Buku II-19

“Ki Waskita,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”apakah dengan membiarkan mereka, persoalan ini telah dapat kita anggap selesai?”
“Tentu tidak, Agung Sedayu. Tetapi kita tidak perlu menghiraukannya.”
“Ki Waskita, bagaimana jika kita berusaha menemui dan berbicara dengan mereka?”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia merenung sejenak. Namun kemudian katanya, ”Kita akan menunggu Ngger. Mudah-mudahan tidak ada persoalan yang menjadi gawat. Pada suatu saat, mungkin kita akan mendapat kesempatan untuk berbicara dengan mereka.”
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.
Untuk sesaat, keduanya telah berdiam diri. Masing-masing sedang merenungi kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi.
Namun sejenak kemudian, Ki Waskita pun berkata, “Angger Agung Sedayu, sebenarnya masih ada yang ingin aku katakan. Mungkin dapat menjadi bahan pembicaraan kita disepanjang jalan pulang.”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya, ”Tentang orang-orang itu?”
Ki Wasikita menggeleng. Katanya, ”Tentang Angger Agung Sedayu. Agar kedatangan Angger Agung Sedayu ke rumahku tidak sia-sia, maka aku ingin mencari cara, bagaimana aku dapat membantu Angger menyempur¬nakan ilmu yang telah Angger miliki, sekaligus aku ingin menitipkan ilmu dari cabang perguruanku agar tidak menjadi punah, dan dengan serta merta dilupakan orang. Seperti Angger ketahui, aku tidak akan dapat mewariskannya kepada Rudita.”
Sesuatu terasa bergejolak dihati Agung Sedayu. Per¬tentangan didalam dirinya kembali menyala.
“Angger,” berkata Ki Waskita, ”aku mengenal Angger Agung Sedayu dengan baik. Karena itu aku pun mengetahui, bahwa Angger menjadi ragu-ragu. Angger berdiri diantara dua sikap yang berbeda.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu, ”tetapi sebaiknya Angger dapat melihat kembali sikap Angger sejak Angger masih sangat muda. Apakah ilmu yang kemudian Angger miliki itu dapat Angger manfaatkan bagi sesama atau sebaliknya, meskipun akibatnya justru menggelisahkan Angger sen-diri.”
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi sekilas seolah-olah ia melihat perjalanan hidupnya, sejak ia masih dibayangi oleh ketakutan melihat gendruwo ber¬mata satu pada sebatang pohon randu alas dipinggir jalan antara Jati Anom dan Sangkal Putung. Bagaimana ia menjadi ketakutan, dan gemetar mendengar seseorang menyebut harimau putih di Lemah Cengkar.
Namun kemudian, ketika ia memiliki ilmu kanuragan, maka ia merasa mempunyai tanggung jawab bagi keselamatan sesama. Meskipun hanya setitik, ia pernah memberikan perlindungan bagi sesamanya.
“Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita kemudian, ”adalah suatu bentuk pengorbanan, jika Angger kemudian selalu merasa dibayangi oleh dendam dan kebencian. Yang telah Angger berikan, tentu sangat berharga bagi mereka yang merasa dirinya bebas dari bahaya dan mungkin justru cengkaman maut.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia masih tetap dibayangi oleh keragu-raguan. Namun yang dikata¬kan oleh Ki Waskita itu berhasil menyusup ke dalam hati.
“Bukankah Angger telah bersedia datang ke tempat ini?” tiba-tiba saja Ki Waskita bertanya.
Agung Sedayu termangu-mangu. Keterangan Ki Waskita tentang Rudita-lah yang telah menumbuhkan kebimbangan dan keragu-raguan dihatinya. Namun tiba-tiba Ki Waskita memberikan kemungkinan lain. Sehingga dengan demikian, Agung Sedayu menjadi bingung menanggapi sikap orang tua itu, disamping keragu-raguannya sendiri.
Ki Waskita pun mengerti, bahwa sikapnya telah membuat Agung Sedayu menjadi bingung, sehingga anak muda itu tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
“Angger Agung Sedayu,” berkata Ki Waskita, ”baik¬lah aku berterus terang agar tidak menumbuhkan kera¬gu-raguan yang semakin dalam di hati Angger Agung Se¬dayu. Sebenarnyalah aku ingin memberikan sedikit pengetahuan yang barangkali perlu bagi Angger. Tetapi aku tidak dapat menurunkannya langsung, justru karena dirumah ada Rudita.”
Agung Sedayu termangu-mangu. Kemudian hampir diluar sadarnya ia bertanya, ”Jadi maksud Kiai, kita akan pergi ke tempat lain?”
Tetapi ternyata Ki Waskita menggeleng. Jawab¬nya, ”Tidak Ngger. Kita tidak akan pergi kemanapun.”
“Jadi bagamana hal itu dapat terjadi?” bertanya Agung Sedayu.
“Itulah yang akan aku katakan sekarang,” Ki Waski¬ta berhenti sejenak, lalu katanya, ”aku rasa, tidak ada orang lain disekitar kita. Aku berharap bahwa tidak ada te¬linga yang mendengar keterangan selain Angger sendi¬ri.”
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Diluar sadar¬nya ia memperhatikan keadaan disekitarnya. Ternyata ia pun tidak mendengar apapun juga selain gemerisiknya angin yang lembut.
“Tidak ada gerumbul dipinggir jalan ditempat ini,” berkata Ki Waskita.
“Ya,” sahut Agung Sedayu dengan serta merta.
Tiba-tiba langkah Ki Waskita terhenti, sehingga Agung Sedayu pun berhenti pula. Keningnya mejadi berke¬rut ketika ia melihat wajah Ki Waskita yang nampak men¬jadi bersungguh-sungguh.
“Angger Agung Sedayu.” Ki Waskita berkala perla¬han-lahan, ”aku memang tidak akan dapat menyakiti hati Rudita dengan memperlihatkan caraku menurunkan ilmu kepada Sngger. Aku tidak dapat dengan semata-mata me¬wariskan ilmu kanuragan yang tidak dapat dimengerti¬nya, bahwa ilmu itu pun dapat berguna bagi sesama apa¬bila kita dapat mempergunakannya dengan tepat.”
Agung Sedayu termangu-mangu. Tetapi ia tidak mem¬bantah, meskipun ia tahu, bahwa yang dikatakan oleh Ki Waskita tentang anaknya itu tidak tepat.
“Karena itu Agger, maka aku telah menentukan cara yang lain,” Ki Waskita berkata selanjutnya, “aku mempu¬nyai sebuah kitab rontal yang barangkali berguna bagi Angger Agung Sedayu.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Barulah ia menyadari, apa yang harus dilakukannya.
“Jadi, Ki Waskita ingin memberikan atau memin¬jamkan kitab itu kepadaku?”
Agung Sedayu menjadi heran ketika ia melihat Ki Waskita menggeleng, “Maaf Ngger. Kitab itu adalah kitab yang sangat berharga bagiku. Karena itu, aku saat ini belum dapat meminjamkan, apalagi memberikan kepada orang lain. Apalagi kita mengetahui, bahwa banyak mata memandang ke arah Angger Agung Sedayu dan banyak te¬linga yang mendengarkan tentang Angger Agung Seda¬yu.”
Kembali Agung Sedayu menjadi bingung. Tetapi ia tidak bertanya. Ia menunggu penjelasan yang tentu akan diberikan oleh Ki Waskita.
“Angger, jika Angger membawa kitab itu, maka Angger tentu akan terancam. Bahkan kemungkinan kitab itu akan jatuh ke tangan orang lain yang tidak seharusnya memilikinya.”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap bingung.
“Maksudku Ngger,” Ki Waskita ternyata benar-benar memberikan penjelasan, ”aku ingin membe¬rikan kesempatan Angger Agung Sedayu membaca dan mempelajari isinya. Tentu tidak seluruhnya, karena ada beberapa bagian yang sudah kau kuasai meskipun dari sudut pendekatan yang berbeda.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar kehendaknya ia bergumam, “Jadi itu berarti bah¬wa aku harus tinggal di rumah Ki Waskita untuk waktu yang sangat lama.”
“Aku tidak berkeberatan jika kau tinggal dirumahku untuk satu atau dua tahun. Tetapi tentu tidak mungkin. Kiai Gringsing tentu akan menjadi gelisah dan cemas. Karena itu, maka Angger cukup tinggal dirumahku barang empat atau lima hari saja.”
“Apakah artinya empat atau lima hari itu bagi mendalami ilmu yang pelik itu, Ki Waskita.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku tahu, Angger Agung Sedayu adalah seorang yang sangat cerdik dan cerdas. Tatapan mata Angger Agung Sedayu tidak ubahnya seperti tatapan mata seekor ular bandotan.”
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar.
“Bukan dalam arti buruk, Ngger. Angger sudah dapat memusatkan ilmu yang Angger miliki pada kekuatan sorot mata yang mempunyai sentuhan wadag. Bahkan lebih dari itu. Pada suatu saat, kekuatan sorot mata Angger bukannya sekedar merupakan tekanan dan lontaran panasnya bara pemusatan indera, tetapi pada suatu saat sorot mata Angger akan mempunyai daya dorong dan pegangan melampaui kekuatan tangan raksasa. Kekuatan mata Angger akan dapat meremas, menggenggam dan melontarkan gunung anakan.”
“Ah,” desah Agung Sedayu, ”itu sangat ber¬lebih-lebihan.”
“Mungkin memang berlebih-lebihan, Ngger. Tetapi aku memang ingin mengatakan, betapa kekuatan itu telah mulai Angger rintis dan mulai Angger ketemukan. Tetapi seperti seorang yang memasuki sebuah goa yang gelap, Angger hanya tahu, bahwa Angger sudah ada didalam karena pintunya terbuka. Tetapi Angger belum tahu, bagaimanakah seharusnya Angger membuka pintunya.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Semakin dalam ia mempelajari ilmu, maka semakin banyak yang terasa belum dikenalnya.
“Tetapi Ngger, aku kira ada yang penting yang Angger miliki. Angger adalah seseorang yang mempunyai kenangan yang sangat kuat. Mungkin Angger melupakan kamus ikat pinggang yang baru saja Angger letakkan, tetapi aku yakin, bahwa Angger tidak akan melupakan sesuatu yang Angger anggap penting. Seperti seekor ular yang tidak akan pernah kehilangan bayangan dikepalanya tentang sesuatu yang pernah dilihatnya, seolah-olah bayangan penglihatannya tercetak didinding kepalanya.”
Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia men¬coba untuk mengerti isi dari kata-kata Ki Waskita. Karena itulah, maka ia mencoba untuk menilai kemampuan ingatannya sendiri. Apakah benar bahwa ingatannya atas sesuatu yang pernah dilihatnya dan menarik perhatiannya me¬mang sangat tajam.
Sekilas terbayang masa masa lampaunya yang tidak seperti dikatakan oleh Ki Waskita. Ia tidak dapat mengi¬ngat semua yang pernah dialaminya.
“Tidak ada bedanya dengan orang lain,” berkata Agung Sedayu didalam hatinya, ”setiap orang tentu dapat mengingat sebagian dari peristiwa yang pernah dialami¬nya. Sedangkan sebagian yang lain terlupakan.”
“Anakmas,” berkata Ki Waskita kemudian, ”cobalah kau menilai dirimu sendiri.”
“Ki Waskita,” jawab Agung Sedayu, ”Aku kira, tidak ada yang berbeda dengan orang lain. Aku tidak dapat me¬ngingat seluruh peristiwa dalam hidupku.”
Ki Waskita tersenyum. Katanya, ”Memang tidak Agu¬ng Sedayu. Kau tentu tidak akan menaruh perhatian yang sama terhadap setiap peristiwa didalam hidupmu. Tetapi pada suatu saat, kau tentu pernah melihat sesuatu yang telah mencengkam segenap perhatianmu. Cobalah kau ingat, apakah ada sesuatu yang membekas dalam ingatan¬mu, seperti saat kau mengalaminya.”
Agung Sedayu merenung sejenak. Tiba-tiba saja ia mencoba mengenang kembali apa yang pernah dilakukan¬nya disaat yang penting selama ia memperdalam ilmu¬nya.
“Goa itu,” Agung Sedayu berkata didalam hatinya. Hampir ia terlonjak. Seolah-olah ia masih berada didalam goa itu. Seakan-akan ia melihat jelas, lukisan dan petun¬juk-petunjuk yang terpahat didinding goa. Suatu urut-urutan tataran yang harus dipelajari dan dikuasai untuk men-capai tingkat ilmu yang sempurna dalam cabang pergu¬ruan Ki Sadewa.
“Aku melihatnya kembali didalam angan-angan,” gu¬mam Agung Sedayu.
“Apa?” bertanya Ki Waskita.
“Lukisan yang terpahat didinding goa itu.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku sudah mengira, bahwa kau memiliki kurnia alam itu. Ketajaman ilmu bidikmu, kemampuan sentuhan tatapan matamu seperti sentuhan wadag yang sangat perkasa, dan sifat-sifatmu yang lain, menunjukkan bahwa kau me-mang seorang yang memiliki kekuatan alami yang tidak lain adalah kurnia dari Yang Maha Agung kepadamu. Ter¬nyata bahwa kau memiliki daya tangkap yang sangat ta¬jam pula, sehingga sesuatu yang menarik perhatianmu, akan terpahat didalam ingatanmu seutuhnya seperti saat kau menyaksikannya.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dalam waktu yang singkat, ia masih meyakinkan, apakah benar kata-kata yang diucapkan oleh Ki Waskita itu.
Ternyata bahwa seperti gambar yang terpancang dihadapannya yang nampak jelas berurutan, seolah-olah ia sedang menghadapi pertunjukkan wayang beber yang dibawakan oleh seorang dalang yang dikenalnya baik-baik, yaitu dirinya sendiri, yang membawakan ceritera tentang seorang lakon yang dikenalnya sebaik dalangnya, dirinya sendiri pula.
Agung Sedayu melihat, dari satu saat kesaat berikut¬nya pada bagian-bagian yang penting dari seluruh hidup¬nya. Yang dianggapnya tidak berbeda dengan orang lain, bahwa ada yang dapat diingat dan ada yang dilupakan¬nya, ternyata mempunyai beberapa perbedaan. Ia pun kemudian sadar, bahwa pada saat-saat peristiwa yang terjadi itu memberikan kesan yang dalam dihatinya, maka semakin jelas ingatan itu terpateri diangan-angan¬nya. Sehingga Agung Sedayu pun berkesimpulan, perhati¬annya atas sesuatu yang terjadi, seperti pahatan yang dibuatnya pada sebuah batu padas. Semakin dalam ia menghunjamkan pahatnya, maka bekasnya akan menjadi semakin jelas dan tidak mudah terhapus oleh peristi¬wa-peristiwa berikutnya.
“Apakah kau sudah menemukan kemampuan yang ada pada dirimu sendiri, Ngger?” bertanya Ki Waskita kemudian.
Agung Sedayu mengangguk-angguk.
“Nah, jika demikian, maka baiklah aku berterus terang tentang rencanaku. Aku ingin meminjamkan kitab itu kepadamu. Bacalah dan perhatikan dengan saksama. Goreskan setiap garis yang ada pada rontal itu didinding ingatanmu dalam-dalam, sehingga tidak akan mudah terhapus. Tentu kau tidak akan dapat memahami isinya dalam waktu singkat. Tetapi itu memang tidak perlu. Yang perlu kau lakukan adalah mengingat apa yang tertu¬lis dan terlukis. Baru kemudian, disaat yang panjang kau dapat mempelajari dan mencari makna dari isi kitab itu. Sehingga pada suatu saat, kau akan menguasai isi dari buku itu dengan sempurna, bukan saja sekedar ingatan tentang bunyi yang tertulis dan sikap serta gerak yang terlukis, tetapi kau benar-benar seorang yang memiliki ilmu itu dengan segenap sifat dan wataknya, menguasa¬inya seperti kau menguasai batang tubuhmu sendiri.”
Agung Sedayu tidak segera menjawab. Terasa sesuatu bagaikan mengguncang isi dadanya.
Ternyata bahwa Ki Waskita telah benar-benar melim¬pahkan kepercayaan kepadanya. Ia diperkenankan meli¬hat isi kitab yang merupakan sumber ilmu dari perguruan yang dianut oleh Ki Waskita dalam olah kanuragan dan kajiwan. Meskipun Agung Sedayu mengerti, bahwa dalam mempelajari ilmu kanuragan dan kajiwan itu menyang¬kut keserasian hubungan timbal balik antara ilmu dan pribadi, namun seseorang akan mempunyai kesempatan yang luas dengan kesempatan yang diterimanya. Mungkin ia tidak akan dapat memiliki kemampuan untuk mengetahui isyarat pada penglihatan dimasa mendatang seperti yang dimiliki Ki Waskita, karena didalam dirinya tidak ada wadah yang sesuai dengan penyadapan ilmu itu. Namun ia akan dapat mengetahui bagimana hal itu dapat terjadi. Demikian pula bagian yang lain yang termuat didalam kitab itu.
Ki Waskita mengerti, bahwa ada guncangan yang ter¬jadi didalam diri anak muda itu. Kesempatan itu merupa¬kan kesempatan yang besar sekali artinya bagi masa depannya. Tetapi kesempatan itu juga merupakan suatu hentakkan yang harus dapat tembus dari batas keragu-raguannya.
Sejenak keduanya saling berdiam diri. Tetapi kaki mereka masih melangkah perlahan-lahan dialas jalan persawahan. Beberapa puluh langkah lagi mereka akan memasuki padukuhan yang tidak begitu besar, tetapi juga bukan padukuhan yang kecil. Padukuhan tempat tinggal Ki Waskita yang banyak dikenal orang sebagai seorang yang mengetahui apa yang terjadi, meskipun Ki Waskita sendiri tidak merasa demikian. Ki Waskita hanya merasa menerima karunia untuk melihat isyarat-isyarat yang dapat diuraikannya. Tetapi tidak sejelas melihat peristi¬wa-peristiwa itu terjadi.
Beberapa saat kemudian barulah Agung Sedayu berka¬ta, ”Ki Waskita. Aku tidak dapat mengatakan, betapa besar terima kasihku atas kepercayaan yang Ki Waskita limpahkan kepadaku dengan memberikan kesempatan yang sangat luas itu.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku pun berterima kasih kepadamu, Ngger. Dengan demikian aku telah mendapat kesempatan untuk menitip¬kan kelanggengan ilmu itu kepada Angger Agung Sedayu. Aku tidak dapat berbuat demikian bagi anakku, karena ia telah menemukan sikap yang berbeda, yang karena keyakinannya tidak akan dapat dirubah lagi, meskipun aku mengakui bahwa sikapnya adalah sikap yang lebih luhur dari sikapku dan sikap kita semuanya yang masih mempercayakan diri dan beramal dengan sikap-sikap yang disebut kekerasan.”
Agung Sedayu menundukkan kepalanya, sementara Ki Waskita melanjutkan, ”Aku tidak tahu, apakah yang akan aku lakukan dengan kitab itu kelak, karena aku sadar, bahwa umurku pada suatu saat akan mencapai batasnya.”
Agung Sedayu masih tetap berdiam diri.
“Nah,” berkata Ki Waskita kemudian ketika mere¬ka sampai dimulut lorong memasuki regol padukuhan, ”kita sudah selesai dengan pembicaraan kita. Aku akan memberikan kitab itu nanti menjelang pagi. Terserah kepadamu, saat-saat yang manakah yang akan Angger pilih untuk melihat isinya dan memahatnya didinding hati Angger Agung Sedayu. Aku yakin bahwa dengan demikian isi kitab itu akan tetap terpateri untuk selama-lamanya. Sementara dari satu saat kesaat berikutnya, kau dapat membacanya dan mempelajarinya langsung dari pahatan yang tergores dihatimu tanpa memerlukan kitab itu lagi.”
“Terima kasih Kiai.” Suara Agung Sedayu menjadi semakin dalam.
“Tetapi aku mohon, bahwa yang Angger lakukan itu janganlah mengusik ketenangan hati Rudita.”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Ki Waskita. Rudita jangan mengetahui apa yang dilakukannya dengan kitab itu.
Betapa berat hati Agung Sedayu karena ia harus ber¬buat sesuatu dengan diam-diam dan seolah-olah bersembunyi dari penglihatan Rudita, namun ia pun mengangguk sambil menjawab, ”Aku akan berusaha Ki Waskita.”
“Terima kasih, Ngger. Ia tidak akan mengira bahwa dalam waktu yang sangat singkat, isi kitab itu sudah kau miliki meskipun belum kau temukan maknanya.”
“Aku akan selalu mengingatnya Ki Waskita,” jawab Agung Sedayu.
Ki Waskita tidak menyahut. Keduanya telah memasuki regol padukuhan. Digardu nampak beberapa orang peronda duduk dibibir gardu, sementara yang lain telah tidur mendekur.
“Selamat malam Ki Waskita,” desis salah seorang peronda itu.
Ki Waskita tersenyum. Ia mendekati gardu itu sambil melihat anak-anak muda yang tidur nyenyak.
“Siapa saja?” bertanya Ki Waskita.
“Anak-anak malas,” jawab peronda yang duduk dibibir gardu.
Ki Waskita tertawa. Sambil melangkah pergi ia berkata, ”Tentu mereka terlalu kenyang makan disore hari.”
Yang lain tertawa pula. Salah seorang berkata, “Mereka baru saja pulang sambatan dan menghabiskan semua yang disuguhkan kepada mereka.”
Suara tertawa meledak. Ki Waskita pun tertawa pula sambil melangkah pergi.
Tidak banyak lagi yang dibicarakan antara Ki Waski¬ta dan Agung Sedayu. Mereka tidak mau, pembicaraan mereka didengar oleh orang lain. Bahkan oleh keluarga mereka sendiri, atau oleh Glagah Putih.
Sampai dirumah, Ki Waskita pun mereka tidak lagi menyebut tentang kitab itu. Glagah Putih yang belum tidur, menyongsong Agung Sedayu dipintu bilik sambil bertanya, ”Apa yang penting Kakang?”
Agung Sedayu mengibaskan kain panjangnya sambil berkata, ”Kainku basah. Ketika aku mencuci kaki dipakiwan, ujung kainku tercelup di jambangan.”
Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Agung Sedayu tidak mau menjawab pertanyaan¬nya, sehingga ia pun mengerti, bahwa yang dibicarakan dengan Ki Waskita tentu sesuatu yang bersifat rahasia.
“Aku lelah Glagah Putih,” berkata Agung Sedayu kemudian, ”apakah kau masih belum ingin tidur?”
Glagah Putih menarik nafas panjang. Terasa ada semacam kekecewaan yang tergores dihatinya. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berbuat sesuatu. Ia tidak dapat mengatakan, apa yang baru saja dibicarakannya dengan Ki Waskita. Karena itulah maka ia berpura-pura saja tidak mengetahui, bahwa ada sesuatu yang bergejolak dihati adik sepupunya.
Glagah Putih pun kemudian berbaring dengan gelisah. Agung Sedayu yang berbaring disisinya telah memejam¬kan matanya. Nafasnya telah berjalan teratur. Dan seje¬nak kemudian, Agung Sedayu itu pun telah tertidur.
Betapapun gelisahnya, namun akhirnya Glagah Putih pun kemudian tertidur pula. Kegelisahannya ternya¬ta telah dibawanya didalam mimpi, sehingga kadang-ka¬dang ia berdesah pelahan-lahan.
Agung Sedayu yang sebenarnya masih belum tidur, telah membuka matanya. Perlahan-lahan ia bangkit. Dipandanginya wajah adiknya yang buram dengan iba hati. Tetapi ia terikat pada suatu keharusan untuk tetap berdiam diri.
Seperti yang telah dijanjikan, ketika malam menjadi semakin dalam dan sepi, terdengar desir langkah halus mendekati biliknya. Dikejauhan terdengar kokok ayam yang bersahut-sahutan.
Agung Sedayu pun bangkit dan membuka pintu bilik¬nya perlahan-lahan. Ia melihat Ki Waskita berdiri dengan sebuah kitab ditangannya.
Sejenak Ki Waskita termangu-mangu. Seolah-olah masih ada sesuatu yang meragukannya untuk memberi¬kan kitab rontal itu.
Namun kemudian ia berkata, ”Terimalah Anakmas. Inilah kitab yang aku katakan. Ada beberapa bagian yang tercantum didalam kitab itu, yang tentu semuanya tidak dapat Angger anggap sesuai dengan pribadi Angger. Ter¬serahlah, yang manakah yang Angger anggap sesuai, ten¬tu Angger yang lebih tahu dari orang lain.”
Agung Sedayu menjadi tegang. Namun kemudian ia mengangkat tangannya sambil berkata, ”Terima kasih Ki Waskita. Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan untuk menerima kemurahan hati Ki Waskita.”
Ketika Agung Sedayu menerima kitab itu, terasa ta¬ngannya gemetar secepat getar jantungnya. Dengan menerima kitab itu, satu kewajiban yang berat dan men¬debarkan harus dilakukannya. Ia harus berusaha tidak mengecewakan orang yang telah memberikan keperca¬yaan kepadanya itu.
Ki Waskita tidak memberikan pesan lebih banyak la¬gi. Ketika kitab itu sudah berada ditangan Agung Sedayu, maka katanya, ”Terserahlah kepadamu. Setelah kau sele¬sai, kembalikan kitab itu kepadaku. Aku tahu, bahwa kau tentu belum mendapatkan banyak manfaat dari kitab itu kecuali mengingat isinya. Baru kemudian kau akan men¬dapat kesempatan untuk mendalami tanpa memerlukan kitab ini lagi.”
Agung Sedayu mengangguk sambil bergumam, ”Teri¬ma kasih Ki Waskita.”
Ki Waskita pun kemudian meninggalkan Agung Seda¬yu yang termangu-mangu. Namun Agung Sedayu pun se¬gera menyadari dirinya, bahwa ia telah memegang sesua¬tu yang sangat berharga. Kitab itu akan dapat mempu¬nyai arti yang berlawanan apabila jatuh di tangan yang berbeda sikap, pendirian dan pandangan hidupnya. Isi da¬ri kitab itu akan bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradaban, tetapi dapat pula menjadi guncangan yang gawat bagi tata kehidupan manusia.
Agung Sedayu pun kemudian kembali masuk ke dalam biliknya. Perlahan-lahan ia menutup dan menyelarak pin¬tunya.
Sejenak ia berdiri disisi pembaringan. Dipandanginya Glagah Pulih yang masih tertidur nyenyak.
Ada sesuatu yang mendorongnya untuk membuka ki¬tab itu. Perasaan ingin tahunya tidak dapat dikekangnya lagi. Sehingga karena itu, maka ia pun kemudian duduk menghadapi bancik lampu minyak didalam bilik itu.
Perlahan-lahan kitab itu dibukanya. Tangannya yang gemetar menjadi semakin gemetar. Ia sadar, bahwa ia harus mempunyai ingatan yang urut terhadap kitab itu.
Karena itulah, maka ia tidak mau membuka asal saja membuka kitab rontal itu. Ia membuka sejak halaman yang pertama dan satu demi satu halaman itu ditatapnya dengan tajamnya. Kata demi kata dibacanya, dan lukisan demi lukisan dipahatkannya didinding kenangannya.
Tetapi Agung Sedayu tidak perlu tergesa-gesa. Ketika Glagah Putih menggeliat, maka ia pun menutup kitab yang baru dibacanya dua helai itu, yang sama sekali ma¬sih belum menyinggung isinya, karena yang dua helai itu baru merupakan pendahuluan dan sekedar mempekenalkan kepada pembacanya, siapakah yang menyusun kitab itu.
Ternyata Glagah Putih tidak terbangun. Meskipun demikian, Agung Sedayu telah menyimpan kitabnya ditempat yang tidak akan dapat diketahui oleh siapapun didalam bilik itu.
Sambil duduk dibibir pembaringan Agung Sedayu mencoba, apakah benar yang dikatakan oleh Ki Waskita, bahwa yang telah dilihatnya pada rontal itu seolah-olah telah terpahat didinding hatinya.
Dengan pemusatan pikiran, maka Agung Sedayu ter¬nyata telah berhasil melihat kembali helai-helai rontal itu seperti ia masih menggenggamnya. Ia melihat kalimat demi kalimat. Huruf demi huruf dan garis demi garis. Ia dapat melihat segores luka pada rontal itu. Dan ia pun melihat setitik noda disudut.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar dapat menyadap dari penglihatannya seutuh¬nya apa yang pernah dilihatnya dengan penuh minat dan pemusatan pikiran.
Lebih daripada itu, maka isi helai-helai pertama dari kitab itu telah menarik perhatiannya, yang membawa sebuah nama yang tercantum pada kata pengantar kitab itu.
Bahwa saat bintang yang cahayanya seperti seribu obor yang menyala dilangit, seorang pertapa yang telah menjauhkan diri dari libatan pengaruh duniawi, dan yang telah mendekatkan diri pada sangkan paraning dumadi, yang diberi pertanda oleh Yang Maha Sakti dengan gelar Empu Pahari, telah menerima wisik didalam mimpi men¬jelang fajar menyingsing, bahwa tangannya akan menjadi lantaran turunnya ilmu yang akan diwarisi oleh para sakti yang mendapat anugerah sejati, untuk diamalkan sesuai dengan tetesan hati yang bening dalam kasih. Dan mere-ka yang mewarisi diatas alas kebenaran akan menjadi pelita yang dapat menerangi kegelapan disekitarnya. Akan terdengar sorak sorai kegembiraan dihati sesama yang dilindunginya dan akan terdengar gemeretak gigi dan tangis kehancuran bagi mereka yang terkena azabnya karena langkah yang sesat. Terpujilah Yang Maha Benar.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.
Dari pengantar itu ia mengetahui sebuah nama dijaman yang telah jauh lampau. Empu Pahari, yang telah menyusun kitab itu. Yang telah mencoba menuangkan ilmu kedalam sebuah kitab rontal yang turun temurun sampai kepada Ki Waskita.
Ternyata Agung Sedayu telah tertarik untuk memba¬ca seluruh isi kitab itu dan memahatkannya didinding hatinya. Meskipun kemudian kitab itu tidak berada ditangannya lagi, namun itu sama sekali tidak akan ber¬pengaruh lagi atasnya, karena ia akan tetap dapat melihat seluruh isinya untuk diketemukan maknanya dan kemudian seperti yang diharapkan oleh penyusun kitab itu, adalah pengamalannya.
Agung Sedayu telah mengangguk-angguk diluar sadarnya, seolah-olah ia baru saja menemukan sesuatu yang paling sesuai baginya disepanjang perjalanan hidup¬nya.
Agung Sedayu sadar dari angan-angannya ketika ia melihat Glagah Pulih sekali lagi menggeliat. Tetapi anak itu benar-benar telah terbangun dan membuka matanya.
“Kau sudah bangun, Kakang?” bertanya Glagah Putih.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:05  Comments (169)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-19/trackback/

RSS feed for comments on this post.

169 KomentarTinggalkan komentar

  1. SIAPA BILANG HANYA SATU HALAMAN SAJA ……………………… ITU SATU KITAB RONTAL UTUH…TUH.

    THANKS KI GD

  2. Terimakasih Ki GD RoNtal 119 wis RampuNg ta UndUH …

  3. Soal ngunduh, Ki Widura tidak pernah keduluan yang lain… karena saya selalu memata-matai penghuni padepokan ….

    Aku tahu kapan Ki Gede nagun dan tidur ..
    Aku tahu dimana Ki Gede makan siang dan malam
    Aku tahu dengan siapa Ki Gede nonton layar
    Aku tahu jam berapa KI GEDE MENURUNKAN ILMUNYA ..

    Hee hee hee

    Thanks Ki Gede sekali.

  4. Wah….ketipu aku, tak kiro isih sunyi…senyap…sepi….jebule wis ramai….pantes sunyi jebule wis podo entuk kitab dan sudah pada mempelajari ….pantes sunyi…..

    Teng yu Ki GeDe….

  5. Maturnuwun Ki Gede….sampun kulo sedot 119…mantab..

  6. bener pitutur’e kangmas iga bakar kuwi mas sidanti,

    jumlah cantrik iku bahasa obamane ‘page view’, saben page di load/reload karo aji rog-rog IE utowo karo jurus firefox lan sakpanunggalane, dus diitung sak cantrik.

    dadine jumlah cantrik kuwi luwih podho karo ping piro ae poro cantrik mlebu metu padepokan admb iki,

    istilahe,
    trayek mataram – sangkal putung sayah suwe saya akeh sing ngliwati, sayah alus dalane, sayah ilang wingite.

    nek wes ilang wingite, dus sak wayah-wayah iso ngadep nang blog of the day’ne paseban wordpress.


    luukir

  7. Wis jan.
    Mau esuk isih jpg awan iki wis dadi ppt.

  8. Wah adpis ki Gede memang muanjur, siang ini kesepian itu sudah sirna… terimakasih ki Gede.. obat sepinya sudah diunduh…

  9. matur nuwun ki….

  10. Matur nuwun, sedot menyedot sedang berlangsung.

  11. Walah, kok cuma sampe halamana 13 aja rontal 119 ini.
    Tolong Ki GD, kekurangannya dimana? Please … opo poro cantrik bisa nulungi saya?

    Matur nuwun

  12. Alhamdulillah, setelah saya re-sedot, muncul semua.

    Hmmm, tambag semangat lagi. Tadi saya sudah nglokro jeh.

  13. pancen Ki Gede Kreatif. Apa tiap hari minum “………..” (sori ndhak diarani iklan)

  14. Oh…….ngono to…..?????
    Jebul Ki Waskita sadar yen tau kleru soal Kiai Gringsing, njur diralat ana episode iki.
    Ya wis…..mudheng aku….!!!
    ora sah takon Ki Menggung maneh.

    • wah ki mbleh nembe tumbas udheng to 😀

      • Udheng bathik .

        • Kripik uceng saking mBlitar,
          uenak tenan lho…..!!!!

          • mBlitar sak napane Sumber Udel ki Mbleh ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: