri. Dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya. Dipandanginya punggung orang berkuda dihadapannya.
Tiba-tiba saja sepinya sisa malam itu telah dikoyakkan oleh suara jerit yang melengking. Orang berkuda dibelakang Glagah Putih itu pun meronta dan bagaikan dilemparkan ia terpelanting jatuh dari kudanya.
Peristiwa itu benar-benar telah mengejutkan. Glagah Putih yang berada dipaling depan cepat berpaling. Dilihatnya orang berkuda dibelakangnya telah terpelan¬ting jatuh.
Sejenak Glagah Putih termangu-mangu. Ia masih melihat orang itu menggeliat sambil mengaduh diatas pasir yang basah dan ditumbuhi oleh ilalang dan rumput yang berbentuk bola.
Peristiwa itu telah menarik perhatian keempat kawannya. Seorang yang masih belum terluka dengan ser¬ta merta mendekatinya. Dengan tergesa-gesa ia meloncat dari punggung kudanya dan berjongkok disamping kawannya yang kesakitan.
“Kenapa kau he?” ia mengguncang tubuh kawan¬nya yang terbaring sambil merintih.
Kawannya yang terbaring tidak sempat menjawab. Setiap kali terdengar ia berdesis dan mengaduh.
Beberapa langkah dari orang itu, Agung Sedayu duduk diatas punggung kudanya. Dengan cemas, ia melihat perkembangan keadaan lawannya. Ia telah mem¬pergunakan kekuatan tatapan matanya untuk menghantam punggung lawannya.
Namun Agung Sedayu telah berusaha, bahwa yang dilepaskannya bukanlah sepenuh kekuatan yang ada padanya. Ia berharap bahwa dengan demikian, lawannya yang memiliki ilmu dan daya tahan pula, akan dapat ber¬tahan dan tidak mati karenanya.
Dalam pada itu, keempat kawannya telah turun dari kuda masing-masing dengan tergesa-gesa, seolah-olah mereka telah melupakan Agung Sedayu dan Glagah Putih. Mereka sibuk berusaha menolong kawannya yang tidak diketahui sebabnya telah terpelanting jatuh dan hampir tidak sadarkan diri.
“Cari air,” desis yang seorang.
“Kemana?” bertanya yang lain, ”tentu tidak dapat dengan air laut.”
“Ke rawa-rawa. Mungkin masih terdapat air tawar dirawa-tawa.”
“Rawa-rawa itu sudah jauh.”
Sejenak mereka termangu-mangu. Namun keadaan orang yang terbaring itu menjadi semakin gawat.
“Cepat, cari air kemana saja,” desis yang seorang.
Orang yang masih belum mengalami cidera ditubuhnya itu pun kemudian berdiri sambil berkata, ”Aku akan mencoba mencari air. Awasi orang-orang itu. Jangan sampai mereka terlepas dari tangan kalian.”
“Cepatlah,” sahut seorang kawannya.
Orang itu pun kemudian meloncat ke punggung ku¬danya dan berpacu menuju ke rawa-rawa untuk men¬dapatkan air.
“Bagaimana ia akan membawa setitik air itu?” desis salah seorang kawannya.
“Tentu ada selembar daun talas atau daun apapun.”
Ketiga orang yang menunggui kawannya yang terluka itu pun kemudian kembali merenunginya. Sekali-sekali diantara mereka berpaling dan menggeram, ”Jangan gila. Jika kalian berbuat sesuatu yang mencurigakan, kalian akan dikubur disini.”
Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi ia memberikan isyarat kepada Glagah Putih agar mendekat.
Agaknya ketiga lawannya tidak berkeberatan melihat Glagah Putih mendekati Agung Sedayu yang terikat tangannya. Selain kebingungan yang tiba-tiba karena keadaan kawannya itu, mereka menganggap bahwa Agung Sedayu sudah menjadi lumpuh dan tidak dapat berbuat apapun juga.
“Kita mencoba melarikan diri,” bisik Agung Sedayu, ”pegangi tali kudaku dan bawa lari.”
“Mereka akan menyusul kita,” desis Glagah Putih.
“Kau lihat kuda mereka tidak terikat? Kita mengejutkannya, sehingga kuda-kuda itu berlarian. Sementara itu kita melarikan diri. Biarlah mereka menyusul jika mereka menghendaki dan berhasil menangkap kuda mereka kembali. Aku hanya memerlukan waktu agar kau dapat melepaskan ikatan tanganku.”
Glagah Putih bukannya anak yang dungu. Karena itu, maka ia pun segera dapat mengerti apa yang dimaksud oleh Agung Sedayu, justru pada saat seorang diantara lawannya mencari air.
Sejenak Glagah Putih memperhatikan ketiga orang lawannya yang kebingungan. Seorang kawannya ter¬baring diatas pasir sambil merintih kesakitan. Punggung¬nya bagaikan patah dan kulitnya bagaikan terbakar. Perasaan sakit yang tiada taranya telah meremas isi dadanya.
Pada saat yang tepat, maka Glagah Putih pun segera memegang tali dileher kuda Agung Sedayu. Sambil meng¬hentak kudanya sendiri dengan kakinya, maka ia pun menuntun kuda Agung Sedayu.
Dengan tiba-tiba kedua ekor kuda itu pun berlari. Seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu, maka Glagah Putih menuntun kuda Agung Sedayu sambil menghentak mengejutkan kuda-kuda lainnya yang tidak terikat.
Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga orang-orang yang sedang berjongkok disekitar kawannya yang terbaring itu, terlambat mengambil sikap. Ketika mereka berloncatan berdiri, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berada beberapa langkah dari mereka, sementara kuda-kuda mereka pun telah berlari-larian oleh kejutan Glagah Putih.
“Berhenti, berhenti he orang-orang gila,” terdengar salah seorang dari ketiga orang itu berteriak, ”aku bunuh kau.”
Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih tak menghiraukannya. Mereka berlari tanpa menghiraukan arah, asal mereka sempat menjauhi ketiga orang lawan¬nya.
Dalam pada itu, kuda-kuda mereka yang berlari itu ¬pun tidak berlari terus sehingga menjadi terlalu jauh. Ketika salah seorang dari ketiga orang lawan Agung Seda¬yu itu bersuit nyaring, sehingga kuda itu pun berhenti.
“Tangkap kuda itu,” desisnya.
“Ya tangkap. Kita akan mengejar kedua orang gila itu.”
Tetapi ketiga orang itu tidak segera meloncat berlari. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu. Barulah mere¬ka menyadari, bahwa tubuh mereka sudah terlalu lemah. Meskipun dengan reramuan obat yang mereka bawa, luka-luka mereka tidak lagi mengalirkan darah, tetapi rasa-rasanya mereka sudah tidak mampu lagi untuk berlari dipesisir yang berpasir mengejar kuda mereka. Bahkan ketika kuda mereka sudah berhenti agak jauh dari mereka.
“Apakah kita tidak berbuat sesuatu?” bertanya salah seorang dari ketiga orang itu.
Tidak seorangpun yang menjawab. Seekor kuda milik orang yang terbaring kesakitan itu justru tidak terlalu jauh dari mereka. Tetapi tidak seorangpun dari ketiga orang itu yang bernafsu untuk berlari dan meloncat ke punggung kuda itu untuk mengejar Agung Sedayu, karena mereka pun mengerti, bahwa Agung Sedayu bukannya anak muda kebanyakan.
“Jika aku mengejarnya, maka aku akan segera men¬jadi bangkai,” berkata salah seorang dari mereka dida¬lam hatinya.
Karena itu, maka ketiga orang itu pun hanya terma¬ngu-mangu dan mengumpat-umpat. Ketika mereka men¬dengar kawannya yang tiba-tiba saja terpelanting dari kudanya itu merintih, maka mereka pun mendekatinya.
“Bagaimana?” bertanya salah seorang dari mere¬ka.
Orang yang terbaring itu masih mengaduh. Tetapi ia sudah dapat mengucapkan beberapa patah kata, ”Punggungku, punggungku.”
“Kenapa punggungmu?” bertanya kawannya.
“Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja bagaikan terbakar. Jantungku bagaikan remuk diremas oleh kekuatan yang tidak aku ketahui.”
Kawan-kawannya terdiam. Ketika terdengar ombak menggelepar, maka salah seorang dari mereka berdesis, ”Kita sudah berbuat sesuatu yang tidak dikehendaki oleh penguasa ditempat ini.”
Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi kulit mere¬ka terasa meremang. Sementara kawannya berkata selanjutnya, ”Sementara kita tidak dapat melawan kuasanya.”
Kawan-kawannya menjadi semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya jantung mereka berdentang semakin cepat.
Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Glagah Putih telah menyingkir agak jauh dari lawan-lawannya. Karena itu, maka Agung Sedayu pun berkata, ”Glagah Putih, cepat, lepaskan ikatan tanganku. Rasa-rasanya pergelangan tanganku akan patah. Jika mereka menyusul kita, hen¬daknya tanganku sudah tidak terikat lagi jutru oleh cam¬bukku sendiri.”
Glagah Putih pun kemudian berhenti. Dengan terge¬sa-gesa ia mulai mencoba melepaskan ikatan tangan Agung Sedayu.
“Sulit sekali Kakang,” berkata Glagah Putih.
“Tetapi kau tentu dapat melakukannya. Juntai cam¬bukku tidak terlalu lemas, sehingga ikatannyapun tentu tidak akan mati.”
Dengan susah payah, akhirnya terasa ikatan itu mengendor, dan bahkan kemudian cambuk itu pun akhir¬nya dapat dilepas oleh Glagah Putih.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diteri¬manya cambuknya yang telah mengikat tangannya bagai¬kan akan patah dengan hati yang berdebar-debar. Rasa-rasanya Agung Sedayu telah menerima senjatanya yang hampir saja hilang dan justru menjadi alat untuk mencelakainya.
“Terima kasih Glagah Putih,” gumamAgung Seda¬yu.
Namun dalam pada itu, Glagah Putih justru menun¬dukkan kepalanya. Disela-sela suara angin malam dan gelegar ombak yang semakin jauh, terdengar ia berkata, ”Aku mohon maaf Kakang, bahwa hampir saja aku men¬jadi penyebab kesulitan yang gawat pada Kakang.”
Agung Sedayu menepuk pundak Glagah Putih. Katanya, ”Lupakan. Kita bersama-sama telah melakukan kesalahan. Tetapi ini merupakan pengalaman yang baik bagimu. Kau benar-benar telah menghadapi bahaya yang sullit.”
Glagah Putih mengangguk kecil, “Apakah Kakang akan kembali menemui perampok-perampok itu?”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ditatapnya wajah Glagah Putih yang kadang-kadang ditundukannya dalam-dalam.
”Jika Kakang akan kembali kepada mereka, biarlah aku menunggu disini, agar aku tidak mengganggu Kakang mengalahkan mereka.”
Tetapi Agung Sedayu tersenyum. Katanya, ”Bersa¬ma atau tidak bersama aku, daerah ini tetap merupakan daerah yang gawat bagimu Glagah Putih. Karena itu, sebaiknya aku tidak kembali lagi kepada mereka. Marilah kita meneruskan perjalanan. Kecuali jika mereka menge-jar dan berhasil menyusul kita, maka aku akan berbuat sesuatu untuk membela diri.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa telah menjadi rintangan perjuangan Agung Sedayu. Jika ia dapat melindungi dirinya sendiri, maka seti¬dak-tidaknya Agung Sedayu akan dapat menangkap salah seorang lawannya sehingga dari padanya akan dapat didengar keterangan siapakah sebenarnya mereka. Teta¬pi justru karena Agung Sedayu bersamanya, maka kehadirannya itu menjadi perhitungan kakak sepupu¬nya.
“Marilah Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu, ”lebih baik kita menghindar. Mereka sangat licik dan dapat berbuat sesuatu diluar dugaan.”
Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi terasa diri¬nya semakin kecil dihadapan Agung Sedayu. Kehadiran¬nya bukannya menjadi seorang kawan yang dapat mem¬bantu melawan lima orang yang mengeroyoknya, namun justru ialah yang menjadi sebab, bahwa hampir saja Agung Sedayu mengalami kesulitan.
Glagah Putih mengangkat wajahnya ketika ia men¬dengar Agung Sedayu berkata, ”Marilah. Kita akan meneruskan perjalanan.”
Glagah Putih mengangguk. Disentuhnya punggung kudanya dengan telapak tangannya, serta digerakkannya kendali kudanya, sehingga kudanyapun perlahan-lahan mulai bergerak.
“Kau didepan, Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”kita berada disebuah hutan perdu.”
Glagah Putih tidak menyahut. Ia pun kemudian berku¬da didepan dan Agung Sedayu dibelakang. Mereka menyusuri sebuah hutan perdu yang belum mereka kenal. Agung Sedayu mengenal arah dari petunjuk letak bintang yang berkeredip dilangit.
“Kita menuju ke Utara,” desisnya, ”nanti jika fajar menyingsing, kita akan mengetahui, dimana kita se¬dang berada, dan barangkali kita akan dapat menentukan arah lebih lanjut.”
Glagah Putih mengangguk kecil.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah berada dihutan perdu yang menjadi semakin lebat. Pasir dibawah kaki mereka telah menjadi semakin tipis dan bahkan kemudian telah hampir tidak terdapat lagi. Jenis tum¬buh-tumbuhan dihutan perdupun menjadi semakin banyak dan semakin rimbun.
“Kita sudah mendekati Sungai Opak,” gumam Agung Sedayu.
“Darimana Kakang tahu?”
“Menurut perhitungan dan menurut arah. Aku kira sebentar lagi kita akan sampai ke pinggir sungai apabila kita menuju ke Timur.”
Glagah Putih mengangguk-angguk, sementara Agung Sedayu melanjutkan, ”Marilah, kita akan mendekati tanggul sungai. Mungkin kita akan menemukan jalan yang menuju ke padukuhan.”
Glagah Putih pun kemudian berbelok ke kanan. Menurut petunjuk bintang, mereka menuju ke arah Timur. Sementara langitpun menjadi semakin menyala oleh war¬na fajar.
Bintang Gubug Penceng diujung Selatanpun menjadi semakin redup. Yang nampak dilangit adalah warna merah yang semakin cerah. Ketika dikejauhan terdengar suara ayam berkokok, maka Agung Sedayu pun berkata, ”Kita tidak terlalu jauh lagi dari padukuhan.”
“Ya,” sahut Glagah Putih, ”aku juga mendengar ayam berkokok.”
“Kita akan turun ke sungai,” berkata Agung Sedayu, ”kita akan mandi dan membersihkan diri, agar kita tidak terlalu dicurigai oleh orang-orang yang akan ber¬papasan diperjalanan.”
Ketika langit menjadi terang, maka seperti yang diperhitungkan oleh Agung Sedayu, mereka pun telah mendekati Sungai Opak. Dari kejauhan nampak beberapa jenis pepohonan yang rimbun membujur disepanjang tanggul. Jenis tumbuh-tumbuhan yang lebih besar dari tumbuh-tumbuhan di hutan perdu.
Bukit yang berjajar dihadapan mereka pun nampak menjadi semakin hijau oleh tumbuh-tumbuhan dilereng yang berjalur-jalur hitam. Semakin tinggi hutan dilereng itu pun menjadi semakin tipis. Pada beberapa puncak bukit yang berjajar itu, terdapat dataran-dataran padas yang gundul.
“Kita akan mandi,” desis Agung Sedayu.
Tetapi wajah Glagah Putih nampak membayang kecemasan hatinya, sehingga Agung Sedayupun berkata pula, ‘ Kita mencuci muka dan bagian tubuh kita yang kotor.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia pun menundukkan wajahnya, seolah-olah ia ingin menyembunyikan perasaannya yang dapat ditebak oleh Agung Sedayu.
Sementara itu, diatas seonggok pasir, lima orang lawan Agung Sedayu yang ditinggalkannya, duduk dengan wajah yang kusut. Orang yang tiba-tiba saja terpelanting dari kudanya telah merasa tubuhnya menjadi semakin baik, sementara kawannya yang mencari air telah kem-bali diantara mereka dengan beberapa tetes air didaun talas. Tetapi yang beberapa tetes itu telah membuat kawannya menjadi segar.
“Kita telah kehilangan Agung Sedayu dan Glagah Putih,” berkata salah seorang dari mereka.
“Ternyata ia memang anak iblis. Iblis itulah yang telah datang membantunya, melemparkan aku dari punggung kuda. Rasa-rasanya punggungku telah dipukul dengan sepotong besi yang membara,” desis kawannya yang terpelanting dari punggung kudanya.
“Sst,” yang lain berdesis, ”jangan sebut lagi. Sekarang kau sudah berangsur baik. Apa lagi yang akan kita lakukan sekarang. Kuda kita masih utuh. Kita telah berhasil menangkap kuda-kuda itu seluruhnya.”
Orang yang telah mendapatkan air itu berpikir seje¬nak. Ia adalah satu-satunya orang yang tidak mengalami sesuatu diantara kelima orang sekelompok kecilnya.
“Kita akan mencari jejaknya,” desisnya tiba-tiba.
“Untuk apa?” bertanya yang lain.
“Kita akan mencari jalan untuk menangkapnya kembali. Kita akan memancing perkelahian dan sekali lagi memperalat Glagah Putih untuk menangkapnya.”
“Agung Sedayu tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ia tentu akan menjadi semakin garang dan cam¬buknya akan menjadi semakin buas,” desis yang lain.
Kawan-kawannya tidak menyahut. Tetapi mereka pun tidak dapat ingkar akan kenyataan mereka masing-masing. Empat diantara kelima orang itu telah terluka. Meskipun keadaan mereka sudah menjadi semakin baik, namun mereka masih harus berpikir sepuluh kali lagi, apakah mereka akan mengikuti jejak Agung Sedayu dan berusaha untuk menyusulnya.
Karena itu, maka mereka masih saja duduk diatas pasir. Rasa-rasanya sangat malas untuk berdiri dan meneruskan perjalanan. Apalagi keempat orang yang telah terluka.
“Apakah yang akan kita katakan kepada Sabungsari,“ tiba-tiba salah seorang dari mereka berdesis.
Kawan-kawannya tidak segera dapat menja¬wab. Mereka sedang mencoba melihat banyak kemung¬kinan yang dapat terjadi.
Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Bukankah yang dikehendaki Sabungsari adalah, bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih kembali ke Jati Anom? Selanjutnya persoalannya akan langsung di tangani oleh Sabungsari sendiri yang ingin membalas dendam dengan tangannya?”
Kawan-kawannya termenung sejenak. Seorang dian¬tara mereka bergumam, ”Ya, kau benar.”
“Jika sekiranya Agung Sedayu kemudian memang kembali ke Jati Anom, apakah kita perlu berbuat sesuatu lagi atasnya?”
Yang lain termangu-mangu. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja bertanya, ”Jika demikian, apakah artinya semuanya yang telah kita lakukan? Apakah yang kita lakukan itu sama artinya dengan jika kita tidak ber¬buat apa-apa?”
“Tentu berbeda,” sahut yang lain, ”tentu akan lebih baik jika kita membawa Agung Sedayu dalam ikatan. Sabungsari akan segera dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya dihutan lereng Gunung Merapi, atau dihutan disebelah Lemah Cengkar yang dihuni oleh macan putih itu. Tetapi jika Agung Sedayu kembali seperti ia kembali dari bepergian, maka masih diperlukan cara untuk menggiringnya dalam perang tanding.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:07  Comments (196)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

196 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mugi-mugi Ki Gede mboten moksa seperti Mas Rizal…

  2. Harapan,Ki, Harapan …
    Maturthankyou Ki GD

  3. Ki GD…
    Kitab nomer setunggalatus kalehdoso sampun tamat, matur sembah nuwun.
    Saklajengipun, kawulo lan rencang-rencang cantrik padepokan sami nenggo kitab sak lajengipun, namung dumugi sak meniko dereng wonten tondo-tondo nipun Ki GD….
    Nuwun…

  4. Ki Semangkin
    Mas Rizal Moksa dg peninggalan terahir episode 60 tanggal 8 juli 2008, dan tanggal 4 sept 2008 ternyata sudah satu padepokan besar dan penuh cantrik mas rizal yang pindah kost ke adbmcadangan dengan ibu kost ki DD,
    ki DD kami selalu berdoa semoga ki DD selalu sehat walafiat, sehingga proyek ADBM ini bisa selesai sampai kitab 396

  5. Ada harapan ….
    Ada kenikmatan …
    Dalam menunggu .. ada kesabaran ..
    Dalam mendapati … ada kesyukuran …

    Trims Ki GD …

  6. aih aih…kulo meniko nyai ..mboten Aki-Aki…denmas Iga Bakar…

  7. Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!

  8. Matur nuwun Ki GD, kitab sudah diunduh.

  9. siap menuju lapak 121

  10. lak jebul kliru tah mas iga bakar kuwi,

    wong jenang-abang jenang putih katon mripat kuwin jenenge semangkin lha kok ditimbali “ki”…

    sing nduwe jeneng pulih kemrungsung kuwi lho mas 😀

    btw (btw iku opo seh boso jowone ???),

    poro konco cantrik2 iki ancene betah banget melek’an, ngriwuki sarene ki GD wayah tengah wengi nganti isuk ndhedhet

    ki GD, kapan kapling selanjute badhe dipun wedhar ?

    hehehe, melu2 ngriwuki


    wayah ngaso, wayah mangan
    ra sido mangan nyempetno nginguk

  11. mas is,

    ajian speedy iso mlayu 320-356 km/jam nek wayah mlebu dalan tol, koyoto ajian saipi angin ra iso digawe ndek tengah pasar.

    asline kuwi jatah’e iso semono, mung kan mesti dibagi, alias kembulan sakpiring karo tonggo teparo sing melu nggawe piring.

    dadine yo, nek wayah akeh tonggo teparo sing lagi podho mangan bareng, jatah piring sampean yo mestine dibagi karo liyane… hehehe


    ajianku saiki aji opo yo ?
    mbuh, kari nganggo tok kok,
    mengko wae nang omah mateg aji dhewe

    #3

  12. kang barata tetap ajian speedy, selalu dan always speedy (milik bangsa sendiri ya kang)
    apa kabar dimas kasandha, sayap-sayap yang terkembang di KR sudah 3 hari tidak nongol

  13. antri 121 disin apa boleh ki GD?

  14. Ki Gede where are you?
    Are you OK

  15. Terima kasih ki KD

  16. Ki GD, koq ora ono alas sing iso dibabati maneh? Aku wis nggowo pacul je…:roll:

  17. Ketokhe Ki GD menghadap R Sutawijaya njalok tambahan lahan kanggo cantrik sing ndak kebagian …
    jo wis aku tak ngantri ning banjar deso wae ….

  18. Mantabs, matur nuwun Ki GD. Dipun tenggo rontal rontal ajian selajengipun.

  19. # On 22 Januari 2009 at 11:36 IS Said:

    Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!
    ….

    hehehehhe,
    namanya orang jualan…, beli dulu, urusan lelet sih ga jamin…
    emang cocoknya ganti pake logo Speda..ya
    selama masih numpang di padepokan telkom, ya ga jelas siapa yang tanggung jawab.., paling 147..hehe.
    Glagah Putih paling cuma nyeletuk :”.. hare gene masih pake speda…”….

  20. Loh,… koq podho susah nganggo SPEEDY…. aku nembe pasang SPEEDY…edan tenan iso nganti 800 kbps lho.
    Ngunduh kitab 121 mung 1.8 menit ….. 🙂

    Sadurunge aku nganggo TENI, mung iso 46 kbps….

    Wah mesti diadusi kembang 7 warno nganggo banyu 7 sumur disebar neng 7 pojokan nek ono SPEEDY sing lelet …

  21. lha kok malah mbahas sepeda, sing penting iku piye kitab 121 enggal tumurun ing mayopodo

  22. iyo pener kuwi kangmas sidanti,

    kapling anyar yo isih durung iso dibuka, palingo mergo isih wingit alas’e.

    Ki GD kayane lagi mesu diri, ningkatne elmu olah kanuragan lan kajiwan, dadine durung sempet mbuka alas, lha nek poro cantrik yo ra ketang kuat mbuka lan mbabat dewe.

    mugo2 wae, sak marine ki GD mesu diri, kapasitas tatapan mripat’e juga meningkat kayata Agung Sedayu, angger’e medhar kitab ugo iso luwih akeh maneh saben ndinane… heheheh


    poso dhisik kayane dino iki
    #1

  23. Tampaknya Ki GD sengaja memberi waktu kepada para cantrik untuk mendalami kitab-kitab yang telah diterima, bukan dari sisi kanuragan tapi dari sisi kajiwan.
    Semakin tinggi ilmunya, semakin mengendap jiwanya…

    ( terlalu dalam nih Ki, takut ngga bisa naik…. )

  24. bogor cukup cerah sore ini..
    muda2an ga ujan…
    mudah2an ntar malam kavling 121 udah beres imb nya..
    trims Ki Gede

  25. Lima mayat orang orang Sabungsari tumpang tindih di tepi kali Paraga. Sedangkan empat mayat dari perguruan Endut berserakan dekat rawa rawa. Bulak sekitar hancur lembur layaknya ada gerombolan banteng ngamuk.Bekas pertempuran masih nampak nyata, darah bececeran di setiap sudut. Tidak satupun yg bisa menyelamatkan diri. Dendam dan rasa lebih dari yang lain telah menggelapkan hati dan nurani. Rasa lebih sempurna telah menenggelamkan dan mengubur pikiran yang jernih. Dendam akan terus beranak pinak.
    Sementara itu sabung sari sedang duduk terkantuk kantuk di bawah rindangnya pohon tepi alas Mentaok, menunggu orang orangnya menggiring Agung sedayu yg terikat kedua tangannya, seperti yg dilihatnya di tepi pantai..
    Rasa ngantuk, lapar dan dendam melebur menjadi satu di dalam dada Sabungsari. Sementara itu di belahan hutan tepi kali Praga AgungSedayu sambil duduk di atas pelana kudanya masih termenung, begitu dahsyat makna dendam… dendam kesumat.. rasa ingin dan penasaran untuk membaca rontal 121.

  26. hmmmm …. dalam puncak pencapaian mesu raga, semua cantrik ADBM berhasil meraih moksa …. SUNYI… SEPI … DAMAI ….

    GELISAH.

  27. Kapan?

  28. Lho, poro cantrik do ngumpul nangendi iki?

  29. Lho… gerdu 120 sudah kosong, hanya tinggal beberapa cantrik yang masih ngobrol di pendopo.
    Woo pada pulang kampung ya’e…
    Ki GD belum kasih tempat kumpul yang baru apa ya ?

  30. Para kadang,

    Selama bendel belum keluar, untuk bisa meloncat ke pendhopo selanjutnya, dapat menggunakan link “komentar terakhir” di kolom bagian kanan.
    Alternatif lain, URL dimodifikasi sedikit, misalnya …\buku-ii-20\ menjadi …\buku-ii-21\

    Ki GD pintu pendhopo 121-140 dibuka dong.

  31. sampurasun ki GD
    ugi para sedulur padepokan ADBM kulo bade miLet dahdos CANTRIK

  32. sampurasun para kadang
    yang ada di seputaran bandung cimahi tlng SMS aja ke 0811200159 udah gak tahan lagi udah seminggu otak atik,klak klik ngikutin petunjuk para kadang tanpa hasil maklum udah lelet kali yah kasihan dong sampe lieurrrr.

  33. udah ketemu udah bisa kesedot tpi kalo gak putus di jalan yah gak bisa ke buka adauhhhhh gimana do…..ng
    please dong

  34. Sebenarnya agak bingung nih.. Apa SHM lupa ya, bukankah empu pinang aring, salah satu tokoh utama dipertempuran lembah merapi dan merbabu tertangkap (lihat jilid 110). Lalu apa kelanjutannya?? tidak mungkin dia tidak menguasai jalur majapahit dipajang, karena merupakan tokoh penting. tapi cerita tentang dia hilang,dan cerita selanjutnya jalur majapahit dipajang masih gelap..

  35. kynya napak tilas adbm mantap ya….

  36. yg mau ngobrol2 tentang adbm silahkan add ym za_sableng ya….hehehe.komunitas adbm makin besar terus ya…salam buat smuaaaaaaaa..

  37. matur nuwun !!! baru kali ini kulo urun ngomong

    pancen adbm gak ono seng nandingi sakti tenan sampek

    kulo mboten saged turu penak yen durung moco agung

    SEDAYU..(mirip daerahku sedayu GRESIK)

    sopo seng durung weruh keris kyai sengkelat saiki

    ono pameran nang gresik ..wujude ..uihhh

  38. Agung Sedayu gelut neng cedhake tlatah Pandan Segegek,
    apa mulihe ya njur tuku geplak….????

    • Nyanking udud sing dilinting ni Roro Mendut ki Mbleh

      • nomer hapene ni mendut pinten ki mangku

        • Sing ngertos niku mung mas-e Pranacitra .

          • Lha kok wani2ne Ki AS mundhut pirsa nomer hapene Rara Mendut to….???
            Apa ora wedi karo Ki Menggung….?????

            • Lha ki Menggung saiki wis ora medeni maneh .

              • ora nomere roro mendut yo nomere mita waelah 😉

                • Yen ra salah nomere ganol-ganol pitu ki .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: