Buku II-19

Tetapi ketika ia melihat wajah Glagah Putih yang kecewa, maka ia benar-benar tidak sampai hati untuk menolaknya. Karena itu, maka katanya, ”Baiklah Glagah Putih. Kita akan menelusuri Kali Progo. Tetapi aku tidak ingin singgah di Mataram. Kita akan lewat disebelah Barat Mataram dan mungkin kita akan melalui Mangir dan daerah-daerah yang juga belum banyak aku kenal. Tetapi kita tidak akan mempersulit diri dengan mendaki batu-batu padas diseberang Kali Opak, seperti yang kau katakan, kita akan berbelok ke Utara dan menyeberang Kali Opak ditempat yang memungkinkan. Mungkin disekitar Gunung Baka atau disebelah Selatan beberapa ratus tonggak.”
“Jadi kita akan melalui pesisir Selatan?” tiba-tiba saja wajah Glagah Putih menjadi cerah.
“Ya. Kita akan melalui Pesisir selatan. Tetapi sekali lagi, kau harus berjanji, bahwa kau akan menurut jalan manakah yang akan aku pilih, sehingga kita tidak akan terlalu mempersulit diri kali ini,” jawab Agung Sedayu.
Glagah Putih mengerutkan keningnya. Menurut jalan pikirannya, pengalaman akan banyak didapat justru dalam kesulitan-kesulitan itu. Tetapi agaknya Agung Sedayu selalu dibayangi oleh waktu yang baginya sangat diperlukan disaat-saat yang dekat.
“Kita akan menyampaikannya kepada Ki Waskita,” berkata Glagah Putih.
“Biarlah aku yang mohon diri. Kita tidak perlu mengatakan, jalan manakah yang akan kita lalui. Pagi ini kita masih akan pergi ke sawah bersama Rudita. Digubug itu aku akan mengatakan niat kita untuk mohon diri, sebelum kita menyampaikannya kepada Ki Waskita sendiri.”
Glagah Putih mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian pergi ke biliknya, membenahi diri untuk pergi bersama Rudita ke sawah.
Seperti yang direncanakannya, maka ketika kemudian mereka berada disawah, Agung Sedayu pun menyampaikan maksudnya untuk minta diri kepada Rudita yang nampak kecewa.
“Jika kalian meninggalkan tempat ini, aku akan menjadi kesepian,” berkata Rudita, ”aku tidak mem¬punyai kawan lagi menunggui burung disawah.”
“Bukankah ada beberapa orang pembantu dirumahmu?”
Rudita mengangguk. Tetapi jawabnya, ”Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jika ada satu dua orang yang ikut menghalau burung, maka mereka sama sekali tidak sempat untuk diajak berceritera atau mendengarkan dongeng tentang burung putih yang terbang dilangit yang biru. Mereka lebih banyak terikat dengan gopraknya atau dengan tali-tali itu.”
“Sayang sekali,” desis Agung Sedayu.
Rudita tersenyum. Katanya, ”Aku mengerti. Kau memerlukan waktu yang cukup. Pergilah.”
Glagah Putih menjadi heran mendengar sikap Rudita yang tiba-tiba saja berubah. Namun Agung Sedayu sendiri bahkan menundukkan kepalanya tanpa menjawab lagi.
Suasana digubug itu terasa mulai berubah. Baik Rudita maupun Agung Sedayu tidak lagi banyak ber¬bicara. Nampaknya masing-masing lebih banyak berbin¬cang dengan diri mereka sendiri.
Karena itu, maka Glagah Putih pun berusaha untuk menyesuaikan diri, meskipun ia tidak mengerti, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Agung Sedayu dan Rudita.
Ketika mereka telah berada dirumah lewat sore hari, maka Agung Sedayu mencari kesempatan untuk dapat bertemu dengan Ki Waskita hanya berdua saja. Ia harus menyerahkan kembali kitab yang disembunyikannya Kemudian minta diri untuk kembali ke padepokannya setelah ia menerima kemurahan hati Ki Waskita yang tiada taranya.
“Aku titip agar ilmu itu tidak menjadi punah,” berkata Ki Waskita. Namun kemudian, ”tetapi pesanku Agung Sedayu, kau jangan mencoba membuat seikat rontal yang berisi seperti isi rontalku yang sudah terpahat dihatimu. Bukan aku tidak percaya kepadamu, tetapi rontal yang demikian akan dapat jatuh ke tangan orang yang tidak berhak dan apalagi mereka yang akan menyalahgunakan.”
Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, “Aku mengerti Ki Waskita.”
“Terima kasih. Selanjutnya, terserah kepadamu, apa yang akan kau lakukan dengan kata demi kata yang kau kenal dari kitabku yang tidak akan banyak berarti itu.”
“Aku akan mencari kemungkinan untuk meluluhkan ilmu dari perguruan Kiai Gringsing dengan ilmu yang ter¬dapat dalam kitab itu, Ki Waskita.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku tidak berkeberatan Ngger. Tetapi bagaimanapun juga, aku mohon, agar kau tetap mengenal dasar-dasar ilmu dari perguruanku yang dapat kau baca pada kitab itu.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun dengan serta merta ia pun menjawab, ”Tentu Ki Waskita, tentu. Bagaimanapun juga, aku akan tetap memelihara ilmu yang temurun lewat kitab itu seperti yang ada didalamnya. Jika aku mencari unsur-unsur yang akan dapat luluh adalah semata-mata agar aku tidak mengalami kesulitan dalam saat-saat yang gawat, dimana aku tidak mendapat kesempatan untuk mem¬perhitungkan unsur-unsur gerak yang pada dasarnya ber¬beda tetapi bersama-sama ada didalam diriku.”
“Aku mengerti Ngger. Dan aku tidak berkeberatan sama sekali,” Ki Waskita termenung sejenak, lalu, ”yang terjadi benar-benar telah membebani perasaanku. Ada sesuatu yang tersimpan didalam hati sebagai suatu rahasia. Tetapi apakah sebenarnya aku memang sudah pikun, sehingga rasa-rasanya dada ini akan retak karena rahasia itu.”
Agung Sedayu menjadi bingung.
“Angger Agung Sedayu. Aku mengenal sesuatu ten¬tang gurumu tetapi yang aku kira, kau danSwandaru belum banyak mengenalnya. Agaknya Kiai Gringsing pun akan mengalami banyak kesulitan untuk mempertimbangkannya. Jika ia memberitahukan hal ini kepadamu, maka menjadi kewajibannya untuk memberitahukannya pula kepada Swandaru. Namun agaknya Kiai Gringsing masih meragukannya, meskipun Ki Demang serba sedikit telah mengetahuinya pula.”
Agung Sedayu menjadi tegang. Dan Ki Waskita berka¬ta selanjutnya, ”Gurumu adalah orang yang aneh Agung Sedayu. Banyak hal yang tidak dapat diketahui dengan pasti. Yang berwarna kuning hari ini pada gurumu, besok akan nampak menjadi biru atau hitam sekali. Tetapi aku tahu, bahwa yang berubah itu hanyalah warna kulitnya. Sedangkan isinya tetap tidak akan berubah sama sekali.”
Agung Sedayu menjadi semakin bingung, sementara Ki Waskita berkata, ”Aku pernah mendengar dongeng gurumu tentang dirinya. Namun pada saat yang gawat, saat menurut aku, waktunya untuk bertindak lebih jauh, gurumu seolah-olah tidak tahu sama sekali tentang dirinya. Aku pun sadar, bahwa gurumu tidak ingin ada orang lain lagi yang mengetahuinya, sehingga yang dirahasiakan itu akan tersebar semakin luas, sehingga aku pun tidak memaksanya dan tidak menyebut lagi dongeng yang pernah dikatakannya. Menurut gurumu yang baru dikatakan kemudian, ia tidak ingin hal itu didengar lewat siapapun juga, oleh telinga Untara. Sebab Untara adalah seorang prajurit yang akan dapat bertin¬dak tegas, lepas dari maksud dan perhitungan Kiai Gringsing, yang menurut aku memang sangat lamban.”
Agung Sedayu dengan ragu-ragu bertanya, ”Apakah yang Ki Waskita maksudkan?”
“Tidak ada yang dapat aku katakan. Tetapi cobalah bertanya kepada gurumu, apakah gurumu juga mem¬punyai sebuah rontal berisi kidung yang dapat berguna bagimu dan bagi perguruanmu.”
Agung Sedayu menjadi semakin bingung. Sementara Ki Waskita berkata selanjutnya, ”Tetapi sekali lagi, gurumu tentu akan menuntut agar Untara tidak mengetahuinya. Dan aku tidak tahu, apakah hal itu akan dapat dikatakan oleh gurumu,” ia berhenti sejenak, lalu, “aku akan menulis buat gurumu.”
Agung Sedayu masih termangu-mangu. Ketika terpandang olehnya wajah Ki Waskita, maka ia pun menarik nafas panjang.
“Semuanya akan kau ketahui kelak jika kau telah bertemu dengan gurumu,” berkata Ki Waskita, ”aku akan menulis pada sehelai rontal agar kau berikan kepada gurumu pada saat yang kau anggap tepat.”
Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia sadar, bahwa ada sesuatu yang tersimpan dihati Ki Waskita. Tetapi Ki Waskita masih dibatasi oleh keseganannya kepada Kiai Gringsing untuk mengatakannya, karena yang ingin di¬katakannya itu agaknya menyangkut masalah gurunya itu.
Karena itu, maka yang dilakukan oleh Agung Sedayu kemudian adalah dengan resmi menyerahkan kembali kitab yang dipinjamkan oleh Ki Waskita kepadanya dengan ucapan terima kasih yang tiada taranya. Kemu¬dian mohon diri untuk kembali ke padepokan kecilnya disebelah Jati Anom.
“Hati-hatilah di perjalanan. Kapan kau akan berangkat?” bertanya Ki Waskita.
“Besok Ki Waskita. Jika matahari terbit, maka kami akan berangkat agar udara masih segar di permulaan dari perjalanan kami itu.”
“Baiklah Agung Sedayu. Aku akan menulis nanti malam. Minta dirilah kepada Rudita agar besok anak itu tidak terkejut.”
“Aku sudah mengatakannya Ki Waskita.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Pergunakan waktu yang tersisa untuk beristi¬rahat sebaik-baiknya.”
Ki Waskita pun kemudian meninggalkan Agung Sedayu yang juga segera masuk ke dalam biliknya.
“Kakang berbincang dengan Ki Waskita lama sekali,“ berkata Glagah Putih.
“Aku mohon diri. Mula-mula Ki Waskita menahan¬ku. Tetapi aku menjelaskan bahwa aku sudah terlalu lama pergi.”
Glagah Pulih sama sekali tidak menduga, yang telah terjadi dengan Agung Sedayu selama ia berada di rumah Ki Waskita. Menurut pengertiannya. Agung Sedayu tiba-tiba saja telah sakit untuk beberapa hari sehingga mencemaskannya. Untunglah ia segera sembuh dan dapat kembali ke Jati Anom.
“Tentu merupakan perjalanan yang menyenangkan,“ berkata Glagah Putih kepada diri sendiri.
Ketika fajar menyingsing di hari berikutnya, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih pun segera berkemas. Mereka akan berangkat disaat matahari terbit, agar udara pagi memberikan kesegaran baru diujung per-jalanan mereka.
Oleh Ki Waskita sekeluarga, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih dijamu makan pagi untuk yang terakhir kalinya, karena sebentar lagi, mereka akan meninggal¬kan keluarga itu kembali ke padepokan yang telah cukup lama mereka tinggalkan.
“Aku titip rontal ini buat gurumu,” berkata Ki Waskita sambil memberikan kantong kecil yang dari kain yang tertutup rapat.
Agung Sedayu menerima kantong yang tertutup itu dengan hati yang berdebar-debar. Ki Waskita tentu mengatakan sesuatu yang tidak boleh diketahuinya.
Demikianlah, ketika kemudian matahari terbit, maka Agung Sedayu dan Glagah Putih menuntun kudanya keluar dari regol halaman rumah Ki Waskita. Beberapa orang telah mengantarkannya sampai ke regol. Beberapa pesan masih diberikan oleh Ki Waskita, sementara Rudita hanya mengucapkan selamat jalan. Namun dari tatapan matanya Agung Sedayu dapat membaca, bahwa Rudita menjadi kecewa. Kecewa bahwa ia telah ditinggalkan oleh kedua anak-anak muda yang untuk beberapa hari telah mengawaninya disawah dan dirumah. Tetapi juga kece¬wa karena sikap dan pandangan hidup Agung Sedayu yang berbeda dengan sikap dan pandangan hidupnya. Justru kini terasa semakin jauh, karena Rudita tahu pasti, apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu dirumahnya.
Tetapi Rudita menekan segala kekecewaannya didalam hatinya.
Perlahan-lahan Agung Sedayu dan Glagah Putih meninggalkan regol dan beberapa orang yang melepaskannya. Rasa-rasanya memang berat untuk meninggalkan mereka Namun mereka tidak dapat tinggal terlalu lama dirumah yang terasa bergejolak oleh isi kitab rontal itu, namun terasa tenang dan damai karena sikap Rudita.
Sekali-kali Agung Sedayu dan Glagah Putih masih berpaling. Namun ketika mereka sudah melalui sebuah tikungan, maka kuda mereka berlari lebih cepat, meski¬pun tidak berpacu seperti angin.
Disepanjang lorong padukuhan, beberapa orang anak muda yang sudah dikenal selama mereka tinggal dirumah Ki Waskita, memberikan salam pula dan mengucapkan selamat jalan.
Sejenak kemudian, maka Agung Sedayu pun segera muncul di bulak panjang. Terasa udara pagi yang cerah menyentuh tubuh mereka. Alangkah segarnya. Matahari yang baru saja naik, terasa hangat dan segar.
Namun dalam pada itu, dua orang yang duduk terkan¬tuk-kantuk di pematang dekat pada sebuah lorong kecil te¬lah terkejut melihat Agung Sedayu dan Glagah Putih keluar dari pedukuhan dengan kudanya.
Agung Sedayu tidak sempat memperhatikan kedua orang itu. Perhatiannya masih terikat kepada batang-batang padi yang menguning dipagi yang cerah. Setitik-setitik embun masih nampak gemerlapan didaun-daunnya yang panjang.
“He, nampaknya Agung Sedayu dan Glagah Putih sudah akan kembali ke Jati Anom,” berkata salah se¬orang dari mereka.
“Ya. Kelengkapan kudanya menunjukkan, bahwa ia akan menempuh perjalanan kembali ke padepokannya.”
“Kita harus mengikutinya,” desis yang lain.
“Mereka berkuda. Marilah kita mengambil kuda kita.”
“Kau sajalah mengikuti atau kau pilih memberitahu¬kan kepada kawan-kawan kita.”
“Aku akan mengikutinya. Cepat, susul aku bersama kawan-kawan sebelum Agung Sedayu menyadari bahwa aku mengikutinya. Jika ia mengerti bahwa aku mengikuti¬nya sebelum kau datang bersama kawan-kawan, mungkin kau akan menjumpai aku menjadi makanan burung gagak ditengah jalan.”
Keduanyapun segera berdiri. Mereka menyusup kebalik sebuah gerumbul untuk mengambil kuda mereka yang tersembunyi. Yang seorang dengan tergesa-gesa memberitahukan kepada kawan-kawan mereka, semen¬tara yang seorang dari kejauhan mengikuti arah perjala¬nan Agung Sedayu.
Ia tidak perlu mengikuti dari jarak yang terlalu dekat. Meskipun orang itu tidak lagi melihat Agung Sedayu, namun ia dapat mengikuti jejak kudanya. Jalan yang dilalui Agung Sedayu adalah jalan yang jarang sekali dilalui orang-orang berkuda, sehingga dengan demi¬kian, maka dengan mudah orang-orang itu mengikuti jejaknya.
Yang seorang dengan tergesa-gesa berpacu ke tempat kawan-kawannya bersembunyi. Karena mereka masih bermalas-malas bahkan seorang diantara mereka masih tidur nyenyak, maka ia pun membentak hampir berteriak, ”Cepat. Jika kalian terlalu lamban, maka kita akan kehi-langan jejak.”
“Jalan yang dapat dilalui Agung Sedayu tidak banyak. Hanya ada dua jalur. Yang satu langsung menuju ke Kali Praga, ditempat penyeberangan sebelah Utara, sedang yang satu menuju ke Tanah Perdikan Meno¬reh. Jika Agung Sedayu tidak akan singgah di Tanah Per-dikan, maka ia akan berbelok menuju ke penyeberangan disebelah Selatan.”
“Siapa tahu mereka mencari jalan lain. Jalan-jalan kecil atau lorong-lorong yang tidak pernah dilalui orang disepanjang pinggir hutan atau bahkan memasuki hutan-hutan yang lebat.”
“Agaknya Agung Sedayu belum gila untuk memilih jalan itu.”
“Persetan. Tetapi cepat agar kita dapat menemukan kawan kita masih tetap bernafas.”
Kawan-kawannyapun kemudian bersiap dengan tergesa-gesa. Mereka menyadari, jika kawannya yang se¬orang diketahui oleh Agung Sedayu, maka umurnya tidak akan panjang lagi.
Sejenak kemudian, maka mereka berempat telah ber¬pacu menyusul kawannya. Ketika mereka sampai ke jalan yang dilalui oleh Agung Sedayu, maka mereka pun segera menemukan jejaknya. Dengan mudah mereka mengikuti¬nya meskipun mereka belum menyusul kawannya.
“Tetapi jejaknya masih ada,” berkata salah seorang dari mereka, ”jejak ini tentu jejak tiga ekor kuda. Yang dua adalah Agung Sedayu dan anak itu, sedang yang satu adalah jejak kuda kawan kita.”
Tidak ada yang menyahut. Namun mereka masih ber¬pacu disepanjang jalan. Dua orang didepan dan dua dibelakangnya.
Belum lagi mereka mencapai tepian Kali Praga, maka mereka sudah berhasil menyusul kawannya yang se¬orang. Tetapi mereka sengaja tidak berpacu bersama-sa¬ma. Dua orang diantara mereka berkuda dekat dibelakang yang seorang, sedang dua yang lain agak jauh dibelakang.
Sementara itu, diluar pengetahuan mereka, seorang anak muda telah mengikuti mereka pula. Seperti kelima orang sebelumnya, anak muda itu tidak perlu terlalu dekat. Ia merasa lebih mudah lagi mengikuti jejak tujuh ekor kuda di jalan padukuhan yang jarang dilalui penunggang penunggang kuda.

(***)
Oleh Abu Gaza
Belum di proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:05  Comments (169)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

169 KomentarTinggalkan komentar

  1. SIAPA BILANG HANYA SATU HALAMAN SAJA ……………………… ITU SATU KITAB RONTAL UTUH…TUH.

    THANKS KI GD

  2. Terimakasih Ki GD RoNtal 119 wis RampuNg ta UndUH …

  3. Soal ngunduh, Ki Widura tidak pernah keduluan yang lain… karena saya selalu memata-matai penghuni padepokan ….

    Aku tahu kapan Ki Gede nagun dan tidur ..
    Aku tahu dimana Ki Gede makan siang dan malam
    Aku tahu dengan siapa Ki Gede nonton layar
    Aku tahu jam berapa KI GEDE MENURUNKAN ILMUNYA ..

    Hee hee hee

    Thanks Ki Gede sekali.

  4. Wah….ketipu aku, tak kiro isih sunyi…senyap…sepi….jebule wis ramai….pantes sunyi jebule wis podo entuk kitab dan sudah pada mempelajari ….pantes sunyi…..

    Teng yu Ki GeDe….

  5. Maturnuwun Ki Gede….sampun kulo sedot 119…mantab..

  6. bener pitutur’e kangmas iga bakar kuwi mas sidanti,

    jumlah cantrik iku bahasa obamane ‘page view’, saben page di load/reload karo aji rog-rog IE utowo karo jurus firefox lan sakpanunggalane, dus diitung sak cantrik.

    dadine jumlah cantrik kuwi luwih podho karo ping piro ae poro cantrik mlebu metu padepokan admb iki,

    istilahe,
    trayek mataram – sangkal putung sayah suwe saya akeh sing ngliwati, sayah alus dalane, sayah ilang wingite.

    nek wes ilang wingite, dus sak wayah-wayah iso ngadep nang blog of the day’ne paseban wordpress.


    luukir

  7. Wis jan.
    Mau esuk isih jpg awan iki wis dadi ppt.

  8. Wah adpis ki Gede memang muanjur, siang ini kesepian itu sudah sirna… terimakasih ki Gede.. obat sepinya sudah diunduh…

  9. matur nuwun ki….

  10. Matur nuwun, sedot menyedot sedang berlangsung.

  11. Walah, kok cuma sampe halamana 13 aja rontal 119 ini.
    Tolong Ki GD, kekurangannya dimana? Please … opo poro cantrik bisa nulungi saya?

    Matur nuwun

  12. Alhamdulillah, setelah saya re-sedot, muncul semua.

    Hmmm, tambag semangat lagi. Tadi saya sudah nglokro jeh.

  13. pancen Ki Gede Kreatif. Apa tiap hari minum “………..” (sori ndhak diarani iklan)

  14. Oh…….ngono to…..?????
    Jebul Ki Waskita sadar yen tau kleru soal Kiai Gringsing, njur diralat ana episode iki.
    Ya wis…..mudheng aku….!!!
    ora sah takon Ki Menggung maneh.

    • wah ki mbleh nembe tumbas udheng to 😀

      • Udheng bathik .

        • Kripik uceng saking mBlitar,
          uenak tenan lho…..!!!!

          • mBlitar sak napane Sumber Udel ki Mbleh ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: