Buku II-20

Sabungsari yang hampir tidak sabar mengawasi kelima orang-orangnya, ternyala sempat melihat mereka meninggalkan tempat persembunyiannya, sehingga ia pun segera menyusul mereka. Sementara itu kegelisahan dan hampir ketidak sabaran, membuatnya semakin men-dendam. Setiap kali ia menggeretakkan giginya. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu untuk mere¬mas dada Agung Sedayu.
“Aku harus membunuhnya, sebagaimana ia membu¬nuh ayahku. Mayatnya akan aku lempar ke padepokan kecil itu agar gurunya melihat apa yang telah terjadi atas muridnya yang sombong itu.”
Namun Sabungsari menjadi ragu-ragu. Ia sudah mengenal Agung Sedayu. Dan ia tidak dapat menyebutnya sebagai seorang anak muda yang sombong. Bahkan Agung Sedayu menurut pengenalannya adalah anak muda yang ramah, rendah hati dan bahkan agak tertutup, sehingga sulit untuk mengetahui keadaan yang sebe¬narnya.
“Persetan,” geram Sabungsari, ”aku akan membu¬nuhnya. Aku akan meremas isi dadanya dengan tatapan mataku yang tidak akan terlawan oleh anak muda itu. Bahkan oleh gurunya sekalipun.”
Sabungsari menggeretakkan giginya. Ia memacu kudanya semakin cepat. Namun kemudian ia terpaksa memperlambatnya, karena ia tidak mau diketahui oleh orang-orangnya, bahwa ia pun mengikuti mereka pula.
“Pada saatnya mereka akan bertempur,” berkata Sabungsari kemudian. Namun ia menjadi ragu-ragu, ”Jika Agung Sedayu langsung kembali ke Jati Anom, maka orang-orang dungu itu tentu hanya akan mengikutinya saja, kemudian melaporkan kepadaku, bahwa Agung Sedayu telah kembali ke padepokannya.”
Tetapi Sabungsari masih mengharap, bahwa sepan¬jang jalan sampai ke Jati Anom akan terjadi sesuatu, sehingga pertempuran itu akan terjadi.
Dalam pada itu, seperti yang dikehendaki oleh Agung Sedayu, maka ia tidak akan singgah dimanapun juga. Tidak singgah di Tanah Perdikan Menoreh dan tidak singgah di Mataram. Ia sudah berpesan, agar Ki Waskita memberitahukan kepada Ki Gede Menoreh, bahwa Agung Sedayu tidak singgah ketika ia kembali ke Jati Anom, karena berbagai macam pertimbangan, apabila ada seserang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.
Seperti yang direncanakannya, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih akan menyusuri Kali Praga ke Selatan. Glagah Putih lebih senang lewat jalan yang jauh dan belum pernah dilihatnya. Disepanjang pantai atau daerah dekat pantai, akan dilihatnya suasana yang berbeda.
Sementara itu, beberapa orang masih tetap mengi¬kutinya. Namun orang-orang itu pun menjadi sangat berhati-hati, agar Agung Sedayu tidak mengetahuinya. Karena itu, maka salah seorang dari mereka ada dipaling depan. Jika ia melihat sesuatu yang mencurigakan, maka ia harus memberikan isyarat.
Ketika mereka sampai dipinggir Kali Praga, mereka masih sempat melihat Agung Sedayu turun dari getek penyeberangan di seberang. Tetapi agaknya Agung Sedayu tidak menghiraukan orang-orang yang akan menyeberang kemudian. Ada dua orang berkuda pula yang menyeberang berlawanan arah, selain beberapa orang pejalan kaki.
Namun hal itu tidak menyulitkan orang-orang yang mengikutinya untuk mengikuti jejaknya, karena kuda yang berpapasan arah jejaknyapun berlawanan.
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Mereka memang melihat jejak kuda Agung Sedayu telah berbelok menempuh jalan yang lebih kecil menyusur Kali Praga.
“Apakah ia akan singgah di Mataram?” perta¬nyaan itu telah tumbuh diantara orang-orang yang mengikutinya.
Namun akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti saja kemana ia pergi, meskipun dengan ra¬gu-ragu. Jika Agung Sedayu akan singgah di Mataram, lebih baik ia menempuh jalan biasa dilalui lewat sebelah Barat Kali Praga dan menyeberang dipenyeberangan sebelah Selatan. Tetapi agaknya Agung Sedayu te¬lah menentukan jalannya sendiri.
Orang-orang yang mengikuti Agung Sedayu itu akhir¬nya benar-benar merasa cemas. Mereka sudah mengikuti untuk jarak yang panjang dan dalam waktu yang lama. Bahkan mereka seolah-olah sudah kehilangan kesabaran untuk menggiring Agung Sedayu kembali ke Jati Anom le¬wat jalan sempit dipinggir hutan. Dengan demikian ada kesempatan bagi mereka untuk memaksa Agung Sedayu berhenti. Melumpuhkannya dan mengikatnya, sebelum mereka memanggil Sabungsari untuk membunuh Agung Sedayu dengan tangannya.
“Apa salahnya jika kamilah yang membunuh?” pertanyaan itu kadang melonjak dihati para pengikut Sabungsari. Tetapi mereka mengerti, bahwa Sabungsari ingin melepaskan dendamnya dan membunuh Agung Sedayu dengan caranya.
Untuk beberapa saat lamanya, orang-orang itu masih mengikuti Agung Sedayu. Mereka mengikuti jalan sempit yang semakin lama menjadi semakin buruk. Bahkan kadang-kadang mereka melalui daerah yang basah dan berawa.
“Gila,” orang-orang itu mengeluh oleh ketidak sabaran.
“Sampai kemana kita akan mengikuti mereka?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Kita akan segera memaksanya kembali ke Jati Anom. Jika perlu dengan kekerasan.”
”Kalau kita terpaksa menyakiti atau bahkan mem¬bunuhnya?”
“Apa boleh buat. Tetapi kita berusaha untuk mena¬wannya hidup-hidup agar kita tidak dianggap bersalah oleh Sabungsari.”
Wajah orang-orang itu menegang. Salah seorang ber¬kata, ”Apakah Sabungsari berani mengambil tindakan terhadap kita berlima?”
Kawan-kawannya memandanginya dengan ra¬gu-ragu. Namun seorang yang lain berkata, “Aku kira, ia pun tidak akan berani melakukan sesuatu jika terpaksa kita melanggar perintahnya. Kita menghormatinya kare¬na kita menghormati ayahnya. Tetapi jika anak muda itu ingin berbuat sewenang-wenang, apakah kita akan mem¬biarkannya? Kita mempunyai kekuatan yang barangkali dapat mematahkan kesewenang-wenangannya.”
“Kalau begitu?” bertanya yang lain.
“Kita pun mendendam Agung Sedayu karena ia telah membunuh Ki Gede Telengan, sehingga perguruan kita kehilangan ikatan.”
“Tetapi sebaiknya kita tidak membuat perso¬alan-persoalan baru diantara kita sendiri. Kita akan mentaati perintahnya, mencoba menangkap Agung Sedayu hidup-hidup. Tetapi jika kita mendapat kesulitan, tentu kita tidak akan membiarkan diri kita justru menjadi korban keganasan anak muda itu.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Nampaknya mereka pun telah dibakar oleh dendam kepada anak muda yang bernama Agung Sedayu itu
Beberapa lamanya mereka masih mengikuti jejak ku¬da Agung Sedayu dan Glagah Putih. Kadang-kadang jejak kaki itu hilang di tanah yang berair. Namun mereka tidak terlalu sulit untuk menemukan jejak itu diseberang yang lain, karena jalan kecil itu nampaknya memang jarang dilalui orang.
Dengan demikian maka orang-orang yang mengikuti Agung Sedayu itu menjadi semakin jemu. Mereka telah mempergunakan waktu yang lama, sementara Agung Sedayu nampaknya sengaja memilih jalan yang tidak biasa dilalui orang.
Karena itulah, maka orang-orang yang mengikutinya itu telah membagi diri. Satu orang yang berada dipaling depan, mengamat-amati Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh, sementara kawan-kawannya dapat beristirahat dari ketegangan meskipun mereka masih juga harus berkuda dan mengikuti jejak.
Bahkan, pada suatu saat mereka harus berhenti dan beristirahat, karena beberapa puluh tonggak dihadapan mereka, Agung Sedayu dan Glagah Putih juga beristira¬hat.
“Nampaknya mereka akan melalui daerah yang belum pernah mereka lihat,” berkata salah seorang dari mereka.
“Tentu anak itu ingin melihat daerah disebelah Sela¬tan. Kita sudah berada diarah sebelah Barat Mataram. Tetapi nampaknya Agung Sedayu akan berjalan terus ke Selatan.”
“Gila. Pekerjaan gila,” desis yang lain. Rasa-rasanya mereka malas untuk berangkat lagi, ketika mereka mendapat isyarat bahwa Agung Sedayu telah meneruskan perjalanannya.
Tetapi mereka tidak dapat ingkar akan tugas yang dibebankan kepada mereka oleh Sabungsari. Bagaimanapun juga, masih ada keseganan dari kelima orang itu. Jika Sabungsari marah kepada mereka, dan benar-benar akan bertindak, mungkin mereka dapat menghindar jika mere¬ka hanya berhadapan dengan Sabungsari seorang diri.Tetapi mungkin Sabungsari akan mempergunakan orang lain yang dapat membantunya.
Karena itu, maka mereka berlima akhirnya telah berangkat pula mengikuti Agung Sedayu.
Ternyata seperti dugaan mereka, bahwa Agung Sedayu memang memilih jalan yang sepi, yang tidak banyak dilalui orang, menuju ke pesisir.
“Kebetulan sekali,” berkata salah seorang dari keli¬ma orang yang mengikutinya, ”nanti malam kita dapat bertindak. Kita memaksanya untuk menyerah,jika ia masih sayang akan jiwanya. Anak yang dungu itu dapat kita perlakukan sekehendak kita. Dibunuhpun Sabungsari tidak berkeberatan.”
“Jangan dibunuh dahulu,” berkata yang lain, ”kita pergunakan anak itu semacam tanggungan agar Agung Sedayu tidak berusaha melarikan diri disepanjang jalan. Tentu ia merasa bertanggung jawab atas anak itu, sehingga ia akan menurut segala perintah kita.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dengan demikian Agung Sedayu tentu akan menjadi agak jinak dan mudah dikendalikan.
Betapapun jemu dan jengkel, namun kelima orang itu masih tetap mengikuti Agung Sedayu dan Glagah Putih yang ternyata memang menyusur pantai. Namun seben¬tar lagi langit menjadi buram dan bintang-bintang mulai nampak dilangit.
Ketika Agung Sedayu dan Glagah Putih mendekati pantai, maka hati Glagah Putih menjadi semakin gem¬bira. Agung Sedayu telah melintas justru disebelah Timur Kali Praga, tetapi disebelah Barat Mangir. Mereka memi¬lih jalan yang sepi agar mereka tidak terganggu oleh per-tanyaan-pertanyaan orang yang mungkin mencurigai mereka.
Ketika suara ombak laut Selatan mulai terdengar, dada Glagah Putih menjadi berdebar-debar.
“Kita sudah sampai,” desisnya.
“Ya. Tetapi didaerah ini kita tidak akan dapat men¬dekat.”
“Kenapa?” bertanya Glagah Putih.
“Bukankah kau lihat, dihadapan kita terbentang rawa-rawa yang ditumbuhi pohon pandan yang rapat-rapat, seperti padang duri yang runcing dan tajam.”
Glagah Putih termangu-mangu. Dipandanginya tanah rawa-rawa yang ditumbuhi gerumbul-gerumbul pandan yang berduri tajam. Sebagian tumbuh bagaikan jamur raksasa yang bergerumbul mencuat dipermukaan air yang kehitam-hitaman, sedangkan sebagian yang lain tumbuh pada batangnya yang mencuat seperti ber¬puluh-puluh galah yang ujungnya bagaikan berkembang daun-daun bunga yang berwarna hijau dan berduri.
Terasa bulu-bulu Glagah Putih meremang. Apalagi ketika langit menjadi suram dan bintang mulai berkeredipan.
“Aku mendengar suara aneh,” desis Glagah Putih.
“Suara apa?”
“Seperti seekor harimau yang mengaum.”
“Itu suara angin. Kau dengar suara gelegar ombak itu?”
Glagah Putih tidak menjawab. Tetapi langit bagaikan dipulas dengan warna hitam dan dilekati oleh keredipan bintang yang tersebar sampai ke batas pandangan mata.
Seleret nampak kilau buih ombak bagaikan hendak menerkam. Namun kemudian pecah berderai diatas pasir dan hilang ditelan oleh rawa-rawa yang berpagar pohon pandan.
Namun terasa oleh Glagah Putih, bahwa air bagaikan mengejarnya, menjadi semakin tinggi dan seperti tangan yang menggapai-gapai.
“Air di rawa-rawa itu naik,” desis Glagah Putih.
“Ya. Masih akan naik semakin tinggi,” jawab Agung Sedayu, ”pohon-pohon pandan itu akan tenggelam, tetapi yang seolah-olah kembang diujung galah itu justru akan nampak bagaikan kembang dipermukaan air.”
“Kalau begitu, kita harus menyingkir dari tempat ini.”
“Ya. Kita akan berjalan terus menyusuri pantai, tetapi menjauhi batas deburan ombak dan buih.”
Glagah Putih tidak menjawab. Diikutinya saja Agung Sedayu yang berkuda semakin jauh dari tanah rawa-rawa.
“Aku juga belum pernah menginjak daerah ini,” tiba-tiba saja Agung Sedayu berdesis.
Glagah Putih tidak menjawab. Ia memang belum per¬nah mendengar Agung Sedayu berceritera tentang daerah ini. Tetapi Glagah Putih yakin, bahwa Agung Sedayu per¬nah mendengar dari Kiai Gringsing atau dari orang lain sesuatu tentang rawa yang berpandan ini.
Meskipun malam menjadi semakin gelap, tetapi Agung Sedayu masih tetap berada dipunggung kudanya, sehingga akhirnya Glagah Putih berkata, ”Kakang, apakah kita tidak akan berhenti dan mencari tempat yang paling baik untuk bermalam?”
“Tentu,” jawab Agung Sedayu, ”kita akan bermalam. Tetapi kita akan bergeser sedikit ke Timur. Agaknya kita akan sampai ke pantai yang berpasir dan tidak lagi digenangi oleh rawa-rawa yang penuh dengan batang pandan berduri. Menurut kata orang, daerah disebelah Timur, merupakan daerah berpasir yang luas, sehingga kita akan dapat memilih tempat yang paling baik untuk bermalam. Meskipun seandainya kita berada disini dimusim hujan, kita akan kehilangan kesempatan untuk berteduh jika hujan turun.”
Glagah Putih tidak menjawab. Ia mengikuti saja dibelakang Agung Sedayu. Namun akhirnya Agung Sedayu berkata, ”Kemarilah. Jangan dibelakang.”
“Kenapa?” bertanya Glagah Putih.
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi seolah-olah ia mendengarkan suara ombak yang menggelegar ber¬gulung-gulung tanpa henti hentinya.
“Suara ombak itu,” berkata Agung Sedayu, ”seperti rangkaian suara yang iramanya telah disusun. Ajeg, tetapi terasa hidup.”
“Ya,” desis Glagah Putih yang telah berada disebelah Agung Sedayu.
“Kemarilah Glagah Putih. Jangan terlalu jauh.”
Glagah Putih menjadi heran. Tentu Agung Sedayu tidak menjadi ketakutan meskipun suasananya memang agak mengerikan.
Diluar sadarnya Glagah Putih berpaling. Yang nam¬pak hanyalah pekatnya malam. Namun dihadapannya nampak dalam keremangan, pasir yang keputih-putihan terbentang luas. Mereka mulai meninggalkan daerah yang berawa-rawa.
“Cepatlah sedikit,” ajak Agung Sedayu.
“Kenapa?” Glagah Putih menjadi curiga, ”kudaku nampaknya terlalu lelah berjalan diatas pasir.”
“Disebelah akan kita dapati rerumputan meskipun tidak begitu banyak, didaerah yang basah oleh air tawar.”
“Kakang tahu pasti.”
“Mudah-mudahan.”
Glagah Putih tidak menjawab lagi. Diikutinya Agung Sedayu yang mempercepat langkah kudanya, semakin lama semakin jauh dari batas derai ombak diatas pasir pantai.
Namun sejenak kemudian Agung Sedayu menarik kekang kudanya. Katanya, “Kita tidak dapat terus mene¬rus membiarkannya mengikuti kita Glagah Putih. Aku harus bertanya apakah keperluan mereka. Tetapi berhati-hatilah. Mungkin kita harus berusaha menyela¬matkan diri dari gangguan orang-orang yang tidak kita kenal.”
“Apa yang Kakang maksudkan, aku tidak melihat sesuatu.”
“Aku mendengar diantara gelegar ombak yang berirama itu, suara yang lain.”
”Apa?”
“Ringkik kuda.”
Glagah Putih terkejut mendengar jawaban Agung Sedayu. Ia sama sekali tidak mendengar sesuatu selain debur ombak yang bagaikan berkejaran memukul pantai.
Dalam pada itu, kelima orang yang mengikuti Agung Sedayu menjadi tidak sabar lagi. Semakin gelap, mereka semakin cemas, bahwa pada suatu saat mereka akan kehilangan Agung Sedayu. Untuk beberapa saat mereka masih dapat mengikuti jejaknya meskipun dengan susah payah. Namun kemudian mereka menjadi tidak telaten lagi.
“Kita susul dan kita hentikan anak itu,” berkata salah seorang dari kelima orang yang mengikutinya.
“Tentu sudah dekat. Tetapi malam yang gelap telah membatasi jarak yang tidak terlalu panjang ini.”
“Kita cepat sedikit. Arahnya tentu tidak berubah.”
“Ya. Kita berpencar. Tetapi kita akan mengikuti arah yang sama. Lihat bintang gubug penceng itu. Kita jangan kehilangan kiblat. Kita akan menuju kearah Timur pada jarak kira-kira lima sampai sepuluh langkah menyamping.”
Kelima orang itu pun kemudian mengambil jarak. Tetapi orang yang terdekat akan tetap mendengar jika yang lain berteriak memanggil.
Ternyata usaha mereka tidak sia-sia. Apalagi ketika Agung Sedayu mendengar ringkik kuda mereka dan bah¬kan kemudian berhenti.
Jarak mereka semakin lama menjadi semakin pen¬dek. Ternyata bahwa Agung Sedayu sudah bergeser agak jauh, sehingga orang yang berada dipaling ujunglah yang kemudian melihat dua bayangan yang hitam, didalam gelapnya malam.
Dengan serta merta maka orang yang berada diujung itu pun berteriak memberikan isyarat. Suara itu terdengar oleh orang kedua yang menyambung teriakan itu. Demi¬kian pula orang ketiga dan sampai pulalah ke telinga orang kelima.
Beberapa saat kemudian kelima orang itu sudah berkumpul hanya beberapa langkah saja dari Agung Sedayu dan Glagah Putih.
“Siapakah mereka Kakang?” bertanya Glagah Putih.
Agung Sedayu menggeleng lemah. Dengan suara parau ia menjawab lamat-lamat hampir tidak didengar karena deburan ombak yang tidak ada henti-hentinya, ”Aku tidak tahu Glagah Putih. Itulah yang mendebarkan hati. Selama ini aku merasa selalu diburu oleh kegeli¬sahan karena dendam yang membara dihati banyak orang.”
“Kenapa mereka mendendam?” bertanya Glagah Putih
“Yang terjadi adalah diluar kehendakku. Didalam peperangan tangan ini tidak dapat dikendalikan lagi, sehingga kadang-kadang diluar keinginan telah terjadi kematian.”
“Sanak saudaranya menjadi dendam kepada Kakang?”
“Ya,” jawab Agung Sedayu.
“Itu bukan salah Kakang. Mereka yang mendendam itu tentu orang-orang yang berjiwa kerdil. Kematian dipeperangan adalah kematian yang wajar sekali.”
“Ah,” Agung Sedayu berdesah. Dipandanginya lima bayangan hitam diatas punggung kuda yang semakin mendekat. Namun ia masih sempat berkata, ”Tentu mereka mempunyai alasan. Mereka menuntut balas sebagai tanda kesetiaan mereka terhadap saudara seperguruan, atau terhadap kawan dan sahabat atau terhadap keluarga.”
Glagah Putih tidak sempal menjawab lagi. Diantara debur ombak ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berteriak, ”He, bukankah kau Agung Sedayu.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun menjawab, ”Ya. Aku adalah Agung Sedayu.”
Kelima orang itu menjadi semakin dekat. Dan salah seorang diantara mereka berkata lebih lanjut, ”Bagus. Ternyata kau memang seorang laki-laki yang berani. De¬ngan dada tengadah kau mengaku, bahwa kau adalah Agung Sedayu.”
“Kenapa aku harus ingkar? Bukankah wajar, bahwa aku mengaku tentang diriku.”
“Bagus anak muda. Aku mempunyai keperluan yang penting dengan kau.”
“Aku sudah menduga. Jika tidak, tentu kalian tidak akan mengikuti aku sampai ke tempat ini.”
“Baiklah,” orang itu melanjutkan, “kehadiranku disini sebenarnya bermaksud baik. Kami hanya akan mempersilahkan kau kembali ke Jati Anom. Hanya itu.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Jawabnya, ”Aku memang akan kembali ke Jati Anom.”
“Tetapi ternyata kau menuju kearah yang tidak kami ketahui. Apakah jalan ini memang jalan yang biasa dilalui orang dari padukuhan Ki Waskita menuju ke Jati Anom?”
“Memang tidak Ki Sanak,” jawab Agung Sedayu, ”tetapi aku sekedar ingin memperpanjang langkah, melihat-lihat daerah yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”
“Mungkin benar. Tetapi mungkin kau sengaja menghindari kami.”
“Kalian memang aneh. Aku baru saja tahu, bahwa kalian mengikuti aku. He, tetapi siapakah kalian berlima?“ bertanya Agung Sedayu.
“Kau tidak perlu mengetahui siapakah kami. Itu adalah karena kebodohan kalian. Kami berhasil mengeta¬hui siapa kau, tetapi kau tidak mengetahui siapa kami,” jawab salah seorang dari kelima orang itu.
“Baiklah, jika kalian tidak ingin menyebut nama kalian. Tetapi apabila kalian hanya ingin minta agar aku kembali ke Jati Anom, aku akan menyanggupinya. Aku akan kembali ke Jati Anom menyusuri pantai Selatan. Tetapi tidak akan terlalu jauh lagi. Jika jalan menjadi semakin sulit dan apalagi sampai ke pegunungan padas, kami akan segera berbelok ke Utara dan mencari jalan yang lebih baik.”
“Agung Sedayu,” berkata salah seorang dari kelima orang itu, ”kami sudah bertekad untuk membawamu. Kami tahu bahwa kau berkata sebenarnya. Tetapi agar kami yakin bahwa kau tidak berbohong, maka biarkanlah kami mengikat tangan dan kakimu. Kami tidak akan menyakitimu, karena kami akan membawamu kepada se¬seorang yang memang memerlukan kau dalam keadaan hidup dan sehat walafiat.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab Glagah Putih telah mendahului, “Bicaramu aneh, Ki Sanak.”
Kelima orang yang ingin menangkap Agung Sedayu itu memandang bayangan Glagah Putih sejenak, tetapi mereka tidak dapat memandang kerut keningnya dengan jelas.
Salah seorang dari kelima orang itu berkata, ”Anak muda. Sebaiknya kau pun menurut segala perintah kami agar kau tidak mengalami kesulitan apapun juga.”
“Permintaan kalian memang menggelikan,” ber¬kata Glagah Putih, ”apakah wajar bahwa kaki dan tangan kami akan diikat hanya karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan kami. He, siapakah kalian sebenarnya Ki Sanak.”
“Apakah ada perlunya kau mengetahui nama kami? Aku kira itu hanya akan memperpanjang waktu saja. Sekarang, marilah kalian berdua turun dari kuda, mende¬kati kami dengan tangan dipunggung. Kami akan mengi¬katnya kuat-kuat. Jika kalian berbuat demikian dengan suka rela, maka kalian akan selamat sampai ke daerah Jati Anom.”
“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”kenapa kita tidak berterus terang? Apakah maumu sebenarnya.”
“Aku sudah berterus terang,” jawab salah seorang dari kelima orang itu, ”kami akan mengikat kalian dan membawa kalian kembali ke Jati Anom.”
“Mungkin benar seperti yang kau katakan, tetapi yang aku maksud, berkatalah terus terang, siapakah yang menyuruh kalian melakukan hal itu.”
“Kami sendiri. Kami sendirilah yang ingin memper¬lakukan kalian berdua demikian.”
“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayu, ”jika kalian mau menyebut seseorang yang menyuruh kalian berbuat demikian, mungkin kami akan menurut perintah itu.”
Sejenak kelima orang itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian salah seorang dari mereka menjawab, ”Kami sendirilah yang memerlukan Agung Sedayu. Kami sen¬dirilah yang memerintah diri kami untuk mengikat tangan dan kaki Agung Sedayu.”
Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab, ”Mustahil. Tetapi baiklah jika kalian tidak bersedia menyebut siapakah kalian, dan siapakah yang berdiri dibelakang kalian.”
“Jadi, apakah kau bersedia memberikan tanganmu untuk kami ikat?” bertanya salah seorang dari kelima orang itu.
“Pertanyaan aneh. Kalian tentu sudah mengetahui jawabku dan barang kali jawab setiap orang yang mene¬rima permintaan yang serupa.”
“Apa jawabmu? Kau belum mengatakannya.”
“Ki Sanak,” berkata Agung Sedayui diantara debur ombak lautan, ”betapapun keinginanku untuk menghin¬dari pertentangan dan apalagi benturan kekuatan, namun sudah barang tentu aku tidak akan dapat berbuat seperti yang kau inginkan. Aku tidak yakin, bahwa kalian tidak akan ingkar, apabila tangan dan kakiku sudah terikat. Jika kemudian kalian mengikat kakiku dibelakang kaki kuda kalian, maka kulitku tentu akan terkelupas habis, meskipun hal itu kau lakukan diatas pasir di pantai ini.”
“Kami berkata sebenarnya Agung Sedayu. Jika kau bersedia kami ikat, maka kami tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyakitimu.”
“Bagaimana aku dapat percaya. Kau tidak mau menyebut namamu. Kau tidak mau mengatakan siapakah yang menyuruhmu. Dan kau tidak mau mengatakan, apakah sebenarnya kepentinganmu dengan aku. Apakah dengan demikian aku harus mempercayai kalian?”
“Baiklah Agung Sedayu,” berkata salah seorang dari kelima orang itu, ”aku sudah menduga, bahwa kau akan berkeras untuk menolak permintaan kami yang sebenarnya akan merupakan jalan yang paling baik bagi kami untuk seterusnya dan bagi keselamatanmu berdua. Karena itu, maka kami akan memilih jalan lain. Kami akan berbuat sesuatu dengan kekerasan agar kami dapat mengikatmu. Kami sudah mendapat wewenang untuk melakukan cara apapun juga, asal kami tidak membunuh¬mu.”
Tetapi salah seorang dari kelima orang itu menyambung, “Kami memang tidak ingin membunuhmu. Tetapi jika diluar kehendak kami, kau mati terbenam ke dalam pasir, itu adalah karena nasibmu yg memang sangat burukAgung Sedayu. Malam nanti, jika air pasang, maka mayatmu akan dijilat oleh ombak dan hanyut men¬jadi makanan hiu.”
“Kata-katamu memang mengerikan Ki Sanak. Tetapi sudah barang tentu bahwa aku akan mencoba mempertahankan hidup kami. Mungkin dengan cara seperti yang kalian kehendaki, tetapi mungkin, kami akan melarikan diri dan hilang didalam gelap.”
“Apakah Agung Sedayu akan berbuat demikian?” bertanya seseorang diantara kelima orang itu.
“Apa salahnya? Itu akan lebih baik bagiku.”
“Persetan,” geram seorang diantara kelima orang yang ingin menangkap Agung Sedayu itu, ”aku tidak sabar lagi.”
Ternyata orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun segera meloncat turun dari kudanya.
“Kudaku tidak akan lari kemana-mana meskipun aku tidak mengikatnya,” katanya, ”aku lebih senang ber¬tempur tidak diatas punggung kuda.”
Kawan-kawannyapun segera berloncatan pula. Mereka melepas kudanya begitu saja. Satu-satu mereka berpencar memutari Agung Sedayu.
“Berhati-hatilah, Glagah Putih,” desis Agung Sedayu, ”nampaknya mereka benar-benar ingin mengikat kita. Karena itu, kita harus menghindar.”
“Lari?” bertanya Glagah Putih, ”tidak mungkin. Mereka sudah mengepung kita.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Putihnya pasir pantai seolah-olah lelah memantulkan cahaya bintang dilangit, bulan sepotong yang mulai membayang sehingga ia dapat melihat lebih jelas bayangan kelima orang lawannya.
“Kita pun akan turun,” berkata Agung Sedayu, ”kau harus menyesuaikan dirimu. Aku akan mencoba meng¬hadapi mereka dan kalau mungkin menghalau mereka pergi.”
“Hanya untuk dihalau?” bertanya Glagah Putih.
“Itu lebih baik daripada membunuh mereka. Kita tidak menambah jumlah orang yang mendendam.”
Glagah Putih tidak sempat menjawab. Kelima orang yang mengepungnya berdua dengan Agung Sedayu telah merapat. Karena itu, maka baik Agung Sedayu maupun Glagah Putih segera meloncat turun pula.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:07  Comments (196)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

196 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mugi-mugi Ki Gede mboten moksa seperti Mas Rizal…

  2. Harapan,Ki, Harapan …
    Maturthankyou Ki GD

  3. Ki GD…
    Kitab nomer setunggalatus kalehdoso sampun tamat, matur sembah nuwun.
    Saklajengipun, kawulo lan rencang-rencang cantrik padepokan sami nenggo kitab sak lajengipun, namung dumugi sak meniko dereng wonten tondo-tondo nipun Ki GD….
    Nuwun…

  4. Ki Semangkin
    Mas Rizal Moksa dg peninggalan terahir episode 60 tanggal 8 juli 2008, dan tanggal 4 sept 2008 ternyata sudah satu padepokan besar dan penuh cantrik mas rizal yang pindah kost ke adbmcadangan dengan ibu kost ki DD,
    ki DD kami selalu berdoa semoga ki DD selalu sehat walafiat, sehingga proyek ADBM ini bisa selesai sampai kitab 396

  5. Ada harapan ….
    Ada kenikmatan …
    Dalam menunggu .. ada kesabaran ..
    Dalam mendapati … ada kesyukuran …

    Trims Ki GD …

  6. aih aih…kulo meniko nyai ..mboten Aki-Aki…denmas Iga Bakar…

  7. Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!

  8. Matur nuwun Ki GD, kitab sudah diunduh.

  9. siap menuju lapak 121

  10. lak jebul kliru tah mas iga bakar kuwi,

    wong jenang-abang jenang putih katon mripat kuwin jenenge semangkin lha kok ditimbali “ki”…

    sing nduwe jeneng pulih kemrungsung kuwi lho mas 😀

    btw (btw iku opo seh boso jowone ???),

    poro konco cantrik2 iki ancene betah banget melek’an, ngriwuki sarene ki GD wayah tengah wengi nganti isuk ndhedhet

    ki GD, kapan kapling selanjute badhe dipun wedhar ?

    hehehe, melu2 ngriwuki


    wayah ngaso, wayah mangan
    ra sido mangan nyempetno nginguk

  11. mas is,

    ajian speedy iso mlayu 320-356 km/jam nek wayah mlebu dalan tol, koyoto ajian saipi angin ra iso digawe ndek tengah pasar.

    asline kuwi jatah’e iso semono, mung kan mesti dibagi, alias kembulan sakpiring karo tonggo teparo sing melu nggawe piring.

    dadine yo, nek wayah akeh tonggo teparo sing lagi podho mangan bareng, jatah piring sampean yo mestine dibagi karo liyane… hehehe


    ajianku saiki aji opo yo ?
    mbuh, kari nganggo tok kok,
    mengko wae nang omah mateg aji dhewe

    #3

  12. kang barata tetap ajian speedy, selalu dan always speedy (milik bangsa sendiri ya kang)
    apa kabar dimas kasandha, sayap-sayap yang terkembang di KR sudah 3 hari tidak nongol

  13. antri 121 disin apa boleh ki GD?

  14. Ki Gede where are you?
    Are you OK

  15. Terima kasih ki KD

  16. Ki GD, koq ora ono alas sing iso dibabati maneh? Aku wis nggowo pacul je…:roll:

  17. Ketokhe Ki GD menghadap R Sutawijaya njalok tambahan lahan kanggo cantrik sing ndak kebagian …
    jo wis aku tak ngantri ning banjar deso wae ….

  18. Mantabs, matur nuwun Ki GD. Dipun tenggo rontal rontal ajian selajengipun.

  19. # On 22 Januari 2009 at 11:36 IS Said:

    Hadowhh…, narik rontal 120 pake speda berat betul! Kaya siput jalannya. Putus2 lagi rantainya. Padahal kata yang jualan bisa meluncur antara 320-356 km/jam ‘mang F1?). Hhh, sabar…!
    ….

    hehehehhe,
    namanya orang jualan…, beli dulu, urusan lelet sih ga jamin…
    emang cocoknya ganti pake logo Speda..ya
    selama masih numpang di padepokan telkom, ya ga jelas siapa yang tanggung jawab.., paling 147..hehe.
    Glagah Putih paling cuma nyeletuk :”.. hare gene masih pake speda…”….

  20. Loh,… koq podho susah nganggo SPEEDY…. aku nembe pasang SPEEDY…edan tenan iso nganti 800 kbps lho.
    Ngunduh kitab 121 mung 1.8 menit ….. 🙂

    Sadurunge aku nganggo TENI, mung iso 46 kbps….

    Wah mesti diadusi kembang 7 warno nganggo banyu 7 sumur disebar neng 7 pojokan nek ono SPEEDY sing lelet …

  21. lha kok malah mbahas sepeda, sing penting iku piye kitab 121 enggal tumurun ing mayopodo

  22. iyo pener kuwi kangmas sidanti,

    kapling anyar yo isih durung iso dibuka, palingo mergo isih wingit alas’e.

    Ki GD kayane lagi mesu diri, ningkatne elmu olah kanuragan lan kajiwan, dadine durung sempet mbuka alas, lha nek poro cantrik yo ra ketang kuat mbuka lan mbabat dewe.

    mugo2 wae, sak marine ki GD mesu diri, kapasitas tatapan mripat’e juga meningkat kayata Agung Sedayu, angger’e medhar kitab ugo iso luwih akeh maneh saben ndinane… heheheh


    poso dhisik kayane dino iki
    #1

  23. Tampaknya Ki GD sengaja memberi waktu kepada para cantrik untuk mendalami kitab-kitab yang telah diterima, bukan dari sisi kanuragan tapi dari sisi kajiwan.
    Semakin tinggi ilmunya, semakin mengendap jiwanya…

    ( terlalu dalam nih Ki, takut ngga bisa naik…. )

  24. bogor cukup cerah sore ini..
    muda2an ga ujan…
    mudah2an ntar malam kavling 121 udah beres imb nya..
    trims Ki Gede

  25. Lima mayat orang orang Sabungsari tumpang tindih di tepi kali Paraga. Sedangkan empat mayat dari perguruan Endut berserakan dekat rawa rawa. Bulak sekitar hancur lembur layaknya ada gerombolan banteng ngamuk.Bekas pertempuran masih nampak nyata, darah bececeran di setiap sudut. Tidak satupun yg bisa menyelamatkan diri. Dendam dan rasa lebih dari yang lain telah menggelapkan hati dan nurani. Rasa lebih sempurna telah menenggelamkan dan mengubur pikiran yang jernih. Dendam akan terus beranak pinak.
    Sementara itu sabung sari sedang duduk terkantuk kantuk di bawah rindangnya pohon tepi alas Mentaok, menunggu orang orangnya menggiring Agung sedayu yg terikat kedua tangannya, seperti yg dilihatnya di tepi pantai..
    Rasa ngantuk, lapar dan dendam melebur menjadi satu di dalam dada Sabungsari. Sementara itu di belahan hutan tepi kali Praga AgungSedayu sambil duduk di atas pelana kudanya masih termenung, begitu dahsyat makna dendam… dendam kesumat.. rasa ingin dan penasaran untuk membaca rontal 121.

  26. hmmmm …. dalam puncak pencapaian mesu raga, semua cantrik ADBM berhasil meraih moksa …. SUNYI… SEPI … DAMAI ….

    GELISAH.

  27. Kapan?

  28. Lho, poro cantrik do ngumpul nangendi iki?

  29. Lho… gerdu 120 sudah kosong, hanya tinggal beberapa cantrik yang masih ngobrol di pendopo.
    Woo pada pulang kampung ya’e…
    Ki GD belum kasih tempat kumpul yang baru apa ya ?

  30. Para kadang,

    Selama bendel belum keluar, untuk bisa meloncat ke pendhopo selanjutnya, dapat menggunakan link “komentar terakhir” di kolom bagian kanan.
    Alternatif lain, URL dimodifikasi sedikit, misalnya …\buku-ii-20\ menjadi …\buku-ii-21\

    Ki GD pintu pendhopo 121-140 dibuka dong.

  31. sampurasun ki GD
    ugi para sedulur padepokan ADBM kulo bade miLet dahdos CANTRIK

  32. sampurasun para kadang
    yang ada di seputaran bandung cimahi tlng SMS aja ke 0811200159 udah gak tahan lagi udah seminggu otak atik,klak klik ngikutin petunjuk para kadang tanpa hasil maklum udah lelet kali yah kasihan dong sampe lieurrrr.

  33. udah ketemu udah bisa kesedot tpi kalo gak putus di jalan yah gak bisa ke buka adauhhhhh gimana do…..ng
    please dong

  34. Sebenarnya agak bingung nih.. Apa SHM lupa ya, bukankah empu pinang aring, salah satu tokoh utama dipertempuran lembah merapi dan merbabu tertangkap (lihat jilid 110). Lalu apa kelanjutannya?? tidak mungkin dia tidak menguasai jalur majapahit dipajang, karena merupakan tokoh penting. tapi cerita tentang dia hilang,dan cerita selanjutnya jalur majapahit dipajang masih gelap..

  35. kynya napak tilas adbm mantap ya….

  36. yg mau ngobrol2 tentang adbm silahkan add ym za_sableng ya….hehehe.komunitas adbm makin besar terus ya…salam buat smuaaaaaaaa..

  37. matur nuwun !!! baru kali ini kulo urun ngomong

    pancen adbm gak ono seng nandingi sakti tenan sampek

    kulo mboten saged turu penak yen durung moco agung

    SEDAYU..(mirip daerahku sedayu GRESIK)

    sopo seng durung weruh keris kyai sengkelat saiki

    ono pameran nang gresik ..wujude ..uihhh

  38. Agung Sedayu gelut neng cedhake tlatah Pandan Segegek,
    apa mulihe ya njur tuku geplak….????

    • Nyanking udud sing dilinting ni Roro Mendut ki Mbleh

      • nomer hapene ni mendut pinten ki mangku

        • Sing ngertos niku mung mas-e Pranacitra .

          • Lha kok wani2ne Ki AS mundhut pirsa nomer hapene Rara Mendut to….???
            Apa ora wedi karo Ki Menggung….?????

            • Lha ki Menggung saiki wis ora medeni maneh .

              • ora nomere roro mendut yo nomere mita waelah 😉

                • Yen ra salah nomere ganol-ganol pitu ki .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: