Buku II-20

Dalam pada itu, bulan sepolong yang naik diatas per¬mukaan air laut yang bergejolak dihempas angin, nampak semakin tinggi. Meskipun cahayanya tidak terlalu terang, namun pantai yang gelap itu perlahan-lahan telah berubah.
Tetapi Agung Sedayu dan Glagah Putih tidak sempal melihat buih ombak yang menjadi kemerah-merahan. Yang mereka hadapi adalah kelima orang yang benar-be¬nar telah mengepung dengan rapat.
Dalam pada itu Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berdiri diatas pasir pula. Mereka pun membiarkan kuda mereka tanpa terikat.
Beberapa langkah Agung Sedayu bergeser diikuti oleh Glagah Putih sehingga kelima orang lawannyapun berge¬ser pula. Dengan demikian maka kedua ekor kuda Agung Sedayu dan Glagah Putih telah berada diluar kepungan.
“Apakah yang sebenarnya kalian kehendaki,” ber¬tanya Agung Sedayu.
“Kau,” jawab salah seorang lawannya dengan singkat.
Agung Sedayu merasa bahwa tidak ada gunanya lagi untuk berbicara. Karena itu, maka ia pun segera memper¬siapkan diri menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu, seorang anak muda yang berdiri agak jauh dari arena itu telah mengikat kudanya pada seba¬tang pokok pandan yang mencuat agak tinggi. Kemudian dengan hati-hati, ia berjalan mendekat diantara pohon pandan yang satu dua masih terdapat meskipun sudah berjarak beberapa langkah dari tanah yang berawa-rawa. Dari antara daun-daun pandan, anak muda itu melihat dari jarak yang agak jauh, apakah yang akan terjadi.
Cahaya bulan yang buram telah menolongnya untuk dapat melihat meskipun tidak terlalu jelas. Tetapi bulan yang sepotong itupun cahayanya bagaikan pelita yang kehabisan minyak.
“Akhirnya aku akan melihat apa saja yang dapat dilakukan oleh Agung Sedayu. Jika ia berhasil lepas dari tangan kelima orang itu, maka ia benar-benar seorang anak muda yang pilih tanding. Yang masih harus dipertimbanggkan lagi, apakah aku akan segera menantang¬nya berperang tanding. Tetapi jika kelima orang itu berha¬sil mengikat kaki dan tangannya, atau justru melumpuh¬kannya, maka akan datang saatnya aku membunuhnya, meskipun aku harus menyembuhkannya lebih dahulu dari luka-lukanya.”
Sabungsari pun kemudian beringsut setapak lagi. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi. Bagaimanapun juga ia masih harus mengakui, bahwa kelima orang keperca¬yaannya itu memiliki kelebihannya masing-masing sehingga apabila mereka berlima bertempur dalam satu kesatuan, mereka merupakan kekuatan yang luar bi¬asa.
Dalam pada itu, kelima orang yang mengepung Agung Sedayu pun telah siap untuk bergerak. Sementara itu, Glagah Putih dengan hati-hati berada dibelakang Agung Sedayu, menghadap ke arah yang berbeda.
“Kita akan segera mulai, Glagah Putih,” desis Agung Sedayu.
Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi ia benar-benar sudah siap menghadapi segala kemungkinan.
“Jangan mencoba menyerang,” Agung Sedayu masih memperingatkan, ”kau pusatkan sagala kemam¬puanmu pada mempertahankan diri. Sebaiknya kau berusaha mengelak dan menghindari benturan.”
Glagah Putih masih tetap berdiam diri. Tetapi ia telah menyiapkan diri untuk melakukan pesan kakak sepupu¬nya itu.
Sejenak kemudian, kelima orang yang mengepungnya itu pun mulai bergerak. Mereka berputar mengitari kedua orang yang dikepungnya perlahan-lahan.Selangkah-selangkah. Seolah-olah mereka ingin melihat kedua lawannya dari segala arah.
Agung Sedayu pun telah bersiap menghadapi sega¬la kemungkinan. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan Glagah Putih, sehingga dengan demikian, maka ia harus berusaha melindunginya, melampaui diri¬nya sendiri.
“Aku masih memberimu kesempatan Agung Sedayu,” terdengar salah seorang lawannya menggeram di¬sela-sela suara ombak yang masih selalu menggelegar.
“Jangan memaksa aku berbuat terlalu banyak,” jawab Agung Sedayu, ”aku sama sekali tidak ingin mengembangkan pertentangan dengan siapapun.”
“Persetan,” yang lain dari kelima orang itu memotong. Nampaknya ia sudah tidak sabar lagi. Bahkan ia pun melangkah maju dengan serangan pendek.
Agung Sedayu hanya beringsut sedikit. Ia sadar, bah¬wa serangan itu bukannya serangan yang sebenarnya.
Namun ia pun sadar, bahwa akan segera menyusul serangan berikutnya sehingga pertempuran itu pun akan segera mulai pula.
Seperti yang diperhitungkan, maka sejenak kemudian dua orang diantara mereka telah menyerang dengan garangnya. Agung Sedayu dengan tangkasnya mengelak¬kan serangan itu, sementara Glagah Putih pun telah meloncat selangkah ke samping.
Tetapi ternyata bahwa seorang yang lain telah meman¬faatkan loncatan Glagah Putih itu. Dengan serta merta, ia pun meloncat menyerang pula. Glagah Putih yang masih sangat muda didalam gejolak hitamnya olah kanuragan menjadi bingung. Pada saat-saat pertama dari pertem¬puran itu ia sudah kehilangan keseimbangan sikap. Namun untunglah bahwa Agung Sedayu sempat meloncat menyambar serangan lawan itu dengan membenturkan kekuatannya.
Agung Sedayu memang tidak dapat berbuat lain. Namun benturan itu telah memperingatkan lawannya, bahwa Agung Sedayu mempunyai kekuatan yang harus mereka perhitungkan baik-baik.
Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu harus ber¬tempur dengan cermat. Bukan saja karena ia harus menghadapi lima orang lawan. Tetapi ia masih harus melindungi Glagah Putih.
Pada permulaan dari pertempuran itu sudah mulai nampak. Glagah Putih mengalami kesulitan.
Tetapi Glagah Putih bukannya seorang anak muda yang sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa. Seperti pesan kakak sepupunya, maka Glagah Putih memusatkan segenap kemampuannya pada usahanya menghindari lawan.
Namun karena itulah, maka Agung Sedayu harus ber¬juang sekuat tenaganya. Bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri saja, tetapi juga untuk melindungi Glagah Putih.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Glagah Putih berloncatan disekitar Agung Sedayu. Dengan bekal kemampuan yang ada ia berhasil menyesuaikan dirinya, meskipun hanya sekedar menghin¬dar dan berlindung dibelakang garis pertahanan Agung Sedayu.
Sementara itu Agung Sedayu bertempur seperti se¬ekor burung sikatan. Kakinya seolah-olah tidak lagi menyentuh tanah. Tubuhnya menjadi ringan seperti kapas, tetapi tenaganya menjadi sekuat tenaga ganda beberapa ekor banteng terluka.
Seandainya Agung Sedayu tidak harus melindungi Glagah Putih, mungkin ia dapat bersikap lain. Mungkin ia masih mempunyai banyak pertimbangan untuk mengerahkan kemampuannya. Tetapi pada saat ia mempertanggung jawabkan keselamatan adik sepupunya, maka ia tidak mempunyai banyak pertimbangan lagi, sehingga seakan-akan diluar sadarnya, maka kemam¬puannya terperas tanpa kendali.
Sesaat-sesaat Agung Sedayu masih sempat menilai tata geraknya sendiri. Ia merasakan beberapa dorongan yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Namun ia pun menyadari, pengaruh yang meresap didalam dirinya dan ungkapan ilmunya telah membuatnya menjadi semakin cekatan.
Kelima lawannya yang semula menganggap bahwa betapapun tinggi ilmu Agung Sedayu, namun ia tidak akan dapat bertahan sampai menjelang fajar, ternyata mulai mereka meragukan. Bahkan kemudian ternyata bahwa Agung Sedayu mampu bergerak secepat tatit yang melon-cat diudara.
“Gila,” geram salah seorang dari kelima lawannya, ”setan manakah yang merasuk ke dalam dirinya.”
Namun yang dihadapinya adalah suatu kenyataan. Agung Sedayu bertempur sambil berputaran disekeliling adik sepupunya, seperti daun baling-baling yang berputar sepesat putaran angin pusaran.
Glagah Putih pun akhirnya menjadi bingung. Bahkan kadang-kadang ia menjadi cemas, bahwa ialah yang akan terlanggar oleh Agung Sedayu.
Namun gerakan Agung Sedayu ternyata cukup cer¬mat, sehingga kelima lawannyapun menjadi kebingu¬ngan.
Dalam pada itu, Sabungsari yang mengamati perkelahian itu dari kejauhanpun menjadi bingung. Ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sudah terjadi. Loncatan-loncatan panjang yang susul menyusul, dan bahkan kadang-kadang bagaikan saling melontarkan, membuat perkelahian itu bagaikan benang yang kusut.
“Gila,” geram Sabungsari, ”Agung Sedayu benar-benar seorang anak muda yang luar biasa. Namun, aku masih mempunyai kelebihan yang akan dapat melumpuhkannya, meskipun pada jarak beberapa langkah tanpa menyentuhnya dengan wadagku.”
Sementara itu, kelima pengikut Sabungsari itu pun berjuang dengan sekuat tenaga, dan dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Bahkan ketika mereka tidak dapat menguasai keadaan, maka mulailah mereka dengan mengerahkan kemampuan mereka yang tersimpan dalam tenaga cadangan mereka.
Dengan demikian, maka Agung Sedayu mulai merasa, tekanan kelima orang lawannya menjadi semakin berat. Gerak mereka pun seolah-olah menjadi semakin cepat, dan setiap benturan rasa-rasanya tenaga mereka pun telah berlipat.
Dalam keadaan yang demikian, kelima orang lawan Agung Sedayu merasa, bahwa mereka berhasil sedikit demi sedikit menguasai anak muda yang luar biasa itu. Saat-saat mereka berhasil menyentuh tubuh Agung Sedayu maka terasa tubuh itu terdorong surut.
“Sebentar lagi, pekerjaan gila ini akan selesai. Anak muda itu akan menjadi lumpuh dan kami akan dapat mengikatnya. Tetapi rasa-rasanya belum puas kami belum dapat mematahkan tangan dan kakinya,” geram salah seorang lawannya didalam hati.
Sementara yang lainpun dengan kemarahan yang membakar jantung telah berusaha untuk menguasainya pula.
Dalam pada itu, saat-saat Agung Sedayu mulai terdesak. Glagah Putih menjadi semakin sulit. Ia harus memeras tenaganya untuk menghindari serangan lawan-lawannya dan berlindung dibalik pertahanan Agung Sedayu yang mengendor.
Berurutan kelima orang itu menyerang tiada putus-putusnya dari segala arah. Sekali-sekali tertuju kepada Glagah Putih, namun sebagian terbesar mereka arahkan kepada Agung Sedayu. Jika anak muda itu sudah mereka lumpuhkan, maka Glagah Putih bukan soal lagi bagi mereka.
Agung Sedayu pun kemudian merasakan tekanan yang menjadi semakin berat. Benturan-benturan yang terjadi, terasa seolah-olah tenaga lawannya menjadi bertambah-tambah. Kecepatan bergerak lawannyapun telah bertambah pula. Seorang diantara mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa, sementara yang lain mampu bergerak mengimbangi kecepatan geraknya meskipun kekuatannya tidak terlampau besar.
Pada saat yang demikian, tidak ada pilihan lain bagi Agung Sedayu untuk mengimbangi kekuatan lawannya dengan kekuatan cadangannya. Kekuatan yang terlontar dari pemusatan tenaga yang tersimpan didalam dirinya.
Pada hentakkan berikutnya, terasa kekuatan itu telah tersalur melalui ungkapan-ungkapan geraknya. Bahkan ternyata pada lontaran ilmunya, pengaruh yang ada dida¬lam dirinya, karena kitab yang dibacanya itu menjadi semakin terasa. Kekuatan yang menjalari urat-urat nadi¬nya bagaikan menyalurkan kesegaran baru didalam diri¬nya.
Namun Agung Sedayu sendiri masih belum mampu menilai kekuatan yang seakan-akan baru baginya yang menyusup ke dalam ungkapan ilmunya. Karena itu, ia terkejut ketika kemudian terjadi sebuah benturan yang dahsyat. Demikian cepatnya salah seorang lawannya melontarkan serangan mengikuti serangan kawannya, sehingga Agung Sedayu tidak mungkin lagi mengelakkan¬nya. Karena itulah, maka terjadi sebuah benturan yang tidak diperhitungkannya lebih dahulu.
Akibat dari benturan itu telah mengejutkan semua orang yang ada didalam arena pertempuran itu. Seorang dari lawan Agung Sedayu yang telah membentur kekuatan anak muda itu, ternyata telah terlempar lebih dari lima langkah. Kemudian jatuh berguling diatas pasir sehingga tubuhnya yang berkeringat, menjadi penuh oleh pasir yang melekat, seperti seekor ikan basah direndam didalam tepung.
Bukan saja tubuhnya penuh berpasir. Namun oleh benturan yang dahsyat itu, dadanya menjadi bagaikan retak dan jantungnya seolah-olah runtuh dari tangkainya.
Oleh kejutan itu, maka pertempuran itu seolah-olah telah terhenti sesaat. Semua orang berdiri tegak meman¬dang orang yang masih tergolek diatas pasir karena dorongan kekuatan Agung Sedayu.
Sementara itu, Sabungsari yang melihat perkelahian itu dari kejauhan, terkejut pula melihat akibat dari bentu¬ran itu. Mula-mula ia tidak begitu mengerti, apa yang telah terjadi. Namun kemudian ia melihat salah seorang dari para pengikutnya telah terlempar dan kemudian berguling-guling diatas pasir. Untuk beberapa saat orang itu tidak dapat lagi bangkit dan berdiri, sehingga dua orang kawannya dengan tergesa-gesa telah mendekatinya dan menolongnya.
Agung Sedayu sendiri, untuk beberapa saat lamanya berdiri mematung. Ia tidak memperhitungkan bahwa akibat dari benturan kekuatan itu sedemikian dahsyat¬nya, sehingga lawannya terlempar dan terbanting diatas pasir.
“Aku harus lebih mengenal diriku sendiri,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya. ”Mungkin tanpa menge¬nal nilai diri sendiri, aku akan semakin banyak melakukan kesalahan.”
Sementara itu, maka tertatih-tatih orang yang terlem¬par itu berdiri dibantu oleh kedua orang lawannya. Namun nampaknya keadaannya sudah terlalu parah, sehingga tidak ada kemungkinan lagi baginya untuk turut serta didalam pertempuran selanjutnya.
“Agung Sedayu,” salah seorang lawannya tiba-tiba menggeram, ”ternyata kau memang mempunyai kekuatan iblis. Kawanku telah terlempar dan terbanting sekaligus tanpa dapat bangkit lagi. Namun itu bukan berarti bahwa kau sudah menang. Yang kau lakukan hanyalah suatu peristiwa yang secara kebetulan telah ter¬jadi, tetapi yang akibatnya akan mencekik lehermu sen¬diri. Jika kami tidak ingin membunuhmu, namun kemudi¬an kami tidak mempunyai cara lain yang dapat kami laku-kan untuk melumpuhkanmu daripada dengan senjata. Jika dengan demikian maka ujung senjata kami akan menyobek dadamu, maka itu bukan salah kami.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi semakin tegang. Apalagi ketika terpandang oleh¬nya Glagah Putih yang berdiri termangu-mangu.
“Jika pertempuran ini menjadi pertempuran bersen¬jata, maka Glagah Putih akan menjadi semakin sulit,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya.
Sekilas terlihat olehnya salah seorang lawannya yang seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. Ketika ia dilepas¬kan oleh kedua orang kawannya, hampir saja ia telah ter¬jatuh lagi diatas pasir. Namun meskipun tertatih-tatih untuk sesaat, akhirnya ia dapat berdiri lagi meskipun keseimbangannya belum mantap.
“Jangan menyesali nasibmu Agung Sedayu,” berkata salah seorang lawannya yang sedang dibakar oleh kemarahan itu.
Agung Sedayu beringsut setapak. Dibelakang Glagah Putih ia berdesis, ”Kau harus lebih berhati-hati Glagah Putih.Pergunakan senjatamu untuk melindungi dirimu. Sesuaikan gerakmu dengan kedudukanku. Mungkin aku akan kehilangan perhitungan, sehingga kaulah yang harus berusaha menyesuaikan diri dalam keadaan yang sulit.”
Glagah Putih mengangguk. Namun yang membesar¬kan hati Agung Sedayu, nampaknya Glagah Putih tidak menjadi ketakutan, gemetar dan kehilangan akal. Agak¬nya anak itu memang anak yang berani dan tidak mudah dikaburkan oleh keadaan.
Bahkan sejenak kemudian, Glagah Putih pun telah menggenggam senjatanya. Tidak seperti senjata Agung Sedayu yang lentur. Tetapi Glagah Putih mempergunakan sebilah pedang yang tidak terlampau panjang meskipun anak itu tergolong bertubuh tinggi.
“Jangan kehilangan perhitungan,” desis Agung Sedayu kemudian.
Glagah Putih tidak menyahut. Ketika ia mengedarkan pandangan matanya, ia melihat dalam keremangan cahaya bulan yang sepotong, lawan-lawannya juga sudah menggenggam senjata masing-masing. Bahkan orang yang sudah tidak mampu berdiri tegak itu pun menggenggam senjatanya pula.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja seorang dari lawannya berkata, “Kau jangan sombong anak muda, kami dapat mengatur perlawanan kami sebaik-baiknya. Seandainya kau mampu menghindari senjata kami, namun anak yang bertubuh tinggi itu tentu tidak akan dapat melepaskan diri. Kami akan membunuhnya dan mencincangnya tanpa ampun.”
Agung Sedayu menggeram. Namun Glagah Putih-lah yang menjawab, ”Kematian tidak ditentukan oleh ujung senjata kalian. Tetapi masih ada kekuasaan yang dapat menentukan segala-galanya. Juga menentukan saat-saat kematianku. Jika aku akan mati, seandainya aku tidak bertemu dengan kalian disinipun, aku akan mati. Apakah aku akan disambar petir atau disambar hiu atau oleh sebab-sebab yang lain.”
“Gila,” geram orang itu, ”baiklah. Tetapi petir dan hiu akan membunuhmu dalam sekejap. Tetapi kami akan berbuat lain. Kami dapat membunuhmu perlahan-lahan.”
“Persetan.” Glagah Putih menggeram.
Sementara Agung Sedayu berkata, ”Sudahlah. Jangan banyak mena-kut-nakuti lagi. Namun demikian, aku masih ingin ber¬tanya, apakah kita memang akan mengakhiri perkelahian ini dengan ujung senjata? Apakah tidak ada cara lain yang lebih baik dan tuntas. Dengan senjata kita hanya akan menemukan penyelesaian sementara. Jika kau berhasil membunuh aku, maka adik seperguruanku tentu akan mendendammu. Guruku tentu akan menuntut balas. Demikian pula sahabat-sahabatku, termasuk Ki Waskita dan Ki Gede Menoreh. Bahkan mungkin Senopati Ing Ngalaga. Sebaliknya, jika aku yang berhasil mem¬bunuhmu, dendam itu akan tetap tersebar dimana-mana.”
Orang-orang yang telah menggenggam senjata masing-masing itu justru menggeretakkan giginya. Salah seorang dari mereka berkata, ”Jangan merajuk Agung Sedayu. Kita sudah berdiri diarena. Bahkan kita sudah sa¬ling berbenturan. Kenapa kau masih berbicara seperti itu? Bersiaplah untuk mati bersama anak dungu itu.”
Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Tidak akan ada gunanya untuk berbicara panjang lebar. Yang dihadapi¬nya adalah senjata. Dan ia harus berusaha untuk berbuat sesuatu agar ia tidak mati terbunuh oleh senjata itu.
Sejenak kemudian, maka ujung-ujung senjata itu pun mulai bergerak dari segala arah. Lawannya dengan senja¬ta mengepungnya untuk membagi perhatiannya.
Agung Sedayu tidak mau menyesal karena kelengahannya. Karena itu maka sejenak kemudian, ia pun telah mengurai cambuknya yang melilit dipinggangnya.
Bagaimanapun juga, hati lawan-lawannya tergetar juga melihat senjata Agung Sedayu itu. Setiap orang dari mereka yang mengepungnya telah pernah mendengar, bagaimana ujung cambuk salah seorang dari orang-orang bercambuk itu menyayat kulit lawan-lawan mereka. Bah¬kan sentuhan juntai cambuk bercincin besi baja itu, dapat membelah kulit daging seperti tajamnya sebilah pedang.
Namun yang harus dihadapi oleh Agung Sedayu saat itu adalah lima ujung senjata dari lima arah. Setiap saat ujung-ujung senjata itu dapat mematuknya. Kadang-kadang menyambar mendatar, terayun menyi¬lang dan berputar seperti baling-baling.
Sejenak Agung Sedayu berdiri tegak. Dipusatkannya perhatiannya kepada lawan-lawannya. Meskipun ia memandang ke satu arah, tetapi telinganya mende¬ngarkan setiap desir disekitarnya, betapapun lembutnya.
Karena itu, ketika salah seorang lawannya bergerak, meskipun ia berada dibelakang Agung Sedayu, anak muda itu dapat mengetahuinya, dan dengan sigapnya ia beringsut selangkah. Dan bahkan ujung cambuknyapun mulai bergetar pula.
Kelima orang lawannya masih termangu-mangu seje¬nak. Namun kemudian salah seorang diantara mereka pun mulai memancing dengan gerakan pendek. Ujung senjata¬nya bagaikan menggapai meskipun tidak mencapainya.
Agung Sedayu hanya beringsut pula. Sementara Gla¬gah Putih selalu berusaha menyesuaikan dirinya. Pedangnya bersilang dimuka dadanya. Dengan hati-hati ia pun bergegas dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Gerak ujung-ujung senjata itu pun semakin lama mejadi semakin cepat. Masing-masing berusaha untuk mena¬rik perhatian Agung Sedayu. Namun kemudian serangan yang sebenarnya akan datang dari arah yang tidak terdu¬ga-duga.
Tetapi Agung Sedayu cukup waspada. Ia mengerti apa yang akan dilakukan oleh kelima orang lawannya. Karena itu, maka justru ialah yang mendahului membetengi dirinya dengan senjatanya.
Sesaat kemudian.maka kelima orang lawannya menj¬adi tercenung sejenak. Ketika Agung Sedayu memutar ujung cambuknya mendatar diatas kepalanya, maka mereka bagikan mendengar deru angin pusaran yang melampaui debur ombak pantai Laut Selatan.
“Gila,” geram salah seorang dari mereka, ”anak itu benar-benar mempunyai kekuatan iblis didalam dirinya.
Dalam pada itu, Glagah Putih pun mengerutkan leher¬nya. Putaran ujung cambuk Agung Sedayu diatas kepala¬nya itu, benar-benar bagaikan deru angin yang membadai, mengguncang batang-batang pepohonan diseluruh daerah dan lembah-lembah.
Karena itu, maka kelima orang lawannya benar-benar berhati-hati. Mereka mencoba untuk mende¬kat bersama-sama, Memancing perhatian dan kemudian menyerang dengan cepat susul menyusul, secepat mereka harus berloncatan surut. Karena mereka sadar, jika cambuk Agung Sedayu itu menyentuh kulit, itu berarti bahwa kulit kulit mereka akan koyak karenanya.
Namun kelima orang itu bukannya orang-orang lemah yang tidak berilmu. Meskipun jantung mereka menjadi berdebaran oleh putaran cambuk Agung Sedayu, namun bersama-sama mereka merupakan kekuatan yang tetap berbahaya bagi anak muda itu.
Sejenak kemudian, maka kelima orang lawan Agung Sedayu itu mulai berloncatan. Serangan mereka datang susul menyusul dari segala arah. Namun tidak seorangpun dari mereka yang berhasil menembus putaran juntai cambuk Agung Sedayu.
“Ujung cambuk itu harus di tebas dengan tajam pe¬dang,” berkata salah seorang lawannya didalam hatinya.
Seorang diantara mereka yang berpedang tajam seperti pisau pencukur memberanikan diri untuk men¬coba menebas ujung cambuk Agung Sedayu. Sejenak ia memperhatikan arah, dan memperhitungkan gelombang putarannya. Dengan cermat ia mengerahkan ilmu dan tenaganya.
Ketika saat itu datang, maka tiba-tiba saja ia telah mengayunkan pedangnya menyilang putaran ujung cam¬buk Agung Sedayu.
Terasa kekuatan yang besar membentur dan mengguncang tangan Agung Sedayu. Namun dengan gerak naluriah, maka ia pun segera menarik cambuknya sendal pancing.
Dalam pada itu, ketajaman pedang lawannya tidak berhasil memotong ujung cambuk Agung Sedayu yang ter¬buat dari janget yang khusus dan terikat oleh ge¬lang-gelang besi baja pilihan. Karena itu, maka yang ter¬jadi kemudian adalah bahwa ujung cambuk itu telah membelit pedang lawannya. Satu tarikan sendai, pancing justru telah menghentakkan pedang itu dengan kekuatan yang luar biasa, seolah-olah pedang itu telah dihisap oleh kekuatan raksasa.
Lawannya tidak berhasil mempertahankan pedang¬nya. Tangannya menjadi pedih dan bagaikan terkelupas kulit di telapak tangannya, sehingga pedang itu tidak dipertahankannya lagi.
Adalah mendebarkan jantung ketika orang-orang yang sedang bertempur itu melihat pedang itu melayang diudara. Kilatan cahaya bulan yang memantul nampak meluncur seperti cahaya lintang alihan.
Agung Sedayu sendiri menjadi berdebar-debar. Pe¬dang itu adalah pedang yang berat. Tetapi ternyata bahwa daya lontar hentakan cambuknya dppat melemparkan pe¬dang itu sampai jarak yang sangat jauh.
Agung Sedayu dan orang diarena pertempuran itu tidak dapat melihat dengan jelas, dimanakah tepatnya pe¬dang itu terjatuh. Bahkan Agung Sedayu yang mempunyai penglihatan yang tajam itu pun hanya dapat melihat kilat¬an pedang itu meluncur dibalik gerumbul-gerumbul pan¬dan. Namun ia tidak dapat melihat dengan jelas, saat pe dang itu terjebur ke dalam rawa-rawa.
Namun dalam pada itu, seseorang yang bersembunyi dibalik gerumbul pandan, hatinya bagaikan tercengkam kuat-kuat oleh pesona yang mengejutkan. Sabungsari yang sedang bersembunyi itu pun melihat kilatan pedang yang terlempar ke udara. Kemudian meluncur seo¬lah-olah mengarah kepadanya. Namun ternyata pedang itu bagaikan terbang diatasnya meluncur ke rawa-rawa.
“Gila,” geramnya, ”kekuatan apakah yang telah me¬lontarkan pedang sejauh itu?”
Jantung Sabungsari bagaikan berdentang lebih ce¬pat. Ia telah melihat satu segi kelebihan dari Agung Seda¬yu, meskipun Agung Sedayu sendiri termangu-mangu karenanya. Kekuatan itu adalah kekuatan raksasa yang sebelumnya tidak diduga sama sekali oleh Sabungsari.
“Kekuatan itu tentu dapat dipergunakannya untuk melemparkan aku ke dalam rawa-rawa itu,” desis Sa¬bungsari.
Meskipun demikian, namun Sabungsari masih mempunyai kebanggaan tentang dirinya. Dengan sorot matanya ia akan dapat melumpuhkan kekuatan lawan yang betapapun besarnya.
“Aku dapat meretakkan dada Agung Sedayu dari jarak beberapa langkah,” berkata Sabungsari kepada diri sendiri, “betapapun kuat tenaganya asal tidak sempat meraba tubuhku, maka ia akan dapat aku lumpuhkan. Aku buat ia menyesali segala tingkah lakunya sambil berguling-guling ditanah oleh perasaan sakit yang tidak ada taranya, sementara aku akan meremas jantungnya dengan tatapan mataku.”
Sabungsari menggeretakkan giginya. Dendamnya justru menyala semakin dahsyat didalam dadanya.
Sementara itu, Agung Sedayu masih termangu-mangu sejenak. Namun lawannya yang lainpun tiba-tiba saja telah berloncatan menyerang dari segala arah. Orang yang kehilangan pedangnya itu meloncat mendekat kawannya yang sudah tidak banyak dapat membantunya sambil menggeram, ”Serahkan pedangmu. Dan pergilah jauh-jauh. Kau perlu menyelamatkan dirimu dari perke¬lahian yang menggila ini. Agung Sedayu ternyata bukan manusia sewajarnya. Ia mempunyai kekuatan iblis.”
Kawannya yang sudah terlalu lemah itu tidak mem¬bantah. Diberikannya pedangnya dengan ragu-ragu. Namun kawannya menggeram sekali lagi, ”Pergilah. Jangan membiarkan dirimu terperosok ke tangannya jika akhir dari perkelahian ini bukannya seperti yang kita perhitungkan.”
Orang yang sudah terlalu lemah itu bergeser menja¬uh, mendekati kudanya. Ia sudah bersiap untuk melarikan diri jika keadaan memaksa demikian.
Yang telah terjadi itu ternyata telah menumbuhkan gagasan bagi Agung Sedayu untuk mengakhiri pertempur¬an. Jika ia dapat merampas senjata-senjata lawannya dengan cara yang serupa, maka ia akan dapat menguasai lawannya yang akan menghentikan perlawanannya.
Karena itu, maka Agung Sedayu pun segera mem¬perhitungkan keadaan sebaik-baiknya. Ia harus dapat menjerat senjata lawan atau menyakiti pergelangan tangan lawannya, sehingga senjatanya terlepas.
Karena itulah, maka Agung Sedayu pun kemudian memusatkan perhatiannya kepada senjata dan tangan lawannya yang menggenggam senjata.
Sejenak pertempuran itu masih berlangsung dengan sengitnya. Serangan lawannya yang sudah berkurang jumlahnya itu sekali-kali mengarah kepada Glagah Putih. Tetapi karena ujung cambuk Agung Sedayu yang berpu¬tar, maka mereka tidak sempat menjangkau jarak dengan ujung pedangnya. Apalagi Glagah Putih mampu bergeser dan menangkis serangan yang kurang cermat itu.
Bahkan sesaat kemudian, Agung Sedayu lah yang nampaknya menekan lawan-lawannya dengan renca¬nanya. Sekali-sekali senjatanya yang berputar itu melenting dan meledak dengan dahsyatnya. Suaranya bergema disela-sela bukit pasir yang berserakan dipesisir, menga¬tasi deru ombak dan angin.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Sabungsari meli¬hat perkelahian itu. Dadanya semakin berdentangan melihat perlawanan Agung Sedayu atas empat lawannya yang sudah mengerahkan segenap kemampuannya. Bukan saja tenaga wajarnya, tetapi mereka sudah menge¬rahkan tenaga cadangan menurut kemampuan mereka masing-masing.
Tetapi Agung Sedayu benar-benar seorang yang luar biasa.
Pada saat yang demikian itu, Sabungsari telah diceng¬kam oleh keragu-raguan. Rasa-rasanya jantungnya men¬jadi gatal, untuk segera meloncat meremas dada Agung Sedayu dengan kekuatan matanya. Ia hanya memerlukan beberapa puluh langkah mendekati arena. Kemudian dengan sepenuh hati memusatkan segenap kekuatan dan kemampuannya pada pandangan matanya.
“Betapapun besar daya tahannya, ia akan jatuh terkulai dipasisir tanpa mampu melawan. Ombak yang dilemparkan angin itu akan menyeretnya hanyut ke tengah lautan, menjadi makanan ikan hiu yang garang,” geram Sabungsari.
Namun hatinya tersentak oleh kenyataan, bahwa ujung cambuk Agung Sedayu telah mampu merenggut sehelai pedang lagi dan melemparkannya jauh-jauh.
“Gila,” geram Sabungsari.
Sejenak ia terpukau oleh keadaan. Hampir terpekik ia melihat pedang berikutnya telah terlempar pula.
Keempat lawannya menjadi termangu-mangu. Dua diantara mereka tidak bersenjata lagi.
Tetapi agaknya mereka tidak berputus asa. Setelah saling berbisik sejenak, maka keduanya telah memencar dari arah yang berlawanan.
“Jangan mengira bahwa kami telah kehilangan kemampuan untuk melawan,” berkata salah seorang dari mereka, ”kawan-kawan kami yang sudah lidak berpe¬dang akan membunuhmu dengan lontaran pisau-pisau belatinya.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Hal itu memang tidak mustahil. Orang-orang itu memang mungkin membawa pisau-pisau belati.
Karena itu, Agung Sedayu tetap berhati-hati. Ia masih memutar cambuknya. Bahkan semakin lama seakan-akan menjadi semakin cepat, sehingga suaranyapun meraung semakin keras.
Sesaat kemudian, maka lawan-lawannyapun mulai menyerang lagi. Kedua orang yang masih berpedang itu menyerang dari arah yang berlawanan, sementara yang lain benar-benar telah menggenggam pisau belati yang tidak terlalu panjang, siap untuk dilemparkan.
Dengan hati-hati Agung Sedayu menilai keadaan. Dua orang lawannya yang berpedang ternyata tidak mende¬katinya lagi. Mereka hanya mengacu-acukan pedangnya dari jarak yang agak jauh, sementara yang lain nampak¬nya siap untuk menyerang dengan pisau-pisaunya.
Untuk sesaat, Glagah Putih berdiri saja termangu-mangu, tetapi ia tidak lengah sama sekali. Ia sadar, bahwa pisau belati lawannya dapat meluncur ke arahnya.
Seperti yang diperhitungkan oleh agung Sedayu, maka sejenak kemudian, lawan-lawannya telah mengam¬bil suatu kesempatan untuk menyerang bersama-sama. Dua orang telah melontarkan pisaunya ke arah Agung Sedayu, sehingga ia berusaha untuk menangkisnya dengan putaran cambuknya. Namun pada saat yang bersamaan, seorang lawannya yang berpedang meloncat dengan garangnya, menyusup dibawah putaran cambuk Agung sedayu yang sedang menangkis serangan pisau itu. Ujung pedangnya terjulur lurus mengarah ke leher Agung Sedayu. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu sempat meloncat ke samping menghindarkan diri dari serangan pedang itu. Bahkan kemudian ia mengibaskan ujung cam¬buknya yang telah berhasil menyentuh pisau-pisau yang terbang kearahnya untuk menghentikan serangan pedang dan bahkan mendesak lawannya untuk meloncat surut.
Tetapi ternyata bahwa lawan-lawannyapun telah membuat perhitungan yang cermat. Pada saat yang demi¬kian itulah, maka lawannya yang seorang lagi telah mem¬pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan serta merta ia menyerang Glagah Putih. Ayunan pedangnya yang dilambari dengan segenap kemampuannya telah membuat anak muda itu berdebar-debar. Demikian cepat¬nya lawannya mempergunakan kesempatan yang ada sehingga Glagah Putih tidak sempat meloncat untuk mengelakkan diri. Karena itu yang dapat dilakukannya adalah menangkis serangan itu dengan senjatanya pula.
Tetapi demikian kerasnya benturan yang ter¬jadi, maka Glagah Putih tidak berhasil mempertahankan pedangnya, sehingga pedangnya itu pun telah terlempar jauh.
Saat itulah yang diperlukan oleh lawannya. Dengan cepatnya ia meloncat maju mendekati Glagah Putih. Ujung pedangnya langsung mengarah ke dadanya. Glagah Putih mencoba untuk menghindarkan diri dari ujung pedang itu. Namun ternyata bahwa lawannya telah mengayunkan kakinya mendatar, memotong gerak Glagah Putih.
Terdengar anak muda itu mengeluh pendek, karena kaki lawannya telah mengenai lambungnya. Belum lagi ia sempat memperbaiki keadaannya, tiba-tiba saja terasa tangan lawannya melingkar dilehernya dan ujung pedang¬nya menekan punggung.
Pada saat yang bersamaan, terdengar dua orang lawan Agung Sedayu terpekik. Seorang terlempar ber¬guling-guling sambil memegang lambungnya, sementara yang lain terdorong beberapa surut dan terjatuh diatas lututnya.
Ketika Agung Sedayu siap melumpuhkan lawannya yang seorang lainnya, terdengar orang yang mengancam Glagah Putih itu berteriak, ”Agung Sedayu. Lihat, adikmu siap untuk aku bantai disini.”
Agung Sedayu terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya Glagah Putih benar-benar telah dikuasai oleh lawannya.
Terasa jantung Agung Sedayu terguncang. Sesaat ia telah hanyut dalam arus perasaannya untuk menghalau lawan-lawannya. Namun salah seorang dari mereka sem¬pat menyusup disela-sela pertahanannya dan menguasai Glagah Putih.
Dengan ragu-ragu Agung Sedayu kemudian berdiri tegak. Dua orang lawannya telah dilukainya dengan cam¬buknya. Yang seorang lambungnya telah terluka menyi¬lang sedang yang seorang lagi, kakinya bagaikan disayat, tetapi yang seorang lagi, masih sempat menghindar dan menyelamatkan diri dari senjata Agung Sedayu. Justru pada saat-saat yang gawat, kawannya telah berhasil menguasai Glagah Putih yang menggeram menahan kemarahan yang meledak didadanya.
“Agung Sedayu,” terdengar suara lawannya yang menguasai Glagah Putih, ”kau dapat membunuh kawan-kawanku, tetapi adikmu akan mati pula diujung senjataku, aku dapat menekan ujung pedangku dan mem-bunuhnya disini.”
“Tetapi kau akan mati juga,” geram Agung Sedayu.
“Akibat yang sudah aku perhitungkan.Tetapi aku sudah puas karena aku sudah membunuh Glagah Putih.”
Jantung Agung Sedayu bagaikan berdentangan didalam dadanya. Untuk sesaat ia berdiri merenungi adik sepupunya yang tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Teka¬nan ujung senjata dipunggungnya serasa semakin keras, seolah-olah mulai melubangi kulitnya.
Kawan-kawan yang telah berhasil menguasai Glagah Putih itu pun kemudian mulai membenahi diri. Yang ter¬luka mencoba untuk menahan darah yang mengalir, sementara yang seorang lagi masih menggenggam pedang ditangannya pula.
“Lepaskan senjatamu Agung Sedayu,” geram orang yang menguasai Glagah Putih itu.
Agung Sedayu masih berdiri termangu-mangu.
“Lepaskan Agung Sedayu,” ulang lawannya yang lain. ”Dosamu sudah terlalu besar untuk dibiarkan berkembang terus. Pada saatnya kau memang harus dihadapkan pada suatu pengadilan yang akan memper-hitungkan segenap dosa dan kesalahanmu.”
Agung Sedayu masih berdiri diam.
“Cepat lepaskan senjatamu, atau anak ini akan ter¬kapar mati,” hentak orang yang menguasai Glagah Putih.
Tetapi diluar dugaan. Glagah Putih menggeram, ”jangan hiraukan aku Kakang. Bunuh mereka semuanya. Tanpa aku, kau tentu akan segera dapat melakukannya.”
Jawaban Glagah Putih itu membuat para pengikut Sabungsari itu menjadi berdebar-debar, mereka sadar, jika Agung Sedayu tidak menghiraukan adik sepupunya, maka ia tentu akan dapat membunuh kelima orang itu.
Tetapi orang-orang itu berkeyakinan, bahwa Agung Sedayu tidak akan membiarkan adiknya itu terbunuh.
“Kakang,” teriak Glagah Putih, “apapun yang ter¬jadi, jangan lepaskan senjatamu. Jika Kakang melaku¬kannya, akhirnya aku akan dibunuhnya juga. Bahkan kemudian Kakang Agung Sedayu. Karena itu, biarkan aku. Bunuh mereka berlima, mumpung senjata Kakang masih ada ditangan.”
“Tutup mulutmu,” bentak orang yang menekankan pedangnya dipunggung Glagah Putih, ”jika kau mem¬buka mulutmu sekali lagi, punggungmu akan koyak oleh pedang ini.”
“Aku tidak peduli,” Glagah Putih masih berteriak.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:07  Comments (196)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

196 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mugi-mugi Ki Gede mboten moksa seperti Mas Rizal…

  2. Harapan,Ki, Harapan …
    Maturthankyou Ki GD

  3. Ki GD…
    Kitab nomer setunggalatus kalehdoso sampun tamat, matur sembah nuwun.
    Saklajengipun, kawulo lan rencang-rencang cantrik padepokan sami nenggo kitab sak lajengipun, namung dumugi sak meniko dereng wonten tondo-tondo nipun Ki GD….
    Nuwun…

  4. Ki Semangkin
    Mas Rizal Moksa dg peninggalan terahir episode 60 tanggal 8 juli 2008, dan tanggal 4 sept 2008 ternyata sudah satu padepokan besar dan penuh cantrik mas rizal yang pindah kost ke adbmcadangan dengan ibu kost ki DD,
    ki DD kami selalu berdoa semoga ki DD selalu sehat walafiat, sehingga proyek ADBM ini bisa selesai sampai kitab 396

  5. Ada harapan ….
    Ada kenikmatan …
    Dalam menunggu .. ada kesabaran ..
    Dalam mendapati … ada kesyukuran …

    Trims Ki GD …

  6. aih aih…kulo meniko nyai ..mboten Aki-Aki…denmas Iga Bakar…

  7. Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!

  8. Matur nuwun Ki GD, kitab sudah diunduh.

  9. siap menuju lapak 121

  10. lak jebul kliru tah mas iga bakar kuwi,

    wong jenang-abang jenang putih katon mripat kuwin jenenge semangkin lha kok ditimbali “ki”…

    sing nduwe jeneng pulih kemrungsung kuwi lho mas 😀

    btw (btw iku opo seh boso jowone ???),

    poro konco cantrik2 iki ancene betah banget melek’an, ngriwuki sarene ki GD wayah tengah wengi nganti isuk ndhedhet

    ki GD, kapan kapling selanjute badhe dipun wedhar ?

    hehehe, melu2 ngriwuki


    wayah ngaso, wayah mangan
    ra sido mangan nyempetno nginguk

  11. mas is,

    ajian speedy iso mlayu 320-356 km/jam nek wayah mlebu dalan tol, koyoto ajian saipi angin ra iso digawe ndek tengah pasar.

    asline kuwi jatah’e iso semono, mung kan mesti dibagi, alias kembulan sakpiring karo tonggo teparo sing melu nggawe piring.

    dadine yo, nek wayah akeh tonggo teparo sing lagi podho mangan bareng, jatah piring sampean yo mestine dibagi karo liyane… hehehe


    ajianku saiki aji opo yo ?
    mbuh, kari nganggo tok kok,
    mengko wae nang omah mateg aji dhewe

    #3

  12. kang barata tetap ajian speedy, selalu dan always speedy (milik bangsa sendiri ya kang)
    apa kabar dimas kasandha, sayap-sayap yang terkembang di KR sudah 3 hari tidak nongol

  13. antri 121 disin apa boleh ki GD?

  14. Ki Gede where are you?
    Are you OK

  15. Terima kasih ki KD

  16. Ki GD, koq ora ono alas sing iso dibabati maneh? Aku wis nggowo pacul je…:roll:

  17. Ketokhe Ki GD menghadap R Sutawijaya njalok tambahan lahan kanggo cantrik sing ndak kebagian …
    jo wis aku tak ngantri ning banjar deso wae ….

  18. Mantabs, matur nuwun Ki GD. Dipun tenggo rontal rontal ajian selajengipun.

  19. # On 22 Januari 2009 at 11:36 IS Said:

    Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!
    ….

    hehehehhe,
    namanya orang jualan…, beli dulu, urusan lelet sih ga jamin…
    emang cocoknya ganti pake logo Speda..ya
    selama masih numpang di padepokan telkom, ya ga jelas siapa yang tanggung jawab.., paling 147..hehe.
    Glagah Putih paling cuma nyeletuk :”.. hare gene masih pake speda…”….

  20. Loh,… koq podho susah nganggo SPEEDY…. aku nembe pasang SPEEDY…edan tenan iso nganti 800 kbps lho.
    Ngunduh kitab 121 mung 1.8 menit ….. 🙂

    Sadurunge aku nganggo TENI, mung iso 46 kbps….

    Wah mesti diadusi kembang 7 warno nganggo banyu 7 sumur disebar neng 7 pojokan nek ono SPEEDY sing lelet …

  21. lha kok malah mbahas sepeda, sing penting iku piye kitab 121 enggal tumurun ing mayopodo

  22. iyo pener kuwi kangmas sidanti,

    kapling anyar yo isih durung iso dibuka, palingo mergo isih wingit alas’e.

    Ki GD kayane lagi mesu diri, ningkatne elmu olah kanuragan lan kajiwan, dadine durung sempet mbuka alas, lha nek poro cantrik yo ra ketang kuat mbuka lan mbabat dewe.

    mugo2 wae, sak marine ki GD mesu diri, kapasitas tatapan mripat’e juga meningkat kayata Agung Sedayu, angger’e medhar kitab ugo iso luwih akeh maneh saben ndinane… heheheh


    poso dhisik kayane dino iki
    #1

  23. Tampaknya Ki GD sengaja memberi waktu kepada para cantrik untuk mendalami kitab-kitab yang telah diterima, bukan dari sisi kanuragan tapi dari sisi kajiwan.
    Semakin tinggi ilmunya, semakin mengendap jiwanya…

    ( terlalu dalam nih Ki, takut ngga bisa naik…. )

  24. bogor cukup cerah sore ini..
    muda2an ga ujan…
    mudah2an ntar malam kavling 121 udah beres imb nya..
    trims Ki Gede

  25. Lima mayat orang orang Sabungsari tumpang tindih di tepi kali Paraga. Sedangkan empat mayat dari perguruan Endut berserakan dekat rawa rawa. Bulak sekitar hancur lembur layaknya ada gerombolan banteng ngamuk.Bekas pertempuran masih nampak nyata, darah bececeran di setiap sudut. Tidak satupun yg bisa menyelamatkan diri. Dendam dan rasa lebih dari yang lain telah menggelapkan hati dan nurani. Rasa lebih sempurna telah menenggelamkan dan mengubur pikiran yang jernih. Dendam akan terus beranak pinak.
    Sementara itu sabung sari sedang duduk terkantuk kantuk di bawah rindangnya pohon tepi alas Mentaok, menunggu orang orangnya menggiring Agung sedayu yg terikat kedua tangannya, seperti yg dilihatnya di tepi pantai..
    Rasa ngantuk, lapar dan dendam melebur menjadi satu di dalam dada Sabungsari. Sementara itu di belahan hutan tepi kali Praga AgungSedayu sambil duduk di atas pelana kudanya masih termenung, begitu dahsyat makna dendam… dendam kesumat.. rasa ingin dan penasaran untuk membaca rontal 121.

  26. hmmmm …. dalam puncak pencapaian mesu raga, semua cantrik ADBM berhasil meraih moksa …. SUNYI… SEPI … DAMAI ….

    GELISAH.

  27. Kapan?

  28. Lho, poro cantrik do ngumpul nangendi iki?

  29. Lho… gerdu 120 sudah kosong, hanya tinggal beberapa cantrik yang masih ngobrol di pendopo.
    Woo pada pulang kampung ya’e…
    Ki GD belum kasih tempat kumpul yang baru apa ya ?

  30. Para kadang,

    Selama bendel belum keluar, untuk bisa meloncat ke pendhopo selanjutnya, dapat menggunakan link “komentar terakhir” di kolom bagian kanan.
    Alternatif lain, URL dimodifikasi sedikit, misalnya …\buku-ii-20\ menjadi …\buku-ii-21\

    Ki GD pintu pendhopo 121-140 dibuka dong.

  31. sampurasun ki GD
    ugi para sedulur padepokan ADBM kulo bade miLet dahdos CANTRIK

  32. sampurasun para kadang
    yang ada di seputaran bandung cimahi tlng SMS aja ke 0811200159 udah gak tahan lagi udah seminggu otak atik,klak klik ngikutin petunjuk para kadang tanpa hasil maklum udah lelet kali yah kasihan dong sampe lieurrrr.

  33. udah ketemu udah bisa kesedot tpi kalo gak putus di jalan yah gak bisa ke buka adauhhhhh gimana do…..ng
    please dong

  34. Sebenarnya agak bingung nih.. Apa SHM lupa ya, bukankah empu pinang aring, salah satu tokoh utama dipertempuran lembah merapi dan merbabu tertangkap (lihat jilid 110). Lalu apa kelanjutannya?? tidak mungkin dia tidak menguasai jalur majapahit dipajang, karena merupakan tokoh penting. tapi cerita tentang dia hilang,dan cerita selanjutnya jalur majapahit dipajang masih gelap..

  35. kynya napak tilas adbm mantap ya….

  36. yg mau ngobrol2 tentang adbm silahkan add ym za_sableng ya….hehehe.komunitas adbm makin besar terus ya…salam buat smuaaaaaaaa..

  37. matur nuwun !!! baru kali ini kulo urun ngomong

    pancen adbm gak ono seng nandingi sakti tenan sampek

    kulo mboten saged turu penak yen durung moco agung

    SEDAYU..(mirip daerahku sedayu GRESIK)

    sopo seng durung weruh keris kyai sengkelat saiki

    ono pameran nang gresik ..wujude ..uihhh

  38. Agung Sedayu gelut neng cedhake tlatah Pandan Segegek,
    apa mulihe ya njur tuku geplak….????

    • Nyanking udud sing dilinting ni Roro Mendut ki Mbleh

      • nomer hapene ni mendut pinten ki mangku

        • Sing ngertos niku mung mas-e Pranacitra .

          • Lha kok wani2ne Ki AS mundhut pirsa nomer hapene Rara Mendut to….???
            Apa ora wedi karo Ki Menggung….?????

            • Lha ki Menggung saiki wis ora medeni maneh .

              • ora nomere roro mendut yo nomere mita waelah 😉

                • Yen ra salah nomere ganol-ganol pitu ki .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: