Buku II-19

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ternyata Glagah Putih telah terbangun sebelum ia sendiri sempat tidur barang sejenak.
Tetapi Agung Sedayu menjawab, ”Ya Glagah Putih. Aku sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali. Bukankah begitu?”
“Apakah aku bangun terlalu siang kali ini?”
“Tidak,” cepat-cepat Agung Sedayu menggeleng, ”hari masih sangat pagi. Aku pun baru saja terbangun.”
Glagah Putih pun kemudian duduk pula. Tetapi ia menjadi gelisah ketika ia mendengar senggot timba ber¬derit.
“Aku bangun kesiangan,” katanya, ”sudah ada orang menimba air dibelakang.”
“Tetapi kita sekarang adalah tamu,” desis Agung Sedayu.
“Apa salahnya aku mengisi jambangan di pakiwan?”
Agung Sedayu tersenyum. Adik sepupunya memang seorang yang rajin. Ia senang melakukan pekerjaan apapun juga yang dapat dikerjakannya.
Disiang hari, Agung Sedayu sama sekali tidak berbuat sesuatu. Nampaknya ia benar-benar sedang beristirahat. Kerjanya ikut serta Rudita pergi ke sawah. Duduk di gubug kecil sambil ikut makan kiriman ditengah hari.
Tetapi dimalam hari, jika Glagah Putih telah tertidur, dan seisi rumah telah nyenyak pula, maka mulailah ia mengamati isi kitab rontal yang diberikan oleh Ki Waskita kepadanya. Dengan tekun ia membaca dan memahatkan isinya dihatinya. Dengan memusatkan inderanya, maka seolah-olah ia telah memindahkan setiap huruf yang ter¬tulis didalam kitab itu ke dalam rangkuman ingatannya untuk selama-lamanya.
Kitab yang diberikan oleh Ki Waskita bukannya kitab yang tebal. Isinya tidak terlalu banyak, menurut jumlah hurufnya. Tetapi maknanya tiada terkirakan luasnya. Seluas lautan yang menampung setiap arus air dari daratan. Seperti langit yang menyimpan angin yang bergeser lembut, tetapi juga prahara yang mengguncang gunung.
Dada Agung Sedayu bagaikan terhimpit oleh sepasang batu sebesar belahan bumi. Pepat dan bagaikan remuk karena hubungan kalimat-kalimat yang terdapat didalam kitab itu.
Namun Agung Sedayu menghindarkan diri dari setiap sentuhan makna isi kitab itu. Seperti pesan Ki Waskita, ia hanya melihat huruf-hurufnya, menghafal bunyi kata-katanya. Ia tidak ingin dadanya pecah sebelum ia mempersiapkan diri untuk mulai mengamati makna isi kitab rontal itu.
Meskipun demikian, kadang-kadang jantungnya telah tergetar bagaikan akan meledak.
Untuk menyelesaikan seluruh kitab itu. Agung Sedayu tidak memerlukan waktu yang lama. Ia membaca sejak malam menjadi sepi. Dan ia baru berhenti ketika Glagah Putih mulai menggeliat bangun.
Dengan demikian, maka Agung Sedayu setiap malam sama sekali tidak tidur sekejappun.
Namun dengan demikian, ia cepat menyelesaikan tugasnya. Pada hari yang ke empat, maka badannya mulai nampak lemah. Bukan saja karena ia sama sekali tidak tidur empat malam berturut-turut. Daya tahan tubuhnya cukup kuat meskipun ia harus berjaga-jaga sepekan atau dua pekan sekalipun. Tetapi pemusatan inderanyalah yang membuatnya nampak letih sekali.
“Kau sakit Kakang?” bertanya Glagah Putih dengan cemas.
Agung Sedayu tersenyum. Katanya, ”Aku tidak apa-apa.”
“Tetapi Kakang nampak pucat dan lemah sekali.”
“Aku tidak apa-apa Glagah Putih. Mungkin udara terasa terlalu panas sehingga rasa-rasanya aku malas untuk keluar.”
“Kau makan sedikit sekali hari ini.”
Agung Sedayu tertawa sambil mengusap kepala adik sepupunya. Katanya, ”Kau aneh. Aku tidak apa-apa.”
Glagah Putih tidak bertanya lagi meskipun ia tetap mencemaskan kesehatan kakak sepupunya.
Pada hari kelima. Agung Sedayu bertambah lemah. Ia tidak pergi ke sawah bersama Rudita. Bahkan yang tidak terbiasa dilakukan oleh Agung Sedayu, menjelang tengah hari, ia berbaring dipembaringannya.
Glagah Putih yang ikut bersama Rudita ke sawah ber¬tanya dengan cemas, ”Rudita, apakah kau mengetahui, apakah sebabnya Kakang Agung Sedayu menjadi nampak letih sekali? Matanya menjadi kemerah-merahan, sedangkan wajahnya menjadi pucat.”
Rudita tersenyum. Tetapi ia menggeleng. Jawabnya, ”Aku tidak mengerti Glagah Putih. Mungkin kakangmu kurang enak badan. Udara di Tanah Perdikan Menoreh tentu jauh lebih panas dari lereng Gunung Merapi yang sejuk.”
Glagah Putih mencoba mengingat-ingat, apakah benar Jati Anom udaranya lebih sejuk dari Tanah Per¬dikan Menoreh. Namun yang diketahuinya, di Tanah Per¬dikan Menoreh terdapat juga bukit-bukit, meskipun tidak setinggi Gunung Merapi. Sore hari terasa lebih panjang di Tanah Perdikan Menoreh, karena matahari tidak segera bersembunyi dibalik puncak Gunung.
“Apa yang kau renungkan?” bertanya Rudita.
“Aku tidak merasakan, bahwa udara di Jati Anom terasa lebih sejuk dari ditempat ini,” berkata Glagah Putih.
Rudita tertawa. Katanya, ”Jangan hiraukan kakak¬mu. Ia tidak apa-apa. Ia mungkin memang letih. Tetapi ia tidak sakit.”
“Darimana kau tahu?”
“Aku hanya menduga. Bukankah kakakmu seorang yang memiliki daya tahan jasmaniah yang luar biasa?”
“Karena itu, seharusnya ia tidak mengalami keletihan seperti itu.”
Rudita menggeleng. Katanya, ”Aku tidak tahu, dan aku tidak dapat bertanya kepadanya. Tetapi aku kira ia tidak apa-apa.”
Glagah Putih tidak bertanya lagi. Seperti biasa ia ikut duduk di gubug menunggui padi yang mulai mekar. Ketika seseorang mengirim makan dan minuman, ia pun ikut serta menghabiskannya.
Sementara itu, selagi keduanya sibuk mengunyah makanan sambil mengamati burung yang berterbangan mengintari persawahan yang mengombak keku¬ning-kuningan ditiup angin, seseorang telah berjalan menyusur pematang mendekati mereka.
Rudita dan Glagah Putih saling berpandangan seje¬nak. Dengan ragu-ragu Glagah Putih berbisik, ”Siapa?”
Rudita menggeleng. Tetapi ia tidak menjawab karena orang itu sudah menjadi semakin dekat.
Seleret senyum membayang diwajah orang yang nampaknya sangat ramah itu. Dengan nada yang ramah pula ia bertanya, ”Apakah aku boleh ikut duduk bersama kalian?”
“Silahkan,” Rudita beringsut setapak untuk mem¬beri tempat kepada orang itu duduk digubugnya pula.
“Siapakah Ki Sanak itu?” tiba-tiba saja Glagah Putih bertanya, ”apakah kau juga orang padukuhan ini?”
Orang itu tersenyum. Dipandanginya Rudita sambil menyahut, ”Nampaknya anak muda belum mengenal aku. Aku memang bukan orang padukuhan ini. Karena itu, maka Rudita pun belum mengenal aku pula.”
“Kau mengenal namaku?” bertanya Rudita.
“Dari petani-petani yang berada disawah aku mengenal kalian berdua. Rudita dan Glagah Putih. Tetapi aku menjadi heran, dimanakah Agung Sedayu? Biasanya kalian selalu bertiga. Menunggui burung bertiga. Ke pategalan bertiga, menyusuri air di parit bertiga. Aku tahu bahwa Agung Sedayu dan Glagah Putih bukan anak padukuhan ini pula.”
Rudita termangu-mangu.Dengan ragu-ragu ia berta¬nya, ”Kau mengenal kami bertiga dengan baik.”
“Ya. Sudah tentu, karena aku mengagumi kalian. Kalian adalah anak-anak muda yang luar biasa. Teruta¬ma Agung Sedayu. Apakah ia sudah kembali ke Jati Anom?”
Pertanyaan itu mencurigakan sekali. Meskipun Glagah Putih masih sangat muda, namun ia mulai merasa bahwa ada sesuatu yang nampaknya kurang wajar pada orang yang sangat ramah itu.
Namun selagi Glagah Putih masih menimbang-nim¬bang, Rudita telah menjawab tanpa prasangka sama sekali, ”Agung Sedayu masih berada disini. Hari ini ia tidak ikut serta bersama kami. Nampaknya ia letih sekali.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya, ”Apakah ia sedang sakit?”
Rudita menggeleng. Jawabnya, ”Tidak. Ia tidak sakit.”
“Apakah yang dilakukannya, sehingga ia menjadi letih sekali? Apakah ia berlatih olah kanuragan siang dan malam?”
Rudita termangu-mangu sejenak. Sementara itu Glagah Putih-lah yang menjawab, ”Aku tidak pernah melihat ia berlatih apapun juga. Mungkin ia sedang sakit.”
Orang itu mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia bangkit sambil berkata, ”Sudahlah. Sebenarnya aku ingin bertemu barang sebentar. Tetapi ia tidak ada diantara kalian sekarang.”
“Siapakah kau?” sekali lagi Glagah Putih bertanya.
Orang itu menggeleng sambil tersenyum. Kata¬nya, ”Tidak ada gunanya kau mengetahui siapa aku. Sam¬paikan salamku kepada Agung Sedayu. Aku adalah saha¬batnya yang sudah lama tidak bertemu.”
Tanpa menunggu lagi, orang itu pun segera mening¬galkan kedua anak muda itu didalam gubugnya sambil termangu-mangu. Dengan cepat ia meloncat-loncat dipematang. Semakin lama semakin jauh.
Namun ketika ia meloncati parit sampai ke jalan bulak, ternyata seseorang yang lain telah menunggunya. Keduanya berjalan dengan tergesa-gesa menjauh menyu¬suri bulak yang panjang.
Sepeninggal keduanya, maka Glagah Putih benar-be¬nar telah dibayangi kecemasan. Dengan nada yang dalam ia berkata, ”Mereka nampaknya mempunyai maksud ter¬tentu terhadap Kakang Agung Sedayu.”
Rudita tersenyum sambil menjawab, ”Kenapa kau berprasangka? Keduanya adalah sahabat Agung Seda¬yu.”
“Aku tidak yakin. Orang itu tentu berbohong. Banyak orang yang mendendam Kakang Agung Sedayu. Termasuk orang itu.”
Rudita bahkan tertawa. Katanya, ”Glagah Putih. Kau masih sangat muda. Jangan mudah berprasangka.”
“Aku hanya berhati-hati. Mungkin keduanya ber¬maksud baik. Tetapi ada firasat yang mengatakan, bahwa keduanya bukan sahabat Kakang Agung Sedayu.”
Rudita menggeleng. Katanya, “Jangan mudah berprasangka. Sebaiknya kita mempercayainya. Kau nam¬paknya dibayangi oleh kecemasan dan kegelisahan.”
Glagah Pulih menjadi heran. Namun ia mencoba menjelaskan, ”Rudita. Banyak orang yang tiba-tiba saja menyerang Kakang Agung Sedayu. Mungkin karena Kakang Agung Sedayu terlibat dalam pertempuran dibanyak tempat dan setiap kali ia telah membunuh lawannya, dikehendaki atau tidak. Sanak keluarga dan saudara sau¬dara seperguruan orang-orang itu ingin membalas kematian mereka yang terbunuh oleh Kakang Agung Sedayu dengan membunuh pula.”
Rudita mengerutkan keningnya. Ia melihat kejujuran dimata Glagah Putih. Yang dikatakannya itu tentu bukan sekedar prasangka.
“Kekerasan memang bukan jalan yang paling baik un¬tuk menyelesaikan persoalan,” berkata Rudita kemudian. Namun ia pun mengerti bahwa ia tidak akan dapat banyak berbicara dengan anak yang masih terlalu muda itu, kare¬na didalam dadanya telah mulai tersimpan pengetahuan dan ilmu dasar tentang olah kanuragan.
“Jika Glagah Putih masih belum mulai,” berkata Ru¬dita didalam hatinya, ”dalam keadaan seperti keadaan¬nya sekarang, maka harus banyak penjelasan yang dibe¬rikan kepadanya kenapa bukan kekerasan yang paling baik dilakukan dalam hubungan antara sesama.”
Glagah Putih termangu-mangu. Memang banyak hal yang tidak dimengertinya. Rudita bagi Glagah Putih ada¬lah seorang yang aneh, seaneh Prastawa. Namun dalam keadaan yang jauh berbeda, bahkan berlawanan. Mes¬kipun banyak yang tidak dimengertinya, namun sikap Ru¬dita terasa sejuk dan semanak tanpa dibuat-buat. Baginya Prastawa adalah secercah padang yang tandus dan ger¬sang, sedang Rudita adalah bayangan sejuknya dedaunan yang hijau rimbun.
Tetapi Glagah Putih tidak bertanya lebih lanjut. Sekali-sekali memandang kekejauhan, ke arah kedua orang yang mengaku sahabat Agung Sedayu itu menghi¬lang.
“Sudahlah,” berkata Rudita, ”jangan hiraukan lagi. Kita masih mempunyai pekerjaan. Burung-burung itu masih saja berputaran. Jika kita lengah, maka mereka akan menukik dan mengambil padi kita yang sudah mulai menguning.”
Glagah Putih pun kemudian kembali memperhatikan burung gelatik diudara. Sekali-sekali ia menarik tali-tali yang menggerakkan orang-orangan di tengah-tengah tanaman padi yang menguning.
Dalam pada itu, dua orang yang mengaku sahabat Agung Sedayu itu pun berjalan semakin jauh dari gubug ditengah sawah itu. Dengan nada datar salah seorang dari keduanya berkata, ”Kita belum kehilangan Agung Seda¬yu.”
“Tetapi terlalu lama,” sahut yang lain, ”apakah Sabungsari telaten menunggu lebih dari sepekan?”
“Ia tahu siapa Agung Sedayu. Kita tidak dapat terge¬sa-gesa. Kita akan menunggu sepekan lagi. Jika ia masih belum menuju ke Jati Anom kembali, atau meneruskan perjalanan ke tempat lain, kita akan mengambil sikap.”
“Apakah kita akan membiarkannya pergi ke tempat lain?”
“Tentu tidak. Kita akan menggiringnya kembali ke Jati Anom. Jika perlu dengan kekerasan.”
Keduanya terdiam. Tetapi keduanya sadar, bahwa jika mereka harus mempergunukan kekerasan, maka mereka harus benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan, karena mereka sudah dapat mengukur, betapa tinggi ilmu Agung Sedayu.
“Kita tidak akan dapat melakukannya jika ia berada bersama Ki Waskita.” Berkala salah seorang dari mere¬ka.
“Ya,” sahut yang lain, ”Ki Waskita dan Agung Sedayu mempunyai kemampuan yang luar biasa. Jika mereka berdua, maka kita tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika kita memaksakan diri, maka itu berarti bahwa kita telah membunuh diri.”
Yang lain tidak menyahut lagi. Tetapi keduanya menyadari, betapa berbahayanya Agung Sedayu disamping Ki Waskita bagi mereka sekelompok kecil pengikut Sabungsari.
Adalah diluar dugaan mereka, bahwa sebenarnya Sabungsari selalu mengawasi mereka dan Agung Sedayu. Sabungsari menunggu, benturan yang akan terjadi antara orang-orangnya dengan Agung Sedayu. Dengan demikian ia akan dapat menjajagi, betapa jauhnya Agung Sedayu menguasai ilmu yang jarang ada bandingnya. Sabungsari pun pernah mendengar, bahwa tatapan mata Agung Sedayu memiliki kemampuan sentuhan wadag pula. Namun Sabungsari belum dapat mengukur, tingkat sen¬tuhan wadag yang terpancar dari mata anak muda itu. Sedangkan jenisnyapun masih belum di ketahuinya dengan pasti pula. Apakah tatapan mata Agung Sedayu itu mampu merontokkan isi dada dengan hentakkan dan goncangan yang tidak terlawan, atau sorot mata Agung Seda¬yu itu mempunyai kekuatan remas dan himpitan seperti tangan raksasa, atau sorot mata itu memancarkan panas¬nya bara seperti lontaran lahar dari mulut gunung berapi.
Sementara itu Agung Sedayu sendiri masih berbaring dipembaringannya. Sekali-kali ia pergi berjalan-jalan keluar. Namun rasa-rasanya tubuhnya memang menjadi sangat lemah. Pemusatan inderanya bagaikan menghisap seluruh tenaganya.
“Tetapi aku harus menyelesaikannya,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri. Batapapun lungkrah badannya dan letih jiwanya, namun ia tidak akan berhenti sebelum ia sampai pada huruf yang terakhir.
“Satu malam lagi aku akan selesai,” gumannya. Agung Sedayu yang letih itu pun kemudian berjalan keluar biliknya dengan langkah yang lemah. Sendiri ia duduk diserambi merenungi dirinya sendiri. Ia masih saja menghindarkan diri dari penelaahan makna dari ilmu yang telah dibacanya.
“Aku tidak mau hancur sama sekali dengan memak¬sa diri mengungkap makna dari kalimat-kalimat didalam kitab itu,” berkata Agung Sedayu.
Agung Sedayu berpaling ketika mendengar desir langkah mendekat, ”Ki Waskita,” desis Agung Sedayu.
“Duduk sajalah Ngger,” berkata Ki Waskita.
Ki Waskitapun kemudian duduk disebelahnya. Sambil menepuk bahu Agung Sedayu ia berkata, ”Kau nampak letih sekali. Aku mengerti, bahwa kau benar-benar telah memeras tenaga dan pemusatan indera untuk menangkap kalimat-kalimat yang tertera didalam kitab itu.”
Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab, ”Ya Paman. Aku telah menyadap isinya dan memahatkannya didindmg ingatanku. Aku berhasil mengingat huruf demi huruf dari kalimat-kalimat yang sudah aku baca.”
“Apakah masih banyak yang belum terbaca?” ber¬tanya Ki Waskita.
“Tidak Paman. Dugaan Paman hampir tepat. Aku memerlukan waktu semalam lebih panjang dari yang Paman perhitungkan.”
“Enam malam?”
“Ya. Malam nanti aku akan menyelesaikannya.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Tetapi jangan memaksa diri Ngger. Kau dapat beristira¬hat barang satu dua hari. Kemudian kau mulai lagi dengan bagian terakhir itu.”
“Aku akan menyelesaikannya sama sekali Paman.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, ”Kau ten¬tu menyadari tingkat kemampuan dan daya tahan Angger sendiri. Tetapi aku tak berkeberatan, seandainya Angger menundanya barang dua tiga hari, bahkan sepekan sekali¬pun. Aku dan keluargaku senang sekali jika Angger masih bersedia tinggal lebih lama disini. Dengan demikian, keadaan Angger pun tentu tidak akan menjadi terlalu letih.”
“Aku akan menyelesaikannya dengan segera Ki Waskita.”
Ki Waskita tidak dapat melarangnya. Di pengasingan, Agung Sedayu pun telah mengerahkan segenap daya tahan jasmaniahnya untuk menyelesaikan tataran ilmu yang sedang dipelajarinya, sehingga ia hampir melupakan keadaan wadagnya. Namun meskipun nampaknya yang dilakukan dirumahnya itu lebih ringan, tetapi ternyata bahwa akibatnya tidak kalah berat bagi wadag dan jiwa¬nya.
Ketika Ki Waskita kemudian meninggalkan Agung Sedayu duduk seorang din, maka anak muda itu pun kemudian bangkit pula dan melangkah perlahan-lahan ke biliknya, langsung membaringkan dirinya dipembaringan. Rasa-rasanya tubuhnya bagaikan tidak berbobot la¬gi dan terombang-ambing oleh sentuhan angin yang beta¬papun lembutnya.
Ketika Glagah Putih kembali dari sawah, dan me¬masuki bilik itu pula setelah ia mencuci kakinya, ia men¬jadi semakin cemas. Nampaknya Agung Sedayu benar-be¬nar seperti orang yang sedang sakit.
“Kau nampaknya benar-benar sakit Kakang?” ber¬tanya Glagah Putih.
Agung Sedayu mencoba tersenyum. Tetapi ia lebih ba¬ik mengiakannya dari pada Glagah Putih selalu menge¬jarnya dengan bermacam-macam pertanyaan.
“Badanku memang terasa tidak enak Glagah Putih. Tetapi tidak apa-apa. Agaknya kadang-kadang aku me¬mang diganggu oleh perasaan pening untuk satu atau dua hari. Setelah itu, maka aku akan segera sembuh dan sehat kembali.”
Glagah Putih termangu-mangu. Sementara itu Agung Sedayu melanjutkan, “Aku sudah mengatakan keadaanku kepada Ki Waskita. Aku sudah mendapat obat yang akan segera memulihkan kesehatanku.”
Seperti yang diharapkan oleh Agung Sedayu, maka Glagah Putih pun mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Jika memang Agung Sedayu sakit, maka ia harus beristirahat dan berobat.
Namun Glagah Putih sama sekali tidak menyadari, apa yang sebenarnya terjadi dengan Agung Sedayu. Keti¬ka malam tiba, dan Glagah Putih mulai mengantuk, Agung Sedayu mulai mempersiapkan diri. Demikian Gla¬gah Putih tertidur, dengan tubuh yang lemah Agung Seda-yu bangkit dan mengambil kitab rontal dari tempatnya.
Agung Sedayu masih memaksa diri untuk menyeleng¬garakan kalimat-kalimat yang sudah tidak begitu banyak lagi. Dikerahkannya sisa tenaga yang ada padanya. Ke¬mampuannya, daya pikir dan daya tangkapnya, daya ingat dan segala kegiatan jiwani serta jasmani.
Kata demi kata dipahatkannya didinding hatinya. Kalimat demi kalimat serta rangkaian rangkaian pengertian meskipun tanpa ditelaah maknanya. Karena Agung Sedayu sadar, bahwa ia tidak akan mampu mema¬hami maknanya sekaligus disaat-saat tubuhnya sudah menjadi sangat lemah.
Dibagian terakhir dari kitab itu, nafasnya bagaikan mengalir semakin lamban. Matanya menjadi kabur dan daya tangkapnyapun menyusut. Namun ia masih sempat melihat kalimat terakhir sampai pada huruf yang terakhir pula.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, ternyata bahwa tubuhnya menjadi sangat lemah. Namun ia masih ingat dan menyadari, bahwa kitab itu tidak boleh terletak disembarang tempat.
Tertatih-tatih Agung Sedayu berdiri. Disembunyikan¬nya kitab rontal itu ditempatnya dengan susah payah.
Ketika ia kembali duduk disisi pembaringan, maka ia harus bertumpu pada tangannya yang berpegangan ander planggrangan didalam bilik itu.
Dalam keadaan yang sangat lemah dan tubuh geme¬tar Agung Sedayu masih memaksa diri untuk duduk tepe¬kur, menghubungkan diri dengan Panciptanya. Betapa besar rasa terima kasihnya, bahwa ia sudah diperkenankan menyelesaikan pekerjaan yang berat, dan mendapat kurnia untuk dapat memahatkannya didalam hatinya.
Namun pada kalimat-kalimat terakhir yang diucap¬kannya didalam hati, tubuh Agung Sedayu benar-benar te¬lah menjadi lemah. Ia tidak dapat bertahan duduk lebih lama lagi. Diluar sadarnya, maka perlahan-lahan ia terhu¬yung-huyung dan jatuh dikaki pembaringannya.
Tetapi Agung Sedayu tidak mengerti apa yang telah terjadi, karena ia telah menjadi pingsan.
Ia tidak tahu, berapa lamanya ia pingsan dibawah bibir pembaringannya. Ia sadar, ketika terasa tubuhnya bagaikan terbang. Perlahan-lahan tubuhnya turun dan kemu¬dian terbaring dipembaringan.
Matanya yang gelap perlahan-lahan menjadi semakin terang. Meskipun masih kabur, ia melihat beberapa orang mengerumuninya.
“Kakang, Kakang,” ia mendengar suara Glagah Pu¬tih. Karena itu, seolah-olah kekuatannya telah merayapi tubuhnya kembali. Meskipun masih sangat lemah, ia sem¬pat membuka mulutnya dan menggerakkan bibirnya.
“Glagah Putih,” desisnya.
Glagah Putih pun kemudian menempelkan telinganya dimulut Agung Sedayu untuk mendengarkan kata-katanya yang lirih, “Aku tidak apa-apa.”
Tetapi wajah Glagah Putih masih tegang. Bagaimana ia dapat percaya bahwa kakak sepupunya itu tidak apa-a¬pa.
Beberapa orang menjadi sibuk. Digosoknya tubuh Agung Sedayu yang dingin dengan minyak adas. Yang lain memijit-mijit kakinya. Yang lain lagi menyediakan air panas baginya.
Berbeda dengan orang-orang yang gelisah itu, Ki Was¬kita berdiri dengan tangan bersilang didadu. Ia tidak ce¬mas seperti orang-orang itu meskipun ia menjadi berde¬bar-debar pula. Ia tahu sepenuhnya bahwa yang terjadi itu adalah akibat Agung Sedayu yang telah memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya, membaca kitab yang diberikannya sampai kata yang terakhir.
Yang dicemaskan oleh Ki Waskita adalah justru kitab¬nya. Ia tidak melihat kitab itu ditangan atau didekat Agung Sedayu terbaring di kaki pembaringannya.
Karena itu, ketika ada kesempatan sekejap, Ki Waskita berbisik, “Dimanakah kitab itu Agger?”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudi¬an bibirnya nampak tersenyum. Jawabnya lirih, ”Sudah aku simpan baik-baik Ki Waskita.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Desisnya, ”Sukur¬lah, terima kasih. Aku tahu, bahwa keadaan Angger tidak berbahaya. Meskipun demikian kau harus beristirahat se¬baik-baiknya dan berusaha memulihkan keadaan jasmaniah dan rohaniah Angger yang kelelahan.”
Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ketika seseorang meletakan mangkuk berisi air jahe, dibibirnya maka ia pun telah meminumnya seteguk. Tubuhnyapun terasa menjadi semakin segar.
“Minumlah,” berkata Ki Waskita.
Agung Sedayu mengangguk. Sambil tersenyum ia berkata, ”Sudah hampir separo kuhisap. Air jahe itu segar sekali.
Ki Waskita tersenyum pula. Katanya kemudian, ”Berbaringlah sebaik-baiknya. Kau harus tidur dan beristirahat.”
Agung Sedayu mengangguk. Ketika ia melihat sekeliling ruangan, ia melihat Rudita memandangnya dengan tatapan mata yang redup. Tetapi Agung Sedayu tidak mengetahui apa yang tersirap dihatinya.
Karena keadaan Agung Sedayu sudah berangsur baik, maka ruangan itu pun menjadi semakin lengang. Satu-satu orang-orang yang berkerumun telah mening¬galkan bilik itu meskipun mereka masih selalu dibebani oleh pertanyaan, kenapa Agung Sedayu tiba-tiba telah pin¬gsan.
Yang kemudian tinggal diruangan itu adalah Ki Waskita, Glagah Putih dan Rudita. Sejenak Rudita termangu-mangu. Namun kemudian ia mendekati Agung Seda¬yu sambil berkata, ”beristirahat sebaik-baiknya adalah obat yang paling baik bagimu Agung Sedayu.
“Terima kasih Rudita. Aku akan tidur.”
Rudita pun kemudian minta diri dan meninggalkan ruangan itu pula. Sementara Ki Waskita masih menungg¬uinya sambil duduk dibibir pembaringan.
“Jika kau mengantuk, tidurlah,” berkata Ki Waski¬ta kepada Glagah Putih.
Glagah Putih tersenyum sambil menggeleng. Jawabnya, ”Tidak Ki Waskita. Aku tidak merasa kantuk lagi.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Sementara Agung Sedayu pun kemudian bertanya, ”Ki Waskita. Apakah yang sudah terjadi atasku.”
Ki Waskita memandang Glagah Putih sejenak kata-nya, ”Bertanyalah kepada adikmu.”
Agung Sedayu mengerutkan keningya. Kemudian ia pun bertanya, ”Apa yang kau ketahui tentang peristiwa ini Glagah Putih.”
“Tidak seluruhnya. Ketika aku terbangun oleh goncangan pada pembaringan ini, aku melihat Kakang sudah terbaring dilantai. Karena aku menjadi bingung, maka aku pun memanggil Ki Waskita. Dengan demikian maka seisi rumah ini menjadi bingung.”
Agung Sedayu mencoba mengingat apa yang terjadi. Ia masih ingat betapa ia kehilangan keseimbangan. Mata¬nya menjadi gelap, dan ia bagaikan tidak mempunyai tenaga lagi untuk mempertahankan keseimbangan, sehingga iapun terjatuh.
“Aku menjadi pingsan,” katanya didalam hati.
Dalam pada itu, Ki Waskitapun berkata, ”Sudahlah Agung Sedayu. Tidurlah. Masih ada sisa waktu malam ini, meskipun tinggal sepotong. Sebentar lagi fajar akan menyingsing, dan kita semuanya akan memasuki hari baru.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, ”Terima kasih Ki Waskita. Aku akan mencoba untuk tidur. Mungkin aku tidak akan bangun pagi-pagi. Mungkin aku akan bangun ketika mata¬hari sudah tinggi.”
“Tidak ada salahnya,” jawab Ki Waskita, ”mungkin itu lebih baik bagimu.”
Agung Sedayu mengangguk kecil. Ia pun menyadari keadaan dirinya yang sangat lemah dan memerlukan banyak istirahat.
Ki Waskita pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Ia tidak lagi digelisahkan oleh kitabnya. Tetapi Ia masih belum merasa perlu untuk dengan tergesa-gesa minta kitab yang telah disimpan oleh Agung Sedayu itu.
Sejenak Agung Sedayu masih menelusuri peristiwa yang baru saja terjadi, sementara Glagah Putih duduk terpekur disisinya.
“Tidurlah. Masih ada waktu,” berkata Agung Sedayu.
“Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Sebaiknya kau sajalah yang tidur Kakang.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Oleh keletihan yang sangat, maka akhirnya Agung Sedayu pun tertidur pula. Seperti saat ia pingsan, maka ia pun tidak mengetahui, berapa lamanya ia tertidur.
Tetapi ketika ia membuka matanya, Glagah Putih sudah tidak berada desisinya. Agaknya ia sudah pergi ke belakang. Seperti biasanya anak itu rajin menimba air mengisi jambangan dipakiwan.
Hari itu ternyata Rudita dan Glagah Putih tidak pergi ke sawah. Diserahkannya pekerjaan mereka kepada pem¬bantunya, menunggui burung disawah.
Karena badan Agung Sedayu sangat lemah, maka ia lebih banyak berada dipembaringannya. Sekali-kali Gla¬gah Putih menungguinya. Namun kadang-kadang ia bera¬da diserambi bersama Rudita.
Meskipun demikian, ada kalanya Rudita sendirilah yang menunggui Agung Sedayu. Ketika Glagah Putih sedang pergi ke sungai, maka Rudita memerlukan menunggui Agung Sedayu sambil berbicara tentang ber¬macam-macam persoalan. Dari air parit yang bening, sampai ke burung gelatik yang berterbangan dilangit.
Namun akhirnya Rudita bertanya, ”Apakah sebenarnya sakitmu payah Agung Sedayu?”
Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinga Agung Seda¬yu. Namun demikian ia menjawab, “Tidak Rudita. Sakitku bukan apa-apa. Mungkin hanya karena kelelahan atau kelainan yang kurang aku pahami.”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku tidak menyalahkan kau Agung Sedayu. Karena kau sudah memilih sikap dalam perjalanan hidupmu. Aku mengerti, apakah yang menyebabkan kau mejadi letih dan bahkan seperti benar-benar sakit.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Wajahnya nampak menegang sejenak. Namun Rudita tersenyum sambil berkata, “Aku tidak pernah menganggap kau ber¬salah. Atau Ayah bersalah. Atau orang-orang yang lebih senang menekuni kekerasan. Itu sudah aku yakini dan kau pilih menjadi sikap hidupmu.”
“Apa maksudmu Rudita?” bertanya Agung Sedayu.
“Kau memaksa dirimu untuk membaca dan menyelesaikan kitab yang dipinjamkan oleh Ayah kepadamu.”
Terasa wajah Agung Sedayu menjadi panas. Namun ia melihat Rudita tersenyum sambil berkata, “Itu bukan suatu kesalahan.”
Sejenak Agung Sedayu justru diam mematung. Dipan¬danginya wajah Rudita yang seperti air telaga yang jernih sehingga nampak batu-batu kerikil yang tergolek didasarnya.
“Rudita,” bertanya Agung Sedayu, “apakah kau bermaksud mengatakan bahwa aku telah membaca kitab Ki Waskita sehingga aku menjadi sangat letih?”
Rudita tersenyum. Jawabnya, ”Benar Agung Sedayu. Kau telah membaca kitab Ayah.
Kau ingin menyelesaikannya secepatnya, sehingga kau memaksa diri untuk membacanya hingga semalam sun¬tuk. Jika kau membaca kidung tentang hilangnya Arjuna yang ternyata sedang bertapa menjadi seorang Wiku yang sakti, mungkin kau akan dapat menemukan kesegaran rohani dan mendapatkan beberapa pesan dari isi kidung itu yang dapat dipetik bagi kehidupan sehari-hari.
Tetapi kitab Ayah adalah sangat berlainan isi dan manfaatnya. Yang pertama-tama nampak akibatnya ada¬lah keletihan jasmani dan rohani. Apalagi dengan cara yang kau tempuh sekarang ini. Kau selesaikan seluruh isi kitab itu dalam waktu yang sangat singkat.”
“Rudita,” suara Agung Sedayu bergetar, ”darimana kau tahu, bahwa aku telah membaca kitab Ki Waskita? Apakah Ki Waskita mengatakannya kepadamu?”
“Tentu tidak Agung Sedayu. Ayah tidak akan menga¬takan kepadaku, karena Ayah tahu, bahwa aku lebih senang melihat kitab itu tidak pernah disentuh oleh siapapun. Bahkan seandainya kitab itu dimusnakan, maka itu berarti salah satu usaha penjernihan dari lingkungan hidup manusia yang semakin lama menjadi semakin keruh ini.”
“Jadi dari siapa kau mengetahuinya?”
“Aku hanya mencoba meraba dengan naluriku,” Rudita termangu-mangu sejenak. Lalu, ”Ketahuilah Agung Sedayu. Aku pun pernah mengalami keadaan yang hampir serupa dengan yang kau alami. Tetapi agaknya kau mempunyai banyak kelebihan dari aku didalam penyadapan ilmu dari kitab Ayah. Kau dapat mem¬pergunakan ketajaman ingatanmu yang jarang dimiliki oleh seseorang. Dengan memandang sesuatu dan melukis¬kan didinding ingatan, maka yang pernah kau lihat, tidak akan pernah kau lupakan, meskipun peristiwa-peristiwa sehari-hari yang tidak penting dan tidak sengaja kau catat pada lembaran-lembaran ingatanmu akan terlupakan seperti yang terjadi pada banyak orang.”
Wajah Agung Sedayu menjadi tegang. Hampir tidak percaya ia mendengar kata-kata Rudita. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, ”Rudita. apakah benar pendenga¬ranku, bahwa kau pernah juga mempelajari isi kitab itu?”
Rudita tersenyum sambil mengangguk. Kata¬nya, ”Itulah wajahku yang sebenarnya Agung Sedayu. Aku tidak jujur terhadap diriku sendiri. Aku ingin melihat kitab itu tidak disentuh tangan siapapun, tapi aku sendiri pernah membacanya. Aku membaca dari huruf pertama sampai huruf terakhir. Tetapi karena aku hanya sekedar membaca tanpa mencoba mengingat isinya maka aku tak dipengaruhi apapun juga oleh bacaan itu. Tetapi ketika aku, memetik satu bab kecil dari isi buku itu, dan mengu-tipnya diatas rontal yang lain, maka aku mengalami keadaan yang serupa dengan keadaanmu. Bedanya Agung sedayu, kau mengutip dengan tatapan matamu dan pahatan didinding ingatanmu, sedang aku mengutip dengan arti yang sebenarnya. Menulis dan melukis diatas rontal, huruf demi huruf dan garis demi garis. Aku hampir mati juga ketika aku menggoreskan huruf terakhir. Hanya dari satu bab kecil.”
Agung Sedayu masih kebingungan mendengar kete¬rangan Rudita, seolah-olah ia tidak percaya tentang isi kete¬rangan itu.
“Agung Sedayu,” berkata Rudita, ”isi bab kecil yang aku kutip itu kemudian aku bawa menyingkir dan mencoba memahami isinya. Mempelajari dengan sikap dan laku seperti yang disebut didalam kitab itu sehingga akhirnya aku menemukan maknanya. Aku membebaskan diri dari akibat sentuhan wadag pada wadagku. Kau heran?” Rudita berdiri sambil berjalan mon¬dar-mandir, ”itulah kepalsuanku dihadapan keyakinanku sendiri.Tetapi benar-benar hanya itu, Agung Sedayu. Aku memetik satu bab yang paling lemah dari seluruh isi kitab itu. Aku memberikan perlindungan pada diriku sendiri sehingga dengan demikian maka sebenarnya akulah manusia yang paling berprasangka kepada sesama.”
Agung Sedayu mendengarkan keterangan Rudita itu dengan saksama. Sementara itu Rudita mene¬ruskan, ”Tetapi aku mencoba berlindung dari satu angg¬apan, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Yang sempurna hanyalah yang sempurna adanya. Yang mem¬berikan segalanya tanpa prasangka seutuhnya dalam cinta kasih sampai pada batas maut.” Rudita menundukkan kepalanya, ”tetapi aku adalah seorang pengecut yang ketakutan melihat bayangan maut itu, meskipun maut dalam batas arti kewadagan.”
“Kau telah menyadap bab yang memberikan kekebalan?”
“Kau kini melihat Agung Sedayu, bahwa aku pun ber¬prasangka justru pada permulaannya. Tetapi untuk sete¬rusnya, aku berusaha untuk melihat dengan pandangan yang jernih bagi sesama.” Ia berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang pucat. Katanya kemu-dian, ”Aku tahu apa yang kau lakukan, karena aku pernah mengalami meskipun dalam arti dan batas yang agak ber¬beda. Kau telah memahatkan semuanya didinding hatimu. Sehingga pada suatu saat, kau akan mengalami masa -masa penghayatan dan penemuan maknanya. Kau akan mengalami keadaan yang lebih berat dari yang kau alami sekarang ini. Tetapi karena kau akan mempunyai waktu yang jauh lebih panjang, maka aku kira kau dapat mengukur kemampuanmu untuk menangkap dan mema¬hami maknanya sesuai dengan keadaanmu, jasmaniah dan rohaniah.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih bertanya, ”Darimana pula kau mengetahui bahwa aku akan dapat selalu mengingat isi kitab itu seu¬tuhnya?”
“Kau tidak akan melakukan suatu kebodohan yang paling dungu dalam hidupmu. Jika kau tidak dapat mela¬kukannya, maka kau tidak akan memaksa diri untuk menyelesaikan isi kitab itu dalam waktu hanya enam hari. Kau tentu akan mempelajarinya sekaligus mencari mak¬nanya serta kemampuan ungkapannya untuk waktu-wak¬tu yang lama. Satu dua tahun atau lebih. Itu pun baru dasarnya.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Rudita adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ia mempunyai ketajaman pandangan berdasarkan firasat dan nalurinya, dengan mengurainya dan memperhitung¬kan hubungan timbal balik, maka ia dapat menerka dengan tepat apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu.
Karena itu, maka Agung Sedayu kemudian tidak dapat ingkar lagi. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Sebenarnyalah aku memang telah membaca isi kitab Ki Waskita dan memahatkannya didinding ingatanku. Aku ingat setiap huruf yang terdapat pada kitab itu, dan aku akan dapat membacanya kembali. Seperti yang kau kata¬kan, baru kemudian aku akan memahaminya sebagai satu ilmu yang memiliki banyak segi yang nampaknya berdiri sendiri. Dan kau telah memetik salah satu bab dari padanya.”
Rudita mengangguk-angguk. Katanya, ”Satu bab yang paling lemah. Dan satu bab itu telah membuktikan warna hatiku yang sebenarnya. Prasangka, cemas, dan kemunafikan.”
“Tetapi sangat terbatas. Kau telah memberikanwarna yang lebih tajam dari warna yg buram itu sepanjang hidupmu. Kau telah memilih sikap yang mapan, yang bagiku merupakan tantangan yang tidak terkalahkan, karena aku tidak mempunyai keberanian cukup untuk melakukannya.”
“Kau sudah memilih jalan sendiri.”
“Ya, aku sudah memilih jalan sendiri. Mudah-mudahan aku tetap pada jalan yang paling baik yang dapat aku lalui. Paling baik dari pilihan yang sangat buruk.”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemu¬dian ia berdiri sambil berkata, ”Kesadaranmu telah menolongmu. Tetapi adalah pasti bahwa kau akan tetap berada di jalanmu, karena kau sadar telah memilih yang paling baik dari yang buruk sekali, tetapi sekali lagi aku katakan, aku tidak dapat menyalahkanmu, tidak dapat menyalahkan Ayah dan Kiai Gringsing, tidak dapat menyalahkan orang-orang yang menyebut dirinya pewa¬ris Kerajaan Majapahit, tidak dapat menyalahkan orang-orang yang harus menebus pilihannya dengan kematian.”
“Aku berdiri ditempat yang berbeda dengan mereka,” sahut Agung Sedayu, ”Yang kau sebut terakhir itu.”
“Ya, sudah aku pastikan. Kau berada ditempat yang berbeda, tetapi pada bagian yang sama. Semua adalah yang sangat buruk. Dan kau berada ditempat yang paling baik dari yang sangat buruk itu. Sementara aku memilih, aku ulangi, aku memilih bukanberarti bahwa aku telah mendapatkan yang aku pilih itu sesuai dengan pilihanku, bahwa aku akan berdiri meskipun ditempat yang paling buruk dari yang baik.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Ia menya¬dari sepenuhnya apa yang dimaksud oleh Rudita. Dan ia pun melihat, bahwa yang dikatakan itu tidak sisip. Sehingga dengan demikian, seolah-olah nampak di angan-angannya, sebuah padang yang sangat luas, yang dibagi oleh sebuah jurang yang sangat dalam. Betapa kecilnya dirinya berdiri di bagian yang tandus berbatu-batu. Tetapi ia masih dapat menghindari ujung-ujung karang yang runcing, kawah gunung berapi yang mem¬bara, rawa-rawa yang bagaikan mendidih dan gerumbul-gerumbul yang menjadi sarang ular bandotan. Semen¬tara itu diseberang jurang yang dalam, terdapat taman yang sejuk oleh pohon-pohon bunga. Nampak sekecil diri¬nya, Rudita berdiri dipinggir jurang, direrumputan yang kekuning-kuningan. Namun masih juga terdapat bebe¬rapa helai bunga yang memberikan kesegaran yang damai.
Ketika matahari menjadi terik, maka padang disebelah bagaikan terbakar, sedang disebelah yang lain, menjadi terasa segar dicerahnya matahari. Bayangan-bayangan pepohonan yang rimbun menghem¬buskan kidung kedamaian hati.
Agung Sedayu berdesah. Tetapi ia sudah berada ditempat yang dikatakan paling baik dari yang sangat buruk itu tanpa dapat melarikan diri, jika ia tidak dapat meloncat jurang yang sangat lebar dan dalam.
“Sudahlah Agung Sedayu,” berkata Rudita kemu¬dian, ”jangan hiraukan kata-kataku. Anggaplah aku seorang yang sangat lemah, yang tidak berani meng¬hadapi kenyataan hidup yang sangat pahit.”
Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, ”Baiklah Rudita. Namun kata-katamu menjadi susunan kalimat yang juga terpahat dihatiku tanpa dapat aku lupakan lagi. Setiap kali aku akan dapat membacanya. Meskipun barangkali hanya dapai aku kenali maksudnya dan tidak dapat aku hayati maknanya.”
Rudita tersenyum. Jawabnya, ”Itu sudah cukup baik. Meskipun kau berdiri diseberang, tetapi kau sanggup memandang ke arah yang lebih baik.”
Agung Sedayu terkejut. Seolah-olah Rudita dapat melihat apa yang hanya nampak di angan-angannya. Sehingga hampir diluar sadarnya ia bertanya, ”Apakah yang kau lihat Rudita. Jurang yang membentang di antara kita?”
“Bukan diantara kita. Tetapi diantara sikap dan pandangan hidup kita masing-masing.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Rudita pun melihat bayangan seperti bayangan yang nampak olehnya. Padang luas dengan warna-warna merah gersang dibakar oleh terik matahari tanpa lin-dungan bayangan apapun juga. sementara diseberang membentang taman yang hijau rimbun terlindung dari sengatan terik matahari dilangit yang bersih dan kebiru-biruan.
Agung Sedayu tidak mengatakannya. Ia meman¬dangi Rudita yang kemudian minta diri, melangkah keluar biliknya dan hilang dibalik pintu lereg.
Sejenak Agung Sedayu berbaring seorang diri. Namun kemudian ia mendengar pintu berderit. Glagah Putih sam¬bil tersenyum cerah melangkah masuk sambil bertanya, “Kau berangsur baik Kakang?”
Agung Sedayu memaksa diri tersenyum. Ia sadar, bahwa anak muda itu akan berdiri bersamanya ditandusnya padang batu padas yang merah membara, meskipun ia dapat menyeretnya ke bagian yang paling baik dari yang sangat buruk itu.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:05  Comments (169)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

169 KomentarTinggalkan komentar

  1. SIAPA BILANG HANYA SATU HALAMAN SAJA ……………………… ITU SATU KITAB RONTAL UTUH…TUH.

    THANKS KI GD

  2. Terimakasih Ki GD RoNtal 119 wis RampuNg ta UndUH …

  3. Soal ngunduh, Ki Widura tidak pernah keduluan yang lain… karena saya selalu memata-matai penghuni padepokan ….

    Aku tahu kapan Ki Gede nagun dan tidur ..
    Aku tahu dimana Ki Gede makan siang dan malam
    Aku tahu dengan siapa Ki Gede nonton layar
    Aku tahu jam berapa KI GEDE MENURUNKAN ILMUNYA ..

    Hee hee hee

    Thanks Ki Gede sekali.

  4. Wah….ketipu aku, tak kiro isih sunyi…senyap…sepi….jebule wis ramai….pantes sunyi jebule wis podo entuk kitab dan sudah pada mempelajari ….pantes sunyi…..

    Teng yu Ki GeDe….

  5. Maturnuwun Ki Gede….sampun kulo sedot 119…mantab..

  6. bener pitutur’e kangmas iga bakar kuwi mas sidanti,

    jumlah cantrik iku bahasa obamane ‘page view’, saben page di load/reload karo aji rog-rog IE utowo karo jurus firefox lan sakpanunggalane, dus diitung sak cantrik.

    dadine jumlah cantrik kuwi luwih podho karo ping piro ae poro cantrik mlebu metu padepokan admb iki,

    istilahe,
    trayek mataram – sangkal putung sayah suwe saya akeh sing ngliwati, sayah alus dalane, sayah ilang wingite.

    nek wes ilang wingite, dus sak wayah-wayah iso ngadep nang blog of the day’ne paseban wordpress.


    luukir

  7. Wis jan.
    Mau esuk isih jpg awan iki wis dadi ppt.

  8. Wah adpis ki Gede memang muanjur, siang ini kesepian itu sudah sirna… terimakasih ki Gede.. obat sepinya sudah diunduh…

  9. matur nuwun ki….

  10. Matur nuwun, sedot menyedot sedang berlangsung.

  11. Walah, kok cuma sampe halamana 13 aja rontal 119 ini.
    Tolong Ki GD, kekurangannya dimana? Please … opo poro cantrik bisa nulungi saya?

    Matur nuwun

  12. Alhamdulillah, setelah saya re-sedot, muncul semua.

    Hmmm, tambag semangat lagi. Tadi saya sudah nglokro jeh.

  13. pancen Ki Gede Kreatif. Apa tiap hari minum “………..” (sori ndhak diarani iklan)

  14. Oh…….ngono to…..?????
    Jebul Ki Waskita sadar yen tau kleru soal Kiai Gringsing, njur diralat ana episode iki.
    Ya wis…..mudheng aku….!!!
    ora sah takon Ki Menggung maneh.

    • wah ki mbleh nembe tumbas udheng to 😀

      • Udheng bathik .

        • Kripik uceng saking mBlitar,
          uenak tenan lho…..!!!!

          • mBlitar sak napane Sumber Udel ki Mbleh ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: